Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Penyakit Hirschprung (megakolon aganglionik kongenital) adalah anomali kongenital
yang mengakibatkan obstruksi mekanis karena ketidakadekuatan motilitas sebagian dari
usus (Wong, 2008).Hirschsprung Disease (HD) merupakan suatu kelainan bawaan
berupaaganglionik usus, dengan gejala klinisberupa gangguan pasase
ususIungsional.Penyakit ini pertama kaliditemukan oleh Herald Hirschsprungtahun 1886,
dan belum diketahui secarapasti patoIisiologi terjadinya penyakit inihingga tahun 1938,
dimana Robertsondan Kernohan menyatakan bahwa Hirschsprung Disease yang dijumpai
pada kelainan ini disebabkan oleh gangguan peristaltic dibagian distal usus akibat
deIisiensi ganglion pada usus tersebut (The Indonesian Journal oI Medical Science, 2009).
Penyakit ini menempati seperempat dari keseluruhan kasus obstruksi neonatal kendati
diagnosisnya mungkin baru bisa ditegakkan kemudian dalam masa bayi atau anak-anak.
Penyakit Hirschsprung empat kali lebih sering mengenai bayi atau anak laki-laki daripada
perempuan, mengikuti Iamilial pada sejumlah kecil kasus dan cukup sering dijumpai
diantara anak-anak yang menderita sindrom Down.(Wong, 2008). Hal ini didukung dengan
adanya data bahwa 10 sampai 15 dari bayi penderita Hirschprung didiagnosis dengan
sindrom Down.
Insiden penyakit ini adalah 1 dalam 5000 kelahiran hidup. Bergantung pada gambaran
klinisnya, penyakit ini bisa bersiIat akut, dan mengancam kehidupan pasiennya atau suatu
kelainan yang kronis.ManiIestasi klinis bervariasi menurut usia, walaupun yang paling
sering terjadi pada neonatus dan jika tidak ditangani dapat mengakibatkan komplikasi yang
serius seperti enterokolitis yang dapat menyebabkan kematian pada anak-anak (Mary,
2005).

1.2Tujuan
Tujuan pemaparan masalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui secara teoritis mengenai penyakit Hirschprung
2. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit
Hirschprung
3. Untuk mengetahui perkembangan pasien yang telah diberikan intervensi baik
secara mandiri dan kolaborasi keperawatan

BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hirschprung
da beberapa pengertian mengenai Hirschprung atau megakolon, namun pada intinya
sama yaitu penyakit yang disebabkan oleh obstruksi mekanis yang disebabkan oleh tidak
adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak
mempunyaispinkter rectum berelaksasi (Betz, Cecily & Sowden, 2000).
Penyakit Hirschsprung (megakolon aganglionik kongenital) merupakan obstruksi
mekanis yang disebabkan oleh ketidakadekuatan motilitas bagian usus (Wong, 2008).

2.2 Patofisiologi
Istilah megakolon aganglionik kongenital menunjukkan deIek primer yang berupa
tidak adanya sel-sel ganglion pada suatu segmen kolon atau lebih. Etiologi penyakit
Hirschsprung belum dipahami sepenuhnya. dapun yang menjadi penyebab Hirschsprung
atau Mega Colon itu sendiri adalah diduga terjadi karena Iaktor genetik dan lingkungan
sering terjadi pada anak dengan Down syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio
dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding
plexus.
Segmen yang aganglionik hampir selalu meliputi rektum dan bagian proksimal usus
besar. Kadang-kadang dapat terjadi segmen yang terlewatkan atau aganglionosis usus total.
Kurangnya enervasi menyebabkan deIek Iungsional yang mengakibatkan tidak adanya
gerakan mendorong (peristaltik) sehingga isi usus bertumpuk dan terjadi distensi usus
dibagian proksimal deIek (megakolon). Disamping itu, ketidakmampuan sIingter ani
interna untuk melakukan relaksasi turut menimbulkan maniIestasi klinis obstruksi karena
keadaan ini mencegah evakuasi kotoran yang berbentuk padat, cair atau gas (Donna L.
Wong, 2008). Distensi intestinal dan iskemi dapat terjadi karena distensi dinding usus
yang ikut menyebabkan terjadinya enterokolitis (inIlasi usus halus dan kolon), yaitu
penyebab utama kematian pada anak yang menderita penyakit Hirschsprung (Kirschner,
1996 dalam Wong, 2008).



Sel ganglion parasimpatik dari pleksus aurbach di kolon tidak ada



Peristaltik segmen kolon turun dan mengenai rektum dan kolon kongenital bagian bawah


konstipasi obstruksi usus

HipertroIi

Distensi kolon bagian proksimal

Distensi abdomen

Menekan gaster

Peningkatan produk HCl

Mual, muntah

Risiko kekurangan cairan Gangguan kebutuhan nutrisi

2.3 Etiologi
Penyebab dari Hirschprung yang sebenarnya tidak diketahui, tetapiHirschsprung atau
Mega Colon diduga terjadi karena :
O aktor genetik dan lingkungan, sering terjadi pada anak denganDown syndrom.
O Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus,gagal eksistensi, kranio
kaudal pada myentrik dan sub mukosa dindingplexus.
O Penyakit ini disebabkan aganglionosis Meissner dan urbach dalam lapisan
dinding usus, mulai dari spingter ani internus ke arah proksimal, 70 terbatas di
daerah rektosigmoid, 10 sampai seluruh kolon dan sekitarnya 5 dapat
mengenai seluruh usus sampai pilorus.

2.4Manifestasi Klinis Penyakit Hirschsprung

Bayi baru lahir tidak bisa mengeluarkan Meconium dalam 24 28 jampertama


setelah lahir.Tampak malas mengkonsumsi cairan, muntahbercampur dengan cairan
empedu dan distensi abdomen.(Nelson, 2002).Gejala Penyakit Hirshsprung adalah
obstruksi usus letak rendah, bayidengan Penyakit Hirshsprung dapat menunjukkan gejala
klinis sebagaiberikut : Obstruksi total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen
danketidakadaan evakuasi mekonium. Keterlambatan evakuasi mekonium diikutiobstruksi
konstipasi, muntah dan dehidrasi.Gejala ringan berupa konstipasiselama beberapa minggu
atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut.Konstipasi ringan entrokolitis dengan
diare, distensi abdomen dan demam.danya Ieses yang menyemprot pas pada colok dubur
merupakan tanda yangkhas. Bila telah timbul enterokolitis nikrotiskans terjadi distensi
abdomenhebat dan diare berbau busuk yang dapat berdarah ( Nelson, 2002).
ManiIestasi klinis penyakit Hirschprung menurut Wong (2008) yaitu:
a. Periode bayi baru lahir
1. Kegagalan untuk mengeluarkan mekonium dalam waktu24 jam hingga 48jam sejak
lahir
2. Keengganan untuk mengkonsumsi cairan
3. Muntah yang bernoda empedu
4. Distensi abdomen

b. Bayi
1. Kegagalan tumbuh kembang
2. Konstipasi
3. Distensi abdomen
4. Tanda-tanda yang mengancam (yang sering menandai adanya enterokolitis)
O Diare yang menyerupai air dan menyemprot
O Demam
O Keadaan umum yang buruk

c. nak-anak
1. Konstipasi
2. eses mirip tambang dan berbau busuk
3. Peristalsis yang terlihat
4. Massa Ieses yang mudah diraba
5. nak yang biasanya tampak malnutrisi dan anemik.


2.5Komplikasi
Menurut Betz Cecily & Swoden (2002) komplikasi penyakit Hirschprung yaitu:
1. Obstruksi usus
2. Konstipasi
3. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
4. Enterokolitis
5. Struktur anal dan inkontinensial (post operasi).
2.6Evaluasi diagnostik
ManiIestasi klinis bervariasi menurut usia ketika gejala penyakit ini dikenali dan
keberadaan komplikasi seperti enterokolitis. Pada neonatus, biasanya diagnosis ditegakkan
berdasarkan tanda-tanda klinis obstruksi intestinal dan ketidakmampuan usus untuk
mengeluarkan mekonium. Pembuatan Ioto sinar-x, barium enema dan pemeriksaan dengan
manometer anorektal dapat membantu dalam menyusun diagnosis banding; diagnosis ini
dikonIirmasi oleh pemeriksaan histologik terhadap hasil biopsi rektum 1ull-thickness
(ketebalan penuh) yang memperlihatkan tidak adanya sel-sel ganglion dalam Ileksus
mienterika dan submukosa (Wong, 2008).
1. Barium enema, dengan pemeriksaan ini akan dapat ditemukan :
a. Daerah transisi
b. Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian usus yang
menyempit
c. Entrokolitis padasegmen yang melebar
d. Terdapat retensi barium setelah 24 48 jam (Darmawan, 2004)

2. Biopsi rectum
Ini merupakan tes yang paling akurat untuk Hirschprung.Dokter mengambil bagian
sangat kecil dari rectum untuk dilihat dibawah mikroskop.nakanak dengan
penyakit Hirschprung tidak memiliki sel ganglion pada sampel yang diambil.Pada
biopsy hisap, jaringan dikeluarkan dari kolon dengan menggunakan alat
penghisap, dengan tidak menggunakan anestesi karena tidak melibatkan
pemotongan jaringan kolon.Jika tidak terdapat sel-sel ganglion pada jaringan
contoh, biopsy Iull-thickness diperlukan untuk konIirmasi penyakit

Hirschprung.Pada biopsy Iull-thickness lebih banyak jaringan dari dalam


dikeluarkan secara bedah untuk kemudian diperiksa dibawah mikroskop.

3. nal manometri
nal manometri mengukur tekanan dari otot sIingter anal dengan menggunakan
sebuah balon yang ditiukan kedalam rectum.Pada anak yang menderita
Hirschprung otot pada rectum tidak relaksasi normal.Selama tes, pasien diminta
untuk memeras, santai, dan mendorong, seseorang mengencangkan otot sIingter
seperti mencegah sesuatu keluar.

2.6 Penatalaksanaan Terapeutik
Terapi utama penyakit Hirschsprung adalah pembedahan untuk mengangkat bagian
usus yang aganglionik agar obstruksi usus dapat dihilangkan dan motilitas usus serta Iungsi
sIingter ani dapat dipulihkan kembali.
Pada sebagian besar kasus, pembedahan dilakukan dalam dua tahap.Pertama,
pembedahan membuat ostomi temporer disebelah proksimal segmen yang aganglionik
untuk menghilangkan obstruksi dan memungkinkan pemulihan usus yang enervasinya
normal serta mengalami dilatasi itu kembali kepada ukurannya yang normal. Kedua,
pembedahan korektiI total biasanya dilakukan ketika berat badan anak mencapai kurang
dari9 kg.
da beberapa prosedur pembedahan yang dapat dikerjakan dan prosedut tersebut
meliputi prosedur Swenson, Duhamel, Boley serta Soave. Prosedur pull-through
endorektal Soave, yang merupakan salah satu prosedur yang paling sering dilakukan,
terdiri atas tindakan menarik ujung usus yang normal lewat sleeve muskular rektum dan
dari situ bagian mukosa yang aganglionik dibuang. Ostomi biasanya ditutup pada saat
dilakukan prosedur pull-through.(Wong, 2008 ).
Sebagian besar anak yang menderita penyakit Hirschsprung memerlukan tindakan
pembedahan dan bukan terapi medis.Setelah keadaan umum pasien dibuat stabil dengan
pemberian inIus cairan dan elektrolit jika diperlukan, operasi kolostomi temporer
dikerjakan dan operasi ini memiliki angka keberhasilan yang tinggi. Sesudah pelaksanaan
operasai pull-through yang dilakukan kemudian, striktur ani dan inkontinensia merupakan
komplikasi yang potensial terjadi dan memerlukan tindakan lebih lanjut, meliputi terapi
dilatasi atau bowel-retraining (Wong, 2008 ).

2.7Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan pada anak dengan penyakit Hirschprung menurut (Wong,
2003) yaitu:
O Lakukan pengkajian Iisik rutin.
O Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat terutama yang berhubungan dengan
pola deIekasi.
O Kaji status hidrasi dan nutrisi umum.
O Monitor bowel elimination pattern.
O Ukur lingkar abdomen.
O Observasi maniIestasi penyakit Hirschprung. Bantu dengan prosedur diagnostik dan
pengujian, misalnya radiograIi, biopsi rektal, manometri anorektal.
Pengkajian keperawatan pada anak dengan penyakit Hirschprung menurut (Mary,
2005) yaitu
O Kaji status klinis anak (tanda-tanda vital, asupan dan keluaran).
O Kaji adanya tanda-tanda perIorasi usus.
O Kaji adanya tanda-tanda enterokolitis.
O Kaji kemampuan anak dan keluarga untuk melakukan koping terhadap pembedahan
yang akan datang.
O Kajitingkat nyeri yang dialami anak


2. Diagnosa Keperawatan
a. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi ditandai dengan ketidakmampuan kolon
mengevakuasi Ieces
b. Risiko kekurangan cairan berhubungan dengan intake yang kurang ditandai dengan
mual dan muntah
c. Gangguan kebutuhan nutrisi yang adekuat berhubungan dengan intake yang kurang
d. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatanya

3. Intervensi Keperawatan
a. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi ditandai dengan ketidakmampuan
kolon mengevakuasi Ieces (Wong,2004)

No. Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional


1. %ufuan .
nak dapat melakukan
eliminasi dengan beberapa
adaptasi sampai Iungsi
eliminasi secara normal dan
bisa dilakukan
Kriteria Hasil
1.Pasien dapat melakukan
eliminasi dengan beberapa
adapatasi
2.da peningkatan pola
eliminasi yang lebih baik


1.Berikan bantuan enema
dengan cairan isiologis
NaCl 0,9



2.Observasi tanda vital
dan bising usus setiap 2
jam sekali


3.Observasi pengeluaran
Ieces per rektal bentuk,
konsistensi, jumlah

4.Observasi intake yang
mempengaruhi pola dan
konsistensi Ieses


5.njurkan untuk
menjalankan diet yang
telah dianjurkan
Untuk mengosongkan
usus, meningkatkan
rasa nyaman anak dan
mengurangi perIorasi
usus akibat obstruksi

Untuk memastikan
Iungsi usus dengan
benar dan terapi yang
diberikan tepat

Sebagai indicator
Iungsi kolon


Untuk
mengidentiIikasi
ketepatan intervensi

Untuk mengurangi
perIorasi usus akibat
obstruksi




b. Perubahan nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh berhubungan dengan saluran
pencernaan mual dan muntah
No. Tujuan/Kriteria
Hasil
Intervensi Keperawatan Rasional
2. %ufuan .
Pasien menerima
asupan nutrisi
yang cukup sesuai
dengan diet yang
dianjurkan
Kriteria Hasil
1. Berat badan
pasien sesuai
1. Berikan asupan nutrisi yang
cukup sesuai dengan diet yang
dianjurkan
2. Ukur berat badan anak tiap hari


3. Gunakan rute alternatiI pemberian
nutrisi (seperti NGT dan
parenteral) untuk mengantisipasi
1. Memenuhi
kebutuhan nutrisi

2. MengidentiIikasi
status cairan dan
nutrisi
3. Meningkatkan
pemulihan usus.

dengan
umurnya
2. Turgor kulit
pasien lembab
3. Orang tua bisa
memilih
makanan yang
di anjurkan
pasien yang sudah mulai merasa
mual dan muntah.


c. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang (Betz,
Cecily & Sowden 2002)
No. Tujuan/Kriteria
Hasil
Intervensi Keperawatan Rasional
3. %ufuan .
Status hidrasi
pasien dapat
mencukupi
kebutuhan tubuh
Kriteria Hasil
4. Turgor kulit
lembab.
5. Keseimbangan
cairan.

1.Berikan asupan cairan yang
adekuat pada pasien



2.Pantau tanda tanda cairan tubuh
yang tercukupi turgor, intake
output









3.Observasi adanya peningkatan
mual dan muntah antisipasi devisit
cairan tubuh dengan segera
1. Memenuhi
kebutuhan cairan
dan mencegah
terjadinya
dehidrasi.
2. Turgor kulit
memberikan
gambaran sirkulasi
umum dan derajat
dehidrasi, intake
dan output cairan
memberikan
pedoman untuk
mengganti cairan
dan mengetahui
keseimbangan
cairan tubuh.
3. Mengetahui deIisit
cairan secara dini
agar tidak
menyebabkan
komplikasi lebih
lanjut.

d. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatanya. (Whaley &
Wong, 2004 ).
No. Tujuan/Kriteria
Hasil
Intervensi Keperawatan Rasional

4. %ufuan .
Pengetahuan
pasien tentang
penyakitnyaa
menjadi lebih
adekuat
Kriteria Hasil .
Pengetahuan
pasien dan
keluarga tentang
penyakitnyaa,
perawatan dan
obat obatan.
Bagi penderita
Hirschprung(Mega
Colon) meningkat
daan pasien atau
keluarga mampu
menceritakanya
kembali

1. Beri kesempatan pada keluarga
untuk menanyakan hal hal yang
ingn diketahui
sehubunagandengan penyaakit
yang dialami pasien.
2. Kaji pengetahuan keluarga
tentang Mega Colon


3. Kaji latar belakang keluarga



4. Jelaskan tentang proses penyakit,
diet, perawatan serta obat
obatan pada keluarga pasien
5. Jelaskan semua prosedur yang
akan dilaksanakan dan
manIaatnya bagi pasien
6. Menggunakan liIlet aatau gambar
dalam menjelaskan (Suriadi &
Yuliani, 2001).
1. Pengetahuan akan
mempengaruhi
persepsi dan tingkah
laku.

2. Mengetahui seberapa
jauh pengetahuan
keluarga tentang
penyakit.
3. Mengetahui seberapa
jauh pengalaman
keluarga tentang
penyakit.
4. Dengan
bertambahnya
pengetahuan keluarga
pasien tentang
kondisi akan dapat
mengurangi
kecemasan.








BAB III
ANALISA KASUS
3.1 Pengkajian
I. Identitas Data
Nama : n.
Tempat/Tanggal lahir : Nias, 11 Juli 2011
Nama ayah/ibu : mati Daeli/mina Hia
Pekerjaan ayah : Petani
Pekerjaan ibu : Ibu Rumah Tangga
lamat : Ono Baimbo, Nias

Suku : Nias
gama : Kristen Protestan
Pendidikan : SM
Tanggal masuk : 12 gustus 2011
Tanggal Pengkajian : 7 September 2011

II. Keluhan Utama
Perut pasien membesar dan keras. Hal ini dialami pasien 4 bulan yang lalu

III. Riwayat Masa Lampau
1. Penyakit waktu kecil
Tidak da
2. Pernah di rawat di rumah sakit
Tidak pernah
3. Obat-obatan yang digunakan
Tidak da
4. Tindakan Operasi
Pasien belum pernah dioperasi
5. lergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan maupun obat-obatan
6. Kecelakaan
Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan
7. Imunisasi
Pasien pernah diimunisasi, namun Ibu n. tidak mengetahui jenis imunisasi yang di
berikan

IV. Riwayat Keluarga
Genogram: Ibu yah






Keterangan:
Laki-laki

Perempuan

Klien

Meninggal

Serumah
Cerai


V. Riwayat Sosial
1. Yang mengasuh
n. diasuh oleh kedua orang tua kandungnya sejak lahir
2. Hubungan dengan anggota keluarga
n. lebih dekat dengan ibu kandungnya
3. Hubungan dengan teman sebaya
Tidak da
4. Pembawaan secara umum
n. tidak rewel dan tenang selama di Rumah Sakit dan bermain bersama ibunya.
VI. Kebutuhan Dasar
1. Makanan:
O Makanan yang dikonsumsi
SI PSI
O Selera
Selera n. selama di Rumah Sakit menurun karena terrjadinya distensi abdomen
O lat makan yang dipakai
Botol Susu
O Pola makan/jam

n. diberi PSI 3 kali sehari, pagi hari pada pukul 06.30, siang hari pada pukul
13.00, malam hari pada pukul 18.00.dan SI diberikan ketika n. haus.
2. Pola tidur
O Kebiasaan sebelum (perlu mainan, dibacakan cerita, benda yang dibawa tidur):
n. memiliki kebiasaan sebelum tidur digendong oleh Ibunya sambil diayun-ayun
dan dinyanyikan sebuah lagu
O Tidur siang
n. sering tidur siang.
3. Mandi:
Selama dirawat n. melakukan personal hyginedengan cara dilap 2x sehari dengan
ibunya
4. ktivitas bermain
n. memiliki aktivitas bermain bersama ibunya.
5. Eliminasi
Sebelum sakit, n.eliminasi dibantu dengan enema/washout3 kali sehari.BK tiga
sampai lima kali dalam sehari dengan warna kuning jernih.
6. Psikososial
a. Persepsi Kesehatan
Ibu n. mengatakan sehat menurutnya adalah bisa beraktivitas seperti biasa dan
tidak ada keluhan pada Iisiknya.
b. Konsep Diri dan Persepsi Diri
Terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena dampa luka jahitan operasi
c. Peran dan Pola Hubungan
Tidak ada perubahan peran maupun pola hubungan dalam keluarga Ibu n.
d. Pola Pertahanan Diri, Stress, dan Toleransi
danya Iaktor stress lama, eIek hospitalisasi, masalah keuangan, rumah
e. Pola Keyakinan dan Nilai
Keyakinan Ibu n. tetap melaksanakan agama yang dipeluk dan konsekuensinya
dalam keseharian.

VII. Keadaan Kesehatan Saat Ini
1. Diagnosis medis : Hirschprung Disease
2. Tindakan Operasi : -
3. Status cairan : IVD 4:1 10 gtt/i mikro

4. Status nutrisi : Diet SI/PSI


5. Obat-obatan : Inj. CeItriaxone 175mg/12jam lbumin 20, 25 cc
6. ktivitas : n.beraktivitas dengan cara dimiringkan kekiri dan kekanan oleh
ibunya, menangis dan bermain bersama ibunya.
7. Hasil Lab : Hasil Normal
lbumin 2,23 3,6-5,0 g/dl
WBC 8,1 x 10
3
/mm
3
4,0-11,0
RBC 3,39 L/10
3
4,0-6,2
Hb 10,1 11,0-18,8

8. oto rontgen : menunjukkan pelebaran usus besar yang terisi oleh gas dan tinja

. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Compos mentis
2. TB/BB : 53 cm / 3,8 kg
3. Lingkar kepala : 36 cm
4. Kepala : Bentuk kepala lonjong, tidak terdapat pembesaran dan bekas
cedera kepala, penyebaran rambut merata, dan kulit kepala
bersih.
5. Mata : Penempatan dan kesejajaran bola mata kiri dan kanan simetris,
reaksi berkedip spontan, konjungtiva pucat, reIlex cahaya ada,
pupil isokor.
6. Leher : Posisi trakea anatomis berada di posisi medial, tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, dan tidak ada pembesaran KGB.
7. Telinga : Letak telinga simetris kanan dan kiri, tidak terdapat lubang
abnormal, tidak ada pembengkakan dan serumen yang
berlebihan.
8. Hidung : Tidak ada kelainan tulang hidung, lubang hidung bersih, tidak
ada secret, tidak ada pernaIasan cuping hidung, dan simetris
kanan dan kiri, serta tidak terdapat polip.
9. Mulut : Keadaan bibir normal, tidak pucat, lembab, gigi belum tumbuh,
dan tidak terdapat radang dan perdarahan.

10. Dada : Kedua sisi dada simetris, gerakan regular dan simetris, puting
berwarna kecoklatan terletak antara intercosta ke empat dan
lima.
11. Paru-paru : Pengembangan perut normal, pergerakan sama/simetris, RR:
42x/I, suara naIas vesicular.
12. Jantung : tidak tampak iktus jantung, tidak ada pembesaran jantung, irama
jantung teratur dan tetap, tidak terdapat bunyi jantung tambahan,
suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur, HR: 118x/i
13. Perut : distensi abdomen, perut membesar dengan lingkar perut 43 cm,
turgor kulit baik, () suara tympani, bising usus () 6x/menit
14. Punggung : Kulit bersih, tidak kaku, rentang tidak terbatas.
15. Genitalia : Organ genitalia laki-laki lengkap, terdapat glans penis, scrotum
dan testis, tidak ada rambut pubis dan tampak bersih.
16. Ekstremitas
a. Ekstremitas atas : simetris kanan dan kiri, rentang gerak penuh, kedua siku dapat
Ileksi, ekstensi, kulit bersih dan tangan kanan terpasang inIuse,
CRT2detik
b. Ekstremitas bawah : Panjang simetris, rentang penuh.

17. Tanda vital
a. RR : 42 x/mnt (reguler)
b. HR : 118 x/mnt (reguler)
c. TD : 90/50mmHg
d. Temp : 37,3
0
C


3.2. ANALISA DATA
No Data Etiologi Masalah
1 DS : Ibu n. mengatakan
anaknya tidak BB selama 2 bulan
dan sering menangis

DO :
Sel ganglion parasimpatik dari
pleksus aurbach di kolon tidak ada

Peristaltik segmen kolon turun dan
mengenai rektum dan kolon
kongenital bagian bawah

Kontispasi

- Distensi bdomen
- pelebaran usus besar yang
terisi oleh gas dan tinja

obstruksi usus

HipertroIi

Distensi kolon bagian proksimal

Konstipasi

Distensi abdomen
2 DS : Ibu n. mengatakan n.
muntah dengan Irekuensi 2 x sehari
sebanyak 20 cc

DO :
- Demam, 37,3
0
C
- Muntah



Sel ganglion parasimpatik dari
pleksus aurbach di kolon tidak ada

Peristaltik segmen kolon turun dan
mengenai rektum dan kolon
kongenital bagian bawah

obstruksi usus

HipertroIi

Distensi kolon bagian proksimal

Konstipasi

Distensi abdomen


Menekan gaster Pasien malas
minum
Peningkatan
produk HCl

Mual, muntah


Resiko Kekurangan Cairan
Resiko
Kekurangan
Cairan
3. DS : Ibu n. tidak mengetahui
proses penyakit dan pengobatannya
anaknya
DO :
- Bertanya
- Bingung
- Cemas
Sel ganglion parasimpatik dari
pleksus aurbach di kolon tidak ada

Peristaltik segmen kolon turun dan
mengenai rektum dan kolon
kongenital bagian bawah

obstruksi usus

HipertroIi
Kurang
Pengetahuan


Distensi kolon bagian proksimal

Konstipasi

Distensi abdomen
Perubahan status kesehatan anak
Kurangnya imIormasi tentang proses
penyakit dan pengobatan
Kurang Pengetahuan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi usus ditandai dengan distensi abdomen
(lingkar perut43 cm), pelebaran usus besar yang terisi oleh gas dan tinja.
2. Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan intake yang kurang ditandai dengan
muntah 20/hari cc
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya inIormasi ditandai dengan
bertanya, bingung, dan cemas
Prioritas Masalah
1. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi usus ditandai dengan distensi abdomen
(lingkar perut43 cm), pelebaran usus besar yang terisi oleh gas dan tinja.
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya inIormasi ditandai dengan
bertanya, bingung, dan cemas
3. Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan intake yang kurang ditandai dengan
muntah 20/hari cc

3.3. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
No. Dx Tujuan/Kriteria
Hasil
Intervensi Keperawatan Implementasi
Keperawatan
1. I %ufuan.
nak dapat
melakukan
eliminasi dengan
beberapa adaptasi
sampai Iungsi
1. Berikan bantuan enema dengan
cairan isiologis NaCl 0,9


2. Observasi tanda vital dan bising
usus setiap 2 jam sekali
1. Memberikan bantuan
enema dengan cairan
isiologis NaCl 0,9


2. Mengobservasi tanda
vital dan bising usus

eliminasi secara
normal dan bisa
dilakukan.
Kriteria Hasil.
1.Pasien dapat
melakukan
eliminasi
dengan
beberapa
adapatasi
2.da
peningkatan
pola eliminasi
yang lebih baik

3. Observasi pengeluaran Ieces per
rektal bentuk, konsistensi,
jumlah


4. Observasi intake yang
mempengaruhi pola dan
konsistensi Ieses
5. njurkan untuk menjalankan diet
yang telah dianjurkan
setiap 2 jam sekali
3. Mengobservasi
pengeluaran Ieces per
rektal bentuk,
konsistensi, jumlah

4. Mengobservasi intake
yang mempengaruhi
pola dan konsistensi
Ieses
5. Menganjurkan untuk
menjalankan diet yang
telah dianjurkan
2. II %ufuan .
Pengetahuan
pasien tentang
penyakitnyaa
menjadi lebih
adekuat
Kriteria Hasil .
Pengetahuan
pasien dan
keluarga tentang
penyakitnya,
perawatan dan
obat obatan
bagi penderita
Hirschprung(Meg
a Colon)
meningkat dan
pasien atau
keluarga mampu
menceritakanya
kembali
1. Beri kesempatan pada keluarga
untuk menanyakan hal hal yang
ingn diketahui sehubunagan
dengan penyaakit yang dialami
pasien.



2. Kaji pengetahuan keluarga tentang
Mega Colon


3. Kaji latar belakang keluarga


4. Jelaskan tentang proses penyakit,
diet, perawatan serta obat obatan
pada keluarga pasien



5. Jelaskan semua prosedur yang
akan dilaksanakan dan manIaatnya
bagi pasien
1.Memberi kesempatan
pada keluarga untuk
menanyakan hal hal
yang ingn diketahui
sehubunagan dengan
penyaakit yang dialami
pasien.

2.Mengkaji pengetahuan
keluarga tentang Mega
Colon

3.Mengkaji latar
belakang keluarga

4.Menjelaskan tentang
proses penyakit, diet,
perawatan serta obat
obatan pada keluarga
pasien

5.Menjelaskan semua
prosedur yang akan
dilaksanakan dan
manIaatnya bagi pasien

3. III %ufuan.
Status hidrasi
pasien dapat
mencukupi
kebutuhan tubuh
Kriteria Hasil.
1. Turgor kulit
1. Berikan asupan cairan yang
adekuat pada pasien

2. Pantau tanda tanda cairan tubuh
yang tercukupi turgor, intake
output

1.Memberikan asupan
cairan yang adekuat
pada pasien

2.Memantau tanda
tanda cairan tubuh
yang tercukupi turgor,
intake output

lembab.
2. Keseimbangan
cairan

3. Observasi adanay peningkatan
mual dan muntah antisipasi devisit
cairan tubuh dengan segera

3.Mengobservasi adanay
peningkatan mual dan
muntah antisipasi
devisit cairan tubuh
dengan segera































ATATAN PERKEMBANGAN

Nama Pasien : n. Diagnosis Medik: Hirschprung Disease
Nama Ibu : Ny. Ruangan : IX
No. Reg : 80 10 05

No. Hari/Tgl Diagnosis
Keperawatan
1am Implementasi Evaluasi
1 2 3 4 5
1.




















Selasa, 06 Sept`11


















Konstipasi





















16.00
&
20.00



10.30


16.00
&
20.00



10.30












1.Memberikan
bantuan enema
dengan cairan
isiologis NaCl 0,9


2.Mengobservasi
tanda vital


3.Mengobservasi
pengeluaran Ieces
per rektal bentuk,
konsistensi, jumlah

4.Menganjurkan
untuk menjalankan
diet yang telah
dianjurkan
S: Ibu n.
mengatakan
distensi abdomen
pada anaknya
sudah berkurang
O:
- Lingkar perut
45 cm
- T37,3
0
C
- RR42x/i
- HR118x/i
- Konsistensi cair,
() ampas,
berwarna
kuning, sedikit
berwarna hijau
: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1-4
dilanjutkan

Selasa, 06 Sept`11

Kurang pengetahuan 10.30

10.00
1.Memberi
kesempatan pada
keluarga untuk
menanyakan hal
hal yang ingin
diketahui
sehubunagan
dengan penyaakit
yang dialami
pasien.
2.Mengkaji
S: Ibu n.
menanyakan
kondisi anaknya
O:
Terlihat bingung
:
Masalah belum
teratasi
P:
Intervensi 1-6
dilanjutkan




10.00

10.00





10.00
pengetahuan
keluarga tentang
Hirschprung
3.Mengkaji latar
belakang keluarga
4.Menjelaskan
tentang proses
penyakit, diet,
perawatan serta obat
obatan pada
keluarga pasien
5.Menjelaskan semua
prosedur yang akan
dilaksanakan dan
manIaatnya bagi
pasien


Selasa, 06 Sept`11 Resiko Kekurangan
Cairan
10.00



10.00







1. Memantau tanda
tanda cairan tubuh
yang tercukupi
turgor, intake
output
2. Mengobservasi
adanya peningkatan
mual dan muntah
antisipasi devisit
cairan tubuh
dengan segera
S: Ibu n.
mengatakan n.
muntah sebanyak
2x/hari
O:
- Intake Cairan:
600 cc (500 cc
cairan
- inIuse 100 cc
SI/PSI)
- Output
Cairan:250
belum teratasi
P: Intervensi 1-3
dilanjutkan
2 Rabu, 07 Sept`11 Kontispasi 16.00
&
20.00


10.30





16.00
&
20.00


10.30

1. Memberikan
bantuan enema
dengan cairan
isiologis NaCl
0,9
2. Mengobservasi
pengeluaran Ieces
per rektal
bentuk,
konsistensi,
jumlah
3. Mengobservasi
intake yang
mempengaruhi
pola dan
konsistensi Ieses
4. Menganjurkan
untuk menjalankan
S: Ibu n.
mengatakan
distensi abdomen
pada anaknya
sudah berkuarang
O:
- Lingkar perut
43 cm
- T37
0
C
- RR40x/i
- HR108x/i
- Konsistensi cair,
() ampas,
berwarna
kuning, sedikit
berwarna hijau

diet yang telah


dianjurkan
: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1-4
dilanjutkan
Rabu, 07 Sept`11 Kurang Pengetahuan 10.30

10.00



10.00

10.00





10.00
1.Memberi
kesempatan pada
keluarga untuk
menanyakan hal
hal yang ingn
diketahui
sehubunagan
dengan penyaakit
yang dialami
pasien.
2.Mengkaji
pengetahuan
keluarga tentang
Hirschprung
3.Mengkaji latar
belakang keluarga
4.Menjelaskan
tentang proses
penyakit, diet,
perawatan serta
obat obatan pada
keluarga pasien
5.Menjelaskan
semua prosedur
yang akan
dilaksanakan dan
manIaatnya bagi
pasien
S: Ibu n.
masih banyak
bertanya tentang
kondisi anaknya
O:
Terlihat bingung
:
Masalah belum
teratasi
P:
Intervensi 1-6
dilanjutkan

Rabu, 07 Sept`11 Resiko Kekurangan
Cairan
10.00



10.00







1. Memantau tanda
tanda cairan tubuh
yang tercukupi
turgor, intake
output
2. Mengobservasi
adanya
peningkatan mual
dan muntah
antisipasi devisit
cairan tubuh
dengan segera
S: Ibu n.
mengatakan n.
muntah sebanyak
1x/hari
O:
- Intake Cairan:
650 cc (500 cc
cairan inIuse
150 cc
SI/PSI)
- Output Cairan:
220 cc
: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1-3
dilanjutkan
3. Kamis, 08 Sept`11 Kontispasi 16.00
&
1. Memberikan
bantuan enema
S: Ibu n.
mengatakan

20.00


10.30





16.00
&
20.00


10.30

dengan cairan
isiologis NaCl
0,9
2. Mengobservasi
pengeluaran Ieces
per rektal
bentuk,
konsistensi,
jumlah
3. Mengobservasi
intake yang
mempengaruhi
pola dan
konsistensi Ieses
4. Menganjurkan
untuk
menjalankan diet
yang telah
dianjurkan
distensi abdomen
pada anaknya
sudah berkuarang
O:
- Lingkar
perut42 cm
- T37,1
0
C
- RR40x/i
- HR108x/i
- Konsistensi cair,
() ampas,
berwarna
kuning, sedikit
berwarna hijau
: Masalah
sebagian teratasi
P: Intervensi 1-4
dilanjutkan
Kamis, 08 Sept`11 Kurang Pengetahuan 10.30

10.00



10.00

10.00





10.00
1. Memberi
kesempatan pada
keluarga untuk
menanyakan hal
hal yang ingn
diketahui
sehubungan dengan
penyaakit yang
dialami pasien.
2. Mengkaji
pengetahuan
keluarga tentang
Hicrsprung
3. Mengkaji latar
belakang keluarga
4. Menjelaskan
tentang proses
penyakit, diet,
perawatan serta
obat obatan pada
keluarga pasien
5. Menjelaskan semua
prosedur yang akan
dilaksanakan dan
manIaatnya bagi
pasien
S: Ibu n.
sudah memahami
kondisi anaknya
O:
Terlihat tenang
:
belum teratasi
P:
Intervensi 1-6
dihentikan

Kamis,08 Sept`11 Resiko Kekurangan
Cairan
10.00



1.Memantau tanda
tanda cairan tubuh
yang tercukupi
turgor, intake
S: Ibu n.
mengatakan n.
muntah sebanyak
2x/hari

10.00







output
2.Mengobservasi
adanya peningkatan
mual dan muntah
antisipasi devisit
cairan tubuh dengan
segera
O:
- Intake Cairan:
620 cc (500 cc
cairan inIuse
120 cc
SI/PSI)
- Output Cairan:
210 cc
: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1-3
dilanjutkan
4. Jumat,09 Sept`11 Kontispasi 16.00
&
20.00







10.30






16.00
&
20.00


1. Memberikan
bantuan enema
dengan cairan
isiologis NaCl 0,9

2. Mengobservasi
pengeluaran Ieces
per rektal bentuk,
konsistensi, jumlah
3. Mengobservasi
intake yang
mempengaruhi pola
dan konsistensi
Ieses
4. Menganjurkan
untuk menjalankan
diet yang telah
dianjurkan
S: Ibu n.
mengatakan
distensi abdomen
pada anaknya
sudah berkuarang
O:
- Lingkar perut
41 cm
- T37
0
C
- RR39x/i
- HR115x/i
- Konsistensi cair,
() ampas,
berwarna
kuning, sedikit
berwarna hijau
: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1-4
dilanjutkan
Jumat, 09 Sept`11 Resiko Kekurangan
Cairan
10.00



10.00






10.00
1.Memberikan asupan
cairan yang adekuat
pada pasien
2.Memantau tanda
tanda cairan tubuh
yang tercukupi
turgor, intake
output
3.Mengobservasi
adanya peningkatan
mual dan muntah
antisipasi devisit
cairan tubuh dengan
segera
S: Ibu n.
mengatakan n.
muntah sebanyak
2x/hari
O:
- Intake Cairan:
650 cc (500 cc
cairan inIuse
150 cc
SI/PSI)
- Output Cairan:
200 cc
: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1-3
dilanjutkan

5. Sabtu,10 Sept`11 Kontispasi 16.00


&
20.00







10.30






16.00
&
20.00
1.Memberikan
bantuan enema
dengan cairan
isiologis NaCl 0,9

2.Mengobservasi
pengeluaran Ieces
per rektal bentuk,
konsistensi, jumlah
3.Mengobservasi
intake yang
mempengaruhi pola
dan konsistensi
Ieses
4.Menganjurkan
untuk menjalankan
diet yang telah
dianjurkan
S: Ibu n.
mengatakan
distensi abdomen
pada anaknya
sudah berkuarang
O:
- Lingkar perut
41 cm
- T36,8
0
C
- RR42x/i
- HR110x/i
- Konsistensi cair,
() ampas,
berwarna
kuning, sedikit
berwarna hijau
: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1-4
dilanjutkan
Sabtu,10 Sept`11 Resiko Kekurangan
Cairan
10.00



10.00






10.00
1. Memberikan
asupan cairan yang
adekuat pada
pasien
2. Memantau tanda
tanda cairan tubuh
yang tercukupi
turgor, intake
output
3. Mengobservasi
adanya
peningkatan mual
dan muntah
antisipasi devisit
cairan tubuh
dengan segera
S: Ibu n.
mengatakan n.
muntah sebanyak
2x/hari
O:
- Intake Cairan:
650 cc (500 cc
cairan inIuse
150 cc
SI/PSI)
- Output Cairan:
210 cc
: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1-3
dilanjutkan






BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Penyakit Hirschsprung (megakolon aganglionik kongenital) merupakan obstruksi
mekanis yang disebabkan oleh ketidakadekuatan motilitas bagian usus ( Donna L. Wong,
2008). Penyakit Hirschsprung empat kali lebih sering mengenai bayi atau anak laki-laki
daripada perempuan, mengikuti Iamilial pada sejumlah kecil kasus dan cukup sering
dijumpai diantara anak-anak yang menderita sindrom Down.
ManiIestasi klinis bervariasi sesuai usia pada saat diagnosis, yang meliputi: Periode
bayi baru lahir dengan gejala klinis berupa kegagalan untuk mengeluarkan mekonium
dalam waktu 24 jam hingga 48 jam sejak lahir, keengganan untuk mengkonsumsi cairan,
muntah yang bernoda empedu, distensi abdomen. Sedangkan pada bayi dijumpai gejala
seperti kegagalan tumbuh kembang, konstipasi, distensi abdomen, episode diare dan
vomitus, tanda-tanda yang mengancam (yang sering menandai adanya enterokolitis)
meliputi diare yang menyerupai air dan menyemprot, demam, keadaan umum yang buruk.
Pada anak-anak ditemukan gejala berupa konstipasi, Ieses mirip tambang dan berbau
busuk, peristalsis yang terlihat, massa Ieses yang mudah diraba, anak yang biasanya
tampak malnutrisi dan anemik.
Terapi utama penyakit Hirschprung adalah pembedahan untuk mengangkat bagian
usus yang aganglionik agar obstruksi usus dapat dihilangkan dan motilitas usus serta Iungsi
spingter ani interna dapat dipulihkan kembali.











DAFTAR PUSTAKA

Muscari, Mary E. 2005. !anduan Belafar Keperawatan !ediatrik, Edisi 2.
Jakarta: EGC.
Muscari, Mary E. 2005. !anduan Belafar Keperawatan !ediatrik, Edisi 3.
Jakarta: EGC.
Suriadi & Rita. 2006. Askep pada Anak. Jakarta: PT Percetakan Penebar
Surabaya.
Wong, Donna L. 2003. !edoman Klinis Keperawatan !ediatrik, Edisi 4. Jakarta:
EGC.
Wong, Donna L. 2008. Buku Afar Keperawatan !ediatrik, Edisi 6, Vol. 2.
Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan intervensi
NIC dan kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Jol. 3 Edisi 15. Jakarta: EGC
Betz, Cecily, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan !ediatrik, Edisi 3. Jakarta
:EGC.