Anda di halaman 1dari 15

TASK REABINu

PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Modernisasi berdampak terhadap kemajuan industri. Industrialisasi diikuti
dengan penggunaan bahan kimia dan mesin-mesin industri. Lingkungan industri yang
mengandung Hazard (potensi bahaya) berpengaruh terhadap produktivitas Tenaga
kerja.
Potensi bahaya di lingkungan industri dapat menyebabkan penyakit akibat
kerja yang mengenai organ-organ tubuh tenaga kerja. Salah satu organ tubuh yang
terkena adalah paru tenaga kerja. Di USA penyakit paru akibat kerja merupakan
penyakit akibat kerja nomer satu dikaitkan dengan Irekuensi, tingkat keparahan dan
kemampuan pencegahannya. Biasanya disebabkan oleh paparan iritasi atau bahan
toksik yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut maupun kronis.
Kebiasaan merokok akan memperparah penyakit tersebut. Total pembiayaan penyakit
akibat kerja dan kecelakaan kerja mencapai $ 170 milyar pertahunnya. Pada tahun
2002, tercatat 294.500 kasus baru. Secara keseluruhan 2,5 per 10.000 tenaga kerja
berkembang menjadi non Iatal penyakit akibat kerja. Penyakit akibat kerja biasanya
sulit disembuhkan akan tetapi mudah dicegah.
Di Indonesia, belum ada data mengenai penyakit akibat kerja pada umumnya
dan penyakit paru khususnya. Belum adanya data dapat disebabkan oleh beberapa hal
antara lain Sistem InIormasi Kesehatan Kerja yang belum berjalan, kurang dan
lemahnya sumber daya di bidang kesehatan kerja, kurangnya partisipasi pengusaha
serta kurangnya dukungan dari pemerintah. Mengingat semakin meningkatnya kasus
penyakit paru akibat kerja dan pentingnya upaya pencegahannya, maka perlu
diketahui epidemiologi penyakit paru akibat kerja. Diharapkan dengan pengetahuan
ini, minimal diketahui macam macam penyakit akibat kerja, agen penyebab penyakit
akibat kerja dan jenis industri tempat timbulnya penyakit paru akibat kerja dan upaya
pencegahannya.
Penyakit paru akibat kerja merupakan penyakit atau kelainan paru yang
terjadi akibat terhirupnya partikel, kabut, uap atau gas yang berbahaya saat seseorang
sedang bekerja. Tempat tertimbunnya bahan-bahan tersebut pada saluran pernaIasan
atau paru dan jenis penyakit paru yang terjadi tergantung pada ukuran dan jenis yang
terhirup. Beberapa jenis partikel yang di antaranya bisa menyebabkan penyakit paru
TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

yaitu partikel organik dan anorganik. Selain itu gas dan bahan aerosol lain seperti gas
dari hidrokarbon, bahan kimiawi insektisida, serta gas dari pabrik plastik dan hasil
pembakaran plastik. Jenis partikel organik dihasilkan oleh industri tekstil dimulai dari
proses awal sampai penenunan. Masa waktu untuk timbulnya penyakit ini cukup
lama,waktu yang terpendek adalah 5 tahun. Partikel anorganik yang jika terhirup
dalam jumlah banyak dapat pula menimbulkan gangguan paru, hal ini banyak terjadi
pada pekerja di pabrik semen, asbes, keramik dan tambang.
1.2RUMUSAN MASALAH
1. Menjelaskan tentang Penyakit Paru Akibat Kerja

1.3TU1UAN
Diharapkan agar mahasiswa/mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Islam Al-Azhar Mataram dapat memahami tentang Penyakit Paru Akibat Kerja
sehingga tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran mata
perkuliahan yang lainnya yang lebih spesiIik.


TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Penyakit paru kerja adalah penyakit atau kerusakan paru yang disebabkan
oleh debu, uap atau gas berbahaya yang terhirup pekerja ditempat pekerjaan.
Penyakit Paru Akibat Pekerjaan terjadi akibat terhirupnya partikel, kabut, uap
atau gas yang berbahaya pada saat seseorang sedang bekerja. Lokasi tersangkutnya zat
tersebut pada saluran pernaIasan atau paru-paru dan jenis penyakit paru yang terjadi,
tergantung kepada ukuran dan jenis partikel yang terhirup. Partikel yang lebih besar
mungkin akan terperangkap di dalam hidung atau saluran pernaIasan yang besar, tetapi
partikel yang sangat kecil bisa sampai ke paru-paru.
Di dalam paru-paru, beberapa partikel dicerna dan bisa diserap ke dalam
aliran darah. Partikel yang lebih padat yang tidak dapat dicerna akan dikeluarkan oleh
sistem pertahanan tubuh.
Tubuh memiliki beberapa cara untuk membersihkan partikel yang terhirup:
O Di dalam saluran pernaIasan, lendir akan membungkus partikel, sehingga bisa
lebih mudah dikeluarkan melalui batuk
O Di dalam paru-paru, sel-sel pembersih tertentu, akan menelan partikel tersebut
dan melenyapkannya.
Partikel yang berbeda akan menghasilkan reaksi yang berbeda pula di dalam
tubuh. Beberapa partikel (misalnya serbuk tanaman) dapat menyebabkan reaksi alergi
seperti rinitis alergika atau asma. Serbuk batubara, karbon dan oksida perak tidak
menimbulkan reaksi yang berarti dalam paru-paru. Serbuk silika dan asbes bisa
menimbulkan jaringan parut yang menetap pada jaringan paru-paru (fibrosis paru).
Dalam jumlah yang cukup besar, asbes bisa menyebabkan kanker pada perokok.


TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

2.2 KLASIFIKASI PENYAKIT PARU AKIBAT KER1A


KELOMPOK PENYAKIT UTAMA AGEN PENYEBAB
Iritasi saluran naIas atas Gas iritan, pelarut
Gangguan jalan naIas (asma kerja,
bisinosis, dll)
Diisosianat, alergen asal binatang, debu
kapas
Trauma inhalasi Akut
Pneumonitis hipersensitiI
Gas iritan, Hasil pembakaran bakteri,
jamur, protein binatang
Penyakit inIeksi TB, virus, bakteri
Pneumokoniosis Asbes, silika, batubara, berilium
Keganasan Asbes, radon

2.3 KOMPONEN PENYEBARAN PENYAKIT PARU AKIBAT KER1A
1. Faktor penyebab
Faktor penyebab penyakit paru akibat kerja di golongkan menjadi 2
golongan besar yaitu: :
a. Golongan kimiawi meliputi debu logam berat, debu organik, debu
anorganik
b. Golongan biologis meliputi bakteri, virus dan jamur
2. Faktor Host
Faktor host yang berpengaruh terhadap timbulnya penyakit paru akibat
kerja adalah :
a. Faktor imunitas
b. Faktor gizi
3. Faktor Lingkungan
Keadaan yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan tenaga kerja adalah
kondisi Iisik dan sanitasi dari lingkungan kerja tersebut, sistem organisasi kerja (
lama kerja, lama istirahat dan sistem shiIt) dan ketersediaan pelayanan kesehatan
kerja.



TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

2.3 MACAM PENYAKIT PARU AKIBAT KER1A


Berdasarkan Keppres RI no 22 tahun 1993 penyakit paru akibat kerja
meliputi Pneumokoniosis, Penyakit paru dan saluran napas oleh debu logam berat,
Penyakit paru dan saluran napas disebabkan oleh debu kapas, vlas, henep dan sisal
(Byssinosis), Asma akibat kerja, Alveolitis alergika akibat debu organik, Kanker paru
atau mesothelioma dan Penyakit inIeksi oleh virus, bakteri atau parasit yang didapat pada
pekerjaan berisiko terkontaminasi.
1. Pneumoconiosis
!neumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh
adanya partikel (debu) yang masuk atau mengendap di dalam paru-paru. Penyakit
pnemokoniosis banyak jenisnya, tergantung dari jenis partikel (debu) yang masuk atau
terhisap ke dalam paru-paru. Penyakit tersebut antara lain:
,. Peny,it Siliosis
Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa
SiO
2
, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika
bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel
yang mengerjakan besi (mengikir, menggerinda, dll). Selain dari itu, debu silika juka
banyak terdapat di tempat penampang bijih besi, timah putih dan tambang batubara.
Pemakaian batubara sebagai bahan bakar juga banyak menghasilkan debu silika bebas
SiO
2
. Pada saat dibakar, debu silika akan keluar dan terdispersi ke udara bersama sama
dengan partikel lainnya, seperti debu alumina, oksida besi dan karbon dalam bentuk abu.
Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi
sekitar 2 sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan lebih pendek, atau gejala penyakit
silicosis akan segera tampak, apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan terhisap
ke paru-paru dalam jumlah banyak. Penyakit silicosis ditandai dengan sesak naIas yang
disertai batuk-batuk. Batuk ini seringkali tidak disertai dengan dahak. Pada silicosis
tingkah sedang, gejala sesak naIas yang disertai terlihat dan pada pemeriksaan Iototoraks
kelainan paru-parunya mudah sekali diamati. Bila penyakit silicosis sudah berat maka
sesak naIas akan semakin parah dan kemudian diikuti dengan hipertropi jantung sebelah
kanan yang akan mengakibatkan kegagalan kerja jantung.
Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika perlu
mendapatkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang ketat
TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

sebab penyakit silicosis ini belum ada obatnya yang tepat. Tindakan preventiI lebih
penting dan berarti dibandingkan dengan tindakan pengobatannya. Penyakit silicosis
akan lebih buruk kalau penderita sebelumnya juga sudah menderita penyakit TBC paru-
paru, bronchitis, astma broonchiale dan penyakit saluran pernapasan lainnya.
Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan sangat
membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja. Data
kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat
untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu waktu diperlukan.

-. Peny,it As-estosis
Penyakit Asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu
atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes adalah campuran dari berbagai macam
silikat, namun yang paling utama adalah Magnesium silikat. Debu asbes banyak
dijumpai pada pabrik dan industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat
asbes, pabrik beratap asbes dan lain sebagainya.
Debu asbes yang terhirup masuk ke dalam paru-paru akan mengakibatkan
gejala sesak napas dan batuk-batuk yang disertai dengan dahak. Ujung-ujung jari
penderitanya akan tampak membesar / melebar. Apabila dilakukan pemeriksaan pada
dahak maka akan tampak adanya debu asbes dalam dahak tersebut. Pemakaian asbes
untuk berbagai macam keperluan kiranya perlu diikuti dengan kesadaran akan
keselamatan dan kesehatan lingkungan agar jangan sampai mengakibatkan asbestosis ini.
c. Peny,it Bisinosis
Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh
pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-
paru. Debu kapas atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan kapas,
pabrik tekstil, perusahaan dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja lain yang
menggunakan kapas atau tekstil; seperti tempat pembuatan kasur, pembuatan jok kursi
dan lain sebagainya.
Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-
tanda awal penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama
TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

pada hari Senin (yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari
Senin bekerja yang menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta
sesak naIas. Reaksi alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan
juga merupakan gejala awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat,
penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin
juga disertai dengan emphysema.
/. Peny,it Antr,osis
Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan
oleh debu batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang
batubara atau pada pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara, seperti
pengumpa batubara pada tanur besi, lokomotiI stoker) dan juga pada kapal laut
bertenaga batubara, serta pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar
batubara.
Masa inkubasi penyakit ini antara 2 4 tahun. Seperti halnya penyakit
silicosis dan juga penyakit-penyakit pneumokonisosi lainnya, penyakit antrakosis juga
ditandai dengan adanya rasa sesak napas. Karena pada debu batubara terkadang juga
terdapat debu silikat maka penyakit antrakosis juga sering disertai dengan penyakit
silicosis. Bila hal ini terjadi maka penyakitnya disebut silikoantrakosis. Penyakit
antrakosis ada tiga macam, yaitu penyakit antrakosis murni, penyakit silikoantraksosis
dan penyakit tuberkolosiliko`antrakosis.
Penyakit antrakosis murni disebabkan debu batubara. Penyakit ini
memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi berat, dan relatiI tidak begitu
berbahaya. Penyakit antrakosis menjadi berat bila disertai dengan komplikasi atau
emphysema yang memungkinkan terjadinya kematian. Kalau terjadi emphysema maka
antrakosis murni lebih berat daripada silikoantraksosis yang relatiI jarang diikuti oleh
emphysema. Sebenarnya antara antrakosis murni dan silikoantraksosi sulit dibedakan,
kecuali dari sumber penyebabnya. Sedangkan paenyakit tuberkolosilikoantrakosis lebih
mudah dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis lainnya. Perbedaan ini mudah dilihat
dari Iototorak yang menunjukkan kelainan pada paru-paru akibat adanya debu batubara
dan debu silikat, serta juga adanya baksil tuberculosis yang menyerang paru-paru.
e. Peny,it Beriliosis
TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K 8

Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berupa logam
murni, oksida, sulIat, maupun dalam bentuk halogenida, dapat menyebabkan penyakit
saluran pernapasan yang disebut beriliosis. Debu logam tersebut dapat menyebabkan
nasoparingtis, bronchitis dan pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit demam,
batuk kering dan sesak napas. Penyakit beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja
industri yang menggunakan logam campuran berilium, tembaga, pekerja pada pabrik
Iluoresen, pabrik pembuatan tabung radio dan juga pada pekerja pengolahan bahan
penunjang industri nuklir.
Selain dari itu, pekerja-pekerja yang banyak menggunakan seng (dalam
bentuk silikat) dan juga mangan, dapat juga menyebabkan penyakit beriliosis yang
tertunda atau /elaye/ berryliosis yang disebut juga dengan beriliosis kronis. EIek
tertunda ini bisa berselang 5 tahun setelah berhenti menghirup udara yang tercemar oleh
debu logam tersebut. Jadi lima tahun setelah pekerja tersebut tidak lagi berada di
lingkungan yang mengandung debu logam tersebut, penyakit beriliosis mungkin saja
timbul. Penyakit ini ditandai dengan gejala mudah lelah, berat badan yang menurun dan
sesak napas. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja-pekerja
yang terlibat dengan pekerja yang menggunakan logam tersebut perlu dilaksanakan terus
menerus.
2. Asm, ,i-,t erj,
Merupakan kasus penyakit paru akibat kerja paling sering timbul di USA.
Diperkirakan 15 hingga 23 dari kasus penyakit asma baru yang muncul pada penderita
dewasa merupakan asma akibat kerja. Kasus ini termasuk asma yang diperburuk oleh
kondisi lingkungan kerja ( aggravate preexisting asthma )
Karakteristik keluhan asma kerja:
Keluhan timbul setelah tiba ditempat kerja, hilang setelah meninggalkannya
Keluhan mulai beberapa jam setelah hilang dan kemudian hilang
Keluhan ringan pada awal minggu mulai bekerja, memberat pada hari
selanjutnya
Makin lama bekerja keluhan makin berlanjut
Tidak ada keluhan pada waktu libur
Keluhan timbul pada tempat kerja yang baru.

TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K 9

3. Alveolitis ,lergi, ,i-,t /e-u org,nic


Penyakit ini lebih sering disebut juga sebagai Hypersensitivity
pneumonitis. Alveolitis alergika merupakan penyakit paru yang diakibatkan inhalasi dari
debu organik seperti spora jamur, kotoran burung. Debu organik yang terhirup
menyebabkan peradangan pada alveoli dan dapat menimbulkan jaringan parut. Penyakit
ini menyerang tenaga kerja yang bergerak. Kematian akibat penyakit ini meningkat dari
tahun ke tahun. Pada tahun 1979 terdapat 20 kematian dan meningkat lebih dari dua kali
lipat pada tahun 1999 yaitu menjadi 57 kematian.
. Peny,it infesi oleh virus, -,teri ,t,u p,r,sit y,ng /i/,p,t p,/,
peerj,,n -erisio teront,min,si.
Penyakit yang termasuk dalam golongan ini adalah Anthrak, Tuberkulosis,
Avian InIleuenza. Penyakit anthrak di derita oleh tenaga kerja di sektor peternakan dan
penyamakan kulit binatang. Penyakit tuberkulosis menyerang tenaga kerja yang bekerja
pada semua tenaga yang berisiko terkena penyebab penyakit paru akibat kerja lainnya.
Penyakit avian inIluenza menyerang tenaga kerja di sektor peternakan unggas dan babi.

2. UPAYA PENCEGAHAN
Dalam rangka pencegahan Penyakit Paru akibat Kerja diperlukan kerja-sama
sinergis antara tenaga kerja, Departemen K3, dokter perusahaan dan pihak manajemen
perusahaan.
Kegiatan pencegahan meliputi kegiatan:
1. Penerapan peraturan perundangan yang berlaku
Upaya perlindungan dan pencegahan terhadap akibat yang merugikan perusahaan
maupun tenaga kerja melalui penerapan Standart Operating Procedure ( SOP ), Petunjuk
dan cara kerja berdasar norma kerja berdasar Undang-undang dan peraturan K3 yang
berlaku seperti Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di tempat kerja.



2. IdentiIikasi Potensi Bahaya dan penilaian risiko
Merupakan pengenalan terhadap kondisi lingkungan kerja, pekerjaan dan
beberapa Iaktor lingkungan kerja yang dapat mengakibatkan timbulnya penyakit paru
akibat kerja. Hasil dari pengenalan dapat digunakan bahan dalam melakukan analisis
TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

risiko. Kedua hal tersebut sangat penting dalam upaya pencegahan



3. Pengujian dan pemantauan lingkungan kerja
Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapat data mengenai Iaktor kimia maupun
biologis. Dari kegiatan ini akan didapatkan hasil kadar potensi bahaya yang ada.

4. Pengujian Kesehatan Tenaga Kerja & Pemantauan Biologis
Pemeriksaan kesehatan sangat perlu dalam rangka penegakan diagnosis penyakit
akibat kerja. Pemeriksaan kesehatan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan awal,
berkala dan khusus.
5. Teknologi Pengendalian
Berdasarkan hirarki pengendalian mulai darieliminasi, subtitusi, engineering
control, administrasi dan alat pelindung diri.

2.5 DIAGNOSIS
Agak sulit ditegakkan karena :
a. Gejala dan tanda mirip penyakit paru lain bukan karena kerja.
b. Waktu lama antara pejanan-Gejala
Diagnosis dengan anamnesis, pemeriksaan Iisis, Laboratorium, uji Iaal paru,
radiologi, dan lain-lain.

a. Anamnesis
Harus teliti dan akurat meliputi:
Riwayat kesehatan umum
Pekerjaan sekarang atau saling berhubungan
Pekerjaan sebelumnya
Keterangan pajanan
Pajanan spesiIik di tempat kerja
Faktor lingkungan non okupasi

b. !emeriksaan fisik
Sesak naIas
Jari tubuh atau sianosis
TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

Pembesaran kelenjar getah bening


Perubahan bentuk dada
Intensitas suara naIas
Ronki (inspirsi atau ekspresi)
Mengi
Pemeriksaan jantung
Pembesaran hepar atau limpa
Edema tungkai

c. #adiologi
DiagIragma mendatar
RiperinIlsi
Bayangan udara retrosternal
Bulla
Perselubungan nodular atau retikuler, loksi
Sarang tawon
Kelainan pleura

d. &i faal paru
KVP (Kapasitas Vital Paksa)
VEP1 (Volume Ekspirasi Paru Detik Pertama)
VEP1 / KVP
Kapasitas DiIusi
AGDA (Analisis Gas Darah)
Uji provokasi bronkus.

e. !emeriksaan laboratorium
Darah
Urine
Dahak
2.6 PENATALAKSANAAN
Penyakit paru akibat kerja telah diketahui sejak masa awal mesir kuno pada tahun
1713 ramazzini telah menyebutkan penyakit paru duantara pekerja pembuat kuali,
TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

penenun dan petani, banyak dokter yang mempunyai kesulitan dalam menata laksanaan
penderita setelah didiaknosis sebagai penyakit paru akibat kerja penata laksanaan dibagi
menjadi:

a. !enilaian cacat
Penilaian cacat sangat penting untuk membuat diagnosis yang tepat serta memberi
nasihat kepada penderita terhadap prospek pkerjaannya, untuk menentukan kecacatan paru
akibat kerja diperlukan 5 langkah yang harus dilakukan penilaian cacat sangat penting
untuk membuat diagnosis yang tepat meliputi:
Diagnosis
Hubungan diagnosis dengan pekerjaan
Derajat kelainan / gangguan Iungsi
Penilaian kebutuhan kerja
Penilaian kecacatan
b. !ronologis
pronologis berdasarkan pada pengetahuan tentang riwayat perjalanan penyakitnya serta
hasil- hasil pemeriksaan yang lain, dibekali dengan inIormasi ini, dokter dapat membuat
rencana pengobatan untuk penghentian peburukan penyakitnya serta mengurangi keluhan.
Salah satu progam yang penting adalah rehabilitasi, merupakan proses untuk membantu
induvidu yang mengalamai kecacatan dalam mempertahankan tingkat maksimal dari
setiap Iungsinya.
c. bat - obatan
ada banyak jenis penyakit paru akibat kerja, obat merupakan peran yang sangat
sedikit dan terapai pada umumnya terdiri dari anjuran untuk menghadapi pajanan
lebih lanjut terhadap bahan yang berbahaya. Obat yang diberikan biasanya bersipat
sintomatis
d. menghindari paanan
Beberapa cara yang dapat dilakakan antara lain :
1. mengganti (subtitusi) bahan yang berbahaya dengan bahan yang kurang atau
tidak berbahaya
2. membatasi bahan pajanan
3. ventilasi keluar
4. memakai APD (Alat Pelindung Diri)
TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K


Penatalaksanaan penyakit paru akibat kerja termasuk mengganti pekerjaan yang
menyebabkan penyakit atau pembatasan menyangkut apa yang boleh atau yang tidak
boleh dilakuakan.

























TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

BAB III
PENUTUP
3.1KESIMPULAN
1. Kemajuan teknologi : Dampak positiI dan negatiI
2. Banyak jenis penyakit paru akibat kerja dan lingkungan
3. Penyakit akibat kerja dan polusi udara harus dicegah.


























TASK REABINu
PFNYAKI1 PARU AKIBA1 KFRjA

KEL0NP0K

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2011. !enyebab !enyakit !aru Akibat Kerfa. Diakses pada tanggal 13
November 2011 dari http.//www.spesialis.info/?penyebab-penyakit-paru-akibat-
pekerfaan,1008
Anonymous. 2010. !enyakit !aru Akibat Kerfa. Diakses pada tanggal 13 November
2011 dari http.//cracklean/whee:e.blogspot.com/2010/05/penyakit-paru-akibat
kerfa.html
AriI, et al. 1999: Kapita Selekta Ke/okteran e/isi ketiga fili/ I: Jakarta : Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Djojodibroto, R D. 1999. Kesehatan kerja di Perusahaan. Gramedia. Jakarta.