Anda di halaman 1dari 30

Muhuluh

Modul t {Ihenurio s )


0leh : kelompoh e

Nur Aidul Fitri {ctzttooo4)
Muh. Ali Ahbur {ctzttozet)
lndruyunti Nur {ctzttoze4)
Iri Wuhyuni Arfin {ctzttozze)
Muh. Huritmun {ctzttozzo)
Runi urnumu Iuri M. {ctzttozzs)


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2011-2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan,
rahmat, dan hidayah sehingga Laporan Kelompok Tutorial untuk modul 1 yang berjudul
benfolan dileher ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya.
Selain itu, laporan ini dapat pula terselesaikan dengan baik karena adanya kesadaran
akan pentingnya materi ini bagi kehidupan serta dengan adanya bantuan dari berbagai pihak
terutama teman-teman dalam kelompok kami sendiri, dimana laporan ini diperoleh dari
berbagai reIerensi.
Tak lupa pula kami haturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
terlibat dalam penyelesaian laporan ini baik yang terlibat langsung maupun yang tidak
langsung.
Meskipun kami telah mengusahakan semaksimal mungkin dalam penyelesaian
laporan ini, tetapi kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam
laporan ini. Untuk itu kami memohon maaI jika dalam penyelesaian laporan ini masih
terdapat kesalahan-kesalahan baik yang penulis sadari maupun yang tidak disadari.
Saran dan kritik kami harapkan. Semoga laporan ini dapat bermanIaat bagi semua
pihak yang telah membacanya. Amin.


Makassar, 2 November 2010

Penyusun,



A. SKENARIO
Skenario 3
Seorang perempuan berinisial Ny. S, usia 37 tahun, BB 35 kg, TB 150 cm, datang ke
RSWS dengan keluhan ada benjolan dibagian leher. Ny. S mengatakan bahwa benjolan
dileher ini sudah dirasakan sejak 6 bulan yang lalu dan baru kali ini dia diperiksa karena
sudah merasa tidak nyaman. Pada saat pemeriksaan didapatkan : eksoItalmus, palpitasi, dank
lien tidak tahan terhadap panas.
B. KLARIFIKASI KATA- KATA KUNCI
O enis kelamin : Perempuan
O Usia : 37 tahun
O Berat badan : 35 kg
O Tinggi badan : 150 cm
Data SubjektiI

Klien Mengeluh terdapat benjolan dibagian leher
Klien mengatakan benjolan sudah dirasakan sejak 6 bulan yang lalu
Klien merasa tidak nyaman dengan dengan kondisinya

DATA OBEKTIF

EksoItalmus (penonjolan abnormal pada salah satu atau kedua bola mata)
Palpitasi (perasaan tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh denyut
jantung yang tidak teratur atau lebih keras)
Klien tidak tahan terhadap panas
Berat badan kurang


D. PERTANYAAN PENTING
1. Penyakit apa saja yang menyebabkan gejala benjolan pada bagian leher?
2. Sebutkan Iaktor resiko yang muncul yang berkaitan dengan skenario?
3. Sebutkan pemeriksaan Iisik dan diagnostik (penunjang) berhubungan dengan
kasus pada skenario dan jelaskan kemungkinan hasil yang didapatkan?
4. Penyakit apa yang mungkin timbul berkaitan dengan kasus pada skenario?
5. elaskan patomekanisme yang berkaitan dengan kasus pada skenario :
a. Anatomi
b. Fisiologi
c. PatoIisiologi
6. Buatlah ASKEP yang berkaitan dengan kasus pada skenario?
7. Apa saja Iarmakologi dan pembedahan yang dapat dilakukan berkaitan kasus pada
skenario?



C. PROBLEM TREE






























enyaklL yang berge[ala ben[olan dl leher
kLlLn
uMu8
!LnlS kLLAMln
CL!ALA
LML8lkSAAn ulACnCS1lk
Ln?Akl1 ?AnC
AnA1CM
llSlCLCC
A1CllSlCLCCl
LnA1ALAkSAnAAn
LM8LuAPAn nCn
lA8MAkCLCC
lA8MAkCLCCl
ASuPAn kLL8WA1An
E. AWABAN PENTING

1. Penyakit yang menyebabkan gejala benjolan pada leher :
ipertiroidisme
a) GRAVE`S DISEASE
Penyakit Graves adalah bentuk paling umum hipertiroidisme, terjadi ketika sistem
kekebalan tubuh secara keliru menyerang kelenjar tiroid Anda dan menyebabkannya
kelebihan produksi hormon tiroksinTingkat tiroksin yang lebih tinggi ini dapat sangat
meningkatkan tingkat metabolisme tubuh, yang mungkin mempengaruhi Anda dalam
berbagai cara, dari suasana hati Anda penampilan Iisik Anda.
b) GOITER
Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid, pembesaran ini dapat memiliki Iungsi
kelenjar yang normal (eutirodisme), pasien tyroid (hipotirotdisme) atau kelebihan
produksi hormon (hipetroidisme).
c) THYROIDITIS
Tyroiditis merupakan inIlamasi kelenjar tyroid, keadaan ini bisa bersiIat akut,
subakut, atau kronis masing-masing tipe ditandai oleh inIlamasi Iibrosis atau inIiltrasi
limIositik pada kelenjar tyroid.
d) KANKER TIROID
Karsinoma tiroid merupakan neoplasma yang berasal dari kelenjar yang terletak di
depan leher yang secara normal memproduksi hormone tiroid yang penting untuk
metabolisme tubuh. Karsinoma umumnya tergolong pada slow growing tumor dengan
pertumbuhan dan perjalanan penyakit yang lambat serta morbiditas dan mortalitas
yang rendah.
e) LIMFOMA
LimIoma adalah kanker yang tumbuh akibat mutasi sel limIosit (sejenis sel
darah putih) yang sebelumnya normal. Seperti halnya limIosit normal, limIosit ganas
dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh, termasuk kelenjar getah bening,
limpa, sumsum tulang, darah ataupun organ lain. Penyakit kanker kelenjar getah
bening meliputi pembengkakan kelenjar getah bening pada leher, ketiak atau pangkal
paha.

Ada dua jenis kanker sistem limIotik yaitu penyakit hodgkin dan limIoma non-
hodgkin (NHL). Kanker kelenjar getah bening atau limIoma adalah sekelompok
penyakit keganasan yang berkaitan dan mengenai sistem limIatik. Sistem limIatik
merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang membentuk pertahanan
alamiah tubuh melawan inIeksi dan kanker.
2. Faktor resiko yang muncul berkaitan dengan kasus pada skenario :
a) Penyakit tiroid menyababkan eksoItalmus yang dapat mengakibatkan kerusakan
integritas jaringan pada mata, kekeringan pada mata dan inIeksi karena kelopak
tidak yang tidak bisa tertutup
b) Produksi hormon tiroid yang berlebihan menyebabkan palpitasi sehingga terjadi
peningkatan beban jantung karena gangguan irama jantung yaitu aritmia ( denyut
jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, tidak teratur, atau terlalu dini).
c) Berat badan yang kurang karena hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid
berlebihan dan mengakibatkan metabolisme tubuh berjalan lebih capat
d) Peningkatan metabolisme tubuh menyebabkan pasien tidak tahan terhadap panas
atau pasien biasanya merasa kepanasan dan berkeringat lebih banyak
e) Kelainan hipertiroid sangat menonjol pada wanita, Hipertiroid menyerang wanita
lima kali lebih sering dibandingkan laki laki. Insidensinya akan memuncak dalam
decade usia ketiga serta keempat.(Schimke, 1992).
3. a. Pemeriksaan Iisik :
- memeriksa tanda-tanda vital seperti suhu, nadi, pernaIasan, dan tekanan darah)
untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan denyut jantung. Orang yang
menderita hipertiroidisme mengalami peningkatan tekanan darah sistolik.
- Pemeriksaan Iisik bisa menunjukkan adanya pembesaran kelenjar tiroid,
pemeriksaan dilakukan pada :
1. Kulit dan rambut
Rambut
- Inspeksi : warna rambut, jumlah rambut (biasanya menipis)
- Palpasi : konsentrasi dan tekstur rambut
Kulit : DBN (dalam kasus)
- Inspeksi : warna, adanya miksedema pratibial / dermoIati (penebalan dan
hiperIigmentasi kulit lokal di aspek anterior kaki dan tungkai bawah)
- Palpasi kulit : biasanya diaporesis, hangat, dan lembab, serta intoleran terhadap
panas


2. Kepala
- Inspeksi bentuk simetris antara kanan dan kiri, bentuk lonjong, tidak ada lesi
- Palpasi ada / tidaknya nyeri tekan.
3. Mata
- Inspeksi : eksoItalmus / (bola mata terdorong ke depan dan mata menonjol dari
tulang orbita), mata berair, dan tidak dapat menutup dengan sempurna,
konjungtiva pucat (-), ikterik (-), penglihatan kabur, adanya lobe la, ulkus pada
kornea, dan sensitive cahaya
- Palpasi : kelopak mata ( ada bagian yang menonjol)
4. Telinga
- Inspeksi : ukuran , simetris antara kanan dan kiri, tidak ada serumen pada lubang
telinga, tidak ada benjolan
5. Hidung
- Inspeksi : simetris, tidak ada secret, tidak ada lesi, tidak ada benjolan
6. Mulut
- Inspeksi : bentuk mulut simetris, kebersihan lidah dan gigi
7. Leher
- Inspeksi : terdapat pembesaran leher, pada tiroid kanan tampak nodul hipoechoik
dengan batas tegas ( halo) dan lesi hipo dan hiperechoik
- Palpasi : kelenjar tiroid (teraba diIuse), lingkar leher 33,5cm(diukur), tiroid kiri
membesar dengan ukuran 3,33x2,82x6,56cm, tiroid kanan 3,43x2,55x4,31 cm
tampak nodul hipoechoik dengan batas tegas (halo)dengan ukuran
0,96x0,85x1,11cm dan lesi heterogen hipo dan hiperechoik dengan ukuran
1,06x1,01x1,08 (diukur)
8. Dada dan thorax
- Inspeksi : dada simetris kanan dan kiri, ukuran, dan bentuk dada, naIas dangkal
dan cepat
- Palpasi : adanya masa, berdebar, getaran Iocal Iemitus sama antara kanan dan
kiri, ada / tidaknya nyeri dada
- Perkusi : pada semua bagian dada, dengarkan adanya bunyi abnormal pada paru
paru dan jantung
- Auskultasi : bunyi jantung dan paru (biasanya denyut jantung meningkat, bunyi
naIas cepat dengan irama tidak beraturan), dengarkan pula suara abnormal dari
jantung dan paru paru (gallop, murmur, crackle, dll)
9. Abdomen
- Inspeksi: bentuk, kesimetrisaan, warna, adanya lesi
- Palpasi : turgor, adanya masa, ada / tidaknya nyeri tekan
- Perkusi : di keempat kuadran
- Auskultasi : bunyi bising usus (peningkatan bisa mengindikasikan terjadinya
diare)
10. Ekstremitas
- Inspeksi : bentuk, ukuran, warna ekstremitas atas dan bawah, pengeluaran
keringat dan gemetar
- Palpasi : suhu pada kulit ekstremitas atas dan bawah, masa otot, reIleks tendon
(biasanya hiperaktiI)
- Kelenjar tiroid diinspeksi dan dipalpasi secara rutin. Daerah leher bagian bawah
diinspeksi untuk melihat apakah terdapat benjolan disebelah anterior atau tampak
simetris. Pasien diminta untuk mengekstensikan lehernya dan menelan.
Normalnya jaringan tiroid akan bergerak naik jika pasien menelan. Kemudian
dilakukan palpasi tiroid untuk menentukan ukuran, bentuk, konsistensi,
kesimetrisan, dan adanya nyeri tekan
- ika pada kelenjar tiroid ditemukan membesar pada saat dipalpasi, auskultasi
kedua lobus dilakukan dengan corong membran stetoskop. Auskultasi akan
mengenali Iibrasi setempat yang terdengan seprti bruit. Gejala ini merupakan
gambaran abnornmal yang menunjukkan adanya peningkatan aliran darah lewat
kelenjar tiroid.
- Perkusi. Evaluasi reIleks dalam, untuk normalnya terdapat respon tendon dalam.
b. Pemeriksaan diagnostik
%


(%iroksin)

Serum
Tes yang paling sering dilakukan adalah penentuan T
4
serum dengan teknik
radioimmunoassay atau peningkatan kompetitiI. Kisaran T
4
dalam serum yang
normal berada diantara 4,5 dan 11,5 mg/dl (58,5 hingga 150 nmol/L). T
4
terikat
terutama dengan TBG dan prealbumin : T
3
terikat lebih longgar. T
4
normalnya terikat
dengan protein. Setiap Iactor yang mengubah protein pangikat ini juga akan
mengubah kadar T
4
%

(triidotironin) Serum
T
3
serum mengukur kandungan T
3
bebas dan terikat, atau total T
3
total, dalam
serum. Sekresinya terjadi sebagai respon terhadap sekresi TSH dan T
4
. Meskipun
kadar T
3
dan T
4
serum umumnya meningkat atau menurun secara bersama-sama,
namun kadar T
4
tampaknya merupakan tanda yang akurat untuk menunjukan adanya
hipertiroidisme, yang menyebabkan kenaikan kadar T
4
lebih besar daripada kadar T
3
.
Batas-batas normal untuk T
3
serum adalah 70 hingga 220 mg/dl (1,15 hingga 3,10
nmol/L)
%es %

Ambilan Resin
Tes T
3
ambilan resin merupakan pemeriksaan untuk mengukur secara tidak
langsung kaar TBG tidak-jenuh. Tujuannya adalah untuk menentukan jumlah
hormone tiroid yang terikat dengan TBG dan jumlah tempat pengikatan yang ada.
Pemeriksaan ini, menghasilkan indeks jumlah hormone tiroid yang sudah ada dalam
sirkulasi darah pasien. Normalnya, TBG tidak sepenuhnya jenuh dengan hormone
tiroid dan masih terdapat tempat-tempat kosong untuk mengikat T
3
berlabel-
radioiodium, yang ditambahkan ke dalam specimen darah pasien. Nilai ambilan T
3

yang normal adalah 25 hingga 35 yang menunjukan bahwa kurang lebih
sepertiga dari tempat yang ada paa TBG sudah ditempati oleh hormone tiroid. ika
jumlah tempat kosong rendah, seperti pada hipertiroidisme, maka ambilan T
3
lebih
besar dari 35.
%es %SH (%hyroid Stimulatin Hormone)
Sekresi T
3
dan T
4
oleh kelenjar tiroid dikendalikan hormone stimulasi tiroid
(TSH atau tirotropin) dari kelenjar hipoIisis anterior. Pengukuran konsentrasi TSH
serum sangat penting artinya dalam menegakkan diagnosis serta penatalaksanaan
kelainan tiroid dan untuk membedakan kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada
kelenjar tiroid sendiri dengan kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada hipoIisis
atau hipotalamus.kadar TSH dapat diukur dengan assay radioimunometrik, nilai
normal dengan assay generasi ketiga, berkisar dari 0,02 hingga 5,0 U/ml.
Kadar TSH sensitiI dan dapat dipercaya sebagai indikator Iungsi tiroid. Kadar
akan berada dibawah normal pada pasien dengan peningkatan autonom pada Iungsi
tiroid (penyakit graves, hiperIungsi nodul tiroid).
%es %hyrotropin Releasin Hormone
Tes Stimulasi TRH merupakan cara langsung untuk memeriksa cadangan TSH
di hipoIisis dan akan sangat berguna apabila hasil tes T
3
dan T
4
tidak dapat dianalisa.
Pasien diminta berpuasa pada malam harinya. Tiga puluh menit sebelum dan sesudah
penyuntikan TRH secara intravena, sampel darah diambil untuk mengukur kadar
TSH. Sebelum tes dilakukan, kepada pasien harus diingatkan bahwa penyuntikan
TRH secara intravena dapat menyebabkan kemerahan pasa wajah yang bersiIat
temporer, mual, atau keinginan untuk buang air kecil.
%irolobulin
Tiroglobulin merupakan precursor untuk T
3
dan T
4
dapat diukur kadarnya
dalam serum dengan hasil yang bisa diandalkan melalui pemeriksaaan
radioimmunoassay. Faktor-Iaktor yang meningkatkan atau menurunkan aktivitas
kelenjar tiroid dan sekresi T
3
serta T
4
memiliki eIek yang serupa terhadap sintesis
dan sekresi tiroglobulin. Kadar tiroglobulin meningkat pada karsinoma tiroid,
hipertiroidisme dan tiroiditis subakut. Kadar tiroglobulin juga dapat akan meningkat
pada keadaan Iisiologik normal seperti kehamilan.
Ambilan Iodium Radioaktif
Tes ambilan iodium radioaktiI dilakukan untuk mengukur kecepatan
pengambilan iodium oleh kelenjar tiroid. Kepada pasien disuntikan atau radionuklida
lainnya dengan dosis tracer, dan pengukuran pada tiroid dilakukan dengan alat
pencacah skintilas (scintillation counter) yang akan mendeteksi serta menghitung
sinar gamma yang dilepaskan dari hasil penguraian dalam kelenjar tiroid.
Tes ini mengukur proporsi dosis iodium radioaktiI yang diberikan yang
terdapat dalam kelenjar tiroid pada waktu tertentu sesudah pemberiannya. Tes
ambilan iodium-radioaktiI merupakan pemeriksaan sederhana dan memberikan hasil
yang dapat diandalkan.Penderita hipertiroidisme akan mengalami penumpukan
dalam proporsi yang tinggi (mencapai 90 pada sebagian pasien).
!emindai Radio atau !emindai Skintilasi %iroid
Serupa dengan tes ambilan iodium radioaktiI dalam pemindaian tiroid
digunakan alat detector skintilasi dengan Iocus kuat yang digerakkan maju mundur
dalam suatu rangkaian jalur parallel dan secara progresiI kemudian digerakkan
kebawah. Pada saat yang bersamaan, alat pencetak merekam suatu tanda ketika telah
tercapai suatu jumlah hitungan yang ditentukan sebelumnya.
Teknik ini akan menghasilkan gambar visual yang menentukan lokasi
radioaktivitas di daerah yang dipindai. Meskipun I
131
merupakan isotop yang paling
sering digunakan, beberapa isotop iodium lainnya yang mencakup Tc
9m
(sodium
pertechnetate) dan isotop radioaktiI lainnya (thalium serta americum) digunakan di
beberapa laboratorium karena siIat-siIat Iisik dan biokimianya memungkinkan untuk
pemberian radiasi dengan dosis rendah.
Pemindaian sangat membantu dalam menemukan lokasi, ukuran, bentuk dan
Iungsi anatomic kelenjar tiroid. Khususnya jaringan tiroid tersebut terletak substernal
atau berukuran besar. IdentiIikasi daerah yang mengalami peningkatn Iungsi (hot
area) atau penurunan Iungsi (cold area) dapat membantu dalam menegakkan
diagnosis. Meskipun sebagian besar daerah yang mengalami penurunan Iungsi tidak
menunjukkan kelainan malignitas, deIisiensi Iungsi akan meningkatknya
kemungkinan terjadinya keganasan terutama jika hanya terdapat satu daerah yang
tidak berIungsi.
Pemindaian terhadap keseluruhan tubuh (whole body CT scan) yang
diperlukan untuk memperoleh proIil seluruh tubuh dapat dilakukan untuk mencari
metastasis malignitas pada kelenjar tiroid yang masih berIungsi.
Bentuk .old area
Bentuk .old area yang berupa moth eaten appearan.e mencurigakan keganasan.
- Hubungan .old area dengan daerah sekitarnya.
Cold area dengan distribusi jodium yang tidak merata lebih cenderung untuk
kelainan metabolik, terutama bila lobus tiroid yang kontralateral untuk membesar.
- Hubungan .old area dengan unsur jenis kelamin
Cold area pada laki-laki usia tua dan anak-anak lebih menambah kecurigaan akan
keganasan.
Hal-hal yang dapat menyebabkan .old area :
- Kista.
- Hematom.
- Struma adenomatosa.
- Perdarahan.
- Radang.
- Keganasan.
- DeIek kongenital.
Hal-hal yang dpat menyebabkan hot area :
- Struma adenomatosa.
- Adenoma toksik.
- Radang.
- Keganasan.
UltrasonograIi
Pemeriksaan ini dapat membantu membedakan kelainan kistik atau solid pada
tiroid. Kelainan solid lebih sering disebabkan keganasan dibanding dengan kelainan
kistik. Tetapi kelainan kistikpun dapat disebabkan keganasan meskipun
kemungkinannya lebih kecil.
Pemeriksaan radiologik di daerah leher
Karsinoma tiroid kadang-kadang disertai perkapuran. Ini sebagai tanda yang
boleh dipegang.
Pemeriksaan Penunjang :
1. Pemeriksaan kadar kalsitonin (untuk pasien dengan kecurigaan karsinoma
medulle.
2. Biopsi jarum halus
3. Pemeriksaan sidik tiroid.
Dengan penggunaan yodium bila nodul menangkap yodium tersebut kurang
dari tiroid normal disebut nodul dingin. Bila sama aIinitasnya disebut nodul
hangat. Kalau lebih banyak menangkap yodium disebut nodul panas. Sebagian
besar karsinoma tiroid termasuk nodul dingin
4. Radiologis untuk mencari metastasis
5. Histopatologi.
4. Penyakit yang mungkin timbul berkaitan dengan kasus pada skenario yaitu
hipertiroidisme.
Hipertiroidisme adalah suatu keadaan klinik yang ditimbulkan oleh sekresi berlebihan
dari hormon tiroid. Didapatkan pula peningkatan produksi triiodotironin (T
3
) sebagai
hasil meningkatnya konversi tiroksin (T
4
) di jaringan periIer (Hermawan, 1990).
Diagnosis hipertiroidisme didapatkan melalui berbagai pemeriksaan meliputi
pengukuran langsung konsentrasi tiroksin 'bebas (dan sering triiodotironin) plasma
dengan pemeriksaan radioimunologi yang tepat. Uji lain yang sering digunakan
adalah pengukuran kecepatan metabolime basal, pengukuran konsentrasi TSH plasma,
dan konsentrasi TSI (Guyton and Hall, 2007).

O Penyebab ipertiroidisme
Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disIungsi kelenjar tiroid, hipoIisis, atau
hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malIungsi kelenjar tiroid akan disertai penurunan TSH
dan TRF karena umpan balik negatiI HT terhadap pelepasan keduanya. Hipertiroidisme
akibat rnalIungsi hipoIisis memberikan gambamn kadar HT dan TSH yang Iinggi. TRF akan
Tendah karena uinpan balik negatiI dari HT dan TSH. Hipertiroidisme akibat malIungsi
hipotalamus akan memperlihatkan HT yang tinggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.
Lebih dari 95 kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves,suatu penyakit tiroid
autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan hormone yang
berlebihan

Penyebab hipertiroid lainnya yang jarang selain penyakit graves adalah:
Toksisitas pada strauma multinudular
Adenoma Iolikular Iungsional ,atau karsinoma(jarang)
Adema hipoIisis penyekresi-torotropin (hipertiroid hipoIisis)
Tomor sel benih,missal karsinoma (yang kadang dapat menghasilkan bahan mirip-
TSH) atau teratoma (yang mengandung jarian tiroid Iungsional)
Tiroiditis (baik tipe subkutan maupun hashimato)yang keduanya dapat berhubungan
dengan hipertiroid sementara pada Iase awal
O anifestasi Klinik hipertiroidisme :

Penderita sering secara emosional mudah terangsang (hipereksitabel), iritabel dan
terus merasa khawatir dan klien tidak dapat duduk diam
Denyut nadi yang abnormal yang ditemukan pada saat istirahat dan beraktivitas; yang
diakibatkan peningkatan dari serum T3 dan T4 yang merangsang epineIrin dan
mengakibatkan kinerja jantung meningkat hingga mengakibatkan HR meningkat.
Peningkatan denyut nadi berkisar secara konstan antara 90 dan 160 kali per menit,
tekanan darah sistolik akan meningkat.
Tidak tahan panas dan berkeringat banyak diakibatkan karena peningkatan
metabolisme tubuh yang meningkat maka akan menghasilkan panas yang tinngi dari
dalam tubuh sehingga apabila terkena matahari lebih, klien tidak akan tahan akan
panas.
Kulit penderita akan sering kemerahan (Ilusing) dengan warna ikan salmon yang khas
dan cenderung terasa hangat, lunak dan basah.
Adanya Tremor
EksoItalmus yang diakibatkan dari penyakit graves, dimana penyakit ini otot-otot
yang menggerakkan mata tidak mampu berIungsi sebagaimana mesti, sehingga sulit
atau tidak mungkin menggerakkan mata secara normal atau sulit mengkordinir
gerakan mata akibatnya terjadi pandangan ganda, kelopak mata tidak dapat menutup
secara sempurna sehingga menghasilkan ekspresi wajah seperti wajah terkejut.
Peningkatan selera makan namun mengalami penurunan berat badan yang progresiI
dan mudah lelah.
Perubahan deIekasi dengan konstipasi dan diare
Pada usia lanjut maka akan mempengaruhi kesehatan jantung
Menderita palpitasi

5. Patomekanisme yang berkaitan dengan kasus pada skenario :
a. Anatomi dan Iisiologi kelenjar tiroid

Tiroid berarti organ berbentuk perisai segi empat. Kelenjar tiroid merupakan
organ yang bentuknya seperti kupu-kupu dan terletak pada leher bagian bawah di
sebelah anterior trakea . Kelenjar ini merupakan kelenjar endokrin yang paling banyak
vaskularisasinya, dibungkus oleh kapsula yang berasal dari lamina pretracheal Iascia
proIunda. Kapsula ini melekatkan tiroid ke laring dan trakea. Kelenjar ini terdiri atas
dua buah lobus lateral yang dihubungkan oleh suatu jembatan jaringan isthmus tiroid
yang tipis dibawah kartilago krikoidea di leher, dan kadang-kadang terdapat lobus
piramidalis yang muncul dari isthmus di depan laring.
Kelenjar tiroid terletak di leher depan setentang vertebra cervicalis 5 sampai
thoracalis 1, terdiri dari lobus kiri dan kanan yang dihubungkan oleh isthmus. Setiap
lobus berbentuk seperti buah pear, dengan apeks di atas sejauh linea oblique lamina
cartilage thyroidea, dengan basis di bawah cincin trakea 5 atau 6.9 Kelenjar tiroid
mempunyai panjang 5 cm, lebar 3 cm, dan dalam keadaan normal kelenjar tiroid
pada orang dewasa beratnya antara 10 sampai 20 gram. Aliran darah kedalam tiroid
per gram jaringan kelenjar sangat tinggi ( 5 ml/menit/gram tiroid).
Tiroid terdiri dari nodula-nodula yang tersusun dari Iolikel-Iolikel kecil yang
dipisahkan satu dengan lainnya oleh suatu jaringan ikat. Setiap Iolikel dibatasi oleh
epitel kubus dan diisi oleh bahan proteinaseosa berwarna merah muda yang disebut
koloid. Sel-sel epitel Iolikel merupakan tempat sintesis hormon tiroid dan
mengaktiIkan pelepasannya dalam sirkulasi. Zat koloid, triglobulin, merupakan
tempat hormon tiroid disintesis dan pada akhirnya disimpan.7 Dua hormon tiroid
utama yang dihasilkan oleh Iolikel-Iolikel adalah tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3).
Sel pensekresi hormon lain dalam kelenjar tiroid yaitu sel paraIolikular yang terdapat
pada dasar Iolikel dan berhubungan dengan membran Iolikel, sel ini mensekresi
hormon kalsitonin, suatu hormon yang dapat merendahkan kadar kalsium serum dan
dengan demikian ikut berperan dalam pengaturan homeostasis kalsium.6,7
Tiroksin (T4) mengandung empat atom yodium dan triiodotironin (T3) mengandung
tiga atom yodium. T4 disekresi dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan T3,
tetapi apabila dibandingkan milligram per milligram, T3 merupakan hormon yang
lebih aktiI daripada T.
Fungsi utama hormon tiroid T3 dan T4 adalah mengendalikan aktivitas
metabolik seluler. Kedua hormon ini bekerja sebagai alat pacu umum dengan
mempercepat proses metabolisme. EIeknya pada kecepatan metabolisme sering
ditimbulkan oleh peningkatan kadar enzim-enzim spesiIik yang turut berperan dalam
konsumsi oksigen, dan oleh perubahan siIat responsiI jaringan terhadap hormon yang
lain. Hormon tiroid mempengaruhi replikasi sel dan sangat penting bagi
perkembangan otak. Adanya hormon tiroid dalam jumlah yang adekuat juga
diperlukan untuk pertumbuhan normal. Melalui eIeknya yang luas terhadap
metabolisme seluler, hormon tiroid mempengaruhi setiap sistem organ yang penting.6
Kelenjar tiroid berIungsi untuk mempertahankan tingkat metabolisme di berbagai
jaringan agar optimal sehingga mereka berIungsi normal. Hormon tiroid merangsang
konsumsi O2 pada sebagian besar sel di tubuh, membantu mengatur metabolisme
lemak dan karbohidrat, dan penting untuk pertumbuhan dan pematangan normal.8
Hormon-hormon tiroid memiliki eIek pada pertumbuhan sel, perkembangan
dan metabolisme energi. EIek-eIek ini bersiIat enomi., melalui pengaturan ekspresi
gen, dan yang tidak bersiIat enomi., melalui eIek langsung pada sitosol sel,
membran sel, dan mitokondria. Hormon tiroid juga merangsang pertumbuhan somatis
dan berperan dalam perkembangan normal sistem saraI pusat.7 Hormon ini tidak
esensial bagi kehidupan, tetapi ketiadaannya menyebabkan perlambatan
perkembangan mental dan Iisik, berkurangnya daya tahan tubuh terhadap dingin, serta
pada anak-anak timbul retardasi mental dan kecebolan (dwarfisme). Sebaliknya,
sekresi tiroid yang berlebihan menyebabkan badan menjadi kurus, gelisah, takikardia,
tremor, dan kelebihan pembentukan panas.
b. PatoIisiologi
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika.
Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga
kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan
sel-sel Iolikel ke dalam Iolikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat beberapa
kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. uga, setiap sel meningkatkan
kecepatan sekresinya beberapa kali lipat dengan kecepatan 5-15 kali lebih besar
daripada normal.
Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu
yang 'menyerupai TSH, Biasanya bahan bahan ini adalah antibodi
immunoglobulin yang disebut TSI (%hyroid Stimulatin Immunolobulin), yang
berikatan dengan reseptor membran yang sama dengan reseptor yang mengikat TSH.
Bahan bahan tersebut merangsang aktivasi cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya
adalah hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi TSH
menurun, sedangkan konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini mempunyai eIek
perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda
dengan eIek TSH yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon tiroid
yang disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan pembentukan TSH oleh kelenjar
hipoIisis anterior.
Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid 'dipaksa mensekresikan hormon hingga
diluar batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar
tiroid membesar. Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa dingin
termasuk akibat dari siIat hormon tiroid yang kalorigenik, akibat peningkatan laju
metabolisme tubuh yang diatas normal. Bahkan akibat proses metabolisme yang
menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme mengalami kesulitan tidur. EIek
pada kepekaan sinaps saraI yang mengandung tonus otot sebagai akibat dari
hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor otot yang halus dengan Irekuensi
10-15 kali perdetik, sehingga penderita mengalami gemetar tangan yang abnormal.
Nadi yang takikardi atau diatas normal juga merupakan salah satu eIek hormon tiroid
pada sistem kardiovaskuler. Intervensi dan Eksopthalmus yang terjadi merupakan
reaksi inIlamasi autoimun yang mengenai daerah jaringan periorbital dan otot-otot
ekstraokuler, akibatnya bola mata terdesak keluar.





6. ASKEP berkaitan dengan kasus pada skenario :
A. Pengkajian
Dampak penurunan kadar hormon dalam tubuh sangat bervariasi, oleh karena itu
diperlukan pengkajian terhadap hal-hal penting untuk mendapatkan inIormasi yang
lebih banyak, antara lain :
1. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut
dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
2. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti
a. Pola makan
b. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
c. Pola aktivitas.
3. Tempt tinggal klien sekarang dan pada waktu balita.
4. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh;
a. Sistem pulmonari
b. Sistem pencernaan
c. Sistem kardiovaslkuler
d. Sistem muskuloskeletal
e. Sistem neurologik dan Emosi/psikologis
I. Sistem reproduksi
g. Metabolik
5. Pemeriksaan Iisik mencakup
a. Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema sekitar mata,
wajah bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah kasar. Lidah tampak
menebal dan gerak-gerik klien sangat lamban. Postur tubuh keen dan pendek. Kulit
kasar, tebal dan berisik, dingin dan pucat.
b. Nadi lambat dan suhu tubuh menurun:
c. Perbesaran jantung
d. Disritmia dan hipotensi
e. Parastesia dan reIlek tendon menurun
6. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan
lingkungannya, mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas
beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien
mencakup kelima komponen konsep diri
7. Pemeriksaan penunjang mencakup; pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum;
pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi peningkatan
TSH serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat menurun atau normal).
B. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak
terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
2. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan
mekanisme perlindungan dari mata : kerusakan penutupan kelopak mata/ eksoItalmus.
Intervensi Keperawatan
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak
terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
Tujuan :Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan
tubuh, dengan kriteria : 1) Nadi periIer dapat teraba normal. 2) Vital sign dalam batas normal.
3) Pengisian kapiler normal 4) Status mental baik 5) Tidak ada disritmia
O Intervensi :
andiri
a. Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan.
Perhatikan besarnya tekanan nadi
Rasional : Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi
periIer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi
b. Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan pasien.
Rasional : Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung atau
iskemia
c. Auskultasi suara naIas. Perhatikan adanya suara yang tidak normal (seperti krekels)
Rasional : S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat
pada keadaan hipermetabolik
d. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah,
penurunan produksi urine dan hipotensi
Rasional : Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan
menurunkan curah jantung
e. Catat masukan dan haluaran
Rasional : Kehilangan cairan yang terlalu banyak dapat menimbulkan dehidrasi berat
I. Kaji nadi atau denyut jantung saat pasien tidur. Memberikan hasil pengkajian yang lebih
akurat terhadap adanya takikardia.
e) Auskultasi suara antung, perhatikan adanya bunyi jantung tambahan, adanya irama gallop
dan murmur sistolik.
S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat pada keadaan
hipermetabolik, adanya S3 sebagai tanda adanya kemungkinan gagal jantung.
I) Pantau EKG, catat dan perhatikan kecepatan atau irama jnatung dan adanya disritmia.
Takikardia merupakan cerminan langsung stimulasi otot jantung oleh hormon tiroid,
dsiritmia seringkali terjadi dan dapt membahayakan Iungsi antung atau curah jantung.
g) Auskultasi suara naIas, perhatikan adanya suara yang tidak normal.
Tanda awal terjadinya kongesti paru yang berhubungan dengan timbulnya gagal jantung.
h) Pantau suhu, berikan lingkungan yang sejuk, batasi penggunaan linen/pakaian, kompres
dengan air hangat.
Demam terjadi sebagai akibat kadar hormon yang berlebihan dan dapat meningkatkan
diuresis/dehidrasi dan menyebabkan peningkatan vasodilatasi periIer, penumpukan vena dan
hipotensi.
i) Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah,
pengisisan kapiler lambat, penurunan produksi urine dan hipotensi.
Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan
menurunkan curah jantung.
j) Catat masukan dan keluaran, catat berat jenis urine.
Kehilangan cairan yang banyak (melalui muntah, dare, diuresis, diaIoresis) dapat
menimbulkan dehidrasi berat, urine pekat dan berat badan menurun.
k) Timbang berat badan setiap hari, sarankan untuk tirah baring, batasi aktivitas yang tidak
perlu.
Aktivitas akan meningkatkan kebutuhan metabolik/sirkulasi yang berpotensi menimbulkan
gagal jantung.
l) Catat adanya riwayat asma/bronkokontriksi, kehamilan, sinus bradikardia/blok jantung
yang berlanjut menjadi gagal jantung.
Kondisi ini mempengaruhi pilihan terapi (misal penggunaan penyekat beta-adrenergik
merupakan kontraindikasi).
m) Observasi eIek samping dari antagois adrenergik, misalnya penurunan nadi dan tekanan
darah yang drastis, tanda tanda adanya kongesti vaskular/CHF, atau henti jantung.
Satu indikasi untuk menurunkan atau menghentikan terapi.
Kolaborasi
a) Berikan cairan iv sesuai indikasi.
Pemberian cairan melalui iv dengan cepat perlu untuk memperbaiki volume sirkulasi tetapi
harus diimbangi dengan perhatian terhadap tanda gagal jantung/kebutuhan terhadap
pemberian zat inotropik.
b) Berikan O2 sesuai indikasi
Mungkin juga diperlukan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolisme/kebutuhan
terhadap oksigen tersebut.
2. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan
mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoItalmus
Tujuan : Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari
ulkus
Intervensi :
a. Observasi adanya edema periorbital
Rasional : Stimulasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan
b. Evaluasi ketajaman mata
Rasional : OItalmopati inIiltratiI adalah akibat dari peningkatan jaringan retroorbita
c. Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap
Rasional : Melindungi kerusakan kornea
d. Bagian kepala tempat tidur ditinggikan
Rasional : Menurunkan edema jaringan bila ada komplikasi
O Evaluasi
Hasil yang diharapkan adalah :
1. Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan
tubuh
2. Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi
3. Klien akan menunjukkan berat badan stabil
4. Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari
ulkus
5. Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi

7. Farmakologi dan pembedahan berkaitan dengan kasus pada skenario :
O Tata laksana penyakit hipertiroidisme (Graves)
armakologi
Hipertiroidisme secara Iarmakologi menggunakan empat kelompok obat ini yaitu:
obat antitiroid, penghambat transport iodida, iodida dalam dosis besar menekan Iungsi
kelenjar tiroid, yodium radioaktiI yang merusak sel-sel kelenjar tiroid. Obat antitiroid
bekerja dengan cara menghambat pengikatan (inkorporasi) yodium pada TBG
(thyroxine bindin lobulin) sehingga akan menghambat sekresi TSH (%hyreoid
Stimulatin Hormone) sehingga mengakibatkan berkurang produksi atau sekresi
hormon tiroid.
A Obat-obatan anti tiroid (OAT)
Obat antitiroid dianjurkan sebagai terapi awal untuk toksikosis pada semua pasien
dengan grave disease serta digunakan selama 1-2 tahun dan kemudian dikurangi
secara perlahan-lahan. Indikasi pemberian OAT adalah :
O Sebagai terapi yang bertujuan memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi
yang menetap, pada pasien pasien muda dengan struma ringan sampai
sedang dan tirotoksikosis
O Sebagai obat untuk kontrol tirotoksikosis pada Iase sebelum pengobatan, atau
sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium radioaktiI.
O Sebagai persiapan untuk tiroidektomi
O Untuk pengobatan pada pasien hamil
O Pasien dengan krisis tiroid
Obat antitiroid tersebut berIungsi menghambat organiIikasi iodida dan proses
berpasangan iodotirosin untuk membentuk T
3
dan T
4
. PTU juga menghambat
perubahan T
4
menjadi T
3
di periIer dengan dosis 300-600 mg/hari secara oral dalam 3-
4 dosis terbagi. EIek samping pengobatan yang utama adalah agranulositosis, yang
terjadi sebagai suatu reaksi idiosinkrasi pada 0,2-0,5 pasien yang diterapi.
Komplikasi ini terjadi dengan awitan yang cepat, tidak dapat diramalkan dengan lewat
pemantauan hitung darah putih, dan bersiIat reversibel bila obat dihentikan.
Adapun obat-obat yang temasuk obat antitiroid adalah Propiltiourasil,
Methimazole, Karbimazol.
a Propiltiourasil (PTU)
Nama generik : Propiltiourasil
Nama dagang di Indonesia : Propiltiouracil (generik)
Indikasi : hipertiroidisme
Kontraindikasi : hipersensisitiI terhadap Propiltiourasil, blocking replacement
regimen tidak boleh diberikan pada kehamilan dan masa menyusui.
Bentuk sediaan : Tablet 50 mg dan 100 mg
Dosis dan aturan pakai : untuk anak-anak 5-7 mg/kg/hari atau 150-200 mg/ m
2
/hari,
dosis terbagi setiap 8 jam. Dosis dewasa 3000 mg/hari, dosis terbagi setiap 8 jam.
untuk hipertiroidisme berat 450 mg/hari, untuk hipertiroidisme o.asional memerlukan
600-900 mg/hari; dosis pelihara 100-150 mg/haridalam dosis terbagi setiap 8-12 jam.
Dosis untuk orangtua 150-300 mg/hari (Lacy, et al, 2006)
EIek samping : ruam kulit, nyeri sendi, demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, ada
kecendrungan pendarahan, mual muntah, hepatitis.
Mekanisme Obat: menghambat sintesis hormon tiroid dengan memhambatoksidasi
dari iodin dan menghambat sintesistiroksin dan triodothyronin (Lacy, et al, 2006)
Resiko khusus : .
Hati-hati penggunaan pada pasien lebih dari 40 tahun karena PTU bisa menyebabkan
hipoprotrombinnemia dan pendarahan, kehamilan dan menyusui, penyakit hati (Lee,
2006).
b ethimazole
Nama generik : methimazole
Nama dagang : Tapazole
Indikasi : agent antitiroid
Kontraindikasi : HipersensitiI terhadap methimazole dan wanita hamil.
Bentuk sediaan : tablet 5 mg, 10 mg, 20 mg
Dosis dan aturan pakai : untuk anak 0,4 mg/kg/hari (3 x sehari); dosis pelihara 0,2
mg/kg/hari (3 x sehari). maksimum 30 mg dalam sehari.
Untuk dewasa: hipertiroidisme ringan 15 mg/hari; sedang 30-40 mg/hari; hipertiroid
berat 60 mg/ hari; dosis pelihara 5-15 mg/hari.
EIek samping : sakit kepala, vertigo, mual muntah, konstipasi, nyeri lambung, edema.
Resiko khusus : pada pasien diatas 40 tahun hati-hati bisa meningkatkan
myelosupression, kehamilan (Lacy, et al, 2006)
. Karbimazole
Nama generik : Karbimazole
Nama dagang di Indonesia : Neo mecarzole (nicholas).
Indikasi : hipertiroidisme
Kontraindikasi : blo.kin repla.ement reimen tidak boleh diberikan pada kehamilan
dan masa menyusui.
Bentuk sediaan : tablet 5 mg
Dosis dan aturan pakai : 30-60 mg/hari sampai dicapai eutiroid, lalu dosis diturunkan
menjadi 5-20 mg/hari; biasanya terapi berlangsung 18 bulan.
Sebagai blo.kin repla.ement reimen, karbamizole 20 60 mg dikombinasikan
dengan tiroksin 50 -150 mg.
Untuk dosis anak mulai dengan 15 mg/hari kemudian disesuaikan dengan respon.
EIek samping : ruam kulit, nyeri sendi, demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, ada
kecendrungan pendarahan, mual muntah, leukopenia.
Resiko khusus : penggunaan pada pasien lebih dari 40 tahun karena PTU bisa
menyebabkan hipoprotrombinemia dan pendarahan, kehamilan dan menyusui (Lacy,
et al, 2006).
d Tiamazole
Nama generik : Tiamazole
Nama dagang di Indonesia : Thyrozol (Merck).
Indikasi : hipertiroidisme terutama untuk pasien muda, persiapan operasi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas
Bentuk sediaan : tablet 5 mg, 10 mg
Dosis dan aturan pakai : untuk pemblokiran total produksi hormon tiroid 25-40
mg/hari; kasus ringan 10 mg (2 x sehari); kasus berat 20 mg (2 x sehari); setelah
Iungsi tiroid normal (3-8 minggu) dosis perlahan-lahan diturunkanhingga dosis
pemelihara 5 10 mg/hari.
EIek samping : alergi kulit, perubahan pada sel darah, pembengkakan pada kelenjar
ludah.
Resiko khusus : jangan diberikan pada saat kehamilan dan menyusui, hepatitis.

B. Pengobatan dengan Yodium RadioaktiI
Dianjurkan sebagai terapi deIinitiI pada pasien usia lanjut. Indikasi :
O Pasien umur 35 tahun atau lebih
O Hipertiroidisme yang kambuh sesudah penberian dioperasi
O Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
O Adenoma toksik, goiter multinodular toksik
Pengobatan yodium radioaktiI merupakan suatu pemancar-beta yang
terperangkap oleh sel Iolikular tiroid dan berada dalam tirosin beryodium dan tironin.
Pemancar-beta ini memancarkan radiasi local dan melakukan ablassi jaringan tirois.
Dosis yang diberikan bervariasi dari 40 sampai 200 mikroCi/g dari berat tiroid yang
diperkirakan.
Komplikasi utama dari terapi ini adalah munculnya hipotiroidisme yang
bergantung pada dosis. Biasanya 30 pasien menjadi hipotiroid dalam tahun
pertama setelah terapi dan sebagian kecil mengalami hipotiroid dalam tahun
berikutnya.
C. Obat-obatan lain
O Antagonis adrenergik-beta
Digunakan untuk mengendalikan tanda-tanda dan gejala hipermetabolik
(takikardi, tremor, palpitasi). Antagonis-beta yang paling sering digunakan
adalah propranolol, yang biasanya diberikan secara oral dengan dosis 80-180
mg per hari dalam 3-4 dosis terbagi.
O Kalium Iodida (SSKI:1 tetes 50 mg iodida anorganik)
3 tetes secara oral 3 kali sehari, sering digunakan sebagai pengganti tionamid
(PTU dan metimazol) setelah terapi radioiodin.
Nonfarmakologi
O Diet yang diberikan harus tinggi kalori 2600-3000 kalori perhari
O Konsumsi protein yang tinggi yaitu 100-125 gr (2,5 gr/kgBB) per hari seperti
susu dan telur
O Olahraga secara teratur
O Mengurangi rokok, alcohol dan kaIein yang dapat meningkatkan metabolisme

Terdapat tiga bentuk terapi yang tersedia untuk mengobati hipertiroidisme dan
mengendalikan aktivitas tiroid yang berlebihan, yaitu : (1) Iarmakoterapi dengan
menggunakan obat-obat yang mempengaruhi sintesis hormon tiroid serta preparat yang
mengendalikan maniIestasi hipertiroidisme, (2) penyinaran atau radiasi yang meliputi
penggunaan radioisotop I
131
atau I
125
untuk menimbulkan eIek destruktiI pada kelenjar
tiroid, dan (3) pembedahan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid yang
sekretnya berlebihan
armakoterpi Tujuan Iarmakoterapi adalah untuk menghambat satu atau beberapa
stadium sintesis atau pelepasan hormon; tujuan lain adalah untuk mengurangi jumlah
jaringan tiroid yang mengakibatkan penurunan produksi hormon tiroid
Preparat anti-tioid Secara eIektiI menghalangi penggunaan iodium dengan
mempengaruhi iodinasi tironsin dan pembentukan iodotirosin dalam sintesis hormon tiroid.
Keadaan ini untuk mencegah sintesis hormon tiroid. Obat yang paling sering digunakan
adalah propiltiourasil (propacil, PTU) atau metimazol (tapazole), pemberian obat ini
dilakukan sampai pasien mencapai keadaan eutiroid ( yaitu bukan hipertiroid ataupun
hipotiroid).
Preparat penyekat beta-adrenergik telah menjadi bagian penting dalam penanganan
hipertiroidisme karena akan mengendalikan eIek penyakit tersebut pada system saraI
simpatik. Contoh, propranolol berkhasiat untuk mengurangi ketegangan saraI, takikardia,
tremor, ansietas dan intoleransi panas.
Perparat iodium radioaktif Tujuan terapi preparat radio aktiI adalah untuk
menghancurkan sel-sel tiroid yang berlebihan. Penggunaan preparat iodium radioaktiI
merupakan bentuk terapi yang paling sering digunakan pada lansia. Hampir semua iodium
yang masuk dan bertahan dalam tubuh akan bertumpuk dalam kelenjar tiroid. Karena itu,
isotop radioaktiI iodium akan terkonsentrasi dalam kelenjar tiroid dan menghancurkan sel-
sel tiroid tanpa membahyakan jaringan lain yang bersiIat radiosensitiI. Penggunaan iodium
radioaktiI dengan dosis ablatiI menyebabkan pelepasan akut hormon tiroid kelenjar tiroid
dan dapr menyebabkant peningkatan gejala.
Pembedahan
Pembedahan untuk mengangkat jaringan tiroid tidak pernah dilakukan sebagai satu-
satunya metode pengobtan hipertiroidisme. Pengangkatan sekitar lima perenam jaringan
tiroid (tiroidektomi subtotal) praktis menjamin kesembuhn dalam waktu ysng lama bagi
sebagian besar penderita penyakit goiter goiter eksgtalmik. Sebelum pembedehahan,
preparat pilitiourasil diberikan sampa tanda-tanda hipertiroidisme menghilnag. Sebagai
altertnatitiI lain, prepratat penyekat adrenergik dan penyakit pilitouurasil dan dberikan
sampai tanda-tanda hipertiroidisme menghilang. Sebagai alternatiI preparat penyakat beta-
adrenergik (propranolo) dapat digunakanan untuk mengurangi Irekusnsi langung, namun
demikian pengunaan obat oinni tidak akan menghasilkan prepracolocdan dapat sigubakan
untuk mengurangi Irekuensi jantung.
Pada tiroidektomi, kelenjar tiroid diangkat melalui pembedahan. Pembedahan
merupakan terapi pilihan untuk:
- penderita muda
- penderita yang gondoknya sangat besar
- penderita yang alergi terhadap obat atau mengalami eIek samping akibat obat.
Setelah menjalani pembedahan, bisa terjadi hipotiroidisme. K\pada penderita ini
diberikan terapi sulih hormon sepanjang hidupnya. Komplikasi lain dari pembedahan
adalah kelumpuhan pita suara dan kerusakan kelenfar paratiroid (kelenjar kecil di
belakang kelenjar tiroid yang mengendalikan kadar kalsium dalam darah).
O Pembedahan Tiroidektomi
Tiroidektomi subtotal eIektiI untuk terapi hipertiroidisme tetapi disertai dengan
beberapa komplikasi potensial, termasuk cedera pada nervus laringeus rekurens dan
hipoparatiroidisme. Iodium biasanya diberikan sebelum operasi untuk mengendalikan
tirotoksikosis dan untuk mengurangi vaskularitas kelenjar itu.
Pengangkatan sekitar
5
/
6
jaringan tiroid praktis menjamin kesembuhan dalam waktu
lama bagi sebagian besar penderita penyakit goiter eksoItalmik. Sebelum pembedahan,
preparat propiltiourasil diberikan sampai tanda-tanda hipertiroidisme menghilang.
Indikasi :
4 Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat antitiroid.
4 Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis besar
4 Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktiI
4 Adenoma toksik atau struma multinodular toksik
4 Pada penyakit Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul
E. InIormasi Tambahan
1. Komplikasi dari kelenjar toroid yang berlebihan
2. Penyimpangan KDM dari hipertiroidisme
- Orang yang mengalami hipertiroidisme mengalami peningkatan selera makan dan
konsumsi makanan, penurunan berat badan yang progresiI, kelelahan otot yang
abnormal amenore dan perubahan deIekasi.
- pasien yang mengalami penyakit hipertiroidisme akan mengalami peningkatan laju
metabolik basal. Meningkatnya produksi panas menyebabkan keringat berlebihan
dan intoleransi panas. Meskipun naIsu makan dan asupan makanan meningkat yang
terjadi sebagai respon terhadap meningkatnya kebutuhan metabolik namun berat
tubuh biasanya turun karena menggunakan bahan bakar yang jauh lebih banyak.
- ketika terjadi penguraian hetto simpanan karbohidrat, lemak, dan protein,
berkurangnya protein otot menyebabkan tubuh lemah
- eksoItalmus terjadi karena adanya pengendapan karbohidrat kompleks penahan air
dibelakang mata, sehingga terjadi retensi cairan yang mendorong bola mata kedepan
sehingga menonjol dari tulang orbital. Bola mata dapat menonjol sedemikan jauh
sehingga kelopak tidak dapat menutup sempurna yang kemudian dapat menyebabkan
mata kering, kemudian teriritasi dan rentan mengalami ulkus kornea.
- peningkatan T
3
(triiodotironin) dan T
4
(tiroksin) atau penurunan TSH (tiroid
stimulating hormon) akan mengakibatkan long-acting tiroid stimulator (LATS) atau
penyakit graves yang menunjukkan bahwa pasien mengalami gondok.
- TSH (tiroid stimulating hormon), hormon tropik tiroid dari hipoIisis anterior adalah
regulator Iisiologis terpenting sekresi hormon tiroid. Selain meningkatkan sekresi
hormon tiroid TSH juga berIungsi untuk mempertahankan integritas srruktural
kelenjar tiroid, tanpa adanya TSH tiorid mengalami atroIi dan mengeluarkan hormon
tiroid dalam jumlah sangat rendah senaliknya kelenjar mengalami hipertroIi
(peningkatan ukuran setiap sel Iolikel) dan hyperplasia (peningkatan jumlah sel
Iolikel) sebagai respon terhadap TSH yang berlebihan.
F. Analisis dan sintesis inIormasi
1. Komplikasi kelenjar tiroid
adai tiroid adalah suatu aktivitas yang sangat berlebihan dari kelenjar tiroid, yang
terjadi secara tiba-tiba.
Badai tiroid bisa menyebakan:
1. Ulkus Kornea
Ulkus kornea terjadi oleh karena pembengkakan kelenjar retroorbita dan perubahan
degenaratiI otot occuler menyebabkan mata sulit di tutup sehingga terjadi iritasi
mata, lalu inIeksi yang menyebabkan ulkus kornea.
2. Gagal antung
Gagal jantung bisa terjadi karena disritmia yang disebabkan hipertiroid.
3. Krisis Tiroid
4. Osteoporosis premature pada wanita
5. Demam
6. Kelemahan dan pengkisutan otot yang luar biasa
7. Kegelisahan
8. Perubahan suasana hati
9. Kebingungan
10. Perubahan kesadaran (bahkan sampai terjadi koma)
11. Pembesaran hati disertai penyakit kuning yang ringan.
2. Penyimpangan KDM pada hipertiroidisme























Gangguan organik kelenjar Tiroid
Gangguan fungsi hipotalamus
/ hipofiiss
!roses pembakaran lemak
meningkat
!roduksi kalor meningkat Aktivitas G meningkat
Metabolisme tubuh meningkat !roses glikogenesis meningkat
!roduksi hormon Tiroid meningkat
Suplai nutrisi yang tidak adekuat
!eningkatan suhu tubuh Nafsu makan meningkat
!enurunan berat badan
Gangguan rasa nyaman;
panas
!erubahan pola nutrisi
Gangguan body image
!erubahan pola kerja jantung
dan paru
Ketidakstabilan emosi
Gangguan pola kognitif







G. Tujuan pembelajaran selanjutnya
1. Mahasiswa diharapkan dapat memahami dan mengetahui tentang patomekanisme
kelenjar tiroid (anatomi, Iisiologi dan patoIisiologi)
2. Mahasiswa mampu mengenali penyakit-penyakit yang berhubungan dengan benjolan
dileher
3. Mahasiswa mampu mengidentiIikasi seseorang yang mengalami gangguan dengan
benjolan di leher
4. Mahasiswa mampu memberi asuhan keperawatan pada klien dengan benjolan dileher.














aftar Pustaka
Sherwood, Lauralee. 2011. Fisioloi Manusia. EGC : akarta
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 Jol. EGC : akarta
Ganong.1997. Fisioloi Kedokteran. EGC : akarta
Gibson, ohn.2003. Anatomi dan Fisioloi Modern untuk !erawat. EGC : akarta
Guyton dan Hall.1997. Fisioloi Kedokteran Edisi 9. EGC : akarta
hLLp//lsmar71flleswordpresscom/2008/03/4askepkllenhlperLlroldlsmepdf
hLLp//ldwlklpedlaorg/wlkl/PlperLlroldlsme
hLLp//wwwLanyadokLercom/dlseaseasp?ld1000903
hLLp//wwwspeslallslnfo/?bagalmanacaramengaLaslhlperLlroldlsme134
hLLp//reposlLoryusuacld/blLsLream/123436789/20013/4/ChapLer20llpdf