Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA STRUKTUR

MODUL A
LENDUTAN PADA BALOK STATIS TAK TENTU



KELOMPOK 3

Adimas Kusumo (0906511630)
Farid (0906630273)
Friska Ariani Barus (0906555790)
Hendriawan Kurniadi (0906630292)
Martin Ulpan (0906511826)


Tanggal praktikum : 19 Oktober 2011
Asisten praktikum : Teuku M. Akbar
Tanggal disetujui :
Nilai :
ParaI asisten :

LABORATORIUM MEKANIKA STRUKTUR
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2011
LENDUTAN PADA BALOK STATIS TAK TENTU

%ujuan Percobaan
Untuk menentukan besar lendutan di titik yang telah ditentukan dari sebuah balok
statis tak tentu yang dibebani oleh beban terpusat.
Membandingkan hasil percobaan dengan hasil teoritis.

%eori
Besar lendutan dari kemiringan/putaran sudut dari sebuah struktur statis tertentu yang
diberi beban dapat ditentukan dengan menggunakan salah satu dari ketiga metode di
bawai ini:
Metode unit load

Ac = ]
Mm dx
LI
I
0

dimana:
M momen akibat beban W.
m momen akibat beban satu satuan gaya (unit load) yang bekerja pada
titik C.

0c = ]
Mm dx
LI
I
0

dimana:
M momen akibat beban W.
m momen akibat beban satu satuan momen (unit momen) yang bekerja
pada titik C.


Metode Moment Area (Luas Bidang Momen)

Note: Dimana bidang M/EI sebagai beban.
0b perubahan kemiringan/putaran sudut akibat beban A dan C.
Ac A
1
A (A
1
adalah daerah yang diarsir yang dapat dilihat pada gambar A.2)
besar lendutan di titik C.
statis momen dari M/EI di titik A.

Metode Conjugated Beam
Metode moment area dengan conjugated beam berhubungan erat sekali. Teori
momen area cenderung ke arah geometri dan kurva elastik. Sementara konsep
conjugated beam menggunakan analogi antara putaran sudut dengan gaya lintang
dan lendutan dengan momen.

dimana:
Ac momen lentur di titik C akibat beban M/EI besar lendutan di titik C
(PL
3
/48EI).

A
R
A
` gaya lintang di A putaran sudut di titik A (PL
2
/16EI).

B
R
B
` gaya lintang di B putaran sudut di titik B (PL
2
/16EI).

Metode Integrasi
Salah satu metode penyelesaian dalam mencari nilai lendutan dan putaran sudut
adalah dengan metode integrasi yang dikenal juga dengan teori elastis. Berikut ini
adalah rumus dalam mencari nilai lendutan dan putaran sudut:
(d
2
y/dx
2
) -(Mx/EI) Rumus Umum
dy/dx -1/EI }Mx dx C
1
tan 0 besar putaran sudut
Y }}-(Mx/EI)dx C
1
.x C
2
besar lendutan







Peralatan
2-HST. 1301 Penyangga Ujung
Penyangga yang digunakan untuk menahan ujung-ujung balok.
1-HST. 1302 Penyangga Perletakan Rol
Penyangga yang digunakan untuk menahan ujung balok yang perletakannya rol.
1-HST. 1303 Pengatur Rol
Pengatur untuk mengatur agar perletakan menjadi rol.
1-HST. 1304 Pelat Jepit
Pelat yang menjepit balok.
3-HST. 1305 Jepit Penggantung
Jepit yang menggantung.
3-HST. 1306 Penyambung Gantungan
Penyambung yang menghubungkan gantungan beban dengan balok.
3-HST. 1307 Penggantung Besar (tempat beban)
Penggantung tempat meletakkan beban.
3-HST. 1309 Penggantung Ujung
Penggantung yang diletakkan di ujung.
1-HST. 1310 Penyangga Perletakan Ganda
Penyangga yang menahan perletakan ganda.
1-HST. 1311 Pengatur Perletakan
Pengatur untuk mengatur jenis perletakan.
1-HST. 1312 Penggantung Kecil
Penggantung tempat meletakkan beban yang kecil.
2-HST. 1313 Ujung Sisi Tajam (kniIe edge)
Ujung yang tajam.

ara Kerja
Percobaan 1
1. Mengatur perletakan untuk memenuhi kondisi jepit-jepit.
2. Mengukur dimensi pelat (b dan h) dan bentang balok (L) dari as ke as.
3. Meletakkan dial gauge pada jarak / L dan / L dari perletakan jepit C
untuk membaca besarnya lendutan di titik A dan B.
4. Meletakkan beban P dengan variasi beban 10 N sampai 50 N dengan
interval 10 N disertai dengan pembacaan dial pada titik A dan B (variasi
pembebanan ditentukan oleh asisten).

Percobaan 2
1. Mengatur perletakan untuk memenuhi kondisi jepit-jepit.
2. Mengukur dimensi pelat (b dan h), bentang balok (L) dari as ke as dan jarak
a dan b.
3. Meletakkan dial gauge sejauh a dari perletakan jepit C dan D untuk
membaca besarnya lendutan di titik A dan B.
4. Meletakkan beban P dengan variasi beban 10 N sampai 50 N dengan
interval 10 N disertai dengan pembacaan dial pada titik A dan B (variasi
pembebanan ditentukan oleh asisten).



Percobaan 3
1. Mengatur perletakan untuk memenuhi kondisi rol-jepit.
2. Mengukur dimensi pelat (b dan h) dan bentang balok (L) dari as ke as.
3. Meletakkan dial gauge sejauh 30 cm dari perletakan rol C dan jepit D untuk
membaca besarnya lendutan di titik A dan B.
4. Meletakkan beban P dengan variasi beban 10 N sampai 50 N dengan
interval 10 N disertai dengan pembacaan dial pada titik A dan B (variasi
pembebanan ditentukan oleh asisten).


Pengolahan ata

bbatang 0,02526 m
hbatang 0,0051 m
I (1/12) b h
3
(1/12) * 0,02526 * 0,0051
3

2,8 * 10
-10
m
4


Reaksi Perletakan Struktur Jepit-Jepit dengan beban satu satuan di tengah.
1

C Mc Md D

Vc Vd
L 0,9 m
1


0 = -
PL
2
16LI

0 = -
0,050625
LI


0 =
PL
2
16LI

0 =
0,050625
LI




Mc

0 =
Mc L
3LI

0 =
0,3 Mc
LI


0 = -
Mc L
6LI

0 = -
0,15 Mc
LI




Md
0 =
Md L
6LI

0 =
0,15 Md
LI


0 = -
Md L
3LI

0 = -
0,3 Md
LI


Kompatibilitas:
0C 0 ...(1)
0D 0 ...(2)

-0,050625 0,3 Mc 0,15 Md 0 ...(1)
0,050625 0,15 Mc 0,3 Md 0 ...(2)


Mc 0,1125
Md 0,1125

Kesetimbangan:
LMc 0
- 0,1125 (1 * 0,45) 0,1125 (0,9 Vd) 0
Vd 0,5

LFy 0
-1 0,5 Vc 0
Vc 0,5

Reaksi Perletakan Struktur Jepit-Jepit dengan beban satu satuan 0,225m dari
perletakan
1

C Mc Md D

Vc Vd

0,225 m
1


0 = -
10,2250,675(0,9+0,675)
6LI0,9

0 = -
0,044296875
LI


0 =
10,2250,675(0,9+0,225)
6LI0,9

0 =
0,031640625
LI





Mc

0 =
Mc L
3LI

0 =
0,3 Mc
LI


0 = -
Mc L
6LI

0 = -
0,15 Mc
LI






Md
0 =
Md L
6LI

0 =
0,15 Md
LI


0 = -
Md L
3LI

0 = -
0,3 Md
LI


Kompatibilitas:
0C 0 ...(1)
0D 0 ...(2)

0,3Mc 0,15Md 0,044296875 ...(1)
-0,15Mc 0,3Md -0,031640625 ...(2)

Mc 0,126562502
Md 0,042187495

Kesetimbangan:
LMc 0
0,126562502 0,225 0,042187495 (0,9 Vd) 0
Vd 0,156249992

LMd 0
-0,042187495 0,675 0,126562502 (0,9 Vc) 0
Vc 0,843750007





Reaksi Perletakan Struktur Jepit-Jepit dengan beban satu satuan 0,3m dari
perletakan
1

C Mc Md D

Vc Vd

0,3 m
1

0 = -
10,30,6(0,9+0,6)
6LI0,9

0 = -
0,05
LI


0 =
10,30,6(0,9+0,3)
6LI0,9

0 =
0,04
LI




Mc

0 =
Mc L
3LI

0 =
0,3 Mc
LI


0 = -
Mc L
6LI

0 = -
0,15 Mc
LI








Md
0 =
Md L
6LI

0 =
0,15 Md
LI


0 = -
Md L
3LI

0 = -
0,3 Md
LI


Kompatibilitas:
0C 0 ...(1)
0D 0 ...(2)

0,3Mc 0,15Md 0,05 ...(1)
-0,15Mc 0,3Md -0,04 ...(2)
Mc 0,133333333
Md 0,066666666
Kesetimbangan:
LMc 0
0,133333333 0,3 0,066666666 (0,9 Vd) 0
Vd 0,259259258

LMd 0
-0,066666666 0,6 0,133333333 (0,9 Vc) 0
Vc 0,740740741

Reaksi Perletakan Struktur Rol-Jepit dengan beban satu satuan di tengah bentang

1
D
C Md
L 0,9 m

1


0 = -
PL
2
16LI

0 = -
0,050625
LI


0 =
PL
2
16LI

0 =
0,050625
LI



Md
0 =
Md L
6LI

0 =
0,15 Md
LI



0 = -
Md L
3LI

0 = -
0,3 Md
LI


Kompatibilitas:
0D 0
0,050625 0,3 Md 0
Md 0,16875

Kesetimbangan:
LMd 0
0,16875 (1 * 0,45) (Vc * 0,9) 0
Vc 0,3125



LFy 0
-1 0,3125 Vd 0
Vd 0,6875

Reaksi Perletakan Struktur Rol-Jepit dengan beban satu satuan 0,3 m dari rol

1
D
C Md
0,3 m

L 0,9 m

1


0 = -
10,30,6(0,9+0,6)
6LI0,9

0 = -
0,05
LI


0 =
10,30,6(0,9+0,3)
6LI0,9

0 =
0,04
LI




Md


0 =
Md L
6LI

0 =
0,15 Md
LI



0 = -
Md L
3LI

0 = -
0,3 Md
LI


Kompatibilitas:
0D 0
0,04 0,3 Md 0
Md 0,133333333

Kesetimbangan:
LMd 0
-0,133333333 0,6 (0,9 Vc) 0
Vc 0,518518518

LMc 0
-0,3 0,133333333 (0,9 Vd) 0
Vd 0,481481481

Reaksi Perletakan Struktur Rol-Jepit dengan beban satu satuan 0,3 m dari jepit

1
D
C Md
0,3 m

L 0,9 m

1


0 = -
10,30,6(0,9+0,3)
6LI0,9

0 = -
0,04
LI


0 =
10,30,6(0,9+0,6)
6LI0,9

0 =
0,05
LI




Md
0 =
Md L
6LI

0 =
0,15 Md
LI


0 = -
Md L
3LI

0 = -
0,3 Md
LI


Kompatibilitas:
0D 0
0,05 0,3 Md 0
Md 0,166666666
Kesetimbangan:
LMd 0
-0,166666666 0,3 (0,9 Vc) 0
Vc 0,148148148

LMc 0
-0,6 0,166666666 (0,9 Vd) 0
Vd 0,851851851







Percobaan 1
P (N) a (mm) b (mm) e (mm) ab rata-rata (mm) ab rata-rata (m)
10 0,33 0,29 0,62 0,31 0,00031
20 0,66 0,59 1,3 0,625 0,000625
30 0,99 0,89 1,95 0,94 0,00094
40 1,325 1,185 2,61 1,255 0,001255
50 1,66 1,49 3,23 1,575 0,001575

Lendutan teoritis:
1 1
C E D C A E D
0,1125 m 0,1125 m 0,126 0,042

0,5 0,5 0,843 0,156
0,225 m
L 0,9 m

Rentang M M
CA(0_x_0,225) 0,5x 0,1125 0,843750007x - 0,126562502
AE(0_x_0,225) 0,5x -0,156249993x 0,063281249
DE(0_x_0,45) 0,5x 0,1125 0,156249992x 0,042187495

H A = ] ,8
2
-,8 +,88
0,225
0
+
] -,899
2
+ ,
0,225
0
+] ,899
2
-
0,45
0
,88 +,988
H A = ,89 +, + ,99
H A = ,898

E praktikum:
Y
2
Y
2
Y
10 0,00031 100 9,61E-08 0,0031
20 0,000625 400 3,90625E-07 0,0125
30 0,00094 900 8,836E-07 0,0282
40 0,001255 1600 1,57503E-06 0,0502
50 0,001575 2500 2,48063E-06 0,07875
150 0,004705 5500 5,42598-06 0,17275
I =
(nlx)-(lxl)
(nlx
2
)-(lx)
2

I = ,

H A = ,898
=
0,001898437461
0,00003162,810
-10

= ,
11
I

DeIormasi karena beban satu satuan:
A =
0,001898437461
LI

A =
0,001898437461
2,1510
11
2,810
-10

A = ,
-5


DeIormasi praktikum:
P (N) a (m) a (mm)
10 0,000315 0,315
20 0,00063 0,63
30 0,000945 0,945
40 0,00126 1,26
50 0,001575 1,575

Kesalahan relatiI:
H =
|Lpuktkum-Ltco|
Ltco
%
H =
|215 uPu-200 uPu|
200 uPu
%
H = , %

P (N) praktikum (mm) teori (mm) Kesalahan Relatif ()
10 0,31 0,315 1,587301587
20 0,625 0,63 0,793650794
30 0,94 0,945 0,529100529
40 1,255 1,26 0,396825397
50 1,575 1,575 0
rata-rata 0,661375661


Percobaan 2
P (N) a (mm) b (mm) e (mm) ab rata-rata (mm) ab rata-rata (m)
10 0,66 0,66 0,65 0,66 0,00066
20 0,935 0,93 1,3 0,9325 0,0009325
30 1,39 1,39 1,95 1,39 0,00139
40 1,85 1,85 2,59 1,85 0,00185
50 2,31 2,31 3,25 2,31 0,00231

Lendutan teoritis:
1 1
C E D C A E D
0,1125 m 0,1125 m 0,133 0,066

0,5 0,5 0,740 0,259
0,3 m
L 0,9 m

Rentang M M
CA(0_x_0,3) 0,5x - 0,1125 0,740740741x - 0,133333333
AE(0_x_0,15) 0,5x 0,0375 -0,259259259x 0,088888889
DE(0_x_0,45) 0,5x - 0,1125 0,259259258x 0,066666666

H A = ] ,
2
- ,9999999 + ,999999
0,3
0
+
] -,999
2
+ , +,8
0,15
0
+
] ,999
2
-,99999 + ,999999
0,45
0

H A = ,8 + ,9 +,988
H A = ,8998

E praktikum:
Y
2
Y
2
Y
10 0,00066 100 4,356E-07 0,0066
20 0,0009325 400 8,69556E-07 0,01865
30 0,00139 900 1,9321E-06 0,0417
40 0,00185 1600 3,4225E-06 0,074
50 0,00231 2500 5,3361E-06 0,1155
150 0,0071425 5500 1,19959-05 0,25645
I =
(nlx)-(lxl)
(nlx
2
)-(lx)
2

I = ,

H A = ,8998
=
0,002812499784
0,0000421752,810
-10

= ,
11
I

DeIormasi karena beban satu satuan:
A =
0,002812499784
EI

A =
0,002812499784
2,410
11
2,810
-10

A = ,
-5


DeIormasi praktikum:
P (N) a (m) a (mm)
10 0,00042 0,42
20 0,00084 0,84
30 0,00126 1,26
40 0,00168 1,68
50 0,0021 2,1

Kesalahan relatiI:
H =
|Lpuktkum-Ltco|
Ltco
%
H =
|240 uPu-200 uPu|
200 uPu
%
H = %

P (N) praktikum (mm) teori (mm) Kesalahan Relatif ()
10 0,66 0,42 57,14285714
20 0,9325 0,84 11,01190476
30 1,39 1,26 10,31746032
40 1,85 1,68 10,11904762
50 2,31 2,1 10
rata-rata 19,71825397


Percobaan 3

P (N) a (mm) b (mm) e (mm) a (m) b (m)
10 0,97 0,72 1,09 0,00097 0,00072
20 1,93 1,41 2,15 0,00193 0,00141
30 2,9 2,12 3,21 0,0029 0,00212
40 3,85 2,83 43 0,00385 0,00283
50 4,83 3,54 5,38 0,00483 0,00354

Lendutan teoritis:
1 1
C E D C A E D
0,16875 0,133

0,3125 0,6875 0,518 0,481
0,3 m
L 0,9 m
Rentang M m
CA(0_x_0,3) 0,3125x 0,518518518x
AE(0_x_0,15) 0,3125x 0,09375 -0,481481482x 0,155555555
DE(0_x_0,45) 0,6875x - 0,16875 0,481481481x - 0,133333333

H A = ] ,
2

0,3
0
+ ] -,9
2
-, +
0,15
0
,8 +
] ,88
2
-,9 + ,99999
0,45
0

H A = ,8 - ,9 + ,8
H A = ,89

E praktikum:
Y
2
Y
2
Y
10 0,00097 100 9,409E-07 0,0097
20 0,00193 400 3,7249E-06 0,0386
30 0,0029 900 0,00000841 0,087
40 0,00385 1600 1,48225E-05 0,154
50 0,00483 2500 2,33289E-05 0,2415
150 0,01448 5500 5,12272-05 0,5308
I =
(nlx)-(lxl)
(nlx
2
)-(lx)
2

I = ,9

H A = ,89
=
0,001617187079
0,00009642,810
-10

=
10
I

DeIormasi karena beban satu satuan:
A =
0,001617187079
LI

A =
0,001617187079
610
10
2,810
-10

A = 9,
-5


DeIormasi praktikum:
P (N) a (mm) a (m)
10 0,00096 0,96
20 0,00192 1,92
30 0,00288 2,88
40 0,00384 3,84
50 0,0048 4,8

Kesalahan relatiI:
H =
|Lpuktkum-Ltco|
Ltco
%
H =
|60 uPu-200 uPu|
200 uPu
%
H = %

P (N) praktikum (mm) teori (mm) Kesalahan Relatif ()
10 0,97 0,96 1,041666667
20 1,93 1,92 0,520833333
30 2,9 2,88 0,694444444
40 3,85 3,84 0,260416667
50 4,83 4,8 0,625
rata-rata 0,628472222


1 1
C E D C E B D
0,16875 0,166

0,3125 0,6875 0,148 0,851
0,3 m
L 0,9 m

Rentang M m
CE(0_x_0,45) 0,3125x 0,148148148x
EB(0_x_0,15) -0,6875x 0,140625 0,148148148x 0,066666666
DB(0_x_0,3) 0,6875x - 0,16875 0,851851851x - 0,166666666

H A =
] ,99
2

0,45
0
+] -,88
2
- ,999999 +
0,15
0
,99999 +
] ,88
2
- ,8 + ,8999
0,3
0

H A = ,999 + , + ,8
H A = ,9

E praktikum:
Y
2
Y
2
Y
10 0,00066 100 4,356E-07 0,0066
20 0,00093 400 8,649E-07 0,0186
30 0,00139 900 1,9321E-06 0,0417
40 0,00185 1600 3,4225E-06 0,074
50 0,00231 2500 5,3361E-06 0,1155
150 0,00714 5500 1,19912-05 0,2564

I =
(nlx)-(lxl)
(nlx
2
)-(lx)
2

I = ,




H A = ,9
=
0,004500000679
0,0000706 2,810
-10

= ,
11
I

DeIormasi karena beban satu satuan:
A =
0,004500000679
LI

A =
0,004500000679
2,210
11
2,810
-10

A = ,
-5


DeIormasi praktikum:
P (N) b (mm) b (m)
10 0,00073 0,73
20 0,00146 1,46
30 0,00219 2,19
40 0,00292 2,92
50 0,00365 3,65

Kesalahan RelatiI:
H =
|Lpuktkum-Ltco|
Ltco
%
H =
|220 uPu-200 uPu|
200 uPu
%
H =

P (N) praktikum (mm) teori (mm) Kesalahan Relatif ()
10 0,72 0,73 1,369863014
20 1,41 1,46 3,424657534
30 2,12 2,19 3,196347032
40 2,83 2,92 3,082191781
50 3,54 3,65 3,01369863
rata-rata 2,817351598





nalisa Praktikum
Analisa Percobaan
Pada praktikum ini konsisi perletakan ada 2, yaitu jepit-jepit dan rol-jepit. Dari
kondisi perletakan yang berbeda ini, dapat dilihat pengaruh perletakan pada
deIormasi yang terjadi pada batang diberikan beban. Percobaan I dan II
menggunakan perletakan jepit-jepit, sedangkan percobaan III menggunakan
perletakan rol-jepit.

Pada percobaan I, diukur lendutan pada titik A yang berjarak 0,225 m dari
perletakan C, dan titik B yang berjarak 0,225 m dari perletakan D. Sedangkan
pada percobaan II dan III, diukur lendutan pada titik A yang berjarak 0,3 m dari
perletakan C, dan titik B yang berjarak 0,3 m dari perletakan D. Dari situ dapat
dilihat pengaruh letak dial terhadap lendutan yang terjadi.

Beban yang digunakan dalam praktikum ini diletakkan di tengah bentang, yang
besarnya antara 10 N sampai 50 N dengan interval 10 N. Dari besar beban yang
berbeda-beda tersebut dapat dilihat pengaruh besar beban terhadap lendutan yang
terjadi.

Dimensi pelat (b dan h) diukur agar inersia pelat dapat dihitung.

Analisa Hasil
Dari hasil pengukuran lendutan pada percobaan , dapat terlihat bahwa lendutan
pada titik A hampir sama dengan lendutan pada titik B jika perletakannya jepit-
jepit, tetapi hal ini tidak berlaku jika perletakannya rol-jepit. Dapat terlihat pula
lendutan pada tengah bentang, yaitu titik E, lebih besar jika dibandingkan dengan
lendutan pada titik A dan B. Lendutan pada titik A dan B pada percobaan I lebih
kecil dibandingkan dengan lendutan pada titik A dan B pada percobaan II. Dari
hal tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin dekat titik yang diukur
lendutannya dengan tengah bentang, maka semakin besar pula lendutannya.


Pada percobaan III, dapat terlihat bahwa lendutan titik E adalah yang paling
besar, lalu diikuti titik A, dan yang terkecil titik B. Hal ini sangatlah masuk akal,
karena titik E adalah titik dimana beban bekerja, sehingga lendutan pada titik ini
adalah yang paling besar. Lendutan pada titik A dan B tidak akan sebesar
lendutan pada titik E. Lendutan pada titik A lebih besar jika dibandingkan
lendutan pada titik B, karena titik A dekat dengan rol yang hanya mempunyai
satu reaksi, yakni reaksi vertikal, sedangkan titik B dekat dengan jepit yang
mempunyai tiga reaksi, yaitu reaksi vertikal, horizontal, dan moment. Semakin
banyak reaksi akan semakin stabil pula struktur, sehingga lendutan akan semakin
kecil.

E balok yang didapatkan pada percobaan ini juga tidak tepat sama dengan E teori.
Pasti ada perbedaan karena nilai E teori tersebut hanya nilai yang dianggap
mewakili, sedangkan E sebenarnya bervariasi tergantung siIat dan jenis baja.

Pada percobaan ini masih terlihat adanya deviasi dari nilai sebenarnya (hasil
perhitungan), juga ada sedikit perbedaan antara lendutan pada titik A dan B pada
percobaan I dan II, yang mana seharusnya sama menurut teori. Faktor-Iaktor yang
menyebabkan deviasi pada hasil praktikum ini akan dibahas pada analisa
kesalahan.

Analisa Kesalahan
Faktor-Iaktor yang dapat menyebabkan deviasi pada hasil praktikum ini adalah:
1. Kurang tegak lurusnya posisi dari dial terhadap balok.
2. Kurang tepatnya penempatan dari dial pada balok.
3. Paralaks pada pembacaan skala dial.








Kesimpulan
Adanya perbedaan antara hasil percobaan dengan hasil perhitungan teoritis.
Semakin dekat ke beban, semakin besar lendutan.
Jepit lebih stabil dibandingkan rol, sehingga lendutan yang dekat dengan rol lebih
besar jika dibandingkan dengan lendutan yang dekat dengan jepit.
Lendutan yang didapatkan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

Percobaan I:
P (N) a (mm) b (mm) e (mm)
10 0,33 0,29 0,62
20 0,66 0,59 1,3
30 0,99 0,89 1,95
40 1,325 1,185 2,61
50 1,66 1,49 3,23

Percobaan II:
P (N) a (mm) b (mm) e (mm)
10 0,66 0,66 0,65
20 0,935 0,93 1,3
30 1,39 1,39 1,95
40 1,85 1,85 2,59
50 2,31 2,31 3,25

Percobaan III:
P (N) a (mm) b (mm) e (mm)
10 0,97 0,72 1,09
20 1,93 1,41 2,15
30 2,9 2,12 3,21
40 3,85 2,83 43
50 4,83 3,54 5,38


H Referensi
Modul praktikum analisa struktur.