Anda di halaman 1dari 5

Anatomi Korupsi di Indonesia Oleh Emil Salim (Makalah yang dipresentasikan dalam Konferensi Menuju Indonesia yang Bebas

Korupsi diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bekerja sama dengan Transparency International, Pact Indonesia, Australia-Indonesia Institute, Gema Madani, Gempita, ICW, INFID, MARA dan MTI) Korupsi memuat perilaku mereka yang bekerja di sektor publik dan swasta, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri dan/atau memperkaya mereka yang berdekatan dengannya, atau merangsang orang lain berbuat serupa dengan menyalahgunakan kedudukan yang mereka emban. Apakah essensi korupsi? Demikianlah pengertian korupsi yang disempurnakan Bank Pembangunan Asia dari konsep Transparency International, suatu lembaga swadaya masyarakat internasional yang mencakup 60 negara dan menspesialisasikan diri pada usaha pemberantasan korupsi di dunia. Pengertian kunci dalam pengertian korupsi ini adalah bahwa pertama, pelaku yang terlibat dalam korupsi terdapat di kalangan pemerintah (pegawai negeri), swasta (pengusaha) maupun politik(politisi); kedua, mereka berperilaku memperkaya diri atau yang berdekatan dengannya atau merangsang orang lain memperkaya diri. Pengertian memperkaya diri tidak saja dalam makna harta tetapi juga kekuasaan; ketiga, cara yang dipakai adalah tidak wajar dan tidak legal dengan menyalahgunakan kedudukannya. Berbagai perumusan lain dapat diungkapkan disini berdasarkan ketentuan peraturan UndangUndang Pemberantasan Korupsi. Namun secara umum opini populer yang melekat di benak masyarakat memuat tiga pokok di atas. Sesuai dengan kedudukan pelaku korupsi maka nilai uang atau barang yang terlibat di dalamnya bisa kecil sekedar "uang persenan" yang bisa diberikan ikhlas sebagai tanda terima kasih dan dikenal dengan "smiling money", tetapi bisa pula terpaksa diberikan sebagai prasyarat pelayanan dan dikenal dengan "crying money".

Di samping ini ada pelaku korupsi besar yang meminta sogokan atau imbalan besar atas perilakunya menyalahgunakan kedudukannya. Pertimbangan menerima uang bisa berdalih "untuk kepentingan umum," seperti untuk partai, pemilihan umum, usaha sosial, proyek kemanusiaan, yayasan sosial dan yang serupa. Apapun pertimbangannya ini yang terjadi adalah kekuasaan yang melekat pada kedudukan untuk dipakai bagi kepentingan umum, disalahgunakan untuk hal-hal lain yang terletak di luarmandat dan dilaksanakan atas dasar kesewenangan (discretion) pemegang kekuasaan. Besar atau kecil uang atau nilai barang yang diterima tidak mengurangi hakekat permasalahan bahwa kekuasaan yang terpaut pada kedudukan dan harus diabdikan bagi kepentingan umum disalahgunakan untuk maksud-maksud lain menurut kesewenangannya pribadi. Maka terlangkahilah garis pemisah antara "kepentingan umum" dan "kepentingan pribadi" sehingga menumbuhkan konflik kepentingan (conflict of interest ). Dan disinalh tersimpul essensi korupsi. Keadaan ini menjadi semakin kisruh jika tidak tersedia mekanisme yang bisa mengechechk kehadiran garis pemisah ini. "Kepentingan umum" ini dapat menjadi semacam "keranjang sampah" menampung berbagai kegiatan. Namun sampai seberapa jauh dalih ini layak dipakai sulit dilacak apabila tidak ada keterbukaan (transparency) dengan pengecheckan dan pengawasan yang terinstitusi (accountability) . Dan keadaannya menjadi semakin runyam jika tidak ada demokrasi dengan kebebasan. Bagaimanakah kegiatan korupsi? Keewnangan lembaga-lembaga Pemerintah membelanjakan anggarannya pada berbagai proyek, baik dari anggaran rutin maupun anggaran pembangunan, membuka peluang untuk berkorupsi. Dan ini bermula pada tahap perencanaan di lembaga-lembaga perencanaan nasional, departemental maupun di lingkungan pemerintah daerah. Hak merencanakan alokasi dana untuk proyek terdapat di tingkat perencanaan ini, baik dana rupiah maupun dana valuta asing yang dibiayai dari kredit luar negeri. Maka yang pertama rawan korupsi adalah pada proses perencanaan yang dimulai dengan identifikasi proyek dan studi kelayakannya (feasibility study). Biasanya pemahaman teknis

birokrat tentang spesifikasi proyek tidaklah tinggi sehingga memerlukan bantuan konsultan. Maka disinilah tertanam benih korupsi, seperti dalam identifikasi macam, besaran dan lokasi proyek. Oleh karena anggaran pe pemberi bantuan mempunyai kepentingan politik di dalam -negerinya sendiri, seperti misalnya membantu produsen hasil pertanian. Maka hasil pertanian dikemas dalam proyek untuk ditawarkan pada negara berkembang, sehingga menyatulah kepentingan politik dalam negerinya dengan maksud membantu negara berkembang. Karena bantuan luar negeri berasal dari uang pajak rakyat, maka dukungan lembaga perwakilan di negeri pemberi bantuan menjadi sangat penting. Dan lahirlah kompromi dalam penyediaan dana bantuan pada negara berkembang. Bantuan bilateral kebanyakan negara asing bersifat "terikat" (tied aid) harus dibelanjakan di negeri pemberi bantuan yang berbeda dengan bantuan multilateral dari organisasi-organisasi internasional yang menerapkan tender internasional terbuka. Dalam menyusun spesifikasi proyek, terutama dengan "bantuan terikat" itu, bisa tumbuh kolusi antara konsultan dan supplier di negara pemberi bantuan. Maka keharusan transparensi dalam hal identifikasi dan spesifikasi proyek merupakan ikhtiar strategis mengurangi kemungkinan korupsi. Yang rawan korupsi kedua adalah dalam menyusun sistem, seperti sistem telpon, sistem telekomunikasi keamanan lalu-lintas kereta-api, sistem pesawat terbang, kapal, kereta-api, pembatasan merk kendaraan, penetapan buku pelajaran wajib, penentuan kegiatan kesehatan yang bersifat massal seperti imunisasi dan yang serupa, oleh karena sekali sistem ditetapkan maka akan berlanjut pembelian berulang (repetitive procurement) dalam jumlah yang besar. Kegiatan rawan korupsi ketiga adalah tender. Sering dipakai dalih untuk melakukan secara tertutup, terbatas atau selektif, misalnya dalam pembelian beras supaya tidak mempengaruhi harga pasar, karena pemasoknya terbatas, ingin menunjang pengembangan usaha pribumi, karena bersifat pembelian-ulang, karena konsultan atau kontraktornya sudah dikenal, karena barangnya bersifat khusus seperti senjata, pesawat tempur atau kapal perang dan lain-lain. Yang menjadi masalah disini adalah bahwa sikap yang diambil terhadap tender adalah diskrit (discretionary) dan menutup transparensi sehingga menyulitkan pengecheckan kewajarannya.

Imbalan yang korupsi inipun sulit dilacak karena bisa dibukukan di bawah berbagai nama di berbagai bank luar negeri. Kasus sengketa merebut harta seorang mantan tokoh Pertamina di Singapura beberapa waktu lalu adalah salah satu contoh tentang realitas yang ketahuan berlaku. Yang rawan keempat adalah wewenang pejabat memberi izin untuk berbagai kegiatan, baik di tingkat Pusat maupun Daerah atau dua-duanya seperti izin lokasi dan izin prinsip yang diperlukan membeli tanah untuk membangun. Pola "ruislag" beli ganti tanah, hutan atau bangunan, lebih-lebih di lokasi strategis selalu diincer orang. Dan karena "manfaat tersembunyi" (disguished benefit) sangat besar maka praktek ini sangat digemari para birokrat. Dan kesempatan merobah peruntukkan resources, seperti hutan lindung, pantai atau jalur hijau untuk dieksploitasi selalu punya banyak penggemarnya. Kelima yang rawan korupsi adalah mengisi Daftar-Isi-Proyek dan mencairkan dana uang atas dasar DIP ini. Besar kecilnya alokasi dana anggaran sangat ditentukan oleh DIP, yang semulanya berfungsi sebagai dokumen perencanaan yang menjelaskan apa, bagaimana, pabila dan di mana proyek dibangun. Semulanya berlaku kebiasaan meminta alokasi dana tanpa kejelasan untuk apa mau dipakai. Dokumen perencanaan DIP ini kemudian berkembang menjadi dokumen negoisasi memperoleh proyek sehingga membuka kesempatan untuk korupsi. Begitu pula dokumen untuk pencairan dana menjadi sangat berharga sehingga menjadi sasaran untuk "disunat." Di samping hal-hal ini sangatlah penting keadaan pasar yang dikembangkan Pemerintah untuk berbagai barang atau pengusaha dengan praktek monopoli, oligopoli, sistem tata-niaga komoditi, proteksi, perlakuan khusus berupa keringanan pajak, bea masuk, devisa dan kredit perbankan, diberikannya hak kartel pada assosiasi swasta untuk bertindak sebagai penjual, pembeli atau penyalur tunggal dan hal-hal lain yang serupa. Dan dihimpun serta digunakannya dana "non-budgetar" oleh Pemerintah tanpa pertanggungjawabannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Usaha pencegahan korupsi Sejarah banyak negara menunjukkan bahwa jangka waktu (duration of time ) yang panjang dan permanen untuk berkuasa itu, diwujudkan dalam diri tokoh pemimpin atau partai yang berkuasa, menumbuhkan kekuatan berkepentingan (interest groups) yang selalu ingin

mempertahankan kondisi status-quo. Bahkan tumbuh kecenderungan mengkonsolidasikan diri dalam "pulau kekuasaan" (island of authority) yang berorientasi ke diri sendiri (inward looking), penuh kepercayaan diri (overconfident) yang menumbuhkan perilaku yang sarat korupsi. Hal ini semakin nyata bila sistem politik yang berkembang tidak memberi ruang bagi check-recheck dalam tatanan demokrasi. Karena itu syarat mutlak adalah tumbuhnya demokrasi, baik demokrasi ekonomi maupun demokrasi politik, dengan lembaga-lembaga perwakilan yang murni dipisahkan dari lembaga eksekutif dan yudikatif. Karena itu mutlak harus diperjuangkan agar Majelis Permusyawaratan Rakyat, sebagai lembaga pemegang kedaulatan rakyat yang tertinggi kepada siapa presiden bertanggungjawab, harus bebas dari pejabat Pemerintahan. Sulit bisa diterima apabila Menteri dan pemimpin-pemimpin ABRI, selaku pembantu Presiden, ikut duduk memeriksa pertanggungjawaban Presiden. Apabila praktek pengaburan tugas eksekutif dengan legislatif seperti masa rezim lali masih berlaku maka semakin kiatlah keharusan menumbuhkan lembaga-lembag sokoguru masyarakat madani (civil society). Sehingga menjadi sangat penting kewajiban memberdayakan seluas mungkin kelompok-kelompok di seluruh tanah air yang bergerak dalam berbagai bidang dan bermuara pada pencapaian Indonesia yang bersih korupsi

Beri Nilai