Anda di halaman 1dari 18

NYERI PINGGANG MEN1ALAR KE TUNGKAI BAWAH

Yani Hartiwi - NIM 10.2008.174


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
1alan Arjuna Utara no.6 - 1akarta Barat
yanz_wannabeyahoo.com

$%#%
Low-back pain is among the most common health complaints among working-age
populations world wide, ranking second only to respiratory illnesses as a symptom-related
reason for visits to a physician. Seventy to eight percent of adult in the United States will
experience a significant episode of low-back pain at least once in their lives, similiar levels of
lifetime prevalense are reported from other industriali:ed countries. There are more than 22
million cases of back pain annualy in the United States that last 1 week or more, resulting in
almost 150 million lost workdays.
1
Low-back pain is a mafor cause of disability, limitation of activity, and economics loss
in developed countries. Disability due to low-back pain is complicated phenomenon
influenced not only by the physical condition of an individual person but also by other
personal factor and societal factor, including medical care, the work environment, and the
workers compensation system.
1
Key word . Low-back pain





PENDAHULUAN

Low back pain adalah rasa sakit yang terjadi didaerah lumbal atau lumbalsakral secara
akut, menahun, atau intermiten dan umumnya tanpa kelainan radiologik maupun neurologik.
Dapat juga disertai penyebaran nyeri anggota gerak bawah. Low back pain yang disertai
kelainan neurologik, misalnya dislokasi diskus invertebralis hanya 0,1 dari semua kasus.
2
Low back pain dapat terjadi pada semua usia, tetapi pada umumnya keluhan pertama
tejadi pada usia 35 40 tahun, dan 10 dari tenaga kerja setiap tahun pernah
mengalaminya.
2
Low back pain dapat mengganggu daya kerja, produktivitas; dapat menyebabkan
absenteisme dan memerlukan pengobatan. Dengan pengobatan, umumnya keluhan akan
hilang dalam 3-7 hari, tetapi bila sampai 14 hari keluhan tidak berkurang, diperlukan
pemeriksaan lebih lanjut baik radiologik maupun neurologik.
2











TIN1AUAN PUSTAKA

DIAGNOSIS KLINIS
A. Anamnesis
O #iwayat penyakit
#iwatat penyakit disini sangat penting, terutama bila ada hubungannya dengan
rudapaksa atau inIeksi, atau adanya maniIestasi nyeri yang berulang kali. Juga
ditanyakan karakter nyeri dan letak serta penyebaran nyerinya; ada parestesi atau
gangguan sensorik lain dan gangguan motorik seperti kelemahan dan atriIi otot. Juga
adanya gangguan miksi dan deIekasi atau 'sadle anestesi. Hubungan nyeri dengan
posisi tubuh dan kegiatan Iisik juga perlu ditanyakan; misalnya nyeri ruptur diskus
intervertebralis lebih bertambah bila penderita membungkuk, bersin atau batuk, atau
lebih nyeri pada posisi duduk bila dibandingkan dengan berdiri; sedangkan nyeri
tumor 'spinal cord lebih nyeri pada saat berbering daripada duduk.
2
O #iwayat pekerjaan
- Sudah berapa lama kerja sekarang
- #iwayat pekerjaan sebelumnya
- Alat kerja, bahan kerja, proses kerja
- Barang yang diproduksi/dihasilkan
- Waktu bekerja sehari
- Kemungkinan pajanan yang dialami
- APD (Alat Pelindung Diri) yang dipakai
- Hubungan gejala dan waktu kerja
- Pekerja lain ada yang mengalami hal yang sama

B. Pemeriksaan Fisik
Apakah pasien kesakitan atau nyaman?
Adakah demam?
Adakah tanda-tanda penyakit sistemik (misalnya anemia, penurunan berat
badan, iketerus, limIadenopati)?
Periksa punggung dan tulang belakang dengan lengkap. Lakukan inspeksi
tulang belakang dengan teliti untuk mencari perubahan kulit, deIormitas, kiIosis

abnormal, skoliosis, lordosis. Cari lengkung prosesus spinosus yang licin, cari adanya
'tangga dan lakukan palpasi untuk mencari nyeri tekan dan spasme otot terkait.
'ertebra servikalis periksa tekanan aktiI dan pasiI leher, periksa Ileksi,
ekstensi, Ileksi lateral, dan rotasi. Tentukan kemampuan gerak, nyeri yang
terlokalisasi atau di ekstremitas atas. Periksa lagi dengan menekan verteks tengkorak
perlahan.
'ertebra torakalis periksa gerak memutar sambil duduk dengan lengan
terlipat. Periksa ekspansi dada pasien harus bisa mengembangkan dada ~5 cm.
'ertebra lumbalis tentukan kemampuan gerak. Minta pasien menyentuh kaki,
dengan lutut tetap lurus. Nilailah ekstensi, Ileksi lateral, dan rotasi.
Sendi sakroiliaka lakukan palpasi sendi. Tekan` sendi dengan mantap ke arah
bawah dengan pasien dalam posisi telungkup. Saat pasien telentang, Ileksikan satu
panggul sambil memepertahankan panggul satunya terekstensi.
5
Tanda-tanda perangsangan meningeal :
3
Tanda Laseque menunjukkan adanya ketegangan pada saraI spinal khususnya L5
atau S1. Secara klinis tanda Laseque dilakukan dengan Ileksi pada lutut terlebih
dahulu, lalu di panggul sampai 90
0
lalu dengan perlahan-lahan dan graduil dilakukan
ekstensi lutut dan gerakan ini akan menghasilkan nyeri pada tungkai pasien terutama
di betis (tes yang positiI) dan nyeri akan berkurang bila lutut dalam keadaan Ileksi.
Terdapat modiIikasi tes ini dengan mengangkat tungkai dengan lutut dalam keadaan
ekstensi (stright leg rising). ModiIikasi-modiIikasi tanda laseque yang lain semua
dianggap positiI bila menyebabkan suatu nyeri radikuler. Cara laseque yang
menimbulkan nyeri pada tungkai kontra lateral merupakan tanda kemungkinan
herniasi diskus.
Pada tanda laseque, makin kecil sudut yang dibuat untuk menimbulkan nyeri
makin besar kemungkinan kompresi radiks sebagai penyebabnya. Demikian juga
dengan tanda laseque kontralateral. Tanda Laseque adalah tanda pre-operatiI yang
terbaik untuk suatu HNP, yang terlihat pada 96,8 dari 2157 pasien yang secara
operatiI terbukti menderita HNP dan pada hernia yang besar dan lengkap tanda ini
malahan positiI pada 96,8 pasien. Harus diketahui bahwa tanda Laseque
berhubungan dengan usia dan tidak begitu sering dijumpai pada penderita yang tua
dibandingkan dengan yang muda (30 tahun).

Tanda Laseque kontralateral (contralateral Laseque sign) dilakukan dengan cara


yang sama, namun bila tungkai yang tidak nyeri diangkat akan menimbulkan suatu
respons yang positiI pada tungkai kontralateral yang sakit dan menunjukkan adanya
suatu HNP.
Tes Bragard ModiIikasi yang lebih sensitiI dari tes laseque. Caranya sama seperti
tes laseque dengan ditambah dorsoIleksi kaki.
Tes Sicard Sama seperti tes laseque, namun ditambah dorsoIleksi ibu jari kaki.
Tes valsava Pasien diminta mengejan/batuk dan dikatakan tes positiI bila timbul
nyeri.

C. Pemeriksaan Penunjang
walaupun rontgen vertebra lumbosakral biasanya dilakukan pada nyeri punggung
bawah, ditemukan hasil normal pada sebagian besar kasus. Dilaporkan bahwa
abnormalitas struktur hanya terjadi pada 3 pasien dan angka maksimum ditemukannya
kelainan pada pemeriksaan radiologis berkaitan dengan nyeri punggung adalah 10.
Pemeriksaan rontgen yang segera dilakukan pada pasien dengan nyeri punggung akut
biasanya tidak menolong dan tentunya membuang uang. Sebagian besar nyeri punggung
sembuh dalam waktu singkat dan rontgen dibuat jika gejala menetap atau bila ditemukan
kelainan Iisik abnormal. Bukti radiologis adanya penyakit degeneratiI lebih banyak
ditemukan pada orang yang lebih tua. Perlu ditekankan bahwa degenerasi diskus dapat
timbul tanpa menimbulkan gejala bermakna. #ontgen vertebra potongan lateral dalam
posisi Ileksi dan ekstensi dapat menunkjukkan mobilitas segmen tulang belakang yang
tidak biasa yang berhungan dengan ketidakstabilan. Selain itu, rontgen potongan miring
membantu menunjukkan dan mengonIirmasi adanya spondilosis. Cara pencitraan yang
lebih baru, seperti megnetic resonace imaging menambah dimensi bari diagnosis lesi
tulang belakang, khususnya penyakit diskus degeneratiI. Namun, biaya pemeriksaan ini
tinggi dan penggunaan secara rutin untuk menilai nyeri punggung bagian bawah dan
cedera pada saat sekarang membuang uang. Penelitian lain seperti hitung darah lengkap,
termasuk laju endap darah dan pemindaian tulang sesuai petunjuk evaluasi klinis, atau
bila ada kebutuhan menyisihkan peradangan, inIeks, atau neoplastik sebagai penyebab
nyeri pung


PA1ANAN YANG DIALAMI

A. 1enis Pekerjaan
Bertambahnya absen karena akibat gejala punggung bagian bawah ditemukan pada
pekerjaan pada tuntutan Iisik tinggi, pekerjaan dengan sikap badan statis dalam waktu
lama, pekerjaan yang terutama membutuhkan posisi sikap badan bungkuk, dan pekerjaan
mendadak tak terduga menerima beban kerja Iisik berat. Pekerjaan tertentu terutama
perawat, supir truk, dan pekerja yang menangani material menunjukkan adanya tingkat
ketidakmampuan yang tinggi. Pekerja yang bekerja pada pemerintah dan bagian Iinansial
memiliki kemungkinan terkecil untuk terpengaruh. Mengangkat dan memutar adaloah
gerakan spesiIik yang peling berhubungan dengan nyeri punggung.
4
Faktor pekerjaan selain beban mekanis tulang belakang juga penting. Ketegangan Iisik
yang lebih ringan tapi membosankan dan repetitiI (pekerjaan ban berjalan) dan pekerjaan
yang melibatkan getaran (mengendarai kendaraan dan mengoperasikan alat bertenaga)
dikaitkan dengan meningkatnya pelaporan nyeri punggung. Suatu penelitaian terhadap
672 pekerja operator wanita penuh waktu pada tiga organisasi besar di Singapura
menunjukkan 54 pekerja mengalami punggung bawah dan 60 mengalami kekakuan
dan rasa tidak enak pada leher. Bertumpuknya pajanan pengangkatanm berulang-ulang,
pemakaian alat pelubang beton, gergaji rantai, atau mesin pengolah tanah berputar juga
dilaporkan berhubungan dengan angka kejadian nyeri punggung bawah lebih tinggi.
4

B. Kepuasan Kerja
Pekerja yang tidak puas dengan pekerjaan sekarang, tempat bekerja, atau situasi sosial
mempunyai angka kejadian nyeri bawah yang lebih tinggi. Pada penelitian prospektiI
longitudinal terhadap 3.020 pegawai pesawat terbang, Iaktor yang paling dapat
diramalkan yang dapat dari laporan mengenai masalah punggung adalah pemahaman
pekerjaan, reaksi psokososial tertentu. Pekerja yang menyatakan bahwa mereka 'nyaris
tidak pernah menikmati tugas pekerjaan mereka 2,5 kali lebih mungkin melaporkan
cedera punggung daripada pekrja yang 'hampir selalu menikmati tugas pekerjaan
mereka.
4


HUBUNGAN PA1ANAN DENGAN PENYAKIT


Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
tinggi badan dengan NPB. Tinggi badan sebagai Iaktor risiko NPB memang masih
diperdebatkan. Penelitian Palmer KT dan kawan-kawan (2002) memperlihatkan lebih
besarnya prevalensi NPB pada orang yang lebih tinggi.
Berat badan yang berlebih menyebabkan tonus otot abdomen lemah, sehingga pusat
gravitasi seseorang akan terdorong ke depan dan menyebabkan lordosis lumbalis akan
bertambah yang kemudian menimbulkan kelelahan pada otot paravertebra, hal ini merupakan
risiko terjadinya NPB.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Iakta bahwa 12,1 perawat memiliki masa
kerja ~5 tahun pada pekerja perusahaan kayu dan furniture, menunjukkan bahwa NPB
berhubungan dengan umur dan masa kerja yang lebih lama. Sikap tubuh dengan mengukur
sudut lengkung punggung perawat pada waktu membuka kunci kursi roda dalam proses
mengangkat dan memindahkan pasien dari kursi roda ke tempat tidur, ternyata berhubungan
bermakna dengan NPB. Hal ini berarti perawat yang melakukan pekerjaan dengan
membungkuk dengan sudut lengkung punggung ~45 mempunyai risiko 4,5 kali untuk
terjadinya NPB dibandingkan dengan perawat yang membungkuk dengan sudut lengkung
punggung 45.
8



BESAR ATAU 1UMLAH PA1ANAN
Patofisiologi
Bangunan peka nyeri mengandung reseptor nosiseptiI (nyeri) yang terangsang oleh
berbagai stimulus lokal (mekanis, termal, kimiawi). Stimulus ini akan direspon dengan
pengeluaran berbagai mediator inIlamasi yang akan menimbulkan persepsi nyeri. Mekanisme
nyeri merupakan proteksi yang bertujuan untuk mencegah pergerakan sehingga proses
penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk proteksi adalah spasme otot, yang
selanjutnya dapat menimbulkan iskemia.
6
Nyeri yang timbul dapat berupa nyeri inIlamasi pada jaringan dengan terlibatnya
berbagai mediator inIlamasi; atau nyeri neuropatik yang diakibatkan lesi primer pada sistem
saraI.
6
Iritasi neuropatik pada serabut saraI dapat menyebabkan 2 kemungkinan. Pertama,
penekanan hanya terjadi pada selaput pembungkus saraI yang kaya nosiseptor dari nervi

nevorum yang menimbulkan nyeri inIlamasi. Nyeri dirasakan sepanjang serabut saraI dan
bertambah dengan peregangan serabut saraI misalnya karena pergerakan. Kemungkinan
kedua, penekanan mengenai serabut saraI. Pada kondisi ini terjadi perubahan biomolekuler di
mana terjadi akumulasi saluran ion Na dan ion lainnya. Penumpukan ini menyebabkan
timbulnya mechano-hot spot yang sangat peka terhadap rangsang mekanikal dan termal. Hal
ini merupakan dasar pemeriksaan Laseque.
6

Gambaran Klinis
Timbul nyeri punggung bawah dapat terjadi mendadak atau perlahan-lahan. Awitan
mendadak dapat muncul setelah mengangkat atau menarik dan rasa nyeri dialami segera,
sering bertambah berat setelah beberapa jam. Pasien mengeluh tidak mampu meluruskan
punggung dan mungkin menyadari bahwa tubuhnya mering ke sati sisi. Nyeri lebih sering
muncul perlahan tanpa ada riwayat terjadi cidera. Nyeri punggung secara khas muncul saat
seseorang duduk atau berdiri selama beberapa waktu, saat ia mengangkat atau menarik, atau
saat mengambil posisi tertentu yang tidak lazim pada pekerjaannya, misalnya
memebungkukkan badan dan berjongkok saat mengelas. Gejala berkurang atau hilang dengan
istirahat. Sering ada riwayat masalah punggunng bagian bawah yang hilang timbul.
Nyeri punggung dapat berkaitan dengan penjalaran ke bawah pada satu atau dua
tungkai. Nyeri tersebut dapat merupakan nyeri alih yang berasal dari diskus intervertebralis
satu dari daerah datar sendi tulang belakang, atau 'radikular akibat terkenanya akar saraI
tulang belakang oleh diskus intervertebralis yang mengalami prolaps. Nyeri alih secara khas
menjalar dari bagian belakang paha ke bagian belakang lutut sedangkan gejala radikular
terasa pada daerah dermatom akar saraI yang terkena, menjalar melampaui lutut ke kaki dan
dapat terjadi bersamaan dengan parestesia pada daerah dermatom akar saraI yang terkena.
Penting untuk menanyakan pengendalian kandung kencing untuk menyingkirkan adanya
tekanan pada kauda ekuina akibat prolaps diskus sentralis yang masiI.

Saat terdapat keluhan nyeri di daerah spinal, pada pemeriksaan Iisik umumnya
diperiksa adanya spasme otot paraspinal, kemiringan batang tubuh, keterbatasan drajat, dan
arah gerakan tulang belakang, namun hal ini tidak spesiIik untuk diagnosis tertentu. Adanya
deIormitas tulang belakanng dicatat. Ketegangan akar saraI tulang belakang diperiksa dengan
tes mengangkat tungkai yang diliruskan. Lakukan pemeriksaan neurologis yang lengkap pada
tungkai bawah termasuk pemeriksaan sensorik daerah spinal. Sendi paha dan sakroiliaka rutin
diperiksa pada pemeriksaan tulang belakang. Sakrolitis dan osteoartritis paha, dan kondisi
patologis sendi lain sering disalah artikan sebagai nyeri tulang belakang. Pemeriksaan

gerakan tulang belakang dan tes mengangkat tungkai yang diluruskan dapat menyebabkan
ketidaknyamanan bagi pasien yang mengalami nyeri punggung akut. Bila pasien tidak bisa
bekerja sama dalam pemeriksaan lengkap tulang belakang pada tahap ini, maka ia
diperbolehkan istirahat dan pemeriksaan dilakukan kembali bila nyeri membaik.
4,7


PERAN FAKTOR INDIVIDU
A. Usia
Terdapat kenaikan angka kejadian dan prevalensi nyeri punggung dengan
bertambahnya usia yang tidak dipengnaruhi kondisi kerja. Namun, masalah punggung
mungkin secara tidak langsung berhubungan dengan proses menua vertebra lumbal.
Dalam suatu penelitian yang dilakukan di satu pabrik industri yang besar di Amerika
Serikat, menemukan resiko cedera punggung yang lebih tinggi secara bermakna pada
pegawai yang berusia kurang dari 25 tahun. Hal ini mencerminkan waktu dan
pengalaman yang diperlukan untuk mempelajari metode penggunaan punggung yang
aman dan eIisien. Walaupun angka cedera lebih tinggi pada kelompok usia muda, biaya
klaim cenderung lebih rendah yang mungkin mencerminkan potensi pegawai usia muda
untuk mengalami pemulihan gejala yang lebih cepat. Data mereka juga menunjukkan
bahwa kelompok yang rentan terhadap cedera punggung dengan biaya tinggi cenderung
pada kelompok usia 31-40, penemuan yang sama pada penelitian nyeri punggung bawah
lain.
4

B. 1enis Kelamin
Masalah punggung dilaporkan mengenai baik pria maupun wanita dalam
perbandingan yang sama banyak. Berdasarkan data kompensasi pekerja, pria dilaporkan
melakukan 76 dan 80 semua klaim kompensasi punggung. Secara keseluruhan,
wanita lebih sedikit mengalami cedera dibandingkan pria. Tapi wanita cenderung
mempunyai peluang yang bertambah untuk mengajukan klaim dan menjadi penagih
kompensasi yang mahal.
4

C. Status Antopometri
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri pinggang
lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat, sehingga
dapat memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.

Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban
anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban tubuh.
3

D. Abnormalitas Struktur
Ketidaknormalan struktur tulang belakang seperti pada skoliosis, lorodosis, maupun
kiIosis, merupakan Iaktor risiko untuk terjadinya NPB. Kondisi menjadikan beban yang
ditumpu oleh tulang belakang jatuh tidak pada tempatnya, sehingga memudahkan
timbulnya berbagai gangguan pada struktur tulang belakang.
3

E. Kebugaran 1asmani
Pekerja dengan kebugaran jasmani yang lemah mungkin beresiko mengalami cedera
punggung. Dalam sebuah penelitian prospektiI terhadap 1.652 pemadam kebakaran
melaporkan Irekuensi cedera yang dialami kelompok pekerja yang kurang bugar
sebanyak 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerja yang sebagian paling
bugar. Mereka mengambil kesimpulan bahwa kebugaran jasmani berperan dalam
mencegah terjadinya cedera punggung. Tinggi dan berat badan mungkin tidak penting,
walaupun ada laporan penelitian yang menyatakan bahwa bertambahnya tinggi badan
dan berat badan yang berlebihan membuat seseorang menjadi rentan pada gejala
punggung.
4

F. Faktor Psikososial
Berbagai penelitian menunjukkan pentingnya tingkat pendidikan sebagai Iaktor
prognostik nyeri punggung dan penyakit muskuloskeletal lain. Korelasi ini kuat hanya
untuk kaum pria. Penjelasan yang diberikan mengenai hal ioni adalah pria yang
memiliki tingkat pendidikan yang terbatas dan pekerjaan dengan bayaran yang rendah
lebih memungkinkan melakukan pekerjaan berat atau pekerjaan yang melibatkan getaran
atau beban lain terhadap tulang belakang.Iaktor psikologi lain yang ditemukan pada
pasien dengan nyeri punggung meliputi depresi, kecanduan alkohol, perceraian,
ketidakpuasan melakukan pekerjaan, ketidakmampuan membangun kontak emosi,
masalah keluarga, dan riwayat operasi punggung.
4




FAKTOR LAIN DI LUAR PEKER1AAN


Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok diketahui menimbulkan berbagai dampak pada kesehatan.
Hubungannya dengan kejadian NPB, diduga karena perokok memiliki kecenderungan untuk
mengalami gangguan pada peredaran darahnya, termasuk ke tulang belakang.
6


DIAGNOSIS OKUPASI : Nyeri Punggung Bawah Akibat Kerja


EPIDEMIOLOGI

Frekuensi NPB tertinggi terjadi dalam kurun usia 35-55 tahun, dan akan semakin
meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Sebuah penelitian epidemiologi di Kanada
melaporkan masalah punggung berada pada urutan tertinggi ke-tiga yang menjadi penyebab
kronis masalah kesehatan pada umur _65 tahun untuk wanita dan berada pada urutan ke-
empat tertinggi pada laki-laki untuk kategori yang sama.
Di Inggris dilaporkan prevalensi NBP pada populasi lebih kurang 16.500.000 per
tahun, yang melakukan konsultasi ke dokter umum lebih kurang antara 37 juta orang.
Penderita NPB yang berobat jalan berkisar 1.600.000 orang dan yang dirawat di #umah Sakit
lebih kurang 100.000 orang. Dari keseluruhan NPB, yang mendapat tindakan operasi
berjumlah 24.000 orang per tahunnya. Di Amerika Serikat dilaporkan 60-80 orang dewasa
pernah mengalami NPB, keadaan ini akan menimbulkan kerugian yang cukup banyak untuk
biaya pengobatan dan kehilangan jam kerja. Sekitar 5 dari populasi di Amerika Serikat
mengalami serangan NPB akut, dan menduduki urutan ke empat untuk diagnosis rawat inap.
Di rawat jalan unit penyakit saraI #SUP Dr. Sardjito, penderita NPB meliputi 5,5
dari jumlah pengunjung, sementara itu proporsi penderita NPB yang dirawat inap antara 8-
9. Persentase tersebut memang kecil, tetapi di praktek dokter sehari-hari keluhan NPB ini
sering dijumpai. Mereka yang meminta pertolongan ke rumah sakit pada umumnya sudah
menahun, tidak kunjung sembuh, atau rasa nyerinya tidak tertahan lagi.
8



PENATALAKSANAAN
A. Medika Mentosa
Penanggulangan LBP berprinsip pada kondisi akut atau kronik dan didasari kelainan
patologik sebagai penyebab dari nyeri itu sendiri.
Penanggulangan dalam keadaan akut dengan berbagai intervensi misalnya dengan
bedrest, ortoses, pemberian NSAID, otot relaksan, serta terapi manual tidak terlalu
berperan, namun penanganan yang dibarengi dengan biopsikososial akan memberikan
dampak yang jaih lebih eIesien.
Karena LBP bisa menyangkut nyeri neuropatik atau nosiseptiI, maka obat-obatan
kelompok anti nyeri yang dapat digunakan adalah anti konvulasan (gabapentin, etodolak,
dikloIenak, dll) atau analgesik parIasetamol, asam meIenamat, dll. Nyeri neuropatik bisa
berkombinasi dengan nyeri inIlamasi yang dalam penanggulangannya juaga dengan
menggunakan analgesik. EIektivitas dari obat-obat ini dibuktikan melalui hasil penelitian
dalam penanganan nyeri akut maupun kronis.
Seperti disebut di atas, permasalahan LBP juga menyangkut masalah biopsikososial,
maka bagian dari penanggulangannnya juga harus diarahkan pada dasar pemasalahan
termasuk pengagunaan anti depresan.
6,7

B. Non Medika Mentosa
6,7

Dalam keadaan kronik maka penanganannya mengarah pada penyesuaian perangkat
kerja sepihak (ergonomik) maupun terhadap penderita sendiri. Tujuan utama adalah
supaya secepat mungkin penderita bisa kembali bekerja.
Pekerjaan mengangkat dan mengangkut jika tidak dilakukan dengan benar dan hati-
hati dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja. Oleh
sebab itu maka teknik mengangkat dan mengangkut yang benar serta alat mengangkat
dan mengangkut yang ergonomis sangat diperlukan untuk mewujudkan eIektivitas dan
eIisiensi kerja. Kegiatan mengangkat dan mengangkut dipengaruhi oleh beberapa hal
yaitu
1. Beban yang diperkenankan, jarak angkut dan intensitas pembebanan.
2. Kondisi lingkungan kerja yaitu keadaan medan yang licin, kasar, naik turun, dll.
3. Ketrampilan bekerja.
4. Peralatan kerja.
5. Ukuran beban yang akan diangkut.

6. Metode mengangkut yang benar.


Disamping itu, jenis kelamin seseorang juga dapat mempengaruhi kegiatan
mengangkat dan mengangkut. Cara mengangkat dan mengangkut yang baik harus
memenuhi 2 prinsip kinetis, yaitu
1. Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang kuat dan sebanyak mungkin otot
tulang yang lemah dibebaskan dari pembebanan.
2. Momentum gerak badan dimanIaatkan untuk mengawali gerakan.
Untuk menerapkan kedua prinsip kinetis itu setiap kegiatan mengangkat dan
mengangkut harus dilakukan sebagai berikut
1. Pegangan harus tepat. Memegang diusahakan dengan tangan penuh dan memegang
dengan hanya beberapa jari yang dapat menyebabkan ketegangan statis lokal pada jari
tersebut harus dihindarkan.
2. Lengan harus sedekat-dekatnya pada badan dan dalam posisi lurus. Fleksi pada lengan
untuk mengangkut dan mengangkat menyebabkan ketegangan otot statis yang
melelahkan.
3. Punggung harus diluruskan.
4. Dagu ditarik segera setelah kepala bisa ditegakkan lagi seperti pada permulaan
gerakan. Dengan posisi kepala dan dagu yang tepat, seluruh tulang belakang
diluruskan.
5. Posisi kaki dibuat sedemikian rupa sehingga mampu untuk mengimbangi momentum
yang terjadi dalam posisi mengangkat. Satu kaki ditempatkan ke arah jurusan gerakan
yang dituju, kaki kedua ditempatkan sedemikian rupa sehingga membantu mendorong
tubuh pada gerakan pertama.
6. Berat badan dimanIaatkan untuk menarik dan mendorong, serta gaya untuk gerakan
dan perimbangan.
7. Beban diusahakan berada sedekat mungkin terhadap garis vertikal yang melalui pusat
gravitasi tubuh.
Selain hal diatas dalam kegiatan mengangkat dan mengangkut juga harus
diperhatikan ketentuan berikut ini
1. Semua barang/benda yang menghalangi pandangan mata sebaiknya disingkirkan
terlebih dahulu, sebelum pekerjaan mengangkat dan mengangkut dilakukan.
2. Tinggi maksimum tempat pemegang dari lantai tidak lebih dari 35 cm.

3. Jika suatu beban harus diangkut dari permukaan lantai dianjurkan agar menggunakan
agar menggunakan alat mekanis (katrol).
4. Beban yang akan diangkut harus berada sedekat mungkin dengan tubuh.
5. Punggung harus lurus agar bahaya kerusakan terhadap diskus dapat dihindarkan.
6. Mula-mula lutut harus bengkok dan tubuh harus berada pada sikap dengan punggung
lurus.

Gambar 1. Cara mengangkat beban yang salah
3


Gambar 2. Cara mengangkat beban yang benar
3


C. Tindakan Operatif
Terapi bedah berguna untuk menghilangkan penekanan dan iritasi pada saraI sehingga
nyeri dan gangguan Iungsi akan hilang. Tindakan operatiI pada HNP harus berdasarkan
alasan yang kuat yaitu berupa
7
O DeIisit neurologik memburuk.
O Gangguan otonom (miksi, deIekasi, seksual).
O Paresis otot tungkai bawah.


PENCEGAHAN

Upaya pencegahan nyeri punggung bawah belum berhasil sepenuhnya. Strategi
pencegahan yang umumnya digunakan dalam kelainan punggung akibat kerja meliputi seleksi
pegawai baru yang tepat, pelatihan teknik penanganan secara manual dan modiIikasi
ergonomi pada tempat kerja dan melakukan tugas.
4
Pelamar pekerjaan disaring dengan harapan untuk dapat mengidentiIikasi dan
menghindari pekerja yang mungkin mempunyai resiko mangalami nyeri punggung bawah.
Prosedur yang biasanya dipakai ialah riwayat sebeluam bekerja dan pemeriksaan Iisik.
4

Tes kekuatan sebelum diterima kerja digunakan dengan harapan mengurangi resiko
cedera punggung dengan mencocokan kekuatan pekerja terhadap tuntutan pekerjaan.
4

Pendidikan dan latihan metode pengangkatan telah dipakai untuk mengurangi
kejadian nyeri punggung dan cedera. Pengetahuan ergonomi penting untuk mengurangi kadar
ketegangan tulang belakang sehingga suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan aman tanpa
memicu atau menyebabkan gejala punggung. Hal ini juga memungkinkan pekerjaan
diteruskan atau langsung kembali bekerja bagi mereka yang mengalami gejala punggung.
4
Bila mungkin, tempat kerja harus diubah untuk menyesuaikan kemampuan para
pekerja. Merubah tinggi bangku kerja, mengurangi berat dan ukuran benda, serta merubah
posisi dan mekanisme mesin atau alat adalah beberapa tindakan untuk menghasilkan tempat
kerja yang lebih 'ramah punggung. Pendekatan lain yang mungkin dilakukan meliputi
eliminasi tugas penanganan secara manual., pemakaian alat pembantu mekanis, dan
reorganisasi jadwal kerja untuk menjamin pembagian kegiatan berbahaya yang lebih merata
di antara para pegawai.
4


PROGNOSIS
Kelainan nyeri punggung bawah miogenik ini prognosisnya baik, umumnya sembuh
dalam beberapa minggu jika dilakukan tindakan terapi secara dini. Strain otot membaik
dengan mengendalikan aktiIitas Iisik. Tirah Baring sedikitnya 2 hari menunjukkan eIektiIitas
dalam mengurangi nyeri punggung. Ketika nyeri berkurang, pasien dianjurkan untuk
melakukan aktiIitas Iisik ringan, dan aktiIitas mulai ditingkatkan setelah beberapa hari selama
nyeri tidak bertambah. Sedangkan pada HNP Sebagian besar pasien akan membaik dalam 6
minggu dengan terapikonservatiI. Sebagian kecil dapat berkembang menjadi kronik meskipun
sudah diterapi. Pada pasin yang dioperasi 90 membaik terutama nyeri
tungkai,kemungkinan terjadinya kekambuhan adalah 5.
6




















KESIMPULAN
Nyeri punggung bawah merupakan keluhan umum yang dialami hampir semuya
orang, dan merupakan salah satu penyebab utama mengkir kerja dan peningkatan biaya
kesehatan. Nyeri pinggang bawah adalah suatu gejala berupa rasa nyeri di daerah lumbosakral
dak sakroiliaka yang dapat disebabkan oleh berbagai hal, dan kadang-kadang disertai juga
dengan penjalaran nyeri tungkai dan kaki.
Diagnosisn yang pasti sering kali tidak mudah karena kurangnya pendekatan
diagnostik dan penyebab nyeri punggung bawah yang bermacam-macam, serta melinatkan
banyak disiplin ilmu.



















DAFTAR PUSTAKA
1. Barry S, Levy, dkk. Occupational and Enviromental Health. Edisi 5. USA 2000. hal
505-509
2. Suwando Sri, dkk. Kumpulan Naskah Ilmiah Penanganan Low Back Pain. Jakarta
Dwi Windu #.S. Pusat Pertamina; 1987. hal 11-37
3. Nyeri Punggung Bawah. Diunduh dari
http//etd.eprints.ums.ac.id/1777/2/J100050040.pdI. 26 Oktober 2011
4. Jeyaratnam, J. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. Jakarta EGC; 2010. hal 206-215
5. Jonathan Gleadle. At a Galance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta Erlangga;
2003. hal 76-77
6. Nyeri Punggung Bawah. Diunduh dari
http//i-lib.ugm.ac.id/jurnal/detail.php?dataId4707. 26 Oktober 2011
7. Wirawan. Diagnosis dan Penatalaksanaan Nyeri Pinggang. Dalam Socnarto.
Simposium #ematik Pengenalan dan Pengelolaan Artropati SeronegatiI, Bagian
Penyakit Dalam FK Undip, Semarang, 1998.
8. Hubungan Pajanan dengan NBP. Diunduh dari
indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/.../630/622. 27 Oktober 2011