Anda di halaman 1dari 3

Kasus malpraktek psikologi dan pelanggaran kode etik psikologi indonesia

Diposkan oleh Bambang Supriadi di 7/14/2011 09:26:00 PM



Kasus
Penyimpangan data tes diagnostik, yaitu bila terjadi manipulasi data dengan cara merubah sebagian atau
seluruhnya data hasil pengetesan, sehingga hasil akhir harus cocok dengan permintaan klien/ penerima
jasa. Dengan kata lain bahwa pelaksanaan tes hanya Iormalitas belaka karena hasil akhir sudah dipesan/
dibuat sesuai kehendak/ kebutuhan klien.
Pasal (Ayat) yang Dilanggar
OPasal 2 Tanggung Jawab
Dalam melaksanakan kegiatannya, Ilmuan Psikologi dan Psikolog mengutamakan kompetensi,
obyektivitas, kejujuran, menjunjung tinggi integritas dan norma-norma keahlian serta menyadari
konsekuensi tindakannya.
OPasal 4 a Perilaku dan Citra ProIesi
Ilmuan Psikologi dan Psikolog harus menyadari bahwa dalam melaksanakan keahliannya wajib
mempertimbangkan dan mengindahkan etika dan nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat.
OPasal 8 d Sikap ProIessional dan Perlakuan terhadap Pemakai Jasa atau Klien
Ilmuan Psikologi dan Psikolog wjib untuk: Mengutamakan ketidakberpihakan dalam kepentingan
pemakai jasa atau klien dan pihak-pihak terkait dalam pelayanan tersebut.
OPasal 10 Intepretasi Hasil Pemeriksaan
Intepretasi hasil pemeriksaan psikologik tentang klien atau pemakai jasa psikologi hanya boleh
dilakukan oleh Psikolog berdasar kompetensi dan kewenangan
OPasal 14 a Pernyataan
Dalam memberika pernyataan dan keterangan/atau penjelasan ilmiah kepada masyarakat umum
melalui berbagai jalur media baik lisan maupun tertulis, ilmuan psikologi dan Psikolog bersikap
bijaksana, jujur, teliti, hati-hati, lebih mendasarkan pada kepentingan umum daripada kepentingan
pribadi atau golongan, dengan berpedoman pada dasar ilmiah dan disesuaikan dengan bidang
keahliannya/ kewenangan selama tidak bertentangan dengan kode etik psikologi. Pernyataan yang
diberikan oleh ilmuan Psikologi dan Psikolog mencerminkan keilmuannya, sehingga masyarakat
dapat menerima dan memahami secara benar.
Pembahasan
OMelanggar pasal 2; karena dengan memanipulasi data berarti telah bertindak tidak jujur dan tidak
objektiI serta mengesampingkan norma-norma keahlian.
OMelangar pasal 4/ a; Seorang ilmuan psikologi atau psikolog yang berbuat tidak jujur dapat
mempengruhi citra buruk terhadap ilmuan psikologi and psikolog secara umum.
OMelanggar pasal 8/ d; Dengan mematuhi pesanan hasil psikologi, berarti menunjukkan keberpihakan
ilmuan psikologi atau psikolog, halam hali ini, berpihak pada si pemesan hasil diagnostik.
OMelanggar pasal 10; karena seharusnya intepretasi ditentukan oleh psikolog yang kompeten dan
berwenang bukan berdasar pesanan pihak tertentu.
OMelangar pasal 14; Jika terjadi manipulasi data, yaitu pada kasus tersebut, agar sesuai dengan
permintaan klien. Maka dalam memberikan pernyataan tidak bersikap bijaksana dan jujur.


sumber : http://www.analisadaily.com


ontoh Kasus Malpraktek Psikologi Indonesia
Diposkan oleh Bambang Supriadi di 7/14/2011 09:00:00 PM

Di Indonesia, Himpunan Psikologi Indonesia telah membuat kode etik tersendiri yang menjadi
acuan bagi para insan psikologi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai psikolog.
Kode etik tersebut selayaknya dijunjung tinggi dan menjadi landasan dalam semua aktifitas yang
berkaitan dengan psikologi di Indonesia. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak hal yang terkait
dengan aktifitas psikologi yang tidak sesuai dengan kode etik yang ada. Semua itu bisa dinyatakan
sebagai pelanggaran terhadap kode etik psikologi.
Pelanggaran terhadap kode etik sangat merugikan bagi banyak pihak. Pihak psikolog akan dirugikan
terkait dengan profesionalitas kerjanya, sedangkan klien atau pengguna jasa psikolog akan dirugikan
juga karena pelayanan yang diberikan tentu tidak akan maskimal sehingga haknya untuk selalu
mendapat pelayanan yang terbaik akan terganggu.
Sebagai contoh dari pelanggaran kode etik tersebut adalah fenomena yang terjadi pada dunia
pendidikan. Dalam dunia pendidikan kita mengenal adanya bimbingan konseling atau yang sering
disingkat sebagai BK. Tugas BK adalah memberikan layanan bagi para siswa baik itu siswa SD, SMP,
ataupun SMA terkait degan permasalahan yang dihadapi mereka dengan cara konseling.
Keterampilan konseling merupakan salah satu keahlian yang dimiliki oleh seorang psikolog, akan
tetapi dalam kenyataannya banyak sekali guru-guru BK yang menjadi psikolog dadakan apabila
siswanya menghadapi permasalahan. Mereka memberikan sesi konseling dengan pengetahuan
seadanya yang mereka miliki. Lebih dari itu, terkadang guru bimbingan konseling yang bukan berasal
dari profesi psikologi bahkan berani memberikan tes psikologi pada siswa bimbingannya. Padahal
seharusnya yang berwenang untuk memberikan tes psikologi pada klien hanyalah psikolog saja. Ini
merupakan pelanggaran serius yang banyak terjadi di Indonesia.
Penggunaan alat alat tes psikologi ini akan sangat merugikan para psikolog terkait dengan profesi
psikolog. Hal ini bisa terjadi karena tentu penggunaan alat tes psikologi yang tidak sesuai dengan
prosedur dan tata cara yng ada akan menghasilkan hasil interpretasi tes yang salah. Hasil interpretasi
yang salah akan menyebabkan klien menjadi dirugikan. Selain itu, kesalahan interpretasi juga dapat
menyebabkan kepercayaan klien terhadap alat tes menjadi berkurang.
Pelanggaran pemakaian alat tes oleh orang yang tidak berwenang ini sebenarnya adalah rangkaian
dari pelanggaran-pelanggaran kode etik yang lain juga. Alat tes psikologi bisa dipergunakan oleh
orang yang tidak berwenang tentu karena adanya pihak yang tidak bertanggung jawab yang
menyebarluaskan alat tes psikologi. Tindakan ini juga merupakan pelanggaran berat terhadap kode
etik psikologi. Bisanya, pihak yang menyebarluaskan alat tes ini adalah orang psikologi sendiri, karena
memang merekalah yang pada awalnya memiliki akses terhadap alat-alat tes tersebut. Seharusnya,
para insan psikologi dapat benar-benar menjaga alat-alat tes psikologi dengan baik dengan tujuan
agar tidak bocor dan dipergunakan dengan bebas oleh orang-orang yang tidak berkompeten di bidang
itu. Hal ini sesuai dengan Pasal 16b tentang Penggunaan dan Penguasaan Sarana Pengukuran
Psikologik, yang berbunyi "Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib menjaga agar sarana pengukuran
agar tidak dipergunakan oleh orang-orang yang tidak berwenang dan yang tidak berkompeten.
Selain itu, pelanggaran yang telah disebutkan sebelumnya terkait dengan pemakaian alat tes oleh
orang yang tidak berkompeten di bidangnya bisa juga disebabkan oleh pembelajaran yang terlalu dini
oleh suatu institusi pendidikan psikologi. Seharusnya, kemampuan untuk mengoperasikan atau
mengadministrasikan alat tes diajarkan pada taraf jenjang magister profesi psikologi, bukan pada
strata S1. Hal ini justru yang membuat kemungkinan alat tes psikologi digunakan oleh orang yang
sebenarnya belum boleh untuk mengadministrasikan dan membuat interpretasi terhadap alat tes
psikologi.
Lulusan S1 psikologi tentunya tidak semuanya akan melanjutkan ke magister profesi. Sedangkan
kompetensi yang harus dimilik oleh administrator alat tes adalah seseorang yang telah memiliki lisensi
sebagai seorang psikolog. Apabila lulusan S1 telah diajarkan administrasi alat tes, maka tidak
mustahil apabila dalam dunia kerjanya mereka memanfaatkan pengetahuan yang telah dimiliki terkait
dengan penggunaan alat tes. Hal seperti inilah yang banyak terjadi, terutama di daerah luar Jawa.
Pelanggaran yang lebih parah dari yang telah disebutkan adalah penggunaan alat tes psikologi oleh
orang yang sama sekali tidak memiliki dasar dalam ilmu psikologi, baik itu S1, ataupun profesi
psikolog.
sumber : http://www.analisadaily.com