PENGERTIAN urbanisasi sudah umum diketahui oleh mereka yang banyak bergelut di bidang kependudukan, khususnya mobilitas penduduk

. Namun demikian, mereka yang awam dengan ilmu kependudukan sering kali kurang tepat dalam memakai istilah tersebut. Dalam pengertian yang sesungguhnya, urbanisasi berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Sedangkan mereka yang awam dengan ilmu kependudukan seringkali mendefinisikan urbanisasi sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota. Padahal perpindahan penduduk dari desa ke kota hanya salah satu penyebab proses urbanisasi, di samping penyebabpenyebab lain seperti pertumbuhan alamiah penduduk perkotaan, perluasan wilayah, maupun perubahan status wilayah dari daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan, dan semacamnya itu. Proses urbanisasi sangat terkait mobilitas maupun migrasi penduduk. Ada sedikit perbedaan antara mobilitas dan migrasi penduduk. Mobilitas penduduk didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II, namun tidak berniat menetap di daerah yang baru. Sedangkan migrasi didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II dan sekaligus berniat menetap di daerah yang baru tersebut. Di dalam pelaksanaan perhitungannya, data yang ada sampai saat ini baru merupakan data migrasi penduduk dan bukan data mobilitas penduduk. Di samping itu, data migrasi pun baru mencakup batasan daerah tingkat I. Dengan demikian, seseorang dikategorikan sebagai migran seumur hidup jika propinsi tempat tinggal orang tersebut sekarang ini, berbeda dengan propinsi dimana yang bersangkutan dilahirkan. Selain itu seseorang dikategorikan sebagai migran risen jika propinsi tempat tinggal sekarang berbeda dengan propinsi tempat tinggalnya lima tahun yang lalu. Oleh karena itu, pemerintah di samping mengembangkan kebijaksanaan pengarahan persebaran dan mobilitas penduduk, termasuk di dalamnya urbanisasi, juga berkewajiban menyempurnakan sistem pencatatan mobilitas dan migrasi penduduk agar kondisi data yang ada lebih sesuai kondisi di lapangan. Terutama bila diperlukan untuk perumusan suatu kebijakan kependudukan. Perkembangan urbanisasi Di masa mendatang, para ahli kependudukan memperkirakan bahwa proses urbanisasi di Indonesia akan lebih banyak disebabkan migrasi desa-kota. Perkiraan ini didasarkan pada makin rendahnya pertumbuhan alamiah penduduk di daerah perkotaan, relatif lambannya perubahan status dari daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan, serta relatif kuatnya kebijaksanaan ekonomi dan pembangunan yang “urban bias”, sehingga memperbesar daya tarik daerah perkotaan bagi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan . Itulah sebabnya di masa mendatang, isu urbanisasi dan mobilitas atau migrasi penduduk menjadi sulit untuk

09 persen pada tahun 1995. Sebaliknya.7 juta jiwa.3 juta jiwa pada periode 1990-1995. ukuran keluarga menjadi kecil.8 juta jiwa. antara lain biaya distribusi barang dan jasa. maka angka tersebut meningkat menjadi 5. Sebagaimana diketahui peningkatan jumlah penduduk akan berkorelasi positif dengan meningkatnya urbanisasi di suatu wilayah.91 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan. Karena dengan demikian mereka dapat menghemat berbagai biaya.91 persen yang berarti bahwa 35.4 persen pada tahun 1980 yang lalu. Gambaran pertumbuhan penduduk daerah perkotaan itu dapat dicermati dari Tabel. jumlah penduduk Indonesia yang pernah melakukan migrasi adalah 11. isu kelahiran (fertilitas) dan kematian (mortalitas) masih mendominasi kebijaksanaan kependudukan. Tingkat ini telah meningkat dari sekitar 22. Ada kecenderungan bahwa aktivitas perekonomian akan terpusat pada suatu area yang memiliki tingkat konsentrasi penduduk yang cukup tinggi.4 juta jiwa. sehingga menimbulkan apa yang dikenal dengan nama daerah perkotaan.2 juta jiwa pada tahun 1990 dan sedikit menurun menjadi 4. Jika pada tahun 1980 migran di Indonesia berjumlah 3. maka keinginan untuk melakukan mobilitas bagi sebagian besar penduduk akan semakin meningkat dan terutama yang menuju daerah perkotaan. khususnya pembangunan ekonomi yang dikembangkan oleh pemerintah. penduduk akan cenderung datang kepada pusat kegiatan ekonomi karena di tempat itulah mereka . Sebaliknya proporsi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan menurun dari 77. Meningkatnya proses urbanisasi tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan pembangunan perkotaan. Hubungan positif antara konsentrasi penduduk dengan aktivitas kegiatan ekonomi ini akan menyebabkan makin membesarnya area konsentrasi penduduk. Jika di masa lalu dan dewasa ini. di masa mendatang manakala tingkat kelahiran dan kematian sudah menjadi rendah.6 persen pada tahun 1980 menjadi 64. Di sini dapat dilihat adanya keterkaitan timbal balik antara aktivitas ekonomi dengan konsentrasi penduduk. Lebih lanjut. Para pelaku ekonomi cenderung melakukan investasi di daerah yang telah memiliki konsentrasi penduduk yang tinggi serta memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. dan sebaliknya kesejahteraan keluarga dan masyarakat meningkat. Secara kumulatif diketahui bahwa sampai tahun 1980.dipisahkan dan akan menjadi isu yang penting dalam kebijaksanaan kependudukan di Indonesia. data survei penduduk antarsensus (Supas) 1995 memperlihatkan bahwa tingkat urbanisasi di Indonesia pada tahun 1995 adalah 35. sedangkan pada tahun 1990 angka tersebut meningkat menjadi 17.

yang kurang lebih diartikan sebagai kekuatan daya tarik kota terbesar pada suatu negara atau wilayah terhadap kota-kota di sekitarnya. yaitu dengan melakukan beberapa terobosan yang bersifat “non-ekonomi”. Makin besar tingkat primacy menunjukkan keadaan yang kurang baik dalam proses urbanisasi. mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kedua. urbanisasi merupakan suatu proses perubahan yang wajar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk atau masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa meningkatnya penduduk daerah perkotaan akan berkaitan erat dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara. Kebijaksanaan urbanisasi di Indonesia Ada dua kelompok besar kebijaksanaan pengarahan urbanisasi di Indonesia yang saat ini sedang dikembangkan. mengapa proses urbanisasi tetap harus dikendalikan atau diarahkan? Ada dua alasan mengapa urbanisasi perlu diarahkan. Jika urbanisasi merupakan suatu proses perubahan yang wajar. Upaya tersebut sekarang ini dikenal dengan istilah “urbanisasi pedesaan “. Dengan demikian. Ukuran terkendali atau tidaknya proses urbanisasi biasanya dikenal dengan ukuran primacy rate. Untuk itu perlu didorong pertumbuhan daerah pedesaan agar memiliki ciri-ciri perkotaan. Bahkan perubahan tingkat urbanisasi tersebut diharapkan memacu tingkat pertumbuhan ekonomi. terjadinya tingkat urbanisasi yang berlebihan. dan sebaliknya. Pertama. Tingkat urbanisasinya masih sekitar 35 persen sampai dengan 40 persen saja. Negara-negara industri pada umumnya memiliki tingkat urbanisasi di atas 75 persen. Dengan demikian.akan lebih mudah memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan . juga memiliki tingkat urbanisasi yang lebih tinggi. Bandingkan dengan negara berkembang yang sekarang ini. Sayangnya data mutahir mengenai primacy rate di Indonesia tidak tersedia. pemerintah berkeinginan untuk sesegera mungkin meningkatkan proporsi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Pertama. penduduk . atau dikenal dengan istilah “daerah penyangga pusat pertumbuhan”. mengembangkan daerah-daerah pedesaan agar memiliki ciri-ciri sebagai daerah perkotaan. dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada penduduk itu sendiri. Kedua. namun tetap “dikenal” pada nuansa pedesaan. Data memperlihatkan bahwa suatu negara atau daerah dengan tingkat perekonomian yang lebih tinggi. Kelompok kebijaksanaan pertama merupakan upaya untuk “mempercepat” tingkat urbanisasi tanpa menunggu pertumbuhan ekonomi. atau tidak terkendali.

Konsep “urbanisasi pedesaan” mengacu pada kondisi di mana suatu daerah secara fisik masih memiliki ciri-ciri pedesaan yang “kental”. namun membangun penduduk pedesaan sehingga memiliki ciri-ciri modern penduduk perkotaan. Sudah barang tentu bersamaan dengan pembangunan penduduk pedesaan tersebut diperlukan sistem perekonomian yang cocok dengan potensi daerah pedesaan itu sendiri. daerah pedesaan tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai daerah perkotaan.daerah tersebut dapat dikategorikan sebagai “orang kota” walaupun sebenarnya mereka masih tinggal di suatu daerah yang memiliki nuansa pedesaan . penetapan suku bunga pinjaman dan pengaturan perpajakan bagi peningkatan pendapatan kota. yaitu: (a) kebijaksanaan ekonomi makro yang ditujukan terutama untuk menciptakan lingkungan atau iklim yang merangsang bagi pengembangan kegiatan ekonomi perkotaan. Pada kelompok ini. maka tingkat urbanisasi di Indonesia dapat dipercepat perkembangannya tanpa merusak suasana tradisional yang ada di daerah pedesaan dan tanpa menunggu pertumbuhan ekonomi yang sedemikian tinggi. memiliki aspirasi yang tinggi terhadap dunia pendidikan. Jika konsep urbanisasi pedesaan seperti di atas dapat dikembangkan dan disepakati. sehingga daerah tersebut dapat dikategorikan sebagai daerah perkotaan. seperti misalnya membangun fasilitas perkotaan. dan sebagainya. Beberapa cara yang sedang dikembangkan untuk mempercepat tingkat urbanisasi tersebut antara lain dengan “memodernisasi” daerah pedesaan sehingga memiliki sifat-sifat daerah perkotaan. namun karena “ciri penduduk” yang hidup didalamnya sudah menampakkan sikap maju dan mandiri. Namun. Bahkan sebaliknya. keseimbangan. Hal ini antara lain meliputi penyempurnaan peraturan dan prosedur investasi. Dengan demikian. dan keselarasan antara tuntutan pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan ekosistem serta lingkungan alam. apa yang harus dikembangkan adalah membangun penduduk pedesaan agar memiliki ciri-ciri penduduk perkotaan dalam arti positif tanpa harus merubah suasana fisik pedesaan secara berlebihan. kebijaksanaan pengembangan perkotaan diklasifikasikan ke dalam tiga bagian. Pengertian “modernisasi” daerah pedesaan tidak semata-mata dalam arti fisik. seperti antara lain mata pencaharian lebih besar di nonpertanian. sudah mengenal dan memanfaatkan lembaga keuangan. Dalam hubungan inilah lahir konsep “urbanisasi pedesaan”. mereka dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi dengan tetap mempertahankan aspek keserasian. . dengan munculnya “para penduduk” di daerah “pedesaan” yang “bersuasana perkotaan” tersebut. Kelompok kebijaksanaan kedua merupakan upaya untuk mengembangkan kota-kota kecil dan sedang yang selama ini telah ada untuk mengimbangi pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan.

akan terbentuk suatu hierarki kota besar. Dengan demikian. Guru Besar Fakultas Ekonomi. sasaran untuk mencapai tingkat urbanisasi sebesar 75 persen pada akhir tahun 2025. Namun demikian. Pada saat ini pemerintah telah mengembangkan dua kelompok kebijaksanaan untuk mengarahkan proses urbanisasi. (* Prijono Tjiptoherijanto. dan dibarengi dengan makin meratanya persebaran daerah perkotaan. dan kecil yang baik sehingga tidak terjadi “dominasi” salah satu kota terhadap kota-kota lainnya. Dengan makin terpadunya sistem-sistem perkotaan yang ada di Indonesia. (iii) berwawasan lingkungan. Universitas Indonesia. proses urbanisasi tersebut perlu diarahkan agar tidak terjadi tingkat primacy yang berlebihan. Karena.(b) penyebaran secara spesial pola pengembangan kota yang mendukung pola kebijaksanaan pembangunan nasional menuju pertumbuhan ekonomi yang seimbang. dan (iv) peningkatan peran masyarakat dan swasta. (ii) terpadu. proses urbanisasi tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. dan (c) penanganan masalah kinerja masing-masing kota. serasi dan berkelanjutan. yang secara operasional dituangkan dalam kebijaksanaan tata ruang kota/ perkotaan. . yaitu mengembangkan apa yang dikenal dengan istilah “urbanisasi pedesaan” dan juga mengembangkan “pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru”. Diharapkan dengan makin bertumbuhnya daerah pedesaan dan juga menyebarnya daerah-daerah pertumbuhan ekonomi. Urbanisasi merupakan proses yang wajar dan tidak perlu dicegah pertumbuhannya. menengah. kebijaksanaan pengembangan perkotaan di Indonesia dewasa ini dilandasi pada konsepsi yang meliputi: (i) pengaturan mengenai sistem kota-kota. akan dapat terwujud.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful