Anda di halaman 1dari 12

KORUPSI MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN

EKONOMI INDONESIA

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila dan Kewargaan

Nama : ida farida.
Kelas : X l


























SMA COKROAMINOTO SUKARESMI







KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan karunia dan nikmat bagi umat-
Nya. Alhamdulilaah Makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan
Pancasila dan Kewargaan dengan Judul 'KORUPSI MEMPENGARUHI
PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA, karena terbatasnya ilmu yang
dimiliki oleh penulis maka Makalah ini jauh dari sempurna untuk itu saran dan kritik
yang membangun sangat penulis harapkan.
Tidak lupa penulis sampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada
semua pihak yang telah turut membantu dalam penyusunan Makalah ini. Semoga
bantuan dan bimbingan yang telh diberikan kepada kami mendapat balasan yang
setimpal dari Allah SWT. Amin
Akhirnya penulis berharap semoga Makalah ini bermanIaat khususnya bagi
penulis dan umumnya bagi pembaca.

Surabaya, april 2010

Penulis




















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A Latar Belakang......................................................................... 1
B Permasalahan .......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Makna Tindak Pidana Korupsi ................................................. 2
B. Korupsi dan Politik Hukum Ekonomi ...................................... 3
C. Korupsi dan Desentralisasi ....................................................... 5
D. Memberantas Korupsi Demi Pembangunan Ekonomi............... 7
BAB III KESIMPULAN ..................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 10




























BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peraturan Perundang Undangan merupakan wujud dari politik hukum
institusi Negara dirancang dan disahkan senabagai Undang-Undang
pemberantasan tindak pidana korupsi. Tebah pilih. Begitu kira-kira pendapat
beberapa praktisi dan pengamat hukum terdapat gerak pemerintah dalam
menangani kasus korupsi Akhir-akhir ini.
Para pejabat Negara menjadikan kasus korupsi dijadikan senjata ampuh
dalam pidatonya, bicara seolah ia bersih, anti korupsi. Masyarakat melalui LSM
dan Ormas pun tidak mau kalah, mengambil manIaat dari kampanye anti korupsi
di Indonesia.
Lemahnya hukum di Indonesia dijadikan senjata ampuh para koruptor
untuk menghindar dari tuntutan. Kasus korupsi mantan Presiden Suharto, contoh
kasus korupsi yang yang tak kunjung memperoleh titik penyelesaian. Padahal
penyelesaian kasus-kasus korupsi Soeharto dan kroninya, dana BLBI dan kasus-
kasus korupsi besar lainnya akan mampu mentimulus program pembangunan
ekonomi di Indonesia.

B. Permasalahan
1. Bagaimana korupsi mempengaruhi pembangunan ekonomi di Indonesia?
2. Strategi apa yang dapat dilakukan untuk meminimalisir praktek korupsi
tersebut?
3. Bagaimana Mutiplier eIIec bagu eIesiensi dan eIektiIitas pembangunan
ekonomi di Indonesia?












BAB II
PEMBAHASAN


A. Makna Tindak Pidana Korupsi
Jeremy Pope dalam bukunya ConIronting: The Elemen oI National
Integrity System, menjelaskan bahwa korupsi merupakan permasalahan global
yang harus menjadi keprihatianan semua orang. Praktik korupsi biasanya sejajar
dengan konsep pemerintahan totaliter, dictator yang meletakakan kekuasaan di
tangan segelintir orang. Namun, tidak berarti dalam system social politik yang
demokratis tidak ada korupsi bahkan bisa lebih parah berarti dalam system social
politiknya teleransi bahkan memberikan ruang terhadap praktek korupsi tumbuh
subur. Korupsi juga tindakan pelanggran hak asasi manusia, lanjut Pope.
Menurut Dleter Frish, mantan Direktur Jendral Pembangunan Eropa.
Korupsi merupakan tindakan memperbesar biaya untuk barang dan jasa,
memperbesar utang suatu Negara, dan menurunkan standar kualitas suatu barang.
Biasanya proyek pembangunan dipilih karena alas an keterlibatan modal besar,
bukan pada urgensi kepentingan public, korupsi selalu menyebabkan situasi social
ekonomi tak pasti (uncertenly). Ketidakpastian ini tidak asimetris inIormasi dalam
kegiatan ekonomi dan bisnis. Sector swasta sering melihat ini sebagai resiko
terbesar yang harus ditanggung dalam menjalankan bisnis, sulit diprediksi berapa
Return oI investment (ROI) yang dapat diperoleh karena biaya yang harus
dikeluarkan akibat praktek korupsi juga sulit diprediksi, Akhiar Salmi dalam
makalahnya menjelaskan bahwa korupsi merupakan perbuatan buruk, seperti
penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Negara yang Bersih dan Bebas dari korupsi, Kolusi dan Nepotisme, pasal 1
menjelaskan bahwa tidak pidana korupsi sebagaimana Maksud dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan Republik Indonesia mendeIenisikan korupsi sebagai
salah satu tindak pidana. Mubaryant






Penggiat Ekonomi Pancasila, dalamdalam artikelnya menjelaskan tentang
korupsi bahwa, salah satu masalah besar berkaitan dengan keadilan adalah
korupsi, yang kini kita lunakan menjadi 'KKN. Perubahan nama dari korupsi
menjadi KKN ini barang kali beralasan karena praktek korusi korupsi memang
terkait koneksi dan nepotisme. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa dampak
'penggantian ini tidak baik karena KKN ternyata dengan kata tersebut praktek
korupsi lebih mudah diteleransi dibandingakan dengan penggunaan kata korupsi
secara gambling dan jelas, tanpa tambahan kolusi dan nepotisme.

B. Korupsi dan Politik Hukum Ekonomi
Korupsi merupakan permasalan mendesak yang harus diatasi, agar tercapai
pertumbuhan dengan geliat ekonomi yang sehat. Berbagai catatan tentang korupsi
yang setiap hari diberitakan oleh media masa baik cetak maupun elektronik,
tergambar adanya peningkatan dan pengembangan model-model korupsi.
Dimensi politik hukum yang merupakan 'kebijakan pemberlakuan atau
'anactment policy, merupakan kebijakan pemberlakuan sangat dominant di
Negara berkembang, pengusaha tepatnya, untuk hal yang bersiIat negatiI atau
positiI. Dan konsep perundang-undangan dengan dimensi seperti ini dominant
terjadi di Indonesia, yang justru membuka pintu bagi masuknya praktek korupsi
melalui kelemahan perundang-undangan.
Fakta yang terjadi menunjukan bahwa Negara-negara industri tidak dapat
lagi menggulur Negara-negara berkembang soal praktik korupsi, karena melalui
korusilah system ekonomi social rusak, baik Negara maju dan berkembang.
Bahkan dalam buku 'The ConIession oI Economic Hit Man John Pakin
mempertegas peran besar Negara adidaya seperti Amerika serikat melalui
lembaga donor seperti IMF, Bank Dunia dan perusahaan Multinasional
terperangkap dalam hutang luar Negeri yang luar biasa besar, seluruhnya dikorup
oleh pengusaha Indonesia saat ini. Demokrasi dan metamorIosis Korupsi
pergeseran sistem, melalui tumbangnya kekuasaan Icon orde baru, Soeharto,
membawa berkah bagi tumbuhnya kehidupan demokrasi di Indonesia. ReIormasi,
begitu banyak orang menyebutperubahan tersebut. Namun sayangnya reIormasi
harus dibayar mahal oleh Indonesia melalui rontoknya Iondasi ekonomi yang
memang 'Budle gum yang setiap saat siap meledak itu. KemunaIikan
(Hipocrassy) menjadi senjata ampuh untuk membodohi rakyat. Namun, apa mau
ditanya rakyat tak pernah sadar, dan terbuai oleh lembut lagu dan kata tertata rapi
dari hipocrasi yang lahir dari mulu para pelanjut cita-cita dan karakter orde baru.
Dulu korupsi tertralisasi di pusat kekuasaan, seiring otonomi dan desentralisasi
daerah yang diikuti oleh desentralisasi pengelolaan kekuangan daerah, korupsi
mengalami pemerataan dan pertumbuhan yang signeIikan. Disharmonisasi politik
ekonomi social, graIik pertumbuhan jumlah rakyat terus naik karena korupsi.
Dalam kehidupan demokrasi di Indonesia praktek korupsi makin mudah
ditemukan diberbagai bidang kehidupan. Pertama, karena melemahnya nilai-nilai
sosial., kepentingan pribadi menjadi pilihan utama dibandingkan kepentingan
umum, serta kepemilikan benda secara individual menjadi etika pribadi yang
melandasi prilaku sosial sebagaian besar orang. Kedua, tidak ada transparansi dan
tanggung gugat sistem integritas public. Biro prlayanan public justru digunakan
oleh pejabat public untuk mengejar ambisi politik pribadi, semata-mata demi
promosi jabatan dan kenaikan pangkat. Sementara kualitas dan kuantitas
pelayanan public, bukan prioritas dan orientasi yang utama. Dan kedua alasan ini
menyeruak di Indonesia, justru memIasilitasi korupsi. Mubaryanto menjelaskan,
kunci dari pemecahan masalah korupsi adalah keberpihakan pemerintah pada
keadilan. Korupsi harus dianggap menghambat pewujudan keadilan sosial,
pembangunan sosial, dan pembangunan moral. Jika sekarang korupsi telah
menghinggapi anggota-anggota legislative di pusat dan di daerah, bahayanya
harus dianggap jauh lebih parah karena mereka (anggota DPR/DPRD) adalah
wakil rakyat. Jika wakil-wakil rakyat sudah 'berjamaah dalam berkorupsi maka
tindakan ini jelas tidak mewakili aspirasi rakyat, jika sejak krisis multidimensi
yang berasal dari krimon 1997/1998 ada anjuran serius agar pemerintah berpihak
pada ekonomi rakyat (dan tidak pada konglomerat), dalam bentuk program-
program pemberdayaan ekonomi rakyat, maka ini berarti harus ada keadilan
politik.
Keadilan ekonomi dan keadilan social sejauh ini tidak terwujud di
Indonesia karena tidak kembangkannya keadilan politik. Keadilan politik adalah
aturan main berpolitik yang adil, atau menghasilkan keadilan bagi seluruh warga
Negara. Kita menghimbau para IilosoI dan ilmuan-ilmuan social, untuk bekerja
keras dan berpikir secara empiric indktiI yaitu selalu menggunakan data-data
empiric dalam berargumentasi, tidak hanya berpikir secara teoritis saj, lebih-lebih
dengan selalu mengacu pada teori-teori berat. Dengan berpikir empiric
kesimpulan-kesimpulan pemikiran yang dihasilkan akan langsung bermanIaat
bagi masyarakat dan para pengambil kebijakan masa sekarang. Misalnya, adilkah
orang-orang kaya kita hidup mewah ketika pada saat yang sama masih sangat
banyak warga bangsa yang harus mengemis sekedar untuk makan. Negara kaya
atau miskin sama saja, apabila tidak ada itikad baik untuk memberantas praktek
korup maka akan selalu mendestruksi perekonomian dalam jangka pendek
maupun panjang. Banyak bukti yang menunjukan bahwa skandal ekonomi dan
korupsi sering terjadi dibanyak Negara kaya dan makmur dan juga terjadi dari
kebejatan moral para cleptocrasy di Negara-negara miskin dan berkembang
seperti Indonesia. Pembangunan ekonomi sering dijadikan asalan untuk
mengendalikan sumber dya alam kepada perusahaan multinasional dan negar adi
daya yang Didalamnya telah terkemas praktik korupsi untuk menumpuk pundik-
pundi harta bagi kepentingan politik dan pribadi maupun Kelompoknya.

C. Korupsi dan Desentralisasi
Desentralisasi atau otonomi daerah merupakan perubahan paling mencolok Setelah
reIormasi digulirkan. Desentralisasi di Indonesia banyak pengamat ekonomi
merupakan kasus Pelaksanaan desentralisasi terbesar di dunia, sehingga Pelaksanaan
desentralisasi di Indonesia menjadi kasus menarik bagi studi banyak ekonomi dan
pengamat politik dunia. Kompleksitas permasalahan muncul kepermukaan, yang
paling mencolok adalah terkuangnya sebagian kasus-kasus korupsi para birokrat
daerah dan anggota legislative daerah. Hal ini merupakan Iakta bahwa praktek korupsi
telah mengakar dalam kehidupan social politik ekonomi di Indonesia. Pemerintah








daerah menjadi salah satu motor pendobrak pembangunan ekonomi.
Namun juga sering membuat makin parahnya high cost economy di Indonesia,
karena munculnya penguatan-penguatan yang lahir melalui Perda (pendapan
daerah) yang dibuat dalam rangka meningkatkan PAD (pendapatan daerah) yang
membuka ruang-ruang korupsi baru di daerah. Mereka tidak sadar, karena praktek
itulah, inpestor menahan diri untuk masuk daerahnya dan memilih daerah yang
memiliki potensi biaya rendah dengan akibat itu semua kemiskinan meningkat
karena Lapangan pekerjaan menyempip dan pembangunan ekonomi
pembangunan di daerah terhambat boro-boro memacu PAD. Terdapat bobot yang
menentukan daya saing inIestasi daerah. Pertama, Iactor kelembagaan. Kedua,
Iactor inpraskruktur, ketiga, Iakor social politik. Keempat, Iactor ekonomi daerah.
Kelima, Iactor ketenaga kerjaan hasil penelitian komite pemantauan Pelaksanaan
otonomi daerah (KPPOD) menjelaskan pada tahun 2002 Iaktor kelembagaan
dalam hal ini pemerintah daerah sebagai Iactor penghamabat terbesar bagi
inpestasi hal ini berarti birokrasi menjadi penghambat utama bagi inIestasi yang
menyebabkan munculnya Haighcost economy yang beratri praktek korupsi yang
melalui pungutan-pungutan liar yang berarati liar dan dana pelican marah pada
awal Pelaksanaan desentralisasi atau otonomi daerah terserbut. Dan jelas ini
emnhambat tumbuhnya kesempatan Kerja dan pengurangan kemiskinan di daerah
karena korupsi di birokrasi daerah. Namun, pada tahun 2005 Iaktor penghambat
utama tersebut berubah. Kondisi social politik dominant menjadi hambatan bagi
tumbuhnya di daerah.
Pada 2005 banyak daerah banyak melalukan pemilihan Kepala daerah
(Pilkada secara langsung yang menyebabkan instabilitasi politik di daerah yang
membuat enggan para inspector untuk menanam modalnya di daerah. Dalam
situasi politik ini, inspector local memilih modalnya kepada ekspestasi politik
dengan membantu pendanaan kampanye calon-calon Kepala daerah tertentu
dengan harapan akan memperoleh kemenagan dan memperoleh proyek
pembangunan di daerah sebagai imbalannya. Kondisi seperti ini tidak akan
menstimulus pembangunan ekonomi. Justru hanya akan meperbesar pengeluaran
pemerintah (Goverenment expenditure) karena para inspector hanya mengerjakan
prokyek-proyek pemerintah tanpa menciptakan aut put baru di luar pengeluaran
pemerintah (biaya aparatur Negara) bahkan akan berdampak pada inspestasi
pengeluaran pemerintah karena untuk meningkatkan PAD-nya mau-tidak mau
pemerintah harus mengenjot pemdapatan dari pajak dan retrevusi melalui berbagai
Perda (peraturan daerah) yang menciptakan ruang bagi praktek korupsi. Titik
tolak pemerintah daerah untuk memperoleh PAD yang tinggi inilah yang menjadi
yang menjadi penyebab munculnya haigh cost economy yang melahirkan
ekonomi tersebut akan di dukung oleh birokrasi yang njelimet.
Seharusnya titik tolak daerah adalah pembangunan ekonomi daerah
dengan menarik inIestasi daerah yang sebesar-besarnya dengan merampingkan
birokrasi dan memperpendek jalur serta jangka Waktu pengurusan Dokumen
usaha serta membersihkan birokrasi dari prektek korupsi. Peneingkatan PAD
(pendapatan asli daerah), pengurangan jumlah pengurangan jumlah penganguran
dan kemiskinan pasti mengikuti.

D. Memberantas Korupsi Demi Pembangunan Ekonomi
Selain menghambat pertumbuhan ekonomi, korupsi juga menghamabt
pengembangan system pemerintahan demokratis. Korusi Memupuk tradisi
perbuatan yang menguntungkan diri sendiri atau Kelompok, yang
mengesampingkan kepentingan public. Dengan begitu korupsi menutup rapat-
rapat kesempatan rakyat lemah menikmati pembangunan ekonomi dan kualitas
hidup yang lebih baik. Pendekatan yang paling ampuh dalam melawan korupsi di
Indonesia. Pertama, mulai dari meningkatkan standar tata pemerintahan melalui
konstruksi integritas nasional. Tata pemerintahan modern mengedepankan system
tanggung gugat dalam tatanan seperti ini harus muncul pers yang bebas dengan
batas-batas undang-undang, yang juga harus mendukung terciptanya tata
pemerintah dan masyarakat yang bebas dari korupsi. Demikian pula dengan
pengadilan. Pengadilan merupakan bagian dari tata pemerintahan, yudikatip tidak
lagi menjadi hamba penguasa. Namun memiliki ruang kebebasan menegakan
kedaulkatan hukum dan peraturan dengan Demikian akan terbentuk lingkaran
perbaikan yang memungkin seluruh pihak untuk melalukan pengawasan, dan
pihak lain diawasi. Namun, konsep ini sangat mudah dituliskan atau dikatakan
dari pada dilaksanakan. Setidaknya dibutuhkan waktui yang cukup lama untuk
membangun pilar-pilar. Bangunan integritas nasional yang melakukan tugas-tugas
yang eIektiI dan berhasil menjadikan tindakan korupsi sebagai prilaku beresiko
yang sangat tinggi dengan hati yang sedikit.
Kedua, hal yang paling sulit dan punda mental dari semua perlawanan
terhadap korupsi adalah bagaimana membangun kemauan politik (political will).
Kemauan politik yang dimaksud bukan sekedar kemauan para politis dan orang-
orang yang berkecimbung dalam ranah politik. Namun, ada yang lebih penting
sekedar itu semua. Yakni, kemauan politik yang termanisIestasikan dalam bentuk
keberanian yang didukung oleh kecerdasan sasial masyarakat sipil atau warga
Negara dari berbagai elemen atau sastra social. Sehingga jabatan politik tidak lagi
digunakan secara mudah untuk memperkaya diri, namun sebagai tanggung
jawabuntuk mengelola dan bertanggung jawab untuk merumuskan gerakan
mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik.
Dalam tatanan pemerintahan yang demokratis, para politis dan pejabat
Negara tergantung dengan suara masyarakat sipil. Artinya kecerdasan social
politik dari masyarakat sipil-lah yang memaksa para politisi dan pejabat Negara
untuk menahan diri dari praktek korupsi. Masyarakat sipil yang cerdas secara
social politik akan memilih pimpinan (politis) dan pejabat Negara yang memiliki
integritas diri yang mampu menahan diri dari korupsi dan merancang kebijakan
kearah pembangunan ekonomi yang lebih baik. Melalui masyarakat sipil yang
cerdas secara social politik pula pilar-pilar peradilan dan media massa dapat di
awasi sehingga membentuk integritas nasional yang alergi korupsi. Ketika
kontrusi integritas Nasional berdiri kokoh dengan payung kecerdasar social politik
masyarakat sipil, maka pembangunan ekonomi dapat distimulus dengan eIektiI.
Masyarakat sipil akan mendorong pemerintah untuk menciptakan ruang
pembangunan ekonomi yang potensial.
BAB III
KESIMPULAN

MerangIkai kata untuk perubahan memang mudah. Namun, melaksankan
rangkaian kata dalam bentuk gerakan terkadang sulit. Dibutuhkan kecerdasan dan
keberanian untuk mendobrak dan merobohkan pilar-pilar korupsi yang menjadi
penghambat utama lambatnya pembangunan ekonomi dan paripurna di Indonesia.
Korupsi yang telah terlalu lama wabah yang tidak pernah tepat Sasaran ibarat 'yang
sakit Kepala, kok yang di obati tangan. Pemberantasan korupsi seakan hanya
menjadi komoditas politik, bahan retorika ampuh menarik simpati. Oleh sebab itu
dibutuhkan kecerdasan masyarakat sipil untuk mengawasi dan membuat keputusan
politik mencegah makin mewabahnya penyakit kotor korupsi di Indonesia. Tidak
mudah memang.






















DAFTAR PUSTAKA


Harian Kompas, 13 Juni 2006,

Gramedia Hikmahanto Juwana, Paper 2006, 'Politik Hukum UU Bidang Ekonomi di
Indonesia MPKP, FE,UI.

Mobaryanto, artikel, 'Keberpihakan dan Keadilan, Jurnal Ekonomi Rakyat, UGM,
2004.
Jeremy Pope, 'ConIronting Corruption: The Element OI National Integrity System.
Transparency International, 2000.

Robet A Simanjuntak, 'Implementasi Desentralisasi Fiskal: Problem, Prospek, dan
Kebijakan. LPEM UI, 2003.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah .

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah.

Beri Nilai