Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Setiap orang memiliki gaya berperilaku dan cara-cara tertentu dalam berhubungan dengan orang lain. Ada yang memiliki tipe kepribadian yang teratur, ada pula yang ceroboh. Beberapa lebih suka mengerjakan tugasnya sendiri, dan yang lain lebih bersifat sosial. Ada yang memiliki tipe pengikut atau penurut, ada juga yang lebih suka memimpin. Sebagian dari kita sangat kuat dalam mempertahankan pendapat dan keinginannya, sebagian yang lain mudah terpengaruh. Beberapa orang sangat kebal terhadap penolakan dan beberapa yang lain menghindari inisiatif sosial karena takut dikecewakan oleh orang lain. Ketika pola perilaku yang dimiliki oleh seorang individu menjadi sangat tidak fleksibel atau maladaptif, maka yang akan terjadi adalah distress personal yang signifikan dan hanya akan mengganggu fungsi sosial serta pekerjaan. Kondisi atau pola perilaku seperti itulah yang dapat didiagnosis sebagai gangguan kepribadian. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mempelajari jenis-jenis gangguan kepribadian dan penanganannya serta pandangan dari teoretis terkemuka mengenai gangguan tersebut. Penjelasan selengkapnya akan dikupas lebih dalam pada makalah ini.

B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai hal-hal sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Apakah yang dimaksud dengan gangguan Kepribadian? Apa saja tipe-tipe gangguan kepribadian dan bagaimana ciri-cirinya? Bagaimana gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku aneh atau eksentrik? Bagaimana gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku dramatis, emosional atau eratik? Bagaimana gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku cemas atau ketakutan? Apa saja masalah yang ditemui dalam penggolongan gangguan kepribadian? Bagaimana perspektif teoritis gangguan kepribadian? Bagaimana menangani gangguan kepribadian?
1

C. Tujuan Penulisan Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami konsep mengenai gangguan kepribadian dan ruang lingkupnya. D. Manfaat Penulisan Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat memberikan berbagai macam manfaat bagi pembaca. Di antaranya adalah : 1. Memahami pengertian gangguan Kepribadian. 2. Memahami tipe-tipe gangguan kepribadian dan ciri-cirinya. 3. Memahami gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku aneh atau eksentrik. 4. Memahami gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku dramatis, emosional atau eratik. 5. Memahami gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku cemas atau ketakutan. 6. Mengetahui masalah-masalah yang ditemui dalam penggolongan gangguan kepribadian. 7. Memahami perspektif teoritis mengenai gangguan kepribadian. 8. Memahami cara menangani gangguan kepribadian.

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Gangguan Kepribadian Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal, sehingga pola tersebut pada akhirnya besifat self-defeating. Tandatanda peringatan akan adanya gangguan kepribadian dapat dideteksi pada masa kanak-kanak, bahkan pada perilaku bermasalah di masa kanakkanaknya, seperti gangguan tingkah laku, depresi, kecemasan, dan ketidakmatangan, lebih besar risikonya dibandingkan risiko rata-rata untuk mengembangkan gangguan kepribadian di kemudian hari (Berstein dkk., 1996; Kasen dkk., 2001). Menggunakan istilah psikodinamika, DSM menyebutkan bahwa orang dengan gangguan kepribadian cenderung menganggap trait-trait mereka sebagai ego syntonic sebagai bagian alami dari diri mereka. Akibatnya, orang dengan kepribadian lebih cenderung dibawa ke ahli kesehatan mental oleh orang lain daripada oleh diri mereka sendiri. Sebaliknya, orang dengan gangguan kecemasan atau gangguan mood cenderung menganggap perilaku terganggu mereka sebagai ego dystonic. Mereka cenderung mencari pertolongan untuk melepaskan distress yang disebabkan oleh perilaku itu. DSM mengelompokkan sindrom klinis pada Aksis I dan gangguan kepribadian pada Aksis II. Baik sindrom klinis maupun gangguan kepribadian dapat didiagnosis pada klien yang perilakunya memenuhi kriteria untuk kedua jenis gangguan ini. DSM membagi gangguan kepribadian menjadi 3 kelompok : 1. 2. Orang yang dianggap aneh atau eksentrik. Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian paranoid, skizoid, skizotipal. Orang dengan perilaku dengan dramatis, emosional atau eratik (tidakk menentu). Kelompok ini terdiri dari gangguan kepribadian anti sosial ambang histrionok dan narsisistik. Orang yang sering kali tampak camas atau ketakutan. Kelompok ini mencakup kepribadian menghindar, dependent dan obsesif-kompulsif.

3.

B. Tipe Tipe Gangguan Kepribadian : Gangguan Kepribadian yang

Ditandai oleh Perilaku Aneh atau Eksentrik Kelompok gangguan kepribadian ini meliputi gangguan patanoid, skizoid, dan skizotipal. Orang dengan gangguan ini sering memiliki kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, atau mereka menunjukan sedikit atau tidak adanya minat dalam mengembangkan hubungan sosial. 1. Gangguan Kepribadian Paranoid Trait penentu kepribadian paranoid (paranoid perilaku orang lain sebagai hal yang mengancam atau merendahkan. Orang yang memiliki kepribadian paranoid cenderung terlalu sensitif terhadap kritikan. Mereka mudah marah dan tidak diterima bila mereka pikir mereka telah diperlakuka dengan buruk. Sebagai akibatnya, mereka hanya memiliki sedikit teman dan hubungan erat. Mereka cenderung sangat berhati-hati (hypervigilant), seolah-olah mereka harus waspada terhadap hal-hal yang mengancam atau menyakiti. Meskipun kecurigaan dari orang yang menderita gangguan kepribadian paranoid sangatlah berlebihan dan tidak beredasar, pada gangguan ini tidak terdapat kehadiran delusi paranoid yang menandai pola pikir dari orang yang menderita skizofrenia paranoid. 2. Gangguan Kepribadian Skozoid Isolasi sosial adalah ciri utama dari gangguan kepribadian skizoid (schizoid personality disorder). Digambarkan sebagai penyendiri atau eksentrik, orang dengan kepribadian skizoid kehilangan minat pada hubungan sosial. Pola kepribadian skizoid umumnya dapat dikenali saat awal masa dewasa. Pria dengan gangguan ini jarang berkencan atau menikah. Perempuan dengan gangguan ini cenderung menerima ajakan romantis secara pasif dan menikah, namun mereka berinisiatif untuk membina hubungan atau mengembangkan ikatan yang kuat dengan pasangan mereka. Akhtar (1987) menyatakan bahwa kemungkinan terdapat kesenjangan antara penampilan luar dan kehidupan terdalam dari orang-orang dengan kepribadian skizoid. Dalam sejumlah kasus, sensitivitas diekspresikan dengan perasaan yang mendalam terhadap sesama. 3. Gangguan kepribadian skizotipal

Gangguan kepribadian skizotipal (schizotypal personality disorger) umumnya menjadi jelas saat awal masa dewasa. Kecemasan sosial mereka tampaknya terkait dengan pikiran paranoid (misalnya, takut bahwa orang lain menyakiti mereka) dibandingkan dengan ketakutan akan ditolak atau evaluasi secara negatif oleh orang lain. Gangguan kepribadian skizopal sedikit lebih umum pada laki-laki dibanding perempuan dan diyakini menipa sekitar 3% dari populasi (APA, 2000). Orang dengan gangguan ini mengalami persepsi atau ilusi yan tidak umum, seperti perasaan akan hadirnya seorang anggota keluarga yang telah meninggal di dalam ruangan, tapi dia tidak benar-benar berada di sana. Mereka bisa sangat curiga terhadap orang lain atau paranoid terhadap pikiran mereka. Mereka dapat mengembangkan ideas of reference, seperti keyakinan bahwa orang lain sedang membicarakan mereka. Mereka cenderung menarik diri secara sosial dan menjaga jarak, dengan sedikit, bila ada teman dekat atau sahabat. Mereka tampak cemas berada di sekitar orang-orang yang tidak mereka kenal. Meski DSM mengelompokkan perilaku skizotipal ke dalam gangguan kepribadian, pola perilaku skizotipal dapat berada dalam spektrum gangguan yang terkait dengan skizofrenia yang juga mencakup gangguan kepribadian paranoid dan skizoid, seperti halnya gangguan skizoafektif dan skizofrenia itu sendiri. Dalam kenyataannya, gangguan skizotipal berdasar yang sama dengan skizofrenia yaitu genetis.
C. Tipe Tipe Gangguan Kepribadian : Gangguan Kepribadian yang

Ditandai oleh Perilaku Dramatis, Emosional atau Eratik Kelompok gangguan kepribadian ini meliputi tipe antisosial, ambang, histrionik, dan narsisistik. Pola perilaku dari berbagai tipe ini adalah berlebih-lebihan, tidak dapat diramalkan, atau self-centered. Orang dengan gangguan ini memiliki kesulitan untuk membentuk dan membina hubungan. 1. Gangguan Kepribadian Antisosial Orang dengan gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder) secara persisten melakukan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain dan sering melanggar hukum. Meski demikian mereka sering menunjukan karisma dalam penampilan luar mereka dan tidak memiliki intelegensi rata-rata. Walaupun perempuan cenderung untuk mengembangkan gangguan kecemasan dan depresi dibandingkan laki-laki, laki-laki cenderung menerima diagnosis gangguan kepribadian
5

antisosial dibanding perempuan (Robins, Locke, Reinger, 1991). Orang awam pernah menggunakan istilah psikopat atau sosiopat untuk menunjukkan orang yang kini termasuk dala kepribadian anti sosial, orang dengan perilaku tidak bermoral dan asosial, impulsif, serta kurang memiliki penyesalan dan rasa malu. Akar dari psikopat berfokus pada gagasan bahwa ada sesuatu yang tidak benar (patologis) pada fungsi psikologis individu. Sedangkan akar dari kata sosiopati berpusat pada devisia (penyipanan) sosial orang tersebut. a. Faktor-Faktor Sosiokultural dan Gangguan Kepribadian Antisosial. Biasanya terjadi pada semua ras atau etnik. Namun, gangguan ini lebih umum terjadi dalam kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah. b. Perilaku Antisosial dan Kriminalitas Cenderung berpikir bahwa perilaku antisosial sinonim dari perilaku kriminal. Tapi, tidak semua tindak kriminal menunjukan tanda-tanda psikopati dan tidak semua orang dengan kepribadian psikopati menjadi kriminalis. Beberapa dari mereka taat hukum dan cukup berhasil dengan pekerjaan yang meraka pilih, meski mereka memiliki gaya kepribadian yang dicirikan sebagai kejam serta tidak menghargai minat dan perasaan orang lain. Para peneliti muai memandang bahwa kepribadian psikopat terdiri dari dua dimensi yang agak terpisah. Yang pertama adalah dimensi kepribadian, terdiri atas trait-trait seperti karisma yang tampak diluaran saja, mementingkan diri sendiri, kurang empati, keji dan tidak ada penyesalan meski telah memanfaatkan orang lain, serta tidak menhargai perasaan dan kesejahteraan orang lain. Dimensi kedua yang dipertimbangkan adalah dimensi perilaku. Dimensi ini ditandai oleh gaya hidup yang tidak stabil dan antisosial, termasuk sering berhadapan dengan masalah hukum, riwayat pekerjaan yang minim, dan hubungan yang tidak stabil. Kedua dimensi ini tidak sepenuhnya terpisah dari individu psikopati menunjukan bukti memiliki kedua macam trait tersebut. c. Profil kepribadian antisosial Hervey Cleckley menunjukan bahwa ciri-ciri yang menentukan kepribadian psikopati, tidak bertanggung jawab, impulsif, dan tidak peka terhadap kebutuhan orang lain terdapat tidak hanya pada kriminalitas, tetapi juga pada anggora komunitas yang terhormat, termasuk dokter, pengacara,dll. Ciri-ciri umum
6

orang dengan gangguan kepribadian emosional mencakup kegagalan untuk patuh pada norma sosial, tidak bertanggung jawab, tidak mau berusaha, dan tidak memiliki rencana atau tujuan jangka panjang, perilaku impulsif, benar-benar tidak patuh hukum, melakukan kekerasan, tidak memiliki pekerjaan dalam waktu yang lama, memiliki masalah perkawinan, kurangnya rasa penyesalan dan empati, penyalahgunaan obat, riwayat alkoholisme, serta tidak menghargai kebenaran dan perasaan juga kebutuhan orang lain. 2. Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorder / BPD) Gangguan Kepribadian Ambang atau BPD ditandai oleh suatu cakupan cirri perilaku, emosional, dan kepribadian (Sanislow, Grilo, & McGlashan, 2000). Gangguan ini mencakup suatu pola prevasif dari ketidakstabilan dalam hubungan, self-image, dan mood, serta kurangnya impuls. ketidakstabilan dalam self-image atau identitas pribadi membuat mereka dipenuhi perasaan kekosongan dan kekosongan yang terusmenerus. Mereka tidak dapat menoleransi ide untuk berada sendirian dan akan melakukan usaha-usaha nekat untuk menghindari perasan ditinggalkan (gunderson, 1996). Tanda-tanda penolakan membuat mereka sangat marah, yang membuat hubungan mereka lebih jauh lagi . akibatnya perasaan mereka terhadap orang lain menjadi mendalam dan berubah-ubah. Mereka cenderung memandang orang lain sebagai semua-tentangnya-baik atau semua-tentangnya-buruk dan berubah-ubah dengan cepatdari suatu ekstrim ke ekstrim lain. Sebagai hasilnya, mereka akan terbang dari satu pasangan ke pasangan lain dalam suatu seri hubungan yang singkat dan menggebu-gebu. Orang yang mereka puja akan diperlakukan dengan kebencian saat hubungan berakhir atau saat mereka merasa orang tersebut gagal dalam memenuhi kebutuhan mereka (Gunderson & Singer, 1986). Sejumlah tokoh penting digambarkan memiliki ciri-ciri kepribadian yang terkai dengan gangguan kepribadian ambang, termasuk Marilyn Monroe, Lawrence dari Arabia, Adolf Hitler, dan filsuf sren Kierkegaard (Sass, 1982). Istilah kepribadian ambang awalnya digunakan untuk merujuk pada individu yang perilakunya berada pada batas antara neurosis dan psikosis. Orang dengan kepribadian ambang umumnya apat membina kontak dengan realitas secara lebih baik disbanding orang dengan psikosis, meski mereka tampak menujukan perilaku psikotik singkat selama masa stress.
7

Ketidakstabilan mood merupakan karakteristik sentral dari gangguan kepribadian ambang (Sanislow, dkk 2000). Mood berkisar dari kemarahan dan iritabilitas sampai pada depresi dan kecemasan, yang masing-masing berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari. Perilaku impulsive tidak dapat diprediksi ini sering kali bersifat selfdestructive, meliputi perilaku-perilaku seperti self-mutilation, isyaratisyarat bunuh diri, serta percobaan bunuh diri yang actual. Self-mutilation terkadang dimunculkan sebagai ekspresi kemarahan atau sebagai sarana memanipulasi orang lain. Tindakan seperti itu mungkin dimaksudkan untuk mengatasi persaan yang seperti mati rasa terutama pada saat stress. Tidak mengherankan selfmutilation yang sering terjadi pada individu yang menderita BPD terkait dengan meningkatnya resiko akan pikiran-pikiran untuk bunuh diri (Dulit dkk., 1994). Dari prespektif psikodinamika modern, individu ambang dianggap tidak dapat utuh. Karenanya mereka gagal mencapai selfidentity atau gambaran mengenai orang lain yang pasti.
3. Gangguan Kepribadaian Histrionik (Histrionic Personality Disorder)

Melibatkan emosiyang berlebihan dan kebutuhan yang besar untuk menjadi pusat perhatian. Istilah ini berasal dari bahasa Latin histrio yang berarti actor. Orang dengan gangguan ini cenderung dramatis dan emosional, namun emosi mereka tampak dangkal, dibesarbesarkan, dan mudah berubah. Gangguan ini sebelumnya disebut sebagai kepribadian histerikal. Penggantian histerikal menjadi histrionik dan perubahan yang terkait dengan akar kata hysteria (berarti rahim) menjadi histrio memungkinkan pada para profesional untuk menjaga jarak dari gagasan bahwa gangguan ini secara kompleks berhubungan dengan menjadi perempuan. Gangguan ini di diagnosis lebih sering pada perempuan daripada laki-laki (Hartung & Widiger, 1998). Orang dengan gangguan konversi sebetulnya lebih cenderung untuk menunjukan ciriciri gangguan kepribadian dependen daripada gangguan kepribadian histrionik. Orang dengan kepribadian histrionik bisa merasa kecewa dalam pengertian yang tidak umum karena kabar mengenai suatu kejadian yang menyedihkan. Mereka cenderung self-centered dan tidak toleran terhadap penundaan kesenangan, mereka ingin apa yang mereka inginkan saat mereka menginginkannya. Orang dengan gangguan histrionik kemungkinan tertarik pada profesi seperti modeling atau acting dimana mereka dapat mendominasi lampu sorot.meski tampak sukses diluar, sebenarnya mereka memiliki

self-estem yang kurang dan sedang member kesan pada orang lain dengan tujuan meningkatkan self-worth mereka.
4. Gangguan Kepribadian Narsistik (Narcissistic Personality Disorder)

Narkissos adalah seorang pemuda tampan yang menurut mitologi Yunani, jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Karena self-love-nya yang berlebihan, dalam salah satu mitologi ia diubah oleh para dewa menjadi bunga yang kini kita kenal sebagai narcissus. Orang dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka bersifat self-absorbed dan kurang memiliki empati pada orang lain.kualitas narsistik yang berlebihan dapat menjadi tidak sehat, terutama bila kelaparan akan ekstrem yang self-defeating. Pada titik tertentu, self-interest mendorong keberhasilan dan kebahagiaan. Orang dengan kepribadian narsistik cenderung terpaku pada fantasi akan keberhasilan dan kekuasaan, cinta yang ideal, atau pengakuan akan kecerdasan atau kecantikan. Hubungan interpersonal mereka selalu berantakan karena adanya tuntutan yang dipaksakan oleh orang dengan kepribadian narsistik kepada orang lain dank arena kurangnya empati serta kepedulian mereka terhadap orang lain. Mereka mencari pertemanan dengan para pemuja mereka dan sering tampak penuh karisma dan ramah serta dapat menarik perhatian orang. Namun minat mereka pada orang lain hanya bersifat satu sisi : mereka mencari orang yang mau melayani minat mereka dan memelihara rasa selfimportance mereka (Goleman, 1988). D. Tipe Tipe Gangguan Kepribadian : Gangguan Kepribadian yang Ditandai oleh Perilaku Cemas atau Ketakutan Kelompok gangguan kepribadian ini mencakup tipe menghindar, dependen, dan obsesif-kompulsif. Gangguan ini sama-sama memiliki komponen berupa rasa takut atau kecemasan. 1. Gangguan Disorders) Kepribadian Menghindar (Avoidant Personality

Orang dengan gangguan kepribadian tipe ini merasa sangat ketakutan akan penolakan dan kritik sehingga mereka umumnya tidak ingin memasuki hubungan tanpa adanya kepastian akan penerimaan. Mereka cenderung menghindari pekerjaan kelompok dan aktivitas
9

rekreasi kecuali mereka yakin akan diterima. Oleh karena itu, mereka hanya memiliki sedikit teman di luar keluarga inti. Individu yang mengalami gangguan ini memiliki minat dan perasaan akan kehangatan pada orang lain tetapi rasa takut terhadap penolakan menghalanginya untuk memenuhi kebutuhan afeksi dan penerimaan. Dalam situasi sosial, mereka menghindari percakapan dengan orang lain karena takut dipermalukan sehingga mereka lebih cenderung terikat dengan rutinitas mereka dan melebih-lebihkan risiko dalam mencoba hal-hal baru. 2. Gangguan Kepribadian Dependen (Dependent Personality Disorder) Gangguan kepribadian dependen merupakan suatu gangguan kepribadian yang ditandai oleh kesulitan dalam membuat keputusan yang mandiri dan perilaku bergantung yang berlebihan. Orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian tipe ini merasa sangat sulit melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain sehingga mereka menjadi sangat patuh dan takut mengalami perpisahan. Misalnya anakanak atau remaja yang mencari orang tua mereka untuk memilihkan pakaian, makanan, sekolah atau kampus dan orang dewasa yang membiarkan orang lain mengambil keputusan untuk dirinya. Orangorang ini menolak posisi bertanggungjawab dan sangat sensitive terhadap kritikan. Mereka juga takut akan penolakan sehingga sering mengesampingkan kebutuhannya demi orang lain. Ketika hubungan dekatnya berakhir, mereka dapat menjadi sangat hancur karena takut akan kesendiriannya. Gangguan kepribadian ini lebih banyak diderita oleh perempuan karena mereka mudah terkena stress. Umumnya, perempuan menghadapi tekanan sosial yang lebih besar untuk menjadi pasif, lembut, atau penuh penghormatan sehingga perilaku dependen mereka dapat merefleksikan pengaruh budaya dan bukan gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian dependen telah dikaitkan dengan gangguan psikologis lain termasuk depresi mayor, gangguan biolar, dan fobia sosial, serta dengan masalah-masalah fisik seperti hipertensi, kanker, dan gangguan gastrointestinal seperti ulcer dan kolitis. (Bornstein, 1999; Loranger 1996; Reich, 1996 dalam Nevid, Rathus, dan Greene, 2005). Gangguan ini juga dikaitkan dengan masalah perilaku oral seperti merokok, gangguan makan, dan alkoholisme. Jika dikaitkan dengan perilaku pada masa bayi, orang-orang dengan tipe gangguan ini dapat makan berlebihan untuk menelan cinta secara simbolis. Mereka
10

lebih bergantung pada orang lain untuk mendapatkan bimbingan dan dukungan serta sering mengatribusikan masalah pada penyebab fisik bukan emosional sehingga lebih cenderung berkonsultasi ke ahli-ahli medis. 3. Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif (Obsessive-compulsive Personality Disorder) Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif merupakan suatu gangguan kepribadian yang ditandai oleh cara berhubungan dengan orang lain yang kaku, kecenderungan perfeksionis, kurangnya spontanitas, dan perhatian yang berlebihan akan detail. Gangguan ini lebih umum dialami oleh laki-laki. Tidak seperti kecemasan obsesifkompulsif, orang dengan gangguan kepribadian ini tidak harus mengalami obsesi atau kompulsi sekaligus. Individu dengan tioe gangguan ini sangat terpaku akan kesempurnaan sehingga tidak bisa menyelesaikan tepat waktu. Meskipun mereka telah memikirkan prioritas tentang pekerjaan, tetapi mereka tidak tampak mulai bekerja. Selain itu, mereka sangat berfokus pada detail sehingga seringkali gagal dan mengulangi lagi pekerjaan mereka. Kekakuan inilah yang menghambat hubungan sosial mereka, misalnya memaksa melakukan hal sesuai cara mereka sendiri, sangat antusias pada pekerjaan, serta perhitungan dengan uang. Mereka sulit membuat keputusan dan menghindarinya karena takut keputusannya tersebut salah. Masalah moralitas dan etika juga dipegang teguh namun hal ini bukan karena memegang teuh keyakinan melainkan karena kekakuan kepribadian. Oleh karena itu, mereka cenderung sulit mengungkapkan perasaan, bersantai, dan menikmati aktivitas yang menyenangkan.

E. Masalah dalam Penggolongan Gangguan Kepribadian Berbagai masalah muncul seiring dengan dilakukannya diagnosis terhadap gangguan-gangguan yang dialami oleh pasien. Di antaranya sebagai berikut. 1. Reliabilitas dan Validitas yang Tidak Dapat Dipastikan Ambiguitas dalam kriteria diagnostik dari gangguan kepribadian saat ini telah diatasi dengan dibuatnya sistem DSM. Sistem ini memberikan kriteria deskriptif yang lebih jelas dalam membedakan

11

gangguan tertentu. Namun, reliabilitas dan validitasnya tetap masih perlu diteliti. 2. Masalah dalam Membedakan Gangguan pada Aksis I dan Aksis II Gangguan kepribadian aksis II dan sindrom klinis aksis I masih dipertanyakan cara pembedaannya. Misalnya membedakan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif dan gangguan obsesif-kompulsif. Sindrom klinis diyakini berubah dari waktu ke waktu sedangkan gangguan kepribadian cenderung merupakan pola gangguan yang abadi. Tetapi saat ini ciri gangguan kepribadian dapat berbeda dari waktu ke waktu tergantung situasi yang berubah. 3. Tumpang Tindih Antar gangguan Di antara gangguan-gangguan kepribadian terdapat tumpang tindih yang besar dalam upaya melakukan diagnosis. Walaupun sejumlah gangguan kepribadian memiliki perbedaan yang jelas, banyak yang tampak memiliki trait umum yang sama. Misalnya seorang klien dapat memiliki traiit yang mengindikasikan gangguan kepribadian dependen dan menghindar. Tumpang tindih tersebut menunjukkan bahwa antargangguan kepribadian dalam sistem DSM tidak cukup berbeda. Jadi, sejumlah gangguan bisa jadi menggambarkan aspek yang berbeda dari satu gangguan, bukan kategori diagnostik yang berbeda. 4. Kesulitan Membedakan antara Variasi dalam Perilaku Normal dan Perilaku Abnormal Berkaitan dengan diagnosis gangguan kepribadian, terdapat masalah lain yaitu gangguan tersebut melibatkan trait yang dalam derajat lebih rendah menggambarkan perilaku dari kebanyakan individu normal. Misalnya rasa curiga bukan berarti memiliki gangguan kepribadian paranoid, melebih-lebihkan arti penting diri sendiri bukan berarti gangguan kepribadian narsisistik, serta menghindari interaksi sosial karena takut ditolak bukan berarti gangguan kepribadian menghindar. Oleh karena atribut yang menjelaskan gangguan merupakan trait kepribadian, maka klinisi sebaiknya hanya menerapkan level diagnostik saat pola tersebut sangat pervasif sehingga mengacaukan fungsi individual dan menyebabkan distres personal yang signifikan. Tetapi masih sulit memberikan batas antara variasi normal dalam gangguan perilaku dan kepribadian. Yang disebabkan juga karena kekurangan data. 5. Bias Seksis
12

Konsep dari gangguan kepribadian histrionik dan dependen kemungkinan bersifat seksis. Gambaran dari gangguan ini dapat diindikasikan sebagai parodi dari stereotip peran gender tradisional feminim. Perempuan memiliki risiko lebih besar untuk mendapat diagnosis gangguan kepribadian histrionik dan dependen karena pola ini dianggap lebih umum dialami oleh perempuan atau karena perempuan lebih cenderung disosialisasikan ke dalam pola perilaku ini dibanding laki-lakiBias gender juga terjadi dalam beberapa kasus seperti laki-laki memiliki gangguan kepribadian anti sosial dan saat mendiagnosis kasus yang diidentifikasi sebagai perempuan yang mengalami gangguan kepribadian ambang. 6. Merancu Antara Label dengan Penjelasan Dalam mendiagnosis suatu gangguan sebaiknya tidak merancu antara label dengan penjelasan agar tidak terjatuh dalam jebakan penalaran yang sirkular. Misalnya Perilaku Brian antisosial. Karenanya ia memiliki gangguan kepribadian antisosial. dan Perilaku Brian antisosial karena memiliki gangguan kepribadian antisosial. Kedua pernyataan tersebut berputar dalam penalarannya. Pernyataan pertama menggunakan perilaku untuk membuat diagnosis sedangkan pernyataan kedua menggunakan diagnosis sebagai penjelasan perilaku. Label tersebut kurang memiliki ketegasan ilmiah sehingga klinisi perlu memahami penyebab dan faktor yang membuatnya terus ada termasuk dampak dari peristiwa hidup traumatis tertentu. Pelabelan tersebut cenderung mengabaikan konteks sosial dan lingkungan di mana perilaku tersebut terjadi. Di lain sisi, gangguan kepribadian merupakan label yang cukup tepat untuk mengidentifikasi pola umum dari perilaku yang tidak efektif dan self-defeating, namun label tidak menjelaskan penyebabnya. Oleh karena itu, masih tetap diperlukan pengembangan sistem deskriptif yang akurat dan pembentukan kategori diagnostik yang reliabel.

F. Perspektif Teoritis Gangguan Kepribadian 1. Perspektif Psikodinamika Teori Freudian tradisional berfokus pada masalah yang muncul dari Oedipus Complex sebagai dasar dari perilaku abnormal, termasuk gangguan kepribadian. Normalnya, anak-anak dapat mengatasi Oedipus Complex dengan melakukan identifikasi pada orang tua yang bergender sama. Namun, banyak fanktor yang mengganggu proses identifikasi yang tepat seperti ketidakhadiran ayah dan orang tua antisosial. Faktor-faktor
13

tersebut yang dapat menyimpangkan proses perkembangan anak menjadi abnormal, berperilaku antisosial, dan menyakiti orang lain. a. Hans Kohut Kohut berfokus perkembangan kepribadian narsisistik dengan self psychology-nya. Orang dengan kepribadian narsisitik akan meningkatkan rasa self importance yang palsu untuk menutupi perasaan tidak adekuat yang mendalam. Self esteem-nya harus terus menerus dipenuhi. Curahan perhatian tersebut mencegahnya mengalami penderitaan karena ketidakamanan. Kegagalan dan kekecewaan mengancam munculnya perasaan-perasaan grandiosa (merasa diri hebat) dan membuatnya menjadi depresi. Sebagai pertahanannya, ia mengecilkan arti dari kegagalan. Menurut Kohut, masa kanak-kanak ditandai dengan tahap normal akan narsisisme yang sehat. Bayi menggambarkan orang tua sebagai sosok yang ideal. Orang tua yang empati membuat anak merasa segala sesuatu itu mungkin dan membesarkan self esteem anak. Meskipun begitu, orang tua juga gagal untuk menyesuaikan diri dengan gambaran ideal anak mereka sehingga penilaian anak terhadap orang tua menjadi realistis. Self image awal yang grandiosa membentuk dasar untuk ketegasan di masa kanak-kanak dan mengatur tahapan menuju perjuangan ambisius di masa dewasa. Saat remaja, idealisasi kanak-kanak berubah menjadi kekaguman yang realistis pada orang tua, guru, dan teman yang kemudian berkembang menjadi satu set standar, nilai, dan tujuan internal di masa dewasa. Kurangnya empati dan dukungan orang tua dapat membentuk tahapan narsisisme patologis di masa dewasa. Anak-anak yang tidak dihargai oleh orang tua mereka gagal mengembangkan self esteem yang kuat dan lebih mengembangkan self concept yang rusak, serta membangun self perfection palsu yang grandiosa untuk menyembunyikan perasaannya. Jadi, karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi dengan sangat, orang dengan kepribadian ini akan sangat marah bila ditentang dengan cara apapun. Oleh karena itu, terapis membantu pasien dengan kepribadian ini untuk dapat membentuk citra yang lebih realistis akan self dan orang lain. b. Otto Kernberg

14

Otto Kernberg memfokuskan pada kepribadian ambang yang berkaitan dengan kegagalan periode Pra-Oedipal untuk mengembangkan rasa konstan (self of constancy) dan kesatuan dalam citra tentang self dan orang lain. Kegagalan masa kanak-kanak untuk menyintesiskan citra yang kontradiktif antara baik dan buruk menyebabkan timbulnya pemisahan (splitting), yaittu ketidakmampuan untuk menyatukan aspek positif dan negatif yang terdapat dalam self dan diri orang lain, menyebabkan perubahan mendadak antara perasaan positif dan negatif. Menurutnya, orang tua sering gagal memenuhi kebutuhan anak-anaknya sehinggga bayi gagal untuk menggabungkan citra ibu yang baik dan ibu yang buruk menjadi citra yang realistik, terpadu, dan stabil sehingga anak terfiksasi dalam periode ini dan sebagai akibatnya ketika dewasa, mereka dapat memiliki sikap yang mudah berubah. c. Margaret Mahler Mahler mengaitkan kepribadian ambang dengan pemisahan dari figur ibu di masa kanak-kanak. Sepanjang tahun pertama, bayi mengembagkan kelekatan simbiotik pada ibunya di mana keduanya saling menyatu. Normalnya, secara perlahan anak mulai memisahkan identitas dirinya dengan identitas ibu yang disebut dengan pemisahan atau individuasi. Proses ini mencakup pengenalan karakteristik personal. Proses ini bisa menjadi sulit karena anak bingung antara menjadi mandiri atau kembali bersatu dengan mendekati ibu. Di sisi lain, ibu dapat menolak melepaskan anak atau terlalu cepat mendorongnya ke arah kemandirian. Kegagalan inilah yang dapat memunculkan gangguan kepribadian ambang. Teori psikodinamika ini memiliki banyak kritik, khususnya bahwa gangguan kepribadian yang dijelaskan hanya didasarkan pada kesimpulan yang ditarik dari perilaku dan penjelasan retrospektif orang dewasa dan bukan observasi langsung pada anak-anak. 2. Perspektif Belajar Teoretikus belajar cenderung lebih berfokus pada pencapaian perilaku dibanding pada pandangan akan trait kepribadian yang abadi. Teoretikus trait yakin bahwa trait kepribadian mengarahkan perilaku, memberikan kerangka kerja untuk perilaku yang konsisten dalam berbagai situasi. Meskipun demikian, beberapa kritik membantah bahwa perilaku pada dasarnya kurang konsisten dalam berbagai situasi, tidak seperti yang dikatakan oleh teoretikus trait. Perilaku lebih banyak
15

bergantung pada tuntutan situasional daripada trait yang inheren. Contohnya, kita bisa mengatakan seseorang pemalas dan tidak termotivasi. Tapi benarkah orang tersebut selalu malas dan tidak termotivasi? Tidakkah ada beberapa situasi dimana orang tersebut menjadi energik dan ambisius? Perbedaan apa dalam situasi tersebut yang dapat menjelaskan munculnya perbedaan perilaku? Teoritikus belajar menaruh minat pada menentukan riwayat belajar dan faktor situasional yang membangkitkan perilaku maladaptif dan reinforcer yang mempertahankan perilaku tersebut. Teoretikus belajar mengatakan bahwa pada masa kanak-kanak banyak terjadi pengalaman penting yang membentuk perkembangan kebiasaan maladaptif dalam berhubungan dengan orang lain yang menyebabkan terjadinya gangguan kepribadian. Contohnya, anak yang secara terus menerus tidak didukung untuk mengungkapkan pikiran mereka atau menjelajahi lingkungan mereka dapat mengembangkan pola perilaku kepribadian dependen. Gangguan kepribadian obsesifkompulsif kemungkinan terkait dengan disiplin atau kontrol yang berlebihan dari orang tua di masa kanak-kanak. Millon menyatakan bahwa gangguan kepribadian histrionik mungkin berakar pada pengalaman masa kanak-kanak dimana social reinforcers, seperti perhatian orang tua, terhubung dengan penampilan dan keinginan anak untuk tampil di depan orang lain, terutama dalam kasus dimana reinforcers diberikan secara tidak konsisten. Perhatian yang tidak konsisten mengajarkan pada anak untuk tidak menerima persetujuan begitu saja dan untuk berjuang terus untuk mendapatkannya. Orang dengan kepribadian histrionik juga diidentifikasi memiliki orang tua yang dramatis, emosional, dan suka mencari perhatian. Persaingan antar saudara kandung yang ekstrem juga menguatkan motivasi tampil demi mendapatkan perhatian dari orang lain. Teoretikus sosial kognitif menekan pada peran reinforcement dalam menjelaskan asal mula dari perilaku antisosial. Ullmann dan Krasner menyatakan, sebagai contoh, bahwa orang dengan kepribadian antisosial kemungkinan gagal untuk belajar merespons terhadap orang lain sebagai reinforcer yang potensial. Reinforcement dan hukuman menyediakan umpan balik (informasi tentang harapan sosial) yang membantu anak memodifikasi perilaku mereka untuk memaksimalkan kesempatan mendapat reward dan meminimalkan resiko hukuman di masa yang akan datang. Sebagai konsekuensinya, anak menjadi terisosialisasi. Orang kepribadian antisosial, tidak tersosialisasi dengan cara ini karena pengalaman belajar awal mereka kurang memiliki konsistensi dan prediktabilitas yang membantu anak lain
16

menghubungkan perilaku mereka dengan reward untuk sesuatu yang benar namun sering laki tidak. Mereka dapat menerima beban hukuman fisik yang keras yang lebih banyak tergantung pada keinginan orang tua daripada perilaku mereka sendiri. Sebagai orang dewasa, mereka tidak banyak menempatkan nilai pada apa yang diinginkan orang lain karena tidak terdapat hubungan yang jelas antara perilaku mereka dan reinforcement di masa kecil. Teoretikus sosial kognitif, Albert Bandura telah mempelajari peran belajar observasional dalam perilaku agresif, yang merupakan salah satu komponen umum dari perilaku antisosial. Ia dan koleganya telah menunjukan bahwa anak menguasai keterampilan agresif, melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Pemaparan terhadap agresi bisa terjadi dari menonton tayangan kekerasan ditelevisi atau dari mengamati orang tua yang saling berlaku kasar satu sama lain. Psikolog kognitif sosial juga menunjukan bahwa cara orang dengan gangguan kepribadian menginterpretasi pengalaman sosial mereka mempengaruhi perilaku mereka. remaja yang antisosial, misalnya, cenderung keliru menginterpretasikan perilaku orang lain sebagai mengancam. Sering kali, mungkin karena pengalaman keluarga dan komunitas mereka, mereka menganggap bahwa orang lain berkeinginan membuat mereka sakit meski tidak begitu kenyataannya. Dalam sebuah metode terapi kognitif menjanjikan yang berdasar pada temuan semacam itu, disebut terapi pemecahan masalah (problemsolving therapy), remaja laki-laki yang antisosial didorong untuk mengkonsepkan kembali interaksi sosial mereka sebagai maslah yang harus diatasi dan bukan sebagai ancaman terhadap kejantanan mereka. kemudian mreka memunculkan solusi yang tidak kasar untuk konfrontasi sosial dan, seperti ilmuwan, menguji salah satu solusi yang paling menjanjikan. Dalam bagian perspektif biologis kita juga melihat bahwa kegagalan kepribadian antisosial untuk mendapat manfaat dari hukuman yang terkait dengan faktor kognitif yaitu makna dari stimulus aversif. Di atas semuanya, pendekatan belajar terhadap gangguan kepribadian memiliki keterbatasan. Pendekatan tersebut terkungkung dalam teori dan bukan dalam observasi pada interaksi keluarga yang meramalkan perkembangan gangguan kepribadian. 3. Perspektif Keluarga Banyak teoretikus berdebat bahwa gangguan dalam hubungan keluarga mendasari perkembangan gangguan kepribadian. Sejalan dengan formulasi psikodinamika, peneliti menemukan bahwa orang
17

dengan gangguan kepribadian ambang (BPD) mengenang orang tua mereka sebagai orang yang lebih mengontrol dan kurang peduli dibanding referensi dari orang dengan gangguan psikologis lain. Saat orang dengan BPD mengingat memori terdahulu mereka, mereka lebih cenderung menggambarkan significant others sebagai kejam atau jahat dibandingkan dengan orang lain yang tidak mengalami BPD. Mereka menggambarkan orang tua dan orang-orang yang dekat dengan mereka sebagai pernah dengan sengaja melukai atau gagal menolong mereka saat mereka disakiti oleh orang lain. Sejumlah peneliti telah mengaitkan sejarah penganiayaan fisik atau seksual atau pengabaian di masa kanak-kanak dengan perkembangan gangguan kepribadian, termasuk BPD, dimasa dewasa. Mungkin pemisahan yang teramati pada orang dengan gangguan tersebut adalah fungsi dari pembelajaran untuk menghadapi perilaku yang tidak dapat diramalkan dan kejam dari figur orang tua atau pengasuh lainnya. Sejalan lagi dengan teori psikodinamika, faktor keluarga seperti overproteksi orang tua dan otoritarianisme menyebabkan berkembangnya trait kepribadian dependen yang dapat memperlambat perkembangan perilaku mandiri. Ketakutan yang ekstrem akan ditinggalkan juga dapat menjadi salah satu penyebab, kemungkinan dihasilkan dari kegagalan untuk mengembangkan ikatan yang aman dengan figur kelekatan orang tua dimasa kanak-kanak akibat pengabaian, penolakan atau kematian orang tua. Kemudian ketakutan yang kronis akan ditinggalkan oleh orang yang telah menjalin hubungan dekat dengannya dapat muncul, menyebabkan ketergantungan yang menjadi ciri gangguan kepribadian dependen. Teoretikus juga menyatakan bahwa gangguan kepribadian obsesif-kompulsif dapat timbul dalam lingkungan keluarga yang sangat moralis dan kaku, yang tidak mengizinkan penyimpangan sekecil apapun dari peran atau perilaku yang diharapkan. Seperti halnya BPD, peneliti menemukan bahwa penganiayaan atau pengabaian di masa kanak-kanak adalah faktor resiko dalam perkembangan gangguan kepribadian antisosial (APD) di masa dewasa. 4. Perspektif Biologis a. Faktor Genetis Dalam gangguan kepribadian ada indikasi bukti dari adanya faktor genetis, berdasar temuan bahwa hubungan biologis derajat
18

pertama (orang tua dan saudara kandung) dari orang dengan gangguan kepribadian tertentu, terutama tipe antisosial, skizotipal, dan ambang lebih cenderung di diagnosis dengan gangguangangguan ini daripada anggota populasi umum. Peneliti melakukan penelitian pada anak kembar dan anak adopsi untuk mengetahui pengaruh genetis dan lingkungan. Bukti dari penelitian anak kembar menyatakan bahwa dimensi kepribadian yang terkait dengan gangguan kepribadian tertentu dapat memiliki komponen yang diwariskan. Peneliti menguji kontribusi genetis pada 18 dimensi yang mendasari berbagai gangguan kepribadian, termasuk kekejaman, masalah identitas, kecemasan, kelekatan tang tidak aman, narsisisme, penghindaran sosial, self-harm, dan oposisionalitas. Pengaruh genetis ditunjukan oleh temuan akan adanya korelasi yang lebih besar pada trait terberi di antara anak kembar identik daripada kembar fratenal. Sebuah temuan menyatakan bahwa fakotr genetis berperan dalam perbedaan derajat yang terdapat pada perkembangan trait yang mendasari gangguan kepribadian. Tentunya tidak semua orang yang memiliki trait ini mengembangkan gangguan kepribadian. Namun, mungkin saja bahwa orang dengan predisposisi genetis untuk trait ini lebih rentan dalam mengembangkan gangguan kepribadian bila mereka dihadapkan pada pengaruh lingkungan tertentu, seperti diasuh dalam keluarga yang disfungsional. Bukti dari penelitian adopsi menyatakan bahwa faktor genetis maupun lingkungan mempengaruhi resiko untuk mengembangkan gangguan kepribadian antisosial. Anak yang diadopsi dari orang tua biologis yang menderita gangguan kepribadian antisosial memiliki resiko diatas rata-rata untuk mengembangkan gangguan tersebut, namun resiko mereka juga bergantung pada lingkungan dari keluarga adopsi mereka. b. Kurangnya Respon Emosional Menurut Hervey Cleckley, orang dengan kepribadian antisosial dapat menjaga ketenangan mereka dalam situasi yang penuh tekanan yang akan menyebabkan kecemasan pada kebanyakan orang. Kurangnya kecemasan sebagai respon terhadap situasi mengancam dapat membantu menjelaskan kegagalan hukuman dalam membuat orang antisosial meninggalkan perilaku antisosial. Bagi sebagian besar dari kita, takut tertangkap dan dihukum cukup untuk menghambat impuls antisosial. Meski begitu, orang dengan
19

kepribadian antisosial sering gagal untuk menghambat perilaku yang menyebabkan hukuman di masa lalu. Mereka tidak belajar untuk mengahambat perilaku antisosial atau agresif karena mereka hanya mengalami sedikit, bila ada, ketakutan atau kecemasan terhadap kenyataan ditangkap atau dihukum. Saat orang cemas, telapak tangan mereka cenderung berkeringat. Respon kulit, disebut galvanic skin respon (GSR), adalah suatu tanda aktivasi dari cabang simpatis sistem saraf otonom (autonomic nervous system / ANS). Dalam sebuah penelitan awal, hare menunjukan bahwa orang dengan kepribadian antisosial memliki tingkat GSR lebih rendah saat mereka dihadapkan pada stimulus yang menyakitkan daripada kelompok kontrol yang normal. Tampaknya orang dengan kepribadian antisosial hanya mengalami sedikit kecemasan dalam mengantisipasi rasa sakit yang akan dihadapinya. Penemuan Hare akan lebih lemahnya respon GSR pada orang dengan kepribadian antisosial telah direplikasi beberapa kali. Penelitian lain pada umumnya mendukung pandangan bahwa orang dengan kepribadian antisosial umumnya kurang terangsang daripada orang lain, baik dalam waktu istirahat maupun dalam situasi dimana mereka menghadapi tekanan. c. Model Lapar akan Stimulasi Penelitian lain mencoba untuk menjelaskan kurangnya respons emosional pada kepribadian antisosial dalam kerangka tingkat stimulasi yang diperlukan untuk menjaga sebuah tingkat kerangsangan optimum (optimum level of arousal). Tingkat kerangsangan optimum kita adalah derajat keterangsangan dimana kita merasa dalam kondisi terbaik dan berfungsi paling efisien. Individu psikopati tampak memliki rasa lapar yang berlebihan akan stimulasi. Mungkin mereka memerlukan ambang stimulasi diatas normal untuk menjaga kondisi keterangsangan optimum. Sehingga mereka memerlukan stimulasi yanglebih banyak daripada orang lain untuk menjaga minat atau fungsi secara normal. d. Abnormalitas Otak Penelitian menggunakan teknik pencitraan otak (brain imaging) yang canggih menhubungkan antara gangguan kepribadian antisosial dan abnormalitas pada korteks prafrontal dari lobus frontal. Korteks prafrontal adalah bagian otak yang bertanggung
20

jawab untuk menghambat perilaku impulsif, menimbang konsekuensi dari tindakan kita, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan. Abnormalitas otak dapat membantu menjelaskan beberapa ciri kepribadian antisosial, termasuk kurangnya hati nurani, kegagalan dalam menghambat perilaku impulsif, kondisi keterangsangan yang rendah, usaha yang buruk dalam memecahkan masalah, dan kegagalan untuk memikirkan konsekuensi dan perilaku sebelum bertindak.

5.

Perspektif Sosiokultural Perspektif sosiokultural biasanya digunakan untuk menelaah kondisi social yang dapat berkontribusi pada perkembangan pola perilaku yang diidentifikasi sebagai gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian antisocial sering terjadi pada orang dari kelas social ekonomi yang rendah. Masalah-masalah social seperti alcohol, obat-obatan terlarang, kehamilan remaja, penganiayaan anak, dapat menurunkan self-esteem dan menimbulkan kepribadian antisocial. Kesalahan penyesuaian di sekolah dapat menyebabkan alienasi dan frustasi terhadap masyarakat yang lebih luas, menyebabkan perilaku antisocial (Siegel, 1992). Penganiayaan fisik dan seksual dapat mendasari perkembangan trait kepribadian ambang.

G. Penanganan Gangguan Kepribadian Gangguan kepribadian ditangani dengan tiga macam pendekatan, yaitu pendekatan psikodinamika, pendekatan behavioral, dan pendekatan biologis atau terapi obat-obatan. Terlepas dari sulitnya bekerja secara terapeutik dengan gangguan kepribadian, hasil yang menjajikan muncul berdasar pendekatan psikodinamika dan kognitf-behavioral. 1. Pendekatan Psikodinamika Pendekatan psikodinamika sering digunakan untuk membantu orang yang didiagnosis memiliki gangguan kepribadian agar lebih sadar akan perilaku self-defeating mereka, memahami akar masa kanak-kanak dari masalah mereka, dan belajar cara yang lebih adaptif dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan ini agak sulit dilakukan pada orang dengan gangguan kepribadian ambang dan narsistik. Penanganan ganggun kepribadian dengan pendekatan psikodinamika ini menekankan pada perilaku interpersonal dan menggunakan gaya yang lebih aktif dan
21

konfrontatif dalam mengatasi psikoanalisis tradisional. 2. Pendekatan Behavioral

pertahanan

klien

daripada

kasus

Pendekatan behavioral berfokus pada usaha merubah perilaku maladaptive klien menjadi perilaku yang lebih adaptif melalui teknikteknik seperti pemusnahan, modeling, dan reinforcement. Selain digunakan untuk mendorong tingkah laku yang lebih adaptif, terapi ini juga digunakan untuk mengembangkan keterampilan social yang lebih efektif, dan untuk mengubah cara berfikir yang salah dengan alternative rasional. Beck, seorang terapis, menggunakan teknik terapi ini untuk memperbaiki distorsi kognitif yang mendasari kecenderungan untuk memandang diri sendiri dan orang lain sebagai semua-tentangnya-baik atau semua-tentangnya-buruk. 3. Pendekatan Biologis Terapi biologis atau obat-obatan tidak secara langsung menangani gangguan kepribadian. Obat anti depresan atau antikecemasan digunakan untuk menangani distress emosional para penderita gangguan kepribadian. Obat-obatan ini dapat digunakan untuk mengendalikan simtom namun tidak dapat mengubah pola perilaku yang mendasarinya. Obat antidepresan sejenis Prozac diyakini dapat menekan perilaku agresif dan iritabilitas dalam diri penderita gangguan kepribadian. Perilaku agresif dan iritbilitas ini diyakini berhubungan dengan kekurangan hormone serotonin, dimana Prozac dapat meningkatkan ketersediaan hormone serotonin ini dalam sambungan sinaptik didalam otak.

22

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Gangguan kepribadian adalah pola perilaku yang maladaptif dan kaku atau trait kepribadian yang berhubungan dengan kondisi disstres personal yang merusak kemampuan orang tersebut untuk berfungsi dalam peran sosial atau pekerjaan. Orang dengan gangguan kepribadian umumnya tidak perlu untuk mengubah diri. Menurut DSM, gangguan kepribadian terbagi atas 3 yaitu orang yang dianggap aneh atau eksentrik, orang dengan perilaku dengan dramatis, emosional atau erati), dan orang yang sering kali tampak cemas atau ketakutan. Gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku aneh atau eksentrik meliputi gangguan patanoid, skizoid, dan skizotipal. Orang dengan gangguan ini sering memiliki kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, atau mereka menunjukan sedikit atau tidak adanya minat dalam mengembangkan hubungan sosial. Gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku dramatis, emosional atau eratik meliputi tipe antisosial, ambang, histrionik, dan narsisistik. Pola perilaku dari berbagai tipe ini adalah berlebih-lebihan, tidak dapat diramalkan, atau self-centered. Orang dengan gangguan ini memiliki kesulitan untuk membentuk dan membina hubungan. Gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku cemas atau ketakutan mencakup tipe menghindar, dependen, dan obsesif-kompulsif. Gangguan ini sama-sama memiliki komponen berupa rasa takut atau kecemasan.
23

Berbagai masalah yang terjadi dalam penggolongan gangguan kepribadian seperti kurangnya reliabilitas dan validitas, adanya tumpak tindih antara kategori, kesulitan dalam membedakan variasi perilaku normal dan abnormal, bias seksis yang mendasari kategori tertentu dan kerancuan antara label dengan penjelasan. Perspektif teoretis membahas gangguan kepribadian ditinjau dari perspektif psikodinamika, perspektif belajar, perspektif keluarga, perspektif biologis dan perspektif sosiokultural. Pendekatan psikodinamika membantu orang yang memiliki gangguan kepribadian agar lebih sadar akan perilaku self-defeating mereka, memahami akar masa kanak-kanak dari masalah mereka, dan belajar cara yang lebih adaptif dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan behavioral berfokus pada usaha merubah perilaku maladaptive klien menjadi perilaku yang lebih adaptif dan mendorong keterampilan social yang lebih efektif, dan untuk mengubah cara berfikir yang salah dengan alternative rasional. Terapi biologis menggunakan obat-obatan meskipun tidak secara langsung menangani gangguan kepribadian. Obat-obatan ini dapat digunakan untuk mengendalikan simtom namun tidak dapat mengubah pola perilaku yang mendasarinya.

24

DAFTAR PUSTAKA

Nevid, Jefferey S., Rathus, Spencer A., Greene, Beverly., 2005, Psikologi Abnormal Jilid 1, Jakarta : Penerbit Erlangga

25

26