Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN REFERAT

BLOK ENDOKRIN METABOLISME


~Defisiensi Vitamin C


Tutor :
dr. AIiIah

Disusun oleh :
Kelompok 9
Gilang Ridha F G1A010042
ShoIa Shabrina H. G1A010051
Nurvita Pranasari G1A010054
Nurvynda Pratiwi G1A010066
Moch. Riski Kurniadi G1A010071
Keyko Lampita M. H. G1A010074
Tsalasa Agustina G1A010078
Nurul Apriliani G1A010084
Aria Y. Kusuma G1A010095
Intan Puspita Hapsari G1A010109
Eka Wijaya W G1A010112
R. Caesar R.P.W. K1A005027


KEMENTRIAN PENDIDKAN NASIONAL
UNIVERSITAS 1ENDRAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
1URUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelompok vitamin-vitamin yang larut air dan tidak larut dalam minyak
dan zat-zat pelarut lemak, ialah vitamin C dan vitamin-vitamin B kompleks.
Vitamin C dapat larut dalam air dan tidak dapat larut di dalam minyak, tetapi
merupakan kelas tersendiri, tidak satu kelompok dengan vitamin B kompleks
(Sediaoetama, 2004).
Vitamin C berbentuk kristal putih, merupakan suatu asam organic dan
terasa asam,tetapi tidak berbau. Dalam larutan, vitamin C mudah rusak karena
oksidasi oleh oksigen dari udara, tetapi lebih stabil bila terdapat dalam bentuk
kristal kering (Sediaoetama, 2004).
Vitamin C dapat tersebar di dalam berbagai jaringan, dalam urutan
konsentrasi yang semakin menurun ialah jaringan retina, pituitary gland,
corpus luteum, adrenal cortex, thymus, hati, otak, testes, ovarium, dan
sebagainya. Kadar vitamin C di dalam jaringan tubuh dan di dalam darah
yang dianggap normal ialah 0,8-10 mg (Sediaoetama, 2004).
Bila kondisi tubuh ada dalam kondisi jenuh oleh vitamin C, sebagian
besar akan diekskresikan lewat urine. Sebaliknya bila suplai vitamin ini di
dalam jaringan tidak mencukup, maka sebagian besar dari dosis vitamin C
yang diberikan akan diretensi di dalam tubuh dan sedikit sekali yang
diekskresikan di dalam urine. DeIisiensi vitamin C memberikan penyakit
yang disebut skorbut. Kerusakan terjadi di dalam jaringan yang terdapat di
dalam rongga mulut, di tulang dan gigi geligi. Juga terdapat kerusakan pada
saluran darah (Sediaoetama, 2004).

B. Tujuan
Mengetahui dan mempelajari mengenai deIisiensi vitamin C, meliputi
deIinisi, Iisiologi, biokimia, pathogenesis, patoIisiologi, tanda dan gejala,
diagnosis, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, dan prognosis.
BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA

A. Definisi
Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin yang larut dalam air
dan tidak dapat larut dalam minyak serta zat-zat pelarut lainnya. Vitamin C
berbentuk kristal putih, merupakan suatu asam organik dan terasa asam, tetapi
tidak berbau. Dalam larutan, vitamin C mudah rusak karena oksidasi oleh
oksigen dan udara, tetapi lebih stabil bila terdapat dalam bentuk kristal
kering. Di antara peranan vitamin C yang penting bagi tubuh yaitu pada
sintesa kolagen, sebagai antioksidan, sebagai penguat sistem imun dan
sebagai pencegah kanker. Vitamin C tidak dapat dibentuk oleh tubuh manusia
sehingga perlu dikonsumsi dari makanan, minuman, dan suplemen makanan
lainnya. EIektiIltas penyerapan vitamin C di dalam usus tergantung dosis,
dimana dengan penambahan dosis, penyerapan semakin berkurang.
Sedangkan penyerapan di dalam ginjal tergantung pada pool tubuh, dimana
pada pool tubuh 1500 mg vitamin C akan diserap kembali oleh ginjal, dan
pada pool tubuh ~ 1500 mg akan ada vitamin C yang dibuang. Tubuh
membutuhkan vitamin C untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan di
seluruh bagian tubuh. Ini membantu tubuh membuat kolagen, suatu protein
penting yang digunakan untuk membuat kulit, tulang rawan, tendon, ligamen,
dan pembuluh darah. Vitamin C sangat penting untuk penyembuhan luka, dan
untuk memperbaiki dan memelihara tulang dan gigi . Pada deIisiensi vitamin
C, maniIestasinya terhadap rongga mulut yaitu gingivitis, periodontitis,
perdarahan pulpa dan pembuluh darah lainnya serta dapat menyebabkan gigi
tanggal (Underwood, 2003).
Vitamin C adalah vitamin yang paling tidak stabil dari semua vitamin
dan mudah rusak selama pemrosesan dan penyimpanan. Vitamin C lebih
mudah rusak dalam pemasakan dibanding vitamin-vitamin lain dan mudah
sekali teroksidasi terlebih bila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim asorbic acid
oksidase, sinar dan temperatur yang sangat tinggi. Vitamin C mempunyai
berat molekul 178 dengan rumus molekul C
6
H
8
O
6
. Vitamin ini memiliki
bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190-192 C, bersiIat larut dalam air
sedikit larut dalam aseton atau alkohol yang mempunyai berat molekul
rendah. Vitamin C sukar larut dalam kloroIorm, eter dan benzen, dengan
logam membentuk garam. SiIat asam ditentukan oleh ionisasienol group pada
atom C no 3 pada pH rendah vitamin C lebih stabil dari pada pH tinggi.
Vitamin C mudah teroksidasi, lebih apabila terdapat katalisator Fe, Cu ,enzim
askorbat oksidase, sinar, dan temperatur tinggi. Larutan encer Vitamin C pada
pH kurang dari 7.5 masih stabil apabila tidak ada katalisator seperti di atas.
Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dehidro askorbat (www.usu.ac.id ;
11 Oktober 2011 19.14 WIB)
Vitamin C mempunyai banyak Iungsi. Vitamin C berperan membantu
enzim spesiIik dalam melakukan Iungsinya. Vitamin C juga bekerja sebagai
antioksidan. Perusahaan kadangkadang menambahkan vitamin C pada
produk makanannya untuk menjaga kandungan bahan tertentu. Vitamin C
juga penting untuk membentuk kolagen, serat, struktur protein. Kolagen
dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan gigi dan juga untuk membentuk
jaringan bekas luka. Vitamin C juga meningkatkan ketahanan tubuh terhadap
inIeksi dan membantu tubuh menyerap zat besi (Underwood, 2003).
Selain itu vitamin C berIungsi aktiI dalam sel organisme hidup. Dimana
enzim propil hidroksilase tetap stabil, apabila kandungan vitamin C cukup
dalam sel. Vitamin C juga mencegah lesi pada kulit dan mencegah dinding
pembuluh darah mudah pecah. Seperti pada penyakit gusi/bibir berdarah.
Vitamin C berIungsi untuk menjaga struktur kolagen yang menghubungkan
semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh
manusia. Vitamin C juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat
besi dan mempertajam kesadaran. Sebagai antioksidan Vitamin C mampu
menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh. Berdasarkan pengaruh pencahar,
vitamin C dapat meningkatkan pembuangan Ieses atau kotoran. Vitamin C
mampu menangkal nitrit penyebab kanker. Beberapa sumber yang sangat baik
dari vitamin C adalah jeruk, paprika hijau, semangka, pepaya, jeruk, melon,
kiwi, mangga, brokoli, tomat, kubis Brussel, kembang kol, kubis, dan jus
jeruk atau jus diperkaya dengan vitamin C. Bahan baku yang dimasak
sebagai sayuran hijau (turnip hijau, bayam), paprika merah dan hijau, tomat
kaleng dan segar, kentang, labu musim dingin, raspberry, blueberry,
cranberry, dan nanas juga merupakan sumber yang kaya vitamin C. Vitamin
C sensitiI terhadap cahaya, udara, dan panas, sehingga akan mendapatkan
vitamin C jika makan buah-buahan dan sayuran mentah atau dimasak
sebentar. Vitamin C dosis tinggi (500-10.000 miligram) telah dianjurkan
untuk mencegah common cold, ski:ofrenia, kanker, hiperkolesterolemia dan
aterosklerosis. Tetapi hal ini belum mendapatkan dukungan ilmiah yang
cukup. Dosis yang melebihi 1000 miligram/hari menyebabkan diare, batu
ginjal pada orang-orang yang peka, perubahan siklus menstruasi. Beberapa
orang yang menghentikan asupan Vitamin C dosis tinggi secara tiba-tiba
dapat kembali mengalami scurvy (Isselbacher, 2002).
Gejala awal kekurangan vitamin C adalah pendarahan disekitar gigi dan
merusak pembuluh darah di bawah kulit, menghasilkan pinpoint
haemorrhage. Kekurangan banyak vitamin C berakibat pada sistem syaraI
dan ketegangan otot. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otot seperti juga
rasa nyeri, gangguan syaraI dan depresi. Gejala selanjutnya adalah anemia,
sering terkena inIeksi, kulit kasar dan kegagalan dalam menyembuhkan luka.
Ketika seseorang mengkonsumsi sejumlah besar vitamin C dalam bentuk
suplemen dalam jangka panjang, tubuh menyesuaikannya dengan
menghancurkan dan mengeluarkan kelebihan vitamin C dari pada biasanya.
Jika konsumsi kemudian secara tiba-tiba dikurangi, tubuh tidak akan
menghentikan proses ini, sehingga menyebabkan penyakit kudisan. DeIisiensi
vitamin C terjadi jika asupan kurang atau terganggu absorbsinya terutama
pada bayi. Peranan vitamin C meningkatkan GSH serta menurunkan kadar
MDA sel eritrosit sehingga proses hemolisis dapat dikurangi atau dicegah
(Suryohudoyo 2000).
Perbedaan hasil pemeriksaan kultur sel endotel aorta manusia yang
diberikan vitamin C dan tanpa pemberian vitamin C. Kerusakan oksidatiI
lebih besar didapatkan pada sampel tanpa pemberian vitamin C. Pada
penelitian tersebut digunakan parameter oksidatiI : kadar vitamin C
intraseluler, GSH, rasio GSH/GSSG, dan rasio NADPH/NADP. $curvy
esensial terjadi pada sel endotel aorta pada manusia yang diterapi vitamin C.
DeIisiensi akut vitamin C bisa menimbulkan penyakit scurvy. ManiIestasi
$curvy yang klasik berhubungan dengan gangguan sintesis kolagen yang
diperlihatkan dalam bentuk perdarahan subkutan serta perdarahan lain,
kelemahan otot, gusi membengkak dan lunak, serta tanggalnya gigi. Pada
anak sindrom deIisiensi vitamin C disebut Moller-Barlow disease didapatkan
pada bayi tanpa ASI, biasanya pada umur 6 bulan dengan ciri-ciri pelebaran
batas kartilago tulang khususnya tulang rusuk, penekanan kartilago epiIiseal
ekstremitas, nyeri sendi, anemi dan sering panas (Smith, 2009).

B. Anatomi dan Histologi
Pada Penyakit Scurvy
a. Anatomi

1. Pada mulut






2. Pada kulit

Keterangan:
Tempat perdarahan di sekitar Iolikel rambut dan 'rambut pembuka
botol/rambut korteks atau 'corkscrew hairs seperti yang terlihat
dalam gambar dapat terjadi sebagai akibat dari penyakit Scurvy.
Tanda 'corkscrew hairs dalam Iolikel hiperkeratorik adalah
patognomonik dari penyakit scurvy atau kekurangan vitamin C.
Perdarahan petechiae, sublingual, dan gusi juga dapat dilihat
(Vorvick, 2011).
b. Histologi


PeriIollicular purpura and multiple corkscrew hairs
(Sumber: Levin, 2010)


C. Fisiologi
Vitamin C atau dikenal sebagai asam askorbat adalah suatu vitamin yang
berperan penting bagi tubuh kita. Kebutuhan vitamin C per hari untuk orang
dewasa adalah 45 mg per hari. Dengan jumlah kadar 45 mg per hari tersebut,
tubuh dapat menjalankan berbagai manIaat dari vitamin C. ManIaat dan
kegunaan dari vitamin c adalah sebagai berikut :
1. Pada masa Ietus
Pada masa Ietus, vitamin C sangat dibutuhkan oleh Ietus itu sendiri.
Vitamin C ini akan digunakan untuk membentuk matriks tulang,
membentuk substansi intersel, membentuk serabut jaringan penunjang,
dan masih banyak manIaat lain dari vitamin C ini untuk Ietus. Oleh
karena itu, asupan vitamin C yang cukup dari sang ibu sangatlah
berperan dalam perkembangan Ietus itu sendiri (Guyton, 2008).
2. Pada masa neonates
Pada masa neonates, vitamin C ini berperan dalam banyak hal.
Beberapa contoh dari penggunaan vitamin C pada neonates adalah
pembentukan kartilago tulang, pembentukan tulang, pembentukan
struktur interseluler, dsb (Sherwood, 2000).
3. Pembentukan serat kolagen
Vitamin C sangatlah berperan dalam pembentukan serat kolagen.
Serat kolagen ini berperan penting dalam pembentukan jaringan ikat
yang akan digunakan oleh seluruh tubuh (Guyton, 2008).
Keadaan dimana terjadi kekurangan vitamin C di dalam tubuh,
dinamakan deIisiensi vitamin C. DeIisiensi vitamin C ini sangatlah
berpengaruh bagi tubuh kita, karena banyak jaringan di tubuh kita yang akan
mengalami permasalahan dalam menjalankan proses-proses jaringan tersebut.
Permasalahan yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kegagalan dalam pembentukan serat kolagen
Vitamin C merupakan suatu activator enzim prolil hidroksilase yang
merupakan struktur penunjang dalam pembentukan serat kolagen. Tanpa
adanya vitamin C ini, maka serat kolagen yang terbentuk akan menjadi
lemah dan cacat (Guyton, 2008). Ketika serat kolagen yang merupakan
lembaran yang menghasilkan resistensi terhadap stress longitudinal
lemah dan cacat, maka hal-hal yang akan terjadi adalah pendarahan di
kulit dan membran mukosa (Sherwood, 2000).
Setelah mengalami pendarahan, luka yang terjadi biasanya akan sulit
untuk disembuhkan atau ditutup menggunakan mekanisme sumbat
trombosit. Hal ini dikarenakan adanya kesulitan proses hematostasis oleh
karena deIisiensi vitamin C (Guyton, 2000). Pada dasarnya, proses
hematostasis diawali karena adanya kontak antara Iactor XII (Iactor
Hageman) dengan kolagen. Ketika terjadi kontak, kolagen akan memicu
agregasi trombosit dan reaksi berantai yang menyebabkan pembekuan
darah (Sherwood, 2000).
2. Kegagalan dalam pembentukan tulang
Kekurangan vitamin C ini akan mempengaruhi pembentukan tulang
yang baru. Hal ini dikarenakan tidak adanya asupan kolagen yang
dibutuhkan sel epiIise untuk tumbuh terus-menerus dan berproliIerasi.
Oleh karena itu, tulang akan menjadi rapuh di titik pertumbuhan
(Guyton, 2008).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa organ yang terkait dengan
deIisiensi vitamin C ini adalah seluruh organ yang terdapat dalam tubuh
manusia. Hal ini dikarenakan vitamin C sangat berpengaruh dalam
pembentukan kolagen. Dimana kolagen merupakan salah satu penyusun
jaringan ikat, dan setiap organ pasti memiliki jaringan ikat (Guyton, 2008).

D. Biokimia
Vitamin C adalah suatu vitamin bagi manusia dan primata lain, marmut,
kelelawar, burung dari orde passerine, sebagian besar ikan, dan invertebrata.
Binatang lain mensintesis vitamin C sebagai zat antara dalam jalur asam
uronat pada metabolisme glukosa. Pada spesies yang menganggapnya sebagai
suatu vitamin, terdapat penghalang pada jalur karena ketiadaan adanya
gulonolakton oksidase. Asam askorbat dan dehidroaskorbat memiliki
aktivitas sebagai vitamin (Murray, 2009).



Asam askorbat memiliki peranan khusus dalam hidroksilase yang
mengandung tembaga dan hidroksilase yang mengandung besi terkait u-
ketoglutarat. Asam ini juga meningkatkan aktivitas beberapa enzim lain
secara in vitro, walaupun hal ini merupakan aktivitas pengurangan yang tidak
spesiIik. Selain itu, asam ini memiliki beberapa eIek nonenzim akibat
aktivitasnya sebagai agen pereduksi dan pemadam radikal oksigen (Murray,
2009).
Dopamin -hidroksilase merupakan enzim yang mengandung tembaga
yang terlibat dalam sintesis katekolamin, norepineIrin, dari tirosin pada
medula adrenal dan sistem saraI pusat. Selama hidroksilasi, Cu

dioksidasi
menjadi Cu
2
dan proses reduksi kembali menjadi Cu

, khususnya
memerlukan askorbat yang dioksidasi menjadi monodehidroaskorbat
(Murray, 2009).
Sejumlah hormon peptida memiliki amida terminal karboksi yang berasal
dari terminal residu glisin. Glisin ini dihidroksilasi pada u-karbon oleh enzim
mengandung tembaga, peptidilglisin hidroksilase yang sekali lagi
memerlukan askorbat untuk mereduksi Cu
2
(Murray, 2009).
Sejumlah hidroksilase yang mengandung besi dan memerlukan askorbat
memiliki mekanisme reaksi yang umum, yaitu hidroksilase substrat
dihubungkan dengan dekarboksilase u-ketoglutarat. Banyak dari enzim-enzim
ini terlibat dalam modiIikasi prekusor protein. Prolin dan lisin hidroksilase
dibutuhkan untuk modiIikasi pascasintesis dari prokolagen menjadi kolagen,
dan prolin hidroksilase juga dibutuhkan untuk pembentukan osteokalsin dan
komponen C1q dari komplemen. Aspartat -hidroksilase dibutuhkan untuk
modiIikasi pascasintesis prekusor protein C, protease dependen vitamin K
yang menghidrolisis Iaktor V pada jalur pembekuan darah. Trimetilisin dan -
butirobetain hidroksilase dibutuhkan untuk sintesis karnitin (Murray, 2009).
Metabolisme vitamin C terdiri dari oksidasi, ekskresi dan regenerasi.
Hasil oksidasi vitamin C yang pertama adalah radikal bebas askorbil yang
biasa berubah secara reversibel menjadi bentuk vitamin C kembali atau akan
mengalami oksidasi ireversibel menjadi dehydro-L-ascorbid acid. Vitamin C
dapat juga mengalami oksidasi setelah bereaksi dengan vitamin E atau radikal
urat. Vitamin C dapat dengan mudah melepaskan elektron karena oksidasi
monovalen reversibel menjadi radikal askorbil, sehingga dapat berperan
dalam system redoks biokimia. Peranan vitamin C sebagai antioksidan karena
kemampuan bereaksi dengan radikal bebas : SOR, anion superoksida dan
radikal hidroksil. Vitamin C bersiIat hidroIilik lebih berperan menjadi
proteksi sel di dalam sitosol dengan cara menurunkan semi stabil radikal
kromanoksil dan meregenerasi vitamin E (Carr, 1999).
EIisiensi antioksidan vitamin C sangat besar pada konsentrasi vitamin
yang rendah, pada kondisi tersebut reaksi yang predominan adalah reaksi
pemutus. Pada konsentrasi tinggi, vitamin C menghambat secara signiIikan
reaksi rantai yang berlanjut antara asam askorbil dan molekul oksigen. Fungsi
metabolik vitamin C sebagai koIaktor enzim (hydroxilating en:ymes), agen
protektiI (hydroxylases pada biosintesis collagen), dan sebagai radikal yang
bereaksi dengan metal ion (Carr, 1999).
Vitamin C dapat diabsorpsi secara aktiI dan mungkin pula secara diIusi
pada bagian atas usus halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena
porta. Rata-rata absorpsi adalah 90 untuk konsumsi si antara 20 dan 120 mg
sehari. Konsumsi tinggi sampai 12 mg (sebagai pil) hanya diabsorpsi
sebangak 16. Vitamjn C kemudian dibawa ke semua jaringan. Konsentrasi
tertinggi adalah di dalam jaringan adrenal, pituitari dan retina (Almatsier,
2004).
Vitamin C dapat terserap sangat cepat dari alat pencernaan dan masuk ke
dalam saluran darah dan dibagikan ke seluruh jaringan tubuh. Kelenjar
adrenalin mengandung vitamin C sangat tinggi. Pada umumnya tubuh
menahan vitamin C sangat sedikit. Kelebihan vitamin C dibuang melalui air
kemih. Karena itu bila mengkonsumsi vitamin C dalam jumlah besar,
sebagian besar akan dibuang keluar, terutama bila orang tersebut biasa
mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi. Sebaliknya, bila keadaan gizi
buruk, maka sebagian besar dari jumlah itu dapat ditahan oleh jaringan tubuh
(Winarno, 2002).
Peranan utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen
interseluler. Kolagen merupakan senyawa protein yang banyak terdapat
dalam tulang rawan, kulit bagian dalam tulang, dentin, dan vasculair
endothelium. Asam askorbat juga memiliki peranan yang penting dalam
proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan hidroksilisin yang merupakan
komponen kolagen yang penting. Sehingga kecukupan kandungan vitamin C
dalam tubuh harus dijaga, karena berhubungan dengan peranannya dalam
proses penyembuhan luka serta daya tahan tubuh melawan inIeksi dan stress
(Winarno, 2002).
Vitamin C juga memiliki banyak hubungan dengan berbagai Iungsi yang
melibatkan respirasi sel dan kerja enzim diantaranya yaitu oksidasi Ienilalanin
menjadi tirosin, reduksi ion Ieri menjadi Iero dalam saluran penceranaan
sehingga besi lebih mudah terserap, melepaskan besi dari transIerin dalam
plasma agar dapat bergabung ke dalam Ieritin jaringan, serta pengubahan
asam Iolat menjadi bentuk yang aktiI asam Iolinat (Winarno, 2002).

E. Patogenesis
Fungsi vitamin C yang dipahami paling jelas terdapat pada sintesis
kolagen; tidak adanya vitamin C akan menimbulkan gangguan hidroksilasi
peptidil pada prokolagen dan penurunan pembentukkan serta sekresi kolagen
oleh jaringan ikat. Kolagen yang tidak dihidroksilasi tidak dapat membentuk
heliks rangkap-tiga yang diperlukan untuk struktur jaringan yang normal.
Akibat deIek pada sintesis kolagen menyebabkan banyak gambaran penyakit
skorbut yang terjadi, termasuk Iragilitas kapiler yang melandasi gambaran
hematologi, kesembuhan luka yang jelek dan (sebagian) abnormalitas tulang
pada anak-anak. Kolagen dengan kandungan hidroksiprolin yang paling
tinggi merupakan jaringan yang paling sering terkena dan menjadi penyebab
timbulnya disrupsi dini pada lamina adventisia, media serta basalin dinding
pembuluh darah. Asam aksorbat juga mencegah oksidasi tetrahidroIolat dan
mengatur distribusi dan peyimpanan besi, mungkin dengan cara
memperngaruhi valensi besi yang disimpan dan mempertahakan rasio Ieritin
terhadap hemosiderin yang normal. Penderita skorbut mengeksresi produk
metabolism tirosin yang dioksidasi secara tidak sempurna (Isselbacher, 2002).
DeIisiensi vitamin C menyebabkan penyakit scurvy (skorbut)yang
ditandai oleh kelainan tulang pada anak-anak dan perdarahan serta gangguan
kesembuhan pada anak-anak maupun orang dewasa. Penyakit skorbut pada
anak yang sedang tumbuh membawa akibat yang lebih dramatic
dibandingkan pada orang dewasa (Robbins, 2006).
Prekursor yang tidak terhidroksilasi secara adekuat tidak dapat berikatan
silang dengan benar dan dengan demikian kolagen yang terbentuk kurang
memiliki kekuatan untuk menahan regangan. Di samping itu, kekurangan
vitamin C menyebabkan supresi laju sintesis peptide kolagen. DeIek pada
sintesis kolagen ini akan mempengaruhi keutuhan pembuluh darah dan
menimbulkan predisposisi perdarahan pada penyakit skorbut (Robbins, 2006).
Simpanan vitamin C total dalam tubuh bervariasi dari 1,5 sampai 3 g.
Bila terjadi kekurangan makanan, simpanan tersebut dihabiskan pada
kecepatan sekitar 4 persen setiap hari. ManiIestasi deIisiensi berhubungan
lebih baik dengan ukuran simpanan total daripada dengan kadar plasma atau
darah. Gejala pertama tersebut (perdarahan petekie dan ekimosis) terjadi bila
ukuran simpanan kurang dari 0,5 g; dengan kekurangan lebih lanjut (ukuran
simpanan 0,1-0,5 g), maniIestasi klinis meliputi keterlibatan gusi,
hiperkeratosis, kongesti Iolikel rambut, artralgia, sindroma Sjgren, rambut
bergulung, dan eIusi sendi. Bila kekurangan berat (ukuran simpanan 0,1 g),
dispnea, edema, oliguria, dan komplikasi neuropati. Karena itu perkembangan
penyait menjadi cepat (Isselbacher, 2002).
Penyakit skorbut dapat terjadi pada kelompok umur yang beresiko yaitu
bayi serta manula. DeIisiensi vitamin C terjadi jika asupan kurang atau
tergangguabsorbsinya terutama pada bayi. Peranan vitamin C meningkatkan
GSH serta menurunkan kadar MDA sel eritrosit sehingga proses hemolisis
dapat dikurangi atau dicegah (Suryohudoyo, 2000).
Pada anak sindrom deIisiensi vitamin C disebut Moller-Barlow disease
didapatkan pada bayi tanpa ASI, biasanya pada umur 6 bulan dengan ciri-ciri
pelebaran batas kartilago tulang khususnya tulang rusuk, penekanan kartilago
epiIiseal ekstremitas, nyeri sendi,anemi dan sering panas (Carr, 1999).

F. Patofisiologi
Vitamin C berbentuk kristal putih merupakan suatu asam organic yang
terasa asam namun tidak berbau. Di dalam larutan, vitamin C mudah rusak
akrena oksidasi dengan oksigen dari udara, tetapi akan lebih stabil apabila
dalam bentuk Kristal kering (Sediaoetama, 2004).
Vitamin C dalam tubuh memiliki banyak Iungsi. Vitamin C dapat
berperan membantu enzim spesiIik untuk menjalankan Iungsinya. Selain itu
vitamin C juga berperan penting dalam pembentukan kolagen, serat maupun
struktur protein. Kolagen sendiri memiliki peran penting dalam membentuk
jaringan baru bekas luka (Almatsier 2004).
Vitamin C juga berIungsi sebagai antioksidan. Penghasil senyawa
transmitter saraI dan hormone tertentu, membantu memperbaiki sel tubuh,
megurangi tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol darah, mengurangi
resiko penyakit jantung, dengan melindungi kerusakan jantung, dan
pembuluh darah yang disebabkan oleh makanan yang kaya akan lemak.
Selain itu juga vitamin C mengurangi resiko terjadinya kanker dengan
mengurangi kerusakan akibat radikal bebas pada DNA yang dapat memicu
kanker (VitaHealth, 2006).
Gugus Hodroksil (OH) pada C2 dan C3 mudah dioksidasi sehingga
terjadi dehidro vitamin C. Reaksi ini reversible sehingga mengakibatkan
vitamin C mudah dioksidasi dan direduksi. Dengan begitu, vitamin C mudah
mereduksi ikatan organic lain (Sediaoetama, 2004).

Tingkat penyerapan asam askorbat akan menurun ketika jumlah
asupannya meningkat. Pemberian vitamin ini dalam dosis tinggi akan
berakibat pada pengikisan lambung. Oleh karena itu, penyerapan vitamin C
akan menjadi lebih baik apabila individu mengkonsumsi vitamin C 1 gram
per hari, tidak langsung dalam dosis yang besar. AlternatiI lain selain
mengurangi dosis pemberian, bisa juga dengan pemberian dalam bentuk
buffered (campuran bentuk asam dan garamnya), atau esteriIikasi (Ester-C)
(VitaHealth, 2006).
DeIisiensi vitamin C selain karena intake yang kurang dapat terjadi
karena hambatan penyerapan dalam saluran pencernaan. Penyerapan vitamin
C di usus halus dapat dihambat oleh berbagai Iactor. Seperti yang telah
disebutkan di atas, penyerapan justru menurun apabila asupan meningkat.
Selain itu, pektin dan seng juga dapat menghambar penyerapan vitamin C.
Konsentrasi zat besi yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan oksidatiI
sehingga juga mempersulit penyerapan vitamin C. Vitamin C (asam askorbat)
berperan penting dalam pembentukan kolagen intraseluler, bantu proses
penyembuhan luka, menjaga kesehatan gusi, mencegah terjadinya memar,
meningkatkan daya tahan tubuh melawan inIeksi dan stres. DeIisiensi vitamin
C pada tingkat rendah dapat mengakibatkan terjadinya lemah tidak
bersemangat serta timbul biru-biru` pada kulit yang tidak biasa (memar).
DeIisiensi pada derajat berat akan menimbulkan scurvy, suatu keadaan yang
ditandai dengan bengkak , perdarahan gusi, hyperkeratosis Iolikel rambut
serta perdarahan kulit petekial (Underwood, 2003).


G. Tanda dan Gejala
Asam askorbat (vitamin C) berIungsi untuk mengaktiIkan enzim prolil
hidrolakse, yang menunjang tahap hidroksilasi dalam pembentukan
hidroksiprolin, suatu unsur integral kolagen. Tanpa asam askorbat, maka
serabut kolagen yang terbentuk di semua jaringan tubuh menjadi cacat atau
lemah. Oleh sebab itu, vitamin ini penting untuk pertumbuhan dan kekuatan
serabut di jaringan subkutan, kartilago, dan gigi. Tanda dan gejala yang
umum ditemui jika mengalami deIisiensi asam askorbat adalah skorbut. EIek
skorbut yang paling penting adalah kegagalan dalam penyembuhan luka.
Sehingga luka yang biasanya hanya memerlukan waktu beberapa hari untuk
sembuh, mungkin akan memerlukan waktu beberapa bulan baru dapat
sembuh (Guyton, 2008).
Kekurangan asam askorbat juga dapat mengakibatkan terhentinya
pertumbuhan tulang. Sel dari epiIise yang sedang tumbuh terus berproliIerasi,
tetapi tidak ada kolagen baru di antara sel, dan tulang mudah Irakturpada titik
pertumbuhan karena kegagalan tulang untuk berosiIikasi. Apabila terjadi
Iraktur pada tulang yang sudah mengalami osiIikasi pada pasien dengan kasus
deIisiensi asam askorbat, maka osteoblas tidak dapat membentuk matriks
tulang yang baru. Akibatnya tulang yang Iraktur tidak dapat sembuh (Guyton,
2008).

H. Diagnosis
Pada kasus deIisiensi asam askorbat dinding pembuluh darah menjadi
sangat rapuh karena kegagalan sel endotel untuk saling merekat satu sama
lain dengan baik dan kegagalan untuk terbentuknya Iibril kolagen yang
biasanya terdapat di dinding pembuluh darah sehingga kapiler menjadi mudah
sekali mengalami ruptur, dan sebagai akibatnya, terjadi banyak perdarahan
petekie kecil di seluruh tubuh dan jika terjadi perdarahan di bawah kulit maka
pasien akan mengalami bercak purpura, kadang di seluruh tubuh, kadang-
kadang di seluruh tubuh. Sedangkan pada skorbut yang hebat, kadang-
kadang terjadi Iragmentasi sel otot, lesi pada gusi yang disertai gigi goyang,
inIeksi mulut, muntah berdarah, Ieses berdarah, dan dapat terjadi perdarahan
di otak. Jika telat di tangani seringkali terjadi demam tinggi sebelum timbul
kematian (Guyton, 2008).

I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan
diagnosis vitamin C di antaranya:
1. Hematokrit : pemeriksaan hematokrit di lakukan untuk mengukur
konsentrasi sel-sel darah merah dalam darah,yg dapat mendeteksi adanya
anemia,deIisiensi vitamin C dan B. Penurunan HMT terjadi pada pasien
yang mengalami kehilangan darah akut (kehilangan darah secara
mendadak, misal pada kecelakaan), anemia, leukemia, gagalginjal
kronik, mainutrisi, kekurangan vitamin B dan C, kehamilan,
ulkuspeptikum (penyakit tukak lambung) (Hidayat, 2008).
2. Bleding time : pemeriksaan ini di lakukan untuk deIisiensi vitamin C,
apabila waktu pendarahan memanjang maka penderita kekurangan
vitamin C, karena vitamin C membantu proses pembekuan darah
(Hidayat, 2008).

1. Penatalaksanaan
Pada umumnya kebutuhan sehari-hari vitamin C dapat dipenuhi dengan
buah-buahan. Kekurangan vitamin C perlu dilakukan beberapa tindakan
sebagai berikut :
1. Pemberian makanan yang mengandung vitamin C.
2. Cegah / atasi keseimbangan cairan dan pemberian cairan.
3. Cegah / atasi rasa nyeri dan pemberian obat analgesik.
4. Koreksi kadar vitamin C pada tubuh.
5. Cegah / atasi BAB keras dengan pemberian serat.
6. Terapiotik pemenuhan keseimbangan vitamin C.

K. Prognosis
Prognosis pada penyakit deIisiensi vitamin c adalah tergantung pada apa
jenis penyakit komplikasinya dan bagaimana pengobatan yang tepat,
walaupun secara garis besar adalah prognosisnya baik dengan penanganan
yang tepat. Dengan pengobatan yang tepat penyembuhan terjadi dengan cepat
terutama pada bayi (Berman, 2000).
Seperti yang disebutkan bahwa cukup tidaknya kandungan vitamin c
berIungsi dalam penjagaan Iungsi tubuh agar tetap baik terutama untuk
penyembuhan luka serta daya tahan tubuh melawan inIeksi dan stress
pengubahan asam Iolat menjadi bentuk yang aktiI asam Iolinat, pembentukan
hormon steroid, dari kolesterol. Dengan kata lain apabila tubuh kekurangan
vitamin c maka salah satu komponen penjagaan Iungsi tubuh yang
berhubungan dengan vitamin c akan terganggu seperti Kekurangan vitamin C
menyebabkan kerapuhan dinding-dinding kapiler, gusi berdarah, gigi mudah
tanggal, sariawan atau skorbut, dan penyakit pada sendi tulang. Gejala-gejala
penyakit skorbut ialah terjadinya pelembekan tenunan kolagen, inIeksi, dan
demam, timbul sakit, pelunakan, dan pembengkakan kaki bagian paha. Pada
anak yang giginya telah keluar, gusi membengkak, empuk, dan terjadi
perdarahan. Salah satu bentuk penangan yang tepat untuk kasus kekurang
vitamin c pada tubuh ialah dengan mengkonsumsi sumber pangan yang
mengandung vitamin C banyak terdapat pada bahan nabati sayur dan buah
terutama yang segar karenanya sering disebut resh ood Jitamin. Bahan
pangan yang merupakan bahan sumber vitamin C adalah jeruk, tomat, dan
cabe hijau. Buah yang masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya.
Semakin tua buah semakin berkurang kandungan vitamin C-nya. Adapun
injeksi seperti askorbat-Ca yang mampu menetralkan penyakit inIeksi akibat
deIisiensi vitamin C (Tan, 2007).












BAB III
KESIMPULAN

1. DeIisiensi vitamin C selain karena intake yang kurang dapat terjadi karena
hambatan penyerapan dalam saluran pencernaan. Penyerapan vitamin C di
usus halus dapat dihambat oleh berbagai Iactor. Penyerapan vitamin C
justru menurun apabila asupan meningkat.
2. DeIisiensi vitamin C menyebabkan penurunan pembentukkan serta sekresi
kolagen oleh jaringan ikat.
3. Pektin dan seng dapat menghambar penyerapan vitamin C. Konsentrasi
zat besi yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan oksidatiI sehingga
juga mempersulit penyerapan vitamin C.
4. Organ yang terkait dengan deIisiensi vitamin C ini adalah seluruh organ
yang terdapat dalam tubuh manusia. Hal ini dikarenakan vitamin C sangat
berpengaruh dalam pembentukan kolagen. Dimana kolagen merupakan
salah satu penyusun jaringan ikat, dan setiap organ pasti memiliki jaringan
ikat.
5. Tanda secara anatomi dari penyakit Scurvy atau scorbut lainnya antara lain
adanya perdarahan di sekitar Iolikel rambut dan 'rambut pembuka
botol/rambut korteks atau 'corkscrew hairs.
6. Asam askorbat adalah salah satu senyawa kimia yang disebut vitamin C.
Di tubuh, asam askorbat mengalami proses metabolisme organisasi,
ekskresi dan regenerasi. Asam askorbat dapat diabsorpsi secara aktiI dan
mungkin pula secara diIusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke
peredaran darah melalui vena porta.
7. Asam askorbat memiliki peranan khusus dalam hidroksilase yang
mengandung tembaga dan hidroksilase yang mengandung besi terkait u-
ketoglutarat. Asam askorbat meningkatkan aktivitas beberapa enzim lain
secara in vitro.
8. Asam askorbat memiliki beberapa eIek nonenzim akibat aktivitasnya
sebagai agen pereduksi dan pemadam radikal oksigen.
9. Prognosis pada penyakit deIisiensi vitamin C adalah tergantung pada jenis
penyakit komplikasinya dan bagaimana pengobatan yang tepat, walaupun
secara garis besar adalah prognosisnya baik dengan penanganan yang
tepat.



























DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2004. !rinsip Dasar Ilmu Gi:i. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
Berman, Klieghman., dan Nelson A. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Ed. 1. Jakarta:
EGC
Carr, AC., Frei, B. 1999. Toward a new recommended dietary allowance Ior
vitamin C based on antioxidant and health eIIects in humans. Am J Clin Nutr.
1999;69(6):1086-1107.
Guyton, C. Arthur., and E. John H. 2008. Buku Afar isiologi Kedokteran. EGC:
Jakarta.
Hidayat, A Aziz A. 2008. Buku $aku !raktikum Keperawatan Anak. Jakarta :
EGC
Isselbacher. 2002. Harrison. !rinsip-!rinsip Ilmu !enyakit Dalam. Jakarta: EGC
Levin., Ethan, Ben B., Kara N., and Sam P. 2010. Dalam
http://dermatology.wustl.edu. Diakses 11 Oktober 2011
Murray, Robert K., Granner, Daryl K., dan Rodwell, Victor W. Biokimia Harper.
Jakarta: EGC
Robbins, Cotran. 2006. Buku $aku Dasar !atologis !enyakit Edisi 7. Jakarta:
EGC
Sediaoetama, M.Sc., dan Achmad D. 2004. Ilmu Gi:i untuk Mahasiswa dan
!rofesi. Jakarta: Dian Rakyat
Smith, Jack L. 2009. Advanced Nutrition and Human Metabolism. Belmont USA:
Cengage Learning Costumer Sales and Supprot
Suryohudoyo, P. 2000. Kapita $elekta Ilmu Kedokteran Molekuler. Jakarta: CV
Sagung
Tan, Tjay H., dan Rahardja Kirana. 2007. Obat-obat penting. Edisi 6. Jakarta;
Gramedia
Underwood, J.C.E. 2003. !atologi Umum dan $istematik. Jakarta : EGC
VitaHealth. 2006. $eluk beluk ood $uplement. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Vorvick, Linda J. 2011. Dalam http://www.nlm.nih.gov. Diakses 11 Oktober 2011
Winarno, F.G .2002. Kimia !angan dan Gi:i. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
www.usu.ac.id. Diakses 11 Oktober 2011 19.14 WIB