Anda di halaman 1dari 16

IMPAKSI SERUMEN

LAPORAN PENDAHULUAN Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbanga Anatominya juga sangat rumit . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi, pediatrisian, internis, perawat, ahli audiologi, ahli patologi wicara dan pendidik. Perawat yang terlibat dalam spesialisasi otolaringologi, saat ini dapat raemperoleh sertifikat di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN= cerificate in otorhinolaringology-head and neck nursing). Usaha untuk mengeluarkan (mengorek) dengan batang korek, jepit rambyt atau benda lain akan dapat berbahaya karena dapat mengakibatkan kotoran terdorong ke dalam (dapat menyumbat karena bagian dalam lebih sempit), serta adanya trauma terhadap kulit dan dapat menyebabkan infeksi dan kerusakan gendang telinga dan akhirnya dapat menyebabkan impaksi,otalgia (nyeri pada telinga) atau bahkan kehilangan pendengaran.

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. KONSEP DASAR MEDIS 1. Definisi Impaksi serumen adalah gangguan pendengaran yang timbul akibat penumpukan serumen di liang telinga dan menyebabkan rasa tertekan yang mengganggu (Mansjoer, Arif :1999) Serumen, yang kerap disebut kotoran telinga, merupakan produksi alami telinga. Substansi itu dibentuk oleh kelenjar seruminosa yang terletak di sepertiga luar liang telinga. Alih-alih "sampah", serumen memiliki tugas cukup penting. Di antaranya, menangkap debu, mikroorganisme, dan mencegahnya masuk ke struktur telinga yang lebih dalam.Selain itu juga akan menonaktifkan kuman/bakteri, menjaga kelembaban liang telinga,hingga menangkap serangga yang terperangkap masuk ke lubang telinga.Beragam fungsi tersebut dimungkinkan karena kekhasan sifatnya yang lengket,kental serta berbau yang khas. Usaha untuk mengeluarkan (mengorek) dengan batang korek, jepit

rambyt atau benda lain akan dapat berbahaya karena dapat mengakibatkan kotoran terdorong ke dalam (dapat menyumbat karena bagian dalam lebih sempit), serta adanya trauma terhadap kulit dan dapat menyebabkan infeksi dan kerusakan gendang telinga dan akhirnya dapat menyebabkan impaksi,otalgia (nyeri pada telinga) atau bahkan kehilangan pendengaran. Sejatinya, tanpa dikorek pun, tubuh punya mekanisme untuk mengeluarkan substansi tersebut secara otomatis. Karena itu, sering terjadi kotoran tiba-tiba jatuh dari liang telinga. Kotoran tersebut akan terdorong ke luar, terutama ketika kita membuka rahang lebar-lebar atau tidur miring, Tapi, ada kalanya serumen tak mau keluar dan betah bersarang di liang telinga, terutama bila produksinya berlebih. Bila itu terjadi, serumen terpaksa harus dikeluarkan secara manual supaya tidak mengganggu pendengaran.

2. Etiologi Adanya impaksi serumen dan benda asing diliang telinga, secara umum terdapat beberapa faktor predisposisi, antara lain: dermatitis kronik pada telinga luar, liang telinga sempit, produksi serumen terlalu banyak dan kental, benda asing diliang telinga, terdorongnya serumen ke lubang lebih dalam (karena kebiasaan mengorek telinga). 3. Patofisiologi Kadang-kadang pada kanalis dapat terjadi impaksi, yang dapat menyebabkan otalgia, rasa penuh dalam telinga dan atau kehilangan pendengaran. Penumpukan serumen terutama bermakna pada populasi geriatrik sebagai penyebab defisit pendengaran. usaha membersihkan kanalis auditorius dengan batang korek api, jepit rambut, atau alat lain bisa berbahaya karena trauma terhadap kulit bisa menyebabkan infeksi. Anak-anak sering memasukkan benda-benda kecil ke dalam saluran telinganya, terutama manik-manik, penghapus karet atau kacang-kacangan. 4. Manifestasi Klinis Manisfestasi klinis yang sering dirasakan oleh penderita impaksi serumen adalah : Penumpukan serumen. Gatal, rasa nyeri, dan rasa penuh ditelinga. Gangguan pendengaran (ditemukan dengan pemeriksan ketajaman pendengaran) Telinga berdengung (tinitus) Pusing dimana pasien merasakan lingkungan di sekitarnya berputar (vertigo)

5. Penatalaksanaan Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan menyebabkan gatal-gatal, nyeri serta tuli yang bersifat sementara dan dokter akan membuang serumen tersebut dengan cara menyemburnya secara perlahan dengan menggunakan air hangat (irigasi). Tetapi jika dari telinga keluar nanah, terjadi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi telinga yang berulang, maka irigasi tidak dapat dilakukan karena air bisa masuk ke telinga tengah dan kemungkinan akan memperburuk infeksi. Pada keadaan ini, serumen dibuang dengan menggunakan alat yang tumpul atau dengan alat penghisap. Biasanya tidak digunakan pelarut serumen karena bisa menimbulkan iritasi atau reaksi alergi pada kulit saluran telinga dan tidak mampu melarutkan serumen secara adekuat. Adapun cara-cara untuk mengeluarkan serumen yang menumpuk di liang telinga, antara lain: Serumen yang lembek dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada aplikator (pelilit). Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret. Serumen yang sangat keras (membatu), dilembekkan terlebih dahulu dengan karbogliserin 10%, 3 x 5 tetes sehari, selama 3 5 hari, setelah itu dikeluarkan dengan pengait atau kuret dan bila perlu dilakukan irigasi telinga dengan air yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh. Serumen yang terlalu dalam dan mendekati membran timpani dikeluarkan dengan cara mengirigasi liang telinga dengan menggunakan air hangat bersuhu 37 oC agar tidak menimbulkan vertigo karena terangsangnya vestibuler. 6. Pemeriksaan Penunjang a) CT-Scan tulang tengkorak, mastoid terlihat kabur, ada kerusakan tulang b) Scan Galium-67, terlihat focus inf akut yg akan kembali normal dgn resolusi inf. c) Scan Tekhnetium-99, terlihat aktifitas osteoblastik yg akan kembali normal beberapa bulan setelah resolusi klinik d) MRI, monitor serebral, pembuluh darah yang terkait e) Tes Laboratorium,sample nanah untuk kultur dan tes sensitivitas antibiotik f) Ketajaman Auditorius. Perkiraan umum pendengaran pasien dapat disaring secara efektif dengan mengkaji kemampuan pasien mendengarkan Bisikan kata atau detakan jam tangan. Bisikan lembut dilakukan oleh pemeriksa, yang sebelumnya telah melakukan ekshalasi penuh. Masing-masing telinga diperiksa bergantian. Agar telinga yang satunya tak mendengar, Pemeriksa menutup telinga yang tak diperiksa dengan telapak

tangan.Dari jarak 1 sampai 2 kaki dari telinga yang tak tertutup dan di luar batas penglihatan, pasien dengan ketajaman normal dapat menirukan dengan tepat apa yang dibisikkan. Bila yang digunakan detak jam tangan, pemeriksa memegang jam tangan sejauh 3 inci dari telinganya sendiri (dengan asumsi pemeriksa mempunyai pendengaran normal) dan kemudian memegang jam tangan pada jarak yang sama dari aurikulus pasien. Karena jam tangan menghasilkan suara dengan nada yang lebih tinggi daripada suara bisikan, maka kurang dapat dipercaya dan tidak dapat dipakai sebagai satu-satunya cara mengkaji ketajaman auditorius. g) Uji Weber Memanfaatkan konduksi tulang untuk menguji adanya lateralisasi suara. Sebuah garpu tala dipegang erat pada gagangnya dan pukulkan pada lutut atau pergelangan tangan pemeriksa. Kemudian diletakkan pada dahi atau gigi pasien. Pasien ditanya apakah suara terdengar di tengah kepala, di telinga kanan atau telinga kiri. Individu dengan pendengaran normal akan mendengar suara seimbang pada kedua telinga atau menjelaskan bahwa suara terpusat di tengah kepala. Bila ada kehilangan pendengaran konduktif (otosklerosis, otitis media), suara akan lebih jelas terdengar pada sisi yang sakit. Ini disebabkan karena obstruksi akan menghambat ruang suara, sehingga akan terjadi peningkatan konduksi tulang. Bila terjadi kehilangan sensorineural, suara akan meng-alami lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik. Uji Weber berguna untuk kasus kehilangan pendengaran unilateral. h) Uji Rinne Gagang garpu tala yang bergetar ditempatkan di belakang aurikula pada tulang mastoid (konduksi tulang) sampai pasien tak mampu lagi mendengar suara. Kemudian garpu tala dipindahkan pada jarak 1 inci dari meatus kanalis auditorius eksternus (konduksi uda-ra). Pada keadaan normal pasien dapat terus mendengarkan suara, menunjukkan bahwa konduksi udara berlang-sung lebih lama dari konduksi tulang. Pada kehilangan pendengaran konduktif, konduksi tulang akan melebihi konduksi udara begitu konduksi tulang melalui tulang temporal telah menghilang, pasien sudah tak mampu lagi mendengar garpu tala melalui mekanisme konduktif yang biasa. Sebaliknya kehilangan pendengaran sensorineural memungkinkan suara yang dihantarkan melalui udara lebih baik dari tulang, meskipun keduanya merupakan konduktor, yang buruk dan segala suara diterima seperti sangat jauh dan lemah. B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. Pengkajian Hal-hal yang perlu dikaji pada klien dengan impaksi serumen yaitu : Integritas Ego o Gejala :

o Tanda : jarang bergaul Neurosensori o Gejala : Kesulitan mendengar, penurunan kemampuan pendengaran o Tanda : Gangguan lingkup perhatian Disorientasi Letargi/pingsan Nyeri/Kenyamanan o Gejala : Nyeri pada daerah telinga tengah. o Tanda : Wajah meringis Keamanan o Gejala : riwayat infeksi o Tanda : Demam derajat rendah 2. Diagnosa Keperawatan a. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan dinding liang telinga b. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan transmisi bunyi c. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan stigma berkenaan dengan kondisi 3. Intervensi Keperawatan a. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan dinding liang telinga Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan rasa nyeri pasien berkurang dan pasien tampak rileks. Intervensi Keperawatan : 1. Kaji ulang keluhan nyeri, perhatikan lokasi atau karakter dan intensitas. R : Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi. 2. Berikan posisi yang nyaman pada pasien. R : Untuk meningkatkan relaksasi. 3. Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan R : Dapat mengurangi rasa nyeri pasien 4. Dorong menggunakan teknik manajemen nyeri, seperti nafas dalam, distraksi. R : Meningkatkan relaksasi dan mengurangi nyeri 5. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi (analgesik). R : Diberikan untuk menghilangkan nyeri dan memberikan relaksasi mental dan fisik. b. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan transmisi bunyi Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Gangguan persepsi sensori berkurang/hilang. Intervensi Keperawatan : 1. Memandang ketika sedang berbicara

R : Menunjukkan perhatian dan penghargaan 2. Kaji ketajaman pendengaran pasien R : Untuk mengetahui tingkat ketajaman pendengaran pasien dan untuk menentukan intervensi 3. Menggunakan tanda tanda nonverbal (mis. Ekspresi wajah, menunjuk, atau gerakan tubuh) dan bentuk komunikasi lainnya. R : Membantu klien untuk mempersepsikan informasi 4. Anjurkan kepada keluarga atau orang terdekat klien untuk tinggal bersama klien R : Untuk menghindari perasaan terisolasi pasien 5. Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk mematuhi program teraphy R : Mematuhi program therapy akan mempercepat proses penyembuhan c. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan stigma berkenaan dengan kondisi Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapakan gangguan harga diri pasien teratasi Intervensi Keperawatan : 1. Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan derajat ketidakmampuannya R : Penentuan faktor-faktor secara individual membantu dalam mengembangkan perencanaan asuhan/intervensi 2. Dorong klien untuk mengeksplorasi perasaan tentang kritikan orang lain. R : Mungkin memiliki perasaan tidak realistik saat dikritik dan perlu mempelajari bagaimana menerapkan kriktik konstruktif untuk pertumbuhan pribadi bukan merusak diri sendiri. 3. Identifikasi arti dari kehilangan/disfungsi/perubahan pada pasien R : Kadang-kadang pasien menerima dan mengatasi gangguan fungsi secara efektif dengan sedikit penanganan, dilain pihak ada juga orang yang mengalami kesulitan dalam menerima dan mengatasi kekurangannya 4. Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan dan perasaan marah R : Mendemonstrasikan penerimaan/membantu pasien untuk mengenal dan mulai memahami perasaan ini.

BAB III TINJAUAN KASUS I. PENGKAJIAN 1. Data Umum Identitas Klien Nama : Ny. X

Tempat/Tanggal Lahir : Kendari, 2 mei 1986 Umur : 24 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Suku : Tolaki Pekerjaan : Dosen Alamat : Jl. Stikbad No. 09 Diagnosa medis : Impaksi Serumen Tanggal masuk RS : 31 mei 2010 Ruangan : Stikbad Penanggung Jawab Nama : Tn. Y Umur : 30 Tahun Pekerjaan : Dosen Hubungan dengan klien : Rekan Kerja Alamat : Jl. Stikbad No. 10 2. Riwayat Kesehatan Saat Ini Keluhan Utama : Klien datang ke rumah sakit bersama suaminya dengan keluhan nyeri dan berdengung pada telinganya. Alasan Masuk RS : Karena klien merasa nyeri dan telinga klien terus berdengung. Riwayat Penyakit Provocative : kebiasaan mengkorek telinga Quality : intermitten Region : telinga tengah Severity : 6/10 (sedang) Timing : pada saat mendegar suara yang ribut. 3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Penyakit yang pernah dialami Saat kecil/anak-anak : Klien pernah mengalami penyakit tidak terlalu serius seperti diare dan influenza. Riwayat Alergi : Klien tidak mengalami alergi makanan. Riwayat Imunisasi : Klien mengatakan lupa. Riwayat Pembedahan : Klien tidak pernah mengalami operasi. 4. Riwayat Kesehatan Keluarga Genogram :

KET = pasien / klien = laki-laki = perempuan X = meninggal ? = umur tidak diketahui = tinggal serumah Klien berusia 23 tahun tinggal bersama kedua orang tuanya dan dua orang saudaranya. Kakek dan nenek klien dari ibunya sudah meninggal dengan sebab tidak diketahui, sedangkan nenek dari ayah klien berusia 70 tahun. 5. Riwayat Psiko-Sosio-Spiritual Psikososial 1. Pola Koping Klien tidak menerima dapat menerima penyakitnya yang dideritanya. 2. Harapan klien tentang penyakitnya Klien berharap agar penyakitnya cepat sembuh sehingga dapat melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. 3. Konsep diri Klien merasa malu atas penyakitnya. 4. Pengetahuan klien tentang penyakitnya Klien sedikit mengetahui tentang penyakitnya. 5. Adaptasi Klien merasa kurang beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit.

Sosial 1. Hubungan dengan anggota keluarga Hubungan dengan keluarga cukup baik, terlihat dari keakraban sewaktu klien di rumah sakit. 2. Hubungan dengan masyarakat Hubungannya cukup baik terlihat dari antusias warga masyarakat dan rekan-rekan sewaktu menjenguk. 3. Perhatian terhadap orang lain/lawan bicara Klien kurang dapat memperhatikan isi pembicaraan. 4. Aktivitas sosial Klien kurang aktif dalam kegiatan di lingkungan tempat tinggal. 5. Bahasa yang digunakan Sehari-hari klien menggunakan bahasa Tolaki.

6. Keadaan lingkungan Lingkungan tempat tinggal klien bersih dan nyaman. Spiritual 1. Kegiataan keagamaan/pola ibadah Klien cukup rajin melaksanakan ibadah. 2. Keyakinan akan kesehatan Klien merasa yakin akan segera sembuh dari penyakitnya. 6. Kebutuhan Dasar/Pola Kebiasaan Sehari-hari 1. Makan Sebelum sakit : Makan 3 kali sehari. Nasi, ikan, sayur 1 piring/ makan. Kesulitan tidak ada. Minum 2000-2500 cc/hari, jenis air putih, teh Setelah MRS : Tidak ada perubahan 2. Minum Sebelum MRS Setelah MRS 3. Tidur Sebelum MRS Setelah MRS : Minum 2000-2500 cc/ hari, jenis air putih, teh : Tidak ada perubahan : Jarang tidur siang. Tidur malam 6-7 jam. : Tidak ada perubahan

4. Eliminasi BAB Sebelum MRS : Frekuensi 1-2 hari. Warna kuning, konsistensi lunak, kesulitan tidak ada. Setelah MRS : Tidak ada perubahan. 5. Eliminasi Urin/BAK Sebelum MRS : Volume tidak teridentifikasi, warna kuning jernih. Setelah MRS : Tidak ada perubahan 7. Pemeriksaan Fisik Hari/ Tanggal : senin/31 Mei 2010 Jam 09.00 WITA 1. Keadaan Umum Kehilangan BB : Pada saat MRS BB klien 70 Kg setelah di rawat BB klien tidak ada perubahan. Vital sign : TD : 100/80 mmHg N : 68 X/menit S : 37,5 oC P : 18 X/menit Tingkat kesadaran : Gelisah 2. Pengkajian Persistem Kepala dan rambut

Simetris kanan dan kiri, rambut pendek dan ikal. Wajah Simetris, tidak ada ikterik. Hidung Simetris, fungsi penciuman baik, perdarahan (tidak ada), peradangan (tidak ada), polip (tidak ada). Telinga Bentuk simetris kiri dan kanan, tampak ada penumpukan serumen, pendengaran terganggu, dan ada nyeri, serta fungsi pendengaran menurun. Kuku Tampak bersih Mulut dan gigi Bentuknya simetris, warna tidak ikterik, gigi dalam susunan normal dan rapi. Leher Tidak ada distensi pada vena jugularis, leher dapat digerakan dengan bebas dan tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan kelenjar tiroid. Dada Gerakan dada simetris kiri dan kanan. Abdomen Simetris kiri dan kanan dan tidak ada nyeri tekan Kulit Kuning langsat, Lembab dan tidak ada sianosis 8. Klasifikasi Data Data Subjektif o Klien mengatakan nyeri pada telinganya o Klien mengatakan kurang mendengar suara orang lain ketika berbicara o Klien mengatakan malu akan penyakitnya Data Objektif o Wajah klien tampak meringis. o Klien tampak bingung ketika diajak berbicara, o Klien tampak jarang bergaul Vital sign : TD : 100/80 mmHg N : 68 X/menit S : 37,5 oC P : 18 X/menit Tingkat kesadaran : Gelisah 9. Prioritas Data a. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan dinding liang telinga DS : Klien mengatakan nyeri pada telinganya DO : Wajah klien tampak meringis b. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan

transmisi bunyi DS : Klien mengatakan kurang mendengar suara orang lain ketika berbicara DO : Klien tampak selalu memegang telinganya c. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan stigma berkenaan dengan kondisi DS : Klien mengatakan malu akan penyakitnya DO : Klien tampak bingung karena kurang mendengar pembicaraan 11. Analisis Data DATA ETIOLOGI MASALAH KEPERAWATAN DS : Klien mengatakan nyeri pada telinganya DO : Wajah klien tampak meringis nyeri DS : Klien mengatakan kurang mendengar suara orang lain ketika berbicara DO : Klien tampak bingung ketika diajak berbicara Gangguan persepsi sensori DS : Klien mengatakan malu akan penyakitnya DO : Klien tampak jarang bergaul Gangguan konsep diri (HDR) II. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan dinding liang telinga b. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan transmisi bunyi c. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan stigma berkenaan dengan kondisi III. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Nama klien : Ny. X Ruangan : Stikbad Tanggal MRS : 31 Mei 2010 NO Diagnosa Keperawatan Rencana Tindakan Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional 1

Nyeri akut berhubungan dengan penekanan dinding liang telinga Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan rasa nyeri pasien berkurang dan pasien tampak rileks. 1. Kaji ulang keluhan nyeri, perhatikan lokasi atau karakter dan intensitas.

2. Berikan posisi yang nyaman pada pasien. 3. Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan. 4. Dorong menggunakan teknik manajemen nyeri, seperti napas dalam, distraksi. 5. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi (analgetik) 1. Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi. 2. Untuk meningkatkan relaksasi. 3. Dapat mengurangi relaksasi 4. Meningkatkan relaksasi dan mengurangi nyeri 5. Diberikan untuk menghilangkan nyeri dan memberikan relaksasi mental da fisik 2 Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan transmisi bunyi Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Gangguan persepsi sensori berkurang/hilang. 1. Memandang ketika sedang bicara. 2. Kaji ketajaman pendengaran pasien.

3. Menggunakan tanda-tanda nonverbal (mis. Ekspresi wajah, menunjuk, atau gerakan tubuh) dan bentuk komunikasi lainnya. 4. Anjurkan kepada keluarga atau orang terdekat klien untuk tinggal bersama klien. 5. Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk mematuhi program teraphy. 1. Menunjukkan perhatian dan penghargaan 2. Untuk mengetahui tingkat ketajaman pendengaran pasien dan untuk menentukan intervensi. 3. Membantu klien untuk mempersepsikan informasi

4. Untuk menghindari perasaan terisolasi pasien. 5. Mematuhi program therapy akan mempercepat proses penyembuhan. 3 Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan stigma berkenaan dengan kondisi Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapakan gangguan harga diri pasien teratasi 1. Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan derajat ketidakmampuannya.

2. Dorong klien untuk mengeksplorasi perasaan tentang kritikan orang lain.

3. Identifikasi arti kehilangan/disfungsi/perubahan pada pasien.

4. Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan dan perasaan marah. 1. Penentuan factor-faktor secara individual membantu dalam mengembangkan perencanaan asuhan/intervesi. 2. Mungkin memiliki perasaan tidak realistik saat dikritik dan perlu mempelajari bagaimana menerapkan kritik konstruktif untuk pertumbuhan pribadi bukan merusak diri sendiri. 3. Kadang-kadang pasien menerima dan mengatasi gangguan fungsi secara efektif dengan sedikit penanganan, dilain pihak ada juga yang mengalami kesulitan dalam menerima dan mengatasi kekurangannya.

4. Mendemonstrasikan penerimaan/membantu pasien untuk mengenal dan mulai memahami perasaan ini.

IV. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI TINDAKAN KEPERAWATAN Nama klien : Ny. X Ruangan : Stikbad Tanggal MRS : 31 Mei 2010 No Tanggal/Jam Dx Implementasi Evaluasi 1 31 Mei 2010 09.30 09.40 09.50 10.00

10.15 1 1. mengkaji ulang keluhan nyeri, perhatikan lokasi atau karakter dan intensitas. Hasil : nyeri pada daerah telinga, dengan skala 7/10. 2. Memberikan posisi yang nyaman pada pasien Hasil : Klien merasa nyaman saat tidur. 3. meningkatkan periode tidur tanpa gangguan Hasil : klien tidur dalam periode yang lama. 4. mendorong penggunaan teknik manajemen nyeri, seperti napas dalam, distraksi. Hasil : klien dapat mengatur nyeri 5. Kolaborasi : memberikan obat sesuai indikasi (analgetik) Hasil : Klien mengikuti intruksi yang diberikan. S : Klien mengatakan tidak nyeri lagi pada telinganya. O : wajah klien tidak meringis lagi A: Masalah teratasi P : 2 1 Juni 2010 08.00 08.05 08.15

08.25

08.35 2 1. Memandang ketika sedang bicara. Hasil : Klien merasa dihargai 2. mengkaji ketajaman pendengaran pasien. Hasil : klien mengalami penurunan pendengaran. 3. Menggunakan tanda-tanda nonverbal (mis. Ekspresi wajah, menunjuk, atau gerakan tubuh) dan bentuk komunikasi lainnya. Hasil : klien mengerti dengan isyarat yang diberikan. 4. menganjurkan kepada keluarga atau orang terdekat klien untuk tinggal bersama klien. Hasil : keluarga mengikuti anjuran yang diberikan. 5. menganjurkan kepada pasien dan keluarga untuk mematuhi program teraphy. Hasil : klien mengikuti anjuran yang diberikan. S : Klien mengatakan kurang mendengar suara orang lain ketika berbicara O : Klien tampak tidak lagi bingung ketika diajak berbicara A : Masalah teratasi P : -3 2 Juni 2010 08.00 08.10

08.25

08.35

3 1. Mengkaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan derajat ketidakmampuannya. Hasil : klien mengalami penurunan pendengaran. 2. mendorong klien untuk mengeksplorasi perasaan tentang kritikan orang lain. Hasil : klien mengikuti instruksi yang diberikan. 3. menidentifikasi arti kehilangan/disfungsi/perubahan pada pasien. Hasil : klien tidak mengalami kehilangan akibat dari penurunan

fungsi pendengaran. 4. menganjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan dan perasaan marah. Hasil : klien mengikuti anjuran yang diberikan. S : Klien mengatakan malu akan penyakitnya O : Klien tampak jarang bergaul A : Masalah teratasi P : --