Anda di halaman 1dari 6

Parasetamol 09 Safar 1426H Sudah satu minggu lebih cuaca Bandung nggak beres, sering panas terik di siang

hari tiba-tiba langsung mendung dan hujan. Kondisi seperti ini sering membawa penyakit, salah satu yang paling umum adalah pilek dan flu. Kalau diingat-ingat, dalam satu tahun saya kerap terkena pilek satu atau dua kali, terutama dalam musimnya karena mudah tertular dari udara sebagai carrier virus. Pilek cold, dalam bahasa Inggris adalah penyakit yang menginfeksi saluran pernafasan atas oleh virus Rhinovirus atau Coronavirus, yang mengakibatkan hidung berlendir sehingga pernapasan terganggu, efek samping lain adalah sakit kepala, gejala batuk, demam dan pegal linu.

Dari sekian banyak obat anti pilek semuanya mengandung satu unsur utama, yaituParasetamol atau Asetaminofen. Parasetamol sebenarnya sudah ditemukan sekitar 1880 saat ilmuwan bekerja mencari penanggulangan malaria, namun penemuan tersebut masih diabaikan. Di tahun 1946, Bernard Brodie dan Julius Axelrod mengadvokasi penggunaan Asetaminofen sebagai alternatif obat selain Aspirin. Aspirin adalah obat anti analgesic (pegel linu) dan anti pyretic (demam), serta mencegah sakit jantung untuk jangka waktu panjang dalam dosis rendah. Nama Aspirin menjadi merek dagang perusahaan Jerman Bayer di tahun 1899, namun hak merek dagang tersebut hilang di banyak negara setelah Perang Dunia I. Sterling Drug membeli merek dagang Aspirin pada tahun 1918 namun pada tahun 1921 Amerika membebaskan Aspirin sebagai merek dagang generik. Kembali ke Parasetamol, pada tahun 1956 perusahaan Inggris Frederick Stearns & Co memproduksi Parasetamol dalam bentuk merek dagang Panadol (saya baru tahu kalo nama ini merek dagang yang sudah lama), dan dua tahun kemudian Panadol Elixir diproduksi sebagai obat untuk anak-anak. Di tahun 1963 paten Parasetamol berakhir dan menjadi nama generik hingga sekarang. Parasetamol termasuk ke dalam kategori NSAID sebagai obat anti demam, anti pegel linu dan anti-inflammatory (euh, bahasa Indonesianya apa ya?), inflammation adalah kondisi pada darah pada saat luka pada bagian tubuh (luar atau dalam) terinfeksi, sebuah imun yang bekerja pada darah putih (leukosit). Contoh pada bagian luar tubuh jika kita terluka hingga timbul nanah itu tandanya leukosit sedang bekerja, gejala inflammation lainnya adalah iritasi kulit. Parasetamol termasuk aman dikonsumsi tanpa efek candu seperti obat narkotika. Untuk orang dewasa umumnya dosis dikonsumsi sebesar 500mg, bisa dilihat pada komposisi berbagai merek obat pilek kandungan Asetaminofen ini antara 400600mg selain kandungan lain dalam kadar rendah, tergantung merek obatnya. Meskipun aman jangan mengkonsumsi Parasetamol lebih dari 5 gram (weh, siapa yang minum 10 tablet lebih?) dalam sehari, apalagi untuk seorang pecandu alkohol, malah bisa menyebabkan kerusakan liver. Jadi, jika anda pilek jangan ragu untuk minum obat jenis ini, karena aman dan anda tidak akan kecanduan, tidak seperti antibiotik yang harus hati-hati (HARUS dimakan habis dosisnya) dan harus atas resep dokter. Dilema Parasetamol Richard Beasley, Direktur Medical Research Institute Selandia Baru, spesialis gangguan pernapasan pada Wellington Hospital, konsultan Organisasi Kesehatan Sedunia mengenai Asma Parasetamol merupakan salah satu obat yang paling banyak digunakan di dunia. Ia merupakan obat pilihan untuk meringankan demam dan nyeri, karena dikenal aman. Namun, 10 tahun yang lalu, sudah muncul hipotesis bahwa penggunaan parasetamol bisa meningkatkan risiko terjangkit asma. Digunakannya parasetamol sebagai pengganti aspirin di Amerika Serikat selama 1980-an dikatakan sebagai penyebab meningkatnya prevalensi asma pada anak selama kurun waktu tersebut. Digantikannya aspirin dengan parasetamol, demikian menurut para peneliti, menyebabkan meningkatnya allergic immune response, serta mudah terjangkitnya anak oleh asma dan gangguan alergi lainnya. Sejak saat itu, sejumlah studi epidemiologis sudah melaporkan adanya kaitan antara asma dan penggunaan parasetamol pada kandungan, pada anak, dan pada orang dewasa. Studi-studi tersebut memberikan kesan bahwa penggunaan parasetamol mungkin merupakan faktor risiko penting berkembangnya asma. Bukti terbaru yang mendukung hipotesis ini datang dari studi epidemiologis internasional mengenai asma pada anak-anak yang baru-baru ini dimuat dalam jurnal kedokteran The Lancet. Analisis yang dilakukan International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) ini melibatkan lebih dari 200 ribu anak yang berusia enam dan tujuh tahun dari 73 pusat penelitian di 31 negara. Orang tua atau wali anak diminta menjawab pertanyaan tertulis mengenai gejala asma, rhinitis, dan eksim yang diketahui dan mengenai beberapa faktor risiko, termasuk penggunaan parasetamol untuk menurunkan demam pada tahun pertama anak, serta frekuensi penggunaan parasetamol selama 12 bulan terakhir. Studi ini mengidentifikasi bahwa penggunaan parasetamol untuk meringankan demam pada tahun pertama seorang anak ada kaitannya dengan gejala asma pada anak usia enam dan tujuh tahun. Keterkaitan ini tampak di semua kawasan utama di dunia, dengan peningkatan risiko yang diperkirakan sebesar 46 persen setelah disesuaikan dengan faktor-faktor risiko lainnya.

Keterkaitan yang tergantung dosis ini juga teramati antara gejala asma pada usia 6-7 tahun dan penggunaan parasetamol pada 12 bulan sebelumnya. Keterkaitan serupa juga teramati antara penggunaan parasetamol dan risiko timbulnya gejala asma yang berat. Sesuai dengan kalkulasi, proporsi kasus asma yang dapat dikaitkan dengan parasetamol berkisar 22 persen dan 38 persen. Penggunaan parasetamol baik pada tahun pertama seorang anak maupun pada anak berusia 6-7 tahun juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gejala rhinitis and eksim. Ini mengesankan bahwa efek parasetamol tidak terbatas pada saluran pernapasan saja, tapi juga pada sejumlah sistem organ. Identifikasi mekanisme yang mungkin mendasari keterkaitan antara parasetamol dan asma (serta gangguan alergi lainnya) tidak termasuk dalam studi ini. Tapi para peneliti lainnya telah mengajukan sejumlah mekanisme yang bisa diterima, terutama berkaitan dengan efek negatif parasetamol terhadap kemampuan tubuh menghadapi stres oksidan dan kemungkinan meningkatnya allergic immune response. Para peneliti menekankan bahwa hubungan sebab-akibat tidak bisa dipastikan dari studi retrospektif semacam ini, karena berbagai prasangka yang mengacaukan keterkaitan ini. Misalnya, kita mengetahui bahwa infeksi saluran pernapasan karena virus pada bayi, seperti respiratory syncytial virus (RSV), dikaitkan dengan peningkatan risiko asma pada bayi tersebut ketika usia anak meningkat dan bahwa penggunaan parasetamol pada tahun-tahun tersebut bisa mengacaukan studi ini. Studi ini menyumbang kepada debat mengenai apakah mengobati demam pada anak itu ada manfaatnya, suatu persoalan yang telah dibahas panjang-lebar oleh Fiona Russell dan kolega dalamBulletin of the World Health Organization. Mereka mengatakan bahwa bukti ilmiah yang ada mengesankan bahwa demam merupakan respons yang universal dan biasanya bermanfaat dalam melawan infeksi; dan menindasnya dalam kebanyakan kasus tidak banyak bukti manfaatnya. Sebaliknya, demikian menurut mereka, menindas demam terkadang menimbulkan efek yang berbahaya. Mereka menyimpulkan bahwa penggunaan obat secara luas untuk menurunkan demam sebaiknya dihindari. Mereka menganjurkan agar penggunaan obat pada anak sebaiknya dibatasi, dan dilakukan hanya pada situasi demam yang tinggi, ketidaknyamanan yang jelas, atau kondisi yang diketahui menimbulkan kesakitan. Yang disepakati adalah perlunya uji acak yang terkontrol atas efek jangka panjang penggunaan berulang-ulang parasetamol pada anak-anak. Hanya dengan demikian dapat dikembangkan petunjuk penggunaan berbasis-bukti yang dapat direkomendasikan. Sembari menunggu hasil penelitian tersebut, parasetamol tetap merupakan obat pilihan untuk meringankan nyeri dan demam pada anak, yang harus digunakan sesuai dengan petunjuk Organisasi Kesehatan Sedunia yang menganjurkan dibatasinya penggunaan hanya untuk anak yang diserang demam yang tinggi (38,5 derajat Celsius atau lebih). Penggunaan aspirin pada anak-anak usia muda tidak dianjurkan karena risiko timbulnya Reye's syndrome, komplikasi yang serius namun jarang terjadi. Parasetamol juga tetap merupakan obat pilihan untuk meringankan nyeri atau demam pada anak atau orang dewasa yang menderita asma, karena aspirin atau obat non-steroidal anti-inflammatory lainnya bisa merangsang serangan asma pada orang yang rentan terhadap kondisi ini. Parasetamol Dapat Merusak Paru-Paru Parasetamol memang sangat manjur untuk menghilangkan rasa sakit kepala, pusing atau demam. Tapi, dibalik keampuhannya tersebut, ternyata menyimpan bahaya yang cukup besar yakni dapat menurunkan fungsi paru-paru. Hampir setiap obat sakit kepala dan demam yang dijual secara bebas pasti mengandung parasetamol, hanya saja kadarnya yang berbeda. Memang diakui, parasetamol terbukti sangat efektif untuk menghilang rasa nyeri dalam waktu singkat. Meski demikian, jangan gunakan obat ini secara rutin. Apalagi bagi penderita penyakit asma dan penyakit paru obstruktif menahun atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Karena, bila obat ini digunakan setiap hari, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru. Hasil ini berdasarkan data survei yang dikumpulkan oleh 'Third National Health and Nutrition Examination Survey' dari tahun 1988-1994 pada sekitar 13.500 orang dewasa di Amerika

Serikat. Mereka semua memberikan informasi akan obat yang dipakai yaitu Aspirin Parasetamol dan Ibuprofen. Dari data survey ini terlihat bahwa mereka yang menggunakan obat Parasetamol, mengalami resiko untuk menderita Asma dan COPD yang lebih tinggi. Dan pada penggunaan Parasetamol rutin setiap hari atau penggunaan lebih besar, dihubungkan dengan terjadi penurunan dari fungsi paru. Sedang pada obat Aspirin dan Ibuprofen, tidak terlihat adanya gangguan dari paru. Penelitian yang dilakukan pada hewan, dosis tinggi dari Parasetamol akan menurunkan kadar dari salah satu antioksidan yang penting, yaitu Glutathion, yang ada pada jaringan paru. Jadi, kemungkinan gangguan paru yang terjadi akibat pemakaian rutin Parasetamol disebabkan karena terjadi penurunan Glutathion, yang menyebabkan peningkatan resiko dari kerusakan jaringan paru dan peningkatan dari penyakit pernafasan. Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya, yang menyatakan bahwa penggunaan Parasetamol dapat meningkatkan resiko yang berat bagi penderita asma. Bahaya Parasetamol atau yang disebut juga Asetaminofen, ternyata tidak hanya menyerang paru-paru saja, termasuk juga ginjal bila digunakan dalam waktu yang lama. Kebiasaan menggunakan Parasetamol, terutama bagi kaum wanita untuk menghilangkan nyeri seperti pada saat haid, dinilai sangat membahayakan. Penelitian ini dilakukan terhadap 1.700 wanita yang diteliti selama lebih dari 11 tahun, yang mengalami penurunan fungsi filtrasi ginjal sebesar 30 persen. Dari penelitian terlihat bahwa wanita yang mengkonsumsi Parasetamol sebanyak 1.500 - 9.000 butir selama hidupnya, berisiko untuk mengalami gangguan ginjal sebesar 64 persen. Sedangkan untuk mereka yang mengkonsumsi lebih dari 9.000 tablet, risiko ini meningkat hingga dua kali lipat. Tapi penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara gangguan fungsi ginjal dengan Aspirin atau obat pereda nyeri/inflamasi lainnya seperti golongan anti inflamasi non-steroid. Penelitian ini bukan untuk menghentikan penggunaan Parasetamol. Tapi untuk berhati-hati dalam menggunakannya untuk jangka panjang. Selain itu bagi para peneliti, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan pengobatan lain dalam mengatasi rasa nyeri, yang tidak berbahaya bila digunakan untuk waktu yang lama Turunkan Obesitas, Turunkan Faktor Resiko

Kegemukan tak lagi berarti kemakmuran, terlebih pada gemuk yang tidak terkendali. Yang ada justru mengundang sejumlah penyakit. Obesitas adalah satu kondisi yang mudah dikenali dari tampilan fisik, biasa disebut juga sebagai kegemukan. Indikasi gemuk atau obesitas dapat dilihat dari BMI (body mass index), yakni berat badan dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan kg/m2. Bila BMI 25, maka dinyatakan obese. Obesitas juga dapat dilihat dari pengukuran lingkar pinggang. Pada pria dinyatakan obese jika lingkar pinggang 94 cm dan wanita 80 cm. Namun khusus komunitas Asia, standarnya lebih rendah yakni pria 90 cm dan pada wanita 80 cm. Obesitas menjadi tolak ukur perilaku dan gaya hidup terkait dengan kesehatan. Berdasarkan pengalaman klinis, Prof. Dr. Askandar Tjokroprawiro SpPD, KEMD dari Pusat Diabetes dan Nutrisi, RS. Dr. Soetomo / FK Unair, Surabaya, membagi evolusi penyakit terkait dengan gaya hidup (evolution of lifestyle disease) menjadi 5 tahap. Tahap 0 (gaya hidup sehat), tahap 1 (gaya hidup tidak sehat), tahap 2 (Obesitas, obesitas abdomen), tahap 3 (penyakit praklinis ; pradiabetes, sindroma metabolik) dan tahap 4 (penyakit klinis ; CAD, DM, stroke, dll). Obesitas juga berpartisipasi dalam keparahan kondisi yang komorbid seperti pada pasien diabetes, hipertensi, dislipidemia, CHD, stroke, sejumlah kanker, artritis, dan obstructive sleep apnea, lanjut prof. Askandar th dalam 5 National Obesity Symposium yang berlangsung di Mercure Convention Centre pada 20 hingga 21 Mei 2006. Penurunan berat badan sebesar 5 hingga 10 % dari bobot badan berefek positif pada perbaikan status penyakit yang komorbid. Meski demikian, tak jarang kasus kenaikan berat badan drastis terjadi lagi usai tercapai penurunan berat badan oleh pasien. Selain modifikasi lifestyle, intervensi farmasi adalah salah satu cara mengatasi obesitas. Salah satu agen penurun berat badan yang sudah dikenal adalah sibutramin. Sibutramin bekerja secara sistemik dengan dua cara, pertama, mempengaruhi selera makan yang menyebabkan bertahannya sensasi rasa kenyang. Dengan sendirinya sensasi kenyang ini akan membatasi asupan makanan termasuk kudapan ringan. Kedua, mendorong pengeluaran energi dan membatasi tingkat metabolisme yang menurun seiring dengan penurunan berat badan. Kerja utama sibutramin berupa penghambatan padare-uptake monoamine dan memblok re-uptake dari norephineprin dan serotonin. Sibutramin digunakan dalam manajemen obesitas sejak mengantongi izin FDA pada 1997. Studi STORM (Sibutramine Trial in Obesity Reduction and Maintenance) yang melibatkan 605 partisipan (BMI 30-40 kg/m2) dilakukan selama 6 bulan. Dalam studi ini, sibutramin yang diberikan 10 mg per hari menunjukkan efek positif terhadap penurunan berat badan sebesar 5% pada 467 pasien (77%). Kemuidan pasien yang berhasil menurunkan berat badannya hingga 5% diacak kembali untuk melanjutkan studi selama 18 bulan. Tahap kedua studi masih menggunakan dosis sibutramine 10 mg per hari. Sebanyak 352 pasien menerima sibutramine dan 115 pasien mendapat plasebo. Jumlah tersebut berkurang menjadi hanya 204 orang pada kelompok sibutramine dan 58 orang pada kelompok plasebo. Di akhir studi, tersisa 89 orang atau 43 % dari kelompok sibutramin dan sebanyak 9 orang atau 16% pada kelompok plasebo yang merampungkan secara lengkap studi ini. Perbaikan pada status kesehatan yang tampak adalah penurunan kadar trigiserida, kolesterol VLDL, peptida C dan asam urat pada kelompok sibutramin dalam 6 bulan pertama. Namun hasil ini tidak dijumpai pada kelompok plasebo. Penurunan berat badan individual tercapai sebesar 77% partisipan dalam studi STORM, jelas prof. Askandar. Dalam studi ini juga tampak penurunan lingkar pinggang hingga lebih dari 9 cm. Efek samping yang tercatat antara lain, mulut kering, pusing, konstipasi dan insomnia. Obat ini dapat meningkatkan tekanan darah sehingga diperlukan tindakan mengontrol tekanan darah selama penggunaannya. Meski tujuan utama dari manajemen obesitas adalah penurunan berat badan. Namun beberapa hal menjadi indikator keberhasilan. Antara lain, perbaikan profil metabolisme, penyakit komorbiditas (hiperkolesterol, diabetes), aktivitas fisik, kepercayaan diri, pencitraan tubuh (body image), efikasi pengobatan, status mood dan psikologi. Juga termasuk peningkatan kualitas hidup, dan aktivitas harian. Hal-hal tersebut merupakan evaluasi manajemen obesitas yang komprehensif. Sibutramine Hydrochloride

Sibutramine hydrochloride merupakan golongan OBAT KERAS yang digunakan dalam pengobatan obesitas, dimana obat ini hanya dapat diperoleh dan digunakan berdasarkan resep dokter. Namun kenyataannya, obat ini banyak ditemukan dijual bebas di pasaran. 2 2 Sibutramine direkomendasikan untuk pasien obesitas dengan index massa tubuh 30 kg/m , atau 27 kg/m untuk pasien dengan resiko diabetes, dislipidemia, dan hipertensi. Mekanisme Aksi Sibutramin hydrochloride menghambat reuptake noradrenaline dan serotonin oleh sel saraf setelah kedua neurotransmiter ini menyampaikan pesan diantara sel saraf yang ada di otak. dihambatnya reuptake membuat kedua neurotransmitter ini bebas menjelajah di otak. saat itulah keduanya menghasilkan perasaan penuh (kenyang) pada pasien sehingga mengurangi keinginan untuk makan. Obat ini terbukti menurunkan asupan makanan dan meningkatkan thermogenesis. Secara invivo, sibutramine bekerja melalui 2 metabolit aktif yaitu M1dan M2. Efikasinya untuk menurunkan dan mempertahankan berat badan telah ditunjukkan pada beberapa penelitian klinis. Farmakokinetika : Sibutramine diabsorpsi cepat di saluran gastroinestinal (77%). Sibutramin terdistribusi luas ke jaringan terutama di hati dan ginjal. Metabolit M1 dan M2 terikat sebanyak 94% pada protein plasma sedangkan sibutramine terikat 97% pada protein plasma. Hal ini menunjukkan bahwa volume distribusi (Vd) sibutramin, metabolit M 1dan M2 kecil didalam tubuh. Sibutramin mengalami first pass metabolisme di hati oleh sitokrom P450 isoenzim CYP3A4 mengahasilkan dua metabolit aktif, M1 dan M2. Kedua metabolit ini selanjutnya mengalami konjugasi dan hidroksilasi menjadi metabolit inaktif, yaitu M 5 dan M6. T1/2 eliminasi sibutramin adalah 1 jam , Metabolite: M1 : 14 jam, M2 : 16 jam. Tmaks sibutramin 1,2 jam, Metabolit : M1dan M2 : 3-4 jam. Sibutramin dan metabolitnya dieksresikan terutama lewat urine (77%) dan feses. Efek samping : Sakit kepala, isomnia, konstipasi, migrain, depresi, hipertensi, takikardia, mulut kering. Penggunaan Sibutramin Hidroklorida dalam dosis tinggi : Berisiko meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung serta menyebabkan penggunanya sulit tidur sehingga senyawa kimia itu tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan oleh orang yang mempunyai riwayat penyakit arteri koroner, gagal jantung kongestif, aritmia dan stroke. Interaksi Jika digunakan bersamaan dengan obat-obat yang mekanisme kerjanya menghambat oksidasi monoamine(MAOIs, seperti selegiline), sibutramine hydrochloride secara klinis akan menghasilkan interaksi yang bermakna karena meningkatkan resiko serotonin syndrome Selain itu, penggunaan sibutramine bersamaan dengan obat-obat penghambat CYP3A4 seperti ketokonazol dan eritromisin dapat meningkatkan kadar sibutramine dalam plasma. Kontraindikasi Pasien berumur dibawah 18 tahun Pasien yang mengalami gangguan kejiwaan seperti : bulimia nervosa,anorexia nervosa, depresi serius Pasien dengan riwayat predisposition to drug atau alcohol abuse hipersensitivitas pengobatan bersamaan dengan MAO inhibitor, antidepressant hipertensi yang tidak dikontrol, pulmonary hypertension Mengalami kerusakan katup jantung, jantung koroner, gagal jantung kongestif, aritmia serius, infark miokard Stroke atau transient ischemic attack (TIA) Hipertiroidisme., glaucoma, Seizure disorders , pembesaran kelenjar prostat dan retensi urin, pheochromocytoma Wanita hamil dan menyusui (Pregnancy Risk Factor C) Dosis 10 mg 1 kali sehari tiap pagi, bila setelah 4 minggu berat badan menurun < 2 kg, dosis dapat ditingkatkan sampai maksimal 15 mg per hari Mengapa Perlu Pengawasan Dokter ???

Obat ini merupakan obat keras yang salah satunya kontraindikasi dengan penyakit kardiovaskuler. Sedangkan orang yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas) memiliki resiko yang sangat besar untuk menderita penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu sangat perlu dilakukan konsultasi mengenai riwayat penyakit pasien dengan Dokter sebelum memilih menggunakan sibutramine hydrochloride. Sibutramine hydrochloride menghasilkan 2 metabolit aktif yang mekanisme kerjanya sama dengan senyawa induknya yaitu sibutramine hydrochloride. Hal ini dapat meningkatkan toksisitas dari obat tersebut jika dosis, frekuensi dan lama pemberian tidak dikontrol. Sibutramine hydrochloride merupakan obat golongan anoreksansia yang berdaya menekan nafsu makan secara efektif selama 4 sampai 6 minggu namun setelah digunakan 3 sampai 6 bulan efeknya akan sangat berkurang akibat terjadinya toleransi. Jika terjadi toleransi, maka ketika dilakukan peningkatan dosis (menjadi 15 mg , maksimal selama 1 tahun) perlu pengawasan ketat dari dokter untuk menghindari efek samping obat. Efek samping sibutramine hydrochloride antara lain : meningkatkan debar jantung dan hipertensi, maka frekuensi jantung dan tensi darah perlu dimonitor selama 3 bulan pertama. Resiko lain mengkonsumsi obat-obat diet tanpa pengawasan dokter adalah : membuat tubuh lemas dan sistem kekebalan tubuh menurun karena jarang makan (tetapi tidak merasa lapar), jantung berdebardebar,dehidrasi, sulit tidur, diare, penurunan tekanan darah, nyeri kepala, dan gula darah menurun drastis. Namun, resiko yang timbul pada setiap orang tidak sama, karena itu konsumsi obat-obat diet harus di bawah pengawasan dokter.