Anda di halaman 1dari 4

Biopharmaceutics Assignment Rani Wulandari 0906488533 Reguler 2009 Korelasi data in-vivo dengan data disolusi in-vitro Korelasi

laju disolusi in-vitro dan absorpsi in-vivo merupakan cara untuk menjamin bioavailabilitas dari zat aktif dari bentuk sediaan. Prediksi kuantitatif mengenai absorpsi obat dari suatu formulasi baru dapat dibuat tanpa in vivo. Contoh eksipien:

Disintegran: Avicel, Explotab Lubrikan: Talk, minyak terhidrogenasi Penyalut: hidroksipropilmetil selulosa Salut enterik: selulosa asetat ftalat Sustained release: metilselulosa, etil selulosa Sustained release (agen wax) : Castorwax, Carbowax Sustained release (gom/kental): Veegum, Keltrol.

Pemilihan berbagai eksipien ini dapat disesuaikan tujuan pembuatan tablet yang diinginkan. Sehingga proses disolusi dapat kita atur terlebih dahulu dan memprediksi proses yang terjadi dan menkorelasikan data in vitro dan in vivo. Banyak studi sejak 1980 untuk mengkorelasikan disolusi in vitro dengan performance in vivo. Beberapa studi menemukan korelasi yang signifikan sementara yang lainnya tidak. Limited success dalam menetapkan korelasi kuantitatif adalah karena absorpsi merupakan proses yang rumit. Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi proses absorpsi : ~ waktu pengosongan lambung ~ metabolisme obat oleh enzim-enzim dinding GIT atau mikroflora intestinal ~ metabolisme lintas pertama Keuntungan utama disolusi in vitro: 1. Membantu mengidentifikasi formulasi yang mungkin dapat menimbulkan masalah bioekivalensi
2. Memastikan bioekivalensi batch ke batch dari suatu formulasi yang telah terbukti

bioavailabilitasnya.

A. Tipe Korelasi Ada 2 tipe dasar korelasi, yaitu korelasi rank-order dan korelasi kuantitatif Korelasi Rank order adalah korelasi berdasar peringkat, salah satu diantara: variabel y meningkat jika variabel x meningkat (sebanding). Variabel y meningkat jika variabel x menurun (berbanding terbalik). Variabel-variabel yang didefinisikan oleh skala interval atau skala rasio dapat ditransformasikan menjadi bentuk korelasi rank-order, yang kemudian dapat dibuat statistiknya. Table 9.2 adalah contoh dari korelasi perfect rank-orderdan imperfect rank-order.

Korelasi kuantitatif

merupakan

salah satu dimana variabel in vivo y berkaitan

dengan variabel in vitro x oleh salah satu persamaan berikut: y=a+bx ln y=ln y0+bx (b boleh negatif) Korelasi ini merupakan jenis yang lebih informatif. Namun, hubungan tersebut mungkin harus diturunkan hanya bila ada alasan teoritis untuk variabel-variabel yang berkaitan seperti yang ditunjukkan oleh persamaan yang diturunkan. Dalam korelasi tersebut, istilah r (sering disebut koefisien korelasi) atau r2 (koefisien determinasi) diperoleh sebagai bukti tingkat korelasi antara variabel-variabel. B. Variabel korelasi Variabel yang diturunkan dari data in vivo yang berkaitan dengan variabel dari data in vitro: 1. Puncak konsentrasi plasma, (Cp)max

2. Area di bawah konsentrasi plasma dari t=0 hingga t=t atau hingga t= 3. Jumlah obat yang diekskresikan di urin Xu pada waktu t atau pada t=t1/2 4. Laju ekskresi urin pada waktu t 5. Plot persentase absorpsi (metode WagnerNelson) dari data plasma atau urin 6. Respon farmakologis, ex: penurun gula darah atau tekanan darah. Variabel-variabel dari data in vitro yang berkaitan dengan data in vivo: 1. Waktu disintegrasi 2. Waktu yang diperlukan untuk persentase tertentu obat melarut (t20%, t50%, dll) 3. Konsentrasi obat dalam cairan disolusi pada waktu tertentu 4. Laju disolusi 5. Persentase yang tersisa untuk terdisolusi
6. Laju disolusi intrinsik

Sebanyak 50% dari waktu obat untuk melarut secara in vitro (t50%) merupakan nilai non kompartemen, mengindikasikan kecenderungan sentral disolusi in vitro. Namun tidak bisa dijadikan metode single point. Metode multipoint membandingkan tingkat disolusi in vitro dengan tingkat masukan in vivo.
C. Contoh korelasi kuantitatif

Dua contoh dari korelasi kuantitatif yang akan dibahas: penicillin V and griseofulvin.
1. Penicillin V

Pada Gambar 9.16 menunjukkan korelasi konsentrasi dalam darah pada pasien yang diberikan 3 macam garam penicillin V yang berbeda secara oral : Na penicillin V, Ca penicillin V, dan penicillin V.

2. Griseofulvin

Pada Gambar 9.17 membandingkan konsentrasi plasma griseofulvin pada waktu 30 menit dengan laju disolusi secara in vitro selama 30 menit menstimulasikan cairan GIT untuk 4 produk griseofulvin.