Anda di halaman 1dari 3

TEORI KRITIK SOSIAL

NAMA NIM : BAYU SUSANTO : F1A 009020 Kritik Terhadap Pendidikan Indonesia Permasalahan pendidikan merupakan permasalahan bersama, kita sebagai pemuda dan masyarakat seharusnya bergotong royong bersama membangun pendidikan ke arah yang lebih baik, karena akan sangat dilematik kalau kita hanya menunggu adanya perubahan dari pemerintah, kalau pemerintah kita benar-benar serius untuk membenahi pendidikan, jika mereka hanya mengutamakan pendidikan untuk dirinya saja bagaimana dengan nasib kita dan saudara kita, apalagi mereka yang berada di pinggiran. Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Wajah pendidikan kita santer diberitakan di media mengenai pendidikan mahal, pungli di sekolah-sekolah, siswa yang harus rela belajar di sekolah yang hampir ambruk, buku sekolah yang semakin melambung tinggi, dan berbagai permasalahan lainya, tapi apakah benar yang diberitakan dibanyak media televisi swasta mengenai hal tersebut, atau barangkali itu hanya poltik media belaka, bukankah pemerintah sudah cukup peduli memberi bantuan untuk sekolah-sekolah, apalagi ada dana bos, serta pendidikan 9 tahun gratis, seharusnya kalau seperti itu kurang pantaskan kalau alasan ekonomi masih menjadi dasar bagi kurangnya akses pendidikan bagi masyarakat miskin Banyak artikel, journal ataupun makalah yang telah membahas bagaimana pendidikan dan perkembangan pendidikan di Indonesia. Tapi tidak banyak dari tulisan tersebut yang secara tegas mengatakan akan bagaimanakah nasib pendidikan itu sendiri. Klaim kebenaran atas perspektif pendidikan Indonesia selama ini masih mengacu kepada teori-teori dan pengalaman yang mereka dapatkan ketika bersekolah di luar negeri (maklum para pemegang kebijakan pendidikan kita sangat banyak yang sudah bersekolah ke luar negeri dan menempati posisi strategis). Akibatnya, pendidikan kita jarang yang mengadopsi budaya-budaya lokal. Kita buta sejarah dan buta terhadap nilai-nilai budaya bangsa. Namun menurut pendapat saya sesuatu yang tidak laku lagi di dunia barat (luar negeri) seperti

MBS yang pernah diterapkan oleh Amerika dan ternyata Amerika sendiri mengalami kekacauan yang luar biasa dengan paradigma pendidikan yang mereka kembangkan, begitu juga Jepang. Tapi, apa yang bisa kita katakan untuk hal ini? Masyarakat kita (terutama para ahli pendidikan) sudah terlanjur membanggakan produk yang aneh-aneh, sebagai pengganti ketidakmampuan mereka dalam menggali nilai-nilai budaya bangsanya sendiri. Padahal, semua kita memahami bahwa tidak ada kebenaran mutlak dalam sebuah teori atau konsep, karena proses selalu ada dan terus mengalir seperti air. Maka, untuk lima, sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, pendidikan kita belum bisa menjadikan kita mandiri dan dihargai/dihormati oleh negara lain. So, pasti karena pendidikan kita lebih banyak menganut sistem proyek (baik kurikulum, sarana parasarana, pengadaan tenaga kependidikan, metode pembelajaran dan sistem evaluasi yang dijalankan). Pendidikan kita lebih banyak menghasilkan manusia-manusia yang mengabdi kepada uang, kedudukan (kemapanan), pendidikan kita juga menjadikan anak-anak kita menjadi manusia yang lemah dan suka meniru daripada berusaha menghasilkan sendiri karya-karyanya. Apa yang bisa kita harapkan dari kondisi semacam ini dan bagaimana kita bisa keluar dan merubah prospek pendidikan kita? Jawabannya ada di benak kita masing-masing, terlepas dalam tugas dan posisi apa kita sekarang ini. Hentikan cara-cara saling menyalahkan, pusatkan pendidikan untuk benar-benar membangun manusia Indonesia yang utuh, biaya operasional pendidikan yang telalu banyak terbuang untuk membayar pegawai dan perjalanan dinas sebaiknya dialihkan kepada pemenuhan kebutuhan peserta didik dalam menunjang keberhasilan belajarnya, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah harus benar-benar dapat dijalankan sesuai dengan tujuan dan dasar pengambilan kebijakan itu. Kurikulum yang selalu berubah-ubah setiap kali pergantian pemimpin, jelas tidak menjamin tercapainya tujuan dasar pendidikan, kecuali hanya sekadar mengejar popularitas dan kemapanan dalam kedudukan yang sekarang. Hentikan proyek penilaian yang terpusat seperti EBTANAS/UAN, karena bentuk evaluasi semacam ini hanya memberikan manfaat yang sedikit bagi peserta didik, peserta didik kita tidak hanya dituntut cerdas secara kognitif namun mereka juga harus cerdas dari segi praktis dengan skill yang mereka miliki. Bukankah banyak peserta didik yang mendapatkan nilai istimewa, sedangkan ia sendiri tidak mampu menerapkan apa yang ia ketahui bagi lingkungannya, ribuan sarjana di cetak dalam setahun dengan nilai di atas rata-rata toh juga jutaan dari mereka menjadi pengangguran. Para praktisi pendidikan kita terlalu disibukkan oleh hingar bingarnya tuntutan kesejahteraan, namun tidak ada satupun dari mereka yang berani berteriak ketika begitu banyak peserta didik yang tidak lulus ujian atau terlalu banyak

lulusan mereka yang menjadi pengangguran. Mulailah dari rasa saling percaya dan saling menghargai terhadap bidang keilmuan kita masingmasing, kita harus memiliki rasa tanggung jawab yang sama terhadap pendidikan ini, orientasi kita terhadap kemapanan diri hendaknya dirubah kepada kemajuan pendidikan.