Anda di halaman 1dari 42

GANGGUAN SOMATOFORM

dr. Engelberta Pardamean, SpKJ




Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai
contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang
adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan
emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk
berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform
mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk
onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh
pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.
Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
O Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem
organ.
O Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
O Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan
pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
O Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-
lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
O Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan
faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
O Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan
salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama
periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan
bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada
sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat
tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi,
anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual,
atau selama miksi)
2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal
selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan,
diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif
selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi,
menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang
kehamilan).
4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang
mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala
konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau
kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi
urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan,
ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran
selain pingsan).
C. Salah satu (1)atau (2):
1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat
dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek
langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau
pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan
atau pura-pura).
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi
A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik
yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal
atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
D. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan
sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai
perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.
E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan
pemeriksaan medis.
F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi
semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan
dengan lebih baik oleh gangguan mental lain.
Sebutkan tipe gejala atau defisit:
Dengan gejata atau defisit motorik
Dengan gejala atau defisit sensorik
Dengan kejang atau konvulsi
Dengan gambaran campuran
Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis
A. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit
serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala gejala tubuh.
B. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan
penentraman.
C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan
delusional, tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan
(seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum,
gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas
perpisahan, atau gangguan somatoform lain.
Sebutkan jika:
Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode berakhir, orang tidak
menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius adalah berlebihan atau
tidak beralasan.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali
tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
B. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya,
ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan
cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis.
B. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan,
eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau
gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut:
Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis dianggap
memiliki peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih

Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi medis
umum
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan dimasukkan untuk
mempermudah diagnosis banding.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
B. Salah satu (1)atau (2)
1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh
kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat
(misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau
gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang
diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan
laboratonium.
C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya
gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan,
gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau berpura-pura)










GANGGUAN PSIKOSOMATIK
Penggunaan kata "psikosomatik "baru digunakan pada awal tahun 1980-an. Istilah tersebut
dapat ditemukan pada abad ke-19 pada penulisan oleh seorang psikiater Jerman Johann
Christian Heinroth dan psikiater lnggns John Charles Bucknill.

Nosologi DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) Psikosomatis
Untuk membuat kategori secara klinis, DSM-IV mengandung format subkategorisasi yang
membuat dokter dapat menspesifikasikan jenis faktor psikologis atau tingkah laku yang
mempengaruhi kondisi medis pasien. Faktor-faktor tersebut dirancang sedemikian mencakup
jangkauan yang luas dari fenomena psikologis dan tingkah laku yang tampaknya
mempenganuhi kesehatan fisik.
Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis
A. Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III)
B. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satu cara
berikut:
1. Faktor yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum ditunjukkan oleh
hubungan erat antara faktor psikologis dan perkembangan atau eksaserbasi dan,
atau keterlambatan penyembuhan dan, kondisi medis umum.
2. Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.
3. Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.
4. Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan atau
mengeksaserbasi gejala-gejala kondisi medis umum.
Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat lebih dan satu faktor, nyatakan
yang paling menonjol)
Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (seperti gangguan depresif berat
memperiambat pemulihan dan infark miokardium)
Gejala psikologis mempengaruhi kondisi medis (misalnya gejala depresif memperlambat
pemulihan dan pembedahan; kecemasan mengeksaserbasi asthma)
Sifat kepribadlan atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi kondisi
medis(misalnya penyangkaian psikologis terhadap pembedahan pada seorang pasien kanker,
perilaku bermusuhan dan tertekan menyebabkan penyakit kandiovaskular).
Perilaku kesehatan maladaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya tidak olahraga,
seks yang tidak aman, makan benlebihan).
Respon fisiologis yang berhubungan dengan stres mempengaruhi kondisi medis
umum(misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau tension headache yang
berhubungan dengan stres).
Faktor psikologis lain yang tidak ditentukan mempengaruhi kondisi medis (misalnya
faktor interpersonal, kultural, atau religius)

I. Gangguan Gastrointestinal
a. Ulkus Peptikum
4 Merupakan ulserasi pada membran mukosa lambung atau duodenum, berbatas
jelas, menemus ke mukosa muskularis dan terjadi di daerah yang terkena asam
lambung dan pepsin.
4 Etiologi
Teori spesifik
4 Alexander menghipotesiskan bahwa frustasi kronis dari kebutuhan
ketergantungan yang kuat menyebabkan konflik bawah sadar yang spesifik.
4 Konflik bawah sadar tersebut menyinggung ketergantungan kuat akan keinginan
reseptif-oral untuk disayangi dan dicintai, menyebabkan rasa lapar dan
kemarahan bawah sadar yang regresif dan kronis.
4 Reaksi dimanifestasikan secara psikologis oleh hiperaktivitas vagal persisten
yang menyebabkan hipersekresi asam lambung, yang terutama jelas pada orang
yang memiliki predisposisi genetik. Pembentukan ulkus dapat terjadi.
4 Faktor genetik dan kerusakan atau penyakit organ yang telah ada sebelumnya
(contohnya gastritis)adalah penyebab yang penting.
4 Terapi
4 Psikoterapi diarahkan pada konflik ketergantungan pasien.
4 Biofeedback dan terapi relaksasi berguna.
4 Terapi medis dengan cimetidine (Tagamet), ranitidine (Zantac), sucralfate
(Carafate), atau famotidine (Pepcid), serta pengendalian diet diindikasikan dalam
penatalaksanaan ulkus. Obat antimikrobial pada ulkus akibat H. Pylon.
b. Kolitis Ulseratif
4 Penyakit ulseratif inflamatoris kronis pada kolon, biasanya disertai diare
berdarah. Insidensi familial dan faktor genetik penting.
4 Tipe kepribadian: sifat kepribadian kompulsif yang menonjol. Pasien adalah
seorang yang pembersih, tertib, rapi, tepat waktu, hiperintelektual, malu malu,
dan terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan.
4 Etiologi
Teori spesifik:
4 Alexander menggambarkan kumpulan konflik spesifik pada kolitis ulseratif yaitu
ketidakmampuan untuk memenuhi suatu kewajiban (biasanya tidak patuh)
sampai kepada inti ketergantungan. Ketergantungan yang mengalami frustasi
menstimulasi perasaan agresif-oral, menyebabkan rasa bersalah dan kecemasan.
Menghasilkan pemulihan melalui diare.
4 Terapi
4 Psikoterapi yang tidak konfrontatif dan suportif diindikasikan pada kolitis
ulseratif.
4 Terapi medis seperti obat antikolinergik dan antidiare.
c. Obesitas
4 Akumulasi lemak berlebihan; berat badan melebihi 20 % berat badan
seharusnya.
4 Pertimbangan psikosomatik
4 Terdapat predisposisi genetik dan faktor perkembangan awal ditemukan pada
obesitas masa anak-anak.
4 Faktor psikologis penting pada obesitas hiperfagik (makan berlebihan),
khususnya pada makan pesta pora.
4 Faktor psikodinamika yang diajukan antara lain fiksasi oral, regresi oral, dan
penilaian berlebihan terhadap makanan.
4 Pasien memiliki riwayat penghindaran terhadap citra tubuh dan kebiasaan awal
yang buruk dalam asupan makanan.
4 Terapi
4 Dikendalikan melalui pembatasan diet dan penurunan asupan kalori.
4 Dukungan emosional dan modifikasi perilaku membantu mengatasi kecemasan
dan depresi yang berhubungan dengan makan berlebihan dan diet.
/. Anoreksia Nervosa
Perilaku yang diarahkan untuk:
4 Menghilangkan berat badan.
4 Pola aneh dalam menangani makanan.
4 Penurunan berat badan.
4 Rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan.
4 Gangguan citra tubuh.
4 Amenore pada wanita.
II. Gangguan Kardlovaskular
a. Penyakit Arteri Koroner
4 Penurunan aliran darah ke jantung. Ditandai oleh rasa nyeri, tidak nyaman,
tekanan pada dada dan jantung secara episodik.
4 Biasanya /itimbuikan oleh penggunaan tenaga /an stres.
4 %ipe kepriba/ian
4 Flan/ers Dunbar: pasien penyakit koroner berkepriba/ian agresiI kompulsiI,
cen/enung bekerja /engan waktu panjang, /an untuk meningkatkan kekuasaan.
4 eyer Fie/man /an Ray Rosenman: kepriiba/ian tipe A /an B.
4 epriba/ian tipe A berhubungan kuat /engan penyakit jantung koroner.
Orang yang berorientasi tin/akan berjuang keras untuk mencapai tujuan /engan cara
permusuhan yang kompetitiI. emiliki peningkatan jumlah lipoprotein /ensitas
ren/ah, kolesterol serum, trigliseri/a, /an 17- hi/roksikolestenol.
4 epriba/ian tipe B: santai, kurang agresiI, kurang aktiI berjuang mencapai tujuannya.
4 %erapi: Jika terja/i oklusi koroner, /igunakan berbagai me/ikasi bagi status jantung
pasien. Untuk menghilangkan ketegangan psikis, /igunakan psikotropika (contoh
/iazepam / valium). Rasa sakit /iobati /engan analgesik (contoh morIin). %erapi
me/is harus suportiI /engan penekanan psikologis untuk menghilangkan stres psikis,
kompulsiI, /an ketegangan.
b. Hipertensi Esensial
4 %ipe kepriba/ian
4 Orang hipertensiI tampak /ari luar menyeriangkan, patuh, /an kompulsiI; walaupun
kemarahan mereka ti/ak /iekspresikan secara terbuka, memiliki banyak kekerasan
yang terhalangi.
4 !re/isposisi genetik untuk hipertensi; yaitu bila terja/i stres kronis pa/a kepriba/ian
kompulsiI yang telah merepresi /an menekan kekerasan.
4 %erapi: !sikoterapi suportiI /an teknik perilaku (contoh: bioIee/back, me/itasi, terapi
relaksasi). !asien harus patuh /engan regimen me/ikasi anti hipertensi.
c. agal 1antung Kongestif
4 angguan /i mana jantung gagal memompa /arah secara normal, menyebabkan
kongesti paru /an menurunkan aliran /arah jaringan /engan penurunan curah
Jantung.
4 Faktor psikologis, seperti stres /an konIlik emosional nonspesiIik, seringkali
bermakna /alam mulainya atau eksaserbasi gangguan.
4 !sikoterapi suportiI penting /alam pengobatannya.
/. $inkop Vasomotor (Vasodepresor)
4 Ditan/ai oleh kehilangan kesa/aran (pingsan) secara tiba-tiba yang /isebabkan oleh
serangan vasovagal.
4 enurut Franz Alexan/er, rasa khawatir atau takut menghambat impuls untuk
berkelahi atau melarikan /iri. Dengan /emikian menampung /arah /i anggota gerak
bawah, /ari vaso/ilatasi pembuluh /arah /i /alam tungkai. Reaksi tersebut
menyebabkan penurunan pengisian ventrikel, penurunan pasokan /arah ke otak, /an
akibatnya hipoksia otak /an kehilangan kesa/aran.
4 %erapi: !sikoterapi harus /igunakan untuk menentukan penyebab ketakutan atau
trauma yang berhubungan /engan sinkop
e. ritmia 1antung
4 Aritmia yang potensial membahayakan hi/up (seperti palpitasi, takikar/i ventrikular,
/an Iibrilasi ventrikular), ka/ang-ka/ang terja/i bersama /engan luapan emosional.
4 Juga berhubungan /engan trauma emosional a/alah takikar/i sinus, perubahan
gelombang S% /an gelombang %, peningkatan katekolamin plasma, /an konsentrasi
asam lemak bebas.
4 Stres emosional ti/ak spesiIik, /an penjelasan kepriba/ian yang berhubungan /engan
gangguan.
4 %erapi: !sikoterapi /an obat penghambat beta (propanolol, /ll)
I. enomena Raynaud
4 Sianosis bilateral paroksismal i/iopatik pa/a jail karena kontraksi arteniolan.
4 ontraksi arteniolar seringkali /isebabkan oleh stres ekstemal.
4 %erapi: /apat /iobati /engan psikoterapi suportiI, relaksasi progresiI, atau
bioIee/back /engan melin/ungi tubuh /ari /ingin /an menggunakan se/atiI ringan.
4 erokok harus /ihentikan.
g. 1antung Psikogenik Bukan Penyakit
4 !asien menunjukkan keprihatinan morbi/ tentang jantungnya /an rasa takut akan
penyakit jantung yang meningkat.
4 Rasa takut /apat timbul /an masalah kecemasan, yang /imaniIestasikan oleh Iobia
atau hipokon/riasis parah, sampai keyakinan vaham bahwa mereka men/erita
penyakit jantung.
4 Banyak pasien men/erita akibat sin/roma yang kurang jelas ini seringkali /inamakan
astenia neurosirkulatorik.
4 Astenia neurosirkulatonik pertama kali /igambarkan tahun 1871 oleh Jacob .
DaCosta, yang menamakannya jantung iritabel (irritable hearth).
4 Dokter psikiatrik cen/erung meman/ang sebagai varian klinik /ari gangguan
kecemasan, walaupun ti/ak /itemukan /alam DS-IV.
4 riteria /iagnostik astenia neurosirkulatorik:
4 eluhan pemapasan seperti pemapasan yang resah, ti/ak /apat menarik napas /alam,
tercekik /an terse/ak, /an sesak napas.
4 !alpitasi, nyeri /a/a, atau rasa ti/ak enak.
4 egugupan, pening, pingsan, atau rasa ti/ak enak /i puncak kepala.
4 elelahan yang ti/ak hilang-hilang atau pembatasan aktivitas.
4 eringat berlebihan, insomnia, /an iritabilitas.
4 ejala biasanya mulai pa/a mulai masa remaja atau pa/a awal usia 20-an.
4 ejala tertentu a/alah /ua kali lebih sering pa/a wanita /an cen/erung kronis,
/engan eksaserbasi akut rekuren.
4 %erapi:
4 !enatalaksanaan astenia neurosirkulatorik mungkin sulit. Elemen Iobik a/alah
menonjol.
4 !sikoterapi /itujukan untuk mengungkapkan Iaktor psiko/inamik-seringkali
menghubungkan /engan permusuhan, impuls seksual yang ti/ak /apat /iterima,
ketergantungan, rasa bersalah, /an kecemasan akan mati. %etapi mungkin eIektiI
pa/a beberapa kasus, karena beberapa pasien mungkin menghin/ari bantuan
psikiatrik.
4 %eknik perilaku lain mungkin berguna. !rogram latihan Iisik /itujukan untuk
mengkoreksi kebiasaan pemapasan yang buruk /an secara bertahap meningkatkan
toleransi kerja pasien. !rogram ini /apat /ikombinasikan /engan psikoterapi
kelompok.
III. Gangguan Pemapasan
a. Asma Bronkialis
4 Penyakit obstruktif rekuren pada jalan napas bronkial, cenderung berespon
terhadap berbagai stimuli dengan konstriksi bronkial, edema, dan sekresi yang
berlebihan.
4 Faktor genetika, alergik, infeksi, dan stres akut dan kronis berkombinasi untuk
menimbulkan penyakit.
4 Faktor psikologis: tidak ada tipe kepribadian spesifik yang telah diidentifikasi.
Alexander mengajukan faktor konfliktual psikodinamika, karena ia menemukan
pada banyak pasien asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan
dan untuk diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung bersikap
melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis, berkuaasa, dan
menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapatkan, serangan asthma terjadi,
karena ia menemukan pada banyak pasien asma adanya harapan yang tidak
disadari akan perlindungan dan untuk diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu.
Tokoh ibu cenderung bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan,
perfeksionis, berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didaptkan,
serangan asma terjadi.
4 Terapi: beberapa pasien asma membaik dengan dipisahkan dan ibu (disebut
parentektomi). Semua psikoterapi standar digunakan: individual, kelompok,
perilaku(desensitisasi sistematik), dan hipnotik.6,8,9
b. Hay Fever
4 Faktor psikologis yang kuatberkombinasi dengan elemen alengi.
4 Terapi: faktor psikiatrik, medis, dan alergik harus dipertimbangkan.
c. Sindroma Hiperventilasi
4 Pasien hiperventilasi bennapas cepat dan dalam selama beberapa menit, merasa
ningan, dan selanjutnya pingsan karena vasokonstriksi serebral dan alkalosis
respiratonik.
4 Differential diagnosis pada psikiatrik adalah serangan kecemasan, panik,
skizofnenia, gangguan kepribadian histnionik, dan keluhan fobik atau obsesif
4 Terapi: harus diberikan instruksi atau latihan ulang benhubungan dengan gejala
tertentu dan bagaimana gejala tersebut ditimbulkan oleh hiperventilasi, sehingga
pasien secana sadar menghindani pencetus gejala. Bemafas ke dalam sebuah
kantong dapat menghentikan serangan. Psikoterapi suportif juga diindikasikan.
/. Tuberkulosis
4 Onset dan perburukan tubenkulosis seringkali berhubungan dengan stres
akutdan kronis.
4 Faktor psikologis mempenganuhi sistem kekebalan dan mungkin mempengaruhi
dayatahan pasien terhadap penyakit.
4 Penanan stres pada insidensi tuberkulosis belum dipelajari secara menyeluruh,
tetapi sebagian besan pasien AIDS memiliki komplikasi psikiatrik dan neunologis
dan besar kemungkinannya mengalami stres.
4 Psikoterapi suportif berguna karena adanya peranan stres dan situasi psikososial
yang rumit.
IV. Gangguan Endokrin
a. Hipertiroidisme
4 Suatu sindroma yang ditandai oieh perubahan biokimiawi danpalkologis yang
terjadi sebagai akibat dan kelebihan hormon_tiroid~edogen atau eksogen yang
kronis.
4 Pertimbangan psikosomatik
4 Pada orang yang terpredisposisi secara genetik, stres seringkali disentai dengan
onset hipertiroidisme.
4 Menurut teori psikoanalitik, selama masa anak-anak, pasien hipertiroid memiliki
penlekatan yang tidak lazim dan ketergantungan pada onangtua, biasanya
kepada ibu. Mereka menjadi tidak tahan terhadap ancaman penolakan dani ibu.
Sebagai anak-anak, pasien tersebut seringkali memiliki dukungan yang tidak
adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak saudara
kandung. Keadaan ml menyebabkan stres awal dan pemakaian benlebihan
sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
Dukungan yang tidak adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau
banyak saudara kandung. Keadaan ml menyebabkan stnes awal dan pemakaian
benlebihan sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
4 Terapi: medikasi antitiroid, tranquilizer, dan psikotenapi suportif.
b. Diabetes Melitus
4 Gangguan metabolisme dan sistem vaskular dimanifestasikan gangguan
pengaturan giukosa, lemak, dan protein tubuh
4 Onset yang mendadak seringkali berhubungan dengan stres emosional, yang
mengganggu keseimbangan homeostatik pada pasien yang terpredisposisi.
4 Faktor psikologis yang tampaknya penting adalah faktor yang mencetuskan
perasaan fnustnasi, kesepian, dan kesedihan.
4 Pasien diabetik biasanya mempertahankan kontnol diabetiknya. Jika mengalami
depresi atau merasa sedih, mereka seringkaii makan atau ininum benlebihan
yang merusak diri sendini, sehingga diabetes menjadi tidak terkendali.
4 Terapi: psikotenapi suportif dipenlukan untuk mencapai kerjasama dalam
penatalaksanaan medis dani penyakit kompleks. Terapi harus mendorong pasien
diabetik untuk menjalani kehidupan senonmal mungkin, dengan menyadari
bahwa mereka memiliki penyakit kronis yang dapat ditangani.
c. Gangguan Endokrin Wanita
i. Sindroma pramenstruasi (Premenstrual Syndrome! PMS)
Merupakan gangguan disforik pramenstruasi, ditandai oleh perubahan
subjektmfsikiis dalam mood dan rasa kesehatan fisik dan psikologis
umum yang berhubungan dengan siklus menstruasi.
Gejala biasanya dimulai segera setelah ovulasi, meningkat secana
bertahap, dan mencapai intensitas maksimum kira-kira lima han sebelum
menstruasi dimulai.
Faktor psikologis, sosial, dan biologis telah terlibat di dalam patogenesis
gangguan.
Perubahan kadar estrogen, progesteron, androgen, dan proiaktin telah
dihipotesiskan berperan penting dalam penyebab.
Peningkatan prostaglandin tenlibat dalam rasa nyerii yang benhubungan
dengan gangguan.
Gangguan disfonik paramenstruasi juga terjadi pada wanita setelah
menopause dan setelah histerektomi.
ii. Penderltaan Menopause (Menopause Distress)
Peristiwa fisiologis alami, terjadi setelah tidak ada peniode menstnuasi
selama satu tahun. Juga teijadi segera setelah pengangkatan ovarium.
Gejala psikologis tenmasuk kelelahan, kecemasan, ketegangan, labilitas
emosional, initabilitas (mudah marah), depresi, dan insomnia.
Tanda dan gejala fisik adalah keringat malam, muka merah, rasa
panas (hot flushes)
Faktor psikologis dan psikososial
Wanita yang sebelumnya mengalami kesulitan psikologis, seperti harga
diri yang rendah dan kepuasan hidup rendah, kemungkinan rentan
terhadap kesulitan selama menopause.
Respon seorang wanita terhadap menopause telah ditemukan sejalan
dengan responnya dengan peristiwa kehidupan panting di dalam
hidupnya, seperti pubertas dan kehamilan.
Wanita yang tenikat pada banyak melahirkan anak dan aktivitas
mengasuh anak paling rentan untuk mendenita selama tahun-tahun
menopause.
Permasalahan tentang ketuaan, kehilangan kemampuan metahinkan
anak, dan perubahan penampilan dipusatkan pada kepentingan sosial dan
simbolik yang melekat pada perubahan fisik menopause.
Penelitian epidemiologis tidak menunjukkan peningkatan gejala gangguan
mental atau depresi selama tahun-tahun menopause, dan penelitian
tentang keluhan psikologis tidak menemukan adanya frekuensi yang lebih
besar pada wanita menopause.
Terapi: gangguan psikologis harus dipeniksa dan diobati tenutama oleh
tindakan psikotenapetik dan sosioterapettik yang sesuai. Psikoterapi
harus tenmasuk penggalian stadium kehidupan dan anti ketuaan dan
reproduksi bagi pasien. Pasien harus didorong untuk menenima
menopause sebagai penistiwa kehidupan alami dan untuk
mengembangkan aktivitas, ininat, dan kepuasaan baru. Psikoterapi juga
harus memperhatikan dinamika keluarga. Sistem pendukung keluarga
dan sosial Iainnya jika diperlukan.
iii. Amenore Idiopatik
Hilangnya siklus menstruasi normal pada wanita yang tidak hamil dan
pramenopause tanpa adanya kelainan stuktural otak, hipofisis, atau
ovarium.
Amenore dapat teijadi sebagai salah satu cmi sindroma psikiatrik klinis
yang kompleks, seperti anoneksia nervosa dan pseudokiesis.
Fungsi menstruasi yang terganggu (menstruasi yang lebih cepat atau
lambat) adalah respons seorang wanita sehat terhadap stres. Stres ringan
seperti meninggalkan numah untuk masuk ke perguruan tinggi atau stres
berat dapat berpenganuh.
Sebagian besar wanita, siklus menstruasi kembali normal tanpa adanya
intervensi medis, walaupun kondisi stres terus berjalan.
Psikoterapi dilakukan untuk alasan psikologis, bukan hanya sebagai
nespon terhadap gejala amenone. Jika amenore sukar diobati, psikoterapi
dapat membantu memulihkan menstruasi yang teratur.
V. GANGGUAN KULIT
a. Pruritus menyeluruh
4 lstilah "pruritus psikogenik menyeluruh (generalized psychogenic pruritis)
menyatakan bahwa tidak ada penyebab organik.
4 Konflikemosional tampaknya menyebabkan terjadinya gangguan.
4 Emosi yang paling sering menyebabkan pruritus psikogenik menyeluruh adalah
kemarahan dan kecemasan yang terepresi. Kebutuhan akan perhatian
merupakan karakteristik umum pada pasien.
4 Menggaruk kulit memberikan kepuasaan pengganti utnuk kebutuhan yang
mengalami frustrasi, dan menggaruk mencerminkan agresi yang dibalikkan
kepada diri sendiri
b. Pruritus setempat
4 Pruritus ani. Penelitian menunjukkan riwayat iritasi lokal atau faktor sisemik
umum. Keadaan ini merupakan keluhan yang mengganggu pekerjaan dan
aktivitas sosial. Penelitian terhadap sejumlah besar pasien mengungkapkan
bahwa penyimpangan kepribadian seringkali mendahului kondisi dan gangguan
emosional seringkali mencetuskan gejala ini.
4 Pruritus vulva. Pada beberap pasien, kesenangan yang didapat dani menggosok
dan menggaruk adalah disadani. Mereka menyadari bahwa ml adalah simbolik
dan masturbasi. Tetapi elemen kesenangan dinepresi. Sebagian besar pasien
yang diteliti memberikan riwayat panjang frustrasi seksual, seringkali diperkuat
pada saat onset pruritus.
c. Hiperhidrosis
4 Keadaan takut, marah, dan tegang dapat menyebabkan meningkatnya sekresi
keringat.
4 Benkeringat pada manusia memiliki dua bentuk berbeda: termal dan emosional.
4 Berkeringat emosional terutama pada telapak tangan, telapak kaki, dan
aksiia.Berkeringat termal paling jelas pada dahi, leher, batang tubuh, punggung
tangan, dan lengan bawah.
4 Kepekaan nespon berkeringat emosional merupakan dasan untuk pengukunan
keringat melalui respon kulit galvanik (alat penting dalam penelitian
psikosomatik), biofeedback, dan poligrafi (tes detektor kebohongan.
4 Di bawah keadaan stres emosional, hipenhidnosis menyebabkan perubahan
kulitsekunder, warn kulit, lepuh, dan infeksi.
4 Hiperhidrosis dapat dipandang sebagal fenomena kecemasan yang diperantarai
oleh sistern sanafotonom.
VI. GANGGUAN MUSKULOSKELETAL
a. Artrltls Rematold
4 Ditandai oleh nyeri muskuloskeletal kronis yang disebabkan oleh penyakit
peradangan pada sendi.
4 Memiliki faktor penyebab herediter, alergik, mmunologi, dan psikologi yang
penting.
4 Stres psikologis mempredisposisikan pasien pada artritis rematoid dan
penyakitautoimun lain melalui supresi kekebalan.
4 Pasien merasa tenkekang, terikat, dan terbatas. Mereka seringkali memiliki rasa
marah yang terepresi karena terbatasnya fungsi otot-otot mereka, sehingga
memperberatkekakuan dan imobilitas mereka.
4 Terapi: psikoterapi suportif selama serangan kronis. Istirahat dan latihan harus
terstnuktur, dan pasien harus didorong untuk tidak menjadi tenikat pada tempat
tidur dan kembali ke aktivitas mereka sebelumnya.
b. LowBackPain
4 Nyeri punggung bawah seringkali dilaponkan pasien bahwa nyerinya dimulai
pada saat trauma psikologis atau stres.
4 Reaksi pasien terhadap nyeri tidak sebandmng secara emosional, dengan
kecemasan dan depresi yang berlebihan.
4 Terapi berupa psikotenapi suportif tentang trauma emosional pencetus, terapi
relaksasi, dan biofeedback. Pasien harus didorong kembali ke aktivitas mereka
segera mungkin.
VII .PSIKO-ONKOLOGI
Karena kemajuan pengobatan telah mengubah bahwa kanker dari tidak dapat disembuhkan
menjadi penyakit yang seringkali kronis dan sering dapat diobati, aspek psikiatrik dan kanker
(reaksi terhadap diagnosis dan terapi) semakin penting.

Masalah Paslen
Jika pasien mengetahui bahwa mereka menderita kanken, reaksi psikologis mereka adalah rasa
takut akan kematian, cacat, ketidakmampuan, rasa takut ditelantarkan dan kehilangan
kemandirian, rasa takut diputuskan dan hubungan, fungsi peran, dan finansial; dan
penyangkalan, kecemasan, kemarahan, dan rasa bersalah. Kira-kira separuh pasien kanken
menderita gangguan mental. Di antaranya gangguan penyesuaian (68%). Dengan gangguan
depresif berat (13%) dan delirium (8%) merupakan diagnosis selanjutnya yang tersering.
Walaupun pikiran dan keinginan bunuh diri sering ditemukan pada pasien kanker, insidensi
bunuh din sebenarnya hanya 1.4 sampai 1.9 kali dari yang ditemukan pada populasi umum

Faktor Kerentanan Bunuh Diri pada Paslen Kanker
O Depresi dan putus asa
O Nyeri yang tidakterkendali baik
O Delirium ringan (disinhibisi)
O Perasaan hilang kendali
O Kelelahan
O Kecemasan
O Psikopatologi yang telah ada sebelumnya (penyalahgunaan zat, patologi karakter,
gangguan psikiatrik utama)
O Masalah keluarga
O Ancaman dan riwayat usaha bunuh din sebelumnya
O Riwayat positif bunuh diri pada keluarga
O Faktor risiko lain yang biasanya digambarkan pada pasien psikiatrik
CONSULTATION - LIAISON PSYCHIATRY (PSIKIATRI KONSULTASI PENGHUBUNG)
Dalam psikiatri konsultasi-penghubung (consultation-liaison I C-L psychiatiy), yaitu suatu
bidang keahlian yang berkembang dengan cepat dan semakin diperhatikan. Dokter psikiatrik
berperan sebagai konsultan bagi sejawat kedokteran atau profesional kesehatan mental
lainnya. Pada umumnya, psikiatnl C-L adalah berhubungan dengan semua diagnosis, terapetik,
riset, dan pelayanan pendidikan yang dilakukan dokter psikiatrik di rumah sakit umum dan
berperan sebagaijembatan antara psikiatrik dan spesialisasi lainnnya.
Dokter psikiatrik C-L harus mengerti banyak penyakit medis yang dapattampak dengan gejala
psikiatrik. Alat yang dimiliki oleh dokter psikiatrik C-L adalah wawancara dan observasi klinis
serial. Tujuan diagnosis adalah untuk mengidentifikasi gangguan mental dan respon psikologis
tenhadap penyakit fisik, mengidentifikasi diri kepribadian pasien, dan mengidentifikasi teknik
mengatasi masalah yang karakteristik dari pasien..
Rentang masalah yang dihadapi dokter psikiatrik C-L adaiah luas. Penelitian menunjukkan
bahwa sampal 65 % pasien nawat map medis memiliki gangguan psikiatrik. Gejala paling
sering adalah kecemasan, depresi, dan diorientasi.

Masalah konsultasl-penghubug yang serlng:
O Usaha atau ancaman bunuh din
O Depresi
O Agitasi
O Halusinasi
O Gangguantidur
O Gejala tanpa dasar onganmk
O Disonientasi
O Ketidakpatuhan atau menolak menyetujui suatu prosedur
TERAPI GANGGUAN PSIKOSOMATIS
Konsep penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan yang
menekankan hubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala dan gangguan,
memerlukan tanggung jawab bersama di antara berbagai profesi. Permusuhan, depresi, dan
kecemasan dalam berbagai proporsi adalah akar dan sebagian besar gangguan psikomatik.
Kedokteran psikosomatik terutama mempermasalahkan penyakit-penyakit tersebut yang
menampakkan manifestasi somatik.
Terapi kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani aspek psikiatrik,
sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter spesialis lain menangani aspek somatik.
Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan
dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya adalah
kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi kepribadian.
Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu
perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari
hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik. keluarga dan anak,
mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan
psikosomatik.

KESIMPULAN
O Gangguan psikosomatis merupakan gangguan yang melibatkan antara pikiran dan
tubuh. Hal ini berarti bahwa adanya faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi
medis.
O Komponen emosional memainkan penanan penting pada gangguan psikosomatis.
O Manifestasi penyakit fisik juga sering diturunkan dan kepnibadian seseorang.
O Gangguan psikosomatis dapat rnelibatkan berbagai sistem organ di dalam tubuh
sehingga
memerlukan penanganan secara terintegrasi dari ahli medis dan ahli psikiatri.
O Pengobatan gangguan psikosomatik dani sudut pandang psikiatrik adalah tugas yang
sulit.
O Tujuan terapi haruslah mengerti motivasi dan mekanisme gangguan fungsi dan untuk
membantu pasien mengerti sifat penyakitnya.
O Tilikan tersebut harus menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih sehat.
O Terapi kombinasi sangat bermanfaat untuk mencapai resolusi gangguan struktural dan
reorganisasi gangguan kepribadian.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan, H.l dan Saddock B.J. 1993. Comprehensive Textbook of Psychiatry vol.2 6th
edition. USA: Williams and Wilikins Baltimore.
2. Wiguna, Imade (editor). 1997. Sinopsis Psikiatri jilid 2. Jakrta: BinanupaAksara.
3. "Psychosomatic Medicine: The Puzzling Leap. Diakses dan:
http://www.nlm.nih.gov/hmd/emotions/images/2b25b.jpg pada tanggal 20 Agustus
2007 pukul 17.00 WIB.
4. "Physiology of Stress I Psychosomatic Medicine. Diakses dan:
http://home.earthlink.netl-gniesinger/nillness.htm pada tanggal 20 Agustus 2007
pukul 17.10 WIB.
5. KoIb, Lawrence. 1968. Noyes Modern Clinical Psychiatry 7th edition Asman edition.
Philadelpia : W.B Saunders Company.
6. "Psychosomatic Disorders. Diakses dan:
http://www.surgerydoor.co.uk/medical_conditions/lndiceslP/psychosomatic_disor
dens.htm pada tanggal 21 Agustus 2007 pukul 20.05 WIB.
7. "Psychosomatic Disoders. Diakses dan:
http:llwww.patient.co.uk/showdoc/27000225/ pada tanggal 21 Agustus 2007 pukul
19.50 WIB
8. "Psychosomatic Disorders. Diakses dani:
http://en.wikipedia.org/wiki/Medically_unexplained_physical_symptoms pada tanggal
2oAgustus 2007 pukul I 8.45 WIB.
9. Indonesia, Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. 1993.
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia Ill cetakan pertama.
Jakarta: Departemen Kesehatan.
10. Wittkower, Enic.D dan Hector Wannes (editor). 1977. Psychosomatic Medicine Its
Clinical Applications. USA: Hanperand Row Publishers, Inc.

$42,941472
somuLoIorm merupukun gungguun psIkoIogIs yung menyebubkun Lergunggunyu IungsI IIsIk
LerLenLu pudu seseorung. gungguun InI muncuI duIum empuL benLuk gungguun yung kesemuunyu
memIIIkI Iubungun dengun Lergunggunyu IungsI IIsIk LerLenLu. udupun benLuk gungguun LersebuL
uduIuI sebuguI berIkuL:
1. Gungguun konversI
merupukun benLuk perubuIun yung mengukIbuLkun udunyu perubuIun IungsI IIsIk yung LIduk
dupuL dIIucuk securu medIs. gungguun InI muncuI duIum konIIIk uLuu penguIumun LruumuLIk yung
memberIkun keyukInun ukun udunyu penyebub psIkoIogIs.
z. HIpokondrIusIs
Lerpuku pudu keyukInun buIwu dIrInyu menderILu penyukIL yung serIus. KeLukuLun ukun udunyu
penyukIL Lerus udu meskIpun securu medIs LeIuI dIyukInkun. SensusI uLuu nyerI IIsIk bIusu serIng
dIusosIusIkun dengun gejuIu penyukIL kronIs LerLenLu.
. Gungguun SomuLIsusI
KeIuIun IIsIk yung muncuI beruIung mengenuI sImLom IIsIk yung LIduk udu dusur orgunIs yung
jeIus. Gungguun InI menyebubkun seseorung unLuk meIukukun kunjungun medIs berkuII-kuII uLuu
menyebubkun Ienduyu yung sIgnIIIkun duIum IungsI.
q. Gungguun DIsmorIIk TubuI
Terpuku pudu kerusukun IIsk yung dIbuyungkun uLuu berIebII-IebIIun. Mengunggup orung LIduk
memperIuLIkunnyu kurenu kerusukun LubuI yung dImIIIkInyu (dIpersepsIkunnyu). Gungguun InI
ukun membuwu seseorung pudu perIIuku kompuIsII . seperLI beruIung-uIung berdundun. dII.

ANCCUAN SDhATDFDPh
By sukaesih
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
(sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan
medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk
menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada
kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu
diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis
adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan
somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan
buatan.
Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
O Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem
organ.
O Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
O Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan
pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
O Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang
berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
O Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan
faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
O Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan
salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
sumber : http://www.idijakbar.com/prosiding/gangguan_somatoform.htm

& SOM%OFORM D DSOS%F


( courtesy of Ocha Elmut, KLD XII)
Gungguun somuLoIorm dun dIsosIuLII, berkuILun dengun gungguun kecemusun. Pudu
gungguun somuLoIorm, IndIvIdu mengeIuIkun gejuIu-gejuIu gungguun IIsIk, yung
Lerkudung berIebIIun, LeLupI pudu dusurnyu LIduk LerdupuL gungguun IIsIoIogIs. Pudu
gungguun dIsosIuLII, IndIvIdu menguIumI gungguun kesudurun, InguLun, dun IdenLILus.
MuncuInyu keduu gungguun InI bIusunyu berkuILun dengun beberupu penguIumun yung
LIduk menyenungkun, dun Lerkudung gungguun InI muncuI securu bersumuun.

GANGGUAN SOMATOORM (SOMATOORM DSORDERS)

Somu berurLI LubuI. Pudu gungguun somuLoIorm, musuIuI psIkoIogIs Lumpuk duIum
benLuk IIsIk. GejuIu IIsIk durI gungguun somuLoIorm, dImunu LIduk udu penjeIusun securu
IIsIoIogIs dun LIduk dupuL dIkonLroI securu sudur, berkuILun dengun IukLor psIkoIogIs,
bIusunyu kecemusun, dun unLuk ILu dIusumsIkun buIwu gungguun InI dIsebubkun oIeI
IukLor psIkoIogIs. Pudu bugIun InI ukun IebII dIbuIus mengenuI duu gungguun
somuLoIorm yuknI gungguun conversIon dun gungguun somuLIzuLIon. Akun LeLupI
sebeIumnyu jugu perIu dIkeLuIuI buIwu duIum kuLegorI DSM-V-TR LerdupuL LIgu benLuk
IuIn durI gungguun somuLoIorm, yuknI puIn dIsorder, body dysmorpIIc dIsorder, dun
IypocIondrIusIs.

PENGERTAN DAN GEJAA
A. PuIn DIsorder
Pudu puIn dIsorder, penderILu menguIumI rusu sukIL yung mengukIbuLkun
keLIdukmumpuun securu sIgnIIIkun;IukLor psIkoIogIs dIdugu memuInkun perunun
penLIng pudu kemuncuIun, berLuIunnyu dun LIngkuL sukIL yung dIrusukun. PusIen
kemungkInun LIduk mumpu unLuk bekerju dun menjudI LergunLung dengun obuL peredu
rusu sukIL. Rusu nyerI yung LImbuI dupuL berIubungun dengun konIIIk uLuu sLress uLuu
dupuL puIu LerjudI ugur IndIvIdu dupuL LerIIndur durI kegIuLun yung LIduk menyenungkun
dun unLuk mendupuLkun perIuLIun dun sImpuLI yung sebeIumnyu LIduk dIdupuL.
DIugnosIs ukuruL mengenuI puIn dIsorder LerbIIung suIIL kurenu penguIumun subjekLII
durI rusu nyerI seIuIu merupukun Ienomenu yung dIpenguruII securu psIkoIogIs, dImunu
rusu nyerI ILu sendIrI bukunIuI penguIumun sensorIs yung sederIunu, seperLI pengIIIuLun
dun pendengurun. UnLuk ILu, memuLuskun upukuI rusu nyerI yung dIrusukun merupukun
gungguun nyerI yung LergoIong gungguun somuLoIorm, umuLIuI suIIL. Akun LeLupI duIum
beberupu kusus dupuL dIbedukun dengun jeIus buguImunu rusu nyerI yung dIuIumI oIeI
IndIvIdu dengun gungguun somuLoIorm dengun rusu nyerI durI IndIvIdu yung menguIumI
nyerI ukIbuL musuIuI IIsIk. ndIvIdu yung merusukun nyerI ukIbuL gungguun IIsIk,
menunjukkun IokusI rusu nyerI yung dIuIumInyu dengun IebII spesIIIk, IebII deLuII duIum
memberIkun gumburun sensorIs durI rusu nyerI yung dIuIumInyu, dun menjeIuskun
sILuusI dImunu rusu nyerI yung dIrusukun menjudI IebII sukIL uLuu IebII berkurung (AdIer
eL uI., duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq).

B. Body DysmorpIIc DIsorder
Pudu body dysmorpIIc dIsorder, IndIvIdu dIIIpuLI dengun buyungun mengenuI
kekurungun duIum penumpIIun IIsIk mereku, bIusunyu dI bugIun wujuI, mIsuInyu keruLun
dI wujuI, rumbuL pudu wujuI yung berIebIIun, uLuu benLuk dun ukurun IIdung. WunILu
cenderung puIu Iokus pudu bugIun kuIIL, pInggung, dudu, dun kukI, sedungkun prIu IebII
cenderung memIIIkI kepercuyuun buIwu mereku berLubuI pendek, ukurun penIsnyu
LerIuIu kecII uLuu mereku memIIIkI LerIuIu bunyuk rumbuL dI LubuInyu (PerugI duIum
DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). Beberupu IndIvIdu yung menguIumI gungguun InI securu
kompuIsII ukun mengIubIskun berjum-jum seLIup IurInyu unLuk memperIuLIkun
kekurungunnyu dengun berkucu dI cermIn. Adu puIu yung mengIIndurI cermIn ugur LIduk
dIInguLkun mengenuI kekurungun mereku, uLuu mengkumuIIusekun kekurungun mereku
dengun, mIsuInyu, mengenukun buju yung sunguL Ionggur (AIberLInI & PIIIIps duum
DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). Beberupu buIkun mengurung dIrI dI rumuI unLuk
mengIIndurI orung IuIn meIIIuL kekurungun yung dIbuyungkunnyu. HuI InI sunguL
menggunggu dun Lerkudung dupuL mengeruI pudu bunuI dIrI; serIngnyu konsuILusI pudu
dokLer beduI pIusLIk dun beberupu IndIvIdu yung menguIumI IuI InI buIkun meIukukun
operusI sendIrI pudu LubuInyu. Suyungnyu, operusI pIusLIk berperun kecII duIum
mengIIIungkun kekIuwuLIrun mereku (VeuIe duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). Body
dysmorpIIc dIsorder muncuI kebunyukun pudu wunILu, bIusunyu dImuIuI pudu ukIIr
musu remuju, dun bIusunyu berkuILun dengun depresI, IobIu socIuI, gungguun keprIbudIun
(PIIIIIps&McEIroy, zooo; VeuIe eL uI.,1qq6 duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). ukLor
socIuI dun buduyu memuInkun perunun penLIng pudu buguImunu seseorung merusu
upukuI Iu menurIk uLuu LIduk, seperLI pudu gungguun poIu mukun.

C. HypocIondrIusIs
HypocIondrIusIs uduIuI gungguun somuLoIorm dImunu IndIvIdu dIIIpuLI dengun
keLukuLun memIIIkI penyukIL yung serIus dImunu IuI InI berIungsung beruIung-uIung
meskIpun durI kepusLIun medIs menyuLukun sebuIIknyu, buIwu Iu buIk-buIk suju.
Gungguun InI bIusunyu dImuIuI pudu uwuI musu remuju dun cenderung Lerus berIunjuL.
ndIvIdu yung menguIumI IuI InI bIusunyu merupukun konsumen yung serIngkuII
menggunukun peIuyunun keseIuLun; buIkun Lerkudung mereku mungunggup dokLer
mereku LIduk kompeLen dun LIduk perIuLIun (PersIIng eL uI., duIum DuvIdson, NeuIe,
KrIng, zooq). DuIum LeorI dIsebuLkun buIwu mereku bersIkup berIebIIun pudu sensusI
IIsIk yung umum dun gungguun kecII, seperLI deLuk junLung yung LIduk LeruLur,
berkerInguL, buLuk yung kudung LerjudI, rusu sukIL, sukIL peruL, sebuguI bukLI durI
kepercuyun mereku. HypocIondrIusIs serIngkuII muncuI bersumuun dengun gungguun
kecemusun dun mood.

D. ConversIon dIsorder
Pudu conversIon dIsorder, gejuIu sensorIk dun moLorIk, seperLI IIIungnyu pengIIIuLun
uLuu keIumpuIun securu LIbu-LIbu, menImbuIkun penyukIL yung berkuILun dengun
rusuknyu sIsLem suruI, puduIuI orgun LubuI dun sIsLem suruI IndIvIdu LersebuL buIk-buIk
suju. Aspek psIkoIogIs durI gejuIu conversIon InI dILunjukkun dengun IukLu buIwu
bIusunyu gungguun InI muncuI securu LIbu-LIbu duIum sILuusI yung LIduk menyenungkun.
BIusunyu IuI InI memungkInkun IndIvIdu unLuk mengIIndurI beberupu ukLIvILus uLuu
Lunggung juwub uLuu IndIvIdu sunguL IngIn mendupuLkun perIuLIun. sLIIuI conversIon,
pudu dusurnyu berusuI durI reud, dImunu dIsebuLkun buIwu energI durI InsLInk yung dI
repress dIuIIIkun pudu uspek sensorI-moLor dun menggunggu IungsI normuI. UnLuk ILu,
kecemusun dun konIIIk psIkoIogIs dIyukInI dIuIIIkun pudu gejuIu IIsIk.
GejuIu conversIon bIusunyu berkembung pudu musu remuju uLuu uwuI musu dewusu,
dImunu bIusunyu muncuI seLeIuI udunyu kejudIun yung LIduk menyenungkun duIum
IIdup. PrevuIensI durI conversIon dIsorder kurung durI 1 %, dun bIusunyu bunyuk dIuIumI
oIeI wunILu (uruveIII eL uI.,1qq;;SIngI&ee, 1qq; duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq).
ConversIon dIsorder bIusunyu berkuILun dengun dIugnosIs AxIs IuInnyu seperLI depresI
dun penyuIuIgunuun zuL-zuL LerIurung, dun dengun gungguun keprIbudIun, yuILu
borderIIne dun IIsLrIonIc personuIILy dIsorder (BInzer, Anderson&KuIIgren,
1qq6;RecIIIn, oew&JorusIky, 1qq; duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq).

E. SomuLIzuLIon DIsorder
MenuruL DSM-V-TR krILerIu durI somuLIzuLIon dIsorder uduIuI memIIIkI sejuruI durI
bunyuk keIuIun IIsIk seIumu berLuIun-LuIun; memIIIkI q gejuIu nyerI, z gejuIu
gusLroInLesLInuI, 1 gejuIu sexuuI, dun 1 gejuIu pseudoneuroIogIcuI; gejuIu-gejuIu yung
LImbuI LIduk dIsebubkun oIeI kondIsI medIs uLuu berIebIIun duIum memberIkun kondIsI
medIs yung dIuIumI.
PrevuIensI durI somuLIuLIon dIsorder dIperkIrukun kurung durI o.% durI popuIusI
AmerIku, bIusunyu IebII serIng muncuI pudu wunILu, kIususnyu wunILu AIrIcun
AmerIcun dun HIspunIc (Escobur eL uI., duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq) dun pudu
pusIen yung sedung menjuIunI pengIbuLun medIs. PrevuIensI InI IebII LInggI pudu
beberupu neguru dI AmerIku SeIuLun dun dI PuerLo RIco (Tomussson, KenL&CoryeII
duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). SomuLIzuLon dIsorder bIusunyu dImuIuI pudu uwuI
musu dewusu (CIonInger eL uI., duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq).


ITIOLOGI
ELIoIogI durI SomuLIzuLIon DIsorder
DIkeLuIuI buIwu IndIvIdu yung menguIumI somuLIzuLIon dIsorder bIusunyu IebII
sensILIve pudu sensusI IIsIk, IebII serIng menguIumI sensusI IIsIk, uLuu
mengInLerpreLusIkunnyu securu berIebIIun (KIrmuyer eL uI.,1qqq;RIeI eL uI., 1qq8 duIum
DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). KemungkInun IuInnyu uduIuI buIwu mereku memIIIkI
sensusI IIsIk yung IebII kuuL durI pudu orung IuIn (RIeI&Auer duIum DuvIdson, NeuIe,
KrIng, zooq). Pundungun beIuvIoruI durI somuLIzuLIon dIsorder menyuLukun buIwu
berbuguI rusu sukIL dun nyerI, keLIduknyumunun, dun dIsIungsI yung LerjudI uduIuI
munIIesLusI durI kecemusun yung LIduk reuIIsLIs LerIudup sIsLem LubuI. BerkuILun
dengun IuI InI, keLIku LIngkuL kecemusun LInggI, IndIvIdu dengun somuLIzuLIon dIsorder
memIIIkI kudur corLIsoI yung LInggI, yung merupukun IndIkusI buIwu mereku sedung
sLress (RIeI eL uI., duum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). BurungkuII rusu Legung yung
eksLrIm pudu oLoL peruL mengukIbuLkun rusu pusIng uLuu IngIn munLuI. KeLIku IungsI
normuI sekuII Lergunggu, poIu muIudupLII ukun dIperkuuL dIkurenukun oIeI perIuLIun
yung dILerImu.

TeorI PsIkounuIIsIs durI ConversIon DIsorder
Pudu SLudIes In HysLerIu (18qJ1q8z), Breuer dun Ireud menyebuLkun buIwu conversIon
dIsorder dIsebubkun keLIku seseorung menguIumI perIsLIwu yung menImbuIkun
penIngkuLun emosI yung besur, numun uIeknyu LIduk dupuL dIekspresIkun dun InguLun
LenLung perIsLIwu LersebuL dIIIIungkun durI kesudurun. GejuIu kIusus conversIon
dIsebuLkun dupuL berIubungun sebu-ukIbuL dengun perIsLIwu LruumuLIs yung
memuncuIkun gejuIu LersebuL.
reud jugu berIIpoLesIs buIwu conversIon dIsorder pudu wunILu LerjudI pudu uwuI
keIIdupun, dIukIbuLkun oIeI EIecLru compIex yung LIduk LerseIesuIkun. Berdusurkun
pundungun psIkodInumIk durI SuckIeIm dun koIegunyu, verbuI reporLs dun LIngkuI Iuku
dupuL LerpIsuI suLu sumu IuIn securu LIduk sudur.HysLerIcuIIy bIInd person dupuL berkuLu
buIwu Iu LIduk dupuL meIIIuL dun securu bersumuun dupuL dIpenguruII oIeI sLImuIus
vIsuuI. Curu mereku menunjukkun buIwu mereku dupuL meIIIuL LergunLung pudu sejuuI
munu LIngkuL kebuLuunnyu.

TeorI BeIuvIoruI durI ConversIon DIsorder
Pundungun beIuvIoruI yung dIkemukukun UIImun&Krusner (duIum DuvIdson, NeuIe,
KrIng, zooq), menyebuLkun buIwu gungguun konversI mIrIp dengun muIIngerIng,
dImunu IndIvIdu mengudopsI sImLom unLuk mencupuI suuLu Lujuun. MenuruL
pundungun mereku, IndIvIdu dengun conversIon dIsorder berusuIu unLuk berperIIuku
sesuuI dengun pundungun mereku mengenuI buguImunu seseorung dengun penyukIL yung
mempenguruII kemumpuun moLorIk uLuu sensorIk, ukun bereuksI. HuI InI menImbuIkun
duu perLunyuun : (1) ApukuI seseorung mumpu berbuuL demIkIun? (z) DuIum kondIsI
seperLI upu perIIuku LersebuL serIng muncuI ?
Berdusurkun bukLI-bukLI yung udu, muku juwubun unLuk perLunyuun (1) uduIuI yu.
Seseorung dupuL mengudopsI poIu perIIuku yung sesuuI dengun gejuIu kIusIk conversIon.
MIsuInyu keIumpuIun, unuIgesIus, dun kebuLuun, seperLI yung kILu keLuIuI, dupuL puIu
dImuncuIkun pudu orung yung sedung duIum penguruI IIpnoLIs. Sedungkun unLuk
perLunyuun (z) UIImun dun Krusner mengspesIIIkusIkun duu kondIsI yung dupuL
menIngkuLkun kecenderungun keLIdukmumpuun moLorIk dun sensorIk dupuL dILIru.
PerLumu, IndIvIdu Iurus memIIIkI penguIumun dengun perun yung ukun dIudopsI.
ndIvIdu LersebuL dupuL memIIIkI musuIuI IIsIk yung serupu uLuu mengobservusI gejuIu
LersebuL pudu orung IuIn. Keduu, permuInun durI perun LersebuL Iurus dIberIkun rewurd.
ndIvIdu ukun menumpIIkun keLIdukumpuun Iunyu jIku perIIuku ILu dIIurupkun dupuL
mengurungI sLress uLuu unLuk memperoIeI konsekuensI posILII yung IuIn. Numun
pundungun beIuvIoruI InI LIduk sepenuInyu dIdukung oIeI bukLI-bukLI IILeruLur.

ukLor SosIuI dun Buduyu pudu ConversIon DIsorder
SuIuI suLu bukLI buIwu IukLor socIuI dun buduyu berperun duIum conversIon dIsorder
dILunjukkun durI semukIn berkurungnyu gungguun InI duIum beberupu ubud LerukIIr.
Beberupu IIpoLesIs yung menjeIuskun buIwu gungguun InI muIuI berkurung uduIuI
mIsuInyu LerupIs yung uIII duIum bIdung psIkounuIIsIs menyebuLkun buIwu duIum puruI
keduu ubud 1q, keLIku LIngkuL kemuncuIun conversIon dIsorder LInggI dI PeruncIs dun
AusLrIu, perIIuku seksuuI yung dI repress dupuL berkonLrIbusI pudu menIngkLnyu
prevuIensI gungguun InI. Berkurungnyu gungguun InI dupuL dIsebubkun oIeI semukIn
Iuwesnyu normu seksuuI dun semukIn berkembungnyu IImu psIkoIogI dun kedokLerun
pudu ubud ke zo, yung IebII LoIerun LerIudup kecemusun ukIbuL dIsIungsI yung LIduk
berkuILun dengun IuI IIsIoIogIs durIpudu sebeIumnyu.
SeIuIn ILu perun IukLor sosIuI dun buduyu jugu menunjukkun buIwu conversIon dIsorder
IebII serIng dIuIumI oIeI mereku yung berudu dI dueruI pedesuun uLuu berudu pudu
LIngkuL sosIoekonomI yung renduI (BInzer eL uI.,1qq6;oIks, ord&Regun, 1q8q duIum
DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). Mereku menguIumI IuI InI dIkurenukun oIeI kurungnyu
pengeLuIuun mengenuI konsep medIs dun psIkoIogIs. SemenLuru ILu, dIugnosIs mengenuI
IysLerIu berkurung pudu musyurukuL IndusLrIuIIs, seperLI nggrIs, dun IebII umum pudu
neguru yung beIum berkembung, seperLI Ibyu (Pu eL uI., duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng,
zooq ).

ukLor BIoIogIs pudu ConversIon DIsorder
MeskIpun IukLor geneLIc dIperkIrukun menjudI IukLor penLIng duIum perkembungun
conversIon dIsorder, peneIILIun LIduk mendukung IuI InI. SemenLuru ILu, duIum beberupu
peneIILIun, gejuIu conversIon IebII serIng muncuI pudu bugIun kIrI LubuI dIbundIngkun
dengun bugIun kunun (BInzer eL uI.,duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). HuI InI
merupukun penemuun menurIk kurenu IungsI bugIun kIrI LubuI dIkonLroI oIeI IemIsIer
kunun oLuk. HemIsIer kunun oLuk jugu dIperkIrukun IebII berperun dIbundIngkun
IemIsIer kIrI berkuILun dengun emosI neguLII. Akun LeLupI, berdusurkun peneIILIun yung
IebII besur dIkeLuIuI buIwu LIduk udu perbeduun yung dupuL dIobservusI durI IrekuensI
gejuIu pudu bugIun kunun versus bugIun kIrI oLuk (RoeIoIs eL uI., duIum DuvIdson, NeuIe,
KrIng, zooq).

TERAP
Cuse reporL dun spekuIusI kIInIs suuL InI menjudI sumber InIormusI penLIng duIum
membunLu orung-orung yung menguIumI gungguun InI. Pudu unuIIsu kusus, bukunIuI Ide
yung buIk unLuk meyukInkun mereku yung menguIumI gungguun InI buIwu gejuIu
conversIon yung mereku uIumI berIubungun dengun IukLor psIkoIogIs. PengeLuIuun
kIInIs IebII menyujIkun pendekuLun yung IembuL dun suporLII dengun memberIkun
rewurd bugI kemujuun duIum proses pengobuLun meeku (SImon duIum DuvIdson, NeuIe,
KrIng, zooq). Puru LerupIs beIuvIorIsL IebII menyurunkun pudu mereku yung menguIumI
gungguun somuLoIorm, berugum LeknIk yung dImuksudkun ugur mereku mengIIIungkun
gejuIu-gejuIu durI gungguun LersebuL.

TerupI unLuk SomuLIzuLIon DIsorder
Puru uIII kognILII dun beIuvIoruI meyukInI buIwu LInggInyu LIngkuL kecemusun yung
dIusosIusIkun dengun somuLIzuLIon dIsorder dIpIcu oIeI sILuusI kIusus. Akun LeLupI
semukIn bunyuk pengobuLun yung dIbuLuIkun, bugI orung yung sukIL sekIun Iumu muku
ukun LumbuI kebIusuun ukun keLergunLungun unLuk mengIIndurI LunLungun IIdup
seIurI-IurI durIpudu mengIudupI LunLungun LersebuL sebuguI orung dewusu. DuIum
pendekuLun yung IebII umum mengenuI somuLIzuLIon dIsorder, dokLer Ienduknyu LIduk
meremeIkun vuIIdILus durI keIuIun IIsIk, LeLupI perIu dImInImuIIsIr penggunuun Les-Les
dIugnosIs dun obuL-obuLun, memperLuIunkun Iubungun dengun mereku LerIepus durI
upukuI mereku mengeIuI LenLung penyukILnyu uLuu LIduk (Monson&SmILI duIum
DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq).

TerupI unLuk HypocIondrIusIs
Securu umum, pendekuLun cognILIve-beIuvIoruI LerbukLI eIekLII duIum mengurungI
IypocIondrIusIs (e.g. BucI, zooo; erunundez, RodrIguez&ernundez, zoo1, duIum
DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). PeneIILIun menujukkun buIwu penderILu
IypocIondrIusIs memperIIIuLkun bIus kognILII duIum meIIIuL uncumun keLIku berkuILun
dengun Isu keseIuLun (SmeeLs eL uI., duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq). CognILIve-
beIuvIoruI LIerupy dupuL berLujuun unLuk mengubuI pemIkIrun pesImIsLIs. SeIuIn ILu,
pengobuLun jugu Ienduknyu dIkuILkun dengun sLruLegI yung menguIIIkun penderILu
gungguun InI durI gejuIu-gejuIu LubuI dun meyukInkun mereku unLuk mencurI kepusLIun
medIs buIwu mereku LIduk sukIL (e.g. SuIkovskIs&WurwIck, 1q86;VIsser&Boumun,
1qqz;WurwIck&SuIkovskIs, zoo1 duIum DuvIdson, NeuIe, KrIng, zooq).

TerupI unLuk PuIn DIsorder
PengobuLun yung eIekLII cenderung memIIIkI IuI-IuI berIkuL :
memvuIIdusIkun buIwu rusu nyerI ILu uduIuI nyuLu dun bukun Iunyu udu duIum pIkIrun
penderILu
reIuxuLIon LruInIng
memberI rewurd kepudu mereku yung berperIIuku LIduk seperLI orung yung menguIumI
rusu nyerI

Securu umum dIsurunkun unLuk mengubuI Iokus perIuLIun durI upu yung LIduk dupuL
dIIukukun oIeI penderILu ukIbuL rusu nyerI yung dIuIumInyu, LeLupI mengujurI penderILu
buguImunu curunyu mengIudupI sLress, mendorong unLuk mengerjukun ukLIvILus yung
IebII buIk, dun menIngkuLkun konLroI dIrI, LerIepus durI keLerbuLusun IIsIk uLuu
keLIduknyumunun yung penderILu rusukun.

GANGGUAN DSOSAT

DIsosIusI psIkoIogIs uduIuI perubuIun kesudurun menduduk yung mempenguruII
memorI dun IdenLILus. Puru IndIvIdu yung menderILu gungguun dIsosIuLII LIduk mumpu
mengInguL berbuguI perIsLIwu prIbudI penLIng uLuu seIumu beberupu suuL Iupu ukun
IdenLILusnyu uLuu buIkun membenLuk IdenLILus buru.
GejuIu uLumu gungguun InI uduIuI udunyu keIIIungun (sebugIun uLuu seIuruI durI
InLegrusI normuI (dIbuwuI kenduII kesudurun) unLuru IuIn:
InguLun musu IuIu
kesudurun IdenLILus dun pengInderuun (uwureness oI IdenLILy und ImmedIuLe sensuLIons)
konLroI LerIudup gerukun LubuI

PENGERTAN DAN GEJAA
A. AmnesIu DIsosIuLII
AmnesIu dIsosIuLII uduIuI IIIungnyu memorI seLeIuI kejudIun yung penuI sLres.
Seseorung yung menderILu gungguun InI LIduk mumpu mengInguL InIormusI prIbudI yung
penLIng, bIusunyu seLeIuI suuLu epIsode yung penuI sLres.
Pudu umnesIu LoLuI, penderILu LIduk mengenuII keIuurgu dun Lemun-Lemunnyu, LeLupI
LeLup memIIIkI kemumpuun bIcuru, membucu dun penuIurun, jugu LeLup memIIIkI bukuL
dun pengeLuIuun LenLung dunIu yung LeIuI dIperoIeI sebeIumnyu.

B. ugue DIsosIuLII
ugue dIsosIuLII uduIuI IIIungnyu memorI yung dIserLuI dengun menIngguIkun rumuI
dun mencIpLukun IdenLILus buru.
DuIum Iugue dIsosIuLII, IIIungnyu memorI IebII besur dIbundIng duIum umnesIu
dIsosIuLII. Orung yung menguIumI Iugue dIsosIuLII LIduk Iunyu menguIumI umnesIu LoLuI,
numun LIbu-LIbu menIngguIkun rumuI dun berukLIvILus dengun menggunukun IdenLILus
buru.

C. Gungguun DepersonuIIsusI
Gungguun depersonuIIsusI uduIuI suuLu kondIsI dImunu persepsI uLuu penguIumun
seseorung LerIudup dIrI sendIrI berubuI.
DuIum epIsode depersonuIIsusI, yung umumnyu dIpIcu oIeI sLres, IndIvIdu securu
menduduk keIIIungun rusu dIrI mereku. Puru penderILu gungguun InI menguIumI
penguIumun sensorI yung LIduk bIusu, mIsuInyu ukurun Lungun dun kukI mereku berubuI
securu drusLIs, uLuu suuru mereku Lerdengur usIng bugI mereku sendIrI. PenderILu jugu
merusu berudu dI Iuur LubuI mereku, menuLup dIrI mereku sendIrI durI kejuuIun,
Lerkudung mereku merusu seperLI roboL, uLuu mereku seoIuI bergeruk dI dunIu nyuLu.

D. Gungguun denLILus DIsosIuLII
Gungguun IdenLILus dIsosIuLII suuLu kondIsI dImunu seseorung memIIIkI mInImuI duu
uLuu IebII kondIsI ego yung bergunLI-gunLI, yung suLu sumu IuIn berLInduk bebus.
MenuruL DSM-V-TR, dIugnosIs gungguun dIsosIuLII (GD) dupuL dILegukkun bIIu
seseorung memIIIkI sekurung-kurungnyu duu kondIsI ego yung LerpIsuI, uLuu berubuI-
ubuI, kondIsI yung berbedu duIum keberuduun, perusuun dun LIndukun yung suLu sumu
IuIn LIduk suIIng mempenguruII dun yung muncuI serLu memegung kenduII pudu wukLu
yung berbedu.
Securu sIngkuL krILerIu DSM-V-TR unLuk gungguun IdenLILus dIsosIuLII IuIuI:
u. Keberuduun duu uLuu IebII keprIbudIun uLuu IdenLILus
b. Sekurung-kurungnyu duu keprIbudIun mengenduIIkun perIIuku securu beruIung
c. KeLIdukmumpuun unLuk mengInguL InIormusI prIbudI yung penLIng.

ETOOG
sLIIuI gungguun dIsosIuLII merujuk pudu mekunIsme, dIssosIusI, yung dIdugu menjudI
penyebubnyu. PemIkIrun dusurnyu uduIuI kesudurun bIusunyu merupukun kesuLuun
penguIumun, Lermusuk kognIsI, emosI dun moLIvusI. Numun duIum kondIsI sLres,
memorI Lruumu dupuL dIsImpun dengun suuLu curu seIInggu dI kemudIun IurI LIduk
dupuL dIukses oIeI kesudurun seIrIng dengun kembuII normuInyu kondIsI orung yung
bersungkuLun, seIInggu kemungkInun ukIbuLnyu uduIuI umnesIu uLuu Iugue.
Pundungun beIuvIoruI mengenuI gungguun dIsosIuLII uguk mIrIp dengun berbuguI
spekuIusI uwuI LersebuL. Securu umum puru LeorIs beIuvIoruI mengunggup dIssosIusI
sebuguI respon penuI sLres dun InguLun ukun kejudIun LersebuL.

ELIoIogI GD. TerdupuL duu LeorI besur mengenuI GD. SuIuI suLu LeorI berusumsI buIwu
GD beruwuI pudu musu kunuk-kunuk yung dIukIbuLkun oIeI penyIksuun securu IIsIk uLuu
seksuuI. PenyIksuun LersebuL mengukIbuLkun dIssosIusI dun LerbenLuknyu berbuguI
keprIbudIun IuIn sebuguI suuLu curu unLuk menguLusI Lruumu (GIeuves, 1qq6).
TeorI IuIn berunggupun buIwu GD merupukun peIuksunuun perun sosIuI yung dIpeIujurI.
BerbuguI keprIbudIun yung muncuI pudu musu dewusu umumnyu kurenu berbuguI sugesLI
yung dIberIkun LerupIs (IIIenIeI dkk, 1qqq; Spunos, 1qqq). DuIum LeorI InI GD LIduk
dIunggup sebuguI penyImpungun kesudurun; musuIuInyu LIduk LerIeLuk pudu upukuI GD
benur-benur dIuIumI uLuu LIduk, numun buguImunu GD LerjudI dun meneLup.

TERAP
Gungguun dIsosIuLII menunjukkun, mungkIn IebII buIk dIbundIng semuu gungguun IuIn,
kemungkInun reIevunsI LeorI psIkounuIIsIs. DuIum LIgu gungguun dIsosIuLII, umnesIu,
Iugue dun GD, puru penderILu menunjukkun perIIuku yung securu sunguL meyukInkun
menunjukkun buIwu mereku LIduk dupuL mengukses berbuguI bugIun keIIdupun pudu
musu IuIu yung LerIupukun. OIeI sebub ILu, LerdupuL IIpoLesIs buIwu udu bugIun besur
duIum keIIdupun mereku yung dIrepres.
TerupI psIkounuIIsIs IebII bunyuk dIpIIII unLuk gungguun dIsosIuLII dIbundIng musuIuI-
musuIuI psIkoIogIs IuIn. Tujuun unLuk mengungkuL represI menjudI Iukum seIurI-IurI,
dIcupuI meIuIuI penggunuun berbuguI LeknIk psIkounuIILIk dusur.
TerupI GD. HIpnoLIs umum dIgunukun duIum penungunun GD. Securu umum,
pemIkIrunnyu uduIuI pemuIIIun kenungun menyukILkun yung dIrepres ukun dIIusIIILusI
dengun mencIpLukun kembuII sILuusI penyIksuun yung dIusumsIkun dIuIumI oIeI pusIen.
Umumnyu seseorung dIIIpnoLIs dun dIdorong ugur mengembuIIkun pIkIrun mereku
kembuII ke perIsLIwu musu kecII. Hurupunnyu uduIuI dengun mengukses kenungun
LruumuLIk LersebuL ukun memungkInkun orung yung bersungkuLun menyudurI buIwu
buIuyu durI musu kecIInyu suuL InI suduI LIduk udu dun buIwu keIIdupunnyu yung
sekurung LIduk perIu dIkenduIIkun oIeI kejudIun musu IuIu LersebuL.
TerdupuL beberupu prInsIp yung dIsepukuLI securu Iuus duIum pengungunun GD, LerIepus
durI orIenLusI kIInIs (Bower dkk, 1q;1; Cudy, 1q8; KIuIL, 1q8, 1qqq; Ross, 1q8q)
Tujuunnyu uduIuI InLegrusI beberupu keprIbudIun
SeLIup keprIbudIun Iurus dIbunLu unLuk memuIumI buIwu Iu uduIuI bugIun durI suLu
orung dun keprIbudIun- keprIbudIun LersebuL dImuncuIkun oIeI dIrI sendIrI.
TerupIs Iurus menggunukun numu seLIup keprIbudIun Iunyu unLuk kenyumun, bukun
sebuguI curu unLuk meneguskun eksIsLensI keprIbudIun yung LerpIsuI dun oLonom.
SeIuruI keprIbudIun Iurus dIperIukukun securu udII
TerupIs Iurus mendorong empuLI dun kerjusumu dIunLuru berbuguI keprIbudIun
DIperIukun keIembuLun dun dukungun berkuILun dengun Lruumu musu kunuk-kunuk
yung mungkIn LeIuI memIcu muncuInyu berbuguI keprIbudIun.

Tujuun seLIup pendekuLun LerIudup GD IurusIuI unLuk meyukInkun penderILu buIwu
memecuI dIrI menjudI beberupu keprIbudIun yung berbedu LIduk IugI dIperIukun unLuk
mengIudupI berbuguI Lruumu, buIk Lruumu dI musu IuIu yung memIcu dIsosIusI uwuI,
Lruumu dI musu sekurung uLuu Lruumu dI musu yung ukun duLung.

angguan SomatoIorm
Feb 6, '09 4:20 A
untuk semuanya
ambaran yang penting /ari gangguan somatoIorm a/alah a/anya gejala Iisik, pa/a mana tak
a/a kelainan organik atau mekanisme Iisiologik. Dan untuk hal tersebut ter/apat bukti positiI
atau perkiraan yang kuat bahwa gejala tersebut terkait /engan a/anya Iaktor psikologis atau
konIlik. arena gejala tak spesiIik /ari beberapa sistem organ /apat terja/i pa/a pen/erita
anxietas maupun pen/erita somatoIorm /isor/er, /iagnosis anxietas sering /isalah /iagnosiskan
menja/i somatoIorm /isor/er, begitu pula sebaliknya. A/anya somatoIorm /isor/er, ti/ak
menyebabkan /iagnosis anxietas menja/i hilang.!a/a DS-IV a/a 4 kategori penting /ari
somatoIorm /isor/er, yaitu hipokhon/riasis, gangguan somatisasi, gangguan konversi /an
gangguan nyeri somatoIorm. angguan hipokhon/ria, /an gangguan konversi (hysteria) akan
/ibicarakan tersen/iri, /an pa/a tulisan ini /ikhususkan pa/a gangguan somatisisasi .

angguan somatisasi
Dahulu gangguan ini /ikenal sebagai gangguan hysteria atau Briquest syn/rome, suatu penyakit
/engan polysimptomatik pa/a tubuh. angguan pa/a umumnya pelbagai perasaan nyeri,
gangguan gastrointestinal, gangguan sexual /an berbagai gangguan /an gejala
pseu/oneurological

angguan somatisasi a/alah penyakit yang preokupasi /engan berbagai (poly)keluhan nyeri
somatik. Akan tetapi berbe/a /engan pasien hipokhon/riasis lebih terIokus pa/a gejala yang
spesiIik, pa/a pen/erita somatoIorm terlibat /ari berbagai nyeri, misalnya nyeri kepala (sakit
kepala atau pusing), pa/a abomen (sering sakit mag), nyeri pa/a persen/ian (merasa sakit
rematik), nyeri /i /a/a (merasa sakit jantung) /an /i rectum (sering sembelit atau /iare atau
/ikenal pula /engan IBS irritable Bowel Syn/rome). Selain nyeri ter/apat pula gangguan
Iungsi misalnya gangguan pa/a menstruasi, gangguan pa/a hubungan sexual, /an gangguan
miksi.

!enyakit ini sering /i/apatkan , berkisar antara 2-20 /ari 1000 pen/u/uk. Lebih banyak pa/a
wanita. !asien pa/a umumnya mempunyai riwayat keluhan Iisik yang banyak. Biasanya
/imulai sebelum berumur 30 tahun. Sebelumnya pasien telah banyak men/apat /iagnosis,
makan banyak obat, /an banyak men/erita alegi. !asien ini terus mencari penerangan me/is
untuk gejala yang /i/eritanya /an berse/ia untuk melakukan berbagai test me/is, pembe/ahan,
uji klinik, walaupun /ia tahu hal tersebut jarang yang memberikan hasil, biasanya hasilnya
a/alah normal, atau a/a gangguan kecil.

Fenomena ini /apat berupa spectrum yang ringan yang akan memperberat gangguan somatisasi,
pasien yang benar benar masuk kriteria biasanya telah hi/up /engan /i/ominasi /engan
pengalaman me/ik /an mungkin telah mengalami gangguan hubungan interpersonal. Riwayat
keluarga biasanya menunjukkan hal yang sama terutama pa/a wanita, /an riwayat anti sosial
pa/a pria.

GANGGUAN SOMATOFORM (SOMATOFORM DISORDERS)


ata somatoform ini di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti "tubuh. Dalam gangguan
somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak
ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. angguan somatoform berbeda
denganmalingering, atau kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang
jelas. angguan ini juga berbeda dengan gangguan factitiousyaitu suatu gangguan yang
ditandai oleh pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang
jelas. Selain itu gangguan ini juga berbeda pula dengan sindrom Muchausen yaitu suatu tipe
gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai simtom medis.
angguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai
contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis. ejala
dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang
bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam
peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian
klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan
durasi gejala. angguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau
gangguan buatan.
PENGERTIAN DAN GEJALA
Pain Disorder
Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang mengakibatkan ketidakmampuan
secara signifikan;faktor psikologis diduga memainkan peranan penting pada kemunculan,
bertahannya dan tingkat sakit yang dirasakan. Pasien kemungkinan tidak mampu untuk bekerja
dan menjadi tergantung dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang timbul dapat
berhubungan dengan konflik atau stress atau dapat pula terjadi agar individu dapat terhindar dari
kegiatan yang tidak menyenangkan dan untuk mendapatkan perhatian dan simpati yang
sebelumnya tidak didapat.
Diagnosis akurat mengenai pain disorder terbilang sulit karena pengalaman subjektif dari rasa
nyeri selalu merupakan fenomena yang dipengaruhi secara psikologis, dimana rasa nyeri itu
sendiri bukanlah pengalaman sensoris yang sederhana, seperti penglihatan dan pendengaran.
&ntuk itu, memutuskan apakah rasa nyeri yang dirasakan merupakan gangguan nyeri yang
tergolong gangguan somatoform, amatlah sulit. kan tetapi dalam beberapa kasus dapat
dibedakan dengan jelas bagaimana rasa nyeri yang dialami oleh individu dengan gangguan
somatoform dengan rasa nyeri dari individu yang mengalami nyeri akibat masalah fisik. ndividu
yang merasakan nyeri akibat gangguan fisik, menunjukkan lokasi rasa nyeri yang dialaminya
dengan lebih spesifik, lebih detail dalam memberikan gambaran sensoris dari rasa nyeri yang
dialaminya, dan menjelaskan situasi dimana rasa nyeri yang dirasakan menjadi lebih sakit atau
lebih berkurang (dler et al., dalam Davidson, eale, ring, 2004).
Body Dysmorphic Disorder
Pada body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan bayangan mengenai kekurangan dalam
penampilan fisik mereka, biasanya di bagian wajah, misalnya kerutan di wajah, rambut pada
wajah yang berlebihan, atau bentuk dan ukuran hidung. Wanita cenderung pula fokus pada
bagian kulit, pinggang, dada, dan kaki, sedangkan pria lebih cenderung memiliki kepercayaan
bahwa mereka bertubuh pendek, ukuran penisnya terlalu kecil atau mereka memiliki terlalu
banyak rambut di tubuhnya (Perugi dalam Davidson, eale, ring, 2004). Beberapa individu
yang mengalami gangguan ini secara kompulsif akan menghabiskan berjam-jam setiap harinya
untuk memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin. da pula yang menghindari
cermin agar tidak diingatkan mengenai kekurangan mereka, atau mengkamuflasekan
kekurangan mereka dengan, misalnya, mengenakan baju yang sangat longgar (lbertini &
Philips daam Davidson, eale, ring, 2004).
Beberapa bahkan mengurung diri di rumah untuk menghindari orang lain melihat kekurangan
yang dibayangkannya. Hal ini sangat mengganggu dan terkadang dapat mengerah pada bunuh
diri; seringnya konsultasi pada dokter bedah plastik dan beberapa individu yang mengalami hal
ini bahkan melakukan operasi sendiri pada tubuhnya. Sayangnya, operasi plastik berperan kecil
dalam menghilangkan kekhawatiran mereka (Veale dalam Davidson, eale, ring, 2004). Body
dysmorphic disorder muncul kebanyakan pada wanita, biasanya dimulai pada akhir masa
remaja, dan biasanya berkaitan dengan depresi, fobia social, gangguan kepribadian
(Phillips&McElroy, 2000; Veale et al.,1996 dalam Davidson, eale, ring, 2004). Faktor social
dan budaya memainkan peranan penting pada bagaimana seseorang merasa apakah ia menarik
atau tidak, seperti pada gangguan pola makan.
3 Hypochondriasis
Hypochondriasis adalah gangguan somatoform dimana individu diliputi dengan ketakutan
memiliki penyakit yang serius dimana hal ini berlangsung berulang-ulang meskipun dari
kepastian medis menyatakan sebaliknya, bahwa ia baik-baik saja. angguan ini biasanya
dimulai pada awal masa remaja dan cenderung terus berlanjut. ndividu yang mengalami hal ini
biasanya merupakan konsumen yang seringkali menggunakan pelayanan kesehatan; bahkan
terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak kompeten dan tidak perhatian (Pershing et
al., dalam Davidson, eale, ring, 2004). Dalam teori disebutkan bahwa mereka bersikap
berlebihan pada sensasi fisik yang umum dan gangguan kecil, seperti detak jantung yang tidak
teratur, berkeringat, batuk yang kadang terjadi, rasa sakit, sakit perut, sebagai bukti dari
kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali muncul bersamaan dengan gangguan
kecemasan dan mood.
Conversion disorder
Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan atau
kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya sistem
saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja. spek psikologis
dari gejala conversion ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini muncul secara
tiba-tiba dalam situasi yang tidak menyenangkan. Biasanya hal ini memungkinkan individu untuk
menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau individu sangat ingin mendapatkan
perhatian. stilah conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana disebutkan bahwa
energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek sensori-motor dan mengganggu fungsi
normal. &ntuk itu, kecemasan dan konflik psikologis diyakini dialihkan pada gejala fisik.
ejala conversion biasanya berkembang pada masa remaja atau awal masa dewasa, dimana
biasanya muncul setelah adanya kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup. Prevalensi
dari conversion disorder kurang dari 1 %, dan biasanya banyak dialami oleh wanita (Faravelli et
al.,1997;Singh&Lee, 1997 dalam Davidson, eale, ring, 2004). Conversion disorder biasanya
berkaitan dengan diagnosis is lainnya seperti depresi dan penyalahgunaan zat-zat terlarang,
dan dengan gangguan kepribadian, yaitu borderline dan histrionic personality disorder (Binzer,
nderson&ullgren, 1996;Rechlin, Loew&Jorashky, 1997 dalam Davidson, eale, ring, 2004).
5 Somatization Disorder
Menurut DSM-V-%R kriteria dari somatization disorder adalah memiliki sejarah dari banyak
keluhan fisik selama bertahun-tahun; memiliki 4 gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal, 1 gejala
seual, dan 1 gejala pseudoneurological; gejala-gejala yang timbul tidak disebabkan oleh kondisi
medis atau berlebihan dalam memberikan kondisi medis yang dialami.
Prevalensi dari somatiation disorder diperkirakan kurang dari 0.5% dari populasi merika,
biasanya lebih sering muncul pada wanita, khususnya wanita frican merican dan Hispanic
(Escobar et al., dalam Davidson, eale, ring, 2004) dan pada pasien yang sedang menjalani
pengibatan medis. Prevalensi ini lebih tinggi pada beberapa negara di merika Selatan dan di
Puerto Rico (%omassson, ent&Coryell dalam Davidson, eale, ring, 2004). Somatizaton
disorder biasanya dimulai pada awal masa dewasa (Cloninger et al., dalam Davidson, eale,
ring, 2004).
6 Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak DigoIongkan
riterianya:
Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
a) Salah satu (1)atau (2)
O Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi
medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek
cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
O Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan
sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan
menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
b) ejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
c) Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
d) angguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan
somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau
gangguan psikotik).
e) ejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau
berpura-pura)
$indrom Koro dan $indrom Dhat
Sindrom koro itu adalah gangguan somatoform yang terkait budaya, ditemukan terutama di
Cina, dimana orang takut bahwa alat genital mereka akan mengerut. Sindrom koro cenderung
hanya muncul sebentar dan melibatkan episode kecemasan takur bahwa alat genitalnya akan
mengerut. %anda-tanda fisiologis kecemasan yang medekati proposi panic umu terjadi,
mencakup keringat yang berlebihan , tidak dapat bernafas, dan jantung berdebar-debar.
Sindrom dhat adalah gangguan somatoform yang terkait budaya, ditemukan terutama di antara
pria sia ndia, yang ditandai oleh ketakutan yang berlebih akan kehilangan air mani. Pria
dengan sindrom ini juga percaya bahwa air mani bercampur dengan urine dan dikeluarkan saat
buang air kecil. da keyakinan yang tertersebar luas dalam budaya ndia yaitu bahwwa
hilangnya air mani merupakan sesuatu yang berbahaya karena mengurangi energi mental dan
fisik tubuh.
PANDANGAN TEORITIS
%eori modern yang membahas gangguan somatoform, seperti gangguan disosiatif, teori
psikodinamika dan teori belajar.
a Teori Psikodinamika
Freud mengembangkan teori pikiran yang mengancam atau yang tidak disadari. Freud meyakini
bahwa ego berfungsi untuk mengontrol impuls seksual dan agresif yang mengancam atau tidak
dapat diterima yang timbul dari id melalui mekanisme pertahanan diri seperti represi. Control
seperti ini menghambat timbulnya kecemasan yang akan terjadi bila orang tersebut menjadi
sadar akan adanya impuls-impuls itu.
Menurut teori Psikodinamika , simtom histerikal memiliki fungsi yaitu membrikan orang tersebut
keuntunga primer dan sekundar, yaitu
Primer yaitu hilangnya kecemasan yang mendasar yang diperoleh dari berkembangnya simtom-
simtom neurotic. Sedangkan 8ekunder yaitu keuntungan sampingan yang dihubungkan dengan
gangguan neurotis atau lainnya, seperti ekspresi simpati, perhatian yang meningkat, dan
terbebas dari tanggungjawab.
b Teori BeIajar
%eori psikodinamika dan teori belajar bahwa simtom-simtom dalam gangguan konversi dapat
mengatasi kecemasan. %eoritikus psikodinamika mencari penyebab kecemasan dalam konflik-
konflik yang tidak disadari. Belajar berfokus pada hal-hal yang secara langsung menguatkan
simtom dan peran sekundernya dalam membantu individu menghindari atau melarikan diri dari
situasi yang tidak nyaman atau membangkitkan kecemasan. Perbedaan dalam pengalaman
belajar dapat menjelaskan bahwa "mengapa secara histories gangguan konversi lebih
seringdilaporkan oleh wanita daripada pria.
c Teori Kognitif
Penjelasan kognitif lain berfungsi pada peran dari pikiran yang terdistorsi.
ETIOLOGI
EtioIogi dari Somatization Disorder
Diketahui bahwa individu yang mengalami somatization disorder biasanya lebih sensitive pada
sensasi fisik, lebih sering mengalami sensasi fisik, atau menginterpretasikannya secara
berlebihan (irmayer et al.,1994;Rief et al., 1998 dalam Davidson, eale, ring, 2004).
emungkinan lainnya adalah bahwa mereka memiliki sensasi fisik yang lebih kuat dari pada
orang lain (Rief&uer dalam Davidson, eale, ring, 2004). Pandangan behavioral dari
somatization disorder menyatakan bahwa berbagai rasa sakit dan nyeri, ketidaknyamanan, dan
disfungsi yang terjadi adalah manifestasi dari kecemasan yang tidak realistis terhadap sistem
tubuh. Berkaitan dengan hal ini, ketika tingkat kecemasan tinggi, individu dengan somatization
disorder memiliki kadar cortisol yang tinggi, yang merupakan indikasi bahwa mereka sedang
stress (Rief et al., daam Davidson, eale, ring, 2004). Barangkali rasa tegang yang ekstrim
pada otot perut mengakibatkan rasa pusing atau ingin muntah. etika fungsi normal sekali
terganggu, pola maladaptif akan diperkuat dikarenakan oleh perhatian yang diterima.
Teori PsikoanaIisis dari Conversion Disorder
Pada Studies in Hysteria (1895/1982), Breuer dan freud menyebutkan bahwa conversion
disorder disebabkan ketika seseorang mengalami peristiwa yang menimbulkan peningkatan
emosi yang besar, namun afeknya tidak dapat diekspresikan dan ingatan tentang peristiwa
tersebut dihilangkan dari kesadaran. ejala khusus conversion disebutkan dapat berhubungan
seba-akibat dengan peristiwa traumatis yang memunculkan gejala tersebut.
Freud juga berhipotesis bahwa conversion disorder pada wanita terjadi pada awal kehidupan,
diakibatkan oleh Electra comple yang tidak terselesaikan. Berdasarkan pandangan
psikodinamik dari Sackheim dan koleganya, verbal reports dan tingkah laku dapat terpisah satu
sama lain secara tidak sadar.Hysterically blind person dapat berkata bahwa ia tidak dapat
melihat dan secara bersamaan dapat dipengaruhi oleh stimulus visual. Cara mereka
menunjukkan bahwa mereka dapat melihat tergantung pada sejauh mana tingkat kebutaannya.
Teori BehavioraI dari Conversion Disorder
Pandangan behavioral yang dikemukakan &llman&rasner (dalam Davidson, eale, ring,
2004), menyebutkan bahwa gangguan konversi mirip dengan malingering, dimana individu
mengadopsi simtom untuk mencapai suatu tujuan. Menurut pandangan mereka, individu dengan
conversion disorder berusaha untuk berperilaku sesuai dengan pandangan mereka mengenai
bagaimana seseorang dengan penyakit yang mempengaruhi kemampuan motorik atau sensorik,
akan bereaksi. Hal ini menimbulkan dua pertanyaan : (1) pakah seseorang mampu berbuat
demikian? (2) Dalam kondisi seperti apa perilaku tersebut sering muncul ?
Berdasarkan bukti-bukti yang ada, maka jawaban untuk pertanyaan (1) adalah ya. Seseorang
dapat mengadopsi pola perilaku yang sesuai dengan gejala klasik conversion. Misalnya
kelumpuhan, analgesias, dan kebutaan, seperti yang kita ketahui, dapat pula dimunculkan pada
orang yang sedang dalam pengaruh hipnotis. Sedangkan untuk pertanyaan (2) &llman dan
rasner mengspesifikasikan dua kondisi yang dapat meningkatkan kecenderungan
ketidakmampuan motorik dan sensorik dapat ditiru. Pertama, individu harus memiliki
pengalaman dengan peran yang akan diadopsi. ndividu tersebut dapat memiliki masalah fisik
yang serupa atau mengobservasi gejala tersebut pada orang lain. edua, permainan dari peran
tersebut harus diberikan reward. ndividu akan menampilkan ketidakampuan hanya jika perilaku
itu diharapkan dapat mengurangi stress atau untuk memperoleh konsekuensi positif yang lain.
amun pandangan behavioral ini tidak sepenuhnya didukung oleh bukti-bukti literatur.
Faktor SosiaI dan Budaya pada Conversion Disorder
Salah satu bukti bahwa faktor social dan budaya berperan dalam conversion disorder
ditunjukkan dari semakin berkurangnya gangguan ini dalam beberapa abad terakhir. Beberapa
hipotesis yang menjelaskan bahwa gangguan ini mulai berkurang adalah misalnya terapis yang
ahli dalam bidang psikoanalisis menyebutkan bahwa dalam paruh kedua abad 19, ketika tingkat
kemunculan conversion disorder tinggi di Perancis dan ustria, perilaku seksual yang di repress
dapat berkontribusi pada meningktnya prevalensi gangguan ini. Berkurangnya gangguan ini
dapat disebabkan oleh semakin luwesnya norma seksual dan semakin berkembangnya ilmu
psikologi dan kedokteran pada abad ke 20, yang lebih toleran terhadap kecemasan akibat
disfungsi yang tidak berkaitan dengan hal fisiologis daripada sebelumnya. Selain itu peran faktor
sosial dan budaya juga menunjukkan bahwa conversion disorder lebih sering dialami oleh
mereka yang berada di daerah pedesaan atau berada pada tingkat sosioekonomi yang rendah
(Binzer et al.,1996;Folks, Ford&Regan, 1984 dalam Davidson, eale, ring, 2004). Mereka
mengalami hal ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan mengenai konsep medis dan
psikologis. Sementara itu, diagnosis mengenai hysteria berkurang pada masyarakat industrialis,
seperti nggris, dan lebih umum pada negara yang belum berkembang, seperti Libya (Pu et al.,
dalam Davidson, eale, ring, 2004 ).
Faktor BioIogis pada Conversion Disorder
Meskipun faktor genetic diperkirakan menjadi faktor penting dalam perkembangan conversion
disorder, penelitian tidak mendukung hal ini. Sementara itu, dalam beberapa penelitian, gejala
conversion lebih sering muncul pada bagian kiri tubuh dibandingkan dengan bagian kanan
(Binzer et al.,dalam Davidson, eale, ring, 2004). Hal ini merupakan penemuan menarik
karena fungsi bagian kiri tubuh dikontrol oleh hemisfer kanan otak. Hemisfer kanan otak juga
diperkirakan lebih berperan dibandingkan hemisfer kiri berkaitan dengan emosi negatif. kan
tetapi, berdasarkan penelitian yang lebih besar diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang dapat
diobservasi dari frekuensi gejala pada bagian kanan versus bagian kiri otak (Roelofs et al.,
dalam Davidson, eale, ring, 2004).
TERAPI
Case report dan spekulasi klinis saat ini menjadi sumber informasi penting dalam membantu
orang-orang yang mengalami gangguan ini. Pada analisa kasus, bukanlah ide yang baik untuk
meyakinkan mereka yang mengalami gangguan ini bahwa gejala conversion yang mereka alami
berhubungan dengan faktor psikologis. Pengetahuan klinis lebih menyajikan pendekatan yang
lembut dan suportif dengan memberikan reward bagi kemajuan dalam proses pengobatan
meeka (Simon dalam Davidson, eale, ring, 2004). Para terapis behaviorist lebih menyarankan
pada mereka yang mengalami gangguan somatoform, beragam teknik yang dimaksudkan agar
mereka menghilangkan gejala-gejala dari gangguan tersebut.
Terapi untuk Somatization Di8order
Para ahli kognitif dan behavioral meyakini bahwa tingginya tingkat kecemasan yang
diasosiasikan dengan somatization disorder dipicu oleh situasi khusus. kan tetapi semakin
banyak pengobatan yang dibutuhkan, bagi orang yang "sakit sekian lama maka akan tumbuh
kebiasaan akan ketergantungan untuk menghindari tantangan hidup sehari-hari daripada
menghadapi tantangan tersebut sebagai orang dewasa. Dalam pendekatan yang lebih umum
mengenai somatization disorder, dokter hendaknya tidak meremehkan validitas dari keluhan
fisik, tetapi perlu diminimalisir penggunaan tes-tes diagnosis dan obat-obatan, mempertahankan
hubungan dengan mereka terlepas dari apakah mereka mengeluh tentang penyakitnya atau
tidak (Monson&Smith dalam Davidson, eale, ring, 2004).
Terapi untuk Hypochondria8i8
Secara umum, pendekatan cognitive-behavioral terbukti efektif dalam mengurangi
hypochondriasis (e.g. Bach, 2000; Feranandez, Rodriguez&Fernandez, 2001, dalam Davidson,
eale, ring, 2004). Penelitian menujukkan bahwa penderita hypochondriasis memperlihatkan
bias kognitif dalam melihat ancaman ketika berkaitan dengan isu kesehatan (Smeets et al.,
dalam Davidson, eale, ring, 2004). Cognitive-behavioral therapy dapat bertujuan untuk
mengubah pemikiran pesimistis. Selain itu, pengobatan juga hendaknya dikaitkan dengan
strategi yang mengalihkan penderita gangguan ini dari gejala-gejala tubuh dan meyakinkan
mereka untuk mencari kepastian medis bahwa mereka tidak sakit (e.g. Salkovskis&Warwick,
1986;Visser&Bouman, 1992;Warwick&Salkovskis, 2001 dalam Davidson, eale, ring, 2004).
Terapi untuk Pain Di8order
Pengobatan yang efektif cenderung memiliki hal-hal berikut:
O Memvalidasikan bahwa rasa nyeri itu adalah nyata dan bukan hanya ada dalam pikiran
penderita.
O Relaation training
O Memberi reward kepada mereka yang berperilaku tidak seperti orang yang mengalami
rasa nyeri
Secara umum disarankan untuk mengubah fokus perhatian dari apa yang tidak dapat dilakukan
oleh penderita akibat rasa nyeri yang dialaminya, tetapi mengajari penderita bagaimana caranya
menghadapi stress, mendorong untuk mengerjakan aktivitas yang lebih baik, dan meningkatkan
kontrol diri, terlepas dari keterbatasan fisik atau ketidaknyamanan yang penderita rasakan.
Penanganan Gangguan Somatoform 8ecara umum
Pendekatan behavioral untuk menangani gangguan konversi dan somtoform lainnya
menekankan pada menghilangkan sumber dari reinforcementsekunder (keuntungan sekunder)
yang dapat dihubungkan dalam keluhan-keluhan fisik. %erapis behavioral dapat bekerja secara
lebih langsung dengan si penderita gangguan somatoform, membantu orang tersebut belajar
dalam menangani stress atau kecemasan dengan cara yang lebih adaptif.
%eknik kognitif-behavioral paling sering pemaparan terhadap pencegahan respond an
restrukturisasi kognitif. Secara sengaja memunculkankerusakan yang dipersepsikan di depan
umum, dan bukan menutupinya melalui penggunaan rias wajah dan pakaian. Dalam
restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan klien yang terdistorsi mengenai penampilan
fisiknya dan cara meyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti
yang jelas. Penggunaan antidepresan, terutamafluoxetine(Prozac) dalam menangani beberapa
tipe gangguan somatoform.

DAFTAR PUSTAKA
V. Mark Durank & Dvid H.Barlow.2006.!sikologi Abnormal. Jilid 1 dan 2.Yogyakarta:Pustaka
Pelajar
evid S.Jeffrey dkk. 2005. !sikologi Abnormal. Jakarta: P%.elora ksara
Davidson, erald, dkk. 2006. !sikologi Abnormal. Jakarta: P%. Rajarafindo Persada Press
%omb, David. . 2000. !sikiatri Edisi 6. Jakarta: EC



GANGGUAN SOMATSAS
Gungguun somuLIsusI LeIuI dIkenuI sejuk jumun MesIr kuno. Numu uwuI unLuk gungguun
somuLIsusI uduIuI IIsLerIu, suuLu keuduun yung securu LIduk LepuL dIperkIrukun Iunyu
mengenuI wunILu, (kuLu HIsLerIu dI dupuLkun durI kuLu buIusu YununI unLuk
ruIIm, Hsterc). Pudu ubud ke-1; TIomus SyndenIum menemukun buIwu IukLor psIkoIogIs
yung dInumukunnyu penderILuun yung menduIuIuI (cntecendent sorrou), LerIIbuL duIum
puLogenesIs gejuIu gungguun somuLIsusI.
Pudu LuIun 18q PuuI BrIqueL, seorung dokLer PruncIs, mengumuLI bunyuknyu gejuIu
dun sIsLem orgun yung LerIIbuL dun perjuIunun penyukIL yung bIusunyu kronIs. Kurenu
pengumuLun kIInIs LersebuL muku gungguun InI dInumukun$ndromc r6:et. Akun LeLupI
sejuk LuIun 1q8o sejuk dIperkenuIkun DSM edIsI keLIgu (DSM ) IsLIIuI Gungguun
SomuLIsusI menjudI sLundur dI AmerIku SerIkuL unLuk gungguun yung dILunduI oIeI bunyuk
keIuIun IIsIk yung mengenuI bunyuk sIsLem orgun.
(1)

DENS
Gungguun somuLIsusI uduIuI suIuI suLu gungguun somuLoIorm spesIIIk yung dILunduI
oIeI bunyuknyu keIuIun IIsIkJgejuIu somuLIk yung mengenuI bunyuk sIsLem orgun yung LIduk
dupuL dIjeIuskun securu udekuuL berdusurkun pemerIksuun IIsIk dun IuboruLorIum.
(1,z,)

Gungguun somuLIsusI dIbedukun durI gungguun somuLoIorm IuInnyu kurenu
bunyuknyu keIuIun dun meIIbuLkuun sIsLem orgun yung muILIpIe (sebuguI conLoI,
gusLroInLesLInuI dun neuroIogIs). Gungguun InI bersIIuL kronIs dengun gejuIu dILemukun
seIumu beberupu LuIun dun dImuIuI sebeIum usIu o LuIun dun dIserLuI dengun penderILuun
psIkoIogIs yung bermuknu, gungguun IungsI sosIuI dun pekerjuun, dun perIIuku mencurI
bunLuun medIs yung berIebIIun.
(1)

EPDEMOOG
PrevuIensI gungguun somuLIsusI pudu popuIusI umum dIperkIrukun o,1 - o,z %, wuIuupun
beberupu keIompok peneIILIun percuyu buIwu ungku sesungguInyu mungkIn mendekuLI o,
%. PrevuIensI gungguun somuLIsusI pudu wunILu dI popuIusI umum uduIuI 1 - z %. RusIo
penderILu wunILu dIbundIng IukI-IukI uduIuI berbundIng 1 dun bIusunyu gungguun muIuI
pudu usIu dewusu mudu (sebeIum usIu o LuIun).
(1,z,)

Beberupu peneIILI menemukun buIwu ggungguun somuLIsusI serIngkuII bersumu-sumu
dengun gungguun menLuI IuInnyu. SIIuL keprIbudIun uLuu gungguun keprIbudIun yung
serIngkuII menyerLuI uduIuI yung dILunduI oIeI cIrI pengIIndurun, purunoId, menguIuIkun
dIrI sendIrI dun obsesII konpuIsII.
(1)

ETOOG
Penyebub gunggguun somuLIsusI LIduk dIkeLuIuI securu pusLI LeLupI dIdugu LerdupuL IukLor-
IukLor yung berperun LerIudup LImbuInyu gungguun somuLIsusI yuknI:
1. ukLor PsIkososIuI
TerdupuL IukLor psIkososIuI berupu konIIIk psIkIs dIbuwuI sudur yung mempunyuI Lujuun
LerLenLu. Rumusun psIkososIuI LenLung penyebub gungguun meIIbuLkun InLerpreLusI gejuIu
sebuguI suLu LIpe komunIkusI sosIuI, IusIInyu uduIuI mengIIndurI kewujIbun (sebuguI
conLoI: mengerjukun ke pekerjuun yung LIduk dIsukuI), mengekspresIkun emosI (sebuguI
conLoI: kemuruIun pudu pusungun), uLuu unLuk mensImboIIsusIkun suuLu perusuun uLuu
keyukInun (sebuguI conLoI: nyerI pudu usus seseorung).
Beberupu pusIen dengun gungguun somuLIsusI berusuI durI rumuI yung LIduk seLubII dun
LeIuI menguIumI penyIksuun IIsIk. ukLor sosIuI, kuILuruI dun jugu eLnIk mungkIn jugu
LerIIbuL duIum perkembungun gungguun somuLIsusI.
(1,z,,q)

z. ukLor BIoIogIs
DILemukun udunyu IukLor geneLIk duIum LrunsmIsI gungguun somuLIsusI dun udunyu
penurunun meLuboIIsme (IIpomeLuboIIsme) suuLu zuL LerLenLu dI Iobus IronLuIIs dun
IemIsIer nondomInun. SeIuIn ILu dIdugu LerdupuL reguIusI ubnormuI sIsLem sILokIn yung
mungkIn menyebubkun beberupu gejuIu yung dILemukun pudu gungguun somuLIsusI.
(1,z)

GAMBARAN KNS
CIrI uLumu gungguun somuLIsusI uduIuI udunyu gejuIu-gejuIu IIsIk yung bermucum-mucum
(muILIpIe), beruIung dun serIng berubuI-ubuI, yung bIusunyu suduI berIungsung beberupu
LuIun sebeIum pusIen duLung ke psIkIuLer. Kebunyukun pusIen mempunyuI rIwuyuL
pengobuLun yung punjung dun sunguL kompIeks, buIk ke peIuyunun keseIuLun dusur, muupun
spesIuIIsLIk, dengun IusII pemerIksuun uLuu buIkun operusI yung neguLII.
KeIuIunnyu dupuL mengenuI seLIup sIsLem uLuu bugIun LubuI munupun, LeLupI puIIng IujIm
mengenuI keIuIun gusLroInLesLInuI (perusuun sukIL, kembung, muuI, munLuI), kesuIILun
meneIun, nyerI dI Iengun dun LungkuI, nupus pendek yung LIduk berIubungun dengun
ukLIvILus dun keIuIun-keIuIun perusuun ubnormuI pudu kuIIL (perusuun guLuI, rusu Lerbukur,
kesemuLun, buuI, pedII, dsb.), serLu bercuk-bercuk pudu kuIIL. KeIuIun mengenuI seks dun
IuId jugu IuzIm LerjudI.
(1,)

PenderILuun psIkoIogIs dun musuIuI InLerpersonuI uduIuI menonjoI, dun serIng sekuII
LerdupuL unxIeLus dun depresI yung nyuLu seIInggu memerIukun LerupI kIusus. PusIen
bIusunyu LeLupI LIduk seIuIu menggumburkun keIuIunnyu dengun curu yung drumuLIk,
emosIonuI, dun berIebII-IebIIun, dengun buIusu yung gumbIung dun bermucum-mucum.
PusIen wunILu dengun gungguun somuLIsusI mungkIn berpukuIun eksIbIsIonIsLIk. PusIen
mungkIn merusu LergunLung, berpusuL pudu dIrI sendIrI, Iuus ukun pujIun uLuu sunjungun
dun munIpuIuLII.
Gungguun somuLIsusI serIng dIserLuI oIeI gungguun menLuI IuInnyu, Lermusuk gungguun
depresI beruL, gungguun keprIbudIun, gungguun berIubungun dengun zuL, gungguun
kecemusun umum, dun IobIu.
(1)

DAGNOSS
KrILerIu dIugnosIs gungguun somuLIsusI berdusurkun DSM V:
A. RIuyuL bunyuk keIuIun IIsIk dengun onseL sebeIum usIu o LuIun yung LerjudI seIumu perIode
beberupu LuIun dun menyebubkun gungguun bermuknu duIum IungsI sosIuI, pekerjuun uLuu
IungsI penLIng IuInnyu.
B. TIup krILeIu berIkuL InI Iurus dILemukun, dengun gejuIu IndIvIduuI yung LerjudI pudu
semburung wukLu seIumu perjuIunun gungguun.
1. EmpuL gejuIu nyerI: RIwuyuL nyerI yung berIubungun dengun sekurungnyu empuL LempuL uLuu
IungsI yung berIebIIun (mIsuInyu: kepuIu, peruL, punggung, sendI, unggoLu geruk, dudu,
rekLum, seIumu mensLruusI, seIumu Iubungun seksuuI, uLuu seIumu mIksI).
z. Duu gejuIu gusLroInLesLInuI: RIwuyuL sekurungnyu duu gejuIu gusLroInLesLInuI seIuIn durI nyerI
(mIsuInyu: muuI, kembung, munLuI seIuIn durI keIumIIun, dIure, uLuu InLoIerunsI LerIudup
berbuguI jenIs mukunun).
. SuLu gejuIu seksuuI: RIwuyuL sekurungnyu suLu gejuIu seksuuI uLuu reproduksI seIuIn durI nyerI
(mIsuInyu: IndIIerensI seksuuI, dIsIungsI erekLII, uLuu ejukuIusI, mensLruusI yung LIduk
LeruLur, perduruuIun mensLruusI yung berIebII, munLuI sepunjung keIumIIun).
q. SuLu gejuIu pseudoneuroIogIs: RIwuyuL sekurungnyu suLu gejuIu uLuu deIIsIL yung
menguruIkun pudu kondIsI neuroIogIs yung LIduk LerbuLus pudu nyerI (gejuIu konversI seperLI
gungguuun koordInusI uLuu keseImbungun, puruIIsIs uLuu keIemuIun seLempuL, suIIL meneIun
uLuu benjoIun dILenggorokun, reLensI urIn, IIIungnyu sensusI senLuI uLuu nyerI, pundungun
gundu, kebuLuun, keLuIIun, kejung, gejuIu dIsosIuLII seperLI umnesIu uLuu IIIungnyu kesudurun
seIuIn pIngsun).
C. SuIuI suLu (1) uLuu (z)
1. SeLeIuI peneIILIun yung dIperIukun, LIup gejuIu duIum krILerIu B LIduk dupuL dIjeIuskun
sepenuInyu oIeI kondIsI medIs umum yung dIkenuI uLuu eIek Iungsung durI suuLu zuL
(mIsuInyu: eIek cederu, medIkusI, obuL uLuu uIkoIoI).
z. JIku LerdupuL kondIsI medIs umum, keIuIun IIsIk uLuu gungguun sosIuI uLuu pekerjuun yung
dILImbuIkunnyu meIebIII upu yung dIperkIrukun durI rIwuyuL penyukIL, pemerIksuun IIsIk
uLuu Lemuun IuboruLorIum.
D. GejuIu LIduk dILImbuIkun securu senguju uLuu dIbuuL-buuL (seperLI pudu gungguun buuLun uLuu
puru-puru).
(1)

DIugnosIs pusLI gungguun somuLIsusI berdusurkun PPDGJ :
1. Adu bunyuk dun berbuguI gejuIu IIsIk yung LIduk dupuL dIjeIuskun udunyu keIuInun IIsIk yung
suduI berIungsung sekILur z LuIun.
z. SeIuIu LIduk muu menerImu nuseIuL uLuu penjeIusun durI beberupu dokLer buIwu LIduk udu
keIuInun IIsIk yung dupuL menjeIuskun keIuIun-keIuIunnyu.
. TerdupuL dIsubIIILus duIum IungsInyu dI musyurukuL dun keIuurgu, yung berkuILun dengun sIIuL
keIuIun-keIuIunnyu dun dumpuuk duurI perIIukunyu.
(,)

DAGNOSS BANDNG
KIInIsI Iurus seIuIu menyIngkIrkun kondIsI medIs nonpsIkIuLrIk yung dupuL
menjeIuskun gejuIu pusIen. Gungguun medIs LersebuL uduIuI skIerosIs muILIpIe, mIusLenIu
gruvIs, Iupus erILemuLosus sIsLemIk kronIs. SeIuIn ILu jugu Iurus dIbedukun durI gungguun
depresI beruL, gungguun kecemusun (unxIeLus), gungguun IIpokondrIk dun skIzoIrenIu
dengun gungguun wuIum somuLIk.
(1,)

PERJAANAN PENYAKT DAN PROGNOSS
Gungguun somuLIsusI merupukun gungguun yung berIungsung kronIk, berIIukLuusI,
menyebubkun keLIdukmumpuun dun serIng kuII dIserLuI dengun keLIdukserusIun durI
perIIuku sosIuI, InLerpersonuI dun keIuurgu yung berkepunjungun.
EpIsode penIngkuLun kepuruIun gejuIu dun perkembungun gejuIu yung buru dIperkIrukun
berIungsung 6 - q buIun dun dupuL dIpIsuIkun durI perIode yung kurung sImLomuLIk yung
berIungsung q - 1z buIun. TeLupI jurung seorung pusIen dengun gungguun somuLIsusI
berjuIun IebII durI suLu LuIun Lunpu mencurI suuLu perIuLIun medIs.
SerIngkuII LerdupuL Iubungun unLuru perIode penIngkuLun sLress uLuu sLress buru dun
eksuserbusI gejuIu somuLIk.
(1)

PrognosIs gungguun somuLIsusI umumnyu sedung sumpuI buruk.
(z)



TIRAPI

PusIen dengun gungguun somuLIsusI puIIng buIk dIobuLI jIku mereku memIIIkI seorung dokLer
LungguI sebuguI peruwuL keseIuLun umumnyu. KIInIsI prImer Iurus memerIksu pusIen
seIumu kunjungun LerjudwuI yung LeruLur, bIusunyu dengun InLervuI suLu buIun.
JIku gungguun somuLIsusI LeIuI dIdIugnosIs, dokLer yung mengobuLI pusIen Iurus
mendengurkun keIuIun somuLIk sebuguI ekspresI emosIonuI, bukunnyu sebuguI keIuIun
medIs. TeLupI, pusIen dengun gungguun somuLIsusI dupuL jugu memIIIkI penyukIL IIsIk,
kurenu ILu dokLer Iurus memperLImbungkun gejuIu munu yung perIu dIperIksu dun sumpuI
sejuuI munu.
SLruLegI Iuus yung buIk bugI dokLer peruwuLun prImer uduIuI menIngkuLkun kesudurun
pusIen LenLung kemungkInun buIwu IukLor psIkoIogIs LerIIbuL duIum gejuIu penyukIL.
PsIkoLerupI dIIukukun buIk IndIvIduuI dun keIompok. DuIum IIngkungun psIkoLerupeLIk,
pusIen dIbunLu unLuk menguLusI gejuIunyu, unLuk mengekspresIkun emosI yung mendusurI
dun unLuk mengembungkun sLruLegI uILernuLII unLuk mengekspresIkun perusuun
mereku.
(1,z,q,6)

PengobuLun psIkoIurmukoIogIs dIIndIkusIkun bIIu gungguun somuLIsusI dIserLuI dengun
gungguun penyerLu (mIsuInyu: gungguun mood, gungguun depresI yung nyuLu, gungguun
unxIeLus.
(1)
MedIkusI Iurus dImonILor kurenu pusIen dengun gungguun somuLIsusI
cenderung menggunukun obuL securu berIebIIun dun LIduk dupuL dIpercuyu.
(1)

KESMPUAN
Gungguun sonuLIsusI uduIuI suIuI suLu gungguun somuLoIorm spesIIIk yung dILunduI oIeI
bunyuk keIuIun IIsIkJgejuIu somuLIk yung bunyuk mengenuI sIsLem orgun yung LIduk dupuL
dIjeIuskun securu udekuuL berdusurkun pemerIksuun IIsIk dun IuboruLorIum.
CIrI uLumu gungguun somuLIsusI uduIuI udunyu gejuIu-gejuIu IIsIk yung bermucum-mucum
(muILIpIe), beruIung dun serIng berubuI-ubuI, bIusunyu suduI berIungsung sedIkILnyu z
LuIun, dun menyebubkun dIsubIIILus IndIvIdu LersebuL dI musyuruIuL dun keIuurgu.
Gungguun somuLIsusI merupukun gungguun yung bersIIuL kronIk dun progresII umumnyu
sedung sumpuI buruk.
TerupI gungguun somuLIsusI uduIuI dengun psIkoLerupI dun LerupI psIkoIurmukoIogIs bIIu
gungguun somuLIsusI LersebuL dIserLuI dengun gungguun penyerLu (seperLI: depresI, unxIeLus,
gungguun mood).




PENDHULUN
angguan somatoIorm /ijelaskan /alam DS-IV (American Psychiatric Association |A!A|, 1994)
sebagai a/anya gejala Iisik yang menunjukkan kon/isi me/is /asar, tapi kon/isi me/is ti/ak /itemukan
sepenuhnya untuk tingkat penurunan Iungsional. !a/a /iagnosis DS termasuk gangguan somatisasi, gangguan
konversi, gangguan nyeri, hypochon/riasis, /an gangguan /ismorIik tubuh, /engan kon/isi terkait
termasuk cord dysfunction, /istroIi reIleks simpatik, /an nyeri perut berulang.

ejala somatik yang umum pa/a anak-anak /i/iagnosis jarang. Dalam komunitas sampel 540 anak-
anak usia sekolah, arber, Walker, /an Zeman (1991) menemukan bahwa hanya 1,1 /ari anak-anak
memenuhi kriteria /iagnostik untuk gangguan somatisasi penuh sesuai /engan kriteria DS-III-R. Demikian
pula, tingkat gangguan /iperkirakan kurang /ari 1 /ari populasi umum (A!A, 1994).
eskipun ti/ak a/a stu/i hasil pengobatan gangguan somatoIorm yang terkon/isi pa/a anak-anak,
laporan kasus /an kasus lain yang telah /ipublikasikan menjelaskan bahwa pengobatan masalah ini seperti
gangguan nyeri somatoIorm menetap (misalnya, unci & iammona, 1999) /an reaksi konversi (misalnya,
Donohue , %hevenin, & Runyon, 1997; Deaso Woo/bury,, & ol/man, 1992). !erawatan gejala reme/iating
/an peningkatan Iungsi anak-anak termasuk pen/ekatan rehabilitasi (misalnya, anglo & Venning, 1997), teknik
perilaku (misalnya, Campo & Negrini, 2000), teknik relaksasi, /an terapi keluarga (misalnya, unci &
iammona, 1999).

B PENERTIN
ata somatoIorm /iambil /ari bahasa Yunani soma, yang berarti 'tubuh. angguan
SomatoIorm merupakan suatu kelompok gangguan yang /itan/ai oleh keluhan tentang
masalah atau simtom Iisik yang ti/ak /apat /ijelaskan oleh penyebab kerusakan Iisik atau
/engan kata lain gangguan ini muncul karena a/anya kekhawatiran patologis seseorang
terha/ap penampilan atau Iungsi tubuhnya, yang biasanya tanpa /isertai oleh kon/isi me/ic
yang /apat /ii/entiIikasi. Ja/i angguan SomatoIorm a/alah suatu kelompok gangguan yang
meliputi simtom Iisik (misalnya : nyeri, mual, /an pening) /imana ti/ak /apat /itemukan
penjelasan secara me/ik.
Berbagai simtom /an keluhan somatic tersebut cukup serius, sehingga menyebabkan
stress emosional /an gangguan /alam kemampuan pen/erita untuk berIungsi /alam
kehi/upan sosial /an pekerjaan. Suatu /iagnosis gangguan somatoIorm mencerminkan
penilaian klinis bahwa Iaktor psikologis a/alah suatu penyumbang besar untuk keparahan /an
/urasi gejala.

IRI - IRI NUN $TR
O elompok gangguan yang /itan/ai oleh keluhan tentang masalah atau simtom Iisik yang
ti/ak /apat /ijelaskan oleh penyebab kerusakan Iisik.
O Bukan merupakan alingering: kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk men/apatkan
hasil eksternal yang jelas, misalnya menghin/ari hukuman, men/apatkan pekerjaan, /sb.
O Bukan pula angguan Factitious/angguan Buatan: gangguan yang /itan/ai oleh pemalsuan
simtom psi`s atau Iisik yang /isengaja tanpa keuntungan yang jelas atau untuk men/apatkan
peran sakit.

D -
DS-IV menyebutkan lima gangguan somatoIorm /asar, yakni: Hypochon/riasis,
Somatization Disor/er, Conversion Disor/er, !ain Disor/er, Bo/y Dysmorphic Disor/er.
!a/a masing-masing gangguan, in/ivi/u secara patologis mengkhawatirkan penampilan atau
Iungsi tubuhnya.

1. HY!OCHONDRIASIS (Hipokon/riasis)
ata 'Hypochon/riasis berasal /ari istilah me/ic lama 'hypochon/rium, yang berarti
/ibawah tulang rusuk, /an mereIleksikan gangguan pa/a bagian perut yang sering /ikeluhkan
pasien hipokon/riasis. !a/a hipokon/riasis /itan/ai /engan kecemasan atau ketakutan
memiliki penyakit serius. Hipokon/riasis merupakan hasil interpretasi pasien yang ti/ak
realistis /an ti/ak akurat terha/ap gejala somatic, sehingga menyebabkan ketakutan bahwa
mereka memiliki gangguan yang parah (misalnya: anker atau masalah jantung), bahkan
meskipun ti/ak a/a penyebab me/is yang /itemukan.
Rasa takut tetap a/a walaupun telah /iyakinkan me/is bahwa ketakutan itu ti/ak
ber/asar. !a/a umumnya pasien hipokon/riasis mengalami keti/aknyamanan Iisik, seringkali
melibatkan system pencernaan atau campuran rasa sakit /an nyeri. Selain itu pasien ini juga
sangat sensitiI terha/ap perubahan ringan /alam sensasi Iisik, seperti perubahan /alam /etak
jantung /an se/ikit sakit serta nyeri. Ja/i Hipokon/riasis a/alah gangguan somatoIorm yang
melibatkan kecemasan berat seseorang karena a/anya keyakinan bahwa /irinya se/ang
mengalami proses penyakit tanpa a/anya /asar Iisik yang jelas. Ciri-ciri /iagnostik /ari
hipokon/riasis :
a. Orang tersebut terpaku pa/a ketakutan memiliki penyakit serius atau pa/a keyakinan bahwa
/irinya memiliki penyakit serius. Orang tersebut menginterpretasikan sensasi tubuh atatu
tan/a-tan/a Iisik sebagai bukti /ari penyakit Iisiknya.
b. etakutan terha/ap suatu penyakit Iisik, atau keyakinan memiliki suatu penyakit Iisik, yang
tetap a/a meski telah /iyakinkan secara me/is.eterpakuan ti/ak hanya pa/a intensitas
khayalan (orang itu mengenali kemungkinan bahwa ketakutan /an keyakinan ini terlalu
/ibesar-besarkan atau ti/ak men/asar) /an ti/ak terbatas pa/a kekhawatiran pa/a
penampilan.
c. eterpakuan menyebabkan /istress emosional yang signiIikan atau mengganggu satu atau
lebih area Iungsi yang penting, seperti Iungsi social atau pekerjaan.
/. angguan telah bertahan selama 6 bulan atatu lebih.
e. eterpakuan ti/ak muncul secara eksklusiI /alam konteks gangguan mental lain.

2. SOA%IZA%ION DISORDER (angguan Somatisasi)
angguan somatisasi, sebelumnya /ikenal sebagai sin/rom Briquet, yang mengacu pa/a
nama /okter /ari !erancis, !ierre Briquet yang pertama kali menjelaskan gangguan ini.
angguan somatisasi a/alah suatu tipe gangguan somatoIorm yang melibatkan berbagai
keluhan yang muncul berulang-ulang, yang ti/ak /apat /ijelaskan oleh penyebab Iisik
apapun. angguan ini meliki karakteristik /engan berbagai keluhan atau gejala somatic yang
ti/ak /apat /ijelaskan secara akurat /engan menggunakan hasil pemeriksaan Iisik maupun
laboratorium.
eluhan-keluhan yang /iutarakan biasanya mencakup system-sistem organ yang
berbe/a. eluhan-keluhan itupun tampak meragukan /an /ibesar-besarkan, /an orang itu
sering kali menerima perawatan me/is /ari sejumlah /okter. !erbe/aan gangguan
Somatisasi /engan gangguan somatoIorm lainnya a/alah banyaknya keluhan /an
banyaknya system tubuh yang terpengaruh. Ciri-ciri gangguan somatisasi meliputi:
Riwayat banyak keluhan Iisik yang mulai muncul sebelum usia 30 tahun, yang berlangsung
selama bertahun-tahun /an menyebabkan in/ivi/u mencari penanganan untuk mengatasi
masalahnya atau mengalami hen/aya signiIikan /ibi/ang-bi/ang yang /ianggap penting.
enunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:(1) Empat gejala Iisik (nyeri) pa/a lokasi berbe/a
(misalnya kepala,pun/ak,lutut,kaki); (2) /ua gejala gastrointestinal yang ti/ak menimbulkan
nyeri (misalnya mual, /iare, kembung); (3) satu gejala seksual (misalnya pen/arahan
menstruasi yang sangat banyak, /isIungsi ereksi); (4) satu gejala pseu/oneurologis (misalnya
penglihatan gan/a,gangguan koor/inasi atatu keseimbangan, sulit menelan).
eluhan-keluhan Iisik ti/ak /apat /ijelaskan sepenuhnya ber/asarkan kon/isi me/is secara
umum atau ber/asarkan eIek substansi tertentu (misalnya eIek obat atau penyalah gunaan
obat) atau bila a/a kon/isi me/is secara umum, keluhan Iisik atau hen/ayanya melebihi
perkiraan untuk kon/isi me/is tersebut.
eluhan atau /aya ingat ti/ak /ibuat secara sengaja atau pura-pura.

3. CONVERSION DISORDER (angguan onversi)
angguan konversi a/alah mal-Iungsi Iisik, seperti kebutaan atau kelumpuhan yang
mengesankan a/anya kerusakan neurologis, tetapi ti/ak a/a patologi organic yang
menyebabkan. !a/a gangguan ini /icirikan oleh suatu perubahan besar /alam Iungsi Iisik
atau hilangnya Iungsi Iisik, meski ti/ak a/a temuan me/is atau neurologi yang /apat
/itemukan sebagai simtom atau kemun/uran Iisik tersebut. ejala somatik ini biasanya
timbul tiba-tiba /alam situasi yang penuh tekanan.
angguan konversi /inamakan /emikian karena a/anya keyakinan psiko/inamika
bahwa gangguan tersebut mencerminkan penyaluran, atau konversi, /ari energy seksual atau
agresiI yang /irepresikan ke simtom Iisik. !a/a masa lampau, konversi ini /ikenal /engan
istilah hysteria.
angguan ini biasanya mulai pa/a masa remaja atau /ewasa mu/a, terutama setelah
mereka mengalami stress /alam kehi/upan. !revalensinya sekitar 22 orang per 100.000
pen/u/uk, /engan pen/erita perempuan 2 kali lebih banyak /iban/ingkan laki-laki. Ciri-ciri
Diagnostik /ari angguan onveksi :
a. !aling ti/ak ter/apat satu simtom atau /eIicit yang melibatkan Iungsi motoriknya volunter
atau Iungsi sensoris yang menunjukkan a/anya gangguan Iisik
b. Faktor psikologis /inilai berhubungan /engan gangguan tersebut karena onset atau
kambuhnya simtom Iisik terkait /engan munculnya stresor psikososial atau situasi konIlik.
c. Orang tersebut ti/ak /engan sengaja menciptakan simtom Iisik tersebut atau berpura-pura
memilikinya /engan tujuan tertentu.
/. Simtom ti/ak /apat /ijelaskan sebagai suatu ritual bu/aya atau pola respons, juga ti/ak
/apat /ijelaskan /engan gangguan Iisik apapun melalui lan/asan pengujian yang tepat
e. Simtom menyebabkan /istres emosional yang berarti, hen/aya /alam satu atau lebih area
Iungsi, seperti Iungsi sosial atau pekerjaan, atau cukup untuk menjamin perhatian me/is.
I. Simtom ti/ak terbatas pa/a keluhan nyeri atau masalah pa/a Iungsi seksual, juga ti/ak /apat
/isebabkan oleh gangguan mental lain.
Freu/ mengemukakan bahwa ter/apat empat proses /asar /alam pembentukan gangguan
konveksi :
a. In/ivi/u mengalami peristiwa traumatik, hal ini oleh Freu/ /ianggap awal munculnya
beberapa konIlik yang ti/ak /iterima /an /isa/ari.
b. onIlik /an kecemasan yang /ihasilkan ti/ak /apat /iterima oleh ego, terja/i proses represi
(membuat hal ini ti/ak /isa/ari).
c. ecemasan semakin meningkat /an mengancam untuk muncul ke kesa/aran, sehingga orang
tersebut /engan cara tertentu 'mengkonversikannya ke /alam simtom Iisik. Hal ini
mengurangi tekanan bahwa ia harus mengatasi langsung konIliknya /isebut primary gain
(peristiwa yang /ianggap member imbalan primer /an mempertahankan simtom konversi).
/. In/ivi/u memperoleh perhatian /an simpati yang besar /ari orang-orang /i sekitarnya /an
mungkin juga /apat melarikan /iri atau menghin/ar /ari tugas atau situasi tertentu ter/apat
pula secon/ary gain.
4. !AIN DISORDER (angguan Nyeri)
!ain /isor/er atau angguan nyeri a/alah ganguan somatoIorm yang memiliki Iitur nyeri
riil tetapi baik onset, tingkat keparahan, maupun persistensinya banyak /itentukan oleh
Iaktor-Iaktor psikologis. angguan nyeri ini biasanya pa/a satu tempat atau lebih, yang ti/ak
/apat /ijelaskan secara me/is maupun neurologis. Simtom ini menimbulkan stress emosional
ataupun gangguan Iungsional sehingga berkaitan /engan Iaktor psikologis. eluhan
/irasakan pasien berIluktuasi intensitasnya, /an sangat /ipengaruhi oleh kea/aan emosi,
kognisi, atensi, /an situasi sehingga Iaktor psikologis mempengaruhi
kemunculan,bertahannya, /an tingkat keparahan gangguan. Ciri-ciri gangguan nyeri meliputi:
A/anya nyeri/rasa sakit serius /i satu lokasi antomis atau lebih
Nyeri itu menyebabkan /istres atau hen/aya yang signiIikan secara klinis.
Faktor-Iaktor psikologis /i nilai berperan pokok /alam onset, tingkat keparahan, kea/aan
yang memburuk, atau persistensi nyeri.
Nyeri itu bukan pura-pura atau sengaja /ibuat.
5. BODY DYSOR!HIC DISORDER (angguan DismorIik %ubuh)
angguan /ismorIik tubuh a/alah gangguan yang memiliki preokupasi /isroptiI pa/a
kekurangan yang /ibayangkan ter/apat pa/a penampilan seseorang (imagine/ ugliness).
Artinya /imana seseorang memiliki preokupasi /engan kecacatan tubuh yang ti/ak nyata
(misalnya hi/ung yang /irasakan kurang mancung), atau keluhan yang berlebihan tentang
kekurangan tubuh yang minimal atau kecil. Orang pa/a gangguan /ismorIik tubuh terpaku
pa/a kekurangan Iisik yang /ibayangkan atau /ibesar-besarkan /alam hal penampilan
mereka. ereka /apat menghabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksakan /iri /i /epan
cermin /an mengambil tin/akan yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang
/ipersepsikan, bahkan menjalani operasi plastik yang ti/ak /ibutuhkan. !a/a gangguan ini
Iaktor subjektivitas berperan penting. !enyebab gangguan hingga saat ini belum /apat
/iketahui /engan pasti. Namun /iperkirakan ter/apat hubunganhubungan antara gangguan
/engan pengaruh bu/aya atau sosial, /engan a/anya konsep stereotip tentang kecantikan.

E PENNNN NUN $TR
O !enanganan biasanya melibatkan terapi psiko/inamika atau kognitiI-behavioral.
O P !enanganan Biome/is yakni penggunaan anti /epresan yang terbatas /alam
menangani hipokon/reasis.
O P %erapi kognitiI Behavioral /apat berIungsi pa/a menghilangkan sumber-sumber
reinIorcement sekun/er( keuntungan sekun/er), memperbaiki perkembangan keterampilan
coping untuk mengatasi stress /an memperbaiki keyakinan yang berlebihan atau ter/istorsi
mengenai kesehatan atau penampilan seeorang
O %erapi psiko/inamika atau yang berorientasi terha/ap pemahaman /apat /itujukan
untuk mengi/entiIikasi /an mengenali konIlik-konIlik yang men/asarinya.