Anda di halaman 1dari 7

ANESTESI UNTUK PASIEN LUKA BAKAR

Pasien luka bakar biasanya akan menjalani berbagai prosedur pembedahan dan anestesi. Cidera dengan kedalaman dan ketebalan penuh akan membutuhkan grafting yang luas untuk perbaikannya. Terapi definitif untuk luka bakar ketebalan partial meliputi pembuangan eskar, yang dapat nerperan sebagai media kultur yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Bedah perbaikan dapat dilakukan pada luka bakar ketebalan penuh, yang basanya diambil dari kulit paha, aksila atau split thickness dari beberapa area. Kosmetik, durabilitas dan massa jaringan akan lebih baik dengan menggunakan grafting full thickness. 1,12,17,18,19

Manajemen Anestesi
Yang harus diperhatikan dalam manajemen anestesi pasien luka bakar bahwa selalu ditekankan pasien diperlakukan sebagai : 1. Difficult airway 2. Inadequate resuscitated patient 3. Difficulty in establishing IV access 4. Hyperkalemic response to scoline 5. Resistance to non-depolarising muscle relaxant 6. Significant blood and plasma loss 7. Penderita yang memerlukan perhatian khusus untuk posisi 8. Mudah jatuh pada kondisi hipotermia 9. Membutuhkan postoperative analgesia Sangat penting untuk mengetahui tipe dari jenis luka bakar untuk meng assesment kerusakan jalan napas, gangguan fungsi organ lain yang disebabkan oleh trauma luka bakar, kemungkinan kerusakan jaringan lain. I .PRIMARY SURVEY a. Airway dan cervical spine proteksi b. Breathing dan ventilasi c. Sirkulasi dan kontrol perdarahan

d. Disability- pemeriksaan neurologis e. Exposure II. SECONDARY SURVEY a. History / anamnesa Anamnesa stantard yang harus kita lakukan pada persiapan preoperatif tetap harus kita lakukan seperti : c. riwayat penyakit sekarang riwayat penyakit dahulu riwayat pengobatan atau obat-obatan yang pernah dan atau masih dikonsumsi riwayat alergi riwayat operasi dahulu riwayat anestesi dahulu Pemeriksaan Penunjang :

b. Pemeriksaan fisik/lengkap mulai kepala-kaki 1. Darah rutin 2. Darah Lengkap 3. Albumin 4. RFT dan LFT 5. Elektrolit, Na, K, Cl, HCO3 6. Blood urea nitrogen 7. Urinalisa 8.Foto Thorak 9. AGD 10. Carboxy Hemoglobin 11. ECG Assement Preop 1. Evaluasi : - Penilaian survai primer - Penilaian survai sekunder

- Derajat luka bakar - Luas luka bakar - Daerah yanag akan dioperasi 2. Evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium dan penunjang lainnya 3. Pertimbangan pemberian premedikasi di ruang perawatan 4. Pertimbangan analgesi yang adekuat. 5. shivering 6. 7. Monitoring ketat status haemodinamik Replace blood early Minimalisir heat loss untuk menghurangi insiden post-op

8. Harus ada komunikasi yang baik antara ahli anestesi dan ahli bedah untuk mempersiapkan pasien dengan optimal. Penilaian jalan napas rutin dilakukan dnegan perhatian adanya luka bakar di wajah yang akan dan pergerakan leher. Pertimbangan pemberian nutrisi pre-operatif yang adekuat mempengaruhi kebijakan menentukan puasa sebelum operasi. Biasanya pasien mendapatkan asupan makanan enteral melalui pipa nasogstrik. Pasien yang sudah terintubasi tidak perlu dipuasakan , etapi apabila belum di intubasi perlu puasa setidaknya 4 jam sebelum operasi. Penelitian menunjukkan terdapatnya penurunan produksi asam lambung pada periode awal pasca luka bakar. 14,18 Penatalaksanaan Durante Operasi Monitor durante operasi tergantung pada kondisi medis pasien dan jenis pembedahan. Pemasangan elektrokardiogram pada daerah yang terkena luka bakar dapat menggunakan elektroda berjarum. Apabila ujung jari tidak akurat mengukur saturasi menggunakan oksimetri nadi, maka dapat dignakan tempat lain seperti telinga, hidung, atau lidah. Pemasangan monitor invasif (kateter vena sentral, kateter arteri pulmonal dan lain-lain) mempersulit ventilasi sungkup muka. Adanya edema, jaringan parut atau kontraktur akan membatasi pembukaan mulut

dapat dipasang sesuai indikasi. Monitor temperatur sangat diperlukan, karena biasanya pasien mudah jatuh dalam kondisi hipotermia. Suhu kamar operasi diupayakan > 28C dan semua cairan intravena harus dihangatkan terlebih dahulu. Monitoring yang diperlukan selama tindakan eksisi dan pelaksanaan grafting adalah pertimbangan tindakan eksisi pada jaringan yang mati biasanya berhubungan dengan kejadian blood loss. Terutama jika operasi dilaksanakan setelah beberapa hari setelah kejadian trauma. Pemasangan kateter vena sentral akan sangat membantu pada pasien yang mengalami kesulitan akses vena. Jika diperlukan, pengukuran tekanan darah noninvasive harus dilakukan sebagai back up arterial line. Terjadinya heat loss melalui jaringan kulit yang terbakar merupakan masalah serius pada pasien luka bakar yang harus dimonitor. Hipotermi dapat diminimalisisr dengan memakai warming blankets dan heat lamps, meningkatkan suhu/temperatur ruangan operasi, humidifikasi gas inspirasi, dan menghangatkan cairan yang dimasukkan pada akses intravena. Pengaruh luka bakar farmakologi obat-obat anestesi Obat anestesi volatil akan mengakibatkan eksaserbasi depresi Pilihan myokardial. Karena itu Halothane merupakan agent yang harus dihindari terutama jika Epinefrin dipakai untuk penataksanaan blood loss. agen inhalasi antara Halothane, Enflurane, Isoflurane dan Sevoflurane tidak terbukti mempengaruhi hasil akhir anestesi pada luka bakar. Bermacam jenis obat intravena menunjukkan hasil yang baik pada pasien luka bakar. Ketamin memberikan keuntungan hemodinamik yang stabil dan untuk menghasilkan analgesia yang adekuat untuk penggantian pembalut luka bakar. Ethomidate dapat menjadi pilihan alternatif dari Ketamine pasien yang hemidinamik tidak stabil. Penggunaan Propofol dan Thiopental harus dipastikan pasien sudah diresusitasi dengan adekuat dan tidak dalam kondisi sepsis. 5,18,19

Selain

pertimbangan

pemilihan

obat

induksi

dan

pemiiharaan,

penggunaan opioid dalam anestesi pada pasien luka bakar merupakan hal penting. Pasien luka bakar mengalami nyeri sangat hebat, dan biasanya memerlukan opioid dosis besar untuk tetap merasa nyaman meskipun tidak dilakukan tindakan pada luka bakar ataupun tidak bergerak. Penggunaan antiansietas ambang nyeri. Analgetik lain yang dapat digunakan saat penggantian balut adlah Ketamine NSAID ang memberikan pada beberapa yang keuntungan menjalani seperti luas analgetik, ataupun peningkatan curah jantung, depresi napas minimal. Penggunaan analgetik dihindari pasien eksisi pencangkokkan kulit, karena memiliki efek antiplatelet dan efek nefrotoksik. Hati-hati pada pemberian cairan, tindakan resusitasi cairan yang agresif memiliki resiko kelebihan cairan yang dapat berupa edema jaringan lunak. Apabila pada akhir operasi tampak edema pada wajah pasien, kemungkinan juga terdapat edema pada jalan napas, sehingga ekstubasi ditunda sampai edema menghilang. Teknik anestesi harus meliputi sedasi, amnesia, analgesia dan stabilitas hemodinamik. Pada umumnya balans anestesi dengan menggunakan oksigen, narkotik, relaksan otot dan agen volatile. Kehilangan darah yang bermakna harus diantisipasi khusus harus ditujukan untuk pemberian ventilasi yang adekuat, oksigenasi, pembuangan sekresi dan pertahanan ginjal. Dengan luka bakar yang ekstrim maka torniquet bisa digunakan untuk meminimalisir perdarahan. Pada pasien luka bakar normothermi kurang lebih berada pada 38,5C yang disebabkan karena penyesuaian pada pusat pengaturan suhu di hypothlamus dan hipermetabolisme setelah luka bakar. Hipotermia akan menyebabkan peningkatan stess fisiologis, penurunan metabolisme obat, peningkatan komplikasi perdarahan dan sukarnya penyembuhan luka. Suhu ruangan harus ditingkatkan untuk mencegah terjadinya gradien pendinginan yang berlebihan. Selimut penghangat, cairan penghangat dna gas yang juga perlu diberikan karena kecemasan dapat menurunkan

dilmbabkan dapat diberikan untuk mencegah terjadinya hipotermia. Labilitas hemodinamik selama resusitasi awal diperkirakan dapat menjadi penyulit pada saat operasi. Monitor hemodinamik tambahan direkomendasikan pada kondisi seperti ini. Tekanan jalan napas yang tinggi dapat diantisipasi selama ventilasi mekanis akibat penyakit restriktif pada dinding dada dari eskar yang berkontraksi, bronkospasme, sekresi pulmoner dan kemungkinan pneumonia. 1,5,14,20,21 Penggunaan Pelumpuh Otot Pasien luka bakar mengalami resistensi terhadap pelumpuh otot non depolarisasi. Fenomena ini terjadi dalam beberapa minggu sampai dengan sekitar 18 bulan pasca terjadi luka bakar. Resistensi ini nyata terjadi jika area yang terkena luka bakar minimal 30% total area permukaan tubuh. Luka bakar menyebabkan terjadinya proliferasi reseptor asetilkolin di tempat luka bakar dan ditempat selain yang terkena luka bakar. Iritasi lokal ataupun proses inflamasi pada otot yang terkena luka bakar diduga sebagai mekanisme terjadinya proliferasi asetilkolin. Resistensi terhadap pelumpuh otot nondepolarisasi berarti memerlukan dosis yang lebih besar dan durasi obat akan lebih singkat. Pemberian obat Sucnilcholine merupakan kontra indikasi pada pasien luka bakar setelah 24 jam pertama pasca trauma. Karena dapat menyebabkan cardiac arrest pemberian Succinicholine karena terjadi peningkatan bermakna dari dengan peningkatan reseptor-

serum Potassium. Juga bisa terjadi prolonge depolarisasi otot-otot setelah berhubungan reseptor postjunctional asetilkolin. Pada pemeriksaan dengan kontras pada pasien luka bakar terlihat peningkatan dibandingkan dengan obat pelumpuh otot nondepolarisasi. Hal ini berhubungan dengan protein binding dan peningkatan jumlah reseptor asetilkolin extrajunctional. Ketika Suksinilkolin diberikan dalam 24-48 jam setelah cidera dapat menyebabkan hiperkalemia yang letal. Depolarisasi dari pengaturan reseptor asetilkolin ekstrajungtional pada jaringan yang terbakar kontraksi otot yang berlebihan dan

mengakibatkan pelepasan kalium intra seluler ke area luka bakar. Kadar kalium sebesar 10 mEq/L telah direkomendasikan.
5,19

Namun pada sisi lain

pasien luka bakar cenderung resisten terhadap muscle relaxant Non depolarisasi sehingga membutuhkan jumlah obat 2-5 kali lebih besar dari dosis normal. Setelah periode immobilisasi pada pasien trauma luka bakar, terjadi upregulasi dari fetal (2) nAChRs berhubungan blockers neuromuscular dan mature (2) nAChRs. Upregulasi dari resistensi peningkatan pada Nondepolarisasi terhadap dan sensitifitas dengan

Succinilcholine. Resistensi terhadap efek nondepolarizing neuromuscular blocking drugs biasanya terjadi pada pasien yang mengalami luka bakar lebih dari 25% total-body surface. Anestesi Regional Pengunaan teknik anestesi regional seperti epidural sangat berguna dalm tatalaksana nyeri pada pasien luka bakar, dengan tanpa tindakan pembedahan/ganti balut. Tetap harus dipertimbangkan untuk penggunaan anestesi regional misalnya ada atau tidak luka bakar pada daerah yang akan dilakukan insersi yang akan mempermudah terjadinya infeksi.

Manajemen post operasi Hal-hal yang harus diperhatikan setelah post operasi adalah : - Kebutuhan oksigen pasien - Kebutuhan pasien untuk nyeri post operative - Temperatur tubuh pasien, kemungkinan membutuhkan penghangat - Kebutuhan cairan pasien

Anda mungkin juga menyukai