Anda di halaman 1dari 21

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) PENDAHULUAN Keselamatan adalah merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam suatu pekerjaan. Apabila keselamatan ini tidak dapat dipenuhi sesuai dengan bahaya dan resiko yang ada dalam suatu pekerjaan maka akan menimbulkan suatu kecelakaan. Kecelakaan ini dapat menimbulkan suatu kerugian baik secara materi maupun waktu. Ini pada akhirnya akan berimbas pada masalah ekonomi. Standart dari keselamatan disesuaikan sesuai dengan ruang lingkup dari pekerjaan itu sendiri. Karena setiap ruang lingkup pekerjaan mempunyai bahaya serta resiko yang berbeda beda. Dengan menganalisa ini maka dapat ditentukan peralatan peralatan keselamatan yang wajib disediakan. Dalam dunia maritime terutama perkapalan keselamatan harus diprioritaskan salah satunya adalah dengan melengkapi kapal dengan peralatan keselamatan. Peralatan keselamatan ini diatur sesuai dengan standart keselamatan yang ada dikapal. Standart keselamatan ini berbeda beda sesuai dengan tipe kapalnya. Sehingga suatu perkumpulan profesi keselamatan pelayaran internasional (IMO) tahun 1974 melakukan suatu konvensi yang manghasilkan suatu regulasi yang mengatur masalah keselamatan dalam pelayaran yaitu SOLAS (Safety Of Life At Sea). Yang berisi tentang resolusi untuk menangani keselamatan yang berhubungan dengan stability, machinery dan electrical installation; fire protection, Life saving, radiocommunication, safety navigation, dan perlengkapan yang lain yang berhubungan dengan muatan yang berbahaya.

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea)

SOLAS
Peraturan 7 Alat - alat penolong personil 1 Alat-alat Apung .1 harus didistribusikan sedemikian rupa sehingga tersedia pada kedua sisi kapal dan sepanjang dapat memungkinkan di seluruh geladak yang membentang di sisi kapal; minimal satu alat apung harus ditempatkan di sekitar buritan; .2 harus ditempatkan sedemikian rupa hingga dapat dilepas dengan cepat, dan tidak diikat secara permanen dengan cara apapun. 1.2 Minimal sebuah alat-alat apung di masing-masing pada sisi kapal harus dilengkapi tali penolong terapung dengan panjang yang sama tidak boleh kurang dari dua kali tinggi dimana pelampung disimpan diatas garis air pada saat kondisi berlayar tanpa muatan, atau 30 meter, diambil yang lebih besar. 1.3 Tidak kurang dari setengah jumlah total alat apung harus disediakan dengan dilengkapi lampu yang dapat menyala sendiri; tidak kurang dari dua alat apung juga harus disediakan sinyal asap yang dapat aktif sendiri dan mampu dilepas dengan segera dari anjungan navigasi; alat apung dengan lampu dan dan alat apung yang dilengkapi dengan sinyal asap harus didistribusikan merata dikedua sisi kapal dan harus bukan berupa alat apung yang dilengkapi dengan tali-tali penyelamatan. 1.4 Masing-masing alat apung harus ditandai menggunakn huruf tebal jenis roman dengan mencantumkan nama dan pelabuhan pendaftar kapal yang membawa alat apung tersebut. 2 Baju Penolong tambahan: .1 sejumlah baju penolong yang cocok untuk anak-anak yang sama dengan 10% jumlah penumpang di kapal harus disediakan atau jumlah yang lebih besar sesuai kebutuhan baju penolong untuk masing-masing anak. 1.1 Alat-alat apung:

2.1 Baju penolong harus disediakan untuk setiap personil kapal dan, dengan

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) .2 sejumlah yang memadai untuk baju penolong harus berada diatas kapal untuk petugas jaga dan digunakan untuk stasiun kendaraan penolong yang berlokasi berjauhan. 2.2 Baju penolong harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat dijangkau dengan mudah dan posisi baju penolong harus berada ditempat yang terlihat. Jika, karena penataan ruang-ruang pokok di kapal, baju penolong yang disediakan mungkin tidak dapat dijangkau Peraturan 20 Kendaraan penolong dan perahu penyelamat 1 Kendaraan Penolong bukan pelayaran Internasional jarak dekat harus membawa : .1 Sekoci-sekoci penolong yang mana pada tiap sisinya dengan jumlah keseluruhan kapasitasnya sedemikian rupa sehingga menampung 50% jumlah semua orang di atas kapal. Badan Pemerintah boleh mengizinkan penggantian sekoci penolong dengan rakit penolong yang kapasitasnya setara dengan catatan untuk setiap sisi tidak pernah kurang dari jumlah sekoci penolong.pada setiap sisi yang menampung tidak kurang 37,5% dari jumlah orang yang ada diatas kapal. Rakit penolong harus dilayani oleh alat peluncur yang didistribusi secara merata ke dua sisi kapal; dan .2 Sebagai tambahan, rakit-rakit penolong dengan jumlah kapasitas yang cukup untuk menampung 25% dari jumlah semua orang diatas kapal. Rakit- rakit penolong tersebut dapat dilayani setidaknya satu alat peluncur pada setiap sisi atau perlengkapan setara yang disetujui untuk digunakan pada kedua sisinya. 1.2 Kapal-kapal penumpang yang digunakan dalam pelayaran Internasional jarak dekat dan memenuhi standar khusus Peraturan II - 1/6.5 harus membawa : .1 Sekoci penolong yang terbagi rata, sejauh memungkinkan pada tiap sisisisi kapal dengan jumlah keseluruhan kapasitas sedemikian sehingga menampung 30% jumlah semua orang diatas kapal dan rakit-rakit subdivisi yang ditentukan dalam 1.1 Kapal-kapal penumpang yang digunakan dalam pelayaran Internasional

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) penolong dengan jumlah kapasitas total bersama dengan kapasitaskapasitas sekoci penolong, rakit penolong akan menampung keseluruhan jumlah personil di atas kapal. Rakit penolong harus dilayani peralatan peluncuran yang didistribusi secara merata pada setiap sisi kapal; dan .2 Sebagai tambahan, rakit-rakit penolong dengan jumlah kapasitas yang cukup untuk menampung 25% dari jumlah semua orang diatas kapal. Rakit penolong tersebut harus dilayani oleh paling sedikit satu alat peluncur pada setiap sisi kapal atau peralatan setara yang disetujui yang mampu untuk digunakan pada kedua sisi. 1.3 Kapal penumpang yang digunakan dalam pelayaran International jarak dekat dan tidak memenuhi standart khusus tentang sub divisi yang tercantum pada peraturan II-1/6.5, harus membawa sekoci penolong yang ketentuannya memenuhi paragraf 1.1. 1.4 Seluruh kendaraan penolong yang diperlukan untuk meninggalkan kapal bagi semua orang di atas kapal harus dapat diluncurkan bersama dalam waktu 30 menit sejak sinyal untuk meninggalkan kapal dibunyikan. 1.5 Sebagai pengganti untuk memenuhi persyaratan paragraf 1.1 ; 1.2 ; atau 1.3 kapal penumpang dengan tonase kurang dari 500 dimana jumlah penumpang dikapal kurang dari 200, boleh memenuhi hal berikut : .1 Harus diletakkan pada setiap sisi kapal, rakit penolong yang memenuhi persyaratan peraturan 39 dan 40, jumlah kapasitas totalnya mampu untuk menampung jumlah semua orang kapal. .2 Kecuali apabila rakit penolong yang diperlukan sesuai paragraf 1.5.1 dapat dipindahkan peluncurannya pada sisi lain di kapal, selain itu harus tersedia rakit penolong dengan kapsitas sedemikian rupa sehingga pada setiap sisinya mampu menampung 150% jumlah orang diatas kapal. .3 Jika perahu penyelamat yang diperlukan sesuai paragraf 2.2, adalah juga merupakan sekoci penolong, maka harus diperhitungkan juga dalam berlakunya total yang dipersyaratkan pada paragraf 1.5.1 dengan catatan jumlah keseluruhan yang ada pada salah satu sisi kapal paling sedikit 150% dari jumlah orang diatas kapal.

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) .4 seluruh jumlah orang kapal pada keadaan tertentu dimana perahu penyelamat hilang atau rusak tidak terawat, maka harus tersedia perahu penyelamat yang mencukupi pada salah satu sisi kapal yang mampu menampung. Peraturan 21 Alat penolong masing-masing personil 1 Pelampung-pelampung penolong jumlahnya sesuai dengan persyaratan pada peraturan 7.1 dan 31 yang tertera dalam tabel berikut, 1.1 Suatu kapal penumpang harus membawa alat-alat pelampung penolong yang

Panjang kapal dalam meter dibawah 60 60 sampai dibawah 120 120 sampai dibawah 180 180 sampai dibawah 240 240 atau lebih

Jumlah minimum pelampung 8 12 18 24 30

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea)

1.2 Kapal penumpang yang panjangnya kurang dari 60 m harus membawa tidak boleh kurang dari 6 pelampung yang dilengkapi dengan lampu yang dapat menyala sendiri. 2 Baju penolong

Sebagai tambahan pada baju penolong, setiap kapal penumpang harus membawa baju penolong tidak boleh kurang dari 5% dari seluruh jumlah orang diatas kapal. Baju penolong ini harus disimpan ditempat yang terlihat dengan jelas di geladak kapal dan tempat berkumpul. 3 Lampu baju penolong penumpang yang dibangun sebelum 1 Juli 1986, persyaratan pada paragraf ini harus diberlakukan sejak 1 Juli 1991. 3.2 Pada kapal penumpang yang digunakan dalam pelayaran Internasional, yang bukan pelayaran Internasional jarak dekat, masing-masing baju penolong harus dilengkapi lampu. 4 Baju tenggelam dan baju hangat penumpang yang dibangun sebelum 1 Juli 1986, persyaratan paragraf ini berlaku sejak 1Juli 1991. 4.2 Kapal penumpang harus membawa untuk tiap sekoci penolong setidaknya 3 baju untuk tenggelam dan sebuah baju hangat untuk tiap orang yang diangkut dalam sekoci penolong yang tidak dilengkapi dengan baju tenggelam.Baju tenggelam dan baju hangat ini tidak perlu dibawa : .1 Untuk orang yang dimuat dalam sekoci penolong yang tertutup keseluruhan atau tertutup sebagian; atau

3.1 Paragraf ini berlaku untuk seluruh kapal-kapal penumpang.Khusus kapal

4.1 Paragraf ini berlaku untuk seluruh kapal penumpang. Terhadap kapal

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) .2 Bila kapal selalu berlayar di daerah beriklim hangat dimana menurut pendapat Badan Pemerintah, pemakaian baju hangat tidak diperlukan. 4.3 Ketentuan paragraf 4.2.1 juga berlaku untuk sekoci penolong yang tertutup sebagian atau keseluruhannya dengan catatan mereka berada di kapal yang dibangun sebelum 1 Juli 1986. Peraturan 22 Tata susunan embarkasi kendaraan penolong dan perahu penyelamat. 1 Pada kapal penumpang, tata susunan kendaraan penolong harus didesain agar : .1 Seluruh sekoci penolong yang diturunkan dan diluncurkan dengan cara salah satu langsung dari penempatannya atau dari geladak embarkasi tidak pernah dilakukan untuk keduanya. .2 Kendaran penolong yang diturunkan dengan dewi-dewi dan diluncurkan dari suatu posisi yang berdekatan dengan penempatannya. Tata susunan perahu penyelamat harus sedemikian rupa sehingga dapat diturunkan atau diluncurkan langsung dari tempat posisi penyimpanan dengan jumlah orang yang ditentukan untuk dikelompokkan pada keadaan penyelamat tersebut di kapal. Bila perahu penyelamat adalah juga sekoci penolong dan sekoci penolong yang lain diturunkan atau diluncurkan dari geladak embarkasi, tata susunannya harus sedemikian rupa sehingga perahu penyelamat juga dapat diturunkan atau diluncurkan dari geladak embarkasi. Peraturan 23 Penempatan Rakit Penolong Pada kapal penumpang, tiap rakit penolong harus ditempatkan bersama dengan tali pengikatnya diikat secara permanen ke kapal dengan suatu tata susunan penyimpanan bebas sehingga, sejauh memungkinkan, alat pengapung bebas dari rakit penolong dan jika dapat dihembuskan ketika kapal tenggelam.

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) Peraturan 24 Tempat berkumpul Setiap kapal penumpang, harus mempunyai tempat pengumpulan penumpang yang harus : .1 Disekitarnya dan memungkinkan jalan yang siap pakai bagi penumpang untuk memasuki stasiun embarkasi kecuali jika berada di tempat yang sama. .2 Mempunyai ruang yang luas untuk mengatur dan memberi instruksi kepada penumpang Peraturan 24-1 2 Rakit penolong maritim atau peralatan luncur yang didistribusikan secara merata pada setiap sisi kapal. 2.2 Setiap rakit penolong pada kapal penumpang ro-ro harus dilengkapi dengan tata susunan penempatan pengapung. 2.3 Setiap rakit penolong pada kapal penumpang ro-ro harus dilengkapi dengan rampa untuk pelepasan. 2.4 Setiap rakit penolong pada kapal penumpang ro-ro harus secara otomatis tegak sendiri atau dapat dipasang kanopi pada kedua sisi yang stabil di laut sebagai alternatif, kapal harus membawa rakit penolong yang dapat tegak dengan sendirinya secara otomatis atau rakit penolong yang dapat dipasang kanopi pada kedua sisinya sebagai tambahan dari penumpang pada kondisi rakit penolong yang normal, kapasitas totalnya harus mampu menampung paling tidak 50% dari orang yang tidak tertampung dalam sekoci penolong.Tambahan kapasitas rakit penolong harus ditentukan berdasarkan selisih jumlah orang diatas kapal dan jumlah orang yang tertampung dalam sekoci penolong. Setiap rakit penolong tersebut harus disetujui oleh Badan Pemerintah dengan memperhatikan rekomendasi yang ditetapkan oleh Organisasi. Peraturan 27 2.1 Rakit penolong kapal penumpang ro-ro harus dilayani oleh sistem evakuasi

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) Peralatan keselamatan jiwa 1 Pelampung penolong penolong yang memenuhi peraturan 7.1 dan 31, yang tercantum dalam tabel berikut: 1.1 Kapal barang harus membawa sedikitnya jumlah pemlah pelampung

Panjang kapal (meter)

Jumlah minimum pelampung penolong

kurang dari 100 100 sampai dengan 150 150 sampai dengan dibawah 200 200 atau lebih

8 10 12 14

1.2 Lampu yang dapat menyala sendiri untuk pelampung penolong pada kapal tangki minyak harus berupa batere listrik. 2 Lampu baju penolong yang dibangun sebelum 1 Juli 1986. Paragraf ini harus mulai berlaku sejak 1 Juli 1991. 2.2 Pada kapal barang tiap baju penolong harus dilengkapi dengan lampu 3 Baju tenggelam dan baju hangat

2.1 Paragraf ini berlaku untuk seluruh kapal barang. Khusus untuk kapal barang

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) 3.1 Paragraf ini berlaku untuk seluruh kapal barang. Khususnya untuk kapal barang yang dibangun sebelum 1 Juli 1986, paragraf ini harus berlaku sejak 1 Juli 1991. 3.2 Kapal barang harus membawa untuk tiap sekoci penolong diatas kapal sedikitnya tiga baju penolong dan memungkinkan satu baju tenggelam yang untuk setiap orang diatas kapal, disamping itu, sebagai tambahan,kapal harus membawa baju hangat untuk orang-orang diatas kapal tidak dilengkapi dengan baju tenggelam. Baju tenggelam dan baju hangat tersebut tidak perlu disediakan apabila kapal : .1 memiliki sekoci penolong yang tertutup secara keseluruhan pada setiap sisi kapal dengan kapasitas keseluruhan sama dengan semua orang diatas kapal atau .2 mempunyai sekoci penolong yang tertutup keseluruhan yang diluncurkan secara jatuh bebas pada buritan kapal, dengan kapasitas yang dapat menampung semua orang diatas kapal dan yang diletakkan dan diluncurkan secara langsung dari posisi penempatannya bersamaan dengan rakit penolong pada tiap sisi kapal dengan kapsitas yang dapat menampung semua orang diatas kapal; atau .3 senantiasa digunakan untuk pelayaran di daerah iklim yang hangat sehingga Badan Pemerintah mempertimbangkan bahwa baju tenggelam tidak diperlukan. 3.3 Kapal barang harus membawa baju tenggelam untuk tiap orang diatas kapal kecuali jika kapal : .1 .2 mempunyai dewi-dewi peluncur rakit penolong, atau mempunyai rakit penolong yang dilayani dengan alat setara yang disetujui dan mampu untuk digunakan pada kedua sisi kapal dan yang cara menaiki rakit penolong tersebut tidak perlu masuk air. .3 senantiasa melakukan pelayaran di daerah yang beriklim hangat sehingga Badan Pemerintah mempertimbangkan bahwa baju tenggelam tidak diperlukan. 3.4 Baju tenggelam 3.5 Sekoci penolong yang tertutup keseluruhan

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

10

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea)

Peraturan 31 Pelampung penolong .1 Spesifikasi pelampung penolong, .1 .2 mempunyai diameter luar tidak lebih dari 800 mm dan diameter dalam tidak kurang dari 400 mm; dibuat dari bahan yang bersifat mengapung; bahan tersebut bukan yang terpengaruh oleh pengkaratan, potongan-potongan gabus,butiran gabus, atau bahan butiran yang dapat rontok lainnya atau banyak memiliki rongga udara yang mempengaruhi daya apungnya. .3 .4 .5 .6 mampu menahan tidak kurang dari 14.5 kg besi dalam air tawar untuk kurun waktu 24 jam. mempunyai massa tidak kurang dari 2,5 kg. tidak mendukung pembakaran atau meleleh setelah diselimuti oleh api selama periode 2 detik. dibuat untuk tahan benturan saat jatuh kedalam air dari ketinggian tempat penempatannya diatas garis air pada kondisi laut paling tenang atau 30 m, dipilih mana yang lebih besar, tanpa merusak kemampuan operasionalnya , atau komponen yang terpasang padanya. .7 direncanakan untuk dapat dioperasikan dengan tata susunan pelepasan cepat dilengkapi dengan pengaktifan sendiri tanda asap dan lampu yang dapat menyala sendiri, yang mempunyai massa yang cukup untuk mengoperasikan susunan pelepasan cepat atau 4 kg dipilih mana yang lebih besar. .8 dilengkapi dengan tali pengaman dengan diameter minimum 9.5 mm dan panjangnya tidak kurang dari empat kali diameter luar daripelampung. Tali pegangan harus diikat secara erat dengan ampat simpul dengan jarak yang sama diseputar pelampung untuk membentuk empat jaringan. Peraturan 32 Baju penolong 1 Persyaratan umum baju penolong,

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

11

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) 1.1 Suatu baju penolong harus tidak menyala atau menjadi meleleh ketika diselimuti api selama 2 detik. 1.2 Suatu baju penolong harus dibuat sedemikian rupa sehingga: .1 .2 setelah demonstrasi orang mampu mengenakannya secara benar selama periode waktu 1 menit tanpa bantuan. dapat dipakai secara bolak-balik atau dengan jelas diberi tanda bahwa hanya dapat dipakai dari satu sisi dengan sejauh memungkinkan tidak akan salah dalam pemkaian. .3 .4 nyaman untuk dipakai. memungkinkan pemakai untuk loncat dari ketinggian paling tidak 4,5 m ke dalam air tanpa terluka dan tanpa merusak baju penolong tersebut. 1.3 Baju penolong harus mempunyai daya apung dan stabilitas di air tenang untuk : .1 mengangkat mulut orang yang kelelahan atau tak sadar tidak kurang dari 120 mm di atas air dengan tubuh condong ke belakang pada sudut yang tidak kurang 20 posisi vertikal. .2 memutar tubuh orang yang tak sadar di air dari segala posisi kearah dimana mulut berada di atas air dalam waktu tidak lebih dari 5 detik. 1.4 Baju penolong harus mempunyai daya apung yang tidak berkurang lebih dari 5% setelah 24 jam berada diair tenang. 1.5 Suatu baju penolong harus memungkinkan orang yang memakainya berenang pada jarak pendek untuk menaiki kendaraan penolong. 1.6 Setiap baju penolong harus dilengkapi peluit yang diikat oleh tali Peraturan 38 Persyaratan umum untuk rakit penolong 1 Konstruksi rakit penolong 30 hari mengapung disegala kondisi laut. 1.1 Setiap rakit penolong harus dibuat mampu bertahan ditempat terbuka selama
o

dan tidak lebih dari 50

dari

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

12

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) 1.2 Rakit penolong harus dibuat sedemikian rupa sehingga bila dijatuhkan ke air dari ketinggian 18 meter, rakit penolong dan perlengkapannya dapat beroperasi secara baik. Jika rakit penolong ditempatkan pada ketinggian lebih dari 18 meter di atas garis air, kapal dalam keadaan kosong, rakit tersebut harus dari jenis yang telah diuji paling sedikit pada ketinggian tersebut di atas. 1.3 Rakit penolong yang mengapung dapat bertahan untuk pengulangan terbanting-banting dari ketinggian setidak-tidaknya 4.5 meter di atas air untuk keduanya baik dengan ataupun tanpa tudung. 1.4 Rakit penolong dan perlengkapannya harus dibuat untuk memungkinkan ditarik pada kecepatan 3 knot pada air tenang bila dimuati dengan orang dan perlengkapannya dalam keadaan penuh dan dengan satu jangkar apung (kalakala). 1.5 Rakit penolong harus mempunyai tudung untuk melindungi pemakai terhadap sengatan panas yang secara otomatis terpasang pada tempatnya saat diluncurkan dan mencapai air. Tudung harus memenuhi persyaratan berikut ; .1 harus diberi lapisan isolasi panas dan dingin dengan cara salah satu yakni dua lapisan dari bahan yang terpisah oleh udara atau cara lain yang efisien. .2 .3 Harus tersedia sarana yang memberikan pencegahan berkumpulnya air di dalam celah udara ; interiornya harus berwarna yang tidak menyebabkan ketidak nyamanan pemakai. tiap jalan masuk harus digambarkan secara jelas dan dilengkapi dengan tata susunan penutup yang dapat diatur secara efisien yang dapat secara cepat dan mudah dibuka dari dalam dan luar serta memungkinkan adanya ventilasi yang tidak dimasuki air laut, angin dan udara dingin. Rakit penolong yang mampu menampung lebih dari 8 orang harus mempunyai lubang masuk dari dua sisi yang simetris ; .4 .5 .6 harus memungkinkan udara yang cukup untuk penumpnag rakit setiap saat sekalipun dengan jalan masuk dalam keadaan tertutup. harus dilengkapi dengan paling tidak satu tempat untuk melihat keluar; harus dilengkapi dengan peralatan untuk mengumpulkan air hujan.

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

13

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) .7 harus mempunyai cukup ruang untuk duduk bagi penumpang rakit di bawah seluruh bagian tudung. 2 Kapasitas angkut minimum dan massa dari rakit penolong angkut kurang dari 6 orang. 2.2 Kecuali jika rakit penolong akan diluncurkan oleh perlengkapan peluncur yang disetujui memenuhi persyaratan dan tidak perlu dapat dijinjing, dengan massa keseluruhan rakit penolong, wadah dan perlengkapannya tidak boleh dari 185 kg. 3 Perlengkapan rakit penolong

2.1 Tidak boleh ada rakit penolong yang disetujui yang mempunyai kapasitas

3.1 Tali penolong harus dipasang mengintari sisi luar dan dalam rakit penolong. 3.2 Rakit penolong harus dipasang dengan tali pengecang dengan panjang yang sama dan tidak kurang dari dua kali jarak dari posisi penempatannya ke garis air kapal muatan kosong atau 15 meter dipilih yang lebih besar. 4 Rakit penolong yang diluncurkan dengan dewi-dewi tambahan persyaratan diatas,suatu rakit penolong yang menggunakan peralatan peluncur yang disetujui harus ; .1 ketika rakit penolong dimuati alat-alat, penumpang dan perlengkapannya mampu menahan benturan melintang terhadap sisi kapal, pada kecepatan benturan yang tidak kurang dari 3.5 meter/detik dan juga jatuh ke air dan ketinggian yang tidak kurang dari 3 meter tanpa ada kerusakan yang akan mengurangi fungsinya. .2 dilengkapi dengan peralatan yang membawa rakit penolong sepanjang geladak embarkasi dan menahannya dengan aman selama embarkasi. 4.2 Setiap rakit penolong kapal penumpang yang diluncurkan dengan dewi-dewi harus disimpan sedemikian rupa sehingga dapat diturunkan secara cepat dengan penumpang penuh.

4.1 Sebagai

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

14

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) 4.3 Setiap rakit penolong kapal barang harus disusun sedemikian rupa sehingga rakit tersebut dapat diluncurkan dengan penumpang penuh dalam waktu tidak lebih dari 3 menit sejak saat instruksi diberikan. 5 Perlengkapan .1 .2 satu cincin pelampung penyelamat apung yang diikatkan pada tali apung yang tidak kurang dari 30 meter. satu pisau bukan jenis yang dapat dilipat mempunyai pegangan apung dan tali yang diikat dan ditempatkan dalam saku sisi luar dan tudung dekat tempat tali pantek diikatkan terhadap rakit apung. Sebagai tambahan suatu rakit penolong yang mampu menampung 13 orang atau lebih harus dilengkapi dengan pisau dari jenis yang tidak dapat dilipat. .3 untuk rakit penolong yang diizinkan menampung tidak lebih dari 12 orang, satu timba apung, sedangkan untuk rakit penolong yang diizinkan menampung 13 orang atau lebih dua timba apung. .4 .5 dua sepon. dua jangkar apung (kala-kala) satu buah dengan talinya yang tahan kejut dan tali pemutus, satu sebagai cadangan dan lainnya diikat secara permanen pada rakit penolong sedemikian rupa sehingga ketika rakit penolong mengembung atau mencapai air akan menyebabkan lelah rakit penolong dalam posisi di atas air pada kondisi yang paling stabil. Kekuatan dari setiap kala-kala tali penyekat dan tali pemutusan harus memadai untuk semua kondisi laut. Kala-kala harus dilengkapi dengan kili-kili pada bagian ujung dari tali dan dari dua jenis yang sedemikian rupa sehingga tidak akan berputar ke dalam atau ke luar diantara tali pengikatnya .6 .7 .8 dua kayuh apung. tiga pembuka kaleng (pemisah lipat yang berisi pembuka kaleng khusus dianggap memenuhi persyaratan) sebuah perangkat pertolongan pertama pada kecelakaan yang disimpan dalam kotak yang dapat ditutup secara kedap air setelah digunakan.

5.1 Perlengkapan normal tiap rakit penolong harus terdiri atas ;

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

15

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) .9 sebuah peluit atau isyarat bunyi yang sepadan

.10 empat buah cerawat parasut .11 enam buah obor tangan .12 dua buah isyarat asap apung. .13 sebuah lampu senter kedap air yang dapat digunakan untuk sinyal morse bersama dengan satu set batere cadangan dan satu bola lampu yang disimpan dalam kotak tahan air. .14 sebuah radar refleksi yang efisien, kecuali apabila ditempatkan sebuah radar transponder dalam rakit penolong. .15 satu cermin pemantul cahaya siang hari dengan instruksi penggunaannya untuk memberi tanda pada kapal dan pesawat terbang. .16 sebuah salinan dari isyarat marabahaya pada kartu yang tahan air atau yang tersimpan dalam kotak tahan air. .17 satu set peralatan pancing. .18 makanan yang kalorinya tidak kurang dari 10.000 kJ untuk tiap orang yang ada dalam rakit penolong ransum ini harus disimpan dalam tempat kedap udara dan disimpan dalam wadah yang kedap air. .19 wadah kedap air yang berisi total sebanyak 1.5 liter air tawar untuk tiap orang yang ada dalam rakit penolong, 0.15 liter per orang bisa digantikan dengan alat pembuatan air tawar yang mampu memproduksi air tawar untuk keperluan selama dua hari. .20 sebuah wadah air yang tidak berkarat. .21 enam dus obat anti mabuk dan satu dus obat penyakit laut untuk satu orang yang mungkin diangkut dalam rakit penolong. .22 instruksi tentang cara mempertahankan hidup .23 instruksi tentang tindakan segera .24 baju hangat yang cukup untuk 10% jumlah orang yang ada dalam rakit penolong dipilih mana yang lebih besar. Peraturan 41 Persyaratan umum sekoci penolong 1 Konstruksi Sekoci Penolong

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

16

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) .1.1 Semua sekoci penolong harus dikonstruksi sebaik mungkin dengan bentuk

dan ukuranproposional sehingga mempunyai stabilitas yang cukup baik di laut dan lambung timbul yang psotif saat dimuati orang dan semua perlengkapannya secara lengkap. Semua sekoci penolong harus mempunyai lambung yang tegar dan harus dapat mempertahankan stabilitas positif agar tetap dalam keadaan tegak ketika di laut yang tenang serta ketika dimuati secara penuh berikut perlengkapannya dan apabila ada kebocoran di bawah garis air dengan anggapan tidak ada kehilangan bahan apung dan tidak ada kerusakan yang lain. 1.2 Semua sekoci penolong harus mempunyai kekuatan yang cukup untuk : .1 .2 memungkinkan untuk diturunkan secara aman ke air apabila dimuati dengan penuh orang dan semua perlengkapannya secara lengkap; atau mampu diluncurkan dan ditunda saat kapal maju dengan kecepatan 5 knot pada air tenang. 1.3 Lambung dan penutup yang tegar harus tahan api atau tidak mudah terbakar. 1.4 Tempat duduk harus disediakan pada posisi melintang, bangku dan kursi yang terpasang tetap ditempatkan serendah mungkin dalam sekoci penolong dan dibuat sedemikian rupa sehingga mampu untuk menopang orang yang beratnya 100 kg pada ruang yang tersedia. 1.5 Setiap sekoci penolong harus mencukupi kekuatannya untuk menahan beban tanpa ada defleksi yang tersisa apabila beban itu dipindahkan : .1 dalam hal sekoci penolong dari logam 1,25 kali massa total dari sekoci penolong ketika dibebani dalam kondisi penumpang beserta bawaannya dan perlengkapannya secara penuh. .2 dalam hal bahan sekoci yang lain, 2 kali massa sekoci penolong ketika dibebani dalam kondisi penumpang, beserta bawaannya dan perlengkapannya secara penuh. 1.6 Setiap sekoci penolong harus mempunyai kekuatan yang mencukupi untuk menahan apabila dimuati penumpang beserta bawaannya dan perlengkapannya dalam keadaan penuh dan apabila memungkinkan papan atau pisang-pisang yang terpasang di samping mampu menahan benturan terhadap lambung kapal dengan kecepatan benturan paling tidak 3.5 m/detik dan juga dijatuhkan ke air dari ketinggian paling sedikit 3 m.

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

17

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea)

2.

Kapasitas angkut sekoci penolong

2.1 Sekoci penolong tidak diperbolehkan mengangkut lebih dari 150 orang. 2.2 Jumlah orang yang diizinkan diangkut dalam sekoci penolong harus ama atau lebih kecil dari : .1 orang-orang mempunyai berat rata-rata 75 kg, semuanya mengenakan baju penolong yang dapat duduk dalam posisi normal tanpa bersentuhan dengan alat penggerak utama atau semua perlengkapan pengoperasian, atau .2 jumlah tempat yang tersedia dalam perencanaan tempat duduk sesuai gambar 1. Bentuknya dapat tumpang tindih seperti diperlihatkan asalkan dipasang tempat kaki dan tersedia ruangan yang cukup untuk kaki dan pemisah vertikal antara tempat duduk atas dan bawah yang kurang dari 350 mm. 2.3 Setiap posisi tempat duduk harus ditunjukkan secara jelas dalam sekoci penolong. Perlengkapan Sekoci Penolong tidak

8.

Semua perlengkapan sekoci penolong, baik yang disyaratkan oleh paragraf ini atau dari tempat lain pada bab ini, dengan pengecualian untuk kait sekoci harus terbebas dari peralatan yang merintangi, harus diikat pada sekoci penolong dengan tali pengait, disimpan dalam lemari atau kompartemen, disimpan dalam ruangan atau tata susunan penempatan yang serupa atau peralatan lain yang sejenis. Perlengkapan ini harus diamankan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu setiap prosedur penggalan kapal. Semua perlengkapan sekoci penolong harus berukuran kecil dan seringan mungkin dan harus dikemas secara baik dalam bentuk yang rapi. Kecuali apabila dengan tegas dinyatakan lain, perlengkapan dari setiap sekoci penolong pada umumnya harus terdiri atas : .1 dayung apung yang cukup untuk mengayuh sekoci penolong melaju pada air tenang. Penahan dayung beserta pasaknya atau tali susunan yang setara harus disiapkan untuk setiap dayung yang ada. Pasak atau penahan dayung harus diikat ke sekoci dengan tali ikat atau rantai ;

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

18

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) .2 .3 .4 dua batang kait sekoci ; sebuah gayung apung dan dua timba ; petunjuk untuk mempertahankan hidup ; atau dilengkapi dengan sarana penerangan yang memadai. Pada sekoci penolong yang tertutup keseluruhan, rumah kompas dipasang permanen pada tempat pengemudian; pada setiap jenis sekoci penolong yang lain, kompas tersebut harus dilengkapi dengan tata susunan perlindungan yang memadai .6 Kala-kala (jangkar apung) dengan ukuran yang memadai dengan tali yang tahan hentakan dan sebuah tali pengarah yang menyediakan sebuah pegangan tangan yang kuat saat basah.Kuat tarik dari jangkar, kabel, dan tali pengarah harus memadai untuk semua kondisi laut. .7 Dua tali pengikat yang effesien yang panjangnya tidak kurang dari dua kali jarak dari posisi penyimpanan sekoci penolong ke garis air muatan kapal kosong atau 15 meter, diambil yang lebih besar. Sebuah tali pengikat diikatkan ke alat pelepas harus ditempatkan pada ujung depan dari sekoci penolong dan yang lain harus benar-benar diikat secara aman pada dekat ujung haluan dari sekoci penolong yang siap digunakan. .8 .9 Dua kapak, satunya berada di ujung sekoci penolong. Wadah-wadah kedap air yang berisi jumlah dari 3 liter air tawar untuk setiap orang yang diizinkan diangkut dalam sekoci penolong, yang mana 1 liter per orang boleh digantikan dengan alat pemurni air asin yang mampu memproduksi air tawar sejumlah itu dalam waktu 2 hari. .10 Sebuah sumbat yang tahan karat. .11 Tempat air minum yang tahan karat. .12 Ransum makanan total tidak kurang dari 10.000 kJ untuk setiap orang yang diizinkan dimuat dalam sekoci penolong, persediaan ini harus terlindung dalam kemasan kedap udara dan diletakkan dalam wadah kedap air ; .13 Empat cerawat parasut yang mengeluarkan nyala api .14 Enam obor tangan .15 Dua isyarat apung yang memenuhi persyaratan peraturan 37;

.5 rumah kompas berisi kompas yang mendapat penerangan secara efisien

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

19

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea) .16 Satu buah lampu senter yang kedap air yang mampu untuk isyarat Morse, bersama dengan satu set cadangan baterai dan satu cadangan bola lampu dalam wadah kedap-air; .17 Satu cermin tanda bahaya beserta instruksinya untuk digunakan memberi tanda ke kapal dan pesawat udara pada siang hari; .18 Satu lembar daftar isyarat penyelamatan yang mengacu pada peraturan V/16 dalam sebuah kartu tahan air atau dalam wadah tahan air .19 Satu peluit atau tanda bunyi sejenis; .20 Satu set P3K yang disimpan dalam tempat tahan-air yang mampu ditutup rapat setelah digunakan .21 Enam dos obat anti-mabok laut dan satu tas mabok laut untuk setiap orang. .22 Sebuah pisau lipat yang diikatkan pada sekoci penolong dengan tali lanyard; .23 Tiga pembuka kaleng ; .24 Dua buah cakram penyelamat apung yang diikat pada tali yang tidak kurang dari 30 meter dari tali apung ; .25 Sebuah pompa tangan. .26 Satu set kail penangkap ikan. .27 Peralatan yang cukup untuk perbaikan kecil mesin dan perlengkapannya. .28 Perlengkapan pemadam kebakaran yang sesuai untuk memadamkan minyak ; .29 Sebuah lampu senter yang mampu menerangi secara efektif sebuah obyek dengan cahaya berwarna pada malam hari mempunyai lebar 18 m pada jarak 180 m untuk waktu keseluruhan selama 6 jam dan bekerja tidak kurang dari 3 jam terus-menerus; .30 Sebuah reflektor radar yang effesien, kecuali jika terdapat radar penyelamat disimpan dalam sekoci penolong. .31 Baju hangat yang memenuhi persyaratan peraturan 34 mencukupi untuk 10% dari jumlah orang-orang yang diijinkan dimuat dalam sekoci penolong atau dua, mana yang lebih besar;

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

20

PERMESINANAN BANTU KESELAMATAN

PERLENGKAPAN

SOLAS (Safety Of Life At Sea)

KELOMPOK III TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FTK (ITS)

21