Anda di halaman 1dari 6

Buletin ALARA 1 (2), 21 26 (1997) Pusat Standardisasi dan Penelitian Keselamatan Radiasi Badan Tenaga Atom Nasional

PEMAKAIAN ZAT RADIOAKTIF DI BIDANG MINYAK DAN GAS BUMI DITINJAU DARI SEGI KESELAMATAN

Arifin S. Kustiono
Biro Pengawasan Tenaga Atom BATAN Jl. K.H. Abdul Rochim, Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta 12710 Kotak Pos 4390, Jakarta 12043

PENDAHULUAN Kegiatan di Bidang Minyak dan Gas Bumi, mulai dari tahapan eksplorasi, eksploitasi, pengolahan hingga distribusi, pada saat ini tidak terlepas dari penggunaan teknologi maju/canggih karena pertimbangan berbagai keuntungan yang didapat. Salah satunya adalah pemanfaatan zat radioaktif sebagai sumber radiasi yang pada saat ini telah digunakan dihampir semua tahapan kegiatan tersebut [1]. Seperti halnya dengan hasil teknologi lainnya, zat radioaktif sebagai sumber radiasi memiliki dua sifat yaitu manfaat dan bahaya (resiko). Oleh sebab itu pelaksanaannya harus dilakukan sedemikian rupa sehingga manfaatnya dapat dicapai semaksimal mungkin di satu pihak dan resiko yang mungkin ditimbulkannya seminimal mungkin di lain pihak. Hal tersebut hanya mungkin dapat dicapai apabila 3 syarat minimal terpenuhi, yaitu fasilitas kerja yang memenuhi syarat, SDM (Sumber Daya Manusia) yang cakap dan peralatan keselamatan radiasi yang memadai, disamping kesadaran dari pihak manajemen dalam melaksanakan prinsip keselamatan [2]. Berbagai ketentuan perundangan telah diberlakukan di negara kita namun pelaksanaannya memerlukan pengawasan yang baik dan efektif. Walaupun demikian,

berbagai pelanggaran dalam prakteknya sering ditemui di lapangan, terutama dalam masalah administrasi perijinan (aspek legal). Selain itu telah terjadi pula kecelakaan radiasi yang mengakibatkan jatuhnya korban meskipun tidak fatal, namun dalam beberapa kasus telah menyebabkan cacat yang permanen. Frekuensi terjadinya kecelakaan radiasi tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan kecelakaan non-radiasi (konvensional), namun perlu diwaspadai dan bila mungkin dicegah terjadinya. Hal ini berkaitan dengan dampak psikologis pada masyarakat yang secara umum masih awam tentang radiasi dan cenderung memiliki rasa takut yang sangat berlebihan. Dengan demikian merupakan tugas bagi para pelaksana pekerjaan yang menggunakan zat radioaktif beserta para pengawas (baik intern maupun ekstern) untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sehingga tercapai kondisi keselamatan radiasi. Cara dan metode yang perlu ditempuh akan dijelaskan dalam uraian berikut ini.

PEMAKAIAN ZAT RADIOAKTIF DI BIDANG MIGAS DAN STATUS DEWASA INI Kegiatan di Bidang Minyak dan Gas Bumi secara garis besar dapat disebutkan sebagai tahap, yaitu eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemasaran/distribusi. teknik nuklir yang menggunakan zat radioaktif, yaitu

21

22 Arifin S. Kustiono

memanfaatkan radiasi yang dipancarkannya untuk berbagai keperluan pada kenyataannya telah digunakan di setiap tahapan kegiatan tersebut. Bahkan pemakaian tersebut dapat mencakup mulai dari tahap konstruksi dan operasi hingga ke tahap perawatan (maintenance). Keunggulan teknik nuklir secara komparatif bila dibandingkan dengan metode konvensional lainnya antara lain adalah : respon yang lebih cepat, relatif murah dan mudah perawatannya, mampu bekerja dalam kondisi lingkungan ekstrim (tekanan dan atau temperatur tinggi, korosif, dll) serta keandalannya tinggi.

Eksploitasi Tahap kegiatan ini didominasi oleh teknik radioaktif, terutama sekali pada waktu konstruksi, misalnya untuk pengelasan pipeline dan tangki penyimpanan. Teknik lain yang telah dimanfaatkan adalah teknik gauging yang menggunakan zat radioaktif 137 Cs dan 60Co. Kegunaan/tujuannya adalah untuk pengukuran laju aliran (flow gauge) pada pipeline dan ketinggian (level gauging) pada tangki. Dalam hal ini sistem peralatannya menggunakan zat radioaktif beraktivitas rendah dan selalu dalam kondisi tertutup di dalam wadah (housing). Dengan demikian dalam kondisi kerja normal potensi bahayanya hampir dapat dikatakan tidak ada. Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi kebakaran, mengingat wadah tersebut terbuat dari bahan Pb (timah hitam) yang memiliki titik lebur rendah, sehingga zat radioaktifnya dapat keluar. Pada kegiatan perawatan, teknik radiografi merupakan pemanfaatan zat radioaktif yang biasa dilakukan. Dalam beberapa kesempatan, teknik perunut juga dimanfaatkan untuk mengetahui lokasi kebocoran pipa yang ditanam di dalam tanah. Apabila terjadi kemacetan (kemampetan) di dalam pipa, tidak jarang pula digunakan suatu alat yang disebut poly-pig yang dilengkapi dengan sumber 60Co beraktifitas rendah, yang dapat dirunut sampai ke lokasi terjadinya penyumbatan.

Eksplorasi Pada tahapan ini, salah satu pemakaian zat radioaktif adalah dalam pembuatan anjungan lepas pantai (oil rig) dimana kualitas pengelasan diperiksa dengan menggunakan teknik radiografi. Zat Radioaktif yang biasa digunakan dalam hal ini adalah iridium,192Ir. Alternatif lainnya adalah cobalt, 60Co, dan sinar-X, akan tetapi pada prakteknya di Indonesia sangat jarang. Selain itu dalam proses pengeboran digunakan juga teknik logging yang menggunakan zat radioaktif Americium-Berilium, Am-Be, yang memancarkan neutron dan celsium, 137Cs, yang memancarkan gamma. Kedua kegiatan di atas menggunakan zat radioaktif dengan aktivitas cukup tinggi sehingga potensi bahayanya juga tinggi. Teknik lain yang telah dimanfaatkan khususnya dalam bidang oil recovery adalah teknik perunut (tracer techniques). Zat Radioaktif yang digunakan adalah 124Sb, 46Sc, 192 Ir, 131I, 3H dan 85Kr. Juga untuk keperluan marking, yaitu menandai kedalaman sumur pengeboran, digunakan 137Cs atau 60Co. Pada kedua pemanfaatan teknik nuklir tersebut aktivitas zat radioaktif yang digunakan pada umumnya sangat rendah sehingga potensi bahayanya juga rendah.

Pengolahan dan distribusi Selama tahapan konstruksi, baik untuk instalasi pengolahan maupun distribusi, teknik radiografi merupakan aplikasi yang paling dominan, demikian pula dengan kegiatan pada saat perawatan. Seperti halnya pada tahap kegiatan lain (eksplorasi dan eksploitasi), teknik gauging dan perunut juga telah dimanfaatkan untuk kegiatan operasional, sedang pada saat tahap perawatan, teknik radiografi telah digunakan secara rutin.

Buletin ALARA Vol. 1 No. 2, Desember 1997

Pemakaian zat radioaktif di bidang minyak dan gas bumi di tinjau dari segi keselamatan

23

Berbagai contoh pemakaian zat radioaktif tersebut di atas dapat disaksikan di semua lokasi kegiatan di bidang minyak dan gas bumi di Indonesia mulai dari DI Aceh hingga ke wilayah Sorong dan sekitarnya. Uraian berikut akan menjelaskan aspek keselamatan dari pemanfaatan teknik nuklir tersebut dengan contoh peristiwa kecelakaan yang pernah terjadi serta saran pencegahan terulangnya peristiwa termaksud.

radioaktif tersebut ke dalam tubuh melalui salah satu atau kombinasi dari ke tiga jalur tersebut di atas. Secara umum dapat disebutkan istilah good house keeping atau menjaga kebersihan tempat kerja merupakan upaya pencegahan terbaik. Contoh kegiatan dalam hal ini adalah pemakaian perunut yang secara khusus dihadapi pada saat penyiapan (preparation) zat radioaktif yang akan digunakan. Dalam hal lain yang ekstrim, yaitu apabila terjadi kecelakaan sumber terbungkus secara potensial dapat menjadi sumber terbuka apabila kapsul pembungkusnya pecah atau bocor, sehingga zat radioaktifnya tersebar ke luar. Kemungkinan terjadinya hal tersebut sangat kecil mengingat dalam pembuatannya, suatu sumber terbungkus harus lolos pengujian yang cukup berat sesuai standar internasional (Standar ISO). Pengujian meliputi uji temperatur, tekanan, getaran, dll. yang cukup ekstrim [3].

ASPEK KESELAMATAN DALAM PEMAKAIAN ZAT RADIOAKTIF Potensi bahaya radiasi yang dihadapi Dalam penggunaan zat radioaktif, dikenal adanya potensi bahaya yang dihadapi pemakai, yaitu bahaya radiasi eksterna dan interna. Bahaya radiasi eksterna merupakan konsekuensi dari pemakai zat radioaktif yang termasuk dalam kategori sumber terbungkus, sehingga selalu berada di luar tubuh dan hanya radiasinya saja yang dapat mengenai tubuh pemakai atau pekerja lain yang berada di medan radiasi sumber. Penanganannya dapat dilakukan dengan salah satu atau kombinasi dari ketiga prinsip Proteksi Radiasi. Yaitu mengatur jarak, mengatur waktu dan/atau memasang pelindung (penahan) antar sumber dan tubuh. Contoh dalam hal ini adalah pemakaian teknik radiografi, logging dan gauging. Bahaya kontaminasi interna akan dihadapi pekerja apabila dalam hal ini digunakan zat radioaktif yang disebut sumber terbuka. Bentuk secara fisik dari sumber terbuka tersebut adalah cairan, serbuk atau gas jadi sangat mungkin zat radioaktif tersebut pada kondisi kerja normal dapat masuk ke dalam tubuh pekerja yang menggunakannya. Ada tiga jalur kritis dimana zat radioaktif dapat masuk ke dalam tubuh, yaitu mulut (saluran pencernaan), hidung (saluran pernafasan) dan luka terbuka di kulit. Metode penanggulangannya adalah persis sama dengan untuk B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), yaitu mencegah masuknya zat

Tinjauan dari segi legal Pada uraian terdahulu, penekanan lebih dititikberatkan pada aspek teknisnya, sedang masalah keselamatan tidak terlepas dari aspek legal. Oleh sebab itu perlu dijelaskan upaya keselamatan dari segi legal yang perlu ditaati oleh pemakai zat radioaktif, baik secar umum maupun khusus misalnya di Bidang Minyak dan Gas Bumi. Beberapa produk legal (peraturan perundangundangan) yang secara langsung terkait dalam pemanfaatan teknik nuklir di Bidang Minyak dan Gas Bumi di Indonesia sudah sering disampaikan dan dibahas [4]. Oleh sebab itu di sini hanya akan disebutkan secara singkat, yang terkait dengan keselamatan radiasi, perijinan, dan pengangkutan yaitu Peraturan Pemerintah No. 11, 12 dan 13 Tahun 1975. Selain itu telah ada pula peraturan penjelasan yang lebih rendah tingkatannya, antara lain dalam bentuk Keputusan Dirjen BATAN. Seluruh peraturan perundangan tersebut bermuara pada Undang-

Buletin ALARA Vol. 1 No. 2, Desember 1997

24 Arifin S. Kustiono

Undang No. 31 Tahun 1964 tentang Ketentuan Pokok Tenaga Atom. Dengan ditertibkannya Undang-Undang Ketenaganukliran No. 10 Tahun 1997, maka UndangUndang No. 31 Tahun 1964 tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dengan demikian peraturan pelaksanaannya perlu direvisi mengikuti undang-undang yang baru. Selama masa transisi aturan lama masih diberlakukan, khususnya ke-3 Peraturan Pemerintah tersebut di atas berikut ketentuan pelaksanaannya. Syarat pemakaian zat radioaktif adalah perlu adanya Izin Pemakaian yang diterbitkan oleh BATAN, setelah calon pemakai dinilai memenuhi tiga persyaratan minimal, yaitu fasilitas, orang dan alat. Disamping Izin Pemakaian, diperlukan pula adanya personil yang memiliki kualifikasi sebagai PPR (Petugas Proteksi Radiasi) yang bertanggung jawab atas keselamatan radiasi di tempat kerja, baik secara teknis maupun legal.

Dengan adanya kendala keterbatasan baik dana maupun personil, maka diperlukan adanya kerjasama yang baik dengan pihakpihak terkait seperti MIGAS, PERTAMINA/ BPPKA dan para KPS. Dalam beberapa tahun terakhir ini kerjasama dalam masalah pengawasan pemakaian zat radioaktif di berbagai daerah konsensi MIGAS sudah semakin baik, namun masih perlu ditingkatkan lagi. Terjadinya peristiwa kecelakaan pada awal tahun ini di salah satu KPS telah menyadarkan semua pihak terkait bahwa kerjasama atau koordinasi dalam pengawasan tersebut memang masih belum optimal. Beberapa forum pertemuan berbagai pihak terkait sudah mulai diselenggarakan, sehingga diharapkan keinginan tersebut di atas dapat terlaksana dalam waktu yang tidak lama lagi.

Gambar 1 : Pemeriksaan oleh BPTA di Balongan saat konstruksi instalasi kilang minyak Pertamina Untuk menjamin ditaatinya ketentuanketentuan tersebut di atas telah pula dilaksanakan pengawasan oleh BATAN, yang dalam hal ini didelegasikan kepada Biro Pengawasan Tenaga Atom. Sistem pengawasan tersebut terdiri dari pemeriksaan (inspeksi) secara langsung, dan tidak langsung, antara lain dalam bentuk evaluasi laporan atau dokumen perijinan lainnya.

Gambar 2 : Pemeriksaan terhadap sumber radioaktif untuk logging di salah satu anjungan minyak lepas pantai (off shore rig) di Kalimantan

Buletin ALARA Vol. 1 No. 2, Desember 1997

Pemakaian zat radioaktif di bidang minyak dan gas bumi di tinjau dari segi keselamatan

25

Beberapa kasus kecelakaan radiasi [5] Dari pengalaman selama ini, kecelakaan radiasi yang pernah terjadi di Indonesia sebagian terbesar menyangkut pemakaian zat radioaktif di Bidang Minyak dan Gas Bumi. Kegiatan radiografi industri memberikan kontribusi yang paling banyak dalam hal ini, dimulai dengan terjadinya kecelakaan di Taisei Yard (Belawan) pada tahun 1973. Kecelakaan radiasi yang paling akhir terjadi adalah yang melibatkan pemakaian zat radioaktif pemancar neutron yaitu Am-Be untuk keperluan logging. Peristiwa tersebut terjadi di awal tahun 1997 di salah satu lokasi pengeboran lepas pantai milik salah satu KPS. Ada dua hal menarik yang dapat dilihat dari berbagai peristiwa kecelakaan radiasi tersebut, yaitu : 1. frekuensi terjadinya kecelakaan sangat kecil bila dibanding dengan kecelakaan non-radiasi (konvensional) lainnya. 2. penyebab terjadinya kecelakaan hampir seluruhnya adalah faktor kelalaian manusia. Walaupun ada ketentuan keharusan melapor ke Instansi Yang Berwenang (BATAN) dalam hal terjadi kecelakaan radiasi, namun pada kenyataannya BATAN baru mengetahui peristiwa tersebut dari pihak lain (ketiga). Hal tersebut dapat disebabkan ketidaktahuan client atau dapat juga oleh faktor kesengajaan dari pihak services company selaku pemilik zat radioaktif untuk tidak melapor karena beberapa alasan tertentu. Hal inilah yang merupakan salah satu kendala yang perlu diatas dalam koordinasi/kerjasama antar pihak terkait sebagaimana telah disebutkan di atas. Selain itu terdapat juga kejadian yang disebabkan oleh alam (force majeure) yang mengakibatkan hilangnya zat radioaktif di beberapa lokasi. Contoh pertama yang dapat disebutkan adalah terjadinya blow-out, dan kedua terjadinya kemacetan sumber di dalam lubang sumur (source stuck). Pada kedua

peristiwa tersebut tidak ada personil yang terkena paparan radiasi. Sumber radioaktif yang digunakan kemungkinan dapat diambil kembali (retrieved) atau tidak dapat diambil sehingga harus ditinggalkan (abandoned). Pada kedua contoh tersebut pemilik zat radioaktif diharuskan melaporkan ke BATAN karena ada kaitannya dengan Ijin Pemakaian yang memuat inventory sumber radioaktif yang dimiliki dalam arti ijin yang bersangkutan harus direvisi. Ketentuan tersebut selama ini telah dipatuhi oleh hampir semua service company.

KESIMPULAN Berdasarkan fakta di lapangan serta analisis yang telah diuraikan, dapat ditarik dua kesimpulan sebagai berikut : 1. Pemakaian zat radioaktif di Bidang Minyak dan Gas Bumi di Indonesia sudah cukup meluas dewasa ini, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Adanya potensi bahaya yang terkandung dalam praktek pemakaian tersebut perlu disadari oleh semua pihak terkait, terutama Pemakai, dengan cara mengetahui dan mematuhi segala ketentuan perundangundangan yang berlaku. 2. Terjadinya kecelakaan radiasi pada awal tahun 1997 ini lebih menguatkan perlunya peningkatan kerjasama atau koordinasi semua pihak dalam pelaksanaan pengawasan pemakaian zat radioaktif, khususnya MIGAS, BPPKA PERTAMINA, BATAN dan KPS selaku client dari service company pemakai zat radioaktif di wilayahnya. Perlu dicarikan cara pengawasan yang paling tepat untuk menjamin tercapainya prinsip-prinsip keselamatan radiasi dalam pemakaian zat radioaktif di Bidang Minyak dan Gas Bumi tersebut, yaitu manfaat yang sebesar-besarnya dan resiko yang sekecilkecilnya.

Buletin ALARA Vol. 1 No. 2, Desember 1997

26 Arifin S. Kustiono

SARAN 1. Perlu lebih ditingkatkannya kerjasama antara pihak-pihak terkait, baik instansi Pemerintah seperti MIGAS, BPPKA PERTAMINA dan BATAN, serta KPS selaku client melalui forum pertemuan (diskusi) formal dan/atau non-formal. 2. Tenaga Pengawas (inspektur) dari MIGAS dan BPPKA PERTAMINA perlu dibekali dengan pengetahuan tentang keselamatan radiasi baik dari segi teknis maupun legal, melalui Diklat-diklat yang diselenggarakan oleh BATAN. Demikian pula dengan personil dari Safety Department setiap KPS, sebaiknya ada yang memiliki kualifikasi sebagai Petugas Proteksi Radiasi dari BATAN, sehingga dapat melakukan pengawasan secara intern terhadap service company selaku pengguna zat radioaktif di wilayahnya.

BATAN Tahun XIV Nomor 3, BATAN Jakarta, 1993. 2. ARIFIN S. KUSTIONO, Aspek legal dalam Bidang Keselamatan Radiasi, Prosiding Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan, PSPKR BATAN, Jakarta, 1995. 3. INTERNATIONAL ORGANIZATION FOR STANDARDIZATION, Sealed radioactive source general classification, ISO/TC 85/TC 2/WG 11N 31E, ISO, Jenewa, 1990. 4. BATAN, Himpunan peraturan di Bidang Tenaga Atom, Jilid I IV, BATAN Jakarta, 1990. 5. ARIFIN S. KUSTIONO, Kecelakaan radiasi di Bidang Industri, Seminar Pengawasan dan Keselamatan Kerja Radiasi di Bidang Industri, Jakarta 17 Januari 1996.

DAFTAR PUSTAKA 1. ARIFIN S. KUSTIONO, Aspek keselamatan dalam pemanfaatan teknik nuklir di Bidang Industri Migas, Buletin

SELAMAT ULANG TAHUN KE XXXIX

BADAN TENAGA ATOM NASIONAL


ASOSIASI PROTEKSI RADIASI INDONESIA
Sekretariat : Pusat Standardisasi dan Penelitian Keselamatan Radiasi BATAN Jalan Cinere Pasar Jumat, Kotak Pos 7043 JKSKL, Jakarta 12070 Tel. : 021- 7513906, 7659511, 7659512, Fax. : 021-7657950

Buletin ALARA Vol. 1 No. 2, Desember 1997