Anda di halaman 1dari 12

LAJU DIGESTI PADA IKAN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Muh.Rezzafiqrullah R : B1J010231 : :5 : Hafsah Riyanti

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Ikan merupakan hewan dengan tingkat aktifitas yang tinggi. Aktivitas yang tinggi sudah membutuhkan oksigen yang tinggi pula, sehingga perlu asupan pakan yang cukup untukmelakukan aktifitas. Digesti adalah proses pemecahan makanan dari senyawa yang kompleks menjadi molekul-molekul yang sederhana. Molekul pakan yang kompleks ini dipecah menjadi molekul sederhana agar dapat diabsorbsi dan selanjutnya digunakan dalam tubuh hewan. Pemecahan molekul ini dilakukan di sepanjang saluran digesti hewan. Laju digesti adalah laju kecepatan pemecahan makanan dalam tubuh ikan dari molekul yang kompleks ke molekul yang lebih sederhana dan kemudian akan diabsorsi oleh tubuh ikan, dalam bentuk seperti glukosa, asam lemak, gliserol serta nutrisi-nutrisi lain. Proses digesti yang terjadi di dalam lambung dan dapat diukur dengan mengetahui laju pengosongan lambung (Yuwono, 2001). Selain dipengaruhi oleh temperatur laju digesti juga di pengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi, sebab dalam pakan yang dikonsumsi ikan banyak terdapat kandungan-kandungan mineral yang akan diserap oleh usus ikan melalui proses pencernaan yang berlangsung selama ikan mengkonsumsi pakan (Kimball, 1983). Ikan lele (Clarias bathrachus) termasuk hewan nokturnal dan termasuk hewan karnivora. Ikan lele tidak melakukan aktivitas makan pada siang hari atau dalam keadaan terdapat cahaya. Ikan lele pada siang hari beraktivitas di dasar perairan untuk mendapatkan makanan dan pada malam hari muncul ke permukaan. Pencernaan memecah pakan menjadi senyawa sederhana baik melalui peristiwa fisik maupun kimiawi dengan bantuan enzim. Selanjutnya senyawa pakan tersebut diabsorpsi untuk didistribusikan ke sel-sel dalam tubuh. Pencernaan pada ikan lele terjadi lebih cepat karena lele merupakan hewan karnivora, sehingga makanan yang masuk akan mudah dicerna dengan baik dalam lambung (Schmidt, 1990).

B. TUJUAN

Untuk melihat laju digesti atau pengososngan lambung ikan, mengetahui bntuk lambung yang kosong dan yang berisi pakan, terampil dalam mengisolasi lambung dan dapat menghitung laju pengosongan isi lambung.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi Alat alat yangdigunakan dalam praktikum ini adalah gunting, pinset, pisau, almunium foil, timbangan analitik. Bahan yang digunakan adalah ikan lele (clarias batrachus) B. Metode 1. Disiapkan tiga buah akuarium dan isis akuarium dengan air setinggi 25cm, kemudian beri aerasi. 2. Di tebarkan ikan dengan ukuran yang seragam pada akuarium yang telah disediakan dengan kepadatan 4 5 ekor per akuarium. 3. Di beri pakan ikan sebanyak 2,5% dari bobot total tubuh ikan, dan biarkan ikan mengkonsumsi pakan selama 15 20 menit. 4. Di ambil semua ikan pada salah satu akuarium dan lakukan pembedahan untuk di ambil lambung ikannya, setelah lambung ikan di ambil penimbangan untuk mengetahui bobot lambung. Bobot lambung yang diperoleh dinyatakan sebagai bobot lambung dalam keadaan kenyang atau nol jam setelah makan. 5. Di ambil semua ikan setelah 30 menit dan lakukan pembedahan. Bobot lambung yang diperoleh selanjutnya dinyatakan dalam prosentase bobot pada waktu 30 menit setelah makan terhadap lambung pada waktu kenyang. 6. Di lakukan prosedur diatas ikan pada akuarium yang lain pada waktu 60 menit setelah pmberian pakan 7. Di catat hasil pengamatan dalam bentuk grafik hubungan antara lama pengamtan dan prsentase bobot lambung.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN C. Hasil Tabel


Kel 1 2 3 4 5 6 Bx 0.6 0.4 0.3 0.6 0.6 0.6 Bx% 100% 100% 100% 100% 100% 100% By 0.9 0.2 0.2 0.7 0.4 0.3 By% 150% 50% 66.6% 116% 66.6% 50% Bz 0.45 0.2 0.35 0.6 0.2 0.3 Bz% 75 % 50% 116% 100% 33.3% 50%

160% 140% 120% 100% 80% 60% 40% 20% 0% 30' 60' 90' kelompok 6 kelompok 5 kelompok 4 kelompok 3 kelompok 2 kelompok 1 kelompok 1 kelompok 2 kelompok 3 kelompok 4 kelompok 5 kelompok 6

Diagram laju digesti

Perhitungan

= = = 100% 60 = = = 33.3%

30

= = = 66.6%

B.pembahasan

Berdasarkan

praktikum

yang

telah

dijalankan,

didapatkan

hasil

penimbangan rataan bobot lambung ikan lele masing-masing sebesar 0,6 gr, 0,4 gr, dan 0,2 gr di masing-masing waktu pengosongan lambung lele pada 0 menit, 30 menit, dan 60 menit. Hasil tersebut di atas apabila ditunjukkan dalam bentuk grafik hubungan bobot lambung dengan waktu pengosongan lambung, maka akan didapatkan hasil seperti berikut :

0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0' 30' 60' Lama pengamatan (menit)

Hal ini sesuai dengan pustaka, yaitu semakin lama ikan dibiarkan, bobot lambungnya semakin berkurang karena setelah ikan memakan pakannya, pakan tersebut akan didigesti dalam lambungnya. Pemberian pakan sebanyak mungkin menyebabkan lambung penuh saat pembedahan pada waktu 0 menit. Pakan dalam lambung akan terdigesti saat keadaan lambung penuh dan pemberian pakan dihentikan sehingga bobot lambung akan berkurang (Effendie, 1979). Proses digesti yang terjadi di dalam lambung, laju digestinya dapat diukur dari laju pengosongan lambung. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju digesti atau laju pengosongan lambung adalah temperatur air, suhu, musim, waktu siang dan malam, intensitas cahaya, ritme internal dan kualitas pakan yang dikonsumsi (Halver et al, 1989). Temperatur 30 400 C akan terjadi peningkatan metabolisme yang sangat cepat. pengosongan laju digesti ikan dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik seperti tipe makanan yang dikonsumsi, dan jumlah makanan yang tersedia. Analisa mengenai aktivitas lambung pada beberapa ikan hiu mengalami

penurunan pada lambung-1 dan lambung-2 dalam kisaran beberapa jam setelah memakan makanannya (Wood & Walsh, 2007) Laju digesti pakan berkolerasi dengan laju metabolisme ikan, pada kondisi temperatur air yang optimal bagi ikan maka laju metabolisme ikan meningkat dan meningkatnya laju metabolisme ini harus diimbangi dengan pasokan pakan yang diperoleh dari lingkungannya. Semakin cepat laju digesti maka akan semakin cepat pula metabolisme, dan sebaliknya. Peningkatan nafsu makan pada ikan dipengaruhi oleh temperatur, pada temperatur air yang meningkat maka nafsu makan ikan juga mengalami peningkatan, sedangkan apabila terjadi penurunan temperatur air maka nafsu makan ikan juga akan mengalami penurunan. Laju digesti atau laju pengosongan lambung selain dipengaruhi oleh temperatur air juga dipengaruhi oleh kualitas pakan yang dikonsumsi (Schmitdt dan Nielsen, 1990). Proses digesti pada ikan lele dimulai dari makanan masuk ke mulut, dicerna secara mekanik dan dibantu oleh kelenjar saliva kemudian masuk ke farin, esophagus dan tertampung dilambung untuk dicerna secara kimiawi dengan bantuan enzim-enzim pencernaan. Makanan yang telah menjadi molekul-molekul kecil kemudian masuk ke usus untuk proses penyerapan atau absorpsi yang sisanya menuju rektum dan ke anus untuk dibuang. Hasil digesti yang berupa asam amino, asam lemak dan monosakarida akan diabsorpsi oleh epitel intestine kemudian diedarkan keseluruh tubuh oleh sistem sirkulasi (Kay, 1998). Laju digesti juga dipengaruhi oleh pakan yang akan dikonsumsi. Sebab dalam pakan yang akan dikonsumsi ikan banyak terdapat kandungan-kandungan mineral yang akan diserap oleh usus ikan, melalui proses pencernaan yang berlangsung selama ikan mengonsumsi pakan. Pakan ikan yang bervariasi akan mempengaruhi cepat lambatnya laju digesti atau cepat lambatnya laju pengosongan lambung pada ikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan, bahwa laju digesti adalah laju pengosongan lambung atau laju energi per unit waktu oleh akibat pembakaran pakan ikan yang dikonsumsi untuk memperoleh energi. Konsentrasi logam berat pada air juga dapat mempengaruhi proses digesti ikan. (Adeferni, 2008).

KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan maka dapat diperoleh kesimpulan yaitu : 1. Proses digesti memerlukan waktu dalam mencernakan makanannya. Waktu yang diperlukan untuk mencerna makanannya itu disebut dengan laju digesti
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju digesti antara lain temperatur air, suhu,

musim, waktu siang dan malam, intensitas cahaya, ritme internal dan kualitas pakan yang dikonsumsi Hasil dari percobaan yang telah dilakukan menunjukkan bobot lambung ikan lele (Clarias batrachus) pada menit ke 0, 30, dan 60 masing-masing adalah 0,6 gram, 0,4 gram, dan 0,2 gram.

Daftar Refrensi

Adeferni, 2008. Determination of Heavy Metals in Tilapia mossambicuis Fish, Associated water and sediment from Ureje Dam in South-Western Nigeria. Effendie, M. Ichsan. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor. Halver, J. A. 1989. Fish Nutrition. Academic Press, New York. Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. BIOS Scientific Publisher Limited, Springer Verlag New York, USA. Kimball, J.W. 1983. Biology Fifth Edition. Addison Wesley Publishing Company Inc., London Schmitdt-Nielsen, K. 1990. Animal Physiology-Adaptasion and enviriment Fourth edition, Cambridge University Press, Cambridge. Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.