Anda di halaman 1dari 56

PEDOMAN

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DALAM RANGKA

PENINGKATAN CAKUPAN IMUNISASI RUTIN SERTA KESEHATAN IBU DAN ANAK


Bagi Organisasi Kemasyarakatan / Lembaga Swadaya Masyarakat

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PUSAT PROMOSI KESEHATAN TAHUN 2009


Jl. Rasuna Said Kav. 4-9 Blok C lt. VI Jakarta Selatan Telp/Fax. (021) 520 3873 www.promosikesehatan.com

PUSAT PROMOSI KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN RI TAHUN 2009

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan kepada kami sehingga dapat menerbitkan Pedoman ini. Organisasi Kemasyarakatan/Lembaga Swadaya Masyarakat (Ormas/LSM) merupakan mitra potensial petugas kesehatan dalam melakukan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat. Cakupan Imunisasi Rutin serta Kesehatan Ibu dan Anak terbukti meningkat dengan adanya peran serta dari Ormas/ LSM antara lain seperti Tim Penggerak PKK melalui para kader Posyandunya. Berdasarkan pengalaman di lapangan tersebut, maka disusunlah Pedoman Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka peningkatan cakupan Imunisasi Rutin serta Kesehatan Ibu dan Anak bagi Organisasi Kemasyarakatan/Lembaga Swadaya Masyarakat. Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dan perbaikan buku ini, kami sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Diharapkan dengan disusunnya Buku Pedoman ini akan mempermudah berbagai pihak khususnya Ormas/LSM dalam

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

menggerakkan dan memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan Cakupan Imunisasi Rutin serta Kesehatan Ibu dan Anak. Kritik dan saran untuk untuk perbaikan buku ini masih diharapkan guna penyempurnaan lebih lanjut. Amin.

Jakarta, Desember 2009 Kepala Pusat Promosi Kesehatan

Dr. Abidinsyah Siregar, DHSM, M.Kes

ii

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................... i Daftar Isi.................................................................................. iii I. Pendahuluan A. Latar Belakang ..................................................... 1 B. Gambaran Masalah ............................................. 3 C. Tujuan dan Indikator Keberhasilan .................... 8 D. Sasaran ................................................................ 9 E. Dasar Hukum ....................................................... 9 F. Pengertian ........................................................... 10 Program dan Implementasi Imunisasi Rutin serta Kesehatan Ibu dan Anak ............................................. 13 A. Program dan Implementasi Imunisasi Rutin 13 B. Program dan Implementasi Kesehatan Ibu dan dan Anak ............................................................. 16 Pemberdayaan Masyarakat dalam peningkatan cakupan Imunisasi Rutin serta Kesehatan Ibu dan Anak .............................................................................. 29

II.

III.

Lampiran Kuesioner .............................................................. 41

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

iii

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Program imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling efektif dan telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956 dan melalui program ini, Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974. Dengan telah diperluasnya program imunisasi menjadi Program Pengembangan Imunisasi sejak tahun 1977, angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) sudah dapat ditekan. Upaya imunisasi perlu ditingkatkan untuk mencapai tingkat kekebalan kelompok yang tinggi dengan cakupan 8095% akan terhindar dari penyakit infeksi yang ganas sehingga PD3I dapat dibasmi, eliminasi atau dikendalikan. Dengan upaya imunisasi pula, kita sudah dapat menekan penyakit Polio dan sejak tahun 2007 tidak ditemukan lagi virus Polio liar. Hal ini sejalan dengan upaya kesehatan global untuk membasmi Polio di dunia. Penyakit lain yang dapat dicegah melalui imunisasi rutin adalah Tuberkulosis (TB), Hepatitis, Dipteri, Pertusis, Tetanus pada Ibu melahirkan dan bayi baru lahir serta Campak. Walaupun PD3I sudah dapat ditekan, cakupan imunisasi harus dipertahankan tinggi dan merata. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan bahwa cakupan Imunisasi Dasar Lengkap secara nasional baru mencapai 46,2%. Kegagalan untuk menjaga tingkat cakupan imunisasi yang tinggi dan merata dapat

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

menimbulkan letusan atau Kejadian Luar Biasa (KLB) PD3I. Berdasarkan analisis Global Alliance For Vaccine and Immunization (GAVI) Geneva cakupan imunisasi di Indonesia masih tergolong belum maksimal. Ini terlihat dengan cakupan Universal Child Immunization (UCI) 76,2%, cakupan DPT 3 kurang dari 80% dan cakupan Campak kurang dari 90% pada 207 kabupaten di 28 provinsi pada tahun 2007. Masalahnya bukan hanya karena kurangnya pelayanan yang tersedia tetapi juga karena kurang intensifnya promosi kesehatan dan mobilisasi masyarakat. Promosi kesehatan dan mobilisasi masyarakat memerlukan dukungan dan percepatan aksi nyata dari organisasi kemasyarakatan atau Civil Society Organization (CSO). Oleh karena itu, Program Promosi Kesehatan juga harus memfokuskan untuk memperkuat program imunisasi melalui penguatan peran CSO dalam pemberdayaan masyarakat. Upaya ini memerlukan penggalangan kemitraan terutama dengan CSO seperti TP-PKK, Gerakan Pramuka, organisasi agama, organisasi wanita dan organisasi pemuda, yang mempunyai akses cukup besar dengan masyarakat. Kemitraan tersebut dilaksanakan untuk mendukung promosi kesehatan dalam pelaksanaan advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat guna penguatan program imunisasi rutin serta pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dukungan para pengambil kebijakan seperti Gubernur dan Walikota/Bupati beserta jajarannya, DPRD sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan program imunisasi rutin serta kesehatan ibu dan anak. 2
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

B.

Gambaran Masalah Cakupan imunisasi rutin di Indonesia saat ini masih belum mencapai yang diharapkan, berdasarkan laporan menunjukkan bahwa pada tahun 2007 cakupan UCI Desa hanya mencapai 76,1%, yang mencapai target cakupan HB0 <7hari hanya 42% kabupaten/kota, yang mencapai target cakupan DPT3 hanya 54% kabupaten/kota, dan yang mencapai target cakupan TT2+ ibu hamil hanya 30,4% kabupaten/kota. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 (Riskesdas) menunjukkan gambaran pencapaian cakupan imunisasi sebagai berikut : Persentase nasional Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 bulan adalah 86,9%. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 bulan di bawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Persentase nasional Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 bulan adalah 71,0%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 bulan di bawah persentase nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo,
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Persentase nasional Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 bulan adalah 67,7%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 bulan di bawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat dan Papua. Persentase nasional Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 bulan adalah 62,8%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 bulan di bawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat dan Papua. Persentase nasional Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 bulan adalah 81,6%. Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 bulan di bawah persentase nasional, yaitu

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat dan Papua. Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap terendah adalah Waropen (0%), Tolikara (0%), Paniai (0%), Puncak Jaya (0%), Yahukimo (0%), Gayo Lues (1,8%), Pegunungan Bintang (2,3%), Nias Selatan (4,2%), Asmat (4,6%), dan Jayawijaya (4,7%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap tertinggi adalah Gianyar (93,0%), Keerom (86,1%), Grobogan (85,7%), Kota Bontang (81,6%), Badung (81,5%), Wonogiri (80,0%), Kota Metro (80,0%), Berau (79,1%), Malinau (78,6%), dan Wonosobo (78,5%). Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil sebesar 87,6% di perkotaan dan 86,3% di pedesaan. Jadi persentase pemberian imunisasi TT secara nasional 86,3%. Cakupan imunisasi TT terendah adalah NTT 78,3%, DKI Jakarta 77,7% dan Sumatera Utara 79,1%. Sementara yang tertinggi adalah Maluku Utara 97%, Papua 95,2%, Bali 95,4%, DIY 95,5%, Jambi 91,8%, Bengkulu 91,3%, Lampung 91,9%, NTB 91,8%, Kaltim 90,3%, Sulut 95,3%, Sulawesi Tengah 91,7%, Sulsel 97,2%, Sulbar 91,9%, Maluku 92,5%.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

Cakupan imunisasi sangat terkait erat dengan pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap (60,4%). Semakin tinggi pengeluaran per kapita makin tinggi cakupan imunisasi lengkap (53,5%). Cakupan imunisasi juga dipengaruhi dengan tingkat kepercayaan, budaya, jangkauan transportasi dan akses informasi tentang imunisasi. Diantaranya, rasa takut orang tua terhadap efek samping vaksinasi sering kali berlebihan dan lebih dominan dibandingkan dengan bahaya penyakit itu sendiri. Hal ini menyebabkan ibu enggan membawa anaknya ke Posyandu atau pelayanan kesehatan lainnya. Faktor lain masyarakat tidak membawa bayinya untuk imunisasi disebabkan kurangnya informasi yang benar tentang imunisasi. Di beberapa daerah masyarakat tidak membawa bayinya untuk imunisasi disebabkan pengaruh sosial budaya, disamping itu juga faktor kondisi geografis yang sulit dijangkau. Tingginya angka kematian ibu berdasarkan hasil SDKI tahun 2007 adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup yang menunjukkan masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan di antara negara tetangga ASEAN.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

Berdasarkan hasil Survai Kesehatan Nasional tahun 2005 menunjukkan bahwa kematian ibu disebabkan oleh 4 faktor terbesar yaitu perdarahan (28%), kejang hamil (24%), infeksi (11%) dan komplikasi (8%). Kematian ibu paling banyak terjadi pada masa sekitar persalinan yang sebenarnya dapat dicegah melalui kepedulian terhadap kehamilan ibu baik oleh ibu, keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya menyadarkan dan memandirikan ibu hamil, ibu bersalin, keluarga dan masyarakat agar mampu melakukan pencegahan terjadinya kematian ibu dengan memberikan informasi dan edukasi yang dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu di Indonesia. Tingginya Angka Kematian Bayi masih merupakan masalah nasional. Berdasarkan hasil Survai Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Angka Kematian Bayi (AKB) masih mencapai 34/1.000 kelahiran hidup atau diperkirakan 86.000 bayi meninggal dalam satu tahun tersebut. 56% dari kematian bayi tersebut terjadi pada masa sebelum satu bulan kelahirannya.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

C. 1.

Tujuan dan Indikator Keberhasilan Tujuan 1.1 Tujuan Umum Meningkatnya kemandirian masyarakat untuk meningkatkan cakupan, menemukenali masalah dan pemecahan masalah berkaitan dengan imunisasi rutin serta kesehatan ibu dan anak. 1.2 Tujuan Khusus Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga membawa bayi untuk diimunisasi. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku Ibu hamil dan keluarga untuk mendapatkan pemeriksanaan kehamilan dan pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga untuk memeriksakan bayi baru lahir. Meningkatkan keterampilan kader dalam menemukenali masalah imunisasi rutin dan KIA untuk segera dirujuk ke pelayanan kesehatan. Meningkatkan keterampilan kader dan petugas lapangan dalam memberdayakan masyarakat.

2.

Indikator Keberhasilan 2.1 Ada tidaknya forum Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) 2.2 Jumlah kader aktif 2.3 Jumlah kader/pramuka yang terlatih

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

2.4 2.5 2.6 2.7 2.8

Jumlah Ormas/LSM yang diorientasi Cakupan imunisasi rutin pada bayi dan ibu hamil. Cakupan pemeriksaan kehamilan. Cakupan persalinan di fasilitas kesehatan. Cakupan pemeriksaan bayi baru lahir sampai usia 1 bulan. 2.9 Cakupan kunjungan ke Posyandu. D. 1. 2. Sasaran Sasaran Primer : keluarga (bapak dan ibu, mertua, pengasuh anak) Sasaran Sekunder : TP-PKK, organisasi kemasyarakatan/ lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan dan Gerakan Pramuka di Gugusdepan. Sasaran Tersier : Ketua RT, Ketua RW, Kepala Desa/Lurah dan Camat. Dasar hukum Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235). Undang-Undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 004/MENKES/ SK/I/2003 tentang Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan.
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

3.

E. 1.

2. 3.

4.

The Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2003 yang meliputi goal 4: tentang reduce child mortality, goal 5: tentang improve maternal health. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1193/MENKES/ SK/X/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1114/MENKES/ SK/X/2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1611/MENKES/ SK/XI/2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Keputusan Menkes Nomor 1626/MENKES/SK/XII/2005 tentang Pedoman Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI). Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 828/MENKES/ SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Pengertian Imunisasi rutin adalah kegiatan imunisasi yang secara rutin dan terus menerus harus dilaksanakan pada periode waktu yang telah ditetapkan, berdasarkan kelompok usia sasaran dan tempat pelayanan.

5.

6.

7.

8.

9.

F. 1.

10

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

a.

Berdasarkan kelompok usia sasaran, imunisasi rutin dibagi menjadi : Imunisasi rutin pada bayi. Imunisasi rutin pada wanita usia subur. Imunisasi rutin pada anak usia sekolah.

b.

Berdasarkan tempat pelayanan, imunisasi rutin dibagi menjadi : Pelayanan imunisasi di dalam gedung (Puskesmas Pembantu, Puskesmas, rumah sakit). Pelayanan imunisasi di luar gedung (Poskesdes, Posyandu, sekolah, kunjungan rumah). Pelayanan oleh swasta (Rumah bersalin, RS swasta, dokter praktik, bidan praktik swasta).

2. 3.

Universal Child Immunization (UCI) adalah tercapainya Imunisasi Dasar Lengkap pada bayi (0 11 bulan). Kesehatan ibu adalah kesehatan seorang ibu selama kehamilan dan sesudah melahirkan. a. b. Kesehatan ibu hamil adalah kesehatan seorang ibu selama kehamilan. Kesehatan ibu bersalin adalah kesehatan seorang ibu selama proses melahirkan sampai nifas.

4.

Kesehatan anak yaitu perawatan bayi baru lahir sampai balita.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

11

5.

Promosi kesehatan yaitu upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya membantu atau memfasilitasi masyarakat sehingga memiliki pengetahuan, kemauan dan kemampuan untuk mencegah dan atau mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi. Bina suasana adalah kegiatan menciptakan suasana/ opini lingkungan yang kondusif yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat yang sedang diberdayakan. Advokasi adalah upaya untuk memperoleh dukungan kebijakan, anggaran, komitmen dan lain-lain dari para pengambil keputusan. Kemitraan adalah kerjasama dengan berbagai pihak terkait berdasarkan prinsip kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan.

6.

7.

8.

9.

12

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

II. PROGRAM DAN IMPLEMENTASI IMUNISASI RUTIN SERTA KESEHATAN IBU DAN ANAK
A. Program dan Implementasi Imunisasi Rutin Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh dan dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata rantai penularan. Pemberian imunisasi dibutuhkan bagi ibu hamil, bayi, anak balita dan kalangan masyarakat tertentu yang membutuhkan perlindungan pencegahan. 1. Tujuan dan Sasaran Imunisasi 1.1 Tujuan a. Tujuan Umum Turunnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Tujuan Khusus Tercapainya target Universal Child Immunization yaitu cakupan Imunisasi Dasar Lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di 100% desa/kelurahan/ kampung pada tahun 2010.

b.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

13

Tercapainya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (insiden di bawah 1 per 1.000 kelahiran hidup dalam satu tahun) pada tahun 2010. Eradikasi Polio pada tahun 2010. Tercapainya Reduksi Campak (RECAM) pada tahun 2010.

1.2 Sasaran a.

Berdasarkan usia yang diimunisasi 1) Imunisasi rutin Bayi (di bawah satu tahun) Wanita usia subur (WUS) ialah wanita berusia 15-39 tahun, termasuk ibu hamil (Bumil) dan calon pengantin (Catin) Anak usia sekolah tingkat dasar Imunisasi tambahan Bayi dan anak tingkat kekebalan yang

2)

b.

Berdasarkan ditimbulkan 1) 2)

Imunisasi Dasar Bayi Imunisasi Lanjutan Anak usia sekolah tingkat dasar Wanita usia subur

14

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

c.

Berdasarkan wilayah/lokasi Seluruh desa/kelurahan/kampung di wilayah Indonesia.

2.

Kebijakan dan Strategi 2.1 Kebijakan a. Penyelenggaraan Imunisasi dilaksanakan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat, dengan mempertahankan prinsip keterpaduan antara pihak terkait. b. Mengupayakan pemerataan jangkauan pelayanan imunisasi baik terhadap sasaran masyarakat maupun sasaran wilayah. c. Mengupayakan kualitas pelayanan yang bermutu. d. Mengupayakan kesinambungan penyelenggaraan melalui perencanaan program dan anggaran terpadu. e. Perhatian khusus diberikan untuk wilayah rawan sosial, rawan penyakit (KLB) dan daerahdaerah sulit secara geografis. 2.2 Strategi a. Memberikan akses pelayanan kepada masyarakat dan swasta. b. Membangun kemitraan dan jejaring kerja. c. Menjamin ketersediaan dan kecukupan vaksin, peralatan rantai vaksin dan alat suntik.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

15

d. e. f. g. h. B. 1.

Menerapkan sistem Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) untuk menentukan prioritas kegiatan serta tindakan perbaikan. Pelayanan imunisasi dilaksanakan oleh tenaga profesional/terlatih. Pelaksanaan sesuai dengan standar. Memanfaatkan perkembangan metode dan teknologi yang lebih efektif, berkualitas dan efisien. Meningkatkan advokasi, fasilitasi dan pembinaan.

Program dan Implementasi Kesehatan Ibu dan Anak Tujuan 1.1 Tujuan Umum Memperkuat program imunisasi, kesehatan Ibu dan Anak melalui penguatan sistem kesehatan terkait : pembangunan kapasitas Tenaga, promosi kesehatan, penggerakan masyarakat. 1.2 Tujuan Khusus a. Meningkatkan cakupan pelayanan pemeriksaan ibu hamil, persalinan oleh tenaga kesehatan dan pemeriksaan ibu nifas serta bayi baru lahir. b. Meningkatkan akses informasi (Buku KIA) dan akses pelayanan kesehatan termasuk imunisasi kepada neonatal dan bayi. c. Mencegah terjadinya kehilangan kesempatan (missed opportunity) untuk pelayanan KIA dan imunisasi.

16

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

2.

Sasaran 2.1 Ibu hamil 2.2 Ibu bersalin 2.3 Ibu nifas 2.4 Ibu balita 2.5 Bayi baru lahir 2.6 Balita Kebijakan dan Strategi 3.1 Kebijakan Mendekatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir berkualitas ke masyarakat. Akses (SDM dan Sarana). Geografi dan transportasi. Dana (pelayanan dan transport). Budaya. 3.2 Strategi Memperkuat mobilisasi masyarakat untuk upaya pencegahan dan pelayanan yang tepat termasuk pelayanan outreach di tingkat Puskesmas. Meningkatkan kapasitas manajemen para pengelola program KIA di kabupaten dan Puskesmas, termasuk memperkuat survailans dan sistem monitoring data dan informasi dalam rangka meningkatkan perencanaan program. Membangun kemitraan dengan CSO/NGO/ swasta untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan.
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

3.

17

Membangun model pemberian insentif dan mekanisme kontrak tenaga kesehatan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan pada daerah terpencil. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di tingkat dasar dan rujukan. Mendorong pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat. Meningkatkan : Sistim survailans Monitoring dan informasi KIA Pembiayaan

4.

Program Kesehatan Ibu yang memerlukan dukungan pemberdayaan masyarakat Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) adalah suatu kegiatan di keluarga dan masyarakat yang difasilitasi oleh bidan dalam rangka meningkatkan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat untuk dapat merencanakan persalinan yang aman dan persiapan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya komplikasi pada saat hamil, bersalin dan nifas. Di dalam P4K, juga ada kegiatan merencanakan alat kontrasepsi yang akan digunakan setelah persalinan . Untuk mengidentifikasi adanya ibu hamil di suatu wilayah, maka kader atau warga masyarakat segera melaporkan ke bidan untuk memastikan kehamilannya. Setelah dinyatakan keadaan seorang ibu itu hamil, maka dapat dilakukan penempelan stiker di rumah ibu hamil

18

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

tersebut tinggal. Tujuan pemasangan stiker ini adalah agar masyarakat sekitar dapat mengetahui ada ibu hamil, dan apabila sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan, masyarakat siap sedia untuk membantu. Dengan demikian, ibu hamil yang mengalami komplikasi tidak terlambat untuk mendapat penanganan yang tepat dan cepat . 4.1 Manfaat Program P4K Program P4K dilaksanakan juga untuk meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan ibu hamil dan bayi baru lahir melalui kegiatan : 4.2. Kegiatan P4K : a. Pendataan Ibu Hamil b. Pembentukan Dasolin c. Pembentukan Tabulin d. Pembentukan Calon Donor Darah e. Pengorganisasian Transpor/Ambulan Desa f. Peningkatan Peran Suami/Keluarga dalam menemani Ibu saat bersalin g. Penyuluhan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) h. Pelayanan Kunjungan Nifas i. Pelaksanaan Kunjungan Rumah bagi Ibu yang tidak dapat hadir di tempat pelayanan a. Pendataan Ibu Hamil dengan stiker Adalah suatu kegiatan pendataan, pencatatan dan pelaporan keadaan ibu hamil dan bersalin di wilayah kerja bidan melalui penempelan stiker di setiap rumah ibu hamil dengan melibatkan peran aktif kader Dasawisma dan unsurunsur masyarakat di wilayahnya ( Forum P4K/ Pokja Posyandu, dan Dukun). 19

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

b.

Pembentukan Dana Sosial Bersalin (Dasolin) Adalah dana yang dihimpun dari masyarakat secara sukarela dengan prinsip gotong royong sesuai dengan kesepakatan bersama dengan tujuan membantu pembiayaan mulai antenatal, persalinan dan kegawatdaruratan. Pembentukan Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin) Adalah dana/barang yang disimpan oleh keluarga atau pengelola Tabulin secara bertahap sesuai dengan kemampuannya, yang pengelolaannya sesuai dengan kesepakatan serta penggunaannya untuk segala bentuk pembiayaan, saat antenatal, persalinan dan kegawatdaruratan. Pembentukan Calon Donor Darah Adalah orang-orang yang dipersiapkan oleh ibu, suami, keluarga dan masyarakat yang sewaktu-waktu bersedia menyumbangkan darahnya untuk keselamatan ibu melahirkan. Pengorganisasian Transpor/Ambulan Desa Adalah alat transportasi dari masyarakat sesuai kesepakatan bersama yang dapat dipergunakan untuk mengantar calon ibu bersalin ke tempat persalinan termasuk tempat rujukan, bisa berupa mobil, ojek, becak, sepeda, tandu, perahu, dll.

c.

d.

e.

20

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

f.

Peningkatan Peran Suami/Keluarga dalam menemani Ibu saat bersalin Yaitu mendampingi ibu pada saat setiap persalinan untuk memberikan dukungan secara psikologis dan dalam mengambil keputusan. Penyuluhan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Adalah bayi diberi kesempatan mulai menyusu sendiri segera setelah lahir (Inisiasi Menyusu Dini) dengan membiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu setidaknya satu jam atau lebih, sampai menyusu pertama selesai. Pelayanan Kunjungan Nifas Kontak ibu dengan Nakes minimal 3 (tiga) kali, pada minggu pertama, minggu kedua dan minggu keenam untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan ibu nifas, baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (termasuk bidan di desa/Poskesdes dan kunjungan rumah). Pelaksanaan Kunjungan Rumah bagi Ibu yang tidak dapat hadir di tempat pelayanan Kunjungan rumah adalah kegiatan kunjungan bidan ke rumah ibu hamil dalam rangka untuk membantu ibu, suami dan keluarganya membuat perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi. Di samping itu untuk memfasilitasi ibu nifas dan suaminya

g.

h.

i.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

21

dalam memutuskan penggunaan alat/obat kontrasepsi setelah persalinan sesuai dengan rencana yang telah disepakati bersama oleh pasangan tersebut. 4.2 Peran Kader dalam mendukung P4K Menuju Persalinan Yang Aman dan Selamat a. Menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk memeriksakan kehamilan, pertolongan persalinan dan memeriksakan kesehatan bayi. b. c. d. Melakukan pendataan ibu hamil dan bayi disetiap Dasawisma. Melakukan kunjungan rumah serta memasang stiker P4K di setiap rumah ibu hamil. Melakukan penyuluhan menggunakan buku kesehatan ibu dan anak (Buku KIA) serta menjelaskan tentang pentingnya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi pada setiap kesempatan di desa/kelurahan. Melakukan penyuluhan kesehatan ibu dan anak termasuk pengenalan tanda-tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas. Memotivasi ibu, suami dan keluarga untuk memeriksakan kehamilan sesuai ketentuan, menjaga kesehatan ibu hamil, bersalin di fasilitas kesehatan, menyediakan dana persalinan (tabulin).

e.

f.

22

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

g.

Menganjurkan ibu, suami dan keluarga untuk menandatangani Perjanjian Tertulis /Amanat Persalinan serta meminta dan memanfaatkan Buku KIA. Menggerakkan dan mengorganisasi masyarakat untuk melakukan kegiatan calon donor darah dan ambulan desa. Membantu ibu dan keluarga mendapatkan kemudahan dalam pelayanan penanganan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas. Membantu ibu hamil untuk mendapatkan kemudahan dalam pelayanan KIA, misalnya: mendapatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) atau Jamkesmas. Membantu petugas kesehatan dalam pelayanan KIA. Memotivasi dukun bayi untuk bermitra dengan bidan. Meminta bimbingan teknis kepada petugas kesehatan terkait dengan kesehatan ibu dan bayi. Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang KIA, yang meliputi : kehamilan, persalinan, kematian ibu dan anak.

h.

i.

j.

k. l. m.

n.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

23

5.

Program Kesehatan Anak Dalam Peningkatan Cakupan Imunisasi Rutin

Mendukung

5.1 Penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak Buku KIA merupakan buku pedoman yang dimiliki oleh ibu dan anak, yang berisi informasi dan catatan kesehatan ibu dan anak, yang digunakan sejak ibu hamil, melahirkan dan selama masa nifas hingga bayi yang dilahirkan berusia 5 tahun, termasuk pelayanan KB, imunisasi, gizi, dan tumbuh kembang anak. Dengan memiliki buku KIA diharapkan ibu, keluarga dan masyarakat memiliki pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak, mampu menjaga kesehatannya, mencari pelayanan kesehatan yang diperlukan seperti pemeriksaan kehamilan, imunisasi, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita, suplementasi vitamin A dan mengetahui tanda sakit dan tanda bahaya pada ibu hamil, melahirkan dan selama nifas hingga bayi yang dilahirkan berusia 5 tahun. Selain berisi informasi, Buku KIA sebagai alat pencatatan kesehatan yang digunakan sebagai media komunikasi antar petugas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan, juga dapat digunakan sebagai alat rujukan. Buku KIA yang dimiliki ibu, bayi dan balita harus disimpan dengan baik.

24

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

Peran kader dan organisasi kemasyarakatan / LSM : a. Kader menggunakan Buku KIA sebagai alat penyuluhan untuk menggerakkan masyarakat agar datang ke Posyandu dan menggunakan fasilitas kesehatan. b. Kader juga diingatkan untuk mengajak ibu melaksanakan pesan-pesan yang ada di dalam buku. c. Pada waktu kunjungan rumah, kader melihat Buku KIA dan mengecek apakah ibu sudah melaksanakan pesan-pesan pada Buku KIA. d. Kader harus mendampingi keluarga/masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu sesuai jadwal yang dianjurkan. e. Pada waktu kegiatan di Posyandu, kader menimbang dan mengisi KMS balita pada Buku KIA serta mencatat pemberian vitamin A. f. Bila kader menemukan suatu masalah/kelainan kesehatan, dengan menggunakan Buku KIA kader dapat merujuk ibu/anak ke petugas kesehatan. 5.2 Kunjungan Neonatal (bayi baru lahir) Pelayanan Kunjungan Neonatal (bayi baru lahir) adalah pelayanan kesehatan kepada bayi baru lahir sedikitnya 3 kali, yaitu kunjungan pertama pada umur 6 jam sampai dengan 48 jam setelah lahir; kunjungan ke dua pada hari ke 3 sampai dengan hari ke 7, dan kunjungan ke tiga antara hari ke 8 28 hari.
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

25

Pelayanan kesehatan yang diberikan adalah pemeriksaan fisik untuk mengetahui tanda dan gejala kesakitan dan kecacatan, pemberian salep mata, injeksi vitamin K1 dan Hepatitis B (bila belum diberikan pada saat lahir) dan konseling pemberian ASI Ekslusif, perawatan bayi baru lahir (termasuk kebersihan tali pusat), menjaga bayi tetap hangat dan tanda/gejala sakit serta tanda bahaya untuk segera dirujuk. Peran kader dan organisasi kemasyarkatan/LSM: a. Kader memberikan informasi kepada bidan adanya bayi baru lahir, sehingga bayi dapat segera memperoleh pelayanan Kunjungan Neonatal. Kader memberikan penyuluhan kepada ibu, keluarga dan masyarakat pentingnya pelayanan kesehatan bagi bayi baru lahir dan mengingatkan untuk segera mendapat pelayanan Kunjungan Neonatal. Bila pada saat kunjungan rumah, kader menemukan bayi baru lahir sakit harus segera merujuk ke bidan dan petugas kesehatan lainnya.

b.

c.

5.3 Kunjungan Bayi Pelayanan Kunjungan Bayi adalah pelayanan kesehatan kepada bayi berumur 1 bulan sampai dengan 1 tahun sedikitnya 4 kali, yaitu kunjungan pertama antara umur 1 - 2 bulan, kunjungan ke dua 26
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

antara umur 3 5 bulan, kunjungan ke tiga antara umur 6 - 8 bulan, dan kunjungan ke empat antara umur 9 - 11 bulan. Pelayanan kesehatan yang diberikan adalah pemantauan pertumbuhan (penimbangan berat badan dan tinggi badan), pemantauan perkembangan, pemberian vitamin A sesuai umur dan jadwal, konseling pemberian ASI Ekslusif, pemberian MP ASI, perawatan kesehatan bayi dan tanda/gejala sakit serta tanda bahaya untuk segera dirujuk. Peran kader dan organisasi kemasyarkatan/LSM: a. Kader memberikan penyuluhan kepada ibu, keluarga dan masyarakat pentingnya pelayanan kesehatan bagi bayi dan mengingatkan untuk segera mendapat pelayanan kesehatan sesuai jadwal ke posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat. Bila pada saat kunjungan rumah, kader menemukan bayi sakit harus segera merujuk ke petugas kesehatan.

b.

5.4 Pelayanan Kesehatan Anak Balita Pelayanan Kesehatan Anak Balita adalah pelayanan kesehatan kepada anak balita berumur 1 sampai dengan 5 tahun sedikitnya 8 kali per tahun. Pelayanan kesehatan yang diberikan adalah emantauan pertumbuhan (penimbangan berat badan
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

27

dan tinggi badan), pemantauan perkembangan, pemberian vitamin A sesuai umur dan jadwal, konseling pemberian ASI, pemberian MP ASI, pemberian makan pada anak balita, perawatan kesehatan anak balita dan tanda/gejala sakit serta tanda bahaya untuk segera dirujuk. Peran kader dan organisasi kemasyarkatan/LSM: a. Kader memberikan penyuluhan kepada ibu, keluarga dan masyarakat pentingnya pelayanan kesehatan bagi anak balita dan mengingatkan untuk segera mendapat pelayanan kesehatan sesuai jadwal posyandu dan fasilitas kesehatan terdekat. Bila pada saat kunjungan rumah, kader menemukan anak balita sakit harus segera merujuk ke petugas kesehatan.

b.

5.5 Setiap kelahiran harus segera dilaporkan kepada petugas kesehatan, karena ibu dan bayi baru lahir perlu segera memperoleh pelayanan kesehatan. 5.6 Setiap kematian ibu, bayi dan balita harus segera dilaporkan kepada petugas kesehatan, karena perlu segera dikumpulkan informasi penyebab kematian dan mungkin perlu dilakukan tindak lanjut oleh petugas kesehatan.

28

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

III. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENINGKATAN CAKUPAN IMUNISASI RUTIN SERTA KESEHATAN IBU DAN ANAK
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu pendekatan kepada sasaran primer untuk meningkatkan kemandirian individu, kelompok, masyarakat agar berkembang kesadaran, kemauan dan kemampuannya di bidang kesehatan ibu dan anak khususnya berkaitan dengan imunisasi. Pada dasarnya pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses pengorganisasian masyarakat yang dimulai dari mengidentifikasi masalah yang dihadapi masyarakat, menyusun urutan prioritas masalah, mencari dan menentukan sumber daya baik yang ada di masyarakat maupun di luar masyarakat, sumber daya tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah yang ada melalui tindakan-tindakan yang diperlukan dengan cara kerjasama dengan anggota masyarakat lainnya. Langkah-langkah Pemberdayaan Masyarakat Dalam pemberdayaan masyarakat langkah pertama yang harus diambil oleh ormas dan LSM adalah mencari dukungan kebijakan kepada para pengambil keputusan di kabupaten/ kota (Bupati/Walikota/DPRD). Dalam pelaksanaan advokasi di tingkat kabupaten/kota, ormas dan LSM bisa bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Posyandu kabupaten/kota atau pihak-pihak lain yang berpengaruh terhadap pengambilan
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

29

keputusan di kabupaten/kota. Upaya tersebut bertujuan untuk memperoleh dukungan dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan cakupan imunisasi rutin serta kesehatan ibu dan anak. Setelah mendapatkan dukungan dari bupati/walikota/DPRD, maka langkah-langkah pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut : 1. Pengembangan Tim di tingkat kecamatan Di tingkat kecamatan, ormas/LSM bersama-sama pimpinan Puskesmas yang dipimpin oleh Camat membentuk tim pemberdayaan masyarakat di bidang imunisasi serta kesehatan ibu dan anak. Tim ini bisa menggunakan tim yang sudah ada. Tim pemberdayaan masyarakat terdiri dari : Camat dan staf Kepala Puskesmas dan staf Kepala Kantor Dinas Pendidikan Tim Pembina dan Pelaksana UKS Tim Penggerak PKK Petugas Lapangan KB (PLKB) Kwaran Gerakan Pramuka Ormas/LSM yang peduli kesehatan Tokoh masyarakat Tokoh agama Dunia usaha

30

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

Peran Tim Pemberdayaan Masyarakat adalah : Menganalisis dan melakukan pemetaan data terkini tentang imunisasi dan KIA. Mengkoordinasikan sumber daya (tenaga, dana, sarana) dari lintas sektor terkait untuk kegiatankegiatan pemberdayaan masyarakat di desa. Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan pemecahan masalah dalam peningkatan cakupan imunisasi dan KIA di desa. Memantau dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat. 2. Lokakarya di tingkat kecamatan Lokakarya diselenggarakan di tingkat kecamatan yang diikuti oleh Tim Pemberdayaan Masyarakat tingkat kecamatan dan Kepala Desa/Kelurahan/kampung. Tujuan lokakarya adalah : Menyamakan persepsi tentang imunisasi rutin dan KIA. Mengidentifikasi masalah imunisasi rutin dan KIA dan berbagai hambatan yang dihadapi (kesiapan pelayanan, SDM, geografi, sosial budaya). Menentukan desa-desa yang akan diberdayakan. Menyusun rencana tindak lanjut untuk pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan lokakarya Lokakarya dibuka dan dipimpin oleh Camat sebagai ketua tim pemberdayaan masyarakat.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

31

Penyajian data imunisasi dan KIA tingkat kecamatan dan per desa oleh Pimpinan Puskesmas, yang meliputi data sasaran, cakupan, ketersediaan vaksin, kualitas dan kuantitas SDM, transportasi, geografi, kepercayaan, mitos-mitos yang ada dan jumlah Drop Out (DO). Diskusi guna menentukan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk pemberdayaan masyarakat.

Rencana Tindak Lanjut (RTL) meliputi : Advokasi di tingkat desa yang dilakukan oleh Tim Pemberdayaan Kecamatan berdasarkan hasil lokakarya tingkat kecamatan. Sosialisasi kegiatan pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk memperoleh kesepakatan dan dukungan oleh seluruh desa. Pelatihan kader dari berbagai ormas/LSM di desa yang akan diberdayakan. Pelatihan motivator PKK, pembina Pramuka, Gugus depan, toma dan toga dilakukan oleh ormas/LSM masing-masing. Monitoring dan evaluasi. Pembagian tugas Tim Pemberdayaan Masyarakat : Masing-masing anggota tim melaksanakan peran sesuai dengan tugas dan fungsinya atau tugas yang disepakati pada lokakarya yang tercantum dalam RTL.

32

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

3.

Pengembangan Tim Pemberdayaan Masyarakat di tingkat desa/kelurahan/kampung Di tingkat desa/kelurahan/kampung, ormas/LSM bersama bidan di desa yang dipimpin oleh Kepala Desa/ Kelurahan/Kampung membentuk atau menggunakan tim yang sudah ada. Tim terdiri dari : Kepala Desa beserta jajarannya Ketua TP PKK Desa Pembina Pramuka di Gugusdepan Tokoh masyarakat Tokoh agama Kader Bidan di desa Ormas/LSM di tingkat desa

4.

Pertemuan Tingkat Desa Pertemuan ini bertujuan untuk penyiapan pemberdayaan masyarakat tingkat desa guna Menyamakan persepsi imunisasi dan KIA. tentang tim

permasalahan mengatasi

Menggalang kesepakatan untuk permasalahan imunisasi dan KIA.

Mendayagunakan potensi sumber daya yang dimiliki dan meminta dukungan fasilitasi dari jajaran yang lebih tinggi jika diperlukan.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

33

Kesepakatan untuk melakukan Survai Mawas Diri (SMD). Menentukan pelaksana SMD.

Pelaksanaan lokakarya Lokakarya dibuka dan dipimpin oleh Kepala Desa/Kelurahan/Kampung sebagai ketua tim pemberdayaan masyarakat. Penyajian data imunisasi dan KIA tingkat desa oleh Bidan di desa, yang meliputi data sasaran, cakupan, ketersediaan vaksin, transportasi, geografi, kepercayaan, mitos-mitos yang ada dan jumlah DO. Diskusi guna menentukan rencana SMD dan pelaksanaannya yang mencakup pelaksana SMD, jadwal, kesiapan kuesioner SMD.

5.

Survai Mawas Diri (SMD) SMD adalah kegiatan pengenalan masalah imunisasi dan KIA. Disebut SMD karena para kader di desa itu sendiri yang mengumpulkan data tentang masalah imunisasi dan KIA yang ada di desa. 5.1 Tujuan SMD a. b. c. Masyarakat mengenali permasalahan imunisasi dan KIA di desanya sendiri. Mengenali potensi di desa yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah. Timbulnya kesadaran masyarakat untuk mengatasi permasalahan imunisasi dan KIA dengan mendayagunakan potensi yang ada.

34

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

5.2 Pelaksana SMD SMD dilaksanakan oleh sekelompok warga masyarakat yang telah ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa. Informasi tentang masalah imunisasi dan KIA di desa dapat diperoleh sebanyak mungkin dari Kepala Keluarga (KK) yang bermukim dilokasi terpilih tersebut. 5.3 Waktu pelaksanaan SMD Waktu SMD dilaksanakan sesuai dengan hasil kesepakatan pertemuan desa. 5.4 Cara pelaksanaan SMD Pengumpulan data dapat dilakukan dengan melakukan kunjungan rumah untuk wawancara atau diskusi dengan kepala/anggota keluarga sekaligus melakukan pengamatan (observasi) terhadap rumah/tempat-tempat umum dan lingkungannya. Cara lain adalah melakukan Diskusi Kelompok Terarah yang menghadirkan perwakilan masyarakat melalui kelompok Dasawisma. 5.5 Data yang perlu dikumpulkan pada SMD adalah: a. Data imunisasi Status Imunisasi Dasar Lengkap bayi Status imunisasi TT ibu hamil Pengetahuan, sikap, perilaku imunisasi Alasan-alasan mengapa belum atau tidak mau diimunisasi Alasan mengapa DO Adanya budaya, kepercayaan, mitos berkaitan imunisasi 35

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

b.

Ada tidaknya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Ada tidaknya Kasus KIPI yang dirujuk ke Puskesmas Dukungan keluarga / masyarakat sekitarnya dalam memberikan imunisasi

Data KIA Pemeriksaan ibu hamil Pengetahuan, sikap dan perilaku ibu hamil Alasan tidak memeriksakan kehamilan Alasan memeriksakan kehamilan Melahirkan di fasilitas kesehatan Alasan tidak melahirkan di fasilitas kesehatan Alasan melahirkan di fasilitas kesehatan Adanya budaya, kepercayaan, mitos berkaitan dengan kehamilan dan persalinan Dukungan suami/keluarga dalam kehamilan dan persalinan Pemeriksaan bayi baru lahir (Neonatal) Kunjungan ke Posyandu Alasan datang/tidak datang ke Posyandu Pelayanan yang diperoleh di Posyandu Sikap pemberi pelayanan di Posyandu (kader dan petugas) Kunjungan ke Poskesdes Alasan mengunjungi/tidak mengunjungi Poskesdes

36

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

c.

Sumber informasi Darimana memperoleh informasi tentang imunisasi dan KIA Media yang disukai sebagai sumber informasi Tokoh yang disukai sebagai sumber informasi Tokoh yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan imunisasi dan KIA

5.6 Perumusan masalah pada SMD Kelompok pelaksana SMD dengan bimbingan bidan di desa mengolah hasil data SMD secara sederhana sehingga diketahui berbagai masalah imunisasi dan KIA di desa tersebut. Hasil SMD memberi gambaran berbagai masalah, penyebab masalah dan faktor yang mempengaruhinya, serta daftar potensi di desa yang dapat didayagunakan dalam mengatasi masalah yang ada di desa. Hasil SMD dibahas di Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). 6. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) MMD adalah pertemuan perwakilan warga desa, Tim Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Tim Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan. Pertemuan ini membahas hasil SMD dan merencanakan pemecahan masalah imunisasi dan KIA.

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

37

6.1 Tujuan Musyawarah Masyarakat Desa : Masyarakat mengenal masalah imunisasi dan KIA di wilayahnya Masyarakat menyepakati prioritas masalah yang akan dipecahkan Masyarakat menyepakati langkah-langkah pemecahan masalah dengan mendayagunakan potensi yang ada Masyarakat menyusun rencana pemecahan masalah imunisasi dan KIA 6.2 Tempat dan waktu pelaksanaan MMD MMD dilaksanakan di balai desa atau tempat pertemuan lain yang ada di desa. MMD dilaksanakan segera setelah SMD dilaksanakan. 6.3 Pelaksanaan MMD : a. Pembukaan dilakukan oleh kepala desa dengan menguraikan tujuan MMD dan menghimbau seluruh peserta agar aktif mengemukakan pendapat dan pengalaman sehingga membantu pemecahan masalah yang dihadapi bersama Perkenalan peserta yang dipimpin oleh kader untuk menimbulkan suasana keakraban Penyajian hasil SMD oleh kader selaku tim pelaksana SMD Perumusan dan penentuan prioritas masalah berdasarkan hasil SMD. Menggali potensi dan menemukenali potensi yang ada di masyarakat untuk memecahkan masalah yang dihadapi

b. c. d. e.

38

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

f.

g.

Menyepakati adanya fasilitasi teknis dari petugas terkait di tingkat desa, kecamatan atau kabupaten Penyusunan rencana kerja pemecahan masalah imunisasi dan KIA yang dipimpin oleh Kepala Desa

Rencana kerja meliputi hal-hal sebagai berikut : Kegiatan apa yang akan dilaksanakan Dimana tempatnya Siapa yang akan melaksanakan kegiatan ini Kapan dan berapa lama kegiatan ini berlangsung Bagaimana cara memantaunya Sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan ini (potensi yang ada di desa) Siapa yang perlu dilibatkan Target yang ingin dicapai baik jumlah maupun kualitasnya

7.

Pelaksanaan Kegiatan Sosialisasi rencana kerja pemecahan masalah imunisasi dan KIA oleh Tim Pemberdayaan Masyarakat ke seluruh warga desa dengan memanfaatkan pertemuan rutin yang sudah ada di desa. Semua pihak melakukan kegiatan sesuai tugas yang disepakati dalam rencana kerja pemecahan masalah baik berupa pelatihan/orientasi petugas/ormas/ LSM/Pramuka/PKK/kader, penyuluhan individu/ kelompok/massa, kunjungan rumah, penyiapan sarana/media. 39

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

Pertemuan Tim Pemberdayaan Masyarakat secara rutin untuk memantau kemajuan pelaksanaan kegiatan.

8.

Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui sumber daya yang tersedia, seberapa jauh proses kegiatan berjalan sesuai dengan rencana yang disepakati dan hasil yang dicapai. Evaluasi adalah proses menilai hasil seluruh kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pemantauan dan evaluasi dilaksanakan oleh Masyarakat dan Tim Pemberdayaan Masyarakat, sesuai dengan waktu yang telah disepakati pada waktu perencanaan kegiatan.

9.

Pembinaan dan Perluasan Pembinaan dilakukan secara terus menerus terhadap seluruh proses kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa. Pembinaan dilakukan melalui pertemuan, pengamatan langsung, kunjungan di posyandu/polindes, supervisi dan MMD. Perluasan dilakukan baik berdasarkan kegiatan maupun jangkauan wilayah yang akan dicapai.

40

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

KUESIONER SURVEY MAWAS DIRI IMUNISASI RUTIN SERTA KESEHATAN IBU DAN ANAK
Nama pewawancara Waktu wawancara Petunjuk : : : Gali setiap jawaban responden dengan sebaik-baiknya dan lingkari dengan benar jawaban dari responden

I.

IDENTITAS RESPONDEN: 1. Nama responden : ........ 2. Alamat : Desa : Kecamatan : Kabupaten : Provinsi : 3. Umur : ...................................... 4. Jumlah anak yang dimiliki : 5. Umur anak : Urutan Anak Anak Pertama Anak Kedua Anak Ketiga Anak Keempat Anak Kelima Umur Anak

II.

PERTANYAAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TENTANG KESEHATAN IBU 1. Apakah ibu sedang hamil? a. Ya b. Tidak
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

41

2.

Kehamilan untuk anak yang keberapa? a. Pertama b. Kedua c. Ketiga d. Lebih dari 3 Apakah ibu pernah mendapat imunisasi TT selama kehamilan? a. Ya b. Tidak Bila ya, berapa kali mendapat imunisasi TT selama kehamilan terakhir? a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali d. 4 kali e. tidak ingat Jika ya, apakah ibu diberi tahu apa manfaat dari imunisasi tersebut? a. Ya b. Tidak Jika ya, apakah ibu masih ingat apa saja manfaat ibu hamil di imunisasi? a. Agar ibu dan bayi menjadi sehat b. Mencegah ibu dan bayi terhindar dari penyakit Tetanus c. Agar ibu tidak cepat hamil lagi d. Agar berat badan bayi lahir normal e. Agar ASI yang keluar banyak f. Tidak tahu g. Lainnya, sebutkan : ............................. Jika belum pernah mendapat imunisasi TT, mengapa? (jawaban bisa lebih dari 1) a. Tidak tahu jika ibu hamil harus di imunisasi

3.

4.

5.

6.

7.

42

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

b. c. d. e. f. g. h. i. j. 8.

Takut akibatnya setelah Imunisasi Haram hukumnya Tidak punya dana Jaraknya jauh dari rumah Sulit transportasi ke sarana kesehatan Tidak diperbolehkan oleh suami atau orang tua Petugas kesehatan tidak ramah Tidak perlu di Imunisasi karena pada kehamilan yang lalu tidak ada masalah Lainnya , sebutkan : .............................................

Pernahkan ibu mengalami gangguan kesehatan setelah di imunisasi ? a. Ya b. Tidak Jika ya, apa saja keluhannya? (jawaban bisa lebih dari 1) a. Sakit kepala b. Mual c. Nyeri di sendi d. Demam e. Bekas suntikan nyeri f. Lainnya , sebutkan : .............................................

9.

10. Jika ada keluhan setelah Imunisasi, apa yang dilakukan ibu untuk menanggulangi masalah kesehatan tersebut? a. Memeriksakan diri ke Puskesmas b. Periksa ke bidan di Poskesdes c. Periksa ke klinik kesehatan terdekat d. Mengobati sendiri e. Dibiarkan saja karena nanti akan sembuh sendiri f. Lainnya, sebutkan : .............................................. 11. Adakah kepercayaan/budaya/anggapan yang keliru dalam masyarakat yang berkaitan dengan Imunisasi? a. Ada b. Tidak
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

43

12. Jika ada, apa saja menjadi kepercayaan masyarakat yang berkaitan dengan Imunisasi? a. Ibu sulit melahirkan b. Ibu menjadi sakit sakitan c. ASI tidak lancar d. Bayi menjadi besar dan cacat e. Bayi menjadi kurus dan sakit2an f. Haram hukumnya karena memasukkan sesuatu dalam tubuh saat hamil g. Lainnya, sebutkan : ...................................... 13. Adakah dukungan keluarga atau masyarakat dalam pelaksanaan Imunisasi? a. Ada b. Tidak 14. Jika ada, apa saja dukungan keluarga atau masyarakat dalam pelaksanaan Imunisasi? a. Disediakan alat transportasi untuk ke tempat Imunisasi b. Suami mendukung pelaksanaan Imunisasi c. Orang tua /mertua mendukung pelaksanaan Imunisasi d. Lainnya, sebutkan : ......................................... 15. Apakah ibu memeriksakan kehamilannya secara rutin ? a. Ya b. Tidak 16. Jika ya, sudah berapa kali ibu memeriksakan kehamilannya? a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali d. 4 kali e. Lebih dari 4 kali 17. Jika ya kemana saja ibu memeriksakan kehamilannya? a. Poskesdes b. Posyandu

44

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

c. d. e. f. g.

Puskesmas Klinik swasta Dokter praktek Dukun bayi Lainnya, sebutkan : ..................................

18. Jika tidak, mengapa?( jawaban bisa lebih dari 1) a. Tidak tahu manfaatnya b. Tidak punya dana c. Jaraknya jauh dari rumah d. Tidak diperbolehkan oleh suami atau orang tua e. Petugas kesehatan tidak ramah f. Kehamilan merupakan peristiwa biasa jadi tidak perlu pemeriksaan g. Tidak ada keluhan yang berarti h. Lainnya, sebutkan : .................................. 19. Untuk kehamilan saat ini apakah ibu telah merencanakan persalinannya di sarana kesehatan? a. Ya b. Tidak 20. Jika ya, kepada siapa sja ibu akan meminta pertolongan persalinan? a. Bidan desa di Poskesdes b. Petugas di Puskesmas c. Bidan praktik d. Dokter praktik e. Lainnya, sebutkan : .................................. 21. Jika tidak, kemana ibu akan melahirkan? a. Dukun bayi terlatih b. Dukun beranak 22. Apakah suami ibu juga memberikan dukungan terhadap perencanaan persalinan? a. Ya
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

45

b.

tidak

23. Jika ya, bagaimana caranya? a. Menyiapkan dana persalinan b. Menyiapkan calon donor darah c. Memberikan dorongan berupa nasihat dan perhatian d. Menyiapkan transport ketika akan melahirkan e. Mendampingi saat pemeriksaan kehamilan f. Lainnya, sebutkan : ............................................... 24. Apakah ibu mempunyai pantangan yang berkaitan dengan kehamilan? a. Ya b. Tidak 25. Bila ya, apa saja pantangannya? a. Tidak boleh makan makanan yang pedes b. Tidak boleh bekerja berat c. Tidak boleh makan makanan tertentu seperti nanas, duren d. Suami tidak boleh menyembelih ayam atau hewan lainnya e. Lainnya, sebutkan : ............................................ 26. Apakah ibu mempunyai pantangan yang berkaitan dengan persalinan? a. Ya b. Tidak 27. Jika ya, apa saja pantangannya? a. Tidak diperbolehkan melahirkan di petugas kesehatan b. Tidak boleh ditolong oleh petugas kesehatan laki- laki c. Lainnya, sebutkan ......................................................... 28. Adakah kepercayaan/budaya/anggapan keliru dalam masyarakat yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan? c. Ada d. Tidak

46

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

29. Jika ada, apa saja kepercayaannya dalam masyarakat? a. Ibu hamil harus sering minum air kelapa muda agar melahirkan bayi yang bersih b. Ibu hamil harus sering minum minyak kelapa yang dimasak agar melahirkan lancar c. Ibu hamil harus pantang makan buah tertentu seperti durian, nanas agar tidak keguguran d. Ibu hamil harus sering minum madu dan kocokan telur ayam kampung agar menjadi sehat dan kuat waktu melahirkan e. Ibu melahirkan tidak boleh membawa bayinya keluar rumah selama 40 hari setelah melahirkan f. Ibu melahirkan harus ditolong oleh dukun beranak g. Ibu bersalin tidak boleh mandi selama 7 hari h. Lainnya, sebutkan : .................................. III. PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU IBU TENTANG IMUNISASI RUTIN SERTA KESEHATAN IBU DAN ANAK 30. Apakah ibu punya bayi ? a. Ya b. Tidak 31. Berapakah umur bayi ibu saat ini? a. 0 - 3 bulan b. 4 - 6 bulan c. 7 - 9 bulan d. 10 - 12 bulan 32. Apakah bayi ibu sudah mendapat Imunisasi? a. Ya b. Tidak 33. Jika ya,Imunisasi apa saja yang sudah diperoleh (jawaban dapat lebih dari 1)? a. Hepatitis B : ......... kali b. BCG : ......... kali c. Polio : ........ kali
Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

47

d. e.

DPT : ........ kali Campak : ......... kali

34. Apakah ibu diberi tahu apa manfaat dari imunisasi tersebut ? Jelaskan a. Ya b. Tidak 35. Jika ya, menurut ibu, Imunisasi Hepatitis B untuk mencegah penyakit ? a. Hepatitis b. TB Paru c. Polio d. Difteri, Pertusis, Tetanus e. Campak f. Lainnya, sebutkan................................................. 36. Menurut ibu Imunisasi BCG untuk mencegah penyakit ? a. Hepatitis b. TB Paru c. Polio d. Difteri, Pertusis, Tetanus e. Campak f. Lainnya, sebutkan.................................................... 37. Menurut ibu, Imunisasi Polio untuk mencegah penyakit ? a. Hepatitis b. TB Paru c. Polio d. Difteri, Pertusis, Tetanus e. Campak f. Lainnya, sebutkan ................................................. 38. Menurut Ibu, Imunisasi DPT untuk mencegah penyakit ? a. Hepatitis b. TB Paru c. Polio d. Difteri, Pertusis, Tetanus

48

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

e. f.

Campak Lainnya, sebutkan ..................................................

39. Menurut ibu, imunisasi Campak untuk mencegah penyakit ? a. Hepatitis b. TB Paru c. Polio d. Difteri, Pertusis, Tetanus e. Campak f. Lainnya, sebutkan ................................................... 40. Dimana anak ibu di Imunisasi? a. Poskesdes b. Posyandu c. Puskesmas d. Klinik Swasta e. Rumah Sakit f. Lainnya, sebutkan : ..................................................... 41. Menurut Ibu, kapan waktu pemberian Imunisasi? a. Bayi 0 7 hari : imunisasi Hepatitis B (HB0) b. Bayi 1 bulan : imunisasi BCG dan Polio 1 c. Bayi 2 bulan : imunisasi DPT/ Hepatitis B1 dan Polio 2 d. Bayi 3 bulan : imunisasi DPT/ Hepatitis B 2 dan Polio 3 e. Bayi 4 bulan : imunisasi DPT/ Hepatitis B 3 dan Polio 4 f. Bayi 9 bulan : imunisasi Campak 42. Apakah bayi ibu sudah memperoleh Imunisasi Dasar Lengkap ? a. Ya b. Tidak 43. Setelah bayi ibu di Imunisasi, apakah ada keluhan? c. Ya d. Tidak 44. Bila ya, apa keluhan yang ada? a. Demam b. Infeksi/bengkak

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

49

c.

Lainnya, sebutkan ........................................

45. Tindakan apa yang dilakukan: a. Diberi obat penurun panas b. Di bawa ke sarana kesehatan c. Dibiarkan saja, nanti sembuh sendiri d. Lainnya, sebutkan ......................................... 46. Jika belum diimunisasi Dasar lengkap, mengapa ? a. Usia anak belum cukup b. Tidak perlu c. Tidak tahu jika balita harus diimunisasi d. Takut efek sampingnya e. Haram hukumnya f. Tidak punya dana g. Jaraknya jauh dari rumah h. Sulit transportasi ke sarana kesehatan i. Tidak diperbolehkan oleh suami atau orang tua j. Petugas kesehatan tidak ramah k. Lainnya, sebutkan : ....... 47. Adakah di desa Ibu budaya, kepercayaan, anggapan yang berkaitan dengan imunisasi ? a. Ya b. Tidak 48. Jika ya, dapatkah Ibu menyebutkannya ? a. Imunisasi supaya anak cepat besar b. Imunisasi membuat anak bodoh c. Imunisasi membuat anak pintar d. Lainnya, sebutkan : ... ................................................ IV. SUMBER INFORMASI 49. Menurut ibu, siapa yang paling berpengaruh terhadap pengambilan keputusan berkaitan dengan Imunisasi dan Kesehatan Ibu dan Anak? a. Suami

50

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

b. c. d. e. f. g. h.

Orang tua Mertua Kepala Desa Tokoh agama Tokoh masyarakat Dukun Lainnya, sebutkan : .......................................

50. Darimana saja ibu memperoleh informasi tentang Imunisasi dan kesehatan ibu dan anak? a. Media cetak: poster, leaflet, stiker, buklet, dll b. Media elektronik: TV, radio, c. Media Luar ruang: baliho, banner, neon box d. Media tradisIonal: wayang orang, wayang golek, sandiwara e. Petugas Kesehatan f. Kader g. Lainnya, sebutkan ......................................... 51. Menurut ibu, jenis media apa saja yang cocok untuk menyampaikan informasi tentang Imunisasi dan kesehatan ibu dan anak? a. Media cetak : poster, leaflet, stiker, buklet,selebaran dll b. Media elektronik: TV, radio, c. Media Luar ruang: baliho, banner, neon box d. Media tradisional: wayang orang, wayang golek, sandiwara 52. Menurut ibu, siapa yang paling cocok untuk menyampaikan informasi Imunisasi dan kesehatan ibu dan anak? a. Selebriti b. Publik figur c. Tokoh masyarakat d. Tokoh agama e. Pejabat pemerintah f. Petugas kesehatan

Pedoman pemberdayaan GAVI CSO

51