Anda di halaman 1dari 5

al-Kafi karangan al-Kulaini, al-Istibsar, Tahzib al-Ahkam , Biharul Anwar, tahdzib al-ahkam, Man layahduruhu ila faqih, al-Mizan

fi tafsir

Dalil Sunni dan Quran pasal mutah

PERLU DIINGAT BAHWA PEMBOLEHAN NIKAH MUTAH ITU HANYA DIKARENAKAN OLEH FAKTOR SITUASI YANG MENDESAK (DHORUROT ) PADA SAAT ITU, YAITU PADA WAKTU PEPERANGAN ( JIHAD FI SABILILLAH ),DALAM RICUH SUASANA YANG GENTING, TIDAK ADA ISTRI YANG MENYERTAI, DITAMBAH DENGAN PANASNYA SUHU CUACA DAERAH, SERTA KONDISI LIBIDO PARA MUJAHIDIN YANG TIDAK BISA DIBENDUNG. JADI DALAM HISTORITAS HADIS2, RASULULLAH SAW TIDAK PERNAH SEKALIPUN BELIAU MEMBERI KELONGGARAN ATAS NIKAH MUTAH KEPADA MEREKA YANG SEDANG BERDOMISILI TETAP ( MUQIM )DI DALAM RUMAH, YAITU KEBOLEHANNYA PASTI DALAM KONDISI SAFAR ( BEPERGIAN ) BAHKAN KEBANYAKAN DALAM KEADAAN PEPERANGAN. Kemudian mengenai berapa kali jumlah revisi nikah mutah dan sejauh mana dhorurot pembolehan mutah ini dapat kita ketahui dalam keterangan serta hadis di bawah ini : )-131031 / 5 ( - : : . : " " . : . : )131 / 5 ( - . : Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa kali mutah ini diperbolehkan dan di nasakh hukumnya. Maka dalam riwayat Imam Muslim yang diambil dari Abdullah bin Abbas, beliau

berkata : Kami pernah berperana bersama Rasulullah SAW sedang ketika itu tidak ada wanita pada kami. Maka kami bertanya : Apa sebaiknya kita kebiri diri kita ? Maka Rasulullah SAW melarang kita untuk melakukannya , lalu beliau memberikan rukhshoh ( dispensasi ) kepada kita untuk menikahi wanita untuk sementara waktu dengan mahar pakaian. Dalam karya shohihnya Imam Abu Hatim Al Bustiyyi menorehkan analisa pada pertanyaan yg diajukan sahabat kepada Nabi SAW : Apa sebaiknya kita kebiri diri kita ?adalah sebagai dalil bahwa mutah telah di larang ( diharamkan )sebelum istimta (bersenang senang ) itu diperbolehkan bagi mereka. Karena seandainya tidak dilarang maka mereka tidak menanyakan mengenai pengebirian ini., maka kemudian diberikan dispensasi bagi mereka pada waktu peperangan untuk menikahi perempuan dengan menggunakan mahar pakaian dengan jangka waktu, lalu beliau melarang pernikahan ( mutah ) tadi pada waktu tahun Khoibar, lalu diperbolehkan lagi pada tahun Fath, lalu diharamkan lagi setelah berlalu 3 hari setelahnya, maka pelarangan ini adalah berlaku hingga hari kiamat.( dari referensi hadis ini maka Imam Abu Hatim berkesimpulan bahwa kalkulasi jumlah perubahan hokum mutah mencapai 5 kali ). Ibnu Al Arobi memberikan statemen : Konstitusi hukum memutah wanita adalah termasuk syariat yang langka. Karena ketetapan hukumnya pernah diperbolehkan pada awal masa keislaman kemudian diharamkan pada hari Khoibar, lalu diperbolehkan lagi pada perang Authos ( Hari Fath ), lalu setelah itu diharomkan untuk selamanya. Tidak pernah ada dalam fase hukum syariat (mengenai pengulangan naskh dan manshukhnya ) yang menyamainya kecuali dalam masalah ( menghadap ) kiblat, karena penasakhan hukum menghadap kiblat diperbarui 2 kali kemudian setelah itu dilangsungkan penetapannya. November 22, 2010 at 8:47pm LikeUnlike
Submit

Dodi ElHasyimi BUKTI2 YURIDIS YANG TIDAK BISA TERBANTAHKAN DENGAN DALIL/HUJJAH MANAPUN MENGENAI KEHARAMAN NIKAH MUTAH : 1. FIRMAN ALLAH SWT : )6 ) )5 ) ) ]7-5/[ )7 5. dan orang-orang yang MENJAGA KEMALUANNYA, 6. KECUALI TERHADAP ISTERI-ISTERI MEREKA ATAU BUDAK YANG MEREKA MILIKI; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. 7. Barangsiapa MENCARI YANG DI BALIK ITU MAKA MEREKA ITULAH ORANGORANG YANG MELAMPAUI BATAS. Dari ayat2 diatas dapat diketahui bahwa dalam masalah ISTIMTA ( BERSENANG SENANG ) YANG SAH ITU HANYA DAPAT DILAKUKAN MELALUI ISTRI2 DAN BUDAK PEREMPUAN SAJA, maka posisi mutah secara normatif syari tidak bisa terhitung secara sah sebagai istri atau budak perempuan, karena terbukti dalam ikatan mutah tidak ada istilah talaq, hak nafkah dan warisan, bahkan wanita2 dalam nikah mutah itu hanya berstatus sebagai wanita2 sewaan saja. 2. HADIS : )291 / 7 ( -

Rasulullah SAW bersabda : Wahai para manusia, sesungguhnya pada mulanya aku mengizinkan kalian mengambil kesenangan dengan wanita2 dan sesungguhnya Allah telah MENGHARAMKAN HAL ITU SAMPAI HARI KIAMAT, maka siapa saja yang disampingnya memiliki sesuatu dari mereka maka lepaskanlah jalannya, dan janganlah kamu semua mengambil sesuatupun dari apa yang kamu datang kepada mereka. ( HR. Muslim, juga terdapat dalam HR. Ahmad dan HR. Ibnu Abi Syaibah ). Dari hadis diatas kita dapat mengetahui bahwa pernikahan mutah, yang sebelumnya pernah diperbolehkan bagi orang yang posisi kebutuhannya mendesak ( dhorurot ), ternyata pada klimaksnya adalah DINYATAKAN KEHARAMANNYA OLEH ALLAH SWT MELALUI SABDA RASULULLAH SAW YANG BERUPA NASKH MUABBAD ( PENGHAPUSAN HUKUM UNTUK SELAMA LAMANYA )INI. KESIMPULAN 1 : DENGAN 2 DALIL INI SAJA, MAKA CUKUP BAGI ORANG YANG BERIMAN, BERAKAL, MENDAMBAKAN KETENANGAN BATHIN, KESUCIAN FARJI SERTA KEBAHAGIAAN DI DUNIA DAN AKHIRAT UNTUK MENINGGALKAN KESYUBHATAN MENGENAI NIKAH MUTAH INI, KARENA 2 HUJJAH INI TIDAK AKAN BISA DIGOYAHKAN OLEH DALIL MANAPUN JUGA, YANG BERMAKSUD UNTUK MELEGALKAN KEMBALI NIKAT MUTAH. NAMUN DEMIKIAN KAMI AKAN SEDIKIT MENAMBAHI HADIS2 YANG MELARANG NIKAH MUTAH INI SESUAI DENGAN MASANYA : Yang pertama : )102 / 7 ( - Dari Sy Ali RA. : Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang pernikahan mutah dan daging2 himar yang dipelihara pada zaman Khoibar.( HR. Muslim, juga terdapat dalam HR. Bukhori dan HR. Ahmad ). Yang kedua : )713 / 33 ( - Salamah bin Al Akwa berkata : Rasulullah SAW member keringanan pada kami dalam masalah mutah wanita2 pada tahun Authos selama 3 hari, kemudian beliau melarangnya. (HR. Ahmad, juga terdapat dalam HR. Ahmad ) Yang ketiga : )253 / 03 ( - Sabroh ( bin Muid ) berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW pada waktu haji wada melarang nikah mutah. (HR. Ahmad, juga terdapat dalam HR. Abu Dawud ). Keterangan : Alasan Rasulullah SAW mengumumkan naskh muabbad ketika haji wada, ( posisi beliau adalah berdiri diantara Rukun dan pintu )adalah sebagaimana analisis yang

disampaikan dalam Tafsir Qurthubi : )231 / 5 ( - . Karena disitu adalah tempat berkumpulnya manusia, sehingga orang yang belum mendengarnya akan bisa mendengarnya. Maka menjadi kokoh pelarangan mutah itu, sehingga tiada kesyubhatan bagi seseorang yang mengaku ngaku akan kehalalannya, dan dikarenakan penduduk Mekkah pada waktu itu banyak sekali yang telah melakukan mutah. KESIMPULAN 2 : DARI BERBAGAI DATA RIWAYAT HADIS, DITETAPKAN TERJADI SEJUMLAH REVISI TERHADAP LEGALITAS NIKAH MUTAH, DIMANA SEBELUM PERANG KHOIBAR PERNAH DIPERBOLEHKAN, KEMUDIAN DIHARAMKAN KETIKA HARI TERJADINYA PERANG KHOIBAR. SETELAH ITU KETIKA HARI FATH MAKKAH (AM AUTHOS KARENA KEDUANYA ADA KETERKAITAN )DIPERBOLEHKAN LAGI NAMUN HANYA 3 HARI, KEMUDIAN NIKAH MUTAH DINYATAKAN HARAM UNTUK SELAMANYA PADA WAKTU HAJI WADA. Keterangan : Dapat dilihat dalam kitab Hasyiah Ianatuth Tholibin : )461 / 4 ( - . Sesungguhnya nikah mutah diperbolehkan kemudian di nasakh pd hari Khoibar kemudian diperbolehkan pd hari Fath lalu di nasakh Lagi pada hari2 Fath dan berlangsung keharamannya hingga hari kiamat. Maka terjadilah perbedaan ( hukum ) pada awal ( islam ) kemudian dihapuslah ( hukumnya ) dan para sahabat IJMA (sepakat ) atas keharamannya.
Dlm kitab syiah al kafi : Dari Abu Ja'far, Rasulullah bersabda : Allah membenci atau melaknat pria yg suka mencicipi istri, dan istri yg suka mencicipi suami ( Al Kafi jilid 6 hal 54) Hadits Abdullah bin Masud: berkata: Kami berperang bersama Rasululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam sedangkan kami tidak membawa istri istri kami, maka kami berkata bolehkan kami berkebiri? Namun Rasululloh melarangnya tapi kemudian beliau memberikan kami keringanan untuk menikahi wanita dengan mahar pakaian sampai batas waktu tertentu. (HR. Bukhari 5075, Muslim 1404). Hadits Jabir bin Salamah: Dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin Akwa berkata: Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan berkata: Telah diizinkan bagi kalian nikah mutah maka sekarang mutahlah. (HR. Bukhari 5117).

Pengharaman nikah mutaah. Hadits Sabrah bin Mabad Al-Juhani Radiyallahu anhu: berkata:Rasululloh Shallallahu alahi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mutah pada waktu fathu makkah saat kami masuk Makkah kemudian beliau melarang kami sebelum kami keluar dari makkah. Dan dalam riwayat lain: Rasululloh bersabda: Wahai sekalian manusia, sesunggunya dahulu saya telah mengizinkan kalian nikah mutah dengan wanita. Sekarang Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat, maka barangsiapa yang memiliki istri dari mutah maka hendaklah diceraikan (HR. Muslim 1406, Ahmad 3/404).