Anda di halaman 1dari 27

BABI

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum
tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih
yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih me-
reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri.
Tubuh manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah
diharapkan be-reproduksi kembali.
Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada
tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol
(abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah
periIer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan
dapat mengganggu Iungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti
ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena
penyakit inIeksi, anemia dan perdarahan.
B. %::an

Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana cara mencegah penyakit leukimia seperti kita
telah tahu bersama bahwa penyakit ini adalah penyakit mematikan.
2. Untuk mengetahui cara pengobatan dan penanganan leukimia kemudian
terapi2 apa saja yang harus dilakukan apabila sudah terkena lekimia.













BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI LEUKIMIA
Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik yang
beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transIormasi maligna
dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limIoid. Sel-sel
normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal.
Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah periIer
atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses
pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita.
Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan banyak
sel darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak banyak
merupakan sel yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang semakin meninggi
ini dapat mengganggu Iungsi normal dari sel lainnya.
Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel
darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang
atau bone marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah
diantaranya sel darah putih (berIungsi sebagai daya tahan tubuh melawan
inIeksi), sel darah merah (berIungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan
platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah).
Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya,
Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel
darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah
putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel
darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur
kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi kembali.
Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada
tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol
(abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah
periIer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan
dapat mengganggu Iungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti
ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena
penyakit inIeksi, anemia dan perdarahan.

enurut Ahmad Ramadi (1998) leukemia merupakan penyakit ganas,


progresiI pada organ - organ pembentukan darah yang ditandai dengan
proliIerasi dan perkembangan leukosit serta pendahulunya secara abnormal di
dalam darah dan sumsum tulang belakang. ProliIerasi sel leukosit yang
abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang tidak abnormal, jumlahnya
berlebihan, dapat ,menyebabkan anemia, trombositopenia, dan diakhiri dengan
kematian (ansjoer, 1999).
enurut jenisnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan limIoid.
asing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar , pembagian
leukemia adalah sebagai berikut yaitu : Le:kemia limfoid : Le:kemia
Limfoblastik Ak:t (LLA) erupakan kanker yang paling sering menyerang
anak-anak dibawah umur 15 tahun, dengan puncak insidensi antara umur 3
sampai 4 tahun. aniIestasi dari LLA adalah berupa proliIerasi limpoblas
abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat-tempat ekstramedular. Paling sering
terjadi pada laiki - laki dibandingkan perempuan, LLA jarang terjadi (Smeltzer
dan Bare, 2001). Gejala pertama biasanya terjadi karena sumsum tulang gagal
menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang memadai, yaitu berupa: lemah
dan sesak naIas, karena anemia (sel darah merah terlalu sedikit) inIeksi dan
demam karena, berkurangnya jumlah sel darah putih perdarahan, karena jumlah
trombosit yang terlalu sedikit.

B. EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan penelitian sero epidemiologi, pembawa virus (carrier) banyak
ditemukan di daerah endemis seperti Jepang bagian Barat Daya,Taiwan, Teluk
Karibia, Amerika Serikat bagian Tenggara dan AIrikaTengah.Selain itu HTLV-I
juga dapat ditemukan secara sporadis di daerahlainnya, yaitu Itali, Israel,
Antartika danNew Guinea (Irian). Sedangkan di Hawai yang bukan termasuk
daerah endemik,prevalensi HTLV-I lebih banyak terdapat pada orang Jepang dari
Okinawa yang bermigrasi ke Hawai dibadingkan dar idaerah Niigata (bukan
daerah endemik).Hal ini disebabkan seringnya terjadi migrasi dari daerah
endemis ke daerah lain yang tidak endemis. Gambaran geograIis penyebaran
inIeksi HTLV-
Di Jepang insiden inIeksi HTLV-I yang terdapat pada penduduk perkotaan
Sangat bervariasi dan cenderung terlokalisasi. Hal ini mungkin disebabkan
terbatasnya transmisi HTLV-1 di masyarakat. Setiap tahun sekitar 300 sampai
500 kasus terdiagnosis sebagai ATL dari individu yang terinIeksi HTLV-I.
Umumnnya inIeksiHTLV terjadi pada usia yang sangat dini, mungkin sejak usia

perinatal. eskipun demikian, sekitar 30,000 sampai 50,000 rakyat Jepang


terinIeksi virus HTLV-1melalui transIusi darah. Hanya sedikit sekali Iaktor
lingkungan yang mempengaruhi perkembangan penyakit ATL. Di daerah pantai
Kyushu insidenATL yang tertinggi terjadi pada musim panas. InIeksi Filaria
sering menyertai penderita ATL, meskipun beberapa penderita menunjuk-kan
keadaan imunosupresiI. Dalam hal ini masih belum jelas apakah Filariasis
sebagai koIaktor untuk terjadinya ATL. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
di daerah Kyushu, Shikoku dan Okinawa di Jepang ternyata insiden penderita
Adult T cell lymphoma leukemia (ATLL) sebanyak 3,5 kasus per 100.000
populasi dan insiden akan meningkat menjadi 5,7 kasus/100.000 populasi pada
individu yang berusia di atas40tahun. Dari jumlah kasus tersebut ternyata 95
menunjukan sero positiI HTLV-I, dengan rincian 35 di Okinawa, 8 - 10 di
Kyushu dan 0-1,2 di daerah yang nonendemis.Sedangkan individu sehat di
daerah endemis seperti Kyushu , jumlah seropositiI HTLV-I sebesar 8 .Negara
Karibia bagian timur yang terdiri dari berbagai etnik yaitu AIrika, Asia dan
Kaukasia, tercatat 2,8 kasus/100.000 populasi per tahunnya.Prevalensi HTLV - I
pada individu sehat adalah 2,2,dengan rincian sebagai berikut : seropositiI
HTLV-Ipada etnik AIrika sebesar 3,4 , Asia 0,2 dan Kaukasia 0 . Ternyata
dari golongan etnik AIrika yang memiliki seropositiI HTLV-I berasal dari
kalangan sosioekonomi rendah. Di AIrika, perhatian khusus diberikan pada
penderita 'NonHodgkin Lymphoma, karena pada pemeriksaan serologi
terhadap kelompok ini terdapat HTLV-I yang positiI cukup tinggi. Keadaan ini
berbeda dengan daerah endemis di Jepang di mana kasus"Non Hodgkin
Lymphoma" yang menunjukkan hasil serologi positiIterhadap HTLV-I sangat
renda .Negara Itali bagian selatan merupakan daerah endemis HTLV - Ipada
penduduk kulit putih, ternyata di sinihanya sekitar 20 antibodi sero positiIyang
dapat ditemukan di antara penderitaATL dan angka prevalensi ATL adalah 8.
Hal ini mungkin disebabkan adanya varian baru dari HTLV yaitu HTLV - V dan
melalui beberapa penelitian ternyata terdapat perbedaan antara gejala klinis
dengan gambaran laboratorium yaitu tidak terdapatnya tanda (marker) pada
reseptorsel T di permukaan selnya. Padabeberapa kasus ATL/ATLL tidak
terdapat antibodi terhadap HTLV-I. Hal ini dapat disebabkan beberapa Iaktor
yaitu etiologinya yang berbeda, bukan HTLV - Iatau teknologi pemeriksaan yang
masih kurang baik sehingga gagal mendeteksi adanya antibodi. Pada keganasan
lain yang bukan limIoma atau leukemia, jugadi jumpai prevalensi seropositiI
yang cukup tinggi yaitu 15- 30 . eskipun tidak ada kaitan yang jelas antara
penyakit dengan antibodi, tetapi ada kemungkinan terjadinya perkembangan

. MANIFES%ASI KLINIK
O Hematopoesis normal terhambat
O Penurunan jumlah leukosit
O Penurunan sel darah merah
O Penurunan trombosit
Le:kimia diklasifikasikan dalam 4 bagian
1. Le:ke:mia Limfositik Kronik (LLK)
Leukemia LimIositik Kronik (LLK) ditandai dengan adanya sejumlah besar
limIosit (salah satu jenis sel darah putih) matang yang bersiIat ganas dan
pembesaran kelenjar getah bening. Lebih dari 3/4 penderita berumur lebih dari 60
tahun, dan 2-3 kali lebih sering menyerang pria. Pada awalnya penambahan
jumlah limIosit matang yang ganas terjadi di kelenjar getah bening. Kemudian
menyebar ke hati dan limpa, dan kedua nya mulai membesar. asuknya limIosit
ini ke dalam sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang normal, sehingga terjadi
anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit di dalam darah.
Kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan inIeksi) juga berkurang.
Sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh terhadap serangan dari luar,
seringkali menjadi salah arah dan menghancurkan jaringan tubuh yang normal.
Manifestasinya adalah :
O Adanya anemia
O Pembesaran nodus limIa
O Pembesaran organ abdomen
O Jumlah eritrosi dan trombosit mungkin normal atau menurun
O Terjadi penurunan jumlah limIosit (limIositopenia)
. Le:kemia Mieloid Ak:t
LA mempunyai insidensi tahunan 5-6 kasus tiap juta anak kurang dari 15
tahun. Di Amerika ,350-500 kasus baru tiap tahun .LA merupakan 15-20 dari
leukimia anak tetapi terutama sebagai leukimia neonatal atau congenital .Tidak
ada perbedaan insidensi dalam hal jenis kelamin atau ras dan, kecuali sedikit
kenaikan selama remaja ,disitribusi kasus menurut umur konsisten selama masa
anak .
Insidensi LA melebihi angka perkiraan pada kelainan genetic, termasuk
trisomi 21,anemia Fanconi ,anemia Diamond BlackIan ,sindrom kostmann, dan

sindrom Bloom. Anak yang mendapatkan terapi keganasan sebelumnya juga


mengalami rikiso : insidensi LA sekunder mendekati 5 seteelah terapi
beberapa malignitas. Insidensi itu mencapai puncak dalam 10 setahun dari
keganasan awal. Kejadian berkaitandengan terapi spesiIik obat alkilasi seperti
sikloIosIamid, obat yang menghambat reparasi DNA seperti etoposid}. Terapi
radiasi yang diberikan bersama kemoterapi juga meningkatkan risiko leukimia
sekunder.
. Le:kemia Mielositik ak:t (LMA)
enurut Smeltzer dan Bare (2001), Leukemia akut ini mengenai sel stem
hematopoetik yang kelak berdiIerensiasi ke sua sel mieloid;monosit, granulosit,
eritrosit, dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena , insidensi
meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. erupakan leukemia nonlimIositik
yang paling sering terjadi. Gambaran klinis LA, antara lain yaitu ;terdapat
peningkatan leukosit, pembesaran pada limIe, rasa lelah, pucat, naIsu makan
menurun, anemia, ptekie, perdarahan , nyeri tulang, InIeksi
4. Le:kemia Mielogen:s Kronik (LMK)
Leukemia ielositik (mieloid, mielogenous, granulositik, LK) adalah suatu
penyakit dimana sebuah sel di dalam sumsum tulang berubah menjadi ganas dan
menghasilkan sejumlah besar granulosit (salah satu jenis sel darah putih) yang
abnormal.
Dimasukkan kedalam keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak
terdapat sel normal dibaniding dalam bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih
ringan, jarang menyerang individu di bawah umur 20 tahun, namun insidensinya
meningkat sesuai pertambahan umur.
Gambaran klinis LK mirip dengan LA, tetapi gejalanya lebih ringan
yaitu; Pada stadium awal, LK bisa tidak menimbulkan gejala. Tetapi beberapa
penderita bisa mengalami: kelelahan dan kelemahan, kehilangan naIsu makan,
penurunan berat badan, demam atau berkeringat dimalam hari, perasaan penuh di
perutnya (karena pembesaran limpa) (Smeltzer dan Bare, 2001).


D. E%IOLOGI
Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti, namun diketahui beberapa
Iaktor yang dapat mempengaruhi Irekuensi leukemia, seperti
#adiasi
Radiasi dapat meningkatkan Irekuensi LA dan LA. Tidak ada laporan
mengenai hubungan antara radiasi dengan LLK. Beberapa laporan yang mendukung:
O Para pegawai radiologi lebih sering menderita leukemia
O Penderita dengan radioterapi lebih sering menderita leukemia
O Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom Hiroshima dan
Nagasaki, Jepang
Faktor le:kemogenik
Terdapat beberapa zat kimia yang telah diidentiIikasi dapat mempengaruhi
Irekuensi leukemia:
O Racun lingkungan seperti benzena
O Bahan kimia industri seperti insektisida
O Obat untuk kemoterapi
'ir:s
Virus dapat menyebabkan leukemia seperti retrovirus, virus leukemia Ieline,
HTLV-1 pada dewasa.
enurut Smeltzer dan Bare (2001) meskipun penyebab leukemia tidak diketahui,
presdiposisi genetik maupun Iaktor-Iaktor lingkungan kelihatannya memainkan
peranan. Faktor lingkungan berupa paparan radiasi pergion dosis tinggi disertai
maniIestasi leukemia yang timbul bertahun-tahun kemudian. Zat-zat kimia (misalnya
benzen, arsen, pestisida, kloramIenikol, Ienilbutazone, dan agen antineoplastil)
dikaitkan dengan Irkuensi yang meningkat khususnya agen-agen alkil. Leukemia
biasanya mengenai sel-sel darah putih. Penyebab dari sebagian besar jenis leukemia
tidak diketahui. Virus menyebabkan beberapa leukemia pada binatang (misalnya
kucing). Virus HTLV-I (human T-cell lymphotropic virus type I), yang menyerupai
virus penyebab AIDS, diduga merupakan penyebab jenis leukemia yang jarang terjadi
pada manusia, yaitu leukemia sel-T dewasa.Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi)
dan bahan kimia tertentu (misalnya benzena) dan pemakaian obat antikanker,
meningkatkan resiko terjadinya leukemia. Orang yang memiliki kelainan genetik
tertentu (misalnya sindroma Down dan sindroma Fanconi), juga lebih peka terhadap
leukemia.
%


Faktor Lingk:ngan
Di antara Iaktor-Iaktor lingkungan yang dianggap penyebab leukemia, berikut
adalah beberapa yang paling masuk akal:
O erokok - merokok ini diyakini akan meningkatkan kemungkinan terkena
leukemia. eskipun statistik menunjukkan bahwa sekitar 20 persen dari kasus
leukemia akut yang berhubungan dengan merokok, leukemia juga terjadi
kepada orang-orang yang tidak merokok dan karena itu tidak dapat dianggap
sebagai penyebab leukemia pada dirinya sendiri;
O Berkepanjangan paparan radiasi - Radiasi dianggap memIasilitasi
pengembangan leukemia. Hal ini diyakini bahwa paparan sinar-X dapat
menyebabkan leukemia;
O Pemaparan berkepanjangan untuk benzena - statistik mengungkapkan bahwa
ini merupakan Iaktor utama risiko dalam beberapa bentuk leukemia, seperti
leukemia myelogenous;
O Kemoterapi dan pengobatan kanker - pengobatan kanker dan kemoterapi
sebelumnya dikenal untuk memIasilitasi terjadinya dan pengembangan
leukemia dan dapat dianggap sebagai penyebab leukemia masuk akal. Dalam
beberapa tahun dari penyelesaian kemoterapi dan perawatan lainnya untuk
beberapa bentuk kanker, kebanyakan orang dapat mengembangkan leukemia.
Diantara Iaktor-Iaktor genetik yang dianggap penyebab leukemia, yang berikut ini
dianggap paling penting:
O Kelainan kromosom - beberapa sindrom genetik jarang diketahui
berkontribusi pada penyebab leukemia.
O Sistem kekebalan masalah genetik - sistem kekebalan tubuh lemah sangat
mungkin untuk memIasilitasi terjadinya leukemia dan karenanya dapat
dianggap sebagai penyebab leukemia;
O Down syndrome - anak yang lahir dengan sindrom ini mempunyai risiko yang
tinggi mengembangkan leukemia akut.
DaItar kemungkinan penyebab leukemia dapat melanjutkan lebih lanjut, tetapi
ini adalah Iaktor yang paling umum yang dianggap terkait dengan leukemia.
Sementara beberapa dari mereka dapat dicegah, yang lain berada dalam gen dan
sekarang tidak dapat diperbaiki. Di masa depan, Namun, berkat kemajuan medis,
kami mungkin akan dapat mencegah leukemia dan bentuk lain dari kanker.

%

E. PA%OFISIOLOGI
Pada keadaan normal, sel darah putih berIungsi sebagai pertahanan kita
dengan inIeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai dengan perintah, dapat
dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Lekemia meningkatkan produksi
sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal. ereka terlihat
berbeda dengan sel darah normal dan tidak berIungsi seperti biasanya. Sel
lekemia memblok produksi sel darah putih yang normal , merusak kemampuan
tubuh terhadap inIeksi. Sel lekemia juga merusak produksi sel darah lain pada
sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berIungsi untuk
menyuplai oksigen pada jaringan.
enurut Smeltzer dan Bare (2001) analisa sitogenik menghasilkan banyak
pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan
leukemia,. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang
menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur,
yang termasuk translokasi ini, dua atau lebih kromosom mengubah bahan
genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan
mulainya proliIerasi sel abnormal. Leukemia terjadi jika proses pematangan dari
stem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan
perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut seringkali melibatkan
penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks).
Penyusunan kembali kromosom (translokasi kromosom) mengganggu
pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel membelah tak terkendali
dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan
menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel darah yang normal.
Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa,
kelenjar getah bening, ginjal dan otak.
F. PEME#IKSAAN PENUN1ANG

Diagnosa Penyakit Leukemia (Kanker Darah) Penyakit Leukemia dapat
dipastikan dengan beberapa pemeriksaan, diantaranya adalah ; Biopsy,
Pemeriksaan darah complete blood count (CBC)}, CT or CAT scan, magnetic
resonance imaging (RI), X-ray, Ultrasound, Spinal tap/lumbar puncture.
enurut Doengoes dkk (1999) menyatakan bahwa pemeriksaan penunjang
mengenai leukemia adalah :
O Hitung darah lengkap menunjukkan normositik, anemia normositik.
O Hemoglobin : dapat kurang dari 10 g/100 ml

O Retikulosit : jumlah biasanya rendah


O Jumlah trombosit : mungkin sangat rendah (50.000/mm)
O SDP : mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang imatur
(mungkin menyimpang ke kiri). ungkin ada sel blast leukemia.
O PT/PTT : memanjang
O LDH : mungkin meningkat
O Asam urat serum/urine : mungkin meningkat
O uramidase serum (lisozim) : penigkatabn pada leukimia monositik akut dan
mielomonositik.
O Copper serum : meningkat
O Zinc serum : meningkat
O Biopsi sumsum tulang : SD abnormal biasanya lebih dari 50 atau lebih
dari SDP pada sumsum tulang. Sering 60 - 90 dari blast, dengan prekusor
eritroid, sel matur, dan megakariositis menurun.
O Foto dada dan biopsi nodus limIe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan
Penatalaksanaan pengobatan Le:kimia Mielogen:s Kronik
Sebagian besar pengobatan tidak menyembuhkan penyakit, tetapi hanya
memperlambat perkembangan penyakit. Pengobatan dianggap berhasil apabila
jumlah sel darah putih dapat diturunkan sampai kurang dari 50.000/mikroliter
darah. Pengobatan yang terbaik sekalipun tidak bisa menghancurkan semua sel
leukemik. Satu-satunya kesempatan penyembuhan adalah dengan pencangkokan
sumsum tulang. Pencangkokan paling eIektiI jika dilakukan pada stadium awal
dan kurang eIektiI jika dilakukan pada Iase akselerasi atau krisis blast. Obat
interIeron alIa bisa menormalkan kembali sumsum tulang dan menyebabkan
remisi. Hidroksiurea per-oral (ditelan) merupakan kemoterapi yang paling
banyak digunakan untuk penyakit ini. BusulIan juga eIektiI, tetapi karena
memiliki eIek samping yang serius, maka pemakaiannya tidak boleh terlalu lama.
Terapi penyinaran untuk limpa kadang membantu mengurangi jumlah sel
leukemik. Kadang limpa harus diangkat melalui pembedahan (splenektomi)
untuk: mengurangi rasa tidak nyaman di perut, meningkatkan jumlah trombosit,
mengurangi kemungkinan dilakukannya tranIusi.
Le:kemia Limfoblastik Ak:t :
Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan
menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal bisa tumbuh kembali di
dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi perlu dirawat di
rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada

respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang. Sebelum sumsum tulang kembali
berIungsi normal, penderita mungkin memerlukan: transIusi sel darah merah
untuk mengatasi anemia, transIusi trombosit untuk mengatasi perdarahan,
antibiotik untuk mengatasi inIeksi. Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi
sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau beberapa
minggu. Suatu kombinasi terdiri dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis
mingguan dari vinkristin dengan antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk
mengatasi sel leukemik di otak, biasanya diberikan suntikan metotreksat
langsung ke dalam cairan spinal dan terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu
atau beberapa bulan setelah pengobatan awal yang intensiI untuk menghancurkan
sel leukemik, diberikan pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk
menghancurkan sisa-sisa sel leukemik. Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3
tahun. Sel-sel leukemik bisa kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak
atau buah zakar. Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan
masalah yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani kemoterapi.
Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada
penderita ini. Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka obat kemoterapi
disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu. Pemunculan
kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan kemoterapi dan
terapi penyinaran.
Pengobatan Le:ke:mia Limfositik Kronik
Leukemia limIositik kronik berkembang dengan lambat, sehingga banyak
penderita yang tidak memerlukan pengobatan selama bertahun-tahun sampai
jumlah limIosit sangat banyak, kelenjar getah bening membesar atau terjadi
penurunan jumlah eritrosit atau trombosit. Anemia diatasi dengan transIusi darah
dan suntikan eritropoietin (obat yang merangsang pembentukan sel-sel darah
merah). Jika jumlah trombosit sangat menurun, diberikan transIusi trombosit.
InIeksi diatasi dengan antibiotik. Terapi penyinaran digunakan untuk
memperkecil ukuran kelenjar getah bening, hati atau limpa. Obat antikanker saja
atau ditambah kortikosteroid diberikan jika jumlah limIositnya sangat banyak.
Prednison dan kortikosteroid lainnya bisa menyebabkan perbaikan pada
penderita leukemia yang sudah menyebar. Tetapi respon ini biasanya
berlangsung singkat dan setelah pemakaian jangka panjang, kortikosteroid
menyebabkan beberapa eIek samping. Leukemia sel B diobati dengan alkylating
agent, yang membunuh sel kanker dengan mempengaruhi DNAnya. Leukemia
sel berambut diobati dengan interIeron alIa dan pentostatin.

Manifestasi klinik
aniIestasi leukemia akut merupakan akibat dari komplikasi yang terjadi pada
neoplasma hematopoetik secara umum. Namun setiap leukemia akut memiliki ciri
khasnya masing-masing. Secara garis besar, leukemia akut memiliki 3 tanda utama
yaitu:
O Jumlah sel di periIer yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya
inIiltrasi jaringan atau leukostasis
O Penggantian elemen sumsum tulang normal yang dapat menghasilkan
komplikasi sebagai akibat dari anemia, trombositopenia, dan leukopenia
O Pengeluaran Iaktor Iaali yang mengakibatkan komplikasi yang signiIikan
Alat diagnosa
O Leukemia akut dapat didiagnosa melalui beberapa alat, seperti:
O Pemeriksaan morIologi: darah tepi, aspirasi sumsum tulang, biopsi sumsum
tulang
O Pewarnaan sitokimia
O ImmunoIenotipe
O Sitogenetika
O Diagnostis molekuler
Pengobatan Le:kimia dengan %ahitian Noni 1:ice
Tahitian Noni Juice bermanIaat untuk Le:kimea karena Tahitian Noni Juice
bekerja ditingkat selular. Lebih jauh lagi dipercaya bahwa Tahitian Noni Juice
meningkatkan struktur selular yang di hancurkan oleh kanker darah. Beberapa
penelitian lain telah dilakukan di laboratorium-laboratorium untuk menegaskan
kemampuan Tahitian Noni Juice untuk melawan kanker . Dalam suatu penelitian,
empat orang ilmuwan dari Jepang menyuntikkan sel ras (sel yang menjadi pemicu
bagi pertumbuhan yang merusak) dengan substansi yang disebut damnacanthal yang
ditemukan dalam Tahitian Noni Juice. ereka mengobservasi bahwa pemberian
damnachantal ternyata menghambat reproduksi sel ras secara signiIikan.
Damnachantal adalah suatu substansi didalam Tahitian Noni Juice yang di percaya
sebagai agen anti kanker.
Sebagai tambahan, riset telah membuktikan bahwa Tahitian Noni Juice
merangsang tubuh untuk mereproduksi element-element yang melawan kanker
seperti nitrix oxide, interleukin (mediator sistem imunitas yang dibuat oleh dan
mempengaruhi limIosit-red), interIeron (sitokin yang mencegah terjadinya super

inIeksi oleh virus lain ? red), Iaktor nekrosis tumor, lipopolisakarida dan sel-sel
pembunuh alami.
Dipercaya juga bahwa Tahitian Noni Juice mempunyai Iungsi pencegahan dan
perlindungan terhadap kanker pada tahap inisisasi, yang merupakan Iase pertama
pada pembentukan kanker. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ian-Ying Wang,
.D. di Fakultas Kedokteran Universitas Illionis, RockIord, menunjukan bahwa tikus
yang diberikan 10 Tahitian Noni Juice selama seminggu dan kemudian disuntukan
sel DBA (agen penyebab kanker) , mempunyai bercak tambahan DNA (suatu tes
untuk melihat keabnormalan DNA) yang secara signiIikan lebih sedikit di
bandingkan dengan tikus yang juga disuntukan DBA namun hanya diberi air.
Semakin sedikit jumlah bercak tambahan DNA, semakin tinggi perlindungan
terhadap kanker. Tikus yang diberi Tahitian Noni Juice mempunyai 50 bercak
DNA lebih sedikit di paru-paru, 60 lebih sedikit di jantung, 70 lebih sedikit di
lever, dan 90 lebih sedikit di ginjal. Tahitian Noni Juice telah terbukti memiliki
kemampuan anti oksidan. Hal ini berarti dapat mengikat radikal bebas yang terdapat
dalam tubuh. Radikal bebas dapat merusak sel dan membentuk sel kanker.
Banyak yang berpendapat bahwa aktiIitas anti oksidan adalah Iungsi penting dari
Tahitian Noni Juice dan salah satu alasan mengapa begitu banyak orang sukses dalam
melawan kanker dengan Tahitian Noni Juice. Dari 27.000 pengguna Tahitian Noni
Juice dalam survey saya 2.365 orang menderita berbagai jenis kanker. Dari jumlah ini
60 dari mereka berhasil mengalami kemajuan kesehatan yang luar biasa. Dosis
inum Tahitian Noni untuk penderita kanker darah atau leukimia Dosis penggunaan
Tahitian Noni Juice untuk Terapi Kanker : jumlah konsumsi rata-rata dari 64
responden yang mengalami kemajuan kesehatan adalah 105 cc setiap hari. Dalam
riset Dr.Neil Solomon juga menemukan ?RESEP NONI? yang telah digunakan oleh
para pasien penderita kanker untuk meningkatkan energi tubuh mereka secara
maksimal. Resep ini datang dari rekan sejawat dari proIesional media, Orlando Pile,
.D. Resepnya sebagai berikut:
1 Liter Tahitian Noni Juice perhari selama 4 hari pertama
Penyakit Leukemia Akut dan Kronis Leukemia akut ditandai dengan suatu
perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Apabila hal ini
tidak segera diobati, maka dapat menyebabkan kematian dalam hitungan minggu
hingga hari. Sedangkan leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak
begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1
tahun.

Leukemia diklasiIikasikan berdasarkan jenis sel Ketika pada pemeriksaan


diketahui bahwa leukemia mempengaruhi limIosit atau sel limIoid, maka disebut
le:kemia limfositik. Sedangkan leukemia yang mempengaruhi sel mieloid seperti
neutroIil, basoIil, dan eosinoIil, disebut le:kemia mielositik.
G. %ANDA DAN GE1ALA PENYAKI% LEUKIMIA
Gejala penderita leukemia bevariasi tergantung dari jumlah sel abnormal dan
tempat berkumpulnya sel abnormal tersebut. Gejala umum pasien leukemia yaitu :
O Demam atau keringat malam
O Sering mengalami inIeksi
O erasa lemah atau capai
O Pucat
O Sakit kepala
O udah berdarah atau memar.isalnya gusi mudah berdarah saat sikat gigi,
muda memar saat terbentur ringan)
O Nyeri pada tulang dan/atau sendi
O Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut, akibat pembesaran limpa
O Pembesaran kelenjar getah bening, terutama di leher dan ketiak
O Penurunan berat badan
Pada stadi:m dini le:kemia kronik, sel leukemia dapat berIungsi hampir
seperti sel normal. ungkin tidak ada gejala yang dirasakan selama beberapa
waktu. Diagnosis pada tahap ini mungkin ditentukan saat pemeriksaan .e.k up
rutin. Jika muncul gejala, umumnya ringan dan perlahan-lahan semakin
memberat.
Pada le:kemia ak:t gejala akan timbul dan memberat secara cepat. Gejala
leukemia akut lainnya yaitu muntah, penurunan konsentrasi, kehilangan kendali
otot, dan kejang. Sel leukemia juga dapat berkumpul di buah zakar dan
menyebabkan pembengkakan.
Gejala Leukemia yang ditimbulkan umumnya berbeda diantara penderita,
namun demikian secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Anemia. Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat dan bernaIas cepat
(sel darah merah dibawah normal menyebabkan oxygen dalam tubuh kurang,
akibatnya penderita bernaIas cepat sebagai kompensasi pemenuhan
kekurangan oxygen dalam tubuh).

2. Perdarahan. Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan


wajar karena didominasi oleh sel darah putih, maka penderita akan mengalami
perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik merah lebar/kecil dijaringan
kulit).
3. Terserang InIeksi. Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan
tubuh, terutama melawan penyakit inIeksi. Pada Penderita Leukemia, sel
darah putih yang diterbentuk adalah tidak normal (abnormal) sehingga tidak
berIungsi semestinya. Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena inIeksi
virus/bakteri, bahkan dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya
demam, keluar cairan putih dari hidung (meler) dan batuk.
4. Nyeri Tulang dan Persendian. Hal ini disebabkan sebagai akibat dari sumsum
tulang (bone marrow) mendesak padat oleh sel darah putih.
5. Nyeri Perut. Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia,
dimana sel leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu
yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini dan timbulah
nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya naIsu makan penderita
leukemia.
6. Pembengkakan Kelenjar Lympa. Penderita kemungkinan besar mengalami
pembengkakan pada kelenjar lympa, baik itu yang dibawah lengan, leher,
dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas menyaring darah, sel leukemia
dapat terkumpul disini dan menyebabkan pembengkakan.
7. Kesulitan BernaIas (Dyspnea). Penderita mungkin menampakkan gejala
kesulitan bernaIas dan nyeri dada, apabila terjadi hal ini maka harus segera
mendapatkan pertolongan medis.
Seperti semua sel-sel darah, sel-sel leukemia mengalir ke seluruh tubuh. Tergantung
pada jumlah sel-sel yang abnormal dan tempat sel-sel ini terkumpul, pasien leukemia
mempunyai sejumlah gejala umum antara lain:
O Demam atau keringat malam
O InIeksi yang sering terjadi
O erasa lemah atau letih
O Sakit kepala
O udah berdarah dan lebam (gusi berdarah, bercak keunguan di kulit, atau
bintik-bintik merah kecil di bawah kulit)
O Nyeri di tulang atau persendian
O Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut (akibat pembesaran limpa)
O Pembengkakan, terutama di leher atau ketiak
O Kehilangan berat badan

H. PENANGANAN DAN PENGOBA%AN LEUKIMIA


Penanganan kasus penyakit Leukemia biasanya dimulai dari gejala yang
muncul, seperti anemia, perdarahan dan inIeksi. Secara garis besar penanganan
dan pengobatan Leukemia bisa dilakukan dengan cara single ataupun gabungan
dari beberapa metode dibawah ini:
1. Chemotherapy/intrathecal medications
2. Therapy Radiasi. etode ini sangat jarang sekali digunakan
3. Transplantasi bone marrow (sumsum tulang)
4. Pemberian obat-obatan tablet dan suntik
5. TransIusi sel darah merah atau platelet.

Sistem Therapi yang sering digunakan dalam menangani penderita leukemia
adalah kombinasi antara Chemotherapy (kemoterapi) dan pemberian obat-obatan
yang berIokus pada pemberhentian produksi sel darah putih yang abnormal dalam
bone marrow. Selanjutnya adalah penanganan terhadap beberapa gejala dan tanda
yang telah ditampakkan oleh tubuh penderita dengan monitor yang
komprehensive.

Dapat juga dengan pengobatan :
O Protokol pengobatan
O Protokol pengobatan menurut IDAI ada 2 macam yaitu : Protokol halI dose
metothrexate (Jakarta 1994) dan Protokol Wijaya Kusuma (WK-ALL 2000)
O Pengobatan suportiI ; Terapi suportiI misalnya transIusi komponen darah,
pemberian antibiotik, nutrisi, dan psikososial.
#iwayat penyakit
Leukemia limIoblastik akut merupakan leukemia yang paling sering dijumpai
pada anak-anak. Dapat mengenai baik anak-anak laki-laki maupun wanita dengan
Irekunsi yang sama. Gambaran penyakitnya bervariasi, pada anak kecil ditandai
dengan mendadak panas, pucat dan memar dikulit. Pada anak yang lebih besar sering
didahului dengan nyeri ditulang beberapa minggu/bulan sebelum timbulnya
ecchymosis, pucat dan panas badan. Perasaan lemah dan berat badan yang tidak
bertambah atau naIsu makan yang sangat menurun, kadang-kadang epistaksis dan
perdarahan gusi dapat merupakan keluhan-keluhan tambahan.


Kelainan fisik
Anak biasanya terlihat pucat, tampak sakit berat, takikardi adalah merupakan
tanda yang selalu ditemukan demikian pula perdarahan Iundus oculi. LimIadenopati
terdapat di leher, axila dan inguinal, biasanya bersiIat simetris. Terdapat
hepatosplenomegali, demikian pula tonsil membesar.
Akan dapat ditemukan ptechiae dan ecchymosis. pada stadium awal penyakit,
susunan saraI pusat tidak akan terkena proses. Baru stadium lanjut akan terlihat
gejala rangsangan menigeal dan gejala cerebral dengan timbulnya reIleks-reIleks
patologis. Dapat terjadi perdarahan otak yang berakibat kematian mendadak.

Kelainan hematologis
Anemia normokrom normositer dengan jumlah eritrosit yang menurun sekitar 1-
3 juta. Tidak terlihat polikromasi dan jumlah retikulosit menurun. Lekositosis dengan
jumlah leukosit dapat mencapai rata-rata 100.000. Lekosit terdiri dari limIoblas (
reaksi peroksidase negatiI) dan jumlah granulosit sangat berkurang. Kira-kira 10
leukemia limIoblastik akut memberikan gambaran leukemia aleukemik dan limIoblas
sangat jarang djumpai dalam darah tepi. Pada kasus leukemia yang aleukemik
limIosit yang tampak pada darah tepi biasanya berbentuk limIosit yang atipik.
Trombositopenia dengan jumlah trombosit rata-rata 75.000/mm3
Kira-kira 10 kasus mempunyai trombosit yang normal. Sum-sum tulang
hiperseluler disebabkan inIiltrasi masiI dengan limIoblas, megakarioblast dan
pronormoblas sangat jarang.

I. P#OGNOSIS

Prognosis. Banyak gambaran klinis telah dipakai sebagai indicator prognosis,
tetapi kehilangan arti karena keberhasilan terapi. isalnya imunoIenotip penting
dalam mengarahan terapi kearah risiko ,tetapi arti prognostiknya telah lenyap
berkat regimen terapi kontemporer .Karena itu , terapi merupakan Iactor
prognostic tunggal yang paling penting .Hitung leukosit awal mempunyai
hubungan linier terbalik dengan kemungkinan sembunyi.Umur pada waktu
diagnosis juga merupakan peramal yang dapat di percaya reliable}. Penderita
berumur lebih dari 10 tahun dan yang kurang dari 12 bulan yang mempunyai
penyusunan kembali rearrangement} kromosom yang meyangkut region 11q23,
jauh lebih buruk dibanding anak dari kelompok umur pertengahan
intermediate}. Beberapa kelainan kromosom mempengaruhi hasil terapi
.Hiperploidi lebih dari 50 kromosom berkaitan dengan hasil terapi baik dan
member respon terhadap terapi berbasis antimetabolit. Dua translokasi
kromosom-t 9:22}, atau kromosom Philadelphia ,dan t 4:11}- mempunyai
%

prognosis buruk .Beberapa peneliti menganjurkan CST selama remisi inisial pada
penderita dengan translokasi tersebut . LLA progenitor sel-B dengan t 1:19}
mempunyai prognosis kurang baik dibanding kasus lain dengan imunoIenotip
ini:hanya 60 dari penderita akan remisi setelah 5 tahun jika tidak mendapat
terapi sangat intensiI.
Prognosis ditentukan oleh beberapa Iaktor, yaitu :Umur anak-anak
memiliki prognosis yang lebih baik darpada umur dewasa dan tua. Respons
terhadap khemoterapi. ereka yang berespons baik terhadap Khemo-terapi
mempunyai prognosis yang lebih baik. leukemia myeloid akut adalah penyakit yang
dapat disembuhkan, kemungkinan obat untuk pasien tertentu tergantung pada sejumlah
Iaktor prognosis.
Sitogenetika
Faktor prognosis yang paling penting dalam AL Sitogenetika, atau struktur
kromosom dari sel leukemia. sitogenetika kelainan tertentu yang berhubungan
dengan hasil yang sangat baik (misalnya, (15, 17) translokasi pada leukemia
promyelocytic akut). Sekitar setengah dari pasien AL memiliki "normal"
Sitogenetika; mereka jatuh ke dalam kelompok risiko menengah. Sejumlah
kelainan sitogenetika lain yang dikenal untuk berasosiasi dengan prognosis buruk
dan risiko tinggi kambuh setelah pengobatan.
Publikasi pertama untuk alamat Sitogenetika dan prognosis merupakan
pengadilan RC tahun 1998:
Kategori
#isiko
Kelainan
5 tah:n
kelangs:ngan
hid:p
%ingkat
#elapse
Baik t (8; 21), t (15, 17), inv (16) 70 33
enengah
Normal, 8, 21, 22, del (7q), del (9q),
Abnormal 11q23, semua perubahan
struktural atau numerik lainnya
48 50
iskin
-5, -7, Del (5Q), Abnormal 3q,
Kompleks Sitogenetika
15 78
%

Kemudian, Southwest Oncology Group dan Timur Onkologi Koperasi


Group dan, kemudian masih, Kanker dan Leukemia Grup B dipublikasikan
lain, kebanyakan tumpang tindih daItar ramalan Sitogenetika pada leukemia.
Myelodysplastic sindrom
AL yang timbul dari sindrom myelodysplastic yang sudah ada sebelumnya atau
penyakit myeloproliIerative (apa yang disebut''sekunder''AL) memiliki prognosis
lebih buruk, seperti halnya''AL terkait pengobatan''timbul setelah kemoterapi
keganasan yang lain sebelumnya. Kedua perusahaan ini berhubungan dengan tingkat
tinggi kelainan sitogenetika kurang baik.
Lain penanda prognostik
Dalam beberapa penelitian, usia~ 60 tahun dan peningkatan tingkat laktat
dehidrogenase juga dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk. Seperti kebanyakan
bentuk kanker, kinerja status (yaitu kondisi Iisik umum dan tingkat aktivitas pasien)
memainkan peran utama dalam prognosis juga.
Duplikasi tandem FLT3''''internal (ITDs) telah terbukti memberikan prognosis yang
lebih buruk di AL. engobati pasien dengan terapi yang lebih agresiI, seperti
transplantasi stem-sel di remisi pertama, belum terbukti untuk meningkatkan
kelangsungan hidup jangka panjang, sehingga Iitur ini prognosis adalah signiIikansi
klinis tidak pasti pada saat ini. ITDs dari FLT3 dapat berhubungan dengan
leukostasis.
Para peneliti sedang menyelidiki signiIikansi klinis KIT''''c-mutasi pada AL. Ini
adalah lazim, dan secara klinis relevan karena ketersediaan inhibitor tirosin kinase,
seperti imatinib dan sunitinib yang dapat memblokir aktivitas KIT''''c-Iarmakologi.
gen lain yang sedang diteliti sebagai Iaktor prognosis atau target terapeutik
termasuk''''CEBPA,''''BAALC,''''ERG, dan''NP1''.
Secara kesel:r:han harapan penyemb:han
Tingkat Cure dalam uji klinis telah berkisar 20-45, namun perlu dicatat bahwa uji
klinis sering termasuk pasien yang hanya muda dan orang yang mampu mentolerir
terapi agresiI.
Tingkat menyembuhkan keseluruhan untuk semua pasien dengan AL (termasuk
orang tua dan mereka yang tidak mampu mentoleransi terapi agresiI) cenderung lebih
rendah. Tingkat penyembuhan leukemia promyelocytic dapat setinggi 98.




1. DIAGNOSIS

Petunjuk pertama diagnosis AL biasanya hasil abnormal pada hitung darah
lengkap. Sementara kelebihan abnormal sel-sel darah putih (leukositosis) adalah
penemuan yang umum, dan ledakan leukemia kadang-kadang terlihat. AL juga dapat
hadir dengan penurunan terisolasi di trombosit, sel darah merah, atau bahkan dengan
jumlah''''sel darah putih rendah (leukopenia). Sementara diagnosis dugaan AL dapat
dilakukan melalui pemeriksaan apusan darah tepi bila ada ledakan beredar leukemia,
diagnosis pasti biasanya membutuhkan aspirasi sumsum tulang yang memadai dan
biopsi.
Sumsum atau darah diperiksa melalui mikroskop cahaya maupun Ilow cytometry
untuk mendiagnosis adanya leukemia, untuk membedakan AL dari jenis lain leukemia
(misalnya leukemia lymphoblastic akut), dan untuk mengklasiIikasikan subtipe penyakit
(lihat di bawah).
Contoh sumsum atau darah biasanya juga diuji untuk translokasi kromosom oleh
Sitogenetika rutin atau neon hibridisasi in situ. Studi Genetika juga dapat dilakukan
untuk mencari mutasi spesiIik dalam gen seperti FLT3, nucleophosmin, dan KIT, yang
dapat mempengaruhi hasil dari penyakit. Cytochemical noda pada noda darah dan
sumsum tulang sangat membantu dalam pembedaan AL dari SEUA dan dalam
subklasiIikasi AL. Kombinasi dari myeloperoxidase atau Sudan noda hitam dan noda
esterase non spesiIik akan memberikan inIormasi yang diinginkan dalam banyak kasus.
The myeloperoxidase atau reaksi Sudan hitam yang paling berguna dalam membangun
identitas AL dan membedakan dari SEUA. The esterase non-spesiIik noda
digunakan untuk mengidentiIikasi komponen monocytic di ALs dan untuk
membedakan leukemia monoblastic buruk dibedakan dari SEUA.
Diagnosis dan klasiIikasi AL dapat menantang, dan harus dilakukan oleh
hematopathologist memenuhi syarat atau hematologi. Dalam kasus sederhana, kehadiran
Iitur morIologi tertentu (seperti batang Auer) atau hasil aliran tertentu cytometry dapat
membedakan AL dari leukemia lain, namun tanpa adanya Iitur tersebut, diagnosis
mungkin lebih sulit. enurut banyak digunakan kriteria WHO, diagnosis AL
ditetapkan dengan menunjukkan keterlibatan lebih dari 20 dari darah dan / atau
sumsum tulang oleh myeloblasts leukemia. AL harus hati-hati dibedakan dari "pra-
leukemia" kondisi seperti sindrom myelodysplastic atau myeloproliIerative, yang
diperlakukan berbeda. Karena promyelocytic leukemia akut (APL) memiliki hal dpt
sembuh tertinggi dan membutuhkan bentuk unik pengobatan, penting untuk segera
mendirikan atau mengeluarkan diagnosis ini subtipe leukemia.
Fluorescent hibridisasi in situ dilakukan pada sumsum tulang darah atau sering
digunakan untuk tujuan ini, karena mudah mengidentiIikasi translokasi kromosom (t |15,
17|) yang menjadi ciri khas APL


Jika Anda mempunyai gejala atau hasil skrining yang mengarah ke penyakit
leukemia, dokter harus mengetahui apakah gejala tersebut berasal dari kanker atau
dari kondisi kesehatan yang lain. Anda akan diminta untuk menjalani tes darah
dan prosedur diagnostik berikut ini:
O Pemeriksaan Iisik dokter akan memeriksa pembengkakan di kelenjar getah
bening, limIa, limpa dan hati.
O Tes darah laboratorium akan memeriksa jumlah sel-sel darah. Leukemia
menyebabkan jumlah sel-sel darah putih meningkat sangat tinggi, dan jumlah
trombosit dan hemoglobin dalam sel-sel darah merah menurun. Pemeriksaan
laboratorium juga akan meneliti darah untuk mencari ada tidaknya tanda-
tanda kelainan pada hati dan/atau ginjal.
O Biopsi dokter akan mengangkat sumsum tulang dari tulang pinggul atau
tulang besar lainnya. Ahli patologi kemudian akan memeriksa sampel di
bawah mikroskop, untuk mencari sel-sel kanker. Cara ini disebut biopsi, yang
merupakan cara terbaik untuk mengetahui apakah ada sel-sel leukemia di
dalam sumsum tulang.
O Sitogenetik laboratorium akan memeriksa kromosom sel dari sampel darah
tepi, sumsum tulang, atau kelenjar getah bening.
O Processus Spinosus dengan menggunakan jarum yang panjang dan tipis,
dokter perlahan-lahan akan mengambil cairan cerebrospinal (cairan yang
mengisi ruang di otak dan sumsum tulang belakang). Prosedur ini berlangsung
sekitar 30 menit dan dilakukan dengan anestesi lokal. Pasien harus berbaring
selama beberapa jam setelahnya, agar tidak pusing. Laboratorium akan
memeriksa cairan apakah ada sel-sel leukemia atau tanda-tanda penyakit
lainnya.
O Sinar X pada dada sinar X ini dapat menguak tanda-tanda penyakit di dada.
Diagnosa banding
LimIositosis dapat terjadi akibat inIeksi oleh virus yang terjadi pada anak-anak
oleh karena itu perlu dibuat diagnosa banding dengan leukemia limIoblastik akut.
Pada inIeksi biasanya tidak disertai dengan anemia dan trombositopenia.
ononukleosis inIeksiosa yang juga disertai dengan limIositis harus dibuat
diagnosa banding dengan leukemia limIoblastik akut. LimIosit pada mononukleosis
inIeksiosa berbentuk limIosit atipik bukan limIoblas, pada mononukleosis tidak ada
anemia dan trombositopenia.
Apabila gejala trombositopeni yang sangat menonjol maka harus dibuat
diagnosa banding dengan purpura trombositopeni idiopatik (P.T.I). Pada PTI tidak

terdapat limIositosis akan tetapi terdapat granulositosis. Juga pada PTI tidak terdapat
anemia, kecuali apabila disertai dengan perdarahan yang cukup banyak.

Dua hal yang perlu diingat yaitu :
1) Apabila seorang anak terkena suatu inIeksi maka sering disertai dengan
limIositosis.
2) Dalam hal yang menyulitkan diagnosa banding diselesaikan dengan pemeriksaan
sum-sum tulang, oleh karena kelainan pada sumsum tulang berupa inIiltrasi
limIoblas telah terjadi sejak stadium awal dari leukemia limIoblastik akut.

Secara klinis leukemia limIoblastik akut dapat menyerupai demam rheumatik
karena adanya nyeri di tulang dan sendi, anemia, Iebris, dan tachykardia. Pemberian
obat salisilat kan menyembuhkan sakit sendi pada demam Rheumatik dan tidak pada
leukemia.
ononukleosis inIeksiosa yang selalu disertai dengan limIadenopati
hepatoslenomegali juga harus dibuat diagnosa banding secara klinis dengan
leukemia limIoblstik akut.

Diagnosa pasti
Anemia, trombositopenia dan limIoblastoma disertai dengan inIiltrasi limIoblas
dalam sumsum tulang.

Komplikasi
Komplikasi dibagi menjadi dua macam yaitu akibat dari penyakitnya
sendiri dan akibat dari pengobatan. Komplikasi dari penyakit : Perdarahan akibat
dari trombositopenia yang sering berakibat Iatal apabila terjadi perdarahan otak.
InIiltrasi sel leukemia ke otak pun dapat menyebabkan gejala-gejala peninggian
tekanan intrakranial.
Komplikasi terapi adalah terjadinya gejala akibat pemberian kortikosteroid
dalam jangka waktu lama berupa : mooIace. hipertensi, osteoporosis , diabetes ,
gangguan keseimbangan elektrolit dan masking eIIect terhadap adanya inIeksi.
Komplikasi akibat pemberian terapi dengan terapi dengan antimetabolik
menimbulkan ulserasi traktus digestivus sehingga mengakibatkan lebih mudah
inIiltrasi dengan berbagai macam bakteri dan jamur.

%erapi
Pertama-tama perbaiki dahulu keadaan umum dengan memperbaiki kondisi
anemia, trombsitopenia yang mengancam. Perbaikan keadaan umum tentu hanya

dengan transIusi darah. Dapat diberikan transIusi dengan darah lengkap atau
dengan transIusi dengan darah merah saja.
Apabila trombositopenianya berat, maka kemungkinan perdarahan alat dalam
tinggi maka diberikan transIusi darah merah saja. Terapi terhadap leukemia
terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap induksi dengan
pemberian :
1) Vincristin dosis satu minggu satu kali.
2) Prednison
Apabila telah terjadi remisi yang ditandai dengan perbaikan keadaan umum
dan status hematologis maka dilanjutkan dengan tahap konsolidasi .Remisi klinis
adalah : perbaikan keadaan umum, tidak ada Iebris lagi.
Remisi hematologis dimana kadar hemoglobin naik, mencapai kadar normal,
jumlah lekosit menurun demikian juga trombosit menjadi normal. Jumlah limIoblas
dalam sumsum tulang kurang dari 10 tahap konsolidasi ini ditujukan terhadap sel-
sel leukemia yang bersarang di susunan saraI pusat yaitu dengan pemberian
metotrexat intratechal radiasi susunan saraI pusat.
Setelah selesai tahap konsolidasi dilanjutkan dengan tahap pemeliharaan
dengan pemberian purinethol (antagonis purin ). Kemoterapi di atas adalah salah
satu protokol yang banyak dipergunakan . Apabila respon terapi di atas tidak
berhasil dapat diberikan protokol lain.
Tindakan yang juga dapat dilakukan adalah cangkok sumsum tulang.
engingat bahwa respon terhadap khemoterapi pada umumnya cukup baik maka
terapi dengan tindakan cangkok sumsum tulang dilaksanakan pada remisi kedua.



Data WHO
Darah manusia terdiri dari cairan yang disebut sebagai plasma darah, dan tiga
kelompok sel darah. Kelompok sel darah itu dibedakan menjadi sel darah merah, sel
darah putih, dan keping-keping darah.
Sel darah putih atau leukosit berIungsi untuk melindungi tubuh terhadap inIeksi
atau serangan penyakit lainnya. Sel darah merah atau eritrosit berIungsi untuk
mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh, dan membawa karbon
dioksida dari jaringan tubuh kembali ke paru-paru.? Keping-keping darah atau
trombosit sangat berperan dalam proses pembekuan darah.

Ketika terjadi leukemia, tubuh akan memproduksi sel-sel darah yang abnormal
dan dalam jumlah yang besar. Pada leukemia, sel darah yang abnormal tersebut
adalah kelompok sel darah putih. Sel-sel darah yang terkena leukemia akan sangat
berbeda dengan sel darah normal, dan tidak mampu berIungsi seperti layaknya sel
darah normal.
Penyebab leukemia sejauh ini belum diketahui. Namun banyak penelitian yang
dilakukan untuk memecahkan masalah ini. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
leukemia lebih sering menyerang kaum pria dibandingkan kaum wanita, dan juga
pada kelompok orang kulit putih dibandingkan dengan orang kulit hitam. Namun
sampai saat ini belum diketahui mengapa hal tersebut dapat terjadi.
Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab leukemia misalnya tubuh sering
terpapar oleh bahan kimia tertentu, sinar radiasi, serta obat-obatan (seperti pada
pengobatan kanker), atau karena adanya kromosom yang abnormal (seperti pada
43 sy3/74me). Bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan terjadinya mutasi dan
akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan atau proses pembelahan sel darah putih.
Gejala penyakit leukemia biasanya ditandai dengan adanya anemia. InIeksi akan
mudah atau sering terjadi karena sel darah putih tidak dapat berIungsi dengan baik,
rasa sakit atau nyeri pada tulang, serta pendarahan yang sering terjadi karena darah
sulit membeku. Jika tidak diobati, maka akan mengakibatkan leukemia akut dan
akhirnya dapat menyebabkan kematian.











BAB III
PENU%UP
A. Kesimp:lan
Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik yang beragam,
ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transIormasi maligna dari sel-sel
pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limIoid. Sel-sel normal di dalam
sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel abnormal ini keluar
dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah periIer atau darah tepi. Sel leukemia
mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas
tubuh penderita.
Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan banyak sel darah
putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak banyak merupakan sel yang
muda, misalnya promielosit. Jumlah yang semakin meninggi ini dapat mengganggu
Iungsi normal dari sel lainnya.
Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah
putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone
marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah
putih (berIungsi sebagai daya tahan tubuh melawan inIeksi), sel darah merah (berIungsi
membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu
proses pembekuan darah).
Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum
tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang
berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih me-reproduksi
ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh
manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-
reproduksi kembali.
Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada
tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol
(abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah periIer
atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat
mengganggu Iungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia)
akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena penyakit inIeksi, anemia dan
perdarahan.

enurut Ahmad Ramadi (1998) leukemia merupakan penyakit ganas, progresiI pada
organ - organ pembentukan darah yang ditandai dengan proliIerasi dan perkembangan
leukosit serta pendahulunya secara abnormal di dalam darah dan sumsum tulang
belakang. ProliIerasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit
yang tidak abnormal, jumlahnya berlebihan, dapat ,menyebabkan anemia,
trombositopenia, dan diakhiri dengan kematian.
enurut jenisnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan limIoid.
asing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar , pembagian
leukemia adalah sebagai berikut yaitu : Le:kemia limfoid : Le:kemia
Limfoblastik Ak:t (LLA) erupakan kanker yang paling sering menyerang
anak-anak dibawah umur 15 tahun, dengan puncak insidensi antara umur 3
sampai 4 tahun. aniIestasi dari LLA adalah berupa proliIerasi limpoblas
abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat-tempat ekstramedular. Paling sering
terjadi pada laiki - laki dibandingkan perempuan, LLA jarang terjadi (Smeltzer
dan Bare, 2001). Gejala pertama biasanya terjadi karena sumsum tulang gagal
menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang memadai, yaitu berupa: lemah
dan sesak naIas, karena anemia (sel darah merah terlalu sedikit) inIeksi dan
demam karena, berkurangnya jumlah sel darah putih perdarahan, karena jumlah
trombosit yang terlalu sedikit.
B. Saran
Diharapkan kepada seluruh masyarakat agar dapat mengetahui tanda dan
gejala leukimia dan segera melakukan terapi bagi yang telah menderita leukimia.
Kemudian bagi yang belum terkena leukimia dapat mengetahui pencegahan-
pencegahannya.









DAF%A# PUS%AKA
Cunningham, gary dkk.2006.Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta : EGC
Buku Nelson Edisi ke 15 Behrman, kliegman dan Arvin.2000.Ilmu Kesehatan Anak
Edisi 15 Jolume 3.Jakarta : EGC
Viethanurse,2009.Leukimia.diakses
19 april 2011 http://viethanurse.wordpress.com/2009/02/25/asuhan-
keperawatan-anak-dengan-leukemia/
News-medical,2011.Leukimia.diakses
20 april 2011 http://www.news-medical.net/health/Acute-yeloid-Leukemia-
Diagnosis-28Indonesian29.aspx
Buku Nelson Edisi ke 15 Behrman, kliegman dan Arvin.2000.Ilmu Kesehatan Anak
Edisi 15 Jolume 2.Jakarta : EGC