Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIKUM SUKSESI TUMBUHAN disusun sebagai laporan praktikum mata kuliah Ekologi Tumbuhan

Oleh: Kelompok 11 Desy M. Putri Nidya Caesaria S. W. Ika Lia Novenda Firman Hakim Zuhrotul Mufida 060210193038 060210193110 060210193160 060210193180 060210193225

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2008

ACARA I SUKSESI TUMBUHAN A. TUJUAN Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui proses suksesi alami dari lahan garapan dan factor- factor yang mempengaruhinya

B. DASAR TEORI Perubahan- perubahan yang terjadi dalam suatu komunitas dapat dengan mudah diamati.seringkali perubahan- perubahan itu merupakan pergantian suatu komunitas ke komunitas lainnya. Perubahan dalam suatu komunitas yang berlangsung menuju ke suatu arah pembentukan komunitas secara teratur disebut sukresi. Sukresi terjadi akibat modifikasi lingkungan fisik dalam suatu komunitas. Menurut Clement bahwa komunitas kurang lebih berubah secara kontinyu. Perubahan terjadi akibat reaksi dan koaksi antara mahluk hidup dan sebagian merupakan akibat adanya perubahan eksternal misalnya iklim dan evolusi organic. Proses suksesi akan berakhir bila telah terbentuk suatu komunitas yang stabil atau mantap yang biasa disebut klimaks. Deretan komunitas yang menyusun urutan suksesional yang menuntun kearah klimaks disebut sere. Tingkat areal sering diklasifikasikan menurut tingkat predominasi yang menyebabkannya. Kekuatan demikain dapat disebabkan factor biotic, iklim dan kekuatan geologic. Resultante hasil kekuatan- kekuatan tersebut umumnya dikenal dengan istilah biosere. Suksesi dikenal suksesi primer dan suksesi sekunder. Perbedaan diantara keduanya terletak pada keadaan habitat awl suksesi. Bila sebelum suksesi tidak diketemukan kehidupan maka disebut suksesi primer sedangkan bila sebelum suksesi sudah ada bentuk- bentuk kehidupan sebelumnya maka disebut suksesi sekunder.

Menurut Krebs, perubahan dua komunitas menyangkut dua hal yaitu perubahan berarah dalam waktu yang disebut suksesi dan perubahan yang tidak berarah yang disebut perubahan cyclic. Dngan demikian maka perubahan cyclic hanya berfluktuasi disekitar suatu retara. Hal yang perlu diperhatikan daalm konsep perubahan tersebut yaitu : 1. Perubahan dalam komunitas tersebut seberapa jauh daapt

diprediksikan.
2.

Faktor- factor apa saja yang menyebabkan perubahan dalam

komunitas tersebut. Lucy E. Braun (1956) mengatakan bahwa vegetasi merupakan sistem yang dinamik, sebentar menunjukkan pergantian yang kompleks kemudian nampak tenang, dan bila dilihat hubungan dengan habitatnya, akan nampak jelas pergantiannya setelah mencapai keseimbangan. Pengamatan yang lama pada pergantian vegetasi di alam menghasilkan konsep suksesi. Suksesi vegetasi menurut Odum adalah urutan proses pergantian komunitas tanaman di dalam satu kesatuan habitat, sedangkan menurut Salisbury adalah kecenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai mencapai klimaks, dan menurut Clements adalah proses alami dengan terjadinya koloni yang bergantian, biasanya dari koloni sederhana ke yang lebih kompleks. Odum (1971) mengatakan bahwa adanya pergantian komunitas cenderung mengubah lingkungan fisik sehingga habitat cocok untuk komunitas lain sampai keseimbangan biotik dan abiotik tercapai. Clements (1974) membedakan 6 sub komponen dalam proses suksesi yaitu: 1. Nudasi 2. Migrasi : terbukanya lahan, bersih dari vegetasi : tersebarnya biji

3. Eksesis

: proses perkecambahan, pertumbuhan dan reproduksi

4. Kompetisi : adanya pergantian spesies 5. Reaksi 6. Klimaks : perubahan habitat karena aktivitas spesies : komunitas stabil

Suksesi merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks. Klimaks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim. Beberapa ahli mengatakan bahwa proses suksesi selalu progresif artinya selalu mengalami kemajuan, sehingga membawa pengertian ke dua hal: 1. Pergantian progresif pada kondisi tanah (habitat) yang biasanya pergantian itu dari habitat yang ekstrim ke optimum untuk pertumbuhan vegetasi. 2. Pergantian progresif dalam bentuk pertumbuhan (life form). Namun demikian perubahan-perubahan vegetasi tersebut bisa mencakup hilangnya jenis-jenis tertentu dan dapat pula suatu penurunan kompleksitas struktural sebagai akibat dari degradasi setempat. Keadaan seperti itu mungkin saja terjadi misalnya hilangnya mineral dalam tanah. Perubahan vegetasi seperti itu dapat dikatakan sebagai suksesi retrogresif atau regresi (suksesi yang mengalami kemunduran). Penyebab Suksesi 1. Iklim Tumbuhan tidak akan dapat teratur dengan adanya variasi yang lebar dalam waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang-kadang membawa akibat rusaknya vegetasi baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu tempat yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya besar) dan mengubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju/air

dan kilat seringkali membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada vegetasi. 2. Topografi Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain: Erosi: Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan akhirnya proses suksesi dimulai.

Pengendapan (denudasi):

Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut. 3. Biotik Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi. Konsep Klimaks Suksesi tanaman merupakan perubahan keadaan tanaman. Suksesi yang menempati habitat utama disebut Sere. Sedangkan variasi yang terjadi diantaranya disebut Seral. Komunitas yang timbul pada susunan itu disebut Komunitas Seral. Biasanya komunitas seral itu tidak tampak dengan jelas, mereka kenal hanya karena beberapa spesies tanaman dominan tumbuh diantaranya. Tumbuhan pertama yang tumbuh di habitat yang kosong disebut tanaman Pioner. Lazimnya suksesi tanaman tidak menunjukkan suatu seri tingkat-tingkat atau tahap-tahap tetapi terus menerus dan merupakan pergantian yang lambat dan kompleks. Penempatan individu vegetasi ini individu per individu, dan tidak merupakan loncatan-loncatan dari suatu komunitas dominan ke komunitas dominan yang lain.

Spesies dominan dari suatu komunitas akan tetap stabil dalam jangka waktu yang lama. Kemudian akan bercampur dengan vegetasi baru. Vegetasi baru ini mungkin menggantikan vegetasi yang telah ada tetapi mungkin juga tidak (bila komunitas yang baru itu tidak menghendaki kondisi yang diciptakan menjadi dominan terutama dari segi kondisi pencahayaan). Jika habitat menjadi ekstrem tidak memenuhi syarat untuk tumbuhnya tanaman-tanaman maka timbul tanaman dari komunitas berikutnya yang sesuai dengan lingkungan yang baru, kemudian tanaman ini menjadi dominan. Setelah beberapa kali mengalami pergantian semacam itu, suatu saat habitat akan terisi oleh spesies-spesies yang sesuai dan mampu bereproduksi dengan baik. Sehingga proses ini mencapai Komunitas Klimaks yang matang, dominan, dapat memelihara dirinya sendiri dan selanjutnya bila ada pergantian, maka pergantian itu relatif sangat lambat. Di dalam kondisi klimaks ini spesies-spesies itu dapat mengatur dirinya sendiri dan dapat mengolah habitat sedemikian rupa sehingga cenderung untuk melawan inovasi baru. Di dalam konsep klimaks ini Clements berpendapat: 1. Suksesi dimulai dari kondisi lingkungan yang berbeda, tetapi akhirnya punya klimaks yang sama. 2. Klimaks hanya dapat dicapai dengan kondisi iklim tertentu, sehingga klimaks dengan iklim itu saling berhubungan. Dan kemudian klimaks ini disebut klimaks klimatik. 3. Setiap kelompok vegetasi masing-masing mempunyai klimaks. Karena iklim sendiri menentukan pembentukan klimaks maka dapat dikatakan bahwa klimaks klimatik dicapai pada saat kondisi fisik di sub stratum tidak begitu ekstrem untuk mengadakan perubahan terhadap kebiasaan iklim di suatu wilayah. Kadang-kadang klimaks dimodifikasi begitu besar oleh kondisi fisik tanah seperti topografi dan kandungan air. Klimaks seperti ini disebut Klimaks Edafik. Secara relatif vegetasi dapat mencapai kestabilan lain dari

klimatik atau klimaks yang sebenarnya di suatu wilayah. Hal ini disebabkan adanya tanah habitat yang mempunyai karakteristik yang tersendiri. Adakalanya vegetasi terhalang untuk mencapai klimaks, oleh karena beberapa faktor selain iklim. Misalnya adanya penebangan, dipakai untuk penggembalaan hewan, tergenang dan lain-lain. Dengan demikian vegetasi dalam tahap perkembangan yang tidak sempurna (tahap sebelum klimaks yang sebenarnya) baik oleh faktor alam atau buatan. Keadaan ini disebut sub klimaks. Komunitas tanaman sub klimaks akan cenderung untuk mencapai klimaks sebenarnya jika faktor-faktor penghalang/penghambat dihilangkan. Gangguan dapat menyebabkan modifikasi klimaks yang sebenarnya dan ini menyebabkan terbentuknya sub klimaks yang berubah (termodifikasi). Keadaan seperti ini disebut Disklimaks (Ashby, 1971). Sebagai contoh vegetasi terbakar menyebabkan tumbuh dan berkembangnya vegetasi yang sesuai dengan tanah bekas terbakar tersebut. Odum (1961) mengistilahkan klimaks tersebut dengan Pyrix Klimaks. Tumbuh-tumbuhan yang dominan pada pyrix klimaks antara lain: Melastoma polyanthum, Melaleuca leucadendron dan Macaranga sp. Jika pergantian iklim secara temporer menghentikan perkembangan vegetasi sebelum mencapai klimaks yang diharapkan disebut pra klimaks (pre klimaks). Berhubungan dengan berbagai klimaks maka terdapat kekaburan arti klimaks. Oleh karena terjadi ketidak sepakatan kemudian berkembang tiga teori klimaks dengan argumentasi masing-masing. 1. Teori monoklimaks: Teori ini dipelopori oleh Clements yang menyatakan bahwa teori klimaks berkembang dan terjadi hanya satu kali. Hal ini merupakan klimaks klimatik di suatu wilayah iklim utama. 2. Teori poliklimaks:

Klimaks merupakan keadaan komunitas yang stabil dan mandiri sehingga pada suatu habitat dapat terjadi sejumlah klimaks karena kondisi selain iklim yang berbeda. 3. Teori informasi: Teori ini dikemukakan oleh Odum dan merupakan teori sebagai jalan tengah antara teori mooklimaks dan teori poliklimaks. Odum berpendangan bahwa suatu komunitas baik hewan maupun vegetasi selalu memerlukan enersi dan informasi dan pada saatnya akan menghasilkan enersi dan informasi. Suatu sistem berkembang, pada permulaannya memerlukan enersi dan informasi sehingga disebut sistem tersubsidi. Pada suatu saat setelah dewasa akan menghasilkan enersi dan informasi. Sistem ini dikatakan mencapai klimaks bila perbandingan masukan dan keluaran enersi dan informasi sama dengan satu. Artinya hasil enersi dan informasi sama besar dengan masukan enersi dan informasi. Sistem yang demikian ini oleh Odum disebut Klimaks. Pengertian ini berlaku sampai sekarang. Odum (1971) mengatakan bahwa komunitas untuk mencapai klimaks akan bervariasi tidak hanya disebabkan oleh adanya perbedaan iklim dan situasi fisiografis, tetapi ditentukan juga oleh sifat-sifat ekosistem yang berbeda. Whittaker (1953) merupakan penyokong monoklimaks, mengatakan bahwa teori monoklimaks menekankan esensialitas (pentingnya) kesatuan vegetasi yang mencapai klimaks di suatu habitat. Ahli-ahli lain seperti Oosting, Henry, mengatakan bahwa teori poliklimaks lebih praktis. Hal ini disokong oleh Michols, Tansley dan ahli-ahli Rusia. Smitthusen (1950), Whittaker (1951 - 1953) dan ahli ekologi Amerika yang lain menyokong konsep poliklimaks dan semuanya percaya karena ada fakta bahwa tingkatan klimaks dinyatakan oleh lingkungan individu serta komunitas tanaman dan bukannya oleh iklim setempat. Macam Suksesi

Berdasarkan kondisi habitat pada awal proses suksesi, suksesi dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1. Suksesi primer: Suksesi yang terjadi belum ada vegetasinya atau di daerah yang tadinya sudah ada vegetasi, kemudian terganggu (misalnya terbakar), sehingga daerah tersebut menjadi kosong sama sekali. Pada habitat tersebut tidak ada lagi organisme dan komunitas asal yang tertinggal sehingga pada substrat yang baru ini akan berkembang suatu komunitas yang baru pula. 2. Suksesi sekunder: Suksesi yang terjadi pada habitat yang pernah ditumbuhi vegetasi kemudian mengalami gangguan, tetapi gangguan tersebut tidak merusak total organisme sehingga dalam komunitas tersebut, substrat lama dan kehidupan masih ada. Perbedaan suksesi sekunder dan primer terletak pada kondisi habitat awal. Proses kerusakan komunitas disebut denudasi. Denudasi dapat disebabkan oleh api, pengolahan, angin kencang, hujan, gelombang laut dan penebangan hutan. Jika vegetasi yang ada kemudian musnah dan timbul lahan kosong disebut lahan sekunder atau lahan terdenudasi. Suksesi sekunder mempunyai tahap yang lebih sedikit daripada suksesi primer, dan biasanya klimaks pada suksesi sekunder lebih cepat dicapai. Ada beberapa macam tipe suksesi yaitu: Hidrosere: Tipe suksesi yang berkembang di daerah (habitat) perairan yang biasanya disebut Hidrarch. Vegetasi yang sering berganti dalam hidrarch disebut hidrosere. Halosere: Suksesi yang dimulai pada tanah bergaram atau air asin. Xerosere: Suksesi vegetasi yang berkembang dalam daerah Xerik atau kering, biasanya disebut Xerarch. Ada dua macam yaitu:

a. Psammosere : suksesi vegetasi yang dimulai pada daerah berpasir. b. Lithosere : suksesi vegatasi yang dimulai pada batuan. Tahap-tahap lithosere A. Tumbuhnya lumut kerak (Lichenes) B. Semakin berlumut C. Tahap tumbuhnya rumput-rumputan D. Penuh dengan rumput-rumputan E. Tahap tumbuhnya semak belukar F. Terjadi komunitas hutan yang mencapai klimaks Serule: Suksesi untuk mikroorganisme (bakteri, fungsi) dalam sisa-sisa produsen/konsumen

Hidrosere: Tipe suksesi ini tidak memerlukan komunitas aquatik untuk menuju ke perkembangan komunitas daratan. Jika air yang ada itu dalam jumlah cukup besar dan sangat dalam atau jika air selalu bergerak kuat (beratus atau bergelombang) atau adanya kekuatan fisik lain, suksesi menghasilkan suatu komunitas aquatik yang stabil dan sukar mengalami pergantian. Jadi suksesi ini hanya terjadi jika kolonisasi komunitas tumbuhan menempati kolam buatan yang kecil dan dangkal, serta diikuti terjadinya erosi tanah di tepi danau, sehingga batas (tubuh) air akan semakin kecil dan hilang setelah waktu yang lama, Sebagai pelopor adalah tumbuhan air yang terendam, kemudian dirusak tumbuhan terapung seperti eceng gondok, kemudian rumpur rawa, rumput daratan, semak dan akhirnya pohon. Pada kolam, eceng gondok berangsur-angsur akan menutup permukaan air, kemudian akumulasi seresahnya baru menumpuk di dasar kolam dan lama kemudian mengubah kolam menjadi rawa dengan jenis tumbuhan baru yang

mematikan jenis tumbuhan sebelumnya. Secara berangsur-angsur kemudian habitat yang lebih kering dengan aerasi yang lebih baik yang akhirnya akan terjadi tanah yang cukup matang dan tebal. Xerosere: Suksesi xerik biasanya terjadi pada lahan yang tinggal batuan induknya saja. Dengan demikian tumbuhan yang mampu hidup disitu harus tumbuhan yang tahan kering dan mampu hidup di tanah miskin. Tumbuhan yang biasanya merupakan pioner adalah lumut kerak (Lichenes) dalam bentuk lapisan kerak. Dalam proses respirasi Lichenes akan mengeluarakan CO2 dan akan bereaksi dengan H2O sehingga menjadi H2CO3. Asam karbonat ini akan bereaksi dengan bahan-bahan dari batuan induk sehingga melepaskan ikatan partikel batuan. Partikel batuan yang lepas itu akan bereaksi dengan sisa-sisa Lichenes yang mengalami pembusukan, mengikat N yang terbawa oleh air hujan. Kondisi seperti itu tidak sesuai lagi bagi lumut kerak sehingga lumut kerak mati. Setelah itu akan muncul vegetasi jenis lain yaitu Thallus (Thallophyta). Begitu seterusnya vegetasi pertama akan memberikan pengaruh pada habitat yang tidak cocok untuk vegetasi kedua. Tidak semua proses suksesi xerik seperti di atas. Kalau habitat permukaannya merupakan pasir maka akan dimulai oleh rumput tahan kering, baru kemudian semak dan pohon-pohonan. Laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies berlangsung dengan cepat pada fase awal suksesi, kemudian menurun pada perkembangan berikutnya. Kondisi yang membatasi laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies pada tahap berikutnya adalah faktor lingkungan yang kurang cocok untuk mendukung kelangsungan hidup permudaan jenis-jenis tertentu.

C. BAHAN DAN ALAT Bahan Alat : Dua buah lahan alami seluas 10 X 10 m2 : Cangkul Meteran

Parang Kantong plastic

Tali raffia Label

D. PROSEDUR KERJA

Bersihkan lahan garapan

2 petak lahan seluas 10 X 10 m2 dibagi menjadi petak ukuran 1 X 1 m dengan memakai pembatas tali rafia

Membiarkan kedua petak pengamatan tersebut selama 10 minggu

Amati jenis, jumlah, tinggi tumbuhan pada masing masing petak kecil

Pengamatan petak contoh dilakukan setiap minggu, lama pengamatan 10 minggu

Catat perubahan komposisi tumbuhan tersebut dan bandingkan hasil pengamatan dari setiap minggu

Hasil pengamatan anda apakah ada perubahan jenis tumbuhan dari komunitas percobaan tersebut selama pengamatan

HASIL PENGAMATAN No 1 Tempat Pengamatan Plot 1 Minggu I II Jenis tumbuhan Ilalang Ilalang Luas Penutupan 4 mm = 0,04 cm t1 = 4,5 Luas Penutupan=0,5 cm t2 = 0,5 Luas penutupan=0,08 cm III Ilalang L1 = 0,59 cm L3 = 0,32 cm

L2 = 0,19 cm L4 = 0,27 cm IV Ilalang L1 = 0,95 cm L4 = 0,28 cm L2 = 0,53 cm L5 = 0,56 cm L3 = 0,57 cm V Ilalang L1 = 0,96 cm L4 = 0,4 cm L2 = 0,5 cm cm L3 = 0,53 cm VI Ilalang L1 = 0,98 cm L4 = 0,36 cm L2 = 0,7 cm cm L3 = 0,64 cm VII Ilalang L1 = 0,98 cm L4 = 0,31 cm L2 = 0,85 cm L5 = 0,3 cm L3 = 0,49 cm VIII Ilalang L1 = 0,98 cm L4 = 1,2 cm L2 = 1 cm cm L3 = 0,79 cm 2 Plot 2 I II III Ilalang Ilalang Ilalang L1 = 0,75 cm L1 = 0,48 cm L2 = 0,15 cm L1 = 0,53 cm L4 = 0,15 cm L5 = 0,59 L5 = 0,38 L5 = 0,51

L2 = 0,27 cm L5 = 0,3 cm L3 = 0,19 cm IV Ilalang L1 = 0,59 cm L4 = 0,41 cm L2 = 0,76 cm L5 = 0,43 cm L3 = 0,89 cm L6 = 4 cm V Ilalang L1 = 0,89 cm cm L2 = 0,52 cm cm L3 = 0,73 cm cm L4 = 0,29 cm VI Ilalang L1 = 0,86 cm cm L2 = 0,96 cm cm L3 = 0,39 cm cm L4 = 0,49 cm cm VII Ilalang L5 = 0,63 L6 = 0,81 L7 = 0,42 L8 = 0,24 L5 = 0,47 L6 = 0,6 L7 = 0,25

L1 = 0,97 cm L6 = 0,59 cm L2 = 0,99 cm L7 = 0,51 cm L3 = 0,48 cm L8 = 0,33 cm L4 = 0,59 cm L9 = 0,2 cm L5 = 0,76 cm L10 = 0,14

cm VIII Ilalang L1 = 1,35 cm L6 = 0,63 cm L2 = 1,42 cm L7 = 0,58 cm L3 = 1,31 cm L8 = 0,42 cm L4 = 0,97 cm L9 = 0,27 cm L5 = 0,82 cm 0,18 cm 3 Plot 3 I II III Ilalang Ilalang Ilalang L1 = 0,35 cm L1 = 0,48 cm L1 = 0,52 cm L3 = 0,21 cm L2 = 0,54 cm IV Ilalang L1 = 0,58 cm L4 = 0,34 cm L2 = 0,64 cm L5 = 0,55 cm L3 = 0,43 cm V Ilalang L1 = 0,63 cm cm L2 = 0,75 cm cm L3 = 0,61 cm cm VI Ilalang L1 = 0,81 cm cm L2 = 0,88 cm cm L4 = 0,51 L5 = 0,67 L6 = 0,41 L4 = 0,69 L5 = 0,8 L10 =

L3 = 0,79 cm cm VII Ilalang

L6 = 0,68

L1 = 0,89 cm L5 = 0,87 cm L2 = 0,93 cm L6 = 0,74 cm L3 = 0,86 cm L7 = 0,54 cm L4 = 0,77 cm

VIII

Ilalang

L1 = 0,99 cm L6 = 0,87 cm L2 = 2 cm cm L7 = 0,71

L3 = 0,92 cm L8 = 0,68 cm L4 = 0,9 cm cm L5 = 0,95 cm 4 Plot 4 I II III Ilalang Ilalang Ilalang L1 = 0,21 cm L2 = 0,18 cm L1 = 0,41 cm L2 = 0,25 cm L1 = 0,72 cm L3 = 0,15 cm L2 = 0,32 cm L4 = 0,1 cm IV Ilalang L1 = 0,8 cm cm L5 = 0,58 L9 = 0,54

L2 = 0,85 cm L6 = 0,3 cm L3 = 0,9 cm cm L7 = 0,57

L4 = 0,53 cm V Ilalang L1 = 0,87 cm cm L2 = 0,9 cm cm L3 = 0,98 cm cm L4 = 0,79 cm cm VI Ilalang L1 = 0,92 cm cm L2 = 1,01 cm cm L3 = 1 cm cm L4 = 0,94 cm cm L5 = 0,82 cm VII Ilalang L1 = 0,97 cm L7 = 1 cm L2 = 1,2 cm cm L3 = 1,2 cm cm L4 = 1,2 cm cm L5 = 1 cm cm L6 = 0,84 cm VIII Ilalang L1 = 1,1 cm cm L7 = 1,19 L8 = 0,69 L9 = 0,63 L10 = 0,21 L11 = 0,39 L5 = 0,67 L6 = 0,53 L7 = 0,72 L8 = 0,37 L6 = 0,69 L7 = 0,89 L8 = 0,55 L9 = 0,42

L2 = 1,37 cm L8 = 0,88 cm

L3 = 1,42 cm L9 = 0,82 cm L4 = 0,36 cm L10 = 0,5 cm L5 = 1,2 cm cm L6 = 1 cm 5 Plot 5 I II Ilalang Ilalang L1 = 0,42 cm cm L1 = 0,56 cm cm L2 = 0,42 cm III Ilalang L1 = 0,71 cm cm L2 = 0,58 cm IV Ilalang L1 = 0,69 cm cm L2 = 0,72 cm cm L3 = 0,72 cm V Ilalang L1 = 0,81 cm cm L2 = 0,83 cm cm L3 = 0,72 cm cm VI Ilalang L1 = 0,93 cm cm L2 = 0,97 cm cm L3 = 0,74 cm cm L4 = 0,58 L5 = 0,72 L6 = 0,34 L5 = 0,84 L6 = 0,55 L7 = 0,31 L4 = 0,42 L5 = 0,6 L3 = 0,36 L2 = 0,34 L3 = 0,28 L11 = 0,73

L4 = 0,63 cm

VII

Ilalang

L1 = 1,1 cm cm L2 = 1,2 cm cm L3 = 0,9 cm cm L4 = 0,7 cm cm L5 = 0,9 cm

L6 = 0,6 L7 = 0,52 L8 = 0,29 L9 = 0,42

VIII

Ilalang

L1 = 1,3 cm cm L2 = 1,4 cm cm

L7 = 0,7 L8 = 0,6

L3 = 1,08 cm L9 = 0,66 cm L4 = 0,95 cm L10 = 0,76 cm L5 = 1,27 cm L11 = 0,8 cm L6 = 0,8 cm 6 Plot 6 I II III IV Ilalang Ilalang Ilalang Ilalang L1 = 0,15 cm L1 = 0,54 cm cm L1 = 0,78 cm cm L1 = 0,97 cm cm L2 = 0,82 cm L2 = 0,21 L2 = 0,4 L5 = 0,46 L6 = 0,33

cm L3 = 0,69 cm cm L7 = 0,18

L4 = 0,82 cm L8 = 0,23 cm V Ilalang L1 = 0,97 cm cm L2 = 1 cm cm L3 = 0,8 cm cm L5 = 0,81 L6 = 0,54 L7 = 0,39

L4 = 0,92 cm L8 = 0,82 cm VI Ilalang L1 = 0,98 cm cm L2 = 1 cm cm L6 = 0,76 L7 = 0,54

L3 = 0,91 cm L8 = 0,78 cm L4 = 0,97 cm L9 = 0,46 cm L5 = 0,76 cm L10 = 0,49 cm VII Ilalang L1 = 1 cm cm L2 = 1 cm cm L7 = 0,73 L8 = 0,92

L3 = 0,97 cm L9 = 0,57 cm L4 = 0,7 cm cm L5 = 0,9 cm L10 = 0,86 L11 = 0,47

cm L6 = 0,86 cm L12 = 0,56 VIII Ilalang L1 = 1 cm cm L2 = 1,1 cm cm L3 = 1 cm cm L7 = 0,99 L8 = 0,95 L9 = 0,67

L4 = 0,86 cm L10 = 0,69 cm L5 = 1 cm cm L11 = 0,97

L6 = 0,96 cm L12 = 0,96 cm 7 Plot 7 I Ilalang L1 = 0,13 cm cm L2 = 0,43 cm cm L3 = 0,24 cm II Ilalang L1 = 0,38 cm cm L2 = 0,56 cm cm L3 = 0,3 cm cm III Ilalang L1 = 0,7 cm cm L2 = 0,6 cm cm L3 = 0,7 cm cm L4 = 0,67 cm L4 = 0,3 L5 = 0,5 L6 = 0,3 L6 = 0,3 L7 = 0,17 L8 = 0,19 L9 = 0,04 L4 = 0,2 L5 = 0,27

cm L5 = 0,8 cm cm IV Ilalang L1 = 0,86 cm cm L2 = 0,57 cm cm L3 = 0,86 cm cm L4 = 0,85 cm cm L5 = 0,71 cm 0,24 cm V Ilalang L1 = 0,9 cm cm L2 = 0,9 cm cm L3 = 1,1 cm cm L4 = 0,97 cm 0,16 cm L5 = 0,63 cm 0,27 cm L6 = 0,7 cm cm VI Ilalang L1 = 1,06 cm 0,32 cm L2 = 1,1 cm cm L3 = 1,2 cm cm L4 = 0,6 cm L10 = 0,13 L6 = 0,63 L7 = 0,2 L8 = 0,2 L9 = 0,08 L10 = L7 = 0,3 L8 = 0,2 L9 = 0,1 L10 = L11 = L12 = 0,2 L8 = L9 = 0,1 L10 = 0,2 L11 =

0,38 cm L5 = 0,7 cm cm L6 = 0,9 cm cm L7 = 0,3 cm 0,18 cm VII Ilalang L1 = 0,87 cm 0,32 cm L2 = 0,1 cm cm L3 = 0,98 cm 0,37 cm L4 = 0,8 cm 0,44 cm L5 = 0,8 cm 0,48 cm L6 = 0,7 cm 0,21 cm L7 = 0,3 cm 0,22 cm VIII Ilalang L1 = 1,2 cm cm L2 = 1,2 cm cm L3 = 0,4 cm cm L4 = 0,5 cm cm L5 = 0,9 cm cm L6 = 0,8 cm L12 = 0,3 L13 = 0,1 L14 = L8 = L9 = 0,2 L10 = L11 = L12 = L13 = L14 = L8 = 0,4 L9 = 0,2 L10 = 0,4 L11 = 0,4 L12 = 0,5 L13 = 0,3

cm L7 = 0,4 cm cm 8 Plot 8 I II III IV Ilalang Ilalang Ilalang Ilalang L1 = 0,29 cm L1 = 0,48 cm cm L1 = 0,59 cm cm L2 = 0,13 cm V Ilalang L1 = 0,6 cm cm L2 = 0,5 cm cm VI Ilalang L1 = 0,79 cm cm L2 = 0,42 cm cm L3 = 0,2 cm VII Ilalang L1 = 0,89 cm cm L2 = 0,59 cm cm L3 = 0,36 cm VIII Ilalang L1 = 1 cm cm L2 = 0,89 cm cm L3 = 0,47 cm cm L4 = 0,39 cm 9 Plot 9 I Ilalang L1 = 0,24 cm L3 = 0,5 L4 = 0,27 L5 = 0,26 L6 = 0,12 L5 = 0,42 L6 = 0,32 L7 = 0,4 L3 = 0,46 L4 = 0,24 L4 = 0,17 L5 = 0,1 L2 = 0,1 L3 = 0,11 L14 = 0,3

cm L2 = 0,29 cm II Ilalang L1 = 0,47 cm cm L2 = 0,36 cm III Ilalang L1 = 0,58 cm cm L2 = 0,5 cm cm L3 = 0,36 cm IV Ilalang L1 = 0,8 cm cm L2 = 0,9 cm cm L3 = 0,5 cm cm V Ilalang L1 = 0,79 cm cm L2 = 0,8 cm cm L3 = 0,6 cm cm L4 = 0,4 cm VI Ilalang L1 = 0,88 cm L5 = 0,4 cm L2 = 0,96 cm L6 = 0,7 cm L3 = 0,8 cm cm L4 = 0,5 cm cm VII Ilalang L1 = 1 cm L7 = 0,5 L8 = 0,3 L6 = 0,86 L4 = 0,29 L5 = 0,19 L6 = 0,43 L5 = 0,2 L6 = 0,58 L7 = 0,39 L4 = 0,1 L5 = 0,5 L3 = 0,27

cm L2 = 1,1 cm cm L3 = 0,9 cm cm L4 = 0,7 cm cm L5 = 0,59 cm VIII Ilalang L1 = 1,2 cm cm L2 = 1,3 cm cm L3 = 1,1 cm cm L4 = 0,9 cm cm L5 = 0,7 cm cm 10 Plot 10 I Ilalang L1 = 0,3 cm cm L2 = 0,3 cm cm II Ilalang L1 = 0,6 cm cm L2 = 0,2 cm cm L3 = 0,24 cm cm III Ilalang L1 = 0,4 cm cm L2 = 0,38 cm cm L3 = 0,5 cm L6 = 1,2 L7 = 0,8 L8 = 0,6 L9 = 0,4 L10 = 0,3 L3 = 0,9 L4 = 0,7 L4 = 0,25 L5 = 0,07 L6 = 0,14 L5 = 0,19 L6 = 0,48 L7 = 0,13 L7 = 0,6 L8 = 0,4 L9 = 0,25

cm L4 = 0,3 cm IV Ilalang L1 = 0,5 cm cm L2 = 0,46 cm cm L3 = 0,65 cm cm L5 = 0,3 L6 = 0,6 L7 = 0,25

L4 = 0,47 cm L8 = 0,19 cm V Ilalang L1 = 0,6 cm cm L6 = 0,75

L2 = 0,53 cm L7 = 0,37 cm L3 = 0,79 cm L8 = 0,31 cm L4 = 0,53 cm L9 = 0,34 cm L5 = 0,42 cm VI Ilalang L1 = 0,65 cm cm L2 = 0,67 cm cm L3 = 0,88 cm cm L4 = 0,59 cm cm L6 = 0,81 L7 = 0,51 L8 = 0,49 L9 = 0,52

L5 = 0,59 cm L10 = 0,41 cm VII Ilalang L1 = 0,7 cm cm L2 = 0,6 cm L7 = 0,6 L8 = 0,55

cm L3 = 0,9 cm cm L4 = 0,8 cm 0,57 cm L5 = 0,7 cm 0,39 cm L6 = 1 cm VIII Ilalang L1 = 0,76 cm cm L2 = 0,72 cm cm L7 = 0,75 L8 = 0,6 L9 = 0,67 L10 = L11 =

L3 = 0,104 cm L9 = 0,81 cm L4 = 0,97 cm 0,73 cm L5 = 0,79 cm 0,54 cm L6 = 1,1 cm 11 Plot 11 I Ilalang L1 = 0,05 cm cm L2 = 0,04 cm II Ilalang L1 = 0,18 cm cm L2 = 0,16 cm cm III Ilalang L1 = 0,3 cm 0,21 cm L2 = 0,33 cm cm L3 = 0,29 cm IV Ilalang L1 = 0,49 cm L4 = 0,3 L3 = 0,12 L4 = 0,9 L4 = L5 = 0,19 L3 = 0,05 L10 = L11 =

cm L2 = 0,41 cm 0,22 cm L3 = 0,35 cm 0,29 cm V Ilalang L1 = 0,56 cm 0,35 cm L2 = 0,59 cm 0,42 cm L3 = 0,4 cm 0,15 cm L4 = 0,49 cm VI Ilalang L1 = 0,7 cm cm L2 = 0,73 cm cm L3 = 0,6 cm cm L4 = 0,57 cm cm VII Ilalang L1 = 0,79 cm cm L2 = 0,86 cm cm L3 = 0,69 cm cm L4 = 0,71 cm cm L5 = 0,63 cm VIII Ilalang L1 = 0,87 cm cm L2 = 0,98 cm L7 = 0,52 L8 = 0,59 L5 = 0,46 L6 = 0,61 L7 = 0,3 L8 = 0,21 L6 = 0,75 L7 = 0,39 L8 = 0,43 L9 = 0,26 L5 = L6 = L5 = L6 = L7 =

cm L3 = 0,76 cm cm L4 = 0,82 cm 0,17 cm L5 = 0,69 cm 0,25 cm L6 = 0,83 cm 12 Plot 12 I Ilalang L1 = 0,1 cm 0,17 cm L2 = 0,3 cm cm L3 = 0,07 cm II Ilalang L1 = 0,39 cm cm L2 = 0,49 cm cm L3 = 0,2 cm cm L4 = 0,34 cm III Ilalang L1 = 0,5 cm cm L2 = 0,6 cm cm L3 = 0,38 cm cm L4 = 0,59 cm cm IV Ilalang L1 = 0,67 cm cm L2 = 0,73 cm cm L5 = 0,72 L6 = 0,79 L7 = 0,21 L8 = 0,16 L5 = 0,88 L6 = 0,36 L5 = 0,52 L6 = 0,19 L7 = 0,8 L4 = L5 = 0,37 L9 = 0,49 L10 = L11 =

L3 = 0,49 cm cm L4 = 0,68 cm cm V Ilalang L1 = 0,75 cm cm L2 = 0,86 cm cm L3 = 0,56 cm cm L4 = 0,78 cm cm VI Ilalang L1 = 0,83 cm cm L2 = 0,95 cm cm L3 = 0,69 cm cm L4 = 0,87 cm cm VII Ilalang L1 = 0,9 cm cm L2 = 1,09 cm cm L3 = 0,7 cm cm L4 = 0,93 cm cm VIII Ilalang L1 = 1,07 cm cm L2 = 1,2 cm cm L3 = 0,9 cm

L7 = 0,4 L8 = 0,24 L5 = 0,95 L6 = 0,48 L7 = 0,59 L8 = 0,41 L5 = 1,1 L6 = 0,62 L7 = 0,59 L8 = 0,57 L5 = 1,2 L6 = 0,8 L7 = 0,72 L8 = 0,63 L5 = 1,3 L6 = 0,9 L7 = 0,8

cm L4 = 1 cm cm 13 Plot 13 I Ilalang L1 = 0,07 cm 0,05 cm L2 = 0,07 cm cm L3 = 0,23 cm II Ilalang L1 = 0,38 cm 0,47 cm L2 = 0,35 cm 0,23 cm L3 = 0,5 cm 0,05 cm L4 = 0,1 cm III Ilalang L1 = 0,4 cm cm L2 = 0,38 cm cm L3 = 0,59 cm 0,16 cm L4 = 0,28 cm IV Ilalang L1 = 0,57 cm 0,59 cm L2 = 0,43 cm 0,35 cm L3 = 0,7 cm 0,23 cm L4 = 0,36 cm V Ilalang L1 = 0,6 cm cm L2 = 0,5 cm L5 = L6 = L7 = L8 = 0,12 L6 = 0,51 L7 = 0,37 L5 = 0,5 L6 = 0,2 L7 = L5 = L6 = L7 = L8 = 0,75 L4 = L5 = 0,27

cm L3 = 0,79 cm cm L4 = 0,49 cm cm L5 = 0,66 cm VI Ilalang L1 = 0,78 cm cm L2 = 0,65 cm cm L3 = 0,86 cm cm L4 = 0,63 cm cm L5 = 0,74 cm 0,31 VII Ilalang L1 = 0,85 cm cm L2 = 0,73 cm cm L3 = 0,97 cm cm L4 = 0,77 cm 0,52 cm L5 = 0,83 cm 0,27 cm L6 = 0,80 cm VIII Ilalang L1 = 0,97 cm cm L2 = 0,87 cm cm L3 = 1,05 cm L7 = 0,76 L8 = 0,73 L9 = 0,55 L6 = 0,69 L7 = 0,52 L8 = 0,45 L9 = 0,26 L10 = L7 = 0,65 L8 = 0,61 L9 = 0,47 L10 = L11 = L8 = 0,27 L9 = 0,19

cm L4 = 0,85 cm 0,68 cm L5 = 0,95 cm 0,42 cm L6 = 0,99 cm 14 Plot 14 I Ilalang L1 = 0,3 cm cm L2 = 0,59 cm cm II Ilalang L1 = 0,67 cm 0,29 cm L2 = 0,6 cm cm L3 = 0,47 cm 0,28 cm L4 = 0,39cm III Ilalang L1 = 0,68 cm 0,33 cm L2 = 0,63 cm cm L3 = 0,51 cm 0,37 cm L4 = 0,44 cm IV Ilalang L1 = 0,75 cm 0,45 cm L2 = 0,74 cm 0,40 cm L3 = 0,64 cm 0,5 cm L4 = 0,57 cm V Ilalang L1 = 0,89 cm L6 = 0,49 L5 = L6 = L7 = L5 = L6 = 0,29 L7 = L3 = 0,1 L4 = 0,03 L5 = L6 = 0,22 L7 = L10 = L11 =

cm L2 = 0,88 cm cm L3 = 0,76 cm cm L4 = 0,63 cm L5 = 0,53 cm VI Ilalang L1 = 0,97 cm cm L2 = 0,95 cm cm L3 = 0,83 cm cm L4 = 0,78 cm cm L5 = 0,66 cm VII Ilalang L1 = 1,1 cm cm L2 = 1,05 cm cm L3 = 0,95 cm cm L4 = 0,89 cm L5 = 0,79 cm L6 = 0,72 cm VIII Ilalang L1 = 1,1 cm cm L2 = 1,37 cm cm L3 = 1,06 cm cm L7 = 0,96 L8 = 0,71 L9 = 0,86 L7 = 0,87 L8 = 0,52 L9 = 0,69 L6 = 0,57 L7 = 0,8 L8 = 0,46 L9 = 0,54 L7 = 0,63 L8 = 0,31

L4 = 0,97 cm L5 = 0,85 cm L6 = 0,9 cm 15 Plot 15 I Ilalang L1 = 0,13 cm 0,63 cm L2 = 0,18 cm cm L3 = 0,18 cm II Ilalang L1 = 0,27 cm 0,45 cm L2 = 0,32 cm 0,29 cm L3 = 0,31 cm L4 = 0,41 cm III Ilalang L1 = 0,32 cm 0,53 cm L2 = 0,41 cm cm L3 = 0,46 cm L4 = 0,54 cm IV Ilalang L1 = 0,41 cm 0,67 cm L2 = 0,56 cm 0,45 cm L3 = 0,52cm 0,51 cm L4 = 0,65 cm V Ilalang L1 = 0,54 cm cm L2 = 0,63 cm 0,59 cm L5 = 0,75 L6 = L5 = L6 = L7 = L5 = L6 = 0,37 L5 = L6 = L4 = L5 = 0,25

L3 = 0,74cm 0,65 cm L4 = 0,72 cm 0,29 cm VI Ilalang L1 = 0,6 cm L2 = 0,79 cm 0,73 cm L3 = 0,89 cm cm L4 = 0,85 cm cm L5 = 0,82 cm L6 = 0,63 cm

L7 = L8 =

L7 = L8 = 0,37 L9 = 0,13

VII

Ilalang

L1 = 0,7cm cm L2 = 0,86 cm cm L3 = 0,95 cm cm L4 = 0,92 cm 0,16 cm L5 = 0,96 cm 0,27 cm L6 = 0,74 cm

L7 = 0,97 L8 = 0,5 L9 = 0,39 L10 = L11 =

VIII

Ilalang

L1 = 0,84 cm cm L2 = 0,93 cm cm L3 = 1,2 cm cm L4 = 1 cm

L7 = 0,91 L8 = 0,63 L9 = 0,48 L10 = 0,31

cm L5 = 1,14 cm 0,42 cm L6 = 0,86 cm 16 Plot 16 I Ilalang L1 = 0,28 cm 0,29 cm L2 = 0,12 cm cm II Ilalang L1 = 0,39 cm 0,28 cm L2 = 0,24 cm cm III Ilalang L1 = 0,42 cm 0,24 cm L2 = 0,29 cm cm L3 = 0,3 cm IV Ilalang L1 = 0,36 cm 0,32 cm L2 = 0,36 cm cm L3 = 0,42 cm V Ilalang L1 = 0,44 cm 0,52 cm L2 = 0,42 cm cm L3 = 0,56 cm VI Ilalang L1 = 0,52 cm 0,36 cm L2 = 0,54 cm 0,25 cm L3 = 0,59 cm L4 = L5 = 0,29 L6 = 0,13 L5 = L6 = L7 = L4 = L5 = 0,16 L3 = L4 = 0,15 L3 = L4 = 0,19 L4 = L5 = 0,15 L11 =

0,32 cm L4 = 0,47 cm VII Ilalang L1 = 0,63 cm cm L2 = 0,63 cm 0,12 cm L3 = 0,64 cm 0,23 cm L4 = 0,56 cm 0,19 cm L5 = 0,47cm 0,17 cm L6 = 0,4 cm 0,32 cm L7 = 0,47 cm VIII Ilalang L1 = 0,72 cm 0,42 cm L2 = 0,76 cm 0,31 cm L3 = 0,71 cm 0,44 cm L4 = 0,63 cm 0,37 cm L5 = 0,56cm 0,25 cm L6 = 0,49 cm 0,55 cm L7 = 0,55 cm L8 = L9 = L10 = L11 = L12 = L13 = L8 = 0,3 L9 = L10 = L11 = L12 = L13 =

E. PEMBAHASAN

Dalam kegiatan praktikum kali ini yang bertujuan untuk mengetahui proses suksesi alami dari lahan garapan dan factor-factor yang mempengaruhinya. Dilakukan dengan kegiatan awal mencari tempat atau lahan yang akan dijadikan objek susesi yang mana perlakuan awal adalah mencangkul lahan guna menghilangkan atau mengosongkan lahan yang semula telah ditumbuhi berbagai jenis vegetasi yang bertahan hidup dengan keadaan lingkungan. Tujuan dari mengosongkan lahan ini adalah untuk menciptakan vegetsi baru di tempat tersebut dan mengamati proses suksesi alami yang akan terbentuk. Menurut dasar teori yang ada Suksesi tumbuhan adalah penggantian suatu komunitas tumbuh-tumbuhan oleh yang lain. Hal ini dapat terjadi pada tahap integrasi lambat ketika tempat tumbuh awalnya ekstrim sehingga sedikit tumbuhan dapat tumbuh diatasnya, atau suksesi tersebut dapat terjadi sangat cepat ketika suatu komunitas dirusak oleh suatu faktor seperti api, banjir, atau epidemi serangga dan diganti oleh yang lain (Daniel, et al, 1992). Perlakuan mencangkul lahan objek dilakukan dengan benar-benar menghilangkan karakter vegetasi awal dan menjadikan lahan bersih dari sisa kehidupan vegetasi sebelumnya baik berupa sisa akar ataupun benih sehingga tanaman yang akan muncul diharapkan benarbenar komunitas yang baru. Munculnya vegetasi yang baru sangat diharapkan dapat menjadi sutu suksesi yang baru dengan faktor-faktor yang ada karena Suksesi yang akan tumbuh dijadikan sebagai suatu studi orientasi yang memperhatikan semua perubahan dalam vegetasi yang terjadi pada habitat yang sama dalam suatu perjalanan waktu dan dipengaruhi Faktor-faktor yang ada (Dombois and Ellengberg, 1974). Setelah didapat lahan yang telah dihilangkan vegetasi awal dengan cara mencangkul, prosedur kerja selanjutnya adalah membatasi lahan objek pengamatan dengan ukuran 1 meter x 1 meter yang selanjutnya dibagi menjadi 16 plot kecil yang masing-masing berukuran 25 cm x 25 cm dengan tujuan agar lebih

mudah dalam menginventarisir jumlah, macam dan luas penutupan dari vegetasi baru yang tumbuh. Setelah lahan yang dijadikan objek selesai dipersiapkan maka prosedur kerja selanjutnya adalah melakukan pengamatan selama 8 minggu kedepan dengan memperhatikan jumalah vegetasi baru yang muncul, jenis vegetasi, luas penutupan, laju pertumbuhan baik tinggi dan banyak daun pada tiap-tiap vegetasi. Luas penutupan disini yang dimaksud adalah luas dari tiap tumbuhan dalam menutupi luas lahan garapan yang dihitung pada tiap satu plot (25 cm x 25cm). Dari pengamatan selama 8 minggu yang telah dilakukan didapat data yang menunjukkan bahwa tiap minggunya terdapat penambahan jumlah yang ireversibel pada tiap-tiap plot berupa jumlah spesies dan luas penutupan terhadap lahan objek pengamatan. Dari lahan objek pengamatan yang terbagi dalam 16 plot kecil didapat bahwa jenis spesies yang tumbuh adalah homogen yaitu suku Grminae berupa rumput ilalang. Homogenitas yang terjadi mungkin dapat disebabkan karena adanya pengaruh vegetasi sebelumnya dimana akar yang tertinggal selama waktu pengamatan berangsur-angsur tumbuh dan membentuk tanaman baru, sedangkan kita tahu bahwa suku Graminae memiliki sistem perakaran membentuk stolon pada tiap buku batang. Selain itu Alang-alang atau ilalang ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama daerah seperti alalang. Rumput menahun dengan tunas panjang dan bersisik, merayap di bawah tanah. Ujung (pucuk) tunas yang muncul di tanah runcing tajam, serupa ranjau duri. Batang pendek, menjulang naik ke atas tanah dan berbunga. Tinggi 0,2 1,5 m, di tempat-tempat lain mungkin lebih, dalam hal ini berarti lingkungan sangat berpengaruh. Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang menembus tanah yang gembur. Selain itu dengan lingkungan yang pada umumnya homogen dengan satu tanaman dengan perkembangbiakan yang cepat, maka jumlah daun

yang tumbuh juga semakin banyak. Dari pengamatan yang kami temukan bahwa rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembab atau kering. Seberapa luas penutupan yang terjadi selama 8 minggu dapat dilihat pada tabel hasil pengamatan. Dari langkah pengamatan diketahui tahap-tahap perkembangan Suksesi Sekunder yang terjadi yaitu: Fase Permulaan Setelah penggundulan lahan objek pengamatan, dengan sendirinya hampir tidak ada biomasa yang tersisa yang mampu beregenerasi. Tetapi, tumbuhan semak-semak (suku Graminae) muncul dengan cepat dan menempati tanah yang gundul. Dapat dikarenakan adanya sisa perakaran vegetasi sebelumnya dan persebaran biji dari tanaman disekitarnya baik lewat perantara angin dan hujan. Fase Awal/Muda Kurang dari satu minggu, tumbuhan semak-semak mengalami pertumbuhan tinggi yang cepat, kerapatan daun yang rendah, pertumbuhan cabang sedikit, daun-daun berukuran besar yang sederhana, Kebutuhan cahaya yang rendah menyebabkan tingkat kesuburan tanaman sangat tinggi, karena selama 8 minggu pengamatan cuaca yang terjadi adalah intensitas hujan yang tinggi dan tanaman tumbuh dengan umur yang kurang lebih sama yang menyebabkan siklus unsur hara berkembang dengan sangat cepat. Khususnya unsur-unsur hara mineral diserap dengan cepat oleh tanaman-tanaman, sebaliknya nitrogen tanah, fosfor dan belerang pada awalnya menumpuk di lapisan organik (Jordan 1985). Pertumbuhan tanaman dan penyerapan unsur hara yang cepat mengakibatkan terjadinya penumpukan biomasa yang sangat cepat. Proses-proses biologi akan berjalan lebih lambat setelah sekitar tanaman berusia 5 minggu dimana tanaman cenderung mulai pada fase generatif dan mulai membentuk bunga. Ciri-ciri ini adalah permulaan dari fase ketiga (fase dewasa).

Fase Dewasa Setelah pengamatan sekian minggu beberapa tanaman telah tampak menaglami fase dewasa dengan ditandai fase perbungaan yang terjadi. Setelah fase dewasa dalam suatu suksesi selanjutnya akan mengalami fese akhir yaitu fase klimas. Fase klimaks Dalam minggu akhir pengamatan berangsur-angsur menunjukkan suatu kondisi keseimbangan yang stabil (steady-state), dimana tanaman-tanaman yang telah melalui seluruh fase suksesi akan menjadi stabil. Namun pada suksesi baru yang kami amati tidak seluruhnya telah mengalami fase stabil yang dikarenakan perbedaan usia dan pencukupan kebutuhan nutrisi. Perjalanan suksesi yang kami amati berdasarkan teori dan secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:

Urut-urutan terjadinya proses ini: Lumut kerak lumut kerak berdaun lumut rumput-rumputan (herbaceus) semak-semak (shrubs) pohon-pohonan.

F. KESIMPULAN
1. Suksesi suatu proses perubahan yang runut dalam suatu komonitas

(tanaman, hewan, mikroba tanah dan semacamnya) yang berasal dari modifikasi lingkungan oleh organisme dan mencapai puncaknyadalam suatu sistem puncak yang mencapai keadaan yang mantab atau klimaks (richard 1974)
2. Suksesi primer, suksesi yang terjadi pada posisi yang baru saja terbentuk. 3. Suksesi sekunder, suksesi yang terjadi tatkala ekosistem tercemar atau

dihancurkan, akan tetapi komposisi biotik sebelumnya mempengaruhi proses pembentukan vegetasi baru.
4. Beberapa Tipe suksesi yaitu:

Hidrosere: Halosere: Xerosere: Serule:


5. Beberapa faktor penyebab Suksesi

a) Iklim Keadaan iklim kadang-kadang membawa akibat rusaknya vegetasi baik sebagian maupun seluruhnya. Kekeringan, hujan salju/air dan kilat seringkali membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada vegetasi. b) Topografi Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain: Erosi: Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan akhirnya proses suksesi dimulai.

Pengendapan (denudasi): Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu

tempat tanah diendapkan sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut. c) Biotik Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi.
6. Tamanam yang tumbuh pada lahan suksesi yang kami temukan dari

pengmatan bersifat homogen yaitu dari suku (suku Graminae) berupa spesies alang-alang.

DAFTAR PUSTAKA

Ewuise, J. Y. 1990. Ekologi Tropika. Bandung: ITB

Setiadi, D. I. Muhadjono, dan A. Yusron. 1989. Ekologi. Bogor: Depdikbud Dirjen DIKTI PAU IPB

Wolf, l. L dan S. J. Menauhton. 1990. Ecology edisi II (terjemahan). Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

http://bigmike-savannaland.blogspot.com/2008/03/savana-suksesi-dan-klimaksvegetasi.html - 98k ( 17 Desember 2008)

http://elearning.unej.ac.id/courses/PNA339/document/Dasar Ekologi_Tanaman/Bab1-Penjelasan_Umum.pdf?cidReq=PNA339( 17 Desember 2008)