Anda di halaman 1dari 12

BAB XVI

RUSIA

A.ATAR BEAKANG
Perkembangan tahun 1991 di negara sosialis terutama perubahan yang sangat dramatis di Uni
Soviet setelah gagalnya 'cup d`etat, telah menimbulkan keadaan tak menentu. Pada mulanya terlihat
bahwa apa yang dulunya bernama USSR (Union of the Soviet Socialist Republics) berubah menjadi
negara Iederal yang longgar antara negara-negara yang dulunya tergabung jadi satu; sekarang setiap
negara itu punya kedaulatan sendiri sehingga 'S yang dulu adalah singkatan dari Socialist sekarang
berubah menjadi singkatan dari Sovereign yang berarti kedaulatan. Juga tidak pasti berapa buah
republic yang akan bergabung dalam Iederasi atau 'Union yang baru ini, karena Latvia, Lithuania,
dan Estonia telah ke luar dari Union dan telah menjadi negara yang berdiri sendiri.
Dalam bentuk baru ini berupa 'Persemakmuran negara-negara merdeka tidak mungkin
membicarakan satu sistem pendidikan atas nama Union karena semua keputusan sekarang terletak
pada negara itu masing-masing. Sungguhpun demikian, karena sistem pendidikan biasanya lambat
mengalami reIormasi, tampaknya tidak akan terjadi perubahan yang drastic dalam waktu singkat.
Tulisan ini mereIleksikan keadaan 'status quo dalam bulan Oktober 1992. Istilah Rusia, khusus
dalam konteks ini, berarti Federasi Rusia dengan 15 republik yang dulu membentuk Uni Soviet.
Kerajaan Rusia yang lahir sebelum Revolusi Besar Sosialis bulan Oktober 1917, sudah hilang
sebagian karena kekuatan militer dan sebagian hilang karena proses negosiasi. Dari bulan Desember
1922 kerajaan Rusia itu telah menjadi sebuah kesatuan yang terdiri dari 15 republik sampai tahun
1991, yaitu ketika 3 republik Baltik ke luar dari kesatuan. Daerah yang sangat luas dengan variasi
etnis yang sangat banyak, hampir tidak mungkin menggeneralisasikan kepadatan penduduk di Rusia,
begitu juga pertumbuhan penduduknya. Sesudah perang tahun 1941-45 terjadi 'baby boom dan saat
itu pertumbuhan penduduk hampir 2 per tahun (1946: 1,3; 1950: 1,7; 1960: 1,78). Semenjak
1965, terjadi penurunan angka pertumbuhan penduduk yang agak stabil di seluruh Rusia, yaitu 8,4
dalam tahun 1989, dan angka itu lebih tinggi di pedalaman, dan lebih rendah di kota-kota besar. Lebih
dari 2/3 penduduk Rusia tinggal di daerah perkotaan. Rata-rata kepadatan penduduk di seluruh Rusia
adalah 10,6 orang per kilometer persegi, tetapi 327,6 di kota Moskow dan 0,3 di daerah Siberia dan
Yakutia. Penduduk Rusia saat ini kurang lebih 146,393,569 jiwa (World Almanac 2000).
Bahasa Rusia adalah bahasa asli dan bahasa resmi penduduk Rusia yang digunakan antar
penduduk di semua republik dan antar kelompok etnis, walaupun sesungguhnya beberapa republik
dalam Federasi Rusia enggan mempertahankannya sebagai bahasa kedua di negara mereka karena
mereka semakin sadar akan identitas bangsanya. Hampir semua orang yang bukan orang Rusia
berbicara dengan bahasa Rusia supaya lebih mudah berkomunikasi dan belajar di lembaga-lembaga
pendidikan tinggi.
Sebelum tahun 1917, lebih dari 75 penduduk tinggal di daerah-daerah pedalaman, dan hampir
semuanya terikat dengan pertanian. Dengan bertambah besarnya jumlah penduduk di perkotaan, Rusia
masih saja berpenduduk yang besar jumlah petaninya dibandingkan dengan negara-negara industri
lainnya (37,1 dalam tahun 1989). Kira-kira 17,8 buruh-buruh Rusia yang tinggal di daerah
perkotaan lebih tinggi tingkat pendidikannya dibandingkan dengan yang tinggal di pedesaan.
Perekonomian Rusia sangat tersentralisasi semenjak pertengahan 1920-an dengan pengontrolan
sepenuhnya oleh Partai Komunis. Bahkan kuota produksi untuk barang-barang tertentu (termasuk
barang-barang untuk konsumsi) diputuskan pada tingkat eselon tertinggi Partai dan disalurkan ke
bawah melalui pabrik dan pertanian kolektiI yang disebut 'olo:es. Sentralisasi ini (yang dijuluki
dengan istilah 'sistem komando dan administrasi di bawah 'perestroia Gorbachev) telah
menimbulkan stagnasi dalam perekonomian Rusia. Hal ini ditambah lagi dengan langkah-langkah
yang kurang mantap ke arah perekonomian pasar tahun 1990-91 sehingga ikut mempercepat
kemunduran ekonomi serta semakin chaosnya keadaan di hampir semua sektor perekonomonian.
Beberapa keputusan yang sangat tidak popular telah diambil untuk mengatasi keadaan atau setidak-
tidaknya telah ditawarkan pada awal 1990-an. Sangat sulit meramalkan hasilnya. Apa yang terjadi
ialah bahwa pada bulan November 1992 lebih dari 40 penduduk jatuh di bawah garis kemiskinan.

B.POITIK DAN TU1UAN PENDIDIKAN
Berbagai kesulitan seperti digambarkan di atas bertambah berat dengan ketidakpastian politik
Rusia di masa datang. Struktur 'union menjadi kucar-kacir dan negara-negara baru yang punya
kedaulatan sendiri praktis tlah mengambil alih semua kekuasaan ke tangan mereka sendiri. Tetapi
Rusia sendiri adalah konglomerat daerah-daerah etnis, dan banyak di antaranya yang menuntut pula
kemerdekaannya, dan keadaan yang membingungkan ini sama sekali tidak menolong menstabilkan
ekonomi Rusia, apalagi untuk memperbaikinya. Kesatuan politik masa lalu (yang bertujuan
membangun masyarakat komunis) sekarang sudah tak ada lagi, dan belum ada penggantinya yang
cocok. Saat itu slogan utama negara adalah: 'dari setiap orang sesuai dengan kemampuannya, untuk
setiap orang sesuai dengan kebutuhannya (from everyone according to his abilities, to everyone
according to his needs). Ada orang yang ingin kembali ke sistem kapitalisme, ada yang menuntut
menghentikan sistem itu segera dan menitikberatkan pada ekonomi pasar sebagai tujuan utama (bukan
sebagai alat untuk mencapai kemakmuran). Tidak ada kebijakan yang jelas yang dapat diterima pada
level nasional, dan keadaan ini juga berpengaruh besar terhadap perencanaan pendidikan.
Sebelumnya, tujuan umum politik nasional untuk membangun komunisme digabungkan dengan
pembangunan manusia seutuhnya merupakan tujuan akhir pendidikan. Negara dianggap sebagai
wadah yang paling cocok untuk mencerminkan dan menjabarkan apa yang dibutuhkan masyarakat;
kepentingan dan kebutuhan manusia sebagai individu hampir tidak pernah menjadi pertimbangan
(N.D. Nikandrov, 1995). Keadaan ini diikuti pula oleh ketidakseimbangan yang sangat parah yang
terjadi antara apa yang diinginkan oleh banyak orang dengan apa yang diberikan oleh negara (dalam
pilihan sekolah pada semua tingkat, dalam hal gaji, hampir tidak pernah didasarkan atas kualitas dan
lamanya pendidikan yang diperoleh, dan sebagainya). Akibatnya yang paling penting ialah prestise
pendidikan jatuh rendah sekali walaupun kata-kata manis selalu diucapkan pada awal 1990-an bahwa
pendidikan menjadi prioritas dalam penganggaran; rakyat pada umumnya telah bosan mendengar
semua isapan jempol ini.
Walaupun pendidikan dinyatakan sebagai prioritas dalam Undang-Undang Pendidikan yang
disyahkan oleh Parlemen Rusia pada tahun 1992, tetapi kenyataannya pendidikan sangat miskin
pendanaannya. Dalam undang-undang yang sama, ada 6 prinsip kebijakan negara mengenai
pendidikan, yaitu:
a. pendidikan yang bercirikan kemanusiaan dan prioritas nilai-nilai umum kemanusiaan;
b. kesatuan budaya dan Iasilitas pendidikan dalam Federasi;
c. akses pendidikan bagi seluruh rakyat;
d. pendidikan bebas dari pengaruh agama (church-free) pada lembaga-lembaga pendidikan negara;
e. kebebasan dan pluralism dalam pendidikan; dan
I. manajemen yang demokratis dalam pendidikan dan otonomi lembaga-lembaga pendidikan.
Tugas untuk menjabarkan standar pemerintah pusat tentang pendidikan akan dilakukan dalam
waktu dekat. Sampai ini selesai, tujuan pendidikan umum juga disusun dalam bentuk sangat umum
sehingga dapat menciptakan kondisi yang kondusiI, dan menyiapkan prasyarat mental, moral, emosi
serta pengembangan Iisik pribadi-pribadi. Tujuan pendidikan ini juga menghendaki pandangan dunia
yang ilmiah, menuntut sistem pengetahuan yang ilmiah, pengetahuan kemasyarakatan, penduduk,
pekerjaannya, dan juga cara-cara kerja yang independen.
Perlu pula dicatat sebagai perubahan yang penting bahwa setiap lembaga pendidikan harus
memiliki paket pendidikannya sendiri yang mengandung nilai dan tujuannya masing-masing, satu hal
yang sangat berbeda dengan sistem sentralisasi di masa-masa lalu (D.N. Nikandrov, 1995). Ini tidak
berarti bahwa apa yang dibolehkan dan didorong ini sudah terlaksana. Adakalanya, sekolah dan
lembaga-lembaga pendidikan pemerintah belum siap untuk berotonomi, sementara sekolah-sekolah
swasta non-pemerintah ingin sekali mendapatkan hal seperti ini.

. Pendanaan
Sampai tahun 1980,pendanaan pendidikan bersiIat sentralisasi yang ketat. Pejabat-pejabat Uni
Soviet mengalokasikan anggaran menyeluruh untuk setiap republik, dan juga menggariskan bagian-
bagian yang harus dibelanjakan untuk setiap sektor seperti pendidikan. Semenjak waktu itu, 1980,
kontrol keuangan berangsur-angsur dialihkan kepada masing-masing republik, dan pada akhir 1991,
praktis tidak ada lagi uang yang dianggarkan untuk program pendidikan oleh penguasa-penguasa
Union. Pembentukan Persemakmuran Negara-negara Merdeka telah mengubah pola keseluruhan.
Upaya-upaya dilakukan untuk menetapkan distribusi keuangan pendidikan antar negara, kota, dan
distrik. Akan tetapi, situasi sampai di sini tidak jelas lagi. Pada beberapa kota, para administrator dan
pembuat keputusan berpendapat dan ingin menyisihkan anggaran yang besar untuk sektor pendidikan
(setidak-tidaknya untuk sekolah-sekolah dalam wilayahnya) melalui jalur perpajakan. Sebaliknya,
pada beberapa tempat yang lain, cara-cara tradisional seperti pengalokasian dana dengan sistem
terpusat lebih disukai, kecuali tidak ada lagi 'pusat untuk seluruh republik.
Sudah ada pengertian bersama bahwa pendidikan membutuhkan dana yang lebih besar dari
yang diperolehnya sekarang. Ini merupakan salah satu stimulus dari mendesentralisasikan sistem
keuangan sehingga penguasa-penguasa local juga menyisihkan dana untuk pendidikan selain yang
diperoleh dari pusat. Tetapi sayangnya, situasi pada awal 1990-an kurang member harapan bahwa ini
akan terlaksana dengan baik. Dari masa akhir Perang Dunia II, pendanaan pendidikan selalu saja naik
dengan lamban dalam artian yang sesungguhnya, dan juga tidak ada kenaikan yang dramatis
sebagaimana juga terjadi di negara-negara lain. Selalu saja sulit menghitung secara realistis berapa
persentase uang yang dibelanjakan untuk pendidikan nonIormal, dan dengan alasan-alasan yang telah
disebutkan terdahulu, juga tidak mungkin menghitungnya pada awal 1990-an.
Berbagai usaha juga dilakukan untuk menarik dana dari sektor swasta untuk keperluan
pendidikan. Di masa yang lalu, tidak ada jumlah uang yang besar yang secara resmi dialokasikan oleh
pihak swasta. Dengan berubahnya sistem ke ekonomi pasar, terdapat berbagai harapan baru bahwa
perusahaan-perusahaan swasta, bisnis dan sebagainya sudah bersedia dan siap untuk menyisihkan
sebagian dananya untuk pendidikan, baik itu sebagai bantuan sukarela yang bersiIat kemanusiaan atau
melalui perpajakan yang rendah (walau masih berupa janji). Tidak ada statistic yang tersedia dan yang
dapat disebutkan hanyalah bahwa pelaksanaannya akan meningkat dan jumlahnya akan sangat
bervariasi. Variasi itu mulai dari sumbangan orang tua murid terhadap sekolah tempat anaknya
belajar, beasiswa untuk mahasiswa-mahasiswa di pendidikan tinggi, dan dukungan dana langsung dari
perusahaan-perusahaan swasta kepada sekolah dan universitas.
Seluruh pendidikan (kecuali berbagai program inIormal) sudah semenjak lama gratis untuk
semua tingkat. Tetapi semakin banyak berdiri sekolah dan universitas yang memungut uang sekolah
atau dana pendidikan yang tidak selalu mahal. Semua mahasiswa pendidikan tinggi dan murid-murid
pada sekolah vokasional mendapat beasiswa (stipends). Jumlahnya tidak besar dan hanya cukup untuk
keperluan pokok saja, sehingga banyak mahasiswa atau murid yang juga bekerja malam hari atau
pada hari-hari sekolah. Mahasiswa atau murid yang mendapat nilai tinggi (hasil baik) menerima
beasiswa 25 sampai 50 lebih besar dari yang lain; juga tersedia beasiswa untuk orang-orang yang
mendapat nama luar biasa dalam bidang politik atau ilmu pengetahuan.
Pembicaraan sedang berlangsung pada awal 1990-an mengenai pemberian pinjaman kepada
mahasiswa perguruan tinggi oleh pemerintah atau oleh perusahaan-perusahaan swasta, tetapi belum
ada dokumen resmi mengenai hal ini. Walaupun demikian, Undang-Undang Pendidikan tahun 1992
menyebutkan bantuan dalam pemeliharaan sekolah. Dalam prakteknya ini berarti bahwa jika seorang
anak memilih sekolah swasta yang memungut biaya, siswa tersebut (atau orang tuanya) menerima cek
yang jumlahnya sama besar dengan jumlah uang yang seharusnya dikeluarkan kalau anak itu
memasuki sekolah pemerintah. Cek ini sesuai undang-undang diterima oleh sekolah swasta mana saja,
dan sisanya ditambah oleh siswa yang bersangkutan. Ini hanya ide umum. Pada alinea berikutnya
dalam undang-undang itu disebutkan bahwa ketentuan mengenai bantuan ini nanti akan dibuat
mengikat.
. Personalia
Sebagai gambaran umum tentang personalia pendidikan Rusia dan sekaligus sebagai latar
belakang perkembangannya, Tabel di bawah ini memperlihatkan statistic guru-guru, sekolah dan
murid pada semua tingkat pada tahun 1993.
Statistik embaga, Guru dan Murid di Rusia (Tahun 199
Lembaga Pendidikan Jumlah
lembaga
Jumlah
siswa/mahasiswa
Jumlah
guru/dosen
Prasekolah 87,800 9,634,700 968,300
Sekolah Pendidikan Umum 67,098 20,169,600 1,596,800
Sekolah Menengah Pendidikan Khusus 2,607 1,993,900 154,958
Sekolah Vokasional 4,273 1,741,600 -
Perguruan Tinggi 548 2,542,900 228,800
Sumber. Niadrov, dalam Postlethwaite 'International Encyclopedia of National Systems of Education
(1995)
Guru dididik pada 42 universitas, 4 universitas pendidikan, 93 institut pendidikan, dan 353
sekolah menengah (hanya mendidik guru-guru prasekolah dan sekolah dasar). Kompetisi untuk
mendapatkan pekerjaan mengajar selalu rendah. Calon yang memilih bidang pendidikan karena takut
gagal dalam ujian masuk untuk mengambil bidang lain.
Program pendidikan guru untuk semua tingkat mencakup komponen pendidikan umum (dulu
sebagian besar digunakan untuk mata pelajaran ideologi seperti sejarah Partai Komunis), komponen
bidang studi yaitu mata pelajaran yang nanti akan diajarkan dan komponen proIessional, seperti
psikologi dan kependidikan. Proporsi untuk komponen-komponen ini berbeda tergantung pada level
pendidikan tempat gutu diharapkan mengajar. Komponen proIesional merupakan yang terbesar bagi
guru-guru yang dididik untuk level prasekolah dan sekolah dasar, dan proporsinya lebih kecil bagi
guru-guru yang akan bertugas di sekolah menengah. Tidak ada program khusus bagi dosen-dosen
perguruan tinggi. Mereka diangkat melalui pemilihan mahasiswa 'ranking atas dari berbagai
lembaga pendidikan tinggi, dan lulus dari sistem 'inservice training setiap lima tahun. Juga ada
calon dari mahasiswa program doktor yang sedang belajar di berbagai perguruan tinggi. Calon-calon
untuk bidang sains yang memiliki gelar pertamanya memerlukan waktu sekurang-kurangnya 3 tahun
menyiapkan tesis serta mempertahankannya. Untuk mengajar di perguruan tinggi, biasanya
mahasiswa atau para calon mengambil mata pelajaran yang berhubungan dengan mengajar, walaupun
sedikit sekali waktu yang tersedia untuk mampu meningkatkan potensi calon (misalnya, sedikit sekali
kuliah yang diambil mengenai teori-teori pendidikan dan praktek mengajar).
Penyediaan guru selalu saja tidak teratur dengan pengertian bahwa terjadi kelebihan guru pada
mata pelajaran tertentu, tetapi pada mata pelajaran lainnya terdapat kekurangan. Tetapi dalam
beberapa tahun terakhir, dengan lambatnya kenaikan gaji guru dibandingkan dengan gaji proIesi lain,
ada kecenderungan terjadi kekurangan guru hampir di semua tempat, baik di kota-kota besar, maupun
jauh dipelosok-pelosok desa. Untuk di daerah-daerah pedalaman masalah bertambah rumit lagi
dengan keadaan perumahan yang sulit, serta sangat kurangnya persediaan bahan pangan. Di samping
itu, kelas pun berbeda-beda besarnya, dan kelas-kelas yang padat muridnya (lebih dari 40 murid)
paling menderita kekurangan guru, dan akhirnya banyak di antara guru-guru tak dapat menerima
keadaan hanya dengan toleransi sehingga memutuskan untuk mencari pekerjaan lain.
Ada sebuah sistem 'inservice-training yang cukup baik untuk pengadaan guru. Pada setiap
kota besar didirikan sebuah 'Institut Pendidikan Guru yang melayani kota dan daerah. Program-
programnya meliputi kuliah dan 'workshop selama beberapa minggu, diselingi 'workshop bagi
guru-guru untuk semua mata pelajaran, dan sebagainya, Kepala sekolah dan wakil-wakilnya juga
mendapat 'inservice-training antara 2-4 bulan setiap lima tahun yang diselenggarakan oleh jurusan
yang ada pada universitas dan institut kependidikan. Ini juga berlaku bagi dosen-dosen perguran
tinggi sendiri. Seringnya mendapat kesempatan berkunjung ke universitas-universitas besar (di kota-
kota besar) biasanya sangat menarik bagi guru-guru yang bertugas di kota-kota kecil yang jauh, yang
jaraknya kadang-kadang mencapai ratusan kilometer. 'Inservice-training bagi guru-guru biasanya
mencakup kuliah-kuliah dalam mata pelajaran yang mereka pegang serta psikologi dan kependidikan,
dan sering pula dilengkapi dengan latihan computer. Program-program ini sangat penting bagi guru-
guru dan juga dosen-dosen perguruan tinggi karena beban mengajar yang cukup berat sepanjang tahun
ajaran hampir tidak member kesempatan kepada mereka untuk 'belajar bebas (independent study).
. Kurikulum dan Metodologi Pengajaran
Sebagaimana telah disebutkan sejak awal bahwa Uni Soviet sudah sejak lama menjadi negara
dengan sistem sentralisasi pemerintahan yang sangat ketat dalam semua aspek kehidupan, termasuk
pendidikan (Nikandrov, 1995). Gerakan nyata kea rah desentralisasi dimulai kira-kira pertengahan
tahun 1980-an, dan baru mendapat dorongan kuat pada akhir dekade itu. Sekarang sudah disusun
kurikulum untuk seluruh Rusia (khusus untuk pendidikan umum), dan lembaga-lembaga pendidikan
tinggi makin mendapat kebebasan dalam menyusun, memutuskan, dan melaksanakan kurikulumnya.
Walaupun isi kurikulum pendidikan masih atas rekomendasi pusat (republik), tetapi 60 atau
lebih ditentukan di tingkat kota dan sekolah, dan komponen sekolah harus berkembang. Pendidikan di
Rusia sesungguhnya tidak menggunakan istilah 'kurikulum dalam arti yang lebih luas yang
mencakup jumlah mata pelajaran, metodologi, dan media yang dipakai. Yang ada adalah 'rencana
pelajaran (study plans) yang terdiri dari mata pelajaran yang diajarkan dengan jumlah jam untuk
setiap mata pelajaran, silabus setiap mata pelajaran yang memberikan uraian yang jelas apa saja yang
dicakup dalam mata pelajaran itu. Dulu ada 'kurikulum inti (core curriculum) untuk semua negara
yang tergabung dalam 'union yang memuat bahasa Rusia dan sastra, matematika, Iisika, kimia,
sejarah Uni Soviet dan geograIi dunia dan biologi. Sekarang Federasi Rusia memutuskan isi
kurikulum inti menjadi: bahasa ibu dan sastra, sejarah Rusia, 'physical culture, dan beberapa mata
pelajaran khusus lainnya yang berhubungan dengan Federasi secara keseluruhan. Penetapan ini
maksudnya ialah untuk memberikan kebebasan yang luas kepada masing-masing lembaga.
Walaupun secara teknis harus disetujui oleh Kementrian Pendidikan, dan kemudian oleh
Komite Pendidikan Negara, semua 'rencana pelajaran dan silabus serta hampir semua buku teks
untuk sekolah-sekolah pendidikan umum disiapkan oleh para peneliti dari Akademi Ilmu
Kependidikan. Sebagian buku teks ditulis oleh guru-guru dan ahli-ahli dari bidang lain. Buku teks
untuk tingkat pendidikan tinggi ini ditulis oleh dosen-dosen perguruan tinggi. Inilah yang terjadi pada
awal 1990-an dengan sedikit perbedaan bahwa Akademi Ilmu-ilmu Kependidikan telah diubah
menjadi Akademi Pendidikan Rusia, dan banyak lembaga pendidikan yang lebih suka menggunakan
buku-buku teks alternative yang ditulis di mana atau oleh siapa saja. Cara inilah sekarang yang lebih
didorong.
Sampai pertengahan tahun 1980-an belum ada mata kuliah pilihan (electives) walaupun
sekolah-sekolah punya hak untuk menawarkan mata kuliah di luar yang telah ditetapkan dalam
kurikulum. ReIormasi sekolah tahun 1984 memberikan dorongaan kuat terhadap konsep 'belajar hal
yang berbeda-beda (differenciated learning), dan semenjak itu kira-kira 10 dari kurikulum
disediakan untuk mata pelajaran elektiI. Juga ada sekolah yang lebih menitikberatkan pada satu atau
beberapa mata pelajaran seperti bahasa asing, Iisika, matematik dan sebagainya. Mulai 1990-an
sekolah alternative menjadi kenyataan yang bercirikan 'penekanan (emphasis) yang lebih jelas, dan
30 waktu belajar boleh digunakan untuk mata pelajaran elektiI.
Bahasa asing diajarkan mulai dari 'Grade-3 dan pada semua sekolah kecuali apabila tidak
tersedia guru bahasa asing, dan hal ini memang terjadi. Hampir 60 sekolah mengajarkan bahasa
Inggris sebagai bahasa asing pertama, dan diikuti bahasa Perancis dan Jerman sebagai bahasa asing
kedua, sementara bahasa-bahasa asing lain jarang diajarkan. Dengan lebih mudahnya hubungan
internasional, dan semakin kuatnya semangat kewiraswastaan, dorongan untuk belajar bahasa asing
juga semakin bertambah besar dan semakin popular. Oleh karena sekolah tidak memberikan ilmu
sekaligus dalam prakteknya yang memadai, maka muncullah berbagai kursus bahasa asing yang
bersiIat swasta dalam masyarakat, dan adakalanya dengan pembayaran yang tinggi.
Metodologi mengajar dianggap sebagai tanggung jawab masing-masing guru semenjak awal
1990-an. Ini dalam kenyataannya tidak selalu demikian, karena para peneliti sebelumnya telah
menyiapkan berbagai literature, tidak hanya mengenai metodologi secara umum tetapi juga berbagai
rekomendasi yang sangat rinci mengenai bagian tertentu dalam silabus, dan bagian pelajaran tertentu
dalam sebuah topik, dan sebagainya. Sebagian guru lebih menyukai pedoman yang rinci seperti ini.
Tetapi dalam banyak hal yang menjadi pedoman adalah belajar aktiI, mengurangi kuliah yang
monolog, memperbanyak diskusi kelompok, meningkatkan waktu tanya-jawab, dan sebagainya.
. Ujian, Kenaikan Kelas, dan Sertifikasi
Semenjak awal tahun 1940-an sudah terlalu sering terjadi perubahan mengenai ujian, sistem
kenaikan kelas dan sertiIikasi. Baru sesudah Perang Dunia II, anak-anak mengikuti ujian tahunan
dalam berbagai mata pelajaran dan mulai dari 'rade-4. Ujian akhir baru diadakan setelah rade-8
dan pada akhir rade-10 atau 11 dan pada saat itu sertiIikat tamat belajar (attestat) diberikan. Ini juga
dilakukan pada awal 1990-an kecuali sekolah sendiri punya wewenang untuk menentukan apakah
ujian dibuat di atas batas minimum yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada rade yang lain
kemajuan belajar anak sepanjang tahun pelajaran dipakai sebagai pertimbangan guru dalam
menentukan kenaikan kelas. Progres anak ini dinilai secara komulatiI sewaktu guru member angka
siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Nilai tertinggi adalah 5 dan nilai terendah 1. Nilai
lulus terendah adalah 3; apabila seorang anak mendapat nilai 2 dalam dua atau tiga mata pelajaran, ia
masih dapat naik kelas. Jika nilai 2 diperoleh pada ujian akhir, mata pelajaran tersebut tidak dituliskan
dalam sertiIikat atau transkrip, dan ini dapat menghambat anak untuk memasuki pendidikan yang
lebih tinggi kalau mata pelajaran itu tergolong mata pelajaran penting.
Hampir sepanjang sejarah pendidikan Soviet prinsip yang dianut adalah kesamaan kesempatan
belajar dan tidak ada pembedaan. Ini juga berarti bahwa seluruh murid harus diusahakan dengan
berbagai cara agar mereka berhasil memperoleh nilai minimal 3 dalam semua mata pelajaran sesuai
dengan perhatian dan kemampuannya. Ini ternyata tidak demikian lagi, karena masih banyak guru
yang keberatan mengingat terlalu berat bagi anak-anak yang benar-benar kurang kemampuannya.
. Evaluasi dan Penelitian Pendidikan
Kecenderungan pada awal tahun 1990-an kea rah desentralisasi memperkecil kemungkinan
untuk melaksanakan evaluasi pada tingkat Rusia secara keseluruhan, karena Rusia yang seperti itu
tidak ada lagi sejak beberapa tahun yang lalu. Dahulu, sistem ujian direncanakan dan diselenggarakan
secara terpusat walaupun badan sejenis 'testing service tidak pernah ada. Alasan yang paling penting
adalah bahwa ujian itu sendiri sejak dahulu dianggap sebagai hal bersiIat 'reaksioner dan 'borjuis
(bourgeois) yang tidak bernuansa rakyat jelata. Tetapi semenjak tahun 1870 bahkan lebih awal dari
itu, anggapan seperti itu sudah berubah; ujian tidak lagi dibuat dalam jumlah besar, dan guru-guru
memakai ujian yang dibuat sendiri. Kadang-kadang Kementerian Pendidikan dan kementerian-
kementerian republik melakukan 'tindakan-tindakan kontrol dengan mengumpulkan kertas-kertas
ujian pada sekolah-sekolah tertentu, tetapi tidak pernah ada kebijaka yang diambil mengenai hasilnya.
Pada umumnya, tindakan kontrol itu diikuti dengan ketetapan menteri memperingatkan direktur-
direktur sekolah yang kurang baik unjuk kerjanya untuk memperbaiki keadaan.
Undang-Undang Pendidikan tahun 1992 menetapkan adanya evaluasi secara teratur terhadap
pendidikan di Rusia dan ini merupakan keharusan untuk menyusun peraturan ujian dan standar
pendidikan (menengah) bagi seluruh Rusia. Tetapi ini semua masih dalam tahap perencanaan.
Semenjak tahun 1967 Akademi Ilmu-ilmu Kependidikan USSR (Union of Soviet Socialist
Republics) telah berdiri sebagai sebuah lembaga riset pendidikan yang penting (kemudian dikukuhkan
menjadi Akademi Pendidikan Rusia). Terdapat lebih dari 20 lembaga penelitian pada akademi ini
dengan kurang lebih 1,700 tenaga peneliti. Sebagian dari mereka melakukan penelitian-penelitian
teori, ada yang mempersiapkan kurikulum, silabus dan buku teks. Sebelumnya, akademi ini lebih
memberikan perhatian hanya pada sekolah-sekolah pendidikan umum; pada awal 1990-an
orientasinya diarahkan pada sistem pendidikan secara menyeluruh. Penelitian pendidikan juga
dilakukan pada pusat-pusat pendidikan yang ada pada semua universitas dan lembaga-lembaga
kependidikan, yaitu lembaga pendidikan guru.

E. REFORMASI DAN ISU-ISU PENDIDIKAN
ReIormasi terakhir dalam pendidikan umum dan vokasional diumumkan pada tahun 1984.
Wajib belajar yang selama ini 10 tahun dijadikan 11 tahun. Perubahan terjadi pada pendidikan
vokasional yang juga menjadi wajib dalam berbagai bentuk; usia anak masuk sekolah dipercepat dari
umur 7 menjadi 6 tahun; pengalokasian dana untuk perlengkapan yang lebih baik, dan untuk
peningkatan gaji guru, dan panggilan terhadap guru-guru untuk melaksanakan pengajaran yang lebih
eIektiI dengan cara belajar aktiI. Tetapi, terlalu sedikit dana yang dialokasikan untuk
mengimplementasikan perubahan-perubahan ini, dan lagi pula, dengan konsep perestroia, reIormasi
itu sendiri ternyata tidak cukup. Pada tahun-tahun berikutnya, muncul lagi gagasan lebih lanjut untuk
mendemokratisasikan manajemen pendidikan, misalnya, dengan membentuk dewan-dewan sekolah
yang memiliki kekuasaan atau wewenang, dengan mendesentralisasikan pelaksanaan pendidikan,
serta dengan mengizinkan berIungsinya sekolah-sekolah alternatiI. Konsep-konsep yang sama juga
diberlakukan pada pendidikan tinggi.
Elemen baru dalam perencanaan strategi pendidikan ialah penyusunan program pendidikan
Iederal (sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan), dan ini dibuat atas dasar
kompetisi antara para pembuat kebijakan, administrator, dan ilmuwan proIesional. Ini harus menjadi
dasar bagi inovasi pendidikan pada masa datang, bukannya reIormasi yang datang tiba-tiba. Dalam
tahun 1991, Program Stabilisasi dan Pengembangan Pendidikan dijalankan oleh Kementrian
Pendidikan. Garis-garis yang harus diturut dalam melakukan pembaharuan-pembaharuan atau
reIormasi pendidikan telah ditentukan dengan 6 prinsip seperti disebutkan pada bagian B bab ini.
Masalah-masalah pokok pendidikan Rusia pada akhir abad 20 dan awal abad 21 ini adalah
bagaimana semua republik yang dulu tergabung dalam Uni Soviet (termasuk Rusia sendiri)
menemukan identitas pendidikannya masing-masing, termasuk juga identitas dalam bidang-bidang
lainnya. Kedaulatan republik diproklamirkan atas dasar gelombang kritik dan protes terhadap Union
terdahulu. Tetapi menghancurkan jauh lebih mudah dari membangun. Ini berarti bahwa negara-negara
baru harus menyediakan pendidikan yang lebih baik untuk negaranya, dan bagi Rusia sendiri sama
persoalannya dibandingkan zamannya Uni Soviet karena perbedaan-perbedaan etnis yang terdapat
dalam Federasi sendiri.
Masih akan lebih sulit mencari jalan untuk membiayai pendidikan saat ini dibandingkan dengan
keadaan pada masa lalu, pada saar berada di bawah kekuasaan Uni Soviet. Pernyataan dalam undang-
undang bahwa pendidikan adalah prioritas memang sudah jelas, akan tetapi untuk merealisasikannya
dalam praktek jelas tidak mudah.
Di samping itu, kualitas pendidikan merupakan isu yang sangat penting. Terlalu banyak
eksperimentasi yang dilakukan dalam bidang pendidikan sementara dana yang tersedia sangat
terbatas, ditambah pula dengan keadaan social masyarakat yang tidak menentu, telah menyebabkan
motivasi belajar sangat rendah. Banyak orang berpikir cukup rasional bahwa mungkin mereka akan
mendapat bayaran atau gaji lebih baik di bidang-bidang lain di luar bidang pendidikan. Siswa at
mahasiswa yang pintar juga berpikir bahwa barangkali mereka akan mendapat penghasilan lebih baik
dan lebih cepat tanpa pendidikan.
Transisi yang sangat penting dari pendidikan yang otoriter ke pendidikan yang demokratis,
termasuk manajemennya, dari keseragaman menuju kebhinekaan yang dipaksakan (tidak alamiah)
pasti akan berjalan lambat pada hampir semua lembaga pendidikan, dan akan lebih lambat lagi pada
sekolah-sekolah alternatiI. Buku-buku teks yang diterbitkan dalam berbagai bahasa; sulit
membayangkan biaya penerbitannya (kalau memang konsep kebhinnekaan diikuti) apalagi kalau
buku-buku itu diterbitkan dalam berbagai variasi atau alternatiI (misalnya, untuk satu mata pelajaran
atau bidang diterbitkan beberapa macam buku oleh pengarang yang berbeda). Juga tidak kurang
sulitnya melaksanakan konsep agar sekolah dipilih oleh orang tua dan anak-anak sendiri. Sekolah-
sekolah yang sudah padat dengan dua atau 3 'shifts (giliran masuk), dan biaya membawa anak-anak
ke sekolah yang jauh jaraknya atas pilihan mereka, benar-benar akan sangat sulit menyelesaikannya.
Barangkali hal ini baru mungkin teratasi apabila telah muncul guru-guru generasi baru, bahkan juga
generasi baru orang tua murid.

F. Komentar Penulis
Runtuhnya salah satu negara besar seperti USSR (Union of the Soviet Socialist Republics) yang
lebih dikenal dengan sebutan Uni Soviet tidak hanya menjadi topik besar dalam bidang politik, tetapi
dampaknya terhadap aspek-aspek lain jelas tak dapat dihindari. Salah satu dampaknya yang menjadi
perhatian kita dalam buku ini adalahs eberapa jauh pengaruhnya terhadap bidang pendidikan. Pada
dasarnya gerakan atau reIormasi yang dikenal dengan perestroia yang dimulai oleh Gorbachev
berintikan perubahan dari bentuk otoritas tunggal atau kediktatoran melalui Partai Komunis Uni
Soviet ke arah demokratisasi dalam semua aspek kehidupan. Ketidakpuasan selama ini telah
melahirkan perpecahan. Kritik dan protes selalu muncul dari negara-negara anggota yang selama ini
tergabung dalam USSR, yang akhirnya membuat Latvia, Lithuania dan Estonia ke luar dari USSR dan
mengumumkan menjadi negara-negara yang berdiri sendiri. Negara-negara anggota USSR lainnya
juga menyatakan mempunyai kedaulatan sendiri, tetapi membentuk wadah baru pengganti USSR,
yaitu berupa Persemakmuran negara-negara merdeka yang terdiri dari 15 negara.
Dalam bidang pendidikan, masalah pertama yang dihadapi Rusia bentuk baru adalah, tidak
mungkin lagi memiliki keseragaman bentuk dan sistem pendidikan seperti dahulu, karena kebijakan
dan pembuat keputusan sudah berpindah sepenuhnya pada negara-negara anggota masing-masing.
Setiap negara ingin dan cenderung memiliki identitas sendiri. Namun demikian, kenyataan
menunjukkan bahwa meruntuhkan memang lebih mudah dari membangun yang baru. Tantangan yang
dihadapi masing-masing negara anggota persemakmuran adalah bagaimana menciptakan sistem
pendidikan baru yang harus lebih baik dari yang ada selama ini. Mampukah mereka memperbaiki dan
mengubah keadaan yang selama ini menjadi kritik dan protes mereka. Salah satu contoh adalah dalam
bidang pendidikan nonIormal. Dalam pemerintahan lama, pendidikan nonIormal didukung dan
didanai oleh pemerintah pusat melalui sebuah organisasi masyarakat yaitu Znanye. Saat ini
pendidikan nonIormal dikatakan terombang-ambing karena Znanye yang ada di setiap negara selama
ini harus hidup dan bergerak dengan dana sendiri. Terjadinya situasi chaos sebagai akibat disintegrasi
USSR jelas mengandung resiko besar dan berdimensi waktu panjang terutama dalam aspek
pendidikan.
Aspek pendidikan lain yang sedang dihadapi Rusia saat ini adalah kurangnya tenaga guru.
Perekrutan tenaga guru juga mengalami hambatan dan kesulitan. Lembaga-lembaga pendidikan
kurang diminati masyarakat sehingga jumlah calon-calon guru yang baik sangat kurang. Fenomena ini
muncul terutama disebabkan status sosial-ekonomi guru sangat rendah dan ini sangat erat
hubungannya dengan gaji guru yang sangat kecil. Mahasiswa atau siswa yang terdaItar di lembaga-
lembaga pendidikan keguruan menyatakan bahwa mereka mendaItar karena takut gagal bersaing
dalam ujian masuk di bidang-bidang lain yang sangat besar peminatnya. Dengan kata lain, calon-
calon yang potensial hampir tidak mendaItar di lembaga-lembaga pendidikan sehingga lulusan yang
diangkat menjadi guru umumnya juga berkualitas rendah. Disamping itu, dalam keadaan kekurangan
guru, banyak pula guru-guru yang berhenti karena tidak mampu memikul beban mengajar yang terlalu
berat sebagai akibat terlalu lamanya sekolah kekurangan guru tanpa ada perubahan. Mereka
beranggapan bahwa mungkin mereka akan memperoleh penghasilan di tempat lain di luar bidang
pendidikan. Calon-calon siswa atau generasi muda banyak yang berpikir bahwa mereka akan
mendapat penghasilan lebih baik dan lebih cepat tanpa pendidikan. Situasi ini sangat memprihatinkan
di Rusia khususnya untuk jangka panjang. Hampir seluruh negara pernah mengalami hal yang sama,
yaitu tidak memberikan kompensasi yang wajar terhadap proIesi guru. Sudah banyak negara yang
melakukan reIormasi pendidikan, dan salah satu yang direIormasi adalah perbaikan sistem imbalan
atau penggajian. Di samping Amerika Serikat, Canada yang telah lebih dahulu melakukan perubahan,
Jepang dan Korea Selatan serta Malaysia akhir-akhir ini telah melakukan hal yang sama. Seharusnya
negara-negara lain dapat mengambil contoh hal ini dan mau mengambil kesimpulan bahwa investasi
di bidang pendidikan adalah investasi negara berjangka panjang. Sebaliknya, keterlambatan
memperbaiki bidang pendidikan akan berdampak negatiI yang juga berjangka panjang.
Rusia saat ini sedang dalam proses pembaharuan yang sangat mendasar, yaitu dari sistem
sentralisasi yang sangat ketat ke sistem otonomi atau desentralisasi yang demokratis. Ada dua hal
yang menghambat pembaharuan ini, pertama sikap sebagian besar masyarakat yang masih ragu-ragu
dengan konsep demokratis, dan kedua, belum siapnya segala komponen melaksanakan konsep
otonomi yang diserahkan kepada mereka. Hal ini mencakup personil, manajemen, Iasilitas dan
terutama sekali pendanaan pendidikan. Dengan kata lain, sistem pendidikan Rusia saat ini sedang
dalam keadaan transisi dan setiap perubahan yang dilakukan memerlukan perubahan dan penggantian
peraturan dan perundang-undangan yang baru. Ini memerlukan waktu, sementara pihak-pihak yang
tidak menyukai reIormasi masih tetap menyuarakan aspirasinya.

G. REFERENSI KHUSUS
'Great Soviet Encyclopedia (1977), Vol. 24, Part 2: Public Education. Moskow.
Kashin, M.P. (1985). 'Soviet Union: System oI Education. In Husen, Torsten, et al. (1985),
International Encyclopedia oI Education. New York: Pergamon.
Materials oI Session oI the Supreme Soviet oI the USSR (1973). Bases oI Legislation oI the
Union oI SSR and Union Republics on Public Education. Moscow.
Nikandrov, N.D. (1995). 'Rusia: Educational System. In Postlethwaite, T. Neville (Ed.), 1995.
International Encyclopedia oI National Systems oI Education (2
nd
Ed.). New York: Elsevier Science
Inc.
'Pedagogical Encyclopedia (1968). Vol. 1-4. Moscow.
'Public Education in the USSR (1979-1980) and Prospects Ior Its Development (1981).
Moscow.