Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II ( REVISI )

Topik : Bahan Tanam Gypsum Bonded


Grup : III 3
Tgl. Praktikum : 13 Oktober 2011
Pembimbing : Devi Rianti, drg., M. Kes


Penyusun :
No. Nama NIM
1. Zahrina Sandra DiIya 021011148
2. Endo Rizqon Mannait 021011149
3. Karin Nadia Firsty 021011150
4. Elizabeth Poedjiono 021011151
5. Diaz Aulia Yuninda 021011152
6. Fildzah Adani 021011153


DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2011

1. Tujuan
a. Dapat melakukan manipulasi bahan tanam dengan cara yang tepat
b. Dapat melakukan bahan tanam model malam menggunakan bahan tanam jenis
gipsum
c. Dapat melakukan penuangan logam dengan benar

2. Alat dan Bahan
2.1Bahan
a. Bahan tanam ypsum bonded
b. Malam nlay
c. Sabun
d. ParaIin cair

2.2Alat
a. Alat cetak model malam bentuk mahkota
b. Pisau model
c. Brander spiritus
d. Spatula
e. Gelas ukur
I. Timbangan
g. Bowl
h. 7ucble Fo7me7
i. Bumbung tuang
j. 'b7ato7
k. Kuas
l. Ac7ylc

3. ara Kerja
3.1Pembuatan Model Malam
a. Memeriksa alat cetak model malam mahkota sebelum memulai pekerjaan dan
memastikannya dalam keadaan bersih dan tidak ada sisa malam yang
tertinggal.
b. Mengulasi ujung alat cetak dengan paraIIin secukupnya jangan berlebih.

c. Mengganjal cetakan malam dengan akrilik.


d. Melelehkan malam nlay hingga cair. (tidak boleh mendidih)
e. Mengisi malam cair hingga penuh kemudian segera ditutup dengan cetakan
model malam.
I. Memutar penutup cetakan kemudian mengambil ac7ylc sambil memutar dan
menekan sampai batas alat cetak menempel, membersihkan malam yang
keluar dari lubang cetakan.
g. Membuka penutup cetakkan, melihat apakah malam sudah rapat dengan
cetakkan. Mengambil malam dan meletakkan kembali pada cetakkan.

Gambar 1. Model malam yang sudah rapat pada cetakan

3.2Bahan tanam Model Malam
a. Memotong malam sp7ue secukupnya, kemudian melekatkan sp7ue tersebut
pada model malam dengan cara mencairkan ujung malam sp7ue dan
melekatkannya pada model malam dalam posisi tegak, menghaluskan malam
sp7ue tersebut.
b. Meletakkan ujung lain malam sp7ue pada c7ucble fo7me7 dengan posisi tegak.

Gambar 2. malam sp7ue pada c7ucble fo7me7 dengan posisi tegak


c. Ketinggian model malam diukur, dengan jalan memasukkan bumbung tuang
pada c7ucble fo7me7, jarak antara tepi bumbung tuang dengan tepi atas model
malam diukur. Jarak tidak boleh kurang dari 7 mm. Jika jarak lebih dari 7 mm
maka sp7ue harus ditambah untuk memanjangkan,jika jarak kurang dari 7 mm
maka sp7ue dipotong atau dipendekkan, lalu sp7ue dihaluskan kembali. Agar
memudahkan pada saat praktikum ini, telah disiapkan batang akrilik yang
telah dirancang agar ketinggian model malam dengan tepi bumbung tuang
berjarak 7 mm.

Gambar 3. Jarak antara model malam dengan tepi bumbung tuang, dibantu dengan akrilik.

d. Mengulasi seluruh permukaan model malam dan sp7ue dengan menggunakan
air sabun. Lalu membasahinya dengan air dan mengeringkannya.
e. Menuangkan air 20 ml terlebih dahulu ke dalam bowl, lalu memasukkan
bubuk bahan tanam 58 gr ke dalam bowl yang telah terisi air.
I. Mengaduk adonan sebanyak 45 putaran selama 30 detik di atas ;b7ato7.

Gambar 4. Pengadukan adonan di atas ;ba7to7.

g. Memasukkan adonan tadi kedalam bumbung tuang dengan satu arah hingga
terisi penuh.
h. Melakukan bahan tanam model malam ini kembali dengan perbandingan
bubuk 58 gr dan 25 ml air, melakukannya dua kali.
i. Melakukkan bahan tanam model malam ini kembali dengan perbandingan
bubuk 63 gr dan 20 ml air, melakukannya dua kali

Gambar 5. Model malam yang telah di tanam dalam bumbung tuang.

4. asil Praktikum
Tabel 1. Konsistensi Bahan Tanam Gypsum Bonded
w/p rasio 20 ml / 58 gr 25 ml / 58 gr 20 ml / 63 gr
Konsistensi adonan Encer Lebih encer Kental

Pada percobaan adonan gipsum dengan w/p rasio 20 ml air dan 58 gr bubuk, sesuai
dengan aturan pabrik, konsistensi adonan normal atau encer. Pada adonan gipsum dengan w/p
rasio 25 ml air dan 58 gr bubuk, konsistensi adonan lebih encer karena penambahan air
sebanyak 5 ml. Sedangkan pada adonan gipsum dengan w/p rasio 20 ml air dan 63 gr bubuk,
konsistensi adonan kental karena penambahan bubuk sebanyak 5 gr.
5. Pembahasan
Kalsium sulIat hemihidrat merupakan komponen yang penting untuk bereaksi dengan
air untuk membentuk kalcium sulIate dehidrate (gypsum). Setting ekspansi dari kalsium
sulIate dehidrate ketika bercampur dengan air, namun beberapa bagiannya akan
terkompensasi, yakni mengalami penyusutan ketika proses casting.
Tipe gypsum bonded:

Tipe 1. Thermal expansion type, untuk casting inlay dan crown


Tipe 2. Hygroscopic expansion type, untuk casting inlay dan crown
Tipe 3. Untuk casting lengkap dan partial dentures (McCabe and Walls 2008,
p.48)
SiIat Iisik bahan tanam tuang:
-The7mal stablty: bahan tanam tuang harus memiliki retensi yang baik terhadap suhu
saat casting memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan stress saat setting ketika alloy cair
memasuki mould bahan tanam tuang.
-Porositas: gipsum bonded dan IosIat bonded merupakan material yang cukup porus,
sehingga dapat melepaskan air dan gas lainnya dari dalam mould selama proses casting.
-Kompensasi ekspansi: keakuratan agar bahan tanam tuang Iit dengan casting
bergantung pada kemampuan bahan tanam tuang untuk mengkompensasi penyusutan dari
alloy selama proses setting. Besarnya penyusutan bervariasi, pada gold alloy sebesar 1.4,
pada Ni/Cr alloy 2, dan pada Co/Cr sebesar 2.3 (McCabe and Walls 2008, p.49-50)
Semua bahan tanam kalsium sulIat bonded saat ini tersedia untuk pengecoran gold
alloy yang memiliki ekspansi termal, setting ekspansi, dan ekspansi higroskopis. Jika selama
proses setting, bahan gypsum larut dalam air, setting ekspansi sedikit meningkat., ini disebut
ekspansi higroskopis. Ekspansi higroskopis adalah ekspansi linear dari bahan tanam yang
terjadi jika dalam bahan tanam kontak dengan air dari sumber manapun selama proses
setting.(Craig and Powers 2002, p. 410)
Setting ekspansi higroskopis akan terjadi ketika bahan tanam tuang mulai
dicampurkan ke air, yaitu ketika Iase ntal settn. Metode ini dikenal sebagai metode wate7
mme7son hy7oscopc expanson techn6ue dan dapat menghasilkan 5 kali ekspansi normal.
Metode lainnya adalah metode wate7 added techn6ue, yaitu dengan meningkatkan volume
air pada permukaan atas dari bahan tanam tuang yang telah dimasukkan dalam casting ring.
Tujuannya adalah untuk mengontrol ekspansi. (McCabe and Walls 2008, p.48)
Beberapa percaya bahwa jika air ditambahkan selama proses setting menyebabkan
hidrasi pada kalsium sulIat, sehingga menyebabkan ekspansi bahan tanam, sedangkan yang
lain berpendapat bahwa air yang ditambahkan dapat memaksa gel gypsum untuk
membengkak. Penambahan air atau cairan lain memberikan penambahan volume ke kristal
gipsum yang dapat tumbuh. Sehingga membuat setting dan ekspansi higroskopis lebih
eIektiI. (Craig and Powers 2002, p.410)

Secara umum, bahan tanam yang tepat untuk pengecoran gold alloy adalah yang
mengandung 65 sampai 75 kuarsa atau kristobalit, atau campuran keduanya, dalam
berbagai proporsi, 25 sampai 35 dari kalsium sulIat hemihydrate, dan sekitar 2 sampai
3 chemical modiIiers. Setiap bentuk polimorIik silika - kuarsa, tridimit, dan kristobalit akan
berekspansi bila dipanaskan, tetapi presentasenya berbeda satu sama lain. Perubahan
ekspansi jika dibandingkan dengan kurva suhu menunjukkan bahwa kristobalit dan kuarsa
masing-masing ada dalam dua bentuk polimorIik, salah satu lebih stabil pada suhu tinggi dan
yang lain pada suhu yang lebih rendah. Bentuk yang lebih stabil pada suhu kamar disebut u
fo7m, dan bentuk yang lebih stabil pada suhu yang lebih tinggi disebut fo7m.(Craig and
Powers 2002, p.408).
Bentuk ohemhd7at dari ypsum secara umum merupakan pengikat untuk bahan
tanam yang digunakan pada pengecoran logam campur yang mengandung emas dengan
kisaran titik cair di bawah 1000
0
C (1800
0
F).Jika bahan ini dipanaskan ke temperatur yang
diperlukan maka akan menyusut sesuai dengan bentuknya dan jika bahan dipanaskan
cukup tinggi untuk dilakukan pengecoran yang tuntas, akan menyusut cukup besar dan
seringkali patah. (Anusavice 2004, p.297)
Bahan tanam akan berekspansi ketika pertama kali dipanaskan dari
suhu kamar sekitar 105
o
C, kemudian perlahan-lahan berkontraksi atau tetap tidak berubah
sampai sekitar 200
o
C, dan menunjukkan berbagai tingkat ekspansi, tergantung pada
komposisi silika dari bahan tanam, antara 200
o
C dan 700
o
C. Di atas 105
o
C, kalsium sulIat
dihidrat dikonversi ke kalsium sulIat anhidrat. Pengeringan dari dihidrat dan perubahan Iase
kalsium sulIat anhidrit menyebabkan kontraksi. (Craig and Powers 2002, p.409)
Faktor penting untuk bahan tanam tuang sebelum proses casting adalah panjang dan
diameter sprue serta jarak dari mould cavity dari dasar mould, karena berpengaruh terhadap
kualitas hasil casting. Untuk casting yang lebih besar dapat menggunakan 2 atau lebih sprue
agar alloy cair dapat menjangkau semua bagian dari mould cavity sebelum penyolderan.
(McCabe and Walls 2008, p.80-81).
Daerah ideal untuk penempatan sprue adalah daerah model malam dengan ketebalan
terbesar. Hal ini bertujuan untuk menghindari perubahan bentuk dari daerah malam yang tipis
selama perlekatan sprue pada model dan memungkinkan aliran yang lancar dari logam cair.
Sprue harus diarahkan menjauh dari bagian-bagian model malam yang tipis atau kecil, karena
logam cair dapat mengabrasi atau mematahkan bahan tanam di daerah ini dan mengakibatkan
kegagalan pengecoran. (Annusavice 2004, p.420)

Hal yang dilakukan berikutnya adalah penanaman model malam. Namun sebelumnya
dilakukan pelekatan sprue terlebih dahulu pada model malam. Tujuan pembuatan sp7ue
adalah untuk menyediakan saluran melalui mana logam cair akan mengalir ke cetakan yang
ada dalam cincin cor setelah model malamnya dibuang. Panjang sp7ue tergantung pada
panjangnya cincin cor. Jika tangkai sp7ue terlalu pendek, maka model malam akan terlalu
jauh dari ujung luar cincin sehingga gas-gas tidak dapat dialirkan secara memadai untuk
memungkinkan logam cair mengisi seluruh ruang cincin. Jika gas ini tidak dapat dikeluarkan
secara menyeluruh, akan terjadi porositas (Annusavice,2003). Malam sp7ue yang telah
dipotong secukupnya, kemudian sp7ue tersebut dilekatkan pada model malam. Ujung lain
malam sp7ue diletakkan pada c7ucble fo7me7 dengan posisi tegak. Ketinggian model malam
diukur dengan jalan memasukkan bumbung tuang pada c7ucble fo7me7, jarak antara tepi
bumbung tuang dengan tepi atas model malam tidak boleh kurang dari 6 mm. Jika kurang
dari 6 mm maka tidak terdapat ketebalan yang cukup dari bahan tanam untuk menjaga logam
cair menembus keluar. Tetapi jika jaraknya lebih dari 6 mm maka logam cair akan memadat
sebelum udara yang terjebak dapat keluar, sehingga didapat hasil castn yang tidak
sempurna atau model malam yang Iraktur.(O`brien 2002, p.244-245)
Malam yang dimasukkan cetakan dalam pembuatan model malam tidak boleh terlalu
panas karena hal tersebut dapat menyebabkan hasil akhir cetakan tidak sempurna. Malam
juga akan teroksidasi ketika dipanaskan dan pada pemanasan yang lama beberapa molekul
malam akan menguap. Selain itu malam terlalu panas memiliki siIat Ilow yang terlau besar
sehingga ketika dilakukan pengepresan mengakibatkan permukaan model malam tidak
tercetak sempurna. (Anusavice 2004, p.296)
Tujuan dari penanaman model malam dengan menggunakan sp7ue:
1. Untuk membentuk sebuah mount pada model malam dan memperbaiki pola sehingga
cetakan dapat terbentuk
2. Untuk membuat saluran keluarnya malam saat proses pembuangan malam
3. Untuk membentuk saluran logam cair selama proses pengecoran (astn
4. Untuk mengimbangi penyusutan logam selama proses pemadatan

Diameter sp7ue harus sesuai dengan daerah paling tebal pada model malam. Hal ini
harus dilakukan, karena bila sp7ue terlalu besar akan mengakibatkan perubahan bentuk dan
jika terlalu kecil, daerah tempat menempel sp7ue akan memadat terlebih dahulu sebelum
tertuang penuh. Hal ini juga untuk memudahkan mengalirnya logam dan mengisi rongga
yang kosong. Selain itu, jarak antara sp7ue dan bumbung tuang juga harus diperhatikan.
Jarak antara sp7ue dengan bumbung tuang maksimal 7mm. Jika jarak lebih dari 7mm,
otomatis pasak lebih pendek sehingga ketika logam masuk akan pecah. Namun jika kurang
dari 7mm udara tidak akan bisa keluar dan tekanan logam tidak bisa sempurna sehingga
mengakibatkan udara terjebak yang akan menyebabkan aseous po7osty. (Annusavice, 2003)
Sp7ue harus selalu dilekatkan pada bagian tertebal dari model malam, karena logam
cair dapat mengabrasi atau mematahkan bahan tanam di daerah ini sehingga menyebabkan
kegagalan pengecoran. Juga tidak boleh ditempatkan tegak lurus pada permukaan yang datar
dan lebar. Turbulensi dari logam cair saat memasuki model malam menyebabkan porositas,
hal tersebut disebabkan oleh adanya gas yang terperangkap dan perlekatan sp7ue pada sudut
yang tidak tepat. Semua perlekatan, baik itu perlekatan antara sp7ue dan model malam
ataupun perlekatan antara sp7ue dan c7ucble fo7me7 harus dihaluskan dan dirapikan untuk
menghilangkan ujung dan sudut yang tajam yang dapat menganggu. (O`Brien 2002, p.243)
Setelah sprue ditempelkan, malam diolesi dengan wetting agent, dibiarkan beberapa
saat lalu dibilas dengan air dan dikeringkan. Wetting agent yang digunakan adalah air sabun.
Tujuan menggunakan air sabun sebagai wetting agent adalah untuk membersihkan malam
dari kotoran, debu dan minyak, selain itu berIungsi untuk mengurangi tegangan permukaan
pada model malam sehingga mempermudah pembasahan bahan tanam tuang, dan juga
berIungsi sebagai perlekatan sempurna pada bagian model yang kecil dan tipis.
Penggunaan paraIin perlu diperhatikan dalam pembuatan model malam bentuk
mahkota selubung. Bila paraIin yang digunakan terlalu sedikit maka dapat mengakibatkan
sulit lepasnya cetakan dari kuningan. Akan tetapi jika terlalu berlebihan dalam pemberian
paraIin dapat menghalangi adaptasi terhadap die.
Mencelupkan gypsum die atau sp7ue dalam gliserin atau jenis minyak yang berbeda
tidak meningkatkan kekerasan permukaan melainkan membuat permukaan halus, sehingga
pisau malam atau alat lainnya tidak bisa memotong stone karena permukaan yang licin. (
Craig and Powers 2002, p.402)

6. Kesimpulan
Penanaman dengan bahan tanam tuang gipsum bonded dengan w/p rasio 58 gr bubuk
dan 25 ml air (encer) lebih mudah untuk di masukkan ke dalam bumbung tuang dan setting
timenya lama. Sedangkan bahan tanam tuang gipsum bonded dengan w/p rasio 63 gr bubuk
dan 20 ml air (kental) lebih sulit untuk dimasukkan ke dalam bumbung tuang dan setting
timenya lebih cepat dari konsistensi encer.

7. Daftar Pustaka
Mc Cabe JF and Walls AWG. 2008. Appled Dental Mate7als .9
th
Edition. Blackwall
Publishing Ltd. p: 48-51, 49-50

Craig RG and Powers JM. 2002 .Resto7at;e Dental Mate7als .11
th
Edition.Mosby Inc.
p:402, 408-410

O`Brien WJ. 2002. Dental mate7als and The7 Selecton . 3
rd
ed. Quintessence. P.243-245

Annusavice KJ. 2004. Phlps Scence of Dental Mate7al. 10
Th
. W.B. Sauders Company.
Philadelphia. Pennysylvania. p. 297, 420