HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN, PENDAPATAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA PEDAGANG HIDANGAN ISTIMEWA

KAMPUNG (HIK) DI PASAR KLIWON DAN JEBRES KOTA SURAKARTA

Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat

IMANDA AMALIA J 410 050 016

Pembimbing I : Dr. Bhisma Murti, MSc, MPH, Ph.D Pembimbing II: Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009

ABSTRAK IMANDA AMALIA. J 410 050 016 HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN, PENDAPATAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA PEDAGANG HIDANGAN ISTIMEWA KAMPUNG (HIK) DI PASAR KLIWON DAN JEBRES KOTA SURAKARTA xvi+47 Upaya masyarakat mengatasi penyakit menular, masih berorientasi pada penyembuhan penyakit, hal ini dirasa kurang efektif karena banyak mengeluarkan biaya. Upaya yang lebih efektif adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan dengan berperilaku hidup sehat. Namun, hal ini ternyata belum disadari sepenuhnya oleh masyarakat. Pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) di Pasar Kliwon dan Jebres belum berperilaku hidup besih dan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pendidikan, pendapatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada pedagang HIK di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres. Metode penelitian menggunakan rancangan observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan exhaustive sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 subjek. Analisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pedagang HIK berperilaku kurang sehat 75% dan sehat 25%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara pendidikan dan PHBS (p= 0,003) dan ada hubungan antara pendapatan dan PHBS (p = 0,049). Kata kunci : PHBS, Pedagang HIK, Pendidikan, Pendapatan. Kepustakaan : 33, 1992-2009

Surakarta, November 2009 Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Bhisma Murti, MPH, M.Sc, Ph.D NIP. 132 125 727

Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes(Epid) NIK: 863

Mengetahui, Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat

Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid) NIK. 863

ii

@ 2009 Hak Cipta Pada Penulis

iii   

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul : HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN, PENDAPATAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA PEDAGANG HIDANGAN ISTIMEWA KAMPUNG (HIK) DI PASAR KLIWON DAN JEBRES Disusun Oleh NIM : Imanda Amalia : J 410 050 016

Telah kami setujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Surakarta, November 2009

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Bhisma Murti, MPH, M.Sc, Ph.D NIP. 132 125 727

Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes(Epid) NIK: 863

 

iv

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi dengan judul : HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN, PENDAPATAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA PEDAGANG HIDANGAN ISTIMEWA KAMPUNG (HIK) DI PASAR KLIWON DAN JEBRES Disusun Oleh NIM : Imanda Amalia : J 410 050 016

Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skipsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tanggal 10 November 2009 dan telah diperbaiki sesuai dengan masukan Tim Penguji.

Surakarta, November 2009

Ketua Penguji

: Dr. Bhisma Murti, MSc, MPH, Ph.D (

)

Anggota Penguji I : Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes(Epid)(

)

Anggota Penguji II : Azizah Gama Trisnawati, SKM, M.Pd(

)

Mengesahkan, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta

(Arif Widodo, S.ST, M.Kes) NIK. 630

 

MOTTO Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaqnya (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Allah telah Memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu dan Bapakmu. Janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah perkataan yang mulia kepada mereka. (Al-Isra: 23)

Kebajikan itu adalah akhlaq yang baik dan dosa itu adalah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain (HR. Muslim)

Bukan kurangnya pengetahuan yang menghalangi keberhasilan, tetapi tidak cukupnya tindakan. Dan bukan kurang cerdasnya pemikiran yang melambatkan perubahan hidup ini, tetapi kurangnya penggunaan dari pikiran dan kecerdasan. (Mario Teguh)

Barang siapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizhalimi lalu memaafkan dan mendzalimi lalu beristigfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperolah hidayah (HR. Baihaqi)

Alloh selalu menolong orang selama orang itu selalu menolong saudaranya (semuslim) (HR.Ahmad)

Rasa takut atau segan kepada manusia jangan sampai mencegah seorang apabila mengetahui suatu yang hak untuk menegakkannya (HR. Ahmad)

vi   

PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini ku persembahkan untuk :

Umat Islam, sebagai wujud hormatku pada Rasulullah SAW, atas perjuangan beliau untuk selalu menjadi insan yang bermanfaat bagi manusia lain Ustad/Ustadzah dan Dosen tercinta sebagai wujud terima kasihku atas limpahan ilmu yang bermanfaat didunia maupun diakhirat.... Jazakumulloh khoiral jaza Bapak dan Mamak ku, sebagai wujud rasa hormat dan tanda baktiku, serta terimakasih atas doa yang terus mengalir, kasih sayang, pengorbanan, dan nasihat yang selalu menyejukkan kalbuku Sahabat dan teman seperjuanganku di Assalaam, HTI, dan Tarbiyah atas ukhuwah dunia akhiratnya.... Teman-teman seperjuangan KESHMASY ‘05, terimakasih atas canda tawa, suka duka mengarungi 4 tahun bahtera menuntut ilmu Almamaterku UMS

vii   

RIWAYAT HIDUP Nama Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Alamat : Imanda Amalia : Mataram, 25 Mei 1987 : Perempuan : Islam : Jalan Swasembada III/17 Kekalik Ampenan Lombok NTB 83115 Riwayat Pendidikan : 1. Lulus SDN 07 Mataram tahun 1999 2. Lulus MTs Assalaam tahun 2002 3. Lulus SMA Assalaam tahun 2005 4. Menempuh pendidikan di Program Studi

Kesehatan Masyarakat FIK UMS sejak tahun 2005

viii   

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr wb Alhamdulillahhirobbil’alamin yang selalu penulis panjatkan atas nikmat dan berkah yang senantiasa Allah SWT limpahkan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Hubungan Antara Pendidikan, Pendapatan Dan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Pada Pedagang Hidangan Istimewa Kampung (HIK) Di Pasar Kliwon Dan Jebres”. Skripsi ini disusun guna memenuhi persyaratan dalam menempuh derajat S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam pembuatan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Bapak Arif Widodo, A.Kep, M.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Staf. 2. Ibu Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid) selaku Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas

Muhammadiyah Surakarta. 3. Bapak Dr. Bhisma Murti, MPH, M.Sc, Ph.D selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Ibu Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid) selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen progam studi Kesmasy UMS terimakasih atas ilmu yang telah diberikan khususnya Ibu Dwi Linna Suswardany, SKM dan Ibu Ambarwati, S.Pd, MSi yang selalu memompa semangat untuk selalu optimis.

ix   

6.

Orang tua ku tercinta, terima kasih atas dukungan, semangat dan saransarannya yang diberikan padaku yang tak henti-hentinya.

7.

Ustad dan Ustadzah Assalaam tercinta khususnya Ustadzah Elly Damaiwati, Ustadzah Aswit Saccarosa dan Ustadzah Yanik Khizanatul, tauladan yang selalu menyemangati dengan nasihat-nasihat emasnya.

8.

Teman-teman pengabdian, jazakumulloh khoiran katsiran atas persahabatan dunia akhiratnya.

9. 10.

Teman-teman Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atas semangat dakwahnya. Ibu Dr. Diffah Hanim, MSi dan Ibu dr. Anik Lestari, M.Kes atas ilmu, semangat dan tauladan dalam menuntut ilmu dalam penelitian.

11.

Teman-teman Kesehatan Masyarakat ’05 khususnya Ririn Darmasih, Ratih Wahyu Susilo, Riana Maharendrani, Dewi Indah, Aria Datik dan yang tak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih telah memberikan pelangi cerita bahagia selama perkuliahan.

12.

Seluruh responden pedagang HIK Pasar Kliwon dan Jebres yang telah meluangkan waktu dan pengalaman hidupnya sehingga penelitian dapat terselesaikan dengan baik.

13.

Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu sehingga dapat terselesaikannya skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan didunia maupun diakhirat kepada

semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, Amin. Wassalamu’alaikum wr wb.

Surakarta, November 2009 Penulis

x   

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i ABSTRAK ....................................................................................................... ii HAK CIPTA .................................................................................................... iii HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... iv HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... v MOTTO............................................................................................................. vi PERSEMBAHAN ............................................................................................ vii DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... viii KATA PENGANTAR ..................................................................................... ix DAFTAR ISI..................................................................................................... xi DAFTAR TABEL............................................................................................. xiii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xv DAFTAR SINGKATAN .................................................................................. xvi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang.............................................................................. B. Perumusan Masalah ...................................................................... C. Tujuan Penelitian .......................................................................... D. Manfaat Penelitian ........................................................................ E. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................

1 5 5 7 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan.................................................................................... 8 B. Pendapatan ................................................................................... 9 C. Pengertian Perilaku Kesehatan..................................................... 10 D. Bentuk-bentuk Perilaku Kesehatan.............................................. 12 E. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Kesehatan...... 15 F. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.................................................. 15 G. Tujuan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.............................. 16 H. Indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga..................................... 16 I. PHBS di Tempat Kerja................................................................. 17 J. Hubungan Pendidikan Dengan Perilaku Hidup Sehat................. 18 K. Hubungan Pendapatan Dengan Perilaku Hidup Sehat................. 19 L. Hidangan Istimewa Kampung...................................................... 19 M. Kerangka Teori............................................................................. 21 N. Kerangka Konsep......................................................................... 22 O. Hipotesis....................................................................................... 22

xi

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian ................................................... B. Subjek Penelitian.......................................................................... C. Waktu dan Tempat Penelitian ...................................................... D. Populasi dan Sampel .................................................................... E. Variabel Penelitian ....................................................................... F. Definisi Operasional Variabel ..................................................... G. Pengumpulan Data ...................................................................... H. Langkah-langkah Penelitian......................................................... I. Analisis Data ............................................................................... BAB IV HASIL A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ............................................ 1. Keadaan Geografi..................................................................... 2. Batas Wilayah Kota Surakarta ................................................. 3. Keadaan Demografi ................................................................ B. Gambaran Umum Subjek Penelitian............................................ 1. Umur ........................................................................................ 2. Jenis Kelamin .......................................................................... 3. Lama Bekerja .......................................................................... 4. Pendapatan Pedagang HIK....................................................... 5. Kondisi Lingkungan................................................................. C. Hasil Analisis Univariat ............................................................... 1. Pendidikan Pedagang HIK ...................................................... 2. Pendapatan Pedagang HIK ...................................................... 3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ............................................ D. Hasil Analisis Bivariat ................................................................. 1. Hubungan Pendidikan Dengan PHBS...................................... 2. Hubungan Pendapatan Dengan PHBS .................................... BAB V PEMBAHASAN A. Hasil Analisis ............................................................................... 1. Pendidikan Pedagang HIK ...................................................... 2. Pendapatan Pedagang HIK ...................................................... 3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ............................................ 4. Hubungan Pendidikan Dengan PHBS...................................... 5. Hubungan Pendapatan Dengan PHBS .................................... B. Keterbatasan Penelitian................................................................

23 23 23 23 24 25 26 27 28

29 29 31 31 32 32 32 32 33 33 36 36 37 37 38 38 39

40 40 41 42 43 46 48

xii

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .................................................................................. B. Saran............................................................................................. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

49 49

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman 29 30 30 32 33 33 36 37 37 38 39

1. Luas Wilayah 5 Kecamatan di Kota Surakarta........................................... 2. Luas Wilayah di Kecamatan Pasar Kliwon ................................................ 3. Luas Wilayah di Kecamatan Jebres............................................................ 4. Distribusi Pedagang HIK Berdasarkan Jenis Kelamin............................... 5. Pendapatan Pedagang HIK ......................................................................... 6. Kondisi Lingkungan Rumah Pedagang HIK.............................................. 7. Distribusi Pedagang HIK Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...................... 8. Distribusi Pendapatan Pedagang HIK ........................................................ 9. Distribusi Pedagang HIK Berdasarkan PHBS............................................ 10. Hubungan Antara Pendidikan Dengan PHBS ............................................ 11. Hubungan Antara Pendapatan Dengan PHBS............................................

xiv

DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 21 22

1. Kerangka Teori Penelitian ............................................................................ 2. Kerangka Konsep Penelitian ........................................................................

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden 2. Kuesioner Pengumpulan Data 3. Surat Ijin Penelitian 4. Hasil Analisis Statistik 5. Dokumentasi penelitian

xvi

DAFTAR SINGKATAN

BTA CFR CDR Depkes RI

: Bakteri Tahan Asam : Case Fatality Rate : Case Detection Rate : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Dinkes Jateng : Dinas Kesehatan Jawa Tengah HIK IPM ISPA PHBS P2MPL SD SMP SMA WHO : Hidangan Istimewa Kampung : Index Pembangunan Manusia : Infeksi Saluran Pernafasan Akut : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat : Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Menengah Atas : World Health Organization

xvii

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus merupakan investasi sumber daya manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM adalah indeks yang mengukur pencapaian keseluruhan negara. Pencapaian ini meliputi 3 indikator yaitu tingkat pendidikan, derajat kesehatan dan kemampuan ekonomi masyarakat. Pemeliharaan kesehatan masyarakat akan memacu produktifitas kinerja masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bagi semua pihak untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan demi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia (Dinkes, 2009). Guna mewujudkan hal tersebut, Departemen Kesehatan telah merencanakan gerakan pembangunan berwawasan kesehatan yang dilandasi paradigma sehat. Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir atau model pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersifat lintas sektor dan upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan (Depkes RI, 2009). Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap

1

orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal, salah satunya ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat (Dinkes Jawa Tengah, 2006). Upaya untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal tersebut, pembangunan lebih diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat. Sebagian besar masalah kesehatan, dalam hal penyakit yang timbul pada manusia, disebabkan oleh perilaku yang tidak sehat. Penyakit menular seperti TBC dan diare lebih sering terjadi pada perilaku masyarakat kurang menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sehingga menjadi tempat perkembangbiakan dan sumber penularan penyakit (Kusumawati, 2004). Penyakit menular seperti TBC dan diare adalah penyakit yang ditularkan melalui berbagai media. Penyakit jenis ini merupakan masalah kesehatan yang besar di hampir semua negara berkembang karena angka kesakitan dan kematiannya yang relatif tinggi dalam waktu relatif singkat. Penyakit menular umumnya bersifat akut (mendadak) dan menyerang semua lapisan masyarakat. Penyakit ini diproritaskan mengingat sifat menularnya bisa menyebabkan wabah dan menimbulkan kerugian besar (Widoyono, 2008). Laporan hasil pengamatan penyakit TBC selama tahun 2008, ditemukan prevalensi kasus baru TB paru BTA + pada balita 0,99%. Perkiraan jumlah kasus TB paru BTA + pada balita (1,43%). Angka penemuan penderita TB paru dengan BTA + (CDR=Case Detection Rate) pada tahun 2008 sebanyak 381 (69,5%). Jika dibandingkan angka penemuan

2

tahun 2007 (70,1%) terjadi penurunan. Hasil tersebut belum mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 70% (Dinkes, 2009). Hasil pengamatan Murti, dkk (2007) di Jawa Tengah banyak penderita TBC yang masih aktif berdagang di pasar dan tempat umum lainnya seperti Hidangan Istimewa Kampung (HIK). Hal ini sangat berisiko terhadap

kesehatan masyarakat umum. Rendahnya angka penemuan TBC berarti masih banyak kasus TBC yang belum terdeteksi dan belum terobati sehingga dapat menjadi sumber penularan bagi lingkungan sekitar para penderita tersebut (Dinkes Jawa Tengah, 2007). Berdasarkan laporan hasil pengamatan penyakit diare selama tahun 2008, ditemukan kasus diare sebanyak 12.253 (38,11%) dari perkiraan jumlah kasus diare, padahal cakupan penemuan yang diharapkan adalah 80%. Kasus diare mempunyai korelasi dengan perilaku masyarakat dan penyediaan kualitas air. Upaya yang dapat dilakukan dalam rangka penanggulangan diare adalah upaya promosi perilaku hidup bersih dan sehat pada para pedagang makanan (Dinkes, 2009). Selama ini upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi masalah penyakit menular, masih banyak berorientasi pada penyembuhan penyakit. Upaya ini dirasa kurang efektif karena banyak mengeluarkan biaya. Sedangkan upaya yang lebih efektif dalam mengatasi masalah kesehatan dengan memelihara dan meningkatkan kesehatan dengan berperilaku hidup sehat. Namun, hal ini ternyata belum disadari dan dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat (Kusumawati, 2004).

3

Menurut Budihardja (2004), berdasarkan beberapa survei di Dinas Kesehatan, masyarakat yang berperilaku hidup sehat masih kurang dari 10%. Kurangnya perilaku hidup sehat itu mengundang munculnya kebiasaan-kebiasaan tidak sehat di masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan itu cenderung mengabaikan keselamatan diri dan lingkungan sehingga memudahkan terjadinya penularan penyakit. Perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat Surakarta masih perlu ditingkatkan. Rumah tangga berPHBS pada tahun 2008 baru mencapai 12,37% pada strata paripurna. Jika dibandingkan pada tahun 2007, yang mencapai 14,77%, maka tahun 2008 terjadi penurunan. Upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat adalah dengan peningkatan promosi perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat khususnya para pedagang makanan (Dinkes, 2009). Perilaku hidup seseorang, termasuk dalam hal kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut dapat berasal dari orang itu sendiri, pengaruh orang lain yang mendorong untuk berperilaku baik atau buruk, maupun kondisi lingkungan sekitar yang dapat mendukung terhadap perubahan perilaku (Notoatmodjo, 2005). Kota Surakarta merupakan kota pusat perdagangan tekstil dan makanan. Setiap malam terdapat pedagang malam yang menjual makanan. Perdagangan masyarakat ekonomi lemah yang berupa jajanan makanan dikenal sebagai hidangan istimewa kampung (HIK). Usaha perdagangan HIK memudahkan orang untuk mendapatkan makanan jajanan dengan harga

4

terjangkau. Namun, perdagangan HIK biasa berada ditepi-tepi atau pojok jalan tercemar dan tidak sehat. Kondisi tersebut berisiko terhadap terjadinya penularan penyakit dikarenakan faktor lingkungan yang tidak sehat. Penyakit menular yang terjadi antara lain TBC dan diare yang mudah menyerang pada semua kelompok umur. (Murti, 2009). Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan pada pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) di Pasar Kliwon dan Jebres ditemukan bahwa pedagang HIK belum berperilaku hidup besih dan sehat. Hal ini dikarenakan di tempat kerja pedagang HIK belum menjaga kebersihan

peralatan alat makan dan minum, masih terdapat kualitas fisik sumber air yang tidak memenuhi syarat dan belum semua mempunyai saluran air kotor. Partisipasi masyarakat dalam menjaga pola hidup bersih sehat belum sepenuhnya sesuai anjuran Depkes maupun WHO (WHO, 1992). Peran penyedia makanan dan minuman seperti warung Hidangan Istimewa Kampung (HIK) ikut berperan dalam keberhasilan program pengendalian penyakit menular. Namun, pedagang HIK sangat terbatas kemampuannya untuk menjamin dagangannya tetap aman, sehat dan bergizi untuk dikonsumsi setiap saat oleh semua golongan umur, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara pendidikan,

pendapatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada pedagang hidangan istimewa kampung (HIK).

5

B.

Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Apakah ada hubungan antara pendidikan,

pendapatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres Kotamadia Surakarta?”

C.

Tujuan Penelitian 1. Tujuan Mengetahui hubungan antara pendidikan, pendapatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres Kotamadia Surakarta 2. Tujuan khusus: a. Mengetahui pendidikan pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres Kotamadia Surakarta. b. Mengetahui pendapatan pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres Kotamadia Surakarta. c. Mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pedagang hidangan istimewa kampung (HIK).

6

d.

Menganalisis hubungan antara pendidikan dan PHBS pada pedagang hidangan istimewa kampung (HIK).

e.

Menganalisis hubungan antara pendapatan dan PHBS pada pedagang hidangan istimewa kampung (HIK).

D.

Manfaat Penelitian 1. Bagi ilmu pengetahuan Menambah wacana/informasi mengenai hubungan antara pendidikan, pendapatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). 2. Bagi masyarakat Sebagai informasi tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan mencegah penularan penyakit. 3. Bagi Dinas Kesehatan Surakarta Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) bagi masyarakat. 4. Bagi peneliti lain Sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya tentang hubungan antara pendidikan, pendapatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

E.

Ruang Lingkup Lingkup penelitian ini dibatasi pada hubungan pendidikan, pendapatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pedagang hidangan istimewa kampung.

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Pendidikan Tingkat pendidikan berhubungan dengan kemampuan menerima informasi kesehatan dari media massa dan petugas kesehatan. Banyak kasus kesakitan dan kematian masyarakat diakibatkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk. Suatu laporan dari negara bagian Kerala di India Utara menyatakan bahwa status kesehatan disana sangat baik, jauh diatas rata-rata status kesehatan nasional. Setelah ditelusuri ternyata tingkat pendidikan kaum wanitanya sangat tinggi diatas kaum pria (Widoyono, 2008). Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi pada umumnya mempunyai wawasan luas sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi, serta dapat ikut berperan serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya (Dinkes Jawa Tengah, 2007). Jenjang pendidikan memegang peranan penting dalam kesehatan masyarakat. Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan mereka sulit diberi tahu mengenai pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular. Dengan

8

sulitnya mereka menerima penyuluhan, menyebabkan mereka tidak peduli terhadap upaya pencegahan penyakit menular (Sander, 2005). Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki status kesehatan yang lebih baik. Pada perempuan, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah angka kematian bayi dan kematian ibu (Widyastuti, 2005). Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap menuju perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat memperoleh dan mencerna informasi untuk kemudian menentukan pilihan dalam pelayanan kesehatan dan menerapkan hidup sehat. Tingkat pendidikan, khususnya tingkat pendidikan wanita mempengaruhi derajat kesehatan (Depkes RI, 1999). Pendidikan dapat meningkatkan kematangan intelektual seseorang. Kematangan intelektual ini berpengaruh pada wawasan, cara berfikir, baik dalam cara pengambilan keputusan maupun dalam pembuatan kebijakan. Semakin tinggi pendidikan formal, akan semakin baik pengetahuan tentang kesehatan (Hastono, 1997).

B.

Pendapatan Bila ditinjau dari faktor sosial ekonomi, maka pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat wawasan masyarakat mengenai sanitasi, lingkungan dan perumahan. Kemampuan anggaran

9

rumah tangga juga mempengaruhi kecepatan untuk meminta pertolongan apabila anggota keluarganya sakit (Widoyono, 2008). Menurut Grossman dalam Murti (2005) terdapat perbedaan antara upah minimum dengan pendapatan, jika pendapatan adalah uang yang diterima tanpa bekerja permintaan untuk modal kesehatan mungkin lebih kecil karena pendapatan tidak secara langsung mengurangi status kesehatan. Pendapatan yang diterima tidak secara langsung berhubungan dalam memberi keuntungan atau kerugian atau memberi manfaat kesehatan. Akibatnya, tingkat optimalisasi dalam permintaan kesehatan untuk setiap individu menurun dan penurunan dalam permintaan perawatan kesehatan. Menurut Faturrahman dan Mollo (1995) tingkat pendapatan berkaitan dengan kemiskinan yang akan berpengaruh pada status kesehatan masyarakat. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi antara lain adalah jenis pekerjaan, pendidikan formal kepala keluarga, jumlah anggota keluarga dan lain-lain (Sumiarto, 1993).

C.

Pengertian Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organism) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan (Simons-Morton et al., 1995). Perubahan-perubahan perilaku kesehatan dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera. Dalam aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan

10

atau

aktifitas

organisme

atau

mahluk

hidup

yang

bersangkutan

(Notoatmodjo, 2005). Menurut Mubarok et.al (2007) perilaku seseorang/masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dari orang atau masyarakat yang bersangkutan, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. Perilaku manusia secara operasional dapat dikelompokkan menjadi 3 macam domain, yaitu perilaku dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan nyata/perbuatan. Menurut Machfoed (2005), perilaku sehat adalah perilaku yang didasarkan oleh prinsip-prinsip kesehatan. Perilaku adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Respon atau reaksi manusia bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, sikap) maupun bersikap aktif (tindakan yang nyata). Menurut Machfoed (2005), pengertian perilaku kesehatan mempunyai dua unsur pokok, yaitu: 1. Respon atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap) maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau praktis) 2. Stimulus atau rangsangan, terdiri dari 4 unsur pokok yaitu sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan dan lingkungan.

11

D.

Bentuk-bentuk Perilaku Kesehatan Perilaku manusia menurut Notoatmodjo (2005), dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Perilaku Tertutup (Convert behavior) Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. 2. Perilaku Terbuka (Overt behavior) Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulus sudah berupa tindakan atau peraktik ini dapat diamati orang lain dari luar “observable behavior”. Contoh: seorang ibu hamil memeriksakan kehamilannya ke puskesmas atau bidan praktik. Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2005), mencakup: 1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia berespons, baik secara pasif (mengetahui, bersikap dan mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan diluar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit yang dilakukan manusia, sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit antara lain berupa: a. Perilaku peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (Health promotion behavior)

12

b.

Perilaku pencegahan penyakit (Health preventions behavior). Misalnya tidur memakai kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi dan sebagainya, juga termasuk perilaku untuk menularkan penyakit kepada orang lain.

c.

Perilaku pencarian pengobatan (Health seeking behavior). Yaitu perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan, misalnya usaha-usaha mengobati sendiri penyakitnya atau mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern (puskesmas, mantra, dokter praktek, RS dan sebagainya), maupun kefasilitas kesehatan tradisional (dukun, sinshe).

d.

Perilaku pemulihan kesehatan (Health rehabilitations), yaitu perilaku yang berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. Misalnya melakukan diet, mematuhi anjuran-anjuran dokter dalam rangka pemulihan kesehatannya.

2.

Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan adalah respon seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan, baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. Perilaku ini menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obatobatannya.

3.

Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yaitu respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan, yang meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap

13

makanan serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya (zat gizi), pengolahan makanan. 4. Perilaku terhadap kesehatan lingkungan (environmental health behavior) adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Perilaku ini meliputi : a. Perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk didalamnya komponen, manfaat dan penggunaan air bersih untuk

kepentingan kesehatan. b. Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor, yang menyangkut segi-segi higiene, pemeliharaan, teknik dan

penggunaannya. c. Perilaku sehubungan dengan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Termasuk didalamnya sistem pembuangan sampah dari air limbah yang sehat, serta dampak pembuangan limbah yang tidak baik. d. Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat, yang meliputi ventilasi, pencahayaan, lantai dan sebagainya. e. Perilaku sehubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor) dan sebagainya.

14

E.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku kesehatan Menurut Lawrene Green (1980) dalam Notoatmodjo (2005), perilaku ditentukan 3 faktor yaitu: 1. Faktor Predisposisi (Predisforsing Factors) Faktor yang dapat memudahkan atau memprodisposisi terjadinya perilaku pada diri seseorang atau masyarakat adalah pengetahuan dan sikap seseorang atau masyarakat tersebut terhadap apa yang akan dilakukan. 2. Faktor Pemungkin (Enabling Factors) Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana dan prasarana yang mendukung atau memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. 3. Faktor Penguat (Reinforsing Factors) Tokoh masyarakat merupakan faktor penguat bagi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat peraturan perundang-undangan, Surat Keputusan dari para pejabat pemerintah daerah atau pusat juga termasuk faktor penguat perilaku.

F.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk

15

meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment) sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat (Dinkes, 2006).

G.

Tujuan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tujuan PHBS adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kemauan masyarakat agar hidup sehat, serta meningkatkan peran aktif masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat hidup yang optimal (Dinkes, 2006).

H.

Indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga Dalam tatanan rumah tangga, yang menjadi indikator PHBS adalah (Dinkes, 2006): 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan Imunisasi dan penimbangan Jamban keluarga Air bersih Penanganan sampah Kebersihan kuku Gizi keluarga Kebiasaan merokok dan menyalahgunakan Napza

16

9. 10.

Informasi PMS/AIDS JPKM/Dana sehat/Askes lainnya. Indikator lingkungan menurut Dinkes (2006), dalam PHBS, meliputi:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Terdapat jamban, termasuk penggunaan dan pemeliharaanya Terdapat air bersih dan pemanfaatan untuk kesehatan Terdapat tempat sampah dan pengelolaannya Terdapat saluran pembuangan air limbah dan pengelolaannya Terdapat ventilasi Kepadatan penghuni Lantai bukan tanah

I

PHBS Di Tempat Kerja PHBS di tempat kerja merupakan upaya memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat. Penerapan PHBS di tempat kerja diperlukan untuk menjaga, memelihara dan mempertahankan kesehatan pekerja agar tetap sehat dan produktif (Dinkes, 2009). Manfaat PHBS di tempat kerja diantaranya masyarakat di sekitar tempat kerja menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit, serta lingkungan di sekitar tempat kerja menjadi lebih bersih, indah dan sehat.

17

Syarat tempat umum yang sehat menurut Dinkes (2009) yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mengkonsumsi makanan bergizi Melakukan aktivitas fisik setiap hari Tidak merokok di tempat kerja Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun Menggunakan air bersih Memberantas jentik di tempat kerja Menggunakan jamban Membuang sampah pada tempatnya

J.

Hubungan Pendidikan dengan Perilaku Hidup Sehat Menurut hasil penelitian Ulfa (2009) pada 48 siswa-siswi SDN Pajagalan I dan SDN Pajagalan II yang bertempat tinggal di Kelurahan Pajagalan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua terhadap PHBS anak di SDN Pajagalan I dan SDN Pajagalan II di Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian Kusumawati (2004) dengan sampel sebanyak 175 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Joyotakan Surakarta mengemukakan bahwa ada hubungan antara pendidikan kepala keluarga dengan PHBS. Zaahara (2001) mengemukakan pula bahwa ada hubungan positif sikap terhadap kebersihan lingkungan dengan perilaku hidup sehat ibu dalam keluarga. Sikap seseorang terhadap sesuatu hal akan positif apabila didukung dengan pengetahuan atau pemahaman yang baik akan hal tersebut.

18

Makin positif sikap ibu terhadap kebersihan lingkungan, maka makin tinggi pula kualitas perilaku hidup sehat ibu dan sebaliknya makin negatif sikap ibu terhadap kebersihan lingkungan, maka makin buruk pula perilaku hidup sehatnya dalam keluarga.

K.

Hubungan Pendapatan dengan Perilaku Hidup Sehat Hasil penelitian Zaahara yang dilakukan di Bekasi (2001), status sosial ekonomi yang meliputi (1) jenis pekerjaan, (2) pendidikan, (3) pemilikan aset dan (4) prestis berupa penghormatan masyarakat dilihat dari kedudukan formal, informal maupun lembaga adat dan agama mempunyai hubungan positif dan signifikan dengan perilaku hidup sehat ibu dalam keluarga. Makin tinggi status sosial ekonomi ibu, maka makin tinggi pula atau semakin baik perilaku hidup sehat ibu dan sebaliknya semakin rendah tingkat sosial ekonomi ibu makin buruk perilaku hidup sehatnya.

L.

Hidangan Istimewa Kampung/HIK

Dalam lingkup Joglosemar (Jogja – Solo – Semarang), warung ini dikenal sangat akrab bagi rakyat, karena mayoritas penikmatnya adalah masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah. Di kota semarang warung ini disebut dengan sego kucing, di Jogjakarta ini disebut dengan angkringan dan di Solo sering disebut dengan HIK, kesemuanya menuju pada satu tempat dimana masyarakat berkumpul untuk makan sambil mengobrol dengan penerangan seadanya berupa sentir atau lampu minyak, bermacam

19

makanan kecil, 3 buah teko atau biasa disebut dengan ceret dan yang menjadikan warung ini disebut sego kucing adalah bungkusan nasi yang berisi nasi sekepel (segenggaman orang dewasa) dengan lauk ikan teri, makanan seperti ini identik dengan makanan kucing sehingga masyarakat lebih mudah mengingat sebagai sego kucing (Anonim, 2009). Keunikan dari warung ini adalah dimana tidak hanya sebagai tempat masyarakat mencari makanan, namun merupakan arena berkumpul untuk membicarakan apapun yang dapat dibahas di sini tanpa perlu memikirkan pedagang akan mengusirnya, walaupun hanya membeli teh satu gelas. Kenikmatan seperti inilah yang biasanya tidak didapatkan di restauran atau tempat makan lainnya, atas dasar keinginan untuk berbagi dan bersilaturahmi maka terjalinlah keakraban di bawah tenda kuning bernama warung sego kucing, di sini semuanya dapat dibicarakan dan biasanya antara pedagang dan pembeli atau pembeli dan pembeli akan membahas berita yang sedang menjadi pembicaraan umum saat itu, semua dapat berbicara baik pedagang, tukang becak yang ada di sana hingga mahasiswa dan pemuda-pemudi yang berwawasan luas. Ada satu keunikan yang sering terjadi pada masyrakat yang berkumpul di warung ini, ketika semua bahan pembicaraan habis maka muncul inisiatif pembicaraan yang bermula dari bungkus nasi yang biasanya terbuat dari kertas koran (Anonim, 2009). Setting di warung HIK diyakini memiliki pengaruh terhadap budaya guyub yang dihasilkan dari kegiatan berkumpul dan makan di HIK ini, banyaknya pengunjung yang duduk di depan gerobak yang menyediakan

20

makanan akan terasa intim ketika duduk saling berhimpit dengan konsumen lainnya, mengambil makanan dan dekatnya pedagang dengan konsumen menimbulkan interaksi yang kadang sulit didapatkan di lain tempat. Menurut penuturan pedagang HIK, mereka berdagang tujuannya untuk menambah persaudaraan, menyediakan tempat bagi pengunjung yang ingin makan murah dan lengkap, dengan modal senyuman semuanya bisa menjadi akrab dan guyub (Anonim, 2009).

M.

Kerangka Teori Faktor Predisposisi Pengetahuan Sikap Kepercayaan Norma sosial Faktor demografi (umur, pendidikan, Sosial ekonomi, pekerjaan, pendapatan) Faktor Pendukung • Sarana-sarana kesehatan Faktor Pendorong • Sikap petugas kesehatan • Perilaku petugas kesehatan

• • • • •

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

Gambar 1. Kerangka Teori (Sumber: Notoatmodjo, 2005)

21

N.

Kerangka Konsep

Variabel Bebas Pendidikan Pedagang HIK Pendapatan Pedagang HIK

Variabel Terikat Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

Gambar 2. Kerangka Konsep

O.

Hipotesis 1. Ada hubungan antara pendidikan dan PHBS pada pedagang hidangan istimewa kampung (HIK). 2. Ada hubungan antara pendapatan dan PHBS pada pedagang hidangan istimewa kampung (HIK).

22

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan cross sectional karena variabel bebas dan variabel terikat diambil dalam waktu bersamaan sekaligus pada saat itu (point time approach) (Pratiknya, 2001).

B.

Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) yang berdagang dan bertempat tinggal di wilayah Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres.

C.

Waktu dan Tempat Waktu penelitian dilakukan dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2009. Tempat penelitian dilakukan di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres, Surakarta, Jawa Tengah.

D.

Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi penelitian ini adalah pedagang HIK yang berdagang dan bertempat tinggal di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres, Surakarta.

23

2.

Sampel Analisis dalam penelitian ini adalah analisis bivariat, maka sampel yang digunakan minimal 30 sampel. Data yang didapat akan dianalisis dengan uji statistik chi square.

3.

Teknik pengambilan sampel Teknik pengambilan sampel menggunakan metode exhaustive sampling yaitu peneliti melakukan survei kepada seluruh populasi sumber (Murti, 2006).

E.

Variabel penelitian Variabel penelitian adalah gejala yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang menjadi fokus penelitian. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. 1. Variabel bebas Pendidikan dan pendapatan pedagang hidangan istimewa kampung (HIK). 2. Variabel terikat Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pedagang hidangan istimewa kampung (HIK).

24

F.

Definisi Operasional Variabel 1. Pendidikan a Definisi: jenjang pendidikan formal yang telah ditamatkan responden dengan mendapatkan ijasah. b Alat ukur: dengan menggunakan pedoman waancara dan dilakukan dengan wawancara. c Skala pengukuran: kategorikal 0 = tidak sekolah sampai SD 1 = SMP sampai SMA 2 = Perguruan Tinggi (PT) 2. Pendapatan a Definisi: seluruh uang yang diperoleh keluarga responden dalam satu bulan baik dari hasil pekerjaan maupun pendapatan lain yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. b Alat ukur: dengan menggunakan pedoman wawancara dan dilakukan dengan wawancara. c Skala pengukuran: kontinu diubah menjadi kategorikal 0 = di bawah UMR 1 = di atas atau sama dengan UMR 3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) a Definisi: respon pedagang HIK terhadap lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja yang diukur dengan skor perilaku.

25

b

Alat ukur: dengan menggunakan pedoman wawancara, dilakukan dengan wawancara dan pengamatan/observasi.

c

Skala pengukuran: kategorikal 0 = kurang sehat 1 = sehat

G.

Pengumpulan Data 1. Jenis data Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yaitu pendapatan dan data kualitatif yang meliputi tingkat pendidikan pedagang HIK. 2. Sumber data Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer yang berasal dari wawancara dan pengamatan langsung dengan subjek penelitian dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur. 3. Cara pengumpulan data Pengumpulan data primer dilakukan secara langsung pada subjek penelitian. Pengumpulan data dengan wawancara langsung

menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur variabel-variabel yang diteliti. Pengumpulan terkait data untuk sekunder dilakukan data dengan yang

mendatangi dibutuhkan.

instansi

mengumpulkan

26

H.

Langkah-langkah Penelitian 1. Jalannya penelitian Jalannya penelitian meliputi 4 tahap, yaitu: a. Tahap persiapan Tahap tahap persiapan dilakukan pada bulan pertama yang dilaksanakan antara minggu ke-tiga sampai minggu ke-empat bulan Agustus 2009. Pada tahap tersebut dilaksanakan revisi proposal dan survei tempat penelitian di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres. b. Tahap pelaksanaan Tahap pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada minggu ketiga Agustus hingga minggu ke-dua September 2009. Pada tahap pelaksanaan dilakukan wawancara dengan menggunakan

kuesioner yang terstruktur. Wawancara dilakukan dengan mendatangi tiap penelitian. c. Tahap analisis data Analisis data dilaksanakan pada minggu ke-tiga sampai minggu ke-empat bulan September 2009. Kuesioner yang telah terkumpul dilakukan pencatatan skor masing-masing kuesioner, diteruskan dengan memasukkan data menggunakan software komputer SPSS versi 17. Setelah data terkumpul dilakukan tempat tinggal dan tempat kerja subjek

27

analisis data untuk menentukan korelasi antara variabel yang akan diukur. d. Tahap penyelesaian akhir Tahap akhir terdiri dari penulisan laporan dan penyajian hasil. Penulisan laporan dilaksanakan pada minggu ke-empat bulan September 2009. 2. Pengolahan data Pengolahan dan analisis data dengan menggunakan software komputer yaitu SPSS versi 17.

I.

Analisis data 1. Analisis univariat Analisis univariat bertujuan untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase tiap variabel yang diteliti. 2. Analisis bivariat Analisis bivariat adalah analisis yang melibatkan sebuah variabel dependen dan sebuah variabel independen. Untuk menguji hubungan antara variabel variabel bebas dengan variabel terikat digunakan analisis statistik dengan uji chi square. Dasar pengambilan hipotesis penelitian berdasarkan tingkat signifikansi (nilai p), yaitu: a. b. Jika nilai p > 0,05 maka hipotesis penelitian ditolak. Jika nilai p < 0,05 maka hipotesis penelitian diterima.

28

BAB IV HASIL PENELITIAN

A.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Keadaan geografi Secara geografis wilayah Kota Surakarta berada antara 110˚45’15’’-110˚45’35’’ dengan luas wilayah 44,04 Km2. Luas wilayah dari 5 Kecamatan di Kota Surakarta dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Luas Wilayah 5 Kecamatan di Kota Surakarta Kecamatan Kecamatan Laweyan Kecamatan Serengan Kecamatan Pasar Kliwon Kecamatan Jebres Kecamatan Banjarsari Total Luas Wilayah 8,64 Km2 3,19 Km2 4,82 Km2 12,58 Km2 14,81 Km2 44,04 Km2

Berdasarkan Tabel 1 diketahui kecamatan yang memiliki luas wilayah paling besar adalah Kecamatan Banjarsari sedangkan kecamatan dengan luas wilayah paling kecil adalah Kecamatan Serengan. Luas wilayah Kecamatan Pasar Kliwon 4,815 Km2 memiliki 9 Kelurahan. Luas wilayah dari 9 Kelurahan di Kecamatan Pasar Kliwon dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:

29

Tabel 2. Luas Wilayah di Kecamatan Pasar Kliwon Kelurahan Kelurahan Joyosuran Kelurahan Semanggi Kelurahan Pasar Kliwon Kelurahan Gajahan Kelurahan Baluarti Kelurahan Kampung Baru Kelurahan Kedung Lumbu Kelurahan Sangkrah Kelurahan Kauman Total Luas Wilayah 0,540 Km2 1,668 Km2 0,360 Km2 0,339 Km2 0,407 Km2 0,306 Km2 0,551 Km2 0,452 Km2 0,192 Km2 4,815 Km2

Berdasarkan Tabel 2 diketahui kelurahan yang memiliki luas wilayah paling besar adalah Kelurahan Semanggi sedangkan kelurahan dengan luas wilayah paling kecil adalah Kelurahan Kauman Luas wilayah Kecamatan Jebres 12,582 Km2 memiliki 11 Kelurahan. Luas wilayah dari 11 Kelurahan di Kecamatan Jebres dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3. Luas Wilayah di Kecamatan Jebres Kelurahan Kelurahan Kepatihan Kulon Kelurahan Kepatihan Wetan Kelurahan Sudiroprajan Kelurahan Gandekan Kelurahan Sewu Kelurahan Pucang Sawit Kelurahan Jagalan Kelurahan Purwodiningratan Kelurahan Tegalharjo Kelurahan Jebres Kelurahan Mojosongo Total Luas Wilayah 0,175 Km2 0,225 Km2 0,320 Km2 0,350 Km2 0,350 Km2 1,270 Km2 0,650 Km2 0,373 Km2 0,325 Km2 3,170 Km2 5,329 Km2 12,582 Km2

30

Berdasarkan Tabel 3 diketahui kelurahan yang memiliki luas wilayah paling besar adalah Kelurahan Mojosongo sedangkan kelurahan dengan luas wilayah paling kecil adalah Kelurahan Kepatihan Kulon. 2. Batas wilayah Kota Surakarta Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur 3. Keadaan demografi Jumlah penduduk di Kota Surakarta sebesar 554.630 jiwa. Wilayah dengan penduduk terpadat adalah Kecamatan Serengan 19.394 jiwa/Km2 sedangkan wilayah dengan kepadatan terendah adalah Kecamatan Jebres 10.271 jiwa/Km2. Kecamatan Pasar Kliwon mempunyai jumlah penduduk 85.593 jiwa. Kelurahan dengan penduduk terpadat adalah Kelurahan Semanggi 31.715 jiwa/Km2 sedangkan wilayah dengan kepadatan : Kabupaten Karanganyar dan Boyolali : Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar : Kabupaten Sukoharjo : Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar

terendah adalah Kelurahan Kauman 3.233 jiwa/Km2. Kecamatan Jebres mempunyai jumlah penduduk 136.762 jiwa. Kelurahan dengan penduduk terpadat adalah Kelurahan Mojosongo 40.872 jiwa/Km2 sedangkan wilayah dengan kepadatan terendah adalah Kelurahan Kepatihan Kulon 3.093 jiwa/Km2.

31

B.

Gambaran Umum Pedagang HIK 1. Umur Hasil penelitian menunjukkan umur pedagang HIK rata-rata adalah 41 tahun dengan umur termuda 21 tahun dan umur tertua 54 tahun. 2. Jenis Kelamin Tabel 4. Distribusi Pedagang HIK Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Frekuensi (n) 31 9 40 Persentase (%) 77,5 22,5 100

Berdasarkan tabel 4 diatas diketahui jenis kelamin pedagang HIK sebagian besar berjenis kelamin yaitu laki-laki 31 orang (77,5%) dan perempuan hanya 9 orang (22,5%). 3. Lama bekerja Hasil penelitian menunjukkan lama bekerja pedagang HIK ratarata adalah 5 tahun dengan lama bekerja terbaru 1 bulan dan terlama 20 tahun. Para pedagang HIK sebagian besar berdagang dimalam hari yaitu 35 orang (87,5%) dan hanya sebagian kecil berdagang malam dan pagi hari 5 orang (12,5%).

32

4.

Pendapatan Pedagang HIK Tabel 5. Pendapatan Pedagang HIK

Variabel Pendapatan Perhari (Rp) Pendapatan Perbulan (Rp)

n 40 40

Mean 43.125 1.121.250

SD 37.067 963.740

Min 10.000 260.000

Maks 200.000 5.200.000

Gambaran subjek penelitian berdasarkan pendapatan dari penelitian ini adalah diperoleh hasil pada tabel 5 bahwa pendapatan perhari tertinggi pedagang HIK yaitu Rp. 200.000 dan pendapatan terendah Rp.10.000. Sedangkan pendapatan perbulan tertinggi pedagang HIK yaitu Rp.5.200.000 dan pendapatan terendah Rp. 260.000. 5. Kondisi Lingkungan Tabel 6. Kondisi Lingkungan Rumah Pedagang HIK
Kriteria a. Dinding rumah 1). Anyaman bambu 2). Papan/seng 3). Batu bata b. Cahaya matahari di dalam rumah 1). Cukup 2). Kurang c. Jendela dibuka di dalam rumah 1). Ya 2). Tidak d. Lubang ventilasi udara selain jendela 1). Ada 2). Tidak ada e. Rumah berlantai 1). Tanah 2). Plester semen 3). Ubin/keramik Frekuensi n 4 10 26 20 20 19 21 32 8 7 17 16 Persentase % 10 25 65 50 50 47.5 52.5 80 20 17.5 42.5 40

33

f. Kondisi lantai 1). Kering dan kotor 2). Basah dan kotor g. Terdapat air bersih dari PAM 1). Ya 2). Tidak h. WC/kakus terletak lebih dari 5 meter dari tempat pembuangan/penyimpanan HIK 1). Ya 2). Tidak i. Terdapat tempat pembuangan sampah 1). Ya 2). Tidak j. Terdapat tempat pembuangan air limbah 1). Ya 2). Tidak

27 13 33 7 8 32 31 9 32 8

67.5 32.5 82.5 17.5 20 80 77.5 22.5 80 20

Berdasarkan tabel 6 di atas bahan dasar dinding rumah pedagang HIK yaitu 4 rumah dari anyaman bambu (10%) , 10 rumah dari papan/seng (25%) dan 26 rumah dari batu bata (65%). Para pedagang HIK dapat berisiko terpapar ISPA dikarenakan masih terdapat 4 rumah dari anyaman bambu (10%) dan 10 rumah dari papan/seng (25%). Penyebab terpapar ISPA dikarenakan debu yang berasal dari bahan dasar dinding dapat masuk ke saluran pernafasan. Sirkulasi rumah pedagang HIK seperti 20 rumah cukup cahaya matahari didalam (50%), 19 rumah membuka jendela setiap hari (47,5%), 32 rumah memiliki lubang ventilasi lain selain jendela (80%). Sirkulasi udara rumah pedagang HIK belum optimal karena masih terdapat 21 rumah (52,5%) yang tidak membuka jendela setiap hari minimal 1 kali dipagi hari. Lantai rumah pedagang HIK yaitu 7 rumah dari tanah (17,5%), 17 rumah plester semen (42,5%) dan 16 rumah berlantai

34

ubin/keramik (40%). Para pedagang HIK dapat berisiko terpapar, penyakit cacingan, ISPA dan gangguan pernafasan lainnya

dikarenakan masih terdapat 17,5% dari tanah. Hal ini dikarenakan adanya telur-telur cacing yang ada ditanah, gangguan ISPA dikarenakan adanya debu yang berasal dari tanah dapat masuk kesaluran pernafasan. Keadaan ini diperparah dengan kondisi lantai rumah pedagang HIK yaitu 27 rumah (67,5%) dengan kondisi lantai kering serta kotor dan 13 rumah (32,5%) dengan kondisi lantai basah serta kotor. Ketersediaan air bersih rumah pedagang HIK sudah cukup bagus dikarenakan 33 rumah (82,5%) telah mendapat air dari PAM namun masih terdapat 7 rumah (17,5%) yang tidak mendapat air bersih dari PAM. Pedagang HIK yang belum mendapat air bersih dari PAM dapat terpapar penyakit diare karena air yang kurang bersih mengandung kuman-kuman penyakit. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Robert (2005) bahwa di wilayah Asia Tenggara, akses yang kurang terhadap air bersih merupakan faktor yang turut berkontribusi terhadap kematian dan kesakitan karena diare. Letak WC/kakus di rumah pedagang HIK sebagian besar 32 rumah (80%) kurang terletak lebih dari 5 meter dari tempat pembuangan/penyimpanan HIK. Hal ini mengakibatkan

terkontaminasinya hidangan HIK yang akan dijual kepada para pelanggan. Kondisi ini diperparah dengan masih terdapat 9 rumah

35

(22,5%) yang tidak memiliki tempat pembuangan sampah dan 8 rumah (20%) yang tidak memiliki tempat pembuangan limbah rumah tangga.

C.

Hasil Analisis Univariat Analisis univariat dimaksudkan untuk mengetahui gambaran

karakteristik responden yang meliputi: 1. Pendidikan Pedagang HIK Berdasarkan hasil penelitian diperoleh adanya variasi tingkat pendidikan pedagang HIK. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0306/V/1995, tentang pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar adalah 9 tahun, maka pendidikan responden dapat dikategorikan sebagai berikut: Tabel 7. Distribusi Pedagang HIK Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Tidak Sekolah SD SLTP SLTA Total Frekuensi (n) 6 16 5 13 40 Persentase (%) 15,0 40,0 12,5 32,5 100

Gambaran responden berdasarkan tingkat pendidikan dari penelitian ini adalah diperoleh hasil pada tabel 4 bahwa sebagian besar pedagang HIK berpendidikan dasar yaitu sebanyak 16 orang (40%), SLTA 13 orang (32,5%), SLTP 5 orang (12,5%) dan masih

36

terdapat pedagang HIK yang tidak sekolah yaitu sebanyak 6 orang (15%). 2. Pendapatan Pedagang HIK Tabel 8. Distribusi Pendapatan Pedagang HIK Pendapatan < Rp 780000 ≥ Rp 780000 Total Frekuensi (n) 16 24 40 Persentase (%) 40,0 60,0 100

Berdasarkan tabel 8 diatas diketahui pendapatan rata-rata pedagang HIK Rp.780.000. Pendapatan pedagang HIK ≥ Rp. 780.000 adalah 24 orang (60%) dan < Rp. 780.000 adalah 16 orang (40%). 3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Gambaran perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) berdasarkan hasil wawancara diperoleh, skor minimal 10 dan skor maksimal 100. Setelah dikategorikan berdasarkan 15 pertanyaan perilaku yang meliputi 10 perilaku yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan dan 5 indikator lingkungan di tempat kerja menurut Dinkes (2009), maka perilaku yang sehat adalah ≥ 70 skor jawaban, cukup sehat adalah antara 35 sampai 65 skor jawaban dan kurang sehat < 35 skor jawaban. Kategori PHBS dapat dilihat pada tabel 9 Tabel 9. Distribusi Pedagang HIK Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) PHBS Frekuensi (n) Persentase (%) Kurang Sehat 30 75,00 Sehat 10 25,00 Total 40 100

37

Tabel 9 diatas menunjukkan pedagang HIK sebagian besar berperilaku kurang sehat sebanyak 30 orang (75%) dan hanya 10 orang (25%) yang berperilaku sehat.

D.

Hasil Analisis Bivariat 1. Hubungan Pendidikan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Hubungan antara pendidikan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada pedagang HIK dapat dilihat pada tabel 10. Tabel 10. Hubungan Pendidikan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Variabel PHBS Kurang sehat Sehat N % n % 20 10 50,0 25,0 2 8 5,0 20,0 X2 p

Tingkat pendidikan - SD/ tak sekolah - SLTP/ SLTA

10,1

0,003

Tabel 10 menunjukkan proporsi PHBS berdasarkan tingkat pendidikan yaitu pedagang HIK berpendidikan SLTP/ SLTA memiliki PHBS lebih baik daripada pedagang HIK berpendidikan SD/tak sekolah. Pedagang HIK yang berperilaku sehat lebih banyak yang berpendidikan SLTP/SLTA yaitu 8 orang (20%) daripada yang berpendidikan SD/tak sekolah yaitu hanya 2 orang (5%). Berdasarkan proporsi tersebut menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dengan nilai p sebesar 0,003.

38

2.

Hubungan Pendapatan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Hubungan pendapatan dengan PHBS dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Hubungan Pendapatan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Variabel PHBS Kurang sehat Sehat N % n % 12 11 30,0 27,5 5 12 12,5 30,0 X2 p

Tingkat pendapatan - < Rp 780000 - ≥ Rp 780000

4,25

0,049

Tabel 11 menunjukkan proporsi PHBS berdasarkan tingkat pendapatan yaitu pedagang HIK yang berpendapatan ≥ Rp 780000 memiliki PHBS lebih baik daripada pedagang HIK yang

berpendapatan < Rp 780000. Pedagang HIK yang berperilaku sehat lebih banyak yang berpendapatan ≥ Rp 780000 yaitu 12 orang (30%) daripada yang berpendapatan < Rp 780000 yaitu hanya 5 orang (12,5%). Berdasarkan proporsi tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan dengan PHBS dengan nilai p sebesar 0,049.

39

BAB V PEMBAHASAN

A.

Hasil Analisis 1. Pendidikan Pedagang HIK Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya variasi tingkat pendidikan pedagang HIK. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0306/V/1995, tentang pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar adalah 9 tahun, diperolah bahwa sebagian besar pedagang HIK berpendidikan dasar yaitu sebanyak 16 orang (40%) sedangkan pedagang yang berpendidikan SLTA 13 orang (32,5%), SLTP 5 orang (12,5%) dan masih terdapat pedagang HIK yang tidak sekolah yaitu sebanyak 6 orang (15%). Pendidikan sebagian besar pedagang HIK rendah karena sebanyak 16 orang (40%) hanya sampai berpendidikan SD. Hal ini mempengaruhi kualitas PHBS karena pendidikan merupakan salah satu faktor yang berhubungan erat dengan kualitas PHBS (Daud, 2000). Pendidikan yang rendah ini juga mempengaruhi tingkat wawasan mengenai sanitasi lingkungan (Sumiarto, 1993). Jenjang pendidikan pedagang HIK memegang peranan penting dalam kesehatan masyarakat. Pendidikan pedagang HIK yang rendah menjadikan mereka sulit memahami akan pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya

40

penyakit menular. Dengan sulit memahami arti penting PHBS menyebabkan pedagang HIK tidak peduli terhadap upaya pencegahan penyakit menular (Sander, 2005). Hal diatas akan berbeda dengan pedagang HIK yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi karena memiliki PHBS lebih baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Goodman (2001), bahwa seseorang yang berpendidikan tinggi dapat lebih memelihara tingkat kesehatannya daripada seseorang yang berpendidikan lebih rendah. Orang yang berpendidikan lebih tinggi lebih mudah untuk menjaga kesehatan di lingkungannya. 2. Pendapatan Pedagang HIK Pedagang HIK di Pasar Kliwon dan Jebres Kota Surakarta memperoleh pendapatan perhari tertinggi yaitu Rp. 200.000 dan pendapatan terendah Rp.10.000. Pendapatan pedagang HIK mengalami penurunan dikarenakan sakit (65%) dan faktor lain (35%). Pendapatan pedagang HIK dapat ditingkatkan dengan menjaga kesehatan pedagang HIK melalui PHBS sehingga produktifitas pedagang HIK dapat ditingkatkan. Pendapatan merupakan faktor yang berhubungan dengan kualitas PHBS (Daud, 2000). Pendapatan pedagang HIK tergolong dalam kelompok masyarakat berpenghasilan rendah sehingga mengakibatkan kurang terpenuhinya kebutuhan pokok dalam jumlah cukup. Hal ini juga menyebabkan pedagang HIK kurang memperhatikan PHBS

41

karena

pedagang

HIK

lebih

berorientasi

dengan

perbaikan

penghasilan. Bila ditinjau dari faktor sosial ekonomi, maka pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat wawasan masyarakat mengenai kesehatan lingkungan (Sumiarto, 1993). Hal ini juga sesuai dengan pendapat Faturahman dan Mollo (1995) bahwa tingkat pendapatan berkaitan dengan kemiskinan yang berpengaruh pada status kesehatan. 3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat PHBS pada pedagang HIK yang diperoleh dengan wawancara memperlihatkan bahwa pedagang HIK sebagian besar yaitu 30 orang (75%) kurang berperilaku hidup bersih dan sehat dan hanya 10 orang (25%) yang berperilaku hidup bersih dan sehat sehat. Perilaku pedagang HIK yang kurang sehat, berdasarkan hasil wawancara yaitu batuk tanpa menutup dengan tangan, meludah atau membuang dahak dilantai, menggunakan air mentah untuk membuat minuman, tidak mengganti air cucian setelah digunakan lebih dari 10 kali, membuang sampah di sembarang tempat dan membuang air limbah di sembarang tempat. Sedangkan untuk mencuci tangan sebelum membuat atau menghidangkan panganan belum menjadi kebiasaan yang harus dilakukan. Perilaku yang termasuk kategori sehat ditunjukkan oleh pedagang HIK yang telah melakukan tindakan meliputi menutup

42

tangan bila batuk, tidak meludah atau membuang dahak dilantai, menggunakan air PAM untuk membuat makanan atau minuman, menggunakan air matang untuk membuat minuman, membuang sampah di tempat pembuangan sampah, membuang air limbah di tempat yang semestinya dan membiasakan mencuci tangan sebelum membuat atau menghidangkan panganan HIK. 4. Hubungan Pendidikan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Proporsi PHBS berdasarkan tingkat pendidikan yaitu pedagang HIK berpendidikan SLTP/ SLTA memiliki PHBS lebih baik daripada pedagang HIK berpendidikan SD/tak sekolah. Proporsi tersebut menunjukkan adanya hubungan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dan perilaku hidup bersih dan sehat dengan nilai p sebesar 0,003. Tingkat pendidikan pedagang HIK sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap menuju perilaku hidup bersih dan sehat. Tingkat pendidikan pedagang HIK yang rendah akan mempengaruhi pedagang HIK dalam memperoleh dan mencerna informasi untuk kemudian menentukan pilihan dalam menerapkan hidup sehat. Hasil penelitian pada pedagang HIK, proporsi pedagang HIK yang berpendidikan SD/tak sekolah berperilaku kurang sehat lebih tinggi (50%) dibanding dengan pedagang HIK berpendidikan SLTP/SLTA. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Sander (2005) yang menyimpulkan bahwa jenjang pendidikan memegang

43

peranan penting dalam kesehatan masyarakat. Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan pedagang HIK sulit memahami akan arti pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular. Penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian Hardiyanto (2003), bahwa tingkat pendidikan yang kurang mendukung merupakan salah satu penyebab rendahnya kesadaran kesehatan lingkungan, karena kesadaran memerlukan pemahaman yang baik akan arti pentingnya kondisi lingkungan yang sehat. Semakin baik tingkat pendidikan formal, maka semakin baik pengetahuan tentang kesehatan, sehingga akan mematangkan

pemahaman tentang pengetahuan kesehatan lingkungan dan kesadaran menjaga kesehatan lingkungan termasuk penerapan prinsip-prinsip hidup sehat. Pada penelitian ini pedagang HIK yang berpendidikan

SLTP/SLTA berperilaku sehat (20%) lebih banyak daripada pedagang yang HIK berpendidikan SD/tak sekolah (5%). Hal ini sesuai dengan penelitian Goodman (2001), bahwa seseorang yang berpendidikan tinggi dapat lebih memelihara tingkat kesehatannya daripada seseorang yang berpendidikan lebih rendah. Orang yang berpendidikan lebih tinggi lebih mudah untuk menjaga kesehatan dilingkungannya. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi pada pedagang HIK menjadikan pedagang HIK lebih berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki

44

status kesehatan yang lebih baik (Widyastuti, 2005). Pendidikan dapat meningkatkan kematangan intelektual seseorang. Kematangan

intelektual ini berpengaruh pada wawasan, cara berfikir, baik dalam cara pengambilan keputusan maupun dalam pembuatan kebijakan. Semakin tinggi pendidikan formal, akan semakin baik pengetahuan tentang kesehatan (Hastono, 1997). Hasil penelitian pedagang HIK sesuai dengan hasil penelitian Ulfa (2009) yang menemukan adanya keterkaitan antara pendidikan dan perilaku hidup bersih dan sehat didukung pada 48 siswa-siswi SDN Pajagalan I dan SDN Pajagalan II yang bertempat tinggal di Kelurahan Pajagalan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua terhadap PHBS anak di SDN Pajagalan I dan SDN Pajagalan II di Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian Daud (2009) juga menemukan adanya hubungan tingkat pendidikan masyarakat dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Penelitian in menggunakan sampel sebanyak 86 orang masyarakat di pesisir pantai Desa Huangobotu Kecamatan Kabila Kabupaten Gorontalo. Hasil penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian Kusumawati (2004), mengemukakan bahwa ada hubungan antara pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 175 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Joyotakan Surakarta.

45

5.

Hubungan Pendapatan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Proporsi PHBS berdasarkan tingkat pendapatan yaitu pedagang HIK berpendapatan ≥ Rp 780000 memiliki PHBS lebih baik daripada pedagang HIK berpendapatan < Rp 780000. Proporsi tersebut menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendapatan dengan PHBS dengan nilai p sebesar 0,049. Tingkat pendapatan pedagang HIK sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap menuju perilaku hidup bersih dan sehat. Tingkat pendapatan pedagang HIK yang rendah akan mempengaruhi pedagang HIK dalam memperoleh dan mencerna informasi untuk kemudian menentukan pilihan dalam menerapkan hidup sehat. Pedagang HIK (30%) berusaha menambah penghasilan di luar berdagang HIK (Rp.221.000 per bulan), namun pendapatan pedagang HIK tetap belum mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Pedagang HIK yang belum dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari juga mengakibatkan pedagang HIK lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan hidup daripada pengobatan penyakit dan pencegahan penyakit berupa PHBS baik di rumah maupun di tempat kerja. Orientasi pedagang HIK pada pemenuhan kebutuhan hidup dapat dilihat dari hasil pengeluaran pedagang HIK per bulan untuk makanan Rp. 638.750, namun pengeluaran untuk biaya kesehatan per bulan hanya Rp.3.700. Hal inilah yang mengakibatkan pedagang HIK

46

menjadi lebih mudah terpapar penyakit seperti diare, TBC, ISPA dan penyakit menular lainnya. Hasil penelitian pada pedagang HIK di Pasar Kliwon dan Jebres diketahui bahwa proporsi pedagang HIK yang berpendapatan rendah lebih banyak yang berperilaku kurang sehat (50%). Hasil penelitian ini mendukung penelitian Faturrahman dan Mollo (1995) bahwa tingkat pendapatan berkaitan dengan kemiskinan yang akan berpengaruh pada status kesehatan masyarakat. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi antara lain adalah jenis pekerjaan, pendidikan formal kepala keluarga, jumlah anggota keluarga dan lain-lain (Sumiarto, 1993). Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian Widoyono (2008) bahwa pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat wawasan masyarakat mengenai sanitasi lingkungan. Kondisi sanitasi lingkungan rumah pedagang HIK di Pasar Kliwon dan Jebres belum dijaga dengan baik karena lantai rumah pedagang HIK yaitu 27 rumah (67,5%) dengan kondisi lantai kering serta kotor dan 13 rumah (32,5%) dengan kondisi lantai basah serta kotor. Sirkulasi udara rumah pedagang HIK juga belum optimal karena masih terdapat 21 rumah (52,5%) yang tidak membuka jendela setiap hari minimal 1 kali dipagi hari. Letak WC/kakus di rumah pedagang HIK sebagian besar 32 rumah (80%) tidak terletak lebih dari 5 meter dari tempat pembuangan/penyimpanan HIK. Hal ini mengakibatkan

47

terkontaminasinya hidangan HIK yang akan dijual kepada para pelanggan. Kondisi ini diperparah dengan masih terdapat 9 rumah (22,5%) yang tidak memiliki tempat pembuangan sampah dan 8 rumah (20%) yang tidak memiliki tempat pembuangan limbah rumah tangga. Tingkat pendapatan berhubungan dengan PHBS juga sesuai dengan hasil penelitian Nasrul (2007) bahwa terdapat hubungan antara pendapatan atau kemampuan finansial dengan PHBS dengan sampel sebanyak 45 orang di Kecamatan Sangir Kabupaten Solok. Hasil penelitian hubungan antara pendapatan dan PHBS pada pedagang HIK, juga didukung oleh hasil penelitian Daud (2009) dengan sampel sebanyak 86 orang masyarakat dipesisir pantai Desa Huangobotu Kecamatan Kabila Kabupaten Gorontalo menunjukkan bahwa adanya hubungan tingkat pendapatan masyarakat dengan perilaku hidup bersih dan sehat.

B.

Keterbatasan Penelitian Penelitian ini hanya meneliti pendidikan dan pendapatan yang berhubungan dengan PHBS, penelitian ini belum meneliti faktor predisposisi lain seperti sikap, kepercayaan, dan norma sosial.

48

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan yaitu 1. Pendidikan pedagang hidangan istimewa kampung (HIK)

di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres Kotamadia Surakarta sebagian besar berpendidikan sekolah dasar yaitu sebanyak 16 orang (40%). 2. Pendapatan perhari tertinggi pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) yaitu Rp. 200.000 dan pendapatan terendah Rp.10.000. 3. Pedagang HIK sebagian besar berperilaku kurang sehat sebanyak 30 orang (75%) dan hanya 10 orang (25%) yang berperilaku sehat. 4. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dan PHBS (p = 0,003) pada pedagang HIK. 5. Ada hubungan antara tingkat pendapatan dan PHBS (p = 0,049) pada pedagang HIK.

B.

Saran 1. Bagi Masyarakat Meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan selektif dalam memilih warung atau kedai tempat makan.

49

2.

Bagi Dinas Kesehatan Surakarta Meningkatkan inspeksi pada para pedagang HIK dan upaya promosi kesehatan khususnya di tempat kerja sehingga masyarakat lebih paham akan arti pentingnya menciptakan dan menjaga kesehatan lingkungan di tempat kerja.

3.

Bagi peneliti lain Mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat kerja.

50

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Sego-Kucing-Angkringan-Hidangan Istimewa Kampung. Tersedia dalam:http://www.facebook.com/pages/Sego-kucing-angkringan60697165928 Diakses tanggal 17 juli 2009. Budihardja. 2004. Perilaku Hidup Sehat Masyarakat Kurang. http://suara merdeka.com/harian/0310/02/kot18.htm. Semarang: Diakses tanggal 14 Maret 2009. Daud, R. 2009. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan, Pendapatan Dan Perilaku Masyarakat Dengan Kualitas Sanitasi Lingkungan Di Pesisir Pantai Desa Huangobotu Kecamatan Kabila Kabupaten Gorontalo. [Tesis] Yogyakarta: UGM. Depkes RI. 1999. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta: Depkes RI. _________. 2009. Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. Tersedia dalam: http:// www.depkes.go.id Diakses tanggal 17 Juli 2009. Dinkes. 2006. Pedoman Program Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga. Semarang: Dinas Kesehatan Jawa Tengah. _____. 2007. Profil Kesehatan Jawa Tengah. Jawa Tengah: Dinkes Jateng. _____. 2009. Profil Kesehatan Kota Surakarta. Surakarta: Dinkes Kota Surakarta. _____. 2009. Pengembangan PHBS Di Tempat Kerja. Lampung: Dinas Kesehatan Lampung. Faturahman dan Mollo. 1995. Kemiskinan dan Kependudukan di Pedesaan Jawa: Analisis Data Suseno 1992. Pusat Penelitian Kependudukan. Yogyakarta: UGM. Goodman, A. 2001. The Economics of Health And Health Care. Third edition. New Jersey: Upper Saddle River. Hardiyanto. 2003. Rendah Kesadaran Kesehatan Lingkungan. Tersedia dalam: http://suaramerdeka.com/hrian/0305/25/kol3.htm. Semarang. Diakses tanggal 15 September 2009. Hastono, PS. 1997. Hubungan Faktor Sosial Demografi Ibu Dengan Pemanfaatan Penolong Persalinan di Kabupaten Cianjur 1995. Jurnal Penelitian UI. Makaro no I seri A.

Kusumawati, Y. 2004. Hubungan Antara Pendidikan dan Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Kesehatan Lingkungan Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Di Kelurahan Joyotakan Surakarta. [Laporan Penelitian]. Surakarta: UMS. Machfoed. 2005. Perilaku Sehat Dalam Prinsip-prinsip Kesehatan. Yogyakarta: UGM. Mubarok, W.I, Chayatin. N, Rozikin, K., Supradi. 2007. Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Murti, B. 2005. The Family As Health Producer in Indonesia: A An Examination Using The Grossman Model And Its Extension. [Disertation] Australia: University of Newcastle. Nasrul, M. 2007. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan, Pendapatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pada Masyarakat Kecamatan Sangir Kabupaten Solok. [Skripsi] Yogyakarta: UGM. ______. 2006. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. _____. 2009. Model Optimalisasi Daya Ungkit Kampung-Kampung Hidangan Ekonomi Kecil (HEK) Bebas Tuberculosis Di Kota Solo. Surakarta: UNS. Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Rineka Cipta. ____________. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. ____________. 2005. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Yogyakarta: Andi Offset. Pratiknya, AW. 2001. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia. Robert, N. 2005. Global and Local: Food Safety Around The World. Washington DC: CSPI. Sander M.A. 2005. Hubungan Faktor Sosio Budaya Dengan Kejadian Diare di Desa Candinegoro Kecamatan Wonoayu Sidoarjo. Jurnal MedikaI. Vol 2. No.2. Juli-Desember 2005: 163-193.

Simons-Morton B.G., Greene, W.H. and Gottlieb, N.H. 1995. Introduction to Health Education and Health Promotion. Second edition. Waveland Press, Inc. Illinois, USA. Sumiarto. 1993. Perumahan dan Pemukiman, Sejarah dan Tantangan di Depan, Forum Perencanaan Pembangunan Vol 1 Nomor 2, Desember 1993, Yogyakarta: UGM. Ulfa, M. 2009. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Orang Tua Terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pada Anak di SDN Pajagalan I Dan II di Kabupaten Sumenep. [Skripsi] Jember: Universitas Jember. WHO. 1992. Pendidikan Kesehatan (terjemahan). Bandung: ITB Press. Widoyono. 2008. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasannya. Semarang: Penerbit Erlangga. Widyastuti P (ed). 2005. Epidemiologi Suatu Pengantar. Edisi 2. Jakarta: EGC. Zaahara, T. 2000. Upaya Peningkatan Perilaku Hidup Sehat Dalam Keluarga Dalam Rangka Pembangunan Keluarga Sejahtera. http://www. Depdiknas.go.id/jurnal/30/upaya peningkatan_perilaku_hidup.htm. Jakarta. Diakses tanggal 14 Juni 2009.

Lampiran 1

PENELITIAN HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN, PENDAPATAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA PEDAGANG HIDANGAN ISTIMEWA KAMPUNG (HIK) DI PASAR KLIWON DAN JEBRES PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

PENELITIAN TENTANG : Hubungan Antara Pendidikan, Pendapatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Pedagang Hidangan Istimewa Kampung (HIK) Di Pasar Kliwon dan Jebres Yang bertanda tangan dibawah ini, Saya : Nama Umur Alamat : : :

Dengan ini menyatakan bersedia menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh Nama : Imanda Amalia NIM : J.410.050.016 Mahasiswa S1 dari Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta, ………………2009 Peneliti Responden

(Imanda Amalia)

(____________________)

Lampiran 2 KUISIONER HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN, PENDAPATAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA PEDAGANG HIDANGAN ISTIMEWA KAMPUNG (HIK) DI PASAR KLIWON DAN JEBRES

Nama pedagang HIK : ……………………………………… Alamat Pewawancara : ……………………………………… : ………………………………………

Tanggal wawancara : ………………………………………

A. Data Demografi Subjek Instruksi bagi pewawancara: isilah atau lingkarilah untuk pilihan jawaban setiap pertanyaan di bawah ini menyangkut pedagang HIK 1. Umur pedagang HIK : …………………tahun 2. Jenis Kelamin 3. Pendidikan : : a. Laki-laki, b. Perempuan a. Tidak sekolah, b. SD, c. SLTP, d. SLTA, e. Perguruan tinggi 4. Berapa lama bekerja sebagai pedagang HIK: …………….tahun

B. Kondisi Lingkungan Instruksi bagi pewawancara: berikan tanda contreng (√) sesuai dengan hasil pengamatan, tentang kondisi lingkungan tempat tinggal pedagang HIK No. 1. 2. Variabel Apakah dinding rumah terbuat dari anyaman bambu ? Apakah dinding rumah terbuat dari papan/seng ? Ya Tidak

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Apakah dinding rumah terbuat dari batu bata ? Apakah terdapat cukup cahaya matahari didalam rumah ? Apakah terdapat jendela yang dibuka didalam rumah ? Apakah terdapat lubang ventilasi udara selain jendela ? Apakah rumah berlantai tanah ? Apakah rumah berlantai plester semen ? Apakah rumah berlantai ubin/keramik ? Apakah lantai rumah kering dan kotor ? Apakah lantai rumah basah dan kotor ? Apakah terdapat air bersih dari PAM ? Apakah WC/kakus terletak lebih dari 5 meter dari tempat pembuangan/penyimpanan panganan HIK ? Apakah terdapat tempat pembuangan sampah ? Apakah terdapat tempat pembuangan air limbah ?

C. Pendapatan Instruksi bagi pewawancara: Isilah besaran nominal uang dalam rupiah (Rp) di dalam kolom untuk masing-masing pertanyaan.

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Nominal (Rp). Berapa besar rata-rata belanja bahan-bahan makanan per Rp……………. hari yang diperlukan untuk membuat atau menjual panganan dan minuman HIK ? Berapa keuntungan bersih per hari dari berdagang Rp……………. panganan HIK ? Berapa rata-rata pendapatan per bulan dari pekerjaan Rp……………. saudara di luar pedagang HIK ? Berapa rata-rata pengeluaran keluarga per bulan untuk Rp……………. makanan ? Berapa rata-rata pengeluaran keluarga per bulan untuk Rp……………. biaya kesehatan ?

Variabel

D. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Instruksi bagi pewawancara: berikan tanda contreng (√) sesuai dengan hasil pengamatan, tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pedagang HIK No. 1. 2. 3. Variabel Apakah saudara biasa batuk tanpa menutup dengan tangan ? Apakah biasa meludah atau membuang dahak dilantai ? Apakah biasa memegang panganan/hidangan beberapa kali dengan tangan ketika menyiapkan, menjual atau membeli panganan HIK ? Apakah menutup tempat panganan/hidangan HIK ? Apakah mencuci tangan dulu ketika membuat panganan HIK ? Apakah mencuci tangan dulu ketika menyiapkan panganan HIK sebelum dijual ? Apakah menggunakan air PAM yang bersih dalam membuat atau menyiapkan makanan/minuman ? Apakah mencuci alat makan yang akan digunakan untuk menyajikan atau menyimpan panganan HIK ? Apakah menggunakan air PAM yang bersih untuk mencuci piring dan gelas ? Apakah baru mengganti air pencuci setelah digunakan lebih dari 10 kali mencuci piring dan gelas ? Apakah menggunakan air mentah untuk hidangan minuman dingin/es yang dijajakan ? Apakah membuang sampah di sembarang tempat ? Apakah membuang air limbah disembarang tempat ? Apakah pernah mendapat penyuluhan tentang makanan sehat dan bergizi dari petugas kesehatan pemerintah ? Apakah berkeinginan meningkatkan mutu panganan/ Minuman HIK sehingga lebih sehat dan bergizi ? Ya Tidak

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Lampiran 4 Tabel Frekuensi Jenis Kelamin
Frequency Valid Laki-laki Perempuan Total 31 9 40 Percent 77.5 22.5 100.0 Valid Percent 77.5 22.5 100.0 Cumulative Percent 77.5 100.0

Umur
N Valid Missing Mean Median Std. Deviation Minimum Maximum 40 0 40.68 41.00 9.253 21 54

Umur Frequency Valid 21 25 27 29 31 32 33 34 35 36 37 38 40 42 43 45 49 50 52 53 54 Total 1 1 2 1 3 1 1 1 4 1 1 1 2 1 1 5 3 3 4 2 1 40 Percent 2.5 2.5 5.0 2.5 7.5 2.5 2.5 2.5 10.0 2.5 2.5 2.5 5.0 2.5 2.5 12.5 7.5 7.5 10.0 5.0 2.5 100.0 Valid Percent 2.5 2.5 5.0 2.5 7.5 2.5 2.5 2.5 10.0 2.5 2.5 2.5 5.0 2.5 2.5 12.5 7.5 7.5 10.0 5.0 2.5 100.0 Cumulative Percent 2.5 5.0 10.0 12.5 20.0 22.5 25.0 27.5 37.5 40.0 42.5 45.0 50.0 52.5 55.0 67.5 75.0 82.5 92.5 97.5 100.0

Lama Bekerja
N Valid Missing Mean Median Std. Deviation Minimum Maximum 40 0 5.042 2.250 4.9679 .1 20.0

Lama Bekerja
Frequency Valid .1 .3 .4 .5 1.0 1.5 2.0 2.5 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 10.0 11.0 12.0 14.0 15.0 20.0 Total 2 1 3 1 5 2 6 1 1 3 1 2 2 5 1 1 1 1 1 40 Percent 5.0 2.5 7.5 2.5 12.5 5.0 15.0 2.5 2.5 7.5 2.5 5.0 5.0 12.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 100.0 Valid Percent 5.0 2.5 7.5 2.5 12.5 5.0 15.0 2.5 2.5 7.5 2.5 5.0 5.0 12.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 100.0 Cumulative Percent 5.0 7.5 15.0 17.5 30.0 35.0 50.0 52.5 55.0 62.5 65.0 70.0 75.0 87.5 90.0 92.5 95.0 97.5 100.0

Pendapatan Per Bulan Cases Valid N Pendapatan per bulan (Rupiah) 40 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 40 Total Percent 100.0%

Descriptives Statistic Pendapatan per bulan (Rupiah) Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound Upper Bound 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis 1121250.00 813030.82 1429469.18 978611.11 780000.00 9.288E11 963740.543 260000 5200000 4940000 780000 2.690 8.739 .374 .733 Std. Error 152380.759

Extreme Values Case Number Pendapatan per bulan (Rupiah) Highest 1 2 3 4 5 Lowest 1 2 3 4 5 17 29 34 8 35 37 13 23 21 15 Value 5200000 3900000 2600000 1950000 1950000 260000 260000 390000 390000 390000

Pendapatan Selain Keuntungan Bersih Pedagang HIK C1_INCOME N Valid Missing Mean Median Std. Deviation Minimum Maximum 40 0 181125.00 150000.00 98335.425 20000 400000 C1_INCOME Frequency Valid 20000 50000 60000 100000 125000 150000 180000 200000 300000 400000 Total 1 2 2 6 3 7 1 9 6 3 40 Percent 2.5 5.0 5.0 15.0 7.5 17.5 2.5 22.5 15.0 7.5 100.0 Valid Percent 2.5 5.0 5.0 15.0 7.5 17.5 2.5 22.5 15.0 7.5 100.0 Cumulative Percent 2.5 7.5 12.5 27.5 35.0 52.5 55.0 77.5 92.5 100.0 C3_INCOME 40 0 221000.00 .00 334869.282 0 1300000 C4_INCOME 40 0 638750.00 500000.00 413937.859 100000 1500000 C5_INCOME 40 0 3687.50 .00 16879.926 0 100000

C3_INCOME Frequency Valid 0 30000 60000 100000 150000 300000 400000 500000 600000 750000 900000 1050000 1300000 Total 21 1 1 1 3 2 2 2 3 1 1 1 1 40 Percent 52.5 2.5 2.5 2.5 7.5 5.0 5.0 5.0 7.5 2.5 2.5 2.5 2.5 100.0 Valid Percent 52.5 2.5 2.5 2.5 7.5 5.0 5.0 5.0 7.5 2.5 2.5 2.5 2.5 100.0 Cumulative Percent 52.5 55.0 57.5 60.0 67.5 72.5 77.5 82.5 90.0 92.5 95.0 97.5 100.0

C4_INCOME Frequency Valid 100000 150000 200000 300000 400000 450000 500000 600000 750000 800000 900000 1000000 1200000 1500000 Total 4 2 1 3 4 1 6 4 2 1 2 5 1 4 40 Percent 10.0 5.0 2.5 7.5 10.0 2.5 15.0 10.0 5.0 2.5 5.0 12.5 2.5 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 5.0 2.5 7.5 10.0 2.5 15.0 10.0 5.0 2.5 5.0 12.5 2.5 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 15.0 17.5 25.0 35.0 37.5 52.5 62.5 67.5 70.0 75.0 87.5 90.0 100.0

C5_INCOME Frequency Valid 0 7500 40000 100000 Total 37 1 1 1 40 Percent 92.5 2.5 2.5 2.5 100.0 Valid Percent 92.5 2.5 2.5 2.5 100.0 Cumulative Percent 92.5 95.0 97.5 100.0

Dinding Rumah Dari Anyaman Bambu Frequency Valid tidak ya Total 36 4 40 Percent 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 90.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 90.0 100.0

Dinding Rumah Dari Papan/Seng Frequency Valid tidak ya Total 24 16 40 Percent 60.0 40.0 100.0 Valid Percent 60.0 40.0 100.0 Cumulative Percent 60.0 100.0

Dinding Rumah Dari Batu Bata Frequency Valid tidak ya Total 3 37 40 Percent 7.5 92.5 100.0 Valid Percent 7.5 92.5 100.0 Cumulative Percent 7.5 100.0

Terdapat Cukup Cahaya Matahari Didalam Rumah Frequency Valid tidak ya Total 20 20 40 Percent 50.0 50.0 100.0 Valid Percent 50.0 50.0 100.0 Cumulative Percent 50.0 100.0

Terdapat Jendela Didalam Rumah Frequency Valid tidak ya Total 21 19 40 Percent 52.5 47.5 100.0 Valid Percent 52.5 47.5 100.0 Cumulative Percent 52.5 100.0

Terdapat Lubang Ventilasi Udara Selain Jendela Frequency Valid tidak ya Total 8 32 40 Percent 20.0 80.0 100.0 Valid Percent 20.0 80.0 100.0 Cumulative Percent 20.0 100.0

Rumah Berlantai Tanah Frequency Valid tidak ya Total 33 7 40 Percent 82.5 17.5 100.0 Valid Percent 82.5 17.5 100.0 Cumulative Percent 82.5 100.0

Rumah Berlantai Plester Semen Frequency Valid tidak ya Total 23 17 40 Percent 57.5 42.5 100.0 Valid Percent 57.5 42.5 100.0 Cumulative Percent 57.5 100.0

Rumah Berlantai Ubin/Keramik Frequency Valid tidak ya Total 21 19 40 Percent 52.5 47.5 100.0 Valid Percent 52.5 47.5 100.0 Cumulative Percent 52.5 100.0

Kondisi Lantai Kering dan Kotor Frequency Valid tidak ya Total 27 13 40 Percent 67.5 32.5 100.0 Valid Percent 67.5 32.5 100.0 Cumulative Percent 67.5 100.0

Kondisi Lantai Basah dan Kotor Frequency Valid tidak ya Total 34 6 40 Percent 85.0 15.0 100.0 Valid Percent 85.0 15.0 100.0 Cumulative Percent 85.0 100.0

Terdapat Air Bersih Dari PAM Frequency Valid tidak ya Total 7 33 40 Percent 17.5 82.5 100.0 Valid Percent 17.5 82.5 100.0 Cumulative Percent 17.5 100.0

WC/kakus Terletak Lebih Dari 5 Meter Dari Tempat Penyimpanan HIK Cumulative Percent 80.0 100.0

Frequency Valid tidak ya Total 32 8 40

Percent 80.0 20.0 100.0

Valid Percent 80.0 20.0 100.0

Terdapat Tempat Pembuangan Sampah Frequency Valid tidak ya Total 9 31 40 Percent 22.5 77.5 100.0 Valid Percent 22.5 77.5 100.0 Cumulative Percent 22.5 100.0

Terdapat Tempat Pembuangan Air Limbah Frequency Valid tidak ya Total 8 32 40 Percent 20.0 80.0 100.0 Valid Percent 20.0 80.0 100.0 Cumulative Percent 20.0 100.0

Pendidikan Cumulative Frequency Valid Tidak Sekolah SD SLTP SLTA Total 6 16 5 13 40 Percent 15.0 40.0 12.5 32.5 100.0 Valid Percent 15.0 40.0 12.5 32.5 100.0 Percent 15.0 55.0 67.5 100.0

Pendapatan per bulan Cumulative Frequency Valid < Rp 780000 >= Rp 780000 Total 16 24 40 Percent 40.0 60.0 100.0 Valid Percent 40.0 60.0 100.0 Percent 40.0 100.0

PHBS Cumulative Frequency Valid Kurang sehat Sehat Total 30 10 40 Percent 75.0 25.0 100.0 Valid Percent 75.0 25.0 100.0 Percent 75.0 100.0

Uji Statistik Uji Chi square a. Pendidikan dengan PHBS

Case Processing Summary Cases Valid N Pendidikan (dikotomi) * PHBS 40 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 40 Total Percent 100.0%

PHBS
Kurang sehat Pendidikan (dikotomi) SD/ tak sekolah SLTP/SLTA Count % of Total Count % of Total Total Count % of Total 20 50.0% 10 25.0% 30 75.0% Sehat 2 5.0% 8 20.0% 10 25.0% Total 22 55.0% 18 45.0% 40 100.0%

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 10.117 9.781 9.728 40 df 1 1 1 sided) .003 .004 .004

b. Pendapatan dengan PHBS
Case Processing Summary Cases Valid N Pendapatan per bulan (dikotomi) * PHBS 40 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 40 Total Percent 100.0%

PHBS
Kurang sehat Pendapatan per < Rp 780000 bulan (dikotomi) Count % of Total >= Rp 780000 Count % of Total Total Count % of Total 12 30.0% 11 27.5% 23 57.5% Sehat 5 12.5% 12 30.0% 17 42.5% Total 17 42.5% 23 57.5% 40 100.0%

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 4.257 7.637 4.089 40 df 1 1 1 sided) .049 .023 .053

Lampiran 5 Dokumentasi Penelitian

Gambar 1. Warung HIK

Gambar 2. Pembeli HIK

Gambar 3. Pedagang HIK

Gambar 4. Panganan HIK

Gambar 5. Pembeli menyantap HIK

Gambar 6. Nasi Bungkus Pedagang HIK

Gambar 7. Dinding Rumah Anyaman Bambu Pedagang HIK

Gambar 8. Dinding Rumah Dari Seng Pedagang HIK

Gambar 9. Lantai Rumah Dari Keramik

Gambar 10. Lantai Rumah Dari Semen

Gambar 11. Kamar Mandi

Gambar 12. Bak Mandi dan Kakus

Gambar 13. Dapur

Gambar 14. Penampungan Air

Gambar 15. Atap Rumah

Gambar 16. Buku Penjualan HIK

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful