Anda di halaman 1dari 8

Topik : Etika Kedokteran

Kasus : Cedera Kepala Berat dengan trauma multiple


Tanggal Kasus : 25 Agustus 2011
Tanggal Diskusi : 02 November 2011
Tempat Diskusi : RSUD Ungaran
ObjektiI : Etika kedokteran
Deskripsi : Seorang laki-laki, 50 tahun, datang diantar dengan
kondisi kesadaran yang minimal, paska KLL. Berdasar
kondisi pasien,dokter jaga IGD mempertimbangkan
bahwa pasien memerlukan penanganan lebih lanjut pada
Iasilitas yang lebih lengkap. Keluarga pasien juga
menghendaki penanganan yang maksimal. Namun
dadasari pertimbangan prognosis pasien, dokter jaga pada
rumah sakit yang lengkap tersebut menolak untuk
menerima pasien
Tujuan : - Mampu memahani kewajiban dan pedoman seorang
dokter
- Mampu memahami hak-hak seorang pasien atas
inIormasi
- Mampu memahami Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi
prognosis cedera kepala berat
Bahan Bahasan : Tinjauan Pustaka dan Kasus
Cara Membahas : Diskusi

KASUS
1. IDENTITAS
O Nama : Tn. HW
O No. RM : 166697
O Umur : 40 th
O enis Kelamin : Laki-laki
O Tgl masuk : 25 Agustus 2011

. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama : tidak sadar paska kecelakaan lalu-lintas
B. Riwayat Penyakit Sekarang :
Os diantar ke RSUD Ungaran dengan kondisi tidak-sadarkan diri paska
kecelakaan lalu-lintas. Dikatakan oleh pengantar bahwa Os sempat
muntah darah beberapa saat setelah kecelakaan, kemudian pingsan.

Dikatakan bahwa Os tidak memakai helm, dan mengalami tabrakan


dengan kecepatan yang tinngi.
C. Riwayat Penyakit Dahulu :
Alergi obat (-)
D. Riwayat Penyakit Keluarga :
Alergi obat (-)

. !EMERIKSAAN FISIK
A. Kondisi Umum : GCS E
1
M
1
V
1

B. Status Vital : TD : 140/100 mmHg, posisi supinasi
Nadi : 96 x/menit, regular, lemah
RR : 16x/menit, reguler
Suhu : 36,6C, suhu axilla
C. Kepala : c.a (-), s.i (-), pupil isokor 2mm/2mm, RC /, tampak
Fraktur Os Irontal terbuka
D. Thorak : P/ simetris, jejas (-) sonor di semua lapang, vesikuler /,
ST -/-
/ IC pada SIC V LMCS, HR 96x/menit, konIigurasi dbn,


S
1-2
normal, bising (-)
E. Abdomen : Kontur DP~DD, jejas (-), BU () normal, tympani (),
H/L tak teraba
F. Ekstremitas : - deIormitas region 1/3 media Iemur
- Iraktur region genu, terbuka, bone exposed ()
- Iraktur region 1/3 media cruris, terbuka, bone exposed
()
- deIormitas region dorsum pedis
Status neurologi distal : tidak dapat dinilai
Staus vaskularisasi distal :

. !EMERIKSAAN !ENUN1ANG
A. GDS : 108 mg/dL
B. Darah rutin : Hb : 13,4 g/dL Hct : 38,9
AL : 15,8 AT : 216
. DIAGNOSIS
CKB
Fraktur Multipel

. !ENATALAKSANAAN
- Pasang pipa oroIaring
- O
2
4 lpm nasal kanul

- Pasang cervical collar


- InI. Ringer Lactat 2 jalur, guyur 1L/jam
- Inj. Citicholin 500mg
- InI. Manitol 200cc dlm 20 menit
. MONITORING
Waktu GCS TD Nadi RR Keterangan
Pk 17.00 E1M11 140/100 96x/menit,
lemah
16x/menit SaO2:
100
Konsul Sp.S : tidak ada jawaban
Pk 18.00 E1M1V1 120/100 96x/menit,
kuat
12x/menit
Pk 18.30 E1M1V1 80/palpasi 76x/menit,
lemah
12x/menit SaO2: 70
Menghubung RSUP Dr.Karyadi untuk keperluan reIer : ditolak dengan
pertimbangan prognosis yang buruk dari pasien, terutama risiko dalam perjalanan
reIer nantinya
Pk 19.00 Pasien Apnea dilakukan RP gagal dinyatakan meninggal dunia
pk 19.55












A.!EMBAHASAN

Seorang pasien dibawa ke IGD dalam keadaan tidak sadar paska
kecelakaan lalu-lintas. Melalui permeriksaan Iisik, didapatkan bahwa pasien
dalam kondisi kesadaran yang minim. Kemudian segera dilakukan pertolongan
kedaruratan. Melalui hasil pemantauan kondisi pasien, didapatkan bahwa kondisi
pasien tidak membaik. Dokter IGD merasa bahwa apabila kondisi tetap seperti ini,
kemungkinan terjadinya kematian akan semakin besar. Meskipun demikian,
dokter tersebut juga menyadari bahwa belum tentu dapat dilakukan tindakan lain,
meskipun di rumah sakit dengan Iasilitas yang lebih lengkap, berkaitan dengan
kondisi pasien yang telah buruk sejak awal kedatangan. Hal ini juga didukung
adanya pertimbangan mengenai eIisiensi biaya yang akan dikeluarkan oleh pihak
keluarga pasien.
Tindakan konsultasi untuk merujuk pasien pada rumah sakit dengan
Iasilitas yang lebih lengkap dilakukan. Namun, dari hasil konsultasi, didapatkan
bahwa dokter pada rumah sakit yang lebih lengkap tersebut menolak untuk
menerima pasien tersebut, dengan berdasar pertimbangan bahwa risiko yang akan
ditimbulkan dari tindakan merujuk lebih besar daripada manIaat atau keuntungan
terhadap pasien.
Terdapat suatu dilema di dalam penanganan pasien di atas., yakni:
1. Di satu sisi, menurut pertimbangan dokter IGD, pasien perlu
mendapatkan penanganan lebih lanjut dengan Iasilitas yang lebih
memadai, berkaitan dengan semakin memburuknya kondisi pasien.
2. Di sisi lain, dokter dari suatu rumah sakit dengan Iasilitas yang lebih
lengkap, juga memiliki pertimbangan bahwa risiko yang dihadapi lebih
besar daripada manIaat yang akan diperoleh, meskipun pasien dibawa
kepada Iasilitas yang lebih lengkap. Hal ini berkaitan dengan kondisi
pasien saat akan dikirim.
3. Sisi yang terakhir adalah bahwa keluarga pasien juga mengharapkan
yang terbaik dan penanganan selanjutnya terhadap pasien tersebut

untuk menyelamatkan jiwa pasien, tentunya juga didasarkan pada


eIisiensi biaya pengobatan yang akan dikeluarkan

Deklarasi enewa :
O Seorang dokter harus setia kepada pasien dan seluruh sumber
keahliannya. Bila sebuah pemeriksaan dan pengobatan berada di luar
kemampuan seorang dokter, dia harus meminta bantuan dokter lain
yang memiliki kemampuan yang dimaksud.
O Seorang dokter harus memberikan pertolangan darurat sebagai tugas
kemanusiaan, kecuali dia mengetahui bahwa ada pihak lain yang mau
dan mampu memberikan tindakan yang dimaksud.
Pedoman Etik Kedokteran:
O Pedoman V : Para dokter boleh memilih atau menentukan pasien
yang akan dilayaninya. Akan tetapi, dalam keadaan darurat, ia harus
memberi pelayanan yang sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan
yang dimilikinya.
Dengan mengacu pada kedua pedoman di atas, dapat disimpulkan bahwa
seorang dokter wajib memberikan pertolongan pertama pada pasien dengan
keadaan yang darurat, sesuai dengan kemampuannya. Berdasar kasus di atas,
adanya pertolongan pertama yang diberikan oleh dokter instalasi gawat darurat
merupakan tindakan yang telah sesuai dengan pedoman tersebut. Namun, karena
kondisi pasien tidak membaik dan ada kemungkinan membutuhkan tindakan
penunjang yang lain, maka dokter tersebut berhak meminta bantuan pada dokter
lain yang memiliki kemampuan yang dimaksud. Salah satu caranya adalah dengan
merujuk pasien pada rumah sakit dengan Iasilitas yang lebih lengkap. Namun, hal
ini tidak dapat serta-merta langsung dilakukan, karena harus dipikirkan mengenai
risiko yang berkaitan dengan prognosis pasien tersebut.
Menentukan prognosis pasien dengan cedera kepala berat seringkali sulit
dilakukan, tidak hanya oleh dokter-dokter di instalasi gawat darurat, namun juga
dokter spesialis bedah saraI. Hal ini dapat disebabkan karena beberap hal,
yakni:keterbatasan penilaian klinik awal, lamanya penyembuhan pasien cedera

kepala berat, dan banyaknya variabel yang mempengaruhi prognosa pasien


tersebut. Padahal, pengetahuan mengenai prognosis akhir dari pasien dengan
cedera kepala berat akan membantu dalam menentukan apakah suatu pasien
memerlukan suatu tindakan invasiI yang segera, atau hanya sekedar melakukan
perawatan berdasar Iaktor kemanusiaan. Pada pasien dengan cedera kepala berat,
terdapat beberapa variabel yang akan mempengaruhi prognosis dari pasien, yakni
1. Usia pasien
Semakin tua usia pasien, semakin buruk prognosisnya. Pasien
dengan usia ~ 60 tahun, 87 akan memiliki outcome yang buruk,
sedangkan pasien 40-60 tahun, 56 memiliki outcome buruk, dan semakin
menurun untuk paien 21 tahun, yakni 22.
2. Mekanisme cedera
Penderita yang mengalami cedera kepala berat akibat kecelakaan
berkecepatan tinggi memiliki mortalitas ebih besar daripada penderita
yang cedera akibat jatuh, atau tabakan motor dengan pejalan kaki.
3. Hipotensi dan Hipoksia
Hipotensi sistemik dapat disebabkan adanya kehilangan darah
dalam jumlah banyak melalui suatu trauma. Angka mortalitas mencapai 83
pada pasien denga hipotensi sistemik, dibanding 45 pada pasien tanpa
hipotensi sitemik. Sementara itu, hipoksia dapat diakibatkan oleh adanya
suatu gangguan pernaIasan yang dapat disebabkan beberapa hal,
diantaranya : trauma cervical, sumbatan jalan naIas, tension
pneumothorax, dan lain-lain.
4. Skor Koma Glasgow (SKG)
Pasien yang datang dengan SKG ~ 11 memiliki kemungkinan
outcome yang baik sebesar 82, dan hanya 12 yang meninggal, Hal ini
sangat bertolak belakang dengan pasien dengan SKG awal 3, yang akan
memiiki angka mortalitas sebesar 87.

Dengan berdasarkan pertimbangan berbagai variabel di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa pasien pada kasus tersebut, memiliki prognosis yang buruk,

atau dalam arti lain, memiliki risiko yang besar dalam perjalanan apabila
dilakukan prosedur perujukan pasien. Namun, aspek sosial dari keluarga juga
patut dipertimbangkan dalam menentukan keputusan akhir, di mana keluarga
pasien tersebut menghendaki agar pasien tidak sekedar diberi pertolongan
pertama, namun juga pertolongan lebih lanjut dengan Iasilitas yang lengkap.
Maka dari itu, untuk menghindari kesalahan persepsi dari pasien, bahkan hingga
adanya tuntutan dari keluarga pasien tersebut, maka sangat perlu untuk
diinIormasikan mengenai keadaan pasien saat itu, beserta berbagai pilihan
penanganan dengan risikonya masing-masing. Pada titik ini, keluarga pasien
sangat perlu dilibatkan dalam mengambil berbagai keputusan selanjutnya. Hal ini
selaras dengan pedoman di bawah ini, yang menjamin hak-hak seorang pasien,
yakni:
Deklarasi Lisabon 1981 mengenai penjelasan hak-hak pasien
Pasien berhak menerima atau menolak tindakan pengobatan sesudah
ia memperoleh inIormasi yang jelas
Salah satu hak pasien yang penting dalam hukum kedokteran
adalah hak atas inIormasi. Setiap manusia dewasa dan berpikiran
sehat berhak menentukan apa yang hendak dilakukan terhadapnya.
Untuk itu, dokter harus menjelaskan tindakan dengan bahasa yang
dapat dimengerti pasien. InIormasi tersebut meliputi :
1. Tindakan yang akan diambil
2. Risikonya
3. Kemungkinan akibat yang akan timbul berikut jenis tindakan
yang dilakukan untuk dapat mengatasinya
4. Kemungkinan yang akan terjadi apabila tindakan tidak
dilakukan
5. Prognosis
Dengan melakukan semua tindakan tadi, diharapkan seorang dokter dapat
terbantu dalam mengatasi suatu kasus pelik seperti salah satu contoh di atas.
Adanya kerjasama antara dokter-pasien mutlak diperlukan, baik untuk mencapai

suatu hasil yang maksimal dari suatu terapi yang diberikan, maupun untuk
menghindari adanya kesalahpahaman yang tidak jarang akan berakhir dengan
sebuah tuntutan dari pasien.

B.DAFTAR !USTAKA
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia. Kode Etik Kedokteran Indonesia
dan Pedoman Pelaksanaan Etik Kedoteran Indonesia. akarta : IDI
Samil,R.S.2001.Etika Kedokteran Indonesia.akarta : Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo
Sastrodiningrat,G.S.,2006.Memahami Prognosa yang Mempengaruhi Prognosa
Cedera Kepala Berat.Majalah Kedokteran Nusantara Vol.39:3(307-315)
Taher,T.2003.Medical Ethics.akarta : PT Gramedia Pustaka Utama