Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Suatu deIinisi pada kamus mengenai perilaku (etologi) berupa 'bertindak, bereaksi,
atau berIungsi dalam suatu cara tertentu sebagai respon terhadap beberapa rangsangan
(stimulus). Banyak perilaku terdiri atas aktivitas otot yang dapat diamati secara eksternal,
yaitu komponen 'bertindak dan 'bereaksi dari deIinisi tersebut. Ketika mengamati suatu
perilaku tertentu, kita akan cenderung menanyakan pertanyaan proksimat (jangka pendek)
dan ultimat (akhir). Dalam pembahasan perilaku hewan (etologi) pertanyaan proksimat
adalah mekanistik berkaitan dengan stimulus lingkungan, jika ada, yang memicu suatu
perilaku perilaku, juga mekanisme genetik dan Iisiologis yang mendasari suatu tindakan
perilaku. Pertanyaan ultimat berkenaan dengan makna evolusioner perilaku.

1.2 Tujuan
O &ntuk memehami perilaku pada hewan
O &ntuk mengetahui proses perilaku pembelajaran pada hewan
O &ntuk mengetahui prilaku sosial pada hewan
O
1.3 Rumusan masalah
O pa yang dimaksud perilaku pada hewan, dan bagaimana perilaku ini dapat terjadi ?
O pa yang dimaksud pembelajaran dan bagaimana proses terjadinya?
O pa yang dimaksud perilaku sosial dan sosiobiologi?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perilaku (Etologi)
Perilaku (etologi) adalah serangkaian aktivitas yang mengorientasikan hewan terhadap
lingkungan eksternalnya. Meskipun prilaku tampak paling jelas sebagai serangkaian
pergerakan yang dapat diamati, perilaku bisa juga mencakup respons-respons internal yang
adaptiI.
Pengkajian perilaku merupakan cabang biologi yang relative baru, dan cenderung lebih
deskriItiI serta tidak begitu meyakinkan secara analitis dari pada cabang-cabang lain. Salah
satu bahaya menganalisis pola-pola aktivitas hewan lain adalah kecenderungan sang peneliti
untuk menyamakan aksi-aksi yang mirip dengan motiI, keinginan, dan tujuan
manusia.itensitas dari dalam yang mendorong hewan untuk melakukan sesuatu, apapun
siIatnya disebut dorongan (drive). Etologi, pengkajian perbandingan perilaku dari perspektiI
evolusioner, seringkali berurusan dengan dorongan-dorongan yang berkaitan dengan
kegiatan makan, seks, perawatan, anak, dan lain sebagainya. Dorongan-dorongan itu
merupakan motiIasi yang muncul akibat gangguan kesetimbangan internal seekor hewan .
dorongan-dorongan itu dimodiIikasi oleh berbagai Iaktor, baik Iaktor internal maupun Iaktor
yang ada di lingkungan yang sering kali di sebut insting. Misalnya: pada sebagian serangga,
terjadi peningkatan laju aktivitas di daerah-daerah kering, sedangkan terjadi penurunan di
daerah-daerah lembab. Karena pergerakan yang lebih banyak dan aktivitas migrasi yang
meningkat sebagai akibatnya di daerah-daerah kering, serangga secara perlahan-lahan
terakumulasi di daerah-daerah lembab, dimana kecenderungan untuk bergerak pergi menjadi
sangan tereduksi.
2.2 Perilaku Dihasilkan Oleh Gen Dan Faktor-Faktor Lingkungan
Suatu mitos yang masih diabadikan secara luas oleh media populer adalah bahwa
perilaku disebabkan oleh pengaruh gen (nature atau alam) atau oleh pengaruh lingkungan
(narture atau pemeliharaan). Tetapi, dalam biologi, perdebatan mengenai nature atau narture

Bukanlah mengenai memilih salah satu nature atau narture adalah mengenai derajat sajauh
mana gen dan lingkungan mempengaruhi siIat Ienotipik, yang meliputi siIat perilaku.
Fenotipe bergantung pada gen dan lingkungan; siIat atau cirri perilaku memiliki komponen
genetik dan lingkungan,seperti halnya semua siIat anatomisdan Iisiologis seekor hawan.
Seperti ciri Ienotipik lainnya, perilaku memperlihatkan suatu kisaran variasi
Ienotipiknya (suatu 'norma reaksi) yang bergantung pada lingkungan, di mana genotipe itu
dieksperimenkan. Perilaku dapat diubah oleh pengalaman dilingkungan, namun demikian
prilaku juga memiliki suatu komponen genetik perilaku bargantung pada gen-gen yang
eksperensinya menghasilkan sistem neuron yang tanggap terhadap pembelajaran. Sebagian
besar cirri perilaku adalah Iilogenik, dengan norma reaksi yang luas.
Faktor-Iaktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku adalah semua kondisi dimana
gen yamg mendasari perilaku itu diekspresikan. Hal ini meliputi lingkungan kimiawi di
dalam sel, dan juga semua kondisi hormonal dan kondisi kimiawi dan Iisik dialami oleh
seekor hewan yang sedang berkembang di dalam sebuh sel telur atau di dalam rahim.
Perilaku juga meliputi interaksi beberapa komponen sistem saraI hewan dengan eIektor, dan
juga sebagai interaksi kimia, penglihatan, pendengaran, atau sentuhan dengan organisme lain.
Seperti contoh . Beberapa burung beo afrika berwarna cerah yang umum dikenal
sebagai lovebird, membangun sarang berbentuk mangkuk didalam lubang pohon. Betina
secara khusus membuat sarang denan lembaran tipis tumbuh-tumbuhan (atau,
dilaboratorium, kertas) yang mereka potong denan paruhnya. Pada suatu spesies, lovebird
fischer (agapornis fischeri), burung tersebut memotong lembaran relative panfang dan
membawa lembaran-lembaran tersebut kesarangnya satu persatu didalam paruhanya.
2.3 Proses Prilaku Pembelajaran
Belajar adalah modiIikasi tingkah laku yang relatiI permanen yang terbentuk melalui
latihan dan pengalaman (Drickamer,1982). Tinbergen (1969) menyatakan bahwa belajar
merupakan proses di dalam sistem saraI pusat yang menyebabkan terjadinya perubahan
mekanisme tingkah laku insting sebagai tanggapan terhadap rangsangan dari luar. Sementara
W.H Thorpe (1963, dalam Drickamer.1982) berpendapat bahwa belajar merupakan
maniIestasi perubahan tingkah laku yang bersiIat adaptiI sebagai akibat adanya pengalaman.

Pola tingkah belajar di kendalikan oleh Iaktor internal yang di sebut motiIasi. Tingkah laku
dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu habituasi,trial and error, pemahaman dan
belajar laten.
1.Habituasi
dalah sistem penurunan amplitude dan perubahan probabilitas suatu respons secara
gradual sebagai akibat dari hadirnya stimulus tertentu secara berulang-ulang
(kendel,1976). Penurunan respons itu bersiIat persisten dan tidak di ikuti oleh berbagai
macam reinIorcemen atau penguatan (Drickamer 1982). Tingkahlaku yang bersiIat
habituasi antara lain adalah tingkah laku : melarikan diri, menyerang, seksual,dan
Irekuensi ejakulasi.
Tingkahlaku habituasi mempunyai beberapa Iungsi adaptiI, yaitu :
O Mengurangi respons bertahan atau melarikan diri dari rangsangan yang
mengejutkan dari predator yang mendekat.
O Mengenal hewan-hewan lain yang ada didaerah teritorialnya.
O Menstandarkan tingkah laku sosial antara individu-induvidu dalam satu
spesies dan mempertajam respons intuk stimulus saraI.
Tingkah laku yang bersiIat habitulasi salah satunya seperti seksiual memiliki pola-
pola perilaku yang berasosiasi dengan reproduktiI sangat menarik. Komunikasi yang
terlibat dalam persiapan aparatus seksual seringkali kompleks dan samar, serta mungkin
berasosiasi dengan ritual percumbuan yang rumit. Pada kebanyakannya organisme,
aktiIitas seksual hanya terjadi pada musim yang relatiI pendek. Hal itu berarti perilaku
kawin harus diaktiIkan pada titik tertentu dan dimatikan lagi nantinya. Perilaku seksual
mencakup perubahan-perubahan periodik dalam karakteristik-karakteristik internal
semacam aktivitas endokrin, status saraI sentral, dan kekencangan saluran reproduksi.
.1rial and error
dalah tingkah laku yang tampak bila seekor hewan menampilkan tingkah laku
appetitive atau searching yang seringkali diperkuat oleh kejadian-kejadian yang muncul
secara tidak terencana. Bentuk tingkah laku ini di tunjukkan oleh Skinner melalui
percobaan pada tikus yang di letakkan didalam kotak yang terkenal dengan kotak Skinner.
Kotak dilengkapi dengan kotak kecil yang berisi butir-butir makanan. Kotak dapat

dibuka dengan pengungkit yang terletak dalam kotak besar. Jika pengungkit digerakkan
kotak kecil terbuka dan butir makanan keluar dari kotak kecil masuk ke kotak besar. Tikus
itu mencoba menyentuh benda-benda yang ada di dalam kotak.Secara tidak sengaja tikus
itu juga menyentuh pengungkit kotak kecil,kotak kecil itu terbuka dan makanan jatuh di
dekat tikus.tikus memekan makanan itu keluarnya makan itu merang tikus untuk
mengulang perbuatannya menyentuh pengungkit. Dari percoban skinner dapat
disimpulakan bahwa tingkah laku menyentuh pengungkit pada tikus itu merupakan
tingkah laku yang dikendalikan kesalahan (operan) . makanan yang keluar dari dalam
kotak ketika pengungkit di sentuh merupakan penguatan atau reinIorcement bagi
munculnya tingkah laku operan.
. Belajar pemahaman (insight learning)
dalah tingkah laku yang terbentuk melalui asosiasi kejadian-kejadian atau kegiatan-
kegiatan yang telah dipelajari sebelumnya. Tingkah laku yang terbentuk adalah
tingkahlaku yang dapat memecahkan masalah baru yang sedangdi hadapi. Belajar
pemahaman pada hewan ditunjukkan oleh koliler (1925), seperti yang dikutip oleh
Drickamer (1982) melalui percobaan dengan menggunakan sinpance.
. Belajar laten (latent learning)
aitu pembuatan asosiasi tanpa adanya penguatan atau tanpa adanya bukti dan
perbuartan yang terbentuk pada saat kegiatan belajar berlangsung. Kegiatan belajar itu
muncul sebagai akibat dari dorongan atau motivasi dari dalam, sehingga tidak perlu ada
penguatan yang berasal dari akibat atau hasil dari kegiatan belajar yang pernag dialami.
SiIat belajar ini sering terjadi pada manusia dan siIat belajar yang di sebutkan misalnya,
reIlek, instingtiI, trial and error, pemahaman, selai belajar laten.

Banyak wewan dapat belajar mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya.
Pembelajaran asosiatiI melibatkan hubungan satu stimulus dengan stimulus yang lain. Dalam
kondisian operan atau pembelajaran sistim coba-coba, seekor hewan belajar untuk
mengasosiasikan salah satu dari prilakunya sendiri dengan hadiah atau hukuman, dan
memodiIikasi perilaku tersebut sesuai dengan keadaan. Pengondisian opera umum ditemukan
dialam.

2.4 Perilaku Sosial


Sosiobiologi menempatkan prilaku sosial dalam suatu konteks evolusioner. Prilaku
social meliputi spectrum interaksi antara dua atau lebih hewan, umumnya dengan spesies
yang sama, yang telah lama menjadi Iokus penelitian bagi saintis ilmu perilaku. Perilaku
social kompertitiI sering kali menggambarkan pertandingan untuk mendapatkan sumber
daya. Perilaku agonistic melibatkan pertandingan dimana satu pesaing mendapatkan
keuntungan dengan mendapatkan kesempatan sumberdaya yang langka, seperti makanan,
atau pasangan kawin. Beberapa hewan memiliki hirarki dominansi, dimana induvidu-
induvidu memiliki peringkat berbeda-beda. Pilihan yang mungkin mereka ambil harus sesuai
dengan status mereka. Teritolialitas merupakan suatu perilaku dimana seekor hewan
mempertahankan suatu bagian daerah suatu tempat tinggalnya yang spesiIik dan tetap dari
hewan-hewan lainnya dari spesies yang sama melalui interaksi agonistik.
Perilaku kawin berhubungan langsung dengan pelestarian hidup hewan. Terdapat suatu
hubungan yang erat antara perilaku kawin yang diamati dengan jumlah keturunan, yang
sering kali menjadi penentu utama pelestarian hidup seekor hewan. Banyak hewan yang
terlibat dalam percumbuan, yang mengumumkan bahwa hewan yang terlibat tidak dirasa
mengancam, merupakan rangsangan kawin yang potensial. Pada sebagian besar spesies,
hewan betina memiliki lebih banyak inIestasi parental dibandingkan dengan hewan jantan
dan kawin secara lebih slektiI. Hewan jantan pada sebagian besar spesies berkompetisi untuk
mendapatkan pasangan kawin; hewan betina pada banyak spesies terlibat dalam penilaian,
atau penyeleksian hewan jantan dengan cirri-ciri yang lebih di sukai. Sistim perkawinan
sangat bervariasi pada spesies yang berbeda. Mereka bisa tidak promiscuous, monogamy,
atau poligami, yang sebagian tergantung pada inIestasi parental orang tua.
Interaksi sosila bergantung pada komunikasi yang beraneka ragam. Interaksi sosial
bergantung pada komunikasi, pengiriman inIormasi antar individu. Hormone-hormon yang
memiliki peranan dalam komunikasi dengan cara mempengaruhi pembentukan atau
modiIikasi struktur-struktur yang dimanIaatkan sebagai peralatan pemberi sinyal. ontonya.
Dimusim semi stickleback fantan mensekresikan hormon yang menghasilkan warna merah
terang di bagian bawah tubuhnya. Ketika fantan itu, di bawah pengaruh berkelafuan hormon
yang sama, mencari air dangkal untuk membangun sarang. Ia menfadi target yang mudah
bagi betina, yang tertarik oleh warna merahnya. Tubuh betina yang membengkak akibat

telur sendiri menarik perhatian fantan, dan tarian (renag) percumbuhan terfadi. Puncaknya
dalah pelepasan telur kedalam sarang oleh beina. Ketika betina meninggalkan sarang,
fantan mendefositkan spermanya dan berfaga-faga untuk merawat anak-anaknya yang
segera menetas. Hormon,dalam contoh ini, menghasilkan petunfuk-petunfuk visual yang
mengontrol perilaku percumbuhan dan kawin.
Hormon juga memainkan peran dalm komunikasi dengan cara meningkatkan dorongan
yang menghasilkan perilaku yang memiliki komponen komunokasi yang signiIikan. Hormon
juga bisa menginduksi pembentukan struktur-struktur yang merupakan pelepas dorongan dan
prilaku. Hal ini tampak jelas dalam kasus perkembangan seksual. Dengan perubahan-
perubahan hormonal, mungkin muncul struktur-struktur yang berkerja sebagai pelepas bagi
percumbuhan, menginduksi pergerakan kawin, dan membantu menyusun program-program
perawatan anak.
Feromon berIungsi sebagai penada perbatasan territorial, sinyal bahaya, dan regulator
perkembangan kasta pada serangga sosial. Salah satu contoh Iungsi Ieromon yang sangat
menarik adalah Ieromon pemakaman` yang berasal dari semut yang mati atau sekarat. Zat
kimia itu memobolisasi para perkerja yang ada di sekitarnya untuk mengeluarkan induvidu
yang sekarat itu dari kloni. Hal itu adalahperilaku yang berguna untuk menjaga kebersihan
dan kesehatan kelompok. Ketika Ieromon pemakaman itu diisolasi dan dioleskan pada seekor
semut perkerja yang sehat. Ini adalah reIleksi dari siIat perilaku yang luar biasa terprogram
pada masyarakat serangga.
Pada ahli ekologi perilaku mengusulkan bahwa perilaku kumunikasi spesiIik evolusi
karena pengaruhnya pada penerima mengmaksimalkan kelestarian hidup pengiring. Hipotesis
ini memasukkan inIormasi yang tepat (umumnya didalam suatu spesies) maupun penipuan
(umumnya antar spesies). Hewan berkomunikasi satu sama lain dengan sinyal Iisual
(penglihatan), auditori (pendengaran), atau listrik, atau melaui sinyal kimiawi yang disebut
veromon. Kajian kalasik dalam etologi menunjukkan bahwa lebah menggunakan pergerakan
kompleks (tarian) untuk mengirimkan inIormasi mengenai lokasi sumber makanan. Konsep
pelestarian hidup inklusiI dapat menjadi penyebab sebagian besar perilaku altruistik.
Perilaku altrulistik menguntungkan organisme lain dari spesies sejenis, umumnya
kerabat, dengan potensi pengorbanan individu yang sangat menolong itu. Keadaan ini
kelihatannya paling baik di jelaskan oleh kelestarian hidup inklusiI (inclusive Iitness) dan

meningkatkan poliIerasi dengan cara mengarahkan organisme untuk membantu organisme


lain yang memiliki bersama gen-gen tersebut. KoeIisien kekerabatan adalah proporsi gen
tinggi koeIisien kekerabatannya semakin besar, suatu mekanisme untuk menggalang
kelestarian hidup inklusiI yang disebut seleksi keluarga. Kerabat akhinya bisa
menguntungkan induvidu altruistik itu ketika menerima 'membalas kebaikan tersebut.
Interaksi kompetitiI melibatkan pembentukan hierarki dominasi (dominance hierarchy),
yaitu tangga kuasa (pecking order). Hal itu pada dasarnya merupakan penyusun status sosial
dimana peningkatan timbul dari agresi-agresi acak. Toritorialitas adalah sebuah tipe lain
interaksi kompetitiI yang melibatkan pembentukan wilayah tetap oleh suatu induvidu dalam
rentang waktu yang cukup lama.



















ESIMPULAN

Perilaku hewan pada ekosistem dapat berbeda antara spesies yang satu dengan spesies yang
lain. Perbedaan tingkah laku/perilaku hewan dalam suatu ekosistem dapat terjadi karena
pengaruh gen dan Iaktor-Iaktor lingkungan. Perilaku hewan bersiIat tetap dari sisi
perkembangnnya. Pokok utama mengenai perilaku bawaan adalah bahwa kisaran perbedaan
lingkungan pada induvidu kelihatannya tidak mengubah perilaku. Penyebab utama perilaku
bawaan adalah pelaksanaan beberapa perilaku yang terjadi dengan sendirinya. Tanpa
pengalaman spesiIik sebelumnya, dapat memaksimalkan kelestarian hidup sampai ketitik dimana
gen-gen untuk perilaku yang berbeda telah hilang dalam seekor /sekelompok hewan melakukan
pembelajaran yang merupakan modiIikasi perilaku yang didasarkan pada pengalaman induvidu
itu sendiri. Pembelajaran dimulai dari perubahan berlaku sederhana hingga ke penyelesaian
masalah yang kompleks biasanya pembelajaran dilakukan oleh induk kepada anak-anaknya yang
berperan penting dalam pembelajaran. Banyak sekali hewan yang dapat belajar dari
mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainya. Pembelajaran juga dapat dilakukan
dengan cara coba-coba, praktek serta latihan dapat menjelaskan dasar utama hewan melakukan
pembelajaran. Selain pembelajaran hewan juga memiliki perilaku yang disebut kognisi ini
biasanya berhubungan dengan perilaku migrasi pada hewan tertentu dan pada musim tertentu
pula.
Hewan juga memiliki perilaku sosial dan sosiobiologi, perilaku sosial disini di artikan
setiap jenis interaksi antara dua hewan atau lebih, umumnya dari spesies yang sama. Perilaku
sosial kompotitiI sering kali menggambarkan pertandingan untuk menunjukkan sumber daya.
Perilaku ini meliputi perilaku agonistik, hierarki dominasi teritorialitas. Hal ini penting yang
harus ada adalah mengenai perilaku hewan dalam perkawinan karena alat hubungannya dengan
kelestarian hidup hewan. Semua perilaku hewan ini sangat erat hubungannya dalam proses
adaptasi, seleksi alam, dalam suatu ekosistem.




DAFTAR PUSTAA

ambell, N.., Reece, J,B.dan Mitchell, L.G. . Biologi Edisi 3. Jakatra: Erlangga
Freid, G.H., Hademenos, G.J. 2005. Schoum biologi edisi 2 . Jakarta: Erlangga