Anda di halaman 1dari 12

SNI 19-6466-2000

SNI
Standar Nasional Indonesia

Tata cara evaluasi lapangan untuk sistem peresapan pembuangan air limbah rumah tangga

ICS

Badan Standarisasi Nasional

BSN

DAFTAR ISI

Daftar isi 1 2 3 4 5 6 7 Ruang lingkup Acuan Kemiringan lahan Pemboran tanah dan evaluasi Evaluasi terhadap perkolaso atau permeabilitas Verifikasi tanah Persyaratan lapangan

LAMPIRAN A : Gambar-gambar

Tata cara evaluasi lapangan untuk sistem peresapan pembuangan air limbah rumah tangga

1 Ruang Lingkup Tata cara ini mengatur tentang cara evaluasi laoangan untuk sistem peresapan pembuangan limbah air rumah tangga. 1.1 Evaluasi lapangan Evaluasi lapangan harus termasuk kondisi tanah, kandungan dan permeabilitas, kedalaman sampai daerah tanah jenuh. Kedalaman sampai bantuan dasar, kemiringan, posisi laskap, seluruh syarat yang melatarbelakangi dan berpotensi pada banjir. Data pengujian tanah harus mengevaluasi lapisan tanah yang tidak terganggu dan untuk lapisan vertikal, titik tanda (benchmark) harus ditetapkan. Data evaluasi harus dilaporkan dalam format yang disetujui. Laporan mengenai seluruh pengamatan lapangan harus dibuat dalam 3 hari terhitung sejak pengujian selesai dilakukan. 1.2 Lahan pengganti Pada setiap bidang tanah yang telah dikembangkan, daerah yang cocok dan sesuai berdasarkan pengujian tanah, lokasi sistem dan persyaratan lahan dari peraturan ini, atau lahan cadangan harus ditetapkan. Apabila data uji pemboran di daerah lahan cadangan sistem sama dengan data di daerah yang diusulkan, pengujian perkolasi tidak diperlukan. 1.3 Kondisi lapangan yang tidak memenuhi syarat Bila kondisi lahan tidak diijinkan sebagai lahan cadangan sesuai dengan peraturan ini dan sistem cadangan lain akan digunakan, maka sistem tersebut dengan butir 105 pada International Private Sewage Disposal Code 1995. 1.4 Lahan yang tidak terganggu Lahan cadangan tidak boleh terganggu perkembangannya, sehingga lahan tersebut menjadi tidak cocok. Lahan cadangan tidak boleh digunakan untuk pembangunan gedung, tempat parkir, kolam renang di bawah tanah atau penggunaan lain yang akan berpengaruh pada lahan cadangan. 2 Acuan International Private Sewage Disposal Code 1995.

3 Kemiringan Lahan 3.1 Umum Sistem peresapan secara konvensional tidak boleh ditempatkan pada tanah yang mempunyai kemiringan lebih besar dari 20%. Sistem peresapan tanah secara konvensional harus ditempatkan minimal 6.096 m dari puncak lahan dengan kemiringan yang lebih besar dari 20%, kecuali bila bagian tertinggi lapisan dari lapisan sistem terletak pada atau di bawah bagian bawah dari saluran pembuangan jalan yang bersebelahan. Bila dijumpai syarat kemiringan lahan yang lebih ketat untuk sistem peresapan tanah, selain sistem peresapan tanah yang konvensional, persyaratan kemiringan lahan yang lebih ketat pada detail desain dari peraturan ini harus diberlakukan. 4 Pemboran Tanah dan Evaluasi 4.1 Pemboran tanah dan deskripsi dari profil tanah Pemboran tanah harus dilakukan di setiap lokasi tanpa memperhatikan tipe rencana sistem pembuangan limbah rumah tangga. Pemboran harus lebih dari 1 m di bawah dasar dari sistem yang diusulkan. Pemboran harus dalam ukuran yang sesuai sehingga mendapatkan karakteristik tanah yang penting untuk sistem pembuangan limbah cair di lapangan. Data pemboran harus digunakan untuk mendapatkan tanah yang cocok di lapangan untuk daerah

peresapan tanah sementara atau tetap dan kedalaman dari lapisan tanah keras. Pemboran harus dilakukan sebelum Uji Perkolasi untuk mendapatkan apakah tanah tersebut cocok dan aman untuk diuji perkolasi dan, bila cocok, pada kedalaman berapa uji perkolasi tersebut harus dilakukan. Penggunaan bor mesin untuk pemboran tanah dilarang. Pemboran tanah harus dilakukan dan dilaporkan sesuai dengan butir 4.1.1 sampai butir 4.1.5. Lokasi tertentu tidak menggunakan backhoe, pemboran harus dilakukan dengan bor tangan. (Rujukan ASTM D 1452 90). 4.1.1 Jumlah Minimum harus dilakukan 3 pemboran untuk setiap tempat penyerapan tanah. Bila perlu lebih banyak pemboran tanah dibuat untuk ketelitian dari evaluasi lapangan. Pemboran harus dilakukan sampai kedalaman sekurang-kurangnya 1 m di bawah kedalaman sistem yang diusulkan. Pengecualian : Pada lahan baru, persyaratan dari enam pemboran (tiga untuk lahan terpilih dan tiga untuk lahan cadangan) dapat dikurangi menjadi lima bila lahan terpilih dan lahan cadangan berdampingan dimana sebuah pemboran harus dibuat di setiap ujung luar daerah yang berdampingan tersebut dan pemboran kelima dibuat antara daerah sistem (lihat Gambar B-1, Lampiran B). 4.1.2 Lokasi Setiap lokasi lubang bor harus dengan teliti ditempatkan dan dihubungkan dengan elevasi vertikal dan horizontal dari titik acuan. Laporan tentang lokasi pemboran harus digambar dengan skala atau mempunyai ukuran horizontal yang jelas uang menunjukkan antara titik pemboran dan titik acuan horizontal. 4.1.3 Deskripsi tanah Deskripsi dari profil tanah harus dicatat untuk setiap pemboran. Ketebalan dari setiap perbedaan lapisan tanah yang didapat (dalam mm) harus dicantumkan. Setiap lapisan tanah harus dibedakan berdasarkan warna, tekstur, butiran tanah atau lapisan tanah keras. Kedalaman harus diukur dari permukaan tanah. 4.1.4 Butiran tanah Daerah peresapan tanah secara tetap atau musiman harus diperkirakan pada daerah tertinggi dari butiran tanah. Petugas berwenang harus menentukan deskripsi yang rinci dari butiran tanah pada tepi lapangan. Bongkahan, ukuran, kejelasan dan warna dari butiran tanah harus dijelaskan dari hal berikut: Bongkahan disebutkan: sedikit bila warna butiran mencakup kurang dari 2% dari permukaan yang terlihat. biasa bila warna butiran mencakup 2 sampai 20% dari permukaan yang terlihat. banyak bila warna butiran mencakup lebih dari 20% dari permukaan yang terlihat. Ukuran merujuk pada panjang dari butiran diukur sepanjang dimensi terpanjang dan dibagi sebagai: halus bila butiran kurang dari 5 mm. sedang bila butiran dari 5 mm sampai 15 mm. kasar bila butiran lebih besar dari 15 mm. Kejelasan mengacu pada perbedaan warna antara butiran tanah dan warna latar belakang dari tanah dan ditentukan sebagai: lemah bila butirannya nyata tetapi terlihat dengan alat pembesar. tenang bila butiran dapat terlihat baik tetapi tidak terlalu menarik perhatian. bagus bila butiran nyata dan menyolok. Warna-warna dari berbagai butiran tersebut harus terlihat.

4.1.5 Pengamatan terhadap air tanah Kedalaman dari air tanah, bila ada, harus dilaporkan. Pengamatan terhadap air tanah harus dilaporkan sampai dimana air tanah terlihat pada lubang bor tanah atau ketinggian tertinggi dari dinding samping muka air tanah terhadap Pemboran. Pengukuran harus dibuat dari permukaan tanah. Tanah yang berada di atas permukaan air pada lubang bor harus diperiksa terhadap keberadaan butiran. 4.2 Pola warna tidak menandakan kejenuhan tanah Kondisi tanah berikut harus dilaporkan, tetapi tidak harus diartikan sebagai pola warna sehubungan dengan kebasahan atau kejenuhan. Profil tanah dengan perubahan tekstur yang tiba-tiba dengan tekstur tanah yang halus mengambang lebih dari 1,20 m dari tanah tidak berbutir, lempung-pasiran atau tanah kasar dapat mempunyai daerah butiran untuk bahan bertekstur halus. Bila daerah butiran kurang dari 0,30 m tebalnya dan terletak langsung di atas perubahan tekstur, sistem peresapan tanah harus dibuat di daerah lempung-pasiran atau bahan kasar di bawah lapisan butiran. Lahan dapat disebut tidak sesuai bila sejumlah butiran tanah timbul antara bahan pasiran. Petugas berwenang harus mempertimbangkan beberapa tanah lumpur pasiran kasar dimasukkan sebagai bahan kasar. 4.2.1 Pola warna tanah lainnya Timbulnya butiran tanah tidak berhubungan dengan daerah jenuh tanah yang tetap ataupun musiman. Contoh dari kondisi tanah tersbentuk tidak terbatas pada masing-masing kejadian bahwa butiran tanah terbentuk dan bahan galian glacial yang tidak sering terkena pengaruh cuaca atau bahan galian glacial yang secara alamiah berwarna abu-abu, termasuk berbagai bahan penguat dalam beberapa tingkat penyebarannya; endapan kapur dalam profil terbagi dari calcareous tinggi sebagai bahan induk; endapan lumpur terselubung berwarna terang dalam permukaan tanah keras; dan butiran tanah biasanya berorientasi vertikal sepanjang saluran akar tua atau busuk dengan noda gelap organik yang biasanya muncul di pusat daerah butiran tanah. 4.2.2 Laporan khusus Petugas yang mengevaluasi lapangan harus melaporkan setiap kondisi butiran tanah. Pengamatan terhadap butiran tanah yang tidak berhubungan dengan kejenuhan tanah harus dilaporkan. Bila diminta, petugas berwenang harus membuat penjelasan tentang kesesuaian dari lapangan. 4.3 Lapisan tanah keras Kedalaman lapisan tanah keras, kecuali batuan pasir, harus ditentukan pada kedalaman pemboran tanah bila lebih besar dan 50% bahan terpengaruh cuaca setempat terkonsolidasi. Lapisan tanah keras dan batuan pasir harus ditentukan bila timbul peningkatan tahanan terhadap penetrasi daun pisau. 4.4 Endapan alluvial dan colluvial Sistem peresapan di bawah permukaan tanah tidak boleh ditempatkan pada endapan alluvial atau colluvial yang dangkal, karena akan memperpanjang waktu penjenuhan atau kemungkinan banjir. 5 Evaluasi terhadap Perkolaso atau Permeabilitas 5.1 Umum Permeabilitas tanah pada sistern peresapan yang diusulkan harus ditentukan dengan uji perkolasi atau evaluasi terhadap permeabilitas. 5.2 Uji perkolasi dan prosedurnya Sekurangnya tiga uji perkolasi untuk setiap daerah sistem harus dilakukan. Lubang harus ditempatkan merata di lokasi dan bagian bawah dan kedalaman sistem penyerapan yang diusulkan (Rujukan SNI 03-2411-1991).

5.2.1 Lubang uji perkolasi Lubang uji harus digali atau dibor. Lubang uji harus rnempunyai ukuran 0,10 m x 0,20 m. Bagian bawah dan tepi lubang harus digores dengan alat berujung tajam untuk memperlihatkan tanah asli. Semua bahan bebas harus dibuang dan lubang, dan bagian bawah harus ditutup dengan kerikil atau pasir kasar setebal 0,05 m. 5.2.2 Prosedur uji, tanah pasiran Lubang harus diisi dengan air bersih setinggi minimum 0,30 m dan bagian bawah lubang untuk pengujian pada tanah pasiran. Waktu yang diperlukan oleh sejumlah air tersebut untuk meresap harus dicatat, dan prosedur ini harus diulang bila air pada saat dituang ke lubang meresap dalam 10 menit atau kurang. Prosedur dan pengujian adalah sebagai berikut : Air harus ditarnbah terus sampai pada ketinggian 0,15 m di atas kerikil atau pasir kasar. Oleh sebab itu, dari titik rujukan yang tetap, ketinggian air harus diukur setiap selang waktu 10 menit selama 1 jam. Bila 0,15 m air meresap dalam waktu kurang dan 10 menit, selang waktu yang lebih pendek antara pengukuran dapat dilakukan, tetapi dalam kasus ini kedalaman air harus melampaui 0,15 m. Bila 0,15 m air meresap dalam waktu kurang dan 2 menit, pengujian harus dihentikan dan nilai yang kurang dari 3 menit per 25,4 mm harus dilaporkan. Tinggi akhir dari air yang dituangkan harus digunakan untuk menghitung nilai perkolasi. Tanah yang tidak memenuhi persyaratan di atas harus diuji sesuai dengan persyaratan pada butir 4.2.3. 5.2.3 Prosedur uji, tanah lainnya Lubang harus disi air bersih, dan minimum air setinggi 0,30 m dan bagian bawah lubang harus dipelihara selama selang waktu 4 jam dengan pengisian kembali bila diperlukan atau dengan menggunakan siphon otomatis. Air yang tersisa di dalam lubang jangan dibuang. Selanjutnya tanah akan mengembang tidak kurang dari 16 jam dan tidak lebih dan 30 jam. Segera setelah selang waktu pengembangan tanah, pengukuran untuk mendapatkan nilai perkolasi harus dilakukan sebagai berikut: Setiap tanah yang jatuh ke dalam lubang harus dibuang, dan ketinggian air agar dijaga setinggi 0,15 m di atas kerikil atau pasir kasar. Dan titik rujukan tetap mi, ketinggian air harus diukur setiap selang waktu 30 menit selama 4 jam, kecuali bila terdapat variasi dua penurunan muka air yang lebih besar dan 1,59 mm. Sekurangnya tiga penurunan muka air harus diamati dan dilaporkan. Bila hampir kosong, lubang harus diisi kembali dengan air bersih sampai mencapai ketinggian tidak lebih dan 15 m di atas kerikil atau pasir kasar. Pengaturan ketinggian muka air tidak boleh dilakukan selama waktu ketiga pengukuran kecuali pada batas pengukuran terakhir dan penurunan muka air. Bila untuk 0,15 m air meresap kurang dan 30 menit, selang waktu antara pengukuran harus 10 menit dan pengujian berjalan dalam 1 jam. Ketinggian air tidak boleh melebihi 0,127 m setiap saat selama perioda pengukuran. Penurunan yang terjadi selama perioda pengukuran akhir harus dipakai untuk menghitung nilai perkolasi.

5.2.4 Prosedur uji, tanah lainnya Alat uji perkolasi secara mekanis harus dan tipe yang disetujui. 5.3 Evaluasi terhadap permeabilitas Tanah harus dievaluasi untuk perkiraan perkolasi berdasarkan dan struktur dan teksturnya sehubungan dengan cara evaluasi tanah yang baku. Pemboran harus dilakukan sesuai dengan persyaratan butir 5.2 tentang cara evaluasi tanah. 6 Verifikasi Tanah 6.1 Verifikasi Bila diperlukan oleh petugas, kedalaman sampai butiran tanah, kedalaman sampai muka air tanah tinggi, tekstur tanah, kedalaman sampai tanah keras, dan kemiringan tanah harus disetujui oleh petugas. Petugas harus menetapkan, ukuran galian yang harus disediakan

untuk pengesahan data pemboran tanah. Hasil dan uji perkolasi atau evaluasi terhadap permeabilitas harus menjadi bagian terpenting dari pengesahan petugas. Juga harus ditetapkan bahwa uji perkoIasi dilakukan dibawah pengawasan. Bila kondisi tanah asli telah berubah dengan penimbunan atau metode lain yang digunakan untuk memperbaiki daerah basah, petugas harus mengadakan pengamatan terhadap tingkat muka air tinggi di bawah kondisi jenuh air. Peta tanah yang rinci, atau informasi lain yang perlu, harus digunakan untuk mendapatkan perkiraan nilai perkolasi dan karakteristik tanah lainnya. 6.2 Monitoring terhadap muka air tanah Pemilik tanah atau Pengembang harus berupaya mengadakan dokumentasi bahwa butiran tanah atau pola warna tanah lainnya pada lahan tertentu bukan merupakan indikasi dari kondisi tanah jenuh musiman karena tingginya permukaan air tanah. Dokumentasi harus dibuat dengan melakukan pengamatan langsung terhadap muka air tanah. Monitoring harus sesuai dengan prosedur yang tertulis pada butir 6.2.1 sampai butir 6.2.6. 6.2.1 Presipitasi Monitoring harus dilakukan pada suatu waktu dalam tahun dirnana timbul muka air tanah yang maksimum. Untuk mengetahui pada musim biasa dimana lapangan rnempunyai muka air tanah setempat, untuk daerah tanah berpasir yang luas, fluktuasi selama sikius beberapa harus disertakan. Pada kasus demikian, data yang didapat dan BMG ( Badan Meteorologi dan Geofisika) harus digunakan untuk menentukan bila muka air tanah setempat sama atau mendekati permukaan normal dan muka air tanah. 6.2.2 Saluran air buatan Daerah yang dimonitor harus diperiksa terhadap saluran air dan selokan terbuka yang dapat mengakibatkan tingginya muka air tanah asli. Bila faktor-faktor di atas dimasukkan, informasi dari lokasi, rancangan, pertanggungjawaban terhadap pemilikan dan pemeliharaan saluran tersebut harus ditetapkan. Dokumentasi harus disediakan untuk mernperlihatkan bahwa jaringan saluran mempunyai lubang pengeluaran yang baik dan selalu terpelihara. Areal yang dipengaruhi oleh saluran pertanian tidak cocok untuk pemasangan sistem. 6.2.3 Prosedur Pemilik atau agen dan pemilik hanis memberitahukan pada petugas berwenang secara tertulis tentang kesungguhannya untuk memonitor. Biasanya petugas tersebut akan rnemeriksa hasil monitoring di lapangan sekurangnya satu kali selama waktu dimana kondisi tanah jenuh diharapkan. Sekurangnya tiga buah surnur hrus dimonitor di lapangan untuk sistem yang diusulkan dan lahan cadangannya. Biasanya petugas berwenang mensyaratkan lebih dari tiga tenpat monitoring, dan petugas pengevaluasi lapangan harus memberikan nasihatnya secara tertulis. 6.2.4 Monitoring terhadap rancangan sumur Sekurangnya dua buah sumur harus dibuat dengan kedalaman minimum 1,80 m di bawah permukaan tanah dan minimum 1,00 m di bawah kedalaman sistem yang dirancang. Oleh karena itu, bila lapisan tanah butiran melebihi lapisan permeabel bukan-butiran, sekurangnya sebuah sumur harus dibuat diantara lapisan butiran. Monitoring pada kedalaman yang lebih harus disyaratkan, sehubungan dengan kondisi lapangan. Petugas evaluasi lapangan harus menentukan kedalaman dari setiap sumur monitor di setiap daerah tertentu. Semua kedalaman tersebut harus mendapat persetujuan. Sumur monitor adalah pipa pejal yang dipasang di dalam lubang bor. Ukuran pipa minimum adalah 25 mm dan maksimum 102 mm. Lubang bor harus minimum 102 mm dan maksimurn 203 mm lebih besar dari pipa (lihat Gambar B-3, Lampiran B)

6.2.5 Pengamatan Pengamatan pertama harus dilakukan pada atau sebelum hari penggunaan. Pengamatan harus dilakukan setiap 7 hari atau kurang sampai dengan tanggal penggunaan atau sampai lahan ditentukan tidak cocok, tergantung mana yang timbul terlebih dahulu. Bila air yang diamati berada pada kedalaman kriitis, pengamatan harus dilakukan dan lahan harus dianggap sudah tidak cocok. Bila air tidak berada pada kedalaman kritis pada pengamatan kedua, pengamatan harus dilanjutkan sampai hari penggunaan. Bila untuk kedua pengamatan yang terpisah 7 hari menunjukkan adanya air di atas kedalaman kritis, lahan dianggap tidak cocok, dan petugas berwenang harus diberi tahu secara tertulis. Bila curah hujan mencapai (12,7 mm) selama 24 jam, monitoring pengamatan lapangan harus dilakukan lebih sering pada selang waktu yang lebih singkat. 6.2.6 Data laporan Bila pemantauan menunjukkan kondisi tanah yang jenuh, data berikut harus disampaikan secara tertulis: lokasi peresapan elevasi sumur deskripsi profil tanah susunan lapisan tanah dan hasil pemetaan (jika ada) kedalaman air yang diamati data presipitasi (curah hujan) setempat harian selama pemantauan. Bila hasil pemantauan menunjukkan bahwa lahan tersebut cocok, data berikut harus disampaikan secara tertulis: lokasi dan kedalaman lubang uji elevasi permukaan sumur deskripsi profil tanah susunan lapisan tanah dan hasil pemetaan (jika ada) kedalaman air yang diamati data presipitasi (curah hujan) setempat harian selama pernantauan. Permintaan untuk pemasangan sistem peresapan tanah harus dibuat sesuai dengan butir 106. pada International Private Sewage Disposal Code 1995, mengenai perijinan untuk administrasi. 7 Persyaratan Lapangan 7.1 Lokasi lapisan peresapan tanah Kemiringan permukaan dari setiap sistem peresapan tanah harus ditempatkan/diletakkan pada titik yang lebih rendah daripada kemiringan perrnukaan setiap permukaan sumur yang berdekatan, atau tempat penampungan air yang ada, atau yang bersebelahan. Bila dimungkinkan, lokasi harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga drainase air permukaan dari lokasi tidak langsung mengalir ke sumur atau reservoir. Sistem peresapan tanah harus ditempatkan pada jarak horizontal minimum dan berbagai elemen yang tercantum pada Tabel 6.1. Sistem pembuangan limbah rurnah tangga di daerah yang dipadatkan, seperti tempat parkir atau jalan, dilarang. Air permukaan harus dialirkan keluar dan lokasi peresapan Tanah yang ada atau dan lahan yang bersebelahan.

Tabel 6.1 Jarak horizontal minimum bagi sistem peresapan tanah


Elemen Tangki air Bangunan hunian, di bawah tingkat fonasi Bangunan hunian, pada tingkat lantai Danau, muka air tinggi Garis lot (lot line) Reservoir/bak penampung air Selokan jalan Mata air Hulu sungai Kolam renang Bangunan bukan hunian Pipa utama Pelayanan air Sumur air Jarak horizontal minimum (m) 15,24 7,62 4,58 15,25 1,52 15,24 3,05 30,48 15,24 4,58 15,24 15,24 3,05 15,24

7.2 Muka air tanah, permukaan keras atau peresapan tanah secara perlahan Jarak minimum antara sistem resapan dengan tinggi muka air tanah atau lapisan batuan adalah 1,00 m. Tanah dengan kecepatan perkolasi 60 menit/25 mm atau lebih harus mempunyai kedalaman sistem peresapan minimal 1,00 m di bawah sistem peresapan yang diinginkan. Sistem peresapan tanah konvensionil mempunyai jarak 1,40 m dan permukaan tanah asli. 7.3 Kecepatan perkolasi untuk tipe parit atau bidang Sistem peresapan bawah tanah tipe parit atau bidang, tidak harus dipasang bila tidak satupun dari 3 pengujian mempunyai nilai kecapatan perkolasi lebih rendah dari 60 menit/25 mm. Nilai perkolasi yang lebih rendah harus digunakan untuk menentukan luas bidang peresapan. 7.4 Kecepatan perkolasi untuk tipe lubang rembesan Uji perkolasi dilaksanakan pada masing-masing rembesan mendatar di bawah pipa inlet untuk lubang rembesan. Untuk lapisan tanah yang mempunyai perkolasi lebih rendah dari 30 menit/25 mm, tidak dimasukkan ke dalam perhitungan daerah resapan. Kecepatan perkolasi terendah, harus digunakan dalam menentukan daerah resapan. 7.5 Peta tanah Bila sebidang tanah rnempunyai banyak penghambat buangan cairan setempat, peta tanah dapat digunakan sebagai data penunjang dasar penolakan untuk pembangunan sistem. Meskipun demikian, dengan alasan yang kuat, pemilik tanah masih diperbolehkan menggunakan lahan tersebut untuk lokasi pembuangan limbah cair setempat. 7.6 Daerah peresapan Sistem peresapan tanah tidak boleh dipasang/dibuat, kecuali setelah menerima persetujuan secara tertulis. 7.6.1 Penentuan daerah resapan Persetujuan dan penentuan daerah resapan konvensionil dan sistem, harus berdasarkan alasan yang berhubungan dengan persyaratan. 7.6.2 Tanah keras Suatu lokasi dengan kedalaman lapisan tanah keras 1,4 m tetapi kurang dari 0,76 m di atas tanah batuan, bila tekstur tanah aslinya adalah pasir, lahan harus ditimbun dengan tanah asli

tersebut atau dengan agregat kasar untuk mengatasi kendala lahan tersebut. Material bahan timbunan tidak boleh mempunyai tekstur yang lebih halus dari tanah aslinya. 7.6.3 Air tanah tinggi Lokasi dengan ketinggian muka air tanah < 1,4 m, dengan tekstur tanah aslinya adalah pasir atau pasir lanauan, diijinkan ditimbun sesuai dengan persyaratan butir 6.6.1 atau butir 6.6.2. 7.6.4 Tanah asli Lokasi yang mempunyai tekstur tanah yang lebih halus dari pasir, tidak boleh digunakan untuk sistem penyerapan. 7.6.5 Pemantauan Lokasi yang mernpunyai tinggi muka air tanah 0,9 m atau kurang, harus dikupas lapisan tanah bagian atasnya, serta harus dipantau batas tinggi muka air tanahnya sesuai dengan persyaratan butir 5.2. 7.6.6 Pemeriksaan penyerapan Penempatan bahan resapan harus diperiksa oleh petugas yang berwenang. 7.6.7 Persyaratan desain Daerah resapan harus cukup luas untuk menampung sistem saluran yang dangkal dan lahan cadangan pengganti sistem. Areal lokasi untuk penyerapan harus ditentukan berdasarkan nilai percepatan perkolasi tanah asli dan penggunaan bangunan. Bila beberapa bagian dari sistem saluran atau lahan pengganti berada pada resapan, peresapan harus ditambah 6,10 m di luar semua sisi kedua sistem tersebut sebelum kemiringan tanah/slope dibentuk. Pemboran tanah untuk uji perkolasi untuk menentukan tekstur tanah dan kedalaman muka air tanah atau lapisan tanah keras, harus dilakukan sebelum penempatan/penimbunan bahan resapan. Vegetasi dan lapisan tanah atas harus dibuang/dikupas sebelum penempatan/penimbunan bahan resapan. Kemiringan pada ujung daerah resapan harus mempunyai perbandingan horizontal terhadap vertikal rnaksimurn 3 : 1, dengan jarak pemisah 6,10 m untuk daerah pemeliharaan. 7.7 Kemiringan yang digunakan Lahan dengan kerniringan yang melebihi syarat kemiringan pada butir 3.1 tidak digunakan, kecuali permukaan tanahnya ditata dan dibentuk ulang sesuai dengan ketentuan pada butir 7.7.1 sampai butir 7.7.3. 7.7.1 Penyelidikan lokasi Hasil penelitian tanah harus memperlihatkan lahan kedalaman tanah yang cukup yang sesuai untuk persyaratan tanah di atas lapisan tanah keras dan muka air tanah sesudah perubahan kemiringan. Evaluasi lokasi yang lengkap harus dikemukakan setelah perubahan kemiringan dibentuk. 7.7.2 Penempatan sistem Sistem peresapan tanah harus dibuat di daerah galian padat dan daerah yang sudah dirubah, tidak boleh di daerah timbunan. Daerah resapan pada lokasi yang dirubah diijinkan dibuat pada jarak 3,60 m dari puncak kemiringan kritis dan tersedia jarak 1,80 m dengan tanah asli antara ujung lahan sistem dengan sisi bawah kemiringan yang telah dirubah. 7.7.3 Pengaman lokasi Semua kemiringan lahan yang telah dirubah harus disesuaikan sedemikian rupa, sehingga drainase air permukaan dapat mengalir keluar dan lokasi. Semua Areal yang dirubah harus ditanami dengan rumput dan dibuat terasering untuk mengendalikan erosi (lihat Gambar A-1, Lampiran A).

Lampiran A Gambar-gambar

Gambar A-1 Contoh rencana perubahan kemiringan lahan

Gambar A-2 Contoh lokasi pemboran tanah untuk dua area peresapan yang berdekatan

Gambar A-3 Sumur monitor untuk rancangan sumur