Anda di halaman 1dari 8

HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA NEGARA MATERI ( I )

MENURUT F. J. STAHL BAHWA NEGARA HUKUM FORMAL HARUS MEMENUHI 4 (EMPAT ) PERSYARATAN : 1. PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA 2. ADANYA PEMISAHAN/PEMBAGIAN KEKUASAAN 3. PEMERINTAHAN BERDASARKAN PERUNDANG-UNDANGAN 4. ADANYA PERADILAN TATA USAHA NEGARA SUMBER HUKUM ADMINISTRASI NEGARA : 1. UNDANG-UNDANG 2. PRAKTEK ADMINISTRASI NEGARA 3. YURISPRUDENSI 4. DOKTRIN/ PENDAPAT PARA AHLI HUKUM ADMINISTRASI KESULITAN KODIFIKASI H.A.N. MENURUT DONER : 1. PERATURAN H.A.N BERUBAH LEBIH CEPAT DAN SERING SECARA MENDADAK 2. PEMBUAT PERATURAN H.A.N SELAIN UU TIDAK BERADA DALAM SATU TANGAN, HAMPIR SEMUA DEPATEMEN DAN PEMDA MENGELUARKAN PERATURAN (SUDAH ADA RUU ADMINISTRASI PEMERINTAHAN YANG AKAN MENJADI HUKUM MATERIEL DI BIDANG ADMINISTRASI) UU NOMOR 5 TAHUN 1986 YANG DI PERBAHARUI DENGAN UU NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA BERSIFAT DAN MENGATUR HUKUM FORMAL DAN HUKUM MATERIEL ASAS-ASAS UMUM HUKUM ACARA YANG TERMASUK ASAS HUKUM ACARA TUN : 1. PARA PIHAK HARUS DI DENGAR (AUDI ALTERAM PARTEM) 2. KESATUAN BERACARA 3. PENYELENGGARAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN YANG MERDEKA DAN OBJEKTIF 4. PERADILAN DILAKUKAN DENGAN SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN 5. SIDANG TERBUKA UNTUK UMUM 6. PERADILAN YANG BERJENJANG 7. MUSYAWARAH UNTUK MENCAPAI MUFAKAT (PENYELESAIAN MELALUI PENGADILAN HENDAKNYA MERUPAKAN SARANA TERAKHIR/ULTIMUM REMIDIUM) ASAS KHUSUS YANG BERLAKU DALAM HUKUM ACARA PERADILAN TUN : 1. HAKIM BERPERAN AKTIF DALAM PERSIDANGAN GUNA MEMPEROLEH KEBENARAN MATERIEL MELALUI PEMBUKTIAN BEBAS YANG TERBATAS 2. SUATU GUGATAN TUN PADA DASARNYA TIDAK BERSIFAT MENUNDA PELAKSANAAN KTUN 3. SENGKETA MENGENAI SAH TIDAKNYA SUATU KTUN

PADA PASAL 1 AYAT 3 UU PTUN : KTUN ADALAH PENETAPAN TERTULIS YANG DIKELUARKAN OLEH BADAN ATAU PEJABAT TATA USAHA NEGARA YANG BERISI TINDAKAN HUKUM TUN YANG BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU YANG BERSIFAT KONKRET, INDIVIDUAL, DAN FINAL YANG MENIMBULKAN AKIBAT HUKUMJ BAGI SESEORANG ATAU BADAN HUKUM PERDATA.

TERGUGAT ADALAH BADAN ATAU PEJABAT TUN YANG MENGELUARKAN KEPUTUSAN BERDASARKAN WEWENANG YANG ADA PADANYA ATAU YANG DILIMPAHKAN KEPADANYA, YANG DI GUGAT OLEH ORANG ATAU BADAN HUKUM PERDATA.

URUSAN PEMERINTAH ADALAH KEGIATAN YANG BERSIFAT EKSEKUTIF.

PENETAPAN TERTULIS TERUTAMA MENUNJUK PADA ISI DAN BUKAN PADA BENTUK KEPUTUSAN YANG DIKELUARKAN BADAN ATAU PEJABAT TUN, GUNA KEMUDAHAN SEGI PEMBUKTIAN. SEBUAH MEMO ATAU NOTA DAPAT MEMENUHI SYARAT TERTULIS TERSEBUT DAN AKAN MERUPAKAN SUATU KEPUTUSAN BADAN ATAU PEJABAT TUN JIKA SUDAH JELAS : A. BADAN ATAU PEJABAT TUN MANA YANG MENGELUARKANNYA B. MAKSUD SERTA MENGENAI HAL APA ISI TULISAN TERSEBUT C. KEPADA SIAPA TULISAN ITU DITUJUKAN DAN APA YANG DITETAPKAN DI DALAMNYA BERSIFAT KONKRET, YAITU KEPUTUSAN YANG TIDAK ABSTRAK TETAPI BERWUJUD, TERTENTU ATAU DAPAT DITENTUKAN, MISAL: PEMBERHENTIAN X SEBAGAI PNS. BERSIFAT INDIVIDUAL ARTINYA KEPUTUSAN TUN ITU TIDAK DITUJUKAN UNTUK UMUM, TETAPI TERTENTU BAIK ALAMAT MAUPUN YANG DITUJU, KALAU YANG TUJU LEBIH DARI SATU ORANG, TIAP-TIAP NAMA ORANG TERKENA KEPUTUSAN ITU HARUS DISEBUTKAN. BERSIFAT FINAL ARTINYA SUDAH DEFINITIF DAN KARENANYA DAPAT MENIMBULKAN AKIBAT HUKUM. KEPUTUSAN YANG MASIH MEMERLUKAN PERSETUJUAN DARI INSTANSI ATASAN ATAU INSTANSI LAIN BELUMLAH BERSIFAT FINAL, KARENANYA BELUM DAPAT MENIMBULKAN SUATU HAK ATAU KEWAJIBAN PADA PIHAK YANG BERSANGKUTAN.

SUBJEK DAN OBJEK PTUN SUBJEK DALAM PTUN YAITU PENGGUGAT DAN TERGUGAT TERGUGAT (PASAL 1 AYAT 6) YAITU BADAN ATAU PEJABAT TUN YANG MENGELUARKAN KEPUTUSAN BERDASARKAN WEWENANG YANG ADA PADANYA ATAU YANG DILIMPAHKAN KEPADANYA SEBAGAI JABATAN TUN YANG MEMILIKI KEWENANGAN PEMERINTAH, SEHINGGA DAPAT MENJADI PIHAK TERGUGAT DALAM SENGKETA TUN DAPAT DIKELOMPOKAN DALAM: 1. INSTANSI RESMI PEMERINTAH YANG BERADA DI BAWAH PRESIDEN SEBAGAI KEPALA EKSEKUTIF 2. INSTANSI-INSTANSI DALAM LINGKUNGAN KEKUASAAN NEGARA DI LUAR LINGKUNGAN EKSEKUTIF YANG BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN, MELAKSANAKAN SUATU URUSAN PEMERINTAHAN 3. BADAN-BADAN HUKUM PRIVAT YANG DIDIRIKAN DENGAN MAKSUD UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS-TUGAS PEMERINTAHAN 4. INSTANSI-INSTANSI YANG MERUPAKAN KERJASAMA ANTARA PEMERINTAHAN DAN PIHAK SWASTA YANG MELAKSANAKAN TUGAS-TUGAS PEMERINTAHAN 5. LEMBAGA-LEMBAGA HUKUM SWASTA YANG MELAKSANAKAN TUGAS-TUGAS PEMERINTAHAN TUGAS-TUGAS UMUM PEMERINTAHAN: 1. MELAKSANAKAN URUSAN-URUSAN PEMERINTAHAN 2. MENJAGA DAN MELINDUNGI KEPENTINGAN UMUM/MASYARAKAT. 3. MENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN 4. MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 5. MEMBUAT ATURAN-ATURAN REGULASI. PENGGUGAT (PASAL 53) DISEBUTKAN SESEORANG ATAU BADAN HUKUM PERDATA YANG MERASA KEPENTINGANNYA DIRUGIKAN OLEH SUATU KEPUTUSAN TUN DAPAT MENGAJUKAN GUGATAN TERTULIS KEPADA PENGADILAN YANG BERWENANG. 1. ORANG (NATUURLIJK PERSOON) SEBAGAIMANA HUKUM ACARA PERDATA. 2. BADAN HUKUM PERDATA (RECHTS PERSOON) YAITU BADAN ATAU PERKUMPULAN ATAU ORGANISASI ATAU KORPORASI DAN SEBAGAINYA YANG DIDIRIKAN MENURUT KETENTUAN HUKUM PERDATA YANG MERUPAKAN BADAN HUKUM. MENGENAI ORANG (NATUURLIJK PERSOON) DALAM HUKUM ACARA PTUN TIDAK MENGATURNYA, MAKA APA YANG BERLAKU DI DALAM HUKUM ACARA PERDATA DAPAT DI

TERAPKAN, DENGAN DEMIKIAN TIDAK SEMUA ORANG DAPAT MAJU SENDIRI UNTUK MENGAJUKAN GUGATAN KE PENGADILAN TUN. SIAPA PUN YANG DI ANGGAP TIDAK MAMPU (ONBEKWAAM) UNTUK MAJU KE PENGADILAN HARUS DIWAKILI OLEH YANG SAH. MENGENAI - BADAN HUKUM PERDATA - (RECHT PERSOON) TERDAPAT BEBERAPA PERSOALAN. DALAM KENYATAAN SEHARI-HARI BAHWA PEMERINTAH UMUM YANG TERDIRI DARI BERBAGAI ORGANISASI DAN INSTANSI MEMILIKI KEWENANGAN MENURUT HUKUM PUBLIK JUGA MEMILIKI KEMANDIRIAN MENURUT HUKUM PERDATA, SEPERTI : BADANBADAN TERITORIAL, NEGARA, PROVINSI, KOTA DAN SEBAGAINYA. AKIBAT DARI KEDUDUKAN SEBAGAI BADAN HUKUM TERSEBUT ADALAH : -DAPAT MEMILIKI HAK-HAK KEBENDAAN -DAPAT MENJADI PIHAK DALAM PROSES PERDATA. SEHINGGA APAKAH ORGANISASI ATAU INSTANSI TERSEBUT SEBAGAI BADAN HUKUM PERDATA DAPAT JUGA MENGAJUKAN GUGATAN KE PERADILAN TUN? SECARA LOGIKA TENTUNYA BOLEH, NAMUN KARENA YANG DIGUGAT HARUS SELALU BADAN ATAU JABATAN TUN, MAKA KEMUNGKINAN TERSEBUT AKAN LANGKA TERJADI. SEHINGGA YANG HARUS DI ANGGAP SEBAGAI BADAN HUKUM PERDATA ADALAH BADAN ATAU PERKUMPULAN ATAU ORGANISASI ATAU KORPORASI DAN SEBAGINYA YANG DIDIRIKAN MENURUT KETENTUAN HUKUM PERDATA YANG MERUPAKAN BADAN HUKUM, YAYASAN ATAU LAIN-LAIN PERSEKUTUAN HUKUM. DALAM PROSES DI PENGADILAN TUN PARA PIHAK DAPAT DIDAMPINGI OLEH KUASA HUKUMNYA MASING-MASING YANG DISERTAI DENGAN SUATU SURAT KUASA KHUSUS ATAU LISAN YANG DIBERIKAN DI MUKA PERSIDANGAN. KEJAKSAAN DENGAN SURAT KUASA KHUSUS DAPAT BERTINDAK DI DALAM MAUPUN DI LUAR PENGADILAN UNTUK DAN ATAS NAMA NEGARA ATAU PEMERINTAH.

OBJEK SENGKETA TUN ADALAH KEPUTUSAN TUN SEBAGAIMANA PASAL 1 AYAT (3) TIDAK TERMASUK DALAM PENGERTIAN KEPUTUSAN TUN MENURUT PASAL (2) UU NOMOR 9 TAHUN 2004 ADALAH : 1. KTUN YANG MERUPAKAN PERBUATAN HUKUM PERDATA; 2. KTUN YANG MERUPAKAN PENGATURAN YANG BERSIFAT UMUM; 3. KTUN YANG MASIH MEMERLUKAN PERSETUJUAN; 4. KTUN YANG DIKELUARKAN BERDASARKAN PERATURAN PIDANA; 5. KTUN YANG DIKELUARKAN ATAS DASAR HASIL PEMERIKSAAN BADAN PERADILAN; 6. KTUN MENGENAI TATA USAHA TENTARA NASIONAL;

7. KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM BAIK DI PUSAT MAUPUN DI DAERAH MENGENAI HASIL PEMILIHAN UMUM; DEMIKIAN JUGA YANG DITENTUKAN DALAM PASAL 49 UU PTUN BAHWA PENGADILAN TUN TIDAK BERWENANG MEMERIKSA DAN MEMUTUS KEPUTUSAN-KEPUTUSAN TUN YANG DIKELUARKAN; A. DALAM WAKTU PERANG, KEADAAN BAHAYA, KEADAAN BENCANA ALAM, ATAU DALAM KEADAAN LUAR BIASA YANG MEMBAHAYAKAN, BERDASARKAN PERUNDANGAN YANG BERLAKU; B. DALAM KEADAAN MENDESAK UNTUK KEPENTINGAN UMUM BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANGAN YANG BERLAKU. DALAM PENJELASAN UMUM DISEBUTKAN BAHWA KEPENTINGAN UMUM ADALAH; KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGARA DAN/ATAU KEPENTINGAN MASYARAKAT BERSAMA DAN/ATAU KEPENTINGAN PEMBANGUNAN, SESUAI DENGAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN YANG BERLAKU.

KEWENANGAN DAN SUSUNAN PERADILAN TATA USAHA NEGARA A. KEWENGAN PERADILAN TUN MENURUT F.J. STAHL : DALAM NEGARA HUKUM SECARA FORMAL PADA ASASNYA SEGALA PERBUATAN YANG MENRUGIKAN SETIAP ORANG ATAUPUN HAK-HAK SETIAP ORANG DAPAT DIAWASI PENGADILAN, SEDANGKAN REVIEW-NYA DAPAT DISALURKAN MELALUI PENGADILAN TUN ATAU PENGADILAN BISA/UMUM. PTUN = SARANA CONTROL ON THE ADMINISTRATION PASAL 47 : PENGADILAN BERTUGAS DAN BERWENANG MEMERIKSA, MEMUTUS, DAN MENYELESAIKAN SENGKETA TATA USAHA NEGARA. PENGADILAN TUN BERTUGAS DAN BERWENANG MEMERIKSA DAN MEMUTUS SENGKETA TUN JIKA SELURUH UPAYA ADMINISTRATIF YANG ADA TELAH DIGUNAKAN SEPERTI SENGKETA KEPEGAWAIAN DAN PERMINTAAN-PERMINTAAN BANDING ADMINISTRATIF.

PENGADILAN TINGGI TUN BERTUGAS DAN BERWENANG MEMERIKSA DAN MEMUTUS SENGKETA TUN DI TINGKAT BANDING. SELAIN ITU MEMUTUS TINGKAT PERTAMA DAN TERAKHIR SENGKETA TENTANG KEWENGAN

MENGADILI ANTARA PENGADILAN TUN DI DALAM DAERAH HUKUMNYA SELANJUTNYA BERWENANG MEMRIKSA DAN MEMUTUS DAN MENYELESAIKAN DI TINGKAT PERTAMA SENGKETA TUN YANG TELAH DIUSAHAKAN MENGGUNAKAN SEMUA INSTANSI ADMINISTRASI YANG ADA. (PASAL 51). B. SUSUNAN PENGADILAN DAN TEMPAT KEDUDUKAN KEKUASAAN KEHAKIMAN DI LINGKUNGAN PERADILAN TUN DILAKSANAKAN OLEH: 1. PENGADILAN TATA USAHA NEGARA; 2. PENGADILAN TINGGI TATA USAHA NEGARA. DAN PUNCAKNYA PADA MAHKAMAH AGUNG SEBAGAI PENGADILAN TERTINGGI, PASAL 5 AYAT (2).

PEMBENTUKAN PENGADILAN TUN DENGAN; KEPRES RI NOMOR 52 TAHUN 1990 YAITU PENGADILAN TUN YANG PERTAMA DI JAKARTA, MEDAN, PALEMBANG, SURABAYA, DAN UJUNG PANDANG; SELANJUTNYA KEPRES RI NOMOR 16 TAHUN 1992 DIBENTUK PENGADILAN TUN DI SEMARANG, BANDUNG, DAN PADANG. UU NOMOR 10 TAHUN 1990 PEMBENTUKAN PENGADILAN TINGGI TUN JAKARTA, MEDAN DAN UJUNG PANDANG. SUSUNAN PENGADILAN TERDIRI DARI ATAS PIMPINAN HAKIM ANGGOTA, PANITERA DAN SEKRETARIS. PIMPINAN PENGADILAN TERDIRI ATAS SEORANG KETUA DAN SEORANG WAKIL KETUA. PEMBINAAN TEKNIS PERADILAN, ORGANISASI, ADMINISTRASI DAN FINANSIAL PENGADILAN DILAKUKAN OLEH MAHKAMAH AGUNG. PEMBINAAN SEBAGIMANA DIMAKSUD DI ATAS TIDAK BOLEH MENGURANGI KEBEBASAN HAKIM DALAM MEMRIKSA DAN MEMUTUS SENGKETA TUN (PASAL 7 UU NOMOR 9 TAHUN 2004). C. KETUA, WAKIL KETUA, HAKIM DAN PANITERA PENGADILAN HAKIM PEJABAT YANG MELAKSANANKAN TUGAS KEKUASAAN KEHAKIMAN. HAKIM DIANGKAT DAN DIBERHENTIKAN OLEH PRESIDEN ATAS USUL KETUA MAHKAMAH AGUNG (PASAL 16 AYAT (1) UU NO. 9 TAHUN 2004).

KETUA DAN WAKIL KETUA PENGADILAN DIANGKAT DAN DIBERHENTIKAN OLEH PRESIDEN ATAS USUL KETUA MAHKAMAH AGUNG. SYARAT-SYARAT MENJADI HAKIM MENURUT PASAL 14 ADALAH SEBAGAI BERIKUT : PERTAMA, UNTUK DAPAT DIANGKAT MENJADI HAKIM PENGADILAN TATA USAHA NEGARA, SEORANG CALON HARUS MEMENUHI SYARAT-SYARAT SEBAGAI BERIKUT: A. WARGA NEGARA INDONESIA; B. BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA; C. SETIA KEPADA PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945; D. SARJANA HUKUM; E. BERUMUR SERENDAH-RENDAHNYA 25 (DUA PULUH LIMA) TAHUN; F. SEHAT JASMANI DAN ROHANI; G. BERWIBAWA, JUJUR, ADIL, DAN BERKELAKUAN TIDAK TERCELA;DAN H. BUKAN BEKAS ANGGOTA ORGANISASI TERLARANG PKI, TERMASUK ORGANISASI MASSANYA, ATAU BUKAN YANG TERLIBAT LANGSUNG DALAM GERAKAN 30 SEPTEMBER/PKI. KEDUA, UNTUK DAPAT DIANGKAT MENJADI KETUA ATAU WAKIL KETUA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA DIPERLUKAN PENGALAMAN SEKURANG-KURANGNYA SEPULUH TAHUN SEBAGAI HAKIM PENGADILAN TATA USAHA NEGARA. SEBELUM MEMANGKU JABATANNYA, KETUA, WAKIL KETUA, DAN HAKIM PENGADILAN WAJIB MENGUCAPKAN SUMPAH ATAU JANJI MENURUT AGAMA DAN KEPERCAYAANYA. HAKIM TIDAK BOLEH MERANGKAP JABATAN, KECUALI DITENTUKAN LAIN OLEH ATAU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG, HAKIM TIDAK BOLEH MERANGKAP SEBAGAI PELAKSANA PUTUSAN PENGADILAN; WALI, PENGAMPU, DAN PEJABAT YANG BERKAITAN DENGAN SUATU PERKARA YANG DIPERIKSA OLEHNYA; PENGUSAHA; MERANGKAP SEBAGAI ADVOKAT.

HAKIM AD HOC (LAY JUDGE) BERBEDA DENGAN PERADILAN UMUM, DALAM PTUN DIKENAL APA YANG DISEBUT HAKIM AD HOC YANG DIATUR DALAM PASAL 135 AYAT (1) BERBUNYI SEBAGAI BERIKUT: DALAM HAL PENGADILAN MEMERIKSA DAN MEMUTUS PERKARA TUN TERTENTU YANG MEMERLUKAN KEAHLIAN KHUSUS, MAKA KETUA PENGADILAN DAPAT MENUNJUK SEORANG HAKIM AD HOC SEBAGAI ANGGOTA MAJELIS. AYAT (2) BERBUNYI SEBAGAI BERIKUT : DAPAT MENGAJUKAN SEBAGAI HAKIM AD HOC SESEORANG HARUS MEMENUHI SYARATSYARAT SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 14 AYAT (1) KECUALI HURUF

E=PEGAWAI NEGERI DAN F= SARJANA HUKUM ATAU SARJANA LAIN YANG MEMILIKI KEAHLIAN DI BIDANG TATA USAHA NEGARA). PADA AYAT (3) BERBUNYI SEBAGAI BERIKUT : LARANGAN SEBAGAIMANA DI MAKSUD DALAM PASAL 18 AYAT (1) HURUF C TIDAK BERLAKU BAGI HAKIM AD HOC. PADA AYAT (4) BERBUNYI SEBAGAI BERIKUT: TATA CARA PENUNJUKAN HAKIM AD HOC PADA PENGADILAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM AYAT (1) DIATUR DENGAN PERATURAN PEMERINTAH. KEAHLIAN KHUSUS, MISALNYA DIBIDANG; - MASALAH PERPAJAKAN - MASALAH AGRARIA - MASALAH KEPEGAWAIAN SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI SEBAGAI CALON HAKIM AD HOC SAMA DENGAN HAKIM PADA UMUMNYA DENGAN PENGECUALIAN TERTENTU YANG TERSEBUT DI ATAS. KALAU DI PENGADILAN UMUM ADA SAKSI AHLI, DI PTUN DI SAMPING SAKSI AHLI ADA HAKIM AD HOC. BEDANYA KALAU KETERANGAN SAKSI AHLI TIDAK MENGIKAT HAKIM, SEDANGKAN KALAU PENDAPAT DARI HAKIM AD HOC SIFATNYA ADALAH MENGIKAT KARENA DIA SEBAGAI HAKIM ANGGOTA MAJELIS.