Anda di halaman 1dari 13

ALIZARIN RED

Oleh :
Nama : Muh.Rezzafiqrullah R
NIM : B11010231
Rombongan : VIII
Kelompok : 3
Asisten : Haryanto







LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II








KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS 1ENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2011


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tulang merupakan penyusun sistem rangka yang berkembang dari skleretoma
yang merupakan derivat dari mesoderma dorsal yang merupakan jaringan penyokong
sebagai bagian dari jaringan pengikat dalam arti luas. Terbentuknya tulang melalui
dua cara yaitu konveksi langsung dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang
disebut osiIikasi intra membranosa dan sel-sel mesenkim menjadi jaringan tulang
terdeIerensiasi terlebih dahulu menjadi kartilago kemudian berubah menjadi jaringan
tulang yang disebut osiIikasi endokondral. Tulang membentuk rangka tubuh, yang
Iungsinya untuk menahan berat badan. Otot volunter (rangka) diinsersikan pada
tulang melalui penyisipan tendon ke jaringan penyambung periosteum. Tulang
panjang membentuk suatu sistem tuas yang meningkatkan kekuatan yang dihasilkan
oleh kontraksi otot. Tulang melindungi sistem saraI pusat (yang terdapat di dalam
tengkorak dan kanalis spinalis) dan sumsum tulangunqueira & Carneiro, 1982).
Berbagai metode diterapkan untuk mengetahui bagaimana kita bisa
terbentuk, dari mana asal kita, bagaimana bentuk kita dulu waktu masih kecil.
Alizarin Red merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui atau
mendeteksi proses kalsiIikasi pada tulang embrio. Tulang embrio yang telah
terwarnai oleh Alizarin Red akan terlihat berwarna merah atau keunguan. Warna
tersebut timbul karena kalsium telah diikat oleh matrik tulang embrio. Selain
Alizarin Red terdapat metode pewarnaan lain yang dapat digunakan untuk kalsiIikasi
tulang yaitu Alcian blue.
Alizarin red merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui
proses kalsiIikasi pembentukan tulang pada ikan. Tulang ikan yang diwarnai dengan
pewarna alizarin red akan tampak berwarna merah. Warna merah disebabkan karena
reaksi antara pewarna dan kalsium pada tulang. Pewarnaan alizarin yang dilakukan
secara berurutan pada berbagai unsur embrio memberikan inIormasi mengenai proses
klasiIikasi pada embrio yang bersangkutan. Pengamatan proses klasiIikasi dapat
dimulai dari umur inkubasi 9 hari pada embrio ayam, 14 hari pada embrio mencit.
Embrio berkembang diluar tubuh induknya. Induk menyediakan cadangan makanan
yang cukup untuk perkembangan embrio mulai dari awal perkembangan sampai
embrio lengkap menjadi ankan ayam yang siap menetas. Komponen matriks
eksternal utama yang berperan dalam pengerasan tulang adalah garam kalsium.





B. Tujuan
Tujuan dari praktikum pewarnaan alizarin red adalah dapat mengerjakan
prosedur pewarnaan alizarin dan mengamati proses kalsiIikasi pada tulang ikan.








II. TIN1AUAN PUSTAKA
Tulang sejati hanya terdapat pada ikan dan vetebrata. Tulang merupakan hasil
perkembangan dari kartilago atau lanjutan dari sel-sel mesenkim embrional
(membran tulang). Kartilago dan sel-sel mesenkim embrional tersebut diproduksi
oleh sel-sel tulang (osteoblast). Tulang dilapisi oleh Iibrous periosteum yang
berIungsi untuk pertumbuhan dan perbaikan sel. Subtansi mineralnya disimpan
dalam lapisan tipis atau lamela. Lamela-lamela bentuk silindris membentuk sistem-
sistem haversi, yang bagian tengahnya terdapat Canal Haversi (Storer, 1978). Ikan
teleostei merupakan ikan yang memiliki tulang sejati dan sudah terklasiIikasi
tulangnya.ikan teleostei merupakan objek yang biasa digunakan untuk diidentiIikasi
jenis tulangnya, biasanya dengan metode alizarin red. Ikan teleostei contohnya Ikan
Nilem (Oteochillus hasellti) dan Ikan Lele (Clarias batrachus). Ikan Teleostei
merupakan ikan tulang keras tingkat tinggi dari kelas Osteichthyes (Sukiya, 2003).
Proses kalsiIikasi atau terbentuknya tulang terjadi dengan 2 cara yaitu melalui
osiIikasi intra membran dan osiIikasi endokondral. OsiIikasi intra membran
merupakan proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan
tulang, contohnya pada proses pembentukan tulang pipih. Sedangkan osiIikasi
endokondral yaitu proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim
berdiIerensiasi lebih dulu menjadi kartilago (jaringan rawan) lalu berubah menjadi
jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang, dan
pelvis. (Storer, 1978).
Alizarin Red merupakan suatu metode untuk mengetahui
pembentukan tulang pada embrio atau untuk mendeteksi proses kalsiIikasi pada
tulang embrio. Tulang yang diwarnai oleh Alizarin Red akan berwarna merah tua,
yang menandakan bahwa tulang tersebut telah mengalami kalsiIikasi. Warna merah
tua terbentuk karena zat warna yang diberikan terikat oleh kalsium pada matriks
tulang (Bevelender, 1988).


















III. MATERI DAN METODE
A.Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mangkok kecil, botol
Iilm (tempat spesimen) dan pipet tetes.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan nilem, larutan
garam Iisiologis, larutan alkohol 95, larutan KOH 1, KOH 2, larutan pewarna
alizarin red, akuades, larutan gliserin murni dan larutan penjernih A, B dan C.

B. Metode
1. Ikan diletakkan di dalam mangkok yang berisi air es.
2. Ikan ditunggu sampai mati untuk dilakukan tahapan pada proses selanjutnya.
3. Setelah ikan mati, lalu dimasukkan ke dalam tempat specimen yang telah diisi
alkohol 95, berIungsi sebagai IiksatiI ikan, dan direndam selama 12 jam .
4. Ganti ikan dengan larutan KOH 1, biarkan ikan selama 3 jam supaya tulangnya
kelihatan transparan.
5. Setelah tulang ikan sudah terlihat agak transparan, masukkan larutan alizarin red
dan diamkan selama 12 jam, hingga tulang ikan berwarna merah tua atau ungu.
6. Ganti dengan larutan KOH 2, rendam ikan dalam larutan ini selama 2 jam,
supaya tulangnya lebih terlihat transparan.
7. Ganti dengan larutan A, B, C dimana masing-masing larutan waktu perlakuannya
selama 1 jam. Larutan ini berIungsi untuk mengurangi kelebihan pewarnaan yang
masuk ke dalam dalam jaringan tulang ikan, sehingga tulang ikan tampak jernih
transparan
8. Ganti larutan tersebut dengan larutan gliserin murni, yang berIungsi sebagai
pengawet spesimen. Untuk digunakan dalam menyimpan jangka panjang, maka
larutan ini sebaiknya diganti apabila konsentrasi kekentalannya sudah menurun.


















B. Pembahasan
Perlakuan yang pertama kali dilakukan adalah melumpuhkan ikan mujaer
dengan didinginkan pada air es. Ikan yang sudah direndam di air es akan lumpuh dan
tidak bergerak lagi. Perlakuan selanjutnya ikan direndam dalam larutan alkohol 95
selama 12 jam, tubuh ikan menjadi pucat. Ikan di rendam akuades selama 10 menit,
warna ikan menjadi agak lebih segar. Ikan direndam dengan KOH 1 selama 12
jam, terjadi perubahan pada ikan yaitu menjadi agak transparan dan mulai terjadi
perubahan pada bagian sisik dan pada bagian perut, jaringan ototnya menjadi agak
transparan. Akhir perendaman KOH 1 ikan berwarna agak gelap.
Ikan direndam dengan pewarna Alizarin Red selama 12 jam, hasilnya ikan
transparan dan bagian organ dalam dan tulang terlihat tapi tulangnya tidak terwarnai.
Hasil yang diperoleh tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Nishikawa et al
(2006), seharusnya alizarin red dapat terdeteksi oleh kalsium di dalam tulang
sehingga alizarin red dengan kalsium mengalami pengikatan yang menyebabkan
warna tulang menjadi merah tua, dan tetapi pada praktikum ini tulang dari ikan tak
terwarnai tapi badan ikan berubah mnjadi trensparan. Namun, pada bagian rongga
insang nampak berwarna agak kemerahan dan semakin transparan. Hal tersebut
terjadi mungkin karena kadar kalsium pasa rongga insang cukup banyak.
Perendaman yang dilakukan setelah pewarna alizarin red adalah larutan penjernih A,
B dan C yang dilakukan masing-masing 1 jam. Larutan penjernih tersebut berIungsi
untuk mengurangi kelebihan pewarna yang masuk ke dalam jaringan otot, sehingga
otot menjadi tampak jernih transparan dan tulang dapat terlihat lebih jelas. Setelah
diberi larutan penjernih pada saat di beri larutan a ikan berwarna merah dan bagian
otot sudah transparan. Larutan B iakan berwarna agak kehijauan, bagian oragan
sudah dapat terlihat. Larutan C ikan berwarna merah tua tulang tulang sudah dapat
dilihat . Tahapan terakhir dari pewarnaan alizarin red adalah perendaman pada
larutan gliserin murnil. Perendaman ikan pada larutan tersebut berIungsi sebagai
pengawet spesimen. Pengawetan tersebut maka spesimen dapat bertahan lama.
Proses pengikatan zat warna pada matriks tulang memerlukan keseimbangan kalsium
dan IosIor. Keseimbangan yang sangat dibutuhkan ini sangat bervariasi. Variasi ini
apabila tidak tepat, akan mempengaruhi penyerapan warna Alizarin Red pada tulang
(KalthoII, 1996).
Secara singkat Iungsi dari larutan larutan yang digunakan dalam
percobaan ini dapat dijelaskan sebagai berikut (Pattern, 1971) :
- Larutan alkohol berIungsi sebagai IiksatiI.
- Akuades berIungsi untuk pencucian dan mengurangi kelebihan alkohol.
- Larutan KOH berIungsi agar otot menjadi transparan dan skeletonnya terlihat
jelas.
- Larutan pewarna Alizarin Red berIungsi untuk membuat skeleton menjadi
berwarna merah tua atau ungu.
- Larutan penjernih A, B, dan C berIungsi untuk mengurangi kelebihan
pewarna yang masuk ke dalam jaringan otot sehingga otot menjadi tampak
jernih transparan.
- Larutan gliserin berIungsi sebagai pengawet spesimen.
Hasil yang didapatkan pada percobaan pewarnaan alizarin red pada ikan mas
yang dilakukan oleh 3 kelompok semuanya sama, yaitu ikannya hancur. Hal tersebut
terjadi karena ikan yang digunakan terlalu kecil dan ikan mas yang rentan terhadap
zat-zat kimia yang diberikan. Kelompok kami, kelompok 2 pada rongga insang ikan
mas tampak berwarna merah, dan itulah bagiam yang terwarnai. Tulang tersebut bila
telah mengalami kalsiIikasi akan berwarna merah tua (Sukra, 2000). Tiga kelompok
lain yang menggunakan preparat ikan mujair mendapatkan hasil ikan tidak rusak
namun tidak ada bagian tulang yang terwarnai. Hal itu disebabkan mungkin karena
keberadaan mineral kalsium dalam matriks tulang kandungannya sedikit sehingga
tidak terdeteksi oleh pewarna alizarin red.

Hasil yang didapatkan dalam praktikum ini tidak sesuai dengan standar,
karena hasil dari pewaranaan ini di dapatkan tulang - tulang tidak terwarnai. Namun
dalam hasil percobaan ini, ikan tampak transparan sehingga mudah untuk mengamati
tulang-tulang ikan yang terwarnai.
Alizarin red adalah senyawa merah-kekuningan yang memiliki rumus
molekul C
14
H
8
O
4.
Senyawa ini merupakan derivat dari anthraquinon dengan gugus
hidroksil menggantikan pada bagian 1 dan 2. Alizarin secara alami terdapat sebagai
glukosida pada tanaman #ubio tinctorum (Mahanthesha et al, 2009) Menurut Sukra
(2000), tulang-tulang yang mengalami pewarnaan dengan zat warna Alizarin Red
adalah tulang dahi (Irontal), tulang rahang (mandibula dan maxilla), radius ulna,
tulang ujung jari, scapula, tulang rusuk, Iemur, tibia, serta Iibula. Tulang-tulang
tersebut bila telah mengalami kalsiIikasi akan berwarna merah tua. Teknik
pewarnaan Alizarin Red dengan zat warna Alizarin Red, bagian dalam proses
osiIikasi berwarna merah muda seperti tulang dahi (Irontal), tulang rahang
(mandibula), tulang radius ulna dan tulang ujung jari, skapula, tulang rusuk, Iemur,
tibia Iibula. Menurut Anat (1969) tulang dasar cranial dan seluruh tulang cranial
menunjukan warna jika dilakukan pawarnaan alizarin red, dan warnanya berbeda
beda dari merah sampai merah tua tergantung pada pertumbuhannya. Perbedaan
terang gelapnya warna yang tampak dikarenakan kadar kalsium yang terkandung
pada tulang tersebut, serta kuatnya matriks tulang untuk mengikat zat warna alizarin
red.



















V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diatas dapat disimpulkan
bahwa:
1. Pewarnaan Alizarin Red digunakan untuk mendeteksi proses kalsiIikasi pada
tulang dengan mendeteksi keberadaan mineral kalsium dalam matriks tulang.
2. Tulang ikan mujaer yang telah mengalami kalsiIikasi akan tampak berwarna
merah tua atau ungu dengan menggunakan pewarnaan Alizarin Red.
3. Tulang yang terdeteksi mengalami proses kalsiIikasi pada percobaan Alizarin
Red pada ikan mujaer adalah tulang pada rongga insang.


B. Saran
Praktikum alizarin red adalah praktikum yang membtuhkan ketepatan waktu
dalam merubah larutan, bila tidak maka akan mendapatkan hasil yang gagal








Anat, .1969. The in Vivo Staining oI Bone with Alizarin Red. Hal 533-545.
Bevelender, G. 1988. Dasar-Dasar Histologi Edisi ke 8. Erlangga, akarta.
unquiera, L. C. and Carneiro, . 1982. Histologi Dasar Edisi 3. Buku Kedokteran
EGC, akarta.
KalthoII, K. 1996. Analysis oI Biological Development. McGraw-Hill Inc, New
York.
Mahanthesha,K.R, B.E. Kumara Swamy, Umesh Chandra, Yadav D. Bodke,
K.Vasanth Kumar Pai, B.S Sherigara. 2009 Cyclic Voltammetric
Investigations oI Alizarin at Carbon Paste Electrode using SurIactants.
International ournal Electrochem Science, vol. 4 : 1237-1247.
Nishikawa, Tetsunari, Kazuya Masuno, Masahiko Mori, Yasuhiro Tajime, Kenji
Kakudo, and Akio Tanaka. 2006. CalciIication At The InterIace Between
Titanium Implants and Bone : Observation with ConIocal Laser Scanning
Microscopy. ournal oI Oral Implantology, 32 : 211-217.
Pattern, B.M. 1971. Early Embriology oI The Chick. Mc. Graw-Hill Publishing
Company, New Delhi.
Storer, et al. 1978. eneral Zoology. Mc. Graw-Hill Publishing Company, New
York.
Sukiya. 2003. Biologi Vertebrata. Biologi FMIPA UNY: Yogyakarta.
Sukra, Y. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio Benih Masa Depan. Depdiknas,
akarta.