Anda di halaman 1dari 30

TUGAS PROPAGASI GELOMBANG RADIO

(TE6620)
MODEL PROPAGASI PADA SISTEM KOMUNIKASI
SELULER
( Dosen : I Gst A Komang Diafari Djuni H. ST. MT )
Oleh :
I Nyoman Surya Jaya (0604405035)
I Gd Md Budiartana (0604405056)
I Gst Ag Adi Wira Buwana (0604405062)
I Made Rai Suitra (0604405084)
I Putu Agus Ari Wiweka (0604405086)
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2009
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu teknologi yang berkembang pesat dan mempengaruhi jutaan manusia
di dunia adalah telekomunikasi. Kebutuhan manusia untuk komunikasi, informasi,
perdagangan, pendidikan, dan lain-lain sangat dimudahkan dengan adanya teknologi
telekomunikasi saat ini.
Sistem telekomunikasi dewasa ini, tidak lagi hanya mengandalkan jaringan
kabel yang besifat tetap (fixed line), selain itu juga komunikasi tidak hanya suara
namun juga data dan gambar yang berujung pada multimedia. Saat ini kita mengenal
berbagai jenis perangkat komunikasi, seperti perangkat komunikasi tetap (fixed
phone), komunikasi bergerak terbatas (fixed mobile phone) dan komunikasi bergerak
selular (cellular mobile phone).
Konsep seluler mulai muncul di akhir tahun 1940-an yang digagas oleh
perusahaan Bell Telephone di Amerika, yang sebelumnya menggunakan pemancar
berdaya pancar besar dan ditempatkan di daerah yang tinggi dengan antena yang
menjulang. diubah menjadi pemancar berdaya kecil. Setiap pemancar ini dirancang
hanya untuk melayani daerah yang kecil saja, sehingga disebut sel. Dari sini , sistem
komunikasinya lalu disebut dengan system komunikasi seluler (cellular).
Faktor bentuk muka bumi sangat mempengaruhi perancanaan pembangunan
infrastruktur komunikasi cellular disamping faktor-faktor lain, misalnya kepadatan
penduduk yang potensial menjadi pengguna layanan telekomunikasi. Untuk mengatasi
permasalah tersebut diperlukan model propagasi atau sebuah model perambatan
gelombang melalui sebuah medium tertentu yang tepat sehingga sistem komukasi
tersebut bisa membangun jaringan yang dapat meng-cover wilayah tertentu sesuai
dengan informasi yang di miliki.
1.2 Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah pada paper ini adalah bagaimana pengaruh jenis
sistem komunikasi terhadap model propagasi yang digunakan untuk sistem
komunikasi tersebut.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan paper ini adalah untuk :
1. Mengetahui model-model propagasi yang digunakan pada sistem
komunikasi celuler (GSM).
2. Mengetahui keunggulan dan kekurangan dari masing-masing model
propagasi pada sistem komunikasi celuler.
3. Mengetahui perbandingan model propagasi yang digunakan pada
sistem komunikasi celuler dengan model propagasi rugi-rugi ruang bebas
dengan grafik.
1.4 Manfaat
Dengan penyusunan paper ini, diharapkan dapat bermanfaat sebagai sarana
penunjang ataupun acuan sebagai bahan penelitian dan pembelajaran lebih lanjut
terhapad model propagasi dalam sistem komunikasi celuler.
1.4 Batasan masalah
Pada pembuatan paper ini perlu dilakukan sebuah pembatasan sebagai ruang
lingkup permasalah sehingga penyelesaian paper ini dapat terarah dan jelas. Batasan
tersebut adalah :
1. Teknologi sistem seluler yang dibahas pada paper ini hanya sebatas pada
teknologi GSM
2. Model propagasi yang dibahas pada sistem komunikasi celluler adalah model
propagasi outdoor pada daerah Urban
3. Yang dibahas dalam pembahasan adalah perbandingan model-model propagasi
yang digunakan pada sistem celuler terhadap model propagasi ruang bebas
serta kekurangan dan kelebihannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Celluler
Perkembangan teknologi wireless yang sedang berkembang pesat saat ini yaitu
teknologi telepon tanpa kabel (wireless) diantaranya AMPS (Advance Mobile Phone
System), GSM (Global System for Mobile system) dan CDMA ( Code Division
Multiple Access).
2.1.1 AMPS (Advance Mobile Phone System)
AMPS merupakan generasi pertama pada teknologi selular. System ini berada
pada Band 800 Mhz, yang menggunakan 2 sirkuit yang terintergrasikan dari
Computer Dedicated dan System Switch. AMPS menggunakan frekuensi antara 825
Mhz - 894 Mhz. AMPS di operasikan pada Band 800 Mhz sehingga tidak memungkin
kan ada nya fitur seperti e-mail dan browsing, serta masi kekurangan dalam kualitas
suara. Ini lah yang menjadi kendala, sehingga system ini tidak berkembang dan
ditinggalkan setelah teknologi digital berkembang.
2.1.2 GSM (Global System for Mobile telekomunication)
GSM adalah generasi kedua setelah AMPS, GSM pertama kali dikeluarkan pada
taun 1991 dan mulai berkembang pada tahun 1993 dengan diadopsi oleh beberapa
negara seperti Afrika Selatan, Australia, Timur Tengah, dan Amerika Utara.
Perkembangan pesat dari GSM disebabkan cara penggunaan system yang digital
sehingga memungkinkan pengembang untuk mengekploitasi penggunaan algoritma
dan digital serta memungkinkannya penggunaan Very Large Scale Intergration
(VLSI). Untuk mengurangi dan memperkecil biaya Handled terminalnya, pada saat
ini GSM sudah menggunakan fitur Intelegent Network. GSM pertama kali dibuat
diperuntukan untuk menjadi system telekomunikasi bergerak yang memiliki cakupan
internasional yang berdasarkan pada teknologi Multyplexing Time Division Multiple
access (TDMA).
2.1.3 CDMA (Code Devision Multiple Access)
CDMA merupakan generasi ketiga (3G). Teknologi seluler telah berkembang
pesat. Sekarang telah berkembang Code Devision Multiple Access yang mengunakan
sistem spectrum. Berbeda dengan GSM yang menggunakan Time Division
Multiplexing. CDMA tidak memiliki frekuensi khusus pada setiap user. Setiap
channel menggunakan spectrum yang tersedia secara penuh. CDMA merupakan
perkembangan AMPS yang pertama kali digunakan oleh militer Amerika Serikat
sebagai komunikasi Intelejen pada waktu perang. Perkembangan CDMA tidak secepat
perkembangan GSM yang paling banyak diadopsi di berbagai macam negara. Di
Indonesia untuk jaringan CDMA ditempati oleh PT.Mobile-8, Telecom, Telkomflexy
dan Esia.
2.2 Pengertian Celluler
Jaringan seluler atau PLMN (public line mobile network) terdiri dari sejumlah
mobile station (MS) yang dihubungkan dengan jaringan radio ke infrastruktur
perangkat switching yang berinterkoneksi dengan sistem lain seperti PSTN .
Gambar 2.1 Jaringan layanan telepon bergera dasar
Di dalam bidang telekomunikasi, istilah ini diartikan pembagian daerah
berdasarkan jangkauan sinyal dari stasiun pemancar ke pesawat penerima. Misalnya
dalam teknologi komunikasi bergerak (handphone), bagaimana suatu daerah atau kota
dapat dijangkau berdasarkan daya pancar sinyal yang ada pada Base Transceiver
Station (BTS). Daerah tersebut dibagi dalam beberapa sel, dimana pada setiap sel
ditempatkan satu pemancar (BTS), sampai akhirnya semua daerah yang dikehendaki
dapat dijangkau dalam bentuk sel-sel.
2.2.1 Cells (sel dalam mobile communication)
Sel merupakan unit yang paling dasar dalam sistem komunikasi wireless. Sel
sel pada komunikasi wireless mempunyai area tertentu yang dapat dijangkau oleh
mobile station dengan jangkauan sesuai dengan kemampuan sel tersebut.
Gambar 2.2 Cell
2.2.2 Handoff
Pada jaringan seluler terdapat suatu proses atau kejadian ketika mobile station
bergerak dari satu sel ke sel yang lainnya. Hal ini dikarenakan pada saat tidak terjadi
drop signal maka terjadilah proses yang dinamakan dengan proses handoff yaitu jika
satu unit mobile station bergerak keluar dari range cell base station satu ke range cell
base station yang lainnya selama dalam keadaan terkoneksi.
Gambar 2.3 Handover
2.2.3 BTS (Base Transceiver Station)
BTS berfungsi menjembatani perangkat komunikasi pengguna dengan jaringan
menuju jaringan lain. Satu cakupan pancaran BTS dapat disebut Cell. Komunikasi
seluler adalah komunikasi modern yang mendukung mobilitas yang tinggi. Pada tiap
sel terdapat BTS (Base Transceiver Station). BTS ini fungsinya sebagai stasiun
penghubung dengan MS. Jadi, merupakan sistem yang langsung berhubungan dengan
handphone. Otak yang mengatur lalu-lintas trafik di BTS adalah BSC (Base Station
Controller). Location Updating, penentuan BTS dan proses handover pada percakapan
ditentukan oleh BSC. Beberapa BTS pada satu region diatur oleh sebuah BSC. BSC-
BSC ini dihubungkan dengan MSC (Mobile Switching Center). MSC merupakan
pusat penyambungan yang mengatur jalur hubungan antar BSC maupun antara BSC
dan jenis layanan telekomunikasi lain (PSTN, operator GSM lain, AMPS, dll).
Cara kerja dari sebuah BTS adalah suatu BTS mampu menjangkau suatu area
dengan batas batas tertentu dan dibatasi dengan BTS lain. Di karenakan jika suatu
BTS ada suatu daerah yang kosong dari jangkauan, maka akan terjadi drop (hilang)
daripada sinyal komunikasi. Hal itu akan mengakibatkan daerah tersebut tidak dapat
dipakai untuk berkomunikasi. Sedangkan jika ada daerah yang sama sama di
jangkau oleh BTS, maka akan terjadi penanganan antar BTS. Sehingga sinyal tidak
sampai terputus.
Gambar 2.4 Struktur BTS
2.2.4 Mobile Station
Bagian paling rendah dari sistem komunikasi seluler adalah MS (Mobile
Station). Bagian ini berada pada tingkat pelanggan dan portable. Mobile Station atau
yang juga dikenal dengan sebagai Telepon Mobil terdiri atas peralatan terminal mobil
dan kartu pintar sebagai modul identitas pelanggan SIM (Subscriber Identity Module).
SIM memberikan identitas personal penggunaanya, agar pelanggan dapat menjadi
pelanggan layanan yang berhubungan dengan terminal khusus. Dengan memasukkan
SIM ke terminal mobil yang lain pengguna dapat menerima panggilan, melakukan
panggilan dan menerima layanan yang khusus pada terminal ini.
2.3 Teknologi GSM
2.3.1 Jaringan GSM
GSM adalah sebuah teknologi komunikasi selular yang bersifat digital.
Teknologi GSM banyak diterapkan pada mobile communication khususnya
handphone, atau dalam istilah bahasa inggris (Global System for Mobile
Communication). Teknologi ini memanfaatkan gelombang mikro dan pengiriman
sinyal yang dibagi berdasarkan waktu, sehingga sinyal informasi yang dikirim akan
sampai pada tujuan. GSM dijadikan standar global untuk komunikasi selular sekaligus
sebagai teknologi selular yang paling banyak digunakan orang di seluruh dunia.
GSM adalah sebuah teknologi komunikasi bergerak yang tergolong dalam generasi
kedua (2G). Perbedaan utama sistem 2G dengan teknologi sebelumnya (1G) terletak
pada teknologi digital yang digunakan. Keuntungan teknologi generasi kedua
dibanding dengan teknologi generasi pertama antara lain sebagai berikut :
Kapasitas sistem lebih besar, karena menggunkan teknologi TDMA
(digital), dimana penggunaan sebuah kanal tidak diperuntukan bagi satu
user saja. Sehingga pada saat user tersebut tidak mengirimkan informasi,
kanal dapat digunakan oleh user lain. Hal ini berlawanan dengan teknologi
FDMA yang digunakan pada generasi pertama.
Teknologi yang dikembangkan di negara-negara yang berbeda merujuk
pada standard intrenasional sehingga sistem pada negara negara yang
berbeda tersebut masih tetap kompatible satu dengan lainnya sehingga
dimungkinkannya roaming antara negara.
Dengan menggunakan teknologi digital, service yang ditawarkan menjadi
lebih beragam, dan bukan hanya sebatas suara saja, tapi juga
memungkinkan diimplementasikannya service-service yang berbasis data,
seperti SMS dan juga pengiriman data dengan kecepatan rendah.
Penggunaan teknologi digital juga menjadikan keamanan sistem lebih baik.
Dimana dimungkinkan utk melakukan encripsi dan chipering informasi. GSM
Beroperasi pada band frekuensi 900, 1800 atau 1,900 MHz . Teknologi seluler paling
populer hampir di seluruh negara-negara di dunia dan tergolong TDMA-based digital
system 8 kali kapasitas AMPS per frequency band, dan Seluruh informasi yang
dipertukarkan antara Mobile Station (MS) dan Base Station (BS) dienkripsi .
Gambar 2.6 Arsitektur dasar jaringan GSM
2.3.2 Pembagian Sel
Di dalam jaringan GSM terdapat empat ukuran cells yang berbeda yaitu macro
cell, micro cell, pico cell dan umbrella cell. Coverage area dari tiap cell bervariasi
A5
Algorithm
A5
Algorithm
BS/MSC/AU
disesuaikan dengan keadaan di lingkungan sekitar. Macro cell merupakan cell
tertinggi dimana antenna dipasang paling atas dari Base Station atau di atas rata rata
puncak atap dari masing masing bangunan di sekitar. Micro cell dibuat dimana
antenna dipasang di bawah rata rata puncak atap bangunan dan biasa digunakan
secara khas di wilayah perkotaan. Pico cell dibuat beberapa meter dari tanah dan
sebagian besar digunakan di atau ke dalam rumah rumah. Umbrella cell merupakan
sel yang paling kecil untuk mengcover daerah daerah yang tidak terkena jangkauan
cell.
Radius cell sangat bervariasi tergantung pada tingginya suatu antenna, gain
antenna, dan kondisi propagasi disesuaikan dengan kondisi kondisi area. Jangkauan
yang terpanjang dari jaringan GSM adalah 35 km atau 22 miles. Ada juga
implementasi menyangkut konsep dari perluasan jangkauan sel dari jaringan GSM
dimana jangkauan sel bisa mengganda atau lebih lagi tergantung pada sistem antenna,
letak daerah (kondisi lapangan), dan timing advance.
2.4 Tipe Daerah
Bentuk muka bumi mempengaruhi propagasi gelombang radio. Daerah yang
memiliki perbukitan (daerah pegunungan) berbeda dengan daerah dengan gedung-
gedung tinggi (daerah perkotaan). Tipe ini akan menentukan model propagasi yang
digunakan. Pembagian tipe daerah dibedakan berdasarkan struktur yang dibuat
manusia (human-made structure) dan keadaan alami daerah, tipe-tipe tersebut sebagai
berikut :
1. Daerah Urban memiliki ciri-ciri antara lain :
a. Gedung-gedung yang terdapat didaerah tersebut berkerangka logam dan
betonnya tebal, sehingga membatasi propagasi radio melalui gedung.
b. Gedung-gedungnya tinggi, sehingga kemungkinan terjadinya difraksi pada
propagasi sinyal sangat kecil.
c. Contoh : daerah pusat kota baik metropolis maupun kota menengah
d. Sinyal radio dalam perambatannya mengalami pantulan dengan redaman
tertentu.
e. Redaman oleh pepohonan (foliage loss) diabaikan, karena pepohonan sangat
Jarang.
f. Kendaraan yang bergerak banyak, sehingga menyebabkan perubahan
karakteristik kanal secara kontinyu.
2. Daerah Sub-Urban memiliki cirri-ciri antara lain:
a. Tingkat halangan lebih rendah dibanding daerah urban, sehingga propagasi
sinyal radio relatif lebih baik dan median kuat sinyal tinggi.
b. Gedung-gedung relatif rendah, sehingga sinyal radio mengalami difraksi
oleh puncak gedung. tinggi rata-rata antara 12 20 m dan lebar 18 30 m.
c. Contoh : pinggiran kota , kota- kota kecil.
d. Jalan-jalan lebar.
e. Kecepatan pergerakan (mobiltas) kendaraan lebih tinggi dibanding daerah
urban.
f. Daerah bisnis rendah.
g. Pembangunan infrastruktur baru mungkin dilakukan.
3. Daerah Rural (Open Area) memiliki cirri-ciri antara lain:
a.Kuat sinyal yang diterima lebih besar dibanding daerah urban dan sub-
urban, karena jarang terdapat halangan.
b. Ruas jalan lebar
c. Lalu-lintas kendaraan tinggi
2.5 Propagation Loss
Propagasi loss mencakup semua perlemahan yang diperkirakan akan dialami
sinyal ketika berjalan dari Base station ke Mobile Station. Adanya pemantulan dari
beberapa obyek dan pergerakan mobile station menyebabkan kuat sinyal yang
diterima oleh mobile station bervariasi dan sinyal yang diterima tersebut mengalami
path loss. Path loss akan membatasi kinerja dari system komunikasi bergerak
sehingga memprediksikan Path loss merupakan bagian yang penting dalam
perencanaan system komunikasi bergerak. Path loss yang terjadi pada sinyal yang
diterima dapat ditentukan melalui model propagasi tertentu ., model propagasi
biasanya memprediksikan rata-rata kuat sinyal yang diterima oleh mobile station.pada
jarak tertentu dari base station ke mobile station. Disamping itu model probagasi juga
berguna untuk mempekirakan daerah cakupan sebuah base station sehingga ukuran
sel dari base station dapat ditentukan. Model propagasi juga dapat menentukan daya
maksimum yang dapat dipancarkan untuk menghasilkan kualitas pelayanan yang
sama pada frekuensi yang berbeda. Perkiraan rugi lintasan propagasi yang dilalui oleh
gelombang yang terpancar dapat dihitung.
2.6 Rugi-Rugi Ruang Bebas (Free Space Loss)
Redaman ruang bebas (L
FS
) merupakan besar redaman selama melewati udara
dimana dipengaruhi oleh efek pantulan(reflection), difraksi, dan
hamburan(scattering). Dengan persamaan :
dB f d L ) log 20 log 20 5 , 32 (
10 10
+ +
Dimana :
L = rugi-rugi ruang bebas dalam (dB)
d = jarak dalam (km)
f = frekuensi dalam (Mhz)
2.7 Model Propagasi Luar Ruangan (Outdoor)
Pada sistem transmisi radio komunikasi bergerak daerah yang dilayani biasanya
berupa daerah yang tidak teratur permukaannya. Karena itu diperlukan perhitungan
yang cukup rumit untuk memperkirakan redaman lintasannya. Beberapa model
propagasi yang akan dikemukakan dibawah ini layak untuk memperkirakan redaman
lintasan sepanjang permukaan daerah yang tidak teratur. Kebanyakan model-model
propagasi ini didapatkan dari data hasil pengukuran yang dilakukan dalam jumlah
besar dan cukup lama. Beberapa model yang sering digunakan untuk memprediksi
propagasi gelombang radio beserta karakteristiknya adalah seperti dibawah ini :
2.7.1 Model Okumura
Model Okumura merupakan salah satu model yang terkenal dan paling banyak
digunakan untuk melakukan prediksi sinyal di daerah urban (kota). Model ini cocok
untuk range frekwensi antara 150-1920 MHz dan pada jarak antara 1-100 km dengan
ketinggian antenna base station (BS) berkisar 30 sampai 1000 m.
Okumura membuat kurva-kurva redaman rata-rata relatif terhadap redaman
ruang bebas (A
mu
) pada daerah urban melalui daerah quasi-smooth terrain dengan
tinggi efektif antenna base station (h
te
) 200 m dan tinggi antenna mobile station (h
re
) 3
m. Kurva-kurva ini dibentuk dari pengukuran pada daerah yang luas dengan
menggunakan antenna omnidirectional baik pada BS maupun MS, dan digambarkan
sebagai fungsi frekuensi (range 100-1920 MHz) dan fungsi jarak dari BS (range 1-100
km). Untuk menentukan redaman lintasan dengan model Okumura, pertama kita
harus menghitung dahulu redaman ruang bebas (free space path loss), kemudian nilai
A
mu
(f,d) dari kurva Okumura ditambahkan kedalam factor koreksi untuk menentukan
tipe daerah. Model Okumura dapat ditulis dengan persamaan berikut:
AREA re te mu F
G h G h G d f A L dB L + ) ( ) ( ) , ( ) (
Dimana L adalah nilai rata-rata redaman lintasan propagasi, L
F
adalah rugi-rugi
propagasi udara bebas, A
mu
(f,d) adalah rata-rata redaman relatif terhadap redaman
ruang bebas, G(h
te
) adalah gain antena BS, G(h
re
) adalah gain antena MS, dan G
AREA
adalah gain tipe daerah. Gain antena disini adalah karena berkaitan dengan tinggi
antena dan tidak ada hubungannya dengan pola antena. Kurva A
mu
(f,d) untuk range
frekuensi 100-3000 Mhz ditunjukkan oleh gambar 2.9, sedangkan nilai G
ARE
untuk
berbagai tipe daerah dan frekuensi diperlihatkan pada gambar 2.10.
Gambar 2.9
Nilai Amu(f,d) untuk daerah urban
Gambar 2.10
Harga GAREA untuk berbagai jenis lingkungan
Lebih jauh, Okumura juga menemukan bahwa G(h
te
) mempunyai nilai yang
bervariasi dengan perubahan 20 dB/decade dan G(h
re
) bervariasi dengan perubahan 10
dB/decade pada ketinggian antena kurang dari 3 m.

,
_

200
log 20 ) (
h
h G
m h m 10 100 > >

,
_

3
log 10 ) (
h
h G
m h 3

,
_

3
log 20 ) (
h
h G
m h m 3 10 > >
Beberapa koreksi juga dilakukan terhadap model Okumura. Beberapa parameter
penting seperti tinggi terrain undulation (Dh), tinggi daerah seperti bukit atau
pegunungan yang mengisolasi daerah, kemiringan rata-rata permukaan daerah, dan
daerah transisi antara daratan dengan lautan juga harus diperhitungkan. Jika
parameter-parameter tersebut dihitung, maka factor koreksi yang didapat dapat
ditambahkan untuk perhitungan redaman propagasi. Semua faktor koreksi akibat
parameter-parameter tersebut juga sudah tersedia dalam bentuk kurva
Okumura. Untuk kondisi tertentu, kita dapat melakukan ekstrapolasi terhadap kurva
Okumura untuk mengetahui nilai-nilai di luar rentang pengukuran yang dilakukan
Okumura, tetapi validitas dari ekstrapolasi yang kita lakukan sangat bergantung
kepada keadaan dan kehalusan kurva ekstrapolasi yang kita buat.
Model Okumura merupakan model yang sederhana tetapi memberikan akurasi
yang bagus untuk melakukan prediksi redaman lintasan pada sistem komunikasi radio
bergerak dan sellular untuk daerah yang tidak teratur. Kelemahan utama dari model
ini adalah respon yang lambat terhadap perubahan permukaan tanah yang cepat.
Karena itu model ini sangat cocok diterapkan pada daerah urban dan suburban, tetapi
kurang bagus jika untuk daerah rural (pedesaan). Secara umum standar deviasi hasil
prediksi model ini dibanding dengan nilai hasil pengukuran adalah sekitar 10 dB
sampai 14 dB.
2.7.2 Model Hatta dan COST-231
Model Hatta merupakan bentuk persamaan empirik dari kurva redaman lintasan
yang dibuat oleh Okumura, karena itu model ini lebih sering disebut sebagai model
Okumura-Hatta. Model ini valid untuk daerah range frekuensi antara 150-1500 MHz.
Hatta membuat persamaan standard untuk menghitung redaman lintasan di daerah
urban, sedangkan untuk menghitung redaman lintasan di tipe daerah lain (suburban,
open area, dll), Hatta memberikan persamaan koreksinya. Persamaan prediksi Hatta
untuk daerah urban adalah:
d h h a h f dB urban L
re re te c
log ) log 55 , 6 9 , 44 ( ) (( log 2 , 13 log 16 , 26 55 , 69 ) )( ( + +
Dimana f
c
adalah frekuensi kerja antara 150-1500 MHz, h
te
adalah tinggi effektif
antena transmitter (BS) sekitar 30-200 m , h
re
adalah tinggi efektif antena receiver
(MS) sekitar 1-10 m, d adalah jarak antara Tx-Rx (km), dan a(h
re
) adalah faktor
koreksi untuk tinggi efektif antena MS sebagai fungsi dari luas daerah yang dilayani.
Untuk kota kecil sampai sedang, faktor koreksi a(hre) diberikan oleh persamaan:
dB 0,8) - (1,56logf - h 0,7) - (1,1logf ) a(h
c re c re

sedangkan untuk kota besar:
MHz 300 f untuk db 1,1 - ) (log1,54h 8,29 ) a(h
c
2
re re
<
MHz 300 f untuk dB 4,97 - ) (log11,75h 3,2 ) a(h
c
2
re re
>
Untuk memperoleh redaman lintasan di daerah suburban dapat diturunkan dari
persamaan standar Hatta untuk daerah urban dengan menambahkan faktor koreksi,
sehingga diperoleh persamaan berikut:
5,4 - /28)]2 2[log(f - L(urban) )(dB) L(suburban
c

dan untuk daerah rural terbuka, persamaannya adalah:


40,98 - 18,33logf - )2 (logf 4,78 - L(urban) rural)(dB) L(open
c c

Walaupun model Hatta tidak memiliki koreksi lintasan spesifik seperti yang
disediakan model Okumura, tetapi persamaan-persamaan diatas sangat praktis untuk
digunakan dan memiliki akurasi yang sangat baik. Hasil prediksi dengan model Hatta
hampir mendekati hasil dengan model Okumura, untuk jarak d lebih dari 1 km. Model
ini sangat baik untuk sistem mobile dengan ukuran sel besar, tetapi kurang cocok
untuk sistem dengan radius sel kurang dari 1 km.
European Co-operative for Scientific and Technical Research (EURO-COST)
membentuk komite kerja COST-231 untuk membuat model Hatta yang
disempurnakan atau diperluas. COST-231 mengajukan suatu persamaan untuk
menyempurnakan model Hatta agar bisa dipakai pada frequensi 2 GHz. Model
redaman lintasan yang diajukan oleh COST-231 ini memiliki bentuk persamaan:
C )logd 6,55logh - (44,9 ) a(h - logh 13,82 - 33,9logf 46,3 L(urban)
M te re te c
+ + +
Dimana a(hre) adalah faktor koreksi tinggi efektif antenna MS sesuai dengan
hasil Hatta, dan
C
M
=

'

an metropolit pusat daerah untuk dB 3


suburban dan sedang kota daerah untuk dB 0
M
C

Model Hatta COST-231 hanya cocok untuk parameter-parameter berikut:
f : 1500 2000 MHz
h
te
: 30-200 m
h
re
: 1-10 m
d : 1-20 km
2.7.3 Model Lee
Model ini didasarkan pada data hasil pengukuran di Amerika Serikat, dengan
frekuensi kerja : 900 MHz . Model bisa digunakan untuk penerapan prediksi area to
area atau point to point dan sesuai untuk daerah urban, suburban, dan rural.
Persamaan prediksi Lee:
Fo glogd Lo L + +
Dimana: Fo = F
1
.F
2
.F
3
.F
4
.F
5

F
1
= faktor koreksi ketinggian antena BS
F
2
= faktor koreksi daya pancar BS
F
3
= faktor koreksi gain antena BS
F
4
= faktor koreksi ketinggian antena MS
F
5
= faktor koreksi frekuensi kerja
Parameter acuan:
- Frekuensi kerja : 900 MHz
- Tinggi antena BS : 30,5 m
- Tinggi antena MS : 3 m
- Daya pancar : 10 W
- Gain antena BS : 6 dB terhadap dipole lambda
Lingkungan Lo(dB) g
Free space 91,3 20,0
Open 91,3 43,5
Suburban 104,0 38,0
Urban
-Tokyo
-Philadelphia
-Newark

128,0
112,8
106,3

30,0
36,8
43,1
BAB III
METODOLOGI
3.1 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan terbagi menjadi 4 tahap yaitu tahap
identifikasi dan Penelitian Awal, Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data, Tahap
Pembahasan dan Analisa, dan Tahap Kesimpulan.
1. Tahap awal yaitu melakukan identifikasi awal dengan melakukan
pengamatan terhadap model propagasi pada sistem komunikasi secara umum
melalui studi pustaka.
2. Tahap kedua adalah melakukan pengumpulan data melalui studi pustaka
dan pengolahan data dengan membuat grafik perbandingan dengan
menggunakan program simulasi MATLAB..
3. Pada tahap ketiga dilakukan pembahasan dan analisa terhadap
perbandingan model propagasi pada sistem komunikasi dengan model
propagasi free space loss
4. Tahapan terakhir merupakan tahapan penarikan kesimpulan dari paper
yang telah buat.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Paper ini menggunakan data yang dikumpulkan dengan metode studi pustaka
dengan mengumpulkan data yang terkait dengan penelitian dari pustaka atau buku-
buku yang tersedia serta yang berasal dari encyclopedia dan internet serta
menggunakan fasilitas computer dalam hal ini bahasa simulasi MATLAB AND
SIMULINK.
3.3 Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur yang digunakan dalam pengumpulan data dalam makalah ini adalah
sebagai berikut.
1. Mencari data melalui internet dan membaca buku-buku yang terkait dengan
masalah yang diangkat pada makalah ini.
2. Data tersebut sebagian besar dimasukkan ke dalam pembahasan pada bab II
sebagai landasan teori untuk penulisan, dan sebagiannya lagi digunakan untuk
membantu pembahasan pada Bab IV.
3.4 Jenis Data dan Sumber Data
3.4.1 Jenis data
Jenis data yang digunakan dalam makalah ini berupa data sekunder, yaitu
dengan mengambil data dari literatur-literatur yang telah ada. Jenis data yang
dipergunakan adalah d
ata kualitatif dan kuantitatif.
Data kualitatif yaitu data yang berupa uraian atau keterangan yang memiliki
hubungan dengan model propagasi pada sistem komunikasi celluler Dan data
kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan Data ini adalah data yang
diperoleh dari standar yang berlaku pada system komunikasi seluler GSM.
3.4.2 Sumber data
Data yang digunakan bersumber dari data intern yaitu data yang diperoleh
langsung dari dalam objek penelitian yang berupa keterangan-keterangan yang
mendukung objek penulisan.
3.5 Metode Pengolahan Data
Data yang diperoleh dalam penulisan makalah ini diolah dengan metode
deskriptif yaitu dengan cara menyusun fakta-fakta atau data-data yang berupa angka
atau pun kalimatkalimat sehingga data yang dihasilkan dapat dipaparkan secara
sistematis untuk menjawab suatu permasalahan yang telah diajukan.
3.6 Teknik Pengambilan Simpulan
Setelah menentukan rumusan masalah pada Bab I dan membahasnya pada Bab
IV secara rinci berdasarkan data yang diperoleh, maka pada Bab V akan dapat ditarik
beberapa simpulan sesuai dengan rumusan masalah yang ditetapkan
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Model Propagasi
Pemilihan model propagasi di dasarkan pada tipe daerah, ketinggian antena,
frekuensi yang digunakan dan beberapa parameter lainnya. Pada pembahasan ini
beberapa model yang akan dibandingkan adalah :
Model Okumura baik untuk daerah urban dan sub-urban, model ini
cocok untuk range frekuensi antara 150 1920 Mhz dan pada jarak antara 1-
100 Km dengan ketinggian antenna base station (BS) berkisar 30-1000 m.
Model Hatta dikenal juga dengan model Okumura-Hatta. Model ini valid
untuk daerah range frekuensi antara 150-1500 MHz dan cocok untuk daerah
urban,sub-urban dan rural.
Model Lee sesuai untuk urban, suburban dan rural. Model bisa digunakan
untuk penerapan prediksi area to area atau point to point, model ini bekerja
pada frekuensi 900 Mhz
Dengan model propagasi tersebut, akan didapatkan rugi-rugi lintasan (pathloss)
antara pengirim dan penerima..
4.2 Perhitungan Rugi-Rugi Lintasan (Pathloss) pada Sistem Komunikasi Seluler
GSM
4.2.1 Propagasi Free Space Loss
Perambatan gelombang elektromagnetik melalui medium ruang bebas pasti
akan mengalami rugi-rugi. Rugi-rugi ini disebut rugi-rugi ruang bebas (free space
loss) Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :
d log 20 f log 20 32.44 (dB) L
10 10
+ +
Keterangan :
L : rugi-rugi propagasi ruang bebas
f : frekuensi kerja dalam Mhz
d : jarak dalam Km (d = 50 Km)
Diasumsikan parameter sebagai berikut :
f = 900 Mhz (diperoleh dari band frekuensi GSM)
d = 10 Km (diasumsikan dari radius cells terpanjang pada GSM yaitu 35 Km)
Perhitungan :
d log 20 f log 20 32.44 (dB) L
10 10
+ +
) 10 ( log 20 .) 900 ( log 20 44 . 32 ) (
10 10
+ + dB L
dB 5 . 111
4.2.2 Model Okumura
Untuk menentukan redaman lintasan dengan model Okumura, pertama kita
harus menghitung dahulu redaman ruang bebas (free space loss), kemudian nilai A
mu
(f,d) dari kurva Okumura ditambahkan kedalam factor koreksi untuk menentukan tipe
daerah.
Gambar 4.1 Nilai Amu(f,d) untuk daerah urban
Gambar 4.2 Harga GAREA untuk berbagai jenis lingkungan
Model Okumura dapat ditulis dengan persamaan berikut:
area re te
G - ) G(h - ) G(h - d) Amu(f, LF (dB) L +
Keterangan
L : nilai rata-rata redaman pada lintasan propagasi
LF : rugi-rugi propagasi ruang bebas (125.5 dB)
A
mu
(f,d) : adalah rata-rata redaman relatif terhadap redaman ruang bebas
G(h
te
) : adalah gain antena Base Station
G(h
re
) : adalah gain antenna Mobile Station
G
AREA
: adalah gain tipe daerah.urban
Untuk menghitung Gain dapat dperoleh dengan persamaan :

,
_

200
log 20 ) (
te
te
h
h G

,
_

3
log 10 ) (
re
re
h
h G
Keterangan :
G(h
te
) : adalah gain antena BS
G(h
re
) : adalah gain antenna MS
h
te :
tinggi efektif antenna base station
h
re :
tinggi antenna mobile station
Diasumsikan parameter sebagai berikut
LF = 111.5 dB (diperoleh dari perhitungan pada point 4.2.1)
h
te
= 25 m sehingga G(h
te
) = 18 dB
h
re

= 2 m sehingga G(h
re
) = 1.76 dB
G
Area
= 9 dB (diperoleh dari kurva G
Area
untuk berbagai tipe daerah)
A
mu
(f,d) = 39 dB (diperoleh dar kurva A
mu
(f,d) untuk daerah urban)
Perhitungan :
area re te
G - ) G(h - ) G(h - d) Amu(f, LF (dB) L +
(9) - (1.76) - (18) - (39) ) 5 . 111 ( +
dB 74 . 121
4.2.3 Model Hatta
Model Hatta merupakan bentuk persamaan empirik dari kurva redaman lintasan
yang dibuat oleh Okumura. Persamaan prediksi Hatta untuk daerah urban adalah:
)) (h log 6.55 - (44.9 ) (h a - ) (h log 13,82 - f log 26.16 69.55 B) L(urban)(d
te re te c
+ +
) (log d
Keterangan :
L(urban)(dB) : adalah prediksi Hatta untuk daerah urban
f
c
:adalah frekuensi kerja antara 150-1500 MHz
h
te
: adalah tinggi effektif antena transmitter (BS) sekitar 30-200 m
h
re
: adalah tinggi efektif antena receiver (MS) sekitar 1-10 m
d : adalah jarak antara Tx-Rx (km)
a(h
re
) : adalah faktor koreksi untuk tinggi efektif antena MS sebagai fungsi dari
luas daerah yang dilayani
Untuk kota kecil sampai sedang, faktor koreksi a(h
re
) diberikan oleh persamaan :
dB 0.8) - f log (1.56 - h 0.7) - f log (1.1 ) a(h
c re c re

sedangkan untuk kota besar :
MHz 300 f untuk dB 1.1 - ) h 1.54 (log 8.29 ) a(h
c
2
re re
<
MHz 300 f untuk dB 4,97 - ) h 11.75 (log 3.2 ) a(h
c
2
re re
>
Diasumsikan nilai-nilai parameter sebagai berikut :
f
c
= 900 Mhz
h
te
= 25 m
h
re
= 2 m
d = 10 Km
dB 4,97 - ) h 11.75 (log 3.2 ) a(h
2
re re

(untuk daerah kota besar dengan f
c
>
300 Mhz)
97 . 4 )) 2 ( 75 . 11 (log 2 . 3
2

dB 8 . 3
Perhitungan :
)) (h log 6.55 - (44.9 ) (h a - ) (h log 13,82 - f log 26.16 69.55 B) L(urban)(d
te re te c
+ +
) (log d
)) 10 ))(log( 25 log( 55 . 6 9 . 44 ( ) 8 . 3 ( ) 25 log( 82 . 13 ) 900 log( 16 . 26 55 . 69 + +
dB 32 . 177
4.2.4 Model Lee
Persamaan prediksi Lee :
Fo d log g Lo L + +
Dimana :
.F .F .F .F F Fo
5 4 3 2 1

Keterangan :
Lo : redaman pada tipe daerah tertentu
F
1
: faktor koreksi ketinggian antena BS
F
2
: faktor koreksi daya pancar BS
F
3
: faktor koreksi gain antena BS
F
4
: faktor koreksi ketinggian antena MS
F
5
: faktor koreksi frekuensi kerja
Asumsi parameter diketahui :
L
0
= 128 dB (diperoleh dari tetapan untuk daerah urban)
g = 30 (diperoleh dari percobaan prediction model oleh Lee untuk daerah
urban)
d = 10 Km
F
i
= 30.5 m
F
2
= 10 Watt
F
3
= 6 dB
F
4
= 3 m
F
5
= 900 Mhz
Perhitungan :
.F .F .F .F F Fo
5 4 3 2 1

900 3 6 10 5 . 30 x x x x
Mhz 94 . 4
Fo d log g Lo L + +
94 . 4 ) 10 log 30 ( . 128 + +
dB 9 . 162
4.3 Analisa Hasil Perhitungan
Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa rugi-rugi lintasan (pathloss) terlihat
sepertipada tabel dibawah ini :
Tabel 4.1 Perbandingan Nialai Pathloss Pada Masing-Masing Model
Jarak (Km) Free Space Loss Model Okumura Model Hatta Model Lee
10 111.5 dB 121.74 dB 177.32 dB 162.9 dB
Dari tabel terlihat bahwa model Okumura memiliki nilai pathloss terendah
dibangding model Hatta, dan Lee. Hal ini disebabkan karena, perbedaan persamaan
yang ada pada model Okumura, dimana pada model tersebut disediakan beberapa gain
sebagai parameternya, hal ni bertujuan untuk mengoptimalkan model tersebut pada
tipe daerah yang paling sesuai yaitu pada daerah urban.
Mengapa demikian, seperti kita ketahui sebelumnya kinerja pada beberapa
model propagasi dipengaruhi oleh wilayah, jarak dan beberapa MS (mobile station)
yang akan berkomunikasi dalam waktu bersamaan. Hubungan antara tipe daerah
urban dengan MS adalah terdapatnya MS yang padat dan cenderung dengan tarafic
yang tinggi dengan daerah yang memiliki topologi gedung-gedung yang tinggi.
Dengan alasan seperti ini tentu dalam model okumura disediakan beberapa gain
untuk mengurangi faktor redaman ketika gelombang merambat daeri transmiter
menuju ke reciever.
Gain dalam hal ini digunakan untuk mengurangi rugi-rugi yang terjadi pada
daerah urban. Berdasarkan pada perhitungan pathloss sebelumnya, didapat nilai gain
yang besar dimana ini berbanding terbalik dengan nilai pathloss-nya yang lebih kecil .
area re te
G - ) G(h - ) G(h - d) Amu(f, LF (dB) L +
(9) - (1.76) - (18) - (39) ) 5 . 111 ( +
dB 74 . 121
Dimana perhitungan tersebut, untuk mengetahui niai pathloss terlebih dahulu
harus megetahui parameter tinggi antena MS dan BS sehingga didapat penguatan
pada masing-masing antena tersebut. Setelah diketahui penguatan atau gain maka kita
akan dapat mengetahui nilai pathloss-nya.
Sedangkan jika model Okumura dibandingkan dengan free space loss, nilai
redaman lebih relatif lebih rendah pada model free space loss. Hal ini dikarenakan
free space loss tidak terdapat penamabahan rata-rata redaman relatif terhadap
redaman ruang bebas seperti pada model Okumura.
Adapun kelebihan dari model okumura dibandingkan dengan model propagasi
yang lain adalah :
1. Pada model okumura pathloss-nya lebih kecil sehingga
power daya masih bisa diterima pada MS
2. Model okumura memang sangat cocok untuk wilayah urban
dimana redaman tidak dipengaruhi oleh luas wilayah tersebut
3. Pada sisi penerima (MS) dengan menggunakan model
propagasi okumura dapat menerima gain yang lebih besar maka dari itu
kualitas sinyal yang didapat akan lebih baik
Dan kekurangan dari model okumura dibanding dengan model propagasi yang lain:
1. Untuk menerapkan konsep ini banyak hal yang harus diperhitungkan anatara
lain mengenai peralatan dan perawatan serta biaya untuk operasionalnya.
2. Jika terjadi kendala dalam model propagasi ini akan lebih banyak memakan
waktu dalam penanganannya karena model ini mempunyai kopleksitas tinggi.
4.4 Grafik Perbandingan Model Propagasi
4.4.1 Listing Program
%input model Okumura
Am = 39;
Ghte = 18;
Ghre = 1.76;
Gare = 9;

%input model Hatta
fc = 900;
c = log10 (25);
d = log10 (distance);
Ahre = 3.8;

%input model Lee
L0 = 128;
g = 30;
e = log10 (distance);
f = g * e;
F0 = 4.94;

%menghitung free loss space
LfreeSpace = (32.44 + (20 * b) + (20 * a))

%menghitung model Okumura

LOkumura = (((LfreeSpace + Am + Ghte) - Ghre) - Gare)

%menghitung model Hatta
LHatta = (((((69.55 + (26.26 * fc)) + (13.82 * c))- Ahre) +
(44.9-6.55 * c))*d)

%menghitung model Lee
LLee = L0 + f + F0

%plot grafik

%plot free loss space
subplot (4,1,1);
plot (distance,LfreeSpace,'-rs','LineWidth',2);
title ('Free Space Loss Propagation');
ylabel('Loss (dB)');
xlabel('Jarak (Km)');
grid;

%plot model okumura
subplot (4,1,2);
plot (distance,LOkumura,'-gs','LineWidth',2);
title ('Model Okumura');
ylabel('Loss (dB)');
xlabel('Jarak (Km)');
grid;

%plot model Hatta
subplot (4,1,3);
plot (distance,LHatta,'-bs','LineWidth',2);
title ('Model Hatta');
ylabel('Loss (dB)');
xlabel('Jarak (Km)');
grid;

clc;
disp('| TUGAS PROPAGASI GELOMBANG RADIO |');
disp('| MODEL PROPAGASI PADA SISTEM KOMUNIKASI SELULER |');
disp('| oleh: |');
disp('| I Nyoman Surya Jaya (06-35) |');
disp('| I Gd Md Budiartana (06-56) |');
disp('| I Gst Ag Adi Wira Buwana (06-62) |');
disp('| I Made Rai Suitra (06-84) |');
disp('| I Putu Agus Ari Wiweka (06-86) |');

%input
%input free space lost
distance = [5 10 20 25 30 35];
a = log10 (distance);
b = log10 (900);
%plot model Lee
subplot (4,1,4);
plot (distance,LLee,'-cs','LineWidth',2);
title ('Model Lee');
ylabel('Loss (dB)');
xlabel('Jarak (Km)');
grid on;
%16 May 2009 created by Adi Wira Buwana
Gambar 4.3 Listing Program Perbandingan Model Propagasi
Setelah di-run hasilnya sebagi berikut :
Gambar 4.3 Tampilan Command Window MATLAB
5 10 15 20 25 30 35
100
110
120
130
Free Space Loss Propagation
L
o
s
s

(
d
B
)
Jarak (Km)
Perbandingan Model-Model Propagasi
Perbandingan Model Propagasi
5 10 15 20 25 30 35
150
160
170
Model Okumura
L
o
s
s

(
d
B
)
Jarak (Km)
5 10 15 20 25 30 35
1
2
3
4
x 10
4
Model Hatta
L
o
s
s

(
d
B
)
Jarak (Km)
5 10 15 20 25 30 35
150
160
170
180
Model Lee
L
o
s
s

(
d
B
)
Jarak (Km)
Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Model Propagasi
4.5 Analisa Grafik
Pada grafik perbandingan model-model propagasi diatas dilihat bahwa grafik
tersebut merupakan grafik hubungan nilai loss (dB) terhadap perubahan jaraknya
(Km). Dimana perubahan jaraknya antara 5 sampai 35 Km.
Untuk semua model propagasi diatas dapat dilihat perbandingan antara jarak
berbanding lurus dengan nilai lossnya dimana semakin jauh jarak BS dengan MS
maka nilai lossnya semakin besar.
Dari grafik perbandingan masing-masing propagasi dapat dilihat bahwa grafik
model okumura mempunyai nilai perbandingan loss yang lebih rendah terhadap
perubahan jaraknya diantara model propagasi hatta maupun model propagasi lee hal
ini karena adanya faktor gain pada model propagasi okumura sehingga model
propagasi okumura baik digunakan dalam sistem komunikasi seluler pada daerah
urban.
Namun jika model propagasi okumura dibandingkan dengan model propagasi
free space loss perubahan nilai lossnya lebih tinggi . Hal ini dikarenakan pada
perambatan gelombang melalui medium ruang bebas pasti terjadi rugi-rugi ruang
bebas, karena itu pasti diperlukan model propagasi free space loss. Selain itu dari
segi perhitungan tidak terdapat penambahan rata-rata redaman relatif terhadap
redaman ruang bebas seperti pada model Okumura.
BAB V
KESIMPULAN
Adapun yang dapat disimpulkan dari penyusunan paper ini adalah:
1. Dalam suatu sistem komunikasi selalu terdapat rugi-rugi dalam sistem
transmisinya yang dipengaruhi oleh jarak dan tipe dari daerah transmisi .
2. Dalam sistem transmisi yang menggunakan medium udara atau ruang bebas,
akan terdapat rugi-rugi ruang bebas, sehingga diperlukan sebuah model
propagasi yang disebut propagasi free space loss
3. Untuk daerah yang memiliki topologi yang berbeda-beda juga terdapat rugi-
rugi daya dari transmiter ke receiver maka diperlukan suatu model propagasi
yang tepat untuk meminimalisasi rugi-rugi tersebut.
4. Untuk model propagsi luar ruangan (outdoor) dengan tipe daerah urban
terdapat model propagasi Okumura, Hatta dan Lee, dimana model yang
memiliki nilai redaman terendah adalah model Okumura
5. Dengan menggunakan model propagasi Okumura. Pada sisi penerima (MS)
akan diperoleh loss yang lebih rendah, hal ini dikarenakan adanya faktor gain
yang mempengaruhi sehingga model okumura baik digunakan dalam sistem
komunikasi seluler GSM pada daerah urban.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Randy H. Katz, 1996. Slide Radio Propagation. University of California,
Berkeley
Gunawan Wibisona.2008.MOBILE BROADBAND Tren Teknoogi Wireless Saat Ini.
Bandung : Informatika Bandung
The Mathworks, Inc., Using Matlab
http://mti.ugm.ac.id/~yudhistira/ResourceMTI/Tutorial/Cawu01/Computer
%20Netw/ASPEK%20RADIO%20WLAN.ppt
http://ilkom.unsri.ac.id/dfiles/materi/deris/CDMA&GSM.pdf
www.mathworks.com
http://www.stttelkom.ac.id/staf/UKU/Handout%20PT1123-DASTEL/Sistem%20
Komunikasi%20Bergerak.ppt
http://www.stttelkom.ac.id/staf/UKU/Handout%20TE4103-ISKOMBER%20(S1)/
Model%20Propagasi%20Outdoor.doc
http://www.stttelkom.ac.id/staf/UKU/Handout%20TE4103-ISKOMBER%20(S1)/
Modul%204.ppt
http://www.te.ugm.ac.id/~nanangsw/BAB/BAB%20III.doc
http://zainuddin-dikmenjur.tripod.com/PropagasiIma.doc