Anda di halaman 1dari 15

I. PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang

Fenol merupakan turunan benzen yang berupa kristal tak berwarma yang memiliki bau khas dan mempunyai rumus C6H5OH. Fenol dan derivatnya meerupakan polutan yang sangat berbahaya di lingkungan karena bersifat racun dan sulit didegradasi oleh organisme pengurai. Fenol merupakan senyawa kimia yang bersifat korosif yang dapat menyebabkan iritasi jaringan, kulit, mata dan mengganggu pernapasan manusia. Nilai ambang batas senyawa fenol untuk baku mutu air minum sebesar 0,001 ppm, mutu buangan air industri sebesar 0,3 ppm serta di lingkungan para pekerja gas fenol adalah 0,3 ppm. Pada konsentrasi yang tinggi atau pada keadan murni, fenol dapat membuat kulit terbakar dan bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker( Setiabudi, 1995). Penelitian sebelumya mengenai degradasi fenol telah dilakukan dengan metode biologis yaitu dengan menggunakan berbagai macam bakteri. Namun hal ini sulit untuk direalisasikan di masyarakat umum, karena penggunaan bakteri biasanya hanya dapat dilakukan dalam skala lab dan butuh keahlian untuk mengembangkan metode ini. Seiring dengan perkembangan riset, metode oksidasi lanjut yang didasarkan pada produksi spesi reaktif misalnya radikal hidroksil yang mampu mengoksidasi berbagai polutan organik secara cepat dan non selektif (Kuo, 2001) semakin berkembang. Metode oksidasi lanjut termasuk diantaranya fotokatalis, misalnya kombinasi penggunaan semikonduktor TiO2 dan ZnO pada sinar UV maupun sinar tampak (Kristianingsih, 2005). Fotokatalisis merupakan metode yang efisien untuk mendegradasi secara lengkap senyawa organik dalam fase cair dan gas. Pencemar yang mengandung karbon, hidrogen, nitrogen, sulfur dan atom halogen akan terdegradasi menjadi CO2, H2O, anion NO3-, SO42-, dan halida (Hoffmann, 1995). Metode fotokatalitik dengan logam TiO2 telah digunakan dalam beberapa aplikasi komersial, termasuk pemurnian air, unit pembersih udara, pelapis antimikroba dan kaca self-cleaning, akan tetapi kelemahan dari TiO2 adalah tidak ekonomis untuk pemurnian air skala besar (Daneshvar, 2003). Penggunaan semikonduktor perak orthofosfat dapat dijadikan 1

sebagai alternatif. senyawa ini dapat dibuat dari bahan yang mudah dijumpai di laboratorium, dan berdasarkan nilai potensial elektrodanya (Bard ,1985) serta hasil perhitungan quantum yield pada iradiasi sinar tampak yang menunjukkan nilai yang sangat besar hingga 90% (Yi, 2010) senyawa ini memiliki aktivitas fotooksidatif yang kuat sehingga dapat diharapkan menjadi fotokatalis baru yang lebih murah dan efektif. Perak Ortoposfat merupakan senyawa yang mempunyai sifat fotokatalis pada sinar tampak yang cukup besar yaitu sebesar 90% (Yi, 2010). Telah diketahui pula bahwa TiO2 juga mempunyai sifat fotokatalis pada daerah sinar UV. Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa TiO2 dapat mendegradasi senyawa fenol dan senyawa pewarna organik, seperti metilen blue, metilen jingga, dan rodamin B. Degradasi senyawa-senyawa tersebut oleh TiO2 yang dilakukan dibawah sinar matahari memberikan hasil yang kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena sinar matahari hanya mengandug sinar UV sebanyak 20% dari keseluruhan sinar yang dikandung oleh matahari (Li , 2011). Sintesis senyawa Ag3PO4/TiO2 dibuat untuk mengetahui dan memaksimalkan fungsi dari kedua fotokatalis. Ag3PO4 yang mempunyai sifat pendefradasi pada cahaya tampak dan TiO2 yang mempunyai sifat pendegradasi pada daerah sinar UV, berdasarkan pernyataan ini diharapkan senyawa Ag3PO4/TiO2 dapat digunakan utuk proses degradasi dibawah sinar matahari secara maksimal.

1.2.

Identifikasi Masalah uraian diatas maka dapat disimpulkan beberapa

Berdasarkan permasalahan, yaitu:

1. Bagaimana cara mensintesis senyawa Ag3PO4 dan Ag3PO4/TiO2? 2. Bagaimana efektivitas dari metode fotooksidasi senyawa Ag3PO4 dan Ag3PO4/TiO2 dalam mendegradasi fenol pada sinar tampak dan sinar UV?

1.3.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini antara lain:


1. Mensintesis dan menentukan kondisi optimum sintesis senyawa Ag3PO4

dan Ag3PO4/TiO2yang meliputi suhu dan waktu pengeringan.


2. Mengetahui keefektifan metode fotooksidasi senyawa Ag3PO4 dan

Ag3PO4/TiO2 dalam mengoksidasi fenol. 1.3.2. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain:
1. Mengembangkan metode fotokatalisis yang murah, efektif dan efisien

sebagai metode penanganan zat-zat organic berbahaya


2. Mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat yang

ditimbulkan oleh pencemaran lingkungan. 3. Meningkatkan kegiatan pengembangan ilmu dan teknologi di perguruan tinggi, terutama berkaitan dengan payung penelitian laboratorium kimia anorganik.

II. 2.1 Fotokatalisis

TINJAUAN PUSTAKA

Fotokatalisis merupakan kombinasi proses dari fotokimia dan katalisis, dimana diperlukan sinar UV atau sinar tampak dan katalis (semikonduktor) untuk melangsungkan suatu transformasi kimia (Schiavello, 1997). Bahan yang dapat dijadikan fotokatalis merupakan semikonduktor yang mampu mengadsorp foton. Proses fotokatalis banyak diaplikasikan untuk penghilangan atau pendegradasian polutan cair menjadi senyawa yang lebih ramah lingkungan, misalanya untuk pengolahan fenol(Hermann, 1999). Proses fotoreduksi dan fotooksidasi dimulai pada saat fotokatalis mengadsorbsi energi foton dengan energi yang sama atau lebih besar dari energi celah semikonduktor (TiO2 mempunyai energi celah sebesar 3.2 eV) sehingga elektron akan tereksitasi dari pita valensi ke pita konduksi. Pasangan elektron (e-) dan hole (h+) yang terbentuk dapat berekombinasi dan melepaskan panas atau menyebabkan reaksi oksidasi dan reduksi dengan transfer muatan ke spesies yang teradsorbsi pada permukaan semikonduktor (Hoffman, 1995). Jadi, proses fotoeksitasi akan menghasilakn elektron pada pita konduksi dan hole pada pita valensi. Semikonduktor adalah bahan yang memiliki daerah energi kosong (void energy region) yang disebut celah pita (band gap) yang berada diantara konduktor dan isolator. Banyak jenis bahan semikonduktor yang tersedia secara komersial tetapi hanya sedikit yang cocok dipakai sebagai fotokatalis dalam menguraikan ber4bagai polutan organik. Kriteria yang diperlukan bahan semikonduktor sebagai katalis adalah (Litter, 1999) : 1. Bersifat fotoaktif 2. Mampu memanfaatkan cahaya tampak atau ultraviolet dekat 3. Bersifat inert secara biologis dan kimiawi 4. Bersifat fotostabil (stabil terhadap cahaya) 5. Murah dan mudah didapatkan 6. Tidak larut dalam reaksi Katalis semikonduktor untuk proses fotokatalisis terdiri dari jenis oksida dan 4

sulfida. Katalis semikonduktor termasuk jenis oksida contohnya TiO2, Fe2O3, ZnO, SnO2, dan WO3, sedangkan yang termasuk jenis sulfida contohnya CdS, CuS, dan ZnS (Hermann, 1999). Bahan semikonduktor memiliki energi celah pita, yaitu daerah kosong yang memanjang dari puncak pita valensi terisi (Filled Valency Band) hingga dasar pita valensi yang kosong (Vacant Conduction Band), yang cukup untuk dieksitasi oleh sinar ultraviolet (sinar UV) atau sinar tampak, dan potensial reduksi anatar valance band (vb) dan conduction band (cb), dapat menghasilkan rangkaian reaksi oksidasi dan reduksi. Besarnya celah energi antara pita valensi dan pita konduksi tersebut akan menentukan tingkat populasi termal dari pita konduksi atau dengan kata lain tingkat konduktivitas listrik dari semikonduktor tersebut. Celah piata tersebut mendefinisikan sensivitas panjang gelombang dari semikonduktor yang bersangkutan terhadap radiasi (Hermann, 1999). 2.2 Perak Orthofosfat Senyawa perak ortofosfat merupakan senyawa dengan rumus Ag3PO4 yang dapat dibentuk dari reaksi antara garam perka terlarut dan orthofosfat terlarut. Senayawa ini mempunyai massa molar 418.58 g mol1, densitas 6.370 g/cm3 dan titik leleh 849 C. Senyawa ini larut dalam asam nitrat dan ammonia dan tidak larut dalam air. Reaksinya dengan ammonia juga memungkinkan alternative sintesis dengan penghilangan ammonia secara terus-menerus dari suati larutan perak fosfat amoniakal yang akan menghasilkan Kristal berukuran besar. Reaksi penghilangan ammonia dapat digunakan sebagai analisis terbentuknya ion fosfat. Reaksi pengendapan ortofosfat dapat digunakan sebagai uji kualitatif maupun kuantitatif terbentuknya senyawa fosfat. Tergantung dari sintesisnya, senyawa perak ortofosfat depat membentuk struktur kisi Kristal yang serupa (Weast, 1981). Walaupun berlum ada pemanfaatan yang berarti dari senyawa perak ortofosfat, penyelidikan awal senyawa ini telah dimulai sejak tahun 1925 oleh Wyckoff (Helmholz, 1936). Senyawa perak ortofosfat saat ini digunakan sebagai pewarna perak pada material biologis dan beberapa peran dalam bidang kimia 5

analitik. Dalam bidang fotografi, senyawa perak ortofosfat digunakan sebagai senyawa sensitive cahaya. Pada tahun 2010, Zhiguo Yi menemukan bahwa senyawa perak orthofosfat mempunyai aktivitas oksidasi yang tinggi pada sinar tampak. Pada percobaan pelepasan oksigen dari air, terbukti bahwa senyawa ini mempunyai aktivitas fotokatalisis yang lebih baik dari katalis lainnya dengan quantum yield hingga 90%. Tujuan utama dari pemnfaatan fotokatalis perak ortofosfat sebenarnya adalah untuk memproduksi bahan bakar hydrogen sehingga menghasilkan energi yang bersih sebagai pengganti bahan bakar fosil. Manfaat lainnya adalah untuk mendekomposisi senyawa berbahaya hanya dengan bantuan sinar, dank arena fungsinya mirip dengan fotosintesis pada tanaman maka disebut teknologi fotosintesis buatan. Perak orthofosfat juga diharapkan menjadi pengganti titanium dioksida sebagai fotokatalis konvensional yang aktivitasnya kecil pada sinar tampak. Manfaat lainnya yang masih terbuka lebar dari aplikasi perak ortofosfat adalah adalah sebagai sistem fotoelektrode lapis tipis dan reduksi karbon dioksida menghasilkan hydrogen (Yi, 2010).
2.3 TiO2

Fotokatalisis telah terbukti dapat digunakan dalam proses fotooksidasi zat warna tekstil, sebagai contoh pada semikonduktor TiO2. Adapun untuk mekanisme fotooksidasi menggunakan perak orthofosfat belum banyak dipelajari. Pada suatu semikonduktor (misal TiO2), dengan adanya foton dengan energi h yang lebih besar atau sama dengan bandgap pada semikonduktor (Eg) maka timbul elektron (ecb-) dan holes (hb+) pada pita konduksi dan pita valensi: TiO2 + h + hb+ + ecbholes yang muncul terdifusi ke peermukaan TiO2 dan bereaksi dengan permukaan gugus hidroksil yang terserap atau molekul air membentuk holes yang terperangkap hb+ + ecb- panas hb+ + TiIVOH [TiOH]+ TiIVO + H+ hb+ + TiO2(H2O) TiO2(OH) + H+ 6

hole yang terperangkap dapat dianggap sebagai radikal hidroksil yang terikat pada permukaannya. radikal yang terikat tersebut juga dapat berdifusi dari permukaan menuju ke dalam larutan dan keluar secara bebas menjadi radikal hidroksil bebas. Radikal hydrogen dengan ikatan permukaan maupun radikal hidrogen bebas dapat bereaksi dengan molekul bebas zat warna yang teradsorpsi hingga kemudian mengoksidasinya menjadi senyawa yang lebih sederhana (Grela, 1996; Sun, 1996 dan Nosaka, 2003). Selain mekanisme diatas, oksidasi dapat berjalan lebih rumit melalui oksidasi langsung dari zat warna oleh holes yang muncul karena adanya foton. Ditinjau dari segi termodinamika mekanisme ini memungkinkan karena potensial redoks dari zat warna seringkali terdapat diatas ujung pita valensi semikonduktor. Data kuantum yield untuk OH dan hole yang muncul adalah sekitar 7 x 10-5 dan 5,7 x 10-2 menunjukkan bahwa jalut transfer hole secara langsung lebih mendominasi, akan tetapi mekanisme awal OH termediasi oksidasi akan lebih disukai bila zat warna terserap apda permukaan fotooksidator. Kedua mekanisme dapat terjadi dan masing-masing oleh pelarut yang digunakan serta kondisi percobaan.

Gambar 1. Mekanisme fotooksidasi untuk zat warna organik oleh fotokatalis (Anpo, 2000)

2.4 Fenol Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas, mempunyai titik didih yang tinggi yaitu 181,9C dan mempunyai titik lebur 40,9oC. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil. Fenol merupakan komponen utama pada anstiseptik dagang, triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik. Fenol berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin, pembasmi rumput liar, dan lainnya. Fenol yang berkonsentrasi tinggi atau masih dalam keadaan murni dapat mengakibatkan pembakaran kimiawi pada kulit yang terbuka. Fenol , larut dalam pelarut organik dan mempunyai keterbatasan dalam hal kelarutannya didalan air. Fenol mempunyai kelarutan dalam air sebesar 8,3 g/100 ml. Fenol cenderung bersifat asam jika dibandingkan dengan senyawa alifatik alcohol lainnya. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, dimana fenol dapat melepas ion H+. pada keadaan yang sama alcohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Fenol didapat melalui oksidasi sebagian benzene atau asam karboksilat. Fenol juga dapat diperoleh melalui proses oksidasi batu bara (Sucipto, 2008).

Gambar 2. Struktur fenol (sucipto, 2008)


2.5 Spekrtofopometri UV-Vis

Spektrofotometri adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan spektrofotometer. Spektriofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan fotometer. Spektofotometer adalah alah yang digunakan untuk mengukur energi secara relative jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau

diemisikan

sebagai

fungsi

dari

panjang

gelombang.

Spektrofotometer

menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu, dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Absorbsi cahaya UV-Vis mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Energi yang terserap kemudian terbuang sebagai cahaya atau tersalurkan dalam reaksi kimia. Absorbsi cahaya tampak dan radiasi ultraviolet meningkatkan energi elektronik sebuah molekul, artinya energi yang disumbangkan oleh foton-foton memungkinkan elektronelektron itu mengatasi kekangan inti dan pindah ke luar ke orbital baru yag lebih tinggi energinya. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UVtampak karena mereka mengandung elektron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi (Tim penyusun, 2007)

III.

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan selama enam bulan dari bulan November 2011 sampai dengan bulan April 2012 di Laboratorium Anorganik Jurusan MIPA Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. 3.2 Bahan dan Alat Penelitian 3.2.1 Bahan penelitian Bahan-bahan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah AgNO3, Na3PO4 atau Na2HPO4, TiO2, NH4OH 0.5 N, NaH2PO4, KFe(CN)4 8%, fenol, aminoantipirin 2%, aquademineralisasi, dan aquades. 3.2.2 Alat penelitian Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian antara lain alat-alat gelas, oven, centrifuge, shaker, magnetic stirer, lampu LED 2 watt, Speoktrometer UVVIS, SEM, DRS untuk analisa celah pita (band gap) dan X-ray diffractometer untuk analisis struktur senyawa produk. 3.3 Prosedur Kerja 3.3.1 Pembuatan kemikalia 3.3.1.1 Larutan fenol induk 1000 ppm Fenol murni ditimbang sebanyak 0,1 g. fenol kemudian dilarutkan dalam 100ml akuades.
3.3.1.2 Larutan NH4OH 0,5 N

Larutan ini dibuat dengan mengambil 1,87 ml NH3 25%, kkemudian dimasukan dalam labu ukur 50 ml. selanjutnya diencerkan dengan akuades sampai tanda batas.

10

3.3.1.3 Larutan buffer posfat Larutan ini dibuat dari 94,7 ml Na2HPO4 0,1M dan 5,3 ml NaH2PO4 0,1M. Larutan Na2HPO4 0,1M dibuat dengan menimbang 3,5818 gram Na2HPO4 , dimasukan dalam labu ukur 100 ml dan ditambahkan akuades sampai tanda batas. Larutan NaH2PO4 0,1M dibuat dengan menimbang NaH2PO4 sebanyak 1,389 gram kemudian dilarutkan dalam 100 ml akuades. 3.3.1.4 Larutan aminoantipirin 2% Larutan ini dibuat dengan mengambil 0,2 g aminoantipirin. Selanjutnya dimasukan dalam labu ukur 10 ml, dan ditambahkan akuades sampai tanda batas.
3.3.1.5 Larutan KFe(CN)4 8%

Larutan ini dibuat gengan melarutkan KFe(CN)4 sebanyak 0,8 gram didalam 10 ml akuades. 3.3.2 Penentuan panjang gelombang maksimum Sebanyak 10 ml larutan fenol dengan konsentrasi 5 ppm dimasukan dalam labu ukur 100 lm. Larutan ini kemudian ditanbahkan 0.25 ml NH4OH 0,5 N, beberapa tetes buffet posfat, 0,1 ml aminoantipirin dan 0,1 ml KFe(CN) 4 8%.campuran ini kemudian diencerkan denagn akuades sampai tanda batas. Larutan kemudian ditentukan panjang gelombang maksimumnya dengan spectrometer UV-VIS pada panjang gelombang 400-700 nm.. 3.3.3 Penentuan kurva kalibrasi Fenol 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm diambil sebanyak 10 ml. Masing-masing larutan dimasukan dalam labu ukur 100 ml, kemudian ditambahkan ditanbahkan 0.25 ml NH4OH 0,5 N, beberapa tetes buffet posfat, 0,1 ml aminoantipirin 2% dan 0,1 ml KFe(CN)4 8% pada masing-masing labu ukur. Campuran ini kemudian diencerkan dengan akuades sampai tanda batas dan diukur absorbansinya pada panjang 11

gelombang maksimum. 3.3.4 Sintesis senyawa perak orthofosfat (Yi, 2010) Prosedur sintesis dilakukan dengan metode pertukaran ion dimana sebanyak 1 ekuivalen serbuk karas Na2HPO4 atau Na3PO4 dan AgNO3 dicampurkan dan dishaker hingga warna putih berubah menjadi kekuningan. Campuran tersebut selanjutnya dicuci dengan akuabides untuk menghilangkan material pengotor. Serbuk kekuningan yang terbentuk dikeringkan pada suhu 100 C, 300 C, dan 500 C,pada keadaan terbuka selama satu jam. 3.3.5 Sintesis Ag3PO4/TiO2 Ag3PO4/TiO2 disintesis tengan mem-furnace kedua senyawa ini dalam bentuk padatan pada suhu 1000C selama 1 jam. Ag3PO4 dan TiO2 ditimbang dengan perbandingan mol yang ekivalen. Selanjutnya kedua senyawa dimasukan ke dalam cawan pengabuan, dan kemudian di-furnace selama 1 jam. 3.3.6 Karakterisasi senyawa Ag3PO4 dan Ag3PO4/TiO2 Senyawa perak orthofosfat dan Ag3PO4/TiO2 yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Direct reflectance spectroscopy (DRS) untuk mengetahui pita serapan dan sifat semikonduktor dari senyawa tersebut. Analisis dilakukan dengan SEM dan juga secara X-Ray Diffractometer (difraksi sinar-X) untuk melihat kristalinitas dari senyawa hasil sekaligus mengkonfirmasikan terbentuknya serapan powder perak orthofosfat berdasarkan referensi. 3.3.7 Studi fotooksidasi fenol oleh senyawa Ag3PO4 dan Ag3PO4/TiO2 Larutan fenol dibuat dengan konsentrasi 20 ppm dalam labu ukur 1000 ml. Selanjutnya diambil sebanyak 40 ml dan dimasukan dalam beaker glass, kemudian ditambahkan 0,08 g Ag3PO4. Campuran kemudian distirer dalam kadaan gelap. Perlakuan ini diulangi dengan menggunakan lampu LED 2 watt berwarna merah, hijau, biru dan lampu UV. Semua perlakuan diulang kembali namun Ag3PO4 diganti dengan Ag3PO4/TiO2 . 12

Percobaan dilaksanakan pada ruangan yang gelap dan suhu kamar. pH larutan dijaga agar konstan pada pH 7. Konsentrasi awal zat warna terlebih dahulu ditentukan secara spektrofotometri UV Visible. Reaksi fotooksidasi dengan sinar UV dan lampu LED dilakukan selama 1 jam, kemudian sampel disentrifugasi dan dipisahkan antara padatan dan larutan sampel. Larutan sampel dianalisa dengan penentuan konsentrasi secara spektrofotometri UV-Visible pada panjang gelombang maksimum. 3.3.8 Jadwal Kegiatan Seluruh kegiatan penelitian akan dilaksanakan selama 5 bulan. Tahap-tahap pelaksanaannya terlihat pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Jadwal pelaksanaan penelitian No. 1. 2. Jenis Kegiatan Persiapan Pelaksanaan a. Sintesis senyawa b. karakterisasi awal optimasi c. optimasi sintesis d. Uji fotooksidasi fenol Penyusunan laporan 1 X X dan X X X X X X 2 3 Bulan ke4 5 6

3.

X X

DAFTAR PUSTAKA

13

Anpo, M., 2000, Utilization of TiO2 Photocatalysts in Green Chemistry, Pure Appl. Chem., 72, 1265-1270. Bard, A., J. Pearson, 1985. Standard Potentials in Aqueous Solution P306, CRC Press Daneshvar, N. D., Salari, A. R. Khataee, Photocatalytic Degradation of Azo Dye Acid Red 14 in Water: Investigation of The Effect of Operational Parameters J. Photochem. Photobiol. A 157(2003)111. Grela, M. A., M. E. J. Coronel, A. J. Colussi, Quantitative Spin-Trapping Studies of Weakly Illuminated Titanium Dioxide Sols. Implications for the Mechanism of Photocatalysis, J. Phys. Chem. 100 (1996) 16940. Helmholz, L., 1936., The crystal Structure of silver phosohate. J. chem.Phys. 4, 316-322 Hermann, J.M., (1999).Heterogenous Photocatalysis Fundamental and Aplication to the Removal of VariousTypes of Aqueous Pollutans, Catal Today, 53, 115-129. Hoffman, M.R., 1995., Environmental Application of Semiconductor

Photocatalysis., Chem. Rev. 95, 69-96 Kristianingsih, L.W., 2005, Studi Degradasi Zat Pewarna Azo Acid Orange 7 Menggunakan Proses Oksidasi Lanjut, Tesis. MIPA-UGM, Yogyakarta. Kuo, W. S., P. H. HO, Solar Photocatalytic Decolorization of Methylene Blue in Water, Chemosphere 45 (2001) 77. Litter, M. I. 1999. Review Heterogenous Photocatalysis Transition Metals Ion in Photocatalytic System, Applied Catalysis B : Environmental , 89-114.

14

Matthews, R.W. and McEvoy, S. R., A Comparison of 254 nm and 350 nm Excitation of TiO2 in Simple Photocatalytic Reactors, J. Photochem. Photobiol. A: Chem., 66, 255 (1992). Nosaka,Y., S. Komori, K. Yawat,T. Hirakawa, A. Y. Nosaka, Photocatalytic OH Radical Formation in TiO2 Aqueous Suspension Studied by Several Detection Methods, Phys. Chem. Chem.Phys. 5 (2003) 4731. Schiavello. M., 1997., Heterogeneous Photocatalysis, John Wiley & Sons Ltd, New York. Setiabudi, 1995, Degradasi Fenol Oleh Pseudomonas aeruginosa, ITS Press, Semarang. Sopyan, Is, 1998, Pembuatan Fotokatalis Film TiO2 Melalui Blending Serbuk TiO2 Sangat Aktif Dengan Binder Resin Fluor, dalam Majalah BPPT perpustakaan BAPENAS. Sucipto, Adi, 2011, Fenol, Keberadaannya Dan Pengaruhnya Terhadap Kerja Enzim, www.adisucipto.com/aquantika/, diakses 17 Oktoer 2011. Sun, L. Z, J.R. Bolton, Determination of the Quantum Yield for the

Photochemical Generation of Hydroxyl Radicals in TiO2 Suspensions, J. Phys. Chem. 100(1996)4127. Tim penyusun, 2007, Modul Kuliah Spektrofotometri, USD Press, Yogyakarta. Weast, Robert C., ed. (1981), CRC Handbook of Chemistry and Physics (62nd ed.), Boca Raton, FL: CRC Press, p. B-145 Yi, Z.; Ye, J.; Kikugawa, N.; Kako, T.; Ouyang, S.; Stuart-Williams, H.; Yang, H.; Cao, J. et al. (2010). "An orthophosphate semiconductor with photooxidation properties under visible-light irradiation". Nature Materials 9 (7): 559564.

15