Anda di halaman 1dari 44

Buddha

Siddhattha Gotama dilahirkan di keluarga suku yang berkuasa sekitar 2500 tahun yang
lalu. Ayahnya adalah kepala dari suku ini yang tinggal di ndia Utara berdekatan dengan
perbatasan yang disebut Nepal sekarang ini. Sebagai satu-satunya putra dari kepala
suku ini, dia menikmati kehidupan yang menyenangkan dan mewah dikelilingi oleh
kekayaan dan wanita. Namun, bahkan sebagai seorang pemuda dia menyadari bahwa
dirinya tidak akan mendapatkan kepuasan yang abadi dari cara hidup demikian.
Dia mulai melihat bahwa semua manusia tidak terlepas dari sasaran penyakit, penuaan
dan kematian. Di usianya yang ke 29, dan terinspirasi oleh penglihatan sesosok petapa
yang tenang dan bermartabat, dia memutuskan untuk melepaskan cara hidupnya yang
mewah. Dia meninggalkan istri dan anak di dalam penjagaan keluarga bangsawannya
untuk mencari jawaban dari kebahagiaan yang abadi. Setelah 6 tahun berkelana dan
menjalani latihan pertapaan yang keras, dia menyadari bahwa bukan dengan cara
hidup yang longgar maupun petapaan keras yang dapat membawanya pada jawaban
yang dicarinya.
Dia memutuskan untuk menjalani 'Jalan Tengah' di antara kedua ekstrim ini. Dia
kemudian duduk di bawah pohon Bodhi, menenangkan diri, makan yang baik dan
berketetapan hati untuk tidak bangun sampai dia menemukan jawabannya. Setelah
semalaman bermeditasi mendalam, pemahaman penuh muncul di dirinya. Dari sana,
pangeran dikenal menjadi seorang Buddha yang secara harafiah berarti 'Yang
Tercerahkan'.
Buddha kemudian menghabiskan 45 tahun lamanya dari hidup Beliau untuk mengajari
apa yang telah dipahaminya. Beliau membentuk komunitas para bhikkhu yang disebut
Sangha, dan ajaran Buddha tersebar di seluruh ndia Utara. Raja, bangsawan,
pedagang dan petani menjadi murid dan pengikutnya, dan bahkan sekarang, tak
terhitung jumlah orang dimana saja yang mendapatkan manfaat dari ajarannya.
Beliau wafat dengan damai dalam Nibbana akhir di usia ke 80.



25at Kebenaran MuIia
!ada saat pencerahan, Buddha menyadari Empat Kebenaran Mulia.
1. $e2ua 2akhIuk adaIah sasaran dari Dukkha.
Dukkha biasanya diterjemahkan sebagai penderitaan tetapi sesungguhnya ia
meliputi jangkauan luas dari perasaan negatif termasuk tekanan, ketidak-puasan
dan penderitaan jasmani. Dukkha timbul sebab semua makhluk merupakan
sasaran dari penyakit, berpisah dengan yang dicintai, tidak mendapatkan apa
yang diinginkan, mengalami penuaan dan kematian.
2. Dukkha ti2buI dari hasrat dan keinginan.
Semua makhluk menginginkan sensasi yang menyenangkan, dan juga berhasrat
untuk menghindari sensasi yang tidak menyenangkan. Sensasi-sensasi ini dapat
berupa jasmani maupun mental dan dukkha timbul ketika hasrat dan keinginan
tidak dapat dipenuhi.
3. Dukkha da5at diatasi dengan 2engakhiri hasrat dan keinginan.
Nibbana adalah suatu keadaan tenang dimana semua ketamakan, kebencian
dan kebodohan, demikian dukkha, telah diakhiri.
4. da cara 2engakhiri Dukkha, yakni JaIan MuIia Berunsur DeIa5an.
Dukkha dapat dikurangi, dilemahkan dan akhirnya dilenyapkan dan Nibbana
dicapai dengan mengikuti jalan yang telah diajari Buddha.
Ajaran Buddha terkadang dikritik terlalu pesimis karena kelihatannya berfokus pada
penderitaan daripada kebahagiaan dan kesenangan. Tetapi semua kondisi dari
kebahagiaan dan kesenangan adalah tidak kekal karena semua makhluk adalah
sasaran dari penyakit, penuaan dan kematian, dan sebagai akibatnya, semua makhluk
tanpa dapat menolak merupakan sasaran dari dukkha.
Sebaliknya, ajaran Buddha sebenarnya bersifat nyata karena Buddha telah mengajari
kita bagaimana caranya untuk mengatasi atau mengurangi dukkha, dan bagaimana
caranya mencapai kebahagiaan abadi dari Nibbana. Dengan mengikuti Jalan Mulia
Berunsur Delapan yang diajarkan Buddha, Nibbana dapat dialami bahkan di kehidupan
saat ini.



JaIan MuIia Berunsur DeIa5an
1. !andangan Benar
Memahami dan menerima Empat Kebenaran Mulia.
2. !ikiran Benar
Mengembangkan pikiran yang dermawan, cinta kasih dan belas kasih.
3. &ca5an Benar
Menghindari kebohongan, fitnah, ucapan kasar dan gossip. Untuk
mengupayakan ucapan yang jujur, mendamaikan, yang baik dan bermanfaat.
4. !erbuatan Benar
Menghindari pembunuhan, pencurian dan perzinahan. Untuk mengupayakan
cinta kasih, kejujuran dan kesetiaan.
5. !enghidu5an Benar
Menghindari pekerjaan yang meliputi pembunuhan (manusia dan hewan),
menjual daging hewan, perdagangan manusia, senjata, racun dan minuman
yang memabukkan. !ekerjaan yang tidak etis, tidak bermoral dan tidak sesuai
dengan hukum seharusnya juga dihindari.
6. &saha Benar
Menerapkan disiplin mental dalam mencegah timbulnya pikiran jahat, dan untuk
menghilangkan pikiran jahat yang telah timbul. Dalam mengembangkan pikiran
baik, dan untuk mempertahankan pikiran baik yang telah timbul.
7. !erhatian Benar
Memperhatikan tubuh, posisi tubuh dan sensasi. Memperhatikan pikiran dan
bentuk-bentuk pemikiran, emosi dan perasaan.
8. Konsentrasi Benar
Mempraktekkan meditasi untuk melatih pikiran yang manunggal dan terarah
dalam mengembangkan dan memperoleh kebijaksanaan.



%iga Karateristik Kehidu5an
Buddha juga menemukan bahwa semua kehidupan memiliki tiga karateristik.
nicca
Segala sesuatu tidak kekal, dan segala sesuatu berada dalam proses perubahan
menjadi sesuatu yang lainnya. Misalnya, kita semua berada dalam proses penuaan.
Bahkan bintang dan galaxi juga dalam proses perubahan.
Dukkha
Karena segala sesuatu tidak kekal, kehidupan merupakan sasaran dari penderitaan.
Selalu saja ada hasrat terhadap yang menyenangkan, dan juga penolakan terhadap
yang tidak menyenangkan, yang dihasilkan dari sifat alami kehidupan yang terus
berubah.
natta
Tidak ada diri yang kekal atau yang tidak berubah. 'Diri' yang keberadaannya kita
percayai, tak lain hanya terdiri dari berbagai unsur mental dan jasmani, yang berada
dalam keadaan yang terus berubah oleh proses Sebab dan Akibat.



KeIahiran Ke2baIi
Karena tidak adanya diri yang kekal/tidak berubah, ajaran Buddha menolak keberadaan
jiwa/roh yang kekal/tidak berubah yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan
berikutnya. Menurut ajaran Buddha, batin atau kesadaran bergerak dari satu kehidupan
ke kehidupan berikutnya.
Dalam paradoks yang nampak ini, orang yang berusia 70 tahun tidaklah berbeda
ataupun serupa dengan orang semasa dia berusia 20 tahun. !erbedaan dan
persamaan ini secara mental dan jasmani. Begitu juga, batin atau kesadaran yang
bergerak dari satu kehidupan ke kehidupan yang berikutnya tidaklah berbeda ataupun
serupa dengan yang ada di kehidupan sebelumnya.
Misalnya, jika nyala api dari satu lilin digunakan untuk menyalakan lilin yang lain, nyala
api dari lilin kedua tidaklah serupa ataupun berbeda dari nyala api lilin pertama.
Walaupun nyala api dari lilin kedua berasal dari lilin pertama.
Kamma dibawa serta oleh kesadaran menuju kehidupan yang berikutnya.
Konsep ini akan susah untuk dipahami pertama kalinya. Namun, dengan pengetahuan
dan pemahaman, dan praktek meditasi pandangan terang, realisasi dan pengetahuan
akhir akan timbul di dalam diri seorang praktisi.



Ku25uIan aran Buddha
Ajaran Buddha, yang juga dikenal sebagai Dhamma, disusun dalam tiga set buku
secara terpisah. Buku-buku ini secara kolektif dikenal sebagai Tipitaka, atau Tiga
Keranjang. Jumlah keseluruhan dari materinya sangat luas dan diperkirakan dua kali
lebih dari Encyclopaedia Britannica.
Walaupun beberapa perubahan dan perbaikan di Tipitaka tidak terelakkan dalam masa
2500 tahun atau selama keberadaannya, diperkirakan sekitar 90% dari ajaran masih
bertahan. ni disebabkan pada saat pembacaan/pengulangan ajaran, hal itu dilakukan
oleh beberapa ratus bhikkhu yang mengulangnya secara bersama-sama pada waktu
yang bersamaan. Ketika pada akhirnya dilakukan dalam bentuk tulisan sekitar 80 BC,
sekelompok besar para bhikkhu juga mengambil bagian dalam tugas ini dalam
kesatuan. Hal ini membuat perubahan Tipitaka sangat sulit. Teks asli yang bertahan
saat ini di simpan dengan baik di Sri Lanka.
$utta !itaka
Dibagi ke dalam lima kumpulan yang berbeda, Sutta !itaka berisi semua kotbah-kotbah
Buddha beserta beberapa kotbah dari siswa yang paling senior. Buddha sangat sukses
dalam membabarkan ajarannya karena Beliau menggunakan bahasa umum yang
dipakai orang-orang yang disebut !ali.
Beliau menyesuaikan sikap dan cara dari menyampaikan kotbah sehingga untuk orang
biasa Beliau menggunakan konsep yang lebih sederhana, dan ide yang lebih rumit
untuk pendengar yang terpelajar dan intelektual. Beliau mengajari semuanya mulai dari
petani sampai raja.
Ajarannya berkisar dari panduan untuk keteladanan individu sampai komentar
mendalam tentang filsafat politik dan sosial. Mereka bersifat pragmatis dan siap untuk
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan walaupun diajari lebih dari 2500 tahun
yang lalu, ajaran Beliau masih tepat guna sampai saat ini.
'inaya !itaka
Juga terbagi ke dalam lima buku, Vinaya !itaka menetapkan peraturan dan panduan
bagi Sangha atau komunitas bhikkhu dan bhikkhuni. Dengan setiap bhikkhu dan
bhikkhuni yang memiliki hak yang sama, Sangha mungkin saja merupakan organisasi
demokrat paling tua yang masih berfungsi sampai saat ini.
bhidha22a !itaka
Dikenal sebagai ajaran Buddha yang lebih tinggi, Abhidhamma !itaka adalah
pendekatan Dhamma yang bersifat penting dan sangat rumit dan juga sangat
mendalam. Berisikan doktrin Buddhis yang disusun dan dikelompokkan secara
sistematis menjadi tujuh set buku.
Walaupun secara tradisi dihubungkan dengan Buddha, banyak komentator sekarang
menganggap Abhidhamma bagian dari tulisan bhikkhu-bhikkhu terpelajar yang
mencampurnya ke dalam ajaran Buddha sehingga terbentuklah kumpulan yang
menakjubkan ini.
Abhidhamma berhubungan dengan konsep kehidupan dan realitas. Menganalisa
proses pemikiran manusia dan menyelidiki unsur dari pikiran dan bentuk-bentuk pikiran.
Banyak konsep darinya berkenaan dengan realitas dan persepsi yang telah
mengantisipasikan tugas dari pemikir modern dan ilmuwan.



%radisi-tradisi u2at Buddha
Menga5a terda5at ber2aca2-2aca2 tradisi u2at Buddha?
Ajaran Buddha ditemukan lebih dari 2500 tahun yang lalu, dan melalui perjalanan waktu
yang panjang ini, telah berkembang tiga tradisi utama. !erkembangan ini terbentuk
seiring dengan penyesuaian ajaran Buddha dengan kondisi dan kebudayaan dari
berbagai negara dimana ajaran tersebut tersebar.
Akan tetapi, ajaran Buddha telah terbukti bertahan, sementara kulit luar mungkin
berbeda, inti ajaran Buddha tetap sama untuk semua tradisi. Misalnya, persetujuan atas
inti ajaran, atau "Titik yang menyatukan di antara tradisi yang berbeda dengan resmi
disahkan oleh Sidang Sangha Buddhis Sedunia di Sri Lanka pada tahun 1966.
Umat Buddha menerima dan menghargai perbedaan, dan menganggap bermacam-
macam tradisi hanyalah sebagai jalur yang berbeda untuk tujuan yang sama. !ada
umumnya, tradisi yang berbeda-beda ini membantu dan mendukung satu sama lain di
sepanjang jalur ini.

$ecara singkat, a5a sebenarnya tradisi Buddhis yang ber2aca2-2aca2 ini?
Tradisi Theravada adalah yang tertua dan yang paling konservatif. a paling dekat
dengan ajaran murni/awal Buddhis seperti yang diajarkan oleh Buddha sendiri. a lebih
sederhana dari tradisi lain dalam pendekatan, dengan sedikit upacara dan ritual,
menekankan hanya pada disiplin dan moralitas dan praktek dari meditasi.
Tradisi Mahayana mulai berkembang di ndia sekitar 200 B.C. dan 100 A.D. a telah
menyesuaikan diri dengan bermacam-macam kebudayaan Asia yang menyerap unsur
ajaran Hindu dan ajaran Tao. Ajaran Buddhis Mahayana menekankan pada belas kasih
dan keyakinan dengan tujuan membantu yang lainnya meraih pencerahan. Sekte Zen,
Nichiren dan Tanah Suci tergolong dalam ajaran Buddhis Mahayana.
Tradisi Vajrayana atau Tibet muncul di ndia sekitar 700 A.D. ketika bhikkhu-bhikkhu
Buddhis ndia membawa ke Tibet label ajaran Buddha dengan praktek Tantra. ni
dikombinasikan dengan unsur agama Bon setempat, memberikan Vajrayana beberapa
latihan-latihan uniknya. a cenderung bersandaran lebih pada ritual, pembacaan mantra
dan visualisasi. Tokoh Buddhis yang paling terkenal, Dalai Lama, adalah kepala
spiritual dari tradisi Vajrayana.

Menga5a kata-kata yang sa2a diea secara berbeda daIa2 tradisi Buddhis yang
berbeda-beda?
Di jaman Buddha, bahasa yang umumnya dipakai adalah !ali, berlawanan dengan
Sansekerta yang digunakan terutama oleh Brahmin, pendeta ajaran Hindu. Buddha
memilih untuk berbicara dan mengajar dalam !ali secara umumnya sebab Beliau
menginginkan sebanyak mungkin orang untuk belajar dan mendapatkan manfaat dari
ajarannya.
Sekolah Buddhis Theravada menggunakan ejaan dan pelafalan dalam !ali, dan
sekolah Mahayana/Zen dan Tibet menggunakan Sansekerta pada umumnya. Contoh
dari ejaan !ali adalah Dhamma, kamma dan Nibbana. Versi Sansekerta dari kata-kata
ini adalah Dharma, karma dan nirvana.
Buku kecil ini menggunakan ejaan !ali sebab !ali adalah bahasa yang paling dekat
dengan apa yang digunakan oleh Buddha sendiri.







Di dunia ini terdapat banyak sekali agama maupun kepercayaan yang terkadang membuat kita
menjadi bingung entah mana yang benar atau salah. Pada umumnya manusia memeluk suatu
agama hanya karena warisan dari orang tua. Namun, sejak perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, banyak manusia yang berpikiran semakin terbuka dan mulai mempertanyakan
keyakinan atau agama yang selama ini diyakininya. Di sini penulis akan memaparkan keunikan
ajaran Buddha.
Kebebasan berpikir dan Penyelidikan
Kebebasan berpikir yang membuat agama Buddha paling menarik bagi banyak orang. Di dalam
Kalama Sutta (Anguttara Nikaya III, 65) diceritakan bahwa Suku Kalama bingung oleh
banyaknya ajaran, agama, maupun kepercayaan yang menyebar dan saling mengatakan bahwa
agama, kepercayaan maupun ajaran mereka masing-masing yang terbaik dan paling benar. Di
sinilah, Siddhartha Gautama, Sang Buddha, memberikan 10 panduan yang berlaku sepanjang
masa (kalama sutta), yaitu:
1.Ma anussavena: Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu karena turun-temurun telah
diberikan secara lisan, misalnya kepercayaan terhadap burung gagak dan angka 13 yang
membawa sial. Yang penting adalah cara pandang dalam melihat suatu tradisi lisan yang turun-
temurun diberikan karena beberapa tradisi lisan memang mengajarkan hal-hal yang positiI.
Ma paramparaya Seseorang tidak seharusnya menerima mentah-mentah sesuatu karena suatu
tradisi dilakukan secara turun-temurun, contohnya tradisi pengorbanan hewan untuk menghindari
kemalangan.
3Ma itikiriya Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu secara membuta karena tersebar
umum, dipercayai banyak orang, disetujui banyak orang, misalnya berita melalui sms yang
membuat kepanikan, maupun berita dari internet tentang suatu hal.
4Ma pitakadampadanena Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu sebagai kebenaran
hanya karena telah tercantum dalam kitab suci. Kepercayaan yang membuta terhadap kitab suci
bisa membuat Ianatik dan penghancuran terhadap kepercayaan orang lain.
5Ma takkahetu Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena
sejalan dengan logika. Keyakinan ini bisa menjadi salah jika bersumber dari sumber yang salah
maupun data-data yang tidak benar. Banyak dari kita menerima surat elektronik (0mail) berisi
inIormasi yang simpang siur walaupun terkadang dibuat seolah-olah logis dan masuk akal.
6Ma nayahetu Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena
hipotesis, perkiraan maupun analisis dalam pemikiran dan terburu-buru mengambil kesimpulan.
7Ma akaraparivitakkena Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu sebagai kebenaran
hanya karena masuk akal seperti yang terlihat atau yang dirasa. Contohnya seperti ketika orang
pada abad pertengahan melihat seolah-olah bahwa matahari mengelilingi bumi seperti yang
terlihat nyata oleh mata mereka dan dirasa kalau bumi tidak bergerak, padahal kenyataannya
sebaliknya.
8Ma ditthinijhanakkhantiya Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu sebagai kebenaran
hanya karena sesuai dengan anggapan sebelumnya.
.Ma bhabbarupataya Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya
karena kredibilitas, ketenaran, kharisma, kedudukan maupun pendidikan dari si pembicara.
Sering kali kita memercayai perkataan seseorang yang berpendidikan tinggi, dihormati atau
disegani, padahal belum tentu hal tersebut benar.
Ma samano no garuti Seseorang tidak seharusnya menerima sesuatu sebagai kebenaran
hanya karena si pembicara adalah gurunya. Buddha mengatakan hal ini termasuk untuk
pengikutnya karena Beliau tidak ingin seseorang mudah dikontrol oleh orang lain.
Kesepuluh cara ini membuat umat Buddha berpikir ulang sebelum memercayai suatu hal. Satu
hal yang perlu diperhatikan adalah Buddha bukan mengajarkan untuk menolak mentah-mentah
suatu hal. Bukan pula langsung menerima atau meyakini suatu hal dengan membabi buta. Justru
yang Sang Buddha harapkan adalah penyelidikan yang mendalam, khususnya penyelidikan
terhadap kebenaran (/ammawicaya) itu sendiri.
Banyak yang salah mengerti ajaran Buddha dan menganggap bahwa jangan memercayai
siapapun dan kebenaran hanya ada di diri sendiri. Hal ini dapat menjadi kesombongan karena
mengira kalama sutta mengajarkan demikian. Yang benar adalah bahwa pelajari dan selidiki
dahulu kebijaksanaan atau ajaran disekeliling yang dianggap lebih baik dan menuntun
kebahagiaan. Jika ternyata membuat penderitaan, maka hindari ajaran tersebut. Sebaliknya
apabila membawa manIaat bagi diri sendiri dan orang lain, maka ambil ajaran tersebut.
Pengalaman dan pembuktian sendiri
Keunikan ajaran Buddha dari yang lain juga terletak pada pembuktian langsung dan berdasar
pengalaman pribadi. Sang Buddha memberi kesempatan berpikir bagi setiap orang dengan
sebebas-bebasnya. Apakah ada pendiri agama di dunia yang seperti Buddha Gautama? Bahkan
Sang Buddha mengajarkan jangan percaya kepada Beliau sebelum ajarannya dipraktikkan dan
dibuktikan sendiri. Ajaran sebaik apapun tidak akan bermanIaat jika tanpa dialami langsung oleh
diri sendiri. Buddha selalu mendorong murid-muridnya untuk mencoba sendiri apa yang Beliau
katakan.
Faktor utama yang paling penting dalam membuktikan suatu ajaran adalah dengan penyelidikan
atau investigasi berdasarkan pandangan benar (samma/itti). Menurut Buddha, investigasi
kebenaran (/ammawicaya) atau membuka pandangan merupakan dasar bagi pencerahan dan
kebahagiaan sejati. Tanpa ada keinginan untuk membuka diri dan berusaha untuk membebaskan
pandangan dari ketidaktahuan, seseorang pasti diliputi ketidakbahagiaan.
Haromis dengan Iptek
Ketika banyak agama merasa terancam dengan pemikiran modern dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, agama Buddha justru sebaliknya mendapatkan tempat untuk berjalan
beriringan. Ketika banyak agama menolak teori evolusi, perkembangan bioteknologi, maupun
teori tanpa batas tepi (teori kosmologi mengenai ketiadaan awal maupun akhir dari alam semesta
oleh Stephen Hawking), agama Buddha sebaliknya tidak langsung menolak hal-hal tersebut.
Bagi ajaran Buddha, perkembangan tekonologi bagaikan pisau yang di satu sisi dapat
dimanIaatkan untuk memotong di dapur, namun di sisi lain dapat dipakai untuk menusuk orang
lain. Jadi, alih-alih ajaran Buddha menolak pisau tersebut, melainkan alasan penggunaan pisau
tersebut yang ditolak oleh Beliau ketika dipakai untuk melukai.
Ajaran yang unik
Hanya agama Buddha yang mengajarkan bahwa dunia ini tidak memerlukan seorang
pencipta yang mengontrol segalanya. Sang buddha mengatakan bahwa segala hal yang ada di
dunia ini saling terikat, saling terkait, dan saling memengaruhi. Sebab-akibat yang diajarkan
Buddha bukan sekedar satu arah, namun lebih kompleks bagaikan jaring laba-laba yang saling
terikat dan berpengaruh. Getaran di satu titik pada bagian jaring, akan memberikan dampak
terhadap sekitarnya. Tentunya persekitarannya yang paling dekat yang menerima dampak yang
lebih besar daripada bagian jaring yang jauh. Sama seperti itu pula, setiap tindakan seseorang,
akan memengaruhi dan memberikan dampak terutama terhadap orang-orang serta lingkungan
sekitarnya. Inilah makna ajaran Buddha yang paling dalam dan khas, Kesalingterkaitan Antar
Segala Sesuatu (5aticcasamu5a/a).
Ajaran Buddha juga satu-satunya ajaran yang tidak mengenal diri` atau roh kekal pada diri
seseorang. Sang Buddha mengajarkan bahwa segala yang ada di dunia selalu mengalami
perubahan (anicca), sehingga tidak memerlukan suatu diri` yang tetap. Ketidaktahuan dan
kebodohan karena tidak dapat menerima perubahan itulah yang dikatakan Buddha sebagai
penderitaan (/ukka). Karena tidak adanya diri` yang tetap, Buddha mengajarkan bahwa
lakukan hal-hal yang baik demi diri sendiri maupun orang lain. Bukan hanya demi diri sendiri,
namun juga demi orang lain. Bukan pula hanya demi orang lain tanpa melatih diri sendiri. Ketika
semakin memperdalam ajaran, banyak guru-guru Buddhis mengucapkan bahwa mereka tidak
dapat membedakan kebahagiaan diri sendiri maupun orang lain. Kebahagiaan orang lain sama
dengan kebahagiaan diri sendiri. Itulah harapan Sang Buddha yang terus-menerus membagi
ajaran dan cara-cara untuk mendapatkan kebahagiaan sebenarnya selama 45 tahun Beliau
menyebarkan ajaran demi orang banyak (Anguttara Nikaya II, 146).v











7 Keunggulan Ajaran Buddha
Buddha diagungkan bukan karena kekayaan, keindahan, atau lainnya. Beliau diagungkan karena
kebaikan, kebijaksanaan, dan pencerahanNya. Inilah alasan mengapa kita, seorang Buddhis,
menganggap ajaran Buddha sebagai jalan hidup tertinggi.
Apa sajakah keunggulan-keunggulan yang menumbuhkan kekaguman kita terhadap ajaran
Buddha?
Ajaran Buddha tidak membedakan kelas / kasta
Buddha mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status
sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu kepercayaan. Seseorang baik atau jahat
karena perbuatannya. Dengan berbuat jahat, seseorang menjadi jahat, dan dengan berbuat baik,
seseorang menjadi baik. Setiap orang, apakah ia raja, orang miskin atau pun orang kaya, bisa
masuk surga atau neraka, atau mencapai Nibbana, dan hal itu bukan karena kelas atau pun
kepercayaannya.
Ajaran Buddha mengajarkan belas kasih yang universal
Buddha mengajarkan kita untuk memancarkan metta (kasih sayang dan cinta kasih) kepada
semua makhluk tanpa kecuali. Terhadap manusia, janganlah membedakan bangsa. Terhadap
hewan, janganlah membedakan jenisnya. Metta harus dipancarkan kepada semua hewan
termasuk yang terkecil seperti serangga.
3 Dalam ajaran Buddha, tidak seorang pun diperintahkan untuk percaya
Sang Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah
pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu. Buddha bahkan
menyarankan, angan 507caya a5a yang Kukatakan k05a/amu sam5ai kamu m0ngkafi /0ngan
k0-ifaksanaanmu s0n/i7i s0ca7a c07mat /an t0liti a5a yang Kukatakan.` Ajaran Buddha tidak
terlalu dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dan kritik-kritik terhadap ajaranNya. Jelaslah bagi
kita bahwa ajaran Buddha memberikan kemerdekaan atau kebebasan berpikir.
4 Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung
Buddha bersabda, a/ikanla /i7imu 50lin/ung -agi /i7imu s0n/i7i. Sia5a lagi yang m0nfa/i
50lin/ungmu? Bagi o7ang yang t0la -07lati /0ngan s0m5u7na, maka /ia t0la m0nca5ai
507lin/ungan t07-aik.`
Ini bisa dibandingkan dengan pepatah bahasa Inggris, o/ 0l5s tos0 wo 0l5 t0ms0lv0s`
Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Inilah ajaran Buddha yang
menyebabkan umat Buddha mencintai kebebasan dan kemerdekaan, dan menentang segala
bentuk perbudakan dan penjajahan.
Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka atau pun menjanjikan seseorang ke surga,
atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara
Buddha hanyalah guru atau pemimpin. Seperti tertulis dalam Dhammapada, S0mua Bu//a,
t07masuk Saya, anyala 50nunfuk falan.` Pilihan untuk mengikuti jalanNya atau tidak,
tergantung pada orang yang bersangkutan.
5 Ajaran Buddha adalah ajaran yang suci
Yang dimaksudkan di sini adalah ajaran tanpa pertumpahan darah.
Dari awal perkembangannya sampai sekarang, lebih dari 2500 tahun ajaran Buddha tidak
pernah menyebabkan peperangan. Bahkan, Buddha sendiri melarang penyebaran ajaranNya
melalui senjata dan kekerasan.
6 Ajaran Buddha adalah ajaran yang damai dan tanpa monopoli kedudukan
Dalam Dhammapada, Buddha bersabda, S0s0o7ang yang m0m-uang 5iki7an untuk
m0naklukkan o7ang lain akan m07asakan k0/amaian.` Pada saat yang sama, Beliau memuji
upaya menaklukkan diri sendiri. Beliau berkata, S0s0o7ang yang m0naklukkan 7i-uan o7ang
/alam 507ang -ukanla 50nakluk s0fati. T0ta5i s0s0o7ang yang anya m0naklukkan s0o7ang safa
yaitu /i7inya s0n/i7i, /iala 50m0nang t07tinggi.`
Di sini, menaklukkan diri sendiri terletak pada bagaimana mengatasi kilesa (kekotoran batin).
Andaikan semua orang menjadi umat Buddha, maka diharapkan manusia akan beroleh
perdamaian dan kebahagiaan. Buddha mengatakan bahwa semua makhluk harus dianggap
sebagai sahabat atau saudara dalam kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Beliau juga
mengajarkan semua umat Buddha untuk tidak menjadi musuh orang-orang tidak satu keyakinan
atau pun menganggap mereka sebagai orang yang berdosa. Beliau mengatakan bahwa siapa saja
yang hidup dengan benar, tak peduli kepercayaan apapun yang dianutnya, mempunyai harapan
yang sama untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan
datang. Sebaliknya, siapapun yang menganut ajaran Buddha tetapi tidak mempraktikkannya,
hanya akan memperoleh sedikit harapan akan pembebasan dan kebahagiaan.
Dalam ajaran Buddha, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencapai kedudukan yang
tinggi. Dengan kata lain, setiap orang dapat mencapai Kebuddhaan.
7 Ajaran Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat
Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul dari suatu sebab. Tiada suatu apapun yang
muncul tanpa alasan.
Kebodohan, ketamakan, keuntungan, kedudukan, pujian, kegembiraan, kerugian, penghinaan,
celaan, penderitaan semua adalah akibat dari keadaan-keadaan yang memiliki sebab.
Akibat-akibat baik muncul dari keadaan-keadaan yang baik, dan akibat buruk muncul dari
penyebab-penyebab buruk pula. Kita sendiri yang menyebabkan keberuntungan dan
ketidakberuntungan kita sendiri. Tidak ada Tuhan atau siapapun yang dapat melakukannya untuk
kita. Oleh karena itu, kita harus mencari keberuntungan kita sendiri, bukan membuang-buang
waktu menunggu orang lain melakukannya untuk kita. Jika seseorang mengharapkan kebaikan,
maka dia hanya akan berbuat kebaikan dan berusaha menghindari pikiran dan perbuatan jahat.
Prinsip-prinsip sebab dan akibat; suatu kondisi yang pada mulanya sebagai akibat akan menjadi
sebab dari kondisi yang lain, dan seterusnya seperti mata rantai. Prinsip ini sejalan dengan
pengetahuan modern yang membuat ajaran Buddha tidak ketinggalan zaman daripada
kepercayaan-kepercayaan lain di dunia.
'Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya































"Arti Sembahyang Dalam Agama Buddha "

Banyak orang sering menyebutkan secara keliru bahwa umat Buddha melakukan sembahyang di
vihara.
Untuk itu, sebaiknya harus dimengerti terlebih dahulu istilah `sembahyang' yang sebenarnya
terdiri dari dua suku kata yaitu
`sembah' berarti menghormat dan `hyang' yaitu dewa.
Dengan demikian,
`sembahyang' berarti menghormat, menyembah para dewa.
Apabila
`sembahyang'
diartikan seperti itu, maka umat Buddha sesungguhnya tidak melakukan sembahyang.
Umat Buddha bukanlah umat yang menghormat maupun menyembah para dewa.

Umat Buddha mengakui keberadaan para dewa dewi di surga, namun umat tidak sembahyang
kepada mereka.
Umat Buddha juga tidak `berdoa' karena istilah ini mempunyai pengertian ada permintaan yang
disebutkan ketika seseorang sedang berdoa.
Umat Buddha tentu saja tidak pernah meminta kepada arca Sang Buddha maupun kepada Iihak
lain.

Keterangan ini jelas menegaskan bahwa
umat Buddha bukanlah penyembah berhala karena memang tidak pernah meminta-minta apapun
juga kepada arca Sang Buddha, arca yang lain bahkan kekuatan di luar manusia lainnya.
Daripada disebut `sembahyang' maupun `doa', umat Buddha lebih sesuai dinyatakan sedang
melakukan `puja bakti'.
Istilah puja bakti ini terdiri dari kata `puja' yang bermakna menghormat dan `bakti' yang lebih
diartikan sebagai melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam melakukan puja bakti, umat Buddha melaksanakan tradisi yang telah berlangsung sejak
jaman Sang Buddha masih hidup yaitu umat datang, masuk ke ruang penghormatan dengan
tenang, melakukan namakara atau bersujud yang bertujuan untuk menghormat kepada lambang
Sang Buddha, jadi bukan menyembah patung atau berhala.
Kebiasaan bersujud ini dilakukan karena Sang Buddha berasal dari India.
Sudah menjadi tradisi sejak jaman dahulu di berbagai negara timur termasuk India bahwa ketika
seseorang bertemu dengan mereka yang dihormati, maka ia akan melakukan sujud yaitu
menempelkan dahi ke lantai sebagai tanda menghormati mereka yang layak dihormati dan
menunjukkan upaya untuk mengurangi keakuan sendiri.
Karena bersujud di depan altar ataupun arca Sang Buddha hanyalah bagian dari tradisi, maka
para umat dan simpatisan boleh saja tidak melakukannya apabila batinnya tidak berkenan untuk
melakukan tindakan itu.
Tidak masalah, karena sebentuk arca tidak mungkin menuntut dan memaksa seseorang yang
berada di depannya untuk bersujud.

Kalau dibilang berhala, maka semua agama besar di dunia ini juga berhala, contoh menyembah
Kotak hitam di negara Arab (Kxbxh), menyembah salib, menyembah patung pria kurus
berjanggut (Yxsxs), dan lain-lain.

"Sangat tidak masuk akal" kalau menyebut agama Buddha menyembah berhala, sedangkan
agama mereka sendiri melakukan ritual berhala yang
aneh.
contoh: ritual pengorbanan hewan, ritual pencipratan minyak suci, dan lain-lain.

"Karena bersujud di depan altar ataupun arca Sang Buddha hanyalah bagian dari tradisi, maka
para umat dan simpatisan boleh saja tidak melakukannya apabila batinnya tidak berkenan untuk
melakukan tindakan itu."

Kalimat Ini sudah jauh sekali dari pemahaman Budhisme yang saya anut, Kalau para pembaca
beranggapan bahwa menyembah itu hanya sebagai tradisi tanpa dasar pemahaman yang kuat
mengenai arti dari menyembah.... maka ini SUATU KEMEROSOTAN BESAR DALAM
BUDDHA DHARMA.

dimohon untuk memahami kalimat pada Sutra
Shurangama:

" II two people remember each other until the memory oI each is deep, then in liIe aIter liIe they
will be together like a Iorm and its shadow, and they will never be at odds.

Out oI pity Ior living beings, the Thus Come Ones oI the ten directions are mindIul oI them as a
mother remembers her child.
II the child runs away, oI what use is the mother's regard?
But iI the child remembers his mother in the same way that the mother remembers the child, then
in liIe aIter liIe the mother and child will not be Iar apart."

(Shurangama Sutra)
(NB: Thus Come Ones Tathagata)



Makna Persembahan
Umat Buddha biasanya melakukan sembahyang disertai dengan pemberian persembahan di altar,
berupa :
1. Dupa
2. Lilin
3. Air Minum
4. Bunga
5. Buah
Persembahan barang dalam sembahyang secara lengkap seperti diatas, biasanya dilakukan pada
hari Uposatha/Upavasatha atau hari-hari raya lainnya dan biasanya pada hari itu umat Buddha
makan makanan nabati (vegetarian), yaitu :
1. Dupa
Dupa dengan wangi khasnya selain berguna untuk membersihkan udara dan lingkungan
(Dharmadatu), juga membuat suasana menjadi religius, membuat hati menjadi khusuk.
Harumnya dupa yang menyebar ke segenap penjuru sama halnya dengan harumnya
perbuatan mulia dan nama baik seseorang, yang bahkan menyebar ke segala penjuru
sekalipun berlawanan arah angin.
Memasang Dupa juga mengandung makna mengundang langsung secara bathin atau hati
nurani ke hadapan Hyang Tathagata, para Buddha, para Boddhisattva Mahasattva, dan
para deva-devi (makhluk suci).
2. Lilin
Biasanya lilin warna merah yang dipergunakan untuk persembahan. Sebelum menyalakan
dupa, terlebih dahulu kita menyalakan lilin. Cara menyalakan lilin, yang pertama lilin di
sebelah kanan, baru kemudian lilin yang berada di sebelah kiri.
Lilin yang telah dinyalakan bermakna memberikan penerangan atau cahaya yang
menerangi jalan kehidupan dan penghidupan di waktu sekarang. Cahaya Buddha Dharma
menerangi hati dan pikiran kita, dengan selalu membimbing kita ke jalan yang benar, dan
membawa kita ke jalan penerangan/pencerahan agung. Dan juga melambangkan jiwa
seorang Bodhisattva yang bermakna ia mencerahi setiap makhluk yang mengalami
kegelapan bathin tanpa pamrih.
3. Air
Persembahan air mempunyai makna agar pikiran, ucapan dan perbuatan anda selalu
bersih. Air dapat membersihkan segala kotoran bathin (klesa) yang berasal dari
keserakahan (lobha), kebencian (dvesa), dan kebodohan/kegelapan bathin (moha) dan ia
memancarkan kasih sayang (maitri), Welas asih (karuna), memiliki rasa simpati (mudita)
dan keseimbangan bathin (upeksha).
4. Bunga
Bunga mempunyai makna ketidakkekalan, semua yang berkondisi adalah tidak kekal atau
tidak abadi. Demikian juga dengan badan jasmani anda adalah tidak kekal; lahir, tumbuh,
tua/lapuk, kemudian meninggal/hancur. Yang tertinggal hanyalah keburukan atau
keharuman perbuatan selama hidupnya saja, yang kelak dikenang oleh sanak saudara dan
handai taulan.
5. Buah
Persembahan buah mempunyai makna hasil dari proses kehidupan, bahwa benih
perbuatan buruk/kejahatan akan tumbuh dan berbuah kepurukan/kejahatan pula, begitu
juga perbuatan baik akan berbuah kebaikan.
Makna Membakar Kertas Sembabyang
banyak orang berpendapaL bahwa membakar kerLas sembanhyang sebagal persembahan kepada 8udha
8odhlsaLva uewa pellndung ara pemeluk sucl maupun roh leluhur adalah sesuaLu yang sama sekall
Lldak berguna dan harus dlhenLlkan

namun coba dllklrkan hal berlkuL lnl 8lla membakar kerLas sembahyang adalah suaLu hal yang semu
dan Lak ada gunamua bukankah memellhara dan memu[a paLung buddha [uga merupakan hal yang
semu [uga?

sebenarnya kedua hal LersebuL dl aLas membakar kerLas sembahyang dan memu[a paLung buddha
merupakan conLoh darl menggunakan meLode yang semu unLuk melaLlh sesuaLu yang asll

conLoh yang laln adalah Lubuh flslk klLa sendlrl dlmama Lubuh klLa lnl Lerdlrl darl 4 unsur alr apo udara
dan Lanah serLa panca skandha
unLuk mencapal penerangan sempurna klLa menggunakan Lubuh flslk klLa yang semu lnl unLuk
menemukan dlrl klLa yang asll (ebudhaan) ualam arLl klLa melaLlh dlrl klLa sendlrl Lerus menerus
sehlngga slfaL 8udha dalam dlrl klLa lnl menampakkan dlrl !adl penekanannya adalah pada MLM8lnA
ul8l

sewakLu klLa melakukan pu[a bhakLl kepada 8udha dan 8ldhlsaLva seperLlnya klLa seakanakan memu[a
obyek2 seperLl kayu baLu Lembaga dan porselln namun dengan bervlsuallsasl bahwa para buddha dan
boddhlsaLva yang sebenarnya menampakkan dlrl mereka dl hadapan klLa dalam benLuk yang Leruklr
pada paLung2 LersebuL klLa sebenarnya melaLlh dlrl dengan MLnCCunAkAn SLSuA1u ?AnC ALSu
un1uk MLLA1lP SLSuA1u ?AnC ASLl

keLlka klLa membakar kerLas sembahyang sebagal sesuaLu persembahan kepada 8udha 8odhlsaLva
uewa ellndung dan makhluk sucl lalnnya klLa berharap mereka menampakkan dlrl 8l8Aul mereka
unLuk menerlma persembahan klLa LersebuL 8lla hal yang sama dllakukan sebagal persembahan kepada
roh2 leluhur klLa mendoakan mereka supaya mendapaLkan kebahaglaan dan kesehaLan Sekall lagl lnl
merupakan meLode MLnCCunAkAn ?AnC ALSu un1uk MLLA1lP ?AnC ASLl

membakar kerLas sembahyang memang sesuaLu yang semu demlklan pula semua dharmapun
sebenarnya adalah semu namun dengan membayangkan bahwa hal LersebuL Lldak semu maka benar2
Ler[adllah bahwa hal LersebuL Lldaklah semu agar hasllnya men[adl efekLlf klLa harus mempunyal
keyaklnan bahwa membakar kerLas sembahyanglnl adalah sesuaLu yang nyaLa dan bernllal karena daya
plklr klLa lLu maka Ler[adllah keglaLan lLu suaLu hal yang nyaLa dan bernllal 8Ch2 leluhur klLa memang
menglnglnkan kerLaskerLas sembahyang LersebuL Sedangkan klLa membakar kerLas2 sembahyang lLu
sebagal cara klLa unLuk menyampalkan rasa hormaL dan rasa welas aslh kepada mereka 8lla kellnglnan
dan Lu[uan kedua belah plhak dapaL Lercapal dengan Leknlk membakar kerLas sembahyang lnl mengapa
klLa harus mengharamkan Leknlk lnl ?

Membakar kerLas sembahyang memu[a baLung buddha menyebuL nama buddha dan membahyangkan
nama budha yang agung semuanya mempunyal Lu[uan yang sama yalLu melaLlh plklran klLa unLuk selalu
berplklr dan berLlndak welas aslh seperLl sang buddha

membakar kerLas sembahyang dengan menggunakan kekuaLan plklran dapaL mengundang kehadlran
para 8udha dan 8odhlsaLva serLa para roh leluhur klLa ara roh leluhur klLa akan Lerlahlr dl Lanah sucl
amlLabha (Surga)
ada sebuah klsah nyaLa yang dlklsahkan oleh salah saLu Leman sedharma klLa
cerlLa LersebuL adalah sebagal berlkuL

ada seorang anak muda yang menderlLa penyaklL yang sudah Lldak dapaL dlsembuhkan lagl Seharl
sebelumnya a[alnya Llba la maslh merasa segar Ada pepaLah yang mengaLakan bahwa sebuah lllln apl
[lka akan habls nyala apl saaL penghablsan LersebuL amaL sangaL Lerang dan sempurna
uemlklanlah yang Ler[adl dengan anak muda lnl
Seharl sebelum a[alnya Llba la LerllhaL amaL segar bugar seperLl Lldak menderlLa penyaklL apapun
kedua maLanya maslh Lerang ucapannya maslh dapaL dlmengerLl la bahkan Lldak LerllhaL sedang
keblngungan

namun la berkaLa kepada kedua orang Luanya ada banyak orang berdlrl mengellllngl saya Sebaglan dl
anLara mereka saya mengenalnya namun sebaglan lagl saya Lldak mengenalnya Mereka memlnLa uang
darl saya 8lla Lldak saya berlkan maka mereka Lldak akan memblarkan saya pergl

Sang orangLua berkaLa kepada anaknya 1eLapl Lldak ada orang dl slnl hanya kaml berdua
sungguh mereka ada dl slnl 8ahkan paman yang menlnggal Lahun lalu [uga ada dl slnl la berusaha
menarlk saya LeLapl Lldak berhasll

kedua orang Luanya Lerke[uL dan segera memberlkan se[umlah uang kepada puLranya LersebuL sang
puLra mellhaL apa yang dlberlkan oleh orangLuanya dan berkaLa ayah dan lbu apa yang kallan berlkan
kepada saya bukanlah [enls uang yang mereka lnglnkan

Crang Luanya berkaLa dengan rasa LakuL lnl adalah uang yang sesungguhnya anakku
Sungguh lnl bukan uang

Sang lbu Llba2 mendapaL llham dan segera pergl ke Loko LerdekaL unLuk membell banyak uang kerLas
sembahyangan dan kemudlan menaruhnya dl Langan puLranya sambll berLanya apakah lLu uang yang
dlmaksudkan

Sang puLra men[awab sambll Lersenyum benar lnl adalah uang yang sebenarnya Seharl sesudah
ke[adlan LersebuL sang puLrapun menlnggal dunla

klsah cerlLa dl aLas adalah klsah nyaLa yang dlcerlLakan oleh sang orang Lua puLra LersebuL
ada saaL seseorang akan mendekaLl a[alnya blasanya Ler[adl banyak ke[adlan aneh kebanyakan plhak
keluarga mempunyal pengalaman yang serupa seperLl klsah dl aLas
1lmbul perLanyaan mengapa kerLas sembahyang yang dlceLak dl dunla lnl dapaL dlgunakan dl dunla
laln? lnl merupakan sebuah Loplk yang konLroversll neraka merupakan sebuah dunla roh kerLas
sembahyang yang dlceLak oleh manusla seLelah dlbakar dapaL berubah men[adl sesuaLu yang berharga
dan bernllal kebhaLlnan dengan mengunakan kekuaLan kemauan klLa yang Lulus

O Beberapa umat Buddha keliru dengan mengartikan memuja Buddha rupang sebagai memuja
atau berbakti kepada PRIBADI para Buddha ataupun bodhisatva. Semasa hidupNya Buddha
Gotama menolak dipuja sebagai pribadi bahkan sampai menjelang parinibbana, Beliau
menasihati bahwa pemujaan tertinggi adalah melaksanakan Dhamma yang telah diajarkanNya.
Beberapa umat Buddha karena terlalu terobsesi dengan rupa Sang Buddha yang terwujudkan
dalam rupang/gambar sehingga bermimpi bertemu dengan Buddha/bodhisatva. Adalah hal yang
baik jika seseorang bermimpi seperti itu, tetapi perlu diwaspadai bahwa mimpi itu adalah hanya
reIleksi pikiran yang terobsesi. Dan kadang-kadang beberapa orang justru menyalahartikan dan
memanIaatkan mimpi seperti itu untuk hal-hal yang didasarkan pada ego semata.

Umat Buddha sebaiknya memuja Buddha Rupang sebagai penghormatan akan siIat-siIat
kebuddhaan, bukan PRIBADI Buddha, sehingga apa yang diingat setelah puja bakti adalah siIat-
siIat Buddha bukan pribadi Buddha. Selain itu Buddha rupang juga digunakan sebagai objek
konsentrasi.

Pembakaran kertas sendiri bermula dari daratan Tiongkok dan tidak ada hubungannya dengan
Buddhisme. Tradisi ini bermula dari rasa kekhawatiran masyarakat Tiongkok akan Iamilinya
yang meninggal. Bahkan tradisi ini merupakan bentuk pengalihan dari tradisi sebelumnya yaitu
membakar hal-hal yang sebenarnya seperti baju Iamili yang meninggal sampai pada membakar
seorang prajurit sebagai penjaga Kaisar yang meninggal. Karena tradisi ini dilihat terlalu kejam
dan memekan biaya yang besar, maka digunakan kertas yang menyerupai benda aslinya.

Dan akhirnya tradisi ini merambat pada umat Buddha di Tiongkok. Dari rasa kekhawatiran
masyarakat Tiongkok akan Iamilinya yang meninggal, tradisi ini dialih Iungsikan sebagai
persembahan kepada para Buddha dan bodhisatva. Meskipun dialih Iungsikan ternyata tradisi ini
intinya adalah pemujaan terhadap PRIBADI bukan siIat kebuddhaan. Beberapa umat Buddha
tradisional bahkan masih menganggap dengan melakukan tradisi ini akan mendapatkan balasan
secara langsung dari para Buddha maupun bodhisatva, bahkan mengharapkan balasan yang lebih
banyak/besar jumlahnya dari yang ia bakar.

ANDAIKATA para Buddha yang sudah parinirvana itu bisa menerima kertas yang dibakar,
pertanyaannya, untuk apa uang kertas itu bagi para Buddha ? Jika suatu bentuk persembahan,
bakti mengapa tidak berbentuk buah saja sehingga para Buddha bisa langsung memakannya.

Mengikuti tradisi setempat tidaklah dilarang dalam Buddhisme selama tidak bersiIat negatiI.Dan
sebagai umat Buddha kita harus mengetahui dan meluruskan bahwa tradisi ini BUKAN ajaran
Buddhisme. Sehingga di masa depan generasi kita tidak dibingungkan oleh tradisi yang dianggap
sebagai ajaran Buddhisme.
Reply With Quote
O 01-08-06 16:33 #3






















namo 8uddhaya

1emanLeman Seuharma
uengan dldasarl kelnglnan unLuk leblh memperkenalkan LaLa cara kebhakLlan Mahayana maka penulls
memberanlkan menguLlp buku apa yang harus dlkeLahul oleh umaL 8uddha Mahayana? karangan ?A
8hlksu uuLavlra Maha SLhavlra unLuk dlsharlng kepada LemanLeman sekallan Adapun Lullsan lnl hanya
mencakup LempaL lbadah keyaklnan dan LaLa cara sembahyang Mahayana !lka LemanLeman lngln
mengenal leblh mendalam dapaL memln[am buku lnl dl perpusLakaan Mangala8el[lng aLau bagl
LemanLeman dl luar 8el[lng mungkln dapaL mencarlnya dl vlhara Mahayana Semoga Lullsan lnl
membawa manfaaL dan kebahaglaan bagl LemanLeman semua

MeLLa
umaL 8uddhls


LLlka 8uddhls


(ul CeLlya Mangala 8el[lng keduLaan 8esar 8epubllk lndonesla 8el[lng Chlna)

Sebelum klLa mengenal leblh dalam LaLa cara kebhakLlan Mahayana ada balknya klLa mengenal LLlka
8uddhls Lerleblh dahulu yang Lelah dl slapkan se[ak C8Mangala perLama dldlrlkan Apa lLu eLlka ? LLlka
adalah suaLu peraLuran LaLa suslla yang dapaL menun[ang penlngkaLan kemoralan konsenLrasl dan
kebl[aksanaan seseorang agar orang LersebuL dapaL hldup dalam kedamalan dan menlngkaLkan
keharmonlsan dunla masyarakaL luas Apa fungsl darl eLlka ? LLlka bukanlah suaLu hukum yang pasLl
harus dllaksanakan oleh seLlap orang LeLapl dengan hldup bereLlka seseorang dapaL membawa dlrlnya
ke masyarakaL manapun [uga Lanpa memperoleh suaLu kesukaran dan celaan darl puhak laln

Sebelum pu[a bhakLl dlmulal para umaL sebalknya
1 uaLang sepuluh (10) menlL sebelum kebhakLlan dlmulal
2 Melepas alas kakl sebelum masuk ke ruang kebhakLlan
3 namaskara ke hadapan 8uddha 8upang
4 Memakal pakalan sopan dan rapl (dlmohon Lldak menggunakan pakalan u Can See aLau celana
pendek)
3 MemaLlkan alaL komunlkasl dalam benLuk apapun

Sebelum pu[a bhakLl / chanLlng / ceramah / dlskusl para umaL sebalknya
1 1ldak berblcara / berblslk kepada slapapun kecuall umaL LersebuL mempunyal hak unLuk blcara
2 1ldak berdlrl aLau bersandar dengan lengan / Lembok aLau Lldur
3 1ldak menlnggalkan ruangan kecuall saklL
4 MemaLlkan alaL komunlkasl

SewakLu dl dalam / luar CeLlya para umaL sebalknya
1 1ldak menyelon[orkan / menghadapkan kakl ke arah 8uddha 8upang aLaupun ke umaL laln
2 MelaLlh ancaslla 8uddhls (Lldak membunuh mencurl berbuaL asuslla blcara koLor mabuk
mabukkan)

u[a 8hakLl Mahayana
ulbawah lnl adalah pulsl yang ber[udul 8enlh dlLulls oleh 8hlksu uuLavlra dl halaman depan buku lnl
8erblcara LenLang benlh sebenarnya benlhbenlh ke1uhanan ada dalam dlrl ke1uhanan (Pyang
1aLhagaLa) sebagal sumber kehldupan adalah sebab uLama segala sesuaLu yang ada dlalam kehldupan
lnl (segalagalanya bersumber kepada sebab uLama lnl)

8enlh
!lka benlh Lldak dlLanam
8agalmana anda mengharapkan Lumbuhnya buah ?
!lka Lldak merawaL dan memupuk
8agalmana anda mengharapkan panen berllmpah?

Sgala kondlsl adalah [odoh
1erclpLa karena sebab
!lka sebabnya Llada
Layakkah mengharapkan lslnya?

kemelekaLan membenLuk kondlsl
!lka Lldak dapaL melepaskannya
Anda LeLap seorang manusla blasa
?ang berpuLar dalam arus keLldakpasLlan derlLa derlLa Lanpa lnLl adanya

(?A 8hlksu uuLavlra)

Adanya benlhbenlh ke1uhanan (kehldupan) dalam dlrl manusla dan makhluk hldup lalnnya yang Lelah
dlbawanya se[ak lahlr dalam kandungan sebagal sumber kehldupannya Maka makhluk hldup secara
langsung mempunyal hubungan dengan ke1uhanan dlsebuL [uga Alayavl[nanam

Sayang sekall maslh banyak orang yang Lldak dapaL merasakan adanya benlh ke1uhanan lLu dalam
dlrlnya sendlrl sehlngga Lldak blsa merasakan keLenLraman dan kebahaglaan dalam hldupnya unLuk lLu
seLlap manusla harus menyadarl bahwa la mempunyal benlh ke1uhanan dan mempunyal kesempaLan
yang sama unLuk memperoleh kebahaglaan seperLl Sang 8uddha Sehlngga seLlap manusla harus dapaL
membangklLkan benlh keLuhanan yang ada pada dlrlnya sendlrl

Cara membangklLkan benlh ke1uhanan dalam dlrl sendlrl harus dllakukan sendlrl dengan berpedoman
pada A[aran 8uddha yalLu karuna ra[na AmlLabha landasan kebodhlan Sad aramlLa pedoman
pelaksanaan berLekad dllahlrkan dl Surga SukhavaLl lLulah agama 8uddha Mahayana SukhavaLl

uengan penghayaLan klLa dapaL membangklLkan benlh keLuhanan dalam dlrl sendlrl Crang yang mau
berbahagla dan Lerbebas darl penderlLaan yang ada la harus melaksanakan hldup dalam pedoman
Agama 8uddha yang la wu[udkan dalam llma plnLu penghayaLan memasukl lauLan Surga SukhavaLl yalLu

1 lnLu MenghormaL dan Sembahyang
2 lnLu Memullakan nama 8uddha
3 lnLu 8erLekad dllahlrkan dl surga SukhavaLl
4 lnLu selalu lnsLropeksl perbuaLan sendlrl apakah sudah hldup dalam [alan ke8uddhaan blla Lldak
la harus mau mengorekslnya / memperbalklnya
3 lnLu enyaluran [asa yalLu membaglkan kebahaglaannya / berkah kepada yang laln

1empaL lbadah
1empaL lbadah dapaL dlbagl men[adl 3 baglan yalLu
1 karma vlhara dapaL dlarLlkan sebagal kemauan / kehendak klLa yang sucl unLuk berlbadah
(memperslapkan dlrl ke vlhara / LempaL sucl sesungguhnya baLhlnnya sudah menu[u kedalam kesuclan
vlhara unLuk lLu perbuaLannya harus memperslapkan dlrl dengan pakalan berslh dan mensuclkan
ucapan perbuaLan dan plklran kearah kesuclan)
2 8upa vlhara adalah benLuk LempaL lbadah yang Lerwu[ud
3 Arupa vlhara adalah vlhara dalam [lwa yang Lerbagl mem[adl 4 baglan yalLu
31 MalLrl (ClnLa kaslh)
32 karuna (Welas Aslh / kaslh Sayang)
33 MudlLa (Membagl rasa dl dalam kegemblraan dan LuruL slmpaLl aLas kesusahan orang laln)
34 upeksa (keselmbangan baLhln)

1empaL lbadah Agama 8uddha dlsebuL 8upa vlhara dapaL dlbagl dalam sLaLusnya lalah Arama vlhara
CalLya/CeLya uharma rasadha uharma Sala uharma Loka Samadhl Loka dll

Arama vlhara yalLu LempaL lbadah yang besar yang Lerdlrl darl banyak uharma rasadha uharma Sala
uharma Loka Samadhl Lka Sasana Loka kuLl dll aLau yang mudah dlsebuL vlhara besar yang ada
LempaL pendldlkan para 8hlksu/nl Samanera/l dll

vlhara yalLu LempaL lbadah Agama 8uddha yang Lerdlrl darl sekurangkurangnya ada uharma Sala kuLl
(LempaL Llnggal para 8hlksu) Sasana Loka dll

CalLya/CeLlya yalLu LempaL lbadah Agama 8uddha yang kecll yang dapaL dlmlllkl oleh prlbadl umaL
maupun LempaL lbadah kecll yang Lldak ada kuLl dll

uharma rasadha yalLu LempaL sembahyang Agama 8uddha yang dlpergunakan [uga unLuk khoLbah

kuLl yalLu LempaL Llnggal para 8hlksu

Sasana yalLu LempaL bela[ar Agama 8uddha aLau perpusLakaan

uharma Sala yalLu ruangan sembahyang upacara dan khoLbah a[aran 8uddha

uharma Loka yalLu LempaL khoLbah Agama 8uddha

Samadhl Loka yalLu 8uangan Samadl


keyaklnan / Sradha

keyaklnan / Sradha umaL 8uddha lalah mendekaLkan dlrl dan menyaLukan dlrl dalam perllndungan
1rlraLna yalLu 8uddha 8aLana uharma 8aLana Sangha 8aLana Pal lnl merupakan dasar uLama
kerohanlan LLlka dan Moral umaL 8uddha yang blasa dlnyaLakan dl dalam seLlap sembahyang
kebakLlan upacara sebagal berlkuL
kaml berllndung kepada 8uddha
kaml berllndung kepada uharma
kaml berllndung kepada Sangha
Sampal Lercapalnya panLal bahagla dengan [asa dan pahala lnl lenyaplah penderlLaan Lercapallah
keLenLraman dan kebahaglan

ALau dengan cara manLra yalLu
namo 8uddhaya
namo uharmaya
namo Sanghaya
namo AmlLabha 8uddhaya svaha

unLuk lLu seLlap umaL 8uddha yang lngln men[adl slswa Pyang 8uddha agar dapaL kekuaLan rohanl
unLuk bebas darl penderlLaan dan mendapaLkan kebahaglaan la harus bela[ar kepada 1rlraLna dan
melakukan pengakuan lman dalam penyerahan LoLal dlperllndungan 1rlraLna yalLu harus dl 1rlsaranakan
oleh anggoLa 8hlksu / 8hlksunl aLau oleh anggoLa Sangha yang dldelegaslkan kepada Shramanera/l

Sembahyang

A[aran Pyang 8uddha berpedoman dengan Pukum karma Cleh karena lLu melaksanakan A[aran Pyang
8uddha dalam kehldupan seharlharl wa[lb adanya apalagl Pyang 8uddha bersabda bahwa Semua
perbuaLan manusla semuanya dlmulal darl ceLana / kemauan dan dlwu[udkan dalam pebuaLan yang
nyaLa(valrocana SuLra 8ab l) 8uddha bersabda ?!lka ada manusla yang menerlma memegang dan
melafal nama kwan Se lm o SaL?dldalam wakLu wakLu LerLenLu menghormaL bernamaskara dan
memberlkan pu[a dua perbuaLan lnl dapaL menambah keberunLungan dl dalam kehldupan manusla
uengan kesu[udan yang dllakukannya lnl akan mendapaLkan raLusan Lahun berkallkall Lummbal lahlr
dapaL menghaslkan pahala yang Llada baLasnya (Sad uharma undarlka SuLra bab kwan lm o
SaL AyaL ke 6)

Cleh karena lLu penghayaLan A[aran Pyang 8uddha unLuk umaL yang saleh harus dlmulal darl
menghormaL dan sembahyang memu[l kemullaan 8uddha berLekad memperoleh kegemblraan hldup dl
Surga SukhavaLl lnsLropeksl / samadhl dl dalam melaksanakan a[aran 8uddha dan membagl
keberunLungan kepada semua makhluk (8erbuaL balk membaglkan kebahaglaan klLa kepada makhluk
lalnnya)

Sebagal umaL 8uddha yang saleh seLlap harl klLa wa[lb men[alankan
1 8ersembahyang sebelum dan seLelah bangun Lldur
2 8ersembahyang sebelum dan sesudah makan dengan memberlkan pu[a kepada 8uddha uharma
dan Sangha
3 Sekurangkurangnya ke vlhara seLlap harl uposaLha unLuk bersembahyang secara prlbadl berdoa
bersama kebakLlan membaca SuLra MaLra memullakan nama 8uddha 8erusaha selama 24 [am unLuk
melaLlh dlrl dl [alan kesuclan yalLu Lldak berbuaL [ahaL selalu berbuaL keba[lkan suclkan haLl dan plkran
4 Sekurangkurangnya seLlap uposaLha melakukan puasa Agama 8uddha Mahayana (vegeLerlan) dan
puasa 8uddha yalLu 8 panLangan / 8 slla
3 Memblasakan dlrl melakukan Sad aramlLa membalas 4 budl besar (CaLur 8hakLl) dan menolong
mereka dl Llga alam samsara

Sembahyang / pu[a bhakLl adalah muLlak bagl seLlap umaL 8uddha yang saleh dan mempunyal 2(dua)
pengerLlan yang mendasar sebagal berlkuL

Sembahyang sebagal sarana memblna dlrl
1 MenlngkaLkan rasa Laqwa kepada Pyang 1aLhagaLa / 1uhan ?ang Maha Lsa para 8uddha
8odhlsaLLva dan MahasaLLva
2 MenlngkaLkan penghayaLan A[aran Pyang 8uddha dengan membacakan ManLra SuLra vlnaya dan
memasukl 3 plnLu lauLan surga SukhavaLl
3 MenlngkaLkan renungan akan arLl hakekaL hldup dan kehldupan / samadhl (konsenLrasl bhavana
hasllnya samanLha / kekuaLan lman dan vlpassyana / kebl[aksanaan / pandangan Lerang)
4 MemperkuaL akar keba[lkan / kebl[aksanaan dan memupuk dasar keberunLungan
3 MenlngkaLkan Lekad ke 8odhlan
6 8lla dllakukan dengan ruLln berarLl melaLlh memperkuaL dan mengembangkan daya kemampuan
oLak klrl dan kanan klLa sekallgus memperkuaL rasa kepercayaan dlrl dan meleLakkan dasar unLuk
memperoleh hldup yang leblh berunLung dan bahagla seLa menylmpan [asa dan pahala agar Lumlmbal
lahlr ke alam yang leblh balk bahkan ke Surga SukhavaLl

Sembahyang sebagal pengamalan darl A[aran Pyang 8uddha

engerLlan lnl merupakan perwu[udan kesadaran yang penuh kesuclan / paramlLa seLlap ucapan
perbuaLan plklran / [lwa selalu dllandasl dengan kesuclan dan lklas Makhluk yang melaksanakan
kehldupan seharlharl dengan cara lnl berarLl la sudah bersembahyang dalam kehludupan seharl
harlnya uemlklanlah para Arya sucl mulla yang Lelah mencapal salah saLu darl 10 LlngkaL kesuclan para
8odhlsaLLva (memasukl !hana/ Arus kesuclan)



Sarana Sembahyang (u[a/ersembahan)

ualam melakukan sembahyang / u[a 8akLl sebalknya ada yang dlpersembahkan / u[a yang merupakan

1 uupa / hlo/ kayu garu
2 8unga / puspe / puspa
3 Aloke / penerangan / lllln / lampu
4 Argha / alr
3 8uah segar
6 Alr Leh
7 8ho[ana / navldya / Makanan berglzl
8 8aLna / MusLlka
9 MuLlara
10 akalan

uupa / hlo / kayu garu

ersembahan kepada Pyang 8uddha dan 8odhlsaLLva sebagal pernyaLaan slkap keLulusan kebesaran
Pyang 8uddha dan 8odhlsaLLva yang dapaL memblmblng umaL ke arah kema[uan keLenLraman
kebl[aksanaan dan sekallgus dapaL mengundang daLangnya para uewa naga Asura ?aksa Candharva
dan makhlukmakhluk lalnnya sekallgus [uga dapaL menclpLakan suasana hlkmaL sakral

uupa [uga melambangkan [asa dan keba[lkan perbuaLan balk Lanpa pamrlh / paramlLa akan berbuah
pahala yang berllmpahllmpah bagalkan asap dupa dapaL menyebar luas dlmanamana

8unga / puspa

Sebagal Landa kebesaran darl A[aran Pyang 8uddha beserLa para 8odhlsaLLva lndah agung dan dapaL
menlmbulkan geLaran welas aslh !uga lambang darl keLldakkekalan kehldupan dl Svahaloka (dunla) lnl
Lumbuh mekar layu dan lenyap Cleh karena lLu selagl klLa ada kesempaLan berbadan sehaL klLa harus
selalu melakukan keba[lkan unLuk memupuk karma yang balk bagalkan bunga yang lndah
dlpersembahkan kepada yang layak dlpersembahkan 8unga yang segar lndah dlpersembahkan dl alLar
alLar LersebuL ada dupa yang Lelah dlnyalakan akan leblh banyak mengundang makhlukmakhluk yang
membuLuhkan

Aloke / penerangan / lampu / lllln

Lampu penerangan dlpersembahkan dlhadapan 8uddha dan dlbacakan ayaL klLab sucl / ManLra oleh
Arya Sangha akan memperoleh pahala penerangan dalam kehldupan lnl dan dapaL mengundang para
makhluk pellndung uharma leblh banyak lagl unLuk mellndungl klLa serLa mencegah darl mara bahaya

Apl dalam pengerLlan Sakral darl geLaran ManLra / uharanl Pyang 8uddha aLau 8odhlsaLLva akan dapaL
mengurangl / membakar kekoLoran baLhln dan menerangl per[alanan hldup lnl bagl yang
mempersembahkan dengan penuh su[ud dan kehendak memperoleh berkah la dapaL dl[ahul oleh
makhlukmakhluk [ahaL Cleh karena lLu apl / genl dlsebuL [uga apl pensuclan Apl [uga lambang darl
semangaL

Argha / Argham / Arghya

Alr aLau sesuaLu hasll buml seperLl bl[lbl[lan yang mana merupakan lambang kehldupan sekallgus [uga
lambang kekuaLan berkah darl pensuclan darl kebodhlan

8uahbuah segar / Makanan
8uah segar dlpersembahkan dl alLar Pyang 8uddha 8odhlsaLLva aLau dewaLa merupakan slkap
pengorbanan Lulus Lerhadap yang dlpu[a
8uah segar dlpersembahkan merupakan Lekad mengabdlkan dlrl kepada semua makhluk dan
membagl hasll pahala klLa kepada orang laln
Ada beberapa darl para makhluk sucl (para dewa ?dewl) yang hldup darl persembahan buahbuah
segar dan makhlukmakhluk sucl yang Lelah menerlma persembahan lLu akan mellndungl klLa darl
gangguangangguan [ahaL serLa dapaL menlmbulkan nllalnllal kesakralan / geLaran sucl

1eh / uaun 1eh / Alr 1eh

1eh yang dlpersembahkan dengan su[ud dl alLar dengan membaca ManLra / SuLra akan dapaL
memperkuaL baLhln darl gangguan uewa Mara / anaslr [ahaL serLa menambah kekuaLan prlbadl
menghadapl gangguangangguan luar yang [ahaL / [elek dan menlmbulkan geLaran sucl aLau menambah
geLaran yang balk dl alLar

8ho[ana / navldya

8ho[ana / navldya makanan yang berglzl aLau obaLobaLan dlpersembahkan dl alLar Pyang 8uddha
8odhlsaLLva aLau uewa (ada se[enls dewaLa perlu sekall dengan obaLobaLan lnl / makanan berglzl) yang
mana merupakan wu[ud Lekad yang kuaL darl umaL unLuk mempersembahkan mlllknya yang pallng
berharga unLuk menolong dan mengobaLl makhlukmakhluk lalnnya (apablla dlbacakan ManLra pu[a
akan menlmbulkan geLarangeLaran yang sullL dl[elaskan dengan plklran manusla blasa yang mana akan
membawa pengaruh kema[uan dalam pencapalan ke8oddhlan / uewa penolong dekaL padanya)

8aLna / MusLlka

8aLna merupakan pernyaLaan kebenaran sunyaLa Llada duanya (8uddha uharma) dan unLuk 1anLra
mlsLlk perlu sekall pada umumnya dlplllh Lu[uh warna musLlka merah dellma blru puLlh kunlng ungu
hlLam hl[au yang mana merupakan unsur apl alr kesuclan logam mas daya serap kesempurnaan /
Lanah kehldupan / kayu sekallgus lambang kebesaran a[aran Pyang 8uddha

MuLlara

MuLlara darl dalam alr / lauLan merupakan lambang penerangan yang abadl yang [uga berarLl a[aran
Pyang 8uddha Llada duanya hanya 1 [alan menu[u pembebasan

akalan / perllndungan

akalan yang dlberlkan dlhadapan Pyang 8uddha 8odhlsaLLva mempunyal arLl slmbollk perllndungan
darl a[aran Pyang 8uddha uapaL dlarLlkan [uga yang dlpu[a akan memberlkan perllndungan kepadanya

Cleh karena lLu klLa mengerLl a[aran Pyang 8uddha sudah seyogyanya memberlkan kebahaglaan /
keLenangan kepada makhluk lalnnya

1aLa cara sembahyang
Sembahyang aLau pu[a bhakLl adalah ungkapan rasa Sradha / keyaklnan kepada Agama yang klLa
anuL oleh karena lLu slkap dan LaLa cara sembahyang harus klLa lakukan dengan sempurna

An[all

8erarLl sebagal lambang darl bunga LeraLal yang maslh kuncup (seLlap manusla mempunyal benlh
ke8uddhaan) Slkap memberl hormaL dan su[ud dengan cara merangkapkan kedua Lelapak Langan dl
depan dada

valrocana Mudra / Wensln

lbu [arl kanan dan klrl dlrapaLkan beglLu [uga dengan [arl Lelun[uk kanan dan klrl dlrapaLkan slsa darl
keLlga [arl kanan yang Lelah dlLekuk ke dalam dan slsa darl keLlga [arl kakl membungkus keLlga [arl kanan
yang Lelah dlLekuk lalu dlangkaL hlngga kedua lbu [arl menyenLuh dl LengahLengah anLara kedua alls
maLa yang mengandung arLl pencerapan kekuaLan suLra dan ManLra yang klLa baca

namaskara

enghormaLan yang dllandasl dengan slkap pasrah dan slkap melaksanakan A[arannya
1 An[all
2 valrocana Mudra / Wensln (1x)
3 Llma anggoLa badan menyenLuh buml (3x)
4 An[all
3 valrocana Mudra / Wensln (1x)

uralan namaskara

ulmulal dengan slkap berdlrl dan an[all dldalam haLl klLa mengucapkan ku menghadap kepada ?ang ku
Mullakan ku memberl salam dan penghormaLan serLa menglngaL surl Lauladan dan A[arannya yang
dapaL memullakan dan mensuclkan dlrlku

8adan dlbungkukkan hlngga 90 dera[aL kedua Lelapak Langan dlLurunkan sampal poslsl 3 [arl dlbawah
pusar kemudlan badan dlLegakkan kemball dan melakukan valrocana Mudra / Wensln (1x)

SewakLu berluLuL Langan dlLurunkan ke lanLal yang dlmulal darl Lelapak Langan kanan sambll
mengucapkan

namo 8uddhaya
kemudlan Lelapak Langan klrl dlLurunkan ke lanLal dengan poslsl dl depan Lelapak Langan kanan sambll
mengucapkan

namo uharmaya
kemudlan Lelapak Langan kanan dlplndahkan se[a[ar dengan Lelapak Langan klrl sambll mengucapkakn

namo Sanghaya Svaha
?ang berarLl kepada yang aku hormaLl ku menyerahkan [lwa dan ragaku

SeLelah lLu kepala dlLundukkan hlngga menyenLuh lanLal sambll dllrlngl dengan membuka kedua Lelapak
Langan mengepal lalu meleLakannya kemball ArLlnya

Aku buka Lelapak Langanku unLuk memohon berkah blmblngan dan A[arannya

Aku kepal Lelapak Langanku Landa aku menerlma A[aran dan berkahnya

Aku meleLakkan kemball kedua Lelapak Langanku ke lanLal menyaLakan aku slap memegang a[aran dan
berkahnya sebagal pedoman dalam pelaksanaan hldupku

8erdlrl dl aLas Lumpuan luLuL slkap melakukan doa yang su[ud

Sebagal ungkapan rasa menyesal berLobaL memohon ampun dan memohon berkah

Mudra keLenangan baLln / lang Cang

ulsaaLsaaL LerLenLu pembacaan ManLra aLau uharanl dllakukan slkap demlklan unLuk leblh
mendapaLkan keLenangan dan mencerap geLarangeLaran baLhln dengan memakal Lasblh searah [arum
[am

radakslna

Slkap su[ud hormaL mengagungkan [asa[asa Pyang 8uddha sekallgus merupakan Samadhl dengan
ber[alan pada umumnya dllakukan dengan menglkuLl arah [arum [am / ke kanan

ArLl namaskara

SeLlap umaL 8uddha wa[lb seLlap harl bernamaskara kepada 8uddha uharma dan Sangha dengan Lulus
hlkmaL dan lklas 8lla cara lnl dllakukan Lerus menerus akan dapaL menglkaL [odoh leblh lan[uL dalam
perllndungan 1rlraLna serLa akar keba[lkan dl dalam [lwa semakln berkembang

ManfaaL namaskara

SeLlap umaL 8uddha wa[lb seLlap harl bernamaskara kepada 8uddha uharma dan Sangha dengan Lulus
hlkmaL dan lklas 8lla cara lnl dllakukan Lerus menerus akan dapaL menglkaL [odoh leblh lan[uL dalam
perllndungan 1rlraLna serLa akar keba[lkan dl dalam [lwa semakln berkembang uapaL dlharapkan
kelahlran yang akan daLang dllahlrkan dl Surga 8uddha aLau dllahlrkan dalam llngkungan yang saleh
yang beragama 8uddha Cleh karena lLu namaskara dengan su[ud dan hlkmaL kepada 1rlraLna dalam
keyaklnan yang Leguh sangaL balk adanya

SeLelah klLa mengenal LaLacara kebakLlan Mahayana dl aLas marllah klLa mengenal arLl darl parlLLa
Maha karuna uharanl dan ra[na aramlLa Prdaya SuLra yang dldapaL darl Suhu Shl xlan 8lng
(Anumodana Suhu)

MAPA kA8unA uPA8Anl

Maha karuna uharanl adalah manLra Sang AvaloklLesvara 8odhlsaLLva (kuan lm ho SaL) yang
dlsabdakan oleh Sakyamunl 8uddha sebagalmana dlsebuLkan dalam 1he SuLra of Lhe vasL CreaL
erfecL lull unlmpeded CreaL Compasslon PearL uhranl of 1he 1housandhanded 1housandeyed
8odhlsaLLva who 8egards Lhe World Sounds?(1rlplLaka Mandarln buku xx) aLau 1he uharanl SuLra
(dlLerblLkan dalam bahasa lnggrls oleh Lhe 8uddhlsL 1exL 1ranslaLlon SocleLy San lranslsco 1976)

uharanl aLau manLra adalah kumpulan suku kaLa aLau kaLa galb/mlsLlk yang mempunyal kekuaLan luar
blasa 8lla manLra dlpergunakan dengan LepaL dan benar Llada hal yang Lldak mungkln ualam karya
Lerkenal 1he lndlan 8uddhlsL lconography 8enoyLosh 8haLLacharya menulls uengan mengucapkan
manLra berulangulang akan Llmbul kekuaLan luar blasa yang akan menge[uLkan seluruh dunla

karunla arLlnya welas aslh rasa lngln membebaskan orang darl penderlLaan !adl Maha karuna uharanl
adalah uharanl Maha Welas Aslh aLau ManLra Maha Welas Aslh arLlnya manLra yang dapaL
membebaskan umaL darl semua penderlLaan dan kesusahan serLa memberlkan kebahaglaan

ualam 1he uharanl SuLra dlsabdakan bahwa manfaaL Maha karuna uharanl anLara laln unLuk
memperoleh kegemblraan dan kedamalan kebebasan darl segala penyaklL umur pan[ang
kemakmuran penghapusan karma beraL hllangnya halangan dan kesusahan Lumbuhnya dalam semua
uharma murnl serLa semua pahala dan keba[lkan lenyapnya segala penyaklL pencapalan Lu[uan

kuncl LerpenLlng adalah kemurnlan haLl dan kesu[udan sl pengucap manLra ualam ManLras Sacred
Words of owers mendlang !ohn 8lofeld menulls ManLra luar blasa efekLlfnya [lka kondlsl menLal
benarbenar dlpenuhl ualam Shambala 8evlews of 8ooks and ldeas (SepLember 1976) la menulls
unLuk pelaksanaan kegalban cara 8uddhls lnl (pengucapan Maha karuna uharanl) dlperlukan sLandard
moral yang agung

8A!nA A8AMl1A P8uA?A Su18A

ra[na aramlLa Prdaya SuLra merupakan salah saLu SuLra yang Lerkenal dalam umaL 8uddha Mahayana
1er[emahan SuLra lnl dalam bahasa lndonesla dlkenal nama SuLra PaLl aLau Shln Clng (Mandarln) unLuk
memahaml SuLra lnl sebalknya dl baca dengan hlkmaL agar dapaL leblh dlpahaml

?ang Maha Sucl Sang AvaloklLasvara sedang memblna Samadhl kebl[aksanaan Se[aLl unLuk mencapal
panLal seberang (nlrvana) ualam pengamaLan baLhlnnya 8ellau mellhaL dengan [elas bahwa llma
kelompok kegemaran (ancaSkhanda) lLu sebenarnya adalah kosong (SunyaLa) uengan pencapalan
medlLaslnya lnl maka Sang AvaloklLesvara Lelah Lerbebas darl segala sumber sengsara dan derlLa

C SarlpuLra wu[ud (rupa) Lldak bedanya dengan kosong (sunyaLa) dan kosong (sunyaLa) [uga Lldak
berbeda dengan wu[ud (rupa) Maka wu[ud pada hakekaLnya adalah kosong dan kosong adalah wu[ud
uemlklan pula halnya dengan perasaan plklran kelnglnan dan kesadaran

SarlpuLra kekosongan darl semua benda Lldak Lerlahlrkan Lldak Lermusnahkan Lldak Lernoda Lldak
berslh Lldak berLambah aLaupun Lldak berkurang

Cleh sebab lLudengan kekosongan maka Llada berwu[udLlada perasaan plklran kelnglnan dan
kesadaran Llada maLa Lellnga hldung lldah Lubuh dan plklran Llada wu[ud suara bau rasa senLuhan
dan gambaran plklran Llada alam pengllhaLan sampallah Llada alam kekuaLan plklran dan kesadaran
(delapan belas alam pengenal)

1lada Llmbul awal kebodohan (avl[[a) maupun Llada Llmbul akhlr kebodohan hlngga usla dan
kemaLlan Llada Llmbul akhlr usla Lua dan kemaLlan 1lada Llmbul derlLa (uukha) lauLan derlLa
(samudaya) pelenyapan derlLa(nlrodha) dan [alan kebenaran (Marga) Llada Llmbul kebl[aksanaan
maupun Llada Llmbul yang dlcapal

karena Llada yang dlcapal maka 8odhlsaLLva mengandalkan kebl[aksanaan Se[aLl unLuk mencapal panLal
seberang oleh sebab lLu haLl nuranlnya Lelah Lerbebaskan darl segala kemelekaLan dan halangan

karena Lldak ada lagl kemelekaLan dan halangan maka Lldak ada rasa LakuL dan khawaLlr dan dapaL
Lerbebas darl llusl dan keLerpedayaan dengan demlklan dapaL mencapal kesempurnaan Se[aLl

ara 8udha dl masa lampau sekarang dan yang akan daLang memblna pada kebl[aksanaan Se[aLl unLuk
mencapal kesadaran Se[aLl 1erLlnggl

Maka klLa mengeLahul bahwa Maha ra[na aramlLa adalah ManLra sucl Agung ManLra unggul dan
ManLra yang Llada Laranya ?ang benar dan LepaL unLuk menghapuskan semua derlLa



Bakar Kertas Sembahyang

Apakah bermanfaat ???

Oleh UP Sudharma SL




Sering timbul salah pengertian di kalangan masyarakat yang non-Buddhis (bukan beragama
Buddha), bahwa tradisi "Bakar Kertas" adalah merupakan bagian dari ajaran Agama Buddha,
bahkan sebagian dari umat Buddha pun beranggapan demikian. Terasa seakan kurang lengkap
apabila dalam upacara sembahyang tidak dilaksanakan tradisi "Bakar Kertas" ini.

Sejak zaman dulu sebenarnya ada 2 jenis Kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu Kertas
yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan Kertas yang bagian tengahnya
berwarna keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan
untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk
upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.

Mereka yang mempercayai tradisi ini beranggapan bahwa dengan membakar Kertas emas dan
perak itu berarti mereka telah memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para
dewa atau leluhur mereka; sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang
yang berlaku pada zaman Tiongkok kuno.

Tetapi ternyata kemajuan zaman telah mempengaruhi pula tradisi ini, sekarang yang dibakar
bukan hanya Kertas emas dan perak, ada pula sejenis uang Kertas dengan nilai nominal aduhai
(milyaran), yang bentuknya mirip dengan uang Kertas yang digunakan pada zaman sekarang.
Yang membedakannya adalah kalau pada uang Kertas yang berlaku pada umumnya ada yang
bergambar kepala negara atau pahlawan, tetapi pada uang Kertas yang akan dikirim kepada para
leluhur yang telah meninggal ini bergambar Yen Lo Wang (Giam Lo Ong) yakni Dewa Yama,
penguasa alam neraka, dan adanya tulisan "Hell Bank Note" (Mata Uang Neraka). Entah dari
mana asal mula timbulnya ide untuk membuat dan membakar uang Kertas Akhirat seperti itu,
mungkin dasar pemikirannya adalah karena sekarang mata uang tidak lagi berupa kepingan emas
dan perak, melainkan uang kertas; tentunya di alam sana juga perlu penyesuaian.

Apakah benar tradisi "Bakar Kertas" ini berdasarkan ajaran Agama Buddha ? Apakah ada
manIaatnya ?, dan bagaimanakah sesungguhnya pandangan Agama Buddha mengenai tradisi ini
? Pembicaraan mengenai hal ini cukup menarik, ada yang pro dan ada pula yang kontra, bahkan
Anti sama sekali.

Agama Buddha adalah agama yang penuh dengan toleransi, dalam arti agama Buddha dapat
menerima pengaruh tradisi atau budaya manapun selama hal itu tidak bertentangan dengan
prinsip dasar ajaran Agama Buddha (Buddha Dharma). Dan dalam hal ini tentu perlu pula
dipertimbangkan apakah hal itu bermanIaat bagi kemajuan Batin kita atau tidak. Begitu pula
dengan tradisi "Bakar Kertas" ini apakah hal ini bertentangan atau tidak dengan prinsip dasar
ajaran Buddha Dharma ? Marilah kita tinjau lebih lanjut.

Asal-Usul Tradisi "Bakar Kertas"

Konon tradisi "Bakar Kertas" ini baru dimulai pada zaman pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien
(Lie She Min) dari Kerajaan Tang di Tiongkok. Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan
bijaksana, sehingga beliau dicintai oleh rakyatnya.

Pada suatu hari tersebar kabar bahwa Kaisar menderita sakit yang cukup parah, mendengar kabar
ini rakyat menjadi sedih. Beberapa hari kemudian secara resmi keluar pengumuman dari
Kerajaan bahwa Kaisar Lie Sie Bien meninggal dunia. Rakyat benar benar berduka-cita karena
merasa kehilangan seorang Kaisar yang dicintai, sebagai ungkapan rasa duka-cita ini penduduk
memasang kain putih di depan pintu rumahnya masing-masing tanda ikut berkabung atas
mangkatnya Sang Kaisar.

Sebagaimana tradisi pada waktu itu, jenazah Kaisar tidak langsung dikebumikan, melainkan
disemayamkan selama beberapa minggu untuk memberi kesempatan pada para pejabat istana
dan rakyat untuk memberikan penghormatan terakhir.

Alkisah, setelah beberapa hari kemudian Kaisar Lie Sie Bien hidup kembali atau Bangkit
kembali dari kematiannya. Dan kemudian beliau bercerita mengenai perjalanan panjangnya
menuju alam neraka, yang dialaminya selama saat kematiannya.

Dimana salah satu cerita beliau, adalah ketika beliau dalam perjalanan menuju alam neraka, sang
Kaisar bertemu dengan ayahbunda, dan sanak keluarga, serta teman-temannya yang telah lama
meninggal dunia. Dimana dikisahkan bahwa kebanyakan dari mereka berada dalam keadaan
menderita kelaparan, kehausan, dan serba kekurangan walaupun dulu semasa hidupnya mereka
hidup senang dan mewah. Keadaan mereka sangat menyedihkan, walaupun saat ini anak-anak
dan keturunannya yang masih hidup berada dalam keadaan senang dan bahagia. Makhluk-
makhluk yang menderita ini berteriak memanggil Lie Sie Bien untuk minta pertolongan dan
bantuannya untuk mengurangi penderitaan mereka. Menurut Kaisar mereka ini sangat
mengharapkan Bantuan dan pemberian dari keturunan dan sanak-keluarganya yang masih hidup.

Lalu sang Kaisar menghimbau dan menganjurkan agar keturunan dan sanak keluarga yang masih
hidup jangan sampai melupakan leluhur dan keluarganya yang telah meninggal. Kita yang masih
hidup wajib mengingat dan memberikan Bantuan kepada mereka yang menderita di alam sana,
sebagai Balas budi kita kepada leluhur kita itu. Untuk itu keluarga yang masih hidup dianjurkan
untuk mengirimkan Bantuan dana/ uang kepada mereka yang berada di alam penderitaan itu.
Dan dana Bantuan itu adalah berupa "Kertas Emas dan Perak" yang dibakar dan kemudian akan
menjelma menjadi kepingan uang emas dan perak di alam sana, sehingga dapat dipergunakan
oleh ayahbunda, leluhur, dan sanak keluarga yang berada di alam sana untuk meringankan
penderitaan mereka.

Karena yang berkisah ini adalah seorang Kaisar yang sangat dihormati dan dicintai segenap
rakyatnya, maka tentu saja cerita ini dipercayai, dan himbauan kaisar langsung mendapatkan
tanggapan yang baik dari para pejabat, bangsawan, dan seluruh rakyat kerajaan Tang.

Tetapi sekarang persoalannya, siapakah yang akan membuat "kertas emas dan perak" itu, untuk
kemudian dijual kepada yang mau membakarnya atau mengirimkannya kepada leluhur dan sanak
keluarganya yang telah meninggal ?

Lie Sie Bien adalah seorang yang cerdas, beliau tahu betul bahwa dari sekian luas wilayah
kerajaan Tang (Tiongkok), tidak semua daerah tersebut sama kesuburan tanahnya, ada daerah-
daerah yang gersang dan tandus, yang hanya dapat ditumbuhi pohon Bambu yakni bahan Baku
untuk pembuat Kertas pada waktu itu. Nah, penduduk daerah inilah yang dikerahkan untuk
membuat "kertas emas dan perak" untuk keperluan sembahyang kepada para leluhur itu.

Apakah sesungguhnya yang terjadi ? Betulkah Kaisar Lie Sie Bien meninggal dunia dan
melakukan perjalanan ke alam neraka ? Benarkah kisah perjalanan yang diceritakan oleh sang
Kaisar ? Banyak orang yang percaya bahwa Kaisar Lie Bie Bien benar-benar pernah meninggal
dan melakukan perjalanan ke alam neraka, dan apa yang dikisahkannya itu sungguh-sungguh
terjadi. Tetapi tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa kejadian "mati suri" nya Kaisar Lie Sie
Bien dan kisah perjalanannya ke neraka hanya rekayasa sang Kaisar untuk tujuan politis.

Dimana penggambaran alam neraka seperti yang diceritakan beliau diambil dari penggambaran
alam neraka dalam kitab-kitab suci Agama Buddha, karena Kaisar Lie Sie Bien adalah seorang
Buddhis (beragama Buddha) yang cukup banyak mendalami ajaran-ajaran Agama Buddha
(Buddha Dharma).

Seperti kita ketahui, bahwa di zaman itu di Tiongkok berlaku sistim Ieodal, dimana terjadi jurang
perbedaan yang sangat nyata antara tuan-tuan tanah, bangsawan, dan pedagang yang kaya raya
dengan segala kemewahan yang berlimpah ruah, dengan kaum petani, buruh dan rakyat jelata
yang hidup miskin, melarat, penuh kesengsaraan dan serba kekurangan. Orang-orang kaya ini
sama sekali tidak punya kepedulian terhadap orang-orang miskin, bahkan mereka menindas
kaum miskin ini.

Sebagai seorang kaisar yang adil dan bijaksana, tentu saja Lie Sie Bien tidak setuju dengan
keadaan ini, tetapi beliau juga tidak bisa sewenang-wenang memaksa kaum kaya ini untuk
mempunyai kepedulian dan mau membantu kaum miskin. Maka terpaksalah beliau
menggunakan taktik untuk menciptakan pemerataan kehidupan dan menolong kaum miskin itu,
yakni dengan merekayasa peristiwa kematian beliau dan perjalanannya ke alam neraka.

Barisan terdepan dari mereka yang mengikuti himbauan dan ajuran Kaisar Lie Sie Bien untuk
membakar "Kim Cua dan Gin Cua" untuk di kirimkan sebagai dana Bantuan kepada leluhur dan
sanak keluarga yang telah meninggal sudah tentu adalah orang-orang kaya yang punya banyak
uang untuk membeli "kertas emas dan perak" yang dibuat oleh orang-orang miskin; sehingga
dengan demikian rakyat jelata yang miskin ini jadi terbantu dan punya penghasilan, terjadilah
pemerataan pendapatan.

Secara keagamaan pun tradisi ini pada mulanya bermanIaat, yaitu agar anak dan sanak keluarga
yang masih hidup senantiasa ingat pada leluhur/ keluarga yang telah mendahului sekaligus
sebagai ungkapan Balas budi atas jasa dan kebaikan mereka, dan selalu berdoa serta
mengharapkan kebahagiaan mereka di alam sana.

Bagaimana pada zaman sekarang ?

Zaman terus berubah, tradisi yang tadinya sengaja dicetuskan oleh Kaisar Lie Sie Bien dengan
maksud dan tujuan yang baik, yakni membantu dan menolong kaum miskin, sekarang
masalahnya menjadi lain. "Kertas Emas dan Perak" yang dulunya di produksi oleh home industry
(industri rumah tangga) orang-orang miskin, sekarang sudah di produksi secara massal oleh
pabrik-pabrik yang tentunya milik pengusaha kaya. Sehingga maksud dan tujuan untuk
pemerataan penghasilan sudah tidak bermakna lagi.

.Kalau dulu upacara "Bakar Kertas" itu selalu diiringi dengan doa dan harapan untuk
kebahagiaan para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal, saat ini makna ini sudah
semakin kabur karena tidak banyak lagi orang yang tahu asal mula, maksud dan tujuan
sesungguhnya dari tradisi "Bakar Kertas" ini. Malah sekarang ada anggapan bahwa semakin
banyak "kertas emas dan perak" ini dibakar adalah semakin baik, dan membuat leluhur dan sanak
keluarga semakin kaya dan semakin senang di alam sana.

Ditambah lagi dengan berbagai ide yang menyesatkan, seperti membuat uang Kertas "Hell Bank
Note", peralatan-peralatan modern/ canggih dari Kertas (seperti pesawat televisi, hand phone,
mobil mewah, televisi, parabola, dll) untuk dibakar guna dikirimkan pada leluhur dan sanak
keluarga di alam sana, tentunya akan semakin mengaburkan maksud dan tujuan tradisi "Bakar
Kertas" ini.

Bagaimanakah pandangan Agama Buddha ?

Agama Buddha adalah agama yang penuh dengan toleransi, walaupun bukan berarti bahwa
agama Buddha bersikap menerima tradisi apapun dalam ritual agama Buddha. Tradisi "Bakar
Kertas" yang masih dilaksanakan pada saat ini jelas tidak sesuai dengan ajaran agama Buddha.

Alangkah baik dan bijaksana bilamana uang yang tadinya akan digunakan untuk pembelian
"kertas emas dan perak" itu dipergunakan untuk membantu orang-orang yang memerlukan
bantuan/ pertolongan, atau membeli sesuatu yang dapat diberikan/ disumbangkan pada mereka
yang membutuhkannya; misalnya : disumbangkan ke Vihara, Panti Asuhan, Panti Jompo, Panti
Anak Cacat, memberikan dana pada anggota Sangha (Bhikkhu/ Bhikkhuni), atau disumbangkan
pada pengemis, orang-orang miskin, korban bencana alam, dan lain sebagainya. Bantuan dan
sumbangan tersebut kita berikan dengan mengenang dan mengatasnamakan orangtua/ leluhur
dan sanak keluarga kita yang telah meninggal itu. Inilah yang di dalam agama Buddha
dinamakan "Upacara Pelimpahan Jasa (Pattidana)", sehingga uang kita tidak menjadi sia-sia
untuk membakar Kertas dan segala sesuatu yang tidak bermanIaat itu.

Tetapi dalam hal ini agama Buddha tidak mengambil sikap menentang keras atau Anti terhadap
tradisi tersebut, karena menyadari bahwa melaksanaan tradisi tersebut hanya semata-mata karena
ketidaktahuan, kurangnya pengertian, dan kepatuhan pada tradisi secara membabi buta, bukan
karena tujuan untuk menentang atau melanggar ajaran agama Buddha.

Jika masih ada generasi tua yang melaksanakan tradisi "Bakar Kertas" itu, kita tidak perlu
menentang, mengejek, menghina, atau pun melecehkan apa yang mereka lakukan; tetapi
seharusnya kewajiban kita adalah untuk memberikan pengertian dan penjelasan secara bijaksana
tentang tradisi tersebut, sehingga mereka berangsur-angsur jadi mengerti dan menyadari
kekeliruannya dan mau dengan ikhlas dan sukarela untuk memperbaiki/ merubahnya.
Sungguhpun harus diakui bahwa tidaklah mudah untuk merubah suatu tradisi yang sudah
mendarah-daging, meski pun demikian kita tetap harus mencobanya; syukur jika berhasil, tetapi
bila tidak berhasil kita tidak perlu kecewa, putus asa, atau pun memaksakannya pada mereka.

"Ajaran Buddha merupakan petunjuk spiritual,dan Beliau tidak pernah
memaksakannya"

























Hingga saat ini, masih banyak orang yang memiliki pandangan salah bahwa agama Buddha
menyembah patung. Padahal patung hanya sebagai simbol yang mewakili sosok Hyang Buddha.
Patung adalah satu produk budaya Buddhis untuk menghormat kepada Hyang Buddha. Dan
celakanya, orang sering mencampuradukan antara agama dan budaya. Maka terjadilah salah
persepsi dalam penggunaan patung.
Patung Buddha sendiri bukanlah produk asli dari India, tempat kelahiran agama Buddha,
melainkan hasil perpaduan antara budaya klasik Yunani dengan agama Buddha yang
berkembang selama hampir 1000 tahun ketika India di kuasai oleh Yunani di bawah
pemerintahan Alexander Agung pada abad ke-4 S.M.
Seni Buddha-Yunani memiliki ciri khas realisme idealistik seni Yunani Helenis dan perwujudan
pertama Hyang Buddha dalam bentuk manusia, yang telah membantu membentuk kanon seni
dan terutama teknik perpatungan Buddha di seluruh benua Asia sampai sekarang.
Interaksi antara budaya Yunani dan Buddha berkembang di daerah Gandhara, yang sekarang
terletak di Pakistan bagian utara, sebelum menyebar lebih lanjut ke India, memperngaruhi
kesenian Mathura, dan kemudian kesenian Buddha kekaisaran Gupta, yang juga menyebar ke
Asia Tenggara.
Pengaruh seni Buddha-Yunani juga menyebar ke utara menuju Asia Tengah, dan dengan kuat
membentuk kesenian dataran rendah Tamin di pintu gerbang ke Cina, dan akhirnya pengaruhnya
mencapai Cina, Korea, dan Jepang.
Seni Buddha-Yunani menggambarkan kehidupan Hyang Buddha dalam sebuah cara visual,
kemungkinan besar dengan menggunakan model-model realistic dan konsep-konsep yang bisa
dicapai para seniman pada masa itu.
Para Boddhisattva digambarkan sebagai bangsawan India yang memakai perhiasan dan telanjang
dada. Sementara para Buddha digambarkan seperti raja-raja Yunani yang memakai busana mirip
toga.

Gaya seni Buddha-Yunani mulai dari sangat halus dan realistic, seperti nampak pada patung-
patung Buddha yang berdiri. Kemudian gaya ini kehilangan realism kelas tinggi untuk kemudian
menjadi semakin simbolis dan dekoratiI pada abad-abad yang mendatang.
Kurang lebih antara abad pertama S.M. hingga abad pertama, perwujudan Buddha dalam
perwujudan manusiawi pertama kali dikembangkan. Inovasi ini yang sebenarnya dilarang ajaran
Buddha, langsung meraih kecanggihan kualitas tinggi dari bentuk seni perpatungan. Gaya ini
diilhami gaya seni pemahatan patung yang berasal dari Yunani Helenstik.
Banyak unsur dalam menggambarkan Buddha merujuk kepada pengaruh Yunani: toga model
Yunani, pose cont7a55osto Buddha dengan rambut keriting gaya Laut Tengah dan sanggul atas
yang nampaknya diambil dari gaya Belvedere Apollo (330SM), dan ciri rupa-rupa wajah-wajah,
semua dibuat menggunakan realism artistik yang kuat. Itulah mengapa jika kita lihat patung
Hyang Buddha sebagian besar memiliki rambut keriting.
Sang raja Baktria-Yunani, Demetrius I (205-171 S.M) sendiri, kemungkinan besar adalah model
citra Hyang Buddha. Baliau adalah raja dan penyelamat India. Demetrius disebut sebagai
Dharmamitra (Mitra Dharma) dalam teks India, Yuga-Purana.

Sebagian besar karya-karya seni dari Baktria dirusak mulai abad ke-5. Orang-orang Buddha
sering dituduh sebagai penyembah berhala sehingga symbol-simbol keagamaan dirusak.
Pengerusakan ini berlanjut sampai era modern pada masa Perang AIganistan dan terutama
dilakukan oleh rezim Taliban pada tahun 2001. Kasus paling dikenal adalah penghancuran
patung Buddha Bamiyan. Secara ironis karya-karya seni AIganistan yang terselamatkan justru
terjadi pada era colonial dan dikeluarkan dari Negara ini. Terutama, sebuah koleksi yang cukup
kaya dipamerkan di Musee Guimet di Perancis.
Di Jepang, kesenian Buddha mulai berkembang setelah Negara ini memeluk agama Buddha pada
tahun 548. Beberapa ubin dari periode Asuka, periode pertama setelah rakyat jepang mulai
memeliuk agama Buddha, menunjukan gaya klasik yang menonjol, dengan penggunaan pakaian
gaya Helenistik secara meluas dan pelukisan anatomi tubuh secara realistik, yang merupakan
cirri khas gaya seni Buddha-Yunani.
Karya seni lainnya menggunakan beberapa variasi pengaruh Cina dan Korea, sehingga seorang
pemeluk Buddha Jepang sangat bervariasi dalam berekspresi. Banyak unsure seni Buddha-
Yunani masih lestari sampai sekarang, seperti Herakles yang berada dibelakang penjaga Nio di
depan banyak kuil-kuil Buddha Jepang, atau representasi Hyang Buddha yang masih
memperlihatkan gaya seni Yunani seperti patung Buddha di Kamakura.
Kebudayaan India terbukti sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan Asia Tenggara.
Banyak Negara mengambil aksara India dan budayanya, bersamaan dengan agama Hindu dan
Buddha Mahayana. Pengaruh seni Buddha-Yunani masih nampak pada kebanyakan pelukisan
Buddha di Asia Tenggara, meski mereka biasanya cenderung berbaur dengan kesenian Hindu-
India dan kemudian mengambil unsur-unsur local. Itulah mengapa patung Buddha di Borobudur
berbeda dengan patung Buddha dari Thailand yang memakai mahkota. (Wikipedia)




Tanya 1awab Dhamma
Bersama YM. Bhikkhu Uttamo Thera
#upang / Patung Dalam Agama Buddha
1. Apakah fungsi rupang/patung dalam Agama Buddha?
Dalam konsep Buddhis, rupang adalah lambang dari kebuddhaan, oleh karena itu dalam
membuat rupang biasanya memperhatikan ciri2 Sang Buddha, karena semuanya
melambangkan kebuddhaan, bukan pribadinya.
Rupang juga merupakan simbol Sang Guru, sehingga apabila kita mengadakan puja bakti
bukanlah untuk menyembah rupang tersebut, melainkan untuk menghormati dan
mengingat ajaran Sang Guru. Jadi Iungsinya sebagai lambang dan kesempatan untuk
merenungkan ajaran Sang Guru.

1. Ada umat yang meminta agar rupang/patung yang dibelinya didoain bacadiisi]
agar hidup` sehingga dapat mendengar dan melihat, bagaimana pandangan agama
Buddha?
Dalam agama Buddha hal itu tidak ada, pengisian itu adalah upacara yang berkembang
dalam tradisi masyarakat agar seseorang umat yang mengadakan puja bakti bisa lebih
mantap.
Sesungguhnya tanpa upacara itupun tidak masalah. Kemantapan dan keyakinan seorang
umat Buddha akan muncul karena pengertian dan pembuktian kebenaran ajaran Sang
Buddha. Sekali lagi, hal itu bukan ajaran Sang Buddha.

1. Ada yang mengatakan bahwa rupang tidak boleh ditempatkan didalam kamar,
karena menurut mereka kamar itu kotor Apakah itu benar?
Itu hanya perasaan kita sendiri, patungnya sendiri tentu tidak tahu kalau diletakkan di
kamar. Jadi sebenarnya tidak ada masalah.

1. Kenapa sekarang ini ada yang membuat rupang/patung bhikkhu yang kemudian
mereka disembah?
Kiranya hal itu adalah bentuk penghormatan juga, dan menyembah atau bersujud itu
adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam tradisi Timur. Bukankah Agama Buddha
berasalah dari tradisi Timur? Yang penting, kita tidak meminta apa-apa dari patung
tersebut, karena dengan demikian, berarti kita menyembah berhala.

1. Ada yang mengatakan bahwa bila kita berhasil memegang bagian tertentu dari
rupang/patung di candi Borobudur, kita akan mendapat rejeki, apa itu benar ?
Itu adalah hasil tradisi, bukan ajaran Sang Buddha. Kalau memang memegang patung
bisa mendatangkan rejeki maka para penduduk di sekitar Borobudur pasti sudah kaya
raya. Buktinya, mereka sama saja. Dengan demikian, rejeki dan berkah bukan didapat
karena memegang patung, melainkan karena menanam kebajikan.

1. Ada beberapa kalangan mempercayai bahwa sewaktu kita membeli rupang/patung
untuk ditempatkan dialtar rumah tidak boleh menawar harga, bagaimana dengan
yang satu ini?
Ada baiknya kita bersikap bijaksana karena memang patung adalah lambang, bukan
mewakili pribadi, juga bukan sebagai hal-hal yang bersiIat mistik.
Kalau itu pribadi, memang tak ternilai, jadi tidak bisa ditawar, namun karena merupakan
simbol, tentu saja kita bisa menawar. Oleh karena itu, menjadi umat Buddha hendaknya
menjadi orang yang bijaksana.

1. Sewaktu kehidupan Sang Buddha tidak ada rupang, apakah para Sangha telah
melakukan kebaktian seperti kita sekarang ini?
Kebaktian adalah pengulangan kotbah Sang Buddha yang dilakukan setelah Sang Buddha
waIat. Pada jaman dahulu, penghormatan bisa langsung pada Sang Buddha dan Beliau
memberikan ceramah Dhamma, ceramah inilah yang kemudian menjadi pembacaan
paritta setelah Beliau waIat.
Selain penghormatan kepada Sang Buddha, ada juga penghormatan kepada pohon Bodhi
seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri, atau tempat duduk Sang Buddha yang
melambangkan kehadiran Beliau. Setelah Beliau waIat, maka ada juga pemujaan pada
stupa. Borobudur adalah merupakan stupa terbesar di dunia.








EKSITENSI HIO, DUPA DALAM T#ADISI TIONGHOA
Hio sebenarnya adalah medium untuk melakukan sembayang atau bagian dari peralatan
sembayang, tidak mempunyai arti khusus dan makna khusus didalamnya

Hio itu sebuah tradisi sebagaimana bunga di barat sana. Hio digunakan karena simbolisasi juga,
karena asapnya membumbung ke atas dan disimbolkan sebagai satu macam pendekatan dengan
dewa-dewi di atas sana. Lalu beberapa macam hio juga wangi dan dapat bermakna sebagai
penyucian batin dan lingkungan. Ada banyak orang yang bertanya2, kalau pindah agama boleh
gak pegang hio yah? Yah, gak masalahlah, wong hio itu gak ada kaitannya dengan agama
apapun. Itu hanya tradisi tok. Bandingkan tradisi menghormati dengan bunga di barat dengan
tradisi menghormati pakai hio di Tiongkok? Jangan berpikiran sempit. Saya masih sering
bingung kalau masih banyak yang merasa sebuah tradisi diadopsi oleh sebuah agama, lalu jadilah
tradisi itu haram untuk agama lain.

Dupa atau sering kali disebut Hsiang (Mandarin) atau Hio (Hokkian) adalah
salah satu unsur yang eksis dalam kebudayaan Tionghoa selama ribuan
tahun. Dupa digunakan dalam acara penghormatan kepada leluhur
dan acara2 ritual keagamaan beberapa agama yang ada di Tiongkok.

Asal usul dupa pertama kali sebenarnya bukanlah langsung digunakan
untuk penyembahan atau penghormatan. Dupa masuk bersamaan dengan
masuknya agama Buddha ke China. Dikatakan bahwa sewaktu Buddha Sakyamuni
menyebarkan ajarannya kepada para pengikut, karena cuaca yang panas,
kebanyakan murid2 tak dapat berkonsentrasi, merasa mengantuk dalam
mendengarkan wejangan dari Buddha Sakyamuni. Maka untuk mengatasi hal
ini, orang2 kemudian membakar kayu2 harum dan wangi untuk mengharumkan
udara dan meningkatkan konsentrasi. Kemudian tradisi ini menjadi
kebiasaan dalam agama Buddha dan terbawa ke China dalam penyebarannya.

Dupa kemudian diadopsi oleh agama2 dan kepercayaan2 lain yang telah lama
ada di China sebelum agama Buddha masuk. Sehingga dupa menjadi sebuah
alat dalam ritual dan tradisi kebudayaan Tionghoa selama ribuan tahun,
baik dalam menghormati leluhur, menghormati dewa-dewi dalam agama2
tertentu di China dan juga tentunya oleh penganut agama Buddha sendiri.

Tradisi ini kemudian diperlambangkan sebagai sebuah alat untuk
berkomunikasi dengan leluhur, dewa-dewi dalam agama tertentu ataupun
sang Buddha sendiri. Ini terutama karena anggapan bahwa wewangian yang
menyebar dalam udara adalah salah satu bentuk penghormatan kepada yang
dipuja. Asap dari dupa yang bergerak ke atas juga sebagai perlambang
bahwa niat kita untuk menghormati ataupun memuja akan sampai kepada
tujuannya karena anggapan umum semua bangsa dan agama di dunia (saya
kira bukan hanya dalam agama2 tertentu) bahwa yang kita puja itu baik
Tuhan, Allah, Buddha, leluhur dan lain - lainnya yang derajatnya lebih tinggi
daripada manusia bertempat di atas langit.

Dupa juga dipercaya digunakan dalam acara ritual untuk menghormati
leluhur ataupun dewa-dewi dalam agama tertentu di China sebagai
pengganti persembahan lainnya seperti kurban2 makhluk bernyawa.

Selain itu dari versi lain

Berdasarkan kitab Zhou Li (tata krama dinasti Zhou) ditulis kalau untuk
menghormati Huang Tian adalah dengan Yin.
Yin adalah asap yang membumbung karena kayu2 (harum)yang dibakar.

Pada tulisan Bunsu Sidartanto Buanadjaya, yang berjudul "Ru Jiao - Selayang Pandang
Kesejarahan Wahyu dan Kitab Sucinya Sepanjang Kurun Waktu 5000 Tahun", Ong Kun salah
satu menteri dari Oey Tee (Huang DiKaisar Kuning) adalah penemu Than Hio yang dipakai
sebagai wewangian pada upacara sembahyang.
Jauh lebih lama dari waktu masuknya agama Buddha ke Tiongkok (waktu Dinasti Han).

Catatan lain di Indonesia dikenal dengan Kemenyan, kemenyan adalah sejenis dupa, Sebenar
pemakaian dupa dan pengenalan dupa berasala dari India pada era 7000 sm, pemakaian dupa
sudah dikenal di India karena dupa pertama kali digunakan. Fungsi kemenyan sama seperti
pembakaran dupa.

Cara sembahyang di kelenteng untuk orang awam pada umumnya dengan menggunakan hio. Hio
digunakan karena simbolisasi juga, karena asapnya membumbung ke atas dan disimbolkan
sebagai satu macam pendekatan dengan dewa-dewi di atas sana. Lalu beberapa macam hio juga
wangi dan dapat bermakna sebagai penyucian batin dan lingkungan. Ada banyak orang yang
bertanya2, kalau pindah agama boleh gak pegang hio yah? Yah, gak masalahlah, hio itu gak ada
kaitannya dengan agama apapun. Itu hanya tradisi dan bersiIat medium atau alat sembayang saja.