Anda di halaman 1dari 19

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban.

Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. [1] Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Pertelaan o 1.1 Ciri-ciri umum o 1.2 Penyebaran dan adaptasi o 1.3 Reproduksi 2 Genetika dan pemuliaan 3 Keanekaragaman o 3.1 Keanekaragaman genetik o 3.2 Keanekaragaman budidaya 3.2.1 Padi gogo 3.2.2 Padi rawa o 3.3 Keanekaragaman tipe beras/nasi 3.3.1 Padi pera 3.3.2 Ketan 3.3.3 Padi wangi 4 Aspek budidaya o 4.1 Hama dan penyakit 5 Pengolahan gabah menjadi nasi 6 Produksi padi dan perdagangan dunia 7 Aspek budaya dan bahasa 8 Lihat pula 9 Referensi 10 Pranala luar

[sunting] Pertelaan

[sunting] Ciri-ciri umum

Padi tengah diambil dari persemaian untuk ditanam di sawah.

Panen padi

Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau Glumiflorae). Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium yang dimakan orang.
[sunting] Penyebaran dan adaptasi

Asal-usul padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Di Afrika, padi Oryza glaberrima ditanam di daerah Afrika barat tropika.

Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.
[sunting] Reproduksi

Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endospermia. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan. Bagi manusia, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi.

[sunting] Genetika dan pemuliaan


Satu set genom padi terdiri dari 12 kromosom. Karena padi adalah tanaman diploid, maka setiap sel padi memiliki 12 pasang kromosom (kecuali sel seksual). Padi merupakan organisme model dalam kajian genetika tumbuhan karena dua alasan: kepentingannya bagi umat manusia dan ukuran kromosom yang relatif kecil, yaitu 1.6~2.3 108 pasangan basa (base pairs, bp)[2]. Sebagai tanaman model, genom padi telah disekuensing, seperti juga genom manusia. Hasil sekuensing genom padi dapat dilihat di situs NCBI. Perbaikan genetik padi telah berlangsung sejak manusia membudidayakan padi. Dari hasil tindakan ini orang mengenal berbagai macam ras lokal, seperti 'Rajalele' dari Klaten atau 'Pandanwangi' dari Cianjur di Indonesia atau 'Basmati Rice' dari India utara. Orang juga berhasil mengembangkan padi lahan kering (padi gogo) yang tidak memerlukan penggenangan atau padi rawa yang mampu beradaptasi terhadap kedalaman air rawa yang berubah-ubah. Di negara lain dikembangkan pula berbagai tipe padi. Pemuliaan padi secara sistematis baru dilakukan sejak didirikannya IRRI di Filipina sebagai bagian dari gerakan modernisasi pertanian dunia yang dijuluki sebagai Revolusi Hijau. Sejak saat itu muncullah berbagai kultivar padi dengan daya hasil tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia. Dua kultivar padi modern pertama adalah 'IR5' dan 'IR8' (di Indonesia diadaptasi menjadi 'PB5' dan 'PB8'). Walaupun hasilnya tinggi tetapi banyak petani menolak karena rasanya tidak enak (pera). Selain itu, terjadi wabah hama wereng coklat pada tahun 1970-an. Ribuan persilangan kemudian dirakit untuk menghasilkan kultivar dengan potensi hasil tinggi dan tahan terhadap berbagai hama dan penyakit padi. Pada tahun 1984

pemerintah Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras. Prestasi ini tidak dapat dilanjutkan dan baru kembali pulih sejak tahun 2007. Hadirnya bioteknologi dan rekayasa genetika pada tahun 1980-an memungkinkan perbaikan kualitas nasi. Sejumlah tim peneliti di Swiss mengembangkan padi transgenik yang mampu memproduksi toksin bagi hama pemakan bulir padi dengan harapan menurunkan penggunaan pestisida. IRRI, bekerja sama dengan beberapa lembaga lain, merakit "Padi emas" (Golden Rice) yang dapat menghasilkan provitamin A pada berasnya, yang diarahkan bagi pengentasan defisiensi vitamin A di berbagai negara berkembang. Suatu tim peneliti dari Jepang juga mengembangkan padi yang menghasilkan toksin bagi bakteri kolera[3]. Diharapkan beras yang dihasilkan padi ini dapat menjadi alternatif imunisasi kolera, terutama di negara-negara berkembang. Sejak tahun 1970-an telah diusahakan pengembangan padi hibrida, yang memiliki potensi hasil lebih tinggi. Karena biaya pembuatannya tinggi, kultivar jenis ini dijual dengan harga lebih mahal daripada kultivar padi yang dirakit dengan metode lain. Selain perbaikan potensi hasil, sasaran pemuliaan padi mencakup pula tanaman yang lebih tahan terhadap berbagai organisme pengganggu tanaman (OPT) dan tekanan (stres) abiotik (seperti kekeringan, salinitas, dan tanah masam). Pemuliaan yang diarahkan pada peningkatan kualitas nasi juga dilakukan, misalnya dengan perakitan kultivar mengandung karoten (provitamin A).

[sunting] Keanekaragaman
[sunting] Keanekaragaman genetik

Hingga sekarang ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal: Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat. Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki "ekor" atau "bulu" (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-"bulu" atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar 'IR8', yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar 'Deegeowoogen' dari Formosa) dengan indica (kultivar 'Peta' dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa. Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus (padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasangsurut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini

dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim.[4] Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadap genom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica ("japonica daerah sejuk" dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica ("japonica daerah tropika" dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah.[5] Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon.[5] Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi.[6]
[sunting] Keanekaragaman budidaya [sunting] Padi gogo

Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.
[sunting] Padi rawa

Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.
[sunting] Keanekaragaman tipe beras/nasi Artikel utama untuk bagian ini adalah: Beras [sunting] Padi pera

Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya.
[sunting] Ketan

Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat.
[sunting] Padi wangi

Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras 'Cianjur Pandanwangi' (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan 'rajalele'. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.

Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar 'IR5' dan 'IR8', yang merupakan padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi. Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki 'darah' kedua kultivar perintis tadi.

[sunting] Aspek budidaya


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bercocok tanam padi

Teknik budidaya padi telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sejumlah sistem budidaya diterapkan untuk padi.

Budidaya padi sawah (Ing. paddy atau paddy field), diduga dimulai dari daerah lembah Sungai Yangtse di Tiongkok. Budidaya padi lahan kering, dikenal manusia lebih dahulu daripada budidaya padi sawah. Budidaya padi lahan rawa, dilakukan di beberapa tempat di Pulau Kalimantan. Budidaya gogo rancah atau disingkat gora, yang merupakan modifikasi dari budidaya lahan kering. Sistem ini sukses diterapkan di Pulau Lombok, yang hanya memiliki musim hujan singkat.

Setiap sistem budidaya memerlukan kultivar yang adaptif untuk masing-masing sistem. Kelompok kultivar padi yang cocok untuk lahan kering dikenal dengan nama padi gogo. Secara ringkas, bercocok tanam padi mencakup persemaian, pemindahan atau penanaman, pemeliharaan (termasuk pengairan, penyiangan, perlindungan tanaman, serta pemupukan), dan panen. Aspek lain yang penting namun bukan termasuk dalam rangkaian bercocok tanam padi adalah pemilihan kultivar, pemrosesan biji dan penyimpanan biji.
[sunting] Hama dan penyakit Hama-hama penting

Penggerek batang padi putih ("sundep", Scirpophaga innotata) Penggerek batang padi kuning (S. incertulas) Wereng batang punggung putih (Sogatella furcifera) Wereng coklat (Nilaparvata lugens) Wereng hijau (Nephotettix impicticeps) Lembing hijau (Nezara viridula) Walang sangit (Leptocorisa oratorius) Ganjur (Pachydiplosis oryzae) Lalat bibit (Arterigona exigua) Ulat tentara/Ulat grayak (Spodoptera litura dan S. exigua) Tikus sawah (Rattus argentiventer)

Penyakit-penyakit penting

blas (Pyricularia oryzae, P. grisea) hawar daun bakteri ("kresek", Xanthomonas oryzae pv. oryzae)

[sunting] Pengolahan gabah menjadi nasi


Setelah padi dipanen, bulir padi atau gabah dipisahkan dari jerami padi. Pemisahan dilakukan dengan memukulkan seikat padi sehingga gabah terlepas atau dengan bantuan mesin pemisah gabah. Gabah yang terlepas lalu dikumpulkan dan dijemur. Pada zaman dulu, gabah tidak dipisahkan lebih dulu dari jerami, dan dijemur bersama dengan merangnya. Penjemuran biasanya memakan waktu tiga sampai tujuh hari, tergantung kecerahan penyinaran matahari. Penggunaan mesin pengering jarang dilakukan. Istilah "Gabah Kering Giling" (GKG) mengacu pada gabah yang telah dikeringkan dan siap untuk digiling. (Lihat pranala luar). Gabah merupakan bentuk penjualan produk padi untuk keperluan ekspor atau perdagangan partai besar. Gabah yang telah kering disimpan atau langsung ditumbuk/digiling, sehingga beras terpisah dari sekam (kulit gabah). Beras merupakan bentuk olahan yang dijual pada tingkat konsumen. Hasil sampingan yang diperoleh dari pemisahan ini adalah:

sekam (atau merang), yang dapat digunakan sebagai bahan bakar bekatul, yakni serbuk kulit ari beras; digunakan sebagai bahan makanan ternak, dan dedak, campuran bekatul kasar dengan serpihan sekam yang kecil-kecil; untuk makanan ternak.

Beras dapat dikukus atau ditim agar menjadi nasi yang siap dimakan. Beras atau ketan yang ditim dengan air berlebih akan menjadi bubur. Pengukusan beras dapat juga dilakukan dengan pembungkus, misalnya dengan anyaman daun kelapa muda menjadi ketupat, dengan daun pisang menjadi lontong, atau dengan bumbung bambu yang disebut lemang (biasanya dengan santan). Beras juga dapat diolah menjadi minuman penyegar (beras kencur) atau obat balur untuk mengurangi rasa pegal (param).

[sunting] Produksi padi dan perdagangan dunia


Bagian ini memerlukan aktualisasi

Negara produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat Cina (31% dari total produksi dunia), India (20%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total produksi dunia). Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%). Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Bangladesh (4%), dan Brazil (3%).Produksi padi Indonesia pada 2006 adalah 54 juta ton , kemudian tahun 2007 adalah 57 juta ton (angka ramalan III), meleset dari target semula yang 60 juta ton akibat terjadinya kekeringan yang disebabkan gejala ENSO.
Produsen padi terbesar 2005 (juta metrik ton) Republik Rakyat Cina 185

India Indonesia Bangladesh Vietnam Thailand Myanmar Pakistan Filipina Brasil Jepang Total Dunia

129 54 40 36 27 25 18 15 13 11 700

Sumber: Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO)[1]

[sunting] Aspek budaya dan bahasa


Padi merupakan bagian penting dalam budaya masyarakat Asia Tenggara dan Asia Timur. Masyarakat setempat mengenal filosofi ilmu padi. Sejumlah peribahasa juga melibatkan padi, misalnya

Padi ditanam tumbuh lalang Padi masak, jagung mengupih Bagai ayam mati di lumbung padi

[sunting]
Kenaikan Harga Beras Salah satu penyebab mahalnya harga beras adalah menurunnya pertumbuhan produksi padi antara lain akibat imbas dari perubahan cuaca. Perubahan cuaca tersebut juga telah membuat negara pengekspor beras utama dunia yaitu Vietnam dan Thailand melakukan pengetatan ekspor beras. Meskipun kedua negara ini mengalami surplus beras, mereka telah mengumumkan bahwa akan membatasi ekspor beras terkait anomali cuaca yang melanda. Hal ini menjadi sinyal kuat bagi Indonesia bahwa pengendalian harga beras tidak dapat diandalkan melalui impor. Berikut pergerakan harga beras domestik tahun 2010:

Trend meningkatnya harga beras memang tak lepas dari hukum permintaan dan penawaran barang. Indonesia sebagai negara Asia dengan konsumsi beras sangat tinggi yakni mencapai 139 kg per kapita per tahun. Padahal negara-negara Asia lainnya tak lebih dari 100 kg per kapita per tahun. Dengan demikian, total permintaan beras Indonesia menjadi sangat besar mengingat jumlah penduduknya lebih dari 230 juta jiwa. Permintaan terhadap beras yang tinggi tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan produksi beras yang memadai di dalam negeri. Pada saat ini jumlah permintaan dan penawaran beras di Indonesia relatif berimbang, dalam arti jumlah yang tersedia dan jumlah yang dikonsumsi berselisih tipis. Keadaan tersebut sangat riskan, karena apabila terjadi goncangan permintaan atau penawaran, harga beras akan mudah berfluktuasi. Disamping itu, cadangan beras untuk pengamanan ketersedian oleh Pemerintah dilakukan dengan kebijakan impor. Instrumen impor inilah yang digunakan dalam mengantisipasi perilaku pasar agar tidak terjadi tindakan-tindakan yang justru memperkeruh pasar seperti aksi-aksi spekulasi. (Warta Ekonomi, No.26/XXII/29 Desember 2010-12 Januari 2011). Mengandalkan pengamanan stok beras kepada impor merupakan problematika tersendiri. Misalnya, pada saat terjadi perubahan cuaca seperti sekarang ini, membuat negara eksportir beras mengamankan cadangan berasnya sendiri dengan menutup keran eskpor. Dengan demikian Indonesia tidak lagi dapat menggantungkan diri pada instrumen impor.

Tak ada pilihan lain, Indonesia harus meningkatkan produktivitas beras dalam negeri. Salah satunya dengan memberikan insentif dan fasilitas tambahan kepada petani agar petani lebih bergairah, terutama jaminan harga jual padi pada musim panen. Indonesia sebetulnya memiliki kisah sukses dalam meningkatkan produksi beras nasional pada tahun 2007, 2008 dan 2009. Kisah sukses ini berawal dari Rapat Kerja Presiden/Wakil Presiden R.I di Departemen Pertanian pada tanggal 8 Januari 2007 yang membahas tentang: Peningkatan Produksi Beras 2 juta ton pada tahun 2007 untuk Memantapkan Ketahanan Pangan Dalam Negeri, dengan arahan Presiden sebagai berikut: (a) Agar Menteri Pertanian, Gubernur dan Bupati dapat mencapai sasaran peningkatan produksi beras sebanyak 2 juta ton; (b) Agar Menteri Pertanian membuat Performance Agreement dengan Pemerintah Daerah untuk mencapai sasaran peningkatan produksi beras tersebut; (c) Dalam waktu 2-3 minggu Gubernur dan Bupati agar menyiapkan program aksi nasional peningkatan produksi beras sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. Gubernur dan Bupati agar menyampaikan Program Aksi tersebut dan melaporkan pelaksanaannya setiap bulan kepada Presiden dan Wakil Presiden R.I; (d) Peningkatan produksi beras sebanyak 2 juta ton merupakan program prioritas. Oleh karena itu program ini harus didukung oleh APBD; (e) Agar program peningkatan produksi beras melibatkan petani; (f) Gubernur agar memperhatikan kenaikan harga beras dan melakukan Operasi Pasar untuk stabilisasi harga. Seminggu setelah rapat kerja tersebut, pada tanggal 15 Januari 2007 Presiden melaksanakan kunjungan kerja ke Provinsi Gorontalo untuk mencanangkan peningkatan produksi beras nasional. Presiden menyatakan, tahun ini ditargetkan peningkatan produksi beras sebanyak 2 juta ton. Lebih lanjut Presiden menyampaikan dukungan pemerintah diberikan dalam bentuk bantuan benih unggul, subsidi pupuk dan penyuluhan. Beliau juga mengatakan, upaya peningkatan produksi beras sebanyak 2 juta ton tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi juga diharapkan dapat menghasilkan cadangan pangan yang aman. Pencanangan peningkatan produksi beras ini selanjutnya lebih dikenal sebagai Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (GP2BN). Sejak dicanangkan pada awal Januari 2007, Departemen Pertanian menyusun target produksi padi nasional dengan target tahun 2007 sebesar 58,182 juta ton, tahun 2008 sebesar 61,11 juta ton dan tahun 2009 sebesar 63,525 juta ton. Sesuai arahan Presiden target produksi ini disusun dan disepakati antara Menteri Pertanian dan para Gubernur serta Bupati. Pelaksanaan peningkatan produksi dipantau secara ketat oleh Tim dibawah koordinasi Wakil Presiden. Dengan dilaksanakannya arahan Bapak Presiden tersebut diikuti komitmen yang tinggi dari Gubernur dan Bupati untuk mencapai target produksi serta didukung oleh monitoring yang ketat, fakta menunjukkan bahwa produksi padi nasional meningkat tajam, dengan produksi padi sebagai berikut: (a) Tahun 2007 mencapai 57,16 juta ton atau naik 4,96% dibanding tahun 2006; (b) Tahun 2008 mencapai 60,33 juta ton atau naik 5,54% dibanding tahun 2007; (c) Tahun 2009 mencapai 64,4 juta ton atau naik 6,75%. Sebagai perbandingan peningkatan produksi padi sejak tahun 2001 sampai tahun 2006 berturut-turut mencapai -2,7%, 2,04%, 1,26%, 3,74%, 0,12%, 0,56%. Kenaikan produksi padi dalam tiga tahun tersebut merupakan rekor tertinggi berturut-turut yang belum pernah dicapai sebelumnya sehingga Indonesia kembali dengan sukses meraih swasembada pangan terutama beras. Pencapaian produksi padi yang cukup tinggi tersebut telah mengamankan harga beras dalam negeri sehingga terhindar dari gejolak harga akibat meroketnya harga beras dipasar internasional yang mencapai USD 1000/ton ketika krisis ekonomi global tahun 2008 mencapai puncaknya. Kunci sukses keberhasilan ini selain dari komitmen yang tinggi dari jajaran pemerintah mulai dari pusat sampai daerah adalah tersedianya benih unggul dan pupuk secara tepat waktu, tepat jumlah dan tepat mutu serta dukungan sekolah lapang yang giat dilaksanakan sebagai percontohan.

Pada tahun 2010 berdasarkan Angka Ramalan III (ARAM III) yang diterbitkan BPS produksi padi diperkirakan mencapai 65,98 juta ton atau naik 2,46% dibanding tahun 2009. Kenaikan produksi tahun 2010 ini jauh dibawah tingkat kenaikan produksi berturut-turut dalam tiga tahun sebelumnya. Turunnya tingkat pertumbuhan produksi padi tahun 2010 antara lain, berkemungkinan disebabkan oleh: a) Mengendurnya komitmen untuk peningkatan produksi yang selama ini diimplementasikan didalam GP2BN. Kini GP2BN sudah tidak terdengar lagi gaungnya bahkan di website Kementerian Pertanian gerakan ini sudah tidak ditemukan sejak tahun 2009. b) Tim monitoring yang anggotanya terdiri dari berbagai instansi seperti Ditjen Tanaman Pangan, BPS, Bulog, BPKP, Setwapres, PT.PUSRI (pupuk), PT. Sang Hyang Sri (benih) sejak tahun 2009 sudah tidak melakukan kegiatan monitoring. Tim monitoring terpadu ini selain berperan melakukan pemantauan di sentra-sentra produksi sekaligus juga berperan menyelesaikan permasalahan di lapangan seperti pupuk yang tidak sampai kepada petani atau benih unggul yang belum tersedia maupun permasalahan hambatan administrasi dalam pengadaan benih. c) Faktor perubahan cuaca yang hampir sepanjang tahun ditandai oleh curah hujan yang cukup banyak mengakibatkan menurunnya produksi padi lebak, meningkatnya serangan hama tanaman dan rusaknya tanaman padi akibat terendam banjir serta sulitnya mengeringkan gabah hasil panen.

Kini perlu dibangkitkan kembali momentum GP2BN untuk mendongkrak produksi padi nasional yang diikuti oleh kebijakan-kebijakan lainnya seperti peningkatan stok beras oleh Bulog, pengadaan mesin pengering gabah dan menjaga kelancaran distribusi beras serta untuk jangka panjang segera memulai pembangunan pertanian beras dalam skala besar seperti yang direncanakan di Merauke Papua. Jika semua ini berhasil dilakukan diharapkan kontribusi inflasi dari volatile food dapat dikendalikan pada tahun 2011 dan seterusnya.

Kebutuhan pangan nasional yang cenderung meningkat perlu dibarengi dengan usaha-usaha peningkatan ~roduksi pangan. Salah satu usaha yang dilakukan adalah meningkatkan hail pertanian. Peningkatan hasil pertanian meliputi peningkatan kuantitas, mengurangi kehilangan hasil, dan peningkatan kualitas produksi. Khusus untuk tanaman padl terus digalakkan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan dan melestarikan swasembada beras yang telah dicapai pada tahun 1984. Kabupaten Padang Pariaman sebagai salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Barat dalam peningkatan hasil tanaman padi menghadapi masalah masih tingginya susut yang tejadi pada tahapan pasca panen, terjadnya pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa, dan ketersediaan alat dan mesin pertanian pasca panen dengan skala yang sesuai dan efisien baik teknis, maupun ekonomis. Dari pennasalahan di atas perlu dilakukan analisa mengenai kelayakan usaha jasa perontokan padi. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari performansi tekxus dan ekonomi mesin perontok pa&, membuat analisa kelayakan usaha jasa pelayanan, dan mempelajari prospek pengembangan usaha jasa pelayanan tersebut.

Performansi teknis yang dldapat dari percobaan lapangan adalah nilai susut tercecer maksimum 3 %, minimum 1 %, dan rata-rata 1.6 %. Kapasitas perontokan alat maksimum 900 kgljam, minimum 600 kg /jam, dan rata-rata 800 kgljam. Pemakaian bahan bakar maksimum 2.2 Idjam, minimum 1.7 ldjam, dan rata-rata 2.1 lt/jam. Berdasarkan data tekms dan hasil survey CLI lapangan diperoleh biaya pokok perontokan 9.2 - 14.5 (Rplkg) dan upah perontokan dalam bentuk natura 6-7 % dari hasil perontokan. Titik impas usaha jasa perontokan padi 12.1 - 29.2 (hari kerjaltahun). Biaya pokok perontokan dan titik impas tergantung dari kapasitas perontokan dan pemakaian bahan bakar. Biaya pengelolaan (management fee) ditetapkan 5 % dari biaya pokok perontokan. Dari hasil analisa kelayakan finansial maka usaha jasa perontokan padi adalah lay& karena dari kapasitas perontokan minimum dan pemakaian bahan bakar maksimum menghasilkan nilai NPV, B/C, dan IRR masing-masing 207302.08, 1.16, dan 29.98 %. Dari hasil analisa sensitivitas diketahui bahwa pada pemakaian bahan bakar maksimum kelayakan usaha jasa perontokan padi paling sensitif terhadap berbagai perubahan seperti penurunan harga gabah, kenaikan harga bahan bakar, dan kenaikan upah operator. Pada analisa sensitivitas penurunan harga gabah 7.5 % dari harga standar, kapasitas perontokan 600 kg/jam dan pemakaian bahan bakar 2.2 liter/jam menjadikan usaha jasa perontokan padi tidak layak secara finansial. Hal ini terlihat dari nilai NPV, B/C, dm IRR masing-masing -99822.92, 0.92, dan 15.07 %. Analisa sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan bakar 30 % dari harga sekarang, kapasitas perontokan 600 kg/jam dan pemakaian bahan bakar 2.2 liter/jam, juga menjadikan usaha jasa perontokan padi tidak layak. Hal ini terlihat dari nilai NPV, BIC, dan IRR masing-masing -1 5142.36, 0.99 dan 19.3 %. Lebih lanjut analisa sensitivitas terhadap kenaikan upah operator sebesar 22.5 % dari harga sekarang, kapasitas perontokan 600 kgljam dan pemakaian bahan bakar 2.2 literljam juga menjadikan usaha jasa perontokan padi tidak layak. Hal ini terlihat dari nilai NPV, BIC, dan IRR masing-masing -20197.92, 0.98, dan 18.93 %. Salah satu pengusaha yang berhasil mengelola usaha jasa perontokan pa& adalah pengusaha penggilingan pa&. Sebab upah perontokan umumnya diterima dalam bentuk natura, maka ketika harga gabah jatuh pendapatan usaha jasa perontokan dari pengusaha penggilingan padi tidak berkurang karena mereka tidak menjual gabah tapi akan mengolah gabah tersebut menjadi beras. Pengusaha penggilingan padi dapat menjadi salah satu pionir dalam pengembangan usaha jasa alat dan mesin pertanian, terutama usaha jasa pelayanan perontokan pad.

Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi) dan 'lemma' (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras. Beras dari padi ketan disebut ketan.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Anatomi beras 2 Kandungan beras 3 Macam dan warna beras 4 Aspek pangan 5 Aspek budaya dan bahasa 6 Produksi padi (gabah kering giling) 10 negara terbesar tahun 2007 (dalam juta metrik ton) 7 Produksi beras indonesia (dalam ribuan ton) 8 Impor beras indonesia (dalam ribuan ton) 9 Galeri gambar 10 Rujukan

[sunting] Anatomi beras


Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari

aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit, endosperma, tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.

[sunting] Kandungan beras


Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:

amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket

Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki

kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

[sunting] Macam dan warna beras

Berbagai macam beras dan ketan di Indonesia.

Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia. Beras "biasa" yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras. Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu. Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam. Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin. Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam. Beberapa jenis beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya 'Cianjur Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.

[sunting] Aspek pangan


Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin. Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras.

Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong. Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg). Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang. Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

[sunting] Aspek budaya dan bahasa


Beras merupakan bagian integral, dapat dikatakan menjadi penciri dari budaya Austronesia, khususnya Austronesia bagian barat. Istilah Austronesia lebih merupakan istilah yang mengacu pada aspek kebahasaan (linguistik). Pembedaan padi, gabah, merang, jerami, beras, nasi, atau ketan, merupakan salah satu ciri melekatnya "budaya padi" pada masyarakat pengguna keluarga bahasa Austronesia, dan dengan demikian juga bagian dari budaya Austronesia. Sejumlah relief pada candi-candi di Jawa juga memperlihatkan aspek "budaya padi" pada masyarakat setempat pada masa itu.

[sunting] Produksi padi (gabah kering giling) 10 negara terbesar tahun 2007 (dalam juta metrik ton)
Produksi padi per negara 2007 (million metric ton)[1] Indonesia India 324 144

Republik Rakyat Cina Bangladesh Vietnam Thailand Myanmar Filipina Brasil Jepang Sumber: fao.org

57

[sunting] Produksi beras indonesia 43 (dalam ribuan ton)


35 Produksi beras diprediksi sebagai 63,2% dari produksi [2]

Gabah Kering Giling (GKG):

32 Tahu 31 n 16 1983 25.932 11 10 1984 24.006 1993 31.318 2002 32.130 2003 32.950 2004
[5]

Produks Produks Produks Tahu Tahu Produksi Tahu i i i n n (kiloton) n (kiloton) (kiloton) (kiloton) 1992 31.356 2001 31.891 2009 40.656[3] 2010 2011 42.43**
[4]

1985 26.542+ 1994 30.317 1986 27.014+ 1995 32.334 1987 27.253+ 1996 33.216 1988 28.340 1989 29.072 1990 29.366 1991 29.047 1997 31.206 1998 31.118 1999 31.294 2000 32.130

33.490

2005 34.120 2006 34.600+[6


]

2007 36.970+ 2008 38.078+# 2008 40.34*

Swasembada beras Dengan asumsi produksi GKG 58.5 juta ton yang setara dengan 36,9 juta ton beras[7] # Perkiraan BPS Maret 2009 * surplus 3 juta ton dan asumsi bahwa 63.83 juta ton GKG setara dengan 40.34 juta ton beras[8] ** 67.15 juta ton GKG diasumsikan setara dengan 42.43 juta ton beras[9] Sumber:BPS dan The Rice Report, 2003

[sunting] Impor beras indonesia (dalam ribuan ton)


Tahun Produksi (kiloton)

1983 1.169

1984 403 1985 -371 (swasembada beras) 1986 -213 1987 1988 13 1989 325 1990 32 1991 179 1992 561 1993 -540 1994 643 1995 3.104 1996 1.090 1997 406 1998 6.077 1999 4.183 2000 1.512 2001 1.404 2002 3.703 2003 550 [5] 2004 0 (impor dilarang) 2005 0 (surplus 16 ribu ton)[6] 2006 150 2007 500 [7]

2008 0 [8] 2009 0 (perkiraan)

Sumber: BPS dan The Rice Report, 2003

[sunting] Galeri gambar

Beras tumbuk (belum disosoh)

Beras tumbuk (belum disosoh)

Beras sesudah (kiri) dan sebelum disosoh

Beras wangi melati dari Thailand

Beras padi liar (wild rice)

Nasi dari beras liar (wild rice)

[sunting]