Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah
Salah satu indikator pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan
hidup penduduk. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk
menyebabkan jumlah penduduk usia lanjut terus meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan usia lanjut
yang dimaksud dengan usia lanjut (usila) adalah penduduk yang telah mencapai
usia 60 tahun keatas. Hal ini sesuai dengan deIinisi WHO mengenai usila.
Sementara di negara maju, seperti USA, Prancis, Jepang, dan Belanda, mereka
yang berusia lebih dari 65 tahun dikategorikan sebagai usila. Dalam kurun tahun
1990-2025 diperkirakan ada peningkatan populasi usila sekitar 4,14 di dunia
(Anonim, 2009).
Pada tahun 2007 penduduk usila di Indonesia mengalami peningkatan
yang signiIikan, dimana pada tahun 2007 jumlah penduduk usila sebesar 18,96
juta jiwa sedangkan pada tahun 2009 menjadi 20.547.541 jiwa. Jumlah ini
termasuk terbesar keempat setelah Cina, India, India dan Jepang. Menurut badan
kesehatan WHO penduduk usila di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah
mencapai angka 11,34 atau tercatat 28,8 juta orang sedangkan balitanya tinggal
6,9 sehingga menyebabkan jumlah penduduk usila menjadi paling besar
(Anonim, 2009).
Menurut hasil Riset Kesehatan dasar 2010, Bali menduduki peringkat usia
harapan hidup tertinggi di Indonesia melampaui provinsi D.I Yogyakarta yang
sebelumnya memegang usia harapan hidup tertinggi. Di Bali, Kabupaten Tabanan
menduduki peringkat usia harapan hidup tertinggi yakni 74,38 tahun. Peringkat
tersebut disusul oleh kota Denpasar sebesar 72,96 tahun, Gianyar 72,06 tahun,
Badung 71,75 tahun dan Jembrana 71,73 tahun. Sementara usia harapan hidup
terendah berturut-turut ada di Karangasem yaitu 67,85 tahun, Buleleng 68,96
tahun dan Klungkung 69,05 tahun (Tokoh, 2011).
Di wilayah kerja Puskesmas Kerambitan II yang berada di Kabupaten
Tabanan pada tahun 2009-2010 juga didapatkan peningkatan jumlah usila sebesar



2,3 atau 421 jiwa. Populasi usila di wilayah kerja Puskesmas Kerambitan II
dapat dilihat dari tabel berikut (Laporan Tahunan Puskesmas Kerambitan II,
2010).
Tabel 1. Distribusi usila di wilayah kerja Puskesmas Kerambitan II Tahun 2010
Nama desa Range Usia Jumlah
45-54 thn 55-64 thn _ 65thn
Kukuh 378 218 272 868
Baturiti 425 292 345 1.062
Kerambitan 686 754 456 1.896
Penarukan 497 532 432 1.461
Kelating 364 247 420 1.031
Tista 251 198 165 614
Belumbang 326 255 319 900
Tibubiyu 255 196 223 674
Total 3.182
(16,37)
2.692
(13,85)
2.632
(13,54)
8.506

Seiring dengan peningkatan jumlah populasi usila maka akan
memunculkan berbagai masalah dimana usila mempunyai keterbatasan Iisik dan
kerentanan terhadap penyakit selain itu gerak dan mobilitas usia lanjut menjadi
lebih lambat dari pada kelompok umur yang lebih muda, begitu juga dengan
kekuatannya. Kelangsungan hidupnya akan menjadi tanggungan keluarga atau
pemerintah. Oleh karena itu pemerintah telah mengembangkan suatu program
yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup usila melalui pelayanan
kesehatan bagi usila dalam bentuk posyandu usila sesuai dengan Undang-Undang
No. 36 tahun 2009 pada pasal 138 tentang kesehatan lanjut usia dan penyandang
cacat (Akhmadi, 2009).
Posyandu usila adalah suatu Iorum komunikasi dalam bentuk peran serta
masyarakat usia lanjut, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial guna
meningkatkan tingkat kesehatan secara optimal dan dilakukan sebulan sekali.
Kegiatan posyandu lansia berupa kegiatan olah raga ringan, pemeriksaan
kesehatan oleh tenaga medis/paramedis, pemberian obat-obatan ringan secara



gratis termasuk vitamin, penyuluhan-penyuluhan kesehatan, makanan bergizi, dan
lain-lain (Depkes RI, 2005: 25). Namun dalam pelaksanaan posyandu usila
terdapat beberapa kendala yang menyebabkan pemanIaatannya tidak optimal
seperti pengetahuan usila yang kurang tentang posyandu usila, pengaruh
dukungan keluarga, sikap kader posyandu dan lain-lain (Ismawati, 2010:55).
Pendapat tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hesthi
Wahono tahun 2010 lalu mengenai Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
PemanIaatan Posyandu Usila di Gantungan Makamhaji yang menunjukkan bahwa
dukungan sosial, sikap usila dan peran kader memiliki hubungan dengan
pemanIaatan posyandu usila.
Posyandu Usila di wilayah kerja Puskesmas Kerambitan II pertama kali
didirikan pada tahun 2000, dimana dirintis dengan sebuah posyandu usila di tiap
desa. Sosialisasi mengenai posyandu telah dilakukan di tiap desa dan telah
dilaksanakan sesuai dengan program puskesmas. Adapun jumlah usila di Desa
Kukuh adalah 272 jiwa, di Desa Baturiti 345 jiwa, di Desa Kerambitan 456 jiwa,
di Desa Penarukan 432 jiwa, di Desa Kelating adalah 420 jiwa, di Desa Tista 165
jiwa, di Desa Belumbang 319 jiwa, di Desa Tibubiu 223 jiwa, sedangkan total
jumlah usila di wilayah kerja puskesmas ini yang berusia 65 tahun keatas
sebanyak 2.632 jiwa. Menurut laporan tahunan puskesmas Kerambitan II tahun
2010, Desa Kerambitan merupakan wilayah yang jumlah usilanya terbanyak
namun jumlah kunjungan ke posyandu usila paling sedikit diantara desa lainnya.
Adapun jenis kegiatan yang dilakukan di posyandu usila wilayah tersebut antara
lain: pemeriksaan kesehatan tiap bulan melalui puskesmas keliling dan senam
usila. Menurut keterangan dari kader dikatakan bahwa usila hanya akan datang
bila merasa sakit atau mengalami keluhan seputar kesehatannya, bila tidak terjadi
keluhan pada dirinya lansia jarang memeriksakan diri ke posyandu. Untuk
kelengkapan sarana dan prasarana posyandu sudah cukup baik, dimana terdapat
tensimeter, stetoskop, timbangan, dan meteran. Selain itu para kader di setiap
posyandu usila telah mendapat pelatihan. Menurut Wahono (2010) usila yang
tidak aktiI dalam memanIaatkan pelayanan kesehatan di posyandu usila, maka
kondisi kesehatan mereka tidak dapat terpantau dengan baik, sehingga apabila



mengalami suatu risiko penyakit akibat penurunan kondisi tubuh dan proses
penuaan dikhawatirkan dapat berakibat Iatal dan mengancam jiwa mereka.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang gambaran perilaku (sikap, pengetahuan, dan persepsi) usila
dalam mengikuti kegiatan posyandu usila di Desa Kerambitan, Kecamatan
Kerambitan. Mengingat sosialisasi dari pihak puskesmas telah dilaksanakan
namun angka kunjungan ke posyandu lansia masih rendah.

1.2#:2:san Masalah
Bagaimanakah gambaran tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku usila
terhadap pelaksanaan posyandu usila di wilayah kerja Puskesmas Kerambitan
II pada tahun 2011?

1.3%::an Penelitian
Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku usila
terhadap pelaksanaan posyandu usila di wilayah kerja Puskesmas Kerambitan
II pada tahun 2011.

1.4Manfaat Penelitian
1.4.1 Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan pertimbangan bagi pelaksana
program dalam upaya peningkatan dan perbaikan pelaksanaan program
usila di wilayah Puskesmas Kerambitan II, Kecamatan Kerambitan,
Kabupaten Tabanan.
1.4.2 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan, pengetahuan
dan dorongan bagi usila di wilayah Puskesmas Kerambitan II untuk
berpartisipasi secara aktiI dalam pelaksanaan program posyandu usila di
wilayah kerja puskesmas Kerambitan II.
1.4.3 Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai reIerensi bagi
penelitian yang lebih lanjut.



BAB 2
%N1AUAN PUS%AKA

2.1 %eori Pengetah:an, Sikap, dan Perilak:
2.1.1 Pengetah:an
Menurut Ki Hajar Dewantoro, pengetahuan adalah merupakan hasil tahu,
hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek
tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga. Pengetahuan dapat diperoleh dari beberapa Iaktor baik Iormal
seperti pendidikan yang didapat di sekolah maupun non Iormal (Notoatmojo,
2006).

Pengetahuan atau kognitiI merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang, oleh karena itu dari pengalaman dan penelitian
ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan langgeng daripada perilaku
yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan juga dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan seseorang. Semakin tinggi tingkatan pendidikan seseorang, maka
pengetahuan yang dimiliki juga semakin meningkat. Pengetahuan memiliki enam
tingkatan di dalam domain kognitiI, antara lain (Notoatmojo, 2006):

1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai sesuatu kemampuan dalam mengingat suatu materi yang
telah dipelajari sebelumnya. Hal yang termasuk dalam tingkatan pengetahuan ini
adalah mengingat kembali terhadap suatu hal spesiIik yang dipelajari dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. 'Tahu merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur pengetahuan ini
adalah: menguraikan, mengidentiIikasi, menyatakan dan lain-lain. Misalnya ibu
dapat menyebutkan pengertian imunisasi.
2. Memahami (omprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut
secara benar. Orang yang telah memahami objek tertentu harus mampu
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, terhadap objek



yang dipelajari. Misalnya ibu dapat menjelaskan usia pemberian imunisasi pada
anak.
3. Aplikasi (pplication)
Aplikasi adalah suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi-situasi dan kondisi yang sebenarnya. Mengaplikasikan
dapat diartikan dengan menggunakan hukum-hukum, rumus-rumus, metode, atau
prinsip dalarn konteks atau situasi yang lain. Misalnya ibu dapat mengaplikasikan
cara untuk merawat anak akibat reaksi dari pernberian imunisasi.
4. Analisis (nalysis)
Analisis. adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi
tersebut dan masih ada kaitannya satu saran lain. Kemampuan menganalisis ini
dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti: menggambarkan, membedakan,
memisahkan, mengelompokkan dan lain-lain.
5. Sintesis ($ynthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain
mensintesa adalah kernampuan untuk menyusun, merencanakan, meringkas,
menyesuaikan, terhadap suatu rumusan yang telah ada.
6. valuasi (;aluation)
Mengevaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
suatu objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang dilakukan
sendiri atau kriteria-kriteria yang sudah ada.

2.1.2 Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
stimulus atau objek. Newcomb, salah seorang ahli psikologis, menyatakan bahwa
sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan
merupakan pelaksanaan motiI tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan
atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap
itu merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku
yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di



lingkungan tertentu sebagai penghayatan terhadap objek.

Sikap terdiri dari
beberapa komponen, antara lain (Neila, Notoatmojo, 2006):

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to beha;e).
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total
attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan,
dan emosi memegang peranan penting. Suatu contoh misalnya, seorang ibu telah
mendengar tentang penyakit polio (penyebabnya, akibatnya, pencegahannya, dan
sebagainya). Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berpikir dan berusaha
supaya anaknya tidak terkena polio. Dalam berpikir ini, komponen emosi dan
keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat mengimunisasikan anaknya
untuk mencegah supaya anaknya tidak terkena polio. Ibu ini mempunyai sikap
tertentu terhadap objek yang berupa penyakit polio (Neila, Notoatmojo, 2003).

Selain itu, seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari
berbagai tingkatan. Tingkatan dalam sikap meliputi 6 Iase, antara lain (Neila,
Notoatmojo, 2006):

1. Menerima (#ecei;ing)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang
diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan
dan perhatiaan orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang gizi.
2. Merespon (#esponding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas
yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Hal ini karena dengan suatu usaha
untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari
pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai ('aluing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah
adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya, seorang ibu yang mengajak ibu
yang lain (tetangganya, saudaranya, dan sebagainya) untuk pergi menimbangkan
anaknya ke posyandu, atau mendiskuksikan tentang gizi, adalah suatu bukti
bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positiI terhadap gizi anak.



4. Bertanggungjawab (#esponsible)
Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko
merupakan sikap yang paling tinggi. Misalnya, seorang ibu mau menjadi akseptor
KB, meskipun mendapat tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara
langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden
terhadap suatu objek.

2.1.3 Perilak:
Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas makhluk hidup
yang bersangkutan. Pada hakekatnya perilaku manusia adalah tindakan atau
aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai rantangan yang sangat luas
antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, kuliah, bekerja, menulis, dan
sebagainya. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati
langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Skinner (1938)
seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Berdasarkan batasan perilaku
Skinner tersebut, maka perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap
stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, pelayanan
kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan (Neila, Notoatmojo, 2006).

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian
mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang akan diketahui, proses
selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang
diketahui atau disikapinya (dinilai baik). Inilah yang disebut praktek (practice)
kesehatan, atau dapat juga dikatakan perilaku kesehatan (o;ert beha;iour). Oleh
sebab itu, praktek kesehatan ini juga mencakup hal-hal tersebut diatas, yakni
(Neila, Notoatmojo, 2006):

a. Tindakan (praktek) sehubungan dengan penyakit
Tindakan atau perilaku ini mencakup pencegahan penyakit, yang meliputi
mengimunisasikan anaknya, melakukan pengurasan bak mandi seminggu sekali,
menggunakan masker pada waktu bekerja ditempat berdebu, dan sebagainya, dan



penyembuhan penyakit, misalnya: minum obat sesuai dengan petunjuk dokter,
melakukan anjuran-anjuran dokter, berobat ke Iasilitas pelayanan kesehatan yang
tepat, dan sebagainya.
b. Tindakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Tindakan atau perilaku ini mencakup antara lain: mengkonsumsi makanan dengan
gizi seimbang, melakukan olehraga secara teratur, tidak merokok, tidak minum
minuman keras dan narkoba, dan lain sebagainya.
c. Tindakan (praktek) kesehatan lingkungan
Perilaku ini antara lain mencakup: membuang air besar di jamban (WC),
membuang sampah pada tempatnya, menggunakan air bersih untuk mandi, cuci,
masak dan sebagainya.
Secara teori memang perubahan perilaku atau mengadopsi perilaku baru
itu mengikuti tahap-tahap yang telah disebutkan diatas, yakni melalui proses
perubahan: pengetahuan (nowledge) sikap (attitude) - praktek (practice) atau
'KAP (PSP). Beberapa penelitian telah membuktikan hal itu, namun penelitian
lainnya juga membuktikan bahwa proses tersebut tidak selalu seperti teori diatas
(KAP), bahkan didalam praktek sehari-hari terjadi sebaliknya. Artinya seseorang
telah berperilaku positiI, meskipun pengetahuan dan sikapnya masih rendah
(Neila, Notoatmojo, 2006).

Pengetahuan dan sikap amat berpengaruh terhadap perilaku. Sebelum
terwujud dalam suatu perilaku, Iaktor keyakinan, norma sosial dan pandangan
subjektiI amat menentukan sikap seseorang (Neila, Notoatmojo, 2006).

%eori Lawrence Green
Teori perubahan perilaku PSP berkaitan dengan teori Lawrence Green. Lawrence
Green menyatakan bahwa kesehatan individu/masyarakat dipengaruhi oleh dua
Iaktor pokok, yaitu Iaktor perilaku dan Iaktor non-perilaku. Faktor perilaku
ditentukan oleh tiga kelompok : Iaktor predisposisi, pendukung, dan pendorong.
Faktor predisposisi (predisposing factors) mencakup kebiasaan, kepercayaan,
tradisi pengetahuan, sikap dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu
dan masyarakat. Faktor pendukung (nabling factors) adalah tersedianya sarana



pelayanan kesehatan dan kemudahan untuk mencapainya, sedangkan Iaktor
pendorong (#einforcing factors) adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan.

Model teori Green ini dapat digambarkan dalam skema berikut ini (Anonim,
2011):


Faktor predisposisi (predisposing factor) misalnya kebiasaan, sikap,
pengetahuan, mitos dan nilai-nilai masyarakat yang mempengaruhi perilaku hidup
bersih dan sehat. Faktor pendorong (#einforcing factors) misalnya peranan para
kepala keluarga, tokoh masyarakat setempat, dokter, perawat, bidan, tenaga
kesehatan dan pemegang program dalam memberikan pendidikan kesehatan.
Peranan tokoh masyarakat dan pemerintah setempat juga sangat penting dalam
pendidikan pola hidup bersih dan sehat. Faktor pendukung (nabling factors)
misalnya tempat yang memadai beserta Iasilitas-Iasilitas lain yang memudahkan
berbagai macam pelayanan kesehatan demi tercapainya perilaku hidup bersih dan
sehat (Notoatmojo, 2007).






2.2 Usia Lan:t
Usia lanjut merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam
mendeIinisikan batasan penduduk usia lanjut menurut Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek
biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (Darmojo, R. 1999).
1. Secara biologis penduduk usila adalah penduduk yang mengalami proses
penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan
Iisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat
menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam
struktur dan Iungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
2. Secara ekonomi, penduduk usila lebih dipandang sebagai beban dari pada
sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua
tidak lagi memberikan banyak manIaat, bahkan ada yang sampai beranggapan
bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatiI sebagai
beban keluarga dan masyarakat
3. Dari aspek sosial, penduduk usila merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di
negara Barat, penduduk usila menduduki strata sosial di bawah kaum muda.
Hal ini dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi,
pengaruh terhadap pengambilan keputuan serta luasnya hubungan sosial yang
semakin menurun. Akan tetapi di Indonesia penduduk usila menduduki kelas
sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda. Menurut Bernice
Neugarten (1968) dan James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa
dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya.
Disamping itu untuk mendeIinisikan usila dapat ditinjau dari pendekatan
kronologis. Menurut Supardjo (1982) usia kronologis merupakan usia seseorang
ditinjau dari hitungan umur dalam angka. Dari berbagai aspek pengelompokan
usila yang paling mudah digunakan adalah usia kronologis, karena batasan usia ini
mudah untuk diimplementasikan, karena inIormasi tentang usia hampir selalu
tersedia pada berbagai sumber data kependudukan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2000) menggolongkan usila menjadi
4 yaitu :
1. Usia pertengahan middle age) 45 -59 tahun.



2. Lanjut usia elderly) 60 -74 tahun,
3. Lanjut usia tua old) 75 90 tahun dan
4. Usia sangat tua ;ery old) diatas 90 tahun.

2.3 Keb:t:han Hid:p Usila
Setiap orang memiliki kebutuhan hidup, usila juga memiliki kebutuhan hidup
yang sama agar dapat hidup sejahtera. Kebutuhan hidup orang usila antara lain
kebutuhan akan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin,
perumahan yang sehat dan kondisi rumah yang tentram dan aman, kebutuhan-
kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan semua orang dalam segala usia,
sehingga mereka mempunyai banyak teman yang dapat diajak berkomunikasi,
membagi pengalaman, memberikan pengarahan untuk kehidupan yang baik.
Kebutuhan tersebut diperlukan oleh usila agar dapat mandiri (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 1999).
Kebutuhan tersebut sejalan dengan pendapat Maslow dalam Koswara
(1991) yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia meliputi:
1. Kebutuhan Iisik physiological needs) adalah kebutuhan Iisik atau biologis
seperti pangan, sandang, papan, seks dan sebagainya.
2. Kebutuhan ketentraman safety needs) adalah kebutuhan akan rasa keamanan
dan ketentraman, baik lahiriah maupun batiniah seperti kebutuhan akan
jaminan hari tua, kebebasan, kemandirian dan sebagainya.
3. Kebutuhan sosial social needs) adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau
berkomunikasi dengan manusia lain melalui paguyuban, organisasi proIesi,
kesenian, olah raga, kesamaan hobby dan sebagainya.
4. Kebutuhan harga diri esteem needs) adalah kebutuhan akan harga diri untuk
diakui akan keberadaannya, dan
5. Kebutuhan aktualisasi diri self actuali:ation needs) adalah kebutuhan untuk
mengungkapkan kemampuan Iisik, rohani maupun daya pikir berdasar
pengalamannya masing-masing, bersemangat untuk hidup, dan berperan
dalam kehidupan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1999).





2.4 P:skes2as
2.4.1 DeIinisi
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota
yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja. Puskesmas didukung secara lintas sektor dan didirikan
sekurang-kurangnya satu di setiap kecamatan. Sebagai Unit Pelaksana Teknis
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (UPTD), Puskesmas berperan
menyelenggarakan sebagian teknis dari tugas teknis operasional Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama
serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia (Weta, Mahadewi,
Kartikasari, 2006). Puskesmas, dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia
menempati posisi sebagai pelayanan kesehatan primer, disusul rumah sakit
sebagai pelayanan kesehatan sekunder dan tersier. Sebuah puskesmas idealnya
melayani 30.000-40.000 orang (Azwar, 2004).
2.4.2 Tujuan
Pemerintah mengembangkan Puskesmas dengan tujuan untuk mendekatkan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang sebagian besar masih tinggal di
pedesaan. Puskesmas dibangun untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan
dasar, menyeluruh dan terpadu bagi seluruh masyarakat yang tinggal di
wilayah kerjanya (Muninjaya,2004).

2.5 Posyand: Lansia
2.5.1 DeIinisi Posyandu Lansia
Posyandu Lansia adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan
terhadap lansia di tingkat desa/kelurahan dalam masing-masing di wilayah kerja
puskesmas. Keterpaduan dalam posyandu lansia berupa keterpaduan pada
pelayanan yang dilatarbelakangi oleh kriteria lansia yang memiliki berbagai
macam penyakit. Dasar pembentukan posyandu adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat terutama lansia. Posyandu akan terbentuk bila jumlah
lansia dalam suatu pos lebih dari 20 lansia dan terdapat kesadaran dari daerah itu
sendiri untuk pembentukan suatu posyandu (Dinkes R.I, 2005).




2.5.2 Sasaran Posyandu Lansia
Menurut Depkes (2005) posyandu lansia memiliki beberapa sasaran antara
lain sasaran lansung dan tidak langsung. Berikut ini adalah penjelasan mengenai
sasaran posyandu lansia.
1. Sasaran Langsung
Sasaran langsung posyandu lansia adalah kelompok pra usia lanjut (45-59
tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun keatas), dan kelompok usia lanjut
dengan risiko tinggi (70 tahun ke atas).
2. Sasaran Tidak Langsung
Sasaran tidak langsung posyandu lansia adalah keluarga dimana usia lanjut
berada, organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut,
masyarakat luas.
2.5.3 Tujuan Posyandu Lansia
Menurut Sulistyorini (2010) posyandu lansia memiliki tujuan umum dan
tujuan khusus. Berikut ini adalah penjelasan mengenai tujuan umum dan tujuan
khusus dari posyandu lansia.
1. Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan mutu pelayanan kesehatan usia
lanjut di masyarakat untuk mencapai masa tua yang bahagia dan
berdaya guna bagi keluarga.
Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan
swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan
komunikasi antara masyarakat usia lanjut.
2. Tujuan Khusus
Meningkatkan kesadaran bagi lansia
Membina kesehatan dirinya sendiri
Meningkatkan mutu kesehatan lansia
Meningkatkan pelayanan kesehatan lansia
2.5.4 Mekanisme Pelayanan Posyandu
Pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada
mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten
maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia



system 5 (lima) meja seperti posyandu balita, ada juga yang menggunakan system
7 (tujuh) meja, ada juga yang hanya menggunakan sistem 3 (tiga) meja.
1. Sistem 7 (tujuh) meja
Dalam sistem tujuh meja terdapat tujuh meja yang harus dipersiapkan.
a. Meja 1 : merupakan meja untuk pendaItaran
b. Meja 2 : merupakan meja untuk pemeriksaan kesehatan
c. Meja 3 : merupakan meja untuk pengukuran tekanan darah, tinggi
badan dan berat badan, serta dicatat di KMS
d. Meja 4 : merupakan meja untuk penyuluhan
e. Meja 5 : merupakan meja untuk pengobatan
I. Meja 6 : merupakan meja untuk pemeriksaan gigi
g. Meja 7 : merupakan meja untuk pemberian makanan tambahan
(Sulistyorini, 2010:50)

2. Menurut Depkes (Sistem 5 (lima) meja
a. Meja 1 : merupakan meja pendaItaran
b. Meja 2 : merupakan meja untuk pengukuran dan penimbangan
berat badan
c. Meja 3 : merupakan meja untuk pencatatan tentang pengukuran
tinggi badan dan berat badan, indeks massa tubuh (IMT), dan mengisi
KMS
d. Meja 4 : penyuluhan, konseling dan pelayan pojok gizi, serta
pemberian makanan tambahan
e. Meja 5 : merupakan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan,
mengisi data- data hasil pemeriksaan kesehatan pada KMS. Dan
diharapkan setiap kunjungan para lansia dianjurkan untuk selalu
membawa KMS lansia guna memantau status kesehatannya.

3. Sistem 3 (tiga) meja
a. Meja 1: merupakan meja untuk pendaItaran lansia, pengukuran dan
penimbangan berat badan dan atau tinggi badan.



b. Meja 2: merupakan meja untuk melakukan pencatatan berat badan,
tinggi badan, indek massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti
pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja 2 ini.
c. Meja 3: merupakan meja untuk melakukan kegiatan penyuluhan atau
konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi (Depkes
(2006) dalam Wahono (2010).
2.5.5 Bentuk Pelayanan Posyandu Lansia
Pelaksanaan kesehatan di posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan
kesehatan Iisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu
Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui leih awal penyakit yang diderita (deteksi
dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.
Menurut Sulistyorini (2010) jenis pelayanan kesehatan yang dapat
diberikan kepada lanjut usia di Posyandu Lansia antara lain:
1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar
dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi,
berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan
sebagainya.
2. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan
mental emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua)
menit.
3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan
pengukuran tinggi badan dicatat pada graIik indeks massa tubuh
(IMT).
4. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop
serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.
5. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau
cuprisulIat.
6. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya
penyakit gula (diabetes mellitus)
7. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai
deteksi awal adanya penyakit ginjal.



8. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau
ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir pertama dan ketujuh.
9. Penyuluhan kesehatan.
10.Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dapat dilakukan sesuai
kebutuhan dan kondisi setempat dengan memperhatikan aspek
kesehatan dan gizi lanjut usia.
11.Kegiatan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk
meningkatkan kebugaran.
12.Program Kunjungan Lansia ini minimal dapat dilakukan 1 (satu)
bulan sekali atau sesuai dengan program pelayanan kesehatan
puskesmas setempat.
2.5.6 Peran Serta Lansia
Para lansia diharapkan dapat bersama-sama mewujudkan kesehatan
melalui beberapa kegiatan, antara lain berperan aktiI dalam kegiatan penyuluhan,
olahraga secara teratur sesuai kemampuan, menjalani pemeriksaan kesehatan
secara berkala, menjalani pengobatan, dan meningkatkan upaya kemandirian dan
pemenuhan kebutuhan pribadi (Sulistyorini, 2010:48).
2.5.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keikutsertaan Lansia dalam Mengikuti
Program Posyandu Lansia
Beberapa Iaktor yang mempengaruhi keikutsertaan lansia dalam mengikuti
kegiatan posyandu lansia ini, antara lain sebagai berikut:
1. Pengetahuan Lansia Yang Rendah Tentang ManIaat Posyandu
Pengetahuan lansia akan manIaat posyandu lansia ini dapat diperoleh dari
pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan
posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup
sehat dengan keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka.
Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi
dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk
selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia.
2. Jarak Rumah Dengan Lokasi Posyandu Yang Jauh Atau Sulit Dijangkau
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau
posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan Iisik tubuh.



Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan Iactor
keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa
mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan
atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi
lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini
merupakan Iactor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri
posyandu lansia.
3. Kurangnya Dukungan Keluarga Untuk Mengantar Maupun Mengingatkan
Lansia Untuk Datang Ke Posyandu.
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau
kesediaan lansia untuk mengkuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi
motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi
atau mengantar lansia ke posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala
permasalahan bersama lansia.
4. Sikap Yang Kurang Baik Terhadap Petugas Posyandu
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar
atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan
sikap yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti
kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap
seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek.
Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara
tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya
suatu respon.
5. Sarana Dan Prasarana Penunjang Pelaksanaan Posyandu Lansia.
Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia,
dibutuhkan sarana dan prasarana penunjang, yaitu: tempat kegiatan (gedung,
ruangan atau tempat terbuka), meja dan kursi, alat tulis, buku pencatatan kegiatan,
timbangan dewasa, meteran pengukuran tinggi badan, stetoskop, tensimeter,
peralatan laboratorium sederhana, thermometer, dan Kartu Menuju Sehat (KMS)
lansia.





2.5.8 Kartu Menuju Sehat Lansia
Kartu Menuju Sehat Lansia adalah sebuah kartu catatan tentang
perkembangan status kesehatan yang dipantau setiap kunjungan ke Posyandu
Lansia atau berkunjung ke Puskesmas yang meliputi pemantauan kesehatan Iisik
dan emosional serta deteksi dini atas penyakit atau ancaman kesehatan yang
dihadapi lansia.
Pemeriksaan yang dicatat pada KMS Lansia adalah sebagai berikut:
1. GraIik Index Massa Tubuh (IMT) tentang berat badan dan tinggi
badan (pemeriksaan status gizi).
2. Pemeriksaan aktivitas sehari-hari (kegiatan dasar seperti mandi,
makan/minum, tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya).
3. Pemeriksaan status mental dan emosional yang dilakukan oleh dokter.
4. Pengukuran tekanan darah.
5. Pemeriksaan hemoglobin.
6. Reduksi urine untuk kadar gula pada air seni sebagai deteksi penyakit
kencing manis (Diabetes Mellitus).
7. Pemeriksaan protein urine guna deteksi penyakit ginjal
8. Catatan keluhan dan tindakan. Bila ada permasalahan kesehatan yang
perlu pengobatan saat itu atau perlu untuk rujukan ke Puskesmas.
9. Selain pencatatan tersebut terdapat anjuran untuk hidup sehat yang
digunakan untuk penyuluhan yang disampaikan setiap selesai
pemeriksaan kesehatan ( Wijaya Kusuma, 2010).



BAB
KE#ANGKA KONSEP

3.1Kerangka Konsep
Kerangka konsep dari penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini :



























1. Faktor
Predisposisi
a. Pengetahuan
b. Sikap
c. Umur
d. Pendidikan
e. konomi
3. Faktor Pendorong
a. Peranan
Keluarga
b. Peranan
Petugas
Kesehatan

2. Faktor Pendukung
a. Fasilitas
b. Pendidikan/inI
ormasi
kesehatan
Keikutsertaan usila
dalam mengikuti
kegiatan Posyandu
Lansia




BAB 4
ME%ODOLOG PENEL%AN

4.1 %e2pat dan Wakt: Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Kerambitan, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten
Tabanan, pada bulan Juli-Agustus 2011.

4.2 #ancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan studi deskriptiI cross-sectional untuk
mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat di Desa
Kerambitan, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan

4.3 Pop:lasi Penelitian
Populasi penelitian adalah seluruh usila yang tinggal di Desa Kerambitan,
Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan yang berjumlah 456 orang.

4.4 Penent:an Sa2pel
4.4.1 Besar Sampel:
Besar sampel ditentukan menggunakan rumus berikut :



96,04
Keterangan:
n besar sampel
Zu nilai Z untuk u 95 yaitu 1.96
p estimasi populasi dipakai 50, karena belum ada penelitian
sebelumnya
q 1-p
d ketepatan absolut yang dipakai 10
2
2
) (
d
pq Z
n
-

2
2
) 10 (
) 5 , 0 1 )( 5 , 0 ( ) 96 , 1 (
n



Karena besar populasi kurang dari 10.000 dilakukan penyesuaian dengan rumus :
n` n 96,04 50,2
1 n/N 1 96,04/105

Jadi, sampel yang dipakai sejumlah 50

4.4.2 Cara Pengambilan Sampel:
Sampel penelitian adalah usila yang tinggal di Desa Kerambitan, Kecamatan
Kerambitan, Kabupaten Tabanan yang dipilih secara stratified sampling dimana
Desa Kerambitan dibagi dalam dusun-dusun, dari masing-masing dusun diambil
sejumlah usila secara acak.

4.5Variabel Penelitian
1. Pengetahuan usila dalam mengikuti kegiatan posyandu lansia
2. Sikap usila dalam mengikuti kegiatan posyandu lansia
3. Prilaku usila dalam mengikuti kegiatan posyandu lansia

4.6 Definisi Operasional Variabel
1. Jenis Kelamin : laki-laki atau perempuan
2. Pengetahuan usila : lansia mengetahui pengertian posyandu, tujuan
posyandu, sasaran posyandu, bentuk pelayanan posyandu, peran serta
lansia dalam kegiatan posyandu, dan KMS lansia.
3. Sikap usila : setuju atau tidak setuju untuk mengikuti kegiatan di posyandu
lansia
4. Prilaku usila : segala macam tindakan/perbuatan usila yang terkait dengan
keikutsertaan dalam mengikuti posyandu lansia.
5. Keikutsertaan usila dalam mengikuti kegiatan posyandu lansia : status
kehadiran usila pada saat diadakan posyandu lansia.

4.7 Alat Peng:2p:l Data
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa daItar
pertanyaan (kuesioner).



4.8 Cara Peng:2p:lan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara usila yang terpilih sebagai
sampel dengan menggunakan kuesioner. Wawancara dilakukan di rumah dan bila
pada saat kunjungan tidak ada, maka akan dilakukan kunjungan ulang sebanyak-
banyaknya dua kali. Bila setelah dua kali kunjungan responden tidak ada, maka
tidak dilakukan substitusi.

4.9 Analisis Data
Analisis data yang dilakukan adalah analisis data secara deskriptiI. Data yang
diperoleh diolah dengan bantuan komputer menggunakan perangkat lunak SPSS
for Windows 17.

4.10 1adwal Penelitian
Kegiatan penelitian meliputi :
a. Persiapan : pembuatan proposal penelitian, pemilihan alat pengumpul
data, listing penduduk usia dewasa dan pemilihan sampel.
b. Pengumpulan data
c. Pengolahan data : editing, coding, data entry, data cleaning dan analisis
data
d. Penulisan laporan
e. Presentasi laporan penelitian

No Kegiatan Wakt: (Mingg:
1 2 3 4 5
1 Persiapan/Pembuatan
Proposal

2 Perbaikan Proposal
3 Pelaksanaan
Penelitian

4 Analisis Data
5 Presentasi
Tabel. Jadwal Kegiatan Penelitian



4.11 Biaya Penelitian
Biaya penelitian terdiri dari :
1. Persiapan Rp 50.000,00
2. Pengumpulan Data Rp 50.000,00
3. Alat Rp 50.000,00
4. Pengolahan, analisa data Rp 50.000,00
5. Fotokopi dan penjilidan Rp 200.000,00
6. Transportasi Rp 300.000,00
Jumlah Rp 700.000,00