Anda di halaman 1dari 16

PERKEMBANGAN METODOLOGI TAFSIR AL-QUR`AN

Oleh Khambali
(20010011005)


ABSTRAK
Al-Quran secara tekstual memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teksnya selalu
berubah, sesuai dengan konteks ruang dan waktu manusia. Oleh Karena itu, al-Quran
selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan (ditafsirkan)
dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan untuk menguak isi sefatinya. Dalam
pembahasan perkembangan Metodologi 1afsir Al-Qur'an, meliputi; Pengertian
Metode tafsir Al-Qur'an; Sejarah Perkembangan Metode 1afsir; dan Perkembangan
Macam-macam Metode, yang secara garis besar mengenalkan empat macam (metode),
yaitu: ijmali (global), tahlili (analitik), muqarin (perbandingan) dan maudhu'I
(tematik); dan dilihat dari kelebihan, kelemahan dan urgensinya. Walaupun
selanfutnya terdapat metode yang mengambil dari pendekatan filsafat dan kebahasaan
yang digunakan oleh kaum liberal yang pernah dipakai untuk tradisi penafsiran bible,
yaitu Metode 1afsir Hermeneutika dan Metode 1afsir Semiotika yang ditentang oleh
sebagian ulama Indonesia.

KATA KUNCI: etodologi, taIsir dan Al-Qur`an.

PENDAHULUAN
Al-Quran adalah sumber ajaran Islam. Kitab yang menempati posisi
sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman,
tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat
Islam sepanjang empat belas abad sejarah pergerakan umat ini.
1

Selama empat belas abad, khazanah intelektual Islam telah diperkaya
dengan berbagai macam perspektiI dan pendekatan dalam menaIsirkan al-Quran.
Walaupun demikian terdapat kecenderungan yang umum untuk memahami al-
Quran secara ayat per-ayat bahkan kata perkata. Selain itu, pemahaman akan al-
Quran terutama didasarkan pada pendekatan Iilologis gramatikal. Pendekatan ayat
per-ayat atau kata per-kata tentunya menghasilkan pemahaman yang parsial
(sepotong) tentang pesan al-Quran. Bahkan, sering terjadi penaIsiran tersebut,
secara tidak semena-mena menggagalkan ayat dari konteks dan dari aspek
kesejarahannya untuk membela sudut pandang tertentu. Dalam kasus-kasus
tertentu, seperti dalam penaIsiran teologis, IilosoIis, dan suIistis, gagasan-gagasan
asing sering dipaksakan ke dalam al-Quran tanpa memerhatikan konteks
kesejarahan dan kesusasteraan kitab suci al-Quran.
2

Itulah sebabnya upaya meraih kebenaran teks dan konteks sebuah ayat,
membutuhkan ilmu alat. Dengan ilmu alat, akan dapat lebih mudah
mengaplikasikan makna-makna al-Quran dalam kehidupan sosial. Apalagi

1
ProI. Dr. Hasan HanaIi, l-Yamin wa l Yasar Fi l-Fikr l-Diniy, adbuliy, esir, 1989, h.
77. Dalam http://media.isnet.org/islam/Quraish/embumi/etoda.html

Ahmad Ash-Shauwiy, Mukfi:at l-Quran dan Sunnah Tentang IPTEK, (Jakarta: Gema Insani
Preass, 1995), h. 24.
mengenai ayat-ayat al-Quran yang berkategori mutasyabih, tentu menjadi rumit
dan pelik. Dengan demikian, penulis sangat tertarik untuk membahas tentang
metode taIsir al-Quran dengan berbagai pembahasan antara lain pengertian,
sejarah dan perkembangan metode taIsir, serta macam-macam metode taIsir yang
akan dibahas lebih luas dalam makalah ini.

PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Tafsir Al-Qur`an
Kata ~metode berasal dari bahasa Yunani ~methodos yang berarti
cara atau jalan. Di dalam bahasa Inggris kata ini ditulis ~method dan
bangsa Arab menerjemahkannya dengan ~tharqah dan ~manhaj. Di dalam
pemakaian bahasa Indonesia kata tersebut mengandung arti, ~cara yang teratur
dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan
dan sebagainya); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
3

Sedangkan tafsir secara bahasa mengikuti wazan 'tafil, berasal dari
akar kata al-fasr (f, s, r) yang berarti menjelaskan, menyingkap dan
menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata kerjanya
mengikuti wazan 'dharaba-yadhribu-dharban' dan 'nashara-yanshuru-
nashran. Dikatakan 'fasara yafsiru dan yafsuru fasran`, dan 'fasarahu,
artinya 'abanahu (menjelaskannya). Kata at-tafsir dan al-fasr mempunyai arti
menjelaskan dan menyingkap yang tertutup. Dalam Lisanul rab dinyatakan,
bahwa kata 'al-fasr berarti menyingkap yang tertutup, sedang kata 'at-tafsir
berarti menyingkapkan maksud sesuatu laIazh yang musykil dan
pelik.
4
Sedangkan para Ulama berpendapat, bahwa taIsir adalah penjelasan
tentang arti atau maksud Iirman-Iirman Allah sesuai dengan kemampuan manusia
(mufassir).
5

TaIsir menurut istilah, sebagaimana yang dideIinisikan Abu Hayyan ialah,
'Ilmu yang membahas tentang cara pengucapan laIazh-laIazh al-Quran, tentang
petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun
ketika tersusun dan makna-makna yang dimungkinkan baginya ketika tersusun
serta hal-hal lain yang melengkapinya.
Jadi, yang dimaksud metode tafsir al-Quran adalah suatu cara yang
teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar
tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat-ayat al-Quran atau
lafazh-lafazh yang musykil yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad
s.a.w.

B. Sejarah Perkembangan Metode Tafsir
Sejak Rasulullah s.a.w. dikenal dua cara penaIsiran al-Quran. Pertama,
penafsiran berdasarkan petunjuk wahyu. edua, penafsiran berdasarkan

3
. Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran l-Quran Kafian Kritis Terhadap yat-yat Yang
Beredaksi Mirip, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 54.
4
anna` Khalil al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu Quran, h.455-456.
3
. Quraish Shihab, Membumikan l-Quran Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan
Masyarakat, (Bandung: izan, 1999), h. 75.
ijtihad atau ra'yi. Di masa sahabat, sumber untuk memahami ayat-ayat Al-Quran
di samping ayat Al-Quran sendiri, juga riwayat dari Nabi s.a.w. dan ijtihad
mereka. Pada abad-abad selanjutnya, usaha untuk menaIsirkan al-Quran
berdasarkan rayi atau nalar mulai berkembang sejalan dengan kemajuan taraI
hidup manusia yang di dalamnya sarat dengan persoalan-persoalan yang tidak
selalu tersedia jawabannya secara eksplisit dalam al-Quran.
6

Pada zaman Nabi s.a.w. dan para sahabat, pada umumnya mereka
adalah ahli bahasa Arab dan mengetahui secara baik latar belakang turun ayat
(asbab an-nu:ul), serta mengalami secara langsung situasi dan kondisi umat
ketika ayat-ayat al-Quran turun. Dengan demikian, mereka relatiI lebih mampu
untuk memahami ayat-ayat al-Quran secara benar, tepat, dan akurat. Berdasarkan
kenyataan sejarah yang demikian, maka untuk memahami suatu ayat, mereka
tidak begitu membutuhkan uraian yang rinci, tetapi cukup dengan isyarat
dan penjelasan global (ijmliy). Itulah yang membuat lahir dan
berkembangnya tafsir dengan metode ijmliy (global) dalam penafsiran al-
Quran pada abad-abad pertama.
Pada periode berikutnya, umat Islam semakin majemuk dengan
berbondong-bondong bangsa non-Arab masuk Islam, terutama setelah
tersebarnya Islam ke daerah-daerah yang jauh di luar tanah Arab. Kondisi
ini membawa konsekuensi logis terhadap perkembangan pemikiran Islam;
berbagai peradaban dan kebudayaan non-Islam masuk ke dalam khazanah
intelektual Islam. Akibatnya, kehidupan umat Islam menjadi terpengaruh olehnya.
Untuk menghadapi kondisi yang demikian para pakar taIsir ikut
mengantisipasinya dengan menyajikan penaIsiran-penaIsiran ayat-ayat al-Quran
yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan kehidupan umat yang
semakin beragam.
Kondisi seperti yang digambarkan itulah yang merupakan salah satu
pendorong lahirnya tafsir dengan metode analitis (tahlliy), sebagaimana
tertuang di dalam kitab-kitab tafsir tahlliy, seperti Tafsir ath-Thabari dan
lain-lain. Metode penafsiran tahliliy terasa lebih cocok pada saat itu, karena
dapat memberikan pengertian dan penjelasan yang rinci terhadap
pemahaman ayat-ayat al-Quran. Dengan demikian, umat terasa terayomi
oleh penjelasan-penjelasan dan berbagai interpretasi yang diberikan
terhadap ayat-ayat al-Quran di dalam kitab tersebut.
Kemudian metode penaIsiran serupa itu diikuti oleh ulama taIsir yang
datang kemudian, bahkan berkembang dengan sangat pesat dalam dua bentuk
penafsiran yaitu: al-ma'tsr dan ar-ra'yi dengan berbagai corak yang
dihasilkannya, seperti tafsir fiqhiy, shfiy (tasawuf), falsafiy, :ilmiy, adabiy-
ijtim'iy dan lain-lain.
Dengan dikarangnya kitab-kitab taIsir dalam dua bentuk penaIsiran
tersebut dengan berbagai coraknya, umat ingin mendapatkan inIormasi lebih jauh
berkenaan dengan kondisi dan kecenderungan serta keahlian para pakar taIsir.
Umat juga ingin mengetahui pemahaman ayat-ayat al-Quran yang kelihatannya

6
Rohimin, Metodologi Ilmu Tafsir Dan plikasi Model Penafsiran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2007), h. 66.
mirip, padahal ia membawa pengertian yang berbeda. Demikian ditemukannya
hadis-hadis yang secara lahiriyah ada yang tampak bertentangan dengan ayat-ayat
al-Quran, padahal secara teoritis hal itu tidak mungkin terjadi karena keduanya
pada hakikatnya berasal dari sumber yang sama, yakni Allah.
Kenyataan sebagaimana yang digambarkan tersebut, mendorong
para ulama untuk melakukan perbandingan penafsiran ayat-ayat al-Quran
yang pernah diberikan oleh para ulama sebelumnya dalam memahami ayat-
ayat al-Quran ataupun hadis-nadis Nabi s.a.w.. Dengan demikian lahirlah
tafsir dengan metode perbandingan (muqrin) seperti yang diterapkan oleh
al-Iskafi di dalam kitabnya Durrat al-1anzl wa Churrat al-1a'wl, dan oleh
al-Karmani di dalam kitabnya Al-Burhn fi 1aujh Mutasybih al-Quran, dan
lain-lain.
Permasalahan di abad modern berbeda jauh dari apa yang dialami
oleh generasi terdahulu. Perbedaan tersebut terasa sekali di tengah
masyarakat, seperti mobilitas yang tinggi, perubahan situasi yang sangat
cepat, dan lain-lain. Realitas kehidupan yang demikian membuat masyarakat,
baik secara individual maupun berkeluarga, bahkan berbangsa dan bernegara,
menjadi terasa seakan-akan tidak punya waktu luang untuk membaca kitab-kitab
taIsir yang besar-besar sebagaimana telah disebutkan tadi. Padahal untuk
mendapatkan petunjuk al-Quran umat dituntut membaca kitab-kitab taIsir
tersebut.
Untuk menanggulangi permasalahan itu, ulama tafsir pada abad
modern menawarkan tafsir al-Quran dengan metode baru, yang disebut
dengan metode tematik (maudh'iy).
Dengan lahirnya metode ini, mereka yang menginginkan petunjuk al-
Quran dalam suatu masalah tidak perlu menghabiskan waktunya untuk
membaca kitab-kitab tafsir yang besar itu, tetapi cukup membaca tafsir
tematik tersebut selama permasalahan yang ingin mereka pecahkan dapat
dijumpai dalam kitab tafsir itu.
7


C. Metode-Metode Penafsiran al-Quran
Ulama selalu berusaha untuk memahami kandungan al-Quran sejak masa
ulama salaI sampai masa modern. Dari sekian lama perjalanan sejarah penaIsiran
al-Quran, banyak ditemui beragam taIsir dengan metode dan corak yang berbeda-
beda. Dari sekian banyak macam-macam taIsir, ulama membuat penglasiIikasian
taIsir dengan sudut pandang yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang
lainnya.
M. Quraish Shihab, dalam bukunya Membumikan al-Quran",
membagi tafsir dengan melihat corak dan metodenya menjadi; tafsir yang
bercorak ma'tsr dan tafsir yang menggunakan metode penalaran yang
terdiri dari metode tahlliy dan maudh'iy.
8
Al-Farmawi membagi tafsir dari
segi metodenya menjadi empat bagian yaitu,

7
. Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran l-Quran, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2005),
h. 3-8.

. Quraish Shihab, Membumikan l-Quran, h. 83.


Metode tahlliy, ijmliy, muqran dan maudh'iy.Sedangkan
metode tahlliy dibagi menjadi beberapa corak tafsir yaitu: at-1afsr bi al-
Ma'tsr, at-1afsr bi al-Ra'yi, at-1afsr ash-Shfiy, at-1afsr al-Fiqhiy, at-
1afsr al-Falsafiy, at-1afsr al-:Ilmiy, at-1afsr al-Adabiy wa al-Ijtim'iy.
9

Berikut ini akan dijelaskan metode-metode taIsir dengan mengikuti pola
pembagian al-Farmawi, adalah sebagai berikut:

. Metode Tafsir Tahliliy
a. Pengertian Tafsir Tahliliy
etode TaIsir Tahliliy adalah suatu metode taIsir yang bermaksud
menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dari seluruh aspeknya. Di dalam
taIsirnya, penafsir mengikuti runtutan ayat sebagaimana yang telah tersusun
di dalam mush-haf. Penafsir memulai uraiannya dengan mengemukakan arti
kosa kata diikuti dengan penjelasan mengenai arti global ayat. Ia juga
mengemukakan munsabah (korelasi) ayat-ayat serta menjelaskan hubungan
maksud ayat-ayat tersebut satu sama lain. Begitu pula, penafsir membahas
mengenai sabab al-nuzl (latar belakang turunnya ayat) dan dalil-dalil yang
berasal dari Rasulullah s.a.w., sahabat, atau para tabi`in, yang kadang-
kadang bercampur-baur dengan pendapat para penafsir itu sendiri dan
diwarnai oleh latar belakang pendidikannya, dan sering pula bercampur
baur dengan pembahasan kebahasaan dan lainnya yang dipandang dapat
membantu memahami nash (teks) al-Quran tersebut.


uhammad Baqir ash-Shadr menyebut taIsir metode tahliliy ini dengan
taIsir taf:iiy, yang secara harIiah berarti 'taIsir yang menguraikan berdasarkan
bagian-bagian atau taIsir parsial.
11


b. Bentuk Tafsir al-Quran dengan Metode 1ahlly
Metode 1ahlly kebanyakan dipergunakan para ulama masa-masa
klasik dan pertengahan. Di antara mereka, sebagian mengikuti pola
pembahasan secara panjang lebar (ithnb), sebagian mengikuti pola singkat
(i'jz) dan sebagian mengikuti pula secukupnya (muswh). Mereka sama-
sama menafsirkan al-Quran dengan metode tahlliy, namun dengan corak
yang berbeda.


Para ulama membagi wujud tafsir al-Quran dengan
metode tahlly kepada tujuh macam (bentuk) yaitu: At-1afsr bi al-
Ma'tsr, At-1afsr bi ar-Ra'yi, At-1afsrash-Shfiy, At-1afsr al-Fiqhiy, At-
1afsr al-Falsafiy, At-1afsr al-:Ilmiy, dan At-1afsr al-Adabiy al-Ijtim'iy.

c. Kitab-kitab Tafsir yang menggunakan metode tahlliy

9
Abd al-Hayy al-Farmawiy, Metode Tafsir Maudhui Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja GraIindo
Persada, 1996), h. 11.
10
Abd al-Hayy al-Farmawiy, ibid, h. 12.
11
. Quraish Shihab dkk, Sefarah dan Ulum al-Quran, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 172.
1
Said Agil Husin al-unawar, l-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta:
Ciputat Press, 2002), h. 70.
Di antara kitab-kitab taIsir yang menggunakan metode ini adalah: a) Tafsir
al-Quran al-:him karya Ibn Katsr` b) Tafsir al-Munir karya Syaikh Nawawiy
al-Bantaniy.
Ada yang menulis dengan sangat panjang, seperti kitab taIsir karya al-
Alusi, Fakhr al-Din ar-Razi, dan Ibn Jarir ath-Thabari; ada yang sedang, seperti
kitab TaIsir al-Baidhawi dan an-Naisaburi; dan ada pula yang ditulis dengan
ringkas, tetapi jelas dan padat, seperti kitab Tafsir al-Jalalaiyn karya Jalal ad-Din
Suyuthi dan Jalal ad-Din al-ahalli dan kitab TaIsir yang ditulis uhammad
Farid Wajdi.

d. Kelebihan dan Kekurangan Metode Tahlliy
) Kelebihan Metode Tahlliy
O Dapat mengetahui dengan mudah taIsir suatu surat atau ayat, karena
susunan tertib ayat atau surat mengikuti susunan sebagaimana terdapat
dalam mushaI,
O udah mengetahui relevansi/munasabah antara suatu surat atau ayat
dengan surat atau ayat lainnya,
O emungkinkan untuk dapat memberikan penaIsiran pada semua ayat,
meskipun inti penaIsiran ayat yang satu merupakan pengulangan dari ayat
yang lain, jika ayat-ayat yang ditaIsirkan sama atau hampir sama, dan
O engandung banyak aspek pengetahuan, meliputi hukum, sejarah, sains,
dan lain-lain.
13


) Kelemahan Metode Tafsir 1ahlliy
O enghasilkan pandangan-pandangan yang parsial dan kontradiktiI dalam
kehidupan umat Islam,
14

O Faktor subjektivitas tidak mudah dihindari misalnya adanya ayat yang
ditaIsirkan dalam rangka membenarkan pendapatnya, dan
O Terkesan adanya penaIsiran berulang-ulang, terutama terhadap ayat-ayat
yang mempunyai tema yang sama
15
masuknya pemikiran israiliyyat.
16


e. Urgensi Metode Tafsir 1ahlliy
Keberadaan metode ini telah memberikan sumbangan yang sangat besar
dalam melestarikan dan mengembangkan khazanah intelektual Islam, khususnya
dalam bidang taIsir al-Quran. Dengan adanya metode tahliliy , maka lahir karya-
karya taIsir yang besar-besar sebagaimana yang telah disebutkan di depan.
Berdasarkan kenyataan itu dapatlah dikatakan, urgensitas metode ini tidak
dapat dipungkiri oleh siapa pun. Dalam penaIsiran al-Quran, jika ingin
menjelaskan dengan Iirman Allah dari berbagai segi seperti bahasa, hukum-

13
Didin SaeIuddin Buchori, Pedoman Memahami Kandungan l-Quran, (Bogor: Granada Sarana
Pustaka, 2005), h. 218-219.
14
Akhmad AriI Junaidi, Pembaharuan Metodologi Tafsir l-Quran (Studi tas Pemikiran Tafsir
Kontekstual Fa:lur Rahman), (Semarang: CV. Gunung Jati, 2000), h. 24.
13
Didin SaeIuddin Buchori, Ibid., h. 219.
16
Supiana, dan . Karman,Ulumul Quran dan Pengenalan Metodologi Tafsir, (Bandung: Pustaka
Islamika, 2002), h. 198.
hukum Iiqih, teologi, IilsaIat, sains, dan sebagainya, maka di sini
metode tahliliy lebih berperan dan lebih dapat diandalkan dari pada metode-
metode yang lain.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa jika menginginkan
pemahaman yang luas dari suatu ayat dengan melihatnya dari berbagai aspek,
maka jalan yang ditempuh adalah menggunakan metode taIsir tahliliy. Dan inilah
salah satu urgensi pokok bagi metode ini dibandingkan dengan yang lain.

. Metode Tafsir Ijmliy
a. Pengertian Tafsir Ijmliy
Metode Tafsir Ijmliy adalah suatu metode tafsir yang menafsirkan
ayat-ayat al-Quran dengan cara mengemukakan makna global. Di dalam
sistematika uraiannya, penafsir akan membahas ayat demi ayat sesuai
dengan susunan yang ada di dalam mush-haf; kemudian mengemukakan
makna global yang dimaksud oleh ayat tersebut.


Dengan metode Ijmliy , para mufassir menggunakan bahasa yang
ringkas dan sederhana, serta memberikan idiom yang mirip, bahkan sama
dengan al-Quran. Sehingga pembacanya merasakan seolah-olah al-Quran
sendiri yang berbicara dengannya. Sehingga dengan demikian dapatlah
diperoleh pengetahuan yang diharapkan dengan sempurna dan sampailah
kepada tujuannya dengan cara yang mudah serta uraian yang singkat dan
bagus.
Dalam menaIsirkan ayat-ayat al-Quran dengan metode Ifmaliy i, muIassir
juga meneliti, mengkaji dan menyajikan asbab al-nu:ul atau peristiwa yang
melatar belakangi turunnya ayat, dengan cara meneliti Hadis-Hadis yang
berhubungan dengannya.
Sebagai contoh: Penafsiran yang diberikan tafsir al-1allain terhadap
5 ayat pertama dari surat al-Baqarah, tampak taIsirnya sangat singkat dan
global hingga tidak ditemui rincian atau penjelasan yang memadai. PenaIsiran
tentang alif lam mim (-'), misalnya, dia hanya berkata: Allah aha Tahu
maksudnya. Dengan demikian pula penaIsiran ~'--' 4--, hanya dikatakan: 'Yang
dibacakan oleh uhammad. Begitu seterusnya, tanpa ada rincian sehingga
penaIsiran lima ayat itu hanya dalam beberapa baris saja. Sedangkan
tafsir tahlliy (analitis), al-Maraghi, misalnya, untuk menjelaskan lima ayat
pertama itu ia membutuhkan halaman.
8


b. Kitab-kitab Tafsir yang Menggunakan Metode Ijmliy
Di antara kitab-kitab TaIsir dengan metode ifmaliy adalah: Tafsir al-
Jalalayn, karya Jalal ad-Din as-Suyuthi dan Jalal ad-Din al-ahalli, Shafwah al-
Bayan Limaani al-Quran, karya Syeikh Hasanain uhammad akhluI, Tafsir
al-Quran al-:him, karya Ustadz uhammad Farid Wajdiy, Tafsir al-Wasith,

17
Abd al-Hayy al-Farmawiy. Metode Tafsir Maudhui, h. 29.
1
Hujair A.H. Sanaky, 'etode TaIsir (Perkembangan etode TaIsir engikuti Warna atau
Corak uIassirin). Diakses tanggal 27 Oktober 2011.
karya Tim ajma` al-Buhts al-Islmiyyah (Lembaga Penelitian Islam) al-Azhar
esir.
19


c Kelebihan dan Kekurangan Metode Ijmliy
) Kelebihan Metode Tafsir Ijmliy
O Praktis dan mudah dipahami,
O Bebas dari penaIsiran israiliyat, dan
O Akrab dengan bahasa al-Quran

) Kekurangan Metode Tafsir Ijmliy
O enjadikan petunjuk al-Quran bersiIat parsial, dan
O Tidak mampu mengantarkan pembaca untuk mendialogkan al-Quran
dengan permasalahan sosial maupun keilmuan yang aktual dan
problematic

d. Urgensi Metode Tafsir Ijmliy
Dalam hal ini, bagi para pemula atau mereka yang tidak membutuhkan
uraian yang detail tentang pemahaman suatu ayat, maka taIsir yang menggunakan
metode ifmaliy ini sangat membantu dan tepat sekali untuk digunakan. Hal itu
disebabkan uraian di dalam taIsir yang menggunakan metode ini sangat ringkas
dan tidak berbelit-belit, sehingga relatiI lebih mudah dipahami oleh mereka yang
berada pada tingkat ini.
Kondisi taIsir ifmaliy yang ringkas dan sederhana ini juga lebih cocok bagi
mereka yang disibukkan oleh pekerjaan rutin sehari-hari. Dengan demikian, taIsir
dengan metode ini sangat urgen (penting) bagi mereka yang berada pada tahap
permulaan mempelajari taIsir dan mereka yang sibuk dalam mencari
kehidupannya.
Dalam kondisi yang demikian akan dapat dirasakan betapa cocoknya
taIsir ifmaliyini bagi mereka dalam rangka membimbing mereka ke jalan yang
benar serta diridhai Allah.

3. Metode Tafsir Muqran
a. Pengertian
Yang dimaksud dengan metode tafsir muqran adalah
mengemukakan penafsiran ayat-ayat al-Quran yang ditulis oleh sejumlah
para mufassir. Di sini seorang muIassir menghimpun sejumlah ayat-ayat al-
Quran, kemudian ia mengkaji dan meneliti penaIsiran sejumlah muIassir
mengenai ayat tersebut melalui kitab-kitab taIsir mereka, apakah mereka itu
muIassir dari generasi salaI maupun khalaI, apakah taIsir mereka itu at-tafsir bi
al-matsur maupun at-tafsir bi ar-Rayi.
20

Kemudian ia menjelaskan bahwa di antara mereka ada yang corak
penafsirannya ditentukan oleh disiplin ilmu yang dikuasainya. Ada di antara
mereka yang menitikberatkan pada bidang nahwu, yakni segi-segi i'rb,

19
. AlIatih Suryadilaga, dkk., Metodologi Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Teras, 2005), h. 46.
0
Abd al-Hayy al-Farmawiy, Metode Tafsir Maudhui., 30.a
seperti Imam az-Zarkasyi. Ada yang corak penafsirannya ditentukan oleh
kecenderungan kepada bidang balghah, seperti Abd al-Qahhar al-1urjaniy
dalam kitab tafsirnya I'jz al-Qurn dan Abu Ubaidah Ma`mar Ibn al-
Mustanna dalam kitab tafsirnya al-Majz, dimana ia memberi perhatian
pada penjelasan ilmu ma'niy, bayn, bad',haqqah dan majz.


1adi metode tafsir muqran adalah menafsirkan sekelompok ayat al-
Quran dengan cara membandingkan antar-ayat dengan ayat, atau antara
ayat dengan hadis, atau antara pendapat ulama tafsir dengan menonjolkan
aspek-aspek perbedaan tertentu dari objek yang dibandingkan tersebut.

b. Objek Kajian Metode Tafsir Muqran
Objek kajian taIsir dengan metode muqaran dapat dikelompokkan kepada
tiga, yaitu, perbandingan ayat al-Quran dengan ayat lain. Seperti halnya contoh
berikut ini:
PenaIsiran disebabkan perbedaan redaksi namun peristiwa yang
dibicarakannya sama, di antaranya yang terdapat dalam QS al-An`m, 6: 151 dan
QS al-Isr`, 17: 31;
Katakanlah. Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh
Tuhanmu Yaitu. fanganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan fanganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi
re:eki kepadamu dan kepada mereka, dan fanganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang kefi, baik yang nampak di antaranya maupun
yang tersembunyi, dan fanganlah kamu membunuh fiwa yang diharamkan
llah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar`.
demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu
memahami(nya).`
Dan fanganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.
kamilah yang akan memberi re:eki kepada mereka dan fuga kepadamu.
22

Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.`
PenaIsiran dengan redaksi yang hampir sama (mirip) dengan pembicaraan
masalah yang berbeda, di antaranya terdapat QS li Imrn: 126 dan QS al-AnIl,
8: 10,
Dan llah tidak menfadikan pemberian bala bantuan itu melainkan
sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)-mu, dan agar tenteram
hatimu karenanya. dan kemenanganmu itu hanyalah dari llah yang
Maha Perkasa lagi Maha Bifaksana.`
Dan llah tidak menfadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan
sebagai kabar gembira dan agar hatimu menfadi tenteram karenanya. dan
kemenangan itu hanyalah dari sisi llah. Sesungguhnya llah Maha
Perkasa lagi Maha Bifaksana.`
23



1
Said Agil Husin al-unawar, l-Quran Membangun Tradisi, h. 73

Supiana dan Karman, h. 323.


3
Supiana dan Karman., h. 324.
c. Perbandingan Ayat al-Quran dengan Hadis
O enentukan nilai hadis yang akan diperbandingkan dengan ayat al-Quran.
Hadis itu haruslah shahih. Hadis dhaif tidak diperbandingkan karena,
disamping nilai otentisitasnya rendah, dia justeru semakin tertolak karena
pertentangannya dengan ayat al-Quran,
O embandingkan dan menganalisis pertentangan yang dijumpai di dalam
kedua redaksi yaitu ayat dengan hadis itu, dan
O embandingkan pendapat para ulama taIsir dalam menaIsirkan ayat dan
hadis tersebut.
Seperti contoh dalam perbedaan antara ayat al-Quran QS an-Nahl, 16: 32
dengan hadis riwayat (HR Ahmad dari Abu Hurairah) di bawah ini:
(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam Keadaan baik oleh para
Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka). Salamunalaikum,
masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu
kerfakan.`
^ - - - =-' - - = J =- - '-
Tidak akan masuk seorangpun diantara kamu ke dalam surga
disebabkan perbuatannya`. (HR Ahmad dari Abu Hurairah)

d. Perbandingan Penafsiran Mufassir dengan Mufassir Yang Lain
Seperti contoh dalam QS. al-An`m, 6: 103,
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat
melihat segala yang kelihatan, dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha
mengetahui.`
24

Sedangkan dalam perbedaan penaIsiran muIassir yang satu dengan yang
lain, muIassir berusaha mencari, menggali, menemukan, dan mencari titik temu
diantara perbedaan-perbedaan itu bila mungkin, dan mentarfih salah satu pendapat
setelah membahas kualitas argumentasi masing-masing.
25


e. Kitab-kitab Tafsir Yang Menggunakan Metode Muqran
Di antara kitab-kitab yang menggunakan metode ini adalah: Durrah at-
Tan:il wa Ghurrah at-Tanwil, karya al-IskaIi yang terbatas pada perbandingan
antara ayat dengan ayat; l-Jami li hkam al-Quran, karya al-Qurthubiy yang
membandingkan penaIsiran para muIassir. Rawai al-Bayan fi Tafsir yat al-
hkam, karya Ali ash-Shabuniy` Quran and its Interpreters adalah satu karya
taIsir yang lahir di zaman modern ini, buah karya ProIesor ahmud Ayyoub.

f. Kelebihan dan Kekurangan Metode Tafsir Muqran
) Kelebihan Metode Tafsir Muqran
O embuka pintu untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat orang
lain,

4
Ibid, h. 325.
3
. Quraish Shihab, Sefarah dan Ulum al-Quran,, h. 191.

O TaIsir dengan metode muqaran ini amat berguna bagi mereka yang ingin
mengetahui berbagai pendapat tentang suatu ayat, dan
O Dengan menggunakan metode muqaran ini, maka muIassir didorong untuk
mengkaji berbagai ayat dan hadis-hadis serta pendapat-pendapat para
muIassir yang lain.

) Kekurangan Metode Tafsir Muqran
O PenaIsiran yang menggunakan metode ini, tidak dapat diberikan kepada
para pemula,
O etode muqaran kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan
sosial yang tumbuh di tengah masyarakat. hal itu disebabkan metode ini
lebih mengutamakan perbandingan daripada pemecahan masalah, dan
O etode muqaran terkesan lebih banyak menelusuri penaIsiran-penaIsiran
yang pernah di berikan oleh ulama daripada mengemukakan penaIsiran-
penaIsiran baru. sebenarnya kesan serupa itu tak perlu timbul bila
muIassirnya kreatiI.

g. Urgensi Metode Tafsir Muqran
Pada abad modern sekarang, taIsir dengan metode ini terasa makin
dibutuhkan oleh umat. Hal itu terutama dikarenakan timbulnya berbagai paham
dan aliran yang kadang-kadang jauh keluar dari pemahaman yang benar. Dengan
menggunakan metode muqaran ini, akan dapat diketahui mengapa penaIsiran
yang menyimpang itu timbul dan bahkan dapat membuat sikap ekstrim di
kalangan sebagian kelompok masyarakat.
Dengan metode muqaran ini amat penting posisinya, terutama dalam
rangka mengembangkan pemikiran taIsir, yang rasional dan objektiI, sehingga
kita mendapatkan gambaran yang lebih komprehensiI berkenaan dengan latar
belakang lahirnya suatu penaIsiran dan sekaligus dapat dijadikan perbandingan
dan pelajaran dalam mengembangkan penaIsiran al-Quran pada periode-periode
selanjutnya.

. Metode Tafsir Maudh'iy
a. Pengertian Tafsir Maudh'iy
Metode tafsir maudh'iy juga disebut dengan dengan metode tematik
yaitu menghimpun ayat-ayat al-Quran yang mempunyai maksud yang sama,
dalam arti, sama-sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya
berdasar kronologi serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut.
Kemudian penaIsir mulai memberikan keterangan dan penjelasan serta
mengambil kesimpulan. Secara khusus, penaIsir melakukan studi taIsirnya ini
dengan metode maudhuiy, dimana ia melihat ayat-ayat tersebut dari seluruh
seginya, dan melakukan analisis berdasar ilmu yang benar, yang digunakan oleh
pembahas untuk menjelaskan pokok permasalahan, sehingga ia dapat memahami
permasalahan tersebut dengan mudah dan betul-betul menguasainya, sehingga
memungkinkan baginya untuk memahami maksud yang terdalam dan dapat
menolak segala kritik.
26


b. Cara Kerja Tafsir Maudh'iy
Al-Farmawi di dalam kitab Al-Bidyah f al-1afsir al-
Maudh'iy
27
secara rinci mengemukakan cara kerja yang harus ditempuh
dalam menyusun suatu karya tafsir berdasarkan metode ini. Antara lain
adalah sebagai berikut:
O Memilih atau menetapkan masalah al-Quran yang akan dikaji
secaramaudh'iy (tematik),
O Melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah
yang telah ditetapkan, ayat Makkiyyah dan Madaniyyah,
O Menyusun ayat-ayat tersebut secara runtut menurut kronologi masa
turunnya, disertai pengetahuan mengenai latar belakang turunnya
ayat atau asbb an-nuzl,
O Mengetahui korelasi (munsabah) ayat-ayat tersebut di dalam
masing-masing suratnya,
O Menyusun tema bahasan di dalam kerangka yang pas, sistematis,
sempurna dan utuh (outline),
O Melengkapi pembahasan dan uraian dengan hadis, bila dipandang
perlu, sehingga pembahasan menjadi semakin sempurna dan semakin
jelas,
O Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh
dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung pengertian
serupa, mengkompromikan antara pengertian :m dan khash, antara
yang muthlaqdan yang muqayyad, menyingkronkan ayat-ayat yang
lahirnya tampak kontradiktif, menjelaskan ayat nsikh dan manskh,
sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa
perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap
sebagian ayat kepada makna yang kurang tepat,
8
dan
O Menyusun kesimpulan yang menggambarkan jawaban al-Quran
terhadap masalah yang dibahas
9


c. Bentuk kajian Tafsir Maudh'iy
Di sini tafsir maudh'iy mempunyai dua bentuk, yaitu Tafsir yang
membahas satu surat secara menyeluruh dan utuh dengan menjelaskan
maksudnya yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi antara
berbagai masalah yang dikandungnya, sehingga surat itu tampak dalam
bentuknya yang betul-betul utuh dan cermat.
Menurut M. Quraish Shihab, biasanya kandungan pesan suatu surat
diisyaratkan oleh nama surat tersebut, selama nama tersebut bersumber dari

6
Abd al-Hayy al-Farmawiy. Metode Tafsir Maudhui, h. 36-37.
7
Ibid., h. 45-46.

. AlIatih Suryadilaga, Metodologi Ilmu Tafsir, h. 48.


9
Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir, (t.tp.: TaIakur, t.t.), h. 116.
informasi Rasulullah s.a.w.. Ia mencontohkan surat al-Kahfi, yang secara
harfiah berarti gua. Gua itu dijadikan tempat berlindung oleh sekelompok
pemuda untuk menghindar dari kekejaman penguasa zamannya. Dari ayat
tersebut dapat diketahui bahwa surah itu dapat memberi perlindungan bagi
yang menghayati dan mengamalkan pesan-pesannya. Itulah pesan umum
surah tersebut. Ayat atau kelompok ayat yang terdapat di dalam surah itu
kemudian diupayakan untuk dikaitkan dengan makna perlindungan itu.
TaIsir maudhuiy dalam bentuk pertama ini sebenarnya sudah lama dirintis
oleh ulama-ulama taIsir periode klasik, seperti Fakhr ad-Din al-Razi. Namun,
pada masa belakangan beberapa ulama taIsir lebih menekuninya secara serius.
Tafsir yang menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surat yang
sama-sama membicarakan satu masalah tertentu; ayat-ayat tersebut disusun
sedemikian rupa dan diletakkan di bawah satu tema bahasan, dan
selanjutnya ditafsirkan secara maudh'iy.
Bentuk kedua inilah yang lazim terbayang di benak kita ketika mendengar
istilah taIsir maudhuiy itu diucapkan.
Upaya mengaitkan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya itu
pada akhirnya akan mengantarkan mufassir kepada kesimpulan yang
menyeluruh tentang masalah tertentu menurut pandangan al-Quran.
Bahkan melalui metode ini, mufassir dapat mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang terlintas di dalam benaknya dan menjadikannya sebagai
tema-tema yang akan dibahas dengan tujuan menemukan pandangan al-
Quran mengenai hal tersebut.
Contoh: ayat-ayat khusus mengenai harta anak yatim terdapat pada
ayat-ayat di bawah ini:
Dan fanganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran
dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada
sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata,
maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu),
dan penuhilah fanfi llah. Yang demikian itu diperintahkan llah
kepadamu agar kamu ingat.` (QS al-An`m, 6:152).
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta
mereka, fangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan fangan
kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-
tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar`. (QS an-
Nis, 4: 2)
Dan surat QS an-Nis, 4: 10 dan 127.
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara
:alim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka
akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).`

Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah.
llah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan
kepadamu dalam al-Quran (fuga memfatwakan) tentang para wanita
yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan
untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-
anak yang masih dipandang lemah. dan (llah menyuruh kamu) supaya
kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. dan kebafikan apa safa yang
kamu kerfakan, maka Sesungguhnya llah adalah Maha Mengetahuinya.`

d. Kitab-Kitab Tafsir Yang Menggunakan Metode Maudh'iy
Sebagian kitab-kitab taIsir yang menggunakan metode maudhu`iy ini
adalah: l-Marah fi al-Quran dan l-Insan fi al-Quran al-Karim karya Abbas
ahmud al-Aqqad; Ar-Rib fi al-Quran al-Karim karya Abu al-A`la al-
aududiy; l-Washaya al-syr karya Syaikh ahmud Syalthut; Tema-tema
Pokok al-Quran karya Fazlur Rahman; dan Wawasan al-Quran Tafsir Maudhui
tas Pelbagai Persoalan Umatkarya . Quraish Shihab.
30


e. Kelebihan dan Kekurangan Metode Maudh'iy
) Kelebihan Metode Maudh'iy
O Hasil taIsir maudhuiy memberikan pemecahan terhadap permasalahan-
permasalahan hidup praktis, sekaligus memberikan jawaban terhadap
tuduhan/dugaan sementara orang bahwa al-quran hanya mengandung
teori-teori spekulatiI tanpa menyentuh kehidupan nyata,
O Sebagai jawaban terhadap tuntutan kehidupan yang selalu berobah dan
berkembang, menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap al-Quran,
O Studi terhadap ayat-ayat terkumpul dalam satu topik tertentu juga
merupakan jalan terbaik dalam merasakan fashahah dan balaghah al-
Quran,
O Kemungkinan untuk mengetahui satu permasalahan secara lebih
mendalam dan lebih terbuka, dan
O TaIsir maudhuiy lebih tuntas dalam membahas masalah.

) Kekurangan Metode Maudh'iy
O ungkin melibatkan pikiran dalam penaIsiran terlalu dalam, dan
O Tidak menaIsirkan segala aspek yang dikandung satu ayat, tetapi hanya
salah satu aspek yang menjadi topik pembahasan saja.

f. Urgensi Metode Maudh'iy
Di depan telah disinggung bahwa taIsir dengan metode maudhuiy lebih
dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan kehidupan di muka bumi ini. Itu
berarti, metode ini besar sekali artinya dalam kehidupan umat agar mereka dapat
terbimbing ke jalan yang benar sesuai dengan maksud diturunkannya al-Quran.
Berangkat dari pemikiran yang demikian, maka kedudukan metode ini
menjadi semakin kuat di dalam khazanah intelektual Islam. Oleh karenanya
metode ini perlu dimiliki oleh para ulama, khususnya oleh para muIassir atau
calon muIassir agar mereka dapat memberikan kontribusi menuntun kehidupan di
muka bumi ini ke jalan yang benar demi meraih kebahagiaan di dunia dan di
akhirat.

30
. Quraish Shihab, dkk, Sefarah dan Ulum al-Quran, h. 194.

KESIMPULAN
Al-Quran secara tekstual memang tidak berubah, tetapi penaIsiran atas
teksnya selalu berubah, sesuai dengan konteks ruang dan waktu manusia. Oleh
Karena itu, al-Quran selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan
diinterpretasikan (ditaIsirkan) dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan
untuk menguak isi sejatinya. etode taIsir al-Quran adalah suatu cara yang teratur
dan terpikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang
dimaksudkan Allah di dalam ayat-ayat al-Quran atau laIazh-laIazh yang musykil
yang diturunkan-Nya kepada Nabi uhammad s.a.w.
Sejak Rasulullah s.a.w. dikenal dua cara penaIsiran al-Quran. Pertama,
penaIsiran berdasarkan petunjuk wahyu. Kedua, penaIsiran berdasarkan ijtihad
atau rayi. Pada periode berikutnya, umat Islam semakin majemuk dengan
berbondong-bondong bangsa non-Arab masuk Islam, terutama setelah tersebarnya
Islam ke daerah-daerah yang jauh di luar tanah Arab. Kondisi seperti yang
digambarkan itulah yang merupakan salah satu pendorong lahirnya taIsir dengan
metode analitis (tahliliy), sebagaimana tertuang di dalam kitab-kitab taIsir tahliliy,
Kemudian datanglah dua bentuk penaIsiran yaitu: al-matsur dan ar-rayi dengan
berbagai corak yang dihasilkannya, seperti taIsir fiqhiy, shufiy (tasawuI), falsafiy,
ilmiy, adabiy-iftimaiy dan lain-lain. Permasalahan di abad modern berbeda jauh
dari apa yang dialami oleh generasi terdahulu. Untuk menanggulangi
permasalahan itu, ulama taIsir pada abad modern menawarkan taIsir al-Quran
dengan metode baru, yang disebut dengan metode tematik (maudhuiy).



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Izzan. t.t. etodologi Ilmu Tafsir, tt: TaIakur,.
AriI Junaidi, Akhmad. 2000. Pembaharuan etodologi TaIsir Al-Quran (Studi
Atas Pemikiran TaIsir Kontekstual Fazlur Rahman), Semarang: CV.
Gunung Jati.
Al-Farmawiy, Abd al-Hayy. 1996. etode TaIsir audhu`i Suatu Pengantar,
Jakarta: Raja GraIindo Persada.
AlIatih Suryadilaga, dkk., 2005. etodologi Ilmu TaIsir, Yogyakarta: Teras.
Al-unawar, Said Agil Husin. 2002. Al-Quran embangun Tradisi Kesalehan
Hakiki, Jakarta: Ciputat Press.
Al-Qaththan anna` Khalil. 1996. Studi Ilmu-Ilmu Quran, Jakarta: Litera
AntarNusa.
Ash-Shalih, Subhi. 1995. embahas Ilmu-ilmu al-Quran, Jakarta:Pustaka Firdaus.
As-Shauwy, Ahmad. 1995. ukjizat Al-Quran dan Sunnah Tentang IPTEK,
Baidan, . Nashruddin. 2005. etodologi PenaIsiran Al-Quran. Yogyakarta:
Pustaka pelajar.
. 2002. etode PenaIsiran Al-Quran Kajian Kritis Terhadap Ayat-Ayat
Yang Beredaksi irip, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Buchori, Didin SaeIuddin. 2005. Pedoman emahami Kandungan Al-Quran.
Bogor: Granada Sarana Pustaka.
Dawam Rahardjo.2005. Paradigma Al-Quran etodologi TaIsir dan Kritik Sosial,
Jakarta: Pusat Studi Agama Dan Peradaban (PSAP) uhammadiyah.
Jakarta: Gema Insani Preass.
Nashiruddin Baidan. 2005. etodologi PenaIsiran Al-Quran, Yogyakarta: Pustaka
pelajar.
Rohimin. 2007. etodologi Ilmu TaIsir Dan Aplikasi odel PenaIsiran,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Shihab, . Quraish. 1999. embumikan Al-Quran Fungsi dan Peran Wahyu
Dalam Kehidupan asyarakat, Bndung: izan.
. 1999. Sejarah Dan Ulum Al-Quran, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Shihab, . Umar. 2005. Kontekstualitas Al-Quran Kajian Tematik atas Ayat-ayat
Hukum Dalam Al-Quran, Jakarta: Penamadani.
Supiana dan . Karman. 2002. Ulumul Quran dan Pengenalan etodologi TaIsir,
Bandung: Pustaka Islamika.
Watt, W. ontgomery. 1995. Pengantar Studi Al-Quran, Jakarta: Raja GraIindo
Persada.
http://media.isnet.org/islam/Quraish/embumi/etoda.html
http://id.wikipedia.org/wiki/TaIsirAl-Qur`an