Anda di halaman 1dari 11

SUNAN KALI1AGA

Sunan Kalijaga yang hidup di jaman Kerajaan Islam Demak (sekitar abad 15) aslinya
bernama Raden Said, adalah putra Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta/Raden Sahur.
Raden Sahur adalah keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu. Sunan Kalijaga
diperkenalkan agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban sejak kecil.
Melihat lingkungan sekitar yang kontradiktiI dengan kehidupan rakyat jelata yang serba
kekurangan, menyebabkan ia bertanya kepada Ayahnya mengenai hal tersebut, yang dijawab
bahwa itu adalah untuk kepentingan kerajaan Majapahit yang membutuhkan dana banyak
untuk menghadapi pemberontakan. Maka secara diam-diam ia bergaul dengan rakyat jelata,
menjadi pencuri untuk mengambil sebagian barang-barang di gudang dan membagikan
kepada rakyat yang membutuhkan.
Namun akhirnya ia ketahuan dan dihukum cambuk 200 (dua ratus) kali ditangannya dan
disekap beberapa hari oleh Ayahnya, yang kemudian ia pergi tanpa pamit. Mencuri atau
merampok dengan topeng ia lakukan, demi rakyat jelata. Tapi ia tertangkap lagi, yang
menyebabkan ia diusir oleh Ayahnya dari Kadipaten. Iapun tinggal di hutan Jatiwangi dan
menjadi perampok orang kaya, dan berjuluk Brandal Lokajaya. Suatu waktu ia berjumpa
dengan Sunan Bonang, dan dibawa ke Tuban untuk menjadi muridnya, memperdalam agama
Islam. Lalu akhirnya ia menjadi pengembara yang menyebarkan agama Islam (sebelumnya
sempat menemui kedua orang tuanya), yang dihari tuanya ia tinggal dan meninggal di desa
Kadilangu Demak.
Ia dikenal sebagai Mubaligh/Da`i keliling, ulama besar, seorang Wali yang memiliki karisma
tersendiri di antara wali-wali yang lain, paling terkenal di berbagai lapisan masyarakat
apalagi kalangan bawah. Ia disebagian tempat juga dikenal bernama Syekh Malaya. Ia dapat
dikatakan sebagai ahli budaya, misalnya: pengenalan agama secara luwes tanpa
menghilangkan adat-istiadat/kesenian daerah (adat lama yang ia beri warna Islami),
menciptakan baju Taqwa (lalu disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar nyamping
dan keris serta rangkaian lainnya), menciptakan tembang Dandanggula dan Dandanggula
Semarangan, menciptakan lagu Lir Ilir yang sampai saat ini masih akrab dikalangan sebagian
besar orang Jawa, pencipta seni ukir bermotiI daun-daunan, memerintahkan sang murid
bernama Sunan Bayat untuk membuat bedug di Masjid guna mengerjakan sholat jama`ah.
Acara ritual berupa Gerebeg Maulud yang asalnya dari tabligh/pengajian akbar yang
diselenggarakan para Wali di Masjid Demak untuk memperingati maulud nabi, menciptakan
Gong Sekaten bernama asli Gong Syahadatain (dua kalimah syahadat) yang jika dipukul akan
berbunyi dan bermakana bahwa mumpung masih hidup agar berkumpul masuk agama Islam,
pencipta Wayang Kulit diatas kulit kambing, sebagai Dalang (dari kata dalla` yang berarti
menunjukkan jalan yang benar) wayang kulit dengan beberapa cerita yang ia senangi yaitu
antara lain Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci serta Petruk Jadi Raja dan Wahyu Widayat,
serta sebagai ahli tata kota seperti misalnya pengaturan Istana atau Kabupaten dengan Alun-
alun serta pohon beringin dan masjid.
Sebagai penutup, kami tuliskan teks tembang Lir Ilir, sebagai berikut : Lir ilir lir ilir tandure
wis sumilir, 1ak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar, Cah angon cah angon
penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dodotiro-dodotiro,
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir, Domono jlumotono kanggo seba mengko
sore, Mumpung jembar kalangane mumpungpadhang rembulane, Yosurako surak horee.
Suka atau tidak suka, pada kenyataannya Sunan Kalijaga dapat dikatakan sebagai gurunya
atau dewanya Islam bagi besar orang sebagian 1awa.


2. Dialah 'wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun
1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh
pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut
Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan
seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat
beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon.
Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan
Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam
(kungkum`) di sungai (kali) atau 'jaga kali. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal
dari bahasa Arab 'qadli dzaqa yang menunjuk statusnya sebagai 'penghulu suci
kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia
mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan
Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran
Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang
pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang 'tatal (pecahan
kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan
Bonang. Paham keagamaannya cenderung 'suIistik berbasis salaI -bukan suIi panteistik
(pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk
berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika
diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil
mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya
kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan
seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta
Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk
Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid
diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat eIektiI. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam
melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen,
Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di
Kadilangu -selatan Demak.
nama-nama Walisongo :
1. Sunan Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Giri
4. Sunan Bonang
5. Sunan Kali 1aga
6. Sunan Gunung 1ati
7. Sunan Drajat
8. Sunan Kudus
9. Sunan Muria

di tambah lagi wali yang paling kontroversial yaitu :
syekh Siti Jenar


CL8l1A SunAn kALl !ACA
Raden. Mas Syahid atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga., adalah
putera dari Ki Tumenggung Wilatika, bupati Tuban, ada pula yang mengatakan, bahwa nama
lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah Raden Sabur Tumenggung Wilatika, dikatakan dalam
riwayat, bahwa dalam perkawinannya dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak, Sunan
Kalijaga juga memperoleh 3 orang putera, masing-masing : .R. Umar Said (Sunan Muria),
Dewi Rakayuh dan Dewi SoIiah.
Diantara para Wali Sembilan, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar,
seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan IilosoIi. daerah operasinya tidak terbatas, oleh
karena itu beliau adalah terhitung seorang mubaligh keliling (reizendle mubaligh). jikalau
beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh pada kaum ningrat dan sarjana.
Kaum bangsawan dan cendekiawan amat simpatik kepada beliau. karena caranya beliau
menyiarkan agama islam yang disesuaikan dengan aliran jaman, Sunan Kalijaga adalah
adalah seorang wali yang kritis, banyak toleransi dan pergaulannya dan berpandangan jauh
serta berperasaan dalam. Semasa hidupnya, sunan kalijaga terhitung seorang wali yang
ternama serta disegani beliau terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatiI mengaran
cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran Islam dengan lain perkataan, dalam
cerita-cerita wayang itu dimaksudkan sebanyak mungkin unsur-unsur ke-Islam-an,. hal ini
dilakukan karena pertimbangan bahwa masyarakat di Jawa pada waktu itu masih tebal
kepercayaannya terhadap Hinduisme dan Buddhisme, atau tegasnya Syiwa Budha, ataupun
dengan kata lain, masyarakat masih memagang teguh tradisi-tradisi atau adat istiadat lama.
Diantaranya masih suka kepada pertunjukan wayang, gemar kepada gamelan dan beberapa
cabang kesenian lainnya, sebab-sebab inilah yang mendorong Sunan Kalijaga sebagai salah
seorang mubaligh untuk memeras otak, mengatur siasat, yaitu menempuh jalan mengawinkan
adat istiadat lama dengan ajaran-ajaran Islam assimilasi kebudayaan, jalan dan cara mana
adalah berdasarkan atas kebijaksanaan para wali sembilan dalam mengambangkan Agama
Islam di sini.
Sunan Kalijaga, namanya hingga kini masih tetap harum serta dikenang oleh seluruh lapisan
masyrakat dari yang atas sampai yang bawah. hal ini adalah merupakan suatu bukti, bahwa
beliau itu benar-benar manusia besar jiwanya, dan besar pula jasanya. sebagai pujangga, telah
banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung IilsaIat serta berjiwa agama, seni lukis
yang bernaIaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. disamping itu pula beliau berjasa
pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.
Sunan Kalijaga adalah pengarang dari kitab-kitab cerita-cerita wayang yang dramatis serta
diberi jiwa agama, banyak cerita-cerita yang dibuatnya yang isinya menggambarkan ethik ke-
Islam-an, kesusilaan dalam hidup sepanjang tuntunan dan ajaran Islam , hanya diselipkan ke
dalam cerita kewayangan. oleh karena Sunan Kalijaga mengetahui, bahwa pada waktu itu
keadaan masyarakat menghendaki yang sedemikian, maka taktik perjuangan beliaupun
disesuaikannya pula dengan keadaan ruang dan waktu.
Berhubung pada waktu itu sedikit para pemeluk agama syiwa budha yang Ianatik terhadap
ajaran agamanya, maka akan berbahaya sekali kiranya apabila dalam memperkembangkan
agama islam selanjutnya tidak dilakukan dengan cara yang bijaksana. para wali termasuk
didalamnya Sunan Kalijaga mengetahui bahwa rakyat dari kerajaan Majapahit masih lekat
sekali kepada kesenian dan kebudayaan mereka, diantaranya masih gemar kepada gemalan
dan keramaian-keramaian yang bersiIat keagamaan Syiwa-Budha.
Maka setelah diadakan permusyawaratan para wali, dapat diketemukan suatu cara yang lebih
supel, dengan maksud untuk meng-Islam-kan orang-orang yang belum masuk Islam. cara itu
diketemukan oleh Sunan Kalijaga, salah seorang yang terkenal berjiwa besar, dan
berpandangan jauh,berIikiran tajam, serta berasal dari suku jawa asli. disamping itu beliau
juga ahli seni dan Iaham pula akan gamelan serta gending-gending (lagu-lagunya).
Maka dipesanlah oleh Sunan Kalijaga kepada ahli gamelan untuk membuatkan serancak
gamelan, yang kemudian diberinya nama kyai sekati. hal itu adalah dimaksudkan untuk
memperkembangkan Agama Islam.
Menurut adat kebiasaan pada setiap tahun, sesudan konperensi besar para wali, diserambi
Masjid Demak diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan rebana (Bhs. Jawa
Terbangan) menurut irama seni arab. Hal ini oleh Sunan Kalijaga hendak disempurnakan
dengan pengertian disesuaikan dengan alam Iikiran masyarakat jawa. maka gamelan yang
telah dipesan itupun ditempatkan diatas pagengan yaitu sebuah tarub yang tempatnya di
depan halaman Masjid Demak, dengan dihiasai beraneka macam bungan-bungaan yang
indah. gapura mashidpun dihiasinya pula, sehingga banyaklah rakyat yang tertarik untuk
berkunjung ke sana, gamelan itupun kemudian dipukulinya betalu-talu dengan tiada henti-
hentinya.
Kemudian dimuka gapura masjid, tampillah ke depan podium bergantian para wali
memberikan wejangan-wejangan serta nasehat-nasehatnya uraian-uraiannya diberikan dengan
gaya bahasa yang sangat menarik sehingga orang yang mendengarkan hatinya tertaik untuk
masuk ke dalam masjid untuk mendekati gamelan yang sedang ditabuh, artinya dibunyikan
itu. dan mereka diperbolehkan masuk ke dalam masjid, akan tetapi terlebih dahulu harus
mengambil air wudlu di kolas masjid melalui pintu gapura. upacara yang demikian ini
mengandung simbolik, yang diartikan bahwa bagi barang siapa yang telah mengucapkan dua
kalimat syahadat kemudian masuk ke dalam masjid melalui gapura (dari Bahasa Arab
Ghapura) maka berarti bahwa segala dosanya sudah diampuni oleh Tuhan.
Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara
saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit) seni gamelan, seni lukis, seni
pakaian, seni ukir, seni pahat. dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh
sunan kalijaga (periode demak) diberi motiI 'burung di dalam beraneka macam. sebagai
gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah
lagi dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. di dalam bahasa kawi,
burung itu disebut 'kukila dan kata bahasa kawi ini jika dalam bahasa arab adalah dari
rangkaian kata : 'quu dan 'qilla atau 'quuqiila, yang artinya 'peliharalah ucapan (mulut)-
mu.
Hal mana dimaksudkan bahwa kain pakaian yang bermotiI kukila atau burung itu senantiasa
memperingatkan atau mendidik dan mengajar kepada kita, agar selalu baik tutur katanya,
inilah diantaranya jasa sunan kalijaga dalam hal seni lukis. Dalam hubungan ini dibuatnya
model baju kaum pria yang diberinya nama baju 'takwo, nama tersebut berasal berasal dari
kata bahasa arab 'taqwa yang artinya ta`at serta berbakti kepada Allah SWT.
Nama yang simbolik siIatnya ini, dimaksudkan untuk mendidik kita agar supaya selalu cara
hidup dan kehidupan kita sesuai dengan tuntunan agama. Nama Kalijaga menurut setengah
riwayat , dikatakan berasal dari rangkaian Bahasa Arab Qadli Zaka, Qadli artinya
pelaksana, penghulu : sedangkan Zaka artinya membersihkan. jadi Qodlizaka atau yang
kemudian menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga itu artinya ialah
pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan (kesucian) dan kebenaran agama
Islam.
Konon kabarnya Sunan Kalijaga itu usianya termasuk lanjut pula, sehingga dalam masa
hidupnya, beliau antara lain mengalami tiga kali masa pemerintahan, pertama jaman akhkh
Siti Jenar sesungguhnya tak ada disini, yang ada hanyalah Tuhan yang Sejati.
ujarnya pula :
'Awit seh lemang bang iku, wajahing pangeran jati. nadyan sira ngaturana, ing pangeran
kang sejati, lamun Syekh Lemah Bang ora, mansa kalakon yekti
Artinya :
Oleh karena Syekh Siti Jenar itu sesungguhnya adalah wajah wujudnya Tuhan sejati,
meskipun engkau menghadap kepada Tuhan yang sejati, manakala siti jenar tidak, maka
tidaklah hal itu akan terlaksana. pada waktu Maulana Maghribi memberi wejangan bahwa
yang disebut Tuhan Allah Sejati itu Wajibul Wujud (kang aran Allah jatine, wajibul wujud
kang ana), maka Syekh Siti Jenar pun menjawablah, katanya :
'Aja ana kakehan semu, iya ingsun iki Allah, nyata ingsun kang sejati, jejuluk Prabu Satmata,
tan ana liyan jatine, ingkang aran bangsa Allah
Artinya :
jangan kebanyakan semu, saya inilah Allah. saya sebetulnya bernama Prabu Satmata, dan
tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan. Oleh karena segala ucapan-ucapan dan ajaran-
ajaran Syekh Siti Jenar ini dipandang sangat membahayakan kepada rakyat, maka akhirnya
beliau pun dihukum mati oleh para wali. Jikalau kita ikuti segala ucapan-ucapan Siti Jenar
tersebut di atas, maka hal itu mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran dan ucapan-ucapan
salah seorang misticus yang masyhur, yaitu Al Hallaj (858-992). sebagaimana diketahui, Al
Hallaj pernah berkata:
'Annal haqq artinya : 'sayalah kebenaran yang sejati itu
kemudian katanya pula :
'wa`ma Ii jubbati illa-lah artinya 'dan tidak ada yang dalam jubah , melainkan Allah.
Disamping itu al hallaj juga pernah mengatakan :
'Telah bercampur rohmu dalam rohku, laksana bercampurnya chamar dengan air jernih bila
menyentuhi akanmu sesuatu, tersentuhlah aku, sebab itu engkau adalah aku
Dalam segala hal demikianlah pandangan hidupnya. ucapan dan ajarannya inilah yang
mengakibatkan dia dihukum mati di atas tiang gantungan, karena dianggap berbahaya dan
menyesatkan oleh pemerintah Bagdad. kedua ahli mistik, baik Al Hallaj maupun Syekh Siti
Jenar Iahamnya condong kepada ajaran pantheisme, kesatuan antara makhluk dengan khalik
Maha Penciptanya. dan keduanya pun mengalami pula nasib yang sama, karena mereka harus
menebus keyakinan hidupnya dengan hukuman mati.
Kemudian kita dapati pula ucapan Siti Jenar yang lain, yang tampak isinya lebih
mengutamakan hakekat daripada syari`at, katanya :
'Sahadat salat puwasa kawuri, apa dene jakat lawan pitrah, ujar iku dora kabehm nora kena
ginugu, Islam tetep durjaning budi, ngapusi kyehning titah, sinung swarga besuke, wong
bodo kanur ulama, tur nyatane pada bae ora uning, beda syekh siti jenar.
Selanjutnya berkatalah Syekh Siti Jenar :
'Tan mituhu salat lawan dikir, jengkang-jengking neng masjid ting krembyah, nora nana
ganjarane, yen wus ngapal batukmu, sejatine tanpa pinanggih, neng dunya bae pada susah
amemikul, lara sangsaya tan beda, marma siti jenar mung madep wajidi, gusti dat roning
kamal.
Demikianlah antara lain pandangan hidup serta ajaran-ajaran dari Syekh Siti Jenar. Dalam
riwayat dikatakan bahwa murid Syekh Siti Jenar adalah : Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng
Pengging, Pangeran Panggung, Ki Lontang.
Menengok konIlik Masa Lalu
Biasanya, konIlik yang terjadi di kalangan ulama -terutama ulama jaman dahulu, lebih
banyak diakibatkan karena persoalan (rebutan pengaruh) politik. Tidak hanya terjadi pada era
kiai-ulama masa kini, tapi sejak jaman Wali Songo-pun, konIlik seperti itu pernah terjadi.
Bahkan, sejarah Islam telah mencatat bahwa jenazah Muhammad Rasulullah SAW baru
dimakamkan tiga hari setelah waIatnya, dikarenakan para sahabat justru sibuk rebutan soal
posisi khaliIah pengganti Nabi (Tarikh Ibnu Ishak, ta`liq Muhammad Hamidi). Di era Wali
Songo -kelompok ulama yang 'diklaim oleh NU sebagai nenek-moyangnya dalam perihal
berdakwah dan ajarannya, sejarah telah mencatat pula terjadinya konIlik yang 'Ienomenal
antara Wali Songo (yang mementingkan syari`at) dengan kelompok Syekh Siti Jenar (yang
mengutamakan hakekat). KonIlik itu berakhir dengan Iatwa hukuman mati bagi Syekh Siti
Jenar dan pengikutnya. Sejarah juga mencatat bahwa dalam persoalan politik, Wali Songo
yang oleh masyarakat dikenal sebagai kelompok ulama penyebar agama Islam di Nusantara
yang cukup solid dalam berdakwah itu, ternyata juga bisa terpolarisasi ke dalam tiga kutub
politik; Giri Kedaton (Sunan Giri, di Gresik), Sunan Kalijaga (Adilangu, Demak) dan Sunan
Kudus (Kudus). Kutub-kutub politik itu memiliki pertimbangan dan alasan sendiri-sendiri
yang berbeda, dan sangat sulit untuk dicarikan titik temunya; dalam sidang para wali
sekalipun. Terutama perseteruan dari dua nama yang terakhir, itu sangat menarik. Karena
pertikaian kedua wali tersebut dengan begitu gamblangnya sempat tercatat dalam literatur
sejarah klasik Jawa, seperti: 'Babad Demak, 'Babad Tanah Djawi, 'Serat Kandha, dan
'Babad Meinsma.
Lagi-lagi, konIlik itu diakibatkan karena persoalan politik. Perseteruan yang terjadi antara
para wali itu bisa terjadi, bermula setelah Sultan Trenggono (raja ke-2 Demak) waIat. Giri
Kedaton yang beraliran 'Islam mutihan (lebih mengutamakan tauhid) mendukung Sunan
Prawata dengan pertimbangan ke-`alimannya. Sementara Sunan Kudus mendukung Aryo
Penangsang karena dia merupakan pewaris sah (putra tertua) dari Pangeran Sekar Seda Lepen
(kakak Trenggono) yang telah dibunuh oleh Prawata (anak Trenggono). Sedangkan Sunan
Kalijaga (aliran tasawuI, abangan) mendukung Joko Tingkir (Hadiwijaya), dengan
pertimbangan ia akan mampu memunculkan sebuah kerajaan kebangsaan nusantara yang
akomodatiI terhadap budaya.
Sejarah juga mencatat, konIlik para wali itu 'lebih seru bila dibandingkan dengan konIlik
ulama sekarang, karena pertikaian mereka sangat syarat dengan intrik politik yang kotor,
seperti menjurus pada pembunuhan terhadap lawan politik. Penyebabnya tidak semata karena
persoalan politik saja, tapi di sana juga ada hal-hal lain seperti: pergesekan pengaruh
ideologi, hegemoni aliran oleh para wali, pengkhianatan murid terhadap guru, dendam guru
terhadap murid, dan sebagainya.
Bahkan, De GraaI, seorang sejarawan Jawa dari Belanda, dengan begitu beraninya menilai
konIlik di antara para wali itu bukan hanya masalah hubungan antara guru dan murid belaka.
Bukan pula harus selalu dilihat dari segi spiritualnya, tapi sekolah agama dari para wali itu
bisa juga dilihat sebagai sebuah konsentrasi politik. Para wali yang terlibat konIlik itu
sesungguhnya tidak membatasi diri pada ajaran spiritual saja, tetapi juga memposisikan
dirinya sebagai ahli politik sejati, yang (terlalu) banyak ikut campur tangan terhadap
persoalan negara. Seperti misalnya, seseorang yang menjadi raja, berhak menyandang gelar
'Sultan bila telah mendapatkan 'restu dari Giri Kedaton. Model pola hubungan ulama-
umara seperti ini yang kemudian menjadi benih-benih pertikaian di antara wali sendiri.
Begitupun ketika pusat pemerintahan pindah dari Pajang ke Mataram. Sunan Kudus
'berbelok arah mendukung kubu Demak (Aria Pangiri, putra Sunan Prawata |kubu yang
sebelumnya dilenyapkan Arya Penangsang, jagoan Sunan Kudus|) untuk menguasai Pajang,
mengusir Pangeran Benawa (putra Sultan Hadiwijaya). Sementara Sunan Kalijaga
mendukung keturunan Pamanahan (Ki Gede Mataram) untuk mendirikan kerajaan baru yang
bernama Mataram.
Tidak hanya berhenti di situ. KonIlik politik para wali itu terus berlanjut hingga akhir hayat
mereka. Hingga anak cucu generasi mereka selanjutnya. Dan lebih memprihatinkan lagi,
ketika Sunan Amangkurat I (Raja Mataram ke-5, putra Sultan Agung Hanyokrokusumo)
membantai secara keji 6000 ulama ahlussunnah wal jama`ah di alun-alun Mataram, dengan
alasan 'mengganggu keamanan negara. Ini adalah sebagai bukti adanya imbas yang
berkepanjangan dari perseteruan ideologi para wali di era sebelumnya -di samping juga
karena Iaktor politik yang lain. Dan, gesekan-gesekan aliran keagamaan (ideologi) seperti itu,
di kemudian hari terus berlanjut, seolah-olah telah menjadi sebuah 'warisan masa kini.

AMALAn SunAn kALl !ACA
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah
Putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain
Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden
Abdurrahman.
erdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di
Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali),
atau jaga kali (penunggu sungai). Sedangkan versi yang lain mengatakan beliau menunggu
tungkat Sunan onang di tepi sungai. Apapun versinya yang jelas beliau mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan sungai.
Kemudian kaedah ini berkembang menjadi sebuah ritual Kum kum Sebuah teknik ritual
pernafasan tenaga dalam dan kebatinan yang di katakan sangat cepat membangunkan
tenaga dalaman dan tenaga kerohanian seseorang.
akta di atas saya kutipkan dari sebuah naskah kuno yang bertajuk Mertasinga yang
merupakan pesan yang disampaikan, oleh Syekh Ataullah, salah satu guru dari Sunan
Gunung Jati. Naskah ini diterjemahkan oleh apak Amman N. Wahjoe, yang memiliki
dokumen ini secara turun menurun dalam keluarganya dan kepada anak muridnya. Penulis
merupakan salah seorang yang terlibat dalam mengembangkan metode Sunan Kalijaga ini.


Kaedah kum kum ini merupakan sebuah Ritual kerohanian warisan Kanjeng Sunan Kalijaga
dan sangat popular bagi peminat ilmu kebatinan manunggaling kuala gusti menyatu tidak
bersatu, bercerai tidak berjauhan.
Sebuah konsep sufi yang sangat terkenal dengan keampuhan pembangkitan tenaga
kerohanian.
Dalam metode ini atau kaedah mengamalkan sesuatu kebatinan Versi Sunan Kalijaga ini
beberapa media tertentu .Media - media ini di perlukan sebagai saranan untuk meringankan
sukma dan membuka pintu tenaga dalaman anda.


RITA RAKYAT SUNAN PANDAN ARANG

Ki Pandan Arang I yang dalam pemerintahannya cukup cukup merasa sangat menderita dan
kecewa kerana putri kesayangan yang cantik jelita menderita sakit lumpuh. Segala iktiar
telah di lakukan , malangnya semua usaha beliau gagal dan tidak ada kemajuan. Putrinya
tetap lumpuh. Sehinggalah beliau mempunyai nadzar, barang siapa dapat menyembuhkan
putrinya akan diambil sebagai menantu.

Pads suatu hari Sunan Kalijaga memberitahu bahwa di Gunung Gede ada orang yang pandai
bernama Ranawijaya berasal dari Majapahit. Atas permintaan Ki Pandan Arang I, Ranawijaya
datang ke Kadipaten. Dengan doa khusus beliau mendoakan sang putri. Akhirnya sang Putri
dapat di sembuhkan . Akhirnya Ranawijaya diambil sebagai menantu.

Pada saat Ki Pandan Arang I meninggal dunia, Ranawijaya menggantikan dengan gelar Ki
Pandan Arang II. Daerahnya maju pesat, rakyatnya makmur termasuk perkembangan agama
Islam cukup memuaskan. Namun kemakmuran dan keberhasilan dalam pemerintahannya
membuat Ki Pandan Arang II lupa diri, ia jadi congkak, sombong dan kedekut. Ia selalu
mengejar harta walaupun sudah melimpah ruah.
Mengetahui keadaan semacam itu Sunan Kalijaga datang menyamar sebagai penjual rumput.
Dalam kesempatan tawar menawar disisipkan peringatan terhadap perilaku Ki Pandan Arang
II yang telah menyimpang dari ajaran agama Islam. erulang kali Sunan Kalijaga datang
memperingatkan namun tak dihiraukan. Akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan
kesaktiannya, setiap tanah yang dicangkulnya berubah menjadi sebongkah emas dan
diberikan kepada Pandan Arang.


Pandan Arang sangat heran terhadap kesaktian penjual rumput. Setelah diketahui bahwa
penjual rumput itu Sunan Kalijaga maka bersujud dan bertaubat. Pandan Arang melepaskan
kedudukannya sebagai Adipati ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga
menyanggupi mengajarkan ilmu di Gunung Jabalkat dengan syarat perjalanan yang di
tempuh tidak boleh membawa harta benda.

Setelah bulat tekadnya Pandan Arang bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju
Gunung Jabalkat, Dasar naluri seorang wanita, Nyi Pandan Arang memasukkan seluruh
perhiasannya dan sementara uang dinar ke dalam tongkat yang akan dibawanya. Dalam
perjalanan Nyi Pandan Arang tertinggal jauh dari suaminya. Dia dihadang tiga orang
penyamun. Direbutnya tongkat tongkatnya dan seluruh bawaannya. Kangmas, tolong! Ada
tiga orang penyamun! (Jawa: Kangmas, tulung! Wonten Tyang, salah, tiga.... lebih kurang
saya berbahasa jawa he he he ) .

Menurut yang punya cerita tempat itu sekarang diberi nama Salatiga (salah-tiga). Pada saat
Ni Pandan Arang kembali menolong istrinya, tiga orang penyamun itu marsh merebut
perhiasan yang dipakai Nyi Pandan Arang. Melihat sikap kasar para penyamun Ki Pandan
Arang menjadi marah. Hei! Manusia mengapa nekad seperti kambing domba (Jawa : E,
wong kok drufhus kaya wedhus).


Dengan izin Allah wajah Sambangdalan ( pemimpin penyamun ) itu berubah menjadl domba
atau kaldai. Para penyamun takut mefihat kesaktian Ki Pandan Arang. Sambangdalan
bertaubat dan minta supaya wajahnya dikembalikan seperti semula. Pandan Arang
memaafkan kesalahannya tetapi wajahnya tetap seperti domba. Sambangdalan akhirnya
menjadi pengikut Pandan Arang dan lebih dikenal dengan nama Syeh Domba....

Kesaktian Sunan Kalijaga
Dari Sunan Kali Jaga terus Ki Pandan Arang dan Akhirnya Syeh Domba. dikatakan memiliki
beberapa keilmuan kerohanian yang sangat luar biasa dengan Izin Allah. Menurut Guru
kepada guru saya yang mempunyai sejarah dan wasilah sehingga kepada Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga dikurniakan berbagai karomah dan kesaktian adalah disebabkan
mendekatkan dirinya dengan Allah sedekat dekatnya.
Menurut guru saya lagi. Apabila Allah mencintai kita maka terjadilah "pentajalian" segala
sifat-sifatnya terhadap terhadap hamba. Kata beliau lagi " bukan kamu yang melontar,
tapi Allah yang melontar, bukan kamu yang melihat tetapi Allah yang melihat".
Salah satu syair hasil karya sunan onang , oleh saya kutipkan disini terjemahan dari syair
yang aslinya berbahasa Jawa tersebut:
bat hati ada lima perkara.
Yang pertama, baca Quran dan maknanya
Yang kedua, shalat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Siapa yang bisa melakukan salah satunya
Semoga Tuhan memberikan penyembuhnya.
Syair Sunan onang
Jika pekara - pekara di atas anda jadikan panduan insyaallah, kita akan berjaya dalam
kehidupan dunia dan akhirat. Selain dari pekara yang telah saya sebutkan diatas Sunan
kalijaga mempunyai auratnya yang tersendiri. Menurut karangan kuno Mertasinga
mengatakan. Amalan atau aurat tersebut Sunan Kalijaga mendapatkan dari Sunan onang
secara wejangan di atas perahu.
Menurut ceritanya keampuhan amalan tersebut apa bila di bacakan pada sesuatu akan
memberi barokah. Ini terbukti sewatu amalan tersebut di Ijazahkan kepada sunan kalijaga,
kebetulan seekor cacing yang di sumpah dari seorang manusia. Mencuri dengar amalan
tersebut. Dengan Izin Allah segala sumpahan terhadap itu telah tamat dan terbatal. Maka
cacing tersebut bertukar menjadi seorang manusia yang bernama Syeh Siti Jenar. Ini
merupakan sebuah cerita rakyat yang kebenaranya hanyalah pembaca yang menilaikanya.


Maka amalan tersebut sangat di Rahsiakanya, menurut cerita rakyat sewaktu Sunan Kalijaga
mencangkul tanah dan menukarkanya menjadi Emas amalan ini di baca terus menerus.
Amalan ini di ajar turun temurun dari sunan Kali jaga kepada murid kesayangan beliau
sehinggalah kepada penulis.
Amalan tersebut adalah Doa Nurun Nurbuah yang sangat terkenal ini, Cuma bezanya adalah
kaedah cara mengamalkanya. Doa Nurun Nurbuah yang di amalkan dengan menggunakan
metode Kanjeng Sunan Kali Jaga. Adalah sangat berbeza dengan kaedah pengamalan yang di
pelajari dari pondok-pondok atau majlis Ilmu Kerohanian yang lain.Untuk pengetahuan anda
semua Doa Nurun Nurbuat mempunyai berbagai Versi. Varsi yang kami gunakan merupakan
Versi asal dari Wali sembilan Khususnya dari Kanjang Sunan Kalijaga. Menggunakan Metode
asal dan prasyarat dari Kanjeng Sunan Kalijaga.


Untuk Mengamalkan Doa Nurun Nurbuah menggunakan metode Sunan Kali Jaga Harab
menghubungi saya. Mahar seikhlasnya