Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan
keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai
suatu proses perubahan yang direncanakan mencakup semua aspek kehidupan
masyarakat. EIektiIitas dan keberhasilan pembangunan terutama ditentukan
oleh dua Iaktor, yaitu sumberdaya manusia, yakni (orang-orang yang terlibat
sejak dari perencanaan samapai pada pelaksanaan) dan pembiayaan. Diantara
dua Iaktor tersebut yang paling dominan adalah Iaktor manusianya.
Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari
keanekaragaman kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi ironisnya, negara
tercinta ini dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia bukanlah
merupakan sebuah negara yang kaya malahan termasuk negara yang miskin.
Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas
sumber daya manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi
pengetahuan atau intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dan
kepribadiannya. Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat kejujuran dari aparat
penyelenggara negara menyebabkan terjadinya korupsi.
Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah merupakan patologi social
(penyakit social) yang sangat berbahaya yang mengancam semua aspek
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Korupsi telah
mengakibatkan kerugian materiil keuangan negara yang sangat besar. Namun
yang lebih memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan dan pengurasan
keuangan negara yang dilakukan secara kolektiI oleh kalangan anggota
legislatiI dengan dalih studi banding, THR, uang pesangon dan lain
sebagainya di luar batas kewajaran. Bentuk perampasan dan pengurasan
keuangan negara demikian terjadi hampir di seluruh wilayah tanah air.


Hal itu merupakan cerminan rendahnya moralitas dan rasa malu,
sehingga yang menonjol adalah sikap kerakusan dan aji mumpung.
Persoalannya adalah dapatkah korupsi diberantas? Tidak ada jawaban lain
kalau kita ingin maju, adalah korupsi harus diberantas. Jika kita tidak berhasil
memberantas korupsi, atau paling tidak mengurangi sampai pada titik nadir
yang paling rendah maka jangan harap Negara ini akan mampu mengejar
ketertinggalannya dibandingkan negara lain untuk menjadi sebuah negara
yang maju. Karena korupsi membawa dampak negatiI yang cukup luas dan
dapat membawa negara ke jurang kehancuran.

B. #:2:8an Ma8alah
1. Apakah pengertian dari korupsi?
. Apa yang melatarbelakangi terjadinya korupsi?
3. Apakah macam-macam dari korupsi?
4. Apakah dampak dari korupsi?
5. Apa yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi?

. T::an
1. Untuk mengetahui pengertian korupsi.
. Untuk mengetahui penyebab atau latar belakang terjadinya korupsi.
3. Untuk mengetahui macam-macam dari korupsi.
4. Untuk mengetahui dampak adanya korupsi.
5. Untuk mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk
memberantas korupsi.








3

BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Kor:58i
Menurut ProI. Subekti, korupsi adalah suatu tindak perdana yang
memperkaya diri yang secara langsung merugikan negara atau perekonomian
negara. Jadi, unsur dalam perbuatan korupsi meliputi dua aspek. Aspek yang
memperkaya diri dengan menggunakan kedudukannya dan aspek penggunaan
uang negara untuk kepentingannya.
Sementara itu, Syed Hussen Alatas memberi batasan bahwa korupsi
merupakan suatu transaksi yang tidak jujur yang dapat menimbulkan kerugian
uang, waktu, dan tenaga dari pihak lain. Korupsi dapatberupa penyuapan
(bribery), pemerasan (extortion) dan nepotisme. Disitu ada istilah penyuapan,
yaitu suatu tindakan melanggar hukum, melalui tindakan tersebut si penyuap
berharap mendapat perlakuan khusus dari pihak yang disuap. Seseorang yang
menyuap izin agar lebih mudah menyuap pejabat pembuat perizinan. Agar
mudah mengurus KTP menyuap bagian tata pemerintahan. Menyuap dosen
agar memperoleh nilai baik.
Pemerasan, suatu tindakan yang menguntungkan diri sendiri yang
dilakukan dengan menggunakan sarana tertentu serta pihak lain dengan
terpaksa memberikan apa yang diinginkan. Sarana pemerasan bisa berupa
kekuasaan. Pejabat tinggi yang memeras bawahannya.
Sedangkan nepotisme adalah bentuk kerjasama yang dilakukan atas
dasar kekerabatan, yang bertujuan untuk kepentingan keluarga dalam bentuk
kolaborasi dalam merugikan keuangan negara.
Adapun ciri-ciri korupsi, antara lain:
1. Melibatkan lebih dari satu orang. Setiap perbuatan korupsi tidak mungkin
dilakukan sendiri, pasti melibatkan lebih dari satu orang. Bahkan, pada
perkembangannya acapkali dilakukan secara bersama-sama untuk
menyulitkan pengusutan.
4

. Serba kerahasiaan. Meski dilakukan bersama-sama, korupsi dilakukan
dalam koridor kerahasiaan yang sangat ketat. Masing-masing pihak yang
terlibat akan berusaha semaksimal mungkin menutupi apa yang telah
dilakukan.
3. Melibat elemen perizinan dan keuntungan timbal balik. Yang dimaksud
elemen perizinan adalah bidang strategis yang dikuasai oleh negara
menyangkut pengembangan usaha tertentu. Misalnya izin mendirikan
bangunan, izin perusahaan,dan lain-lain.
4. Selalu berusaha menyembunyikan perbuatan/maksud tertentu dibalik
kebenaran.
5. Koruptor menginginkan keputusan-keputusan yang tegas dan memiliki
pengaruh. Senantiasa berusaha mempengaruhi pengambil kebijakan agar
berpihak padanya. Mengutamakan kepentingannya dan melindungi segala
apa yang diinginkan.
. Tindakan korupsi mengundang penipuan yang dilakukan oleh badan
hukum publik dan masyarakat umum. Badan hukum yang dimaksud suatu
lembaga yang bergerak dalam pelayanan publik atau penyedia barang dan
jasa kepentingan publik.
. Setiap tindak korupsi adalah pengkhianatan kepercayaan. Ketika seseorang
berjuang meraih kedudukan tertentu, dia pasti berjanji akan melakukan hal
yang terbaik untuk kepentingan semua pihak. Tetapi setelah mendapat
kepercayaanm kedudukan tidak pernah melakukan apa yang telah
dijanjikan.
. Setiap bentuk korupsi melibatkan Iungsi ganda yang kontradiktiI dari
koruptor sendiri. Sikap dermawan dari koruptor yang acap ditampilkan di
hadapan publik adalah bentuk Iungsi ganda yang kontradiktiI. Di satu
pihak sang koruptor menunjukkan perilaku menyembunyikan tujuan untuk
menyeret semua pihak untuk ikut bertanggung jawab, di pihak lain dia
menggunakan perilaku tadi untuk meningkatkan posisi tawarannya.



5

B. Sebab-Sebab Yang Melatarbelakangi Teradinya Kor:58i
Korupsi dapat terjadi karena beberapa Iactor yang mempengaruhi
pelaku korupsi itu sendiri atau yang biasa kita sebut koruptor. Adapun sebab-
sebabnya, antara lain:
1. Klasik
a) Ketiadaan dan kelemahan pemimpin. Ketidakmampuan pemimpin
untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, merupakan peluang
bawahan melakukan korupsi. Pemimpin yang bodoh tidak mungkin
mampu melakukan kontrol manajemen lembaganya.kelemahan
pemimpin ini juga termasuk ke-leadership-an, artinya, seorang
pemimpin yang tidak memiliki karisma, akan mudah dipermainkan
anak buahnya. Leadership dibutuhkan untuk menumbuhkan rasa takut,
ewuh poakewuh di kalangan staI untuk melakukan penyimpangan.
b) Kelemahan pengajaran dan etika. Hal ini terkait dengan sistem
pendidikan dan substansi pengajaran yang diberikan. Pola pengajaran
etika dan moral lebih ditekankan pada pemahaman teoritis, tanpa
disertai dengan bentuk-bentuk pengimplementasiannya.
c) Kolonialisme dan penjajahan. Penjajah telah menjadikan bangsa ini
menjadi bangsa yang tergantung, lebih memilih pasrah daripada
berusaha dan senantiasa menempatkan diri sebagai bawahan.
Sementara, dalam pengembangan usaha, mereka lebih cenderung
berlindung di balik kekuasaan (penjajah) dengan melakukan kolusi dan
nepotisme. SiIat dan kepribadian inilah yang menyebabkan munculnya
kecenderungan sebagian orang melakukan korupsi.
d) Rendahnya pendidikan. Masalah ini sering pula sebagai penyebab
timbulnya korupsi. Minimnya ketrampilan, skill, dan kemampuan
membuka peluang usaha adalah wujud rendahnya pendidikan. Dengan
berbagai keterbatasan itulah mereka berupaya mencsri peluang dengan
menggunakan kedudukannya untuk memperoleh keuntungan yang
besar. Yang dimaksud rendahnya pendidikan di sini adalah komitmen
terhadap pendidikan yang dimiliki. Karena pada kenyataannya, para


koruptor rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang
memadai, kemampuan, dan skill.
e) Kemiskinan. Keinginan yang berlebihan tanpa disertai instropeksi diri
atas kemampuan dan modal yang dimiliki mengantarkan seseorang
cenderung melakukan apa saja yang dapat mengangkat derajatnya.
Atas keinginannya yang berlebihan ini, orang akan menggunakan
kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.
I) Tidak adanya hukuman yang keras, seperti hukuman mati, seumur
hidup atau di buang ke Pulau Nusakambangan. Hukuman seperti itulah
yang diperlukan untuk menuntaskan tindak korupsi.
g) Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku korupsi.

. Modern
a) Rendahnya Sumber Daya Manusia.
Penyebab korupsi yang tergolong modern itu sebagai akibat
rendahnya sumber daya manusia. Kelemahan SDM ada empat
komponen, sebagai berikut:
O Bagian kepala, yakni menyangkut kemampuan seseorang
menguasai permasalahan yang berkaitan dengan sains dan
knowledge.
O Bagian hati, menyangkut komitmen moral masing-masing
komponen bangsa, baik dirinya maupun untuk kepentingan bangsa
dan negara, kepentingan dunia usaha, dan kepentingan seluruh
umat manusia.komitmen mengandung tanggung jawab untuk
melakukan sesuatu hanya yang terbaik dan menguntungkan semua
pihak.
O Aspek skill atau keterampilan, yakni kemampuan seseorang dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
O isik atau kesehatan. Ini menyangkut kemanpuan seseorang
mengemban tanggung jawab yang diberikan. Betapa pun memiliki
kemampuan dan komitmen tinggi, tetapi bila tidak ditunjang


dengan kesehatan yang prima, tidak mungkin standar dalam
mencapai tujuann.
b) Struktur Ekonomi
Pada masa lalu struktur ekonomi yang terkait dengan kebijakan
ekonomi dan pengembangannya dilakukan secara bertahap. Sekarang
tidak ada konsep itu lagi. Dihapus tanpa ada penggantinya, sehingga
semuanya tidak karuan, tidak dijamin. Jadi, kita terlalu memporak-
perandakan produk lama yang bagus.

. Maca2-Maca2 Kor:58i
Tindak pidana korupsi yang dilakukan cukup beragam bentuk dan
jenisnya. Namun, bila diklasiIikasikan ada tiga jenis atau macamnya, yaitu
bentuk, siIat, dan tujuan.
1. Bentuk Korupsi
Bentuk korupsi terdiri atas dua macam, yaitu materiil dan immateriil.
Jadi korupsi tidak selamanya berkaitan dengan penyalahgunaan uang
negara.
Korupsi yang berkaitan dengan uang termasuk jenis korupsi materiil.
Seorang pejabat yang dipercaya atasan untuk melaksanakan proyek
pembangunan, karena tergoda untuk mendapatkan keuntungan besar
proyek yang nilainya Rp 1.000.000,00 di mark-up (dinaikkan) menjadi Rp
.000.000,00 bentuknya jelas penggelembungan nilai proyek yang terkait
dengan keuntungan uang.
Sedangkan yang immaterial adalah korupsi yang berkaitan dengan
pengkhianatan kepercayaan, tugas, dan tanggung jawab. Tidak disiplin
kerja adalah salah satu bentuk korupsi immaterial. Memang negara tidak
dirugikan secara langsung dalam praktik ini. Tetapi, akibat perbuatan itu,
pelayanan yang seharusnya dilakukan negara akhirnya terhambat.
Keterlambatan pelayanan inilah kerugian immaterial yang harus
ditanggung negara atau lembaga swasta. Begitu juga dengan mereka yang
secara sengaja memanIaatkan kedudukan atau tanggung jawab yang
dimiliki untuk mengeruk keuntungan pribadi.


. Berdasarkan SiIatnya
a) Korupsi Publik
Dari segi publik menyangkut nepotisme, Iraus, bribery, dan
birokrasi. Nepotisme itu terkait dengan kerabat terdekat. Segala
peluang dan kesempatan yang ada sebesar-besarnya digunakan untuk
kemenangan kerabat dekat. Kerabat dekat bisa keponakan, adik-kakak,
nenek atau kroni. raus, artinya, berusaha mempertahankan posisinya
dari pengaruh luar.
Berbagai cara dilakukan untuk kepentingan ini. Sodok kanan,
sikut kiri, suap kanan, suap kiri, semua dilakukan agar posisi yang
telah dicapai/diduduki tidak diambil pihak lain atau direbut orang lain.
Bribery, artinya pemberian upeti pada orang yang diharapkan dapat
memberikan perlindungan atau pertolongan bagi kemudahan usahanya.
Bribery juga memiliki dampak yang cukup signiIikan bagi kemajuan
usaha.
Namun, sasarannya, lebih tertuju pada out put (hasil kerja).
Birokrasi juga bagian tak terpisahkan dari praktik korupsi. Birokrasi
yang seharusnya berIungsi mempermudah memberikan pelayanan pada
masyarakat, justru berubah menjadi kendala pelayanan. Orang yang
datang meminta pelayanan pada birokrat seharusnya mendapat peta
yang jelas dari pintu mana dia memulai usahanya. Tetapi, sebaliknya,
orang langsung melihat ketidakjelasan terhadap apa yang diharapkan.
Birokrasi tidak diciptakan untuk kepentingan masyarakat, tetapi
kepentingan birokrat.

b) Korupsi Privat
Sisilain korupsi ditinjau dari privat, yang dimaksud privat ada dua,
yaitu badan hukum privat dan masyarakat. Praktik korupsi terjadi di
badan umum privat dan masyarakat terjadi karena adanya interaksi
antara badan hukum privat dengan birokrasi, antara masyarakat dengan
birokrasi.


Jadi, siIat interaksi yang terjadi adalah timbal balik. Interaksi
tersebut menghasilkan deal-deal tertentu yang saling menguntungkan.
Jadi, korupsi tidak hanya di lembaga-lembaga institusi negara, tetapi
dengan swasta bergulir, karena ada interaksi. Tanpa ada interaksi antar
swasta dengan pemerintah tidak akan terjadi.
Ada dua model korupsi, yaitu: pertama internal, yakni korupsi
yang dilakukan oleh orang dalam. Kedua internal-eksternal, yakni
kolaborasi antara sektok privat dengan publik.

3. Berdasarkan Tujuannya
Pada umumnya tujuan korupsi, untuk memperoleh keuntungan
pribadi, tetapi secara spesiIik meliputi empat tujuan sebagai berikut:
a) Politik, orang melakukan korupsi karena bertujuan politik. Praktik
korupsi dilakukan bersamaan dengan kegiatan politik praktis. Tujuan
utama korupsi jenis ini untuk mencapai kedudukan.
b) Di bidang ekonomi, dilakukan pun untuk kesuksesan bisnisnya.
Kurang lebih wujudnya sama, praktik korupsi disini juga dilakukan
dengan segala cara. Tetapi, sasarannya adalah pemegang kekuasaan.
Tujuannya ada dua, yaitu: pertama, mendapat kemudahan di bidang
perizinan dan pengembangan usaha. Kedua, untuk memperoleh akses
pasar. Monopoli adalah bentuk kongkret permainan korupsi di bidang
ekonomi.
c) Di bidang pendidikan. Lembaga yang seharusnya sebagai
kawahcandradimuka, tempat menggodok para calon penerus bangsa,
ternyata juga bisa menjadi lahan yang subur untuk praktik korupsi.
enomena jual beli gelar dan nilai adalah bukti kuat bahwa di lembaga
ini juga terjangkit korupsi.
d) Di bidang hukum, praktik korupsi ditujukan untuk memperoleh
Iasilitas dan perlindungan hukum. asilitas disini berupa kepastian
hukum terhadap bisnis atau usaha koruptor. Sedangkan, perlindungan
hukum menyangkut upaya dari si koruptor memainkan hukum hingga
bisa terbebas dari segala ancaman hukum pidana.
10

D. Da25ak yang Diakibatkan Oleh Tindak Pidana Kor:58i
1. Bidang Demokrasi
Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di
dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata
pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan
proses Iormal.
Korupsi di pemilihan umum dan di badan legislatiI mengurangi
akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di
sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum; dan korupsi di
pemerintahan publik menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan
masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari
pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan
pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat
yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai
demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.

. Bidang Ekonomi
Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi
kualitas pelayanan pemerintahan.
Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan
membuat distorsi dan ketidak eIisienan yang tinggi. Dalam sektor privat,
korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran
ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan
risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan.
Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi
ongkos (niaga) dengan mempermudah birokrasi, konsensus yang baru
muncul berkesimpulan bahwa ketersediaan sogokan menyebabkan pejabat
untuk membuat aturan-aturan baru dan hambatan baru. Dimana korupsi
menyebabkan inIlasi ongkos niaga, korupsi juga mengacaukan "lapangan
perniagaan". Perusahaan yang memiliki koneksi dilindungi dari persaingan
dan sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan-perusahaan yang tidak
eIisien.
11

Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di dalam sektor publik
dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat yang
mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin
menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan
praktek korupsi, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan.
Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan,
lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi
kualitas pelayanan pemerintahan dan inIrastruktur; dan menambahkan
tekanan-tekanan terhadap anggaran pemerintah.
Para pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu Iaktor
keterbelakangan pembangunan ekonomi di AIrika dan Asia, terutama di
AIrika, adalah korupsi yang berbentuk penagihan sewa yang
menyebabkan perpindahan penanaman modal (capital investment) ke luar
negeri, bukannya diinvestasikan ke dalam negeri (maka adanya ejekan
yang sering benar bahwa ada diktator AIrika yang memiliki rekening bank
di Swiss).
Berbeda sekali dengan diktator Asia, seperti Soeharto yang sering
mengambil satu potongan dari semuanya (meminta sogok), namun lebih
memberikan kondisi untuk pembangunan, melalui investasi inIrastruktur,
ketertiban hukum, dan lain-lain. Pakar dari Universitas Massachussetts
memperkirakan dari tahun 10 sampai 1, pelarian modal dari 30
negara sub-Sahara berjumlah US $1 triliun, melebihi dari jumlah utang
luar negeri mereka sendiri. (Hasilnya, dalam artian pembangunan (atau
kurangnya pembangunan) telah dibuatkan modelnya dalam satu teori oleh
ekonomis Mancur Olson).
Dalam kasus AIrika, salah satu Iaktornya adalah ketidak-stabilan
politik, dan juga kenyataan bahwa pemerintahan baru sering menyegel
aset-aset pemerintah lama yang sering didapat dari korupsi. Ini memberi
dorongan bagi para pejabat untuk menumpuk kekayaan mereka di luar
negeri, diluar jangkauan dari ekspropriasi di masa depan.


1

3. Bidang Kesejahteraan Negara
Korupsi politis ada dibanyak negara, dan memberikan ancaman
besar bagi warga negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan
pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok, bukannya rakyat luas.
Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus membuat peraturan yang
melindungi perusahaan besar, namun merugikan perusahaan-perusahaan
kecil (SME). Politikus-politikus "pro-bisnis" ini hanya mengembalikan
pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar
kepada kampanye pemilu mereka.


E. ara Me2beranta8 Tindak Pidana Kor:58i
1. Strategi PreventiI
Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan dengan diarahkan pada
hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya korupsi. Setiap penyebab yang
terindikasi harus dibuat upaya preventiInya, sehingga dapat meminimalkan
penyebab korupsi. Disamping itu perlu dibuat upaya yang dapat
meminimalkan peluang untuk melakukan korupsi dan upaya ini
melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaanya agar dapat berhasil dan
mampu mencegah adanya korupsi.

. Strategi DeduktiI
Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan
diarahkan agar apabila suatu perbuatan korupsi terlanjur terjadi, maka
perbuatan tersebut akan dapat diketahui dalam waktu yang sesingkat-
singkatnya dan seakurat-akuratnya, sehingga dapat ditindaklanjuti dengan
tepat. Dengan dasar pemikiran ini banyak sistem yang harus dibenahi,
sehingga sistem-sistem tersebut akan dapat berIungsi sebagai aturan yang
cukup tepat memberikan sinyal apabila terjadi suatu perbuatan korupsi.
Hal ini sangat membutuhkan adanya berbagai disiplin ilmu baik itu ilmu
hukum, ekonomi maupun ilmu politik dan sosial.

13

3. Strategi RepresiI
Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan
diarahkan untuk memberikan sanksi hukum yang setimpal secara cepat
dan tepat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam korupsi. Dengan dasar
pemikiran ini proses penanganan korupsi sejak dari tahap penyelidikan,
penyidikan dan penuntutan sampai dengan peradilan perlu dikaji untuk
dapat disempurnakan di segala aspeknya, sehingga proses penanganan
tersebut dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Namun implementasinya
harus dilakukan secara terintregasi.
Bagi pemerintah banyak pilihan yang dapat dilakukan sesuai dengan
strategi yang hendak dilaksanakan. Bahkan dari masyarakat dan para
pemerhati / pengamat masalah korupsi banyak memberikan sumbangan
pemikiran dan opini strategi pemberantasan korupsi secara preventiI maupun
secara represiI antara lain :
1. Konsep 'carrot and stick yaitu konsep pemberantasan korupsi yang
sederhana yang keberhasilannya sudah dibuktikan di Negara RRC dan
Singapura. Carrot adalah pendapatan netto pegawai negeri, TNI dan Polri
yang cukup untuk hidup dengan standar sesuai pendidikan, pengetahuan,
kepemimpinan, pangkat dan martabatnya, sehingga dapat hidup layak
bahkan cukup untuk hidup dengan 'gaya dan 'gagah. Sedangkan Stick
adalah bila semua sudah dicukupi dan masih ada yang berani korupsi,
maka hukumannya tidak tanggung-tanggung, karena tidak ada alasan
sedikitpun untuk melakukan korupsi, bilamana perlu dijatuhi hukuman
mati.
. Gerakan 'Masyarakat Anti Korupsi yaitu pemberantasan korupsi
di Indonesia saat ini perlu adanya tekanan kuat dari masyarakat luas
dengan mengeIektiIkan gerakan rakyat anti korupsi, LSM, ICW, Ulama
NU dan Muhammadiyah ataupun ormas yang lain perlu bekerjasama
dalam upaya memberantas korupsi, serta kemungkinan dibentuknya
koalisi dari partai politik untuk melawan korupsi. Selama ini
pemberantasan korupsi hanya dijadikan sebagai bahan kampanye untuk
14

mencari dukungan saja tanpa ada realisasinya dari partai politik yang
bersangkutan. Gerakan rakyat ini diperlukan untuk menekan pemerintah
dan sekaligus memberikan dukungan moral agar pemerintah bangkit
memberantas korupsi.
3. Gerakan 'Pembersihan yaitu menciptakan semua aparat
hukum (Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan) yang bersih, jujur, disiplin,
dan bertanggungjawab serta memiliki komitmen yang tinggi dan berani
melakukan pemberantasan korupsi tanpa memandang status sosial untuk
menegakkan hukum dan keadilan. Hal ini dapat dilakukan dengan
membenahi sistem organisasi yang ada dengan menekankan prosedur
structure Iollows strategy yaitu dengan menggambar struktur organisasi
yang sudah ada terlebih dahulu kemudian menempatkan orang-orang
sesuai posisinya masing-masing dalam struktur organisasi tersebut.
4. Gerakan 'Moral yang secara terus menerus mensosialisasikan bahwa
korupsi adalah kejahatan besar bagi kemanusiaan yang melanggar harkat
dan martabat manusia. Melalui gerakan moral diharapkan tercipta kondisi
lingkungan sosial masyarakat yang sangat menolak, menentang, dan
menghukum perbuatan korupsi dan akan menerima, mendukung, dan
menghargai perilaku anti korupsi. Langkah ini antara lain dapat dilakukan
melalui lembaga pendidikan, sehingga dapat terjangkau seluruh lapisan
masyarakat terutama generasi muda sebagai langlah yang eIektiI
membangun peradaban bangsa yang bersih dari moral korup.
5. Gerakan 'PengeIektiIan Birokrasi yaitu dengan menyusutkan jumlah
pegawai dalam pemerintahan agar didapat hasil kerja yang optimal
dengan jalan menempatkan orang yang sesuai dengan kemampuan dan
keahliannya. Dan apabila masih ada pegawai yang melakukan korupsi,
dilakukan tindakan tegas dan keras kepada mereka yang telah terbukti
bersalah dan bilamana perlu dihukum mati karena korupsi adalah
kejahatan terbesar bagi kemanusiaan dan siapa saja yang melakukan
korupsi berarti melanggar harkat dan martabat kehidupan.


15

BAB III
PENUTUP


A. Ke8i25:lan
Korupsi adalah suatu tindak perdana yang memperkaya diri yang secara
langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam
perbuatan korupsi meliputi dua aspek. Aspek yang memperkaya diri dengan
menggunakan kedudukannya dan aspek penggunaan uang negara untuk
kepentingannya.
Adapun penyebabnya antara lain, ketiadaan dan kelemahan pemimpin,
kelemahan pengajaran dan etika, kolonialisme, penjajahan rendahnya
pendidikan, kemiskinan, tidak adanya hukuman yang keras, kelangkaan
lingkungan yang subur untuk perilaku korupsi, rendahnya sumber daya
manusia, serta struktur ekonomi.
Korupsi dapat diklasiIikasikan menjadi tiga jenis, yaitu bentuk, siIat,
dan tujuan.
Dampak korupsi dapat terjadi di berbagai bidang diantaranya, bidang
demokrasi, ekonomi, dan kesejahteraan negara.


B. Saran
Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak dini.
Dan pencegahan korupsi dapat dimulai dari hal yang kecil.







1

DAFTA# PUSTAKA



1. Http://library.usu.ac.id/download/Iisip/Iisip-erika1.pdI
. http://id.wikipedia.org/wiki/korupsi
3. Muzadi, H. 004. Menuju Indonesia Baru, Strategi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Malang : Bayumedia Publishing.
4. Lamintang, PA dan Samosir, Djisman. 15. Hukum Pidana Indonesia.
Bandung : Penerbit Sinar Baru.
5. Saleh, Wantjik. 1. Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia. Jakarta :
Ghalia Indonesia.




















1

KATA PENGANTA#



Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas ini. Makalah ini menyajikan rangkuman materi
tentang ' #&!$ '.
Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada orang-oarang yang
ikut membantu terutama orang tua dalam segi materi dan pada guru yang telah
membimbing kami.
Dan juga kami mohon ma`aI sebesar-besarnya karena sebaik-baiknya kami
mengerjakan makalah ini pasti ada kesalahan tapi kami sudah berusaha
semaksimal mungkin.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanIa`at bagi orang yang membaca
khususnya kami yang mwmbuatnya. Amin.




Penulis









1

DAFTA# ISI

KATA PENGANTA# .................... i
DAFTA# ISI ......................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................... 1
A. Latar Belakang ..................... 1
B. Rumusan Masalah ....................
C. Tujuan ........................
BAB II PEMBAHASAN ................... 3
A. Pengertian Korupsi .................. 3
B. Sebab-Sebab Yang Melatarbelakangi Terjadinya Korupsi .... 5
1. Klasik ...................... 5
. Modern ......................
C. Macam-Macam Korupsi .................
1. Bentuk Korupsi ...................
. Berdasarkan SiIatnya .................
3. Berdasarkan Tujuannya ................
D. Dampak yang Diakibatkan Oleh Tindak Pidana Korupsi .... 10
1. Bidang Demokrasi ................. 10
. Bidang Ekonomi ................... 10
3. Bidang Kesejahteraan Negara ............. 1
E. Cara Memberantas Tindak Pidana Korupsi .......... 1
1. Strategi PreventiI ................... 1
. Strategi DeduktiI .................. 1
3. Strategi RepresiI ................... 13
BAB III PENUTUP ..................... 15
A. Kesimpulan ..................... 15
B. Saran ........................ 15
DAFTA# PUSTAKA ..................... 1



1

MAKALAH

~ KO#UPSI ~




Di8:8:n Oleh:



Ma8 Azi8t
( Bany:Gro:5 Warnet dan ell:ler )







FO#UM PELA1A#
BANYUG#OUP WA#NET DAN ELLULE#
1ln. Wonoharo-Sido2:lyo No. 25 Pangandaran 46396
Phone : +6287826456567, +6285310252853.