Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembaharuan di India Pakistan sebagaimana yang dilakukan oleh Sayyid
Amir Ali dkk. Telah memberikan kontribusi yang berpengaruh bagi
perkembangan di India Pakistan . Pemikiran pertama yang kembali kesejarah
lama untuk membawa bukti bahwa agama islam adalah agama rasional dan
agama kemajuan ialah Sayyid Amir Ali. Bukannya The SIirit OI Islam di
cetak pertama kali di tahun 1891, dalam bukunya itu ia kupas ajaran-ajaran
islam mengenai tauhid, ibadat, hari akhirat, kedudukan wanita
perbudakan, sistem politik, dan sebagainya. Dan sebagaimana
pembaharuan Iqbal, Jinnah, Abu Kalam Azat dan Abu A`la Al-maududi juga
memberikan kontribusi yang sangat penting bagi di India Pakistan


B. Pembahasan Masalah
India merupakan salah satu negara yang melahirkan beberapa tokoh besar
dalam dunia intelektual Islam. Di mana dari buah pemikiran mereka, lahirlah
berbagai macam pergerakan di negeri tersebut. Mereka itu seperti, Muhammad
AaIqbal, Muhammad Ali Jinnah, Sayyid Ahmad Khan, dan lain sebagainya.
Umat Islam di India sejak saat itu mulai merasakan ada suatu pencerahan
baru dari dilema dan stagnasi pemikiran yang terendap sejak berabad-abad
lamanya.






BAB II


PEMBAHASAN


A. Sejarah Singkat Gerakan Pembaruan Islam India - Pakistan
Sejarah telah membuktikan bahwa puncak kejayaan umat Islam tidak lah
berlangsung langgeng. Realitas ternyata telah berkata lain, perkembangan
Islam yang telah mengalami kemajuan pesat pada masa Umayyah dan
perkembangan intelektual, terkhusus, pada masa Abbasiyah tidak diikuti oleh
periode-periode kepemimpinan Islam pada masa selanjutnya. Apalagi, ketika
terjadi perang salib, aabad 1-an, kejayaan Islam tearasa semakin redup baik
pada aspek politik, kekuasaan, maupun perkembangan intelektual.
Fenomena tersebut ternyata membawa dampak kemunduran dan
kemandekan yang cukup lama dalam dunia Islam, terkhusus perkembangan
intelektual. Hal ini nampaknya baru disadari oleh para cendikiawan Muslim di
sekitar abad 19 -an. Sehingga pada masa tersebut, muncullah para
cendikiawan Muslim yang melakukan gerakan-gerakan untuk membangkitkan
kejayaan Islam kembali. Hal itu terjadi mulai dari kawasan Mesir, Turki, India
sampai dengan daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Perkembangan intelektual Islam di daratan India telah melahirkan tokoh-
tokoh besar Muslim. Hasil pemikiran mereka telah membawa perubahan bagi
wacana dan realitas kehidupan Muslim di India. Kelahiran Pakistan dan
Bangladesh adalah salah satu Iakta dari wujud keberhasilan pergerakan Islam
yang mengusung genderang kebangkitan Islam dari keterpurukan dan
ketertindasan menuju kesejahteraan.
Berbagai pemikiran intelektual, seperi Iqbal, Ali Jinah, Sayyid Ahmad
Khan, dan lain sebaginya, membawa pengaruh yang besar terhadap perubahan
wacana politis. Fakta tarik-menarik antara Islam dan politik di Pakistan
menunjukkan bahwa Islam hanya dapat mewujudkan dalam bentuk ideologi.
Namun dalam penjabarannya belum mencapai konsensus nasional karena
masih belum ada titik temu anatar kelompok modrenis dengan kelompok
tradisionalis.


Dan dalam perkembangan intelektualisme Muslim dunia, poin utama
peran pemikiran para pemikir dari daratan India ini, yakni bahwa menekankan
pentingnya ijtihad yang tidak tertutup serta pengembangan dan penguasaan
sains dalam Islam adalah prasyarat pokok bagi kemajuan dann kebangkitan
Islam untuk mampu mengejar keterpurukan dan kemandekan intelektual
Islam.


B. Pembaharuan Di India-Pakistan Dan Para Tokohnya.
Pembaharuan di India Pakistan sebagaimana yang dilakukan oleh Sayyid
Amir Ali dkk. Telah memberikan kontribusi yang berpengaruh bagi
perkembangan di India Pakistan . Pemikiran pertama yang kembali kesejarah
lama untuk membawa bukti bahwa agama islam adalah agama rasional dan
agama kemajuan ialah Sayyid Amir Ali. Bukannya The SIirit OI Islam di
cetak pertama kali di tahun 1891, dalam bukunya itu ia kupas ajaran-ajaran
islam mengenai tauhid, ibadat, hari akhirat, kedudukan wanitaperbudakan,
sistem politik, dan sebagainya. Dan sebagaimana pembaharuan Iqbal, Jinnah,
Abu Kalam Azat dan Abu A`la Al-maududi juga memberikan kontribusi yang
sangat penting bagi di India Pakistan

1. Sayyid Amir Ali
Sayyid Amir Ali berasal dari keluarga syiah yang di zaman Nadir
syah (17-1747) pindah dari khurusan di persia di india . Keluarga itu
kemudian bekerja di di istana Raja mughal. Sayyid Amir Ali lahir pada
tahun 1849, dan meninggal pada usia tujuh puluh sembilan pada tahun
198. pendidikanya diperoleh di perguruan tinggi muhsiniyya yang berada
di dekat kalkulta.
Di tahun 189 ia pergi keinggris untuk meneruskan studi dan
selesai pada tahun 187 dengan memproleh keserjanaan dalam
bidanghukum. Selesai dari studi ia kembali ke indiadan pernah bekerja
4

sebagai pemerintah inggris, pengcara, hakim dan guru besar dalam hukum
islam.
Di tahun 1877 ia membentuk National muhammedan association.
Sebagai persatuan umat islam India , dan tujuannya ialah untuk membela
kepentingan umat islam dan untuk melatih mereka dalam dunia politik.
Dan pada tahun 188 ia di angkat menjadi salah satu dari ke tiga anggota
Majlis Wakil Raja Ingris di india.. Ia adalah satu-satunya anggota islam
pada majelis itu.
Di tahun 1904, ia meninggalkan india dan menetap untuk selama-
lamanya di inggris. Setelah berdiri liga muslim india di tahun 190 ia
membentuk perkumpulan itu di london. Tetapi dalam gerakan khaliIah
yang di lancarkan Muhammad Ali di india untuk mempertahankan wujud
khaliIah di istambul yang hendak di hapuskan kemal attaturk, ia turut
mengambil bahagian yang aktiI dari london.
Sayyid Amir Ali berpendapat dan berkenyakinan bahwa islam
bukanlah agama yang membawa kepada kemunduran. Sebaliknya islam
adalah agama yang membawa kepada kemajuan dan untuk membuktikan
hal itu ia kembali kesejarah islam kelasik. Karena ia banyak menonjolkan
kejayaan islam di masa lampau ia di cap penulis-penulis Orientalis,
seorang apologis, seorang yang memuja dan rindu kepada masa lampau
dan mengatakan kepada lawan : kalau kamu sedang maju sekarang, kami
juga pernah mempunyai kemajuan di masa lampau.
Pemikiran pertama yang kembali kesejarah lama untuk membawa
bukti bahwa agama islam adalah agama rasional dan agama kemajuan
ialah Sayyid Amir Ali. Bukannya The SIirit OI Islam di cetak pertama kali
di tahun 1891, dalam bukunya itu ia kupas ajaran-ajaran islam mengenai
tauhid, ibadat, hari akhirat, kedudukan wanitaperbudakan, sistem politik,
dan sebagainya.


. Iqbal


Jika ingin memahami iqbal dn siniIikasinya pesannya, kita perlu
mengetahui kondisi anak benua India selama masa hidup Iqbal suatu masa
yang berpuncak pada iqbal sendiri. Kita tidak akan mengerti makna pesan
iqbal sesungguhnya tanpa menelaah ini, melodi lagunya, dan nyala batin
yang membuatnya terus-menerus berjuang. Anak benua India mengalami
Iase paling sulit dalam sejarahnya selama masa hidup Iqbal.(ali,00:)
Iqbal berasal dari keluarga miskin, dengan mendapatkan beasiswa dia
mendapat pendidikan bagus. Keluarga Iqbal berasal dari keluarga
Brahmana Kashmir yang telah memluk agama Islam sejak tiga abad
sebelum kelahiran Iqbal, dan menjadi penganut agama Islam yang taat.
Pada usia sekolah, Iqbal belajar Al Qur`an di surau. Disinilah Iqbal
banyak hapal ayat-ayat Al Qur`an yang selanjutnya jadi rujukan
pengembangan gagasannya dalam pembaharuan keislamannya.
Selanjutnya di meneruskan ke Scottish Mission School, Sialkot . Disini dia
bertemu guru ternama sekaligus teman karib ayahnya, Sayid Mir Hasan.
Pengaruh Mir Hasan ini sangat kuat pada dirinya ini dibuktikannya dengan
menolak pemberian gelar Sir oleh pemerintah inggris pada tahun 19,
sebelum gurunya mendapat gelar kehormatan pula, yaitu Syams al-
Ulama.
Dalam sebuah sajaknya Iqbal mengakuinya : ' Cahaya dari
keluarga Ali yang penuh berkah Pintu gerbangnya dibersihkan senatiasa
Bagiku bagaikan Kabah Nafasnya menumbuhkan tunas keinginanku,
penuh gairah hingga menfadi kuntum bunga yang merekah indah Daya
kritis tumbuh dalam diriku oleh cahayanya yang ramah '.
Pada tahun 189 Iqbal menyelesaikan pelajarannya di Scottish dan
pergi ke Lahore. Disini ia melanjutkan studi Government College gurunya
adalah - Sir Thomas Arnold. Disini dia mendapatkan dua kali medali emas
karena baiknya bahasa Inggris dan Arab karena kejeniusannya pula dia
menjadi mahasiswa kesayangan Sir Thomas Arnold. Arnoldlah yang
mendorongnya agar -melanjutkan pendidikannya ke Inggris karena
melihat kejeniusan Iqbal. Setelah selesai di Government College Iqbal


belajar ke Eropa pada tahun 190. Dari sini pengembangan intelektual
Iqbal dimulai.
Iqbal memilih melanjutkan di Cambridge University, Inggris, ia
belajar IilsaIat dengan Mc. Taggart, kemudian mengambil gelar doktor
(Ph.D) di Munich, Jerman dan lulus pada tahun1908 dengan disertasi
berjudul The development oI Methapysics oI Persia. Didalam disertasi
inilah Iqbal mengkritik tajam ajaran tasawwuI dengan mengatakan tidak
mempunyai dasar yang kukuh dan historis dalam ajaran Islam yang murni.
Iqbal melihat ada nilai-nilai baik yang transendental yang tak dimiliki oleh
Eropa. Barat, menurut Iqbal, kehilangan semangat spritual dan terlalu
menumpukan pada rasio dalam menjawab setiap problematika.eskipun
ia mengakui Eropa baik, tapi ia yakin Islam lebih baik .
Dia kembali dari Eropa sebagai Pan-Islamis bahkan bisa dikatakan
sebagai puritan. Perubahan spritual dan ideologis Iqbal makin dalam dari
nasionalis menjadi kampiun kebangsaan Muslim dia merasa yakin bahwa
antara Hindu dan Islam harus punya negara masing-masing secara terpisah
dan tindakannya sendiri sudah jelas.
Pemikiran Iqbal Tentang Sumber Hukum Islam, Yaitu :
1) Al-Qur`an
Sebagai seorang Islam yang di didik dengan cara kesuIian
(mizan,1944:44) , Iqbal percaya kalau al-Qur`an itu memang benar
diturunkan oleh Allah kepada - Nabi Muhammad dengan perantara
Malaikat Jibril dengan sebenar-benar percaya, kedudukannya adalah
sebagai sumber hukum yang utama dengan pernyataannya 'The
Qur`an is a book which emphazhise deed` rather than idea` ' (al
Qur`an adalah kitab yang lebih mengutamakan amal daripada cita-cita)
Namun demikian dia menyatakan bahwa bukanlah al Qur`an itu
suatu undang-undang. Dia dapat berkembang sesuai dengan perubahan
zaman, pintu ijtihad tidak pernah tertutup.
Tujuan sebenarnya al Qur`an adalah - membangkitkan kesadaran
manusia yang lebih tinggi dalam hubungannya dengan Tuhan dan alam
7

semesta, Qaur`an tidak memuatnya secara detail maka manusialah
dituntut pengembangannya.Ini didalam rumusan Iiqh dikembangkan
dalam prinsip ijtihad, oleh iqbal disebut prinsip gerak dalam struktur
Islam.
Disamping itu al Qur`an memandang bahwa kehidupan adalah
satu proses cipta yang kreatiI dan progresiI. Oleh karenanya, walaupun
al Qur`an tidak melarang untuk mempertimbangkan karya besar
ulama terdahulu, namun masyarakat juga harus berani mencari
rumusan baru secara kreatiI dan inovatiI untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan yang mereka hadapi.. ' Akibat pemahaman yang
kaku terhadap pendapat ulama terdahulu, maka ketika masyarakat
bergerak maju, hukum tetap berjalan di tempatnya.
Akan tetapi, kendatipun Iqbal sangat menghargai perubahan dan
penalaran ilmiah dalam memahami al Qur`an, namun dia melihat ada
dimensi-dimensi didalam al Qur`an yang sudah merupakan ketentuan
yang baku dan tidak dapat dirubah serta harus dikonservasikan, sebab
ketentuan itu berlaku konstan. Menurutnya para mullah dan suIi telah
membawa umat Islam jauh dari maksud al Qur`an sebenarnya.
Pendekatan mereka tentang hidup menjadi negatiI dan Iatalis. Iqbal
mengeluh ketidakmampuan umat Islam India dalam mamahami - al -
Qur`an disebabkan ketidakmampuan terhadap memahami bahasa Arab
dan telah salah impor ide-ide India ( Hindu ) dan Yunani ke dalam
Islam dan - al-Qur`an. Dia begitu terobsesi untuk menyadarkan umat
islam untuk lebih progresiI dan dinamis dari keadaan statis dan stagnan
dalam menjalani kehidupan duniawi.
Karena berdasarkan pengalaman, agama Yahudi dan Kristen telah
gagal menuntun umat manusia menjalani kehidupan. Kegagalan
Yahudi disebabkan terlalu mementingkan segi-segi legalita dan
kehidupan duniawi. Sedangkan Kristen gagal dalam memberikan nilai-
nilai kepada pemeliharaan negara, undang-undang dan organisasi,
karena lebih mementingkan segi-segi ritual dan spritual saja. Dalam
8

kegagalan kedua agama tersebut al-Qur`an berada ditengah-tengah dan
sama-sama mementingkan kehidupan individual dan sosial ;ritual dan
moral. Al-Qur`an mengajarkan keseimbangan kedua sisi kehidupan
tersebut, tanpa membeda-bedakannya. Baginya antara politik
pemerintahan dan agama tidak ada pemisahan sama sekali, inilah yang
dikembangkannya dalam merumuskan ide berdirinya negara Pakistan
yang memisahkan diri dari India yang mayoritas Hindu.
Pandangan Iqbal tentang kehidupan yang equilbirium antara moral
dan agama ; etik dan politik ; ritual dan duniawi, sebenarnya bukanlah
hal yang baru dalam pemikiran Islam. Namun, dalam perjalanan
sejarah, pemikiran demikian terkubur bersama arus kehidupan politik
umat Islam yang semakin memburuk, terutama sejak keruntuhan dan
kehancuran Bagdad, 18. sehingga masyarakat Islam tidak mampu
lagi menangkap visi dinamis dalam doktrin Islam - (al-Qur`an).
Akhirnya walaupun tidak ditegaskan kedalam konsep oleh para
mullah lahirlah pandangan pemisahan antara kehidupan dunia dan
agama yang menyeret umat untuk meninggalkan kehidupan duniawi,
akibatnya, hukum pun menjadi statis dan al-Qur`an tidak mampu di
jadikan sebagai reIerensi utama dalam hal menjawab setiap
problematika.
Inilah yang terjadi dalam lingkungan sosial politik umat Islam.
Oleh sebab itu, Iqbal ingin menggerakkan umat Islam untuk kreatiI
dan dinamis dalam menghadapi hidup dan menciptakan perubahan-
perubahan dibawah tuntunan ajaran al Qur`an. Nilai-nilai dasar
ajaran al Qur`an harus dapat dikembangkan dan digali secara serius
untuk dijadikan pedoman dalam menciptakan perubahan itu. Kuncinya
adalah dengan mengadakan pendekatan rasional al Qur`an dan
mendalami semangat yang terkandung didalamnya, bukan
menjadikannya sebagai buku Undang-undang yang berisi kumpulan
peraturan-peraturan yang mati dan kaku.
9

Akan tetapi, kendatipun Iqbal sangat menghargai perubahan dan
penalaran ilmiah dalam memahami al Qur`an, namun ia melihat ada
dimensi-dimensi didalam al Qur`an yang sudah merupakan ketentuan
yang baku dan tidak dapat dirubah serta harus di konservasikan (
pertahankan), sebab ketentuan itu berlaku konstan.

) Al-Hadist
Sejak dulu hadist memang selalu menjadi bahan yang menarik
untuk dikaji. Baik umat Islam maupun kalangan orientalis. Tentu saja
maksud dan titik berangkat dari kajian tersebut berbeda pula. Umat
Islam didasarkan pada rasa tanggung jawab yang begitu besar terhadap
ajaran Islam. Sedangkan orientalis mengkajinya hanya untuk
kepentingan ilmiah. Bahkan terkadang hanya untuk mencari
kelemahan ajaran Islam itu lewat ajaran Islam itu sendiri.
Kalangan orientalis yang pertama kali melakukan studi tentang
hadist adalah Ignaz Goldziher. Menurutnya sejak masa awal Islam dam
masa-masa berikutnya , mengalami proses evolusi, mulai dari sahabat
dan seterusnya hingga menjadi berkembang di mazhab-mazhab Iiqih.
Iqbal menyimpulkan bahwa dia tidak percaya pada seluruh hadist
koleksi para ahli hadist. (Iqbal, 1994 : 74-7)
Iqbal setuju dengan pendapat Syah Waliyullah tentang hadist, yaitu
cara Nabi dalam menyampaikan Da`wah Islamiyah adalah
memperhatikan kebiasaan, cara-cara dan keganjilan yang dihadapinya
ketika itu. Selain itu juga Nabi sangat memperhatikan sekali adat
istiadat penduduk setempat. Dalam penyampaiannya Nabi lebih
menekankan pada prinsip-prinsip dasar kehidupan sosial bagi seluruh
umat manusia, tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Jadi peraturan-
peraturan tersebut khusus untuk umat yang dihadapi Nabi. Untuk
generasi selanjutnya, pelaksanaannya mengacu pada prinsip
kemaslahatan. Dari pandangan ini Iqbal menganggap wajar saja kalau
Abu haniIah lebih banyak mempergunakan konsep istihsan dari pada
10

hadist yang masih meragukan kualitasnya. Ini bukan berarti hadist-
hadist pada zamannya belum dikumpulkan, karena Abdul Malik dan
Al Zuhri telah membuat koleksi hadist tiga puluh tahun sebelum Abu
HaniIah waIat. Sikap ini diambil Abu HaniIah karena ia memandang
tujuan-tujuan universal hadist daripada koleksi belaka.
Oleh karenanya, Iqbal memandang perlu umat Islam melakukan
studi mendalam terhadap literatur hadist dengan berpedoman langsung
kepada Nabi sendiri selaku orang yang mempunyai otoritas untuk
menaIsirkan wahyu-Nya. Hal ini sangat besar Iaedahnya dalam
memahami nilai hidup dari prinsip-prinsip hukum Islam sebagaimana
yang dikemukakan al Qur`an.
Pandangan Iqbal tentang pembedaan hadist hukum dan hadist
bukan hukum agaknya sejalan dengan pemikiran ahli ushul yang
mengatakan bahwa hadist adalah penuturan, perbuatan dan ketetapan
Nabi saw.yang berkaitan dengan hukum; seperti mengenai kebiasaan-
kebiasaan Nabi yang bersiIat khusus untuknya, tidak wajib diikuti dan
diamalkan.

) Jinnah
Muhammad Ali Jinnah adalah anak seorang saudagar dan lahir di
Karachi pada tanggal Desember 187. Di masa remaja ia telah pergi
ke London untuk meneruskan studi dan di sanalah ia memperoleh
kesarjanaannya dalam bidanghukum di tahun 189. Pada tahun itu juga
ia kembali ke India dan bekerja sebagai pengacara di Bombay. Tiada
lama sesudah itu ia menggabungkan diri dengan Partai Kongres.
Pada tahun 191 itu juga Jinnah dipilih menjadi Presiden Liga
Muslimin. Pada waktu itu ia masih mempunyai keyakinan bahwa
kepentingan umat Islam India dapat dijamin melalui ketentuan-
ketentuan tertentu dalam Undang-Undang Dasar. Untuk itu ia
mengadakan pembicaraan dan perundingan dengan pihak Kongres
Nasional India. Salah satu hasil dari perundingan ialah perjanjian
11

Lucknow 191. menurut perjanjian itu ummat Islam India akan
memperoleh daerah pemilihan terpisah dan ketentuan ini akan
dicantumkan dalam Undang-Undang Dasar India yang akan disusun
kelak kalau telah tiba waktunya.

Selanjutnya dalam KonIerensi Meja Bundar London yang diadakan
pada tahun 190-19 ia menjumpai hal-hal yang menimbulkan perasaan
kecewa dalam dirinya. Ia memutuskan mengundurkan diri dari lapangan
polotik dan menetap di London. Di sana ia bekerja sebagai pengacara.
Dalam pada itu Liga Muslimin perlu pada pimpinan baru lagi aktiI, maka
di tahun 194 ia diminta pulang oleh teman-temannya dan pada tahun itu
juga ia dilih menjadi Ketua tetap dari Liga Muslimin. Dibawah pimpinan
Jinnah kali ini, Liga Muslimin berobah menjadi gerakan rakyat yang kuat.
Dengan adanya perkembangan ini ummat Islam India, tiba-tiba mulai
sadar, demikian Al-Biruni menulis, bahwa apa yang ditakutkan Sir Sayyid
Ahmad Khan dan Vigar Al-Mulk sebelumnya, sekarang mulai menjadi
kenyataan, kekuasaan Hindu mulai terasa. Para Perdana Menteri Punjab,
Bengal dan Sindi juga mulai mengadakan kerjasama dengan Jinnah.
Sokongan ummat Islam India kepada Jinnah dan Liga Muslimin
bertambah kuat lagi dan ini ternyata dari hasil pemilihan 194. di Dewan
pusat (Central Assembly) seluruh kursi yang disediakan untuk golongan
Islam, dapat diperoleh oleh Liga Muslimin. Kedudukan Jinnah dalam
perundingan dengan Inggris dan Partai Kongres Nasional India mengenai
masa depan Ummat Islam India bertambahkuat.
Di tahun 194 Inggris telah mengeluarkan janji akan memberi
kemerdekaan kepada India sesudah Perang Dunia 11 selesai.
Pelaksanaannya mulai dibicarakan dari tahun 194. Dalam pada itu
diputuskan untuk mengadakan sidang Dewan Kostitusi pada bulan
Desember 194, dan Jinnah melihat bahwa dalam suasana demikian
sidang tidak bisa diadakan dan oleh karena itu meminta supaya ditunda.
Setahun kemudian keluarlah putusan Inggris untuk menyerahkan
1

kedaulatan kepada dua Dewan Konstitusi, satu untuk Pakistan dan satu
untuk India. Pada tanggal 14 Agustus 1947 Dewan Konstitusi Pakistan
dibuka dengan resmi dan keesokan harinya 1 Agustus 1947 Pakistan lahir
sebagai negara bagi ummat Islam India. Jinnah diangkat menjadi Gubernur
Jenderal dan mendapat gelar Qaid-i-Azam (pemimpin Besar) dari rakyat
Pakistan.
Pembaharuan-pembaharuan di India mempunyai peranan masing-
masing, disengaja atau tidak, dalam perwujudan Pakistan. Sayyid Ahmad
Khan denganm idenya tentang pentingnya ilmu pengetahuan, Sayyid Amir
Ali dengan idenya bahwa Islam tidak menentang kemajuan modern, dan
Iqbal dengan ide dinamikanya, amat membantu bagi usaha-usaha Jinnah
dalam menggerakan ummat Islam India, yang seratus tahun yang lalu
masih merupakan masyarakat yang berada dalam kemunduran, untuk
menciptakan negara dan masyarakat Islam modern di anak benua
India.noerhayati.

. Abu Kalam Azat
Kendatipun dia menjadi ikon nasionalisme sekular di India saat ini,
Azad sebenarnya lahir di Mekkah pada 1888 dan tinggal di sana sampai
berusia tujuh tahun. Ayahnya Khairuddin, seorang tokoh suIi berasal dari
Calcutta (sekarang Kolkata) West Bengal, dibujuk oleh murid-murid
suIinya yang dari Calcutta untuk kembali ke kota itu. Di bawah
pengawasan ketat ayahnya, Azad melanjutkan mempelajari ilmu-ilmu
agama, walaupun dia kurang suka dengan cara dan metode restriktiI dan
otoritarian dalam pengajaran silabusnya.
Oleh karena itu, atas prakarsa sendiri, Azad muda secara diam-diam
mempelajari juga buku-buku dalam bahasa Urdu dan syair-syair Persia dan
bahkan belajar memainkan sitar. Selama masa itu dia juga mengalami
suatu rasa muak terhadap sikap penyembahan` murid-murid suIi terhadap
ayahnya yang menjadi mursyid (urdu pir) dan lenyapnya kemauan untuk
menggantikan posisi ayahnya sebagaimursyidkelak.
1

Pada umur tigabelas tahun, Azad betul-betul tidak betah belajar
agama dan mulai rajin membaca karya-karya pemikir Islam moderat Sir
Syed Ahmad Khan. Namun demikian, rasionalisme Sir Syed malah
semakin memperkuat keraguan Azad muda tentang agama. Dan saat itulah
yakni dari umur 14 sampai tahun, menurut penuturannya sendiri, dia
mengalami masa-masa menjadi atheis. Dalam kurun waktu masa
remajanya dia tampak akrab dengan tokoh revolusi Hindu Bengal.
Gabungan dari perjalanan singkatnya ke Timur Tengah dan
kemampuannya membaca buku-buku berbahasa Arab akhirnya
membawanya ke dalam ide-ide reIormis Sheikh Muhammad Abduh, Mesir
dan nasionalisme dan anti-imperialisme-nya MustaIa Kamal.
Setelah periode kekeringan spiritual ini, Azad, pada akhir 1909,
merasakan pengalaman mistikal/emosional yang memperbarui rasa
keimanannya pada agama dan mengubah kepribadiannya secara dramatis.
Menyusul konversi`-nya ini, karir Azad mulai tinggal landas pada 191
dengan terbitnya jurnalnya dalam bahasa Urdu Al-Hilal. Dengan bahasa
yang khas, jurnal Al-Hilal mengajak umat untuk kembali pada ajaran
Islam murni` dan pada waktu yang sama, menuntut kemerdekaan India.
Melalui interpretasinya terhadap Islam, Azad ingin mengajak Muslim
India dalam platIorm gerakan kemerdekaan dan bekerja sama dengan umat
Hindu. Kendati sebelumnya sangat mengagumi Sir Syed Ahmad Khan,
Azad menjadi pengeritik keras atas sikap politik loyalis Sir Syed dan
Aligarh University.
Berbeda dengan apa yang dinyatakan dalam sejumlah historiograIi di
India dan Pakistan, kerja sama Hindu-Muslim bukanlah sesuatu yang
diadopsi Azad berdasarkan kelayakan (expediency) atau setelah
pertemuannya dengan Mahatma Gandhi. Walaupun jurnalnya ambigu
dalam metode kerja sama spesiIik dan pengaturan politik pasca merdeka,
kesatuan Hindu-Muslim menjadi idenya yang parsial sejak awal. Hal ini
terbukti dari esainya yang tajam pada 1910 tentang tokoh suIi moderat
Sarmad. Akan tetapi, ada senandung revivalis pada Al-Hilal yang oleh
para kritikus di kemudian hari dikatakan sebagai menimbulkan kesadaran
14

komunal di kalangan Muslim tertentu, kendati cara-cara retorik dipakai
untuk membangkitkan kalangan Muslim keluar dari kemalasan politik (Ian
Henderson Douglas:199).
Ketika Perang Dunia I berkecamuk di Eropa, pemerintahan Inggris,
menganggap jurnal Al-Hilal penghasut, mengusir Azad dari Bengal dan
diasingkan di Ranchi selama tiga setengah tahun. Beberapa minggu setelah
bebas, dia bertemu Mahatma Gandhi di Delhi untuk pertama kalinya;
menerima program non-koperasi-nya Gandhi dan menjadi tokoh Muslim
pertama di India yang mendeklarasikan diri sebagai aliansi Mahatma
Gandhi. Pembunuhan masal di Jallianwala Bagh membuat seluruh orang
India marah, tetapi Muslim India juga gelisah melihat cara pemerintahan
Inggris mengatasi empirium Turki dan Pergerakan KhilaIat dalam waktu
Perang Dunia I. Setelah konsultasi dengan Azad, Gandhi membujuk
Congress untuk menuntut perlindungan terhadap KhilaIat sebagai bagian
dari tuntutan nasional untuk kemerdekaan. Hubungan yang tumpang tindih
antara Congress dan KhilaIat ConIrence berujung pada dibawanya Muslim
India dalam jumlah besar ke dalam pergerakan kemerdekaan.
Pada 191 kesatuan Hindu-Muslim di India tampaknya mencapai
puncak keakraban. Tidak lama kemudian Azad-pun ditangkap. Kendatipun
solidaritas berhasil dicapai secara impresiI, namun terbukti berumur
pendek; ketika Azad dibebaskan pada 19, India mengalami gelombang
kuat kerusuhan komunal. Di samping adanya Iaktor-Iaktor penting lain,
Muslim India terhenyak dari angan-angan mereka karena adanya kebijakan
pemerintahan Turki untuk menghapus KhilaIat. Akibat ambigu dari
Pergerakan KhilaIat telah mengundang kritik dari kritikus sejarah di
kemudian hari terhadap usaha-usaha Azad yang mencampur` agama
dengan politik. Dengan memakai argumen Qur`an secara tidak sistematis
guna mendukung Pergerakan KhilaIat dan kerja sama Hindu-Muslim,
dikatakan bahwa Azad secara kurang hati-hati telah menanamkan politik
identitas pada kalangan Muslim dan membiarkan beberapa idenya
disalahpahami oleh kepentingan-kepentingan komunal.
1

Azad mulai menyadari bahwa dalam politik dia hanya dapat
terpandu oleh prinsip-prinsip umum agamanya dan oleh pengetahuannya
akan sejarah Muslim India, bukan oleh perintah-perintah tekstual Qur`an
yang spesiIik. Pada waktu itu, dia juga semakin aktiI dalam panggung
Congress, dan kapabilitas mediatornya secara luas telah mencegah
terjadinya perpecahan dalam partai Congress antara konstitusionalis
semacam Motilal Nehru dan non-koperasionis seperti Vallabhai Patel.
Walaupun dia terus melanjutkan usaha-usahanya untuk membawa
berbagai organisasi Muslim sejalan dengan Congress dan terlibat dalam
pergerakan kemerdekaan, namun pada 198 perbedaan serius mencuat
antara Congress dan sejumlah organisasi semacam Muslim League dan
KhilaIat ConIerence berkenaan dengan laporan Nehru. Azad terpaksa
memutuskan hubungan dengan kedua organisasi Muslim tersebut.
Pada 190, Congress mendeklarasikan kemerdekaan penuh sebagai
tujuan pergerakan nasional, dan pemberontakan sipil berlanjut dengan
penuh semangat menyusul Salt March-nya Gandhi yang terkenal. Azad
ditahan dua kali berturut-turut selama periode ini, dan kemudian dilepas
pada 19 bersama kalangan pemimpin Congress yang lain. Dalam masa-
masa penahanannya inilah Azad, yang akrab dipanggil Maulana (Jawa
kyai), berhasil menyelesaikan edisi pertama karyanya yang terkenal
Tarjuman al-Qur`an, terjemahan dan taIsir Qur`an dalam bahasa Urdu.
Edisi kedua yang diperluas terbit pada 1940-an. Terjemahan dan
taIsirnya yang belum rampung ini menjadi pernyataan teologisnya yang
paling deIinitiI, walaupun kontroversial, tentang bagaimana semestinya
sikap keberagamaan Muslim India dalam suasana pluralitas agama dan
sekularitas politik. Oleh karena itu, dia mengartikulasikan sebuah Islam
yang ramah terhadap bentuk-bentuk lain monoteisme, khususnya
Hinduisme, dan yang menekankan pada sikap etika kebaikan yang umum
(Rajmohan Gandhi: 198). Kendati karyanya merupakan usaha besar
untuk menanamkan etos liberal pada Islam, patut disayangkan ternyata
Tarjuman al-Qur`an tidak mendapat sambutan dan pengaruh besar seperti
yang dia harapkan. Kontroversi yang ditimbulkan oleh karyanya ini,
1

khususnya dari kalangan ulama yang mendukungnya secara politis,
menghilangkan aspirasinya untuk menelorkan karya yang lebih besar dan
komprehensiI dalam pembaruan agama dan reinterpretasi.
Menyusul meninggalnya M.A. Ansari pada 19, Azad menjadi
tokoh Muslim paling berpengaruh di Congress. Pada 199 dia terpilih
menjadi Presiden partai Congress, walaupun dia bukan Muslim pertama
yang menduduki posisi itu. Pada periode 190-an Muslim League di
bawah kepemimpinan Ali Jinnah mendapat angin, yang disebabkan antara
lain oleh kekecewaan sebagian kalangan Muslim atas sikap pemerintahan
propinsi yang dipimpin Congress. Pidato kepresidenan Azad dalam sesi
Ramgarh partai Congress pada 1940 yang terjadi hanya selang beberapa
hari sebelum Pakistan Resolution-nya Jinnah yang historik di samping
mengartikulasikan pandangan kalangan Muslim nasionalis, juga menjadi
pernyataan klasik tentang sekularisme India dan penolakannya atas teori
dua negara.
Sayangnya, di samping terperangkap dalam ketegangan antara Hindu
dan Muslim komunalis, Azad pada saat ini menjadi korban kampanye
kebencian oleh lawan-lawan politiknya yang Muslim yang cukup
berpengaruh. Akibatnya banyak kalangan agama, dan kalangan terdidik
moderat yang awalnya menghargai kepribadian dan ide-ide pembaruannya
berbalik menentangnya. Kendati dia mampu menarik ribuan massa dengan
kemampuan orasinya apabila diperlukan, akan tetapi rasa kebanggaannya
dan kepribadiannya yang elegan mencegahnya untuk mengkonter lawan-
lawan politiknya secara publik. Watak aristokratik dan intelektualitasnya
juga membuatnya tidak terjun langsung pada kalangan massa Muslim
ketika intervensi semacam itu dibutuhkan.
Azad ditahan untuk yang kelima kalinya pada 1940, menyusul
kampanye terbatas pemberontakan sipil, dan dibebaskan setahun
kemudian. Pada 194, menyusul Pergerakan Quit India yang lebih
komprehensiI, dia bersama kalangan pimpinan Congress yang lain, ditahan
lagi. Begitu dibebaskan pada 194, Azad tetap menempati posisi sebagai
17

Presiden partai Congress sepanjang tahun-tahun Perang. Selama masa
kepemimpinannya, dia mencoba mendorong Congress untuk mencari
solusi atas ketakutan kalangan Muslim dan berusaha membuat sejumlah
konsesi dengan Muslim League yang dipimpin Ali Jinnah guna
menghindari pecahnya India, tetapi sikap bersikeras Jinnah dan sejumlah
kesalahan yang dilakukan Congress membuat pecahnya India menjadi dua
negara tidak dapat terhindarkan lagi.
Azad, walaupun dengan agak ragu-ragu, akhirnya melepaskan kursi
kepresidenan partai Congress pada 194, dengan harapan bahwa hal ini
akan membuka jalan rekonsiliasi antara Congress dan Muslim League;
karena selama ini Muslim League menolak mengakui kehadiran seorang
Muslim dalam Congress. Dia bahkan menolak kursi kabinet pemerintahan
koalisi yang terbentuk pada tahun itu, tetapi pada 1947, atas desakan
Gandhi, dia menjadi Menteri Pendidikan. Azad menentang keras rencana
Lord Mounbatten, viceroy Ratu Inggris di India, untuk memecah India
(Syeda Saiyidain Hameed: 1998). Tetapi pada Maret tahun itu juga,
pemisahan (partition) itu tak terelakkan lagi; polarisasi dalam tubuh
pemerintahan interim yang terdiri dari Congress dan Muslim League, dan
meningkatnya kekerasan komunal di seluruh India semakin tak terkendali.
Kendatipun, sebagaimana Gandhi, dia terpaksa menerima pemisahan itu,
tetapi jauh dalam relung hatinya dia tidak dapat menyembunyikan
kekecewaan dan sakit hatinya atas peristiwa partition dan pertumpahan
darah yang terjadi setelahnya.
Menyusul Kemerdekaan India, dia memegang jabatan Menteri
Pendidikan selama sepuluh tahun. Dan walaupun bukan seorang
administrator yang eIektiI, tetapi selama masa jabatannya sempat membuat
beberapa kebijakan penting seperti mengadakan pendidikan teknis bagi
perempuan dan orang dewasa, pendirian akademi sastra, dan menolak
membuang bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Sebagaimana pada
masa-masa sebelumnya, dia tetap tidak dapat memproyeksikan dirinya
dalam kesalihan mistis seperti, umpamanya, Baba Farid yang dibutuhkan
untuk menarik massa Muslim dan Hindu padanya; tetapi kepercayaannya
18

pada pluralisme agama dan butuhnya sebuah pandangan humanistik
semakin berkembang. Dia bahkan secara terbuka sering menyatakan dalam
sejumlah pidatonya akan adanya persamaan antara pemikiran Veda dan
SuIi. Masa-masa terakhirnya ditandai dengan kesedihan dan kesepian,
sebuah konsekuensi logis dari kehidupan yang dilalui secara sangat
individualistik. Maulana Abul Kalam Azad waIat pada 198 akibat stroke
dan dikebumikan dalam sebuah tempat terhormat di Old Delhi dekat Jama
Masjid..
Membandingkan Azad dengan Ali Jinnah adalah sebuah ironi. Azad,
yang memiliki keilmuan Islam mumpuni memilih pandangan nasionalisme
sekuler berdasarkan sensibilitas religius personal, sementara Ali Jinnah,
seorang modernis dengan didikan agama yang minimal, memilih jalan
perjuangan berdirinya negara Islam yang terpisah hanya berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan politik praktis.

4. Abul A`la Maudidi
Pada usia sebelas tahun, Maududi masuk sekolah di Aurangabad. Di
sini ia mendapatkan pelajaran modern. Namun, lima tahun kemudian ia
terpaksa meninggalkan sekolah Iormalnya setelah ayahnya sakit keras dan
kemudian waIat. Yang menarik, pada saat itu Maududi kurang menaruh
minat pada soal-soal agama, ia hanya suka politik. Karenanya, Maududi
tidak pernah mengakui dirinya sebagai alim. Kebanyakan biograIi
Maududi hanya menyebut dirinya sebagai jurnalis yang belajar agama
sendiri. Semangat nasionalisme Indianya tumbuh subur. Dalam beberapa
esainya, ia memuji pimpinan Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi
dan Madan Muhan Malaviya.
Pada 1919 dia ke Jubalpur untuk bekerja di minggua partai pro
Kongres yang bernama Taj. Di sini dia jadi sepenuhnya aktiI dalam
gerakan khilaIah, serta aktiI memobilisasi kaum muslim untuk mendukung
Partai Kongres.Kemudian Maududi kembali ke Delhi dan berkenalan
dengan pemimpin penting KhilaIah seperti Muhammad Ali. Bersamanya,
19

Maududi menerbitkan surat kabar nasionalis, Hamdard. Namun itu tidak
lama. Selama itulah pandangan politik Maududi kian religius. Dia
bergabung dengan Tahrik-I Hijrah (gerakan hijrah) yang mendorong kaum
muslim India untuk meninggalkan India ke AIganistan yang dianggap
sebagai Dar al-Islam (negeri Islam).
Pada 191 Maududi berkenalan dengan pemimpin Jami`ati Ulama
Hind (masyarakat ulama India). Ulama jami`at yang terkesan dengan bakat
maududi kemudian menarik Maududi sebagai editor surat kabar resmi
mereka, Muslim. Hingga 194 Maududi bekerja sebagai editor muslim.
Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum
muslimin dan jadi aktiI dalam urusan agamanya. Namun, saat itu tulisan-
tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam.
Di Delhi, Maududi memiliki peluang untuk terus belajar dan
menumbuhkan minat intelektualnya. Ia belajar bahasa Inggris dan
membaca karya-karya Barat. Jami`at mendorongnya untuk mengenyam
pendidikan Iormal agama. Dia memulai dars-I nizami, sebuah silabus
pendidikan agama yang populer di sekolah agama Asia Selatan sejak abad
ke delapan belas. Pada 19, ia menerima sertiIikat pendidikan agama dan
jadi ulama.
Runtuhnya khilaIah pada 194 mengakibatkan kehidupan Maududi
mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia
yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan
mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium
Utsmaniah dan kekhaliIahan muslim. Dia juga tak lagi percaya pada
nasionalisme India. Dia beranggapan bahwa Partai Kongres hanya
mengutamakan kepentingan Hindu dengan kedok sentimen nasionalis. Dia
ungkapkan ketidaksukaannya pada nasionalisme dan sekutu muslimnya.
Sejak itu, sebagai upaya menentang imperialisme, Maududi
menganjurkan aksi Islami, bukan nasionalis. Ia percaya aksi yang ia
anjurkan akan melindungi kepentingan muslimin. Hal ini memberi tempat
bagi wacana kebangkitan.
0

Pada 19, seorang Muslim membunuh Swami Shradhnand,
pemimpin kebangkitan Hindu. Swami memancing kemarahan kaum
muslimin karena dengan erang-terangan meremehkan keyakinan kaum
muslimin. Kematiannya Swami menimbulkan kritik media massa bahwa
Islam adalah agama kekerasan. Maududi pun bertindak. Ia menulis
bukunya yang terkenal mengenai perang dan damai, kekerasan dan jihad
dalam Islam, Al Jihad Ii Al Islam. Buku ini berisi penjelasan sistematis
sikap Muslim mengenai jihad, sekaligus sebagai tanggapan atas kritik
terhadap Islam. Buku ini mendapat sambutan hangat dari kaum muslimin.
Hal ini semakin menegaskan Maududi sebagai intelektual umat.
Sisa terakhir pemerintahan muslim pada saat itu kelihatan semakin
tidak pasti. Maududi pun berupaya mencari Iaktor penyebab semakin
pudarnya kekuasaan muslim. Dia berkesimpulan, selama berabad-abad
Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur
asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi
mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun
tidak digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik
menyeluruh yang baru untuk melindungi kaum muslimin.
Gagasannya ia wujudkan dengan mendirikan Jama`at Islami (partai
Islam), tepatnya pada Agustus 1941, bersama sejumlah aktiIis Islam dan
ulama muda. Segera setelah berdiri, Jama`ati Islami pindah ke Pathankot,
tempat dimana Jama`at mengembangkan struktur partai, sikap politik,
ideologi, dan rencana aksi.
Sejak itulah Maududi mengosentrasikan dirinya memimpin umat
menuju keselamatan politik dan agama. Sejak itu pula banyak karyanya
terlahir di tengah-tengah umat. Ketika India pecah, Jama`at juga terpecah.
Maududi, bersama 8 anggota jama`at memilih Pakistan. Markasnya
berpindah ke Lahore, dan Maududi sebagai pemimpinnya. Sejak itu karir
politik dan intelektual Maududi erat kaitannya dengan perkembangan
Jama`at. Dia telah "kembali" kepada Islam, dengan membawa pandangan
baru yang religius.
1



































BAB III
PENUTUP


A. esimpulan
Menurut Sayyid Amir Ali, Pemikiran pertama yang kembali kesejarah
lama untuk membawa bukti bahwa agama islam adalah agama rasional dan
agama kemajuan. Ideologis Iqbal bahwa antara Islam dan Hindu harus
mempunyai masing-masing negara yang terpisah karena tidak mungkin dapat
di satukan.
Jinnah juga melakukan pembaharuan demi kemajuan islam modern, Abu
Kalam Azat Membandingkan Azad dengan Ali Jinnah adalah sebuah ironi.
Azad, yang memiliki keilmuan Islam mumpuni memilih pandangan
nasionalisme sekuler berdasarkan sensibilitas religius personal, sementara Ali
Jinnah, seorang modernis dengan didikan agama yang minimal, memilih jalan
perjuangan berdirinya negara Islam yang terpisah hanya berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan politik praktis.
Abu A`la Maududi berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah
dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur asing yang
mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi mengusulkan
pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak digubris. Hal
ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru
untuk melindungi kaum muslimin.

B. Saran
Demikian makalah ini, kami sajikan tentu masih banyak kekurangn dalam
penulisannya. Kritik dan saran dari semua pihak sangat ditunggu. Terima
kasih.









DAFTAR PUSTAA

O http://andiprastowo.wordpress.com/010/08/1/kebangkitan-islam-
melalui-pergerakan-intelektual-di-india/
O http://muhtarom84.blogspot.com/009/1/pembaharuan-di-india-pakistan-
sayyid.html






















4

MAALAH
PEMBARUAN ISLAM INDIA PAISTAN




Disusun Oleh:

Mas Azist
( BanyuGroup Warnet dan Celluler )








FORUM PELA1AR
BANYUGROUP WARNET DAN CELLULER
1ln. Wonoharjo-Sidomulyo No. 25 Pangandaran 46396
Phone : +6287826456567, +6285310252853.