Anda di halaman 1dari 5

Pada Kabupaten Tegal, wilayah yang berkembang dengan pesat adalah wilayah yang berada di sekitar Kota Tegal,

Kota Slawi, jalan pantura, jalan Tegal-Purwokerto, dan pusat perkotaan Kecamatan. Kecenderungan perkembangan yang terjadi adalah melebar pada wilayah yang dekat dengan wilayah perkotaan lain dengan hirarki yang lebih tinggi; dan linier pada wilayah yang dilewati oleh jalur regional. Penyebab perkembangan lain yaitu aktivitas ekonomi, difusi inovasi, dan kebijakan pemerintah. Daerah yang paling cepat perkembangannya yaitu Kota Slawi yang merupakan ibukota Kabupaten Tegal. Adapun fungsi dari Kota Slawi bagi Kabupaten Tegal secara umum yaitu : a. menyediakan berbagai fasilitas pelayanan untuk meningkatkan kemampuan penyelenggaraan pembangunan di Daerah dan selain itu Kota Slawi merupakan pusat pertumbuhan bagi daerah belakangnya ; b. generator/penggerak pertumbuhan di seluruh wilayah Daerah perlu menyediakan berbagai prasarana dan sarana perkotaan seperti fasilitas perdagangan, transportasi dan perindustrian sehingga dapat membantu kota-kota Kecamatan di Daerah ; c. menampung kegiatan dan jasa pemasaran untuk produk unggulan Daerah serta jasa dari luar daerah ke daerah belakangnya atau sebaliknya. Kabupaten Tegal secara umum terbagi atas zona pemanfaatan sebesar 69% atau 8.406,22 Ha, zona lindung hanya sebesar 6% atau 5.961,09 Ha dan zona pemanfaatan terbatas seluas 4.818,46 Ha (25%). Struktur spasial Kabupaten Tegal ini dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor sosial. Faktor alam yang mempengaruhi pola keruangan dan sistim perhubungan, antara lain iklim, tanah, topografi dan sumber daya alam. Sementara Faktor social meliputi tingkat ekonomi, mutu pendidikan dan adat istiadat serta kebudayaan. A. Faktor Alam Wilayah daratan kabupaten ini mempunyai kemiringan bervariasi, mulai dari yang datar hingga yang sangat curam. Kemiringan lahan tipe datar/pesisir (0-2%) seluas 46.204,27 ha, tipe bergelombang/dataran (2-15%) seluas 14.183,47 ha, tipe curam/berbukit-bukit (15-40 %) seluas 19.338,65 ha dan tipe sangat curam/pegunungan (>40%) seluas 7.254, ha. Kondisi dataran tersebut, diantaranya berupa wilayah hutan, persawahan dan ladang yang cukup luas.

Lahan hutan sebagai daerah penyangga dan penjaga kelestarian lingkungan hidup memperlihatkan perkembangan yang cukup memprihatinkan. Tercatat bahwa, pada tahun 2006-2007 luas lahan hutan di Kabupaten Tegal seluas 17.303,54 ha, tahun 2008 menurun menjadi 8.3939,51 ha dan pada tahun 2009-2 010 meningkat pesat hingga 23.884,21 ha. Sebaliknya, hutan rakyat cenderung mengalami perluasan, terlihat bahwa pada tahun 20062007 luas penggunaan hutan rakyat sebesar 5.590,95 ha, pada tahun 2008 meningkat menjadi sebesar 8.330,94 ha dan pada tahun 2009-2010 terjadi penurunan menjadi 8.180 ha. Luas lahan bukan pertanian seperti lahan permukiman/perkampungan pada tahun 2006 adalah 14.866 ha atau sekitar 16,92 % dari luas daratan, kemudian pada tahun 2007 meningkat menjadi 15.011 ha atau sekitar 17,08 %. Dan pada tahun 2008-2010 adalah 15.078 ha atau 17,16 % dari total luas daratan. Luas penggunaan rumah bangunan dan halaman sekitarnya pada tahun 2009-2010 tercatat 11.750 ha, dan lain-lainnya seperti jalan, sungai, danau dan lahan tandus adalah 2.456 ha. Kawasan Industri pada tahun 2009-2010 hanya mencapai 224 Ha. Kawasan Lindung Enam kecamatan di Kabupaten Tegal yakni Kecamatan Balapulang, Bumijawa, Bojong, Jatinegara, Margasari, dan Kedungbanteng, dijadikan induk pengembangan kawasan hutan lindung. Upaya ini dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkab Tegal guna melestarikan hutan yang ada di Kabupaten Tegal.Total luas yang telah dipersiapkan untuk pengembangan hutan itu mencapai 1.650 Ha. Saat ini, kelestarian hutan di kabupaten Tegal cukup memprihatinkan. Kondisi tersebut yang antara lain menjadi faktor penyebab sering terjadinya longsor dan banjir. Rawan longsor terjadi di wilayah Selatan dan rawan banjir terjadi di wilayah Pantura. Daerah resapan air semakin berkurang karena banyak hutan yang gundul. Kondisi itu mendesak untuk ditangani dengan penanaman pohon di wilayah hutan. Selain itu, penanaman pohon juga harus digalakkan di wilayah pekarangan rumah. Sampai dengan tahun 2009 di Kabupaten Tegal terdapat 3 jenis kawasan lindung, yaitu: 3 buah cagar alam, 1 buah hutan suaka alam dan 1 buah hutan lindung. Secara keseluruhan kawasan lindung tersebut meliputi 4.195,38 hektar hutan dan 4.816,96 hektar bukan hutan. Sedangkan kawasan pemukiman dan Industri hingga tahun 2010 adalah masingmasing seluas 13.356 Ha permukiman dan 234,90 Ha industri. Selain itu, di Kabupaten Tegal terdapat lahan kritis seluas 10,70 Ha yang perlu dikelola.

Sesuai dengan kriteria-kriteria yang terdapat di dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung di wilayah Kabupaten Tegal adalah sebagai berikut : a. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan di bawahnya Yang dimaksudkan dengan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan di bawahnya adalah kawasan hutan lindung yang berada di kawasan dengan kelerengan > 40% dan ketinggian diatas 2.000 m dpl. Kawasan ini terdapat di sebagian Kecamatan Kedungbanteng, sebagian Margasari, sebagian Bumijawa dan sebagian Bojong, sebagian Jatinegara, sebagian Pangkah dan sebagian Balapulang. b. Kawasan perlindungan setempat Perlindungan ini bertujuan melindungi wilayah pantai, Sungai, Danau/Waduk dan mata air. Daerah sempadan waduk terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Kecamatan Kedungbanteng yaitu di sekitar Waduk Cacaban. Sempadan waduk ditetapkan 50-100 meter kearah darat dari titik permukaan air tertinggi. Sempadan waduk di sekitar waduk Cacaban telah dikategorikan dalam kawasan lindung. Kawasan sempadan waduk berfungsi untuk melindungi wilayah tersebut dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi waduk. c. Kawasan suaka alam Yang termasuk kawasan ini adalah kawasan cagar alam dan hutan wisata. Perlindungan kawasan ini dimaksudkan untuk melindungi keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada umumnya. d. Kawasan rawan bencana alam Kawasan ini terdapat di Kecamatan Margasari. Bencana yang mungkin terjadi adalah tanah longsor akibat penebangan batu kapur/gamping di Desa Karangdowo. Selain itu kawasan rawan bencana alam berupa tanah longsor lainnya terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Kecamatan Pangkah. Selain itu, pemerintah daerah menaruh perhatian terhadap Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang pada tahun 2010 luasnya mencapai 43.447 Ha. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kesungguhan pemerintah daerah untuk mendorong pelaku usaha agar memiliki

dokumen pengelolaan lingkungan hidup, yang jumlahnya mengalami peningkatan dari 91 jenis usaha yang mempunyai dokumen pengelolaan lingkungan hidup di tahun 2009 terdapat 123 jenis usaha bertambah menjadi 133 jenis usaha yang memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup pada tahun 2010. Faktor Sosial Peningkatan lahan pemukiman di Kabupaten tegal ini tidak terlepas dari posisinya sebagai area kantong dari Kota Tegal yang memiliki wilayah yang lebih sempit jika dibandingkan dengan Kabupaten Tegal. Ini terlihat dari lokasi pemukiman terpadat terletak di Kecamatan Kramat, Talang, Dukuh Turi, Adiwerna dan Tarub yang berbatasan langsung dengan Kota Tegal. Fasilitas-fasilitas utama yang diperlukan bagi penduduk Kabupaten Tegal juga terdapat di 5 Kecamatan tersebut. Di bidang ketenagakerjaan, sebagian besar penduduk Kabupaten Tegal bekerja di sektor pertanian. Data tahun 2009 menyebutkan sebanyak 229.615 orang yang menggeluti lapangan kerja di sektor pertanian dalam arti luas termasuk didalamnya kehutanan, perkebunan dan perikanan. Sementara jumlah penduduk yang berprofesi di sektor perdagangan dari tahun ke tahun terus bertambah. Tercatat pada tahun 2006 sebanyak 149.889 orang yang bergerak di sektor perdagangan, melonjak menjadi sebesar 173.675 orang pada tahun 2009. Sektor lainnya yang cukup diminati masyarakat adalah sektor industri pengolahan, dan sektor jasa yang masing-masing ditekuni oleh 99.404 orang dan 75.676 orang pada tahun 2009. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tegal dalam kurun waktu 4 tahun terakhir menunjukkan trend cenderung menurun, tercatat pada tahun 2006 sebanyak 379.829 jiwa (25,72%), dan pada tahun 2007 turun menjadi 258.611 jiwa (18,5%). Kemudian pada tahun 2008 menurun menjadi 220.700 jiwa (15,78 %) dan pada tahun 2009 kembali turun hingga angka 189.687 (13,98%). Jumlah tersebut tidak sama dengan hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial yang dilakukan BPS tahun 2008 yang jumlahnya mencapai 369.693 jiwa. Selisih ini terjadi, disinyalir karena tidak dimasukkannya data warga hampir miskin dalam kategori warga miskin. Warga miskin sebanyak 189.687 jiwa adalah identik dengan keluarga miskin pra sejahtera dan sejahtera I (KS I), yang berdasarkan data dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Kelurga Berencana berjumlah sebanyak 94.269 KK.