Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MAKALAH ETIKA PROFESI KELOMPOK 6

HAK CIPTA
( Perlindungan Hak kekayaan Intelektual dan Perlindungan Hak Cipta pada Program Komputer )

Disusun Oleh :

1. Mustika Agung 2. Deni Oktavianto


3. Mita Ardiana

(21090111120005) (21090111120015) (21090111130025) (21090111130035) (21090111130055) (21090111130065)

4. Dadan Hamdan R 5. Andi Satriawan 6. Yudha Bayu Anggara

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK PERKAPALAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011 / 2012 BAB I PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Pada hakekatnya Kekayaan Intelektual adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapi seseorang, kreativitas yang timbul tersebut memicu daya cipta untuk menghasilkan karya intelektual. Kekayaan Intelektual merupakan alat penunjang pembangunan ekonomi dan penciptaan kreasi yang pada saat ini belum digunakan untuk memberikan hasil yang optimal di semua negara, terutama di negara berkembang.

Hak Cipta adalah suatu hal khusus untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya memberi izin tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangan yang berlaku. Ciptaan merupakan hasil setiap karya dalam bentuk yang khas menunjuk keasliannya dalam lapangan ilmu, seni dan sastra. Sedangkan yang dimaksud Pencipta adalah seorang atau beberapa orang bersamasama lahirkan suatu ciptaan, merancang suatu ciptaan, dan membuat karya cipta. Kekayaai intelektual ini sangat berkaitan erat dengan Hak cipta karena hasil karya yang diciptakan intelektualitas yang termasuk didalamnya berupa suatu ciptaan dilahirkan seseorang dengan pengorbanan tenaga, waktu dan bahkan biaya. Maka dari itu ditetapkan lah hukum-hukum tentang hak cipta.

1.2 Tujuan Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangundangan.

BAB II PERMASALAHAN

Dalam penulisan makalah ini, kami memaparkan beberapa masalah. Adapun masalah yang akan kita bahas adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana lahirnya karya intelektual ? 2. Mengapa kita harus menghargai Kekayaan intelektual, dan mengapa kekayaan intelektual tersebut harus di lindungi ?
3. Bagaimana ada Perlindungan hal cipta atau budaya nasional di

Indonesia?
4. Mengapa Pelaksanaan Lisensi Wajib ditentukan oleh 3 tahap? 5. Bagaimana suatu perbuatan dikatakan sebagai Pelanggaran Hak Cipta?

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Lahirnya Karya Intelektual Pada zaman purba ( ancient world ). Mula mula , corak merek dimulai dengan cap atau Branding pada hewan peliharaan. Pada masa purba sebelum manusia pandai tulis baca, keberadaan merek masih dalam bentuk tanda ( design ). Bentuk yang seperti ini berlangsung berabad-abad. Sebagai contoh gambar lukisan pada dinding di Mesir Purba. Lukisan pada gua di bagian barat daya Eropa. Diperkirakan digambar pada Zaman Batu ( Stone Age ). Zaman Perunggu ( Bronze age ), terjadi perkembangan . Ternak peliharaan mulai dicap pada bagian pinggul.(dikutip dari Yahya Harahap : Tinjauan Merek Secara Umum, ). Lalu pada masa 35 S.M. 265, pada Masa ini dikawasan Imperium Romawi,

berkembang kerajinan Tembikar. Masing-masing tembikar yang dihasilkan, memakai merek pada saat lampu minyak Romawi berkembang sebagi salah satu barang penting dalam perdagangan , lampu minyak merek FORTIS memperoleh kemajuan pesat. Kemajuan yang dialami FORTIS mengakibatkan perdagangan yang menjual barang hasil kerajinan dan senjata, meniru merek tersebut. Bermunculan barang kerajinan yang meniru dan memalsu merek FORTIS, mulai dari Prancis, Jerman, Belanda, Inggris dan Spanyol. Dengan demikian jika pada mulanya merek FORTIS hanya diklasifikasi untuk jenis barang lampu minyak, ternyata para produsen telah memakainya untuk berbagai jenis barang produksi dalam persaingan. Pada tahun 567 AD yaitu pada zaman Romawi ketika seorang penyair Martial mengecam keras seseorang yang membacakan sajak-sajaknya dimuka umum tanpa seijinnya. Martial menamakan perbuatan ini sebagai plagium, arti dari sebenarnya dari plagium ini adalah adanya ide hubungan atau keterkaitan antara pencipta dengan ciptaannya (Eddy Damian, Hukum Hak Cipta, Alumni:2002, hal.47) tindakan membacakan dan menyalin suatu karya cipta tanpa ijin penciptanya dianggap sebagai penjiplakan karena saat itu belum adanya mesin cetak Puncaknya adalah Pada tahun 1709 di Inggris untuk pertama kalinya diundangkan suatu Undang-undang Hak Cipta yang pertama di dunia STATUE OF ANNE, undangundang ini secara berarti mengubah status seorang pencipta menjadi pemilik eksklusif karya ciptanya sehingga seorang pencipta karya tulis mempunyai hak khusus dan kebebasan mencetak.

3.2 Menghargai dan Melindungi Kekayaan Intelektual

Karya-karya intelektual yang dilahirkan seseorang dengan pengorbanan tenaga, waktu dan bahkan biaya. Adanya pengorbanan tersebut menjadikan karya yang dihasilkan memiliki nilai, apabila ditambah dengan manfaat ekonomi yang dapat dinikmati, nilai ekonomi yang melekat menumbuhkan konsepsi kepemilikan terhadap karya-karya intelektual tadi. Bagi dunia usaha, karya-karya itu dikatakan sebagai assets perusahaan.

Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, karya-karya intelektual telah ada sejak adanya peradaban manusia yaitu sejak zaman batu hingga kini, salah satu karya intelektual yang lama dipergunakan oleh orang adalah penggunaan merek dagang, karya sastra. mengapa kekayaan intelektual harus kita lindungi

adalah karena Karya Intelektual merupakan Hak-hak alami, berdasarkan ketentuan pasal 27 (2) Deklarasi Hak Asasi Manusia sedunia Setiap orang memiliki hak untuk mendapat perlindungan (untuk kepentingan moral dan materi) yang diperoleh dari ciptaan ilmiah, kesusasteraan atau artistik dalam hal dia sebagai pencipta.dan juga perlindungan Karya Intelektual merupakan wujud dari perlindungan reputasi perusaahaan dari pihak lain yang menggunakan karya Intelektual yang dimiliki secara tanpa hak/ijin. Dorongan dan imbalan dari Inovasi dan Penciptaan pun, merupakan bentuk kompensasi dan dorongan bagi orang untuk mencipta, hal ini dapat menguntungkan masyarakat dalam jangka panjang.

5.3 Perlindungan hal cipta atau budaya nasional

Negara memegang hak cipta atas karya peninggalan sejarah. Hasil kebudayaan rakyat menjadi milik bersama dipelihara dan dilindungi oleh negara dan sekaligus negara sebagai pemegang hak cipta terhadap luar negeri. Indonesia saat ini telah meratifikasi konvensi internasional dibidang hak cipta yaitu namanya Berne Convension tanggal 7 Mei 1997 dengan Kepres No. 18/ 1997 dan dinotifikasikan ke WIPO tanggal 5 Juni 1997, dengan konsekuensi Indonesia harus melindungi dari seluruh negara atau anggota Berne Convention.

3.4 Pelaksanaan Lisensi Wajib ditentukan oleh 3 tahap Lisensi Wajib adalah izin yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman RI untuk menerjemahkan / memperbanyak suatu ciptaan untuk suatu tujuan pendidikan, ilmu pengetahuan penelitian dan pengembangan melalui prosedur dalam Peraturan Pemerintah no.1 tahun 1989.

Pelaksanaan Lisensi Wajib ditentukan oleh 3 tahap: a. Pertama mewajibkan Pemegang Hak Cipta untuk melaksanakan sendiri penerjemahan / perbanyakan ciptaannya b. Jika a. tidak dipenuhi, dimintakan untuk memberikan izin menerjemahkan memperbanyak kepada orang lain /

c. Jika b. juga tidak dapat dipenuhi maka Pemerintah melaksanakan sendiri penerjemahan / perbanyakan ciptaan

3.5 Pelanggaran Hak Cipta Suatu perbuatan dapat dikatakan suatu pelanggaran Hak Cipta jika perbuatan tersebut melanggar hak khusus dari Pemegang Hak Cipta. Pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi ke Pengadilan Negeri atas pelanggaran Hak Ciptanya. Tindak Pidana dibidang Hak Cipta dikatagorikan sebagai tindak kejahatan Ancaman Pidana dalam UU Hak Cipta diatur dalam Pasal 44 UU Hak Cipta. Setelah Penyidik Pejabat Polisi Negara RI juga Pejabat Pegawai Negeri tertentu dilingkungan Departemen lingkupdan tanggung jawabnya meliputi dan diberi wewenang khusus sebagai penyidik

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Pada hakekatnya Kekayaan Intelektual adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapi seseorang. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak

Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangundangan. Lisensi Wajib adalah izin yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman RI untuk menerjemahkan / memperbanyak suatu ciptaan untuk suatu tujuan pendidikan, ilmu pengetahuan penelitian dan pengembangan melalui prosedur dalam Peraturan Pemerintah no.1 tahun 1989. Suatu perbuatan dapat dikatakan suatu pelanggaran Hak Cipta jika perbuatan tersebut melanggar hak khusus dari Pemegang Hak Cipta. Pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi ke Pengadilan Negeri atas pelanggaran Hak Ciptanya.

4.2 Saran Dewasa ini kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari arus komunikasi dan informasi , bahkan informasi saat ini telah menjelma menjadi suatu kekuatan tersendiri dalam persaingan global. Karya-karya intelektual yang dilahirkan seseorang dengan pengorbanan tenaga, waktu dan bahkan biaya. Adanya pengorbanan tersebut menjadikan karya yang dihasilkan memiliki nilai, apabila ditambah dengan manfaat ekonomi yang dapat dinikmati, nilai ekonomi yang melekat menumbuhkan konsepsi kepemilikan terhadap karya-karya intelektual tadi.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1984.Tata Krama Pegaulan. Simanungsong Advendi, S.H.,MM. 2008. Hukum Dalam Ekonomi Edisi Kedua. Jakarta. Grasindo. Zubair, Achmad Charris.1990.Kuliah Etika.Jakarta:Rajawali Pers.