Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dualisme kota dan desa yang terdapat di Indonesia, seperti negara-negara
berkembang lainnya telah mengakibatkan munculnya sektor Iormal dan sektor inIormal
dalam kegiatan perekonomian. Urbanisasi sebagai gejala yang sangat menonjol di Indonesia,
tidak hanya mendatangkan hal-hal positiI, tetapi juga hal-hal negatiI. Sebagian para urbanit
telah tertampung di sektor Iormal, namun sebagian urbanit lainnya -tanpa bekal ketrampilan
yang dibutuhkan di kota tidak dapat tertampung dalam lapangan kerja Iormal yang tersedia.
Para urbanit yang tidak tertampung di sektor Iormal pada umumnya tetap berstatus mencari
pekerjaan dan melakukan pekerjaan apa saja untuk menopang hidupnya.
Sektor inIormal sering dijadikan kambing hitam dari penyebab 'kesemrawutan lalu
lintas' maupun 'tidak bersihnya lingkungan'. Meskipun demikian sektor inIormal sangat
membantu kepentingan masyarakat dalam menyediakan lapangan pekerjaan dengan
penyerapan tenaga kerja secara mandiri atau menjadi saIety belt bagi tenaga kerja yang
memasuki pasar kerja, selain untuk menyediakan kebutuhan masyarakat golongan menengah
ke bawah. Pada umumnya sektor inIormal sering dianggap lebih mampu bertahan hidup
'survive' dibandingkan sektor usaha yang lain. Hal tersebut dapat terjadi karena sektor
inIormal relatiI lebih independent atau tidak tergantung pada pihak lain, khususnya
menyangkut permodalan dan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan usahanya.
Pedagang kaki lima (street trading/street hawker) adalah salah satu usaha dalam
perdagangan dan salah satu wujud sektor inIormal. Pedagang kaki lima adalah orang yang
dengan modal yang relatiI sedikit berusaha di bidang produksi dan penjualan barang-barang
(jasa-jasa) untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu di dalam masyarakat, usaha
tersebut dilaksanakan pada tempat-tempat yang dianggap strategis dalam suasana lingkungan
yang inIormal (Winardi dalam Haryono, 1989).

1.2 Tujuan
Untuk memenuhi tugas ISBD
Untuk mengetahui seluk beluk pedagang kaki lima
Untuk mengetahui manajemen usaha pedagang kaki lima

1.3 Ruang Lingkup


Dalam makalah ini kami hanya mengambil inIormasi dari sebagian kecil para
pedagang kaki lima yang ada di sekitar kampus Unej. Karena tidak mungkin bagi kami untuk
mewawancarai semua pedagang yang ada disekitar kampus Unej.

1.4 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat 4 variabel utama yang akan diteliti, yaitu
(1) manajemen usaha pedagang kaki lima,
(2) pengelolaan modal pedagang kaki lima, dan
(3) dampak krisis ekonomi terhadap manajemen usaha dan pengelolaan modal pedagang kaki
lima, serta
(4) usaha pemberdayaan pedagang kaki lima di Kawasan Kampus UNEJ oleh pihak-pihak
terkait.
Penelitian survei ini menggunakan kuesioner yang diisi melalui wawancara kepada
sebagian pedagang kaki lima yang berdagang di Kawasan kampus unej sebagai responden
penelitian.
























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Asal Usul Pedagang Kaki Lima

Pedagang Kaki Lima atau disingkat PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja
dagangan yang menggunakan gerobak. Istilah itu sering ditaIsirkan demikian karena jumlah
kaki pedagangnya ada lima. Lima kaki tersebut adalah dua kaki pedagang ditambah tiga
"kaki" gerobak (yang sebenarnya adalah tiga roda atau dua roda dan satu kaki). Saat ini
istilah PKL juga digunakan untuk pedagang di jalanan pada umumnya.
Sebenarnya istilah kaki lima berasal dari masa penjajahan kolonial Belanda. Peraturan
pemerintahan waktu itu menetapkan bahwa setiap jalan raya yang dibangun hendaknya
menyediakan sarana untuk pejalanan kaki. Lebar ruas untuk pejalan adalah lima kaki atau
sekitar satu setengah meter.
|1|

Sekian puluh tahun setelah itu, saat Indonesia sudah merdeka, ruas jalan untuk pejalan
kaki banyak dimanIaatkan oleh para pedagang untuk berjualan. Dahulu namanya adalah
pedagang emperan jalan, sekarang menjadi pedagang kaki lima. Padahal jika menurut
sejarahnya, seharusnya namanya adalah pedagang lima kaki.
Dibeberapa tempat, pedagang kaki lima dipermasalahkan karena menggangu para
pengendara kendaraan bermotor. Selain itu ada PKL yang menggunakan sungai dan saluran
air terdekat untuk membuang sampah dan air cuci. Sampah dan air sabun dapat lebih merusak
sungai yang ada dengan mematikan ikan dan menyebabkan eutroIikasi. Tetapi PKL kerap
menyediakan makanan atau barang lain dengan harga yang lebih, bahkan sangat, murah
daripada membeli di toko. Modal dan biaya yang dibutuhkan kecil, sehingga kerap
mengundang pedagang yang hendak memulai bisnis dengan modal yang kecil atau orang
kalangan ekonomi lemah yang biasanya mendirikan bisnisnya disekitar rumah mereka.
Pedagang kaki lima (PKL) di beberapa kota besar identik dengan masalah kemacetan
arus lalu lintas, karena PKL memanIaatkan kelompok pedagang itu memanIaatkan trotoar
sebagai media berdagang.Kelompok ini pun kerap diusir dan dikejar petugas karena
mempergunakan lahan bisnis tidak sesuai dengan tata ruang perkotaan.

kan tetapi, bagi sebagian kelompok masyarakat, PKL justru menjadi solusi mereka
karena menyediakan harga lebih miring. Lihat saja, bagi mereka yang berpendapatan cekak
pedagang kaki lima adalah pilihan.
Hal ini membuat pembersihan usaha mikro itu di lokasi-lokasi strategis menjadi
kontroversial dilihat dari kaca mata sosial. Setiap hari mereka ulet berjuang untuk
menghidupi keluarga, sembari kucingkucingan dengan aparat. kankah perjuangan itu
harus dilalui sepanjang hari, minggu, bulan, bahkan sampai bertahuntahun?

2.2 Rutinitas para PKL
Menurut penelitian kami, kebanyakan para pedagang kaki lima yang memulai
aktivitas berjualan pada pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB. Biasanya pedagang yang memulai
berdagang pada pagi hari itu akan selesai berjualan sampai sore hari tergantung dari
dagangannya, terjual habis atau tidak. Tetapi ada juga para pedagang yang berjualan dari pagi
hingga sore hari.
Lain halnya dengan pedagang yang mulai berdagang pada sore hari, mereka akan
berjualan hingga tengah malam. Biasanya pedagang yang mulai berjualan pada sore hari rata-
rata adalah para pedagang nasi goreng, bakso dan jagung bakar.

2.3 Alasan PKL berjualan disekitar kampus Unej
lasan sebagian besar pedagang kaki lima menjalankan usaha di Kawasan kampus
karena tidak ada pekerjaan yang sesuai, usaha turun-temurun dari keluarga, serta adanya
kemauan sendiri jauh sebelum krisis ekonomi terjadi. Sementara sebagian kecil pedagang
kaki lima yang diajak orang lain menyatakan pekerjaan tersebut diambil karena tuntutan
keadaan di masa krisis ekonomi.Mahasiswa juga merupakan alasan para PKL berjualan
disekitar kampus Unej,karena banyaknya mahasiswa yang kost dan membutuhkan makanan
yang lebih murah.

2.4 Penyediaan lahan PKL
Selain pengubahan istilah, pejabat daerah juga diminta menyediakan lahan bagi
mereka. Dampak jangka panjangnya menampung tenaga kerja tambahan nonIormal sebagai
tenaga lepas ataupun menambah pendapatan asli daerah dari retribusi PKL dan parkir.
Program semacam ini mulai dilaksanakan di Sumbar. Untuk ketertiban dan
mencuatkan kesan proIesional, pemerintah setempat meregistrasi calon-calon pedagang yang
akan menempati areal baru.

#izal Mulyana, Ketua Kopukmi dan juga Direktur Operasional PT Wahana #ezeki
Semesta (W#S), menuturkan lokasi bagi pedagang merupakan bagian dari tanggung jawab
sosial koperasi dan perusahaannya.'Kami berupaya membuktikan bahwa mereka adalah
pengusaha gigih. Mereka bahkan bersedia memenuhi kewajiban pembayaran sesuai dengan
yang kami tetapkan, ungkap #izal Mulyana.
Dengan misi peningkatan kualitas hidup PKL, sebelumnya berdagang di jalanan dan
dianggap momok karena berbaur dengan preman, ternyata masih bisa dibina. 'Mereka hanya
berupaya mencari uang demi hidup keluarga.
Di kota-kota besar khususnya kota Jember keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL)
merupakan suatu Ienomena kegiatan perekonomian rakyat kecil. khir-akhir ini Ienomena
penggusuran terhadap para PKL marak terjadi. Para PKL digusur oleh aparat pemerintah
seolah-olah mereka tidak memiliki hak asasi manusia dalam bidang ekonomi sosial dan
budaya (EKOSOB). Saya melihat PKL ini merupakan Ienomena kegiatan perkonomian
rakyat kecil, yang mana mereka berdagang hanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya
sehari-hari.

2.5 Hak-hak PKL ketika dilakukan pembongkaran
Fenomena dalam pembongkaran para PKL ini sangat tidak manusiawi. Pemerintah
selalu menggunakan kata penertiban dalam melakukan pembongkaran. Sangat disayangkan
ternyata didalam melakukan penertiban sering kali terjadi hal-hal yang ternyata tidak
mencerminkan kata-kata tertib itu sendiri. Kalau kita menaIsirkan kata penertiban itu adalah
suatu proses membuat sesuatu menjadi rapih dan tertib, tanpa menimbulkan kekacauan atau
masalah baru.
Pemerintah dalam melakukan penertiban sering kali tidak memperhatikan, serta selalu
saja merusak hak milik para pedagang kaki lima atas barang-barang dagangannya. Padahal
hak milik ini telah dijamin oleh UUD 45 dan Undang-Undang nomor 39 tahun 1999
mengenai Hak sasi Manusia. Diantaranya berbunyi sebagai berikut :

o Pasal 28 G ayat (1) UUD 45, berbunyi ' setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi;
keluarga; kehormatan; martabat; dan harta benda yang dibawah kekuasaannya , serta berhak
atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu yang merupakan hak asasi.
o Pasal 28 H ayat (4) UUD 45, berbunyi ' setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi
dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang.

o Pasal 28 I ayat (4) UUD 45, berbunyi ' perlindungan; pemajuan; penegakan; dan
pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab Negara terutama pemerintah.
Sedangkan didalam Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 mengenai HM, berbunyi
sebagai berikut :
o Pasal 36 ayat (2) berbunyi ' tidak seorang pun boleh dirampas hak miliknya dengan
sewenang-wenang.
o Pasal 37 ayat (1) berbunyi ' pencabutan hak milik atas sesuatu benda demi kepentingan
umum; hanya dapat diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan segera
diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan serta pelaksanaannya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang ada.

o Pasal 37 ayat (2) berbunyi ' apabila ada sesuatu benda berdasarkan ketentuan hukum demi
kepentingan umum harus dimusnahkan atau tidak diberdayakan baik itu untuk selama-
lamanya maupun untuk sementara waktu, maka hal itu dilakuakan dengan mengganti
kerugian.
o Pasal 40 berbunyi ' setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang
layak.

Pemerintah didalam melakukan penertiban harusnya memperhatikan dan menjunjung
tinggi hak milik para PKL atas barang dagangannya. Ketika pemerintah melakukan
pengrusakan terhadap hak milik para PKL ini, maka ia sudah melakukan perbuatan
melanggar hukum, yakni ketentuan yang terdapat dalam hukum pidana dan juga ketentuan
yang terdapat didalam hukum perdata.

dapun ketentuan yang diatur didalam hukum pidana adalah :
Pasal 406 ayat (1) KUHPidana berbunyi : ' Barang siapa dengan sengaja dan dengan
melawan hak membinasakan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau
menghilangkan sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang lain,
dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan.
Sedangkan ketentuan yang diatur didalam Hukum Perdatanya adalah
Pasal 1365 berbunyi : ' Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian pada
orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti
kerugian tersebut.

Bagaimana kita mau menegakkan suatu hukum dan keadilan, ketika cara (metode)
yang dipergunakan justru melawan hukum. pun alasannya PKL ini tidak dapat disalahkan
secara mutlak. Harus diakui juga memang benar bahwa PKL melakukan suatu perbuatan
pelanggaran terhadap ketentuan yang ada didalam perda. kan tetapi pemerintah juga telah
melakukan suatu perbuatan kejahatan ketika ia melakukan pengrusakan atas hak milik barang
dagangan PKL, dan pemerintah juga harus mengganti kerugian atas barang dagangan PKL
yang dirusak.
Pemerintah belum pernah memberikan suatu jaminan yang pasti bahwa ketika para
PKL ini di gusur, mereka harus berjualan di tempat seperti apa. Jangan-jangan tempat yang
dijadikan relokasi para PKL tersebut, ternyata bukanlah suatu pusat perekonomian. Sekarang
ini penguasaan pusat kegiatan perekonomian justru di berikan pada pasar-pasar hipermart
atau pasar modern dengan gedung yang tinggi serta ruangan yang ber .
Para pedagang kecil hanya mendapatkan tempat pada pinggiran-pinggiran dari
kegiatan perekonomian tersebut.

2.6 Perlindungan hukum bagi Pedagang Kaki Lima
Walaupun tidak ada pengaturan khusus tentang hak-hak Pedagang Kaki Lima, namun
kita dapat menggunakan beberapa produk hukum yang dapat dijadikan landasan perlindungan
bagi Pedagang Kaki Lima. Ketentuan perlindungan hukum bagi para Pedagang Kaki Lima ini
adalah :
> Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : ' Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
> Pasal 11 UU nomor 39/199 mengenai Hak sasi Manusia : ' setiap orang berhak atas
pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak.
> Pasal 38 UU nomor 39/1999 mengenai Hak sasi Manusia :
(1) ' Setiap warga Negara, sesuai dengan bakat, kecakapan dan kemampuan, berhak atas
pekerjaan yang layak.
(2) Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang di sukainya dan ....
> Pasal 13 UU nomor 09/1995 tentang usaha kecil : ' Pemerintah menumbuhkan iklim
usaha dalam aspek perlindungan, dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan
kebijaksanaan untuk menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di
pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat, lokasi pertambangan
rakyat, dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima , serta lokasi lainnya.

Dengan adanya beberapa ketentuan diatas, pemerintah dalam menyikapi Ienomena


adanya pedagang kaki lima , harus lebih mengutamakan penegakan keadilan bagi rakyat
kecil.
Walaupun didalam Perda K3 (Kebersihan, Keindahan, dan Ketertiban) terdapat
pelarangan Pedagang Kaki Lima untuk berjualan di trotoar, jalur hijau, jalan, dan badan jalan,
serta tempat-tempat yang bukan peruntukkannya, namun pemerintah harus mampu menjamin
perlindungan dan memenuhi hak-hak ekonomi pedagang kaki lima .

2.7 Pasal-pasal mengenai PKL yang bermasalah didalam perda K3
Didalam perda K3 ini terdapat pasal mengenai PKL yang rancu bila kita mencoba
untuk menaIsirkannya. dapun pasal tersebut adalah :
Pasal 49 ayat (1) Perda nomor.11 tahun 1005 berbunyi : ' bahwa setiap orang atau badan
hukum yang melakukan perbuatan berupa :
bb) berusaha atau berdagang di trotoar ; badan jalan/jalan; taman; jalur hijau dan tempat-
tempat lain yang bukan peruntukkannya tanpa izin dari walikota dikenakan biaya paksa
penegakan hukum sebesar #p.1.000.000,00 (satu juta rupiah ) dan/atau sanksi administrative
berupa penahanan untuk sementara waktu KTP atau kartu tanda identitas penduduk lainnya.
jj) mendirikan kios dan/atau berjualan di trotoar; taman; jalur hijau; melakukan kegiatan yang
dapat mengakibatkan kerusakan kelengkapan taman atau jalur hijau dikenakan pembebanan
biaya paksa penegakan hukum sebesar #p.1.000.000,00 (satu juta rupiah ) dan atau sanksi
administrative berupa penahanan sementara KTP atau kartu identitas penduduk lainnya.
Didalam pasal ini terdapat kata-kata yang berbunyi 'tempat-tempat lain yang bukan
peruntukkannya tanpa mendapat izin dari walikota. Kata-kata ini dapat menimbulkan
peluang adanya kesewenang-wenangan pemkot didalam menentukan tempat yang tidak
memperbolehkan para PKL untuk berjualan. Harusnya kata-kata ini lebih diperinci lagi
hingga tempat-tempat seperti apa saja yang tidak memperbolehkan PKL untuk berjualan.
Karena bila tidak DIPE#INI, maka akan dapat memberi peluang untuk mematikan hak-hak
Ekonomi PKL pada suatu tempat, yang mana tempat tersebut dapat memberi peluang untuk
mendapatkan keuntungan didalam berdagang.
Untuk itu pemerintah kota harus menjelaskan secara terperinci tempat-tempat seperti
apa saja yang dilarang atau pun yang diperbolehkan didalam berdagang. pabila hanya
tempat2 yang dilarang saja yang disebutkan, maka pemerintah sama saja dengan
menghilangkan hak-hak rakyat dalam mengakses pendapatan dari perputaran kegiatan

ekonomi di suatu tempat yang strategis. Secara hukum para PKL ini sudah dijamin hak nya
dalam mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Mengenai sanksi adanya biaya paksa penegakan hukum ini juga hal yang aneh.
Karena didalam penegakan hukum tidak pernah ada biaya paksa penegakan hukum. Biaya
mengenai penegakan hukum itu sudah merupakan bagian dari anggaran instansi-instansi
penegak hukum, seperti Kepolisian, TNI, dan Polisi Pamong Praja. Masing-masing instansi
tersebut sudah memiliki anggaran didalam menjalankan tugas, Iungsi dan kewenangannnya.
Jadi adanya biaya paksa penegakan hukum ini sangat tidak rasional dan tidak jelas apa
tujuannya. danya biaya paksa penegakan hukum ini memiliki dasar hukum didalam pasal
143 UU Nomor 32 mengenai Pemerintahan Daerah. kan tetapi adanya pasal ini juga harus
di pertanyakan karena tidak jelas apa Iungsi dan kegunaannya serta instansi apa yang
berwenang mengelola biaya ini. Dan juga hal ini akan memberikan peluang akan adanya
praktek korupsi didalam penegakan hukum itu sendiri.

2.8 Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Manajemen Usaha dan Pengelolaan Modal
Temuan menarik di lapangan menunjukkan pedagang kaki lima tidak terlalu
mempermasalahkan kondisi krisis ekonomi. Terbukti tampak pedagang kaki lima tetap
bekerja dengan waktu berjualan yang tidak berubah, sedangkan pendapatan bersih rata-rata
per bulan yang diperoleh juga tidak mengalami perubahan. Tidak berubahnya pendapatan
bersih rata-rata per bulan dapat terjadi karena pengaruh inIlasi yang menandai adanya krisis
ekonomi yaitu peningkatan penjualan yang diimbangi peningkatan biaya yang dikeluarkan
pedagang kaki lima untuk menghasilkan barang dagangan.
Sementara itu taksiran nilai barang dagangan dan peralatan juga tidak mengalami
perubahan. Hal tersebut dapat terjadi karena pengaruh inIlasi atau kenaikan harga bahan
dagangan dan peralatan memberikan dampak kenaikan taksiran nilai barang dagangan dan
peralatan. Tidak berubahnya taksiran barang dagangan dan peralatan yang dimiliki
merupakan eIek psikologis dari inIlasi yang menandai adanya krisis ekonomi tersebut.
Beberapa macam kebutuhan yang dapat dipenuhi pedagang kaki lima dari
penggunaan pendapatan bersih rata-rata per bulan antara lain konsumsi harian, modal usaha,
biaya produksi, tabungan, biaya pendidikan, dan pembayaran hutang. Untuk pemenuhan
kebutuhan tersebut mayoritas pedagang kaki lima menyatakan tidak mengalami perubahan.
Dalam kondisi krisis ekonomi mayoritas produksi yang dihasilkan oleh pedagang kaki
lima mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi sebagai konsekuensi logis dari inIlasi yang
menyebabkan harga bahan baku barang dagangan meningkat, seiring dengan penurunan

permintaan dari pembeli. Sebagai akibatnya pedagang kaki lima dengan kesadarannya sendiri
berusaha mengurangi jumlah produksi barang dagangannya agar tidak terjadi kelebihan stok
dan barang dagangan dapat terjual semua. Secara umum produksi yang tidak mengalami
perubahan terjadi pada pedagang kaki lima yang menjual pakaian dan barang kelontong, serta
majalah dan lainnya. Produksi yang mengalami peningkatan adalah pedagang mainan,
makanan dan kelontong, sebaliknya produksi yang mengalami penurunan adalah pedagang
makanan/minuman dan barang kelontong.
Hasil pengujian statistik chi-square menunjukkan tidak ada perbedaan yang signiIikan
antara keberadaan pedagang kaki lima dalam krisis ekonomi menurut jumlah tanggungan
kepala keluarga, status pekerjaan, alasan menjadi pedagang kaki lima, sikap pedagang kaki
lima, dan pengelolaan hasil usaha.
Sebagian besar responden memilih pekerjaan pedagang kaki lima sebagai pekerjaan
pokok bukan disebabkan krisis ekonomi, karena responden telah menjalani pekerjaan
pedagang kaki lima dalam waktu yang cukup lama dan telah begitu mencintai pekerjaan
tersebut. Pekerjaan sebagai pedagang kaki lima benar-benar menjadi pilihan dari pedagang
kaki lima itu sendiri, bukan karena paksaan situasi dan kondisi yang melingkupinya.

2.9 Pemberdayaan PKL Melalui Koperasi
Singkatnya, pedagang kaki lima pada umumnya adalah self-employed, artinya
mayoritas PKL terdiri dari satu tenaga kerja. Modal yang dimiliki relatiI kecil, dan terbagi
atas modal tetap, berupa peralatan,dan modal kerja. Dana tersebut jarang sekali dipenuhi dari
lembaga keuangan resmi. Biasanya PKL mendapatkan dana atau pinjaman dari lembaga atau
perorangan yang tidak resmi. tau bersumber dari supplier yang memasok barang dagangan
kepada PKL. Sedangkan sumber dana yang berasal dari tabungan sendiri sangat sedikit. Ini
berarti hanya sedikit dari mereka yang dapat menyisihkan hasil usahanya. Ini mudah
dipahami karena rendahnya tingkat keuntungan PKL dan cara pengelolaan uangnyapun
sangat sederhana. Sehingga kemungkinan untuk mengadakan investasi modal maupun
ekspansi usaha sangat kecil (Hidayat,1978). Juga perlu ditambahkan, secara umum PKL ini
termasuk dalam kategori yang mayoritas berada dalam usia kerja utama (prime-age)
(Soemadi, 1993). Dalam pemberdayaan PKL, masingmasing pemerintah kabupaten/kota
mempunyai kebijakan yang berbeda satu sama lain.
Pada hakekatnya mereka bukanlah semata-mata kelompok masyarakat yang gagal
masuk dalam sistem ekonomi perkotaan. Mereka bukanlah komponen ekonomi perkotaan
yang menjadi beban bagi perkembangan perkotaan. PKL adalah salah satu pelaku dalam

transIormasi perkotaan yang tidak terpisahkan dari sistem ekonomi perkotaan. Bagi mereka
mengembangkan kewirausahaannya adalah lebih menarik ketimbang menjadi pekerja di
sektor Iormal kelas bawah. Masalah yang muncul berkenaan dengan PKL ini lebih banyak
disebabkan oleh kurangnya ruang untuk mewadahi kegiatan PKL di perkotaan. Konsep
perencanaan tata ruang perkotaan yang tidak didasari oleh pemahaman inIormalitas perkotaan
sebagai bagian yang menyatu dengan sistem perkotaan akan cenderung mengabaikan tuntutan
ruang untuk sektor inIormal termasuk PKL. Kegiatan-kegiatan perkotaan didominasi oleh
sektor-sektor Iormal yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. lokasi ruang untuk sektor-
sektor inIormal termasuk PKL adalah ruang marjinal. Sektor inIormal terpinggirkan dalam
rencana tata ruang kota yang tidak didasari pemahaman inIormalitas perkotaan.
PKL sering dipandang sebagai sektor inIormal yang berada di luar kerangka hukum
dan pengaturan. InIokop Nomor 29 Tahun XXII, 2006 104 kibatnya penataan berupa
kepastian usaha dan tempat menjadi terabaikan. pabila kita dapat menerima alur piker dan
Iakta yang disajikan di atas bahwa PKL merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem
perekonomian nasional khususnya dalam penyerapan tenaga kerja maka PKL sangat berhak
memperoleh kenyamanan berusaha berupa penciptaan iklim berusaha yang kondusiI
dari pemerintah. Dalam konteks ini, Kementerian Koperasi dan UKM menawarkan kerjasama
dengan pemerintah kota/kabupaten/propinsi program penataan & pemberdayaan PKL yang
dilakukan melalui pendekatan kelembagaan Koperasi. Jadi kelompok PKL yang tadinya
berhimpun dalam bentuk paguyupan, kelompok, atau sentra diarahkan menjadi lembaga yang
berorientasi peningkatan kesejahteraan ekonomi














BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
Harus diakui bahwa PKL ini timbul dari adanya ketimpangan sosial dan
pembangunan perekonomian serta pendidikan yang tidak merata di Negara ini. Untuk
mengakhiri tulisan ini, saya coba mengutip perkataan Bernard Haring 'Moralitas dan
kemerdekaan kita hanya akan tetap menjadi impian belaka jika tidak melahirkan dampak
pada kehidupan sosial-ekonomi dan politik.

' Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak halal); dan
kamu bawa perkaranya kepada hakim (pemerintah) supaya kamu dapat memakan sebagian
harta orang lain dengan cara berbuat dosa, padahal kamu mengetahuinya.

3.2 KRITIK & SARAN
Makalah ini tidak seluruhnya sempurna, oleh karena itu kami membutuhkan kritik
serta saran dari para pembaca untuk menyempurnakan makalah kami. Semoga makalah ini
bisa berguna bagi mahasiswa khususnya mahasiswa Universitas Jember.




















DAFTAR PUSTAKA




1. Srijanto Djarot, Drs., Waspodo Eling, B, Mulyadi Drs. 1994 Perekonomian PKL.
Surakarta; PT. Pabelan.

2. Pangeran lhaj S.T.S Drs., Surya Partia Usman Drs., 1995. Materi Pokok pasal-pasal PKL.
Jakarta; Universitas Terbuka Depdikbud.

3. NN. Tanpa Tahun. Pedoman PKL. Sekretariat Negara #epublik Indonesia Tap MP# No.
II/MP#/1987.


















LAMPIRAN