Anda di halaman 1dari 4

BAB II

INOVASI PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN DISCOVERY, INVENTION, DAN INNOVATION
Diskoveri (discovery) adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya benda atau haal
yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Invensi (invention) adalah
suatu penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil kreasi manusia. Inovasi
(innovation) adalah suatu ide, barang, kejadian, metode, yang dirasakan atau diamati
sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu
berupa hasil invensi maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu
atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Zaltman dan Duncan (Ibrahim, 1988: 42)
memperjelas pengertian inovasi dengan membandingkan dengan perubahan sosial. Semua
inovasi adalah termasuk perubahan sosial, tetapi perubahan sosial belum tentu inovasi
(inovasi merupakan bagian dari perubahan sosial).

B. INOVASI DAN MODERNISASI
Modernisasi adalah proses perubahan sosial, dari masyarakat tradisional (yang belum
modern) ke masyarakat yag lebih maju (masyarakat industri yang sudah modern). Di
antara tanda-tanda masyarakaat yang sudah maju (modern) ialah bidang ekonomi telah
makmur, bidang politik sudah stabil, terpenuhi pelayanan pendidikan, dan kesehatan.
Inkeles (Ibrahim, 1988: 45) mengemukakan ciri-ciri manusia modern yaitu:
1. Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
2. Selalu siap menghadapi perubahan sosial
3. Berpandangan yang luas
4. Mempunyai dorongan ingin tahu yang kuat
5. Manusia modern lebih berorentasi pada masa sekarang dan masa yang akan datang
daripada masa lampau.
6. Lebih percaya pada rencana dan hasil perhitungan manusia daripada takdir
7. Menghargai ketrampilan teknik
8. Berwawasan pendidikan dan pekerjaan
9. Menghargai kemuliaan dan hak orang lain
10.Memahami perlunya peningkatan hasil produksi
Kaitan antara inovasi dan modernisasi ialah diterapkannya inovasi suatu tanda terjadinya
modernisasi. Baik inovasi dan modernisasi adalah perubahan sosial. Inovasi menekankan
pada ciri adanya sesuatu yang diamati sebagai sesuatu yang baru bagi individu atau
masyarakat, sedangkan modernisasi menekankan pada adanya proses perubahan dari
tradisional ke modern, atau atau dari yang belum maju ke yang sudah maju. Diterimanya
suatu inovasi sebagai tanda adanya modernisasi.

C. KARAKTERISTIK INOVASI
Karakteristik inovasi akan mempengaruhi cepat lambatnya inovasi. Rogers (Ibrahim,
1988: 47) mengemukakan 5 macam karakteristik inovasi yaitu:
Nama : Fika Santi Pratiwi
NIM : 109151422296
OII : B09
1. Keuntungan relative, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi
penerimanya.
2. Kompatibel (compatibility) ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values),
pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima.
3. Kompleksitas (complexity) ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan
menggunakan inovasi bagi penerima.
4. %rialabilitas (trialability) ialah dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh
penerima.
5. Dapat diamati (observability) ialah mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi.
Zaltman, Duncan, dan Holbek (Ibrahim, 1988: 48) mengemukakan atribut inovasi yang
dapat berpengaruh terhadap cepat-lambatnya diterimanya suatu inovasi, yaitu:
1. Pembiayaan (ost), cepat lambatnya peneriamaan inovasi akan dipengaruhi oleh
pembiayaan baik pembiayaan pada awal (pemgadaan) maupun pembiayaan untuk
pembiayaan selanjutnya.
2. Balik modal (return to investment), suatu inovasi akan dapat dilaksanakan kalau
hasilnya dapat dilihat sesuai modal yang telah dikeluarkan.
3. Iisiensi, inovasi diterima jika pelaksanaannya dapat menghemat waktu dan terhindar
daari hambatan.
4. Risiko dan ketidakpastian (#isk and Uncertainty). Penyebaran inovasi perlu
dipertimbangkan resika yang akan terjadi.
5. Mudah dikomunikasikan (ommunicability), suatu inovasi akan cepat diterima
masyarakat jika mudah dikomunikasikan atau disebarluaskan.
6. Kompabilitas (ompatibility). Inovasi cepat diterima jika sesuai kebutuhan,
keyakinan, norma, pengalaman masa lalu tentang inovasi, pendidikan, dan tingkat
ekonomi penerimanya.
7. Kompleksitas (omlexity). Makin komplek (sukar dimengerti) suatu inovasi makin
lambat proses penyebarannya.
8. Status ilmiah (scientific status). Inovasi yang memenuhi syarat ilmiah, akan mudah
diterima kebenarannya oleh masyarakat.
9. Kadar keaslian (!oint of Origin). Kadar keaslian berpengaruh bagi penerima untuk
menentukan menerima atau menolak inovasi.
10.Dapat dilihat kemanIaatannya (!erceived relative advantage). Suatu inovasi yang
dapat dilihat kemanIaatannya akan cepat diterima.
11.Dapat dilihat batas sebelumnya ($tatus Quo Ante). %ingkat kemudahan suatu inovasi
dilihat kembali ke batas sebelum adanya inovasi akan mempengaruhi kecepatan
penerimaan inovasi.
12.Keterlibatan (ommitment), inovasi yang penerimanya ikut terlibat dalam proses
penentuan pengambilan keputusan akan lebih berhasil.
13.Hubungan interpersonal (interpersonal #elatinships). Hubungan interpersonal baik
dalam suatu organisasi atau antara organisasi akan mempengaruhi proses penerimaan
inovasi.
14.Kepentingan umum atau pribadi (!ublicness versus !rivateness). Inovasi bermanIaat
untuk kepentingan umum akan cepat diterima.
15.Penyuluhan inovasi (atekeepers). Melancarkan hubungan dalam mengenalkan usaha
mengenalkan suatu inovasi diperlukan sejumlah orang yang diangkat menjadi
penyuluh inovasi.

D. PENGERTIAN INOVASI PENDIDIKAN DENGAN CONTOH-CONTOH
Inovasi Pendidikan adalah inovasi yang dipakai untuk memecahkan maslah pendidikan
atau untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kawasan inovasi pendidikan mencakup
berbagai komponen sistem pendidikan yang juga merupakan bagian dari perubahan
sosial. Contoh-contoh inovasi pendidikan dalam setiap komponen pendidikan sesuai
dengan pola yang dikemukakan oleh B. Miles (Ibrahim, 1988: 52), yaitu:
1. Pembinaan personalia. Inovasi yang sesuai dengan komponen personel misalnya:
peningkatan mutu guru, sistem kenaikan pangkat, peraturan tata tertib siswa, dsb.
2. Banyaknya personal dan wilayah kerja. inovasi pendidikan yang relevan dengan
aspek ini misalnya: berapa ratio guru siswa pada suatu sekolah.
3. asilitas pisik. Misalnya: perubahan tempat duduk (satu anak satu kursi satu meja),
perubahan pengaturan dinding ruangan, perlengkapan peralatan laboraturium bahasa,
dsb.
4. Penggunaan waktu. Misalnya: pengaturan waktu belajar, pembuatan jadwal
pelajaran yang dapat memberi kesempatan siswa untuk memilih waktu sesuai dengan
keperluannya, dsb.
5. Perumusan tujuan. Misalnya: perubahan perumusan tujuan tiap jenis sekolah
(rumusan tujuan %K, SD disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan tantangan
kehidupan), perubahan rumusan tujuan pendidikan nasional, dsb.
6. Prosedur. Misalnya: penggunaan kurikulum baru, cara membuat persiapan mengajar,
pengajaran individual, pengajaaran kelompok, dll.
7. Peran yang diperlukan. Misalnya: peran guru sebagai pemakai media (maka
diperlakukan keterampilan menggunakan berbagai macam media), peran guru sebagai
pengelola kegiatan kelompok, guru sebagai anggota team teaching, dsb.
8. awasan dan perasaan. Misalnya: wawasan pendidikan seumur hidup, wawasan
pendekatan keterampilan proses, perasaan cinta pada pekerjaan guru, kesediaan
berkorban, kesabaran sangat diperlukan untuk menunjang pelaksanaan kurikulum SD
yang disempurnakan, dsb.
9. Bentuk hubungan antar bagian. Misalnya: diadakannya perubahan pembagian
tugas antar seksi di kantor Departemen pendidikan dan kebudayaan dan mekanisme
kerja antar jurusan, Iakultas, biro registrasi tentang pengadministrasian nilai
mahasiswa, dsb.
10.Hubungan dengan sistem yang lain. Misalnya: dalam pelaksanaan Usaha Kesehatan
Sekolah bekerja sama dengan Departemen Kesehatan, dalam pelaksanaan KKN harus
kerjasama dengan pemerintah daerah setempat, dsb.
11.Stategi. %ahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan inovasi
pendidikan. Strategi untuk melakukan inovasi biasanya dilakukan terhadap inovasi,
penilaian terhadap inovasi, percobaan inovasi. Pola urutan strategi:
a. Desain. Perencanaan dan penyebaran berdasarkan suatu penelitian dan observasi
terhadap pelaksanaan istem pendidikan yang sudah ada.
b. Kesadaran dan perhatian. danya kesadaran dan perhatian sasaran inovasi
(individu/ kelompok)
c. Evaluasi. Para sasaran inovasi mengadakan penilaian terhadap inovasi tentang
kemampuannya untuk mencapai tujuan, tentang kemungkinan dapat terlaksananya
sesuai dengan kondisi dan situasi, pembiayaan dan sebagainya.
d. Percobaan. Para sasaran inovasi mencoba menerapkan inovasi untuk
membuktikan inovasi telah dinilai dengan baik dapat diterapkan seperti yang
diharapkan.