Anda di halaman 1dari 31

1

I. Mata Acara Praktikum : Uji Toksisitas Akut/ Lethal

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Ekotoksikologi perairan merupakan salah satu mata kuliah yang dipelajari

dalam perikanan, yang menjelaskan segala sesuatu mengenai pencemaran di perairan. Ilmu ini membantu mahasiswa dalam memahami fenomena alam yang terjadi di lingkungan, terutama mengenai ekotoksikologi perairan. Namun perlu adanya sarana untuk lebih memahami teori yang telah diperoleh pada waktu kegiatan perkuliahan yaitu suatu kegiatan yang yang berupa kegiatan praktikum. Suatu perairan yang tercemar oleh suatu bahan toksik akan

mengakibatkan gangguan fisiologis atau kematian terhadap populasi organisme yang peka terhadap bahan toksik yang hidup di perairan tersebut. Efek bahan toksik tersebut dapat menjadi indikator bahwa suatu perairan itu sudah tercemar oleh bahan toksik. Dengan pemahaman tentang kondisi perairan maka dapat diambil langkah pencegahan agar dampak pencemaran perairan dapat dikurangi atau mungkin tidak ada lagi pencemaran perairan. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Uji Toksisitas Akut.

1.2.

Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui uji konsentrasi atau

dosis respon pemberian bahan toksik akut pada populasi Artemia dalam selang waktu tertentu (dalam praktikum ini selama 24 jam).

1.3.

Manfaat Praktikum Untuk memberi pemahaman kepada mahasiswa tentang bahanbahan

toksik yang menimbulkan akibat akut terhadap suatu organisme sehingga praktikan dapat mengetahui hal tersebut dan dapat mengambil langkahlangkah untuk menangani hal itu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Uji Toksisitas Akut / Lethal Uji Toksisitas Akut merupakan bagian dari Uji Toksisitas Kuantitatif yang dilakukan dalam jangka waktu yang singkat sebagai akibat dari pemapran jangka pendek terhadap suatu bahan kimia. Efek akut dapat terjadi dalam selang waktu beberapa jam, hari, atau minggu. Parameter yang dapat diamati dari uji Toksisitas Akut pada umumnya adalah Kematian (Mortality). Suatu bahan kimia dinyatakan berkemampuan toksik akut bila aksinya lansung mampu membunuh 50% atau lebih populasi uji dalam selang waktu yang pendek, misalkan 24 jam, 48 jam sampai dengan 14 hari. Faktor yang Mempengaruhi Toksisitas :

Variabilitas biologi: organisme uji tidak sama atau identik akan mempengaruhi kepekaan terhadap zat yang diujikan. Daphnia merupakan

jenis

crustacea

yang

berkembang

biak

secara

partenogenetik,

menghasilkan neonate > 90 % adalah betina.

Umur atau tingkatan/fase perkembangan: perbedaan umur dan fase perkembangan dalam daur hidupnya akan berbeda dalam kepekaannya terhadap konsentrasi bahan pencemar/toksikan.

Kualitas air: kesadahan (hardness), pH dan suhu air. Logam berat lebih toksik terhadap ikan pada air lunak daripada air dengan tingkat kesadahan tinggi. Toksisitas amonia dan cyanida lebih kuat pada suhu rendah (3o C) daripada suhu tinggi (13o C).

Kriteria Organisme Uji :

Tersedia luas melalui kultur laboratorium, tempat pemijahan atau pengambilan di lapangan dan tersedia dalam jumlah yang mencukupi. Secara genetik dan sejarah pengkulturannya harus diketahui dengan jelas. Peka terhadap berjenis-jenis bahan racun/toxicant. Indigenous species/organisme uji merupakan jenis asli pada suatu lokasi. Mempunyai nilai ekologi dan ekonomi yang tinggi.

2.2. Tinjauan Bahan Biota Uji 2.2.1. Artemia Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias. Ini terjadi karena Artemia memiliki nilai gizi yang tinggi, serta ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut hampir seluruh jenis larva ikan. Artemia dapat diterapkan di berbagai pembenihan ikan dan udang, baik itu air laut, payau maupun tawar.

Gambar 1. Artemia (Sumber: http://www.mgel.msstate.edu/artemia.htm)

a. Klasifikasi Menurut Bougis (1979) dalam Kurniastuty dan Isnansetyo (1995) adalah sebagai berikut: Phylum Kelas Subkelas Ordo Familia Genus Spesies : Anthropoda : Crustacea : Branchiopoda : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia salina

b. Morfologi Kista Artemia sp. yang ditetaskan pada salinitas 15-35 ppt akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Larva artemia yang baru menetas dikenal dengan nauplius. Nauplius dalam pertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan bentuk, masing-masing perubahan merupakan satu tingkatan yang disebut instar (Pitoyo, 2004). Pertama kali menetas larva artemia disebut Instar I. Nauplius stadia I

(Instar I) ukuran 400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 15 mikrongram, berwarna orange kecoklatan. Setelah 24 jam menetas, naupli akan berubahmenjadi Instar II, Gnatobasen sudah berbulu, bermulut, terdapat saluran pencernakan dan dubur. Tingkatan selanjutnya, pada kanan dan kiri mata nauplius terbentuk sepasang mata majemuk. Bagian samping badannya mulai tumbuh tunas-tunas kaki, setelah instar XV kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang. Nauplius menjadi artemia dewasa (Proses instar I-XV) antara 1-3 minggu (Mukti, 2004). Pada tiap tahapan perubahan instar nauplius mengalami moulting. Artemia dewasa memiliki panjang 8-10 mm ditandai dengan terlihat jelas tangkai mata pada kedua sisi bagian kepala, antena berfungsi untuk sensori. Pada jenis jantan antena berubah menjadi alat penjepit (muscular grasper), sepasang penis terdapat pada bagian belakang tubuh. Pada jenis betina antena mengalami penyusutan.

c. Ekologi Artemia sp. secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30 derajat celcius. Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 derajat celcius. Artemia dapat ditemui di danau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan brain shrimp. Kultur biomasa artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. Untuk artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt (Kurniastuty dan Isnansetyo, 1995). d. Reproduksi Chumaidi et al., (1990) menyatakan bahwa perkembangbiakan artemia ada dua cara, yakni partenhogenesis dan biseksual. Pada artemia yang termasuk jenis parthenogenesis populasinya terdiri dari betina semua yang dapat membentuk telur dan embrio berkembang dari telur yang tidak dibuahi. Sedangkan pada artemia jenis biseksual, populasinya terdiri dari jantan dan betina yang berkembang melalui perkawinan dan embrio berkembang dari telur yang dibuahi. e. Siklus Hidup

Siklus hidup artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15 20 jam pada suhu 25C kista akan menetas manjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi naupli yang sudah akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikro alga, bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli (tidak pemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia diair dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. Pada kondisi demikian biomasnya akan mencapi 500 kali dibandingakan biomas pada fase naupli.

Gambar 2. Siklus Hidup Artemia (Sumber: http://www.fao.org/docrep/field/003/AC420E/AC420E03.htm) Dalam tingkat salinitas rendah dan dengan pakan yang optimal, betina Artemia bisa mengahasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa

hidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10 -11 kali. Dalam kondisi super ideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi nauplii atau kista sebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari. Kista akan terbentuk apabila lingkungannya berubah menjadi sangat salin dan bahan pakana sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang dan malam hari. Artemia dewasa toleran terhadap selang suhu -18 hingga 40C. Sedangkan tempertur optimal untuk penetasan kista dan pertubuhan adalah 25 30C. Meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadar salinitas antara 30 35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar salama 5 jam sebelum akhirnya mati. Variable lain yang penting adalah pH, cahaya dan oksigen. pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi pertumbuhan mereka. Lampu standar grow-lite sudah cukup untuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untuk pertumbuhan Artemia. Dengan suplai oksigen yang baik, Artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyak mengkonsumsi mikro algae. Pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia akan tumbuh dan beranakpinak dengan cepat. Sehingga suplai Artemia untuk ikan yang kita pelihara bisa terus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah, dan air banyak mengandung bahan organik, atau apabila salintas meningkat, artemia akan memakan bakteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian mereka akan memproduksi hemoglobin sehingga tampak berwarna merah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksi kista. 2.3. Tinjauan Umum Bahan Toksik 2.3.1. Benzene

Benzene adalah organik senyawa kimia . Hal ini terdiri dari 6 atom karbon dalam cincin, dengan 1 atom hidrogen melekat pada setiap atom karbon, dengan rumus molekul C 6 H 6. Benzene adalah konstituen alami dari minyak mentah, dan merupakan salah satu yang paling dasar petrokimia. Benzene adalah hidrokarbon aromatik dan yang kedua [n] annulene ([6]-annulene), hidrokarbon siklik dengan terus menerus ikatan pi . Hal ini kadang-kadang disingkat Ph H. Benzene adalah tidak berwarna dan sangat mudah terbakar cair dengan bau manis. Karena merupakan dikenal karsinogen , penggunaannya sebagai aditif dalam bensin sekarang terbatas, tetapi merupakan industri yang penting pelarut dan prekursor bahan kimia industri dasar termasuk obat-obatan, plastik, karet sintetis, dan pewarna.

Gambar 3. Berbagai Representasi Benzene (Sumber: www.wikipedia.com) Difraksi sinar-X menunjukkan bahwa semua enam ikatan karbon-karbon dalam benzena adalah dari panjang yang sama dari 140 picometres (am). C-C panjang ikatan yang lebih besar daripada ikatan ganda (135 pm) tetapi lebih pendek dari ikatan tunggal (147 pm). Ini jarak antara konsisten dengan elektron delocalization : elektron untuk C-C ikatan didistribusikan sama antara masingmasing dari enam atom karbon. Molekul adalah planar. Salah satu representasi adalah bahwa struktur yang ada sebagai superposisi yang disebut struktur resonansi , daripada salah satu bentuk individual. Para delocalization elektron

10

adalah salah satu penjelasan untuk stabilitas termodinamika terkait benzena dan senyawa aromatik . Sangat mungkin bahwa stabilitas ini memberikan kontribusi terhadap sifat molekul dan kimia aneh yang dikenal sebagai aromatisitas . Untuk menunjukkan sifat ikatan terdelokalisasi tersebut, benzena sering digambarkan dengan lingkaran di dalam susunan heksagonal atom karbon: Gambar benzena terdelokalisasi telah ditentang oleh Cooper, Gerratt dan Raimondi dalam artikel mereka dipublikasikan pada 1986 dalam jurnal Nature . Mereka menunjukkan bahwa elektron dalam benzena hampir pasti lokal, dan sifat aromatik benzena berasal dari spin daripada kopling delocalization elektron. Pandangan ini telah didukung dalam edisi Nature tahun berikutnya, tetapi telah lambat untuk menembus masyarakat kimia umum. Seperti biasa dalam kimia organik, atom karbon dalam diagram di atas telah ditinggalkan berlabel. Menyadari karbon masing-masing memiliki elektron 2p, masing-masing menyumbangkan karbon elektron terdelokalisasi ke dalam cincin di atas dan bawah cincin benzena. Ini adalah sisi-on tumpang tindih porbital yang menghasilkan awan pi. Turunan dari benzena terjadi cukup sering sebagai komponen molekul organik yang ada Unicode simbol dalam Miscellaneous Teknis blok dengan kode U 232 C () untuk mewakili dengan tiga ikatan ganda, dan U 23 E3 untuk versi terdelokalisasi. 2.3.2. Toluene Toluena, dikenal juga sebagai metilbenzena ataupun fenilmetana, adalah cairan bening tak berwarna yang tak larut dalam air dengan aroma seperti pengencer cat dan berbau harum seperti benzena. Toluena adalah hidrokarbon aromatik yang digunakan secara luas dalam stok umpan industri dan juga sebagai pelarut. Seperti pelarut-pelarut lainnya, toluena juga digunakan sebagai obat inhalan oleh karena sifatnya yang memabukkan.

11

Gambar 3. Struktur Molekul Toluene (Sumber: www.wikipedia.com) 2.3.3. Pantane Pentane adalah senyawa organik dengan rumus C
5

12

yaitu, suatu

alkana dengan lima karbon atom. Istilah ini bisa merujuk ke salah satu dari tiga isomer struktural, atau campuran dari mereka: di IUPAC nomenklatur, bagaimanapun, pentana berarti eksklusif isomer n-pentana, dua lainnya yang disebut "metilbutana" dan "dimethylpropane" Cyclopentane tidak suatu isomer pentana. Pentanes merupakan komponen dari beberapa bahan bakar dan bekerja sebagai khusus pelarut di laboratorium. Sifat mereka sangat mirip dengan butanes dan heksana. Pentana adalah salah satu utama agen bertiup digunakan dalam produksi busa polystyrene. Karena titik didih yang rendah, biaya rendah, dan keamanan relatif, pentana digunakan sebagai media bekerja di tenaga panas bumi stasiun. Hal ini ditambahkan ke dalam beberapa refrigeran campuran juga. Pentanes relatif murah dan merupakan alkana yang paling mudah menguap yang cair pada suhu kamar, sehingga mereka sering digunakan di laboratorium sebagai pelarut yang dapat dengan mudah menguap. Namun, karena mereka nonpolarity dan kurangnya fungsionalitas, mereka hanya dapat melarutkan senyawa polar dan non-alkil-kaya. Pentanes yang larut dengan pelarut nonpolar yang paling umum seperti chlorocarbons, aromatik, dan eter . Mereka juga sering digunakan dalam kromatografi cair . Tabel 1. Sifat-sifat fisik pentane Titik leleh (MP), titik didih (BP) dan kepadatan pentanes [2] Isomer MP ( C) BP ( C) Kepadatan (g / L) n-pentana -129.8 36.0 621

12

isopentana neopentane

-159.9 -16.6

27.7 9.5

616 586

(Sumber: www.wikipedia.com) Para titik didih dari berbagai isomer pentana dari sekitar 9 sampai 36 C. Seperti kasus alkana lain, lebih isomer bercabang cenderung memiliki titik didih yang lebih rendah. Kecenderungan yang sama yang biasanya berlaku untuk titik leleh dari isomer alkana, dan memang bahwa isopentana adalah 30 C lebih rendah daripada n-pentana. Namun, titik leleh neopentane, yang paling berat bercabang dari tiga, adalah 100C lebih tinggi yang dari isopentana. Titik leleh anomali tinggi neopentane telah dikaitkan dengan kemasan solid-state yang lebih baik diasumsikan menjadi mungkin dengan molekul tetrahedral nya, tetapi penjelasan ini telah ditantang pada rekening itu memiliki kerapatan yang lebih rendah daripada dua isomer lainnya. Isomer bercabang lebih stabil (memiliki lebih rendah panas pembentukan dan panas pembakaran ) dari pentana normal. Perbedaannya adalah 1,8 kkal / mol untuk isopentana, dan 5 kkal / mol untuk neopentane. Rotasi sekitar dua CC pusat tunggal obligasi n-pentana menghasilkan empat yang berbeda konformasi . Semua isomer pentana terbakar dengan oksigen untuk membentuk karbon dioksida dan air: C 5 H 12 O 2 + 8 5 CO 2 + 6 H 2 O Seperti dengan hidrokarbon lainnya, pentanes menjalani radikal bebas klorinasi : C 5 H 12 + Cl 2 C 5 H 11 Cl + HCl Reaksi ini unselective; dengan n-pentana, hasilnya adalah campuran dari 1 -, 2 -, dan 3-chloropentanes, serta turunannya sangat diklorinasi lebih. Radikal lainnya halogenations juga dapat terjadi. Sementara n - butana adalah bahan baku konvensional dalam produksi anhidrida maleat , n-pentana juga substrat: CH 3 CH 2 CH 2 CH 2 CH 3 + 5 O 2 C 2 H 2 (CO) 2 O + 5 H 2 O + CO 2 2.3.4. Oli Karsinogenik

13

Oli karsinogenik adalah oli yang bersifat racun dan dapat mencemari lingkungan. Salah satu contoh oli karsinogenik adalah oli bekas. Oli bekas dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia seperti indusri, pertambangan, dan usaha perbengkelan. Oli bekas termasuk dalam limbah B3 yang mudah terbakar sehingga bila tidak ditangani pengelolaan dan pembuangannya akan membahayakan kesehatan mausia dan lingkungan. Pengelolaan oli bekas ini berupaya agar oli bekas yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan dan sifat oli bekas menjadi lebih tidak berbahaya. Selain itu, pengelolaan oli bekas bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi masyarakat. Selain itu, apabila penanganan oli bekas dilakukan dengan baik, maka akan bisa memberikan keuntungan bagi si pengelola oli bekas dan juga pengurangan biaya produksi bagi industri yang memanfaatkan kembali oli bekas sebagai pelumas berbagai peralatan, karena oli bekas masih bisa dimanfaatkan untuk pelumas lagi dengan cara pemakaian yang berbeda dari sebelumnya. Kontaminasi terjadi dengan adanya benda-benda asing atau partikel pencemar di dalam oli. Terdapat delapan macam benda pencemar biasa terdapat dalam oli yakni : 1. Keausan elemen. Ini menunjukkan beberapa elemen biasanya terdiri dari tembaga, besi, chrominium, aluminium, timah, molybdenum, silikon, nikel atau magnesium. 2. Kotoran atau jelaga. Kotoran dapat masuk kedalam oli melalui embusan udara lewat sela-sela ring dan melaui sela lapisan oli tipis kemudian merambat menuruni dinding selinder. Jelaga timbul dari bahan bakar yang tidak habis. Kepulan asam hitam dan kotornya filter udara menandai terjadinya jelaga. 3. Bahan Bakar 4. Air timbunan gas buang. Air dapat memadat di crankcase ketika temperatur operasional mesin kurang memadai. 5. Ini merupakan produk sampingan pembakaran dan biasanya terjadi melalui

14

6. Ethylene gycol (anti beku) 7. Produk-produk belerang/asam. Produk-produk oksidasi Mengakibatkan oli bertambah kental. Daya oksidasi meningkat oleh tingginya temperatur udara masuk. Oli bekas seringkali diabaikan penanganannya setelah tidak bisa digunakan kembali. Padahal, jika asal dibuang dapat menambah pencemaran di bumi kita yang sudah banyak tercemar. Jumlah oli bekas yang dihasilkan pastinya sangat besar. Bahaya dari pembuangan oli bekas sembarangan memiliki efek yang lebih buruk daripada efek tumpahan minyak mentah biasa. Ditinjau dari komposisi kimianya sendiri, oli adalah campuran dari hidrokarbon kental ditambah berbagai bahan kimia aditif. Oli bekas lebih dari itu, dalam oli bekas terkandung sejumlah sisa hasil pembakaran yang bersifat asam dan korosif, deposit, dan logam berat yang bersifat karsinogenik. Sampai saat ini usaha yang di lakukan untuk memanfaatkan oli bekas ini antara lain :

Dimurnikan kembali (proses refinery) menjadi refined lubricant. Digunakan sebagai Fuel Oil / minyak bakar. Berdasarkan kriteria limbah yang dikeluarkan oleh Kementerian

Lingkungan Hidup, oli bekas termasuk kategori limbah B3. Meski oli bekas masih bisa dimanfaatkan, bila tidak dikelola dengan baik, ia bisa membahayakan lingkungan. Jika kita bicara material oli pelumas bekas, maka itu tidak hanya berurusan dengan olinya sendiri, melainkan juga wadah dan saringan oli. Ketiganya, bila dibuang sembarangan akan menimbulkan masalah lingkungan. Oli bekas mengandung sejumlah zat yang bisa mengotori udara, tanah dan air. Oli bekas itu mungkin saja mengandung logam, larutan klorin, dan zat-zat pencemar lainnya. Satu liter oli bekas bisa merusak jutaan liter air segar dari sumber air dalam tanah. Oli bekas juga dapat menyebabkan tanah kurus dan kehilangan unsur hara. Sedangkan sifatnya yang tidak dapat larut dalam air juga dapat membahayakan habitat air, selain itu sifatnya mudah terbakar yang merupakan karakteristik dari Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

15

2.4 Tinjuan Umum LC50 (Lethal Concentration 50) Standar ukuran dari toksisitas menengah sekitarnya yang akan membunuh separuh dari sampel populasi tes spesifik-hewan di ditentukan periode melalui pemaparan melalui inhalasi (respirasi). LC50 diukur dalam mikrogram (atau miligram) dari materi per liter, atau bagian per juta (ppm), udara atau air; menurunkan jumlah lebih beracun materi. Digunakan dalam perbandingan dari toksisitas, LC50 nilai-nilai tidak dapat secara langsung ekstrapolasi dari satu logam ke yang lain atau ke manusia. Juga disebut rata-rata konsentrasi mematikan atau populasi konsentrasi kritis 50. Ditulis juga sebagai LC50. Yang dimaksud dengan LC50 (Median Lethal Concentration) yaitu konsentrasi yang menyebabkan kematian sebanyak 50% dari organisme uji yang dapat diestimasi dengan grafik dan perhitungan, pada suatu waktu pengamatan tertentu, misalnya LC50-48 jam, LC50-96 jam (Dhahiyat dan Djuangsih, 1997) sampai waktu hidup hewan uji.

16

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum Praktikum dilaksanakan pada hari Jumat sampai dengan Sabtu tanggal 21 - 22 Oktober 2011 pada pukul 10.00 11-30 WIB yang bertempat di Laboratorium FHA Gedung Dekanat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universtias Padjadjaran dan pengamatanya dilaksanakan selama 24 jam.

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1. Alat-alat 1. Gelas Kimia Sebagai wadah cairan stok dan organisme uji 2. Pipet Untuk mengambil organisme uji (Atemia dan Daphnia) 3. Gelas Ukur 4. Label Untuk memberi nama jenis organisme uji dan bahan toksiknya.
5. Vial sebagai tempat hidup biota uji

6. Alat suntik Untuk mengambil bahan toksik


7. Stopwatch untuk melihat waktu dedah hewan uji

8. Petridish

17

9. Luv 10. Erlenmeyer

3.2.2. Bahan 1. Larva Artemia Hewan uji 2. Larva Daphnia Hewan uji 3. Herbisida Bahan toksik 4. Methylen blue Bahan toksik 5. Ekstra nimba Bahan toksik 6. Air tawar Media kultur daphnia 7. Air garam Media kultur artemia
8. Aquades Media pengenceran.

BAHAN (BAHAN TOKSIK) YANG KALIAN GUNAKAN DIPERBAIKI, DAN ALAT-ALAT JUGA DILENGKAPI KEGUNAANNYA

3.3. Prosedur Kerja 3.3.1. Prosedur Pelaksanaan Uji Toksisitas Akut 1. Menyiapkan larva artemia, yang diawali dengan dekapsulisasi dan penetasan kista artemia, serta menyiapkan daphnia. 2. Dalam vial yang telah diisi air medium (air laut/air garam) untuk larva artemia sebanyak 9ml. 3. Masukkan masing-masing 10 ekor larva artemia yang berumur 24 jam dengan menggunakan transpettor kedalam vial yang telah diisi air medium sebanyak 9ml hingga mencapai 10 ml. 4. Masukkan bahan toksik uji (herbisida, methylen blue, dan ekstrak nimba) ke dalam vial, dengan masing-masing konsentrasi yang telah di tentukan sebanyak 1% (100ml). 5. Lakukan pengamatan selama 24 jam dengan selang waktu pngamatan 15 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, 16jam, dan 24jam.

18

6. Lakukan perhitungan mortalitas jumlah larva yang mati. 3.4. Analisis Data b a m = = = (Y b X)

LC50-24 jam = antilog m

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Tabel 2. Mortalitas Hewan Uji dengan Berbagai Bahan Toksik Toksikan Toluene Benzene Oli Bekas Pentene Control Konsentrasi 155 ppm 310 ppm 465 ppm 100 ppm 200 ppm 300 ppm 5% 10 % 15 % 4.87 ppm 9.74 ppm 14.61 ppm 4 7 8 7 7 8 6 8 10 9 6 8 8 7 5 Organisme Uji Artemia 6 4 7 6 9 7 7 10 9 7 7 9 8 7 7 Kelompok 6 7 6 8 7 6 5 7 9 9 7 9 6 10 6 1 2 3 6 7 8

11 12 13

19

Dari hasil analisis data nilai LC50-24 jam untuk benzene adalah 79,4 ppm, Dari hasil analisis data nilai LC50-24 jam untuk toluene adalah 213.79 ppm Dari hasil analisis data nilai LC50-24 jam untuk pentene adalah 6.86 ppm Dari hasil analisis data nilai LC50-24 jam untuk oli bekas adalah 6.79 % 4.1.1. Pengamatan Kelompok Data pengamatan mortalitas hewan uji Kelompok Jenis bahan toksik Konsentrasi bahan toksik :6 : Benzene : 100 ppm

Tabel 3. Data Pengamatan Bahan Toksik Benzena 100 ppm Waktu Dedah 15 menit 30 menit 1 jam 2 jam 4 jam 6 jam 8 jam 16 jam 24 jam Jumlah 1 1 2 2 2 7 Artemia 2 1 1 1 2 1 6 3 1 2 3 2 8 Keterangan 1 ekor mati 3 ekor mati 3 ekor mati 4 ekor mati 5 ekor mati 5 ekor mati 21 ekor mati

Dari hasil Uji Toksisitas Akut menggunakan bahan uji benzene dengan kadar 100 ppm mortalitas larva Artemia dari tiga pengujian masing-masing 70%,60% dan 80%. Dengan nilai persentase mortalitas larva Artemia terhadap benzene 100 ppm adalah 70%. 4.1.2. Pengamatan Kelas a. Bahan Toksik Benzene

Data persentase mortalitas (p) hewan uji setelah pemaparan hewan uji : Artemia

setelah 24 jam . Jenis hewan uji

20

Jenis bahan toksik

: Benzena

Tabel 4. Mortalitas Hewan Uji dengan Bahan Toksik Benzena Ulangan 1 2 3 Rerata I ppm 70% 60% 80% 70% Konsentrasi Ii ppm 70% 100% 70% 80% Iii ppm 90% 100% 90% 93% Control 50% 50% 70% 47%

Data analisis probit dengan perhitungan manual

Tabel 5. Analisis Probit Bahan Toksik Benzena D 300 200 100 N 30 30 30 R 28 24 21 Jumlah P 93 80 70 X 2.47 2.30 2.00 6.77 Y 6.48 5.84 5.53 17.84 Xy 16.0 5 13.0 4 11.0 4 11.0 4 Keterangan : D=Konsentrasi N=Jumlah r=Mortalitas p=%mortalitas x=log konsentrasi y=Nilai probit %mortalitas X2 6.10 5.29 4.00 15.39

21

= = 2,63 a = = (Y b X) (17.84 2,63 x 6,77)

= 0.00116 m = = = 1,9 LC50-24 jam = antilog 1,9 = 79,4 ppm Dari hasil Uji Toksisitas Akut pada larva Artemia dengan bahan uji Toluence nilai LC50-24 jam larva Artemia terhadap benzene mencapai 79,4ppm. Maka pada kadar pentene sebesar 79,4ppm pada suatu perairan dapat mengakibatkan kematian 50 % larva Artemia dalam selang waktu 24 jam. Data hasil perhitungan probit dengan EPA probit Exposure Point LC/EC 1.00 LC/EC 5.00 LC/EC 10.00 LC/EC 15.00 LC/EC 50.00 LC/EC 85.00 LC/EC 90.00 Conc. 7374.228 3416.778 2267.178 1718.940 533.457 165.553 125.520 95% Confidence Limits Lower Upper 1398.145 917.536 731.926 627.780 320.175 35.673 6.388 % 5123402.629E+06 %29966823424.000 %1935285632.000 %304837824.000 126478.422 240.210 181.218 Estimated LC/EC Values and Confidence Limits

22

LC/EC 95.00 LC/EC 99.00

83.288 38.591

136.754 87.108

0.436 0.003

b. Bahan Toksik Toluene

Data persentase mortalitas (p) hewan uji setelah pemaparan hewan uji : Artemia : Toluene

setelah 24 jam. Jenis hewan uji Jenis bahan toksik

Tabel 6. Mortalitas Hewan Uji dengan Bahan Toksik Toluene Ulangan 1 2 3 Rerata I ppm 40% 60% 60% 53% Konsentrasi Ii ppm 70% 40% 70% 60% Iii ppm 80% 70% 60% 70%

Data analisis probit dengan perhitungan manual

Tabel 7. Analisis Probit Bahan Toksik Toluena D 155 310 465 N 30 30 30 R 16 18 21 Jumlah P 53 60 70 X 2.19 2.49 2.66 7.34 Y 5.08 5.25 5.52 15.85 xy 11.1 2 13.0 7 14.3 5 38.5 4 X2 4.79 6.20 7.70 18.06

23

= = 2,15 a = = (Y b X) (15,85 2,15 x 7,35)

= 0,0023 m = = = 2,35 LC50-24 jam = antilog 2,35 = 208,93 ppm Dari hasil Uji Toksisitas Akut pada larva Artemia dengan bahan uji Toluence nilai LC50-24 jam larva Artemia terhadap Toluence mencapai 208,93 ppm. Maka pada kadar toluene sebesar 208,93 ppm pada suatu perairan dapat mengakibatkan kematian 50 % larva Artemia dalam selang waktu 24 jam. Data hasil perhitungan probit dengan EPA probit Estimated LC/EC Values and Confidence Limits Exposure Point LC/EC 1.00 LC/EC 5.00 LC/EC 10.00 LC/EC 15.00 LC/EC 50.00 LC/EC 85.00 LC/EC 90.00 LC/EC 95.00 LC/EC 99.00 95% Confidence Limits Conc. 0.297 1.777 4.609 8.768 132.903 2014.552 3832.703 9939.581 59375.105 Lower Upper

24

c. Bahan Toksik Pentane

Data persentase mortalitas (p) hewan uji setelah pemaparan hewan uji : Artemia : Pentane

setelah 24 jam. Jenis hewan uji Jenis bahan toksik

Tabel 8. Mortalitas Hewan Uji dengan Bahan Toksik Pentane Ulangan 1 2 3 Rerata I ppm 80% 80% 90% 87% Konsentrasi Ii ppm 60% 70% 70% 67% Iii ppm 90% 70% 90% 83% Control 80% 80% 60% 73%

Data analisis probit menggunakan perhitungan manual

Tabel 9. Analisis Probit Bahan Toksik Pentane D 14.61 9.74 4.87 N 30 30 30 R 25 17 27 Jumlah P 83 67 90 X 1.16 0.99 0.69 2.84 Y 5.95 5.44 6.28 17.67 Xy 6.02 5.39 4.33 16.7 8 X2 1.34 0.98 0.48 2.8

b= b= b= b=5.95 a=i/n( )

a=1/30(17.67-5.95*2.84)

25

a=0.0026 m= m= m=0.84 LC50-24Jam=6.86 Dari hasil Uji Toksisitas Akut pada larva Artemia dengan bahan uji pentene nilai LC50-24 jam larva Artemia terhadap pentene mencapai 6.86 ppm. Maka pada kadar pentene sebesar 6.86 ppm pada suatu perairan dapat mengakibatkan kematian 50 % larva Artemia dalam selang waktu 24 jam. Data hasil perhitungan probit menggunakan EPA probit

Estimated LC/EC Values and Confidence Limits Exposure Point LC/EC 1.00 LC/EC 5.00 LC/EC 10.00 LC/EC 15.00 LC/EC 50.00 LC/EC 85.00 LC/EC 90.00 LC/EC 95.00 LC/EC 99.00 Conc. 47925.516 6764.367 2381.517 1177.229 59.911 3.049 1.507 0.531 0.075 95% Confidence Limits Lower Upper

d. Bahan Toksik Oli Karsinogen

26

Data persentase mortalitas (p) hewan uji setelah pemaparan hewan uji : Artemia : Oli Karsinogen

setelah 24 jam Jenis hewan uji Jenis bahan toksik

Tabel 10. Mortalitas Hewan Uji dengan Bahan Toksik Oli Karsinogen Ulangan 1 2 3 Rerata I ppm 60% 70% 50% 60% Konsentrasi Ii ppm 80% 100% 70% 83% Iii ppm 100% 90% 90% 93% Control 70% 70% 100% 80%

Data analisis probit menggunakan perhitungan manual

Tabel 11. Analisis Probit Bahan Toksik Oli Karsinogen jml hewan uji (n) 30 30 30 jumlah b= a = 1/n ( y bx) = 1/30 (17.68 5.86x1.87) = 0.22 m= LC50- 24 jam = anti log m = 6.54 % Artinya pada konsentrasi 6.54% bahan toksik oli karsinogenik dapat mematikan 50% hewan uji dalam waktu 24 jam.

Konsentrasi uji (d) 5% 10% 15%

mortalitas hewan uji (r) 18 25 28

%mortalitas (p) 60% 83.3% 93.3%

log konsentrasi (x) 0.7 1 1.17 1.87

probit mortalitas (y) 5.25 5.95 6.48 17.68 3.67 5.95 7.58 17.2 0.49 1 1.37 2.86 Xy x

Perhitungan menggunakan EPA Probit 95% Confidence Limits

Estimated LC/EC Values and Confidence Limits Exposure

27

Point LC/EC 1.00 LC/EC 5.00 LC/EC 10.00 LC/EC 15.00 LC/EC 50.00 LC/EC 85.00 LC/EC 90.00 LC/EC 95.00 LC/EC 99.00

Conc. 0.491 0.909 1.262 1.575 4.017 10.247 12.789 17.758 32.869

Lower 0.005 0.025 0.060 0.108 1.215 7.749 9.464 12.087 18.220

Upper 1.456 2.141 2.635 3.035 5.678 18.814 31.705 72.331 356.575

Dari hasil Uji Toksisitas Akut pada larva Artemia dengan bahan uji oli bekas nilai LC50-24 jam larva Artemia terhadap oli bekas mencapai 6.79%. Maka pada kadar oli bekas sebesar 6.79% pada suatu perairan dapat mengakibatkan kematian 50 % larva Artemia dalam selang waktu 24 jam. 4.2. Pembahasan a. Benzene Benzene merupakan bahan toksik yang dapat menyebabkan kematian Artemia sebanyak 50% dalam waktu 24 jam dengan kadar 79,4 ppm di suatu perairan. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil percobaan yang telah dilakukan. Dengan hasil uji konsentrasi 100 ppm benzene mengakibatkan 70% mortalitas, untuk konsentrasi 200 ppm benzene mengakibatkan 80% mortalitas, sedangkan untuk konsentrasi 300 ppm benzene mengakibatkan 93,5% kematian Artemia pada waktu 24 jam. Dengan bertambahnya konsentrasi benzene dalam suatu perairan maka tingkat persentase mortalitas Artemia juga akan semakin tinggi. benzene lebih bersifat toksik terhadap Artemia.
b. Kontrol

Untuk control seharusnya nilai LC50-24 jam adalah nol, tapi terdapat angka kematian .Hal ini disebabkan oleh perlakuan praktikan yang menyebabkan larva Artemia stress atau bahkan kehilangan oksigen.

28

c. Pentene Bahan toksik pentene terhadap Artemia mengakibatkan kematian Artemia sebanyak 50% pada konsentrasi 79,4 ppm. Dari Hasil percobaan yang telah dilakukan peningkatan konsentrasi pentene tidak sebanding dengan meningkatnya persentase mortalitas Artemia. Pada konsentrasi pentene 4.87 ppm persentase mortalitas Artemia sebanyak 83.3%, pada konsentrasi pentene 9.74 ppm persentase mortalitas Artemia 66.67% dan pada konsentrasi 14.61 ppm persentase mortalitas Artemia sebanyak 90%. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa pada konsentrasi 4.87 ppm persentase mortalitas Artemia lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi pentene 9.74 ppm. Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan perlakuan yang diberikan oleh praktikan. Sehingga hasil yang diperoleh tidak begitu akurat. Nilai LC50-24 jam pentene terhadap Artemia adalah 6.86 ppm, dan nilai LC50-24 jam pentene terhadap Daphnia adalah 9.74 ppm. Maka nilai LC50-24 jam pentene terhadap Artemia d. Toluene Toluene merupakan bahan toksik yang dapat menyebabkan kematian Artemia sebanyak 50% dalam waktu 24 jam dengan kadar 208,93 ppm di suatu perairan. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil percobaan yang telah dilakukan. Dengan hasil uji konsentrasi 465 ppm mengakibatkan 70% mortalitas, untuk konsentrasi 310 ppm Toluene mengakibatkan 60% mortalitas, sedangkan untuk konsentrasi 155 ppm mengakibatkan 53,3% kematian Artemia pada selang waktu 24 jam. Dengan bertambahnya konsentrasi Toluene dalam suatu perairan maka tingkat persentase mortalitas Artemia juga akan semakin tinggi. Toluene lebih bersifat toksik terhadap Artemia .
e. Oli Karsinogenik

Oli karsiogenik dapat menyebabkan kematian Artemia sebanyak 50% dalam waktu 24 jam dengan kadar 6.79% di suatu perairan. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil percobaan yang telah dilakukan. Dengan hasil uji konsentrasi 5% oli bekas mengakibatkan 60% mortalitas, untuk konsentrasi 10% oli bekas

29

pada mengakibatkan 83.3% mortalitas sedangkan untuk konsentrasi 15% oli bekas mengakibatkan 93.3% kematian Artemia pada selang waktu 24 jam. Dengan bertambahnya konsentrasi oli bekas dalam suatu perairan maka tingkat persentase mortalitas Artemia juga akan semakin tinggi. Oli bekas lebih bersifat toksik terhadap Artemia

30

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa nilai LC50-24 jam untuk benzene adalah 79,4 ppm, untuk toluene adalah 213.79 ppm, untuk pentene adalah 6.86 ppm, untuk oli bekas adalah 6.79 ppm. Dari data tersebut dapat dinyatakan bahawa oli bekas memiliki toksisitas yang paling tinggi. Namun selain itu, mortalitas pada hewan uji sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain gen, imunitas, dan umur hewan uji. Sedangkan untuk faktor eksternalnya antara lain pengangkutan pada saat transportasi hewan uji dan medianya, kurangnya kandungan oksigen yang disebabkan sering ditutupnya vial pada saat transportasi, suhu lingkungan yang disebabkan sering dipindah-pindahnya hewan uji serta konsentrasi bahan toksik yang diberikan pada hewan uji. 5.2 Saran Dalam pengangkutan atau pembawaan hewan uji sebaiknya botol vial tersebut tidak ditutup dikarenakan dapat menyebabkan terjadinya kekurangan oksigen, yang dapat meningkatkan mortalitas hewan uji. Ketelitian dalam pengenceran larutan stock pun harus diperhatikan agar data menjadi lebih akurat.

31

DAFTAR PUSTAKA ?????