Anda di halaman 1dari 12

LEPTOSPIROSIS

Agen Biologi
Leptospira termasuk ke dalam genus Leptospira, Iamily Leptospiraceae, ordo
Spirochaetales. Leptospira terdiri dari kelompok leptospira patogen yaitu L. intterogans
dan leptospira non-patogen yaitu L. biIlexa (kelompok saproIit). Penentuan spesies
leptospira saat ini didasarkan pada homologi DNA. Dalam setiap kelompok, organisme
menunjukkan variasi antigen yang stabil dan memungkinkan mereka dikelompokkan
dalam serotipe (serovar). Serotipe dengan antigen yang umum dikelompokkan dalam
serogrup (varietas). Meskipun berlawanan dengan pemakaian umum, contoh penamaan
Leptospira yang benar adalah sebagai berikut: serogrup Pomona dari L. interrogans atau
L. interrogans var. Pomona, bukan L. Pomona
Agen Kimia -
3 Agen Nutrisi -
4 Agen Fisika -
5 Agen Mekanik -

Karakter Agen Biologi Tentang Viabilitas
akteri Leptospira merupakan Spirochaeta aerobik (membutuhkan oksigen untuk
bertahan hidup), dengan suhu pertumbuhan optimum antara 28C-30C. Leptospira
memproduksi katalase dan oksidasi dan tumbuh dalam media sederhana yang diperkaya
dengan vitamin-vitamin (vitamin 2 dan 2), asam lemak rantai panjang, dan garam-
garam ammonium. Asam lemak rantai panjang dimanIaatkan sebagai satu-satunya
sumber karbon dan dimetabolisme oleh oksidasi .5
ost
Pada manusia dapat terjadi pada semua kelompok umur dan pada kedua jenis kelamin
(laki-laki/perempuan). Namun demikian, leptospirosis ini merupakan penyakit yang
terutama menyerang anak-anak belasan tahun dan dewasa muda (sekitar 50 kasus
umumnya berumur antara 0-39 tahun), dan terutama terjadi pada laki-laki (80).
Penyakit ini terutama beresiko terhadap orang yang bekerja di luar ruangan bersama
hewan, misalnya peternak, petani, penjahit, dokter hewan, dan personel militer. Selain
itu, Leptospirosis juga beresiko terhadap individu yang terpapar air yang terkontaminasi.
Di daerah endemis, puncak kejadian Leptospirosis terutama terjadi pada saat musim
hujan dan banjir.


#eservoir
ewan peliharaan dan binatang liar; serovarian berbeda-beda pada setiap hewan yang
terinIeksi. Khususnya tikus besar (ichterohemorrhagiae), babi (pomona), lembu (hardfo),
anjing (canicola), dan raccoon (autumnalis) di AS, babi terbukti menjadi tempat hidup
bratislava; sedangkan di Eropa badger sejenis mamalia carnivora juga dilaporkan sebagai
reservoir. Ada banyak hewan lain yang dapat menjadi hospes alternative, biasanya
berperan sebagai carrier dalam waktu singkat. ewan-hewan tersebut adalah binatang
pengerat liar, rusa, tupai, rubah, raccoon, mamalia laut (singa laut). Serovarian yang
menginIeksi reptile dan amIibi belum terbukti dapat menginIeksi mamalia, namun di
arbados dan Trinidad dicurigai telah menginIeksi manusia. Pada binatang carrier terjadi
inIeksi asimtomatik, leptospira ada didalam tubulus renalis binatang tersebut sehingga
terjadi leptuspiruria seumur hidup binatang tersebut.
Tipe #eservoir Pada Manusia

a. Acute clinical cases yakni penyakit yang menginIeksi dan menular dengan periode sangat
cepat,
b. Carriers adalah seseorang yang pembawa inIeksi penyakit tetapi tidak terlihat,
c. Subclinical cases adalah terjangkitnya inIeksi tidak terlihat selama inIeksi itu
berkembang,
d. Incubatory carriers adalah terinIeksi dan menularkan inIeksi, tetapi belum memiliki tanda
dan gejala,
e. Convalescent carriers adalah tahap pemulihan, akan terus menularkan inIeksinya selama
sakit dan setelah kembali sehat,
I. Chronic carriers adalah orang yang terus menyembunyikan agen suatu penyakit untuk
periode waktu yang lama.

Penyakit Leptospirosis termasuk acute clinical cases yakni penyakit yang menginIeksi
dan menular dengan periode sangat cepat.

ingkungan Fisik
Lingkungan optimal untuk hidup dan berkembangbiaknya leptospira ialah pada suasana
lembab, tanah yang basah, suhu sekitar 25C, serta p mendekati neutral (p sekitar 7);
merupakan suatu keadaan yang selalu dijumpai di negeri-negeri tropis sepanjang tahun
ataupun pada musim-musim panas dan musim rontok di negeri-negeri yang beriklim sub
tropis. Pada keadaan tersebut leptospira dapat tahan hidup sampai berminggu-minggu.

.) Keberadaan sungai yang membanjiri lingkungan sekitar rumah
Keberadaan sungai menjadikannya sebagai media untuk menularkan berbagai jenis
penyakit termasuk penyakit leptospirosis. Peran sungai sebagai media penularan penyakit
leptospirosis terjadi ketika air sungai terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan
peliharaan yang terinIeksi bakteri leptospira sehingga cara penularannya disebut Water-
orne InIection. Kotoran yang berasal dari hewan dan orang yang mengandung bakteri
dan virus dapat dihanyutkan dalam sungai-sungai dan biasa terdapat dalam tanki-tanki
tinja di desa dan bisa juga berada di dalam sumur-sumur atau mata air yang tidak
terlindungi.
2.) Keberadaan parit/selokan yang airnya tergenang
Parit/Selokan menjadi tempat yang sering dijadikan tempat tinggal tikus atau wirok serta
sering juga dilalui oleh hewan-hewan peliharaan yang lain sehingga parit/selokan ini
dapat menjadi media untuk menularkan penyakit leptospirosis. Peran parit/selokan
sebagai media penularan penyakit leptospirosis terjadi ketika air yang ada di parit/selokan
terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan peliharaan yang terinIeksi bakteri leptospira.
3.) Genangan air
Air tergenang seperti yang selalu dijumpai di negeri-negeri beriklim sedang pada
penghujung musim panas, atau air yang mengalir lambat, memainkan peranan penting
dalam penularan penyakit leptospirosis. Tetapi di rimba belantara yang airnya mengalir
deras pun dapat merupakan sumber inIeksi. iasanya yang mudah terjangkit penyakit
leptospirosis adalah usia produktiI dengan karakteristik tempat tinggal: merupakan
daerah yang padat penduduknya, banyak pejamu reservoar, lingkungan yang sering
tergenang air maupun lingkungan kumuh.Tikus biasanya kencing di genangan air. Lewat
genangan air inilah bakteri leptospira akan masuk ke tubuh manusia.
4.) Sampah
Adanya kumpulan sampah di rumah dan sekitarnya akan menjadi tempat yang disenangi
tikus. Kondisi sanitasi yang jelek seperti adanya kumpulan sampah dan kehadiran tikus
merupakan variabel determinan kasus leptospirosis. Adanya kumpulan sampah dijadikan
indikator darikehadiran tikus.
5.) Sumber Air
Untuk keperluan sehari-hari, air dapat diperoleh dari beberapa macam sumber
diantaranya:
a. Air ujan
Air hujan merupakan penyubliman awan/uap air menjadi air murni yang ketika turun dan
melalui udara akan melarutkan bendabenda yang terdapat di udara. Di Amerika Tengah
dan Amerika Selatan, sebagai dampak Ienomena El-Nino menyebabkan curah hujan
menjadi tinggi dan menyebabkan banjir. Oleh karena adanya banjir tersebut
menyebabkan jumlah kejadian leptospirosis meningkat.
b. Air Permukaan
Air permukaan merupakan salah satu sumber yang dapat dipakai untuk bahan baku air
bersih. Dalam menyediakan air bersih terutama untuk air minum, dalam sumbernya perlu
diperhatikan tiga segi yang penting yaitu: mutu air baku, banyaknya air baku, dan
kontinuitas air baku. Dibandingkan dengan sumber lain, air permukaan merupakan
sumber air yang tercemar benar. Keadaan ini terutama berlaku bagi tempat-tempat yang
dekat dengan tempat tinggal penduduk. ampir semua buangan dan sisa kegiatan
manusia dilimpahkan kepada air atau dicuci dengan air, dan pada waktunya akan dibuang
ke dalam badan air permukaan. Di samping manusia, Iauna dan Ilora juga turut
mengambil bagian dalam mengotori air permukaan. Jenis-jenis sumber air yang termasuk
ke dalam air permukaan adalah air yang berasal dari: Sungai, Selokan, Rawa, Parit,
endungan, Danau, Laut, dan sebagainya.
c. Air Tanah
Sebagian air hujan yang mencapai permukaan bumi akan menyerap ke dalam tanah dan
akan menjadi air tanah. Sebelum mencapai lapisan tempat air tanah, air hujan akan
menembus beberapa lapisan tanah sambil berubah siIatnya.
6.) Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah
Tikus senang berkeliaran di tempat sampah untuk mencari makanan. Jarak rumah yang
dekat dengan tempat pengumpul sampah mengakibatkan tikus dapat masuk ke rumah dan
kencing di sembarang tempat. Jarak rumah yang kurang dari 500 meter dari tempat
pengumpulan sampah menunjukkan kasus leptospirosis lebih besar dibanding yang lebih
dari 500 meter.
Lingkungan optimal untuk hidup dan berkembangbiaknya leptospira ialah pada suasana
lembab, tanah yang basah, suhu sekitar 25C, serta p mendekati neutral (p sekitar 7);
merupakan suatu keadaan yang selalu dijumpai di negeri-negeri tropis sepanjang tahun
ataupun pada musim-musim panas dan musim rontok di negeri-negeri yang beriklim sub
tropis. Pada keadaan tersebut leptospira dapat tahan hidup sampai berminggu-minggu.
ingkungan Biologi
.) Populasi tikus di dalam dan sekitar rumah
akteri leptospira khususnya spesies L. ichterrohaemorrhagiae banyak menyerang tikus
besar seperti tikus wirok (Rattus norvegicus dan tikus rumah (Rattus diardii). Sedangkan
L.ballum menyerang tikus kecil (mus musculus). Tikus yang diduga mempunyai peranan
penting pada waktu terjadi Kejadian Luar iasa di DKI Jakarta dan ekasi adalah:
#.norvegicus, #.diardii, Suncus murinus dan #.exulat.
2.) Keberadaan hewan peliharaan sebagai hospes perantara
Leptospira juga terdapat pada binatang piaraan seperti anjing, lembu, babi, kerbau dan
lain-lain maupun binatang liar seperti tikus, musang, tupai dan sebagainya. Di dalam
tubuh binatang tadi yang bertindak sebagai hospes reservoar, mikroorganisme leptospira
hidup di dalam ginjal/air kemih.
Dari hewan peliharaan dapat diisolasi L. intterogans var. Pomona dan L. intterogans var.
Javanica oleh Esseveld dan Colier 938 kucing di Jawa. Kemudian Mochtar dan Cilier
secara serologis menemukan L. intterogans var. ataviae, L. intterogans var. Javanica, L.
intterogans var. Icterohaemorrhagiae dan L. intterogans var. Canicola pada anjing di
Jakarta. ewan ternak seperti sapi, kerbau, kuda, dan babi dapat ditemukan serovar L.
intterogans var. Pomona, juga didapatkan 2 serovar lainnya. Di sebagian besar negara
tropis termasuk Negara berkembang kemungkinan paparan leptospirosis terbesar pada
manusia karena terinIeksi dari binatang ternak, binatang rumah maupun binatang liar
ingkungan Sosio-Ekonomik
.) Lama Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu Iaktor yang cukup penting dalam penularan penyakit
khususnya leptospirosis. Pendidikan masyarakat yang rendah akan membawa
ketidaksadaran terhadap berbagai risiko paparan penyakit yang ada di sekitarnya.
Semakin tinggi pendidikan masyarakat, akan membawa dampak yang cukup signiIikan
dalam proses pemotongan jalur transmisi penyakit leptospirosis.
2.) Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan merupakan Iaktor risiko penting dalam kejadian penyakit leptospirosis.
Jenis pekerjaan yang berisiko terjangkit leptospirosis antara lain: petani, dokter hewan,
pekerja pemotong hewan, pekerja pengontrol tikus, tukang sampah, pekerja selokan,
buruh tambang, tentara, pembersih septic tank dan pekerjaan yang selalu kontak dengan
binatang. Faktor risiko leptospirosis akibat pekerjaan yang ditemukan pertama kali adalah
buruh tambang. Pekerja-pekerja selokan, parit/saluran air, petani yang bekerja di sawah,
ladang-ladang tebu, pekerja tambang, petugas survei di hutan belantara, mereka yang
dalam aktivitas pekerjaan selalu kontak dengan air seni (kemih) berbagai binatang seperti
dokter hewan, mantri hewan, penjagal di rumah potong, atau para pekerja laboratorium
dan sebagainya, merupakan orang-orang yang berisiko tinggi untuk mendapat
leptospirosis.2 Dari beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pekerjaan sangat
berpengaruh pada kejadian leptospirosis.
3.) Kondisi Tempat ekerja
Leptospirosis dianggap sebagai penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan. Namun
demikian, cara pengendalian tikus yang diperbaiki dan standar kebersihan yang lebih baik
akan mengurangi insidensi di antara kelompok pekerja seperti penambang batu bara dan
individu yang bekerja di saluran pembuangan air kotor. Pola epidemiologis sudah
berubah; di Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan Israel, leptospirosis yang berhubungan
dengan ternak dan air paling umum. Kurang dari 20 persen pasien yang mempunyai
kontak langsung dengan binatang; mereka terutama petani, penjerat binatang atau pekerja
pemotongan hewan. Pada sebagian besar pasien, pemajanan terjadi secara kebetulan, dua
per tiga
kasus terjadi pada anak-anak, pelajar atau ibu rumah tangga. Kondisi tempat bekerja yang
selalu berhubungan dengan air dan tanah serta hewan dapat menjadi salah satu Iaktor
risiko terjadinya proses penularan penyakit leptospirosis. Air dan tanah yang
terkontaminasi urin tikus ataupun hewan lain yang terinIeksi leptospira menjadi mata
rantai penularan penyakit leptospirosis.
4.) Ketersediaan pelayanan pengumpulan limbah padat
Indikator-indikator kesehatan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi rumah tangga misalnya,
penyediaan air bersih, ketersediaan saluran pembuangan limbah, dan pengumpulan
limbah padat dan juga karakteristik-karakteristik individu seperti kebiasaan dan perilaku.
Semua variabel tersebut dipengaruhi oleh status sosial ekonomi.
5.) Sistem Distribusi Air ersih dengan Saluran Tertutup
Sistem distribusi air bersih dengan saluran tertutup dapat menghambat penularan
penyakit leptospirosis dari binatang ke manusia karena apabila pelayanan sistem
distribusi air bersih secara tertutup ini tidak tersedia dapat meningkatkan kontaminasi
atau pencemaran air yang digunakan untuk konsumsi manusia.
6.) Sistem Pembuangan Limbah dengan Saluran Tertutup
Keberadaan bak pencucian pembuangan kotoran yang terbuka dan keberadaan kotoran
dalam rumah dapat meningkatkan gangguan setempat oleh binatang pengerat. Kondisi-
kondisi itu juga memberikan kemungkinan kontak baik langsung maupun tidak langsung
dengan kotoran hewan yang terkontaminasi.30
7.) Ketersediaan Pengumpulan Limbah Padat
Tidak adanya pelayanan pengumpulan limbah padat menyebabkan akumulasi limbah
organik, meningkatkan perkembangbiakan binatang pengerat sehingga memungkinkan
terjadinya penularan leptospirosis dari binatang kepada manusia di lingkungan sekitar
3Portal Of Exit
Melalui Kontak pada kulit, khususnya apabila terluka, atau kontak selaput lendir dengan
air, tanah basah atau tanaman, khususnya tanaman tebu yang terkontaminasi dengan urin
hewan yang terinIeksi, berenang, luka yang terjadi karena kecelakaan kerja; kontak
langsung dengan urin atau jaringan tubuh hewan yang terinIeksi; kadang kadang melalui
makanan yang terkontaminasi dengan urin dari tikus yang terinIeksi; dan kadang kadang
melalui terhirupnya 'droplet dari cairan yang terkontaminasi.
Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne
disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber
utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Kemampuan Leptospira untuk
bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu Iaktor penentu utama ia dapat
menginIeksi induk semang (host) yang baru . ujan deras akan membantu penyebaran
penyakit ini, terutama di daerah banjir. Gerakan bakteri memang tidak memengaruhi
kemampuannya untuk memasuki jaringan tubuh namun mendukung proses invasi dan
penyebaran di dalam aliran darah induk semang

4Mode Transmission
entuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita
dan tidak langsung melalui suatu media. Penularan langsung terjadi melalui kontak
dengan selaput lendir (mukosa) mata (konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan
urin, kontak seksual dan cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke
manusia jarang terjadi.
Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne
disease). Penularan tidak langsung terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan
barang-barang yang telah tercemar urin penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah,
makanan, minuman dan jaringan tubuh. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak
ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri
Leptospira. Umumnya penularan lewat mulut dan tenggorokan sedikit ditemukan karena
bakteri tidak tahan terhadap lingkungan asam.
5Portal Of Entry
Melalui Kontak pada kulit, khususnya apabila terluka, atau kontak selaput lendir dengan
air, tanah basah atau tanaman, khususnya tanaman tebu yang terkontaminasi dengan urin
hewan yang terinIeksi, berenang, luka yang terjadi karena kecelakaan kerja; kontak
langsung dengan urin atau jaringan tubuh hewan yang terinIeksi; kadang kadang melalui
makanan yang terkontaminasi dengan urin dari tikus yang terinIeksi; dean kadang kadang
melalui terhirupnya 'droplet dari cairan yang terkontaminasi.
Setelah bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, maka
bakteri akan mengalami multiplikasi (perbanyakan) di dalam darah dan jaringan.
Selanjutnya akan terjadi leptospiremia, yakni penimbunan bakteri Leptospira di dalam
darah sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai jaringan tubuh terutama ginjal dan
hati.
Susceptible ost
Pada umumnya orang rentan; kekebalan timbul terhadap serovarian tertentu yang
disebabkan oleh inIeksi alamiah atau (kadang-kadang) setelah pemberian imunisasi tetapi
kekebalan ini belum tentu dapat melindungi orang dari inIeksi serovarian yang berbeda.
Moda Transmisi Penularan
entuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita
dan tidak langsung melalui suatu media. Penularan langsung terjadi melalui kontak
dengan selaput lendir (mukosa) mata (konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan
urin, kontak seksual dan cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke
manusia jarang terjadi.
Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne
disease). Penularan tidak langsung terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan
barang-barang yang telah tercemar urin penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah,
makanan, minuman dan jaringan tubuh. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak
ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri
Leptospira. Umumnya penularan lewat mulut dan tenggorokan sedikit ditemukan karena
bakteri tidak tahan terhadap lingkungan asam.

ourse Of Infection / patofisiologi penyakit meliputi
a. Incubation Period
Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2 - 26 hari. InIeksi Leptospirosis
mempunyai maniIestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala, sehingga sering
terjadi kesalahan diagnosa. InIeksi L. interrogans dapat berupa inIeksi subklinis yang
ditandai dengan Ilu ringan sampai berat, ampir 5-40 persen penderita terpapar inIeksi
tidak bergejala tetapi serologis positiI.
b. Prodromal Period
Masa prodromal adalah tahap kedua penyakit dan merupakan masa untuk pertama
kalinya muncul tanda-tanda dan gejala.

Fase Septisemik dikenal sebagai Iase awal atau Iase leptospiremik karena bakteri dapat
diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium
ini, penderita akan mengalami gejala mirip Ilu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam,
kedinginan, dan kelemahanotot. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada,
muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan mental, radang selaput otak
(meningitis), serta pembesaran limpa dan hati.

c. Fastigium Period
Fastigium period adalah masa ketika penyakit berada pada puncaknya.
Fase Imun sering disebut Iase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat
dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari
darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan
tubuh terhadap inIeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput
otak, hati, mata atau ginjal.
Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit
kepala . Pada pemeriksaan Iungsi hati didapatkan jaundis, pembesaran hati
(hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah,
dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa
(splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. Meningitis
aseptik merupakan maniIestasi klinis paling penting pada Iase imun.
Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul jaundis. Pada 30
persen pasien terjadi diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi), muntah, lemah, dan
kadang-kadang penurunan naIsu makan. Kadang-kadang terjadi perdarahan di bawah
kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen pasien, dan gangguan paru-paru pada
20-70 persen pasien.
Gejala juga ditentukan oleh serovar yang menginIeksi. Sebanyak 83 persen penderita
inIeksi L. icterohaemorrhagiae mengalami ikterus, dan 30 persen pada L. pomona.
InIeksi L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem pencernaan.
Sedangkam L. pomonaatau L. canicola sering menyebabkan radang selaput otak
(meningitis)
Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai jaundis, disIungsi ginjal,
nekrosis hati, disIungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir
Iase awal dan meningkat pada Iase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu. Kriteria
penyakit Weil tidak dapat dideIinisikan dengan baik. ManiIestasi paru meliputi batuk,
kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas. DisIungsi ginjal dikaitkan
dengan timbulnya jaundis 4-9 hari setelah gejala awal. Penderita dengan jaundis berat
lebih mudah terkena gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular. Kasus berat
dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40 persen yang
akan meningkat pada lanjut usia.

d. DeIervescence Period
Masa deIervescence (penurunan demam) adalah masa ketika gejala penyakit berkurang.

e. Convalescence
Masa convalescence adalah masa penyembuhan atau pemulihan.
Iase penyembuhan terjadi perbaikan klinik yang ditandai pulihnya kesadaran, hilangnya
ikterus, tekanan darah meningkat dan produksi urine membaik. Fase ini terjadi pada
minggu ke 2-4, sedangkan patogenesis Iase ketiga ini masih belum diketahui, demam
serta nyeri otot masih dijumpai, yang kemudian berangsur-angsur menghilang.

I. DeIection
DeIection adalah masa ketika patogen dibunuh atau dikalahkan oleh sistem kekebalan
tubuh.
















Buatlah Web Of ausationnya
























L8lLAku
LlnCkunCAn
PCS1
ACLn1
O rlwayaL ban[lr
O ndlsl selan
O ndlsl llngngan rah
O sber alr nL ebLhan seharlharl
O keberadaan Lls/wlr dl dala dan
aLa selLar rah
O eberadaan hewan plaraan sebagal
hspes peranLara
O laa pendldlan
O peer[aan
O eLersedlaan pelayanan nL
pengplan llbah padaL
O eLersedlaan slsLe dlsLrlbsl alr berslh
dengan salran perplpaan
O eblasaan andl/enccl dl
sngal
O eblasaan enggnaan
sabn/deLer[en
O eblasaan enggnaan
deslnfeLan
O eblasaan eaal alaL pellndng
dlrl eLla beer[a
O eglaLan eberslhan llngngan
selLar rah
O rlwayaL la
O rlwayaL nLa dengan bangal
Lls/wlr
O usla
O enls kelaln
leptosplto
LNAkI1
LL1CSIkCSIS
SUMBE# :
Chin, James. 2000. anual Pemberantasan Penyakit enular. Terjemahan : Dr. I Nyoman
Kandun, MP.