Anda di halaman 1dari 11

Skabies

I. DEFINISI Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var, hominis dan produknya.5 Kata Sarcoptes berasal dari bahasa Yunani sarxyang berarti daging (the flesh) and kopteinyang berarti memotong/mencincang (to cut or smite). Sedangkan kata scabies berasal dari bahasa latin yaituscabere yang artinya garukan (scratch).2 II. EPIDEMIOLOGI Diperkirakan kasus Skabies di dunia sekitar 300 juta orang tiap tahunnya. Sebelumnya epidemi scabies terjadi tiap 15 tahun sekali, epidemik terakhir terjadi pada akhir tahun 1960-an dan berkembang hingga sekarang.6 Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah, higienitas yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis dan perkembangan dermografik serta ekologik.5

Gambar1. Acarus betina dewasa (Scabiei) dan Sarcoptes mite. (100).7

III. ETIOLOGI

Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, super famili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Secara morfologik, scabiei merupakan tungau kecil berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai empat pasang kaki. Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi diatas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari.5 IV. PATOGENESIS Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau scabiei, tetapi juga oleh garukan penderita sendiri. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan ekskreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi.

Gambar 2.Siklus hidup scabiei dan tempat predileksi

V. GEJALA KLINIS Manifestasi klinis yang terlihat dari Skabies dapat diketahui dari 4 tanda kardinal : 1. Pruritus nokturnal, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas. 2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu

pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh kutu tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena, walaupun mengalami investasi tungau, tapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai carrier. 3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul dan ekskoriasi). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mamae, imbilikus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.

Gambar 3.Tampak gambaran terowongan pada sela jari tangan

4. Menemukan tungau, merupakan hal yang diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium tungau ini. Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.5

Gambar 4. Tempat predileksi: Identifikasi terowongan scabies mudah ditemukan pada daerah tangan, pergelangan tangan, lateral telapak tangan.Nodul scabies tidak biasa ditemukan pada daerah genitalia khususnya penis danskrotum, pinggang, aksila dan areola.

Ada beberapa bentuk scabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis.Beberapa bentuk tersebut antara lain: 1. Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated). Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan. 2. Skabies incognito. Bentuk ini timbul pada skabies yang diobati dengan kortiko steroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain. 3. Skabies nodular. Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal.Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal, dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau skabies. Pada nodus yang berumur lebih

dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti-skabies dan kortikosteroid. 4. Skabies yang ditularkan melalui hewan. Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha,perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 -8 minggu), dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia. 5. Skabies pada bayi dan anak. Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. 6. Skabies terbaring di tempat tidur (bed ridden). Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. 7. Skabies Norwegia atau Skabies Krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hiperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan, dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembang biak dengan mudah.1,2,3 VI. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding dari skabies yang paling banyak adalah dermatitis atopi, bekas gigitan serangga, dermatitis kontak, dermatitis herpetiformis dan dermatitis dishidrotik.

Selain itu, dapat dipertimbangkan pula psoriasis terutama bilater dapat krusta yang bervariasi, pemphigoid bullosa bila terdapat vesikel atau bulla, serta erupsi obat.8 VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosa pasti skabies dilakukan dengan membuat kerokan kulit pada daerah yang berwarna kemerahan dan terasa gatal. Kerokan yang dilakukan sebaiknya dilakukan agak dalam hingga kulit mengeluarkan darah karena Sarcoptes betina bermukim agak dalam di kulit dengan membuat terowongan. Untuk melarutkan kerak digunakan larutan KOH 10%. selanjutnya hasil kerokan tersebut diamati dengan mikroskop dengan perbesaran 10-40 kali.5

Gambar 5.Skabies dengan pemeriksaan mikroskopik. Tungau skabies betina gravid setelah menggali terowongan dan meletakkan telur-telurnya yang oval dan berwarna abu-abu.8

VIII. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis, yang di tanyakan pada penderita : Anamnesis : 1. Lokasi keluhan 2. Onset penyakit 3. Waktu sering timbulnya keluhan 4. Riwayat penyakit dalam keluarga 5. Kebiasaan

6. Tempat tinggal Pemeriksaan fisik : 1. Ditemukan adanya terowongan atau kunikulus 2. Ditemukan tungau skabies, dengan cara : a. Carilah mulamula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul atau vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan diatas kaca objek, lalu ditutup dengan objek glas, dan dilihat dengan mikroskop cahaya. b. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar. c. Dengan membuat biopsy irisan. Caranya dengan menjepit lesi dengan dua jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop cahaya. d. Dengan biopsy eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E (Hematoksisilin Eosin).5 IX. TERAPI Topikal : a. Permetrin5% Merupakan obat pilihan untuk saat ini, tingkat keamanannya cukup tinggi, mudah pemakaiannya, dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya pada saat malam hari sebelum tidur, pasien mandi dengan sapoviridis. Lalu permetrin dioleskan ditempat lesi , pada anak dari wajah sampai kaki, pada dewasa dari leher sampai kaki. Permetrin didiamkan lebih kurang 8 jam, kemudian dicuci bersih. Ulangi pemakaian 8-12 hari lagi. b. Malation. Malation 0,5 % dengan dasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian. c. Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %).

Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai. d. Sulfur. Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam. e. Monosulfiran. Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 2 3 bagian dari air dan digunakan selama 2 3 hari. f. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan). Kadarnya 1% dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian. g. Krotamiton 10% Dalam krim atau losio, merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai anti skabies dan anti gatal.1,3,5,8

X. KOMPLIKASI Biasanya Krustosa.8 XI.PROGNOSIS Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi (antara lain higiene), maka penyakit ini dapat diberantas dan memberi prognosis yang baik. Jika tidak diterapi dengan baik, scabies akan menetap selama beberapa tahun. Pada pasien imunokompeten jumlah tungau akan berkurang dengan sendirinya dalam beberapa waktu. Selama diterapi dengan obat yang tepat dan dengan perawatan yang baik maka scabies umumnya memberikan prognosis yang baik. Pada pasien imunokompromais atau yang sedang dalam perawatan meningkatkan resiko untuk terjadinya scabies krustosa (Scabies Norwegian) sehingga memberikan prognosis yang kurang baik.4 komplikasi yang timbul adalah impetiginisasi sekunder.Limfangitis dan septicemia juga dapat terjadi terutama pada Skabies

10

DAFTAR PUSTAKA 1. Bandyopadhyay D. 2010. Scabies. http://dermatology lectures note.com. (15 Mei 2011) 2. Cordoro, Kelly M. 2009. Scabies.http://www.emedicinemedscape.com/article/ 1109204. ( 16 Mei 2011) 3. Fox, Lindy P.2008. Scabies. http://www.knol.google.com/k/scabies. (15 Mei 2011). 4. Gandahusada S., Ilahude H.D., Pribadi W. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006 5. Handoko R.P. Skabies. Dalam: Djuanda A., et al. (Eds). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2005. Pp: 122-5. 6. Wolff K., Johnson R.A., Suurmond D. Insect Bites and Infestations In Fitzpatricks Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 5th edition. New york: McGraw Hill; 2007. 7. Weller R., Hunter J., Savin J., Dahl M. Scabies In Clinical Dermatology. 4th edition. Massachusetts: Blackwell; 2008. 8. Stone S.P., Goldfarb J.N., Bacelieri R.E. Scabies, Other Mites, and Pediculosis In Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 7th edition. Vol. II, New York: McGraw Hill; 2008. Pp: 2029-31.

11