Anda di halaman 1dari 65

DRAFT LAPORAN KERJA PRAKTEK

PERANAN WELLSITE GEOLOGIST DALAM EKSPLORASI BATUBARA


(SENGKELAMI PROJECT, KELUBIR MINE OPERATION, PT. PESONA KHATULISTIWA NUSANTARA)

DIENAN FIRDAUS 11/12/2011

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Kerja Praktek merupakan salah satu mata kuliah wajib yang ada pada kurikulum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, dimana mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat melalui perkuliahan pada dunia pekerjaan yang berhubungan dengan dunia geologi. Tempat pelaksanaan kerja praktek geologi dapat bermacam-macam, bisa di bidang industri seperti industri logam, industri energi maupun pada lembaga ilmu pengetahuan, pada lembaga survey, serta lembaga pemerintahan yang berhubungan dengan dunia geologi. Pada kesempatan ini penulis

melaksanakan kerja praktek di bidang pertambangan, tepatnya pertambangan batubara yang terletak di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Seiring dengan terus melonjaknya harga bahan bakar minyak, kini permintaan konsumen akan batubara sebagai sumber energi terus meningkat, terutama digunakan pada pembengkit listrik, industri pengolahan logam, pabrik semen, dan industri besar lainnya. Pembentukan batubara sendiri merupakan proses alamiah yang membutuhkan waktu hingga jutaan tahun, sehingga batubara dapat digolongkan sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable natural resources). Keterdapatan Batubara di Indonesia sendiri terutama pada Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Sebelum dapat menambang batubara tentunya harus diketahui terlebih dahulu cadangan dan jenis batubara pada suatu daerah, apakah ekonomis atau tidak untuk ditambang. Untuk itu harus dilakukan tahap eksplorasi yang meliputi survey awal dan survey terperinci. Survey awal adalah melakukan studi pustaka untuk mengetahui regional geologi daerah yang akan ditambang dan melakukan pemetaan permukaan (surface mapping) untuk mengetahui sebaran serta arah kemiringan lapisan batubara. Survey terperinci dilakukan dengan melakukan pemboran dengan kedalaman hingga mencapai bottom dari lapisan batubara. Yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan logging geofisika. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai

posisi dan kondisi batubara di bawah permukaan serta hubunganya dengan litologi di sekitarnya. Setelah tahap survey terlaksana baru kemudian dilakukan analiasis cadangan dan mutu batubara, apakah ekonomis untuk ditambang atau tidak.

1.2. Maksud dan Tujuan 1.2.1. Maksud Maksud dari dilaksanakanya kerja praktek ini adalah untuk terlibat langsung dalam peranan dan pekerjaan seorang geologist di bidang pertambangan batubara. 1.2.2. Tujuan Tujuan dari dilaksanakannya kerja praktek ini adalah agar mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai pekerjaan seorang geologist di perusahaan, dalam hal ini sebagai seorang wellsite geologist.

1.3. Lokasi Kerja Praktek Lokasi kerja praktek dilakukan di PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara yang berlokasi di desa Kelubir dan sekitarnya, kecamatan Tanjung Palas Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur.

1.4. Ruang Lingkup Kerja Praktek Kerja Praktek yang dilakukan kali ini termasuk dalam tahap eksplorasi lanjutan, yaitu berkaitan dengan rencana perluasan areal tambang berdasarkan data yang sudah ada. Pekerjaan yang dilakukan disini adalah sebagai wellsite geologist, yaitu orang yang bertanggung jawab terhadap suatu titik pemboran (borehole). Ruang lingkup pekerjaanya adalah mendeskripsisikan sample batuan yang keluar dari lubang bor yang berupa cutting dan core sample, serta memberikan keputusan mengenai total depth lubang bor, apabila terjadi permasalahan teknis pada saat pemboran berlangsung, dan penentuan lokasi titik pemboran berikutnya.

1.5. Sistematika Laporan Kerja Praktek Dalam penulisan laporan kerja praktek dibagi menjadi beberapa bab yang menunjang kegiatan selama kerja praktek. Adapun sistematika penulisannya sebagai berikut, 1.5.1. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Maksud dan Tujuan Lokasi Kerja Praktek Ruang Lingkup Kerja Praktek Sistematika Laporan Kerja Praktek Metodologi Program Kerja Praktek 1.5.2. BAB II DASAR TEORI Pengenalan Batubara Proses Pembentukan Batubara Material Penyusun Batubara Kualitas dan Klasifikasi Batubara Lingkungan Pengendapan Batubara Tahapan Penambangan Batubara Wellsite Geologist Dalam Tahapan Eksplorasi 1.5.3. BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN Profil Perusahaan Bidang Pekerjaan Perusahaan Organisasi Perusahaan 1.5.4. BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK Jenis Pekerjaan Yang Dilakukan Peralatan Pekerjaan Yang Digunakan Jadwal Pekerjaan Yang Dilakukan Pelaksanaan Pekerjaan

1.5.5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1.6. Metodologi Program Kerja Praktek Prosedur dalam melaksanakan kerja praktek dilakukan dalam beberapa tahapan. Dimulai dari pembuatan proposal pengajuan kerja praktek yang kemudian dikirimkan ke perusahaan yang disertai surat pengantar dari pihak jurusan. Setelah mendapatkan surat persetujuan dari perusahaan kemudian mahasiswa melakukan regristrasi ke bidang akademik jurusan bahwa telah diterima kerja praktek di suatu perusahaan. Setelah semua prosedur dan persyaratan dipenuhi kemudaian mahasiswa siap melakukan kerja praktek di lokasi dan waktu sesuai keputusan perusahaan

BAB II DASAR TEORI

2.1. Pengenalan Batubara Batubara merupakan salah satu sumber energi disamping minyak, gas bumi dan panas bumi. Komposisi kimia batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C (carbon), H (hydrogen), O (oxygen), N (nitrogen), S (sulphur), dan P (phospor). Hal ini dikarenakan batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami proses pembatubaraan

(coalification). Komposisi utama batubara serupa dengan komposisi kimia arang kayu. Perbedaannya, arang kayu dapat dibuat sebagai rekayasa dan hasil inovasi manusia selama jangka waktu yang pendek sedangkan batubara terbentuk oleh proses alam yang berlangsung selama jutaan tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam , maka banyak parameter yang akan berpengaruh pada pembentukan batubara.

2.2. Proses Pembentukan Batubara Apabila ada suatu tumbuhan atau pohon yang mati, kemudaian jatuh ke tanah yang kering, maka tumbuhan tersebut akan membusuk dan akhirnya hilang tidak meninggalkan sisa organik, karena diuraikan oleh bakteri pengurai. Akan tetapi apabila suatu tumbuhan atau pohon yang sudah mati kemudian jatuh di daerah yang berair seperti rawa, sungai, atau danau, maka tumbuhan tersebut tidak akan mengalami pembusukan secara sempurna, karena pada kedalaman tertentu bakteri tidak lagi bisa menguraikan tumbuhan tersebut baik bakteri aerob maupun anaerob. Akibatnya sisa tumbuhan tersebut akan terus mengendap membentuk suatu sediment fossil tumbuhan yang selanjutnya mengalami perubahan fisik dan biokimia serta dipengaruhi oleh waktu , tekanan, dan temperature, sehingga membentuk suatu sediment atau batuan organik yang sekarang disebut batubara.

Proses pembentukan batubara terjadi beberapa tahap, dan tahapantahapan tersebut disebut Coalification. Proses coalification tersebut dimulai dari Peat sampai Antrasit. Dalam proses pembentukan batubara tersebut terdapat dua teori penting yang menjelaskan tentang pembentukan batubara, yaitu teori insitu dan teori drift. Teori insitu menjelaskan bahwa batubara terbentuk di daerah dimana tumbuhan tersebut berasal atau dengan kata lain endapan batubara tersebut berada di hutan atau di daerah bekas hutan tumbuhan yang membentuk batubara tersebut. Batubara yang terbentuk dengan teori insitu hanya terjadi di hutan basah atau daerah hutan yang berawa karena di daerah seperti ini beberapa jenis bakteri pengurai tidak aktif, bahkan mati. Sedangkan di daerah hutan kering, pembusukan terjadi sempurna sehingga tidak ada material organik yang tersisa kecuali mineral yang kembali ke tanah dan pada kondisi in tumbuhan yang mati tersebut tidak akan menjadi batubara. Teori drift menjelaskan bahwa batubara terbentuk didaerah yang bukan merupakan daerah dimana tumbuhan pembentuk batubara tersebut berasal. Tumbuhan atau pohon yang sudah mati, kemudian terbawa oleh air (banjir), kemudian terendapkan di delta-delta sungai atau didalam danau purba sehingga pembusukan tumbuhan tersebut tidak sempurna dan akhirnya membentuk fossil tumbuhan yang kemudian menjadi batubar dengan teori drift. Proses atau tahap pertama pembentukan batubara adalah pembentukan Peat atau yang disebut dengan Peatification. Pada tahap ini terjadi perubahan secara biokimia atau perubahan diagenetik. Perubahan yang cepat terjadi pada top 0.5 meter dimana pada kedalaman ini bakteri aerob yang aktif dan menguraikan vegetasi tersebut. Pada level lebih bawah lagi yang aktif adalah bakteri anaereob. Bakteri ini mengkonsumsi oksigen dari molekul organik. Bakteri ini biasanya aktif sampai kedalaman 10 m, di bawah kedalaman tersebut perubahan yang terjadi adalah perubahan kimia seperti polymerisasi, reaksi reduksi dan lain-lain. Pada kedalaman ini berat akumulasi peat menyebabkan tekanan bertambah, dan perubahan fisik pun terjadi pada peat tersebut. Pada prinsipnya perubahan fisik tersebut merupakan pemerasan

kelebihan air dari endapan peat tersebut. Penurunan kandungan moisture pada proses ini tercatat sekitar 1 % untuk setiap kedalaman 10m. Kandungan Carbon pada lapisan bagian atas bertambah agak cepat seiring dengan terjadinya pembusukan pada zat-zat selulosa. Pada transisi dari Peat ke Lignite dan selanjutnya ke sub-bituminous, terjadi penurunan porositas secara drastis. Penurunan porositas ini disebabkan oleh terjadinya kompresi lapisan batubara tersebut oleh berat dari overburden. Penurunan porositas menyebabkan penurunan pula pada kandungan moisture. Pada Lignite moisture berkurang sampai 4 % untuk setiap kedalaman 100m. Sedangkan pada transisi dari Lignite ke sub-bituminou terjadi penurunan moisture 1 % untuk setiap kedalaman 100-200 m. Selama transisi dari Lignite ke sub-bituminous menghasilakan produk dari reaksi coalification yaitu moisture,carbon dioksida, dan gas methan dalam jumlah yang kecil yang merupakan hasil pembusukan sisa-sisa lignin. Pada batubara high volatile bituminous kelanjutan tahap coalification ditunjukan dengan terus berkurangnya oxygen dan moisture yang menghasilkan naiknya nilai kalori. Perubahan transisi dari biuminous ke antrasit, diikuti dengan menurunya nilai Volatile matter yang cukup drastis. Penurunan volatile matter (daf) pada transisi ini mencapai lebih dari 14 % 40 %. Sedangkan kenaikan carbon (daf) nya adalah dari 85% sampai 90%. Perubahan ini disebabkan oleh terjadinya perubahan kimia dalam molekul batubara.

Gambar 1.1. Siklus pembentukan batubara

Proses pembentukan batubara dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi di alam, faktor-faktor tersebut antara lain : 2.2.1. Posisi geoteknik Posisi geoteknik adalah letak suatu tempat yang merupakan cekungan sedimentasi yang keberadaannya dipengaruhi oleh gaya tektonik lempeng. Adanya gaya-gaya tektonik ini akan mengakibatkan cekungan sedimentasi menjadi lebih luas apabila terjadi penurunan dasar cekungan, atau menjadi lebih sempit apabila terjadi penaikan dasar cekungan. Proses tektonik ini dapat pula diikuti oleh perlipatan perlapisan batuan ataupun patahan. Apabiala proses ini terjadi, suatu cekungan sedimentasi akan dapat terbagi menjadi dua atau lebih sub cekungan sedimentasi dengan luasan yang relatif kecil. Proses ini akan berpengaruh terhadap penyebaran batubara yang terbentuk. Makin dekat cekungan sedimentasi batubara terbentuk atau terakumulasi terhadap posisi kegiatan tektonik lempeng, kualitas betubara yang dihasilkan akan semakin baik. 2.2.2. Keadaan topografi daerah Daerah tempat tumbuhan berkembang biak merupakan daerah yang relatif tersedia air. Oleh karena itu tempat tersebut mempunyai topografi yang relatif lebih rendah dibanding daerah yang

mengeliliginya. Makin luas daerah dengan topografi relatif rendah, makin banyak tanaman yang tumbuh, sehingga makin banyak terdapat bahan pembentuk batubara. 2.2.3. Iklim daerah Iklim berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Di daerah beriklim tropis dengan curah hujan silih berganti sepanjang tahun, disamping tersedianya sinar matahari sepanjang waktu, merupakan tempat yang cukup baik untuk pertumbuhan tanaman. Maka dari itu di daerah yang memiliki iklim tropis pada masa lampau sangat dimungkinkan didapatkan endapan batubara dengan jumlah banyak. Kebanyakan luas tanaman yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh iklim akan menentukan penyebaran dan ketebalan batubara yang terbentuk. 2.2.4. Proses penurunan cekungan sedimentasi Cekungan sedimentasi di alam bersifat dinamis, artinya dasar cekungan akan mengalami proses penurunan atau pengangkatan. Apabila proses penurunan dasar cekungan sedimentasi lebih sering terjadi, akan terbentuk penambahan luas permukaan tempat tanaman mampu hidup dan berkembang. Selain itu penurunan dasar cekungan akan mengakibatkan terbentuknya lapisan batubara yang cukup tebal. Di indonesia batubara yang memiliki nilai ekonomis untuk ditambang terdapat pada cekungan sedimentasi yang berumur tersier dengan luasan ratusan hingga ribuan hektar terutama di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. 2.2.5. Umur geologi Jaman karbon (kurang lebih 350 juta tahun yang lalu) diyakini merupakan awal munculnya tumbuh-tumbuhan di dunia untuk pertama kalinya. Di indonesia, batubara didapatkan pada cekungan sedimentasi yang berumur tersier (70 juta tahun yang lalu). Dalam hitungan waktu geologi, 70 tahun yang lalu masih dianggap terlalu muda dibandingkan dengan jaman karbon. Oleh karena itu banyak yang mengatakan bahwa batubara Indonesia adalah batubara muda

10

(young age coal). Hal ini tidak ada hubungannya dengan banyaknya Antrasit yang ditemukan di daerah Sumatra. Penting untuk dipahami bahwa tua-mudanya batubara adalah ditentukan oleh umur

pembentukan batubara tersebut. Sedangkan coal rank ditentukan oleh kualitas batubara tersebut. 2.2.6. Jenis tumbuh-tumbuhan Flora merupakan unsur utama pembentuk batubara.

Pertumbuhan dari flora terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim dan topografi tertentu, merupakan faktor penentu terbentuknya berbagai type batubara. Batubara yang terbentuk dari tanaman yang keras dan berumur tua akan lebih baik dibandingkan dengan batubara yang terbentuk dari tanaman yang berbentuk semak dan hanya berumur semusim. 2.2.7. Dekomposisi Dekomposisi flora merupakan bagian dari transformasi

biokimia dari organik merupakan titik awal untuk seluruh alterasi. Dalam pertumbuhan gambut, sisa tumbuhan akan mengalami perubahan baik secara fisik maupun kimiawi. Setelah tumbuhan mati, proses degradasi biokimia lebih berperan. Proses pembusukan (decay) akan terjadi oleh kerja mikrobiologi (bakteri anaerob). Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti celulosa, protoplasma dan pati. Dari proses diatas terjadi perubahan dari kayu menjadi lignit dan batubara berbitumen. Dalam suasana kekurangan oksigen terjadi proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H2O) dan sebagian unsur karbon akan hilang dalam bentuk karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO) dan methan (CH4). Akibat pelepasan unsur atau senyawa tersebut jumlah relatif unsur karbon akan bertambah. Kecepatan pembentukan gambut tergantung pada kecepatan

perkembangan tumbuhan dan proses pembusukan. Bila tumbuhan tertutup oleh air dengan cepat, maka akan terhindar oleh proses

11

pembusukan, tetapi terjadi proses disintegrasi atau penguraian oleh mikrobiologi. 2.2.8. Sejarah setelah pengendapan Sejarah cekungan tempat terjadi pembentukan batubara salah satu faktor faktor diantaranya ditentukan oleh posisi cekungan sedimentasi tersebut terhadap posisi geoteknik. Makin dekat posisi cekungan sedimentasi terhadap posisi geoteknik yang selalu dinamis akan mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan letak batubara berada. Selama waktu itu pula proses geokimia dan metamorfisme organik akan ikut berperan dalam mengubah gambut menjadi batubara. Apabila dinamika geoteknik memungkinkan terbentuk lipatan pada lapisan batuan yang mengandung batubara, dan terjadi proses pensesaran, proses ini akan mempercepat terbentuknya batubara dengan rank yang lebih tinggi. Proses ini akan dipercepat apabila dalam cekungan tempat batubara tersebut berada terjadi mroses intrusi magmatis. Panas yang ditimbulkan selama terjadinya proses perlipatan, pensesaran, dan proses intrusi magmatis akan mempercepat terjadinya proses coalification. 2.2.9. Struktur geologi Terbentuknya batubara pada cekungan batubara umumnya mengalami deformasi oleh gaya tektonik, yang akan menghasilkan lapisan batubara dengan bentuk tertentu. Semakin banyak perlipatan dan pensesaran terjadi di dalam cekungan sedimentasi yang mengandung batubara, secara teoritis akan meningkatkan mutu batubara. Oleh sebab itu pencarian batubara bermutu baik diarahkan pada daerah geosinklin atau geantiklin karena kedua daerah tersebut diyakini kegiatan tektonik berjalan cukup intensif. 2.2.10. Metamorfosa organik Tingkat kedua dalam pembentukan batubara adalah penimbunan atau penguburan oleh sedimen baru. Pada tingkat ini proses degradasi biokimia tidak berperan lagi tetapi lebih didominasi oleh proses dinamokimia. Proses ini menyebabkan terjadinya perubahan gambut

12

menjadi batubara dalam berbagai mutu. Selama proses ini terjadi pengurangan air lembab, oksigen dan zat terbang (seperti CO2, CO, CH4 dan gas lainnya) serta bertambahnya prosentase karbon padat, belerang dan kandungan abu. Perubahan mutu batubara diakibatkkan oleh faktor tekanan dan waktu. Tekanan dapat disebabkan oleh lapisan sedimen penutup yang sangat tebal atau karena tektonik.

13

2.3. Komponen Penyusun Batubara Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya. Komponen batubara secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu Moisture/air, Mineral Matter, dan Organik. Lihat ilustrasi gambar dibawah ini : Kalau Batubara dimisalkan sebagi batang atau tabung, maka bagian bagian komponen batubara adalah sebagai berikut :

Gambar 2.2. Bagian- bagian komponen batubara

14

Substansi batubara selain seperti yang diilustrasikan diatas, juga dapat digolongkan lagi menjadi beberapa golongan substansi sepeti Proximate, Ultimate, dan Maceral. 2.3.1. Coal proximate Batubara dapat dibagi menjadi 4 bagian dalam proximate, dimana pada bagian organik batubara dibagi lagi menjadi 2 berdasarkan sifat penguapan atau keteruraian dengan pemanasan pada suhu tertentu dan waktu tertentu. Bagian Organik yang menguap atau terurai ketika batubara dipanaskan tanpa oksigen pada temperature 900o Celsius digolongkan sebagai Volatile Matter. Sedangkan bagian organik batubara yang tetap pada pemanasan tersebut digolongkan sebagai Fixed Carbon atau karbon tetap. Volatile matter biasanya berasal dari struktur alifatik carbon yang mudah putus dengan thermal dekomposisi, sedangkan fixed carbon berasal dari gugus rantai carbon yang kuat seperti gugus aromatik. Semakin tinggi peringkat batubara semakin besar jumlah carbon yang membentuk aromatik, dan semakin tinggi juga fixed carbon dan semakin rendah Volatile Matter yang diperoleh. Oleh karena itu peringkat batubara dapat dilihat dengan penurunan Vlatile matter. 2.3.2. Coal ultimate Pada penggolongan batubara ultimate, unsur moisture dan mineral matter tetap, tetapi unsur organiknya dibagi berdasarkan unsur pembentuk organik tersebut. Unsur- unsur pembentuk organik batubara terdiri dari Total Carbon, baik yang berasal gugus alifatik maupun yang berasal dari gugus aromatik, Kemudian Hidrogen (tidak termasuk hidrogen yang berasal dari air atau moisture. Kemudian Nitrogen, Sulfur, dan Oksigen. Dalam penentuannya Oksigen tidak secara langsung ditentukan melainkan dengan cara mengurangkan unsur organik yang 100% dikurangi dengan Carbon, Hidrogen, Nitrogen dan Sulfur.

15

2.3.3. Coal maceral Pada penggolongan Coal Maceral, unsur moisture dan mineral matter tetap, akan tetapi unsur organiknya dibagi berdasarkan substansi pembentuk batubara yang terdiri dari 3 golongan atau grup maceral yaitu Vitrinite, Exinite atau liptinite, dan Inertinite. Grup maceral ini didasarkan pada fosil atau bahan pembentuk batubara seperti daun, akar batang, cutikula, spora, dan lain-lain. Vitrinite Vitrinite adalah maceral yang paling domonant dalam batubara. Maceral ini berasal dari batang pohon, cabang, atau dahan, tangkai, daun, dan akar tumbuhan pembentuk batubara. Nilai reflectan dari Vitrinite dijadikan penentu peringkat batubara, dan sering dikorelasikan dengan nilai volatile matter seperti yang terdapat pada ASTM standard. Exinite atau liptinite Seperti namanya, Liptinite berasal dari spora, resin, alga, cutikula (yang terdapat pad permukaan daun) lilin/parafin, lemak dan minyak. Suberinite, tidak tercantum diatas, hanya terdapat pada batubara tersier. Maceral ini berasal dari substansi semacam gabus yang terdapat pada kulit kayu, dan pada permukaan akar, batang dan buah buahan. Fungsi dari maceral ini sebenarnya untu mencegah pengeringan pada tanaman. Inertinite Material pembentuk inertinite sebenarnya sama dengan pembentuk Vitrinite. Yang membedakannya adalah historikal pembentukannya yang disebut fusination. Charring atau oksidasi pada saat proses pembentukan batubara berlangsung merupakan proses yang membedakan substansi Vitrinite dan Inertinite. Inertinite ini biasanya memiliki kadar carbon yang tinggi, hydrogen yang rendah serta derajat aromatisisty yang tinggi. Fusinite sering juga disebut sebagai mother of charcoal karena diidentikan dengan

16

terjadinya forest fire pda saat dekomposisi batubara. Pada batubara Indonesia Maseral dari grup inertinite seperti sclerotinite banyak ditemukan dan biasanya berasal dari sisa-sisa atau fosil fungi.

2.4. Kualitas dan Klasifikasi Batubara Hasil dari analisa dan pengujian contoh batubara digunakan oleh Geologis eksplorasi untuk mengevaluasi apakah deposit batubara memiliki potensi untuk mensuplai pasar yang telah ada dan yang akan datang , dan feasibility study apakah layak untuk melakukan operasi penambangan pada cadangan batubara tersebut. Maka dari itu perlu dilakukan pengujian terhadap sampel batubara yang sudah didapat dari data pemboran. Tingkat perubahan yang dialami batubara, dari gambut sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan dan memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai tingkat mutu batubara. Batubara dengan mutu yang rendah, seperti batubara muda dan sub-bitumen biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Batubara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya rendah. Batubara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Batubara dengan mutu yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak. Antrasit adalah batubara dengan mutu yang paling baik dan dengan demikian memiliki kandungan karbon dan energi yang lebih tinggi serta tingkat kelembaban yang lebih rendah Pengujian yang dilakukan digunakan untuk menentukan karakteristik batubara sesuai dengan peringkat (rank) dan potensi pemanfaatannya, yang terdiri dari ; Pengujian fisik, seperti Hardgrove Grindability Index, Relative Density, Sizing Analysis, Handling, Float & Sink Test. Pengujian kimia, seperti analisa proksimat, analisa ultimat, nilai kalori

17

Pengujian pemanfaatan batubara thermal, seperti ash fusion, ash analysis untuk elemen mayor dan elemen mikro, trace element, fly ash properties. Evaluasi Petrografik. Ada beberapa sistem klasifikasi yang biasanya digunakan untuk menentukan rank suatu batubara yaitu : 2.4.1. ASTM Classification Sistem klasifikasi ini mempergunakan volatile matter (dmmf), fixed carbon (dmmf) dan calorific value (dmmf) sebagai patokan. Untuk anthracite, fixed carbon (dmmf) merupakan patokan utama, sedangkan volatile matter (dmmf) sebagai patokan kedua. Bituminous mempergunakan volatile matter (dmmf) sebagai patokan kedua. Lignite mempergunakan calorific value (dmmf) sebagai patokan. 2.4.2. Seylers Classification Ralstons mempergunakan hasil analisa ultimate yang sudah dinormalisasi (C + H + O = 100). Ditampilkan dalam bentuk triaxial plot. Band yang terdapat pada triaxial plot tersebut ialah area dimana batubara berada. 2.4.3. Ralstons Classification System klasifikasi ini mempergunakan % carbon (dmmf) dan % hydrogen (dmmf) sebagai dasar utama. Klasifikasi ini ditampilkan dalam bentuk beberapa grafik kecil yang bertumpu pada grafik utama. Grafik utama menghubungkan % carbon (dmmf) dengan % hydrogen (dmmf). sedangkan grafik kecil menggambarkan hubungan calorific value (dmmf) dengan % volatile matter (dmmf) dan % moisture (adb), menggambarkan % oxygen (dmmf), crucible swelling number dan rasio O/H=8. Ditengah grafik tersebut terdapat band yang

menggambarkan yang menggambarkan area dimana 95% batubara inggris akan berada serta menunjukkan jenisnya.Batubara yang jatuh di atas band disebut per-hydrous sedangkan yang jatuh di bawahnya disebut sub-hyrous. Seylers chart ini tidak cocok untuk low rank coal.

18

2.4.4. ECE Classification (Economic Commission for Europe) ECE membuat system klasifikasi yang dapat dipergunakan secara luas, pada tahun 1965 yang kemudian menjadi standar

international.Sistem ini mengelompokkan batubara dalam class, group dan sub-group. Coal class mempergunakan calorific value atau volatile matter sebagai patokan. Coal group mempergunakan Gray-king coke type atau maximum dilatation pada Audibert-Arnu dilatometer test sebagai patokan, sedangkan coal sub-group mempergunakan crucible swelling number dan Roga test sebagai patokan. Sistem ini mampu menunjukkan coal rank dan potensi penggunaannya, terutama coal group dan coal sub-group yang menjelaskan perilaku batubara jika dipanaskan secara perlahan maupun secara cepat sehingga dapat memberikan gambaran kemungkinan penggunaannya. Pada tahun 1988 sistem ini dirubah dengan lebih menekankan pada pengukuran petrographic. 2.4.5. International Classification for Lignite ISO 2960:1974 Brown Coals and Lignites. Classification by Type on the Basis of Total Moisture content and Tar Yield. Mengelompokkan batubara yang mempunyai heating value (moist,ash free) lebih kecil dari 5700 cal/g. Batubara dikelompokkan dalam coal class dengan patokan total moisture dan coal group dengan patokan tar yield. Tar yield diukur dengan Gray-King Assay, dimana batubara didestilasi dan hasilnya berupa gas, air, cairan, tar dan char dilaporkan dalam persen. Tar yield mempunyai korelasi dengan hydrogen dan pengukuran ini cukup baik sebagai indicator komposisi petrographic.

Diantara sistem klasifikasi diatas yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi ASTM (American Society for Testing and Material). Dimana sistem ini membagi rank atau golongan batubara menjadi beberapa kelas seperti dibawah ini:

19

Tabel 2.1. Klasifikasi batubara berdasarkan tingkatnya (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983)

2.5. Lingkungan Pengendapan Batubara Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruhpengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi. Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa).

20

Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil. Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.

Tabel 2.2. Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara(Diesel, 1992)

Environment Gravelly braid plain

Subenvironment Bars, channel, overbank plains, swamps, raised bogs

Coal Characteristics mainly dull coals, medium to low TPI, low GI, low sulphur

Sandy braid plain

Bars, channel, overbank plains, swamp, raised bogs,

mainly dull coals, medium to high TPI, low to medium GI, low sulphur

Alluvial valley and upper delta plain

channels, point bars, floodplains and basins, swamp, fens, raised bogs

mainly bright coals, high TPI, medium to high GI, low sulphur mainly bright coals, low to medium TPI, high to very high GI, high sulphur transgressive : mainly bright coals, medium TPI, high GI, high sulphur regressive : mainly dull coals, low TPI and GI, low sulphur

Lower delta plain

Delta front, mouth bar, splays, channel, swamps, fans and marshes

Backbarrier strand plain

Off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamp, and marshes

Estuary

channels, tidal flats, fens and marshes

mainly bright coal with high GI and medium TPI

21

Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998). Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen. Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination. Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas. Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis. Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut.

22

Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis (Allen, 1985).

2.6. Tahapan Penambangan Batubara Tahapan kegiatan penambangan batubara yang diterapkan untuk tambang terbuka adalah sebagai berikut : 2.6.1. Persiapan Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan dalam tahap penambangan. Kegiatan ini bertujuan mendukung kelancaran kegiatan penambangan. Pada tahap ini akan dibangun jalan tambang (acces road), stockpile, dll. 2.6.2. Pembersihan lahan (land clearing) Kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan daerah yang akan ditambang mulai dari semak belukar hingga pepohonan yang berukuran besar. Alat yang biasa digunakan adalah buldozer ripper dan dengan menggunakan bantuan mesin potong chainsaw untuk menebang pohon dengan diameter lebih besar dari 30 cm. 2.6.3. Pengupasan Tanah Pucuk (top soil) Maksud pemindahan tanah pucuk adalah untuk menyelamatkan tanah tersebut agar tidak rusak sehingga masih mempunyai unsur tanah yang masih asli, sehingga tanah pucuk ini dapat diguanakan dan ditanami kembali untuk kegiatan reklamasi. Tanah pucuk yang dikupas tersebut akan dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara atau langsung di pindahkan ke timbunan. Hal tersebut bergantung pada perencanaan dari perusahaan. 2.6.4. Pengupasan Tanah Penutup (stripping overburden) Bila material tanah penutup merupakan material lunak (soft rock) maka tanah penutup tersebut akan dilakukan penggalian bebas. Namun bila materialnya merupakan material kuat, maka terlebih dahulu dilakukan pembongkaran dengan peledakan (blasting)

23

kemudian dilakukan kegiatan penggalian. Peledakan yang akan dilakukan perlu dirancang sedemikian rupa hingga sesuai dengan produksi yang diinginkan. 2.6.5. Penimbunan Tanah Penutup (overburden removal) Tanah penutup dapat ditimbun dengan dua cara yaitu backfilling dan penimbunan langsung. Tanah penutup yang akan dijadikan material backfilling biasanya akan ditimbun ke penimbunan sementara pada saat taambang baru dibuka. 2.6.6. Penambangan Batubara (coal getting) Untuk melakukan penambangan batubara (coal getting) itu sendiri, terlebih dahulu dilakukan kegiatan coal cleaning. Maksud dari kegiatan coal cleaning ini adalah untuk membersihkan pengotor yang berasal dari permukaan batubara (face batubara) yang berupa material sisa tanah penutup yang masih tertinggal sedikit, serta pengotor lain yang berupa agen pengendapan (air permukaan, air hujan, longsoran). Selanjutnya dilakukan kegiatan coal getting hingga pemuatan ke alat angkutnya. Untuk lapisan batubara yang keras, maka terlebih dahulu dilakukan penggaruan. 2.6.7. Pengangkutan Batubara (coal hauling) Setelah dilakukan kegiatan coal getting, kegiatan lanjutan adalah pengangkutan batubara (coal hauling) dari lokasi tambang (pit) menuju stockpile atau langsung ke unit pengolahan. 2.6.8. Pengupasan parting (parting removal) Parting batubara yang memisahkan dua lapisan atau lebih batubara peerlu dipindahkan agar tidak mengganggu dalam

penambangan batubara. 2.6.9. Backfilling (dari tempat penyimpanan sementara) Tanah penutup maupun tanah pucuk yang sebelumnya disimpan di tempat penyimpanan sementara akan diangkut kembali ke daerah yang telah tertambang (mined out). Kegiatn ini dimaksudkan agar pit bekas tambang tidak meninggalkan lubang yang besar dan digunakan untuk rehabilitasi lahan pasca tambang.

24

2.6.10. Perataan dan Rehabilitasi Tanah (spreading) Terdiri dari pekerjaan penimbunan, perataan, pembentukan, dan penebaran tanah pucuk diatas disposal overburden yang telah di backfilling, agar daerah bekas tambang dapat ditanami kembali untuk pemulihan lingkungan hidup (reclamation). 2.6.11. Penghijauan (reclamation) Merupakan proses untuk penanaman kembali lahan bekas tambang, dengan tanaman yang sesuai atau hampir sama seperti pada saat tambang belum dibuka. 2.6.12. Kontrol (monitoring) Kegiatan ini ditujukan untuk pemantauan terhadap aplikasi rencana awal penambangan. kontrol akan dilakukan terhadap lereng tambang, timbunan, ataupun lingkungan, baik terhadap pit yang sedang aktif maupun pit yang telah ditambang.

2.7. Wellsite Geologist Dalam Tahapan Eksplorasi batubara Pada tahapan eksplorasi, salah satu tahapan yang memegang peranan penting adalah tahapan pemboran awal, dimana pada tahapan ini diperlukan adanya pengawasan lapangan yang merupakan peranan seorang wellsite geologist. Wellsite geologist merupakan seorang pengawas lapangan yang bertugas dan bertanggung jawab mengawasi suatu lokasi pemboran dalam suatu kegiatan eksplorasi pemboran demi kelancaran pemboran tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka peranan seorang wellsite geologist dalam kelancaran pemboran sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, akan dijelaskan peranan seorang wellsite geologist dalam eksplorasi pemboran batubara yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Dilihat dari jenis pekerjaan yang dilakukan maka seorang wellsite geologi harus memiliki kemampuan yang dapat menunjang pekerjaan di lapangan. Adapun beberapa kemampuan umum yang perlu dimiliki oleh seorang wellsite geologi, Memiliki pengetahuan tentang ilmu geologi Mengerti tentang tahapan eksplorasi batubara
25

Memahami teori-teori tentang batubara Mengenal kondisi lapangan (lokasi penelitian) Memahami tentang standart operational prosedur (SOP) perusahaan sebagai wellsite geologi.

26

Diagram alir kerja Wellsite Geologist

Data Geologist

Rencana Aktivitas Kerja

Mobilisasi Lapangan

Penentuan titik Pemboran

Setup Rig

Drilling & Diskripsi cutting / coring

logging

Compare Data Drlling dan Logging Coal Recovery >90% Sampling Batubara

Redrill

Coal Recovery <90%

Data Lapangan

Packing Sample

Sample Delivery

Test Laboratory

Pengambilan koordinat lubang bor

Report

27

Dalam kegiatana eksplorasi, peranan seorang wellsite geologist dibagi dalam beberapa tahapan, yaitu : 2.7.1. Tahap Pemboran Salah satu jenis kegiatan dalam eksplorasi untuk penyelidikan di bawah permukaan bumi adalah pemboran. Maksud dan tujuan kegiatan pemboran dalam eksplorasi geologi adalah : Untuk mengetahui jenis dan urutan lapisan batuan Untuk mengetahui adanya indikasi geologi struktur Untuk mengambil sample yang diperlukan dalam eksplorasi geologi Proses pemboran memiliki beberapa macam kategori yang ditinjau dari beberapa aspek, di antaranya : Berdasarkan metode penetrasi lapisan batuan dan jenis mesin yang digunakan, pemboran dibagi menjadi tiga bagian yaitu : 1. Pemboran dengan menggunakan sistem putaran (rotari drilling). Umumnya dilakukan untuk pemboran pada batuan yang relatif keras dan pengambilan contoh batuan dalam kondisi disturb (kondisi terganggu). 2. Pemboran dengan menggunakan sistem tumbukan (percussion drilling). Umumnya dilakukan untuk pemboran pada batuan / tanah yang relatif lunak dan pengambilan contoh batuan dalam kondisi undisturb (kondisi tidak terganggu). 3. Pemboran dengan menggunakan sistem campuran antara rotary drilling dengan sistem tumbukan (percussion drilling). Umumnya dilakukan untuk pemboran pada batuan atau tanah yang relatif lunak , keras dan pengambilan contoh batuan dalam kondisi disturb dan undisturb (kondisi terganggu dan kondisi tidak terganggu). Berdasarkan arahnya, pemboran dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Pemboran vertikal yaitu pemboran yang arahnya relatif tegak lurus dengan permukaan bumi.

28

2. Pemboran horisontal yaitu pemboran yang arahnya relatif sejajar dengan permukaan bumi. 3. Pemboran directional yaitu pemboran yang arahnya ditentukan berdasarkan arah tertentu. Berdasarkan metode pengambilan sampel batuan, pemboran dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: 1. Pemboran full coring, yaitu pemboran yang dilakukan dengan mengambil semua sample batuan. 2. Pemboran open hole, yaitu pemboran yang dilakukan dengan tidak mengambil sample batuan, dimana data yang data pemboran ini berdasarkan deskripsi cutting yang diambil permeternya. 3. Pemboran touch coring, yaitu pemboran yang merupakan kombinasi antara pemboran open hole dengan pemboran coring, dimana pemboran coring hanya dilakukan pada lapisan batuan yang diinginkan. Berdasarkan kedalaman penetrasi, pemboran dibagi dua jenis,yaitu: 1. Pemboran dalam (deep drilling), yaitu pemboran yang dilakukan dengan kedalaman pemboran mencapai 51 meter atau lebih. 2. Pemboran dangkal (shallow drilling), yaitu pemboran yang dilakukan dengan kedalaman pemboran antara 30 sampai 50 meter, bahkan kurang dari 30m. Dalam tahapan pemboran, tugas dan peranan seorang wellsite geologist antara lain, yaitu penentuan titik bor, pengawasan proses pemboran, dan penentuan pemindahan lokasi/titik bor : 1. Penentuan Titik Bor Tahapan awal yang dilakukan oleh wellsite geologist dalam proses pemboran adalah menentukan lokasi titik bor yang akan dilakukan proses pemboran. Penentuan titik bor ini diinstruksikan oleh wellsite geologist kepada juru bor (driller) berdasarkan data yang sudah ada di GPS dan data survei yang meliputi letak, nomor titik bor, dan elevasinya atas persetujuan geoevaluator site. Dalam

29

penentuan titik bor terkadang terdapat ketidaksesuaian antara data survei pada GPS dengan kondisi di lapangan. Berdasarkan hal tersebut, maka wellsite geologist dituntut untuk memperbaiki penetuan titik bor tersebut. Apabila penentuan suatu titik bor selesai, maka wellsite geologist memberikan perintah dimulainya pemboran. 2. Pengawasan Proses Pemboran Pada eksplorasi pemboran batubara di suatu perusahaan, kegiatan pemboran dilaksanakan oleh pihak kontaktor. Kegiatan pemboran yang dilaksanakan membutuhkan paling sedikitnya 4 orang untuk menjalankan aktifitas pemboran batubara tersebut. Dimana terdiri atas 1 orang operator (driller) dan 3 orang sebagai pembantu operator (drilling crew). Dalam pelaksanaannya seorang operator pemboran wajib menjalankan keputusan seorang wellsite geologist, jadi dengan kata lain seorang operator pemboran bertanggung jawab kepada wellsite geologist yang sedang bertugas di lokasi pemboran tersebut. Selama pemboran berlangsung menjadi tugas seorang Wellsite geologist merekam dan mengawasi setiap hal yang terjadi menyangkut proses pemboran. Wellsite Geologist berhak pula untuk menghentikan atau meneruskan proses pemboran dengan berbagai alasan teknis atau dalam keadaan yang tidak aman, serta memastikan semua peralatan pemboran berfungsi dengan baik. Peralatan pemboran yang berfungsi dengan baik akan menunjang kelancaran proses pemboran dan keamanan dalam prose pemboran. 3. Penentuan pemindahan lokasi/titik bor Setelah proses pemboran pada suatu titik bor selesai, maka selanjutnya wellsite geologist bertanggungjawab memberikan

perintah kepada operator/juru bor untuk melakukan pemboran di lokasi/titik bor yang baru. Adapun suatu titik bor dianggap telah selesai apabila hasil pemboran (dalam hal ini sampel batubara yang diperoleh) telah memenuhi ketentuan atau standar yang telah ditentukan, yaitu berupa nilai coal recovery. Dimana standar yang biasa digunakan adalah nilai coal recovery dalam range 90 100 %.

30

Jika hasil pemboran tidak memenuhi nilai coal recovery yang ditentukan, maka wellsite geologist harus melakukan beberapa analisa untuk memutuskan apakah lokasi/titik bor tersebut harus dilakukan pemboran kembali (redrill) atau dinyatakan selesai.

2.7.2. Tahap pengambilan data dan sampel pemboran Proses pemboran yang diawasi oleh wellsite geologist pada tahapan eksplorasi yang sering dilakukan pada saat ini termasuk dalam pemboran dengan metode touch coring. Metode ini berupa metode pemboran yang merupakan kombinasi antara pemboran open hole dengan pemboran coring, dimana pemboran coring hanya dilakukan pada lapisan batuan yang diinginkan. Dalam proses pegeboran ini seorang wellsite geologist harus mengambil semua data tentang pemboran. Pada saat pemboran open hole, wellsite geologist harus mendiskripsi kan cutting yang keluar dari lobang pemboran tiap meternya. Pendeskripsian cutting yang dilakukan wellsite geologist

didasarkan atas parameter yang telah ditentukan atau berdasarkan standar yang ditentukan oleh perusahaan. Adapun parameter

pendeskripsian yang biasa dilakukan oleh wellsite geologist pada tahap eksplorasi, yaitu : Pemerian pada batubara yang perlu diperhatikan adalah : a. Warna (color), adalah warna yang terlihat dipermukaan dengan mata telanjang. b. Gores (streak), adalah warna dari batubara yang telah digores menjadi serbuk. c. Tingkat kelapukan, d. Pecahan (fracture), istilah yang dipakai even, uneven, conchoidal, sub conchoidal, flat. e. Kilap (luster/bright), istilah ini dinyatakan dalam prosentase, misal : bright 60% Pemerian pada litologi selain batubara yang perlu diperhatikan adalah :

31

a. Warna (color) lithologi b. Besar butir (grain size), adalah ukuran (diameter dari fragmen batuan). Skala pembatasan yang dipakai adalah Skala Wentworth. c. Pemilahan (sorting), adalah tingkat keseragaman besar butir. Istilah istilah yang dipakai adalah terpilah baik (butir butir sama besar), terpilah sedang dan terpilah buruk. d. Kebulatan (roundness), adalah tingkat kelengkungan dari setiap fragmen butiran. Istilah istilah yang dipakai adalah : - wellrounded (membundar baik) - rounded (membundar) - sub rounded (membundar tanggung) - angular (menyudut0 - sub angular (menyudut tanggung) e. Kemas (fabric), adalah sifat hubungan antar butir, kesatuannya di dalam satu massa dasar atau di antara semennya. Istilah kemas terbuka digunakan untuk butiran yang tidak saling bersentuhan, dan kemas tertutup untuk butiran yang saling bersentuhan. f. Porositas, adalah perbandingan antara jumlah volume rongga dan volume keseluruhan dari satu batuan. Dalam hal ini dapat dipakai istilah istilah yang kualitatif yang merupakan fungsi daya serap batuan terhadap cairan, yaitu porositas sangat baik (very good), baik (good), sedang (fair), buruk (poor) diuji dengan meneteskan cairan. g. Semen dan Massa Dasar (matrix) Semen adalah bahan yang mengikat butiran. Semen terbentuk pada saat pembentukan batuan, dapat berupa silika, karbonat, oksida besi atau mineral lempung. Massa dasar (matrix) adalah massa dimana butiran/fragmen berada dalam satu kesatuan. Massa dasar terbentuk bersama fragmen pada saat sedimentasi, dapat berupa bahan semen atau butiran yang lebih halus.

32

h. Struktur Sedimen Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer, yaitu struktur yang terbentuk pada saat pembentukan batuan (pada saat sedimentasi). Beberapa struktur sedimen hanya dapat diamati pada satu atau beberapa satuan perlapisan. Perlapisan dapat ditunjukkan oleh perbedaan besar butir atau warna dari bahan penyusunannya. Perlapisan beragam dari yang tipis (laminasi) sampai tebal.

Setelah kegiatan pengeboran open hole sampai pada kedalaman yang diinginkan atau sudah sampai pada lapisan batubara, maka selanjutnya dilakukan coring untuk mengambil sampel batubara yang diinginkan. Untuk mengambil inti/core batuan, maka digunakan suatu alat yang dinamakan core barel. Biasanya dalam satu penangkapan inti/core batuan dengan menggunakan core barel, panjang maksimal inti/core batuan yang dapat tertangkap yaitu 1.60 m. Kegiatan eksplorasi pemboran batubara yang menggunakan core barel dengan kapasitas 1.60 m maka dimana satu kali proses penangkapan atau pengambilan inti/core batuan dengan menggunakan core barrel biasanya disebut satu run. Adapun tugas wellsite geologist dalam tahap pengambilan sampel batubara adalah sebagai berikut : a. Melakukan pencatatan kedalaman (interval) run setiap kemajuan coring b. Melakukan pengukuran panjang core pada tabung inner split setiap kemajuan coring (run). Inner split dikeluarkan dari tabung split dengan cara menyemprot memakai pompa air, tidak dengan cara yang bisa merusak core di dalam inner split, misalnya : memukul core barrel c. Core sampel yang berada dalam tabung core barel dikeluarkan bersama sama dengan tabung split. d. Panjang core sampel langsung diukur untuk mengetahui recovery core sampel.

33

Panjang core sampel yg didapat Recovery core sampel = Panjang coring yg dilakukan e. Melakukan deskripsi terhadap core batubara dan non batubara. f. Membungkus core batubara dengan plastik wrap dan letakkan pada tempat yang terhindar dari cahaya matahari langsung dengan tujuan tetap menjaga kelembaban inti/core sample. g. Core sampel yang sudah dikeluarkan kemudian diletakkan pada core box (kotak core). Core box dibuat sesuai dengan ukuran core sampel, panjang 1 meter lebar disuaikan. Satu core box dibuat untuk total kedalaman 5 meter. h. Penyusunan core sampel dimulai dari ujung pojok kiri (top/roof) dan seterusnya menyambung dari top/roof sampai bottom/floor. X 100 %

1 meter Top/roof
1 2 3 4 5

Bottom/floor
Gambar : Core Box (pandangan atas), tanda panah dalam box menunjukkan arah cara meletakan sampel

i. Core box diberi tanda atau kode nomor lokasi bor, interval kedalaman bor dan nomor box. j. Kondisi core sampel maupun core box harus dalam keadaan aman. k. Melakukan pengambilan sampel batubara Lakukan deskripsi/pemerian sampel secara megaskopis dengan teliti dan benar. Tentukan bagian roof dan bagian floor.

34

Pastikan dengan teliti dan benar, ada parting atau tidak, ada yang loss atau tidak sebagai pertimbangan untuk menentukan panjang pembagian sampel (ply by ply) yang akan diambil. Tentukan batas panjang bagian sampel (ply) dan jumlah sampel yang akan diambil. Tulis interval sampel pada buku deskripsi. Tulis nomor sampel, nomor kode lokasi bor, lokasi pengambilan sampel, interval sampel, tebal sampel, nomor bag (plastik sampel) berapa dari total bag berapa, tulis remarks (misal : sampel lapuk, parting ikut disampel, interval loss sampel) pada kartu sampel. Siapkan plastik sampel dan tulis nomor kode lokasi bor dan nomor sampel, interval sampel, tebal sampel, nomor bag berapa dari bag berapa. Ambil dan masukkan sampel pada plastik sampel, bagian per bagian sesuai dengan nomor bagian (ply). Sampel tidak boleh terkontaminasi dengan kotoran atau sampel lain. Masukkan kartu sampel pada plastik sesuai dengan nomor sampel. Kartu sampel tidak boleh kontak langsung dengan sampel (kartu sampel dilapisi plastik supaya tidak tembus uap air atau rusak). Ikat plastik sampel dengan kuat dan benar sesuai petunjuk, menggunakan tali yang sudah disediakan. Masing masing plastik sampel (bag) dijadikan satu sesuai dengan nomor lokasi bor atau sesuai dengan satu lapisan dan diikat dengan kuat dan benar supaya tidak berhamburan atau tercecer dan memudahkan untuk pengecekan ulang. Sampel langsung dibawa ke camp atau tempat yang sudah disediakan sebelum dibawa ke laboratorium. Jika lokasi dekat dengan laboratorium sampel dapat langsung dibawa ke lab. Dari tempat lokasi pengambilan sampel sampai dengan

laboratorium, sampel tidak boleh kehujanan atau rusak karena dapat mengurangi keakurasi hasil analisa.

35

Gambar Contoh penulisan kartu sampel


PT. PESONA KHATULISTIWA NUSANTARA Sample No Bore Hole Location Sample Interval Sample Thickness Bag Remarks : 01 : PKN-11-S_020 : SENGKELAMI : 15.00 to 18.00 M : 3.00 M : 01 OF 02 : 2 BAG

2.7.3. Tahap perekeman data Elektrik Logging Perekaman data secara manual kadang kala kelihatannya kurang akurat dikarenakan dalam kegiatan pemboran biasanya sering terjadi kesalahan- kesalahan yang disebabkan dari kesalahan teknik pemboran (adanya water lost, core lost, dan sebagainya) maupun disebabkan hal lainnya. Sedangkan data yang diperlukan memerlukan keakuratan yang baik untuk dijadikan data penunjang dalam evaluasi dan tahapan eksploitasi (penambangan). Sehingga untuk mengantisipasi hal-hal tersebut maka digunakanlah elektrik logging dalam perekaman data. Dengan metode geofisika tersebut pengambilan data lapangan bisa menjadi lebih akurat walaupun tidak secara detail, sebagai pendamping pelaksana kegiatan pemboran. Dengan metode Logging Geofisika Elektrik Logging, seorang wellsite geologist dapat mengetahui dan memperoleh data sebagai berikut : Jenis litologi, baik batubara maupun batuan pengapitnya. Kedalaman dan ketebalan lapisan seam batubara.

Lapisan pengotor (parting). Perbandingan ketebalan batubara dari data elektrik logging
dengan data pemboran Parameter yang digunakan dalam perekaman dan pengukuran data electric logging terdiri atas empat (4) parameter untuk pemboran dalam (deep drilling) yaitu : gamma ray, density, resistivity, dan caliper serta
36

dua (2) parameter untuk pemboran dangkal (shallow drilling) yaitu hanya gamma ray, density. 1. Electric Logging Gamma Ray Elektrik logging ini berfungsi untuk menentukan lithologi batuan berdasarkan unsur radioaktif. Shale dan batulempung (mudstone) mempunyai tingkat radioaktif yang tinggi dibanding batupasir (sandstone) dan batubara (coal). Untuk defleksi dari batuan lempung tersebut simpangan mengarah ke kanan dari diagram. Sedangkan batubara yang mempunyai tingkat radioaktif yang kecil maka arah dari defleksi simpangan mengarah ke kiri diagram. Adapun cara penentuan top dan bottom batubara untuk penentuan ketebalan mengacu pada BPB Company. Dimana ditetapkan bahwa untuk perhitungan top batubara ditentukan 1/3 dari bagian atas garis kelurusan kurva yang menunjukkan perubahan lithologi dari batubara dengan lithologi lain di atasnya dan untuk perhitungan bottom batubara ditentukan 1/3 dari bagian atas garis kelurusan kurva yang menunjukkan perubahan lithologi dari batubara dengan lithologi lain di bawahnya. 2. Electric Logging Density Electric logging density merupakan suatu pengukuran yang berfungsi untuk mengukur kerapatan elektron pada suatu lapisan batuan. Metode kerja dari elektrik logging ini didasarkan pada massa jenis dan sifat kerapatan yang dikandung oleh lapisan batuan, dimana batubara mempunyai massa jenis dan sifat (kerapatan) yang besar dibandingkan dengan batuan lainnya sepert limestone, mudstone, dan sandstone. Untuk penentuan top dan bottom batubara untuk mengukur ketebalan dari data density yaitu dengan cara menentukan 1/2 dari bagian atas garis kelurusan kurva yang menunjukkan perubahan lithologi dari batubara dengan lithologi lain di atasnya (untuk perhitungan top batubara) dan 1/2 dari bagian atas garis kelurusan kurva yang menunjukkan perubahan lithologi dari batubara dengan litologi lain di bawahnya (untuk bottom batubara)

37

3. Electric Logging Resistivity Electric logging resistivity didasarkan pada porositas dari tahanan jenis yang diselidiki. Untuk batuan dengan porositas tinggi akan mempunyai tahanan jenis rendah dan sebaliknya. Untuk batubara merupakan jenis batuan yang mempunyai porositas paling rendah dibandingkan dibandingkan dengan batuan yang lainnya, sehingga batubara mempunyai tahanan jenis yang tinggi. 2.7.3. Tahap Pelaporan Data Setelah melakukan beberapa tahapan dari seluruh rangkaian tahapan eksplorasi, maka tahapan akhir yang harus dilaksanakan oleh seorang wellsite geologist, yaitu tahapan pelaporan data. Tahap ini meliputi pelaporan dari seluruh rangkaian tahapan eksplorasi, mulai dari tahap pemboran sampai dengan tahap pengambilan/perekaman data. Tahap pelaporan data ini nantinya akan menghasilkan suatu laporan yang mencakup seluruh rangkaian pemboran eksplorasi pada suatu titik/lokasi bor. Dimana laporan tersebut selanjutnya diserahkan kepada supervisor lapangan yang bertanggung jawab atas keseluruhan pemboran di area tersebut. Seorang wellsite geologist

bertanggungjawab penuh akan kesempurnaan dan kelengkapan laporan yang akan dibuat. Oleh karena itu, tahapan-tahapan sebelumnya, berupa tahap pemboran dan tahap pengambilan data, harus dilaksanakan dengan baik. Adapun jenis laporan yang menjadi tanggung jawab seorang wellsite geologist untuk dikerjakan dan diselesaikan antara lain, yaitu : a. Laporan harian / Daily report Laporan harian ini merupakan laporan yang wajib dibuat oleh seorang wellsit geologist setiap harinya. Laporan harian ini berisi tentang segala jenis kegiatan yang dilakukan di titik pemboran yang menyangkut tentang pemboran dalam satu hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui progres pemboran yang dikerjakan di suatu titik pemboran. Hal-hal

38

yang perlu dimasukkan dalam laporan harian adalah sebagai berikut : Nomor titik bor yang diawasi. Tanggal dan waktu kerja. Nama operator bor (driller) yang bertugas di lokasi/titik bor yang diawasi. Unit mesin bor yang digunakan. Waktu dimulainya (start) pemboran dan waktu

dihentikannya (finish) pemboran pada hari tersebut. Kedalaman penetrasi pemboran pada proses open hole. Interval dan tebal coring (apabila pada hari tersebut dilakukan proses coring). Setiap kegiatan lainnya yang terjadi yang berhubungan dengan proses pemboran, seperti break time (istirahat), adanya masalah (trouble), adanya kecelakaan kerja (accident), dan lainnya. Wellsite geologist yang bertugas disertakan dengan paraf. b. Laporan akhir pemboran Laporan akhir pemboran dibuat apabila kegiatan di suatu titik pemboran telah selesai dilakukan. Pembuatan laporan akhir ini merupakan gabungan dari laporan-laporan harian yang telah dibuat. Laporan akhir pemboran ini terdiri dari log bore secara keseluruhan, list sampel dan berita acara pemboran. Dalam berita acara pemboran seorang Wellsite geologist harus melaporkan semua hal yang sudah dilakukan dalam kegiatan pemboran. Beberapa hal yang perlu

dimasukkan dalam berita acara pemboran adalah sebagai berikut : 1. Hari, tanggal, dan waktu mulai pemboran dan selesai pemboran. 2. Lokasi dan nomor titik bor. 3. Unit bor

39

4. Total kedalaman pemboran. 5. Interval batubara, terdiri dari kedalaman dan ketebalan batubara. 6. Total meteran coring. 7. Total core recovery. 8. Total coal recovery. 9. Total meteran non coring. 10. Pemakaian polymer. 11. Jarak moving ke titik selanjutnya 12. Waktu selesai melakukan pillot hole 13. Menulis nama wellsite yang disertakan dengan tanda tangan yang diketahui oleh seorang coordinator site

40

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1.Profil Perusahaan

PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN) adalah perusahaan pertambangan batubara yang berproduksi di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimanatn Timur di bawah kontrak kerja PKP2B generasi ke 3. Berjarak sekitar 500 km di utara kota Balikpapan. PT. PKN berdiri sejak tahun 1995 dan merupakan anak perusahaan dari PT. Bhakti Energy Persada (BEP) yang juga merupakan sebuah perusahaan batubara. Namun pada tanggal 21 Desember 2010 telah disetujui penyerahan manajemen PT. PKN dari PT. BEP ke PT. Energy Nusa Mandiri, dimana pendiri dan pemegang saham mayoritasnya juga memegang saham mayoritas di PT. Adaro Energy, salah satu produsen batubara terbesar di Indonesia.

Gambar 3.1 Peta Lokasi Kerja PT. PKN

Total area konsesi PT PKN adalah seluas 23.646 ha yang terbagi menjadi tiga lokasi yang berbeda, yaitu di ; Kelubir (KLB) 6,150 ha di sebelah Utara, Mangkupadi (MKP) 4,536 ha di sebelah Selatan dan Sekayan (SKY) 12,960 ha di antara keduanya. Total cadangan yang diperkirakan sebesar 119.758 juta ton, dengan rincian ; Kelubir (18.518 jt.

41

ton) ; Sekayan (88.974 jt. ton ) dan Mangkupadi ( 12.366 jt. ton ). Hingga saat ini yang telah selesai tahap eksplorasi adalah blok Kelubir dan blok Sekayan. Produksi batubara pertama dimulai pada bulan September 2009, dan pengapalan hasil produksi pertamanya pada bulan Desember 2009. Kontrak penjualan batubara PT PKN meliputi pasar domestik dan internasional. Langkah selanjutnya dari PT PKN adalah mengembangkan blok Sekayan seoptimal mungkin, mengingat jumlah cadangan terbesar berada di blok tersebut. Sejalan dengan visi perusahaan yang berbunyi : To be a World Class Coal Mining Enterprise that Extracts and Adds Value to the Coal for the Benefit of the Mankind maka hingga saat ini PT PKN terus meningkatkan kinerjanya dalam hal produksi, manajemen, pengembangan sosial sekitar tambang, serta rehabilitasi lingkungan.

3.2. Produksi Batubara Seperti yang telah disampaikan di atas, bahwa total cadangan batubara yang diperkirakan sebesar 119.758 juta ton. Sedangkan untuk mutu batubaranya, hasil produksi PT PKN termasuk kelas Lignite (brown coal) dengan calorivic value 3,400 3,600 kcal/kg (gar), kadar abu rendah / low ash (average 4%), kadar belerang rendah/ low sulphur (less than 0.2%) dan tingkat kelembapan tinggi/high moisture (43%) sehingga dapat disebut sebagai batubara yang ramah lingkungan. Berikut detil dari mutu batubara yang diproduksi oleh PT PKN :
* Fixed Carbon by difference ** CV adb determined on stated IM

Gambar 3.2 kualitas batubara produksi PT PKN dari blok Kelubir dan Sekayan

42

Secara sekilas, tahapan produksi batubara di PT PKN meliputi Coal Getting, Hauling, Crushing, Barge Loading, dan Barging. Tahapan coal getting adalah usaha untuk mengambil seam batubara menggunakan ekskavator dan menempatkan di Dump Truck. Kemudian batubara dibawa menggunakan dump truk ke tempat penampungan sementara (Stock Pile), perjalanan dari pit menuju stock pile disebut Hauling. Kemudian di stock pile batubara dimasukkan ke mesin penghancur (crusher) dengan ukuran tertentu sesuai keinginan konsumen. Proses ini disebut Crushing. Setelah selesai proses crushing kemudian dengan menggunakan ban berjalan (conveyor) batubara di muat ke ponton. Setelah proses loading pontonn selesai, batubara siap di kapalkan ke konsumen. Produksi batubara di PT PKN ditargetkan semakin

meningkat hingga tahun 2021.

Gambar 3.3 bagan produksi batubara di PT PKN dan Rencana produksi hingga tahun 2021

3.3. Struktur Organisasi Perusahaan

43

BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK

4.1.Jenis Pekerjaan Yang Dilakukan Jenis pekerjaan yang dilakukakan pada kerja praktek kali ini adalah sebagai seorang wellsite geologist . Pekerjaan yang dilakukan adalah

sebagai pengawas lapangan selama kegiatan pemboran berlangsung. Keberadaan seorang wellsite geologist di lokasi pemboran sangat penting untuk menunjang kelancaran proses pemboran itu sendiri. Mengingat pentingnya peranan tersebut, diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang baik untuk menunjang tanggung jawab seorang wellsite geologist. Adapun pengetahuan yang harus dimilki antara lain : Pengetahuan akan dasar-dasar ilmu geologi Pengetahuan mengenai tahapan-tahapan eksplorasi Pengetahuan dasar mengenai batubara dan klasifikasinya Pengetahuan navigasi dan mengenali daerah di sekitar titik pemboran Pengetahuan akan metoda pemngambilan data-data pemboran yang sesuai dengan SOP (Standard Operational Procedure) Pengetahuan akan cara-cara perlakuan terhadap sample batuan yang keluar dari lubang bor. Penguasaan ilmu komunikasi yang baik serta jiwa kepemimpinan yang mencukupi.

4.2.Peralatan Pekerjaan Yang Digunakan Peralatan yang mendukung kinerja seorang wellsite geologi dibagi menjadi 2, yaitu peralatan kerja wellsite dan peralatan kerja pemboran. Peralatan kerja wellsite merupakan peralatan kerja yang disediakan perusahaan untuk kelancaran kinerja seorang wellsite geologi dalam merekam data lapangan. Sedangkan peralatan pemboran merupakan

44

serangkaian alat bor yang disediakan oleh kontraktor pemboran yang bekerjasama dengan pihak perusahaan. Adapun rincian alatnya sebagai berikut, 4.2.1. Peralatan Kerja Wellsite Lembar Log Bor Permanent dan Board Marker Core box Pipa PVC diameter 4 Penggaris Papan sampel Plastik wrap Kamera digital Helm safety Sepatu safety Kantong sampel untuk cutting dan core sample Pita warna Cutter Clip board Buku catatan lapangan GPS Meteran

45

4.2.2. Peralatan Pemboran Sebagai seorang pengawas kegiatan pemboran, seorang wellsite geologist juga harus mengerti mengenai jenis dan fungsi masing-masing rangkaian alat pemboran. Hal ini berguna agar pada saat terjadi kendala teknis wellsite geologist dapat memberikan keputusan yang cepat dan bijaksana. Untuk rangkaian alat pemboran kali ini (rig), digunakan Tipe Jackro 175, dengan kemampuan untuk mengebor hingga kedalaman antara 100-150m.

Gambar 4.1 Serangkaian alat bor yang disebut rig

Mesin bor tersebut terdiri atas serangkaian alat-alat dan mesin penggerak yang bekerja saling sinergis satu sama lain. Adapun alat-alat tersebut adalah sebagai berikut : Menara Bor, adalah menara yang menyangga

keseluruhan sistem gerak dari mesin bor, di bagian bawah menara disangga oleh pondasi yang berupa dua batang besi yang terpasang secara paralel. Menara bor

memastikan lubang yang dibuat tetap lurus.

46

Gambar 4.2 Gambar di atas menunjukkan menara bor yang siap di rangkai

Pipa Bor, adalah pipa yang digunakan untuk membuat lubang bor, sebagai tempat terpasangnya drill bit, dan sebagai saluran untuk menembakkan lumpur pemboran ke dalam lubang bor. Untuk jenis pipa pemboran kali ini digunakan pipa AW, dengan diameter 3 inchi dan panjang pipa 1.5 meter. Pipa terbuat dari baja, dan terdapat ulir pada bagian pangkal dengan dan ujungnya, pipa yang agar dapat lainnya.

disambungkan

Gambar 4.3 Tumpukan pipa bor jenis AW

47

Mata Bor,

mata bor yang digunakan disini ada dua

macam yaitu yang digunakan untuk membuat open hole dan mata bor yang digunakan untuk membuat core sample, biasa disebut core bit.

Gambar 4.4 Mata Bor

Rotary, alat untuk memutar pipa pemboran, sistem perputaran pada rotary dikontrol oleh gerakan hidrolis yang terhubung pada tuas (handle), yang dioperasikan oleh juru bor.

Gambar 4.4 Rotary yang memutar pipa bor, dikendalikan oleh juru bor.

Orbit, adalah alat untuk menaik turunkan meja putar, sistem kerjanya secara hidrolis, dikontrol menggunakan handle oleh juru bor. Orbit menempel pada sebuah poros besi di ujung menara bor, pada poros tersebut terdapat dua buah gear yang tersambung melalui rantai ke meja putar. Putaran orbit mengakibatkan gerakan naik turun pada meja putar.

48

Gambar 4.5 Orbit terhubung langsung ke poros pada menara bor.

Handle, alat untuk mengendalikan pipa bor. Terdapat dua buah tuas, yang pertama terhubung ke rotary dan yang kedua pada orbit.

Gambar 4.6 Juru Bor mengendalikan laju pemboran melalui handle.

Safety, alat untuk mencabut pipa pemboran, namun fungsi utamanya adalah untuk mengamankan agar pipa bor tidak tenggelam ke dasar lubang.

Gambar 4.7 Safety

49

Oil Cooler, alat untuk mendinginkan cairan hidrolik, menjaga agar sistem hidolik tetap stabil. Alat ini berbentuk balok besi yang berisi air.

Gambar 4.8 Oil Cooler

Oil Filter, alat untuk menyaring kotoran-kotoran yang terbawa bersama cairan hidrolis. Menghindarkan

kerusakan mesin.

Gambar 4.9 Filter Oli

50

Hidraulyc Pump, pomba hidrolis yang mendorong cairan hidrolis. Tenaga dorongan pompa ini dihasilkan oleh perputaran turbin yang tersambung dengan mesin diesel.

Gambar 4.10 Pompa Hidrolis

Core Barrel, adalah alat untuk mengambil core sample atau biasa disebut sebagai metode coring. Dalam penggunaanya maka pada ujung core barrel dipasangkan dengan core bit. Alat ini berbentuk tabung berongga dengan panjang 1.5-2m, sehingga ketika core barrel terus turun maka sample batuan akan dengan sendirinya masuk kedalam. Di dalam core barrel terdapat tabung yang dapat dibagi menjadi dua dan menjadi tempat melekatnya core sample, yaitu split.

Gambar 4.11 Core barrel

51

Selang Air, selang air sangat penting perananya dalam proses pemboran, sebab dalam pelaksanaanya pemboran selalu membutuhkan air. Hal pertama yang dicari oleh driller ketika melakukan survey titik pemboran adalah ketersediaan air, jika letak air cukup jauh dari titik pemboran, diperlukan selang yang panjang. Selang yang dipakai kali ini ada yang mencapai panjang 250m.

Gambar 4.12 Selang

Mesin Diesel, mesin ini digunakan sebagai penggerak utama dalam sistem hidrolis. Merk mesin diesel kali ini adalaha YANMAR TF85MLYS-di.

Gambar 4.12 Mesin diesel

52

Mesin Water Flush, adalah mesin yang digunakan untuk menembakkan lumpur pemboran ke dalam lubang bor. Fungsi utamanya adalah untuk menembah laju pemboran. Lumpur pemboran diambil dari bak sirkulasi. Merk mesin yang digunakan kali ini adalah YAMAHA MT-110

Gambar 4.13 Mesin Water Flush

4.3.Jadwal Pekerjaan Yang Dilakukan Kerja praktek dilakukan setiap hari tanpa libur dalam arti 1 minggu penuh, hal ini dikarenakan pemboran tidak berhenti sebab pihak perusahaan mengejar target data hasil pemboran untuk segera dianalisis. Kegiatan pekerjaan dilakukan pagi hari yang dimulai dari pukul 07.00 WITA menuju titik bor yang telah diberikan tanggung jawab oleh koordinator lapangan. Pemboran berlangsung sampai pukul 17.00 WITA dengan asumsi keadaan pemboran tidak mengalami trouble, jika terjadi trouble pada saat pemboran berlangsung, maka waktu kerja menyesuaikan kondisi permasalahan yang terjadi

53

4.4.Pelaksanaan Pekerjaan 4.4.1 Lingkup Pekerjaan Ruang Lingkup Pekerjaan pada kerja praktek kali ini yaitu peranan wellsite geologist dalam eksplorasi batubara. Eksplorasi yang dimaksud kali ini adalah eksplorasi lanjutan dalam rangka perluasan areal tambang. Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan pemboran dalam untuk mendapatkan data sebaran batubara. Pada lokasi pengeboran, seorang wellsite geologist bertindak sebagai pengawas jalannya aktivitas pemboran serta memperhatikan faktor keselamatan orang-orang di lokasi pemboran, dengan kata lain seorang wellsite geologist memastikan proses pengeboran berjalan lancar. Tidak hanya itu, seorang wellsite geologist juga harus mendeskripsikan cutting dan core sample yang keluar dari lubang bor, pencatatan data yang baik sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Setelah selesai deskripsi juga harus melakukan sampling batubara dan juga untuk keperluan geologi teknik. Menjadi pengawa pada saat proses e-logging juga merupakan tugas dari seorang wellsite geologist. Pada saat selesai proses pemboran, wellsite geologist harus menentukan titik pemboran berikutnya guna kelancaran proses moving alat-alat pemboran. 4.4.2 Deskripsi Pekerjaan Pekerjaan yang dilakukan pada kerja praktek kali ini adalah sebagai wellsite geologist, secara umum yaitu sebagai pengawas jalannya proses pemboran. Proses pemboran sendiri terbagi menjadi 3, yaitu : Open Hole, Touch Coring, dan Full Coring. Pemboran Open Hole yakni melakukan pemboran menerus tanpa mengambil core sample, hasil yang dideskripsi berupa cutting, yakni remahremah batuan yang hancur oleh mata bor, sedangkan mata bor yang digunakan adalah drill bit. Metode Full Coring adalah metode untuk mengambil semua sample batuan yang ada pada lubang bor (core sample), menggunakan alat yang disebut core barrel. Mata bor yang

54

digunakan adalah core bit. Sedangkan metode Touch Coring merupakan metode gabungan antara keduanya. Yang pertama dibuat adalah Open Hole untuk mengetahui roof dari batubara. Kemudian dilanjutkan dengan coring untuk mendapatkan sample batubara hingga mencapai bagian floor-nya. Setelah itu dibuatkan lubang kantongan maksimal sedalam 5 m geofisika. Setiap proses pemboran berlangsung seorang wellsite geologist harus mendeskripsikan jenis batuan yang keluar dari lubang bor, baik berupa core sample maupun cutting. Data lithologi tersebut dicatat dalam kertas bore log. Kronologi tiap-tiap proses pemboran juga harus dicatat dalam Daily Drilling Progress, hal ini dengan maksud agar perusahaan mengetahui sejauh mana dan bagaimana kondisi proses pengeboran telah berlangsung. Adapun deskripsi pekerjaan wellsite geologist pada masing-masing tahap pengeboran akan dijelaskan pada sub-bab di bawah ini : 4.4.2.1 Rig Set Up Adalah tahap paling awal pada rangkaian kegiatan pemboran. Rig Set Up adalah tahap pendirian rig di lokasi pemboran, kegiatan ini dilakukan oleh kru pemboran dan dengan diawasi oleh wellsite geologist. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah mendirikan menara bor, perangkaian mesin-mesin dengan rig, pembuatan bak sirkulasi, intinya adalah pengkondisian lingkungan rig. Untuk jenis mesin bor yang digunakan kali ini adalah mesin JACKRO 175 yang mampu mencapai kedalaman 100-150m. Hal yang tak kalah penting dalam rig set-up adalah pencarian lokasi keterdapatan air yang cukup untuk kegiatan pemboran. Air merupakan hal yang vital dalam kegiatan pemboran, air untuk pemboran dapat diambil dari sungai, rawa, parit dan sebagainya. Oleh sebab itu pemahaman mengenai kondisi untuk keperluan logging

55

sekitar titik bor sangat penting bagi seorang wellsite geologist. Air diambil pada sumbernya menggunakan mesin pomba diesel SANCHIN, kemudian airnya disalurkan ke rig menggunakan selang berdiameter 1 ich yang panjangnya dapat mencapai ratusan meter, tergantung jauh dekatnya sumber air tersebut. Yang harus diperhatikan pada saat rig set-up adalah ketika titik bor berada di dekat ladang penduduk, usahakan agar lumpurnya tidak mencemari ladang maupun sumber air yang digunakan oleh penduduk lokal.

Gambar 4.14 Proses Rig Set-Up

4.4.2.2 Drilling Setelah proses rig set-up selesai, dilanjutkan dengan proses pemboran (drilling). Pemboran baru dapat dimulai ketika wellsite telah menyerahkan surat mulai pemboran kepada driller/juru bor. Selama proses pemboran, wellsite harus selalu berada di dekat rig, tujuannya adalah untuk mengawasi jalannya pemboran, agar pemboran berjalan lancar, meskipun driller sudah berpengalaman. Selain itu juga wellsite dapat segera menghubungi Supervisor yang Geologist jika ada

permasalahan

mendadak

mengakibatkan

proses

pemboran terhambat, misalnya water loss, swelling, pipa terjepit, dan sebagainya. Di sini dibutuhkan pemahaman yang baik akan prosedur pemboran batubara dan juga kemampuan

56

berkomunikasi yang baik. Faktor keselamatan pekerja di sekitar rig juga menjadi tanggung jawab wellsite.

Gambar 4.15 Berbagai macam kondisi pada saat proses Drilling

4.4.2.3 Deskripsi Cutting Pada saat pemboran berlangsung, wellsite juga harus mendeskripsikan litologi apa saja yang ada di dalam lubang bor, tujuannya adalah untuk mengetahui susuna stratigrafi di daerah tersebut. Kita dapat mendeskripsikan dua macam, yaitu cutting dan core sample. Cutting adalah remah-remah batuan yang hancur oleh gerusan mata bor. Serbuk cutting keluar bersama air pemboran dalam bentuk lumpur. Deskripsi cutting dilakukan setiap penambahan kedalaman sebesar 1 meter. Aspek-aspek yang harus dideskripsi antara lain jenis batuan, warna, ukuran butir, semen pengikat, mineral penyusun dan kandungan mineral lain. Sedangkan core sample adalah conto inti batuan yang didapat dengan menngunakan core barrel, tujuan deskripsinya sama, hanya saja deskripsi core sample akan menjadi lebih detail, antara lain jenis batuan, warna, ukuran butir, elastisitas, kekerasan, dip, mineral penyusun dan kandungan fossil. Selain dari ciri-ciri lithologinya, perlu juga dideskripsi mengenai sifat-sifat geologi tekniknya, misalnya RQD (Rock

57

Quality Designation). Untuk conto inti batubara juga perlu di deskripsi, yaitu warna, kekerasan, cerat, belahan, pecahan dan sifat fisik lainnya seperti parting, clay band, bone coal, dan sebagainya. Setiap hasil core sample keluar perlu dihitung recoverynya, hal ini bertujuan untuk mengetahui jumlah panjang conto inti yang hancur tergerus (core loss). Untuk sample cutting bisa dimasukkan di dalam plastik, sedangkan untuk core sample harus dimasukkan ke dalam core box. Hasil pencatatan tersebut dituliskan dalam kertas bore log.

Gambar 4.16 (a) cutting ; (b) core sample

4.4.2.4 Perekaman Data e-logging Setelah pemboran mencapai floor dari seam batubara yang ditarget, dan wellsite telah selesai melalkukan pencatatan data litologi dan melakukan foto sampel, maka proses selanjutnya adalah perekaman data e-logging atau logging geofisika. Metode ini bertujuan untuk melakukan perekaman data stratigrafi yang ada di titik tersebut secara lebih akurat, dibandingkan dengan pencatatan cutting yang sering

terlambat naik ke permukaan. Prinsip yang dipakai adalah menembakkan unsur-unsur radioaktif ke dalam formasi kemudian pantulannya direkam

58

oleh sensor. Sebelum pencatatn logging geofisika dimulai, terlebih dahulu driller mempersiapkan lubang kantongan untuk probe sedalam 5 meter di bawah floor batubara, kemudian sebelum pipa bor dicabut diadakan proses flushing, yaitu menembakkan lumpur pemboran ke dalam lubang bor, hal ini bertujuan untuk membersihkan lubang bor dari cutting yang masih tertinggal. Maksudnya agar probe tidak terjepit di dalam lubang, karena hal tersebut akan sangat berbahaya mengingat unsur radiokatif yang ada di dalamnya. Untuk proses flushing ini, lumpur pemboran dicampur dengan Polymer, yang berfungsi mengikat cutting. Baru setelah selesai flushing pipa bor dicabut semua dan siap untuk dilakukan e-logging. Alat-alat logging geofisika terdiri atas probe, radioaktif, RecsaLog Data Logger, Winch, Winch Controller, dan seperangkat komputer. Probe adalah alat untuk

menembakkan unsur radiokatif ke dalam formasi, di ujung probe terdapat unsur radiokatif berbentuk batang. Di dalam probe terdapat 4 sensor yang membaca pantulan dari gamma ray, density, resistivity dan caliper. Untuk menggerakkan probe masuk-keluar lubang digunakan winch, yang diatur oleh logger melalui winch controller. Data yang terbaca oleh sensor di dalam probe kemudian ditransfer ke RecsaLog Data Logger, sebuah alat untuk membaca data sensor dan mengubahnya menjadi kurva-kurva log geofisika, yang nantinya untuk dianalisis oleh geologist. Dari alat RecsaLog tersebut, disambungkan ke komputer dan datanya diolah dengan piranti lunak bawaan dari alat RecsaLog tersebut. Pertama-tama logger menurunkan probe sampai kedalaman maksimum di bawah floor batubara, kemudian perlahanlahan probe dinaikkan sembari sensornya membaca pabtulanpantulan radioaktif yang ada.

59

Kehadiran wellsite geologist pada saat proses perekaman data geofisika sangat penting, wellsite harus memberitahukan informasi-informasi mengenai lubang bor kepada logger, misalnya total depth, top and bottom of coal, dan formasi penyusunnya. Dalam berita acara logging, wellsite menjadi saksi dari pelaksanaan proses e-logging tersebut. Hasil printout dari pembacaann data logging dibagi dalam dua skala, yaitu skala 1 : 20 dan skala 1 : 100. Skala yang pertama hanya untuk menyantumkan posisi dan ketebalan

batubaranya saja, sedangkan skala 1 : 100 untuk melihat formasi secara keseluruhan.

Gambar 4.17 Logging Crew memasukkan Probe ke dalam Lubang Bor

Gambar 4.18 Logger sedang mempersiapkan peralatan perekaman data logging geofisika

60

4.4.2.6 Sampling Batubara Sehabis perekaman data e-logging selesai, maka wellsite membandingkanya dengan data yang diperoleh melalui core sample. Perbandingan antara tebal batubara berdasarkan elogging dengan tebal batubara berdasarkan panjang core sample disebut coal recovery, untuk standar perusahaan, coal recovery minimal adalah 90%. Jika tidak memenuhi standar tersebut maka harus dilakukan redrill atau pengeboran ulang. Jika memang sudah memenuhi sarat, maka tugas berikutnya adalah melakukan sampling batubara. Hasil sample akan dimasukkan ke dalam kantong plastik menurut aturan ply by ply, yang kemudian sample tersebut akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Sangat penting untuk menjaga sample batubara tetap dalam kondisi aslinya, maka harus segera dimasukkan ke dalam kantong plastik, intinya harus terlindung dari gangguan luar. Berikut ini adalah aturan pengambilan sample batubara ply by ply : Pengambilan sampel batubara tanpa parting (clean coal) Untuk bagian ats (top) dan bawah (bottom) dipotong 0,25 m. Kemudian bagian tengah (midlle) apabila lebih besar dari 1 meter, tebal masing-masing ply dibagi sama rata. Maksimum ketebalan batubara bagian tengah adalah 1 meter. Pengambilan sampel batubara dengan parting >0,20 meter Parting dengan ketebalan >0,20 meter harus diambil ply tersendiri.batubara bagian atas dan bawah parting dipisahkan dengan ketentuan ply to, midlle, dan bottom seperti pengambilan sampel pada batubara clean coal. Untuk batubara bagian tengah dengan ketebalan > 1 meter dibagi dengan ketebalan ply masing-masing sama rata. Bone coal diperlakukan sebagai parting.

61

Pengambilan sampel batubara dengan parting <0,20 meter Parting dengan tebal > 0,20 meter tidak perlu disampling terpisah dan disatukan dengan ply batubara. Metode pengambilan sampel sama dengan pengambilan sampel batubara tanpa parting. Tetapi apabila parting yang ada akan mempengaruhi kualitas batubara maka harus dipisahkan menjadi sampel tersendiri. Setelah semua sampel batubara dibagi per ply kemudian sampel dibungkus dengan plastik wrap dan kemudian dimasukkan ke dalam kantong sampel. Sebelumnya kantong sampel harus ditandai dengan kertas sampel yang

menunjukkan keterangan sampel tiap ply.

Gambar 4.19. Sampel batubara yang sudah dibungkus dengan plastik wrap

4.4.2.6 Rig Down dan Moving Jika semua proses di atas telah selesai, maka wellsite membuat berita acara pengeboran yang kemudian

ditandatangani oleh driller dan wellsite. Surat tersebut berisi data-data mengenai pemboran, meliputi total depth,

kronologi proses pemboran, serta permasalahan teknis yang ada. Surat tersebut menandai selesainya pemboran di titik

62

tersebut, maka driller dan anggotanya mulai membongkar rig satu persatu, proses ini disebut dengan rig down. Dalam proses ini, kru pengeboran merapikan peralatannya agar nanti mudah dalam proses moving. Moving adalah proses

memindahkan alat pengeboran ke titik berikutnya, tentu saja berdasarkan petunjuk dari wellsite. Jika menggunakan alat rig skala besar, proses moving menggunakan dozer, sedangkan jika menggunakan rig-set kecil maka cukup dipikul saja ke titik selanjutnya.

Gambar 4.20 Proses rig Down

63

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan atas pelaksanaan kegiatan kerja praktek yang telahh dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang Wellsite Geologist memiliki peranan yang penting dalam eksplorasi batubara, tepatnya di bidang pemboran. Peran tersebut antara lain mengawasi jalannya kegiatan pemboran, menentukan titik pemoran berikutnya, mengawasi prose logging geofisika, deskripsi dan pencatatan data stratigrafi melalui conto inti dan cutting, dan pembuatan laporan progres pemboran. Data pemboran merupakan data yang penting bagi perusahaan dann menentukan jumlah cadangan serta mutu batubara yang akan ditambang, maka peranan wellsite geologist juga penting bagi perusahaan. Selain pemahaman di atas, melalui kegiatan kerja praktek ini mahasiswa juga mendapatkan banyak pengalaman, anatara lain pengalaman menjadi pemimpin operasional pemboran, bersosialisasi dengan penduduk lokal, menjelajahi hutan rimba, serta pengalaman untuk melihat langsung proses penambangan batubara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan kerja prakek ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan serta soft skill mahasiswa.

5.1 Saran Saran yang dapat diberikan untuk rekan-rekan yang ingin melaksanankan kerja praktek di konsesi pertambangan batubara antara lain : Menjaga kesehatan jasmani dan mempersiapkan mental sebelum turun langsung ke lapangan, sebab seringkali lokasi pemboran berada di medan yang berat, misalkan hutan yang belum pernah dijamah, rawa-rawa, dan sebagainya Selalu persiapkan peralatan lapangan seperti tas, ponco, botol minum, dan sebagainya
64

Memperhatikan

faktor

keselamatan

kerja

dengan

senantiasa

memakai Alat Pelindung Diri, helm, dan sepatu boot ketika berada di areal tambang. Tak lupa pula untuk berperilaku safety. Siapkan materi-materi penunjang studi, supaya lebih cepat memahami pekerjaan yang dilaksanakan. Jangan sungkan untuk bertanya kepada pembimbing yang ditunjuk dari perusahaan, karena bisa menambah ilmu yang tidak didapat melalui perkuliahan. Bertutur kata yang santun, karena dimanapun kita pergi kita selalu membawa nama almamater, serta bersosialisasi yang baik kepada para karyawan di pertambangan dan juga kepada penduduk lokal.

65