Anda di halaman 1dari 15

4

Universitas Kristen Petra
2. TEORI PENUNJANG


2.1 DC-DC Converter
2.1.1 Pengertian DC-DC Converters
Secara umum DC-DC Converter digunakan pada switch-mode DC power
supply dan pada applikasi pengarah motor DC. Switch DC-DC Converter
digunakan untuk mengkonversi input DC yang tidak dapat diatur ke suatu output
DC yang tegangan nya dapat diatur dengan batasan range yang ditentukan. Input
converter adalah suatu tegangan DC yang dapat diatur-atur. Berikut adalah
gambar sistemnya :



Gambar 2.1. Sistem DC-DC Conveter
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.64)

DC-DC Converters dipergunakan untuk keperluan :
• Untuk mendapatkan tegangan DC variabel dari sumber tegangan DC yang
tetap.
• Untuk mendapatkan tegangan DC yang tetap dari sumber tegangan DC
yang tetap.

2.1.2 Prinsip Kerja DC-DC Converters
Pada DC-DC Converters, rata-rata tegangan output DC harus dikendalikan
untuk mendapatkan hasil yang sama meskipun tegangan input dan beban yang
dikeluarkan berubah-ubah. Pada sebuah DC-DC Converters dengan tegangan
5
Universitas Kristen Petra
input yang ditentukan, rata-rata tegangan output dikendalikan dengan switch
durations (t
on
dan t
off
). Berikut adalah konsep gambar Switch-Mode DC-DC
Converters :



Gambar 2.2. Dasar DC-DC Conveter
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.64)

Nilai rata-rata tegangan output tergantung pada t
on
dan t
off
, berikut adalah gambar
bentuk signalnya :


Gambar 2.3. Bentuk Signal dari Nilai Rata-Rata Tegangan Output
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.64)
6
Universitas Kristen Petra
Pada PWM Switching terdapat suatu switching frekuensi yang konstan /
tetap, switch control signal dengan control ON atau OFF yang dihasilkan dengan
membandingkan suatu level control signal tegangan dengan suatu bentuk
gelombang berulang. Frekuensi tetap konstan dalam suatu kontrol Pulse Width
Modulator (PWM) dengan batasan range frekuensi yang ditentukan. Berikut ini
adalah blok diagram dari Pulse Width Modulator (PWM) dan comparator signal
dari Pulse Width Modulator (PWM) :


Gambar 2.4. Blok Diagram Pulse Width Modulator (PWM)
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.65)



Gambar 2.5. Comparator Signals Pulse Width Modulator (PWM)
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.65)
7
Universitas Kristen Petra
V
control
dan peak dari V
st
, maka didapatkan duty ratio :
Duty Cycle, Ð =
t
cn
t
c]]
=
v
ccntrcl
v
st
(2.1)

Switching Frequency, ¡
s
=
1
1
s
(2.2)

2.2 Buck-Boost Converter
Metode Buck-Boost Converter adalah kombinasi dari Buck Converter dan
Boost Converter, dimana tegangan output dapat diatur menjadi lebih tinggi atau
lebih rendah dari tegangan input. Dalam metode ini, tegangan output memiliki
tanda berlawanan dengan tegangan input. Oleh karena itu metode ini biasa
ditemukan pada aplikasi yang memerlukan pembalikan tegangan (Voltage
Inversion) tanpa transformer.
Walaupun memiliki rangkaian sederhana, metode Buck-Boost Converter memiliki
kekurangan seperti tidak adanya isolasi antara sisi output dan sisi input dan juga
tingkat ripple yang tinggi pada tegangan output maupun pada arus output.

Dalam keadaan seimbang, perbandingan konversi output – input tegangan
berdasarkan pada perbandingan dari kedua converter dalam suatu sirkuit. Switch
dalam kedua converter tersebut mempunyai duty ratio yang sama, dengan asumsi
sebagai berikut :

(2.3)


Dimana, V
o
: Tegangan Output (range tegangan 1.5 volt – 24 volt)
V
d
: Tegangan Input (diberi tegangan konstan, 12 volt)
D : Duty Ratio (Minimum dan Maksimum)

Persamaan di atas diasumsikan tegangan output lebih besar atau lebih kecil dari
tegangan input berdasarkan dari duty ratio nya.
8
Universitas Kristen Petra
Hubungan rangkaian dari converter tegangan rendah dan tegangan tinggi dapat
digabungkan menjadi satu yang dinamakan Buck-Boost Converter, berikut adalah
gambarnya :



Gambar 2.6. Buck-Boost Converter
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.81)

Dalam Buck-Boost Converter ada 3 kemungkinan keadaan yang terjadi, yaitu :
• Continuous Conduction Mode
• Boundary Between Continuous and Discontinuous Conduction
• Discontinuous Conduction Mode


2.2.1 Kondisi Kontinyu
Keadaan ini menyamakan integral dari tegangan atas induktor dalam sekali
periode menjadi nol. Berikut adalah persamaannya :


9
Universitas Kristen Petra
I
J
ÐI
s
+(-I
o
)(1 -Ð)I
s
= u

(2.4)

(asumsi, P
d
= P
o
) (2.5)

Dimana, V
o
: Tegangan Output (range tegangan 1.5 volt – 24 volt)
V
d
: Tegangan Input (konstan tegangan 12 volt)
I
o
: Arus Output (Ampere)
I
d
: Arus Input (Ampere)
D : Duty Ratio
f
s
: Switching Frekuensi (diberi nilai 20 KHz)


(2.6)

Jika arus pada induktor mengalir maka bentuk gelombangnya adalah sebagai
berikut :



Gambar 2.7. Bentuk Gelombang Kondisi Continuous Conduction
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.82)





10
Universitas Kristen Petra
2.2.2 Boundary Antara Kondisi Kontinyu dan Diskontinyu
Ada beberapa persamaan dalam keadaan boundary, yaitu sebagai berikut :

I
LB
=
1
2
i
L,pcuk


=
1
s
v
c
2L
Ð (2.7)


I
o
= I
L
- I
d

(2.8)


Untuk memperoleh arus induktor rata-rata dan arus output, maka digunakan persamaan
sebagai berikut :

I
LB
=
1
s
v
c
2L
(1 -Ð) (2.9)


I
oB
=
1
s
v
c
2L
(1 -Ð)
2
(2.10)


Gambar bentuk gelombang dari Buck-Boost Converter dalam keadaan boundary,
sebagai berikut :


Gambar 2.8. Bentuk Gelombang Boundary of Continuous
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.82)
11
Universitas Kristen Petra
2.2.3 Kondisi Diskontinyu
Keadaan ini menyamakan integral dari tegangan atas induktor dalam sekali
periode menjadi nol. Berikut adalah persamaannya :

I
J
ÐI
s
+(-I
o
)∆
1
I
s
= u

v
c
v
d
=
Ð

1
(2.11)



I
c
I
d
=

1
Ð
(2.12)


I
L
=
v
d
2L
ÐI
s
(Ð +∆
1
) (2.13)

Berikut adalah gambar bentuk gelombang dalam keadaan diskontinyu :



Gambar 2.9. Bentuk Gelombang Kondisi Discontinuous Conduction
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.84)





12
Universitas Kristen Petra
2.2.4 Ripple Tegangan Output
Ripple pada tegangan output dapat dihitung dengan melihat bentuk
gelombang dalam keadaan kontinyu seperti pada gambar di bawah ini :



Gambar 2.10. Ripple Tegangan Output pada Buck-Boost Converter
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.87)


Untuk mendapatkan nilai tegangan ripple peak to peak, maka digunakan
persamaan sebagai berikut :

∆I
o
=
ƍ
C
=
I
c
Ð1
s
C


=
v
c
R
Ð1
s
C
(2.14)


∆v
c
v
c
=
Ð1
s
RC


= D
1
s
:
(2.15)

Dimana τ : RC time constant


13
Universitas Kristen Petra
2.3 Cúk Converter
Cúk Converter merupakan bentuk lain dari DC-DC Converter yang
ditemukan oleh Cúk Slobodan dari Institut Teknik California. Metode ini sama
seperti halnya dengan metode Buck-Boost Converter, dimana tegangan output
dapat diatur menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari tegangan input. Metode
Cúk Converter juga digunakan pada aplikasi yang memerlukan pembalikan
tegangan (Voltage Inversion) tanpa transformer, namun dengan kelebihan tingkat
ripple yang rendah pada arus input maupun arus output.

Gambar rangakaian Cúk Converter dapat dilihat sebagai berikut :



Gambar 2.11. Cúk Converter
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.88)





14
Universitas Kristen Petra

(a) (b)

Gambar 2.12. Bentuk Gelombang Cúk Converter: (a) Switch off, (b) Switch on
Sumber: Mohan, Undeland, dan Robbins (1989, p.89)

Dengan mengasumsi arus L
1
dan L
2
kontinyu dan dalam keadaan seimbang, nilai
rata-rata dari tegangan induktor V
L1
dan V
L2
adalah nol, maka :

I
c1
= I
d
+ I
o
(2.16)

Dimana V
c1
: Tegangan pada C
1

V
d
: Tegangan Input (diberikan tegangan konstan 12 volt)
V
o
: Tegangan Output (batas range tegangan 1.5 volt – 24 volt)
15
Universitas Kristen Petra
Untuk L
1
:
_I
I1
= u

I
J
ÐI
s
+(I
J
-I
c1
)(1 -Ð)I
s
= u

I
c1
=
1
1-Ð
I
d
(2.17)

Untuk L
2
:
_I
I2
= u

(I
c1
-I
o
)ÐI
s
+(-I
o
)(1 -Ð)I
s
= u

I
c1
=
1
Ð
I
o
(2.18)


v
c
v
d
=
Ð
1-Ð
(2.19)

Dari prinsip keseimbangan daya :

I
c
I
d
=
1-Ð
Ð
(2.20)

Dari persamaan (2.19) dan (2.20), maka didapatkan :
I
L1
=
Ð
2
v
d
R(1-Ð)
2
(2.21)


Dengan mengasumsikan batas atas dan batas bawah menjadi 10%, maka
didapatkan persamaan :

∆i
I1
=
I
J
I1
ÐI
s


=
v
d
Ð
L1]
s
(2.22)



16
Universitas Kristen Petra
∆i
I2
=
I
c1
-I
o
I2
ÐI
s



=
v
d
Ð
L2]
s
(2.23)


Dengan ketetapan :

I
L1
= I
d
(2.24)

I
o
=
v
c
R
(2.25)


Dari persamaan (2.21) dan (2.22) didapatkan arus induktor yang minimum,
dengan persamaan sebagai berikut :

i
L1,mìn
= i
L1
-
∆i
L1
2


=
Ð
2
v
d
R(1-Ð)
2
-
Ðv
d
2L
1
]
s
(2.26)

Untuk i
L1 min
¸ u untuk memastikan konduksi arus kontinyu, maka :

I
1 mìn
=
(1-Ð)
2
R
2Ð]
s
(2.27)


dan,

I
2 mìn
=
(1-Ð)
2
R
2Ð]
s
(2.28)




17
Universitas Kristen Petra
Untuk mendapatkan nilai tegangan ripple peak to peak, maka digunakan
persamaan sebagai berikut :

∆I
o
=
ƍ
C
=
I
c
Ð1
s
C


=
v
c
R
Ð1
s
C
(2.29)


∆v
c
v
c
=
Ð1
s
RC


= D
1
s
:
(2.30)

Dimana τ : RC time constant



Jika I
L1
dan I
L2
tetap konstan, maka didapatkan persamaan untuk mencari C
1
,
dengan mengasumsikan :

∆I
C1
= 1u%

∆v
c1
v
C1
=
1
C
] i
L1
Jt
(1-Ð)1
s
0
(2.31)



2.4 Simulasi PSIM
PSIM adalah suatu program simulasi yang dirancang spesial untuk tenaga
elektronik dan untuk mengendalikan suatu motor. Dengan proses simulasi yang
cepat dan alat-alat yang digunakan mudah, PSIM menyediakan suatu proses
simulasi yang kuat untuk kebutuhan simulasi yang anda inginkan. PSIM berisi 3
program dasar, yaitu :
• Rangkaian skematik program PSIM
• Simulasi PSIM
• Pemprosesan gelombang dengan program SIMVIEW

18
Universitas Kristen Petra
Dengan memakai program PSIM, suatu rangkaian dapat dengan mudah dibuat dan
diubah-ubah sesuai keinginan kita. Program PSIM menggunakan bahasa
algoritma yang efisien untuk mengatasi permasalahan yang mungkin muncul saat
melakukan proses simulasi. Hasil dari simulasi PSIM ditampilkan dalam suatu
program yang dinamakan Simview. Bentuk gelombang yang dihasilkan juga dapat
diketahui nilai minimum, nilai maksimum dan nilai rata-rata nya.
Program PSIM sangat cocok digunakan untuk proses simulasi rangkaian dan
sistem dan juga untuk program pembelajaran.
Fitur-fitur yang disediakan oleh PSIM adalah sebagai berikut :
• Mudah digunakan
• Simulasi yang cepat
• Ditampilkan dengan kontrol yang fleksibel
• Dapat menganalisa response frekuensi
• Co-simulasi dengan Matlab / Simulink
• Memiliki simulasi sistem digital kontrol
• Memiliki kode C / kode C++





p.64) 5 Universitas Kristen Petra . Berikut adalah konsep gambar Switch-Mode DC-DC Converters : Gambar 2.input yang ditentukan. berikut adalah gambar bentuk signalnya : Gambar 2. dan Robbins (1989. Dasar DC-DC Conveter Sumber: Mohan.3. rata-rata tegangan output dikendalikan dengan switch durations (ton dan toff).64) Nilai rata-rata tegangan output tergantung pada ton dan toff. Undeland. Bentuk Signal dari Nilai Rata-Rata Tegangan Output Sumber: Mohan. Undeland. p.2. dan Robbins (1989.

dan Robbins (1989. p. Undeland.65) 6 Universitas Kristen Petra . Berikut ini adalah blok diagram dari Pulse Width Modulator (PWM) dan comparator signal dari Pulse Width Modulator (PWM) : Gambar 2. Frekuensi tetap konstan dalam suatu kontrol Pulse Width Modulator (PWM) dengan batasan range frekuensi yang ditentukan.65) Gambar 2.5. Blok Diagram Pulse Width Modulator (PWM) Sumber: Mohan. p. dan Robbins (1989. switch control signal dengan control ON atau OFF yang dihasilkan dengan membandingkan suatu level control signal tegangan dengan suatu bentuk gelombang berulang. Comparator Signals Pulse Width Modulator (PWM) Sumber: Mohan. Undeland.Pada PWM Switching terdapat suatu switching frekuensi yang konstan / tetap.4.

tegangan output memiliki tanda berlawanan dengan tegangan input.Vcontrol dan peak dari Vst.2) 2. 7 Universitas Kristen Petra . Switch dalam kedua converter tersebut mempunyai duty ratio yang sama. Dalam metode ini.1) Switching Frequency.5 volt – 24 volt) : Tegangan Input (diberi tegangan konstan. Oleh karena itu metode ini biasa ditemukan pada aplikasi yang memerlukan pembalikan tegangan (Voltage Inversion) tanpa transformer. perbandingan konversi output – input tegangan berdasarkan pada perbandingan dari kedua converter dalam suatu sirkuit. dengan asumsi sebagai berikut : (2.  (2. 12 volt) : Duty Ratio (Minimum dan Maksimum) Persamaan di atas diasumsikan tegangan output lebih besar atau lebih kecil dari tegangan input berdasarkan dari duty ratio nya.3) Dimana. Vo Vd D : Tegangan Output (range tegangan 1. Walaupun memiliki rangkaian sederhana. dimana tegangan output dapat diatur menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari tegangan input. Dalam keadaan seimbang.2 Buck-Boost Converter Metode Buck-Boost Converter adalah kombinasi dari Buck Converter dan Boost Converter. maka didapatkan duty ratio : Duty Cycle. metode Buck-Boost Converter memiliki kekurangan seperti tidak adanya isolasi antara sisi output dan sisi input dan juga tingkat ripple yang tinggi pada tegangan output maupun pada arus output.  (2.

yaitu : • • • Continuous Conduction Mode Boundary Between Continuous and Discontinuous Conduction Discontinuous Conduction Mode 2.6.81) Dalam Buck-Boost Converter ada 3 kemungkinan keadaan yang terjadi. Berikut adalah persamaannya : 8 Universitas Kristen Petra .1 Kondisi Kontinyu Keadaan ini menyamakan integral dari tegangan atas induktor dalam sekali periode menjadi nol. Buck-Boost Converter Sumber: Mohan.Hubungan rangkaian dari converter tegangan rendah dan tegangan tinggi dapat digabungkan menjadi satu yang dinamakan Buck-Boost Converter. Undeland. dan Robbins (1989. berikut adalah gambarnya : Gambar 2.2. p.

4) (asumsi. Pd = Po) Dimana. Undeland.5) : Tegangan Output (range tegangan 1. Vo Vd Io Id D fs (2. p.6) Jika arus pada induktor mengalir maka bentuk gelombangnya adalah sebagai berikut : Gambar 2.5 volt – 24 volt) : Tegangan Input (konstan tegangan 12 volt) : Arus Output (Ampere) : Arus Input (Ampere) : Duty Ratio : Switching Frekuensi (diberi nilai 20 KHz)   (2.7. Bentuk Gelombang Kondisi Continuous Conduction Sumber: Mohan.1 0 (2.82) 9 Universitas Kristen Petra . dan Robbins (1989.

sebagai berikut : Gambar 2.2.8.7) (2.10) Gambar bentuk gelombang dari Buck-Boost Converter dalam keadaan boundary. dan Robbins (1989. (2.82) 10 Universitas Kristen Petra . p.8) Untuk memperoleh arus induktor rata-rata dan arus output.2 Boundary Antara Kondisi Kontinyu dan Diskontinyu Ada beberapa persamaan dalam keadaan boundary. yaitu sebagai berikut : .2.9) (2. Undeland. Bentuk Gelombang Boundary of Continuous Sumber: Mohan. maka digunakan persamaan sebagai berikut : 1 1 (2.

Bentuk Gelombang Kondisi Discontinuous Conduction Sumber: Mohan.3 Kondisi Diskontinyu Keadaan ini menyamakan integral dari tegangan atas induktor dalam sekali periode menjadi nol. p.84) 11 Universitas Kristen Petra .2.2.13) Gambar 2. dan Robbins (1989. Berikut adalah persamaannya : ∆1 ∆ ∆ 0 (2. Undeland.11) (2.12) ∆ Berikut adalah gambar bentuk gelombang dalam keadaan diskontinyu : (2.9.

10.2. maka digunakan persamaan sebagai berikut : ∆ ∆ (2.4 Ripple Tegangan Output Ripple pada tegangan output dapat dihitung dengan melihat bentuk gelombang dalam keadaan kontinyu seperti pada gambar di bawah ini : Gambar 2. p. Ripple Tegangan Output pada Buck-Boost Converter Sumber: Mohan. Undeland.15) 12 Universitas Kristen Petra .2.87) Untuk mendapatkan nilai tegangan ripple peak to peak. dan Robbins (1989.14) ∆ D Dimana τ : RC time constant (2.

3 Cúk Converter Cúk Converter merupakan bentuk lain dari DC-DC Converter yang ditemukan oleh Cúk Slobodan dari Institut Teknik California. namun dengan kelebihan tingkat ripple yang rendah pada arus input maupun arus output. p.88) 13 Universitas Kristen Petra . dimana tegangan output dapat diatur menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari tegangan input.11. Metode Cúk Converter juga digunakan pada aplikasi yang memerlukan pembalikan tegangan (Voltage Inversion) tanpa transformer. Metode ini sama seperti halnya dengan metode Buck-Boost Converter. Gambar rangakaian Cúk Converter dapat dilihat sebagai berikut : Gambar 2. Undeland. dan Robbins (1989. Cúk Converter Sumber: Mohan.2.

5 volt – 24 volt) 14 Universitas Kristen Petra . dan Robbins (1989. maka : (2. p.89) Dengan mengasumsi arus L1 dan L2 kontinyu dan dalam keadaan seimbang.16) Dimana Vc1 Vd Vo : Tegangan pada C1 : Tegangan Input (diberikan tegangan konstan 12 volt) : Tegangan Output (batas range tegangan 1. nilai rata-rata dari tegangan induktor VL1 dan VL2 adalah nol. Bentuk Gelombang Cúk Converter: (a) Switch off. (b) Switch on Sumber: Mohan.(a) (b) Gambar 2.12. Undeland.

maka didapatkan persamaan : ∆ 1 1 (2. maka didapatkan : (2.21) Dengan mengasumsikan batas atas dan batas bawah menjadi 10%.22) 15 Universitas Kristen Petra .20).Untuk L1 : 1 0 1     1 0 (2.17) Untuk L2 : 2 0 1 0 (2.20) Dari persamaan (2.19) dan (2.19) Dari prinsip keseimbangan daya : (2.18) 1 (2.

27) dan. dengan persamaan sebagai berikut : ∆ . maka :   (2.28) 16 Universitas Kristen Petra .23) Dengan ketetapan : (2.24) (2.26) Untuk iL1 min  0 untuk memastikan konduksi arus kontinyu.25) Dari persamaan (2.   (2.21) dan (2.∆ 2 1 2 (2. 2 (2.22) didapatkan arus induktor yang minimum.

31) 2.30) Jika IL1 dan IL2 tetap konstan. maka didapatkan persamaan untuk mencari C1.4 Simulasi PSIM PSIM adalah suatu program simulasi yang dirancang spesial untuk tenaga elektronik dan untuk mengendalikan suatu motor. dengan mengasumsikan : ∆ ∆ 1 10%   (2. PSIM menyediakan suatu proses simulasi yang kuat untuk kebutuhan simulasi yang anda inginkan. yaitu : • • • Rangkaian skematik program PSIM Simulasi PSIM Pemprosesan gelombang dengan program SIMVIEW 17 Universitas Kristen Petra .29) ∆ D Dimana τ : RC time constant (2.Untuk mendapatkan nilai tegangan ripple peak to peak. PSIM berisi 3 program dasar. Dengan proses simulasi yang cepat dan alat-alat yang digunakan mudah. maka digunakan persamaan sebagai berikut : ∆ ∆ (2.

Dengan memakai program PSIM. nilai maksimum dan nilai rata-rata nya. Hasil dari simulasi PSIM ditampilkan dalam suatu program yang dinamakan Simview. Bentuk gelombang yang dihasilkan juga dapat diketahui nilai minimum. Fitur-fitur yang disediakan oleh PSIM adalah sebagai berikut : • • • • • • • Mudah digunakan Simulasi yang cepat Ditampilkan dengan kontrol yang fleksibel Dapat menganalisa response frekuensi Co-simulasi dengan Matlab / Simulink Memiliki simulasi sistem digital kontrol Memiliki kode C / kode C++ 18 Universitas Kristen Petra . Program PSIM sangat cocok digunakan untuk proses simulasi rangkaian dan sistem dan juga untuk program pembelajaran. Program PSIM menggunakan bahasa algoritma yang efisien untuk mengatasi permasalahan yang mungkin muncul saat melakukan proses simulasi. suatu rangkaian dapat dengan mudah dibuat dan diubah-ubah sesuai keinginan kita.